ANEKDOT
Dr. R. Panca Pertiwi Hidayati, M.Pd.
Adi Rustandi, S.Pd., M.Pd.
Lili Sadeli, S.Pd., M.Pd.
Pembahasan
Pengertian Tujuan Fungsi
Teks Teks Teks
Anekdot Anekdot
Anekdot
Pembahasan
Ciri-ciri Struktur Unsur-
Teks Umum unsur
Teks Teks
Anekdot Anekdot Anekdot
Pembahasan
Contoh Kaidah Langkah-
Teks Kebahasaan langkah
Anekdot Menulis
Teks
Anekdot Teks
Anekdot
01
Pengertian Teks
Anekdot
Pengertian Teks Anekdot
Secara umum, teks anekdot merupakan suatu cerita
singkat yang isinya mengandung unsur lucu serta
memiliki maksud tertentu untuk melakukan kritikan.
Teks anekdot biasanya mengangkat topik seputar
layanan publik, lingkungan, politik, dan juga sosial.
Pengertian Teks Anekdot Menurut Para Ahli
Teks anekdot merupakan
suatu teks cerita yang
sifatnya lucu serta memiliki
tujuan untuk menyindir
seseorang atau suatu
kebiasaan buruk.
Mayora, dkk. (2017, hlm. 193)
Teks anekdot merupakan suatu cerita
yang terinspirasi oleh fakta, sifatnya
lucu (mengandung humor) serta
diikuti dengan adanya kritikan halus
atau makna tersirat positif lainnya.
Kosasih (2017, hlm.2)
02 Tujuan Teks
Anekdot
Tujuan Teks Anekdot
Teks anekdot pada dasarnya memang
sengaja dibuat dengan tujuan untuk
menyampaikan informasi yang tengah
terjadi di masyarakat tetapi dengan
kemasan yang unik dan menarik atau
ditambahkan dengan unsur humor.
Tujuan Teks Anekdot
Selain tujuan tersebut, teks anekdot juga
memiliki tujuan lainnya seperti:
1. Menghibur pembaca dengan membawakan
cerita yang lucu.
2. Menggambarkan tokoh dengan singkat.
3. Mengkritisi fenomena yang terjadi di
masyarakat.
03 Fungsi Teks
Anekdot
Fungsi Teks Anekdot
Pada dasarnya teks anekdot memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer dan fungsi
sekunder.
1) Fungsi Primer 2) Fungsi
Sekunder
Fungsi Teks Anekdot
1) Fungsi Primer
Fungsi primer teks anekdot adalah
mengekspresikan rasa tidak puas dan kritik
terhadap suatu hal yang secara umum
sudah diketahui oleh masyarakat. Fungsi
primer, sebagai sarana ekspresi yang
berhubungan dengan ketidakpuasan,
kejengkelan, kemarahan dan sebagainya.
Fungsi Teks Anekdot
2) Fungsi Sekunder
Fungsi sekunder teks anekdot adalah
memberikan hiburan kepada pembaca.
Fungsi sekunder, sebagai bahan hiburan,
sebagai analogi atau contoh dalam
menjelaskan sesuatu sebagai penarik
perhatian dan sebagainya.
Anekdot menjadi sebuah cara menyampaikan kritik yang
sangat bijak dan halus. Seperti kita tahu bahwa
menyampaikan kritik tidaklah mudah. Orang yang kita
kritik mungkin saja marah dan tidak terima. Penyampaian
kritik dengan naskah anekdot ini akan membuat penerima
kritik menjadi lebih ikhlas.
04
Ciri-ciri Teks Anekdot
Berikut adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh teks atau naskah
anekdot.
Mengandung cerita yang lucu atau
bersifat humoris sehingga bisa membuat
pembacanya tertawa.
Mengandung sebuah kritik atau sindiran
terhadap pihak tertentu.
Berikut adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh teks atau naskah
anekdot.
Biasanya sindiran atau kritik yang
termuat di naskah anekdot ditujukan
kepada orang-orang yang memiliki
kedudukan penting.
