Implementasi Nilai Toleransi dan Gotong Royong Guna Meningkatkan Keharmonisan di Era VUCA Disusun Oleh: Ketua Kelompok Dr. Ir. Pawenary, M.T.,M.PM.,IPU.,ASEAN Eng. Sekretaris : Stella Maris Bakara, S.Tr., Keb.,M.K.M. Moderator : dr. Maryono, M.Kes. Penyaji : Dr. Siska Diana Sari, S.H.,M.H. Anggota : 1. Adi Sucipto, S.Sos., M.A 12. Nurbayani, SKM., S.E., M.Kes 2. Ganda Febri Kurniawan, M.Pd. 13. Ir. Andi Muhammad Rafii, M.P 3. Dr. Haryo Mustoko, S.Sos., M.M 14. Angga Sugiarto, S.ST., Ners., M.Kes 4. Dr. Irawan, S.Pd.I., M.Pd.I 15. Joko Suharjono, S.Pd., M.M.Pd 5. Kusmiatiningsih, S.Pd., MM 16. Leonardo Dev Endru Taawoeda 6. Linda Winiasri, S.Psi., M.Sc 17. Tesno Ariando Tamburaka, S.Pd 7. Maulina Tanjung, S.Si., M.Si 18. Martinus Buulolo, S.E., M.M 8. Dr. Meiwatizal Trihastuti, S.T., M.Pd 19. Mira Sukardi, S.Pd 9. Rizqi Khaerudin, S.Tr.Pi 20. Prima Rahmadi Ismawan 10. Subiyanto, S.T., M.M 21. RR Endang Widayati, S.T., M.T 11. Sunarto Randa, S.Pd., M.Han SESANTI BHINNEKA TUNGGAL IKA PELATIHAN UNTUK PELATIH/ TRAINING OF TRAINERS (TOT) PEMANTAPAN NILAI-NILAI KEBANGSAAN BAGI DOSEN, GURU DAN WIDYAISWARA SECARA VIRTUAL ANGKATAN II TAHUN 2023 LEMHANNAS RI
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki 17.395 pulau, 275 juta penduduk, 1.340 suku bangsa, 655 bahasa daerah yang ditunjukkan dengan keanekaragamannya. Dasar konstitusional UUD 1945 dan dasar ideologi Pancasila, internalisasi dan implementasi Bhinneka Tunggal Ika beserta nilai-nilainya memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika adalah merupakan nilai-nilai kehidupan yang bersifat universal dan bersumber dari budaya bangsa Indonesia berupa nilai-nilai luhur yang terangkum dalam Pancasila. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sesanti Bhinneka tunggal Ika adalah nilai toleransi, nilai gotong royong, dan nilai keharmonisan. Toleransi diperlukan pada kehidupan karena luas dan besarnya keberagaman yang ada di Indonesia. Gotong royong merupakan ciri khas kehidupan bermasyarakat dengan saling membantu, bekerja sama untuk menemukan solusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Toleransi dan gotong royong perlu dibangun dan dibina pada setiap individu dan masyarakat agar keharmonisan dalam lingkup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat terwujud. Salah satu tantangan yang harus dihadapi di dunia bisnis maupun pemerintah adalah VUCA world. Bagaikan mata uang era VUCA memberikan sisi positif dan sisi negatif pada nilai nilai toleransi dan gotong royong yang merupakan nilai–nilai dari sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Dalam perkembangan era VUCA, terjadi penurunan nilai-nilai toleransi, gotong royong yang berdampak pada keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana implementasi nilai toleransi dan gotong royong yang berdampak pada keharmonisan di era VUCA? Tentu hal ini menjadi suatu topik yang sangat penting untuk dibahas dan disikapi supaya dapat ditemukan solusi bagaimana upaya yang harus dilakukan supaya nilai–nilai toleransi dan gotong royong dapat senantiasa dipupuk dan diimplementasikan dalam kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara yang akan menciptakan keharmonisan di tanah air tercinta Indonesia.
