BUKU AJAR
TANAMAN OBAT INDONESIA
Oleh :
SRI PANCAWAHYU PUTRI UTAMI, S.FARM
SMK THERESIANA SEMARANG
2021 / 2022
EJAAN LATIN DAN TATA CARA PENAMAAN SIMPLISIA
A. PENDAHULUAN
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan yang
digunakan sebagai obat. Tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu kekayaan hayati
yang sangat beraneka ragam dan Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan.
Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan tumbuhan untuk pengobatan. Obat
tradisional di Indonesia yang beredar di pasaran ada Obat Tradisional, Obat Herbal
Terstandar dan Fitofarmaka. Semua obat tradisional yang beredar tersebut harus
memenuhi persyaratan yang terkait dengan keamanan, manfaat dan kualitas. Bahan
baku obat tradisional dapat berupa simplisia dan ekstrak. Ekstrak diperoleh dengan cara
menyari simplisia dengan pelarut yang cocok, kemudian sebagian atau seluruh pelarut
diuapkan. Bahan untuk membuat simplisia dapat berupa tumbuhan atau simplisia
nabati, hewan dan pelikan. Simplisia nabati diperoleh dari tumbuhan yang bila tidak
dinyatakan lain berupa tumbuhan yang dikeringkan.
Dalam ilmu Farmakognosi akan banyak mempelajari nama tanaman dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruf Latin. Meskipun
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir fase E, Peserta didik mampu memahami nama nama tanaman obat
Indonesia (simplisia) sesuai dengan pedoman penamaan simplisia. (Dalam
mempelajari jenis - jenis tanaman obat diperlukan pemahaman terlebih dahulu
mengenai ejaan Latin dan tata cara penamaan simplisia).
2. Pokok – Pokok Materi
a. Ejaan Latin
b. Tata Cara Penamaan Simplisia
3. Uraian Materi
TANAMAN OBAT
Penggunaan tanaman obat sudah dilakukan orang sjeak kurang lebih 2500 tahun
sebelum masehi. Hal ini dapat diketahui dari lempeng tanah liat yang tersimpan di
perpustakaan Ashurbanipal di Assiria, yang menyebutkan berbagai simplisia, antara
lain kulit delima, opium, adas manis, madu, ragi, dan minyak jarak. Orang Yunani
kuno, seperti Hippocrates (1446 sebelum Masehi), seorang tabib, juga telah
mengenal kayu manis, hiosiamina, gentian, kelembak, gom arab, dan bunga kantil.
Pada tahun 1737, Carl Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku
“Genera Plantarum”. Buku ini kemudian menjadi buku pedoman utama sistematika
botani. Sementara itu Farmakognosi (ilmu yang mempelajari tentang tanaman obat)
modern mulai dirintis oleh Theodor Wilhem Christian Martius, seorang Apotreker
Jerman, yang dalam bukunya “Grundriss Der Pharmakognosie Des Pflanzenreiches”
telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi dan cara – cara untuk
mengetahui kemurnian simplisia.
Pada awal perkembangan ilmu kedokteran dan kefarmasian di dunia barat,
segala sesuatu yang berkaitan dengan obat dan penggunaannya disebut sebagai
materi medica atau bahan obat. Pada awal abad ke-19, materi medica dibagi
menjadi farmakologi dan farmakognosi. Farmakologi mempelajari mekanisme kerja
obat, sedangkan Farmakognosi adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari
sifat – sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.
Sampai dewasa ini, perkembangan farmakognosi sudah sampai ke usaha – usaha
isolasi, identifikasi, dan juga teknik – teknik kromatografi untuk tujuan analisis
kualitatif dan kauntitatif.
EJAAN LATIN
Karena didalam materi tanaman akan banyak mempelajari nama tanmaan dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruflatin. Meskipun alphabet Latin sama dengan alphabet yang
digunkaan dalam Bahasa Indonesia, beberapa huruf dan rangkaian huruf
menunjukkan perbedaan cara pengucapan dengan adanya Ejaan Yang
Disempurnakan pada bahasa Indonesia. Cara pembacaan huruf atau rangkaian huruf
Latin yang dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut :
Huruf / Rangkaian Huruf Dibaca sebagai Contoh Diucapkan sebagai
Ga-la-nge
ae e Galangae Ka-ka-o
Kur-ku-ma
c k jika diikuti huruf a, o, u atau huruf Cacao Fruk-tus
konsonan Curcuma Si-tri
Fructus Se-ra
Gli-si-ri-za
Citri Suk-kus
Kok-si-ne-la
c s jika diikuti huruf e, i, y Cera Sin-ko-na
Strih-ni
Glycyrrhiza Zi-ngi-be-ra-se
O-le-um
cc kk jika diikuti huruf a, o, u Succus Pa-ra-fi-num
i-ye-ko-ris
cc ks jika diikuti huruf e, i, y Coccinella Au-ran-ti-i
Ka-yu-pu-ti
ch k jika diikuti huruf vokal Cinchona Va-ni-la
