The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TANAMAN OBAT INDONESIA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pancastepy, 2021-10-04 11:27:49

BUKU AJAR

TANAMAN OBAT INDONESIA

Keywords: TANAMAN OBAT

BUKU AJAR
TANAMAN OBAT INDONESIA

Oleh :

SRI PANCAWAHYU PUTRI UTAMI, S.FARM

SMK THERESIANA SEMARANG

2021 / 2022

EJAAN LATIN DAN TATA CARA PENAMAAN SIMPLISIA

A. PENDAHULUAN
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan yang

digunakan sebagai obat. Tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu kekayaan hayati
yang sangat beraneka ragam dan Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan.
Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan tumbuhan untuk pengobatan. Obat
tradisional di Indonesia yang beredar di pasaran ada Obat Tradisional, Obat Herbal
Terstandar dan Fitofarmaka. Semua obat tradisional yang beredar tersebut harus
memenuhi persyaratan yang terkait dengan keamanan, manfaat dan kualitas. Bahan
baku obat tradisional dapat berupa simplisia dan ekstrak. Ekstrak diperoleh dengan cara
menyari simplisia dengan pelarut yang cocok, kemudian sebagian atau seluruh pelarut
diuapkan. Bahan untuk membuat simplisia dapat berupa tumbuhan atau simplisia
nabati, hewan dan pelikan. Simplisia nabati diperoleh dari tumbuhan yang bila tidak
dinyatakan lain berupa tumbuhan yang dikeringkan.

Dalam ilmu Farmakognosi akan banyak mempelajari nama tanaman dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruf Latin. Meskipun

B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir fase E, Peserta didik mampu memahami nama nama tanaman obat
Indonesia (simplisia) sesuai dengan pedoman penamaan simplisia. (Dalam
mempelajari jenis - jenis tanaman obat diperlukan pemahaman terlebih dahulu
mengenai ejaan Latin dan tata cara penamaan simplisia).

2. Pokok – Pokok Materi
a. Ejaan Latin
b. Tata Cara Penamaan Simplisia

3. Uraian Materi
TANAMAN OBAT

Penggunaan tanaman obat sudah dilakukan orang sjeak kurang lebih 2500 tahun
sebelum masehi. Hal ini dapat diketahui dari lempeng tanah liat yang tersimpan di
perpustakaan Ashurbanipal di Assiria, yang menyebutkan berbagai simplisia, antara
lain kulit delima, opium, adas manis, madu, ragi, dan minyak jarak. Orang Yunani
kuno, seperti Hippocrates (1446 sebelum Masehi), seorang tabib, juga telah
mengenal kayu manis, hiosiamina, gentian, kelembak, gom arab, dan bunga kantil.

Pada tahun 1737, Carl Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku
“Genera Plantarum”. Buku ini kemudian menjadi buku pedoman utama sistematika
botani. Sementara itu Farmakognosi (ilmu yang mempelajari tentang tanaman obat)
modern mulai dirintis oleh Theodor Wilhem Christian Martius, seorang Apotreker
Jerman, yang dalam bukunya “Grundriss Der Pharmakognosie Des Pflanzenreiches”
telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi dan cara – cara untuk
mengetahui kemurnian simplisia.

Pada awal perkembangan ilmu kedokteran dan kefarmasian di dunia barat,
segala sesuatu yang berkaitan dengan obat dan penggunaannya disebut sebagai
materi medica atau bahan obat. Pada awal abad ke-19, materi medica dibagi
menjadi farmakologi dan farmakognosi. Farmakologi mempelajari mekanisme kerja
obat, sedangkan Farmakognosi adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari
sifat – sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.

Sampai dewasa ini, perkembangan farmakognosi sudah sampai ke usaha – usaha
isolasi, identifikasi, dan juga teknik – teknik kromatografi untuk tujuan analisis
kualitatif dan kauntitatif.

EJAAN LATIN
Karena didalam materi tanaman akan banyak mempelajari nama tanmaan dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruflatin. Meskipun alphabet Latin sama dengan alphabet yang
digunkaan dalam Bahasa Indonesia, beberapa huruf dan rangkaian huruf

menunjukkan perbedaan cara pengucapan dengan adanya Ejaan Yang

Disempurnakan pada bahasa Indonesia. Cara pembacaan huruf atau rangkaian huruf

Latin yang dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut :

Huruf / Rangkaian Huruf Dibaca sebagai Contoh Diucapkan sebagai
Ga-la-nge
ae e Galangae Ka-ka-o
Kur-ku-ma
c k jika diikuti huruf a, o, u atau huruf Cacao Fruk-tus
 konsonan Curcuma Si-tri
Fructus Se-ra
Gli-si-ri-za
Citri Suk-kus
Kok-si-ne-la
c s jika diikuti huruf e, i, y Cera Sin-ko-na
Strih-ni
Glycyrrhiza Zi-ngi-be-ra-se
O-le-um
cc kk jika diikuti huruf a, o, u Succus Pa-ra-fi-num
i-ye-ko-ris
cc ks jika diikuti huruf e, i, y Coccinella Au-ran-ti-i
Ka-yu-pu-ti
ch k jika diikuti huruf vokal Cinchona Va-ni-la
Gu-mi
ch h jika diikuti huruf konsonan Strychni I-pe-ka-ku-ane
Be-la-do-na
eae e Zingiberaceae Feu-ni-ku-li
Or-to-si-fon
eu e+u Oleum Hi-po-glo-si
Kwer-kus
ff f Paraffinum Ri-zo-ma
Re-i
ie i+ye iecoris Mi-ra
Ka-si-a
ii i+i Aurantii  Pur-si-ana
Men-ta
j y Cajuputi Li-kwi-ri-sie
Ra-diks
ll l Vanilla Kor-teks
San-to-ri-za
mm m Gummi
Ma-i-dis
nh n ipecacuanhae
Pa-pa-ya
nn n belladonna

