The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cacaahmad32, 2025-03-10 22:33:07

KTI NURUL ALYA SALSABILA AHMAD

KTI NURUL ALYA SALSABILA AHMAD

i PROYEK INOVASI PEMBERIAN EDUKASI TENTANG RESUSITASI JANTUNG PARU TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMK DENGAN MEDIA VIDEO ANIMASI OLEH: Nurul Alya Salsabila Ahmad PO.71.3.201.22.1.074 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR PRODI DIII KEPERAWATAN 2025


ii PERSETUJUAN PEBIMBING PROYEK INOVATIF “PEMBERIAN EDUKASI TENTANG RESUSITASI JANTUNG PARU TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMK DENGAN MEDIA VIDEO ANIMASI” Disusun oleh : Nurul Alya Salsabila Ahmad PO.71.3.201.22.1.074 Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan pada seminar proposal Program Studi D.III Keperawatan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar Pada tanggal : Menyetujui, Pembimbing Utama (SUKMA SAINI,S.Kep.Ns,M.Kes ) Nip. 197702232000031001 Pembimbing Pendamping (H.MUH.BASRI,S.Sit,M.Kes) Nip. 197702232000031001 Makassar, Ketua Prodi DIII Keperawatan (Naharia Laubo, S.Pd., S.Kep., Ns., M.Kes) Nip.196503281989112001


iii KATA PENGANTAR Penulis mengucapkan rasa syukur yang setinggi-tingginya kepada yang maha kuasa Allah SWT. Yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik, serta Hidayahnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahka kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta, Ahmad dan Sitti Nurjannah atas segala doa yang tak kunjung henti, kasih sayang, dukungan financial, dan semangat yang diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa, banyak pihak yang turut memberikan dorongan, nasehat, dan petunjuk demi terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu penulis ini ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Drs. Rusli, Apt., Sp.FRS., selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Makassar. 2. Iwan, S.Kp., M.Kes., selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar 3. Naharia Laubo S.Pd., S.Kep., Ns., M.Kes., selaku Ketua Prodi DIII Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar 4. Sukma Saini,S.Kep., Ns., M.Kes., selaku pembimbing pertama yang dengan kerendahan hati meluangkan waktunya memberikan saran, pendapat maupun arahan yang sangat bermanfaat bagi penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah


iv 5. H.Muh.Basri,S.Sit.,M.Kes., selaku pembibing kedua yang dengan kerendahan hati meluangkan waktunya memberikan saran, pendapat maupun arahan yang sangat bermanfaat bagi penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah. 6. Dyah Ekowati Ningsih, S.Kep., M.Kes., selaku penguji pertama yang telah memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 7. H. Heriansyah., S.Kep., M.Kes., selaku penguji pendamping yang telah memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah. 8. Seluruh dosen dan staff Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar yang selama ini telah mencurahkan segenap ilmu yang dimiliki kepada penulis. 9. Sebagai ungkapan terima kasih, penulis persembahkan kepada saudarisaudari saya Nurul anugrah febriyanti dan Nurul afiqah firsanah, dan keluarga yang selalu menjadi penyemangat dan pemberi arahan penulis sebagai sandaran terkuat dari kerasnya dunia, yang tiada hentinya selalu memberikan kasih sayang, doa, dan motivasi dengan penuh keikhlasan yang tak terhingga kepada penulis. Terima kasih selalu berjuang untuk kebahagian penulis. 10. Sahabat penulis dibangku perkuliahan yang selalu membersamai dalam tiga tahun ini yaitu: Nabila Putri Maulidia, Reyvita Meydrianti, Nurul Maulidia Isnaeni dan Andi Nunung Nurfatima, Terimakasih selalu menemani proses,