II. PEMBAHASAN A. Menurunnya Nilai Toleransi Selama ini terdapat banyak tindakan intoleran yang terjadi di berbagai wilayah. Dari beberapa sumber yang ada, menyebutkan sebanyak 422 kasus pelanggaran intoleran terkait kebebasan beragama pada tahun 2020. Adapun sebanyak 184 kasus dilakukan oleh aktor non-state, seperti kelompok warga, individu, dan organisasi kemasyarakatan (ormas). Berdasarkan jumlah tersebut, pelanggaran kebebasan beragama yang paling banyak dilakukan oleh aktor nonnegara berupa tindakan intoleransi, yakni terdapat 62 tindakan. Selanjutnya, ada 32 tindakan pelaporan penodaan agama, 17 tindakan penolakan mendirikan tempat ibadah, dan 8 tindakan pelarangan aktivitas ibadah yang dilakukan aktor nonnegara. Ada pula 6 (enam) tindakan perusakan tempat ibadah oleh aktor nonnegara pada 2020. Sementara, kasus kekerasan dan penolakan kegiatan lainnya yang dilakukan aktor non-negara sepanjang tahun 2020 masing-masing sebanyak 5 (lima) tindakan. *situasi faktual persoalan peribadatan dan pendirian tempat ibadah di Indonesia lebih serius dari apa yang disampaikan oleh Presiden*, terutama dari sisi intensitas dan skalanya. Data longitudinal Setara Institute (2007-2022) menunjukkan telah terjadi 573 gangguan terhadap peribadatan dan tempat ibadah dalam satu setengah dekade terakhir. Gangguan tersebut mencakup pembubaran dan menolakan peribadatan, penolakan tempat ibadah, intimidasi, perusakan, pembakaran, dan lain sebagainya. Seluruh gangguan tersebut menimpa kelompok minoritas, baik dalam relasi eksternal maupun internal agama. Apalagi di era VUCA dimana arus informasi tidak dapat doibendung lagi dan terjadi post truth. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut Mawarti (2017: 70), toleransi yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia yang saling menghargai dan penuh dengan kerja sama. Toleransi artinya menghargai, membolehkan pendapat, kepercayaan, dan sebagainya dari individu lain yang bertolak belakang dengan pemikirannya sendiri (Hamidah, 2015:11). Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat dipahami bahwa toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menerima dengan rendah hati terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi.
Bagi bangsa Indonesia, internalisasi nilai toleransi dapat menghasilkan masyarakat yang mempunyai kearifan lokal atau masyarakat yang berpandangan inklusif (memposisikan pribadi sendiri ke dalam posisi yang sama dengan yang lain). Keragaman tersebut merupakan kekuatan yang dapat memperindah masyarakat apabila satu sama lain saling memperkuat dan saling bekerja sama dalam membangun bangsa. Namun di sisi lain, keragaman tersebut jika tidak dikelola dengan tepat akan menyebabkan perselisihan atau konflik yang meruntuhkan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, sikap toleransi antar sesama manusia dalam dinamika sosial adalah sebuah modal dasar (Rosyid, 2016:76). Toleransi dan empati membantu mengurangi konflik antara individu dan kelompok yang berbeda. Ketika masyarakat mempraktikkan toleransi, mereka lebih cenderung memahami sudut pandang orang lain dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak. Ini membuka pintu bagi dialog, kerjasama, dan rekonsiliasi, yang berkontribusi pada kehidupan sosial yang lebih harmonis. Dalam kombinasi, toleransi dan empati membentuk dasar untuk membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan harmonis. Kemajuan dalam kehidupan sosial tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi juga pada kualitas hubungan antara individu-individu dalam masyarakat. Sebagai contoh toleransi di Jakarta. Warga Jakarta berasal dari latar belakang yang beragam, tetapi terkenal dengan persatuan dan kesatuan yang cukup terjaga. Meskipun berbeda-beda, bangsa kita selalu bisa menjaga kebersamaan dan menjalin hubungan baik di atas keberagaman yang ada. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, perbedaan bisa saja muncul dan menjadi sumber perpecahan antar sesama jika tidak didasari sikap toleransi dan empati yang mampu menggugah rasa kesadaran sebagai saudara sebangsa setanah air. B. Menurunnya Nilai Gotong Royong Era globalisasi, dimana arus informasi dan pengaruh global yang muncul dan tidak mengalami proses penyaringan secara baik, telah memunculkan degradasi nilai gotong royong di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hakekat gotongroyong untuk membantu dan meringankan rasa kebersamaan mulai ditinggalkan dengan adanya sikap sosial yang baru. Oleh karena itu, dapat dikatakan lunturnya budaya, adat istiadat, dan kebiasaan di Indonesia. Budaya asing yang masuk ke
Indonesia mengakibatkan sebagian rakyat Indonesia lebih baik tertarik dengan budaya luar sehinga lupa akan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Lunturnya budaya gotong royong akibat masyarakat tidak mau tahu akan hal di sekitar lingkungan karena adanya sikap individualisme dan egois dalam diri kita. Sehingga upaya yang harus kita lakukan dalam mengatasi gotong royong sebagai jati diri bangsa Indonesia antara lain melestarikan dan menjaga tradisi budaya Indonesia, memupuk kembali sikap gotong-royong yang mulai pudar dimakan waku agar dapat muncul lagi di masyarakat Indonesia, karena manusia merupakan makhluk sosial. Oleh karena itu, sangat penting untuk bersama-sama kembali memperkuat nilai gotong-royong untuk menyembuhkan diri dari virus-virus sikap dan sifat individualism. Masyarakt Indonesia perlu menerapkan perilaku yang telah di rumuskan dalam Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sikap gotong royong didasari oleh nilai kemanusiaan, keadilan sosial, kebersamaan, persatuan, permusyawaratan dan saling tolong menolong. Dalam gotong royong ada dialog yang setara namun tetap memberikan ruang untuk berbeda. Setiap orang memiliki posisi yang setara dalam perbedaan kapasitas, kontribusi, etnisitas dan sosial namun memiliki tujuan bersama. Inilah yang dimaksud gotong royong memiliki makna kedaulatan. (BPIP, 2021). Gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun temurun (Kartono Kartodirjo, 1987). Dalam gotong royong, bukan siapa yang mengatur atau siapa yang diatur, namun lebih pada kebiasaan untuk berdialog dan musyawarah untuk pemberdayaan dan kebaikan bersama, setiap individu memberikan kontribusi sesuai posisi, kemampuan dan keadaannya. Kebijakan gotong royong tetap relevan dan penting dalam masyarakat modern. Meskipun masyarakat modern sering kali dihadapkan pada kehidupan yang sibuk, individualistik, dan terfokus pada kepentingan pribadi, penting bagi kita untuk tetap mempertimbangkan kebijakan gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kebijakan gotong royong tetap penting dalam masyarakat moderen. Kebijakan gotong royong dapat memperkuat hubungan sosial antar individu dalam masyarakat. Ketika kita saling membantu dan bekerja sama, hal ini dapat meningkatkan rasa persatuan dan solidaritas, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat ikatan antar warga.
