ETNIS PAKPAK
2 VOCAL TRADISI NUSANTARA ETNIS PAK PAK Dosen Pengampu : Dr. Lamhot Basani Sihombing S.Pd., M.Pd Disusun Oleh : EDWARD SIHITE 2233342007 SHAFIYYAH JELITA LASE 2231142014 FITRI INDAH LESTARI 2233342001 AGNATISA SINAGA 2231142015 CELIN KIREI GULTOM 2233142056 GLORY ANDA PURBA 2233142039 ARIE RISKY FADIL SIMBOLON 2233142038 ALDO PICO STEPANUS PURBA 2233342009 SION IMMANUEL HARIANJA 2233342019 DUDDY FEDRIK GURNING 2231142025 PRODI PENDIDIKAN MUSIK JURUSAN SENDRATASIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2024
3 KATA PENGANTAR Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan Makalah kami mengenai "Etnis Pakpak". Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah vokal tradisi nusantara Bapak Dr. Lamhot Basani Sihombing S.Pd., M.Pd yang telah memberikan kepercayaannya kepada kami dalam menulis makalah ini. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada Kakak Pembimbing kami yang telah turut memberikan dorongan dan bimbingan dalam penyusunan makalah. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca. Medan, Maret 2024
4 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................5 A. LATAR BELAKANG...............................................................................................................5 B. RUMUSAN MASALAH...........................................................................................................6 C. TUJUAN ....................................................................................................................................6 BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................7 1. SEJARAH PAKPAK................................................................................................................7 a. Asal Usul ................................................................................................................................7 b. Penyebaran............................................................................................................................9 c. Interaksi dengan dunia Luar .............................................................................................11 d. Interaksi dengan Dunia Luar.............................................................................................11 e. Pengaruh Agama.................................................................................................................11 f. Perkembangan Modern......................................................................................................11 2. KEBUDAYAAN ETNIS PAKPAK.......................................................................................11 A. Vocal Etnis Pakpak.............................................................................................................11 B. Alat Musik ...........................................................................................................................16 C. Tarian Etnis Pakpak...........................................................................................................20 D. PAKAIAN ADAT ETNIS PAKPAK.................................................................................27 E. RUMAH ADAT ETNIS PAKPAK....................................................................................33 F. MAKANAN ETNIS PAKPAK ..........................................................................................40 G. SILSILAH DAN MARGA..............................................................................................44 BAB III PENUTUP.............................................................................................................................48 A. KESIMPULAN .......................................................................................................................48 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................49
5 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Budaya adalah suatu cara hidup berkembang dan bertahan hidup yang dimiliki bersama, oleh sebuah kelompok dan di wariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari beberapa unsur yang rumit seperti sistem agama, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisakan dari diri manusia sehingga banyak orang menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, itu membuktikan bahwa budaya itu di pelajari. Budaya atau kebudayaan berasal dari kata sansekerta yaitu budhayah yang bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Prof. Dr. J.Ph. Duyvendak berpendapat: “Kebudayaan itu adalah hasil ciptaan jiwa manusia yang dapat terlihat pada hubungan yang beraneka warna dalam suatu masyarakat. Bukan saja hanya yang meliputi hasil-hasil kegiatan manusia yang bersifat kebendaan dan kerohanian saja, tetapi juga tiap sikap manusia terhadap sekitarnya. Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Indonesia. Pakpak merupakan bagian dari suku bangsa Batak yang terkenal di pulau Sumatra. Suku Pakpak memiliki sejarah panjang dan kaya. Pakpak dipercaya berasal dari empat keturunan legendaris yang disebut dengan Si Raja Batak, Si Raja Isumbaon, Si Raja Oloan, dan Si Raja Hasibuan. Mayoritas suku Pakpak menganut agama Kristen Protestan. Namun, sebagian kecil dari mereka masih mempraktikkan agama tradisional yang disebut Parmalim, yang merupakan agama adat Batak. Kebudayaan Pakpak kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang unik. Seiring dengan perkembangan zaman, suku Pakpak juga mengalami perubahan dalam pola hidup dan kebiasaan mereka. Banyak dari mereka yang kini tinggal di perkotaan dan berprofesi sebagai petani, pedagang, atau bekerja di sektor industri lainnya. Kristenisasi di Sumatera Utara tentunya diawali dengan masuknya Kristen ditanah Batak yang dibawa oleh para zending-zending melalui lembaga Pekabaran Injil Babtis dari Inggris tahun 1820. Kemudian zending dari Amerika pada tahun 1834. Selanjutnya zending dari Belanda yaitu Ermello yang samapai di Sumatera pada Mei 1858 dan mendirikan pos di Sipirok (Aritonang 1988 : 3). Dalam jurnal yang ditulis oleh Jonathan Parhussip berjudul Perkembangan HKBP di Pulau Samosir 1893-1913, melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh Jung Hun yang diperintahkan oleh pemerintahan Hindia Belanda menarik perhatian dari Rheinische Missiongesselschaft (RMG) untuk mengutus penginjil ke tanah Batak. Hasil karya penginjilan dari Rheinische Missiongesselschaft (RMG) Jerman adalah berdirinya gereja HKBP di tanah Batak pada 7 Oktober 1861. Setelah kedatangan seorang missionaris RMG yaitu L. J. Nomensen, agama Kristen ditanah Batak semakin berkembang secara pesat dan semakin banyak orang Batak yang masuk agama Kristen melalui pekabaran yang dilakukan oleh Nomensen bahkan sampai keluar tanah Batak. Semakin berkembangnya agama Kristen di tanah Batak melalui gereja HKBP menyebarkan agama Kristen ke luar tanah Batak Toba dengan mengutus para zending atau pendeta HKBP untuk melakukan pekabaran Injil salah satu yang dituju adalah tanah Pakpak tepatnya Dairi.
6 B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa saja alat music pakpak ? 2. Bagaimana tarian dan apa penjelasan setiap tarian etnis tradisional pakpak ? 3. Bagaimana bentuk dari pakaian dan rumah adat pakpak dan penjelasannya ! 4. Seperti apa masakan dari etnis pakpak ? 5. Bagaimana Teknik vocal etnis pakpak ? C. TUJUAN 1. Agar kita tau apa saja alat music tradisional pakpak. 2. Agar kita tau Teknik vocal dari etnis pakpak. 3. Agar kita tau makna dari tarian tradisional pakpak. 4. Agar kita tau bentuk dari rumah adat tradisional pakpak. 5. Agar kita tau bentuk dari pakaian adat tradisional pakpak.
7 BAB II PEMBAHASAN 1. SEJARAH PAKPAK a. Asal Usul Dalam sejarah pihak Pakpak asal mereka adalah dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Barus lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak. Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya. Tidak semua Orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi namun mereka juga berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian tinggal di Tanah Pakpak dan menajadi Suku Pakpak “Situkak Rube:,”Sipungkah Kuta” dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak. Sebagian ada pergi merantau ke daerah lain, membentuk komunitas baru. Dia tahu asalnya dari Pakpak dan diakui bahwa Pakpak adalah sukunya namun sudah menjadi marga di suku lain. Ada juga yang merantau lalu mengganti Nama dan Marga dengan kata lain telah mengganti identitasnya. Diceritakan bahwa Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi, dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama HYANG. Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak. Hyang pun besar dan kemudian menikah dengan Putri Raja Barus dan mempunyai 7 orang Putra dan 1 orang Putri yaitu : 1) Mahaji 2) Perbaju Bigo 3) Ranggar Jodi 4) Mpu Bada 5) Raja Pako 6) Bata 7) Sanggar 8) Suari (Putri) Pada urutan ke 4 terdapat nama Mpu Bada,Mpu Bada adalah yang terbesar dari pada saudara-saudaranya semua,bahkan dari pihak Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah Keturunan dari Parna dari marga Sigalingging. Sedangkan pada sejarah sudah jelas-jelas bahwa Mpu Bada adalah anak ke 4 dari Hyang. Makanya perlu hati-hati jika memperhatikan pembalikan fakta sejarah yang sering dilakukan oleh Pihak Toba dewasa ini. Anak Sulung,Mahaji mempunyai Kerajaan di Banua Harhar yang mana saat ini dikenal dengan nama Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube. Parbaju Bigo pergi ke arah Timur dan membentuk Kerajaan Simbllo di Silaan,saat ini dikenal dengan Kecamatan STTU Julu.
8 Ranggar Jodi pergi ke arah Utara dan membentuk Kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama Kerajaan Jodi Buah Leuh dan Nangan Nantampuk Emas, saat ini masuk Kecamatan STTU Jehe. Mpu Bada pergi ke arah Barat melintasi Lae Cinendang lalu tinggal di Mpung Si Mbentar Baju. Raja Pako pergi ke arah Timur Laut membentuk Kerajaan Si Raja Pako dan bermukim di Sicike-cike. Bata pergi ke arah Selatan dan menikah kemudian hanya mempunyai seorang Putri yang menikah dengan Putra Keturunan Tuan Nahkoda Raja. Dari sini menurunkan marga Tinambunen, Tumangger, Maharaja, Turuten, Pinanyungen dan Anak Ampun. Sanggir pergi ke arah Selatan tp lebih jauh daripada Bata dan mmbentuk Kerajaan di sana,dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka, Mungkur dan Kelasen. Suari Menikah dengan Putra Raja Barus dan memdiam di Lebbuh Ntua. Marga Manik diturunkan oleh Mpu Bada yang mempunyai 4 orang anak yaitu : 1. Tondang 2. Rea sekarang menjadi Banurea 3. Manik 4. Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boang Menalu dan Bancin. Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni : 1. Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Antara lain marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boang Manalu, Cibro, Sitakar, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat. 2. Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi. 3. Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan. Antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Siketang, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi. 4. Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anak Ampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Dairi (di Kabupaten Tapanuli Tengah). 5. Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam)
9 Orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain : 1. Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak. 2. Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji 3. Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Dairi. 4. Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan. 5. Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Dairi, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga Pakpak yang mengandung unsur keindiaan (Maha, dan Maharaja), boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat untuk mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu maka pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut. b. Penyebaran Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan beberapa variasi. Pertama dikatakan bahwa orag Pakpak berasal dari India selanjutnya masuk ke pedalaman dan beranak pinak menjadi orang Pakpa. Versi lain menyatakan orang Pakpak berasal dari etnis Batak Toba dan yang lain menyatakan orang Pakpak sudah ada sejak dahulu. Mana yang benar menjadi relatif karena kurang didukung oleh fakta-fakta yang objektif. Alasan dari India misalnya hanya didasarkan pada adanya kebiasaan tradisional Pakpak dalam pembakaran tulang-belulang nenek moyang dan Dairi sebagai daerah pantai dan pusat perdagangan berbatasan langsung dengan tanoh Pakpak. Alasan Pakpak berasal dari Batak Toba hanya adanya kesamaan struktur sosial dan kemiripan nama-nama marga. Alasan ketiga yang menyatakan dari dahulu kala sudah ada orang Pakpak hanya didasarkan pada folklore di mana diceritakan adanya tiga zaman manusia di Tanoh Pakpak, yakni zaman Tuara (Manusia Raksasa). zaman si Aji (manusia primitif) dan zaman manusia (homo sapien). Berdasarkan dialek dan wilayah persebarannya, Pakpak dapat diklasifikasikan menjadi lima bagian besar yakni: Pakpak Simsim, Pakpak Keppas, Pakpak Pegagan, Pakpak Boang dan Pakpak Kelasen. Masing-masing sub ini dibedakan berdasarkan hak ulayat marga yang secara administratif tidak hanya tinggal atau menetap di wilayah Kabupaten Dairi (sebelum dimekarkan), tetapi ada yang di Aceh Singkil, Humbang Hasundutan (sebelum dimekarkan dari Tapanuli Utara) dan Tapanuli Tengah.
