43 BAB IX PELANGGARAN DAN SANKSI Pasal 52 Umum Pelaksanaan PUDD dan ketentuan-ketentuan yang berlaku perlu dijamin ketepatan pelaksanaannya di lingkungan SMA Plus Efarina dengan penegakan disiplin melalui pemberian penghargaan dan sanksi yang berlandaskan pada kaidah-kaidah pedagogis. Pasal 53 Ketentuan Pokok 53.1 Pertimbangan penjatuhan jenis sanksi bagi pelanggar disiplin dengan berpedoman: 53.1.1 Jenis, frekuensi dan tingkat pelanggaran yang dilakukan Guru/Karyawan dan Siswa SMA Plus Efarina. 53.1.2 Bersifat mendidik dan preventif bagi Guru/karyawan dan Siswa SMA Plus Efarina. 53.1.3 Peraturan yang berlaku di lingkungan SMA Plus Efarina. 53.1.4 Kondisi lingkungan yang berlaku pada saat melakukan pelanggaran. 53.1.5 Pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi. 53.2 Pemberian sanksi terhadap siswa atau guru/karyawan dilakukan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku khusus di lingkungan SMA Plus Efarina, norma-norma umum, peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta dengan pertimbangan yang arif dan bijaksana. 53.3 Sebelum memberikan sanksi kepada siswa yang melakukan pelanggaran berat, diwajibkan membentuk Dewan Sekolah yang diatur tersendiri oleh sekolah. Pasal 54 Kategori Pelanggaran 54.1 Pelanggaran Ringan yaitu perbuatan atau tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh siswa atau guru/karyawan . 54.2 Pelanggaran Sedang yaitu perbuatan atau tindakan yang bertentangan atau melanggar peraturan perguruan dalam skala masih dapat untuk diperbaiki.
44 54.3 Pelanggaran Berat yaitu perbuatan atau tindakan yang nyata-nyata bertentangan atau melanggar PUDD dan Perdupsis serta cenderung selalu mengabaikan aturan sekolah. 54.4 Kategori pelanggaran dan sanksi terdapat pada lampiran PUDD ini. Pasal 55 Sanksi 55.1 Sanksi diberikan berupa tindakan disiplin dan hukuman disiplin. 55.1.1 Tindakan Disiplin diberikan oleh sekolah dapat berupa teguran lisan maupun tertulis, tindakan fisik/non fisik sebagai respons guru/karyawan terhadap tindak pelanggaran yang dilakukan oleh siswa/guru. 55.1.2 Hukuman Disiplin adalah keputusan sekolah yang dijatuhkan atas terjadinya pelanggaran oleh siswa/guru, meliputi kategori sedang atau berat dengan prosedur sesuai ketentuan yang berlaku. 55.2 Sanksi atas pelanggaran siswa disesuaikan dengan kategori pelanggarannya. 55.2.1 Sanksi Pelanggaran Ringan. Diberikan teguran lisan dan tindakan fisik/nonfisik. Jika siswa melakukan pelanggaran yang bentuknya sama atau berbeda dalam Kategori Ringan sebanyak sembilan kali, maka penindakan selanjutnya akan mengikuti Kategori Sedang. 55.2.2 Sanksi Pelanggaran Sedang. 55.2.2.1 Diberikan teguran tertulis (ditulis di kartu pelanggaran). 55.2.2.2 Diberi tindakan fisik/nonfisik. 55.2.2.3 Pemberitahuan surat penjatuhan sanksi dari sekolah kepada orang tua. 55.2.2.4 Jika siswa melakukan pelanggaran yang bentuknya sama atau berbeda dalam Kategori Sedang sebanyak enam kali, maka penindakan selanjutnya akan mengikuti Kategori Berat. 55.2.3 Sanksi Pelanggaran Berat: 55.2.3.1 Sanksi Berat Bersyarat. a. Pemanggilan kepada orang tua.
45 b. Pemberian Surat Keputusan sanksi. c. Orang tua dan siswa menandatangani surat pernyataan bermaterai, yang menyatakan apabila melakukan pelanggaran berat sekali lagi, siswa yang bersangkutan dikeluarkan dari sekolah. 55.2.3.2 Sanksi Tidak Diakui sebagai Alumni a. Pemanggilan kepada orang tua b. Pemberian Surat Keputusan Hukuman Tidak Diakui sebagai Alumni c. Sejak keputusan dijatuhkan, siswa harus tinggal di luar sekolah atas tanggung jawa orang tua yang bersangkutan tetapi diizinkan untuk mengikuti ujian akhir sekolah. 55.2.3.3 Sanksi dikeluarkan dari Sekolah. a. Pemanggilan kepada orang tua. b. Pemberian Surat Keputusan Dikeluarkan dari Sekolah. 55.3 Sanksi atas pelanggaran guru/karyawan disesuaikan dengan kategori pelanggarannya. 55.3.1 Sanksi Pelanggaran Ringan. 55.3.1.1 Teguran secara lisan atas pelanggaran yang dilakukan. 55.3.1.2 Teguran lisan yang dicatat. Teguran lisan yang dicatat akan berpengaruh dalam pemberian nilai PPK (Penilaian Prestasi Kerja). 55.3.2 Sanksi Pelanggaran Sedang. 55.3.2.1 Teguran tertulis dan tercatat secara administrasi berpengaruh kepada PPK (Penilaian Prestasi Kerja). 55.3.2.2 Penundaan kenaikan gaji berkala paling lama 1 (satu) tahun. 55.3.2.3 Penundaan promosi selama 1 (satu) periode. 55.3.2.4 Bagi koordinator, dicabut jabatannya selama 6 bulan dan dapat dipertimbangkan kembali untuk menjabat tetapi tidak pada jabatan yang sama.
