EDISI KEEMPAT: DESEMBER 2025Bercinta di Rahim IbuBULETIN FOTOGRAFI DAN SASTRADi suatu kelak, kulahirkanseorang anak perempuan.Kemudian seluruh duniaberduka.
Dilarang Mencintai Perempuan01 | SALAM REDAKSIEndometrium termenung dalam bilik-bilikkecil uterus. Ia berdiam diri dalam sebuahpenantian, menunggu pintunya diketuk, danapabila kekosongan yang menyapanya ia akanmelepaskan dirinya sendiri menjadi genangandarah. Ia luruhkan sehabis-habisnya selamasepekan penuh melalui vagina. Sebaliknya,bilik-bilik uterus itu akan menebal jika sel-selkecil di sana telah berhasil dirayu. Ia kemudianakan tumbuh seperti akar yang merambatperlahan dalam perut seorang perempuan,membangun rumah kecilnya di sana untukmenetap, menggerogoti tulang dan dagingsampai akhirnya, organ-organ itu berhasilmenghidupkan satu jiwa untuk menjajakidunia.Ovarium, endometrium, tuba fallopi, uterus,serviks, vagina. Konon perempuan dinilai dariseberapa hebatnya organ-organ kecil ini hidupdan subur dalam rongga perut mereka.Seberapa jauh mereka beriringan untukmeniupkan sebuah nyawa di sana. Seberapadalam dan nyenyaknya mereka untukdijelajahi. Mereka diperhitungkan dalamangka-angka statistika, ditukar selayaknya matauang, diperjualbelikan, dilabeli, menjadi opsiyang harus dipertimbangkan dengan matang,menjadi alat dan mesin, serta melebur menjadistigma, nilai, dan moral sosial.Begitulah, barangkali perempuan tak pernahbenar-benar memiliki dirinya sendiri. Setiap incidari tubuhnya adalah sesuatu yang harusdijangkau dan disepakati orang lain. Setiappilihan di atas nyawanya sendiri tak ubahnyadari bentuk yang dianggap sebagai kesalahan. .Setiap tetes darah, udara yang merekahembuskan, aspal jalanan yang merekatempuh, kelopak-kelopak bunga yang merekapetik, sentimeter-sentimeter dalam panjangrambut mereka, potongan-potongan kain yangmenempel dalam tubuh mereka, atau halsesederhana warna pemerah bibir serta wangitubuh mereka–segalanya tak pernah benarbenar ada untuk diri mereka sendiri.Padahal perempuan seharusnya tidak dinilaisedangkal itu. Dalam film Little Womenmisalnya, keempat tokoh perempuandigambarkan sebagai manusia-manusia yangmemiliki keinginan. Mereka menciptakan danmemutuskan berbagai hal atas diri merekasendiri tanpa paksaan pihak mana pun. Merekamemiliki cita-cita yang sama besarnya dansama pentingnya dengan apa yang dimilikilaki-laki. Sebaliknya, novel Kim Ji-yeong, Born1982 justru mencerminkan kehidupan seorangperempuan yang kehilangan dirinya sendirisetelah menjadi seorang ibu. Novel tersebutmewarisi luka kolektif dari seorang perempuanyang sepanjang hidupnya mengalami berbagaitekanan sosial–sebagai seorang perempuan.Dan begitulah orang-orang juga barangkalilupa bahwa perempuan tidak sepantasnyadiukur oleh apa pun. Perempuan tidak bernilaisebatas rahim yang mereka miliki. Mereka tidakhanya hidup sebagai induk dari vagina yangmereka punya, tidak pula menjadi nyawanyawa yang dinilai dan ditawar.Akhirnya, setiap bentuk dari perempuan kinitelah sampai pada edisi terakhir buletinPiksilasi tahun ini. Kami mencoba merekamdan mengasihi eksistensi para perempuan yangsedikit banyaknya telah kami jumpai dalamratusan perjamuan. Perempuan yang dihantuistigma-stigma sosial, perempuan yang pernahmengalami kekerasan, seorang ibu tunggal,perempuan yang tengah merajut mimpinya disisi lain dunia, perempuan yang bekerja, dansetiap celah-celah kecil yang menjadi bagiandari diri perempuan kami coba suarakanmenjadi berbagai karya esai dan karya sastradalam buletin ini. Melalui edisi penutup inipula, kami menaruh sebuah harapan, semogatak akan ada lagi perempuan yang meletakkannilainya di luar dirinya sendiri.Selamat membaca dan sampai jumpa dibuletin Piksilasi tahun depan.Redaksi| DESEMBER 2025
Dan Srikandi Menutup Sunyi02 | EDITORIALAmba terkatung-katung di belantara. Hatinyatelah remuk: tak diterima Salwa, tak pula olehBisma. Kini, ia tak lagi punya tempat untukkembali. Tak mungkin pulang ke Kasi, apalagimenua di Hastinapura. Sudah tak ada lagisuaka untuk Amba di mana-mana. Puspamaladari Subrahmanya masih menggantung di altarIstana Pancala. Keputusasaan merayap disekujur tubuh Amba. Hingga Siwa turun disalah satu malam. Kepada Amba yangberselimut hampa, Siwa menjanjikan awalyang baru. Kepada Amba yang kalut, Siwamenjanjikan pembalasan. Maka, Ambamerelakan diri tenggelam dilahap kobaran api.Malam itu, Amba mati dalam senyap dankhidmat.Malam-malam terus berlalu. Drupada pergiuntuk mengembara. Raja yang tengahmerindukan kehadiran buah hati itu lalumenemukan seorang bayi perempuan.Seketika, sabda dewa menggetarkan langit:Drupada harus merawat bayi itu layaknya lakilaki. Siapa Drupada berani menentang titahdewa. Dan begitulah, Srikandi tumbuh sebagaiksatria.Srikandi muda tahu ia adalah Amba yangkembali. Maka diambilah puspamala dari tiangistana dan ia kalungkan di lehernya. Atas janjilamanya, Srikandi bersungguh-sungguh: iaakan menghancurkan Bisma.Dibesarkan seperti laki-laki membuat Srikandidewasa menambatkan hati pada seorangperempuan. Maka, dipinanglah putri dari RajaDasharna. Namun saat sang putri tahu Srikandijuga perempuan, retaklah sudah pernikahanitu. Hati Srikandi remuk. Hati Amba patah lagi.Srikandi lantas meninggalkan istana tanpatahu harus ke mana. Lalu hutan demi hutan iasinggahi. Sampai suatu waktu Yaksa muncul dihadapannya.Tubuhnya begitu besar, matanya bagai duabatu apung. Sang Yaksa—yang tak tersentuhkeagungan istana—melihat luka yang samadalam diri Srikandi. Lantas keduanya dudukberhadapan di bawah pohon tua. Yaksabertanya sedikit, memberi lebih banyak. DanYaksa memberkati Srikandi, bertukarlah jiwa diantara keduanya. Maka Srikandi lahir kembali:sebagai perempuan juga laki-laki.Tapi Srikandi tetaplah ksatria. Maka saat perangKurukshetra pecah di Haryana, mangkatlah iauntuk mengangkat busur. Mangkatlah ia untukmenunaikan balas dendam. Hingga di harikesepuluh peperangan, sampailah Srikandi dihadapan Bisma. Tanpa keraguan, dipaculahkereta kuda melesat menuju Bisma. Bismabergeming. Ia tahu ada Amba dalam Srikandi.Seketika, jatuhlah busur dan seluruh anakpanah miliknya. Dan saat itulah, anak panahArjuna mencabut nyawa Bisma. Bisma matidan Srikandi melunasi janji.Srikandi pulang penuh kelegaan. Janji Siwatelah tertunaikan. Maka dilepaskanlahpuspamala yang membelit lehernya. NamunAswatama telah menanti. Tubuh Srikandidihujani anak panah. Srikandi turut mangkatsebelum fajar sempat tiba. Srikandi mati untukyang terakhir kali.Begitulah, Amba menunaikan janji dan Srikandimenutup sunyi. Tanpa kemusnahan, iamenyalakan api bagi para perempuan yangmenuntut dan menunaikan. Yang merobohkanpilar-pilar dan menentukan nasib sendiri. Dankeniscayaan, Srikandi-Srikandi baru akan lahirkembali.Redaksi| DESEMBER 2025
Fotografi.SUSUNANREDAKSI@lpmkavling10@[email protected]@gmail.comPenanggung JawabDhito PriambodoPemimpin RedaksiDimas Candra PradanaRedaktur PelaksanaFlorantina AgustinEditorFlorantina Agustin | Dimas CandraPradana | Hanin Amalia NajahahPenulis SastraAulia H. | Elvaretta Rahma Devina |Khoriyah Balqis | Florantina Agustin |Nur Istiyanti | Andini DaniswariWibowo | Ahmad Reza UzfaluziKolumnisAulia H. | Dimas Candra Pradana |ZaskiaCoverSofidhatul KhasanaIlustratorShofidatul Khasana | Az-Zahra Aqila Y.M. | Gracia Cahyadi | Nur IstiyantiFotograferDhito PriambodoLayouterFlorantina Agustin | Muhammad ZakiDAFTAR ISIKolase Foto04PerempuanPuisi11Perempuan dan Pikirnya| Cantik Bukan NamakuResensi Musik08Merayu Keutuhan MelaluiRayuan Perempuan GilaPentigraf15Malam ini, AkuMembakar SebuahRumah | Anakku LahirSebagai Laki-LakiResensi Buku06Yang Berdoa, Berdosa, danBerontakCerpen16Pelaminan, Pelaminan,PermainanSastra.12PuisiDalam CengkeramanPuan| DESEMBER 2025 03 | DAFTAR ISI13PuisiYang Hidup di Perut14PuisiAku Bukan TuhanCerpen21MAYA26CerpenMelati di HalamanNadra30OpiniAkankah PerempuanSelalu Menjadi ObjekPemuas TuntutanManusia?