v memberikan dukungan, motivasi dan menjadi tempat keluh kesah, serta memberikan semangat yang luar biasa sehingga dapat terselesaikan Karya Tulis Ilmiah ini, terimakasih selalu ada setiap masa-masa sulitnya. 11. Terakhir, untuk diri saya sendiri Nurul Alya Salsabila Ahmad atas segala kerja keras dan semangatnya yang tidak menyerah dalam mengerjakan tugas akhir ini. Terima kasih kepada diri saya sendiri yang sudah kuat melewati semua lika liku dalam kehidupan hingga sekarang ini. Terima kasih pada raga dan jiwa yang masih kuat dan waras hingga sekarang. Saya bangga kepada saya sendiri. Pada akhirnya bisa berada di fase yang sekarang ini, untuk kedepannya raga yang kuat, hati yang selalu tegar. Mari berkerjasama untuk berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Makassar, Penulis, Nurul Alya Salsabila Ahmad


vi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i PERSETUJUAN PEBIMBING ........................................................................... ii KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii DAFTAR ISI......................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... vii BAB I...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN.................................................................................................. 1 A. Latar Belakang............................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 4 BAB II .................................................................................................................... 5 TINJAUAN TEORI.............................................................................................. 5 A. Teori Resusitasi Jantung Paru (RJP) ........................................................ 5 B. Tinjauan Teori Edukasi Kesehatan......................................................... 12 C. Tinjauan Teori Video Animasi............................................................... 15 D. Penelitian Terdahulu............................................................................... 16 BAB III................................................................................................................. 18 METODE PENELITIAN ................................................................................... 18 A. Desain Proyek......................................................................................... 18 B. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan.............................................................. 18 C. Subjek / Kelompok Sasaran.................................................................... 19 D. Prosedur Pelaksanaan ............................................................................. 19 E. Alat dan Bahan ....................................................................................... 20 F. Analisis Data .......................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 22


vii DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Gambar Persiapan Pasien................................................................... 8 Gambar 2. 2 Pemeriksaan Kesadaran...................................................................... 9 Gambar 2. 3 Gambar Pemeriksaan Nadi............................................................... 10 Gambar 2. 4 Gambar Pemeriksaan Pernapasan .................................................... 11 Gambar 2. 5 Gambar Kompresi Dada................................................................... 12


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Resusitasi jantung paru (RJP) adalah prosedur standar yang diterapkan untuk menangani kasus henti jantung dengan mengkombinasikan tindakan kompresi dada dan ventilasi (Dwi Ariyani & Masroni, 2022). Tindakan RJP yang efektif dapat meningkatkan kemungkinan kembalinya sirkulasi secara spontan. Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah suatu tindakan darurat yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi pada individu yang mengalami henti napas atau henti jantung, yang dikenal sebagai kematian klinis. Tindakan ini sangat penting untuk mencegah kematian biologis dan memungkinkan pemulihan fungsi normal (Apriza, 2024). Henti jantung merupakan faktor utama kematian baik di area luar rumah sakit maupun di sekitaran rumah sakit. Hasil penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa sekitar 70% dari henti jantung yang terjadi di area luar rumah sakit, atau yang dikenal sebagai OHCAs (out-of-hospital cardiac arrests) 50% terjadi di rumah, Hasil dari OHCA cenderung kurang baik, dengan hanya 10,8% korban orang dewasa yang mengalami henti jantung nontraumatik dan mampu bertahan hidup di rumah sakit setelah mendapatkan upaya resusitasi dari layanan darurat medis (EMS). Sementara itu, henti jantung yang terjadi di rumah sakit, atau IHCA (inhospital cardiac arrest), menghasilkan hasil yang lebih baik, dengan