10 Pakpak Simsim, Pakpak Keppas dan Pegagan secara administratif berada di wilayah kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, sedangkan Pakpak Kelasen berada di kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah Khususnya di Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Manduamas. Berbeda lagi dengan Pakpak Boang yang menetap di wilayah kabupaten Singkil, khususnya di Kecamatan Simpang Kiri dan Kecamatan Simpang Kanan. Marga-marga Pakpak yang termasuk Pakpak Simsim, misalnya: marga Berutu, Padang, Bancin, Sinamo, Manik, Sitakar, Kebeaken, Lembeng, Cibro, dan lain-lain. Marga Pakpak Keppas misalnya: marga Ujung, Capah, Kuda diri, Maha dan lain-lain. Marga Pakpak Kelasen misalnya: Tumangger, Tinambunen, Kesogihen, Meka, Maharaja, Ceun, Mungkur dan lainlain. Marga Pakpak Boang, misalnya: Saraan, Sambo, Bacin dan lain-lain. Pemegang hak Adat Pakpak “Sulang Silima” di wilayah Pakpak Pegagan adalah marga Matanari di wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung, marga Manik diwilayah Kuta Manik dan Kuta Usang, dan marga Lingga di wilayah Kuta Raja dan Kuta Posong. Tidak ada kuta di wilayah/daerah Pakpak Pegagan yang unsur-unsur “Sulang Silima” nya marga Padang Batak. Rumah Adat Pakpak yang hanya dapat dimiliki Raja Kuta (pemegang hak Wilayat) diantaranya dijumpai di Balna Sikabeng-kabeng, yakni dinamai “Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh” dan didepan rumah tersebut terdapat Bale Dada Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Sumatera Adat Pakpak dinamai “Bale Silendung Bulan”. Rumah dan Bale Adat Pakpak ini hancur dikarenakan Angin Topan dan simakan usia pada tahun 1984. Marga Manik dan Lingga mengakui abang mereka (paling tua) adalah pemilik wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung yaitu marga Matanari Pakpak Pegagan. Tidak diberikan izin membangun Rumah Adat Pakpak di segala dusun/desa. Misalnya, dusun Sikonihan dekat kota Sumbul adalah dusun perantauan (pengembangan) marga Matanari. Didusun/desa ini dahulu tidak diijinkan didirikan Rumah Adat Pakpak, walaupun kuta (kampung) marga Matanari juga. Rumah adat Pakpak dahulu ada di Balna Sikabengkabeng dan Kuta Gugung. Rumah Adat Pakpak yang di Kuta Gugung dahulu dibakar saat perang saudara, sedangkan Rumah adat Pakpak yang di Balna Sikabeng-kabeng hancur akibat Angin Topan 1984 dan lapuk termakan usia. Wilayah Pakpak Keppas diawali yang dari daerah Sicikeh-cikeh (daerah ParawisataHutan Lindung) hinga meluas ke daerah Sitinjo (marga Capah) ke Simpang Tolu (marga Kudadiri), daerah Sisikalang (marga Ujung), Sidiangkat (marga Angkat) wilayah BintangPancuran (marga Bintang). Marga Sinamo dan Gajah Manik pergi dan tinggal ke wilayah Pakpak Simsim. Wilayah Pakpak Simsim adalah kabupaten Pakpak Bharat (dahulu hanya terdiri dari kecamatan Kerajaan dan kecamatan Salak). Marga-marga Pakpak Simsim antara lain adalah Solin, Padang, Bancin, Banurea, Barasa (Brasa), Brutu, Manik Kecupak, Gajah, Kabeakan, Lembeng, Sitakar, Tinendung, maupun Padang Batanghari. Wilayah Pakpak Kelasen adalah daerah Parlilitan dan sekitarnya terdiri dari beberapa marga antara lain Tinanbunan, Tumangger, Maharaja, Turutan, Pinayungan, Anak Ampun (Nahampun). Meka, Mahulae, Buaton, Kesugihen. Siketang, dan lain lain. Sedangkan Pakpak Boang adalah di daerah Boang, Singkil dan daerah Aceh. Selain alasan faktor tersebut di atas, pada umumnya marga-marga Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) akibat letak daerahnya sangat dekat dengan wilayah tanah Karo, Simalungun dan Samosir dan Humbang maka sudah beberapa generasi mereka (Pakpak Pegagan terutama
11 marga Matanari) telah kawin mayoritas dengan suku Batak Toba. Lambat laun bahasa yang digunakan sehari-hari sdslsh bahasa Batak Toba, dan adat istiadat dipakai adalah Adat Batak Toba (karena hula hula dan Boru hampir semuanya suku Batak Toba). Dalam menjalankan Adat Batak Toba, marga Matanari membutuhkan saudara semarga. Kenyataan ini menyebabkan marga Matanari dan Pakpak Pegagan lainnya (Manik dan Lingga) telah lama mengaku keturunan marga Sihotang. c. Interaksi dengan dunia Luar Dan akhirnya pengaruh marga-marga keturunan Si Raja Oloan juga berpengaruh kuat terhadap marga Matanari (terutama di perantauan). Kenyataan yang sebenarnya adalah marga Matanari-lah yang memberikan tanah (parhutaan) kepada marga Sihotang yaitu huta Sihotang Nahornop dekat daerah Balna Sikabeng-kabeng. Sebelum kuat pengaruh Sihotang di wilayah Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dan Naibaho di wilayah Pakpak Keppas (Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Sinamo, dan Gajah Manik), maka antar margamarga suku Pakpak di atas masih saling kawin. Misal Matanari kawin dengan marga Bintang, atau Capah ataupun marga Lingga. Adek perempuan Ranimbani boru Matanari (istri Loho Raja) ada dua orang, masing-masing kawin dengan marga Bintang dan marga Maha. Marga Maha adalah suku Pakpak yang mengaku dirinya marga Silalahi dan Sembiring Maha di Tanah Karo. Akibat jumlahnya relatip sedikit maka pada umumnya banyak suku Pakpak merobah marganya di perantauan. Misalnya marga Matanari yang merantau ke Tanah Karo, Tigalingga dan Tanah Pinem merobah marganya menjadi Karo-karo, Sitepu, Sinulingga, dan lain lain. Marga Matanari yang merantau ke daerah Deli, Riau, Jambi, Benhgkulu, pulau Jawa, Irian jaya dan lain lain ada yang merobah marganya menjadi marga Sihotang. Pengaruh ajaran Agama yang sangat melarang (bertentangan dengan) kebiasaan adat dan budaya Pakpak, menyebabkan sebahagian suku Pakpak lambat laun mudah lupa (menghilangkan) marganya. d. Interaksi dengan Dunia Luar Seperti suku-suku lain di Indonesia, suku Pakpak juga mengalami kontak dengan dunia luar, terutama pada masa penjajahan Belanda. Kontak ini membawa perubahan besar dalam pola hidup, agama, dan budaya suku Pakpak. e. Pengaruh Agama Agama Kristen mulai masuk ke wilayah Pakpak pada abad ke-19 melalui misionaris dari luar. Meskipun agama tradisional masih dipraktikkan oleh sebagian kecil masyarakat, mayoritas suku Pakpak kemudian memeluk agama Kristen, terutama Kristen Protestan. f. Perkembangan Modern Seiring dengan perkembangan zaman, suku Pakpak mengalami perubahan signifikan dalam pola hidup dan kebiasaan mereka. Pendidikan, teknologi, dan modernisasi ekonomi telah mempengaruhi cara hidup mereka. 2. KEBUDAYAAN ETNIS PAKPAK A. Vocal Etnis Pakpak Etnis Pakpak tersebar di daerah sebelah Barat Sumatera Utara dan berada pada wilayah perbatasan antara Sumatera Utara dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Etnis
12 Pakpak, terdiri atas lima subetnis —Suak— yaitu, Pakpak Kêlasen, Pakpak Kêppas, Pakpak Simsim, Pakpak Pêgagan, Pakpak Boang. Kelima subetnis ini memiliki kesenian —musik— yang khas menurut ukuran kemantapan rasa musikal masing-masing, yang sering digunakan menjadi suatu penanda identitas subetnis tertentu. Hal ini terjadi karena dipengaruhi persebaran masing-masing subetnis Pakpak di Sumatera Utara, dan pengaruh unsur kebudayaan atau kelompok masyarakat yang ditemui pada tempat berdomisili.Perlu menjadi catatan, musik Pakpak di sini adalah musik tradisi etnis Pakpak yang menggunakan persepsi lama/ dulu. Maksudnya adalah: (1) musik yang masih menggunakan sistem pelarasan lima nada, yaitu Ni Na No La Le; (2) memiliki fungsi ritual atau kêrja adat, ungkapan perasaan dan emosi, gambaran situasi kehidupan masyarakat; (3) berisi filosofi kehidupan masyarakat Pakpak pada masa lalu; (4) belum menggunakan a inorchestra1 sebagai acuan pelarasan. Musik ini memiliki gaya khas dalam menggunakan ritme, ornamen, cengkok,2 legato,3 dinamika, dan aksen.4 Musik tradisi etnis Pakpak dapat ditemukan dalam berbagai peristiwa kehidupan etnis Pakpak di Sumatera Utara. Mulai dari kegiatan sehari-hari seperti bekerja di ladang, sawah, hutan, kêrja adat sampai bermain-main dan menidurkan anak. Musik initerbagi atas dua kelompok besar dalam teknik garapannya, yaitumusik vokal atau nyanyian dan musik instrumental. Musik vokal, disajikan dalam berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari yang bersifat cerita sastra, ungkapan perasaan, dan bermain. Ketika disajikan, dalam