04 | KOLASE FOTOPEREMPUAN| DESEMBER 2025
Yang Berdosa,Berdoa, danBerontak06 | RESENSI BUKUIa merasa berdaya, rasa percaya dirinyaterangkat tinggi. Apa yang dilakukannya takubahnya keajaiban atau mukjizat.Sayangnya, orang-orang awam cupet pikiranlagi kerdil wawasan tidak pernah memahamiitu. Dengan bodohnya, mereka justrumengatakan bahwa itu adalahpenyimpangan, ibarat ilmu hitam atau sihiryang tidak baik.Kunci surga dunia ada dalam genggaman RaraWilis. Dari gigolo-gigolo yang perkasa di atasranjang, laki-laki kucing muda penuh gairah,tempat sebarang jenis perjudian, sampai kioskios film porno dengan berbagai genre. RaraWilis adalah penguasa atas semua yang tabu.Jiwa perempuan telah mengisi tubuhnya sejakkecil. Diasuh oleh Mbok Ti, Rara kecil lebih sukamenjadi kemayu. Cara menggerai rambutpanjangnya, bertingkah gemulai, berdandandan berpakaian layaknya perempuan, hingganafsunya yang membara saat memandangtemannya melepas kaus usai bermain bola—semua sudah Rara rasakan sejak belia.Puncaknya, ia bertemu Bowo dan komunitasgay-nya.Rara berubah sudah. Ia bukan lagi pemudakampung yang lugu, melainkan seumpamaperawan yang telah melalui bulan madusehingga kompletlah segala pengalamanhidup yang bisa dirasakan di dunia.Bulatlah tekad Rara untuk turun ke jalananmenjadi pekerja seks waria. Di sanalah iamenguasai segalanya: Rara Wilis menjelmaRatu Waria di Semarang. Khatam sudah Raramerasakan kenikmatan dunia sekaligus pahitgetir termarginalkan.Namun kehidupan Rara sebagai transpuanperlu dipahami sebagai performatif. Sebab jiwakeperempuanan itu tak serta-merta ada,melainkan terbentuk atas serangkaianperulangan yang ujungnya mengkristalkanidentitas.| DESEMBER 2025Judul Buku: Anak Gembalayang Tertidur Panjang di AkhirZamanPenulis: A. MustafaTebal: 354 HalamanTahun Terbit: 2019Penerbit: Shira Media
| DESEMBER 2025 07 | RESENSI BUKUApa-apa yang Rara lakukan sejak kecil adalahaksi politis yang mengganggu klaim-klaimkebenaran heteronormatif. Dan Rara kecil yangmemilih menjadi kemayu—setidaknya kataJudith Butler—adalah sebuah strategieksistensial.Pun begitu kehidupannya sebagai pekerja seks.Dikucilkan sanak saudara, ditendang Satpol PP,diinjak sepatu lars, hampir dibunuh pemudapondok, bahkan diperkosa dan dianiayakekasihnya; tak lantas membuat Rara relamenjadi figur yang tereduksi. Sebaliknya, iatetap menjadi subjek yang menatakehidupannya sendiri juga kehidupankolektifnya. Ia menentukan harganya sendiri,rumahnya sendiri, sembari memberdayakananggota-anggota PAWATRI dan melakukanbakti sosial. Rara menolak tunduk. Ia tentukannasibnya sendiri lewat kerja-kerja politikperawatan, sebagai cara bertahan sekaligusperlawanan.Sampai, Rara membaca tulisan-tulisan karyaMirza Ghulam Ahmad. Seketika, ia merasa telahmenemukan seluruh jawaban ataskeganjilannya. Seketika, ia merasa Tuhandatang menemui dirinya. Begitulah, Rara lantasmembaiat diri menjadi jemaah Ahmadiyah.Perlahan-lahan, ia tanggalkan semuakehidupan nyebong-nya dan memulaiperjalanan spiritual. Rara terlahir kembali.Dengan nama aslinya—Suko Djatmoko Purwo,akrab dipanggil Pak Wo—Rara melepaskanmahkota Ratu Waria dan mulai menyiarkantablig Ahmadiyah lewat epos Mahabarata.Tapi,“bertobat” tak lantas membuat nasib PakWo usai dari penindasan. Ia justru ada dipersimpangan penindasan. Stigma gendernon-normatif dan pekerja malam belum lepassepenuhnya. Kini, bertambah sebab menjadibagian dari kaum minoritas agama. Pak Wodicap menyimpang sekaligus sesat. Maka, kisahPak Wo tak cuma soal korban gender semata.Jauh lebih kompleks, ia ada dalam persoalanintersectionality—penindasan berlapis yang takbisa dipahami dalam kategori tunggal.Dan bergabungnya Pak Wo pada jemaahAhmadiyah adalah soal kesadaran kolektif. Darisitu, terlahirlah politik perawatan yang baru,yang saling memahami luka masing-masing.Sehingga, perjuangan Pak Wo—dengan segalastatus rentannya—adalah perjuanganmultidimensi: untuk aman, untuk diakui, untukhidup sebagai diri sendiri tanpa perlumenghapus identitas parsialnya.Begitulah, Mustafa menuliskan kisah Rara Wilisapa adanya dalam novel Anak Gembala yangTertidur Panjang di Akhir Zaman. Dari sekssampai teologi, dari iman sampai skeptisme,dari pelacur sampai Tuhan—tentang semuayang tabu, tentang semua yang terpinggirkan.Juga alegori babi lumpur serta kisah akhirzaman dalam epos Mahabarata. Tak adakemenangan apa pun, tak juga kekalahan apapun. Hanya ada Rara Wilis yang selalumenentukan hidupnya, sebagai transpuan atausebagai Pak Wo.Budi Darma menyebut novel ini sebagai unsurdua genre yang berkelindan—fantasi danbildungsroman. Pertanggungjawaban DewanJuri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta2018 memujinya sebagai novel polifonik.Namun, barangkali kisah Rara Wilis melebihi itusemua. Ia adalah tuntunan—yang amatsederhana—tentang bagaimana membacakehidupan sehari-hari sebagai medan politik.Dimas Candra Pradana
Panggil aku perempuan gilaHantu berkepalaKeji membunuh kasihnyaKalimat itu rasanya tidaklah terdengar seperti pengakuan pribadi, namun mirip seperti ketakutankolektif yang diwarisi seorang perempuan. Dalam durasi lima menit lebih dua puluh detiknya, NadinAmizah melalui Rayuan Perempuan Gila telah menghadirkan potret tentang bagaimanaperempuan dibingkai, dinilai, dan disudutkan.Ya, disudutkan. Oleh apa saja yang bercokol dalam dirinya sebagai seorang perempuan. Lagu yangdirilis pada tahun 2023 ini seperti labirin yang mengungkap lapisan demi lapisan pergulatan emosidari diri seorang perempuan yang menyimpan begitu banyak keraguan terhadap dirinya sendiri.Ketika mendengar lagu ini pertama kali, saya membayangkan seorang perempuan–yang entahberada di mana–sedang sibuk menari-nari. Selayaknya seorang kekasih, ia menawarkan sekuntumcinta yang ia kemas sedemikian rupa; dan selayaknya seorang penakut, langkah kakinya menarikdirinya sendiri sebanyak cinta yang ia miliki.Keraguan, ketakutan, ketidakpercayadirian, serta ketidakberdayaan adalah aktor utama dalam laguini. Tidak seperti musiknya yang dilantunkan dengan begitu santun dan hati-hati, Nadin Amizahseakan menelanjangi isi kepala dan posisi perempuan dalam karyanya. Setiap detik dari lagu initerasa seperti melodi kesedihan, seperti permintaan, juga sebuah penawaran untuk diterima.Hal ini tentunya tidak terjadi tanpa sebab. Pergolakan yang dialami sang tokoh melalui lagu ini punmerupakan hasil dari konstruksi sosial yang membelenggu perempuan: untuk diterima, untukdiakui, untuk selalu dicinta. Proses ini berlangsung terus-menerus sehingga menciptakan sebuahidentitas baru dari dalam diri perempuan, bahwa ia barangkali bukanlah siapa-siapa, atau apa-apa,jika tidak mendapat cinta yang semestinya.| DESEMBER 2025 08 | RESENSI MUSIKMerayu KeutuhanMelalui RayuanPerempuan GilaJudul Lagu: Rayuan Perempuan GilaPenyanyi: Nadin AmizahKomposer: Nadin Amizah, Lafa PratomoProduser: Lafa PratomoTahun Rilis: 2023Label Musik: Sorai
Cinta, begitulah frasa yang berulang kalidisebut dalam lirik lagu ini, akhirnyamenghadirkan sebuah pertanyaan yangmuncul dalam kepala saya: sejauh manakahperempuan akan dianggap ada melalui cintayang ia terima? Adalah katarsis untuk berpikirbahwa eksistensi perempuan sertakepercayaan dirinya dalam lagu tercermin dariseberapa hebat orang lain mampumemberikan cinta bagi mereka. Namun, lagilagi, selayaknya seorang kekasih yangmenghimpun setumpuk cinta, RayuanPerempuan Gila bak kekasih yang berupayamengasihi dirinya sendiri–seorang perempuan.Perempuan dan Upaya Sebuah PengakuanMenurutmu berapa lama lagi kau ‘kanmencintaiku?Menurutmu apa yang bisa terjadi dalamsewindu?Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu,aku takutTak pernah ada yang lama menunggukusejak duluSimone de Beauvoir, melalui konsep feminismeeksistensialnya, menyingkap bagaimanaperempuan sejak lama diliyankan.Ditempatkan sebagai “yang lain”, sebagaisubjek kedua. Perempuan tidak pernah benarbenar berdiri di ruang kebebasannya sendiri;identitas dan nilai dirinya dibentuk melaluirelasi eksternal–berdasarkan pandangan,keinginan, serta pengakuan orang lain.| DESEMBER 2025 09 | RESENSI MUSIKKonsep itu terasa begitu dekat denganperasaan yang menguar dari lagu ini. Sejak baitpertama, tokoh dalam lagu memosisikandirinya sebagai seseorang yang terus menakarnilai dirinya dari seberapa banyak orangbersedia tinggal. Ia merasa layak hanya ketikaseseorang memilih untuk mencintainya,namun di waktu yang sama ia pun terjebakdalam ketakutan tentang kapan cinta itu akanpergi meninggalkannya. Bayangan ditinggalkanselalu lebih nyata daripada kemungkinanuntuk diterima.Memang tidak mudah mencintai diri iniNamun aku berjanji akan mereda semestinyaPergolakan perasaan semacam itu tidaklahlahir dari ruang hampa. Konstruksi sosial yangmeletakkan perempuan sebagai gender keduamembuat diri mereka meyakini bahwa merekaharus memiliki sesuatu untuk ditukar dengansebuah penerimaan dan untuk dapat dicintaidengan sebebasnya. Posisinya sebagai subjekjuga membuat perempuan terbiasa merasabersalah atas apa pun yang tidak berhasil iapertahankan. Ia melihat dirinya sebagai pusatkegagalan relasional yang dialami. Maka sangtokoh memberikan sebuah janji yang diulangratusan kali dalam lagu ini, bahwa ia akanmereda, akan kembali pada sesuatu yangseharusnya.Perempuan Gila dan Pembelokkan StigmaSosialYang menarik adalah bagaimanamendengarkan alunan musik ini terasa sepertimenyusuri perjalanan seorang perempuanmenuju kebebasan eksistensialnya. Jika di awallagu ini saya seperti diajak untuk mengintipketidakberdayaan sebagai seorang perempuan,seiring lagu ini bergerak, terdapat lapisan lainyang terungkap: upaya perempuan untukmenerima alih-alih melanggengkan narasi yangmembelenggunya.Sebutan“perempuan gila” tak ubahnya denganproduk dari konstruksi sosial yang menetapkandefinisi sempit untuk perempuan bersikap.