oe eu Foeniculi

ph f orthosiphon

pp p hippoglossi

qu kw Quercus

rh r Rhizoma
Rhei

rr r myrrha

ss s cassia

sh s purshiana

th t mentha

tiae sie liquiritiae

x ks jika berada di tengah atau akhir  Radix
kata Cortex

x s jika berada di awal kata Xanthorrhiza

y i jika didahului dan atau diikuti oleh  Maydis
huruf konsonan

y y jika diapit oleh 2 huruf vokal Papaya 

TATA CARA PENULISAN TANAMAN OBAT
Tata cara penulisan :

 Menggunakan nama latin
 Terdiri dari dua kata
 Kata pertama menunjukkan genus & kata kedua menunjukkan petunjuk

spesies
 Huruf pertama diawali oleh huruf kapital & huruf kedua diawali oleh huruf

kecil
 Dicetak miring atau diberi garis bawah
 Dapat diikuti dengan singkatan nama ahli botaniContoh: Oryza sativa L
 Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 kata, jika lebih maka kata kedua

& ketiga harus dihubungkan dengan tanda (-)Contoh: Hibiscus rosa-sinensis

Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia
Nama simplisia nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama
tanaman, diikuti nama bagian tanaman yang digunakan.Ketentuan tersebut tidak
berlaku untuk simplisia nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan
untuk eksudat nabati
Contoh:
Genus + nama bagian tanaman
Cinchonae Cortex (Cinchona succirubra)
Digitalis Folium (Digitalis lanata)Thymi Herba (Thymus vulgaris)
Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)

Petunjuk Species + nama bagian tanaman
Belladonnae Herba (Atropa belladona)
Serpylli Herba (Thymus serpyllum)
Ipecacuanhe Radix (Cephaelis ipecacuanha)
Stramonii Herba (Datura stramonium)

Genus + Petunjuk Species + nama bagian tanaman
Curcuma aeruginosae Rhizoma (Curcuma aeruginosa)
Capsici frutescentis Fructus (Capsicum frutescentis)

Beberapa nama simplisia yang tidak mengikuti tata nama
Galangae Rhizoma (Alpinia officinarum)
Sennae Folium (Cassia acutifolia)
Oleum Aurantii (Citrus sinensis)

4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri tentang pengertian Tanaman Obat, Ejaan Latin dan Tata
Cara Penamaan Simplisia sesuai dengan pemahamannya

C. PENUTUP
1. Rangkuman
Dalam mempelajari tanaman obat akan banyak mempelajari nama tanaman dan
simplisia dengan istilah Latin, ada baiknya kita pelajari cara pengucapan huruf atau
rangkaian huruflatin. Meskipun alphabet Latin sama dengan alphabet yang
digunkaan dalam Bahasa Indonesia, beberapa huruf dan rangkaian huruf
menunjukkan perbedaan cara pengucapan dengan adanya Ejaan Yang
Disempurnakan pada bahasa Indonesia. Cara pembacaan huruf atau rangkaian huruf
Latin yang dimaksud dapat dilihat pada tabel pedoman Ejaan Latin.
Dalam penulisan tata penamaan Simplisia terdapat empat pedoman penulisan,
yaitu : Genus + nama bagian tanaman, Petunjuk spesies + nama bagian tanaman,
Genus + Petunjuk spesies + nama bagian tanaman, dan beberapa nama simplisia
yang tidak mengikuti tata nama.

2. Tes Formatif

EJAAN LATIN

No Soal Diucapkan sebagai
1 Eurycomae
2 Thymi
3 Cocae
4 Syzygii
5 Pix
6 Iecoris
7 Mays
8 Myristicae
9 Cathechu
10 Cajuputi
11 Aeruginosae
12 Foeniculli
13 Centellae
14 Anacardii
15 Gauzumae
16 Andrographidis
17 Equiseti
18 Caesalpiniaceae
19 Ichtammolum
20 Polyanthi

21 Litseae
22 Caryophylli
23 Cyperus
24 Macrophylla
25 Colchici

Nilai = jumlah jawaban benar X 4
= 25 x 4
= 100

Nilai maksimal 100

Materi Tata Cara Penulisan Tanaman Obat (simplisia)
Tuliskan mana yang termasuk dalam Genus, Spesies, Nama bagian tanama, Ahli
Botani dari penulisan simplisia dibawah ini !
a. Zingiberis Rhizoma
b. Curcumae domesticae Rhizoma
c. Panax schinseng
d. Rauwolfia serpentina Radix
e. Oryza sativa L.

