TEORI SOSIOLOGI SASTRA IAN WATT Veramita Umar Ayu Anastasya Umar
Rane Wallek dan Austin Warren dalam buku Teori kesusastraan (1956:84), sosiologi sastra adalah pengarang yang memasalahkan status sosial, idelogi sosial, dan lain-lain yang menyangkut pengarangsebagai penghasil sastra.Sosiologi sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri. Akan tetapi, yang menjadipokok penelaahan adalah apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjaditujuannya. Menurut Swingewood (dalam Wiyatmi, 2013: 6) mengemukakan bahwa sosiologi adalah bidang studi ilmiah dan objektif yang membahas manusia dalam masyarakat, lembaga-lembaga danproses sosial. Sama halnya dengan Swingewood, Soerjono Sukanto(dalam Wiyatmi, 2013: 6) juga mengemukakan bahwasosiologi merupakan ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatn yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat. SOSILOGI SASTRA
isIan Watt mengklasifikasikan kajian sosiologi sastra dalam 3 (tiga) masalah,yakni (a) Konteks sosialpengarang, (b)Sastra sebagai cermin masyarakat, dan (c)Fungsi sosial sastra. BIan Watt (9 Maret 1917 – 13 Desember 1999) adalah seorang kritikus sastra, sejarawansastra, dan profesorbahasa Inggris di Universitas Stanford. Ia lahir di Windermere, Westmorland, Inggris, dan menempuh pendidikan di Dover County School for Boys dan St John’s College, Cambridge, di mana ia meraih gelar kehormatan kelas satu dalam bahasa Inggris. Ian Watt dikenal karena pendekatannya terhadap sosiologi sastra 02 Sosiologi sastra menurut Ian Watt pada klasifikasi pertama mencakup situasi atau posisi sosial pengarang dalam masyarakat dan hubungannya dengan pembaca. Hal tersebut dapat mempengaruhi penciptaan dan isi dari karya sastra. Pada klasifikasi kedua, sastra dianggap sebagai cermin atau sebuah dokumenter yang isinya menggambarkan masyarakat, potret kehidupan masyarakat ketika karya sastra tersebut lahir. Klasifikasi ketiga sosiologi sastra oleh Ian Watt mencakup sejauh manaa karya sastra berfungsi untuk mengubahmasyarakatnyaa, sebagai penghibur, dan sejauh mana sintetis antara kedua klasifikasi diatas.
TEORI SASTRA IAN WATT KONTEKS SOSIAL PENGARANG Darisini, kita dapat melihat bagaimanasi pengarang mendapatkan mata pencahariannya, apakah ia menerimabantuan dari pengayomatau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap. Kemudian, juga bisa dilihat dari profesionalisme dalam kepengarangan; sejauh mana pengarangmenganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi. Selain itu, masyarakat apa yang dituju oleh pengarang; hubunganantara pengarang dan masyarakat. Hal ini sangat penting, sebab macam masyarakat yang dituju ikut menentukan bentuk dan isi karya sastra. SOSIOLOGI SEBAGAI CERMIN MASYARAKAT Menurut Ian Watt, sastra mungkintidak dapat dikatakan bahwa ia mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis. Sebab, banyak ciri-ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidakberlaku lagi pada waktu ia ditulis. Sastra yang berusahamenampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisadipercaya sebagai cerminmasyarakat. . Demikian juga sebaliknya, karya yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipergunakan sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Akan tetapi, pandangansosialpengarang harus diperhitungkan apabila kita menilaikarya sastra sebagaicermin masyarakat. 03
TEORI SASTRA IAN WATT FUNGSI SOSIAL SASTRA Sudut pandang dari kaum Romantik menganggap karya sastra sama dengan karya pendeta atau nabi. Dalam anggapan ini, tercakupjuga pendirian bahwasastra harus berfungsi sebagai pembaru dan pero2mbak keadaan masyarakat yang dianggap tidak sesuai lagi dengan zaman atau bertentangan dengan norma-norma sosial. Dari sudut lain dikatakan pula bahwa sastra bertugassebagai penghibur belaka.Dalam hal ini “seni untuk seni”. Namun, semacam kompromi agar dapat dicapai dengan meminjam slogan klasik, salah satu fungsi karya sastra adalah dulce et utile bahwa sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur. 03