Cerita yang dimuat di naskah anekdot memiliki
hubungan erat dengan kenyataan atau realita yang
terjadi di kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh teks atau naskah
anekdot.
Ceritanya singkat tidak bertele-tele
namun mengandung makna yang jelas
yaitu sindiran atau kritikan.
Naskah anekdot memiliki struktur penulisan yang
jelas berupa abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan
koda.
Teks anekdot memiliki ciri-ciri yang bisa
membedakannya dengan cerita lucu biasa,
berikut ini adalah ciri-cirinya:
01 Berupa teks yang mendekati perumpamaan
02 Menampilkan tokoh-tokoh atau figure yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari atau juga orang penting
03 Memiliki sifat humoris, lucu, menggelitik, dan
berbau lelucon tapi menyindir
04 Terselip kritikan atau tujuan
05
Struktur Umum Teks
Anekdot
Struktur teks anekdot terdiri atas:
Abstraksi Krisis Koda
Orientasi Reaksi
1. Abstraksi
Abtraksi adalah bagian pembuka teks anekdot yang berfungsi
memberi gambaran umum tentang suatu yang akan
diceritakan dalam anekdot.
Contoh :
Ralat Bohong
Sebuah surat kabar terkemuka terbitan Jakarta menurunkan
headline dengan judul besar di halaman depan, ‘50% PEJABAT
TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’
2. Orientasi
Orientasi adalah bagian yang menunjukkan
awal kejadian cerita atau latar belakang
bagaimana peristiwa terjadi.
Contoh :
Tentu saja keesokan harinya sang pemimpin
redaksi dipanggil menghadap ke Departemen
Penerangan dan ke Mabes ABRI di Cilangkap.
3. Krisis
Krisis adalah bagian yang menyampaikan hal atau
masalah unik yang ada dalam suatu anekdot.
Contoh :
Si pemimpin redaksi dimaki-maki dan diminta segera
meralat beritanya. Bila tidak SIUPP-nya bakal dicabut.
4. Reaksi
Reaksi merupakan klimaks cerita yang berisi respons atas
perstiwa unik (ganjil) pada bagian krisis.
Contoh :
Maka keesokan harinya dimuatlah ralat berita sehari sebelumnya.
Berikut ralatnya secara lengkap: “Dengan ini kami meralat headline
kemarin yang berjudul ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN
PENJAHAT’ yang ternyata sama sekali tidak benar. Yang benar
adalah ‘50% PEJABAT TINGGI KITA BUKAN KORUPTOR DAN BUKAN
PENJAHAT’.
5. Koda
Koda merupakan bagian akhir atau kesimpulan cerita, yang berisi
persetujuan, komentar,ataupun penjelasan atas maksud yang
tertuang dalam teks anekdot.
Contoh :
Dengan demikian headline yang kami turunkan dianggap tidak
pernah ada.
06
Unsur-unsur Teks
Anekdot
Menurut Kosasih (2017, hlm. 19) unsur-unsur di dalam
cerita anekdot adalah:
01 02 03
Tokoh Alur Latar
Unsur-unsur Teks Anekdot
Tokoh
Tokoh adalah partisipan
yang terlibat dalam cerita
yang berada dalam teks
anekdot. Tokoh dalam teks
anekdot bersifat faktual,
biasanya orang-orang
terkenal.
Unsur-unsur Teks Anekdot
Alur
Alur adalah jalan cerita berupa
rangkaian peristiwa yang
benar-benar terjadi atau pun
sudah mendapat polesan
maupun tambahan-tambahan
dari pembuat anekdot itu
sendiri.
Unsur-unsur Teks Anekdot
Latar
Latar berupa waktu,
tempat, ataupun suasana
dalam anekdot diharapkan
bersifat faktual. Artinya
benar-benar ada di dalam
kehidupan yang
sesungguhnya.
07
Contoh Teks Anekdot
Kereta dan Tukang Kupat Tahu
Pada suatu hari, seperti hari biasa, dari pagi hingga siang tukang kupat tahu ini berdang di
SMP 4 Tasikmalaya pukul 12 siang. Ia dia biasanya akan menyusuri rel kereta guna
mengambil jalan pintas menuju arah lokasi dagang berikutnya, yaitu Pasar Pancasila.
