• Anda harus mengikuti/menaati prosedur kerja
yang aman setiap waktu
• Ada beberapa alat pelindung diri yang harus
anda gunakan
• Pakailah selalu alat pelindung diri selama
berada di tempat kerja.
• Pastikan tangga yang akan anda gunakan untuk
bekerja diketinggian tidak rusak.
• Tangga harus terbuat dari bahan yang kuat.
• Tangga harus berdiri di atas permukaan lantai
yang kokoh/stabil.
31
• Jangan menaiki tangga dengan satu tangan
yang bebas sementara tangan lain mengangkat
sesuatu.
• Jangan memindahkan perancah bergerak /
mobile tower scaffold jika ada orang di atasnya
karena perancah bergerak dapat terbalik.
• Jangan menggunakan perancah bergerak pada
bidang / lantai yang miring.
• Lengkapi roda perancah bergerak dengan rem,
dan rem perancah bergerak harus selalu
terkunci pada waktu digunakan.
32
MEMASUKI LOKASI KERJA/PROYEK
• Setiap orang wajib melapor kepada pengawas
security dan mendapatkan tanda pengenal.
• Semua orang wajib mendapatkan Safety
Induction dan Alat Pelindung Diri (APD) yang
dibutuhkan.
• Mandor/Site Manager subkontraktor wajib
mendampingi setiap calon pekerja.
• Tamu/Pengunjung wajib didampingi oleh
personil yang berwenang. • Sistem Satu Pintu
(One Gate System), jalur kendaraan dan jalur
orang terpisah.
33
KOMUNIKASI HSE
1.Toolbox meeting dilakukan setiap hari untuk
membahas rencana kerja dan bahaya Kesehatan,
Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan (K3L)
yang mungkin timbul dari pekerjaan yang dilakukan
beserta pencegahannya.
2.Safety Induction adalah pengenalan dasar-dasar
Keselamatan kerja dan Kesehatan Kerja (K3) kepada
karyawan baru atau visitor (tamu) dan dilakukan oleh
karyawan dengan jabatan setingkat supervisory (dari
divisi OSHE / Safety) dan bisa juga bisa dilakukan
oleh yang paham tentang K3 dengan level jabatan
minimum.
3.Safety Talk adalah pertemuan yang dilakukan rutin
antara supervisor dengan para pekerja atau
34
karyawan untuk membicarakan hal-hal mengenai K3,
entah tentang isu terbaru, regulasi, prosedur kerja,
alat pelindung diri, potensi bahaya, dll
4.Safety Patrol merupakan implementasi yang
bertujuan untuk menjamin terlaksananya sistem
manajemen K3 perusahaan apakah sudah sesuai
dengan standar yang ada dalam kegiatan operasional
sehari-hari serta meminimalkan terjadinya
kecelakaan
5.Safety Meeting adalah rapat singkat yang diikuti
oleh karyawan atau pekerja sebelum melakukan
aktifitas kerja.
6.Safety training adalah pengenalan dasar-dasar
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk seluruh
karyawan di sebuah perusahaan ataupun bagi yang
belum bekerja dengan tujuan dapat mengetahui
penyebab terjadinya Kecelakaan Kerja dan Penyakit
Akibat Kerja serta Pengendalian Risiko di tempat
kerja
7.Inspeksi safety adalah merupakan pengujian
secara detail dari suatu obyek untuk menemukan
potensi bahaya yang ada di tempat kerja dengan
tujuan memastikan bahwa setiap potensi bahaya
diidentifikasi secara cepat dan tepat demi mencegah
terjadinya kerugian maupun kecelakaan ditempat
kerja.
35
TRAINING HSE
Training HSE merupakan program yang sangat
penting dengan tujuannya adalah semua pekerja dan
personil yang terlibat di semua aktivitas pekerjaan
dapat bekerja sesuai prosedur dan standar
perusahaan sehingga kecelakaan kerja dapat
dicegah. PM proyek harus membuat rencana
kebutuhan training semua personil sehingga dapat
termonitor semua pekerjaan apakah sesuai dengan
prosedur dan standar perusahaan.
• Tim proyek harus menyusun matrix training
dan schedule nya serta dibuatkan evaluasi
dan monitoring pelaksanaan dari training
tersebut.