Perempuan yang tidak sesuai dengan batas yang ditetapkan adalah perempuan gila. Perempuanyang tidak memenuhi dan tidak mampu memuaskan ekspektasi sosial pun diberi label serupa.Namun, pada bagian akhir lagu, saya dibawa untuk merasakan penerimaan sang perempuanterhadap dirinya sendiri. Tokoh dalam lagu ini mengamini sebutan“perempuan gila” tidak untukmengerdilkan dirinya sendiri–melainkan bentuk resistensinya untuk tetap eksis di tengah berbagaimacam stereotip yang ditaruh padanya. Bahwa ia nyatanya tetap hadir meski tidak selaras dengansegala bentuk harapan yang dilekatkan padanya.Di sini, Nadin Amizah menampilkan bagaimana keberadaan perempuan sering kali beriringandengan kehilangan: kehilangan diri, kehilangan suara, kehilangan otonomi. Tetapi lagu ini sekaligusmemberi ruang bagi munculnya pilihan lain—bahwa perempuan dapat hadir sebagai individu yanglebih luas daripada sekadar identitas gendernya. Bahwa ia dapat memutuskan ulang apa yang inginia simpan dan apa yang ingin ia lepaskan, dan ia melampaui lebih dari penerimaan yang diberikanorang lain.Dan pada akhirnya, penerimaan itu—sekecil dan sesunyi apa pun bentuknya—adalah perlawananpaling mendasar untuk tetap ada.Zaskia| DESEMBER 2025 10 | RESENSI MUSIK
Aku, perempuan yang merangkai abjad pengampunan.Mencoba menyulam arti di antara serpihan waktu,menimbang-nimbang kata maaf yang tak kunjung berlabuh.Kau, perempuan yang bersembunyi bersama gamang,bersama doa-doa angkuh yang kau panjatkan,yang tak lain adalah bukan tentang dirimu.Tetapi Kita, adalah api yang tak harus membakar untuk diterima,adalah luka yang tak harus dihapus agar dicintai penuh,adalah semua kecil yang masih belum besar namun dapat dikasihi utuh.Pun Kita, bukan sekedar tubuh yang bergerak di dunia,melainkan sulaman luka dan cerita yang mendarah,pula bintang dan bulan yang membumi.Maka rayakanlah rayuan yang tak pernah pantas mereka sebut gila,sebab apa arti gila jika tidak tentang manusia?| DESEMBER 2025 1 1 | PUISIPerempuan dan PikirnyaAulia H.Cantik Bukan NamakuElvaretta Rahma Devina“Cantik,” katamuJujur saja pada siapamata itu tertuju?Sebab aku,tidak merasabahwa cantik adapada nama belakangkuSebagaimana itu tersematpada perempuan yang kau tahuIlustrator: Az-Zahra Aqila Y.M
Bila hujan meruahmembasahi pelantaranboleh jadi Puan tengahmerintik pada awanBila baskara menusuktajam perabaanpastilah Puanmengadupada semestaPuan, Puan, PuanJagat kau dekap dalamsela-sela jemari yang indahSulur pada sela itu mengayunkansiapa pun dalam cengkeramPada tapak-tapak sadahSungguh, kehidupan!| DESEMBER 2025 12 | PUISIDalam Cengkeraman PuanIlustrator: Az-Zahra Aqila Y.MElvaretta Rahma Devina
Dia itu Ibu, kuberitahuFotonya tak berbingkai kayuatau pun merupa semen dipatungDia tak pandai molek kemayupun rupanya sudah layuoleh waktu dan akuakuserupaserdadumengguratmerenggutyang adadi hidup-nya| DESEMBER 2025 13 | PUISIYang Hidup di PerutElvaretta Rahma DevinaSumber: Canva
Suatu aliran terus menerusAku sumbernyaBukanlah aku tuhanAku perempuanTerus tumbuh dengan suburAsalnya dari rahimkuBukanlah aku tuhanHanya penyalur kehidupanKita penuh kehangatanDan kini dibelenggu kedinginanBukanlah aku tuhanKadang dicintai, kadang ditindasAku berpikir apa aku?Malah aku berbedaAku perempuanPerih tapi aku cinta| DESEMBER 2025 14 | PUISIAku Bukan TuhanKhoiriyah Balqis
Malam ini, aku membakar sebuah rumah. Rumah yangmenampung aku dan segala burukku, akhirnya mati. Apimenjilat tiang-tiang tua macam lidah laki-laki yangmengenalkanku pada rasa takut. Suara pecah genting kaca itujauh lebih lembut daripada suara amarah yang selama inimenahun di dada ibuku. Kehangusan itu justru terasa sepertileganya dahaga yang ditahan bertahun-tahun.Laki-laki di rumah ini mengira perempuan hanyalah perabot,yang bisa dikacaukan lalu dibersihkan kembali. Dunia luar puntak jauh berbeda. Mereka bilang perempuan harus punya celahuntuk memaafkan, harus sabar, harus lembut, harus kuat, danharus-harus lainnya yang sempit. Seolah aku, sebagaiperempuan, adalah wadah yang diciptakan untuk menampunglimbah dunia. Seolah aku, sebagai perempuan, harus memelukduri bak itu mawar yang dibudidayakan dalam rahimnya sendiri.Malam ini tidak. Ketika korek api itu kugesekkan pada tirai yangrapuh, pikiranku hanya berlabuh pada satu hal. Kemerdekaantidak akan pernah diberikan pada perempuan macam aku. Iaharus direbut, dicuri, atau dipaksa keluar dari gelap paling binal.Dan jika jalannya harus melewati kobaran api, biarlah rumah inijadi tumbalnya. Jika kewarasan perempuan hanya diukur dariseberapa pandai ia menahan sakit dan meredam amarah, makaaku memilih kegilaan yang bisa membakar sampai tuntas.Biarlah besok, mereka memanggilku perempuan gila,perempuan yang menolak tempatnya.| DESEMBER 2025 15 | PENTIGRAFMalam ini, AkuMembakar SebuahRumahAulia H.Anakku LahirSebagai Laki-LakiAnakku lahir sebagai laki-laki. Laki-laki tulen dengan peniskecilnya yang belum tumbuh, atau mungkin akan tumbuh.Ketika plasenta terakhir berhasil digunting oleh dokter, langsungkususui ia dengan air susuku, juga serat-serat dari bunga dihalaman rumah. Ketika kakinya sudah mulai berjalan, kusumpaliia dengan air susuku. Ketika mulutnya sudah berhasil mengecapmakanannya sendiri, kusumpali ia dengan air susuku.Anakku lahir sebagai laki-laki. Aku berhenti menyusuinya sejakmatanya sudah mampu mencapai kulit kepalaku. Aku berhentiberbicara dengannya sejak rambut-rambut di kemaluannyamulai tumbuh. Aku berhenti memanggilnya“nak,” sejak akutahu ia kini sudah jago membasahi tanah rumah ini dengan airmaninya sendiri—bukan lagi air susuku yang kini sudah habis takbersisa.Anakku lahir sebagai laki-laki. Di hari pertama tangisannyaterdengar hebat mengisi ruang persalinan, aku sempat bersujudseharian penuh di depan gereja. Terima kasih Tuhan, sebabanakku tidak menurunkan vagina yang kumiliki. Anakku lahirsebagai laki-laki—nak, kelak jika kau menemukan air susu lainuntuk menyusuimu, ingatlah perempuan itu memiliki jiwa dantubuh yang sama dengan ibu.Florantina AgustinSumber: CanvaSumber: Canva
Surai hitamku bergoyang-goyang diterpa anginkampung yang berhembus lembut. Lantas,terangkatlah tanganku menyelipkan galer yangmenghalangi pandangan ke telinga. Suaramusik dangdut mengalun dari speaker, diiringigoyangan biduan yang tampaknya adalahseorang waria.Suasana di pernikahan itu terbagi menjadi dua:mereka yang asyik berpesta dan mereka yangasyik melahap hidangan.“Kalau ada makanandi meja, mejanya yang kumakan.” Satriobersenandung tepat di sampingku, mengikutinada lagu, lalu tertawa kecil. Aku hanya diamtidak berniat menanggapinya, sebelummenatap kembali mempelai pria dan wanitayang bersandingan di atas pelaminan.| DESEMBER 2025 16 | CERPENPELAMINAN,PELAMINAN,PERMAINANPenulis: Nur Istiyanti Ilustrator: Nur IstiyantiSi pria tampak berumur, sedangkan si wanitatampak murung. Aku bahkan tidak maumenganggapnya sebagai seorang wanita. Diaadalah anak perempuan berusia 13 tahun,katanya dinikahkan oleh ayahnya untukmelunasi utang. Utang mereka baru akan lunassetelah si rentenir–mempelai pria–menikahianak orang yang berutang. Tidak kuasa akumenahan decakan. Yang berutang sepertinyakehilangan akal sehingga mengorbankananaknya yang masih labil, yang masih maubermain, dan masih mau bersekolah itu untukdinikahkan dengan orang yang berpotensiuntuk mempermainkannya bagai boneka.