46 55.3.3 Sanksi Pelanggaran Berat. 55.3.3.1 Penurunan status/demosi satu tingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun. 55.3.3.2 Pembebasan dari jabatan (skorsing). 55.3.3.3 Tidak diperpanjang ikatan kerjanya. 55.3.3.4 Diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri. 55.3.3.5 Diberhentikan dengan tidak hormat. Pasal 56 Pejabat yang Berwenang Menjatuhkan Sanksi 56.1 Sanksi Pelanggaran Berat oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina berdasarkan hasil sidang Dewan Sekolah, selanjutnya dilaporkan ke Ketua Yayasan Efarina. 56.2 Sanksi Pelanggaran Sedang. 56.2.1 Kepada siswa diberikan oleh Kepala Sekolah dengan memperhatikan laporan pendapat dan saran Wakasek. 56.2.2 Kepada Guru diberikan oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. 56.3 Sanksi Pelanggaran Ringan. 56.3.1 Kepada siswa diberikan oleh wali graha atau wali kelas yang sifatnya memberikan tindakan untuk pembinaan atau pengasuhan. 56.3.2 Kepada wali graha diberikan oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. Pasal 57 Prosedur Penjatuhan Sanksi 57.1 Tahap-tahap penjatuhan sanksi. 57.1.1 Peringatan. 57.1.2 Teguran. 57.1.3 Tindakan Administrasi.
47 57.2 Penjatuhan sanksi berat, berupa tindakan admisnistrasi. 57.3 Penyampaian sanksi diberikan langsung kepada yang bersangkutan oleh pejabat yang berhak, atau pejabat yang ditunjuk oleh Pengurus Sekolah dengan menyebut alasan dan jenis sanksi. 57.4 Semua sanksi yang telah dijatuhkan kepada siswa SMA Plus Efarina dicatat dalam buku pelanggaran dan disimpan oleh Bagian Data Siswa dan BK, sedangkan sanksi yang telah dijatuhkan kepada guru/karyawan SMA Plus Efarina dicatat dalam buku pelanggaran dan disimpan oleh koordinator kepegawaian/SDM. 57.5 Pembinaan terhadap guru/karyawan atau anggota keluarga guru/karyawan yang melakukan pelanggaran dilakukan oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina atau pejabat yang ditunjuk. Pasal 58 Tata Cara Pelaporan dan Pengusutan Pelanggaran 58.1 Laporan Pelanggaran. 58.1.1 Laporan dapat diterima dari siapa saja, ditujukan kepada pejabat yang sedang bertugas, dengan memperhatikan jenis dan tingkat pelanggaran, kemudian laporan disampaikan segera dan langsung kepada Kasek atau Wakasek. a. Untuk siswa, dilaporkan kepada Piket Guru selanjutnya ditangani oleh Guru BK b. Untuk Guru/karyawan dilaporkan kepada atasan langsung dan tembusan kepada koordinator kepegawaian/SDM. 58.1.2 Untuk pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, laporan tertulis dibuat rangkap dua, ditujukan kepada Wali Kelas, Wali Graha, dan Guru BK yang memberikan bimbingan. 58.1.3 Mekanisme Laporan Pelanggaran Guru/karyawan a. Terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh guru/karyawan, laporan tertulis dibuat oleh pejabat koordinator ke atas dialamatkan kepada Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. b. Laporan mencantumkan tempat, tanggal, waktu, fakta kejadian, serta jenis pelanggaran yang telah dilakukan, dengan dilampiri kronologis kejadian yang dibuat dan ditandatangani oleh yang melakukan pelanggaran.
48 58.2 Pengusutan Pelanggaran. 58.2.1 Pengusutan terhadap siswa yang melakukan pelanggaran ditangani oleh Wakasek bidang pengembangan bakat dan kepribadian serta Wakasek bidang pengasuhan, pembinaan fisik dan bela negara. 58.2.2 Pengusutan terhadap guru/karyawan yang melakukan pelanggaran dilaksanakan oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. Pasal 59 Pengajuan Keberatan terhadap Sanksi yang Dijatuhkan 59.1 Warga SMA Plus Efarina yang dijatuhi sanksi dapat mengajukan keberatan terhadap alasan, jenis, dan lamanya sanksi yang dijatuhkan. 59.2 Keberatan diajukan dalam jangka waktu 2 x 24 jam terhitung dari hari pemberitahuan sanksi secara tertulis. 59.3 Bagi Siswa : 59.3.1 Keberatan terhadap sanksi diajukan secara hierarki dan tertulis dengan surat pernyataan disertai penjelasan tentang keberatannya diajukan kepada pejabat yang menjatuhkan sanksi. 59.3.2 Keputusan diterima atau ditolak atas pengajuan keberatan dilakukan oleh Kepala Sekolah yang ditunjuk, disampaikan tertulis dengan penjelasan sebagaimana mestinya secara langsung kepada yang bersangkutan atau secara hierarki melalui Wali Graha, Bagian Pengasuhan dan Wali Kelas yang bersangkutan. 59.4 Bagi Guru/karyawan : 59.4.1 Keberatan terhadap sanksi diajukan secara tertulis melalui atasan langsung, ditujukan kepada pejabat yang menjatuhkan sanksi. 59.4.2 Keputusan pengajuan keberatan ringan, sedang, dan berat menjadi kewenangan Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina.