• Seluruh pekerja wajib mengikuti pelatihan
sebelum memulai pekerjaan
• Pelatihan dilaksanakan sesuai jadwal.
36
TANGGAP DARURAT
Hal – hal yang perlu dipersiapkan:
1. Daftar Potensi Keadaan Darurat
2. Daftar nomor Telepon Penting
3. Struktur Organisasi Tim Tanggap Darurat
4. Tugas dan Tanggung Jawab Tim Tanggap
Darurat
5. Jadwal Uji Coba Keadaan Darurat
6. Evaluasi Ujicoba Keadaan Darurat
7. Laporan Investigasi Keadaan Darurat
8. Daftar Peralatan Keadaan Darurat
9. Check List APAR
10. Check List Kotak P3K
11. Check List Box Alarm System
12. Standar Tanggap Darurat Kebakaran
13. Standar Tanggap Darurat Gempa Bumi
14. Standar Tanggap Darurat Terkena Bahan
Kimia wabah biologic
15. Standar Tanggap Darurat Evakuasi
16. Standar Penggunaan APAR
37
KEBAKARAN
Di tempat kerja yang mempunyai potensi bahaya
kebakaran, wajib diisediakan alat pemadam api
(sesuai dengan jenis, uk uran, dan klasifikasi
kebakaran)
1. Tempat berkumpul (muster point) dan jalur
evakuasi tersedia.
2. Tersedia alat pemadam api beserta denah/peta
lokasi
3. Ada orang yang berkompeten dalam
mengunakan alat pemadam api
4. Petunjuk peringatan bahaya kebakaran,
nomor telepon penting (rumah sakit, dinas
pemadam kebakaran, dan pejabat yang harus
dihubungi)
5. Training dan simulasi tanggap darurat
kebakaran.
38
6. Keadaan alat pemadam api selalu siap
digunakan dengan adanya inspeksi rutin pada
alat pemadam
Secara umum skenario jika terjadi kebakaran adalah:
• Setiap karyawan yang melihat kebakaran di
tempat kerja jangan panik dan segera
menghubungi HSE dan security secara
singkat dan jelas dengan menyebutkan lokasi
39
kejadian, benda, bahan atau peralatan yang
terbakar
• Jika bahaya kebakaran berpotensi untuk bisa
dipadamkan dan pekerja tersebut mampu
menggunakan APAR atau media lain, segera
dipadamkan secara cepat dan aman dengan
alat APAR yang telah disediakan.
• Tim tanggap darurat akan memperingatkan
orang-orang yang ada di lokasi kebakaran untuk
segera meninggalkan lokasi kejadian menuju
muster point mengikuti arah jalur evakuasi.
• Jika bahaya kebakaran diluar kendali atau
susah untuk ditanggulangi, manajer HSE/
manajer proyek/OM segera menghubungi
pemadam kebakaran yang lebih besar
• Team Tanggap Darurat mengambil alih
langkah-langkah pengamanan lokasi tempat
kerja
40
GEMPA BUMI
• Setiap karyawan yang merasakan adanya
gempa bumi di tempat kerja jangan panik dan
segera menghubungi HSE dan security secara
singkat dan jelas dengan menyebutkan lokasi
kejadian.
• Tim tanggap darurat akan memperingatkan
orang-orang yang ada di lokasi gempa bumi
untuk segera meninggalkan lokasi kejadian
menuju muster point mengikuti arah jalur
evakuasi.
• Pekerja dievakuasi dengan melindungi kepala.
Jika tidak memungkinkan ke muster point,
pekerja berlindung di bawah tempat
berlindung yang kokoh dan ada cukup ruang
di dalamnya, seperti di bawah meja, bunker,
dll.
• Tidak dianjurkan untuk menggunakan lift saat
terjadi gempa bumi, pergunakan tangga.
Untuk wanita, lepaskan sepatu hak tinggi dan
hanya bawa barang-barang yang sangat
41
penting saja agar proses evakuasi berjalan
maksimal.
42
STANDAR PENEMPATAN APAR
Standar penempatan APAR sebenarnya
sudah dirangkum dalam Peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi No : PER.04/MEN/1980
Tentang Syarat-syarat Pemasangan dan
Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan, namun
masih banyak dari kita yang belum mengetahui hal
tersebut.