Aku berdengkus, kemudian menegak airkemasan di tangan hingga habis tak bersisa.Berhadapan dengan kenyataan bahwa yangsedang aku lakukan adalah Kuliah Kerja Nyata(KKN) di kampung konservatif perlahan-lahanmenguras begitu banyak energi dan emosional.Terlebih pada fakta bahwa pada akhirnya anakperempuan di pelaminan itu dan anak-anakperempuan lain tidak bisa diselamatkan daripernikahan dini di kampung ini. Kamu tidakbisa berbuat banyak sebagai pendatang danitu membuatmu sakit hati.****“Bu Guru Kirana, gimana pekerjaannya hari ini?”Minggu pertama KKN, semua tampak baik-baiksaja. Sekarang sedang musim panen, wargatampak berlalu-lalang di depan rumah,membawa hasil panen. Beberapa rekansejawat KKN-ku, terlihat membantu warga dimasing-masing kebunnya.Langsung aku tepis tangan lelaki yang satukelompok KKN denganku itu. Satrio, denganrambut lurus panjangnya yang terikat, terkekehkecil kemudian duduk bersila tanpa malu disampingku.Lelaki itu pulang lebih awal ke posko KKNuntuk minum air. Namun, bukannya kembalike kebun, ia justru duduk di sampingku sambilmemperhatikan pekerjaanku dengan seksama.Saat sedang serius memeriksa tugas dari anakanak SMP yang tadi siang dikumpulkan, dibalkon depan rumah kayu sederhana, sekaligustempat singgah KKN selama satu bulanlamanya. Satrio secara tiba-tiba bertanya“Maudibantuin ga nih?” Sungguh malas rasanyamenjawab pertanyaan lelaki itu. Tanpajawaban yang berarti–aku memilah setengahpekerjaan anak-anak dan mengalihkannyapada Satrio.“Yang benar poinnya 5, yang salahberi 2,5.” Aku menyerahkan pulpen padanya,membuat Satrio memasang muka jengkel danbersiap untuk beranjak.| DESEMBER 2025 17 | CERPEN“Nanti aku traktir pecel.”Dia kembali duduk dan meraih pulpen itudengan muka senang.“Daripada ke kebunmending, aku di sini sama kamu.” Ia terkekehlagi dan mulai memeriksa pekerjaan anak-anakSMP di tangannya. Aku dan Satrio memeriksalembaran-lembaran itu di tengah-tengah anginyang mulai berhembus pelan, sejuk, sertamenenangkan.“Wow, jawaban anak ini keren sekali!” Teralihkanfokusku pada kertas yang aku genggam ini.Satrio dengan wajah terkejut konyonya, tampakmengenggam satu kertas dengan tulisantangan yang rapi.“Kritis. Jarang-jarang ada anakSMP yang punya pemikiran begini.” Iamemperlihatkan kertas itu padaku. Sembarimengaitkan anak rambut ke telinga, akutersenyum kecil. Kertas tersebut milik seoranganak perempuan bernama Dewi.Sejak pertama kali aku mengajar di kelasnya,aku sudah melihat potensi bahwa Dewi adalahanak yang cerdas. Saat dengan sengaja akumengajukan pertanyaan pemantik saatmengajar, Dewi adalah anak yang menjawabdengan antusias. Tak jarang, jawabannyaterlalu, membuat teman-temannya tidakmengerti dengan apa yang ia bicarakan. Hanyaaku yang memahami apa yang ia sampaikan.Suatu ketika saat di sela-sela jam istirahat, akumemakan bekal bersama Dewi dan temantemannya.“Dewi memang pintar loh, Kak! Diasenang baca buku,” seru temannya, membuatDewi tersipu malu. Anak dengan rambutkepang duanya itu mendorong pelantemannya yang tadi memujinya.“Oh, ya?” Jawabku di tengah kegiatan menelannasi pecel.“Buku apa tuh?”Teman-temannya menoleh pada Dewi, merekamempersilakan anak itu untuk menjawabnyasendiri.
Rasa khawatir langsung menggelayuti hatikusaat mengetahui hal itu. Aku langsung berjalancepat untuk menemui Dewi di rumahnya.Setelah sampai di sana, Aku dan rekanmuterkejut. Ada rekan-rekan KKN-ku di sana,sedang memasang tenda bersama bapakbapak dan membantu beberapa ibu-ibumenyiapkan alat masak dan bahan makanan.Sepertinya akan ada acara besar.“Eh, Kirana, ngapain ke sini? Mau ikut bantujuga?” Di tengah-tengah keramaian, salah saturekan KKN-ku di antara mereka menyaparamah.Sambil mengerutkan dahi, aku bertanyadengan suara pelan.“Ini kenapa? Ada acaraapa?” Mataku giat menelusuri sekitar, ke tendatenda biru yang sudah berdiri dan kalang-kabutwarga yang membawa berbagai macam alatmasak.“Oh, ini ada yang mau nikah,” jawabnya santai,kemudian Ia mengelap peluh di wajahnya.“Nikah? Siapa yang mau nikah?” tanyaku kaget.Apakah Dewi punya kakak? Kalau iya, apakahdia yang menikah? Atau ayahnya inginmenikah lagi? Berbagai pertanyaan berputar dikepalaku.“Katanya sih Dewi, tapi entahlah.” Diamenggaruk kepala.“Dewi ‘kan masih SMP, tidakmungkin dia menikah semuda itu.”Jawaban yang dipaparkan itu membuat Satriomencuramkan alis. Lelaki itu kaget, samadengan kagetmu saat mendengar jawaban darirekanmu itu.“HAH? ANAK SEKECIL ITU MENIKAH? Yangbenar aja!” Suaranya melengking, sejenakmemancing perhatian tiga orang bapak-bapakyang berjalan di depan posko, baru pulang darikebun.| DESEMBER 2025 18 | CERPENDewi memain-mainkan rambutnya sejenak,lalu menjawab,“Buku ilmu pengetahuan sosial,Kak. Buku IPS. Biasanya saya baca-baca bukuBapak saya.” Dari sanalah aku tahu bahwa Dewiadalah anak dari seorang penjual buku dikampung. Beberapa sekolah di sana kadangmemberikan buku-buku mereka yang sudahtidak terpakai kepada ayah Dewi. Buku-bukuitulah yang dibaca Dewi di waktu luangnyasebelum dijual dengan harga murah ke kota.Tidak aku sangkal rasa kagumku. Anak berusia13 tahun ini sudah gemar membaca. Akulangsung meringis pelan saat sadar bahwadiriku ini tidak seperti Dewi yang senangmembaca.Hari-hari berikutnya saat Aku mengajar di kelasDewi, saat diberikan pertanyaan atau pekerjaanrumah, Dewi-lah anak yang paling banyakmenjawabmu dan jawabannya paling detail diantara yang lain. Ia benar-benarmengaplikasikan semua ilmu yang sudah iabaca untuk membuat jawaban-jawaban itu.Kamu jadi bersemangat saat mengajar dikelasnya atau memeriksa lembar jawabannya.Namun, senyumam itu sirna saat melihat namaDewi di kertas yang digenggam Satrio ituperlahan memudar. Satrio menyadari haltersebut. Ia langsung bertanya dengan nadabingung.“Kenapa?”“Anak itu sudah tiga hari ini tidak masuksekolah.” Aku tatap sayu lembar jawaban anakanak yang berserakan.“Katanya sih izin, tetapitidak ada yang tahu dia izin karena apa.”Satrio mengernyit.“Sudah coba ke rumahnya?”“Sudah.” Pikiranku melayang ke ke hari kemarinsaat aku dengan mantap hati memutuskanuntuk menjenguk Dewi ke rumahnya. Saat ituaku ditemani seorang rekan yang jugamengajar di kelas Dewi, hanya saja beda matapelajaran. Dia bilang bahwa Dewi tidakmengumpulkan tugas yang sudah diberikan.