Nilai = jumlah jawaban benar X 20
= 5 x 20
= 100

Nilai maksimal 100

D. DAFTAR PUSTAKA

Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka

BUDIDAYA TANAMAN OBAT

A. PENDAHULUAN
Budidaya tanaman obat pada hakikatnya adalah suatu cara pengolahan

agar suatu tanaman obat dapat mendatangkan hasil yang tinggi dan bermutu baik.
Keadaan ini dapat terjadi jika tanaman dapat tumbuh pada lingkungan yang sesuai,
antara lain pada kesuburan tanah yang sesuai, iklim yang sesuai, dan dengan
teknologi tepat guna. Simplisia dapat berasal dari tumbuhan liar yang diperoleh
dengan cara menebang atau memungut langsung dari tempat tumbuh alami atau
dari tanaman yang dibudidayakan.

B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami budidaya tanaman obat

2. Pokok – Pokok Materi
a. Faktor budidaya tanaman obat
b. Tahap - tahap budidaya tanaman obat

3. Uraian Materi
BUDIDAYA TANAMAN OBAT

Simplisia dapat berasal dari tumbuhan liar yang diperoleh dengan
memungut langsung dari tempat tumbuh alami atau dari tanaman yang
dibudidayakan.
Faktor yang menjadi pertimbangan untuk memperoleh simplisia antara lain :
1. Faktor ekonomi

 Jika tumbuhan asal banyak terdapat di alam dan biaya pengelolaan
simplisia relatif rendah, disarankan mengumpulkan bahan simplisia dari
tumbuhan liar

 Jika tumbuhan asal langka di alam dan biaya pengelolaan simplisia tinggi,
maka disarankan melakukan budidaya tumbuhan asal.

2. Faktor Lingkungan
Permintaan yang tinggi atas suatu simplisia yang dikumpulkan dari tumbuhan
liar akan berakibat tumbuhan menjadi langka dan terancam punah.

3.Faktor Keseragaman Kualitas
 Di masa mendatang, langkah budidaya sangat diperlukan untuk simplisia
yang banyak diminta karena alasan faktor lingkungan dan kualitas yang
seragam (standardisasi).
 Tindakan budidaya merupakan tindakan penyediaan simplisia secara
kontinyu, teratur dan merupakan tindakan pelestarian nuftah.

Budidaya tanaman obat adalah salah satu cara pengelolaan tanaman obat
sehingga dapat mendatangkan hasil yang tinggi dan bermutu baik.
Berikut ini merupakan tahap-tahap pembudidayaan tanaman :
1. Pengolahan tanah

 Bertujuan untuk menyiapkan tempat atau media tumbuh bagi
pertumbuhan tanaman, meliputi kesuburan fisik (struktur tanah,
susunan butiran tanah, udara dan air yang menjamin aktivitas akar
mengambil zat-zat yang diperlukan tanaman) & kesuburan kimiawi
(kemampuan tanah menyediakan kebutuhan nutrisi tanaman).

 Pengolahan tanah mencakup : pembasmian gulma, menimbun dan
meratakan bahan organik, membuat saluran drainase

 Pembuatan saluran drainase untuk mencegah kelebihan air dari yang
dibutuhkan oleh tanaman

Drainase
 Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang

baik untuk tanaman yang tidak toleran terhadap genangan air.

Guludan
 Pembuatan teras-teras (terasiring) apabila tanah terlalu miring, agar

erosi dapat diperkecil.

Terasiring

1. Penanaman
Ada 2 cara penanaman :
a. Penanaman bahan tanaman (benih/stek) secara langsung pada lahan.
b. Penanaman yang diawali dengan persemaian kemudian pemindahan tanaman
ke lahan yang disiapkan.
Persemaian dilakukan dengan tujuan :
- Bila tanaman yang waktu masih kecil memerlukan pemeliharaan yang intensif.
- Bila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk mengatur tanaman sesuai
perkembangan teknologi tepat guna.
- Memanfaatkan / menghemat waktu musim tanam tiba, sehingga saat musim
tanam tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dulu.

Penanaman Monokultur

Penanaman Ganda
2. Pemeliharaan tanaman

 Bibit yang mudah layu perlu penyesuaian waktu tanam sehingga tidak
mendapat sinar matahari berlebihan

 Penyiangan yang intensif perlu dilakukan untuk menekan populasi gulma
 Penggemburan tanah dilakukan untuk memperbaiki sifat tanah tempat

tumbuh
 Perbaikan saluran drainase dilakukan untuk mencegah genangan air yang

mengganggu pertumbuhan
 Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi evaporasi (penguapan) air

tanah sehingga kelembaban tanah dapat tetap sesuai
 Pemangkasan bunga untuk mencegah perubahan fase vegetatif ke generatif

yang memerlukan energi, agar kandungan bahan berkhasiat sebagai sumber
energi tidak berkurang

 Pemangkasan pucuk batang untuk menstimulasi percabangan dan
menambah jumlah daun yang tumbuh.

 Pemupukan nitrogen digunakan untuk meningkatkan kandungan alkaloida.

3. Pemungutan hasil (panen)
 Penentuan waktu panen memperhatikan kuantitas dan kualitas simplisia,
mrngingat jumlah zat berkhasiat dalam tanaman tidak selalu konstan selama
siklus hidup tanaman.
 Berikut adalah beberapa pedoman saat panen :
- Tanaman empon-empon dipanen saat bagian tanaman di atas tanah
menua atau menguning
- Daun dipanen saat proses fotosintesis maksimal yaitu sebelum
pembentukan buah
- Bunga dipanen saat masih kuncup (sebelum berkembang)
- Buah dipanen menjelang masak atau setelah masak
- Biji dipanen pada saat buah masak
- Kulit diambil pada saat bertunas

4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Budidaya Tanaman Obat Indonesia
(Simplisia)

C. PENUTUP
1. Rangkuman
Dalam budidaya tanaman obat, ada tiga faktor yang mempengaruhi yaitu :
faktor ekonomi, faktor lingkungan dan faktor keseragaman kualitas.
Ada beberapa tahap pembudidayaan tanaman obat yaitu : pengolahan
tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman dan pemungutan hasil (panen).