2 tingkat kelangsungan hidup antara 22,3% hingga 25,5% untuk orang dewasa. (Fauzan et al., 2021). Pendidikan tentang resusitasi jantung paru (RJP) sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama saat terjadi henti jantung. Dengan pemahaman yang baik, individu dapat bertindak cepat dan efektif, yang dapat menyelamatkan nyawa. Namun, masih terdapat kurangnya pemahaman mengenai pertolongan pertama dalam kasus henti jantung di kalangan siswa sekolah, dan banyak di antara siswa yang tidak mengetahui prosedur RJP. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai penolong awam melalui edukasi atau pelatihan mengenai pelaksanaan RJP dalam situasi henti jantung. Edukasi kepada masyarakat tentang RJP menjadi salah satu fokus utama dalam pedoman manajemen OHCA. (Dwi Ariyani & Masroni, 2022). Masalah yang dibahas untuk penelitian ini adalah kurangnya pengetahuan siswa tentang RJP. Oleh karena itu, pemberian edukasi dengan media video animasi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang RJP dengan cara yang lebih interaktif dan menarik. Urgensi proyek ini terletak pada kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang RJP agar mereka dapat memanfaatkan program ini secara optimal. Dengan memberikan edukasi melalui media video animasi, diharapkan siswa akan lebih tertarik dan lebih mudah


3 memahami informasi yang disampaikan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas pemberian edukasi tentang RJP menggunakan media video animasi terhadap tingkat pengetahuan siswa, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan metode edukasi yang lebih efektif di masa depan. B. Rumusan Masalah 1. Pernyataan Rumusan Masalah Masih kurangnya pengetahuan siswa tentang RJP, mengakibatkan mereka tidak dapat memberikan pertolongan yang diperlukan saat menghadapi situasi darurat, seperti henti jantung. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan tingkat keselamatan dan meningkatknya risiko kematian pada korban yang membutuhkan tindakan Resusitasi Jantung Paru segera. 2. Pertanyaan Penelitian Apakah penggunaan media video animasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang resusitasi jantung paru? C. Tujuan Penelitian Untuk meningkatkan pengetahuan siswa tetang resusitasi jantung paru dengan media video animasi di SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.


4 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis : Penelitian ini dapat menambah pengalaman dan pengetahuan dalam bidang pendidikan kesehatan terutama mengenai efektivitas media video animasi dalam pemberian edukasi RJP. 2. Manfaat Praktis : Dengan penelitian ini menggunakan media video animasi siswa bisa lebih mudah mengingat dan memahami prosedur RJP,dan lebih mudah bertindak cepat dalam situasi darurat. 3. Manfaat institusional : Hasil penelitian dapat digunakan oleh sekolah untuk media pembelajaran tentang bantuan hidup dasar menggunakan video animasi tersebut.


5 BAB II TINJAUAN TEORI A. Teori Resusitasi Jantung Paru (RJP) 1. Defenisi Resusitasi Jantung Paru (RJP) Dalam kasus kegawat daruratan, kejadian henti napas dan henti jantung memerlukan penanganan yang tepat dan segera dari profesional medis atau masyarakat umum yang terlatih. Resusitasi Jantung Paru (RJP), yang merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi sistem pernapasan, peredaran darah, dan saraf ke tingkat yang optimal, dan defibrilasi dapat dilakukan segera untuk mengobati henti jantung. (Muthmainnah et al., 2022). Jika terjadi keadaan darurat, seperti henti napas atau henti jantung, mereka harus mendapatkan penanganan yang tepat dan segera dari profesional medis atau masyarakat umum yang terlatih. Terapi cepat dengan resusitasi jantung paru atau resusitasi jantung paru (CPR/R.JP) dan defibrilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal dapat membantu pemulihan henti jantung. Penanganan henti jantung bertujuan untuk mencegah kematian otak dan kematian permanen dengan mendeteksi dan bertindak secara cepat dan tepat untuk mengembalikan denyut jantung ke tingkat normal secepat mungkin.(Muthmainnah et al., 2022)