musik vokal Pakpak akan dijumpai tiga teknik utama, yaitu urgut,5 lenggang,6 dan mbernêng7 (Naiborhu, 2004: 160). Musik instrumental Pakpak ―gêndêrrang atau gêndang―menurut Silon Banurea, salah satu seniman tradisi etnis Pakpak, disajikan dalam proses kegiatan yang bersifat ritual. Kemudian, musik instrumental Pakpak ―sêngkole-sêngkole― disajikan untuk tujuan hiburan, pertunjukan, sajian di luar kêrja adat yang utama, dan kebutuhan estetika di luar konteks pertunjukan. Nyanyian Pakpak banyak digunakan untuk menunjukkan gambaran situasi, ungakapan perasaan, dan keadaan si pelaku. Terkadang, digunakan juga untuk merepresentasikan situasi lain yang mungkin dapat menginspirasi sesuatu atau berbagai hal dalam kehidupan melalui bentuk sajian sastra tutur. Nyanyian-nyanyian tersebut biasanya sangat kaya ekspresi emosisecara musikal, dan tidak jarang mampu menggugah perasaan pendengarnya. Nyanyian menjadi seperti efek berperilaku sekaligus solusi bersikap bagi masyarakat Pakpak dalam mengatasi tantangan di dalam hidup sejak jaman dulu. Persepsi dan sikap tersebut sangat banyak mempengaruhi Nyanyian-nyanyian yang ada dalam masyarakat Pakpak. Pada masa lalu, ketika seorang wanita yang akan menikah ingin menyampaikan ungkapan perasaannya kepada orang tua, dilakukan melalui nyanyian. Ketika seorang pria mengalami kesusahan hati yang mendalam, tidak boleh diceritakan ke orang lain, diungkapkan melalui nyanyian di dalam hutan agar tidak ada yang mendengar. disusunlah cerita sastra tutur yang diselipkan dalam nyanyian. Ekspresi dan perilaku yang disajikan dalam nyanyianbiasanya spontan terjadi dan mengalir begitu saja, seperti sudah terbiasa dan tidak canggung sehingga mampu membangun ―identitas‖ dan atmosfir yang sangat kuat dalam nyanyian tersebut. Ekspresi dan perilaku tersebut dapat disajikan mengalir secara spontan karena ada hal menjadi penyebab yang mendasarinya. Ada persepsi dan ukuran rasa di dalamnya yang sudah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Persepsi dan aturan tersebut seperti hukum yang mengatur cara mengolah bunyi dalam bernyanyi agar menghasilkan nyanyian Pakpak yangbaik. Bagi masyarakat Pakpak, tidak ada pelatihan khusus untuk menjadi penyaji
13 nyanyian Pakpak, yang penting adalah ―Sampaikan dengan segenap hati dan perasaanmu‖ seperti yang sudah dilakukan leluhur Orang Pakpak sejak dulu kala. ―Kalak arnia kin, mêrtuhu-tuhu ngo i nangênkên bagi kade si ni bagas ukur na‖, artinya kalau orang jaman dulu, apa yang di dalam hati mereka dinyanyikan ―disampaikan― dengan sungguh-sungguh (Resna br. Bêrutu, wawancara, 19 Agustus 2014). Perlu juga ditambahkan bahwa pengaruh dialek ketika mengucapkan bahasa Pakpak sudah seperti bernyanyi. Menjadi hal yang menarik ketika dikatakan bahwa nyanyian Pakpak merupakan sebuah hasil perilaku dari kesepakatan yang dibangun oleh kelompok masyarakat pemiliknya melalui rangkaian peristiwa-peristiwa dalam kebudayaan masyarakat Pakpak dan sudah diwariskan dari generai ke generasi. ―Nggo bagi kin ngo i bakin pêrtuanta arnia nai, kitêruskên mo kita”, artinya sudah seperti itu dibuat para orang tua sejak jaman dulu. Dalam masyarakat pakpak terdapat teknik vocal,yaitu odong odong. Oong-odong adalah sejenis senandung (ratapan) yang disajikan sebagai ungkapan perasaan untuk menghibur diri. Dalam menggunakan teknik vokal odong-odong dibutuhkan perasaan yang disampaikan melalui alunan senandung (ratapan). Ndersah Tading Melumang merupakan salah satu lagu dari Pakpak Bharat yang artinya sungguh menderita hidup menjadi yatim piatu. Sebuah ungkapan makna tentang keluh kesah, ratapan, serta tangisan seorang anak yatim piatu yang berjuang menerima keadaan. Lagu ini mengandung nilai tersendiri bagi masyarakat Pakpak Bharat. Dalam menyanyikan lagu Ndersah Tading Melumang dibutuhkan teknik vokal. Ada beerapa jenis musik vokal yang terdapat pada masyarakat pakpak yang dibedakan berdasarkan fungsi dan penggunaannya masing-masing yaitu sebagai berikut. 1. Tangis Milangi Tangis Milangiatau disebut juga tangis-tangis adalah kategori nyanyian ratapan (lamenta) yang disajikan dengan gaya menangis. Disebut tangis milangi karena hal-hal mengharukan yang terdapat di dalam hati penyajinya akan dituturkan-tuturkan (Pakpak: ibilang-bilangken, milangi) dengan gaya menangis (Pakpak : tangis). Ada beberapa jenis tangis milangi yang terdapat pada masyarakat Pakpak, yaitu sebagai berikut: a. Tangis si jahe adalah jenis nyanyian yang disajikan oleh gadis (female song) menjelang pernikahannya. Teksnya berisi tentang ungkapan kesedihan karena harus berpisah dengan anggota keluarganya. Gadis tersebut tentunya akan meninggalkan keluarganya untuk bergabung dengan keluarga suaminya. Selain itu, teks teks nyanyian ini juga berisi tentang semua hal menyedihkan yang mungkin akan dialaminya di lingkungan keluarga suaminya. Walaupun dinyanyikan dengan gaya menangis, namun maksud utama dari tangis ini ialah agar orang yang ditangisi merasa terharu dan selanjutnya akan memberikan petuah-petuah atau nasehat dan berupa materi kepada si gadis yang akan menikah tersebut. Nasehat yang diberikan umumnya adalah tentang petunjuk hidup berumah tangga dan semua hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bersuami-istri. Nyanyian ini disajikan dengan menggunakan melodi yang berulang-ulang (repetitif) dengan teks yang berubahubah.
14 b. Tangis anak melumang, tangis ini disajikan oleh pria maupun wanita dari semua tingkat usia. Isi teksnya adalah ungkapan kesedihan ketika terkenang kepada orang tua yang sudah meninggal dunia. Perpisahan akibat kematian dan penderitaan yang dialami si anak atas sepeninggal orangtua tersebut adalah isi dari teks nyanyian ini. biasanya nyanyian ini disajikan pada saat-saat tertentu, seperti ketika berada di hutan, di ladang, di sawah atau tempat- tempat sepi lainnya. Nyanyian ini juga lebih mengutamakan teks daripada melodi. Teksnya berubah-ubah dengan pengulanganpengulangan melodi yang sama. c. Tangis simate adalah nyanyian ratapan (lament) kaum wanita ketika salah seorang anggota keluarga meninggal dunia. Disajikan pada saat si mati tersebut masih berada di hadapan orang yang menangis sebelum dikebumikan. Teksnya berisi tentang hal-hal atau perilaku yang paling berkesan dari si mati semasa hidupnya, kebaikan dan kelebihan- kelebihannya serta kemungkinan kesukaran hidup yang akan dihadapi keluarga atas sepeninggal orang yang meninggal tersebut. Melalui tangis ini pula orang-orang yang melayat dapat lebih mengetahui dan mengenal sifat- sifat dari orang yang meninggal tersebut dan yang lebih utama lagi adalah bahwa melalui nyanyian ini para pelayat akan di bawa ke dalam suasana duka yang mendalam melalui gaya tangis simate tersebut sehingga dengan demikian pelayat akan tergerak bersatu ke dalam suatu perasaan sepenanggung sependeritaan. Nyanyian ini adalah nyanyian strofik yang mengutamakan teks daripada melodi. Teks yang disajikan berubah-ubah dengan pengulanganpengulangan melodi yang sama. 2. Ende-ende Mendedah Ende-ende mendedah adalah sejenis nyanyian lullaby atau nyanyian menidurkan anak yang dinyanyikan oleh si pendedah (pengasuh) baik kaum pria maupaun wanita untuk menidurkan atau mengajak si anak bermain. Jenisnya terdiri dari orih-orih, oahoa, dan cido-cido. Ketiga jenis nyanyian ini menggunakan teks yang selalu berubahubah dengan melodi yang diulang-ulang (repetitif). 3. Orih-orih Orih-orih ialah nyanyian untuk menidurkan anak yang dinyanyikan oleh si pendedah (pengasuh) orangtua atau kakak baik pria maupun wanita. Si anak digendong sambil i orih-orihken (sambil menina bobokkan si anak dalam gendongan) dengan nyanyian yang liriknya berisi tentang nasehat, harapan, cita-cita maupun sebagai curahan kasih sayang terhadap si anak tersebut. 4. Oah-Oah Oah-oah sering juga disebut kodeng-kodeng, yaitu jenis nyanyian yang teksturnya sama dengan orih-orih. Yang membedakannya ialah cara dalam menina bobokkan si anak. Jika orih-orih disajikan sambil menggendong si anak, maka oah-oah disajikan sambil mengayun si anak pada ayunan yang digantungkan pada sebatang kayu di rumah maupun di pantar (gubuk, dangau) yang terdapat di ladang atau di sawah.