2. Tes Formatif
Soal Budidaya Tanaman Obat :
1. Sebutkan 3 faktor yang menjadi pertimbangan pembudidayaan tanaman
obat untuk memperoleh simplisia !
2. Sebutkan tujuan pengolahan tanah pada tahap pembudidayaan tanaman
obat!
3. Sebutkan 2 cara penanaman tanaman obat !

4. Sebutkan tujuan penanaman ganda !
5. Sebutkan 9 tahap pembuatan simplisia !
6. Apa yang dimaksud parameter spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
7. Pemalsuan dan penurunan mutu simplisia:

a.Simplisia dianggap bermutu rendah jika ...
b. Simplisia dianggap rusak jika ...
c.Simplisia dianggap bulukan jika ...
d. Simplisia dinyatakan bercampur jika ...
e.Simplisia dianggap dipalsukan jika …
8. Sebutkan cara yang tepat untuk melakukan pemungutan hasil panen pada :
a.Empon - empon
b. Daun
c.Bunga
d. Buah
e.Biji
f. Kulit
9. Apa tujuan pemberian mulsa jerami pada penanaman tanaman jahe
(Zingiber officinale) ?
10. Bagaimana cara pemeliharaan tanaman Dioscorea composita agar
kandungan glikosida diosgenin pada tanaman dapat meningkat ?

Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100

Nilai maksimal 100

D. DAFTAR PUSTAKA

Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka

SIMPLISIA RADIX

A. PENDAHULUAN
Tanaman obat atau yang sering dikenal dengan sebutan simplisia, merupakan

tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan sebagai
obat ada beberapa macam, yaitu Cormus, Flos (bunga), Fructus (buah), Semen (biji),
Tubera (umbi), Rhizoma (akar tinggal), Bulbus (umbi lapis), Cortex (kulit bagian
batang/ buah/ buah yang dapat dikelupas), Herba (bagian tanaman lunak di atas
tanah), Pulpa (daging buah), Kayu (lignum). Cormus terdiri dari tiga bagian yaitu
Radix (akar), Caulis (batang), Folium (daun).

Pada Bab ini yang akan dipelajari adalah tentang Radix. Radix (akar) adalah
bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping batang dan daun.

B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan jenis - jenis
Tanaman Obat yaitu Simplisia Radix beserta khasiat / fungsi empirisnya.

2. Pokok – Pokok Materi
a. Pengertian Simplisia Radix
b. Contoh - contoh Simplisia Radix
c. Nama tanaman asal / nama latin Simplisia Radix
d. Familia / keluarga Simplisiaa Radix
e. Isi zat berkhasiat Simplisia Radix
f. Khasiat / fungsi empiris Simplisia Radix

3. Uraian Materi
Simplisia RADIX

Radix (akar) adalah bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping batang dan
daun.

Catharanthi Radix

Nama daerah : Akar tapak dara

Tanaman asal : Catharanthus roseus, Vinca rosea

Familia : Apocynaceae

Isi zat berkhasiat : Alkaloid vinkristin, vinblastin, vindesin

Guna : Antikanker

Gambar :

Derridis Radix

Nama daerah : Akar tuba

Tanaman asal : Derris elliptica

Familia : Papilionaceae

Isi zat berkhasiat : Rotenon

Guna : Racun panah, racun ikan, skabisida, insektisida

Gambar :

Elephantopi Radix

Nama daerah : Akar tapak liman

Tanaman asal : Elephantopus scaber

Familia : Asteraceae

Isi zat berkhasiat : Glukosida flavonoid

Guna : Antipiretik

Gambar :

Eurycomae Radix

Nama daerah : Akar pasak bumi

Tanaman asal : Eurycoma longifolia

Familia : Simarubaceae

Isi zat berkhasiat : Eurikomanol, eurikomolakton

Guna : Aprodisiaka

Gambar :

Glycyrrhizae Radix

Nama daerah : Akar manis

Tanaman asal : Glycyrrhiza glabra

Familia : Papilionaceae

Isi zat berkhasiat : Glisirizin

Guna : Antitusiva, dalam bentuk serbuk sbg pengisi & penyalut

Gambar :

Ipecacuanhae Radix

Nama daerah : Akar ipeka, akar muntah

Tanaman asal : Cephaelis ipecacuanha

Familia : Rubiaceae

Isi zat berkhasiat : Alkaloid emetina

Guna : Jumlah sedikit : Amara, Jumlah sedang : Ekspektoransia,

Diaforetika, Jumlah besar : Emetika

Gambar :

Panacis Radix

Nama daerah : Gingseng

Tanaman asal : Panax schinseng

Familia : Araliaceae

Isi zat berkhasiat : Glukosida panakuilon, panaks

Guna : Amara, stimulansia

Gambar :

Rauwolfiae serpentinae Radix

Nama daerah : Akar Pulepandak

Tanaman asal : Rauwolfia serpentina

Familia : Apocynaceae

Isi zat berkhasiat : Alkaloida serpentina, reserpina

Guna : Antihipertensi

Gambar :