Ada beberapa poin dalam Permenakertrans
yang akan dirangkum di bawah ini.
43
Poin-poin di bawah ini dimaksudkan untuk mencegah
APAR dari kerusakan dan yang terpenting mudah
diakses bila terjadi kebakaran. Poin-poinnya adalah
sebagai berikut:
1. Tempatkan APAR di tempat yang mudah
diakses dan tidak terhalang oleh bendabenda
lain.
2. Pasang APAR pada dinding, minimal 15 cm dari
atas lantai atau idealnya 125 cm dari atas lantai.
3. Lengkapi dengan tanda APAR yang dapat
dipasang tepat di atas APAR.
4. Jarak pemasangan APAR satu dengan lainnya
adalah 15 meter atau dapat disesuaikan dengan
saran yang diberikan oleh ahli K3.
PENEMPATAN APAR DI LUAR RUANGAN
Selain keempat poin di atas, jika APAR
diletakan di luar ruangan, maka ada komponen
penting yang harus ditambahkan. Dikarenakan di luar
ruangan paparan cuaca tidak dapat dihindarkan,
maka APAR sebaiknya harus dilindungi dengan
komponen tambahan berupa Box Apar.
44
Box APAR berfungsi melindungi APAR dari
paparan sinar matahari langsung dan cuaca ekstrem.
Karena, jika APAR terkena paparan cuaca ekstrem
tanpa dilindungi box APAR, tak ayal jika komponen
APAR terutama tabung APAR akan keropos. Tak
hanya itu, media dalam APAR-pun juga akan
menggumpal atau bisa saja kadaluarsa lebih dini.
Maka, standar penempatan APAR di luar ruangan
haruslah menggunakan box APAR, supaya APAR
terlindungi.
Selain menempatkan APAR sesuai standar
penempatan APAR, inspeksi APAR berkala juga
tidak boleh sampai ditinggalkan. Inspeksi APAR
berkala akan menjaga APAR milik Anda tetap dalam
kondisi prima.
45
TEROR BOM
Secara Umum, skenario jika terjadi terror bom adalah
• Setiap karyawan melaporkan ketika terjadi
teror bom masa kepada atasan atau HSE atau
Security
• Ketua tim tanggap darurat segera menghubungi
kepolisian.
• Informasikan segera kepada tim lainya agar
tetap siaga, khususnya tim komunikasi dan
keamanan (security), Management dan pihak-
pihak eksternal terkait.
• Tim evakuasi segera mengevakuasi pekerja
ke muster point atau tempat lain yang jauh dari
lokasi bom.
46
• Semua tim harus siap siaga dengan tugas
tim masing-masing.
• Tim pemadam siap-siap dengan alat pemadam
kebakaran, tim P3K bersiap dengan peralatan
P3K.
• Bagian Keamanan bertugas untuk melokalisir
lokasi bom
47
PEKERJAAN YANG MEMBUTUHKAN
IJIN KERJA
Selain membuat Job Safety Analysis (JSA), untuk
pekerjaan-pekerjaan khusus memerlukan ijin kerja ,
seperti pekerjaan-pekerjaan berikut ini :
1. Bekerja di ruang terbatas (confined space),
sempit, atau gorong-gorong
2. Bekerja dengan cara menyelam (diving work
permit)
3. Bekerja di luar jam kerja normal
4. Bekerja di ketinggian (height work permit)
5. Bekerja dengan panas (hot work permit)
6. Bekerja dengan radiasi xray
48
BEKERJA DIRUANG TERBATAS
Ruang terbatas (confined space) adalah ruangan
yang :
1. Cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian
rupa sehingga pekerja dapat masuk dan
melakukan pekerjaan di dalamnya
2. Mempunyai akses keluar yang terbatas
3. Tidak dirancang untuk tempat kerja secara
berkelanjutan atau terus menerus di dalamnya
49
Syarat Keselamatan bekerja di ruang terbatas
1. Memasang blower/fan untuk udara segar
masuk dan ventilasi atau exhaust fan untuk
aliran udara keluar
2. Tidak boleh bekerja sendirian, harus ada
pekerja lain yang mengawasi, menjaga,
mendapatkan kode/tanda bahwa pekerja dalam
keadaan baik di dalam ruang terbatas
3. Penerangan yang cukup, alat komunikasi, tali,
tangga, APD
4. Sebelum memulai pekerjaan diadakan pelatihan
terlebih dulu
5. Hanya pekerja yang dinyatakan mampu dan
berkompeten yang diijinkan bekerja di ruang
terbatas
50
BEKERJA DI KETINGGIAN
Bekerja di ketinggian, wajib memeriksa peralatan
kerja dan mental, fisik, dan keterampilan pekerja,
serta Alat Pelindung Diri yang sesuai.