15 5. Cido-Cido Cido-cido adalah nyanyian untuk mengajak si anak bermain. Tujuannya ialah untuk menghibur dengan membuat gerakan-gerakan yang lucu sehingga si anak menjadi tertawa dan merasa senang. Gerakan-gerakan tersebut biasanya ditampilkan pada akhir frasa lagu. Si anak digoyang- goyang, diangkat tinggi-tinggi, dicolek atau disenyumi yang menimbulkan rasa senang, geli atau lucu sehingga si anak menjadi tertawa. Teks lagu yang disajikan umumnya berisi tentang nasehat, petuah-petuah maupun harapanharapan agar kelak si anak menjadi orang yang berguna dan berbakti pada keluarga. 6. Nangen Nangen ialah nyanyian yang disajikan pada waktu mersukut-sukuten. Setiap ucapan dari tokoh-tokoh yang terdapat pada cerita tersebut disampaikan dengan gaya bernyanyi. Ucapan tokoh tokoh yang terdapat dalam cerita yang dinyanyikan itulah yang disebut nangen, sedangkan rangkaian ceritanya disebut sukut-sukuten. Apabilaseluruh rangkaian cerita dan ucapan para tokoh cerita disampaikan dengan gaya bertutur, maka kegiatan ini disebut dengan sukut-sukuten (bercerita), sedangkan cerita yang menyertakan dalam penyampaiannya disebut sukut-sukuten pake nangen. Namun, pada umumnya sukut sukuten yang menarik haruslah berisi nangen. Kegiatan mersukut-sukuten biasanya dilakukan oleh para tua-tua yang sudah lanjut usia. Cerita sukut-sukuten umumnya berisi tentang pedoman-pedoman hidup dan teladan yang harus dipanuti berdasarkan perilaku yang diperankan oleh tokoh yang terdapat dalam cerita. Tokoh yang baik menjadi panutan sedangkan tokoh yang jahat dihindari. Pencerita (persukut-sukuten) haruslah seorang yang cukup ahli menciptakan karakter tokoh-tokoh melalui warna suara nangen yang berbeda-beda satu sama lainnya sehingga menarik untukdinikmati.Adapun sukut-sukuten yang cukup dikenal oleh masyarakat Pakpak adalah Nandorbin, Sitagandera, Nan Tampuk Mas, Manuk-manuk Si Raja Bayon, Si buah mburle dan lain sebagainya. 7. Ende-ende Mardembas Ende-ende Mardembas adalah bentuk nyanyian permainan di kalangan anak-anak usia sekolah yang dipertunjukkan pada malam hari di halaman rumah pada saat terang bulan purnama. Mereka menari membentuk lingkaran, membuat lompatan-lompatan kecil secara bersama-sama sambil bergandengan tangan dan melantunkan lagu-lagu secara chorus (koor) maupun solo chorus (nyanyian solo yang disambut oleh koor). Pada malam hari kelompok perempuan dewasa sedang menumbuk padi, maka biasanya pada saat itulah anak-anak melakukan kegiatan mardembas. Isi teksnya adalah menggambarkan keindahan alam serta kesuburan tanah Pakpak yang dinyanyikan dengan pengulangan melodi (repetitif) dimana teksnya berubah-ubah sesuai pesan yang disampaikanya. 8. Ende-ende Memuro Rohi Ende-ende Memuro Rohi, nyanyian ini termasuk ke dalam jenis work song, yaitu nyanyian yang disajikan pada saat bekerja. Biasanya dinyanyikan ketika berada di ladang atau di sawah untuk mengusir burung- burung agar tidak memakan padi yang
16 ada di ladang atau di sawah tersebut. Kegiatan muro (menjaga padi) ini biasanya menggunakan alat yang disebut dengan ketter dan gumpar yang dilambai-lambaikan ke tengah ladang padi sambil menyanyikan ende-ende memuro rohi. Jenis-jenis kesenian di atas, baik seni musik maupun musik vokal sudah jarang dtemukan. Seni musik tradisional tersebut sudah digantikan dengan alat musik keyboard dalam upacaraupacara adat, baik upacara perkawinan maupun upacara kematian. Begitu juga dengan musik vokal yang sudah sangat jarang ditemukan, namum masih ada beberapa musik vokal yang masih ditemukan seperti tangis simate dan tangis anak melumang. Selanjutnya di dalam kebudayaan masyarakat pakpak ini terdapat alat musik yang khas yang disebut dengan ketter dan gumbar, yaitu mengekspresikan kebudayaan masarakat agraris, khususnya berkaitan dengan bercocok tanam padi. Ketter dan gumpar adalah alat yang terbuat dari bambu. 9. Odong-Odong Odong-odong adalah sebuah nyanyian ratapan dari seorang pengambil getah kemenyan di hutan belantara. Seorang pengambil kemenyan seringkali pergi berharihari masuk ke dalam hutan. Mereka melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang menginap, para pengambil kemenyan perlu diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan sehari-hari untuk tinggal di hutan, termasuk golok dan alat untuk mencongkel getah kemenyan. Odong-odong selalu dinyanyikan di tempat sunyi, di tempat hutan rimba kayu. Saat berada di atas pohon kemenyan, si penyanyi menumpahkan semua kerinduan dan harapan yang mengalir di nadinya. B. Alat Musik Alat-alat musik Pak-pak terdiri dari perkusi (gendang dan gong) dan alat musik melodis seperti kalondang, lobat dan sordam semacam seruling. 1. Gung Sada Rabaan Terdiri dari: cilat-cilat, pong pong, poi, tapuldep, jujur penggora Cilat-cilat berupa lempengan besi yang berjumlah dua buah dan penggunaannya dengan cara di gesekkan antar lempeng besi tersebut. Pong-pong, Poi, Tapuldeng Jujur Penggora adalah alat musik pukul seperti gung yang memiliki nada yang berbeda-bedan berbahan dasar kuningan. Alat musik ini dibunyikan dengan cara dipukul dengan alat pemukul.
17 2. Genderrang Sada Rabban Alat Musik Pukul seperti gendang yang terdiri dari 9 (sembilan) buah dengan nada yang berbeda beda dan terbuat dari bahan kayu dan kulit sapi atau kerbau. alat pukulnya berupa dua bilah kayu bulat 3. Kalondang Kalondang merupakan alat music yang terdiri dari 9 belah kayu yang berbeda-beda dan menurut masyarakat Pakpak merupakan ilo-ilo atau alat musik yang disenangi oleh semua kalangan.Alat Musik Pukul yang terdiri dari 9 (sembilan) buah bilah kayu 4. Kucapi Kucapi merupakan alat musik petik yang terbuat dari kayu, memiliki dua buah senar yang terbuat dari nilon dan memiliki dua fred. Alat musik ini termasuk kedalam klasifikasi alat
18 musik kordofon, sumber klasifikasi long neck lut yang sumber penghasil bunyinya berasal dari senar. Alat Musik Petik terbuat dari bahan Kayu Geccih dan benang kerrih 5. Gerantung Sada Rabaan Gung Sada rabaan adalah alat musik pukul seperti gung yang memiliki nada yang berbeda-bedan berbahan dasar kuningan. Alat musik ini dibunyikan dengan cara dipukul dengan alat pemukul. Terdiri dari 4(empat) Buah terbuat dari bahan Kuningan 6. Gendang Sidua-Dua. Gendang sidua dua adalah nama ensambel musik tradisional di suku Pakpak. Gendang Siuda-dua terdiri dari sepasang gendang dua sisi berbentuk barrel double,Dalam penerapannya Gendang sidua dua memiliki dua fungsi, pertama sebagai alat untuk mengiringi upacara ritual menggali tulang belulang leluhur,kedua sebagai gendang penyambutan maupun gengdang penobatan kepada Pertaki (Raja atau pimpinan tertinggi di suku Pakpak) disebut juga mengera era. Alat Musik pukul terdiri dari dua buah dan terbuat dari bahan kayu dan kulit lembu/kambing 7. Sordam
19 Sordam (long flute) adalah salah satu alat musik Batak Toba yang terbuat dari bambu, yang dimainkan dengan cara meniup dari ujungnya (up blown flute) dengan meletakkan bibir pada ujung bambu secara diagonal. Alat Musik Tiup terbuat dari bahan bambu dengan jumlah lobang sebanyak 4(empat) buah. 8. Genggong. Genggong, alat musik petik dan tiup yang terbuat dari besi, paku ataupun rusuk payung, dibuat berlidah alat ini dimainkan di antara dua bibir dan dirapatkan pada gigi lalu lidahnya di getarkan sambil menghirup udara dan bibir komat kamit untuk membuat nadanya. Alat musik ini memiliki suara yang sangat pelan. Alat musik tiup dari bahan besi seperti potongan katak dan cara penggunaanya dengan cara ditiup 9. Saga-Saga Alat musik Sagasaga terbuat dari sisik pelepah Borta (nira) atau pohon enau. Alat ini berbentuk persegi panjang dan pada sisinya terpasang seutas tali benang. Untuk memainkan Sagasaga ini, tali benang ditarik-tarik dan didekatkan pada mulut si pemakainya. Untuk mengatur nada-nya, tergantung pada bukaan mulut sipemakai Terbuat dari Kulit Bambu/Pangguh Pola 10. Sarune Alat musik sarune terbuat dari kayu dan diberi pit (penghasil bunyi), juga ada dibuat penahan bibir dari tempurung dan diberi pembesar suara. Sarune mempunyai lima lubang dan diberi satu lubang jendela. Sarune suaranya kuat sehingga dapat terdengar sedikit jauh. Alat Musik Tiup dan Sarune biasa dibuat dari bahan kayu. 11. Lobat
20 Alat music Lobat adalah alat musik warisan leluhur masyarakat Pakpak Bharat, Sumber utama penggetar bunyi Lobat adalah udara atau disebut aerofon, Lobat adalah salah satu instrument melodis yang ada pada ensambel oning-oningen atau gendrang sitelluAlat musik Tiup terbuat dari bahan bambu kecil dengan jumlah lobang sebanyak lima buah dan bertutup kayu 12. Suling/ Seruling/sulim, alat musik terbuat dari bambu yang memiliki 7 lobang cara memainkan nya di tiup. Alat musik tiup terbuat dari bahan bambu dengan jumlah lobang sebanyak 7(tujuh) buah. 13. Taratoa Taratoa, alat musik mirip dengan Sarune namun taratoa terbuat dari bambu tiga sambung. Alat Musik Tiup terbuat dari Bambu 14. Cipako Cipako, alat musik yang terbuat dari buah cipako atau kulit buah pangi, memiliki tiga lobang, satu penghasil bunyi dua penghasil nadaAlat Musik Tiup terbuat dari Bambu C. Tarian Etnis Pakpak Kabupaten Pakpak Bharat merupakan salah satu dari 8 kabupaten kota yang mengelilingi Danau Toba. Kabupaten Pakpak Bharat dominan ditempati oleh Suku Pakpak. Tentang Kabupaten Pakpak Bharat, sama halnya dengan berbagai daerah lainnya yang kaya akan keragaman seni budaya dan destinasi wisata alam. Kali ini kita akan membahas beberapa jenis dari puluhan jenis tari tradisional Khas Pakpak di Kabupaten Pakpak Bharat. Tarian
21 tradisional ini identik dengan pola kehidupan sehari-hari Suku Pakpak. Tari tradisional Pakpak kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun acara biasa. Pengertian tari dalam Bahasa Pakpak adalah Tatak. Etnis Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat. Pakpak memiliki khasanah tarian tradisional yang identik dengan pola kehidupan sehari-hari suku Pakpak. Tari tradisional Pakpak kerap ditampilkan dalam acara adat maupun acara biasa. Tari dalam Bahasa Pakpak adalah Tatak. Berikut jenis tarian tradisional Pakpak : 1. Tatak Menapu Kopi Kopi merupakan salah satu jenis hasil pertanian di Tanah Pakpak. Tatak Muat Kopi ini menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen kopi, menumbuk kopi dan menjemur kopi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi (petani) di kampungnya saat datang musim panen. 2. Tatak Garo-garo Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawannya. Tatak Garo Garo merupakan tatak yang menceritakan tentang seorang perempuan yang sedang mencari pasangan di kampungnya namun tidak juga menemukannya karena pemuda yang dicari sedang pergi merantau ke kampung seberang. Suatu ketika mereka bertemu dan akhirnya pemuda tersebut membawa
22 pulang sang kekasih. Tatak ini biasa diiringi dengan lagu pertangis-tangis Menci. Masyarakat Pakpak sendiri menari-kan tarian ini ketika masa panen tiba yang menandakan sukacita masyarakat atas panen yang berlimpah. 3. Tatak Dembas Simanguda Tari ini menceritakan tentang doa dan mohon berkat petani yang disampaikan kepada nenek moyang (Sarat spiritual magis yaitu animisme karena menyebut berkali-kali "Mpung") agar diberi kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan pekerjaan. 4. Tatak Muat Page/Menabi Page Tatak Muat Page/ Menabi Page menceritakan bagaimana proses mulai dari memanen padi, mengerrik (Memisahkan padi dari batangnya dengan menggunakan telapak kaki), membawa pulang kerumah yang dilakukan oleh pemuda-pemudi di kampungnya saat datang musim panen. Taktak ini menggambarkan kegembiraan dari para muda-mudi. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu, para muda-mudi di daerah Pakpak hanya dapat bertemu dan berbicara lebih dekat satu sama lain pada saat masa panen. Tatak ini menggambarkan tentang kegembiraan dalam memanen padi. 5. Tatak Renggisa
23 Renggisa merupakan jenis burung yang selalu setia terbang bersama pasangannya. Tatak Renggisa ini menceritakan tentang keserasian sepasang Renggisa yang berwarna putih dengan Renggisa yang berwarna hitam terbang melewati bukit-bukit sambil mengepakkan sayapnya secara bergantian sehingga menghasilkan suara yang enak didengar. Cerita ini diibaratkan dengan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dan saling setia antara yang satu dengan yang lainnya. 6. Tatak Menerser Page Tatak ini diciptakan dari kegiatan masyarakat saat panen Padi, Tatak ini menggambarkan bagaimana proses bercocok tanam mulai dari memanen padi "menabi", mengerrik, membersihkan dan membawa pulang hasil panen padi tersebut. 7. Tatak Nantampuk Emas
24 Tatak Nantampuk Mas berarti tarian putri Nantampuk Mas, dinamakan Nantampuk Mas, karena dulunya Tatak ini hanya ditarikan oleh putri raja (Beru Pertaki) yang bergelar Nantampuk Mas. Dalam kesehariannya, sang putri selalu mengisi waktu senggangnya dengan menari bersama para dayang di kediamannya, atau yang dalam bahasa Pakpak disebut jero. Dikarenakan ketidaksengajaan para dayang menarikan Tatak tersebut di luar istana, membuat Tatak ini akhirnya di kenal oleh masyarakat Pakpak di luar istana. Pada masa sekarang ini, masyarakat Pakpak lebih mengenal Tatak Nantampuk Mas sebagai Tatak persembahan ini ingin menunjukkan bagaimana keramah tamahan perempuan-perempuan Pakpak kepada para tamu-tamu undangan, yang biasanya di pertunjukan dalam upacara seremonial pemerintahan maupun acara hiburan yang dipertunjukkan di lapangan maupun gedung-gedung pemerintahan. Penarinya terdiri atas tiga atau tujuh orang perempuan maupun lebih, namun harus ganjil dan merupakan perempuan-perempuan pilihan yang berambut panjang serta merupakan gadis-gadis tercantik yang ada di suku tersebut. 8. Tatak Ndembas Tarian ini mirip dengan Tatak Nantampuk Emas, perbedaannya kalau Tatak ini boleh di tari kan oleh kaum ibu-ibu. Disebut Tatak Ndembas, karena tarian ini di tari kan sambil bernyanyi dan umumnya tarian ini merupakan ungkapan penyesalan ataupun pelampiasan dari para ibu-ibu yang mengalami kawin paksa ataupun yang mengalami tekanan-tekanan sehingga mengharuskan untuk menikah. Isi daripada nyanyian yang dinyanyikan pun juga merupakan ungkapan-ungkapan kekesalan ataupun hal-hal yang mengganjal di hati dikarenakan mereka tidak dapat melawan kata orangtuanya.