Rhei Radix

Nama daerah : Kelembak

Tanaman asal : Rheum palmatum, Rheum officinale

Familia : Polygonaceae

Isi zat berkhasiat : Rhein, aloe emodin

Guna : Laxativa

Gambar :

Vetiveriae Radix

Nama daerah : Akar wangi, Larasetu

Tanaman asal : Vetiveria zizanoides

Familia : Poaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, Harsa

Guna : Diaforetika

Gambar :

Valerianae Radix

Nama daerah : Akar valerian

Tanaman asal : Valeriana officinalis

Familia : Valerianaceae

Isi zat berkhasiat : Valerianin, katinina

Guna : Sedativa

Gambar :

4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Budidaya Tanaman Obat Indonesia
(Simplisia) dan Simplisia Radix sesuai dengan pemahamannya

C. PENUTUP
1. Rangkuman
Radix (akar) adalah bagian pokok dari tumbuhan (Cormus) disamping
batang dan daun. Contoh - contoh Simplisia Radix yaitu Catharanthi Radix,
Derridis Radix, Elephantopi Radix, Eurycomae Radix, Glycyrrhyzae Radix,
Ipecacuanhae Radix, Panacis Radix, Rauwolfiae serpentinae Radix, Rhei Radix,
Valerianae Radix, Vetiveriae Radix.

2. Tes Formatif

Soal Simplisia Radix :

1. Dalam jumlah sedikit, Ipecacuanhae Radix digunakan sebagai ….

A. Sudorifika C. Emetika

B. Antitusiva D. Amara

2. Pasien dengan keluhan konstipasi diberikan simplisia Radix...

A. Akar ipeka C. Pulepandak

B. Kelembak D. Akar tapak dara

3. Simplisia Radix yang digunakan pada pasien insomnia adalah ...

A. Akar tapak dara C. Akar valerian

B. Akar pasak bumi D. Akar wangi

4. Zat aktif pada gingseng adalah .... C. Eurikomolakton
A. Alkaloid reserpin D. Glukosida panakuilon
B. Alkaloid emetin

5. Zat aktif pada pulepandak adalah .... C. Eurikomolakton
A. Alkaloid reserpin D. Glukosida panakuilon
B. Alkaloid emetin

6. Zat aktif pada akar tapak dara yang digunakan sebagai antikanker adalah ....

A. Vinkristin C. Rhein

B. Valerianin D. Serpentin

7. Zat aktif yang digunakan sebagai Aprodisiaka adalah ….

A. Glisirizin C. Emetin

B. Eurikomolakton D. Rotenon

8. Berikut adalah tanaman asal dari simplisia Tapak dara ….

A. Elephantopus scaber

B. Rauwolfia serpentina

C. Vinca rosea

D. Rheum palmatum

9. Simplisia yang memiliki zat berkhasiat valerianin, katinina, yang memiliki kegunaan
sebagai ...
A. Sedativa
B. Laxativa
C. Amara
D. Aprodiasaka

10. Gambar di bawah menunjukkan simplisia ....

A. Glycyrrhizae Radix
B. Valerianae Radix
C. Rhei Radix
D. Elephantopi Radix

Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100
Nilai maksimal 100

D. DAFTAR PUSTAKA

Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

SIMPLISIA RHIZOMA

A. PENDAHULUAN
Tanaman obat atau yang sering dikenal dengan sebutan simplisia, merupakan

tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan sebagai
obat ada beberapa macam, yaitu Cormus, Flos (bunga), Fructus (buah), Semen (biji),
Tubera (umbi), Rhizoma (akar tinggal), Bulbus (umbi lapis), Cortex (kulit bagian
batang/ buah/ buah yang dapat dikelupas), Herba (bagian tanaman lunak di atas
tanah), Pulpa (daging buah), Kayu (lignum). Cormus terdiri dari tiga bagian yaitu
Radix (akar), Caulis (batang), Folium (daun).

Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah batang yang
seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan tanah.

B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan menjelaskan jenis - jenis
Tanaman Obat yaitu Simplisia Rhizoma beserta khasiat / fungsi empirisnya.

2. Pokok – Pokok Materi
a. Pengertian Simplisia Rhizoma
b.Contoh - contoh Simplisia Rhizoma
c. Nama tanaman asal / nama latin Simplisia Rhizoma
d.Familia / keluarga Simplisiaa Rhizoma
e.Isi zat berkhasiat Simplisia Rhizoma
f. Khasiat / fungsi empiris Simplisia Rhizoma

3. Uraian Materi
RHIZOMA

Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah batang yang
seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan tanah.

Boesenbergiae Rhizoma

Nama daerah : Temu kunci

Tanaman asal : Boesenbergia pandurata

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, damar, pati

Guna : Antidiare

Gambar :

Calami Rhizoma

Nama daerah : Dringo, jaringau, calamus, sweetflag

Tanaman asal : Acorus calamus

Familia : Araceae

Isi zat berkhasiat : Zat pahit akorin, akoretin

Guna : Insektisida, demam nifas

Gambar :

Curcumae Rhizoma

Nama daerah : Temulawak, koneng gede

Tanaman asal : Curcuma xanthorrhiza

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (felandren &tumerol), zat warna kurkumin

Guna : Kolagoga, antispasmodika

Gambar :

Curcumae domesticate Rhizoma

Nama daerah : Kunyit, kunir

Tanaman asal : Curcuma domestica

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, zat warna kurkumin

Guna : Kolagoga

Gambar :