| DESEMBER 2025 19 | CERPENAku berkedip-kedip bingung, tetapi langsungmengangguk.“Boleh. Mau sekarang aja? Dibawah pohon itu?” Aku menunjuk sebuahpohon besar di samping sekolah yang biasanyadipakai untuk memarkirkan sepeda. Anakkepang dua itu mengangguk. Aku berpamitandengan rekanku, dia mengangguk dan akulangsung meninggalkannya. Aku gandengtangannya lalu berjalan bersama-sama kepohon itu sebelum duduk menikmati anginyang berhembus.Dewi langsung memeluk lenganku.“Kak, akugak mau menikah.” Tepat setelah itu, iamenangis tersedu-sedu di sampingku. Airmatanya mengucur deras, jatuh mengenai kainlengan baju yang aku pakai, membuatkulangsung meraih bahunya dan memeluknya,berusaha menenangkannya.“Kenapa Bapak‘ngutang sama Pak Karno, sih? Ngapain‘ngutang kalau gak bisa bayarin. Sekarang, akuharus nikah sama Pak Karno untuk melunasiutang-utang itu. Aku enggak mau!” Dewisesenggukan. Ia gemetar.Aku berusaha untuk menyusun kata-kata yangtepat. Suasana hatiku campur aduk. Sejak awal,aku sudah tahu bahwa kampung tempatmuKKN menormalisasi pernikahan dini. Banyakperempuan yang putus sekolah karena dipaksamenikah oleh orang tuanya. Beberapa di antaramereka mengalami kasus yang sama denganDewi–dinikahkan untuk melunasi utang.Kelompok KKN-ku sudah berupaya untukmemberikan pengertian bahwa pernikahandini tidak sebagus itu. Mereka rajin memberipengajaran ke instansi pendidikan dan seminarkecil-kecilan untuk warga kampung. Anak-anakseperti Dewi tidak bisa dinikahkan secepat itu.Mereka tidak boleh menjadi bayaran atassemua utang yang sudah ada.Namun, jarang di antara warga yang setuju.Justru dengan pernikahan dini, mereka merasadibebaskan dari tanggung jawabnya sebagaiorang tua. Anaknya diurus oleh orang lain,saatnya mereka mengurus anak-anaknya yanglain.“Aku juga gak tahu.” Aku terdiam, menghelanapas.“Dewi gak mungkin izin tiga hari hanyakarena ia mau menikah.”“Ck!” Satrio berdecak. Ia kembali memerhatikanlembar jawaban Dewi.“Anak ini cocoknyasekolah sampai S1, bukan menikah muda.”“Aku tahu.” Aku menyahutnya, tak kalahnyaring.“Kau juga tidak terima,‘kan?” Satriomengangguk-angguk.Keesokan harinya, aku kembali mengajar. Akukembali masuk ke kelas Dewi. Tak pernahsekalipun aku menyangka jika Dewi kembaliduduk di kursinya, tetapi dengan tatap kosong.Ia tampak tidak seceria biasanya.Teman-temannya tadi mengerubunginya,bertanya-tanya mengenai pernikahannya. Akuterdiam dan pikiranku lumpuh saat tahubahwa pernikahan Dewi itu merupakan fakta.Aku berusaha menepis bahwa itu hanyakhayalan yang lewat dalam mimpi, akuberharap itu hanya fiksi di novel temafeminisme yang pernah aku baca sebelumnya,tetapi ternyata ini benar-benar kejadian tepatdi depan mataku, dan bulu kudukku punmerasakannya.Saat aku berjalan ke meja guru di depan kelas,semua murid langsung duduk di kursinyamasing-masing. Aku kembali mengajar sepertisedia kala, tetapi Dewi tidak menjawabpertanyaan pemantik yang aku berikan barangsekali saja. Hatiku tergores begitu dalam.Saat jam pulang sekolah, saat aku sedang didepan ruang guru untuk menunggu seorangrekan mengajar, baju kemejaku ditarik dengantiba-tiba. Aku menoleh ke belakang, menatapDewi dengan raut sedihnya.“Aku boleh curhat sama Kakak, enggak?”tanyanya dengan nada berharap. Matanyaberkaca-kaca, bibirnya gemetar kecil. Raut ituseperti seseorang yang sudah menahan pedihbatin berkali-kali, tetapi memilih untuk tetapimemilih betahan walaupun enggan.
| DESEMBER 2025 20 | CERPENPemikiran yang sesat! Aku mengeraskan rahang. Perempuan di kampung ini dianggap sebagai seekor ayam betinayang siap kawin dengan ayam jantan. Tidak peduli ayam betinanya mau atau tidak, sengsara atau tidak, setidaknyaayam betina itu bersama pasangannya dan mereka tidak perlu mengurusinya lagi.Sebagai sesama perempuan, aku sangat menyayangkan pola pikir warga kampung yang kampungan ini. Saat Dewimenangis dengan begitu pilu di dekapanku, Satrio datang dengan tas ransel penuh buku pelajarannya. Dialah rekanyang tadi aku tunggu. Lelaki itu berdiri dengan tatapan iba di depanku dan Dewi.Aku dan Satrio tidak dapat berbuat banyak. Kelompok KKN-ku hanya datang untuk membantu warga, tidak bisamengubah pandangan konservatif yang mereka tautkan pada perempuan. Kamu dan Satrio bahkan sudahmenemui ayahnya Dewi, mewakili Dewi yang tidak mau menikah dan tidak berani mengaku. Namun, ujungujungnya mereka diusir secara halus. Pernikahan itu tetap berlangsung pada akhirnya.Dewi duduk di sana, dengan gaun pernikahannya dan riasan yang tebal. Rambut kepang duanya kini digerai.Rambutnya bergelombang, cantik, tetapi kontras dengan muka sedihnya. Sedangkan Pak Karno tampak tertawasenang saat berbincang dengan ayahnya. Dewi hanya punya ayahnya, dan ayahnya melukai hatinya. Aku bisamerasakan Dewi menangis keras di dalam hatinya akan apa yang sudah terjadi.Setelah Satrio menghabiskan makanannya, aku langsung menyenggolnya. “Kamu kayak orang gak berperasaan.”Maksudnya adalah, Satrio tampak menikmati pernikahan itu karena bisa makan makanan yang banyak danmendengarkan alunan musik. “Itu lho nikahan Dewi!”“Terus kita harus gimana? Dewi nikah juga‘kan akhirnya?” sahut Satrio dengan wajah kesal. “Kirana, aku tahu kamukesal, tapi kita gak bisa apa-apa. Kemarin aja kita diusir,‘kan?” Ia mengingatkanmu dengan kejadian tempo hari.Aku mendengkus. Anak rambutku lepas dari kaitan di telinga. Aku berjalan mendahuluinya, pulang ke poskodengan tatap lesu. Satrio mengikutiku dengan wajah merasa bersalah–ia baru merasakannya. “Aku benar-benarcuman mau makan, bukan berarti empatiku hilang, dan maaf karena sempat terlihat menikmati.” Aku hanya diammendengarkannya.Setelah hari itu, aku tidak melihat Dewi lagi sampai masa KKN ini berakhir. Aku tidak melihatnya sama sekali saatkelompok KKN-ku berpamitan dengan anak-anak SMP tempatku mengajar. Anak cerdas berkepang dua itu benarbenar tidak diketahui lagi kabarnya.Aku pun pulang dengan hati remuk. Perempuan di kampung ini benar-benar diperlakukan tidak adil. Perempuanperempuan muda ini benar-benar dianggap individu yang lemah jika tidak segera dinikahkan. Perempuanperempuan ini dianggap beban oleh keluarga mereka sendiri sehingga harus dioper ke orang lain.Beberapa hari setelah pulang, Aku menerima sebuah kabar bahwa Pak Karno ditangkap oleh polisi. Beritanya tayangdi media massa nasional. Pak Karno sudah membunuh istrinya sendiri dengan cara menenggelamkannya ke bakmandi. Bagian yang paling mengiris hati adalah fakta bahwa istri yang dimaksud itu adalah Dewi. Dia meninggalkarena kemarahan Pak Karno.Tidak tertahan air mata menggenang dalam ujung mataku, tangisanku begitu sesak dan lirih menggemamemenuhi volume kamar tak seberapa besar ini. Aku bisa mendengar bisikan minta tolong dari anak itu, tetapi akutidak bisa berbuat apapun menjawabnya.“Seharusnya Dewi belajar, seharusnya dia bermain dan membaca buku-bukunya. Ia tidak seharusnya menikah,”lirihku, sengau.Aku berakhir terduduk di sisi kasur dengan tatap kosong. Mungkin inilah satu-satunya kesalahan fatal dalam hidupyang aku lakukan: meninggalkan Dewi sendirian bersama rasa sakitnya. Aku hanya bisa berdoa dengan tangismenyertai meminta Tuhan untuk menempatkan anak itu ke dalam surga-Nya.Sumber: Canva
Trigger warning: pelecehan, kekerasan seksual, adegan kekerasanJAKARTA - Dia dikenal sebagai kota yang besar yang megah di kepala orang-orang. Di mata banyakorang, kota itu menjulang seperti mimpi yang dipenuhi oleh ambisi dan harapan. Gedung-gedungsaling berlomba untuk menggapai langit, memamerkan kemewahannya.Namun dibalik kilaunya yang indah, Jakarta menyembunyikan denyut lain yang jarang diceritakan.Rahasia gelap yang merayap dalam heningnya malam, dalam sudut-sudut sempit yang tak pernahmasuk ke dalam brosur pariwisata, dalam kisah-kisah yang terlalu perih untuk dilisankan.Jakarta tahu cara menyembunyikan lukanya. Ia menampung segala mimpi yang patah tanpa suara,menelan orang-orang yang datang dengan harapan besar, lalu memuntahkan mereka kembalidalam bentuk yang tak lagi utuh. Di balik gemerlap lampu malam yang tampak indah darikejauhan, ada lorong-lorong yang berbau dingin, di mana setiap langkah menggema sepertipertanyaan yang tak pernah selesai.| DESEMBER 2025 21 | CERPENMAYAIlustrator: Gracia CahyadiPenulis: Andini Daniswari Wibowo
Di balik keindahan kota itu, ada tubuh-tubuhyang bekerja sampai jiwanya retak, adaperempuan yang menukar setiap detik darihidupnya hanya agar besok ia tak kelaparan,ada lelaki yang menggadaikan masa depannyauntuk mimpi yang tidak akan pernah terwujud.Dan kota itu hanya mengamati, tanpa belaskasih, tanpa jeda, seolah ia memang diciptakanuntuk menjadi panggung dari tragedi yangterus berulang.Jakarta megah, ya.Tetapi kemegahannya itu bukanlah tanpaharga. Ia berdiri kokoh di atas tumpukan ceritayang tak pernah dicatat. Kisah-kisah yangberdebu, yang hilang sebelum sempat disebutnamanya.Dan di sanalah rahasianya berdiam, bahwa dibalik setiap kilau, selalu ada gelap yangmenunggu untuk diakui.Maya mengamati pantulan wajahnya yangpenuh dengan riasan tebal dengan bibir merahmengkilap. Rambutnya hitam bergelombang,tampak halus dan terawat. Tubuhnya dibalutidengan gaun merah pendek yangmemamerkan tiap lekuk dari tubuhnya yangelok rupawan. Perempuan itu menutupmatanya dan meletakkan sisir yang ia pegangke atas meja riasnya, tangannya bergerakmengusap wajahnya dengan rasa lelah yangtak terkira.Maya bekerja sebagai wanita penghibur disebuah klub malam yang terkenal didaerahnya. Ayahnya meninggalkan segununghutang padanya akibat ketagihan judi online,sedangkan Ibunya telah lama meninggal sejakadiknya lahir. Keadaan inilah yangmembuatnya tak ada pilihan lain untuk bekerjasebagai wanita penghibur demi menghidupikeluarganya.“Maya, kamu apa nggak ada pikiran buat keluarterus cari kerjaan baru? Kan banyak tuhlowongan kerja yang buka.” Seminggu lalu, Ibu| DESEMBER 2025 22 | CERPENpenjual sayur bertanya pada Maya yang sedangsibuk memilah-milah sayur yang akan ia beli.Maya hanya diam tak menjawab, lalutersenyum getir.“Kalau saja lamaran saya adayang diterima, saya mah mau banget buatkeluar, Teh.” Jawabnya pelan.Sudah ribuan surat lamaran gadis itu kirimkanke berbagai perusahaan, namun hanya tolakanyang ia dapat. Karena keadaan yang kianmendesak, membuat Maya tak ada pilihan lainselain menjajakan tubuhnya untuk bisa terushidup.“Apa nggak malu kamu, Neng? Itu zina loh,nanti Tuhan murka!” Peringat penjual sayur ituyang hanya dibalas senyuman pada Maya.“Saya juga jijik sama diri sendiri, Bu. Ibu kirasaya mau kerja seperti ini?” batin Maya.Namun Maya hanya menahan kalimat tersebutdi kerongkongannya dan tersenyum simpulsambil membayar belanjaannya.Maya tersentak ketika sebuah tangan dinginmenyentuh pundaknya. Ia menoleh danmendapati rekan sesamanya yang juga bekerjasebagai PSK menatapnya dengan khawatir.“Kamu kenapa, Neng? Pelanggan sebelumnyaterlalu kasar, ya?” Tanyanya.Maya menggeleng.“Nggak apa, saya cumanmelamun aja tadi.” Jawabnya pelan sambilmemasukkan lip tint merahnya.“Capek jugakerja kayak gini, Mbak Rina apa nggak pernahada pikiran buat keluar?” Tanya Maya balikdengan rasa penasaran. Yang Maya tahu, MbakRina sudah menjadi PSK empat tahunlamanya, bisa dibilang Mbak Rina adalahseniornya.“Kalau ada perusahaan yang mau nerimaperempuan tua yang cuman tamatan SMPkayak saya mah, saya sudah dari dulu keluar.”Jawab Rina dengan suara getir.