6 Pada kondisi henti jantung resusitasi jantung paru (RJP) diperlukan dalam beberapa detik. Menurut Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovaskular Care 2020, American Heart Association (AHA) menekankan pentingnya BHD pada Chain of Survival (Rantai Kelangsungan Hidup). Ini berarti mengidentifikasi dan mengaktifkan system respons gawat darurat (EMS). Memulai resusitasi jantung paru secepat mungkin, dan melakukan defibrilasi sesegera mungkin. (Afni et al., 2024). RJP dapat diterapkan dalam keadaan darurat tanpa alat dan dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari orang awam hingga dokter, kapan saja dan di mana saja. Bantuan hidup dasar harus diberikan segera setelah tanda-tanda henti jantung-paru muncul dan prosesnya tidak lebih dari 5 (lima) menit. Penyelamatan ini akan sangat membantu jika dilakukan secepat mungkin. Dibantu, meskipun tidak sempurna, lebih baik daripada dibiarkan sendiri. (Muthmainnah et al., 2022). 2. Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) a. Untuk memulihkan aliran darah ke organ vital,terutama otak,guna mencegah kerusakan permanen akibat kekurangan oksigen. b. Untuk memastikan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup selama terjadinya henti jantung.


7 c. Untuk meningkatkan peluang keselamatan seorang yang mengalami henti jantung. d. Untuk tetap menjaga aliran darah ke otak, dengan melakukan RJP dapat menghindari kerusakan neurologis. 3. Dampak yang terjadi jika tidak mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP) Tindakan resusitasi jantung paru (RJP) terutama untuk orang yang mengalami henti jantung dan henti napas akibat serangan jantung, adalah cara yang paling mudah dan efektif untuk menangani henti jantung. Waktu penyelamatan terbaik adalah dalam waktu 4 hingga 6 menit setelah kejadian. Jika tidak mengetahui cara melakukan resusitasi jantung paru atau lewat dari waktu tersebut maka kematian fisiologis bisa terjadi. (Firdaus et al., 2024). Komplikasi tindakan RJP memiliki komplikasi yaitu aspirasi yang berarti makanan atau muntahan masuk ke saluran napas,tulang iga tertusuk paru yang bisa menyebabkan perdarahan (Apriza, 2024). 4. Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) Menurut pedoman American Heart Association (AHA) tahun 2020, BLS terdiri dari tiga komponen yaitu kompresi dada (circulation), jalan napas (airway), dan pernapasan (breathing), atau disingkat menjadi C-A-B. Resusitasi jantung paru dilakukan


8 dengan bantuan obat-obatan pada bantuan hidup tingkat lanjut. (Ningsih et al., 2022) a. Persiapan Pasien RJP dilakukan segera dan tidak memerlukan perencanaan khusus, termasuk penggunaan obat anestesi. Pastikan lingkungan aman untuk RJP untuk pasien dan penolong sangat penting selama persiapan. Setelah menciptakan suasana yang aman, penolong harus memeriksa kesadaran pasien, nadi, dan napas spontan untuk memastikan bahwa jantung pasien telah berhenti. (Ningsih et al., 2022). Gambar 2. 1 Gambar Persiapan Pasien b. Pemeriksaan Kesadaran Metode AVPU (alert,voice response,pain response, and unresponsive) dapat digunakan untuk memriksa kesadaran. Apabila pasien sadar penuh, mereka dikatakan alert. Jika tidak ada respons, mereka akan memberi repons suara, yang dikenal sebagai suara, atau rangsang nyeri, dan jika tidak ada respons


9 sama sekali, pasien dianggap tidak responsif (Ningsih et al., 2022). Setelah penolong yakin bahwa dia sudah aman untuk melakukan pertolongan, penilaian respons dilakukan. Dengan menepuk-nepuk dan mengoyangkan penderita sambil memanggilnya, respons dinilai. Setelah menilai respons penderita, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu jika penderita menjawab atau bergerak terhadap respons yang diberikan, usahakan untuk mempertahankan posisinya seperti saat ditemukan atau usahakan agar dia tetap diam sambil terus memeriksa tanda-tanda vitalnya sampai bantuan tiba. (Apriza, 2024) Gambar 2. 2 Pemeriksaan Kesadaran c. Pemeriksaan Nadi Studi tentang resusitasi menunjukkan bahwa baik penolong awam maupun tenaga kesehatan memiliki instruksi untuk melakukan pemeriksaan pulsasi arteri karotis. Dengan kata lain,