Gu-mi
ch h jika diikuti huruf konsonan Strychni I-pe-ka-ku-ane
Be-la-do-na
eae e Zingiberaceae Feu-ni-ku-li
Or-to-si-fon
eu e+u Oleum Hi-po-glo-si
Kwer-kus
ff f Paraffinum Ri-zo-ma
Re-i
ie i+ye iecoris Mi-ra
Ka-si-a
ii i+i Aurantii Pur-si-ana
Men-ta
j y Cajuputi Li-kwi-ri-sie
Ra-diks
ll l Vanilla Kor-teks
San-to-ri-za
mm m Gummi
Ma-i-dis
nh n ipecacuanhae
Pa-pa-ya
nn n belladonna
oe eu Foeniculi
ph f orthosiphon
pp p hippoglossi
qu kw Quercus
rh r Rhizoma
Rhei
rr r myrrha
ss s cassia
sh s purshiana
th t mentha
tiae sie liquiritiae
x ks jika berada di tengah atau akhir Radix
kata Cortex
x s jika berada di awal kata Xanthorrhiza
y i jika didahului dan atau diikuti oleh Maydis
huruf konsonan
y y jika diapit oleh 2 huruf vokal Papaya
TATA CARA PENULISAN TANAMAN OBAT
Tata cara penulisan :
Menggunakan nama latin
Terdiri dari dua kata
Kata pertama menunjukkan genus & kata kedua menunjukkan petunjuk
spesies
Huruf pertama diawali oleh huruf kapital & huruf kedua diawali oleh huruf
kecil
Dicetak miring atau diberi garis bawah
Dapat diikuti dengan singkatan nama ahli botaniContoh: Oryza sativa L
Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 kata, jika lebih maka kata kedua
& ketiga harus dihubungkan dengan tanda (-)Contoh: Hibiscus rosa-sinensis
Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia
Nama simplisia nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama
tanaman, diikuti nama bagian tanaman yang digunakan.Ketentuan tersebut tidak
berlaku untuk simplisia nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan
untuk eksudat nabati
Contoh:
Genus + nama bagian tanaman
Cinchonae Cortex (Cinchona succirubra)
Digitalis Folium (Digitalis lanata)Thymi Herba (Thymus vulgaris)
Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)
Petunjuk Species + nama bagian tanaman
Belladonnae Herba (Atropa belladona)
Serpylli Herba (Thymus serpyllum)
Ipecacuanhe Radix (Cephaelis ipecacuanha)
Stramonii Herba (Datura stramonium)
Genus + Petunjuk Species + nama bagian tanaman
Curcuma aeruginosae Rhizoma (Curcuma aeruginosa)
Capsici frutescentis Fructus (Capsicum frutescentis)
Beberapa nama simplisia yang tidak mengikuti tata nama
Galangae Rhizoma (Alpinia officinarum)
Sennae Folium (Cassia acutifolia)
Oleum Aurantii (Citrus sinensis)
4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri tentang pengertian Tanaman Obat, Ejaan Latin dan Tata
Cara Penamaan Simplisia sesuai dengan pemahamannya
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Dalam mempelajari tanaman obat akan banyak mempelajari nama tanaman dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruflatin. Meskipun alphabet Latin sama dengan alphabet yang
digunkaan dalam Bahasa Indonesia, beberapa huruf dan rangkaian huruf
menunjukkan perbedaan cara pengucapan dengan adanya Ejaan Yang
Disempurnakan pada bahasa Indonesia. Cara pembacaan huruf atau rangkaian huruf
Latin yang dimaksud dapat dilihat pada tabel pedoman Ejaan Latin.
Dalam penulisan tata penamaan Simplisia terdapat empat pedoman penulisan,
yaitu : Genus + nama bagian tanaman, Petunjuk spesies + nama bagian tanaman,
Genus + Petunjuk spesies + nama bagian tanaman, dan beberapa nama simplisia
yang tidak mengikuti tata nama.
2. Tes Formatif
EJAAN LATIN
No Soal Diucapkan sebagai
1 Eurycomae
2 Thymi
3 Cocae
4 Syzygii
5 Pix
6 Iecoris
7 Mays
8 Myristicae
9 Cathechu
10 Cajuputi
11 Aeruginosae
12 Foeniculli
13 Centellae
14 Anacardii
15 Gauzumae
16 Andrographidis
17 Equiseti
18 Caesalpiniaceae
19 Ichtammolum
20 Polyanthi
21 Litseae
22 Caryophylli
23 Cyperus
24 Macrophylla
25 Colchici
Nilai = jumlah jawaban benar X 4
= 25 x 4
= 100
Nilai maksimal 100
Materi Tata Cara Penulisan Tanaman Obat (simplisia)
Tuliskan mana yang termasuk dalam Genus, Spesies, Nama bagian tanama, Ahli
Botani dari penulisan simplisia dibawah ini !
a. Zingiberis Rhizoma
b. Curcumae domesticae Rhizoma
c. Panax schinseng
d. Rauwolfia serpentina Radix
e. Oryza sativa L.
Nilai = jumlah jawaban benar X 20
= 5 x 20
= 100
Nilai maksimal 100
D. DAFTAR PUSTAKA
Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
BUDIDAYA TANAMAN OBAT
A. PENDAHULUAN
Budidaya tanaman obat pada hakikatnya adalah suatu cara pengolahan
agar suatu tanaman obat dapat mendatangkan hasil yang tinggi dan bermutu baik.