Sastra Sebagai Cermin Masyarakat Watt berpendapat bahwa sastra mencerminkan kehidupan sosial dan kondisi historis dari periode di mana karya sastra tersebut ditulis. Novel-novel, khususnya, dianggap sebagai dokumensosial yang mencatatperubahan-perubahan dalam masyarakat. Konteks Sejarah dan Sosial Dalam "The Rise of the Novel," Watt meneliti bagaimana perubahan ekonomi, sosial, dan budaya pada abad ke-18 berkontribusi pada lahirnya novel modern. Dia berargumen bahwa munculnya kelas menengah dan perubahan dalam praktik membaca masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan bentuk sastra ini. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat Watt berpendapat bahwa sastra mencerminkan kehidupan sosial dan kondisi historis dari periode di mana karya sastra tersebut ditulis. Novel-novel, khususnya, dianggap sebagai dokumensosial yang mencatatperubahan-perubahan dalam masyarakat. Realisme dan Sastra Watt menekankan pentingnya realisme dalam novel. Dia menghubungkan realismedengan perkembangan pemikiranempiris pada masa Pencerahan, di mana penekanan pada observasi langsung dan pengalaman individu mulai menggeser cara pandang masyarakat terhadap dunia dan hal ini tercermin dalam sastra. TEOR 04 I UTAMA IAN WATT DALAM SOSIOLOGI SASTRA
ndividu dan Masyarakat Watt juga melihat bagaimana novel mengangkat tema-tema individudan masyarakat. Dia mencatat bahwa novel sering kali mengeksplorasi kehidupan individu dalam konteks sosial mereka, memperlihatkan bagaimana kondisi sosialmempengaruhi kehidupan pribadi. Perkembangan Naratif Menurut Watt, perkembangan teknik naratif dalam novel, sepertipenggunaan sudut pandang orang pertama dan fokus pada kehidupan sehari-hari, merupakanrefleksi dari perubahandalam cara orangmemandang diri merekasendiri dan duniadi sekitar mereka TEOR 04 I UTAMA IAN WATT DALAM SOSIOLOGI SASTRA IMPLIKASI DARI TEORI IAN WATT ndividu dan Masyarakat Watt juga melihat bagaimana novel mengangkat tema-tema individudan masyarakat. Dia mencatat bahwa novel sering kali mengeksplorasi kehidupan individu dalam konteks sosial mereka, memperlihatkan bagaimana kondisi sosialmempengaruhi kehidupan pribadi. Perkembangan Naratif Menurut Watt, perkembangan teknik naratif dalam novel, sepertipenggunaan sudut pandang orang pertama dan fokus pada kehidupan sehari-hari, merupakanrefleksi dari perubahandalam cara orangmemandang diri merekasendiri dan duniadi sekitar mereka
Perubahan dalam Genre Sastra: Teori Watt juga membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana genre sastra tertentuberkembang dan berubahseiring waktu. Novel, sebagaicontoh utama dalam karyanya, dipandangsebagai respons terhadap kebutuhan dan minat masyarakat pada waktu tertentu. Wattberpendapat bahwa kemunculan novel modern pada abad ke18 terkait erat dengan perubahan sosial dan ekonomi. Ia menyoroti karya-karya dari penulis sepertiDaniel Defoe, Samuel Richardson, dan Henry Fielding yang mencerminkan pengalaman individudalam konteks sosial mereka. Watt mengaitkan kemunculan novel dengan pemikiran empiris dan rasionalisme dari masa Pencerahan. Pandangan dunia yang lebih ilmiah dan berbasis pengalaman ini tercermin dalam narasi novel yang realistisdan berfokus pada individu. Novel, menurut Watt, berbeda dari bentuk sastra sebelumnya karena penekanan pada realisme dan kehidupan sehari-hari. Watt melihat novel sebagai medium yang mampu menggambarkan kehidupannyata dengan detail yang mendalam,mencakup berbagai aspek kehidupan sosial,ekonomi, dan budaya. FOKUS UTAMA TEORI WATT.