10 dalam kasus tertentu, pengecekan pulsasi tidak diperlukan; misalnya, penolong awam dapat mengira penderita mengalami henti jantung jika mereka pingsan dengan cepat. (Apriza, 2024). Melakukan pemeriksaan nadi yang cepat yaitu dengan cara meraba denyut arteri karotis atau arteri radialis untuk melakukan pemeriksaan nadi yang cepat. Jika denyut nadi tidak teraba dalam waktu lebih dari 10 detik, penyelamat harus menggunakan kompresi dada. (Ningsih et al., 2022). Gambar 2. 3 Gambar Pemeriksaan Nadi d. Pemeriksaan Pernapasan Meto-de-look-listen-feel digunakan untuk memeriksa frekuensi dan pola pernapasan dengan melihat gerakan dada pasien dan mendekatkan telinga penolong ke mulut dan hidung pasien untuk mendengar dan merasakan hembusan udara dari system pernapasan. (Ningsih et al., 2022).


11 Metode ini mengajarkan cara membuka dan mempertahankan jalan napas untuk membantu ventilasi tubuh dan meningkatkan oksigenasi. Sebaiknya, tindakan ini dilakukan oleh orang yang telah dilatih tentang BHD untuk mengangkat kepala dan dagu (head tilt, chin lift) pada penderita yang tidak mengalami cedera leher. (Apriza, 2024) Gambar 2. 4 Gambar Pemeriksaan Pernapasan e. Kompresi Dada Penolong meletakkan salah satu tangannya di atas sternum pasien dengan jari-jari bertautan di tangan pertama. Bagian tubuh saya seperti dijatuhkan ke pasien saat siku diekstensikan. Kompresi dada yang baik harus diulang 30 kali dengan kecepatan 100-120 kali per menit, dengan kedalaman minimal 5 cm dan maksimal 6 cm. Pastikan dada recoil sempurna, yaitu kembali ke posisi awal sebelum ditekan kembali.


12 Rasio kompresi untuk satu siklus RJP adalah 30:2 untuk ventilasi dengan 1 penolong, dan 15:2 untuk ventilasi dengan 2 penolong. Penolong diganti setiap limaa siklus untuk mencegah kualitas kompresi dada menurun karena kelelahan. Saat dua kali ventilasi dilakukan, Kompresi dapat berhenti sementara dalam waktu kurang dari 10 detik. Selama resusitasi jantung paru tanpa ventilasi (dengan hanya kompresi dada), kompresi dilakukan secara konsisten sampai petugas kesehatan professional tiba. (Ningsih et al., 2022). Gambar 2. 5 Gambar Kompresi Dada B. Tinjauan Teori Edukasi Kesehatan 1. Defenisi Edukasi Kesehatan Edukasi kesehatan adalah aktivitas yang bertujuan untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat, kelompok, atau individu. Diharapkan bahwa dengan adanya pesan tersebut, individu dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang


13 kesehatan. Pada akhirnya, pengetahuan ini diharapkan dapat mempengaruhi perilaku mereka, sehingga peemahaman yang diperoleh dapat mendorong perubahan perilaku kearah yang lebih positif. (Saftarina et al., 2022). Edukasi dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pola fikir, pengetahuan, serta mengembangkan potensi masing-masing individu. Dalam kegiatan sehari-hari proses edukasi ini lebih sering disebut sebagai proses belajar. Edukasi adalah proses yang mengubah seseorang dari yang tidak mengetahui menjadi mengetahui. (Finthariasari et al., 2020). Menurut Widyawati (2020) mengatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah proses yang selalu berubah untuk mengubah perilaku kesehatan. Ini bukan sekumpulan prosedur atau pemindahan data dari satu orang ke orang lain. Pendidikan kesehatan adalah konsep di mana orang dan kelompok belajar untuk berperilaku untuk mendorong, memelihara, atau meningkatkan kesehatan. (Rakhmawati et al., 2021) 2. Tujuan Edukasi Menurut (Finthariasari et al., 2020) edukasi memiliki beberapa tujuan diantaranya meliputi : a. Meningkatkan kecerdasan.