Keadaan ini dapat terjadi jika tanaman dapat tumbuh pada lingkungan yang sesuai,
antara lain pada kesuburan tanah yang sesuai, iklim yang sesuai, dan dengan
teknologi tepat guna. Simplisia dapat berasal dari tumbuhan liar yang diperoleh
dengan cara menebang atau memungut langsung dari tempat tumbuh alami atau
dari tanaman yang dibudidayakan.
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami budidaya tanaman obat
2. Pokok – Pokok Materi
a. Faktor budidaya tanaman obat
b. Tahap - tahap budidaya tanaman obat
3. Uraian Materi
BUDIDAYA TANAMAN OBAT
Simplisia dapat berasal dari tumbuhan liar yang diperoleh dengan
memungut langsung dari tempat tumbuh alami atau dari tanaman yang
dibudidayakan.
Faktor yang menjadi pertimbangan untuk memperoleh simplisia antara lain :
1. Faktor ekonomi
Jika tumbuhan asal banyak terdapat di alam dan biaya pengelolaan
simplisia relatif rendah, disarankan mengumpulkan bahan simplisia dari
tumbuhan liar
Jika tumbuhan asal langka di alam dan biaya pengelolaan simplisia tinggi,
maka disarankan melakukan budidaya tumbuhan asal.
2. Faktor Lingkungan
Permintaan yang tinggi atas suatu simplisia yang dikumpulkan dari tumbuhan
liar akan berakibat tumbuhan menjadi langka dan terancam punah.
3.Faktor Keseragaman Kualitas
Di masa mendatang, langkah budidaya sangat diperlukan untuk simplisia
yang banyak diminta karena alasan faktor lingkungan dan kualitas yang
seragam (standardisasi).
Tindakan budidaya merupakan tindakan penyediaan simplisia secara
kontinyu, teratur dan merupakan tindakan pelestarian nuftah.
Budidaya tanaman obat adalah salah satu cara pengelolaan tanaman obat
sehingga dapat mendatangkan hasil yang tinggi dan bermutu baik.
Berikut ini merupakan tahap-tahap pembudidayaan tanaman :
1. Pengolahan tanah
Bertujuan untuk menyiapkan tempat atau media tumbuh bagi
pertumbuhan tanaman, meliputi kesuburan fisik (struktur tanah,
susunan butiran tanah, udara dan air yang menjamin aktivitas akar
mengambil zat-zat yang diperlukan tanaman) & kesuburan kimiawi
(kemampuan tanah menyediakan kebutuhan nutrisi tanaman).
Pengolahan tanah mencakup : pembasmian gulma, menimbun dan
meratakan bahan organik, membuat saluran drainase
Pembuatan saluran drainase untuk mencegah kelebihan air dari yang
dibutuhkan oleh tanaman
Drainase
Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang
baik untuk tanaman yang tidak toleran terhadap genangan air.
Guludan
Pembuatan teras-teras (terasiring) apabila tanah terlalu miring, agar
erosi dapat diperkecil.
Terasiring
1. Penanaman
Ada 2 cara penanaman :
a. Penanaman bahan tanaman (benih/stek) secara langsung pada lahan.
b. Penanaman yang diawali dengan persemaian kemudian pemindahan tanaman
ke lahan yang disiapkan.
Persemaian dilakukan dengan tujuan :
- Bila tanaman yang waktu masih kecil memerlukan pemeliharaan yang intensif.
- Bila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk mengatur tanaman sesuai
perkembangan teknologi tepat guna.
- Memanfaatkan / menghemat waktu musim tanam tiba, sehingga saat musim
tanam tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dulu.
Penanaman Monokultur
Penanaman Ganda
2. Pemeliharaan tanaman
Bibit yang mudah layu perlu penyesuaian waktu tanam sehingga tidak
mendapat sinar matahari berlebihan
Penyiangan yang intensif perlu dilakukan untuk menekan populasi gulma
Penggemburan tanah dilakukan untuk memperbaiki sifat tanah tempat
tumbuh
Perbaikan saluran drainase dilakukan untuk mencegah genangan air yang
mengganggu pertumbuhan
Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi evaporasi (penguapan) air
tanah sehingga kelembaban tanah dapat tetap sesuai
Pemangkasan bunga untuk mencegah perubahan fase vegetatif ke generatif
yang memerlukan energi, agar kandungan bahan berkhasiat sebagai sumber
energi tidak berkurang
Pemangkasan pucuk batang untuk menstimulasi percabangan dan
menambah jumlah daun yang tumbuh.
Pemupukan nitrogen digunakan untuk meningkatkan kandungan alkaloida.
3. Pemungutan hasil (panen)
Penentuan waktu panen memperhatikan kuantitas dan kualitas simplisia,
mrngingat jumlah zat berkhasiat dalam tanaman tidak selalu konstan selama
siklus hidup tanaman.
Berikut adalah beberapa pedoman saat panen :
- Tanaman empon-empon dipanen saat bagian tanaman di atas tanah
menua atau menguning
- Daun dipanen saat proses fotosintesis maksimal yaitu sebelum
pembentukan buah
- Bunga dipanen saat masih kuncup (sebelum berkembang)
- Buah dipanen menjelang masak atau setelah masak
- Biji dipanen pada saat buah masak
- Kulit diambil pada saat bertunas
4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Budidaya Tanaman Obat Indonesia
(Simplisia)
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Dalam budidaya tanaman obat, ada tiga faktor yang mempengaruhi yaitu :
faktor ekonomi, faktor lingkungan dan faktor keseragaman kualitas.