1. Jangan bekerja di tempat tinggi kecuali
diperlukan.
2. Pekerja boleh mengerjakan pekerjaan di
ketinggian dengan syarat :
• Dipasang pijakan kaki dan penghalang yang
cukup kuat atau semi permanen, dan
mampu menahan beban jika pekerja
terjatuh.
• Jika tidak memungkinkan dipasang
pengaman seperti pada poin di atas, maka
harus digunakan perancah atau scaffolding.
• Pekerjaan ketinggian di atas 1.5 m, pekerja
harus menggunakan Full Body Harness
yang dikaitkan pada tempat yang kuat.
• Jika akan digunakan tangga, perlu
dipastikan bahwa pekerjaan dapat
51
diselesaikan dalam waktu singkat, tangga
cukup kuat dan terpasang dalam posisi yang
stabil, serta jangan memaksakan meraih alat
ataupun bahan yang sulit dijangkau.
• Untuk pekerjaan mengecat di ketinggian
gunakan rol dan pasang galah, sesuaikan
dengan ketinggian.
• Jika semua alternatif di atas tidak dapat
dilaksanakan juga, maka harus dilaporkan
pada pengawas pekerjaan bahwa pekerjaan
tidak aman untuk dilaksanakan
52
PERANCAH (Scaffolding)
Tata cara kosntruksi umum pada semua scaffolding :
1. Peralatan pelindung : helm, safety shoes, full
body harness, sarung tangan, dll
2. Bagiannya :
• Pondasi. Tanah, platform atau balok beam
harus memadai untuk menopang atau
menahan beban yang menekan pada setiap
tiang dan menopang keseluruhan berat
beban peranca.
• Tiang, tiang dipasang vertikal sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan ditambah dengan
tinggi handrail
• Ledger, pipa melintang
• Platform, terdiri dari papan pijakan dan
sedikitnya tiga tiang pendukung papan.
• Papan pijakan, harus diikat dan dipilih sesuai
beban yang akan ditanggungnya
• Handrail, sebagai ruang batas gerak keluar
dan mencantolkan full body harness
53
• Tangga, pada tangga juga disediakan
handrail sebagai pegangan tangan atau
back support jika tangga berupa tangga
monyet.
• Bracing , dipasang diagonal sebagai
penguat scaffolding
3. Peringatan, jika scaffolding tidak lengkap maka
wajib diberi peringatan tanda bahaya “Jangan
digunakan, scaffolding tidak lengkap”
4. Inspeksi. Scaffolding harus diinspeksi secara
visual setiap waktu sebelum digunakan.
54
PENGOPERASIAN ALAT ANGKAT
Peralatan berat mekanis umumnya seperti : crane,
hiab crane, forklift, tronton, chain block, dll hal yang
perlu dipahami dan disikapi adalah :
1. Kelaikan peralatan berat mekanis, misalnya :
sertifikasi depnaker untuk crane, forklift, dan
sertifikasi kelaikan pakai untuk chain block, dll
2. Operator yang berkualifikasi yang
mengoperasikan peralatan alat dan angkut
(dibuktikan dengan SIO, SIM, dll)
3. Barikade/rambu/tanda pembatas antara area
kerja dan area aman
4. Tidak boleh mengisi bahan bakar saat mesin
masih menyala
5. Jika bekerja malam hari harus ada
penerangan yang cukup, demikian pula jika
siang hari saat penerangan gelap
6. Operator harus dapat melihat jelas area
tempat kerja, jika dibutuhkan maka harus ada
signal man
55
7. Operator dilarang meninggalkan kabin saat alat
angkat dan angkut masih bekerja dan mesin
dalam keadaan hidup
8. Saat selesai operasi, posisi alat harus aman :
gigi netral, ruang kabin dan panel dalam
keadaan tertutup, mesin dalam keadaan mati,
dan parkir di tempat yang ditentukan.
