KEMENTERIAN AGAMAREPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
Alamat : Jl. Prof.Dr.Hamka (Kampus III) Ngaliyan, Semarang 50185
UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
SEMESTER GASAL 2022/2023
Mata Kuliah : Pengelolaan dan Pengolahan Limbah B3 Ruang/Jadwal : IsDB 3.6
Hari/Tanggal : Selasa, 11 Oktober 2022 Semester : Gasal 2022-2023
Kelas : PK - 5A Dosen Pengampu : Dr. Ervin Tri S, M.Si
Nama : Nidaul Hasanah
Kelas : Pendidikan Kimia 5A
NIM : 2008076015
STUDI KASUS
Di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang memiliki Laboratorium Terpadu di
kampus 3, terdapat laboratorium Kimia, Biologi, Fisika, matematika di dalamnya yang melayani
praktikum, riset dan pengujian. Analisislah :
1. Limbah-Limbah yang dihasilkan oleh semua laboratoium tersebut (kelompokkan
berdasarkan sifat dan karakteristiknya)
2. Jelaskan bagaimana cara pengelolaan limbah yang dilakukan di Laboratorium Terpadu dan
berikan pendapat saudara apakah sudah sesuai dengan peraturan perundang undangan? Jika
belum jelaskan bagaimana pengelolaan limbah yang seharusnya
Jawaban Berdasarkan Hasil Wawancara
1. Limbah-Limbah yang dihasilkan oleh semua laboratoium tersebut (kelompokkan
berdasarkan sifat dan karakteristiknya)
Karakteristik Limbah B3 Contoh Limbah
Mudah meledak Asam pikrat, Amonium nitrat, Aerosol, magnesium ,
aluminium, asetat, polietilen.
Mudah menyala benzena, toluen, aseton
Reaktif Eter, alkohol,aseton, benzena, heksana, isobutil, keton, metanol,
etanol,toluena, natrium, calsium,
Beracun Timbal, cadmium, bensin, etanol, metanol, karbondioksida,
karbonmonoksida, logam berat (seperti Hg, Cr), pestisida, pelarut,
Infeksius halogenida.
Korosif Jarum suntik, pipet pasteur, pecahan alat kimia kaca.
NaOH, KOH, CaO, Ca(OH)2, H2SO4, HNO3, HCL, CH3COOH, Asam
Berbahaya terhadap sulfida, Ammonia, H2S, Asam klorida, belerang dioksida, asam
lingkungan fluorida, alkali hidroksida, hidrogen peroksida, golongan senyawa
inter-halogen (ClF, BrF3), oksihalida (OF2, OCl2, Cl2O7), elemental
klorin, fluorin, bromine, dan soda kaustik.
CFC = Chlorofluorocarbon), persistent di lingkungan (misalnya
PCBs = Polychlorinated Biphenyls)
Keterangan berdasarkan hasil wawancara:
Limbah Lab. Biologi: sangat jarang mengandung B3 dikarenakan khusus pada laboratorium
biologi setelah praktikum bahan limbah akan di distrak terlebih
dahulu.
Limbah Lab. Fisika : Juga sangat jarang dikarenakan untuk praktikum fisika kebanyakan
berbasis limbah baterai bukan menggunakan bahan cair dan padat,
mungkin ada yang mengandung limbah B3 hanya di PRAKTIKUM
FISIKA MATERIAL saja.
Limbah Lab. Matematika : Juga sangat jaranag menghasilkan limbah karena berbasis
praktek yang tidak menggunakan bahan cair/padat penghasil
limbah B3.
Limbah Lab. Kimia : sangat banyak emnghasilkan limbah cairan dan padatan dimana
nantinya akan dijelaskan pada proses pengolahan di soal nomor 2.
2. Berdasarkan hasil wawancara bahwasanya Cara pengelolaan limbah yang dilakukan di
Laboratorium Terpadu UIN Walisongo Semarang itu menggunakan Metode AOP.
Metode AOP adalah ADVANCED OXIDATION PROCESSES (AOPS).:
Penggunaan AOPs (Advanced Oxidation Process) untuk pengolahan limbah, khususnya
limbah berat dan beracun yang tidak bisa diolah dengan sistem biologi biasa.
AOPs adalah sebuah terobosan teknologi terapan yang berbiaya 'reliable' namun menjadi
sebuah solusi terhadap permasalahan limbah biologi. Sistim AOPs mudah
pengoperasiannya dan tidak sulit perawatannya.
Bagaimana cara kerja AOPs ?
OH radikal akan dihasilkan dengan mengkombinasikan tiga jenis zat oksidant:
O3, H2O2 and UV.
Unit Advanced Oxidation Process akan menghasilkan radikal (OH0) sebagai oksidator
kuat yang akan menghancurkan/menguraikan hampir semua polutant dalam limbah.
Mekanisme Reaksi:
O3/H2O2 + UV → 3 (OH0), kemudian (OH0) radikal akan menghancurkan hampir
semua jenis polutant dan hasil akhirnya tinggal menyisakan H2O + CO2
dalam effluent yang sangat jernih.
Proses reaksi akan terjadi pada tabung reaktor yang masa reaksinya (resident time) akan
tergantung kepada jenis limbah dan kapasitas untuk mencapai baku mutu yang diinginkan
sesuai dengan persayaratan regulasi setempat.