Wanita paruh baya itu duduk di samping Mayadan ikut mendandani dirinya.“Kalau sayakeluar, anak-anak saya gimana? Suami sayaudah lama kena PHK, kerjaannya nganggur ajadi rumah, jadi nggak ada pemasukan samasekali. Jualan kecil-kecilan juga nggak bisanutup pengeluaran sehari-hari. Satu-satunyajalan pintas ya, jadi PSK kayak gini. Duitnyalangsung dapet.” Lanjutnya dengan helaannafas panjang.“Mau cerai juga susah, anak-anak saya butuhsosok ayahnya. Saya nggak tega mereka hiduptanpa bapaknya.” Ujar Rina itu dengan ekspresimuram.Maya yang mendengarnya hanya diam sambilmendengarkan, tidak tahu harus menjawabapa, hanya tersenyum sedih mendengar kisahseniornya.“Saya duluan ya, ada klien yang nunggu saya.”Rina yang selesai memoles wajahnya langsungberdiri dan tersenyum pada Maya, sebelumakhirnya meninggalkan gadis bergaun merahitu.Maya menatap kepergian Rina dalam diam,sebelum ikut berdiri dan mengambil tas nya. Iajuga memiliki pelanggan yang sudahmenunggunya. Dengan cepat ia melangkahkeluar dari tempat disko malam tersebutmenuju tempat yang sudah disepakati.“Eh, ada Maya tuh.” Seorang pria muda bersiulsaat Maya melewati segerombolan pria mudayang sibuk bercengkrama ria di sebuah posronda.“Aduh, seksi banget dandananmu, maujemput klien, ya?” Tanya Adi diiringi dengansiulan keras.Maya hanya diam tak membalas. Wanitaberambut panjang bergelombang itu hanyaterus menatap lurus kedepan danmelangkahkan kaki jenjangnya melengos pergitanpa membalas segala perkataan orang-orangdi hadapannya.| DESEMBER 2025 23 | CERPEN“Bisalah kami bertiga patungan buat mainmain sama kamu, May.” Ucap Santo sambiltertawa diikuti teman-temannya.Maya yang mendengarnya langsungmenghentikan langkahnya. Dadanya terasapanas dan sesak dipenuhi rasa amarah. Dirinyamengakui jika pekerjaannya merupakanpekerjaan yang rendahan dan hina, tapi bukanberarti ia adalah wanita murahan yangmemberikan tubuhnya secara cuma-cumapada orang lain.“Jaga ucapanmu, ya.” Maya berucap dengannafas yang tersengal-sengal. Perempuan ituberbalik, alisnya menekuk tajam, matanyamenyipit menatap tak suka pada kumpulanpria bujangan dihadapannya.“Bukan berartikarena aku bekerja sebagai PSK, kalian bisaseenaknya padaku.”Tawa Danang makin keras mendengarpenuturan Maya.“Kan itu memangpekerjaanmu,” balas Danang dengan tatapanmengejek, seakan menghina wanita mudadengan balutan gaun merah ketat dihadapannya.“Kamu itu wanita penghibur, May.Toh, kerjaan kamu kan emang buat muasinhasrat laki-laki kayak kami.” Lanjutnya sambilmengelus lipatan sarung yang terikat di bawahpusarnya.“Untuk apa perempuan diciptakanjika bukan untuk dinikmati?”Hati si perempuan mencelos mendengarnya.Harga dirinya benar-benar diinjak-injak. Mayamengepalkan tangannya, dahinya mengkerut,rahangnya mengeras dipenuhi amarah yangmenggebu-gebu.“Tarik ucapanmu, bajingan.”Geramnya dengan pandangan jijik padaDanang.“Perempuan itu bukan sekadarmainan yang bisa dipakai dan dibuang gitu aja.Jaga ucapanmu.”Ketiga lelaki muda itu tertawa keras, seolahperkataan Maya tadi merupakan sebuahlelucon yang tidak masuk akal.“Kamu itu nggakpantes buat ngomongin harga diri, May.” SarkasAdi sembari membuang ludah ke semak
belukar disampingnya.“Inget, lonte kayakkamu itu nggak punya harga diri, jadi nggakusah sok suci! Berapa gadun yang sudah kamulayani? Udah nggak perawan kok ngomonginharga diri, nggak tahu malu!” Lanjutnya dengannada merendahkan.Maya hanya diam mendengarnya, tak adaniatan untuk membalas karena semua kalimatyang pria itu lontarkan padanya itu benaradanya, membela diri pun tak ada gunanya.Maya memilih untuk segera pergi dari sana,menelan rasa pahitnya segala hinaan yang iaterima dalam diam, mendengarkan tawa kerasmereka dari kejauhan yang tampak puasmelihat reaksi wanita muda itu.Lagipula tanpa dihina pun, dirinya sudah hina.Perempuan itu mengambil ponselnya danmenatap sederet kalimat berisi alamat sebuahhotel di mana salah satu pelanggannyamemintanya menunggu disana.“Pelanggannyakali ini usianya muda. Jarang sekali aku dapatpelanggan berusia muda seperti ini, apalagi diaminta di hotel gini.”Maya melangkah masuk ke hotel itu denganperasaan kosong. Lobi dengan cahaya remangremang itu memantulkan bayangan dirinyapada kaca-bayangan seorang perempuan yangbahkan sudah lupa bagaimana rasanyadianggap manusia. Ia lelah dengankehidupannya yang seperti ini. Apa orangorang pikir Maya suka dengan pekerjaannyaini?Setiap malam, ia harus menahan rasa jijikketika seorang pria menyentuhnya,melecehkannya, dan memintanya melakukanini-itu hanya karena ia dibayar dengan jumlahyang tak seberapa itu. Ia harus menahan rasamual setiap ditindih dengan pria yangberbeda-beda. Jika bukan karena keadaan danekonomi yang kian mencekik, gadis itu pastitidak akan terjun ke dalam pekerjaan malamini.| DESEMBER 2025 24 | CERPENKamar 303.Maya menarik napas sejenak sebelum masukkedalam kamar hotel tersebut. Wanita ituberencana menyelesaikan pekerjaannyasecepat mungkin dan pulang.Sayang, sepertinya Tuhan tidak menyayanginyasama sekali.Malam dini hari, Maya pulang dengan kakipincang. Tubuhnya penuh lebam, terdapat lukabakar di pipinya. Bibirnya sedikit sobek, bekaslemparan botol kaca tadi masih terasa jelas dipelipisnya. Maya baru saja ditipu, ia harusmelayani 3 orang sekaligus dengan bayaransatu orang saja. Rasa pukulan dan jambakan ditubuhnya masih terasa perih saat dia melawandan hendak melarikan diri.“Nggak usah melawan!” Pria muda yangmembayar jasanya itu memukul wajahnyahingga ia jatuh tersungkur ke lantai hotel. Dialangsung menjambak rambut Maya danmelemparnya ke atas kasur, terkepung, dan takbisa pergi.“Ini kerjaan kamu, kan? Melebarkan kaki untukdinikmati tubuhnya demi segepok uang. Sayaini sudah bayar kamu. Jadi diam dan lakukansaja pekerjaanmu.” Makinya sambil melepaskansabuk celananya.Maya menangis, raut wajahnya penuh akanketakutan. Selama 3 jam penuh ia digunakanseperti barang yang dipakai ramai-ramai. Gadismuda itu hanya bisa menerima semuanyadengan tangisan yang tertahan.