49 Pasal 60 Pembebasan Sanksi 60.1 Pembebasan sanksi dapat dilakukan apabila: 60.1.1 Sanksi telah dilaksanakan. 60.1.2 Diberikan keringanan terhadap sanksi. 60.1.3 Dilakukan pencabutan atas sanksi yang diberikan. 60.2 Pembebasan atas sanksi ringan dan sedang dilakukan oleh Kepala Sekolah, sedangkan sanksi berat oleh Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina dan disampaikan baik secara langsung kepada yang bersangkutan maupun secara hierarki melalui pejabat yang terkait dengan penerima sanksi tersebut. Pasal 61 Rehabilitasi 61.1 Dalam hal terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam penjatuhan sanksi, lembaga wajib melaksanakan peninjauan ulang atas fakta-fakta, data, proses pemeriksaan, dan keputusan sanksi. 61.2 Perbaikan atas kesalahan atau kekeliruan dalam penjatuhan sanksi dapat berbentuk perbaikan atas keputusan penjatuhan sanksi atau rehabilitasi. 61.3 Rehabilitasi dilakukan dengan Surat Keputusan Rehabilitasi sesuai dengan yang mengeluarkan Surat Keputusan Hukuman dan diumumkan melalui Apel Luar Biasa. 61.4 Pimpinan Apel Luar Biasa melakukan rehabilitasi sesuai dengan tingkatan sanksi yang diberikan sebelumnya. Pasal 62 Penyampaian Masalah 62.1 Setiap siswa dan guru/karyawan yang ingin menyampaikan permasalahan dapat disalurkan kepada: 62.1.1 Bagi siswa kepada Wali Graha atau Wali Kelas, dan pada saat kondisi mendesak dapat langsung kepada Kepala Sekolah. 62.1.2 Bagi guru/karyawan kepada atasan langsungnya dan pada saat tertentu dapat langsung kepada Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina, setelah itu diwajibkan lapor kepada atasan langsungnya.
50 62.2 Penyelesaian permasalahan apabila mendapat laporan baik dari siswa atau dari guru/karyawan sebagai berikut. 62.2.1 Bagi siswa penyelesaiannya adalah : a. Wali Graha dan Wali Kelas yang mendapat laporan permasalahan dari siswa segera mencari data tentang permasalahan tersebut dan segera laporan kepada atasan terkait. b. Apabila permasalahan belum mendapatkan penyelesaian, maka akan diteruskan kepada Kepala Sekolah atau Wakasek yang ditunjuk. c. Hasil keputusan Kepala Sekolah dilaporkan kepada Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. 62.2.2 Bagi guru/karyawan penyelesaiannya adalah : a. Atasan yang menerima laporan permasalahan dari guru/karyawan segera mencari data dan segera diselesaikan. b. Apabila permasalahan belum mendapatkan penyelesaian, maka akan diteruskan kepada Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina. c. Penyelesaian permasalahan selambat-lambatnya 7 hari.
51 BAB X PENUTUP Pasal 63 63.1 PUDD ini berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan. 63.2 Hal-hal yang belum diatur dalam PUDD ini, akan diatur dalam ketentuan tersendiri. Saribudolok, Juni 2023 Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina, Kolonel (Purn) Muhammad Kamil
52 PENJELASAN ATAS SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR PENDIDIKAN DAN PENGASUHAN SMA/SMK PLUS EFARINA NOMOR : SKEP/ / SMAP-EFARINA / VI / 2023 TANGGAL JUNI 2023 tentang PERATURAN URUSAN DINAS DALAM DI LINGKUNGAN SMA PLUS EFARINA I. UMUM Pendirian SMA Plus Efarina dilakukan untuk menjawab tantangan akan kebutuhan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. SMA Plus Efarina merupakan bagian dari upaya mencerdaskan bangsa demi mewujudkan manusia Indonesia berkualitas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, kesehatan jasmani dan rohani yang baik, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Karena itu SMA Plus Efarina dirancang khusus yang memiliki perbedaan dengan sekolah-sekolah lain yang setingkat di Indonesia. Kekhususan SMA Plus Efarina diketahui dengan adanya Kurikulum Khusus dalam proses belajar mengajar yang berorientasi kepada pengembangan kepemimpinan yang kuat, integritas kepribadian yang berwawasan kebangsaan, kejuangan dan kebudayaan serta memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara. Sebagai lembaga pendidikan yang dirancang khusus, SMA Plus Efarina merupakan Sekolah Menengah Atas berGraha penuh yang mengintegrasikan tempat kegiatan pendidikan, tempat tinggal siswa, pengurus dan guru/karyawan menjadi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat dalam SMA Plus Efarina sehingga penyelenggaraan fungsi-fungsi SMA Plus Efarina berjalan dengan baik. Untuk mendukung terselenggaranya kehidupan kondusif dalam SMA Plus Efarina, dibutuhkan PUDD sebagai salah satu wadah aturan/ketentuan di lingkungan SMA Plus Efarina, sehingga proses pembelajaran bagi para siswa berjalan lancar. Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap aturan-aturannya, diperlukan penjelasan pada pasal pasal PUDD.
53 II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Ayat 7.1 Fasilitas adalah barang/alat peralatan yang digunakan langsung untuk proses pembelajaran. Tanpa barang/alat peralatan ini, proses pembelajaran berhenti atau langsung terganggu. Fasilitas antara lain ruang kelas, kantor, laboratorium, perpustakaan atau alat instruksi. Prasarana antara lain bus, truk, dan lain-lain. Sarana antara lain Graha, rumah Guru/Karyawan, ruang makan, dan lain-lain. Ayat 7.4 Disusun menjadi data dalam bentuk Inventarisasi Kekayaan Yayasan Efarina. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas.