14 b. Merubah kepribadian manusia dengan upaya memiliki akhlak yang terpuji. c. Menjadikan seorang mampu untuk mengontrol diri. d. Meningkatkan keterampilan. e. Bertambahnya kreativitas pada hal yang dipelajari. f. Mendidik manusia menjadi lebih baik dalam bidang yang ditekuni. 3. Manfaat Edukasi Ada beberapa manfaat edukasi menurut (Finthariasari et al., 2020) diantaranya sebagai berikut : a. Memberikan informasi pembelajaran yang komprehensif. b. Mengembangkan kepribadian menusia lebih berharga. c. Mengembangkan bakat yang ada untuk mencapai lebih banyak potensi. d. Memperbaiki kesalahan seseorang agar menjadi lebih baik. e. Membekali manusia untuk menyongsong masa depan yang cerah. Edukasi masyarakat mengenai RJP merupakan salah satu focus penting dalam pedoman manajemen OHCA (McIntyre et al., 2021). Edukasi ini dapat diberikan kepada remaja atau siswa sekolah, karena mereka berperan sebagai penolong awam dan dapat menambah jumlah bystander di masyarakat. Tujuan dari pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah untuk


15 meningkatkan pemahaman siswa sekolah sebagai penolong awam tentang resusitasi jantung paru, sebagai upaya pertolongan pertama dalam situasi henti jantung di luar rumah sakit. (Dwi Ariyani & Masroni, 2022). C. Tinjauan Teori Video Animasi Video animasi adalah tayangan video yang menyerupai film, terdiri dari gambar dan suara yang dirancang untuk menjadi lebih menarik. Video ini dihasilkan dari pergerakan antar frame yang berbeda dalam durasi waktu tertentu, sehingga menciptakan efek gerakan. Selain itu, video animasi juga menyertakan suara yang mendukung gambar, seperti dialog atau percakapan. (Andrasari, 2022) Video animasi, sebagai salah satu bentuk media pembelajaran dan membantu siswa dalam menyelesaikan berbagai masalah yang bekaitan dengan materi yang diajarkan. Pembelajaran menggunakan media audio visual, seperti video, memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah membantu siswa dalam memahami dan memperjelas materi yang disampaikan oleh guru, serta memudahkan guru dalam proses pengajaran. Video animasi dalam pembelajaran juga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang abstrak menjadi lebih nyata, sehingga mereka tidak hanya berimajinasi. Dengan demikian,


16 media pembelajaran berupa video animasi dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa selama kegiatan belajar. (Andrasari, 2022) . D. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa SMA sebelum dilakukan edukasi mengenai bantuan hidup dasar dengan menggunakan media audio visual berada pada kategori cukup dan kurang. Temuan ini disebabkan oleh minimnya informasi yang dimiliki oleh responden, yang diakibatkan oleh kurangnya pendidikan kesehatan terkait Resusitasi Jantung Paru (RJP). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang di lakukan oleh (A.Fatmawati dkk,,2020), yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang RJP sebelum dilakukan edukasi masih kurang. Hal ini terjadi karena para peserta belum terbiasa dengan istilah medis yang ada dalam kuesioner. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Riris Risca Megawati, Bagus Ananta Tanujiarso, 2022), yang menunjukkan bahwa pengetahuan nelayan sebelum mengikuti pelatihan tentang RJP masih rendah. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa responden belum pernah menerima edukasi mengenai bantuan hidup dasar dan pelatihan pertolongan pertama untuk korban tenggelam. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Chilappa dan Waxman (2021), yang menunjukkan