Maya menggelengkan kepalanya, berusaha keras melupakan kejadian yang baru saja ia alamiwalaupun itu sangat tak mungkin.“Kenapa aku sial banget malam ini? Mana uangnya kurang, dasarnggak tahu diuntung. Bajingan sekali mereka.” Ucapnya pelan sambil menyeret tubuhnya yangdipenuhi rasa sakit. Tangan Maya meremas beberapa lembaran uang merah dengan perasaankosong. Vaginanya terasa sakit, perih, membuatnya susah untuk berjalan. Ia malu jika harus pulangdalam keadaan seperti ini. Tapi, pantaskah ia merasa malu?Isakan mulai terdengar dari bibir sobek milik gadis dengan gaun merah berantakan itu. Denganlangkah pincang, ia seret tubuh lemahnya menuju jembatan di dekat kampungnya. Malam itu, Mayaduduk sendirian di jembatan kecil dekat kampung. Sungai di bawah memantulkan cahaya bulanyang indah, tidak seperti dirinya. Ia memegang uang yang tadi dilemparkan lelaki itu di atas mejahotel. Ia menggenggamnya begitu kuat sampai telapak tangannya memerah, seperti ingin meremassampai kertas itu hancur dan ingatan kejadian tadi ikut lenyap. Tapi uang itu tetaplah uang, daningatan tetaplah ingatan.“Tuhan, apakah kamu segitunya membenciku? Aku juga hambamu. Apa karena aku kotor, Engkaumemalingkan wajahmu dariku?” ia berujar.“Apa aku berhenti aja, ya?” bisiknya pada angin yang hanya membalasnya dengan hembusan lemburpada pipi lebamnya.“Saya baru saja dilecehkan.” Ia terus berujar pilu.“Tapi apakah ada yang akan percaya dengan ucapanpelacur sepertiku?”Hening, tidak ada jawaban. Angin malam hanya menggerakkan anak rambut di keningnya. Duniatidak pernah punya jawaban untuk perempuan hina sepertinya.Maya memejamkan mata. Pikirannya menyuruhnya untuk melompat. Tapi dengan cepatnya iamembatalkan pikiran itu. Bukan karena ia ingin hidup, atau masih punya harapan. Hanya karena iaterlalu lelah untuk memutuskan apa pun. Saat ini, Maya tak ingin memikirkan apapun.Ia menarik napas dalam-dalam, lalu bangkit berdiri. Tubuhnya masih sakit, tapi ia tak peduli. Dengantubuh tertatih dan langkah pincang, gadis itu berjalan pulang dengan rambt yang acak-acakan.Hanya itu. Tidak ada yang berubah setelah itu. Tidak ada keajaiban.Maya hanya berjalan kembali menembus gelapnya malam, dengan gaun merahnya bergoyangpelan dihembus angin.| DESEMBER 2025 25 | CERPENSumber: Canva
Adzan subuh merayap masuk lewat kisi jendelakamar sang majikan, suaranya begitu tipissampai rasanya hanya ingin menyentuh udara,bukan manusia. Nadra duduk bersandar dilantai marmer yang dinginnya seperti sudahhafal bentuk tulangnya. Lebam di wajahnyamenggelap perlahan, warnanya menyerupaibuah yang diambil terlalu cepat dari pohon.Tangan kirinya bergetar, bukan karena takut,tapi karena tubuhnya sudah lupa bagaimanacara mengendalikan dirinya. Sekujur badannyamelukis ulang benda-benda tumpul yangdihantamkan padanya dalam bentuk memarberwarna biru keunguan. Ia tidak menangis.Tangis bagi Nadra adalah barang mewah yangtelah habis sejak bulan pertama kakinyamenginjak tanah Arab.| DESEMBER 2025 26 | CERPENMelati diHalamanNadraIlustrator: Az-Zahra Aqila Y.MPenulis: Ahmad Reza UzfaluziBeberapa menit lalu, tamparan terakhir darimajikan laki-lakinya jatuh seperti seseorangmenjatuhkan piring tanpa peduli padapecahannya. Kata“tolol” melayang-layangdalam ruangan, menampar dinding, kembalike telinganya, dan memukul memori yangsudah rapuh. Dipukul sedemikian hebatnya,kepala perempuan itu pening bukan main.Pandangannya mengabur, begitu pula denganpendengarannya. Segala sumpah serapah yangdilemparkan sang majikan padanya takterdengar begitu jelas, memudar, hinggaucapan-ucapan itu berubah menjadi suaraibunya bertahun-tahun lalu, ucapan yangmasih terngiang di kepalanya bahkan ketikatubuhnya telah meninggalkan tanahkelahirannya untuk mencari uang.
“Umurmu sudah dua puluh lima, Nadra.Perempuan kalau lewat dua puluh, sepertiikan yang sudah mulai amis. Kucing pun tidakmau.”Ya, kalimat itu. Kalimat sederhana yangtertancap di kepala Nadra. Menetap sekianlama. Kalimat yang bertahun-tahun lalumengantarkannya pada sebuah pestapernikahan sederhana di kampungnya. Tidakada perayaan besar-besaran. Hari itu, baurempah tercium lebih pekat, berubah menjadiasap kayu bakar dari dapur bambu. Nadramelihat dirinya berdiri di ruang tamurumahnya, dikelilingi manusia-manusia yangbermaksud baik dengan cara yangmenyakitkan. Ibunya merapikan kerudungnya,ayahnya menatap lantai, dan tetangga berbisikseperti serangga yang berisik.Pernikahan mereka berlangsung begitu cepat.Raka, laki-laki yang dalam hitungan jam akanresmi menjadi suaminya, tersenyum kecil,senyum palsu yang tampak seperti disalin dariorang lain. Ia tidak tampan, tidak buruk, hanyalaki-laki yang tidak pernah benar-benarmemutuskan hidupnya sendiri. Ketika malamtiba dan Nadra memasuki kamar pengantinmereka, pintu tertutup rapat, tak ada banyakventilasi di ruang sepetak itu. Seakan ruanganitu ingin memberitahu bahwa hidup yang akanditapakinya tidak akan memberi banyak ruanguntuk bernafas.Setelah pernikahan, hari berjalan seperti hujanyang lupa berhenti, selalu mendung dan selalusedih. Raka adalah suami yang baik dalam caralaki-laki kampung diajarkan menjadi baik: tidakmemukul, tidak membentak, tapi tidak pernahbenar-benar hadir. Ia pulang membawa tubuhlelah, makan tanpa bicara, tidur tanpamenatap Nadra, bahkan untuk sekedarmemegang tangan Nadra. Keheningan dankesepian itu lama-lama berubah menjadidinding lain yang ikut mengecilkan hidupNadra.| DESEMBER 2025 27 | CERPENNamun, menikah dan menjadi istri yang baikpun tak cukup. Begitulah yang Nadra pahamisetelah mendampingi kehidupan Raka dengantanpa menuntut apa-apa. Rumah itu kinidipenuhi kesulitan, tak ada uang untukmembeli kebutuhan, harus irit hanya untukmakan sehari-hari, sedangkan uang yangditerima perempuan itu pun bahkan tak cukupmemenuhi segala keperluan rumah. Ucapanucapan itu terdengar lagi, ucapan dari orangorang kampung, ucapan dari ibunya sendiri.Mereka menawarkan solusi sepertimenawarkan obat pahit:“Pergi ke Arab, Nadra.Bantu suamimu. Rezekinya besar.” “MajikanArab suka perempuan Sunda, soalnya nurutdan halus.”Nadra tetap diam. Dan diam perempuandalam tradisi kampung ini, berarti setuju.Di bulan ketiga pernikahan mereka,perempuan itu akhirnya berangkat. Tidakdengan harapan, hanya dengan kebutuhan.Dengan segala jiwa yang ia bakar untukmembantu suaminya di kampung. Agarmenjadi istri yang baik, yang berbakti. Maka,perempuan itu berangkat. Meninggalkan tanahitu, pergi berjuta-juta kilometer untukmenjajaki tanah asing yang tak sebelumnya takpernah terlintas di kepalanya. Di hari itu pula,satu bunga melati tumbuh di depan rumahnya,putih dan mekar seperti ia sedang mengejeksiapa pun yang masih percaya bahwa bungadesa adalah objek yang bisa dieksploitasi.Nadra mencium baunya sambil menahan isakyang tidak sampai keluar.Dan di sinilah kakinya berada, di Arab. Hariharinya berjalan seperti bayangan yang salaharah. Rumah majikannya luas tapi dingin danpenuh akan ancaman. Kesalahan kecil berubahmenjadi tamparan, kerja keras menjadi sesuatuyang masih harus disempurnakan, dankelelahan tidak mendapat tempat bahkanuntuk sekedar dilenguhkan. Setiap malamNadra melirik bayangannya sendiri yang seringtampak duduk di sudut kamar, memeluk lututseperti anak kecil yang kehilangan rumah.