Ada beberapa tahap pembudidayaan tanaman obat yaitu : pengolahan
tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman dan pemungutan hasil (panen).
2. Tes Formatif
Soal Budidaya Tanaman Obat :
1. Sebutkan 3 faktor yang menjadi pertimbangan pembudidayaan tanaman
obat untuk memperoleh simplisia !
2. Sebutkan tujuan pengolahan tanah pada tahap pembudidayaan tanaman
obat!
3. Sebutkan 2 cara penanaman tanaman obat !
4. Sebutkan tujuan penanaman ganda !
5. Sebutkan 9 tahap pembuatan simplisia !
6. Apa yang dimaksud parameter spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
7. Pemalsuan dan penurunan mutu simplisia:
a.Simplisia dianggap bermutu rendah jika ...
b. Simplisia dianggap rusak jika ...
c.Simplisia dianggap bulukan jika ...
d. Simplisia dinyatakan bercampur jika ...
e.Simplisia dianggap dipalsukan jika …
8. Sebutkan cara yang tepat untuk melakukan pemungutan hasil panen pada :
a.Empon - empon
b. Daun
c.Bunga
d. Buah
e.Biji
f. Kulit
9. Apa tujuan pemberian mulsa jerami pada penanaman tanaman jahe
(Zingiber officinale) ?
10. Bagaimana cara pemeliharaan tanaman Dioscorea composita agar
kandungan glikosida diosgenin pada tanaman dapat meningkat ?
Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100
Nilai maksimal 100
D. DAFTAR PUSTAKA
Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
SIMPLISIA RADIX
A. PENDAHULUAN
Tanaman obat atau yang sering dikenal dengan sebutan simplisia, merupakan
tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan sebagai
obat ada beberapa macam, yaitu Cormus, Flos (bunga), Fructus (buah), Semen (biji),
Tubera (umbi), Rhizoma (akar tinggal), Bulbus (umbi lapis), Cortex (kulit bagian
batang/ buah/ buah yang dapat dikelupas), Herba (bagian tanaman lunak di atas
tanah), Pulpa (daging buah), Kayu (lignum). Cormus terdiri dari tiga bagian yaitu
Radix (akar), Caulis (batang), Folium (daun).
Pada Bab ini yang akan dipelajari adalah tentang Radix. Radix (akar) adalah
bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping batang dan daun.
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan jenis - jenis
Tanaman Obat yaitu Simplisia Radix beserta khasiat / fungsi empirisnya.
2. Pokok – Pokok Materi
a. Pengertian Simplisia Radix
b. Contoh - contoh Simplisia Radix
c. Nama tanaman asal / nama latin Simplisia Radix
d. Familia / keluarga Simplisiaa Radix
e. Isi zat berkhasiat Simplisia Radix
f. Khasiat / fungsi empiris Simplisia Radix
3. Uraian Materi
Simplisia RADIX
Radix (akar) adalah bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping batang dan
daun.
Catharanthi Radix
Nama daerah : Akar tapak dara
Tanaman asal : Catharanthus roseus, Vinca rosea
Familia : Apocynaceae
Isi zat berkhasiat : Alkaloid vinkristin, vinblastin, vindesin
Guna : Antikanker
Gambar :
Derridis Radix
Nama daerah : Akar tuba
Tanaman asal : Derris elliptica
Familia : Papilionaceae
Isi zat berkhasiat : Rotenon
Guna : Racun panah, racun ikan, skabisida, insektisida
Gambar :
Elephantopi Radix
Nama daerah : Akar tapak liman
Tanaman asal : Elephantopus scaber
Familia : Asteraceae
Isi zat berkhasiat : Glukosida flavonoid
Guna : Antipiretik
Gambar :
Eurycomae Radix
Nama daerah : Akar pasak bumi
Tanaman asal : Eurycoma longifolia
Familia : Simarubaceae
Isi zat berkhasiat : Eurikomanol, eurikomolakton
Guna : Aprodisiaka
Gambar :
Glycyrrhizae Radix
Nama daerah : Akar manis
Tanaman asal : Glycyrrhiza glabra
Familia : Papilionaceae
Isi zat berkhasiat : Glisirizin
Guna : Antitusiva, dalam bentuk serbuk sbg pengisi & penyalut
Gambar :
Ipecacuanhae Radix
Nama daerah : Akar ipeka, akar muntah
Tanaman asal : Cephaelis ipecacuanha
Familia : Rubiaceae
Isi zat berkhasiat : Alkaloid emetina
Guna : Jumlah sedikit : Amara, Jumlah sedang : Ekspektoransia,
Diaforetika, Jumlah besar : Emetika
Gambar :
Panacis Radix
Nama daerah : Gingseng
Tanaman asal : Panax schinseng
Familia : Araliaceae
Isi zat berkhasiat : Glukosida panakuilon, panaks
Guna : Amara, stimulansia
Gambar :
Rauwolfiae serpentinae Radix
Nama daerah : Akar Pulepandak
Tanaman asal : Rauwolfia serpentina
Familia : Apocynaceae
Isi zat berkhasiat : Alkaloida serpentina, reserpina
Guna : Antihipertensi
Gambar :
Rhei Radix
Nama daerah : Kelembak
Tanaman asal : Rheum palmatum, Rheum officinale
Familia : Polygonaceae
Isi zat berkhasiat : Rhein, aloe emodin
Guna : Laxativa
Gambar :
Vetiveriae Radix
Nama daerah : Akar wangi, Larasetu
Tanaman asal : Vetiveria zizanoides
Familia : Poaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, Harsa
Guna : Diaforetika
Gambar :
Valerianae Radix
Nama daerah : Akar valerian
Tanaman asal : Valeriana officinalis
Familia : Valerianaceae
Isi zat berkhasiat : Valerianin, katinina
Guna : Sedativa
Gambar :
4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Budidaya Tanaman Obat Indonesia
(Simplisia) dan Simplisia Radix sesuai dengan pemahamannya
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Radix (akar) adalah bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping
batang dan daun. Contoh - contoh Simplisia Radix yaitu Catharanthi Radix,
Derridis Radix, Elephantopi Radix, Eurycomae Radix, Glycyrrhyzae Radix,
Ipecacuanhae Radix, Panacis Radix, Rauwolfiae serpentinae Radix, Rhei Radix,
Valerianae Radix, Vetiveriae Radix.