Namun kebetulan pada hari itu, dagangannya telah habis. Yang mana pembeli terakhirnya
berada di sisi rel kereta.
Sesudah pembeli terakhir tersebut selesai, tukang kupat tahu pun langsung membersihkan
piringnya yang berwarna merah kemudian mengeringkannya dengan cara dikibas –
kibaskan.
Dan secara kebetulan lagi, waktu itu terdapat kereta yang melintas. Melihat terdapat tanda
merah yang dikibas -kibaskan dari jauh, masinis kereta pun kaget kemudian menginjak rem
dengan keras.
Sebab disangka terdapat hal darurat yang membahayakan. Kemudian kereta pun berhenti
tepat di samping tukang kupat tahu tadi.
Masinis: “Ada apa, pak?”
Tukang Kupat Tahu: Tidak ada apa – apa, pak, tinggal bumbunya saja”.
Seketika Masinis pun turun kemudian langsung memukuli si tukang kupat tahu.
Abstraksi
“Pada suatu hari, seperti hari biasa, dari
pagi hingga siang tukang kupat tahu ini
berdang di SMP 4 Tasikmalaya pukul 12
siang. Ia dia biasanya akan menyusuri rel
kereta guna mengambil jalan pintas
menuju arah lokasi dagang berikutnya,
yaitu Pasar Pancasila.”
Orientasi
“Yang mana pembeli terakhirnya berada di
sisi rel kereta.”
Krisis
”Melihat terdapat tanda merah yang
dikibas -kibaskan dari jauh, masinis kereta
pun kaget kemudian menginjak rem
dengan keras.”
Reaksi
“Pertanyaan Masinis, “Ada apa, pak?”
Koda
“Seketika Masinis pun turun kemudian
langsung memukuli si tukang kupat tahu.”
08
Kaidah Kebahasaan
Teks Anekdot
Kaidah penulisan anekdot.
1) Menggunakan pertanyaan retorika atau kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, seperti
“apakah kamu tahu?”
2) Menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, berjalan, dan sebagainya.
3) Disajikan dalam bahasa yang lucu.
4) Berisi peristiwa-peristiwa yang membuat jengkel.
5) Terdapat sindiran.
6) Menggunakan konjungsi waktu, seperti kemudian, setelah itu, dan lalu.
7) Menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu.
8) Mengandung kebenaran tertentu
9) Menggunakan kalimat perintah dan menggunakan kalimat seru.
Kemudian, kaidah penulisan teks anekdot menurut Tim Kemendikbud (2013: 111)
yaitu disajikan dalam Bahasa yang lucu dan berisi peristiwa-peristiwa yang
membuat jengkel atau konyol bagi partisipan yang mengalaminya. Perasaan jengkel
tersebut merupakan krisis yang ditanggapi dengan reaksi dari pertentangan antara
nyaman dan tidak nyaman, tercapai dan gagal, serta puas dan frustasi.
Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot
Menurut Pardiyono (2007), teks anekdot umumnya
menggunakan kalimat deklaratif dan pernyataan kausal
pada bagian abstrak. Penulisan anekdot haruslah
memperhatikan kaidah penulisannya. Berikut merupakan
kaidah penulisan anekdot.
09 Langkah-langkah
Menulis Teks Anekdot
Ada 6 langkah yang harus diperhatikan dalam menyusun teks anekdot,
antara lain:
11) Menentukan topik sebagai masalah yang akan disorot
2) Menentukan tokoh terkait
3) Menentukan peristiwa yang menjadi latar belakang
4) Merinci peristiwa dalam alur anekdot yang meliputi abstraksi,
orientasi, krisis, reaksi, dan koda
5) Mengembangkan kerangka anekdot menjadi sebuah cerita yang utuh
6) Penyuntingan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
saat proses penyuntingan ini, antara lain:
1) Isi Anekdot
Saat menyunting isi, penulis harus memperhatikan
kejelasan topik, kelucuan dan kekritisan. Selain itu,
teks juga harud diperhatikan agar tidak mengandung
fitnah dan unsur SARA.