Novel, menurut Watt, berbeda dari bentuk sastra sebelumnya karena penekanan pada realisme dan kehidupan sehari-hari. Watt melihat novel sebagai medium yang mampu menggambarkan kehidupannyata dengan detail yang mendalam,mencakup berbagai aspek kehidupan sosial,ekonomi, dan budaya Watt mencatat bahwa teknik naratif dalam novel, seperti sudut pandang orang pertamadan penggunaan detail realistis, membantu menciptakan ilusi realitas. Teknik ini memungkinkan pembaca untuk merasakan kedekatandengan karakter dan situasi yang digambarkan. Watt melihat novel sebagai dokumen sosial yang memberikan wawasan tentang kondisisosial dan nilai-nilai budaya pada masanya.Melalui analisis novel, kita dapat memahami perubahandalam struktur sosial,perilaku, dan norma masyarakat. 06
CONTOH KAJIAN Contoh kajian puisi teori sastra IAN WATT
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulan merah jambu Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan Gembira dari kemayaan riang Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal Jiwa begitu murni, terlalu murni Untuk bias membagi dukaku Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan diatas itu, tak ada yang punya Dan kotaku, ah kotaku Hidupnya tak punya lagi tanda. PUISI : GADIS PEMINTA-MINTA : TOTO S BACHTIAR 06
Kajian sosiologi sastra dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra Ian Watt.Ian Watt merupakanseorang kritikus sastra,sejarah sastra, serta seorang profesordi Universitas Standford. Ian Watt dalam bukunya “Literature and Society” (1964) yang dinukil dalam sebuahartikel jurnal yang ditulis oleh (Carolina dkk, 2021: 69))menyatakan bahwa dalam sosiologi sastra, mengklasifikasikan 3 (tiga) kajian sosiologi sastra dalam 3 masalah yakni (1) konteks sosial pengarang,tentang hubungan antara posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dengan masyarakat pembaca. (2) sastra sebagai cermin masyarakat, tentang karya sastra dapat mencerminkan keadaanmasyarakat, untuk melihatsejauh mana karya sastra tersebut menggambarkan pengarang apakah mempengaruhi gambaran masyarakat atau fakta sosial yang ingin disampaikan. (3) fungsi sosial sastra, untuk mengetahui seberapa jauh karya sastra sebagai pengubah, penghibur, dan sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial.Hasil dan pembahasan harus menjawab permasalahan dan tujuan penelitian.
Pada kutipan puisi diatas, Toto S. Bachtiar menggambarkan kondisi berupa ketimpangan sosial dan ekonomi yang terdapat dalam masyarakat saat itu. Toto melalui puisi ini menyoroti masalah kemiskinan, adanya ketidakadilan dan kurangnya empati dalam masyarakat. Gadis kecil dalam puisiini menjadi tandadari banyaknya individuyang mengalami penderitaan. Hal-hal yang digambarkan Toto S. Bachtiar dalam Puisi Gadis Peminta-minta ini merupakan kondisi sosial masyarakat yang terjadi semasa hidupnya. Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ian Watt, bahwa karya sastra tumbuh dan berkembang sesuai konteks sosial pengarang. Melalui karya sastra, pengarang dapat memahami dan mengkritik kondisi sosial mereka dan diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah sosial yang sedang dihadapi individu dalam masyarakat. 04 KONTEKS SOSIAL PENGARANG “Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulan merah jambu Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa”
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil Bait tersebutsangat jelas menggambarkan perasaanempati pengarang dan keinginannya untuk merasakanserta memahami kehidupan gadis kecil tersebut. Dalam bait tersebut juga tergambar kondisi kehidupan anak-anak pada masa itu, yang harus bekerja dengan cara meminta-minta agar bisa bertahan hidup. Konteks sosial pengarang juga tergambar jelas dalam bait ketiga. Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan Bait ini menggambarkan perbedaan antara realitas hidup yang sulit dan impian atau angan- angan tentang kehidupan yang lebih baik dan mewah. Ini mencerminkan bagaimana orangorang miskin sering mengandalkan harapan dan mimpi untuk bertahan menghadapi kesulitan sehari-hari. Toto S. Bachtiar hidup pada masa ketika Indonesia baru saja merdeka dan sedang berusaha membangun dirinya sebagai negara yang merdeka. Pada masa itu, banyak masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan sosialyang cukup menonjol. 04 KONTEKS SOSIAL PENGARANG “Ingin aku ikut,gadis kecil berkaleng kecil Pulang kebawah jempatan yang melulur sosok Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan Gembira dari kekayaan ringan”
Bait tersebutmenyoroti konteks sosialyang dihadapi oleh pengarang dan mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia pada masa itu. Puisi ini mengungkapkan realitas keras kemiskinan. Gadis kecil dengan kaleng kecil melambangkan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, yang bahkan kematiannya mungkin tidak akan diperhatikan oleh orang lain. Inimencerminkan ketidakadilan sosial di mana nasib orang miskin sering kali diabaikan. 04 KONTEKS SOSIAL PENGARANG ““Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan di atas itu, tak ada yang punya Dan kotaku oh kotaku Hidupnya tak punya lagi tanda”