2. Tes Formatif
Soal Simplisia Radix :
1. Dalam jumlah sedikit, Ipecacuanhae Radix digunakan sebagai ….
A. Sudorifika C. Emetika
B. Antitusiva D. Amara
2. Pasien dengan keluhan konstipasi diberikan simplisia Radix...
A. Akar ipeka C. Pulepandak
B. Kelembak D. Akar tapak dara
3. Simplisia Radix yang digunakan pada pasien insomnia adalah ...
A. Akar tapak dara C. Akar valerian
B. Akar pasak bumi D. Akar wangi
4. Zat aktif pada gingseng adalah .... C. Eurikomolakton
A. Alkaloid reserpin D. Glukosida panakuilon
B. Alkaloid emetin
5. Zat aktif pada pulepandak adalah .... C. Eurikomolakton
A. Alkaloid reserpin D. Glukosida panakuilon
B. Alkaloid emetin
6. Zat aktif pada akar tapak dara yang digunakan sebagai antikanker adalah ....
A. Vinkristin C. Rhein
B. Valerianin D. Serpentin
7. Zat aktif yang digunakan sebagai Aprodisiaka adalah ….
A. Glisirizin C. Emetin
B. Eurikomolakton D. Rotenon
8. Berikut adalah tanaman asal dari simplisia Tapak dara ….
A. Elephantopus scaber
B. Rauwolfia serpentina
C. Vinca rosea
D. Rheum palmatum
9. Simplisia yang memiliki zat berkhasiat valerianin, katinina, yang memiliki kegunaan
sebagai ...
A. Sedativa
B. Laxativa
C. Amara
D. Aprodiasaka
10. Gambar di bawah menunjukkan simplisia ....
A. Glycyrrhizae Radix
B. Valerianae Radix
C. Rhei Radix
D. Elephantopi Radix
Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100
Nilai maksimal 100
D. DAFTAR PUSTAKA
Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
SIMPLISIA RHIZOMA
A. PENDAHULUAN
Tanaman obat atau yang sering dikenal dengan sebutan simplisia, merupakan
tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan sebagai
obat ada beberapa macam, yaitu Cormus, Flos (bunga), Fructus (buah), Semen (biji),
Tubera (umbi), Rhizoma (akar tinggal), Bulbus (umbi lapis), Cortex (kulit bagian
batang/ buah/ buah yang dapat dikelupas), Herba (bagian tanaman lunak di atas
tanah), Pulpa (daging buah), Kayu (lignum). Cormus terdiri dari tiga bagian yaitu
Radix (akar), Caulis (batang), Folium (daun).
Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah batang yang
seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan tanah.
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan jenis - jenis
Tanaman Obat yaitu Simplisia Rhizoma beserta khasiat / fungsi empirisnya.
2. Pokok – Pokok Materi
a. Pengertian Simplisia Rhizoma
b.Contoh - contoh Simplisia Rhizoma
c. Nama tanaman asal / nama latin Simplisia Rhizoma
d.Familia / keluarga Simplisiaa Rhizoma
e.Isi zat berkhasiat Simplisia Rhizoma
f. Khasiat / fungsi empiris Simplisia Rhizoma
3. Uraian Materi
RHIZOMA
Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah batang yang
seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan tanah.