Ketika tamparan datang pada malam ke seribu(ia tidak menghitung) Nadra tiba-tiba merasaada sesuatu dalam dirinya yang terlepas. Bukankeberanian. Itu terlalu mewah untuk Nadra.Barangkali yang terlepas adalah sisa nurani danjiwa yang membisikan: pulanglah. Pulanglah.Meski engkau tahu tidak ada yang menunggu.Mungkinkah ini sebuah pertanda baik?Keesokan harinya, ketika ia menyelesaikanpekerjaan pagi, seseorang dari kampungmengirim kabar pendek melalui telepon:ibunya sudah tiada. Tidak ada penjelasan. Tidakada cerita. Hanya kalimat yang bahkan tidakmemakai titik di akhir. Nadra mendapat izinpulang beberapa hari kemudian: tanpaupacara, tanpa belas kasihan. Majikannya tidakpeduli apakah ia kembali atau tidak. Nadrameninggalkan Arab dengan tubuh yang masihsakit, membawa tas kecil dan rasa hampa yangmelubangi dada.Ketika sampai di kampungnya, hari hampirsenja. Jalanan sepi seperti sedangmenyembunyikan sesuatu darinya. Rumah ituberdiri di ujung gang, tampak lebih tua, lebihkecil, seolah mengecil karena kehilangan duapenghuninya. Di halaman, melati tumbuhterlalu banyak. Puluhan. Mungkin ratusan.Tumbuh dari setiap celah tanah, merayap dipagar bambu, seperti apa yang tumbuh ketikaduka tidak diberi ruang untuk keluar.Nadra berjalan masuk. Pintu rumah tidakterkunci. Ruangan itu terasa seperti tubuh yangsudah tidak bernyawa: dingin, kosong, danmenyimpan bau lama yang belum mau pergi.Ia memanggil ibunya, ayahnya, tapi yangmenjawab hanya gema suara sendiri. Tawaperempuan terdengar dari ruang dalam. Tawayang ringan, muda, seperti suara yang barumulai mengenal dunia. Nadra melangkahmendekat, dan menemukan Raka dudukbercumbu bersama seorang gadis yangwajahnya masih semerah sore. Gadis itumeluruskan jilbab dan membenarkan kancingbajunya yang terbuka, ia tersentak melihatNadra lalu berdiri dengan canggung.| DESEMBER 2025 28 | CERPENRaka berdiri juga, tapi lambat, lambat sepertiseseorang yang ketahuan mencuri telur ayamnamun tidak benar-benar menyesal. Merekamemasang raut menyesal, bukan penyesalanatas apa yang mereka lakukan, melainkanpenyesalan karena ketahuan.“Oh… Nadra,” Raka berbicara pelan, seakanmelihat tamu yang datang tanpa undangan.Tidak ada teriakan bahagia, tidak ada pelukanhangat, hanya keheningan yang begitumenyesakkan.“Mengapa tidak memberi kabarkalau pulang? Majikanmu di Arabmengizinkan?” Laki-laki itu terus melemparkansegala pertanyaan.Nadra tak banyak bersuara. Hatinya sudahterlalu lelah untuk mempertanyakan maksudsegala cumbuan yang sempat terjadi beberapamenit yang lalu. Ia menatap Raka, suaminyayang tampak berantakan, kemudian menghelanafas sejenak.“Ibuku meninggal. Bagaimanabisa aku tidak pulang?”Tidak ada jawaban apa-apa lagi setelahucapannya. Sebelum gadis muda yang sedaritadi diam akhirnya bersuara,“Sejak Mbak Nadrakerja ke Arab, saya… eh… tinggal di sini, Mbak.Bantu-bantu Mas Raka.”Bantu apa? Bantu memuaskan birahinya?Tapi ucapan itu tak sampai hati Nadra ucapkan.Ia hanya menatapnya. Lalu menatap Raka. Lalumenatap dinding kamar yang dulu tampakbegitu kecil dan menyesakkan. Kini dinding itutampak normal, mungkin karena kamar itusudah tidak perlu menampung hidupnya lagi.Raka membuka mulut.“Aku… tidak tahu kamuakan pulang hari ini. Dan aku tidak tahu kapankamu pulang. Aku suamimu, aku kesepian disini. Makanya kubawa gadis ini ke rumah.Jangan marah, ya? Kamu harus maklum, akulaki-laki.”
Nadra mengangguk. Ia sudah tidak ingin mendebat apa pun. Setiap ucapan yang keluar dari mulutlelaki itu terasa seperti pisau yang mengiris telinga perlahan. Melihat sekelilingnya, membuatperempuan itu jauh lebih hampa lagi. Segala yang telah ia kerahkan, hidupnya untuk menikahbegitu saja, juga hidupnya di Arab untuk membantu kebutuhan suaminya di kampung, segalapukulan dan luka yang ia terima–segalanya, segalanya, kini tak bernilai apa-apa lagi. Ia merasasegalanya sia-sia. Hatinya seperti diremas sampai hancur berkeping-keping. Tanah di bawah kakinyatiba-tiba terasa tak kokoh lagi, juga dinding yang mengelilinginya.Tak ada tempat lagi baginya di sana. Ia hanya melangkah mundur pelan.Melati-melati di halaman tiba-tiba layu perlahan, satu demi satu, seperti mereka tahu bahwa rumahitu bukan lagi rumah siapa pun, seolah mereka mengejek Nadra sebagai bunga desa yangkemudian layu di kota. Nadra meninggalkan halaman itu tanpa suara. Pagar bambu bergoyangpelan, seolah mengucapkan selamat tinggal dengan sikap yang terlalu sopan.Ia berjalan menyusuri jalan kampung, melewati anak-anak kecil yang sibuk tertawa riang tanpamemedulikan apa-apa, melewati warung yang sudah tutup, melewati angin sore yang seperti inginbertanya tapi tidak berani. Sawah menunggu di ujung jalan, hijau dan luas seperti halaman yangtidak pernah diinginkan oleh siapa pun. Nadra berdiri di pematang, memandang langit yang sedangberganti warna. Senja turun perlahan, merah seperti luka yang dibalut kain tipis.Tangannya membuka tanpa sadar, dan satu kelopak melati jatuh ke permukaan air. Kelopak itumengambang tenang, mengembara ke arah yang tidak akan pernah diketahui Nadra.Ia turun dari pematang. Pelan. Seperti seseorang yang sedang belajar kembali memijak dunia.Pelan. Menyusuri sawah hingga bertemu sungai deras.Angin melewati rambutnya. Air sawah bergetar kecil. Air sungai menyapa pipinya. Langit meredup.Ia berdiri di sana. Sendirian. Tidak menunggu apa-apa. Tidak berharap apa-apa. Kosong.Pada akhirnya, Nadra, menjadi melati terakhir yang gugur. Jatuh dan mengambang tenang dipermukaan air. Membiarkan arus sungai membawa tubuh dan jiwanya, Mengembara ke arah duniayang lebih lembut dan baik, dalam memperlakukan perempuan.| DESEMBER 2025 29 | CERPEN
Akankah Perempuan Selalu Menjadi ObjekPemuas Tuntutan Manusia?Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, perempuan kerap ditempatkan sebagai sebuah objekpemenuh tuntutan sosial dan bukan subjek yang menentukan perannya sendiri. Konstruksimasyarakat, yang sebagian besar dibentuk oleh patriarkal, telah membebankan perempuan denganmenempatkan mereka sebagai pemenuh tuntutan sosial yang sempit tanpa adanya imbalan yangsebanding. Muncul satu pertanyaan setelah itu: akankah perempuan selalu terjebak dalam lingkaranperannya memuaskan tuntutan manusia?Satu paradoks yang paling nyata adalah beban ganda yang melekat pada perempuan. Perempuandianggap harus mampu menjadi seorang wanita, istri, dan ibu secara bersamaan. Dalam konteks ini,perempuan tidak hanya dituntut untuk bisa bekerja tetapi juga harus memenuhi perannyamengurus rumah dan melayani suaminya yang seolah sudah menjadi kodratnya. Beban gandatersebut bukan sekedar persoalan individu, melainkan cerminan ketidakadilan struktural. Tuntutanakan hadir 100% untuk mengurus rumah tangga sementara juga harus bekerja membuatperempuan berada di persimpangan dilema yang berat dan tidak adil.Sejatinya, belitan tanggung jawab ini bukanlah sesuatu yang harus ditanggung oleh perempuanseorang diri. Tugas domestik seyogianya menjadi aktivitas yang menopang keberlangsungankehidupan sehari-hari dalam keluarga, dan karenanya perlu dipahami sebagai tanggung jawabbersama setiap anggota keluarga yang tinggal di bawah atap yang sama. Namun, budaya dannorma sosial yang telah berurat akar akan perempuan sebagai pengurus utama rumah tanggamembuat pembagian peran yang adil ini sulit terwujud.Di sisi lain, dengan banyaknya tuntutan harapan yang ada, perempuan tidak selalu mendapatkanfasilitas yang cukup untuk menopang peran tersebut. Akses pendidikan yang belum merata,keterbatasan layanan kesehatan, minimnya perlindungan hukum, hingga kesenjangan ekonomimenjadi contoh nyata bagaimana perempuan ditempatkan sebagai pihak yang paling banyakdiminta tetapi sedikit diberi. Kebijakan atau norma sosial seringkali tidak membahas permasalahanini, sehingga banyak perempuan yang harus menanggung kelelahan fisik maupun mental akibatbanyaknya tuntutan yang tidak sebanding dengan imbalan yang diterima.Di tengah situasi ini, perempuan perlu diposisikan sebagai subjek yang berdaulat atas dirinya sendiri,bukan sekedar objek pemuas harapan dan tuntutan masyarakat. Mereka berhak menuntutkesetaraan dalam pekerjaan, pendidikan, dan pembagian tugas domestik. Namun, perubahan tidakbisa hanya dibebankan pada perempuan saja. Masyarakat pun perlu mendukung terwujudnyakesejahteraan tersebut dengan menata ulang struktur peran gender agar tanggung jawab domestikdan publik tidak lagi memindahkan beban berlebihan bagi perempuan.Dengan demikian, pertanyaan awal tidak hanya akan berhenti pada“Akankah perempuan selalumenjadi objek pemuas tuntutan manusia?”, tetapi berlanjut menjadi “Apa yang harus dilakukan agarperempuan tidak lagi diperlakukan demikian?.” Perubahan paradigma, dukungan kebijakan, sertapembagian peran yang lebih adil adalah langkah penting untuk memastikan bahwa perempuandapat menjadi subjek penuh dalam kehidupan sosial, bukan sekedar pelengkap yang terus dimintamemenuhi ekspektasi manusia.| DESEMBER 2025 30 | CERPENPenulis: Aulia H.