Kelebihan:
Tidak ada bau
Tidak ada sludge
Tidak perlu bakteri dan nutrient
Tidak butuh tempat/lahan yang luas
Sangat mudah pengoperasiannya, dan
Mudah dan sangat murah perawatannya
Berikut gambar rangkaian alat yang digunakan pada proses AOP (O3/H2O2)
Berikut gambar rangkaian alat yang digunakan pada proses AOP di laboratorium terpadu
UIN Walisongo Semarang
Dari skema rangkaian alat yang digunakan pada proses AOP di mana air kompresor akan
mengalirkan udara yang kemudian menuju flow meter. Flow meter sendiri berfungsi sebagai
pengatur debit udara yang ditentukan dengan variasi debit udara sebesar 2L/menit, 3L/menit, dan
4L/menit. Pemilihan tiga variasi debit udara ini berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Yang
menggunakan debit udara sebesar 3L/menit, sehingga untuk mengetahui perbedaan kondisi pada
debit air maka dipilih debit udara di bawah dan di atas 3L/menit, yaitu debit udara 2L/menit dan
4L/menit .
Kemudian setelah melewati flow meter nantinya udara akan masuk ke dalam ozon generator di
mana oksigen dalam udara yang akan masuk dikonversikan menjadi sebuah ozon. Ozon yang
dihasilkan dari ozon generator kemudian dialirkan ke dasar kontaktor melalui filter dsc berukuran
pori 100 sampai 160 um. Di dalam kontaktor, rindi sebanyak 1 liter dengan penambahan H2O 2
sebesar 1, 197 g/L direaksikan dengan ozon. Konsentrasi H2O 2 sebesar 1,197 g/L yang
merupakan konsentrasi terbaik pada penelitian.
Gambaran Penjelas :
1. Dimana limbah yang dihasilkan dari semua laboratorium kimia, fisika, biologi dan
matematika itu nantinya akan masuk kedalam bak penampungan yang letaknya lebih
rendah dari IPAL Laboratorium. Dan jika limbah sudah penuh maka, Bak Penampungan
itu akan terbuka secara otomatis dan mengantarkan limbah kedalam proses IPAL
selanjutnya yang dilakukan secara proses AOP.
2. Selanjutnya jika limbah dari bak penampungan akan masuk kedalam tempat untuk
penyesuaian debit udara atau penambahan oksigen dan pengurangan
karbondioksida.menggunakan ozon generator secara proses AOP.
3. Jika limbah sudah disesuaikan dengan penambahan oksigen nantinya akan masuk kedalam
proses penyesuaian PH Control pada bak tempat selanjutnya, dimana jika PH terlalu asam
maka akan ditambahkan Basa (KOH/NaOH) dan jika PH terlalu basa maka akan
ditambahkan asam (Asam sulfat atau asam nitrat) hingga menghasilkan sebuah PH netral.
4. Jika PH sudah netral maka akan dilakukan proses flokulasi dengan tujuan untuk
memperbesar ukuran flokuntuk mempermudah proses penyaringan.
5. Setelah PH netral dan sudah diflokulasi maka limbah akan masuk kedalam DRYING BAT
yang bersisi pasir guna mengurangi kuantitas jumlah limbah selain itu juga supaya proses
koagulasi dapat terurai didalam drying bat tersebut., dan keadaan Drying Bat sengaja di
buka supaya pasir dapat kering dan dapat digunakan berkali-kali
6. Proses selanjutnya dimana yaitu proses terakhir dalam IPAL Laboratorium terpadu yaitu
berupa pengendapan dimana jika limbah sudah sesuai Phnya maka cairan limbah tersebut
akan dialirkan kedalam sungai didekat IPAL, dan untuk padatan limbah akan diendapkan
terlebih dahulu dan akan diangkaut oleh badan LH jika sudah penuh penampungan
limbahnya.
Note: Untuk proses pengangkutan pengendapan limbah ini memang dilakukan ketika sudah
penuh dikarenakan sangat mahalnya biaya pengangkutan guna pengolahan limbah oleh
badan pengolahan limbah.
pendapat saya terkait IPAL Laboratorium Terpadu UIN Walisongp yaitu sudah sesuai
dengan peraturan perundang undangan
PP. No. 74 tahun 2001, PERMEN LH RI No. 14 tahun 20134 , dan PP. NO. 101
tahun 2014
dikarenakan IPAL tersebut sudah melalui pengecekan uji rilis sesusi bbaku mutu
lingkungan hidup dan kesehatan sebanyak 2x dan akan dilakukan proses kalibrasi ulang
setelah 3 tahun tentunya. Selain itu juga IPAL ini sudah melewati tahap perhitungan sesuai
ukuran kadar limbah yang diperhitungkan. Sebanyak 1000-1500/hari
Untuk limbah infeksius sendiri juga sudah terrurai melalui proses AOP dibagian
awal ozon dan oksidan sehingga limbah infeksius dalam laboratoriu terpadu UIN
Walisongo ini sudah sesuai kadar baku mutu kesehatan dan lingkungan hidup.
Untuk limbah yang kadaluarsa juga didalam Laboratorium Terpadu ini tidak
dibuang melainkan akan digunakan guna praktkum berbasis kualitatif karena jika dibunag
rasanya sayang karena mahal harganya bahan kimia.
KESIMPULAN :
Proses AOP (O3/H2O2) berjalan dengan baik dengan kenaikan nilai pH yang
merupakan parameter yang berpengaruh terhadap dekomposisi ozon. Penyisihan
kekeruhan dan DHL tertinggipada proses AOP (O3/H2O2) terdapat pada debit udara 4
L/menit yaitu mencapai 45,14% dan 15,00%. Efisiensi penyisihan parameter yang
semakin tinggi menandakan bahwa OH radikal yang terbentuk semakin tinggi.