17 bahwa siswa hanya memiliki pengetahuan dasar tentang bantuan hidup dasar, dan sebagian besar dari mereka tidak memahami aspek-aspek penting dari bantuan hidup dasar, seperti penggunaan AED. Kaum awam sering kali tidak memiliki keinginan untuk mempelajari RJP karena kurangnya motivasi internal, rendahnya kemauan untuk belajar, serta status sosial ekonomi yang rendah (Uny dkk., 2023). Kekurangan pengetahuan dalam penelitian ini disebabkan oleh kenyataan bahwa siswa belum pernah mendengar istilah bantuan hidup dasar dan belum mendapatkan edukasi tentangnya. Hal ini terbukti ketika mereka diberikan pertanyaan, di mana banyak siswa yang masih tidak dapat menjawab dengan benar mengenai RJP. (Ita Sulistiani, 2024)


18 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Proyek Penelitian ini menggunakan desain pengembangan proyek berbasis video animasi, yaitu pemberian edukasi dalam bentuk audio visual yang menggunakan teknik animasi untuk menciptakan ilusi gerakan dan menghidupkan gambar atau karakter. Dalam video animasi, teks, dan suara digabungkan untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan cara menarik. B. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan pada remaja kelas IX di SMK Kesehatan Mega Rezky Makassar, yang memiliki populasi dengan tingkat pengetahuan tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP) rendah. Waktu pelaksanaan proyek adalah selama 1 minggu, yang meliputi tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap pemberian edukasi tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP). a. Periode Penelitian 1. Tahap perencanaan: 1-2 hari (mengobservasi masalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa terhadap Resusitasi Jantung Paru) .


19 2. Tahap pelaksanaan: 1 hari (Uji coba video animasi, pelatihan implementasi dan pengumpulan data) . 3. Tahap evaluasi 1 hari (Menganalisis pra-test dan post-test, laporan hasil). C. Subjek / Kelompok Sasaran Kelompok sasaran dari proyek ini adalah siswa-siswi yang tidak mengetahui pentingnya pertolongan pertama dengan cara pemberian tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP). Berdasarkan hasil skrining di SMK Kesehatan Mega Rezky Makassar sebanyak 15-20 peserta yang akan dilibatkan dalam uji coba pemberian edukasi tentang RJP terhadap tingkat pengetahuan siswa dengan media video animasi. D. Prosedur Pelaksanaan Pelaksanaan proyek pembuatan video animasi untuk siswa yang kurang mengetahui mengenai Resusitasi Jantung Paru (RJP) meliputi sejumlah tahapan yang terstruktur dengan sistematis sebagai berikut : 1. Tahap Perancangan : a. Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang perlu disampaikan. b. Menetapkan tujuan utama dari edukasi, seperti meningkatkan pemahaman dan keterampilan tentang RJP.


20 c. Merancang scenario audio visual dan menentukan format video yang menarik serta mudah dimengerti. 2. Tahap Pelaksanaan : a. Menggunakan karakter animasi dalam video, serta menambahkan narasi, musik latar, dan efek suara. b. Menentukan waktu dan tempat untuk menyampaikan edukasi dengan media video animasi. c. Melakukan perbaikan pada video berdasarkan masukan yang diterima dari siswa. 3. Tahap Evaluasi : a. Menggunakan kuesioner untuk mengukur pemahaman siswa tentang RJP setelah dan sebelum menonton video. b. Melaksanakan evaluasi pemahaman dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai seberapa efektif video tersebut dalam meningkatkan pengetahuan. c. Menganalisis data yang dikumpulkan untuk mengevaluasi keberhasilan pemberian edukasi RJP dengan media video animasi. E. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam proyek ini meliputi : 1. Alat : Video animasi, Laptop, LCD 2. Bahan : Kuesioner pre-test dan post-test.