Dalam masyarakat moderen, kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah kompleks seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan krisis kesehatan. Tidak mungkin bagi individu atau kelompok tertentu untuk menangani masalah-masalah tersebut sendirian. Melalui kebijakan gotong royong, masyarakat dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara yang lebih efektif dan berkelanjutan. Gotong royong adalah bagian dari budaya dan tradisi di banyak masyarakat. Dalam masyarakat modern yang terus berkembang dan terpengaruh oleh perubahan global, menjaga dan mempraktikkan gotong royong dapat membantu mempertahankan identitas budaya dan warisan tradisional. Melalui kebijakan gotong royong, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dengan saling membantu dan berbagi sumber daya, di mana setiap individu memiliki kesempatan dan akses yang sama terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pangan. Dalam masyarakat modern, kebijakan gotong royong dapat diimplementasikan melalui berbagai cara, termasuk pengembangan program dan proyek sosial, partisipasi dalam kegiatan komunitas, pengaturan kebijakan pemerintah yang mendukung kolaborasi antar warga, dan pengembangan kesadaran sosial tentang pentingnya kerjasama dan keterlibatan aktif masyarakat. C. Nilai Keharmonisan di Era VUCA Potensi konflik selanjutnya berkaitan dengan pemilu 2024, yaitu dimulainya disharmonisasi di tengah-tengah masyarakat dikarenakan perbedaan pandangan politik dan pilihan bakal calon pemimpin dari tingkat pusat hingga daerah. Selain itu, adanya potensi penyalahgunaan data pribadi, dimana teknologi informasi harus bisa dikendalikan untuk mencegah kebocoran data oleh partai politik. Belajar dari kasus pembajak Peduli Lindungi dan server data. VUCA menggambarkan lingkungan bisnis yang Volatile (berubah dengan cepat), Uncertain (tidak pasti), Complex (rumit), dan Ambiguous (samar). Meskipun VUCA awalnya dikembangkan untuk menggambarkan konteks bisnis, konsep ini juga dapat diterapkan pada masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari individu-individu dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, dan tradisi.
Dalam konteks masyarakat multikultural, VUCA dapat digunakan untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi dan kompleksitas yang ada. Selaras dengan Era VUCA, saat ini bangsa indonesia juga dibayangi potensi terjadinya post truth, polarisasi serta perpecahan masyarakat. pemanfaatan teknologi yang tidak bijak dan cerdas akan mengakibatkan terjadinya dampak negatif dari era VUCA tersebut. Toleransi tanpa keharmonisan tidak bisa hasilkan gotong royong. Keharmonisan dapat meliputi keharmonisan dalam kehidupan antar suku, agama ras dan antar golongan, selain itu juga keharmonisan dalam kehidupan berbangsa bernegara antara pemerintah, TNI dan Polri. Peranan teknologi pada keberlangsungan hidup manusia ini memberikan dampak positif juga negatif secara bersamaan. Berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan, dampak negatif yang dirasakan ialah bisa dilihat dalam proses pembentukan karakter bangsa. Tidak jarang ditemukan kasus dimana teknologi disalahgunakan dalam konteks nilai- nilai toleransi dan gotong royong; ujaran kebencian dan penyebaran hoax merupakan beberapa dari sekian kasus yang kerap terjadi saat ini. Pengaruh perubahan inilah yang patut diperhatikan dalam penguatan nilai-nilai tersebut di masyarakat. Berdasarkan perubahan-perubahan ini, dapat diidentifikasi bahwa dunia mulai bergeser memasuki era VUCA, sebagai perwujudan dari dunia yang terus berkembang, berubah dan tidak pernah stagnan. Laju dari perubahan yang terjadi saat ini berada pada kecepatan yang tidak bisa diperkirakan, pun kompleksitas, ambiguitas serta ketidakpastian akan bagaimanapun mengarah ke mana perubahan yang tidak terprediksi. D. Implementasi Nilai Toleransi dan Gotong Royong Guna Meningkatkan Keharmonisan di Era VUCA Bob Johansen, dalam bukunya Leaders Make the Future: Ten New Leadership Skills for Uncertain World ( 2012) mengingatkan agar gejolak VUCA tidak dipandang dari sisi negatifnya saja. Pemimpin yang memiliki visi yang jauh ke depan, akan dapat memberikan navigasi sehingga organisasi atau perusahaan akan dapat terus berjalan walaupun terjadi hambatan-hambatan di depannya. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, ‘Vision’ yang kuat akan membantu pimpinan dalam mengubah ‘uncertainty’ menjadi ‘Understanding’. ‘Understanding’ akan membawa semua anggota tim berbagi cara pikir (mindset) yang sama dan
membangun pengertian serta pemahaman yang selaras tentang bagaimana mereka dapat berkontribusi untuk kesuksesan organisasi. Sejalan dengan prinsipprinsip yang mempromosikan praktik dan komunikasi aktif yang melibatkan banyak pihak, hal ini membutuhkan komunikasi dua arah yang terus-menerus. Kerangka dalam menemukan konsep-konsep berpikir untuk bangsa dalam menciptakan generasi emas 2045 masih dapat dikatakan cukup rentan dalam beberapa aspek yang dipengaruhi oleh situasi politik, sosial, budaya juga keselarasan. Sehingga dalam melihat aspek di masa depan masih perlu menjadi bahan pertimbangan. Teknologi informasi telah mengubah pola hidup masyarakat dan menyebabkan perubahan budaya, ekonomi, dan kerangka hukum yang berlangsung dengan signifikan. Dampak dari VUCA terkait nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika adalah dengan kemajuan teknologi dapat mengikis nilai-nilai toleransi, keharmonisan dan gotong royong dalam hidup berbangsa dan bernegara. Indonesia memiliki acuan dalam melaksanakan pembangunan, yaitu dengan adanya RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), pemerintah harus menyelaraskan pembangunan jangka panjang dan jangka pendek disesuaikan dengan dinamika VUCA, adanya pendelegasian tugas dan wewenang dari pemerintah kepada kementerian terkait dan seluruhnyamerencanankan dan melaksanakan tindakan untuk mengontrol perubahan yang tidak terduga, harmonisasi program, antisipasi konflik dan dampak negatif VUCA baik secara internal maupun eksternal. Pemanfaatan literasi digital untuk menerapkan dan memperkuat nilai-nilai keharmonisan, toleransi, dan gotong royong untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika di Era VUCA ini. Dimana saat ini sudah bermunculan tindakan-tindakan negatif melalui social media dan berbagai website serta pemberitaan yang mengancam terkikisnya nilai toleransi, keharmonisan serta gotong royong. Fenomena ini perlu dihadapi dan diwaspadai khususnya oleh pendidik dan pemangku kebijakan terkait. Selain itu, generasi muda juga perlu didukung dalam hal peningkatan critical thinking dan smart thinking, generasi muda diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih dan berbagi informasi yang diterima secara online maupun offline. Transformasi kebijakan toleransi dengan SKB 2 Menteri yaitu Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006, Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan
Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah tidak dipedulikan dan tetap terjadi pelanggaran. Selama ini peraturan tersebut menimbulkan permasalahanpermasalahan yang dapat mengganggu kerukunan beragama dan mendorong adanya tindakan persekusi. Oleh sebab itu, diperlukan adanya implementasi keharmonisan dengan cara menjalankan konstitusi yang menjamin hak setiap orang untuk beribadah. III. PENUTUP A. Simpulan Peran nilai-nilai kesadaran Bhinneka Tunggal Ika ada pada tataran suku bangsa dan budayanya. Nilai-nilai yang bersumber pada sesanti Bhinneka Tunggal Ika mampu menjembatani persatuan dari keragaman membentuk Bangsa dan Negara Indonesia. Kemampuan mengimplementasikan nilai toleransi dan keharmonisan di antara komponen bangsa Indonesia tentu akan meningkatkan kualitas kehidupan. Pemantapan literasi digital bagi kalangan generasi akan sangat mencegah adanya post truth dan pemberitaan hoax yang akan merusak tatanan dan mengganggu keutuhan NKRI. Perbedaan budaya, bahasa, dan agama antar kepulauan di Indonesia merupakan pluralitas yang telah ada semenjak negara berdiri bahkan jauh lama sebelumnya. Konflik yang terjadi pada implementasi toleransi dan gotong royong dalam mewujudkan keharmonisan disebabkan berawal pada kesalahpahaman, ketidakpahaman, dan komunikasi yang tidak baik diantara masyarakat. Era VUCA memaksa semua bangsa di dunia untuk bersiap dengan semua konsekwensi dan implikasi logis yang ditimbulkannya. Cara pandang dan manajemen konflik yang bijak dan cerdas dibutuhkan dalam menyikapi segala dinamika di era VUCA. Di era apapun hal itu akan terjadi dan sudah merupakan keniscayaan dalam dinamika kehidupan global, akan tetapi bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika, yang akan menjadi filter dan benteng dalam menghadapi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang terjadi. Era VUCA dengan kemajuan teknologi digitalnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan algoritma kebangsaan melalui literasi digital sehingga dapat
memupuk dan menguatkan nilai nilai toleransi, gotong royong yang akan menumbuhkan dan mempererat keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang merupakan esensi dari nilai – nilai sesanti Bhinneka Tunggal Ika. B. Saran Adapun saran-saran yang disampaikan sebagai berikut: 1. Bagi lembaga pendidikan, pendidik, orang tua menginternalisasi esensi nilai–nilai kebangsaan Sesanti Bhinneka Tunggal Ika sedini mungkin sesuai dengan bidang masing–masing; 2. Pembekalan literasi digital algoritma kebangsaan pada generasi penerus dalam rangka mendewasakan dalam penggunaan media sosial secara bijak dan cerdas; 3. Memperbanyak dialog publik terkait dengan nilai nilai toleransi, gotong royong untuk keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; 4. Kolaborasi para pemangku kebijakan antara lain Lemhannas, Kementerian Agama, Kemenristekdikti, Kominfo, Kemendagri, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, TNI, Polri, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Masyarakat, Organisasi Keagamaan, Lembaga Pendidikan Swasta dan Negeri, DPR, DPRD, media massa/pers dalam upaya menggelorakan algoritma kebangsaan khususnya nilai nilai toleransi, gotong royong untuk keharmonisan di era VUCA; 5. Kompetensi yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia khususnya generasi penerus bangsa sebagai pemimpin masa depan adalah hard skills yang dibutuhkan di era disruptif dan soft skills yang mengarah pada pembangunan karakter. Selain itu pemimpin masa kini dan pemimpin masa depan juga harus memiliki VUCA prime, yaitu visi, pemahaman, kejelasan dan kelincahan agar lebih fleksibel menghadapi segala perubahan;
6. Menggunakan manajemen konflik dengan model rekonsiliasi kultural dan berbasis kearifan lokal dengan model pembekalan kepemimpinan era VUCA untuk peserta didik dengan pendekatan berbasis nilai-nilai kebangsaan khususnya nilai yang tertuang dalam Sesanti Bhinneka Tunggal Ika. 7. Peningkatan peran keluarga sedini mungkin dalam menginternalisasi nilai–nilai toleransi, gotong royong untuk keharmonisan dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA 1. Aribowo, H., & Wirapraja, A. (2018). Strategi Inovasi Dalam Rangka Menjaga Keberlanjutan Bisnis Dalam Menghadapi Era Volatility, Uncertainty, Complexity, Dan Ambiguity (VUCA). Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan (JIMAT) Volume 9 Nomor 1, 51-58. 2. Aribowo, Handy dan alexander Wirapraja. (2018). Strategi Inovasi Dalam Rangka Menjaga Keberlanjutan Bisnis Dalam Menghadapi Era Volatility, Uncertainty, Compelxity, dan Ambiguity (Vuca). Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan (JIMAT) , Vol 9 No 1 (2018). 3. Aryawan, I.D.G.S.A. (2021). Life Coaching, Malang : Media Nusa Creative 4. Bondan Tiara, Bahan Tayang Implementasi Nilai-nilai Kebangsaan yang Bersumber dari Sesanti Bhinneka Tunggal Ika. (2023) 5. Bayti, T.N., Ariani, D. (2020). Gagasan Millenian & Generasi Z untuk Indonesia 6. Casram. 2016. “Membangun Sikap Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Plural”, Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, Vol. 1, No. 2. Emas 2045, Atambua Barat : Fianosa Publishing 7. Firman Syah, Ardy dan Novi, Savarianti Fahrani. (2019). Rencana Suksesi Pegawai Negeri Sipil Di Era Vuca - Succession Planning Of Civil Servant In Vuca Era. Civil Service Vol. 13, No.2, November 2019 : 1 - 14. Gaspersz, Vincent.(2018). 8. Haryatmoko, (2001). Pemihakan kepada yang miskin mengarah pada penerimaan pluralitas. Artikel pada Koran Kompas. https://www.kompas.com/tag/plurali sme (diakses pada 3 Mei 2020). 9. https://Databoks.Katadata.Co.Id/Datapublish/2022/03/25/Ini-10- ProvinsiDengan-Budaya-Gotong-Royong-Tertinggi-Nasional (diakses pada 3 Mei 2020) 10.https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230228111949-12- 918757/pemerintah-pertahankan-skb-2-menteri-soal-pendirian-rumahibadah.(28/2) (diakses 3 Mei 2020) 11.Indonesia dan Implementasinya dalam Pendidikan Sekolah Dasar, Banyuwangi : LPPM IAI Ibrahimy Genteng
12.Izzati, Firda Aulia. 2021. “Pentingnya Sikap Toleransi dan Empati Dalam Mewujudkan Warga Negara yang Baik (Good Citizenship) di Masa Pandemi. Jurnal Kalacakra. Vol. 02, No.02 13.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2008:. 11. 14.Jimmy. (2020). Pemimpin yang super agile di tengah VUCA. Solafide consulting Indonesia. https://www.jimmysudirgo.com/post/ pemimpin-yangsuper-agile-di[1]tengah-vuca 15.Johansen, Bob. (2012). Leaders Make the Future: Ten New Leadership Skills for an Uncertain World. 16.https://www.amazon.com/Leaders[1]Make-Future-Leadership[1]Uncertain/ dp/1609944879 (Diakses pada 5 Mei 2020). 17.Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi daring) https://kbbi.web.id/gotong%20royong 18.Lemhanas (2023). Materi Utama Implementasi Nilai-nilai Kebangsaan yang Bersumber dari Sesanti Bhineka Tunggal Ika, Jakarta : Lemhanas 19.Mahmudi, I (2017). Islam, Budaya Gotong Royong dan Kearifan Lokal, Jurnal 20.Modul Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan: Materi Dasar Implementasi Nilai-Nilai Kebangsaan Yang Bersumber dari Bhinneka Tunggal Ika. Lemhannas RI 2023. 21.Mustofa, S., Halikin, Akherudin (2020). Pembangunan Daerah Berbasis Gotong Royong di Indonesia, Jakarta : Guepedia 22.Putra, Ikhsan S., dan Aryanti Pratiwi. (2005). Sukses dengan Soft Skills. 23.Risdianto, Eko. (2019). Kepemimpinan Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0. M.Cs Universitas Bengkulu 2019 https://www.researchgate.net/publica tion/332423142 24.Saidah, Kukuh, dan Damariswara (2020). Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat 25.Sailah, Illah. (2008). Pengembangan Soft skills di Perguruan Tinggi. 26.Sattar Bawany. (2016). Developing Critical Thinking & Cognitive Readiness Competencies in a VUCA World. “Trends in Executive Development: A Benchmark Report”. Leadership Excellence Essentials presented by HR.com. 27.Turmudi, H (2022). Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi, Klaten : Lakeisha