Curcumae aeruginosae Rhizoma

Nama daerah : Temu hitam

Tanaman asal : Curcuma aeruginosae

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, pati, damar, lemak

Guna : Antirematik

Gambar :

Curcumae heyneanae Rhizoma

Nama daerah : Temu giring

Tanaman asal : Curcuma heyneana

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri, tanin, zat warna kurkumin

Guna : Antiseptik kulit

Gambar :

Cyperi Rhizoma

Nama daerah : Teki

Tanaman asal : Cyperus rotundus

Familia : Cyperaceae

Isi zat berkhasiat : Glikosida, alkaloida

Guna : Diuretika

Gambar :

Imperatae Rhizoma

Nama daerah : Rimpang alang-alang

Tanaman asal : Imperata cylindrica

Familia : Poaceae

Isi zat berkhasiat : Asam kersik, damar, logam alkali

Guna : Diuretika, antipiretika

Gambar :

Kaempferiae Rhizoma

Nama daerah : Kencur

Tanaman asal : Kaempferia galanga

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Kamferin)

Guna : Ekspektoransia

Gambar :

Languatis Rhizoma

Nama daerah : Laos, lengkuas

Tanaman asal : Languas galanga

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Galangol), metilsinamat

Guna : Antifungi

Gambar :

Zingiberis Rhizoma

Nama daerah : Jahe

Tanaman asal : Zingiber officinale

Familia : Zingiberaceae

Isi zat berkhasiat : Minyak atsiri (Zingeron, zingiberol), gingerin

Guna : Karminativa

Gambar :

4. Forum Diskusi
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi
dengan rasa percaya diri pengertian Simplisia Rhizoma

C. PENUTUP
1. Rangkuman
Rhizoma atau disebut juga akar tinggal/ rimpang sebetulnya adalah
batang yang seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam / permukaan
tanah. Contoh - contoh Simplisia Rhizoma yaitu, Boesenbergiae Rhizoma, calami
Rhizoma, Curcumae Rhizoma, Curcumae domesticae Rhizoma, Curcumae
aeruginosae Rhizoma, Curcumae heyneanae Rhizoma, Cyperi Rhizoma, Imperatae
Rhizoma, Kaempferiae Rhizoma, Languatis Rhizoma, Zingiberis Rhizoma.

2. Tes Formatif
Soal Simplisia Rhizoma :
1. Zat aktif Kunyit … .
2. Kegunaan Zat aktif Galangol pada simplisia Languatis Rhizoma … .
3. Nama lain dari Curcumae Rhizoma … .
4. Zat aktif yang terkandung dalam simplisia Calami Rhizoma … .
5. Kegunaan dari simplisia teki … .
6. Kegunaan dari simplisia kencur … .
7. Tanaman asal dari simplisia Bengle … .
8. Zat aktif yang terkandung dalam simplisia Lempuyang wangi … .
9. Familia dari simplisia alang-alang … .
10. Cyperi Rhizoma (rimpang teki) berkhasiat sebagai diuretika yang berasal
dari familia … .

Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100

Nilai maksimal 100

D. DAFTAR PUSTAKA

Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Winarto, I.W. 2044. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agromedia Pustaka.

CARA PENGOLAHAN SIMPLISIA

A. PENDAHULUAN
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan

yang digunakan sebagai obat. Tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu kekayaan
hayati yang sangat beraneka ragam dan Indonesia memiliki keanekaragaman
tumbuhan nomer dua terbesar di dunia. Masyarakat Indonesia telah lama
menggunakan tumbuhan untuk pengobatan. Obat tradisional di Indonesia yang
beredar di pasaran dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu obat tradisional, obat
herbal terstandar dan fitofarmaka. Semua obat tradisional yang beredar tersebut
harus memenuhi persyaratan yang terkait dengan keamanan, manfaat dan kualitas.
Bahan baku obat tradisional dapat berupa simplisia dan ekstrak.

Ekstrak diperoleh dengan cara menyari simplisia dengan pelarut yang cocok,
kemudian sebagian atau seluruh pelarut diuapkan. Bahan untuk membuat simplisia
dapat berupa tumbuhan atau simplisia nabati, hewan dan pelican. Obat tradisional
yang berkualitas hanya dapat dihasilkan apabila bahan baku yang berupa simplisia
juga mempunyai mutu atau kualitas yang baik. Simplisia yang akan digunakan untuk
pembuatan obat tradisional harus memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yang tertuang dalam buku Materia Medika Indonesia,
Farmakope Herbal Indonesia dan apabila tidak terdapat dalam kedua buku tersebut
maka dapat digunakan standar persyaratan farmakope negara lain atau
menggunakan referensi ilmiah yang diakui

Tujuan dari pembuatan modul ini adalah agar peserta dapat dengan mudah
memahami dan mengerti tentang simplisia yang meliputi pemeriksaan mutu
simplisia, persyaratan mutu simplisia menurut Materia Medika Indonesia,
Farmakope Herbal Indonesia dan contoh-contoh persyaratan mutu untuk simplisia
tertentu. Relevansinya, peserta dapat memanfaatkan modul ini sebagai bahan
belajar sehingga dapat menguasai tentang pengertian definisi simplisia, persyaratan
mutu simplisia beserta contohnya.

B. INTI
1. Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, Peserta didik mampu memahami dan mempraktekkan cara
pengolahan / pembuatan Simplisia.