25 9. Tatak Balang Cikua Dalam kepercayaan suku Pakpak Balang Cikua "Cangcorang" dapat memberikan informasi kepada kita dengan menggunakan kaki depannya apabila kita bertanya kepadanya. Tatak Balang Cikua ini menceritakan tentang sepasang muda-mudi yang tersesat di hutan dan tidak tau arah pulang dan dari kepercayaan tersebut muda-mudi tersebut menangkap Balang Cikua "Cangcorang" dan bertanya kemana arah untuk keluar dari hutan. 10. Tatak Mendedohi/ Menganjaki Takal-takal Taktak ini dulunya adalah rangkaian upacara ritual bagi orang Pakpak, dimana mereka menginjak-injak kepala musuh atau tawanan yang sudah di penggal dan kemudian di rebus. Namun sekarang tatak ini di tari kan dengan menggunakan replika kepala manusia untuk di injak dan sudah menjadi bagian pertunjukan bagi masyarakat Pakpak. 11. Tatak Merjuma
26 Tatak Merjuma merupakan tari kreasi Pakpak Dairi Sumatera Utara, gerakan dalam tarian ini menceritakan hiruk pikuk kehidupan petani dalam mengolah ladang mereka. Penggarapan Tatak Merjuma tidak terlepas dari unsur kebudayaannya serta tidak menghilangkan nilai-nilai dari etnis Pakpak. 12. Tari Tatak Mengindangi Tatak ini menggambarkan tentang suasana menumbuk padi pada masyarakat Pakpak. Dan Tari ini menggambarkan tentang muda-mudi mulai dari tahap berkenalan hingga menjalin hubungan pada saat menumbuk padi. Pada saat perempuan mulai menumbuk padi, maka pemuda-pemuda yang ada di kampung tersebut akan berdatangan karena mendengar suara tumbukan lesung. Sehingga terjadilah perkenalan dengan saling berbalas pantun.
27 13. Tatak Persembahan Tari Tatak ini biasanya dibawakan pada pembukaan acara dan bertujuan untuk memberikan sambutan dan selamat datang kepada para tamu dan undangan dalam suatu kegiatan. Tari ini biasa diiringi dengan lagu. D. PAKAIAN ADAT ETNIS PAKPAK Pakaian adat pakpak memiliki keunikannya tersendiri. Pakaian adat Pakpak melambangkan perjuangan, pengorbanan, keberanian, kewibawaan, dan kemakmuran. Pakaian adat ini juga menggambarkan keagungan dan kesantunan. Pakaian adat Pakpak didominasi warna hitam, putih, dan merah. Warna merah pada ornamen pakaian adat Pakpak melambangkan kekuatan dalam pekerjaan dan kehidupan. Pakaian adat Pakpak lebih sering digunakan pada acara pesta dan upacara adat, bukan untuk penggunaan sehari-hari. Busana budaya Pakpak (Pakaian Adat Pakpak) yang lazim digunakan kini oleh masyarakat Pakpak adalah busana kebanggaan yang menggambarkan keagungan, tetapi penuh kesantunan. Ada demikian banyak perangkat yang melekat dalam baju Pakpak secara Paripurna. Tidak dipungkiri bahwa tentu, bentuk jenis bahan dan coraknya mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan busana secara nasional tentu pula memberikan pengaruh kuat. Terutama perkembangan teknologi pertekstilan. Selain itu, pemakaian busana (Baju Adat Pakpak) dimaksud lebih dikonotasikan dalam penggunaan pada pesta-pesta (upacara adat ) atau kerja-kerja baik kerja njahat maupun kerja mbaik. Jadi bukan pada penggunaan keseharian. Busana ini kemudain terdokumentasikan secara kolektif oleh masyarakat Pakpak sebagai penggunanya. Warna dominan pada busana Pakpak sebagaimana umumnya warna busana melayu adalah hitam, ditambah dengan variasi warna merah dan putih. Ketiga warna ini sering disebut “bennang sitellu rupa” dan diyakini sebagai warna dasar bagi masyarakat Pakpak. Meskipun dalam busana, warna merah putihnya tidak menonjol. Warna itu tidak saja terrefleksi pada baju tetapi juga pada oles dan peralatan lainnya. Berikut ini Busana dan Perlengakpan Pakaian adat Pakpak: 1. Pakaian Adat Pakpak Untuk Pria a. Baju Merapi-Api
28 Baju model melayu leher bulat berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manik-manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Ada beberapa variasi lain yang melekat dan pada leher dan ujung lengan terdapat warna merah putih. b. Bulang-Bulang Bulang-bulang Adalah penutup kepala, sebuah lambang kehormatan dan kewibawaan, dibetuk sedemikian rupa dari bahan oles perbunga mbacang. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Saat Mengenakan Baju Adat Pakpak pada saat pembukaan pekan raya Sumut (PRSU) tahun 2011 di Medan c. Celana Panjang Celana panjang berwarna hitam, sama dengan kemeja pada ujungnya juga terdapat variasi warna merah dan putih. Ukurannya umumnya tidak sampai menyentuh ujung kaki melainkan berada pada posisi tanggung, seperti celana yang biasa digunakan oleh atil silat atau karate. d. Sarung (Oles Sidosdos)
29 Celana panjang hitam kemudia ditutupi oleh oles sidosdos secara melingkar dengan ujung yang terbuka didepan. e. Borgot Kalung yang terbuat dari emas, baik emas murni atau perak dilapisi emas. Sangat tergantung pada kemampuan ekonomi pemilik atau penggunanya. Rangkaian emas yang diikat dengan benang Sitellu rupa dan diujungnya terdapat mata kalung bergambar kepala kerbau. Rangkaiannya terdiri dari 32 keping f. Sabe-Sabe
30 Oles Polang-polang atau pada pemakai yang punya keberadaan lebih tinggi oles Gobar, diletakkan pada bahu sebelah kanan terurai dari belakang hingga kedepan. Oles dilipat dan disesuaikan dengan corak oles. g. Rempu Riar Sejenis pisau yang dibungkus dengan sarung yang diliti atau dilapisi emas atau perak (riar=uang jaman dahulu). Diselipkan di pinggang melalui rante abak. h. Rante Abak Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya. i. Ucang Anyaman daun pandan (legging) berbentuk tas dihiasi dengan manik-manik dengan tali terbuat dari kain berwarna merah. Bisa dilatakkan pada bahu sebelah kiri namun sesekali juga dipegang oleh pemakai. j. Tongket Tongkat yang sering juga dinamai tongket balekat, terbuat dari kayu berkwalitas tinggi, pada kepala dan batangnya terukir dengan gerga pakpak. Beberapa bukunya diikat dengan bahan emas, perak, atau loyang.