21 F. Analisis Data Analisis data yang diperoleh pre-test dan post-test akan dianalisis secara kuantitatif dengan menguji statistic paired t-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa setelah menonton edukasi terhadap Resusitasi Jantung Paru dengan media video animasi. Peningkatan pengetahuan ini diukur berdasarkan pre-test dan post-test. Data yang diperoleh dari kuesioner akan dianalisis secara deskriptif untuk menghitung presentase peningkatan skor pre-test dan post-test.


22 DAFTAR PUSTAKA Afni, A. C. N., Saputro, S. D., & Rosida, N. A. (2024). Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Masyarakat Pada Henti Jantung Dan Bantuan Hidup Dasar. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) - Aphelion, 6(JUNI), 469–478. http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPM Andrasari, N. A. (2022). Media Pembelajaran Video Animasi Berbasis Kinemaster Bagi Guru Sd. Jurnal Kajian Pendidikan Dasar, 7(1), 36–44. Apriza, R. P. (2024). Teknik Resusitasi Jantung Paru. Alomedika, 3(6), 38–50. https://www.alomedika.com/tindakan-medis/prosedur-kegawatdaruratanmedis/resusitasi-jantung-paru/teknik Dwi Ariyani, A., & Masroni. (2022). Pemberian Edukasi Resusitasi Jantung Paru Kasus Henti Jantung Di Luar Rumah Sakit. Media Husada Journal of Community Service, 2(1), 110–114. https://ojs.widyagamahusada.ac.id Fauzan, S. S. F., Kahtan, I., & Herman, H. (2021). Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Bantuan Hidup Dasar (Bhd) Awam Melalui Video Terhadap Tingkat Pengetahuan Anak Sekolah Menengah Atas (Sma) Di Kota Pontianak. Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan, 12(2), 66–74. https://doi.org/10.54630/jk2.v12i2.158 Finthariasari, M., Febriansyah, E., & Pramadeka, K. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Desa Pelangkian Melalui Edukasi Dan Literasi Keuangan Pasar Modal Menuju Masyarakat Cerdas Berinvestasi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia, 3(1). https://doi.org/10.36085/jpmbr.v3i1.763 Firdaus, M. N. J., Atmojo, J. T., & Mubarok, A. S. (2024). Efektivitas Pelatihan Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Ketrampilan Bantuan Hidup Dasar Pada Masyarakat: Literatur Review. Journal of Language and Health, 5(2), 483–494. http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JLH Ita Sulistiani, N. D. (2024). Pengaruh Edukasi Tentang Rjp Menggunakan Media Audio Visual Terhadap Tingkat Pengetahuan Siswa. Jurnal Keperawatan, 16(1), 383–396. Muthmainnah, P. R., Syahril, K., Rahmawati, Nulanda, M., & Dewi, A. S. (2022). Fakumi medical journal. Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 2(5), 359–367. Ningsih, N. K., Umiyati, & Rochma, P. L. P. (2022). Hubungan Tehnik Pemberian Resusitasi Jantung Paru (RJP) terhadap Kualitas Resusitasi Jantung Paru (RJP) : A Sistematic Review. Prosiding Seminar Hi-Tech, 1(1), 542–558.


23 Rakhmawati, C., Susanti, E., Mubarok, F. W. Z., Krissanti, H., & Wulandari, W. (2021). Pendidikan Kesehatan Kebersihan Tangan Berbasis Audio Visual Di Rsud R Syamsudin Sh Kota Sukabumi. Jurnal Kreativitas Dan Inovasi (Jurnal Kreanova), 1(3), 129–133. https://doi.org/10.24034/kreanova.v1i3.5218 Saftarina, F., Angraini, D. I., Ratna, M. G., Suharmanto, S., & Rodiani, R. (2022). Edukasi Kesehatan Tentang Pencegahan Covid-19 dalam Mendukung Program Desa Tanggap Covid-19. Jurnal Abdimas ADPI Sains Dan Teknologi, 3(1), 01–05. https://doi.org/10.47841/saintek.v3i1.79


Click to View FlipBook Version