56
ALAT BANTU HANDLING
Material handling merupakan suatu pergerakan,
penyimpanan atau pengendalian terhadap produk-
produk di pabrik maupun gudang secara aman.
Kegiatan tersebut tentu sekarang ini tidak lagi
menggunakan tenaga manusia sepenuhnya tetapi
dibantu oleh alat-alat yang sering disebut peralatan
Material Handling. Sebagian besar peralatan yang
ada, mempunyai karakteristik dan harga yang
berbeda.
57
JENIS DAN MACAM – MACAM SLING
Sling adalah alat bantu angkat khususnya
barang yang besar dan berat diberbagai industri.
Karakteristik dari sling ini adalah salah satu dan atau
kedua ujungnya diterminasi atau dibuat mata sebagai
sarana untuk mengaitkan aksesoris untuk membantu
aplikasi pengangkatan seperti Hook, Masterlink, dll.
Sling yang digunakan diberbagai industry khususnya
industry berat macam-macamnya adalah :
1. Wire Rope Sling
2. Chain Sling
3. Webbing Sling
4. Round Sling
1. WIRE ROPE SLING
Wire rope adalah Tali baja yang terbuat dari
beberapa WIRE yang dipilin membentuk STRAND,
lalu beberapa strand tersebut dipilin mengelilingi
CORE untuk membentuk sebuah wire rope. Wire
Rope Sling adalah Wire rope yang salah satu atau
kedua ujungnya sudah diterminasi atau dibuat mata.
Pembuatan wire rope sling sifatnya customized, yang
58
berarti wire rope sling ini dapat difabrikasi sesuai
dengan spesifikasi dan kebutuhan user di lapangan.
59
2. CHAIN SLING
Chain sling dalam bahasa indonesia disebut juga
rantai sling. Dalam artiannya menurut wikipedia rantai
adalah serangkaian link yang terhubung biasanya
terbuat dari logam. Sebuah rantai bisa terdiri dari 2
atau bahkan lebih dari 2 link yang berangkaian.
60
Kegunaan dari rantai yaitu sebagai aksesoris alat
untuk aplikasi mengangkat dan menarik.
Sedangkan macam-macam dari chain sling
bentuknya adalah sebagai berikut :
61
3. WEBBING SLING
Jenis alat angkat yang ketiga adalah webbing sling.
Webbing sling atau yang sering disebut juga dengan
sling belt adalah alat pengganti wire rope sling atau
chain sling dalam aplikasi angkat (Lifting) dan
mengikat (Choker). Webbing sling mempunyai
kelebihan, karena dapat menggantikan wire rope
sling dan chain sling. Kelebihan atau keuntungan dari
webbing sling adalah Lebih ringan sehingga mudah
dan aman digunakan, Lebih flexible, Tidak berkarat,
Tidak merusak atau membuat kotor barang yang
diangkat mudah dilakukan inspeksi.
62
4. ROUND SLING
Jenis Sling yang terakhir adalah round Sling. Round
Sling adalah Synthetic Sling yang dibungkus lagi
dengan pembungkus dari Synthetic dan dibentuk
melingkar. Keuntungan dari Round Sling ini adalah
Lebih tahan lama. Jika mengangkat dengan posisi
Choker, posisi angkat lebih sempurna.
63
BEKERJA DENGAN ALIRAN LISTRIK
1. Tangan dan kaki tidak dalam keadaan basah
saat bekerja yang berhubungan dengan
instalasi listrik
2. Sistem grounding/pentanahan untuk panel dan
instalasi listrik terpasang dan bekerja dengan
baik
3. Panel listrik dalam keadaan tertutup dan hanya
dioperasikan oleh petugas yang ditetapkan
(tidak sembarang orang)
4. Kabel listrik dalam keadaan terisolasi, jika
terkelupas segera perbaiki
64
5. Ukuran dan kualitas kabel sesuai dengan
kebutuhan atau tenaga listrik yang dihasilkan
6. Tanda peringatan pada instalasi yang
mengandung resiko volatase tinggi
7. Saat memperbaiki instalasi listrik, pastikan
aliran listrik dalam keadaan mati/putus dan
dipasang label “jangan dihidupkan”
8. Saat selesai pekerjaan, pastikan listrik
dimatikan
65
Beberapa bahaya yang ditimbulkan dari tegangan
listrik, adalah :
1. Kebakaran
• Yakinkan isolasi kabel tidak terkelupas /
pecah atau sambungan terminal tidak
kendor yang bisa berakibat terjadinya
percikan bunga api. Jika mendapati hal-hal
yang demikian segera laporkan dan
dilakukan perbaikan.