31 2. Pakaian Adat Pakpak Untuk Wanita a. Baju Merapi-Api Baju modelleher segitiga berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi dengan manikmanik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Berebda dengan pria variasi warna merah putih tidak ditemukan, namun disekitar lengan atas terdapat manik-manik dengan gambar terlihat seperti kepala kerbau. Demikian juga pada ujung lengan. Kancing yang digunakan pada kemeja ini berbentuk bulat melingkat berlobang dengan ukuran jari-jari 3 Cm b. Sarung (Oles Perdabaitak) Hampir sama dengan Pria, oles perdabaitak dililit pada pinnggang secara melingkar. c. Saong Tutup kepala yang dibentuk sedemikian rupa dengan oles silima takal. Pada wanita muda dibentuk lonjong dengan sudut runcing kebelakang, dengan rambu yang terurai di
32 dahi. Namun pada usia dewasa bentuknya lebih sederhana dengan rambu terurai kebelakang. d. Leppa-Leppa Kalung wanita dengan bentuk dan bahan yang sama dengan pria. Bedanya dengan pria barangkali karena tidak ata mata kalung sebagaimana yang terdapat pada borgot. Jumlah rangkainnya juga berbeda dan cenderung lebih pendek. e. Rante Abak Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya. f. Rabi Munduk Sejenis Pisau yang terbuat dari besi dengan ujung pisau melingkar kecil keatas, gagangnya (sukul) terbuat dari jenis kayu berkwalitas tinggi, berukir dan ujungnya dililiti emas atau perak. g. Papuren Sejenis sumpit dari rajutan atau anyaman daun pandan dilapisi dengan api-api (manikmanik). Sama dengan pria sumpit ini juga bertali berwarna merah. h. Culapah Kotak kecil tempat tembakau dengan bahan yang terbuat bdari emas, perak atau loyang berukir sesuai gerga atau ornamen Pakpak yang ada. Ukurannya lebih kurang 6 x 8 cm. i. Kancing Emmas
33 Kancing bulat (berbentuk lingkaran) namun dengan lobang ditengah. Jari-jari lebih kurang 3-4 cm. Terbuat dari emas, perak atau logam yang dilapisi emas. Fungsinya sebagai hiasan, dan menutupi kancing sebenarnya. Artinya umumnya tidak berfungi sebagai kancing dalam artian yang sebenarnya, hanya merupakan assesories semata. Dalam perkawinan adat Pakpak pengantin berserta kedua keluarga menggunakan pakaian adat Pakpak. Selama berjalannya upacara adat, hanya saja ini sudah kurang terjadi ketikaseluruh keluarga memakai pakaian adat saat upacara adat berlangsung. Banyak makna yang terkandung didalam upacara adat dan pakaian adat Pakpak. Dari hasil penelitian ini, peneliti berhasil, mengungkap apa makna dan fungsi dari pakaian Pakpak. Pakaian adat Pakpak melambangkan akan perjuangan, pengorbanan, keberanian, kewibawaan dan juga tanda kemakmuran. Pakpak Bharat memiliki banyak sekali kebuadayaan yang sepenuhnya belum diketahui masyarakat luas. Adapun teknik pengampulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu obeservasi partisipasi dan wawancara mendalam. Dimana penulis mengikuti secara langsung berjalannya bebarapa acara perkawinan adat Pakpak. E. RUMAH ADAT ETNIS PAKPAK
34 Pemilik rumah adat Pakpak atau bisa di sebut yang menciptakan adalah Suku Batak Pakpak salah satusuku bangsa di Indonesia yang tersebar dibeberapa kabupaten atau kota di Sumatara Utara dan Aceh sampai sekarang masih ada. Contoh kabupaten yang menaungi Suku Batak Pakpak seperti Kabupaten Dairi, Kabupaten PakpakBarat , Kabupaten Humbang Hasudutan, Tapanuli Tengah (Sumatera Utara ), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sumbulsalam (Perovinsi Aceh). Dalam data pemerintahan yang telah terdaftar banyak Suku Pakpak yang bermukim di wilayah Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian lebih di kembangkan lagi wilayahnya oleh pemerintahan setempat pada tahun dua ribu tiga menjadi dua Kabupaten yakni Kabupaten Dairi IbuKota Sidikalang dan Kabupaten Pakpak Bharat dengan Ibu Kota Salak. Rumah suku Pakpak memiliki bentuk yang unik dan khas yang terbuat dari bahan kayu dengan atapnya yang terbuat dari bahan ijuk. Bentuk arsitektur Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara tidak hanya berbentuk seni budaya namun di setiap bagian – bagian rumah adat Pakpak memiliki artian yang bermakna di mana menggambarkan bagaimana polah pikiran dan bagaimana Suku Pakpak berbudaya pada jamannya. Berikut beberapa bentuk dan arti Rumah adat Pakpakbdari Sumatera Utara. Bunga atap bentuknya melengkung dan memiliki arti “Berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiada. Lalu Tampuk Bumbungan yang memiliki arti “ Simbol kepercayaan Pakpak “ ber simbol Caben. Lalu ada tanduk kerbau yang melekat pada bumbung atap Rumah pakpak yang memiliki arti “Semangat Kepahlawanan Puak Pakpak”dan juga bentuk segitiga yang terdapat di Rumah Pakpak memiliki arti menggambarkan susunan adat istiadat Puak Pakpak dalam urusan kekeluargaan yang terbagi menjadi tiga besar. SENINA adalah saudara kandung laki-laki, BERRU adalah saudara kandungperempuan dan PUANG adalah kemanakan. Dua buah tiang besar disebelah muka rumah memiliki arti kerukunan rumah tangga antara istri dansuami lalu arti dari satu buah balok besar yang di namai Melmellon yang berarti kesatuan dan persatuan dalam segala bidang pekerjaan menjadi gotong royong. Dan ada juga ukiran – ukiran yangterdapat pada segitiga muka rumah adat Pakpak yang bebentuk bahasa daerah pakpak yang berartibahwa suku pakpak memiliki darah seni yang begitu kental. Pintu masuk dari bawah kolong rumah menunjukan kerendahan hati dan kesiap siagaan adat sukuPakpak dalam segala hal. Sedangkan fungsi yang di miliki oleh Rumah adatsuku Pakpak yaitu penggunaan rumah untuk bermusyawarah untuk kepentingan umum dan juga biasa di gunakan untuk acara – acara adat. Itulah beberapa artian yang dimiliki oleh Rumah suku adat Batak Pakpakyang sederhana namun memiliki artian yang mendalam siapapun wisatawan yang ingin melihat langsung seperti apa keunikan rumah adat suku Batak Pakpak bisa langsung datang ke Medan Sumatera Utara Tidak Hanya Sampai Disitu, Seni Ukiran Dirumah Adat Pakpak Atau Yang Disebut
35 Dengan GERGAPAKPAK Juga Mempunyai Makna Yang Dalam Bagi Masyarakat Berikut Adalah Gambar GERGA PAKPAK GERGA PERKAIS MANUK MARAK Hiasan ini melambangkan bahwa penghuni rumah mengetahui segala masalah yang berhubungandengan adat. Gerga ini biasa diletakkan pada bagian depan rumah bagian atas yang berbentuk segitiga yang menghubungkan bidang Bengbenghari. Bidang segitiga ini melambangkan tiga unsuryaitu : 1. Kula-kula (keluarga Pihak Istri) 2. Dengan Sibeltek (Keluarga seketurunan/Saudara) 3. Berru (Keluarga suami anak perempuan) 4. Dengan Sibeltek (Keluarga seketurunan/Saudara) 5. Berru (Keluarga suami anak perempuan) 6. Kula-kula (keluarga Pihak Istri) 7. Dengan Sibeltek (Keluarga seketurunan/Saudara) 8. Berru (Keluarga suami anak perempuan) 9. Dengan Sibeltek (Keluarga seketurunan/Saudara) 10. Berru (Keluarga suami anak perempuan)
36 GERGA PERHEMBUN KUMEKE Gerga ini biasa diletakkan di bawah Gerga Perbunga Koning, dan Gerga ini melambangkan cita-citaagar pemilik rumah mendapat banyak keturunan dan banyak harta. Jika Gerga ini diletakkan di lesplang maka berfungsi sebagai penangkal dari segala hal yang buruk GERGA PEROTOR KERRA Hiasan ini menggambarkan kerra yang berbaris berombongan melambangkan agar manusia bersekutu mencari penghidupannya untuk mendapat rejeki yang tiada hentinya. Kerra terdepan adalah pemimpinnya yang diikuti oleh anggotanya menggambarkan mereka tunduk dan setia padapemimpinnya. Gerga ini biasa dietakkan di sebelah kiri dan kanan ujung bawah nengger melintangdari ujung lespank bagian dala GERGA PERBUNGA KONING Hiasan ini melambangkan puncak keindahan bagi kaum wanita, gerga ini juga melambangkan keindahan agar penghuninya disukai orang lain seperti bunga kunyit yang harum semerbak. Gerga ini
37 biasa diletakkan tengah segitiga atap yang membujur memotong ujung dari pada nengger sebagaibidang yang menghubungkan kedua sisi atap. GERGA ADEP Melambangkan kesuburan untuk mendapatkan banyak keturunan. Letaknya pada sebelah kiri dankanan pintu rumah. GERGA DASA SIWALUH Hiasan ini melambangkan arah mata angin kedelapan penjuru, maka gerga dasa siwaluh adalah sebagai tangkal aji ajian dan maksud jahat musuh dari segala penjuru. Letaknya pada dinding mukarumah sebelah bawah.
38 GERGA PERSALIMBAT Hiasan ini melambangkan persatuan dan kesatuan/kekeluargaan. Nampak dari ukiran yang berjalinjalin dan bersambung, berarti yang punya rumah senang akan persatuan dan suka menjalin persahabatan dan mempunyai pergaulan yang banyak. Letaknya pada bagian muka rumah diatastiang/pada melmelen. GERGA BULAN Hiasan ini sebagai lambang perhitungan musim, dianggap dasar perhitungan tahun yang sangatPenting bagi kehidupan petani. Letaknya diantara braspati.
39 GERGA BERASPATI Hiasan ini menggambarkan sepasang cecak yang disebut tendi sapo. Ornamen ini dianggap sebagaipelindung, sebagai lambang tendi (roh) yang akan melindungi sipenghuni rumah lahir batin. Hiasanini juga melambangkan dewa penguasa tanah sebagai lambang kesuburan yang di sebut Beraspati Tanoh. GERGA NENGGER/NIPERMUNUNG Hiasan ini melambangkan kedudukan Raja, Pertaki (Penguasa) seorang bangsawan yang bermargaAsli di daerah tempat dia berdomisili. Hiasan ini melambangkan kejayaan pemerintahan seorang Raja. Letaknya tegak lurus dari puncak atas sampai pertengahan bagian depan atau tengah tengahmelmelen bonggar.
40 GERGA TUMPAK SALAH SILIMA Ornamen ini berisikan harapan harapan agar penghuni rumah atau sipemilik bendanya dijauhkandari racun atau bisa. Ornamen ini biasa diletakkan pada bengbeng hari dan juga sendok nasi yangterbuat dari kayu atau bambu. Kita sebagai penerus bangsa dan negara sebaiknya selalu merawat dan jangan apapun peninggalan nenek moyang kita sehingga kelak anak dan cucu kita yang akan datang juga dapat menikmati dan dapat meneruskan Keindahan dan keunikan budaya-budaya terdahulu dan jangan sampai merusak budaya – budaya yang telah di bentuk oleh oran- orang, alangkah lebih baiknya bila lebih mengenal dan mempromosikan apa yang dimiliki Negara kita ke jagat internasiona sehingga membuat kita menjadi lebih bangga lagi menjadi warga Negara Indonesia F. MAKANAN ETNIS PAKPAK Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing, termasuk makanan. Sebelumnya, berbagai macam makanan khas daerah yang hanya bisa ditemukan di tempat asalnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, makanan khas daerah dapat ditemukan di wilayah lainnya. Makanan daerah tercipta dengan perbedaan budaya dan bahan pangan yang tersedia. Pengolahan makanan di setiap daerah tentunya berbeda sehingga menghasilkan aneka jenis makanan yang beraneka ragam dengan karakter yang berbeda pula. Makanan khas daerah dapat didefinisikan sebagai makanan umum yang biasa dikonsumsi sejak beberapa generasi.Makanan tersebut terdiri dari hidangan yang sesuai dengan selera manusia, tidak bertentangan dengan keyakinan agama masyarakat lokal, serta dibuat dari bahan-bahan makanan dan rempah-rempah yang tersedia lokal.Makanan khas daerah umumnya menjadi salah satu identitas suatu kelompok masyarakat yang sangat mudah untuk ditemukan dan dikenali.Hal ini menjadikan makanan khas daerah sebagai wujud budaya yang berciri kedaerahan, spesifik, beraneka macam dan jenis yang mencerminkan potensi alam daerah masing-masing. Ciri-Ciri Makanan Khas Daerah Makanan dapat dikatakan sebagai makanan khas daerah apabila makanan tersebut merupakan warisan dan ciri khas dalam suatu daerah.Pada dasarnya, makanan dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku dan daerah tempat tinggalnya, sehingga setiap daerah memiliki ciri khas makanannya masing-masing.