54 Pasal 11 Ayat 11.1.2 Kegiatan siswa harian setelah bangun pagi merapikan dan pembersihan sekitar tempat tidur serta melaksanakan ibadah. Pasal 12 Ayat 12.1.2 Tri Pusat Pendidikan dikembangkan secara seimbang dan serasi. Suasana kekeluargaan yang harmonis menjadi dukungan psikologis yang berharga bagi siswa yang mampu meningkatkan motivasi belajar. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup Jelas.
55 Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup Jelas. Pasal 35 Cukup Jelas Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas.
56 Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 47.10.2 Yang dimaksud melaksanakan bimbingan, pengasuhan, dan pengawasan terhadap siswa yaitu selama di dalam kelas, di lingkungan SMA Plus Efarina, selama mengikuti pembelajaran dan di luar SMA Plus Efarina bila ada kegiatan sekolah. 47.12.1 Keimanan adalah: a. Melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan- Nya. b. Menghayati dan menjalankan ketentuan agama masing-masing dalam tingkah laku/perbuatan sehari- hari. 47.12.2 Keteladanan adalah Menjadi panutan dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku. 47.12.3 Kesetiaan adalah : a. Menjunjung tinggi nama baik perguruan.
57 b. Mengutamakan kepentingan perguruan dari pada kepentingan diri sendiri, perorangan atau kelompok. 47.12.4 Ketaatan adalah: a. Mematuhi peraturan, tata tertib, dan ketentuan yang ditetapkan oleh perguruan. b. Melaksanakan perintah dengan patuh dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap perintah yang diberikan. c. Dapat menerima keputusan yang sah walaupun tidak sependapat. 47.12.5 Kejujuran adalah: a. Melaksanakan tugas dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. b. Tidak menyalahgunakan kedudukan dan kewenangan yang ada padanya. c. Melaporkan hasil kerja sebagaimana adanya sesegera mungkin. 47.12.6 Prasaja adalah sederhana dan tidak berlebih-lebihan. 47.12.7 Penguasaan tugas adalah: a. Memiliki kecakapan, keterampilan, dan pengalaman yang luas dalam tugasnya. b. Melaksanakan tugas secara berdaya guna dan berhasil guna. c. Dapat mencapai kerja seperti yang telah ditargetkan oleh lembaga. 47.12.8 Tanggung jawab adalah: a. Menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. b. Berada di tempat tugas dalam segala keadaan.
58 c. Tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain. d. Berani memikul resiko dari keputusan yang diambil atau tindakan yang dilakukan. e. Menyimpan dan memelihara dengan baik alat peralatan perguruan yang dipercayakan kepadanya. 47.12.9 Hubungan baik dengan guru/karyawan lainnya adalah: a. Bersifat sopan santun. b. Dapat bekerja sama dengan seluruh Guru/Karyawan. c. Menghargai pendapat orang lain. 47.12.10 Hubungan baik dengan siswa adalah: a. Bersifat ramah tamah. b. Dalam batas-batas tertentu dapat menyesuaikan diri dengan siswa. c. Menegur dengan cara bijaksana bila mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. 47.12.11 Memiliki Inisiatif adalah: a. Tanpa menunggu perintah berani mengambil keputusan atau melakukan tindakan yang tidak bertentangan dengan peraturan, tata tertib, dan ketentuan yang berlaku. b. Berusaha mencari tata kerja baru dalam mencapai hasil yang lebih baik. c. Dapat memberikan saran yang baik dan bermanfaat kepada lembaga pendidikan. 47.12.12 Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Pasal 48 Cukup jelas.
59 Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 54 54.1 Yang termasuk Pelanggaran Ringan a. Bagi Siswa, antara lain: 1) Tidak merapikan dan membersihkan tempat tidur dan sekitarnya pada saat bangun pagi. 2) Pada saat dinas jaga graha tidak tertib saat meninggalkan Graha baik untuk KBM atau non KBM. a) Tidak mengumpulkan ban jaga Graha. b) Tidak mematikan lampu dan perangkat elektronik yang terpakai. c) Tidak menutup kran air. d) Tidak menutup jendela. 3) Membuang sisa air dan sampah dari jendela. 4) Tidur di tempat tidur orang lain (bukan miliknya sendiri) dan/atau tidak mengenakan piyama SMA Plua Efarina. 5) Menghilangkan kunci gerbang graha/ruangan lainnya. 6) Menyimpan makanan di graha lebih dari 1 (satu) hari. 7) Berjalan di atas rumput Kompleks SMA Plua Efarina
60 8) Tidak mengenakan seragam sekolah secara lengkap dan rapi sesuai atribut/ketentuan yang berlaku. 9) Menggunakan pakaian seragam, aksesoris atau atribut lain yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh sekolah (celana pensil, rok ketat, baju ketat, dll). 10) Makan dan/atau minum sambil jalan. 11) Pada saat dalam barisan berbicara dengan teman, langkah tidak sama, dan bergurau atau tidak sesuai dengan ketentuan PBB. 12) Membuat gaduh dalam ruangan atau dalam barisan. 13) Tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai siswa. 14) Tidak melaksanakan makan di Ruang Makan. 15) Tidak membawa Buku Saku. 16) Tidak membawa buku pelajaran sesuai mata pelajaran dan tidak mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh Guru KBM. 17) Terlambat/tidak mengikuti pelajaran siang (intra & ekstrakurikuler) dan belajar malam mandiri. 18) Rambut tidak sesuai ketentuan atau tidak rapi, kuku panjang, kotor, atau dicat. 19) Melaksanakan kegiatan di kelas pada waktu istirahat malam tanpa izin. 20) Siswa putri keluar graha tanpa izin wali graha yang ditandatangani. 21) Membawa makanan dan atau peralatan makan dari ruang makan ke dalam graha. 22) Menggunakan jasa laundry di luar fasilitas sekolah. 23) Membuang sampah tidak pada tempatnya.