• Apabila terjadi kebakaran segera isolasi
daerah yang terkena dan gunakan alat
pemadam kebakaran yang sesuai untuk
memadamkannya.
66
2. Peledakan
• Yakinkan dulu jenis breaker / kontaktor
yang akan kita switch off dan apabila
dikehendaki harus menyetop dulu motor nya
dari breaker / kontaktornya.
3. Kematian jika tersengat pada tubuh manusia
• Jika seseorang terkena sengatan arus
listrik, maka orang itu hanya mampu
bertahan sekitar + 3 menit dengan
besarnya arus listrik yang mengalir
ditubuhnya sebesar 0.40 Ampere,
kemudian tidak dapat ditolong lagi /
meninggal.
67
• Tindakan Perbaikan dan pencegahan :
• Jangan mencoba memegang kabel listrik
terbuka, jika kabel itu masih dialiri listrik.
• Harus mematikan sumber arus listriknya
apabila ada timMaintenance akan bekerja
pada peralatan listrik. (Lo-To)
• Tindakan yang harus dilakukan apabila
terjadi kecelakaan terkena sengatan listrik
adalah :
• Jika mungkin putuskan aliran listrik.
• Apabila aliran listrik tidak dapat
diputuskan, gunakan potongan kayu atau
tali untuk memindahkan si korban
kecelakaan.
68
AKSES KERJA DIPROYEK
Akses kerja adalah area kantor proyek, area
fabrikasi, area yang dikerjakan, dan akses/jalur yang
menghubungkan ketiga-tiganya. Direncanakan dan
disiapkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
1. Tersedia pintu masuk dan pintu keluar, baik
untuk rutin dan darurat di kantor serta terjaga
dengan baik
2. Ada batas atau tanda peringatan atau pagar
yang memberi tanda area kerja kantor proyek,
fabrikasi, area kerja
3. Lubang yang terbuka diberi tutup sementara
dan ada tanda peringatan agar peerja berhati-
hati dan tidak terperosok
4. Material dan peralatan yang berada di jalur lintas
pekerja harus dipindahkan (harus bebas, bersih,
dan tidak licin).
5. Penerangan yang cukup baik
6. Tangga kerja yang memadai dan aman untuk
akses dan jalur pekerja
69
70
PENGOPERASIAN ALAT ANGKAT
Peralatan berat mekanis umumnya seperti : crane,
hiab crane, forklift, tronton, chain block, dll hal yang
perlu dipahami dan disikapi adalah :
• Kelaikan peralatan berat mekanis, misalnya
: sertifikasi depnaker untuk crane, forklift,
dan sertifikasi kelaikan pakai untuk chain
block, dll
• Operator yang berkualifikasi yang
mengoperasikan peralatan alat dan angkut
(dibuktikan dengan SIO, SIM, dll)
• Barikade/rambu/tanda pembatas antara
area kerja dan area aman
• Tidak boleh mengisi bahan bakar saat mesin
masih menyala
• Jika bekerja malam hari harus ada
penerangan yang cukup, demikian pula
jika siang hari saat penerangan gelap
71
• Operator harus dapat melihat jelas area
tempat kerja, jika dibutuhkan maka harus
ada signal man
• Operator dilarang meninggalkan kabin saat
alat angkat dan angkut masih bekerja dan
mesin dalam keadaan hidup
• Saat selesai operasi, posisi alat harus aman
: gigi netral, ruang kabin dan panel dalam
keadaan tertutup, mesin dalam keadaan
mati, dan parkir di tempat yang ditentukan.