41 Sebagai contoh, makanan di daerah pegunungan tentunya berbeda dengan makanan di daerah pantai.Daerah pegunungan memiliki ketersedian bahan makanan berupa variasi jenis tumbuhan yang dominan, seperti umbi-umbian, padi, kacang-kacangan, dan sebagainya.Sementara itu, di daerah pantai ketersediaan bahan makanan banyak yang berasal dari laut, seperti ikan, udang, cumi, dan sebagainya. Pada umumnya, cara pengolahan resep makanan khas daerah dan cita rasanya bersifat turun-temurun, serta sedikit sekali adanya inovasi. Lebih jelasnya, berikut ciri-ciri makanan khas daerah. 1. Resep makanan yang diperoleh telah dikenal dan diterapkan secara turun-temurun dari generasi pendahulunya. 2. Penggunaan alat tradisional tertentu di dalam pengolahan masakan tersebut. 3. Teknik olah masakan merupakan cara pengolahan yang harus dilakukan untuk mendapatkan rasa maupun rupa yang khas dari suatu masakan. 4. Diolah dari bahan-bahan makanan yang tersedia baik dari usaha tani sendiri maupun yang tersedia dalam sistem pasar setempat. Di daerah pakpak juga banyak sekali beragam makanan daerah,dimulai dari yang manis hingga yang pedas.Makanan khas pakpak tidak luput dari hasil pertanian yang ada di daerahnya.Makanan khas pakpak biasanya dibuat dari hasil mata pencaharian masyarakat disana.Berikut ini adalah beberapa makanan khas pakpak beserta cara pembuatannya. 1. Pelleng Salah satu makanan khas pakpak yang populer adalah pelleng.Pelleng terbuat dari nasi yang berbentuk lunak dengan campuran rempah rempah seperti kunyit, lengkuas, bawang, cabe dan masih banyak lagi. Sekilas terlihat seperti nasi kuning. Pelleng biasanya dilengkapi dengan daging sebagai lauknya. Daging yang digunakan adalah ayam kampung. Pelleng memang bukan makanan sehari hari masyarakat,tapi merupakan menu spesial dan sakral. Pelleng biasanya dimakan jika akan membuka ladang,agar terhindar dari bahaya. Pelleng juga biasanya disajikan jika selesai panen,sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang dicapai masyarakat pakpak. Selanjutnya adalah makanan khas pakpak yang kedua,yaitu pinahpah.Berikut ini penjelasan mengenai pinahpah. 2. Pinahpah
42 Pinahpah merupakan salah satu jenis kuliner khas Pakpak. Pinahpah biasa disajikan pada acara - acara resmi seperti Pesta Adat, Pesta Pernikahan dan Pesta Pesta lain yang biasa dilakukan oleh Suku Pakpak. Pinahpah terbuat dari Padi/Beras yang muda. Padi muda tersebut di gongseng hingga panas dan dalam keadaan panas Padi muda tersebut ditumbuk sehingga mengeluarkan butiran beras namun sudah berubah bentuk menjadi butiran beras yang pipih. Cara menikmati Pinahpah ini juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, bisa langsung di makan atau bisa juga dengan cara diseduh dengan air panas sehingga lembut lalu di makan dan bisa juga dengan dicampur dengan Kelapa parut lalu di konsumsi. 3. Ginaru Pote Ginaru merupakan makanan yang dibuat dari sisa beras. Terdapat sejarah panjang hingga makanan ini menjadi salah satu makanan yang tetap eksis hingga saat ini tengahtengah masyarakat Pakpak Bharat. Dahulu, apabila ibu-ibu di Pakpak menampi beras menir akan disisihkan dan disimpan. Menir merupakan ujung beras yang merupakan patahan dari beras-beras yang telah ditampi. Lalu, ketika musim panceklik atau saat keadaan ekonomi sedang buruk, menir yang disimpan tadi akan dimasak menjadi bubur. Umumnya, menir akan dimasak dengan beberapa bumbu rempah lainnya seperti asam cikala, dan andaliman. Selain itu ditambahkan pula sayuran, petai ataupun singkong. Disebutkan Ginaru Pote ini merupakan makanan tradisional yang juga menjadi menu pelengkap. Makanan tradisional itu sudah ada sejak dulu, hal ini dikarenakan pote (petai) merupakan salah satu hasil dari Ginaru Pote bukan makanan sehari-hari tetapi dihidangkan hanya pada waktu-waktu tertentu, biasanya dibuat ketika musim pote atau ketika petai berbuah.
43 4. Ditak Nditak adalah jenis makanan ringan seperti lazimnya kue. Biasanya, nditak disajikan pada momen-momen adat penting dalam kehidupan masyarakat.Seperti acara pesta perkawinan dan syukuran kelahiran anak. Pada momen syukuran kelahiran, nditak disuguhkan terutama kepada ibu yang baru melahirkan anak. Menurut keyakinan masyarakat setempat, memberikan nditak kepada ibu yang menyusui sangat mujarab untuk stamina dan menjaga kesehatan. Nditak adalah makanan berbahan dasar beras. Dimana beras tersebut ditumbuk menjadi halus. Bahan-bahan lainnya adalah gula merah, kelapa muda dan lada. 5. Lappet Lappet merupakan salah satu makanan tradisional khas suku Pakpak lainnya yang juga rasanya tak kalah saing dengan makanan tradisional suku Pakpak lainnya. Seperti biasa di beberapa daerah makanan ini dibungkus dengan daun pisang, di daerah Pakpak pun juga begitu. Konsep isi makanannya pun hampir sama, yaitu berbahan dasar beras yang dikukus dalam daun pisang dan dicampur dengan gula merah.Rasanya manis dan gurih. Itu dia tadi beberapa makanan khas dari pakpak.Banyak sekali makanan yang berasal dari pakpak,rasa makanan nya pun sangat beragam,dimulai dari yang asin,pedas,hingga manis.
44 G. SILSILAH DAN MARGA Orang Pakpak berasal dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Dairi lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak.1 Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya. Tidak semua Orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi namun mereka juga berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru. Sebagian tinggal di Tanah Pakpak dan menajadi Suku Pakpak “Situkak Rube:, ”Sipungkah Kuta” dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak. Sebagian ada pergi merantau ke daerah lain,membentuk komunitas baru.Dia tahu asalnya dari Pakpak dan diakui bahwa Pakpak adalah sukunya namun sudah menjadi marga di suku lain. Ada juga yang merantau lalu mengganti Nama dan Marga dengan kata lain telah mengganti identitasnya. Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona 3 yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Dairi dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi, dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama Hyang. Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak. Hyang pun besar dan kemudian menikah dengan Putri Raja Dairi dan mempunyai 7 orang Putra dan 1 orang Putri yaitu : Mahaji, Perbaju Bigo, Ranggar Jodi, Mpu Bada, Raja Pako, Bata, Sanggar, Suari (Putri). Pada urutan ke 4 terdapat nama Mpu Bada, Mpu Bada adalah yang terbesar dari pada saudara-saudaranya semua, bahkan dari pihak Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah Keturunan dari Parna dari marga Sigalingging. Anak Sulung, Mahaji mempunyai Kerajaan di Banua Harhar yang mana saat ini dikenal dengan nama Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube.Parbaju Bigo pergi ke arah Timur dan membentuk Kerajaan Simbllo di Silaan,saat ini dikenal dengan Kecamatan STTU Julu. Ranggar Jodi pergi ke arah Utara dan membentuk Kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama Kerajaan Jodi Buah Leuh dan Nangan Nantampuk Emas,saat ini masuk Kecamatan STTU Jehe.5Mpu Bada pergi ke arah Barat melintasi Lae Cinendang lalu tinggal di Mpung Si Mbentar Baju. Raja Pako pergi ke arah Timur Laut membentuk Kerajaan Si Raja Pako dan bermukim di Sicike-cike. Bata pergi ke arah Selatan dan menikah kemudian hanya mempunyai seorang Putri yang menikah dengan Putra Keturunan Tuan Nahkoda Raja. Dari sini menurunkan marga Tinambunen,Tumangger, Maharaja, Turuten,Pinanyungen dan Anak Ampun. Sanggir pergi ke arah Selatan tp lebih jauh daripada Bata dan mmbentuk Kerajaan di sana,dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka,Mungkur dan Kelasen. Suari Menikah dengan Putra Raja Dairi dan memdiam di Lebbuh Ntua. Marga Manik diturunkan oleh Mpu Bada yang mempunyai 4 orang anak yaitu : Tndang, Rea sekarang menjadi Banurea, Manik, Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boang Menalu dan Bancin. Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni
45 1. Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Antara lain marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boang Manalu, Cibro, Sitakar, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat. 2. Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi. 3. Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan. Antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Siketang, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi. 4. Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anak Ampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Dairi (di Kabupaten Tapanuli Tengah). 5. Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam). Meskipun oleh para antropolog orang-orang Pakpak dimasukkan sebagai salah satu sub etnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo. Namun, orang-orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Dairi. Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan. Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Dairi, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga Pakpak yang mengandung unsur keindiaan (Maha, dan Maharaja), boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat untuk mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu maka pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut. Selain itu waktu, tempat terjadinya kontak, dan bentuk kontak yang bagaimanakah yang mengakibatkan wujud budaya dan tradisi masyarakat Pakpak sebagaimana adanya saat ini. Untuk itu diperlukan teori-teori yang relevan untuk menjelaskan sejumlah fenomena budaya yang ada.Belum ditemukan bukti yang otentik dan pasti tentang asal usul dan sejarah persebaran orang Pakpak. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan beberapa variasi. Pertama dikatakan bahwa orag Pakpak berasal dari India selanjutnya masuk ke pedalaman dan beranak pinak menjadi orang Pakpa. Versi lain menyatakan orang Pakpak berasal dari etnis Batak Toba dan yang laiin menyatakan orang Pakpak sudah ada sejak dahulu. Mana yang