61 b. Bagi Guru/Karyawan antara lain: 1) Tidak memakai pakaian dinas sesuai ketentuan SMA Plus Efarina. 2) Memakai pakaian dinas tidak rapi dan tidak bersih. 3) Terlambat masuk kerja maksimal 1 jam dari jam mulai bekerja. 4) Mengabsenkan orang lain pada saat apel. 5) Memerintahkan orang lain mengabsenkan pada saat apel. 6) Tidak melaporkan adanya perubahan administrasi seperti kelahiran anak dan perubahan anak. 7) Makan dan/atau minum sambil jalan. 54.2 Yang termasuk Pelanggaran Sedang: a. Bagi Siswa, antara lain: 1) Tidak mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh wali graha/wali kelas dan guru. 2) Tidak melaksanakan perintah wali graha/wali kelas dan guru yang berkaitan dengan pembelajaran, pelatihan dan pengasuhan. 3) Menggunakan segala peralatan permainan elektronik (game console). 4) Mengecat rambut, mengenakan tato, menindik (untuk siswa putra). 5) Berbicara kotor, mengumpat, bergunjing, menghina atau menyapa secara tidak sopan antarsiswa. 6) Mencoret-coret/mengotori tembok/ruangan/fasilitas kampus. 7) Membuat duplikat kunci kamar atau ruangan graha/gedung lainnya.
62 8) Tidak mengikuti kegiatan rutin terjadwal tanpa izin. 9) Tidak mengikuti kegiatan terprogram tanpa izin. 10) Tidak mengikuti kegiatan terproyek tanpa izin. 11) Terlambat kembali ke graha dari waktu yang telah ditentukan setelah Izin Keluar sekolah tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan dan izin sekolah. 12) Terlambat kembali ke graha dari waktu yang telah ditentukan setelah cuti tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan izin sekolah. 13) Membawa, menyimpan atau menggunakan smartphone/ android/handphone/ponsel di luar waktu/tempat yang ditentukan. 14) Melakukan pelecehan dan segala perbuatan yang tidak menghormati atribut SMA Plus Efarina. 15) Adik mengunjungi graha abang/kakak, abang/kakak memanggil/mengunjungi Graha adik tanpa seizin Wali Graha. 16) Memperjual belikan barang atau jasa di luar izin sekolah. 17) Merusakkan dan/atau menghilangkan barang orang lain atau fasilitas sekolah. 18) Menghilangkan Buku Saku Siswa. 19) Memesan makanan/minuman delivery order dari luar sekolah, tanpa seijin Wali Graha/Wali Kelas sesuai dengan acaranya. 20) Tidak mengikuti kegiatan pembelajaran selama 1 x 24 jam tanpa keterangan. 21) Tidak mengikuti apel yang dijadwalkan sekolah. 22) Memanfaatkan laptop untuk kepentingan selain penunjang KBM. 23) Membawa/menggunakan laptop di graha tanpa izin dari wali graha.
63 24) Mengadakan rapat di lingkungan SMA Plus Efarina tanpa izin Pengurus Sekolah. 25) Loncat dari jendela. 26) Menandatangani presensi teman yang tidak hadir pada suatu kegiatan. 27) Tidak mengikuti upacara bendera. 28) Melakukan Pelanggaran Ringan sebanyak 9 (sembilan) kali ditetapkan sebagai Pelanggaran Sedang oleh Wali Graha/Wali Kelas/Guru BK. b. Bagi Guru/Karyawan, antara lain: 1) Melanggar pasal dan ayat dalam PUDD kecuali yang ditentukan lain dalam peraturan yang ditetapkan lembaga. 2) Tidak melaksanakan pekerjaan/tugasnya. 3) Menolak perintah atau penugasan yang diberikan oleh atasannya. 4) Dengan sengaja atau lalai mengakibatkan dirinya dalam keadaan sakit, sehingga tidak dapat menjalankan pekerjaan yang diberikan kepadanya. 5) Menghukum siswa dengan kekerasan atau tindakan yang merendahkan martabat manusia. 6) Tidak masuk kerja tanpa keterangan 3 kali berturut- turut. 7) Adu mulut atau cecok dengan sesama Guru/Karyawan. 8) Melakukan perbuatan yang merusak dan merugikan nama baik perguruan. 9) Memberikan sarana dan fasilitas kepada siswa yang bertentangan dengan PUDD dan atau Perdupsis. 10) Tidak masuk kerja tanpa keterangan.