2. Pokok – Pokok Materi
a. Dasar - dasar pembuatan Simplisia
b. Tahap - tahap pembuatan Simplisia
c. Pemeriksaan mutu Simplisia

3. Uraian Materi
PENGOLAHAN SIMPLISIA

Dasar Pembuatan Simplisia :
 Simplisia dibuat dengan cara pengeringan

Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan cepat,
tetapi dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu lama
akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang.
Pengeringan dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan perubahan
kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut,
untuk simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur panjang
perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringan
tidak mengalami kerusakan.

 Simplisia dibuat dengan proses khusus.
Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat nabati,
penyaringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan
berpegang pada prinsip bahwa pada simplisia yang dihasilkan harus
memiliki mutu sesuai dengan persyaratan. (Contoh : simplisia minyak atsiri,
minyak lemak, damar)

 Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati (Amylum) pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus terbebas dari pencemaran serangga, kuman patogen,
logam berat dan

Penyimpanan Pemeriksaan
mutu

Tahap Pembuatan simplisia :
1. Pengumpulan bahan

Hal yang perlu diperhatikan adalah umur tanaman, bagian tanaman pada
waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen yang tepat adalah saat bagian tanaman mengandung
senyawa aktif dalam jumlah terbesar. Senyawa aktif terbentuk secara
maksimal di dalam bagian tanaman pada umur tertentu. Penentuan bagian
tanaman yang dikumpulkan dan waktu pengumpulan secara tepat
memerlukan penelitian. Dalam penentuan waktu panen perlu
dipertimbangkan stabilitas fisik dan kimiawi (lingkungan tempat tumbuh)
senyawa aktif dalam simplisia.
Contoh : tanaman Mentha piperita muda mengandung menthol terbanyak
pada bagian daunnya. Kadar mentol dan minyak atsiri tertinggi pada daun
tanaman ini dicapai saat tanaman akan berbunga.

Pedoman cara panen :
 Tanaman yang pada saat panen diambil bijinya yang telah tua,

pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah.
(Contoh : biji kedawung / Parkia biglobosa)
 Tanaman yang pada saat panen diambil buahnya, waktu
pengambilan sering dihubungkan dengan tingkat kemasakan, yang
ditandai dengan terjadinya perubahan pada buah seperti
perubahan tingkat kekerasan. (Contoh : buah labu merah / Cucurbita
moschata)
 Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pengambilan
dilakukanpada saat tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari
vegetatif ke generatif. Pada saat itu penumpukan senyawa aktif dalam
kondisi tinggi.
(Contoh : daun kumis kucing/ Orthosiphon stamineus)

 Tanaman yang pada saat panen diambil daun yang telah tua,
daun yang diambil dipilih yang telah membuka sempurna dan terletak
di bagian cabang atau batang yang menerima sinar matahari sempurna.
Pada daun tersebut terjadi kegiatan asimilasi yang sempurna.
(Contoh : daun sembung/Blumea balsamifera)

 Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang,
pengambilan dilakukan pada saat tanaman telah cukup umur.
Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya
dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain
menjelang musim kemarau.

 Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, pengambilan
dilakukan pada musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian
atas tanaman. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan besar
maksimum.

2. Sortasi basah
Bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan asing lain dari
bahan simplisia agar tidak ikut terbawa saat proses selanjutnya yang
akan mempengaruhi hasil akhir.
Contoh : simplisia yang dibuat dari rimpang atau akar tinggal suatu
tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, daun,
batang, dan rimpang yang telah rusak harus dibuang.
Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang
tinggi, oleh karena itu pembersihan awal simplisia dari tanah dapat
mengurangi jumlah mikroba awal.

3. Pencucian
Bertujuan untuk menghilangkan tanah atau kotoran lain yang melekat
pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih (mata air,

air sumur, air PAM). Bahan simplisia dicuci menggunakan air yang
mengalir. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua
mikroba karena air yang digunakan biasanya juga mengandung sejumlah
mikroba. Sortasi Basah dan Pencucian SANGAT MEMPENGARUHI jumlah
mikroba awal pada simplisia. Bakteri yang umum terdapat di air adalah
Escherishia, Enterobacter, Streptococcus, Micrococcus, Pseudomonas,
Bacillus, Proteus.

4. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Bertujuan untuk mempermudah proses pengeringan. Tanaman yang
baru diambil jangan langsung dirajang, tetapi dijemur dalam keadaan
utuh selama 1 hari. Hal ini diperlukan untuk mengurangi pewarnaan
akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Perajangan dilakukan
dengan pisau atau mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis
atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang dikeringkan, semakin cepat penguapan air,
sehingga mempercepat waktu pengeringan.

5. Pengeringan
Bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga menjamin mutu dalam
penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur dan mencegah proses
enzimatik yang dapat menurunkan mutu. Air yang tersisa dalam simplisia
pada kadar tertentu merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad
renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel masih dapat bekerja,
menguraikan senyawa aktif selama simplisia tersebut masih
mengandung kadar air tertentu. Reaksi enzimatik tidak berlangsung bila
kadar air dalam simplisia kurang dari 10%.