Boesenbergiae Rhizoma
Nama daerah : Temu kunci
Tanaman asal : Boesenbergia pandurata
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, damar, pati
Guna : Antidiare
Gambar :
Calami Rhizoma
Nama daerah : Dringo, jaringau, calamus, sweetflag
Tanaman asal : Acorus calamus
Familia : Araceae
Isi zat berkhasiat : Zat pahit akorin, akoretin
Guna : Insektisida, demam nifas
Gambar :
Curcumae Rhizoma
Nama daerah : Temulawak, koneng gede
Tanaman asal : Curcuma xanthorrhiza
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (felandren &tumerol), zat warna kurkumin
Guna : Kolagoga, antispasmodika
Gambar :
Curcumae domesticate Rhizoma
Nama daerah : Kunyit, kunir
Tanaman asal : Curcuma domestica
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, zat warna kurkumin
Guna : Kolagoga
Gambar :
Curcumae aeruginosae Rhizoma
Nama daerah : Temu hitam
Tanaman asal : Curcuma aeruginosae
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, pati, damar, lemak
Guna : Antirematik
Gambar :
Curcumae heyneanae Rhizoma
Nama daerah : Temu giring
Tanaman asal : Curcuma heyneana
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, tanin, zat warna kurkumin
Guna : Antiseptik kulit
Gambar :
Cyperi Rhizoma
Nama daerah : Teki
Tanaman asal : Cyperus rotundus
Familia : Cyperaceae
Isi zat berkhasiat : Glikosida, alkaloida
Guna : Diuretika
Gambar :
Imperatae Rhizoma
Nama daerah : Rimpang alang-alang
Tanaman asal : Imperata cylindrica
Familia : Poaceae
Isi zat berkhasiat : Asam kersik, damar, logam alkali
Guna : Diuretika, antipiretika
Gambar :
Kaempferiae Rhizoma
Nama daerah : Kencur
Tanaman asal : Kaempferia galanga
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Kamferin)
Guna : Ekspektoransia
Gambar :
Languatis Rhizoma
Nama daerah : Laos, lengkuas
Tanaman asal : Languas galanga
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Galangol), metilsinamat
Guna : Antifungi
Gambar :
Zingiberis Rhizoma
Nama daerah : Jahe
Tanaman asal : Zingiber officinale
Familia : Zingiberaceae
Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Zingeron, zingiberol), gingerin
Guna : Karminativa
Gambar :
4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Simplisia Rhizoma
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah
batang yang seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan
tanah. Contoh - contoh Simplisia Rhizoma yaitu, Boesenbergiae Rhizoma, calami
Rhizoma, Curcumae Rhizoma, Curcumae domesticae Rhizoma, Curcumae
aeruginosae Rhizoma, Curcumae heyneanae Rhizoma, Cyperi Rhizoma, Imperatae
Rhizoma, Kaempferiae Rhizoma, Languatis Rhizoma, Zingiberis Rhizoma.
2. Tes Formatif
Soal Simplisia Rhizoma :
1. Zat aktif Kunyit … .
2. Kegunaan Zat aktif Galangol pada simplisia Languatis Rhizoma … .
3. Nama lain dari Curcumae Rhizoma … .
4. Zat aktif yang terkandung dalam simplisia Calami Rhizoma … .
5. Kegunaan dari simplisia teki … .
6. Kegunaan dari simplisia kencur … .
7. Tanaman asal dari simplisia Bengle … .
8. Zat aktif yang terkandung dalam simplisia Lempuyang wangi … .
9. Familia dari simplisia alang-alang … .
10. Cyperi Rhizoma (rimpang teki) berkhasiat sebagai diuretika yang berasal
dari familia … .
Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100
Nilai maksimal 100
D. DAFTAR PUSTAKA
Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Winarto, I.W. 2044. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agromedia Pustaka.
CARA PENGOLAHAN SIMPLISIA
A. PENDAHULUAN
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan
yang digunakan sebagai obat. Tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu kekayaan
hayati yang sangat beraneka ragam dan Indonesia memiliki keanekaragaman
tumbuhan nomer dua terbesar di dunia. Masyarakat Indonesia telah lama
menggunakan tumbuhan untuk pengobatan. Obat tradisional di Indonesia yang
beredar di pasaran dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu obat tradisional, obat
herbal terstandar dan fitofarmaka. Semua obat tradisional yang beredar tersebut
harus memenuhi persyaratan yang terkait dengan keamanan, manfaat dan kualitas.
Bahan baku obat tradisional dapat berupa simplisia dan ekstrak.
Ekstrak diperoleh dengan cara menyari simplisia dengan pelarut yang cocok,
kemudian sebagian atau seluruh pelarut diuapkan. Bahan untuk membuat simplisia
dapat berupa tumbuhan atau simplisia nabati, hewan dan pelican. Obat tradisional
yang berkualitas hanya dapat dihasilkan apabila bahan baku yang berupa simplisia
juga mempunyai mutu atau kualitas yang baik. Simplisia yang akan digunakan untuk
pembuatan obat tradisional harus memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yang tertuang dalam buku Materia Medika Indonesia,
Farmakope Herbal Indonesia dan apabila tidak terdapat dalam kedua buku tersebut
maka dapat digunakan standar persyaratan farmakope negara lain atau
menggunakan referensi ilmiah yang diakui
Tujuan dari pembuatan modul ini adalah agar peserta dapat dengan mudah
memahami dan mengerti tentang simplisia yang meliputi pemeriksaan mutu
simplisia, persyaratan mutu simplisia menurut Materia Medika Indonesia,
Farmakope Herbal Indonesia dan contoh-contoh persyaratan mutu untuk simplisia
tertentu. Relevansinya, peserta dapat memanfaatkan modul ini sebagai bahan
belajar sehingga dapat menguasai tentang pengertian definisi simplisia, persyaratan
mutu simplisia beserta contohnya.