64 11) Mengadakan rapat di lingkungan SMA Plus Efarina tanpa izin Pengurus Sekolah. 12) Menggunakan fasilitas sekolah bukan untuk kepentingan sekolah tanpa persetujuan Pengurus Sekolah. 13) Tidak melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang Guru/Karyawan. 54.3 Yang termasuk Pelanggaran Berat: a. Bagi Siswa, antara lain: 1) Bermain judi di SMA Plus Efarina atau di luar SMA Plus Efarina (termasuk judi online melalui laptop/gadget). 2) Menyimpan, mengedarkan, dan minum miras di luar maupun di dalam kampus. 3) Mengajukan pendapat dengan jalan corat-coret di dinding, meja, kursi, papan tulis atau dengan surat kaleng. 4) Menghasut teman atau adik kelas untuk melawan Guru/Karyawan atau pengurus sekolah. 5) Menghasut teman atau adik kelas untuk berbuat melanggar peraturan sekolah. 6) Merusak barang-barang inventaris sekolah secara sengaja. 7) Tidak mengikuti Upacara Hari Besar Nasional. 8) Melakukan tindakan keluar sekolah tanpa izin (escape/skip). 9) Mengikuti (aktif/pasif) kegiatan politik praktis atau menjadi anggota perkumpulan/organisasi yang bertentangan dengan peraturan dan perundang- undangan negara. 10) Menyebarkan atau mengunggah kegiatan politik praktis atau menjadi anggota perkumpulan/organisasi yang bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan negara.
65 11) Mengikuti organisasi di luar Resimen Korps Taruna, Lemustar, OSIS dan MPK. 12) Mengendarai kendaraan bermotor roda dua atau empat dan/atau menginapkannya di lingkungan sekolah. 13) Melakukan pelecehan dan segala perbuatan yang tidak menghormati Guru/Karyawan, baik verbal maupun non verbal. 14) Melakukan penipuan. 15) Bullying atau perundungan (penggunaan tindakan fisik, verbal, emosional, dan juga seksual untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun mental. 16) Membawa, menyimpan, mengedarkan, melakukan jual beli, dan menghisap rokok batang maupun elektrik (vaporisator). 17) Berbuat keonaran atau melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan citra buruk sekolah, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. 18) Abang/kakak kelas memanggil adik kelas ke graha abang/kakak tanpa izin Wali Graha. 19) Membawa, menyimpan, membaca/menonton, mengedarkan bacaan, gambar, sketsa, audio, video yang mengandung unsur pornografi. 20) Peserta didik putra masuk graha putri atau sebaliknya tanpa seizin dan didampingi Wali Graha terkait. 21) Melakukan tindakan kekerasan, berkelahi, pemukulan atau merendahkan martabat manusia kepada sesama siswa dan orang lain. 22) Melakukan tindakan kepada adik kelas secara berlebihan yang mengakibatkan cedera atau cacat. 23) Membawa, menyimpan atau menggunakan obat terlarang, narkoba atau obat psikotropika.
66 24) Membawa senjata tajam, senjata api atau alat-alat yang membahayakan keselamatan orang lain. 25) Membawa alat kontrasepsi dan testpack kehamilan. 26) Melakukan perbuatan asusila dan/atau melanggar normanorma kehidupan sosial dan beragama. 27) Menjalin/melaksanakan hubungan asmara dengan lawan jenis, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. 28) Menjalin/melaksanakan hubungan asmara (berpacaran), dengan sesama jenis, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. 29) Mengunggah foto/gambar/ kata-kata kasar maupun provokatif di sosial media. 30) Melangggar Kode Kehormatan Siswa antara lain: a) Tidak menjunjung tinggi Panca Dharma Siswa (siswa tidak memahami dan menghayati Panca Dharma Siswa serta senantiasa tidak bersikap dan berperilaku sesuai dengan isi dari Panca Dharma Siswa). b) Tidak hormat pada orang tua (sikap yang tidak menghargai pendapat, petunjuk, instruksi, nasehat, atau petuah bapak/ibu). c) Tidak hormat pada Guru/Karyawan (melawan Guru/ Karyawan dan atau kata-kata tidak sopan/kotor). d) Menyontek (tindakan mengambil, meniru, menyadur, dan mengutip pemikiran orang lain). e) Menipu (perbuatan mengelabui/memanipulasi sesuatu untuk menyembunyikan sesuatu atau niat atau perbuatan sendiri yang bertentangan dengan peraturan, etika atau moral, memberi keterangan berbelit-belit). f) Mencuri (mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan/ seizin pemiliknya untuk dimiliki/ digunakan/ disimpan/ diserahkan kepada orang lain.
67 g) Berkelahi (tindakan atau perbuatan fisik dengan kekerasan terhadap orang lain untuk memaksakan kehendak sendiri, seperti tindakan saling memukul di antara dua orang atau lebih, memukul orang lain dengan anggota badan ataupun dengan benda lain). h) Berbuat asusila (berpelukan, berciuman, menginap bersama dalam satu tempat, berhubungan intim baik sesama siswa maupun orang lain, pelecehan seksual, menyimpan/ membaca / membicarakan / menonton hal porno). i) Melakukan kekerasan verbal, fisik, atau psikis. (1) Kekerasan Verbal (kekerasan yang dilakukan dengan kata-kata seperti membentak, memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memfitnah, menuduh, mempermalukan didepan umum dengan lisan dan lain-lain). (2) Kekerasan Fisik (kekerasan yang melibatkan kontak langsung dan dimaksudkan untuk menimbulkan perasaan intimidasi, cedera, atau penderitaan fisik lain). (3) Kekerasan Psikis (suatu tindakan penyiksaan secara verbal yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatnya rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya). j) Merokok, mengonsumsi minuman keras, dan menyalahgunakan napza. (1) Merokok (kegiatan memegang, membawa, menyimpan, membeli, menjual, mengedarkan dan menghisap rokok tembakau atau elektrik baik selama berada di dalam maupun di luar SMA Plus Efarina). (2) Mengonsumsi minuman keras (kegiatan memegang, membawa, menyimpan, membeli, menjual, mengedarkan dan minum minuman keras baik selama berada di dalam maupun di luar SMA Plus Efarina).