Hal yang perlu diperhtikan selama proses pengeringan adalah :
- Suhu pengeringan
- Kelembaban udara
- Aliran udara
- Waktu pengeringan
- Luas permukaan bahan

Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya “FACE
HARDENING” yakni bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah. Irisan bahan yang terlalu tebal, suhu pengeringan yang terlalu
tinggi menyebabkan penguapan air permukaan bahan lebih cepat daripada
bagian dalam bahan, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan
menghambat pengeringan selanjutnya. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan
dan kebusukan di bagian dalam bahan yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung pada bahan simplisia dan cara pengeringannya.
Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30oC - 90oC, tetapi suhu terbaik
adalah tidak melebihi 60oC. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif
yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu
serendah mungkin (30oC - 45oC) atau dengan pengeringan vakum (mengurangi
tekanan udara di dalam ruang / lemari pengeringan dengan tekanan 5 mm Hg).

Ada 2 cara pengeringan :
Pengeringan alamiah dan buatan
Alamiah dengan sinar matahari langsung (bahan yang relatif keras) dan dengan
diangin-anginkan (bahan yang lunak)
Buatan dengan menggunakan mesin

6. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan asing (bagian tanaman
yang tidak diinginkan dan kotoran lain) yang masih tertinggal di simplisia kering.
Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus untuk kemudian disimpan.

7. Pengemasan
Pengemasan menggunakan wadah yang inert, tidak beracun, dapat melindungi
simplisia dari cemaran dan mencegah kerusakan.

8. Penyimpanan

Penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah dan

terlindung dari sinar matahari, terlindung dari gangguan serangga dan tikus.

Cahaya : sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan

perubahan kimia pada simplisia.

Kelembaban : simplisia higroskopik (misal agar) bila disimpan dalam wadah

yang terbuka akan menyerap udara sehingga menjadi kempal basah atau

mencair.

Serangga :serangga menimbulkan kerusakan dan pengotoran pada simplisia

(cangkang telur, bekas kepompong, anyaman benang bekas kepompong, bekas

kulit serangga)

Pemeriksaan mutu

 Usaha untuk menjaga kestabilan mutu simplisia.. Pemeriksaan mutu simplisia

dilakukan saat penerimaan atau penyerahan dari pengumpul/pedagang

simplisia.

 Pemeriksaan mutu simplisia meliputi hal-hal sebagai berikut :

Kebenaran simplisia : dilakukan dengan cara organoleptis, mikroskopis

dan makroskopis

Parameter non spesifik : terkait dengan faktor lingkungan dalam

pembuatan simplisia (uji pencemaran aflatoksin, logam berat, pestisida, jamur,

benda asing lainnya)

Parameter spesifik : terkait langsung dengan senyawa yang

terkandung dalam tanaman, meliputi : pemeriksaan secara fisika, secara kimia

dan secara biologi.

Pemalsuan dan Pemeriksaan Mutu Simplisia
 Simplisia dianggap bermutu rendah
Jika tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan,
khususnya persyaratan kadar.
Mutu yang rendah disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan
pengeringan yang salah, disimpan terlalu lama, pengaruh kelembaban.

 Simplisia dianggap rusak
Jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi memenuhi syarat.
Misal basah oleh air laut atau tercampur minyak pelumas waktu
pengangkutan oleh kapal.

 Simplisia dinyatakan bulukan
Jika kualitasnya turun karena dirusak oleh bakteri, cendawan atau serangga.

 Simplisia dinyatakan tercampur
Jika secara tidak sengaja terdapat bersama-sama dengan bahan atau bagian
tanaman lain.
Misal : kuncup bunga cengkeh tercampur dengan tangkai cengkeh.

 Simplisia dinyatakan sengaja dipalsukan
Jika secara sengaja diganti, diolah atau ditambah bahan lain yang tidak
semestinya.
Misal : tepung jahe ditambah tepung terigu agar bobotnya bertambah.

4. Forum Diskusi
Peserta didik mendemonstrasikan materi yang sudah dipahami melalui presentas,
dan merancang Simplisia yang akan dibuat.

C. PENUTUP
1. Rangkuman
Tahap pembuatan Simplisia meliputi Pengumpulan bahan, Sortasi basah,
Pencucian, Perajangan, Pengeringan, Sortasi kering, Pengemasan, Penyimpanan,
Pemeriksaan mutu. Pemalsuan Simplisia umumnya dilakukan secara sengaja,
sedangkan penurunan mutu mungkin dilakukan secara tidak sengaja. Ada empat
kriteria dalam pemeriksaan mutu simplisia yaitu, Simplisia dianggap bermutu
rendah, Simplisia dianggap rusak, Simplisia dinyatakan bulukan, Simplisia dianggap
dipalsukan.

2. Tes Formatif
Soal pengolahan Simplisia :
1. Sebutkan tahap - tahap pembuatan simplisia !
2. Apa yang dimaksud parameter spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
3. Apa yang dimaksud parameter non spesifik pada pemeriksaan mutu simplisia ?
4. Apakah saja kendala dalam pembuatan Simplisia ?
5. Jelaskan cara pemeriksaan mutu Simplisia !

Nilai = jumlah jawaban benar X 10
= 10 x 10
= 100

Nilai maksimal 100

D. DAFTAR PUSTAKA

Fery Norhendy…et all. 2013. Farmakognosi untuk SMK Farmasi. Volume 01.
Jakarta :EGC
Winarto, I.W. 2044. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Nurkhasanah. 2006. Bahan Obat Alam. Sumber Pendapatan Pembangunan:Fakultas
Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Utami Papti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka
Depkes RI. 1979. Materia Medika Indoensia. Jilid III. Cetkan Pertama. Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan


Click to View FlipBook Version