46 benar menjadi relatif karena kurang didukung oleh fakta-fakta yang objektif. Alasan dari India misalnya hanya didasarkan pada adanya kebiasaan tradisional Pakpak dalam pembakaran tulang-belulang nenek moyang dan Dairi sebagai daerah pantai dan pusat perdagangan berbatasan langsung dengan tanoh Pakpak. Alasan Pakpak berasal dari Batak Toba hanya adanya kesamaan struktur sosial dan kemiripan nama-nama marga. Alasan ketiga yang menyatakan dari dahulu kala sudah ada orang Pakpak hanya didasarkan pada folklore di mana diceritakan adanya tiga zaman manusia di Tanoh Pakpak, yakni zaman Tuara (Manusia Raksasa). zaman si Aji (manusia primitif) dan zaman manusia (homo sapien). Berdasarkan dialek dan wilayah persebarannya, Pakpak dapat diklasifikasikan menjadi lima bagian besar yakni: Pakpak Simsim, Pakpak Keppas, Pakpak Pegagan, Pakpak Boang dan Pakpak Kelasen9. Masing-masing sub ini dibedakan berdasarkan hak ulayat marga yang secara administratif tidak hanya tinggal atau menetap di wilayah Kabupaten Dairi (sebelum dimekarkan), tetapi ada yang di Aceh Singkil, Humbang Hasundutan (sebelum dimekarkan dari Tapanuli Utara) dan Tapanuli Tengah. Pakpak Simsim, Pakpak Keppas dan Pegagan secara administratif berada di wilayah kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, sedangkan Pakpak Kelasen berada di kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah Khususnya di Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Manduamas. Berbeda lagi dengan Pakpak Boang yang menetap di wilayah kabupaten Singkil, khususnya di Kecamatan Simpang Kiri dan Kecamatan Simpang Kanan. Marga-marga Pakpak yang termasuk Pakpak Simsim, misalnya: marga Berutu, Padang, Bancin, Sinamo, Manik, Sitakar, Kebeaken, Lembeng, Cibro, dan lain-lain. Marga Pakpak Keppas misalnya: marga Ujung, Capah, Kuda diri, Maha dan lain-lain. Marga Pakpakkelasen misalnya: Tumangger, Tinambunen, Kesogihen, Meka, Maharaja, Ceun, Mungkur dan lainlain. Marga Pakpak Boang, misalnya: Saraan, Sambo, Bacin dan lain-lain.Pemegang hak Adat Pakpak “Sulang Silima” di wilayah Pakpak Pegagan adalah marga Matanari di wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung, marga Manik diwilayah Kuta Manik dan Kuta Usang, dan marga Lingga di wilayah Kuta Raja dan Kuta Posong. Tidak ada kuta di wilayah/daerah Pakpak Pegagan yang unsur-unsur “Sulang Silima” nya marga Padang Batak.Rumah Adat Pakpak yang hanya dapat dimiliki Raja Kuta (pemegang hak Wilayat) diantaranya dijumpai di Balna Sikabeng-kabeng, yakni dinamai “Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh” dan didepan rumah tersebut terdapat Bale Adat Pakpak dinamai “Bale Silendung Bulan”. Rumah dan Bale Adat Pakpak ini hancur dikarenakan Angin Topan dan simakan usia pada tahun 1984. Marga Manik dan Lingga mengakui abang mereka (paling tua) adalah pemilik wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung yaitu marga Matanari Pakpak Pegagan.Tidak diberikan izin membangun Rumah Adat Pakpak di segala dusun/desa. Misalnya, dusun Sikonihan dekat kota Sumbul adalah dusun perantauan (pengembangan) marga Matanari. Didusun/desa ini dahulu tidak diijinkan didirikan Rumah Adat Pakpak, walaupun kuta (kampung) marga Matanari juga. Rumah adat Pakpak dahulu ada di Balna Sikabengkabeng dan Kuta Gugung. Rumah Adat Pakpak yang di Kuta Gugung dahulu dibakar saat perang saudara, sedangkan Rumah adat Pakpak yang di Balna Sikabeng-kabeng hancur akibat Angin Topan 1984 dan lapuk termakan usia. Wilayah Pakpak Keppas diawali yang dari daerah Sicikeh-cikeh (daerah ParawisataHutan Lindung) hinga meluas ke daerah Sitinjo (marga Capah) ke Simpang Tolu (marga Kudadiri), daerah Sisikalang (marga Ujung), Sidiangkat
47 (marga Angkat) wilayah Bintang-Pancuran (marga Bintang). Marga Sinamo dan Gajah Manik pergi dan tinggal ke wilayah Pakpak Simsim.Wilayah Pakpak Simsim adalah kabupaten Pakpak Bharat (dahulu hanya terdiri dari kecamatan Kerajaan dan kecamatan Salak). Marga-marga Pakpak Simsim antara lain adalah Solin, Padang, Bancin, Banurea, Barasa (Brasa), Brutu, Manik Kecupak, Gajah, Kabeakan, Lembeng, Sitakar, Tinendung, maupun Padang Batanghari. Wilayah Pakpak Kelasen adalah daerah Parlilitan dan sekitarnya terdiri dari beberapa marga antara lain Tinanbunan, Tumangger, Maharaja, Turutan, Pinayungan, Anak Ampun (Nahampun). Meka, Mahulae, Buaton, Kesugihen. Siketang, dan lain lain. Sedangkan Pakpak Boang adalah di daerah Boang, Singkil dan daerah Aceh. Selain alasan faktor tersebut di atas, pada umumnya marga-marga Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) akibat letak daerahnya sangat dekat dengan wilayah tanah Karo, Simalungun dan Samosir dan Humbang maka sudah beberapa generasi mereka (Pakpak Pegagan terutama marga Matanari) telah kawin mayoritas dengan suku Batak Toba. Lambat laun bahasa yang digunakan sehari-hari sdslsh bahasa Batak Toba, dan adat istiadat dipakai adalah Adat Batak Toba (karena hula hula dan Boru hampir semuanya suku Batak Toba). Dalam menjalankan Adat Batak Toba, marga Matanari membutuhkan saudara semarga. Kenyataan ini menyebabkan marga Matanari dan Pakpak Pegagan lainnya (Manik dan Lingga) telah lama mengaku keturunan marga Sihotang. Dan akhirnya pengaruh margamarga keturunan Si Raja Oloan juga berpengaruh kuat terhadap marga Matanari (terutama di perantauan). Kenyataan yang sebenarnya adalah marga Matanarilah yang memberikan tanah (parhutaan) kepada marga Sihotang yaitu huta Sihotang Nahornop dekat daerah Balna Sikabeng-kabeng.Sebelum kuat pengaruh Sihotang di wilayah Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dan Naibaho di wilayah Pakpak Keppas (Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Sinamo, dan Gajah Manik), maka antar marga-marga suku Pakpak di atas masih saling kawin. Misal Matanari kawin dengan marga Bintang, atau Capah ataupun marga Lingga. Adek perempuan Ranimbani boru Matanari (istri Loho Raja) ada dua orang, masingmasing kawin dengan marga Bintang dan marga Maha. Marga Maha adalah suku Pakpak yang mengaku dirinya marga Silalahi dan Sembiring Maha di Tanah Karo. Akibat jumlahnya relatip sedikit maka pada umumnya banyak suku Pakpak merobah marganya di perantauan. Misalnya marga Matanari yang merantau ke Tanah Karo, Tigalingga dan Tanah Pinem merobah marganya menjadi Karo-karo, Sitepu, Sinulingga, dan lain lain. Marga Matanari yang merantau ke daerah Deli, Riau, Jambi, Benhgkulu, pulau Jawa, Irian jaya dan lain lain ada yang merobah marganya menjadi marga Sihotang. Pengaruh ajaran Agama yang sangat melarang (bertentangan dengan) kebiasaan adat dan budaya Pakpak, menyebabkan sebahagian suku Pakpak lambat laun mudah lupa (menghilangkan) marganya.
48 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Pakpak diyakini berasal dari 4 keturunan legendaris yang disebut dengan si Raja Batak. alat-alat musik Pakpak terdiri dari perkusi (gendang dan Gong) dan alat musik melodi seperti kolondang lobak dan sorden. Semacam Seruling Bapak memiliki Khasanah tarian tradisional yang identik dengan pola kehidupan sehari-hari. busana budaya pak-pak atau pakaian adat Pakpak yang lazim digunakan oleh masyarakat pakpak adalah busana kebanggaan yang menggambarkan keagungan terhadap usaha. Pengantin beserta Kedua keluarga menggunakan pakaian adat Pakpak selama berjalannya upacara adat. Hanya saja adat langsung rumah suku Batak pakpak memiliki bentuk yang unik dan khas yang terbuat dari bahan kayu dengan alami, yang terbuat dari bahan ijo makanan yang dapat dikatakan sebagai makanan khas daerah, apabila makanan tersebut mau merupakan warisan dan ciri khas dalam suatu daerah. Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona 3 yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Dairi dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi, dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama Hyang.
49 DAFTAR PUSTAKA Sumber. pak-pakbaratblogspot.co.id 2013 Sumber. jurnal.kebudayaan masyarakat kabupaten pakpak barat Sumber. https://www.neliti.com/id/publications/79467/kebudayaan-masyarakat-kabupatenpak-pak-barat Sumber. https://media.neliti.com/media/publications/79467-ID-kebudayaan-masyarakatkabupaten-pak-pak.pdf Sumber. http://digilib.unimed.ac.id/33943/2/7.%20NIM%202123140034%20CHAPTER%20I.pdf. Sumber. https://www.detik.com/sumut/budaya/d-7033574/mengenal-tatak-moccak-tarianbela-diri-khas-pakpak Sumber. http://repository.uinsu.ac.id/161/6/BAB%20III.pdf Sumber. https://chat.openai.com/ Sumber. https://www.kompas.com/stori/read/2022/08/13/130000379/marga-marga-sukupakpak?page=all. Sumber. http://digilib.unimed.ac.id/42844/6/6.%20NIM.%203163321014%20CHAPTER%20I.pdf Sumber. https://www.liputan6.com/regional/read/3922304/odong-odong-puisi-rindu-pemetikkemenyan-pakpak-bharat?page=2 Sumber. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Suku_Pakpak Sumber. https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/630/jbptunikompp-gdl-nicooctova-31463-6- unikom_n-i.pdf Sumber. https://tobaria.com/pakpak-bharat-kaya-akan-jenis-taritradisional/#:~:text=Pengertian%20tari%20dalam%20Bahasa%20Pakpak%20adalah%20Tata k.&text=Kopi%20merupakan%20salah%20satu%20jenis,kampungnya%20saat%20datang%2 0musim%20panen. Sumber. https://123dok.com/article/musik-vokal-kesenian-seni-musik-kabupaten-pakpakbharat.zw0gdkly Sumber. http://manik17.wordpress.com/sejarah-budaya-pakpak/ Sumber. http://repository.uinsu.ac.id/161/6/BAB%20III.pdf Sumber. https://www.ninna.id/seni-budaya-tradisional-pakpak-iii/ Sumber. https://wisatakalakpakpak.blogspot.com/2017/03/alat-musik-tradisionalpakpak.html?m=1 Sumber. https://123dok.com/article/musik-vokal-kesenian-seni-musik-kabupaten-pakpakbharat.zw0gdkly
50 Sumber. https://www.kompas.com/stori/read/2022/08/13/130000379/marga-marga-sukupakpak?page=all Sumber.