B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan mempraktekkan cara
pengolahan / pembuatan Simplisia.
2. Pokok – Pokok Materi
a. Dasar - dasar pembuatan Simplisia
b. Tahap - tahap pembuatan Simplisia
c. Pemeriksaan mutu Simplisia
3. Uraian Materi
PENGOLAHAN SIMPLISIA
Dasar Pembuatan Simplisia :
Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan cepat,
tetapi dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu lama
akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang.
Pengeringan dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan perubahan
kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut,
untuk simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur panjang
perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringan
tidak mengalami kerusakan.
Simplisia dibuat dengan proses khusus.
Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat nabati,
penyaringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan
berpegang pada prinsip bahwa pada simplisia yang dihasilkan harus
memiliki mutu sesuai dengan persyaratan. (Contoh : simplisia minyak atsiri,
minyak lemak, damar)
Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati (Amylum) pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus terbebas dari pencemaran serangga, kuman patogen,
logam berat dan
Penyimpanan Pemeriksaan
mutu
Tahap Pembuatan simplisia :
1. Pengumpulan bahan
Hal yang perlu diperhatikan adalah umur tanaman, bagian tanaman pada
waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen yang tepat adalah saat bagian tanaman mengandung
senyawa aktif dalam jumlah terbesar. Senyawa aktif terbentuk secara
maksimal di dalam bagian tanaman pada umur tertentu. Penentuan bagian
tanaman yang dikumpulkan dan waktu pengumpulan secara tepat
memerlukan penelitian. Dalam penentuan waktu panen perlu
dipertimbangkan stabilitas fisik dan kimiawi (lingkungan tempat tumbuh)
senyawa aktif dalam simplisia.
Contoh : tanaman Mentha piperita muda mengandung menthol terbanyak
pada bagian daunnya. Kadar mentol dan minyak atsiri tertinggi pada daun
tanaman ini dicapai saat tanaman akan berbunga.
Pedoman cara panen :
Tanaman yang pada saat panen diambil bijinya yang telah tua,
pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah.
(Contoh : biji kedawung / Parkia biglobosa)
Tanaman yang pada saat panen diambil buahnya, waktu
pengambilan sering dihubungkan dengan tingkat kemasakan, yang
ditandai dengan terjadinya perubahan pada buah seperti
perubahan tingkat kekerasan. (Contoh : buah labu merah / Cucurbita
moschata)
Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pengambilan
dilakukanpada saat tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari
vegetatif ke generatif. Pada saat itu penumpukan senyawa aktif dalam
kondisi tinggi.
(Contoh : daun kumis kucing/ Orthosiphon stamineus)
Tanaman yang pada saat panen diambil daun yang telah tua,
daun yang diambil dipilih yang telah membuka sempurna dan terletak
di bagian cabang atau batang yang menerima sinar matahari sempurna.
Pada daun tersebut terjadi kegiatan asimilasi yang sempurna.
(Contoh : daun sembung/Blumea balsamifera)
Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang,
pengambilan dilakukan pada saat tanaman telah cukup umur.
Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya
dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain
menjelang musim kemarau.
Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, pengambilan
dilakukan pada musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian
atas tanaman. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan besar
maksimum.
2. Sortasi basah
Bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan asing lain dari
bahan simplisia agar tidak ikut terbawa saat proses selanjutnya yang
akan mempengaruhi hasil akhir.
Contoh : simplisia yang dibuat dari rimpang atau akar tinggal suatu
tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, daun,
batang, dan rimpang yang telah rusak harus dibuang.
Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang
tinggi, oleh karena itu pembersihan awal simplisia dari tanah dapat
mengurangi jumlah mikroba awal.
3. Pencucian
Bertujuan untuk menghilangkan tanah atau kotoran lain yang melekat
pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih (mata air,
air sumur, air PAM). Bahan simplisia dicuci menggunakan air yang
mengalir. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua
mikroba karena air yang digunakan biasanya juga mengandung sejumlah
mikroba. Sortasi Basah dan Pencucian SANGAT MEMPENGARUHI jumlah
mikroba awal pada simplisia. Bakteri yang umum terdapat di air adalah
Escherishia, Enterobacter, Streptococcus, Micrococcus, Pseudomonas,
Bacillus, Proteus.
4. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Bertujuan untuk mempermudah proses pengeringan. Tanaman yang
baru diambil jangan langsung dirajang, tetapi dijemur dalam keadaan
utuh selama 1 hari. Hal ini diperlukan untuk mengurangi pewarnaan
akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Perajangan dilakukan
dengan pisau atau mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis
atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang dikeringkan, semakin cepat penguapan air,
sehingga mempercepat waktu pengeringan.
5. Pengeringan
Bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga menjamin mutu dalam
penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur dan mencegah proses
enzimatik yang dapat menurunkan mutu. Air yang tersisa dalam simplisia
pada kadar tertentu merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad
renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel masih dapat bekerja,
menguraikan senyawa aktif selama simplisia tersebut masih
mengandung kadar air tertentu. Reaksi enzimatik tidak berlangsung bila
kadar air dalam simplisia kurang dari 10%.