68 (3) Menyalahgunakan napza (kegiatan memegang, membawa, menyimpan, membeli, menjual, mengedarkan dan menggunakan napza/obat terlarang baik selama berada di dalam maupun di luar SMA Plus Efarina). 31) Melakukan Pelanggaran Sedang sebanyak 6 (enam) kali ditetapkan sebagai Pelanggaran Berat oleh Dewan Sekolah. b. Bagi Guru/Karyawan, antara lain: 1) Melakukan tindak kejahatan seperti berjudi, mencuri, menipu, dan memperdagangkan barang terlarang. 2) Melakukan minum-minuman keras dan penyalahgunaan obat. 3) Menghina secara kasar atau mengancam atasan dan keluarganya atau sesama Guru/Karyawan. 4) Membujuk teman atau atasannya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan yang dikeluarkan oleh perguruan. 5) Dengan sengaja merusak, menghilangkan, atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang- barang milik perguruan. 6) Membongkar rahasia atau mencemarkan nama baik perguruan. 7) Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan pada saat penerimaan Guru/Karyawan. 8) Tidak masuk kerja 6 kali berturut-turut tanpa ada keterangan. 9) Telah berkali-kali melakukan pelanggaran sedang, pada hal sudah mendapat peringatan. 10) Menghasut sesama Guru/Karyawan untuk menentang kebijaksanaan Kasek atau Ketua Yayasan Efarina karena adanya ketidakpuasan.
69 Pasal 55 55.2.1. Tindakan Fisik/ Non Fisik. 1) Tindakan Fisik berupa: a) Lari keliling lapangan utama minimal 3 kali maksimal 10 kali. b) Push up minimal 25 kali maksimal 50 kali. c) Pull up minimal 5 kali maksimal 20 kali. d) Langkah tegap keliling Lapangan Apel minimal 1 kali maksimal 5 kali sambil teriak pelanggarannya. e) Hormat Bendera Merah Putih minimal 15 menit maksimal 30 menit. f) Jumping Jack minimal 10 kali maksimal 20 kali. 2) Tindakan Non Fisik berupa: a) Membuat ringkasan pelajaran yang diberikan oleh Guru. b) Menulis pasal-pasal PUDD atau Perdupsis yang dilanggar minimal 50 kali maksimal 100 kali. c) Wajib lapor kepada Wali Kelas pada jam istirahat ke dua selama menjalani sanksi. d) Memakai kalung label tulisan pelanggaran selama menjalani sanksi. e) Memakai selimut ke atau di atau dari lapangan apel. 55.2.3.1. Yang dimaksud Hukuman/Sanksi Berat Bersyarat adalah: 1) Terhukum melakukan pelanggaran berat yang seharusnya dijatuhi hukuman berat, tetapi hukuman tersebut tidak seketika langsung dijalani, bila terhukum dapat memenuhisyarat-syarat umum dan atau syarat khusus yang dinyatakan oleh pejabat yang menghukum bersamaan dengan penjatuhan hukuman tersebut.
70 2) Hukuman Berat sebagaimana yang dimaksud saat Hukuman Berat Bersyarat dijatuhkan, berlaku efektif seketika bila Terhukum melanggar syarat umum dan atau syarat khusus yang ditetapkan. Yang dimaksud dengan syarat umum adalah : 1) Tenggang waktu yang ditentukan untuk menjalani hukuman bersyarat (lama waktu sebagai masa percobaan). 2) Tidak melanggar salah satu atau lebih butir-butir Kode Kehormatan Siswa SMA Plus Efarina selama menjalani masa percobaan. Yang dimaksud dengan syarat khusus adalah bahwa terhukum selama masa percobaan: 1) Tidak melanggar salah satu atau lebih aturan dalam PUDD dan/atau Perdupsis (selain Kode Kehormatan Siswa), yang ditentukan oleh pejabat yang menghukum. 2) Tidak melanggar kewajiban tertentu yang harus dilakukan Terhukum yang diberikan oleh pejabat yang menghukum. Hukuman Berat Bersyarat dapat dijatuhkan apabila Sidang Dewan Sekolah yang dibentuk memutuskan untuk menjatuhkan hukuman tersebut, berdasarkan pertimbangan bahwa: 1) Terhukum diyakini dapat diperbaiki. 2) Belum pernah dijatuhi hukuman/sanksi. 3) Perilaku sehari-hari sebelumnya normatif, relatif tidak pernah diberi tindakan disiplin. 4) Berprestasi menonjol. 5) Perbuatan baru pertama/satu kali dilakukan.
71 Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina berwenang menjatuhkan Hukuman/Sanksi Berat Bersyarat, Tidak Diakui Alumni, dan dikeluarkan dari SMA Plus Efarina. Definisi Pelanggaran Berat dan Jenis Pelanggaran Berat yang dapat dijatuhi Hukuman/Sanksi Berat Bersyarat : 1) Asusila. Yang dimaksud dengan perbuatan Asusila adalah: a) Berpelukan atau berciuman yang didasari nafsu birahi antara siswa putra dengan siswa putri atau siswa putra/putri dengan orang lain; b) Berpergian bersama dengan menginap dalam satu hotel/penginapan/rumah tanpa disertai keluarga/ famili. c) Berhubungan intim. d) Melakukan tindakan pelecehan seksual seperti mempermainkan kemaluan sesama siswa, menyentuh bagian tubuh siswa lain yang dapat menimbulkan syahwat, atau menempatkan diri sedemikian rupa sehingga menghalangi kebebasan bergerak lawan jenis. e) Menyimpan, membawa, atau membaca buku/ majalah porno, menonton film porno, menggambar atau mengambil gambar dengan alat elektronik dengan sasaran porno, membicarakan hal-hal yang sifatnya porno. Jenis Asusila yang dapat dijatuhi Hukuman/Sanksi Berat Bersyarat adalah: a) Berciuman, berpelukan, pelukan sambil ciuman dengan lawan jenis maupun sesama jenis, yang lazimnya merupakan aktivitas fisik penyaluran atau yang didorong hasrat seksual, dengan pembatasan:
72 (1) Baru satu kali dilakukan. (2) Tidak disertai perbuatan lain yang lebih tinggi derajat gambaran pelampiasan/ dorongan hasrat seksualnya. b) Menempatkan diri sedemikian rupa hingga menghalangi kebebasan bergerak lawan jenis. 2) Menyontek. Yang dimaksudkan dengan menyontek adalah tindakan yang mengambil, meniru, menyadur, atau mengutip pemikiran orang lain yang diakui atau dinyatakan sebagai hasil pemikiran atau pekerjaan sendiri. Menyontek yang dapat dijatuhi hukuman/sanksi berat bersyarat adalah: a) Bertanya, mengintip, menyalin sebagian kecil hasil pekerjaan teman dalam ulangan. b) Ditemukan contekan di atas meja test atau dibawah lembar jawaban soal, tetapi tidak tertangkap basah sedang menggunakan sontekan atau diketahui sudah selesai menggunakan sontekan. c) Baru satu kali melakukan perbuatan menyontek. 3) Mencuri. Yang dimaksudkan dengan mencuri adalah mengambil sesuatu/barang milik orang lain tanpa sepengetahuan atau seizin pemilik atau pemegang sesuatu/barang tersebut dengan maksud untuk dimiliki, digunakan, disimpan, atau diserahkan kepada orang lain. Mencuri yang dapat dijatuhi hukuman/sanksi berat bersyarat adalah: a) Baru satu kali dilakukan selama mengikuti pendidikan di SMA Plus Efarina.
73 b) Tidak menimbulkan kerugian yang dianggap bernilai besar bagi orang lain/sekolah, yang bersifat materil/finansial/moril. c) Baru satu kali melakukan perbuatan mencuri. 4) Berkelahi. Yang dimaksudkan berkelahi adalah tindakan atau perbuatan fisik dengan kekerasan terhadap orang lain untuk memaksakan kehendak sendiri, seperti tindakan saling memukul di antara dua orang atau lebih, memukul orang lain dengan anggota badan ataupun dengan benda lain. Berkelahi yang dapat dijatuhi hukuman/sanksi berat bersyarat adalah : a) Tindakan fisik dengan kekerasan terhadap orang lain tidak menimbulkan cedera, cacat, opname atau meninggal dunia. b) Memukul atau menendang dilakukan 1 (satu) kali dan tidak menimbulkan sakit, memar, dan bengkak. c) Ada provokasi sedemikian rupa dari korban sendiri yang membuat pelaku tidak mampu mengendalikan emosi sebagaimana lazimnnya. d) Didasari niat baik atau mendidik. e) Baru satu kali melakukan perbuatan berkelahi. 5) Menipu. Yang dimaksud dengan menipu adalah perbuatan yang mengelabui atau memanipulasi sesuatu untuk menyembunyikan sesuatu atau niat, atau perbuatan sendiri yang bertentangan dengan peraturan, etika, atau moral yang menimbulkan kerugian material maupun moril kepada orang atau badan/instansi lain. Menipu yang dapat dijatuhi hukuman/sanksi berat bersyarat adalah:
74 a) Tidak menimbulkan kerugian materiil/finansial/ moril yang besar menurut pendapat umum dan atau pendapat pihak yang dirugikan, atau yang dapat menjatuhkan/ merusak nama baik orang lain. b) Berulang kali menipu Guru/Karyawan, teman, petugas, dengan membuat alasan/alibi untuk menghindari kegiatan pendidikan/kegiatan lain yang ditentukan oleh sekolah. c) Berulang kali tidak menyelesaikan tugas sekolah dengan memberikan alasan tidak sah. d) Baru satu kali melakukan perbuatan menipu. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 57.1.1 Peringatan. Peringatan adalah berupa teguran lisan. 57.1.2 Teguran. Teguran adalah berupa teguran lisan dan teguran tertulis. 57.1.3 Tindakan Administrasi. Tindakan Administrasi adalah sanksi yang ditetapkan secara tertulis oleh sekolah terhadap guru/karyawan/siswa. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 60 Cukup jelas. Pasal 61 Cukup jelas.
75 Pasal 62 Cukup jelas. Pasal 63 Cukup jelas III. SELESAI. Saribudolok, Juni 2023 Direktur Pendidikan dan Pengasuhan SMA/SMK Plus Efarina, Kolonel (Purn) Muhammad Kamil
76 Lampiran 2 TABEL ACUAN SANKSI PELANGGARAN SISWA DENGAN SISTIM POIN JENIS PELANGGARAN RINGAN
77
78
79 JENIS PELANGGARAN SEDANG
80
81
82 JENIS PELANGGARAN BERAT
83
84