SASTRA SEBAGAI CERMIN MASYARAKAT Berdasarkan data 1 menggambarkan bahwa kepedulian Toto S. Bachtiar terhadap gadis kecil yang tinggal di kota yang mengalami kesulitan dan keterasingan sosial dalam masyarakat. Dalam bait tersebutmenggambarkan pertemuan antarapenyair dengan gadis kecil yang sederhana, namun penuh kepolosan. Senyumnya terlihat abadi dan tidak terpengaruh oleh kesedihan dan kerasnya hidup. Meskipun hidup dalam kekurangan, gadis kecil ini tetap menunjukkan optimisme dan semangat hidup dalam menghadapi realitas sosial yang tidak adil. “Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekaluntuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulanmerah jambu Tapi kotakujadi hilang, tanpa jiwa” Berdasarkan data 2, bait tersebut mengungkapkan perasaan “aku” yang merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang dimilikinya meskipun serba berkecukupan. Ia melihat kehidupan gadis kecil di bawah jembatanlebih sederhana, namun memiliki kegembiraan yang tulus. “Ingin aku ikut,gadis kecil berkaleng kecil Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan Gembira dari kemayaan riang”
SASTRA SEBAGAI CERMIN MASYARAKAT Berdasarkan data 3, penyair menggambarkan bahwa gadis kecil itu mempunyai impian yang tinggi namun harus menghadapi realitas yang keras dan sulit dalam kehidupannya. Gadis kecil yang polos dan murni jiwanya sehingga membuatnya sulit untuk merasakan atau memahami bebankesedihan orang lain.Dalam bait di atas menunjukkan perbedaan antara dunia “aku” dan “gadiskecil berkaleng kecil”. “Aku” yakni penyairmerasa bahwa gadis kecil itu tidakakan mampu memahamikesedihannya karena memilikipengalaman hidup yang berbeda. “Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal Jiwa begitumurni, terlalu murni Untuk bias membagi dukaku” , penyairmenggambarkan tentang kehilangan dan ketidakpastian yang terjadijika gadis kecil tersebut meninggal. Perasaan kehilangan dan kekosongan yang dirasakan oleh penyair jika keberadaan gadis kecil tersebut hilang. Dalam bait tersebut menunjukkan bahwa “gadis kecil berkaleng kecil” memiliki peran penting dalam kehidupan “aku” dan kota tempat tinggalnya. “Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan di atas itu, tak ada yang punya Dan kotaku, ah kotaku Hidupnya tak punya lagi tanda”
“Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekaluntuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulanmerah jambu Tapi kotakujadi hilang, tanpa jiwa” Dalam kutipan tersebut, Toto mengemukakan nilai-nilai moral terkait hubungan antarmanusia, seperti empati dan rasa hormat. Melalui puisinya, Toto menggambarkan kehidupan seorang gadis pengemis yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Ia ingin menunjukkan bahwa pada tahun 1956, saat puisi ini ditulis, kehidupan para pengemis di Jakarta sangat sulitakibat ketidakstabilan ekonomiyang disebabkan oleh penjajahan dan peperangan. FUNGSI SOSISAL SASTRA 06 “Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal Jiwa begitu murni, terlalu murni Untuk bias membagi dukaku ” Dalam kutipan tersebut, puisi ini mengajak kita untuk merenungkan tentang nilai-nilai sejati dalam kehidupan sertamenghargai kebahagiaan dan kemurnian jiwa,terlepas dari kondisi sosial dan materi. Dalamkehidupan sosial, rasa simpati dan empati sangat penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis, dan kita perlu mengembangkan kedua hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Puisi tersebut mencerminkan pandangan sosial tentangperbedaan antara kepolosan dan kejahatan dalam masyarakat.
“Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan diatas itu, tak ada yang punya Dan kotaku, ah kotaku Hidupnya tak punya lagi tanda. ” Pada bait ini Toto menyatakan kepergian gadis kecil ini akan meninggalkan kekosongan yang dirasakan oleh merekayang pernah disentuholeh kebaikan dan kepolosannya. Meskipun hidup dalam kemiskinan, gadisitu banyak mengajarkan bahwa kebermaknaan hiduptidak selalu terukur oleh kekayaan materi, tetapi oleh jejak kebaikan yang ditinggalkan di hati manusia. Puisi ini secara sosialmenggambarkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat. Dengan menggambarkan gadis kecil yangmungkin kurang beruntung, puisi ini menyoroti ketidakadilan sosialdan kesenjangan ekonomiyang bisa dialamioleh individu yang lebih lemah di masyarakat. Puisi ini juga menekankan betapa rapuhnya kehidupan manusia, di mana kehilangan seseorang dapat meninggalkan dunia tanpa tanda atau kesan yang berarti. Secara keseluruhan, puisi ini membangkitkan kesadaran akan pentingnya empati, perhatian, dan keadilan sosialdalam masyarakat untukmencegah penderitaan dan ketidaksetaraan yang tidak perlu. FUNGSI SOSISAL SASTRA 06
TERIMA KASIH