72
Penanganan Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3)
Bahan-bahan ini termasuk bahan B3 bila memiliki
salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah
meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun,
menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain
yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui
termasuk limbah B3. Penanganannya sebagai
berikut :
1. Pelajari MSDS B3 yang ada di tempat kerja
2. Simpan B3 di tempat yang sesuai dengan
kriteria tempat penyimpanan pada MSDS
3. Beri tanda peringatan bagi pekerja dan label
pada B3
4. Pelatihan penanganan keadaan darurat jika
terjadi kecelakaan atau kejadian penting yang
menyangkut B3
5. Jangan buang B3 sembarangan
6. Alat Pelindung Diri yang sesuai dengan potensi
bahaya
73
Pengangkatan Beban Secara Manual
Langkah-langkah pengangkatan beban secara
manual :
1. Berhenti dan berpikir, apakah mampu untuk
mengangkat beban tersebut ? (manusia rata-
rata mampu mengangkat beban di pundak
seberat 50 Kg, sedangkan di tangan hanya 15
Kg)
2. Posisikan kaki, kaki pada posisi kuda-kuda
(jarak 30-40cm) dengan satu kaki di depan kaki
lainnya
74
3. Tekuk lutut separuh, seolah-olah duduk dan
siap mengangkat
4. Pegang barang kuat-kuat, periksa dan
goyangkan sedikit.
5. Pandangan ke depan dan tarik nafas dalam-
dalam sebagai persiapan pengangkatan beban.
6. Angkat dan luruskan kaki dan tubuh serta
gerakan lengan dengan nyaman.
7. Posisikan lengan dapat mengangkat beban
ke arah vertikal, jaga punggung tetap lurus
tetapi miring ke depan.
8. Pertahankan barang dekat dengan tubuh pada
saat membawa dan memindahkan.
9. pandangan lurus ke depan.
10. Menurunkan/meletakkan barang sesuai dengan
gerakan semula (pembalikan gerak).
75
BAHAYA DI TEMPAT GALIAN
• Hati hati pekerjaan penggalian adalah pekerjaan
yang bahayanya cukup tinggi.
• Lubang galian harus dipasang proteksi (safety
railing) dan rambu peringatan untuk
menghindari pekerja terperosok di dalam
lubang.
• Jangan melompat atau menyeberangi lubang
hanya dengan menggunakan papan kayu. .
76
• Gunakan jembatan atau tempat berjalan yang
semestinya saat anda perlumenyeberangi
lubang dan dilengkapi safety railing.
• Setiap pekerjaan galian harus direncanakan
sesuai standar dan disetujui SEM.
• Sebelum bekerja di dalam lubang galian
pastikan bahwa sisi lubang telah terpasang
penopang(shoring).
• Setiap kali ada pergeseran posisi penopang,
segera laporkan ke atasan anda.
• Tanpa penopang di sisi lubang galian dapat
mengakibatkan tanah jadi runtuh.
77
• Jangan menumpuk tanah di pingir lubang
galian.
• Gunakan tangga untuk keluar masuk ke dalam
lubang.
• Jangan bekerja atau beristirahat di dalam
lubang galian saat hujan turun.
• Untuk galian lubang yang dalam (lebih dari 1
meter) perlu evaluasi teknis dan dilakukan
pengukuran kualitas udara, jika ada potensi
kekurangan oksigen atau ada gas beracun.
78
KEBOCORAN GAS
Secara Umum, skenario jika terjadi kebocoran gas
adalah :
• Setiap karyawan melaporkan ketika terjadi
kebocoran gas kepada atasan atau SHE atau
Security
• Ketua tim tanggap darurat segera melakukan
penilaian terhadap situasi yang sedang terjadi,
untuk menentukan langkah selanjutnya, tidak
dibenarkan seorangpun menangani keadaan
darurat kebocoran gas tanpa melakukan
koordinasi dengan tim tanggap darurat.
79
• Informasikan segera kepada tim lainya agar
tetap siaga, khususnya tim komunikasi dan
keamanan (security), Management dan pihak-
pihak eksternal terkait.
• Semua tim harus siap siaga dengan tugas
tim masing-masing. Tim P3K bersiap dengan
peralatan P3K, tim evakuasi bersiap untuk
mengevakuasi orang dan barang ke muster
point, tim tumpahan bersiap untuk
mengantisipasi bila ada materal tertumpah dan
tercecer akibat adanya kebocoran gas.
80