Hal yang perlu diperhtikan selama proses pengeringan adalah :
- Suhu pengeringan
- Kelembaban udara
- Aliran udara
- Waktu pengeringan
- Luas permukaan bahan
Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya “FACE
HARDENING” yakni bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah. Irisan bahan yang terlalu tebal, suhu pengeringan yang terlalu
tinggi menyebabkan penguapan air permukaan bahan lebih cepat daripada
bagian dalam bahan, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan
menghambat pengeringan selanjutnya. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan
dan kebusukan di bagian dalam bahan yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung pada bahan simplisia dan cara pengeringannya.
Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30oC - 90oC, tetapi suhu terbaik
adalah tidak melebihi 60oC. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif
yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu
serendah mungkin (30oC - 45oC) atau dengan pengeringan vakum (mengurangi
tekanan udara di dalam ruang / lemari pengeringan dengan tekanan 5 mm Hg).
Ada 2 cara pengeringan :
Pengeringan alamiah dan buatan
Alamiah dengan sinar matahari langsung (bahan yang relatif keras) dan dengan
diangin-anginkan (bahan yang lunak)
Buatan dengan menggunakan mesin
6. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan asing (bagian tanaman
yang tidak diinginkan dan kotoran lain) yang masih tertinggal di simplisia kering.
Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus untuk kemudian disimpan.
7. Pengemasan
Pengemasan menggunakan wadah yang inert, tidak beracun, dapat melindungi
simplisia dari cemaran dan mencegah kerusakan.
8. Penyimpanan
Penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah dan
terlindung dari sinar matahari, terlindung dari gangguan serangga dan tikus.
Cahaya : sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan
perubahan kimia pada simplisia.
Kelembaban : simplisia higroskopik (misal agar) bila disimpan dalam wadah
yang terbuka akan menyerap udara sehingga menjadi kempal basah atau
mencair.
Serangga :serangga menimbulkan kerusakan dan pengotoran pada simplisia
(cangkang telur, bekas kepompong, anyaman benang bekas kepompong, bekas
kulit serangga)
Pemeriksaan mutu
Usaha untuk menjaga kestabilan mutu simplisia.. Pemeriksaan mutu simplisia
dilakukan saat penerimaan atau penyerahan dari pengumpul/pedagang
simplisia.
Pemeriksaan mutu simplisia meliputi hal-hal sebagai berikut :
Kebenaran simplisia : dilakukan dengan cara organoleptis, mikroskopis
dan makroskopis
Parameter non spesifik : terkait dengan faktor lingkungan dalam
pembuatan simplisia (uji pencemaran aflatoksin, logam berat, pestisida, jamur,
benda asing lainnya)
Parameter spesifik : terkait langsung dengan senyawa yang
terkandung dalam tanaman, meliputi : pemeriksaan secara fisika, secara kimia
dan secara biologi.
Pemalsuan dan Pemeriksaan Mutu Simplisia
Simplisia dianggap bermutu rendah
Jika tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan,
khususnya persyaratan kadar.
Mutu yang rendah disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan
pengeringan yang salah, disimpan terlalu lama, pengaruh kelembaban.
Simplisia dianggap rusak
Jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi memenuhi syarat.
Misal basah oleh air laut atau tercampur minyak pelumas waktu
pengangkutan oleh kapal.
Simplisia dinyatakan bulukan
Jika kualitasnya turun karena dirusak oleh bakteri, cendawan atau serangga.
Simplisia dinyatakan tercampur
Jika secara tidak sengaja terdapat bersama-sama dengan bahan atau bagian
tanaman lain.
Misal : kuncup bunga cengkeh tercampur dengan tangkai cengkeh.
Simplisia dinyatakan sengaja dipalsukan
Jika secara sengaja diganti, diolah atau ditambah bahan lain yang tidak
semestinya.
Misal : tepung jahe ditambah tepung terigu agar bobotnya bertambah.
4. Forum Diskusi
Peserta didik mendemonstrasikan materi yang sudah dipahami melalui presentas,
dan merancang Simplisia yang akan dibuat.
C. PENUTUP
1. Rangkuman
Tahap pembuatan Simplisia meliputi Pengumpulan bahan, Sortasi basah,
Pencucian, Perajangan, Pengeringan, Sortasi kering, Pengemasan, Penyimpanan,
Pemeriksaan mutu. Pemalsuan Simplisia umumnya dilakukan secara sengaja,
sedangkan penurunan mutu mungkin dilakukan secara tidak sengaja. Ada empat
kriteria dalam pemeriksaan mutu simplisia yaitu, Simplisia dianggap bermutu
rendah, Simplisia dianggap rusak, Simplisia dinyatakan bulukan, Simplisia dianggap
dipalsukan.
2. Tes Formatif
Soal pengolahan Simplisia :
1. Sebutkan tahap - tahap pembuatan simplisia !
2. Apa yang dimaksud parameter spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
3. Apa yang dimaksud parameter non spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
4. Apakah saja kendala dalam pembuatan Simplisia ?
5. Jelaskan cara pemeriksaan mutu Simplisia !
Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100
Nilai maksimal 100
D. DAFTAR PUSTAKA
Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Winarto, I.W. 2044. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Depkes RI. 1979. Materia Medika Indoensia. Jilid III. Cetkan Pertama. Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan