The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Deyrizky Parinduri, 2023-03-26 23:04:12

SENI TARI

Seni Tari

Keywords: Seni Tari

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah yang telah menolong saya menyelesaikan buku ini dengan penuh kemudahan dan menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni nabi Muhammad SAW. Buku ini memuat tentang seni tari tradisional di Indonesia yang sangat penting kita mempelajarinya dan menjaganya. Walaupun buku ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih. Medan, 26 Maret 2023 Deyrizky Parinduri


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...............................................................................................................2 DAFTAR ISI..............................................................................................................................3 BAB I.........................................................................................................................................4 PENDAHULUAN .....................................................................................................................4 BAB II........................................................................................................................................6 TARI PIRING............................................................................................................................6 SEJARAH ..............................................................................................................................6 GERAKAN ............................................................................................................................6 ALAT MUSIK .......................................................................................................................7 PERKEMBANGAN TARI PIRING......................................................................................8 BAB III ......................................................................................................................................9 TARI TOR TOR ........................................................................................................................9 ETIMOLOGI..........................................................................................................................9 SEJARAH ..............................................................................................................................9 CIRI KHAS............................................................................................................................9 KONSEP GONDANG MASA KINI...................................................................................10 GERAKAN TOR TOR ........................................................................................................11 BAB IV ....................................................................................................................................13 TARI SAMAN.........................................................................................................................13 Gerakan ................................................................................................................................13 Penari....................................................................................................................................13 BAB V .....................................................................................................................................15 TARI KECAK .........................................................................................................................15 BAB VI....................................................................................................................................16 TARI BUNGONG JEUMPA...................................................................................................16 Lirik......................................................................................................................................16 Bahasa Aceh .....................................................................................................................16 DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................17


BAB I PENDAHULUAN Seni tari merupakan budaya yang dapat di lestarikan, karena memiliki peran penting bagi masyarakat. Indonesia salah satu bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, yang membuat bangsa Indonesia semakin maju dan berkembang dari segi kesenian dapat membuat bangsa Indonesia semakin di kenal dengan beragam budayanya. Kesenian merupakan unsur kebudayaan yang mempunyai ciri khusus yang menunjukan sifat-sifat kedaerahan yang berbeda dari daerah satu dengan daerah lainnya. Kesenian merupakan salah satu bagian dalam kehidupan manusia dan kesenian menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan gagasan-gagasan atau pemikiran. Dalam kegiatan berkesenian manusia mengekspresikannya melalui beberapa media antar lain melalui media gerak yaitu tari. Tari adalah bagian dari kebudayaan manusia yang dapat kita jumpai di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Kebudayaan masyarakat tersebut berkembang pada setiap daerah itu sendiri serta memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, kerena bisa memberikan berbagai manfaat seperti hiburan dan sarana komunikasi antara penonton / seniman. Budaya menari hidup dan berkembang di dalam berbagai kolompok masyarakat yang akhirnya melahirkan tari-tarian tradisi. Tari tradisi adalah tari yang lahir, tumbuh, berkembang pada suatu masyarakat yang kemudian di turunkan atau di wariskan secarah terus menerus dari generasi ke generasi serta sesuai adat kebiasanya itu sendiri dan telah diakui oleh masyarakat pendukungnya. Seiring perkembangan pemikiran manusia dan kehidupan manusia serta berubahnya selerah masyarakat dalam berkesenian, maka muncul jenis-jenis tari yang tidak hanya untuk tujuan upacara keagamaan saja, tetapi muncul tari-tarian yang berfungsi hiburan maupun ungkapan keindahan. Selain itu muncul juga karya-karya tari kreasi yang semakin memperkaya bangsa Indonesia. Tari kreasi adalah jenis tari koreografinya merupakan perkembangan dari tari tradisional atau pegembangan dari pola-pola tari yang sudah ada. Salah satu kebudayaan seni tari yang masih berkembang yaitu di desa Bunobugu Kecamatan Bunobogu Kabupaten Buol. Seni tari yang berkembang di desa tersebut yaitu tari Monamutt. Tari Monamutt merupakan tarian kreasi yang menggambrakan kehidupan masyarakat. Selain itu dalam tari Monamutt tersebut menggambarkan rasa kegembiraan serta dalam gerakannya memiliki arti tersendiri. Penari dalam tari ini berjumlah 3 orang atau bahkan lebih. Tari Monamutt ini biasanya di pertunjukan pada acara pernikahan, pekan budaya, dan penyambutan tamu. Tari Monamutt ini juga sering mengikuti berbagi lomba-lomba festifal tari di luar daerah Kabupaten buol.


Berdasarkan latar belakang di tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang bentuk penyajian tari Monamutt. Alasan peneliti untuk mengadakan penelitian tesebut,karena tari Monamut adalah termasuk tarian baru dan belum banyak di kenal oleh masyarakat.


BAB II TARI PIRING Tari piring (Jawi: ڤيريڠ تاري ;Minangkabau: Tari Piriang) adalah tarian tradisional Minangkabau yang menampilkan atraksi menggunakan piring. Para penari mengayunkan piring di tangan mengikuti gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa satu pun piring terlepas dari tangan. Gerakannya diambil dari langkah dalam silat Minangkabau atau silek. Tari ini dipopulerkan oleh Huriah Adam. Saat ini, tari piring dipertunjukkan untuk penyambutan tamu terhormat atau pembukaan upacara adat. Bersama dengan tari saman, pendet, dan jaipong, tari ini menjadi tarian populer Indonesia yang kerap ditampilkan di ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia. SEJARAH Secara tradisional, tari ini berasal dari Solok, Sumatra Barat. [3] Menurut legenda awal kemunculannya, Tari Piring ini berfungsi sebagai tarian dalam upacara kesuburan. Tarian ini juga menjadi salah satu bentuk seni tradisional yang banyak sekali menyimpan nilai-nilai estetis yang cukup tinggi dan mengandung nilai-nilai kebudayaan leluhur yang sangat mendalam.[4] Tari ini juga merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.[butuh rujukan] Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tari piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa.[5] Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian. GERAKAN Gerakan tari piring pada umumnya adalah meletakkan dua piring di atas dua telapak tangan. Penari mengayunkan piring dalam gerakan-gerakan yang cepat, diselingi dengan mendentingkan piring atau dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya. Pada akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari dilemparkan ke lantai dan para penari akan menari di atas pecahan-pecahan piring.


Jumlah penari tari piring biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga sampai tujuh orang. Para penari mengenakan pakian berwarna cerah dengan nuansa warna merah dan kuning keemasan serta tutup kepala. Tarian ini diiringi oleh kombinasi alat musik talempong dan saluang. Tempo alunan musik awalnya lembut dan teratur, kemudian lama-kelamaan berubah menjadi lebih cepat. Gerakan dalam tari piring ini merupakan salah satu unsur penting untuk menjadikan tarian menjadi bentuk yang bermutu. Tari Piring ini bersumber dari beberapa gerakan, seperti: Gerakan dasar pencak silat, Gerakan alang babega, gerakan tupai bagaluik, gerakan bungo kambang, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu tari piring juga sering kali menggambil berbagai gerakan kehidupan sehari-hari, seperti : gerak bacamin, gerak basiang, gerak buai anak, gerak mangompu suto, gerak malunyah, gerak maiinjak piriang, gerak bagolek dan gerak manyemba lalok. ALAT MUSIK Jenis alat musik yang digunakan adalah: Talempong pacik, talempong sendiri adalah alat musik pukul khas Minangkabau yang terbuat dari campuran tembaga dan kuninganyang akan berbunyi jika dipukul dengan sepasang kayu. Disebut dengan talempong pacik karena dalam memainkan alat musik ini dengan dipegang.[6] Ada tiga jenis talempong pacik : 1. Talempong jantan 2. Talempong betina 3. Talempong Pangawin Pupuik batang padi : Pupuik batang padi ini merupakan instrumen bernada tunggal. Namun dengan beberapa modifikasi yaitu dengan melubangi batang padi di beberapa titik yang berfungsi layaknya lubang pada seruling, alat musik ini dapat mengeluarkan alunan irama yang unik.[7] Gandang (Gendang Minang) : Istilah gendang dalam bahasa Minang adalah gandang (dalam bahasa Batak gondang), bentuknya sama dengan yang ada di daerah lain, seperti di Melayu, Batak, Sunda, Jawa, dll. Cara memainkan adalah sama juga, yaitu sisi lingkaran kecil di sebelah kiri dan yang lebih besar ada di sebelah kanan. Namun cara memukul antara masing-masing daerah sangat berbeda, yaitu di Minang tergantung dari jenis rentak lagu.Semua aspek musikal tersebut seolah-olah sedang menciptakan suasana yang menarik dan lasuah didengar.


PERKEMBANGAN TARI PIRING Perkembangan budaya Tari Piring dalam masyarakat Minangkabau masa kini telah mengalami pergeseran nilai dan fungsi. Pada masa kini Tari Piring tidak hanya dikelola oleh daerah tetapi juga oleh masyarakat minangkabau yang hidup di rantau. Tujuan utama masyarakat perantauan mengembangkan Tari Piring ini adalah untuk menjaga eksitensi dan sebagai bagian dari warisan dan identitas budaya masyarakat Minangkabau. Nilai dan aspek dari Tari Piring itu sendiri telah bergeser dari masa ke masa, baik di daerah maupun di perantauan. Perubahan itu dapat dilihat seperti nilai dari pelengkap upacara adat yang kini juga dialih fungsikan sebagai pertunjukan hiburan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya sanggar-sanggar tari daerah yang bekerja sama dengan agensi hiburan. Meskipun begitum perkembangan ini tetap tidak mematikan peranan Tari Piring sebagai identitas asli budaya Minangkabau. Meskipun banyak ide garapan dan corak dari bentuknya lahir dari pemikiran seorang koreografer individual moderen, namuan secara esensi baik masyarakat di rantau maupun di Sumatera Barat tetap menyatakan bahwa Tari Piring yang telah berkembang secara kualitas tersebut disebut Tari Piring asli Minangkabau.[8]


BAB III TARI TOR TOR Tortor adalah jenis tarian tradisional masyarakat Batak yang berasal dari provinsi Sumatra Utara, meliputi daerah kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir, Tapanuli Tengah, dan Simalungun. Tortor merupakan bagian penting dalam upacara adat (ulaon adat) masyarakat Batak. Melalui Tortor, masyarakat Batak menyampaikan harapan dan doa-doanya. Peragaan sikap dan perasaan melalui Tortor selalu menggambarkan kondisi dan situasi yang dialami. ETIMOLOGI Nama "Tortor" berasal dari bunyi hentakan kaki pada lantai rumah adat Suku Batak, yang terbuat dari kayu, sehingga menghasilkan suara berbunyi “tor, tor” SEJARAH Tortor merupakan tarian dari masyarakat Batak yang diperkirakan telah ada dalam kebudayaan Batak sejak sekitar abad ke-13.[4] Adapun makna simbol dalam tiap gerakan Tortor masing-masing mempunyai arti yang menjelaskan bagaimana proses menghargai dan memberi penghormatan antar marga sebagai bentuk hubungan yang baik. Dalam unsur kekerabatan masyarakat Batak antara hulahula, dongan sabutuha, dan boru gerakan itu semua menjelaskan proses tersebut melalui simbol gerakan yang akan dibawakan oleh panortor. CIRI KHAS Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gordang. Secara fisik, tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari hanya sekadar gerakan-gerakannya menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, di mana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antarpartisipan upacara. Gerakan menarikan tortor disebut manortor. Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan, secara terbuka, terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan 'mambuat tua ni gondang', meminta berkat dari gondang sabangunan. Praktik dulu dianggap animistik ini kini ditujukan kepada Tuhan agar memberkati acara.


Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan akan meminta kepada para pemain gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut: "Amang pardoal pargonci": 1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion." 2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon." 3. "Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo." Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gordang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti: Permohonan kepada Dewa dan pada roh-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan. Setiap penari tortor harus memakai ulos dan mempergunakan alat musik/gondang (Uninguningan). Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (moncak), atau adu tenaga batin dan lain-lain. Tari tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat. KONSEP GONDANG MASA KINI Dalam hal ini, konsep margondang pada masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu: 1. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hiburan atau seni pertunjukan,


misalnya: gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dan sebagainya. 2. Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, misalnya: gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangoli anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang di luar suku Batak Toba, dan sebagainya. 3. Margondang religi, upacara ini sekarang hanya dilakukan oleh organisasi keagamaan yang masih berdasar pada kepercayaan Batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, dan parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah Mula Jadi na Bolon. Segala kegiatan mereka berhubungan dengan adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tata aturan yang dititahkan Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai wakil Mula Jadi na Bolon. GERAKAN TOR TOR 1. Pangurdot : Merupakan gerakan seluruh badan di mana pusat daya gerakannya bertumbuh pada telapak kaki dan tumit. 2. Pangeal : Daya tarik Tortor ini ada pada pangeal ni gonting (gerakan pinggang yang gemulai). Gerakan ini diikuti oleh anggota tubuh lain, seperti tangan, jemari dan kepala. 3. Pandenggal : Gerakan pendenggal memiliki rotasi. Kedua telapak tangan yang terbuka di angkat ke atas secara berlahan-lahan, lalu secara perlahan diturunkan ke bawah dengan menelungkupkan telapak tangan yang terbuka tersebut, seolah-olah jatuh secara elatis menuju pinggang sebelah kiri dan ke kanan. 4. Siangkupna : merupakan menggerakan bagian leher. Di mana gerakannya seirama dengan gondang dan urdot. 5. Hapunanna : adalah ekspresi yang tampak dari wajah penortor penari. Di mana dari wajah bisa diketahui situasi kegembiraan atau suka duka cita. Ekspresi wajah penari harus seirama, maka tortor bisa berkomunikasi kepada penonton yang hadir menyaksikan.


BAB IV TARI SAMAN Tari Saman merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan atau dakwah. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara grup tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian dititik beratkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan. Gerakan Tarian Saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman, yakni tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, Syekh Saman mempelajari tarian Melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudahkan dakwahnya. Dalamam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan. Tari Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surangsaring (semua gerak ini menggunakan bahasa Bahasa Gayo). Penari Pada umumnya, tarian saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Pendapat lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang lebih dari 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, dalam perkembangan pada era modern yang menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut syekh. Selain mengatur gerakan para penari, syekh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman, yaitu ganit.


BAB V TARI KECAK Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack) adalah dramatari seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar,[1] melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.


BAB VI TARI BUNGONG JEUMPA Bungong Jeumpa (aksara Jawoë: جمڤا بوڠوڠ (adalah lagu daerah yang berasal dari Aceh. Bungong Jeumpa dalam bahasa Aceh berarti bunga cempaka. Lagu ini memiliki arti penting dalam budaya suku Aceh yang menggambarkan semangat dan keindahan Tanah Aceh dan menjadi simbol bunga khas di Kesultanan Aceh. Lirik Bahasa Aceh Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Acèh Bungong teuleubèh, teuleubèh indah lagoë na Putéhkunèng meujampu mirah Bungongsiulah indah lagoë na Lam sina buleuën, lam sina buleuën angèn peuayôn Rurôh meususôn, meususôn, nyang mala-mala Mangat that mubèë meunyo tatém côm Leupah that harôm si bungong jeumpa


DAFTAR PUSTAKA Nainggolan, Maria Serlitaria. 2017. Makna Tari Tor Tor sebagai Identitas Orang Batak di Kota Balikpapan. Diakses pada tanggal 26 Maret 2023, dari https://ejournal.ilkom.fisipunmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2017/02/Isi%20Jurnal%20fix%20(02-23-17-04-03- 13).pdf Indrayuda, Indrayuda (2013) Popularitas Tari Piring sebagai Identitas Budaya Minangkabau. Panggung: Jurnal Seni dan Budaya, 23 (3). pp. 270-280. ISSN Print: 0854-3429 dan Online: 2502-3640. Diakses pada tanggal 26 Maret 2023, dari http://repository.unp.ac.id/37934/ Heniwaty, Yusnizar (2015) TARI SAMAN PADA MASYARAKAT ACEH : IDENTITAS DAN AKTUALISASI. Research Report. Lembaga Penelitian Unimed. Diakses pada tanggal 26 Maret 2023, dari http://digilib.unimed.ac.id/1478/ Pira Erawati, N. M. (2019). Pariwisata Dan Budaya Kreatif : Sebuah Studi Tentang Tari Kecak Di Bali. Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan, 5(1), 1–6. Diakses pada tanggal 26 Maret 2023, dari https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/view/731


Click to View FlipBook Version