KESEHATAN KESELAMATAN KERJA DAN
LINGKUNGAN HIDUP
Disusun Oleh :
Tri Setia Gunawan
19508334016
D IV – Teknik Mesin / Kelas D
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2019
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
1. PENGERTIAN DAN SEJARAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA
Apa yang dimaksud dengan K3? Pengertian K3 adalah bidang yang berhubungan
dengan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja pada
sebuah institusi ataupun lokasi proyek.
Arti K3 (Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja) secara khusus dapat dibagi
menjadi dua, yaitu:
a. Pengertian K3 secara keilmuan; K3 merupakan ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.
b. Pengertian K3 secara filosofis; suatu upaya yang dilakukan untuk memastikan
keutuhan dan kesempurnaan jasmani dan rohani tenaga kerja pada khususnya, dan
masyarakat pada umumnya terhadap hasil karya dan budaya menuju masyarkat adil
dan makmur.
Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan salah satu hal
penting yang wajib diterapkan oleh semua perusahaan. Hal ini juga tertuang dalam
Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 87.
Pengertian K3 Menurut Para Ahli
Agar memudahkan kita dalam memahami apa arti K3, maka kita dapat merujuk
pada pendapat beberapa ahli. Berikut ini adalah pengertian K3 (Keamanan,
Kesehatan, dan Keselamatan Kerja) menurut para ahli:
1. Mathis dan Jackson
Menurut Mathis dan Jackson pengertian K3 adalah kegiatan yang menjamin
terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan mental
melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan dan kontrol terhadap pelaksanaan
tugas dari karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan aturan yang berlaku,
baik dari lembaga pemerintah maupun perusahaan dimana mereka bekerja.
2. Ardana
Menurut Ardana, pengertian K3 adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar
tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat
sehingga setiap sumber produksi bisa digunakan secara aman dan efisien.
3. Flippo
Menurut Flippo arti K3 adalah pendekatan yang menentukan standar yang
menyeluruh dan spesifik, penentuan kebijakan pemerintah atas praktek-praktek
perusahaan di tempat kerja dan pelaksanaannya melalui surat panggilan, denda, dan
sanksi lain.
4. Hadiningrum
Menurut Hadiningrum pengertian K3 adalah pengawasan terhadap SDM, mesin,
material, dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar pekerja tidak
mengalami kecelakaan.
5. Widodo
Menurut Widodo, definisi K3 adalah bidang yang berhubungan dengan kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun
lokasi proyek.
6. World Health Organization (WHO)
Menurut WHO pengertian K3 adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan
dan memelihara derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya
bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan
pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam
pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan.
A. SEJARAH K3 DI DUNIA
Sejak jaman purba segala kebutuhan manusia untuk hidup dipenuhi dengan
bekerja. Di dalam aktivitasnya selama bekerja terdapat resiko pekerjaan, mulai dari
resiko yang ringan terjadinya insiden ketika bekerja sampai dengan resiko berat
yang berakibat pada terjadinya accident atau kecelakaan kerja.
Berikut adalah beberapa sejarah perkembangan keselamatan dan kesehatan
kerja yang pernah ada di masa lalu:
• 1700 tahun sebelum masehi Raja Hamurabi dari kerajaan Babilonia dalam kitab
undang-undangnya menyatakan “Bila seorang ahli bangunan membuat rumah
untuk seseorang dan pembuatannya tidak dilaksanakan dengan baik sehingga
rumah itu roboh dan menimpa pemilik rumah hingga mati, maka ahli bangunan
tersebut dibunuh”.
• Dalam zaman Mozai sekitar 5 abad setelah Hamurabi, dinyatakan bahwa ahli
bangunan bertanggung jawab atas keselamatan para pelaksana dan pekerjanya,
dengan menetapkan pemasangan pagar pengaman pada setiap sisi luar atap
rumah.
• Sekitar 80 tahun sesudah masehi, Pinius seorang ahli Encyclopedia bangsa
Roma mensyaratkan agar pekerja tambang diharuskan memakai tutup hidung.
• Tahun 1450 Dominico Fontana diserahi tugas membangun obelisk di tengah
lapangan St. Pieter Roma. Ia selalu mensyaratkan agar para pekerja memakai
topi baja.
Revolusi industri yang terjadi di eropa pada abad ke-18 membawa dampak
perubahan yang besar dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan politik saat itu.
Pekerjaan yang semula dikerjakan oleh hewan dan manusia, berganti dengan mesin-
mesin yang berbasis manufaktur.
Pada masa awal revolusi industri itulah sering terjadi kecelakaan kerja akan tetapi
karena dari sisi pengusaha pada masa itu belum memandang upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan kesehatan kerja sebagai bagian yang penting.
Pada tahun 1991 di Amerika mulai berlaku undang-undang yang bernama “Work
Compensation Law”, dimana dalam undang-undang tersebut menyebutkan bahwa
tidak memandang apakah kecelakaan tersebut terjadi akibat kesalahan si korban
atau tidak, yang bersangkutan akan mendapatkan ganti rugi. Berlakunya undang-
undang ini menandai permulaan usaha pencegahan kecelakaan yang lebih terarah.
B. SEJARAH K3 DI INDONESIA
Pada zaman penjajahan Belanda, beberapa rakyat Indonesia berstatus sebagai
budak. Mereka dilindungi oleh Regerings Reglement (RR) tahun 1818 pada pasal
115 memerintahkan supaya diadakan peraturan-peraturan mengenai perlakuan
terhadap keluarga budak. Beberapa peraturan terkait dengan keselamatan dan
kesehatan kerja pada zaman penjajahan Belanda antara lain adalah:
1. Maatregelen ter Beperking van de Kindearrbied en de Nachtarbeid van de
Vroewen, yaitu peraturan tentang pembatasan pekerjaan anak dan wanita pada
malam hari, yang dikeluarkan dengan ordonantie No.647 Tahun 1925, mulai
berlaku tanggal 1 maret 1926.
2. Bepalingen Betreffende de Arbeit van Kinderen en Jeugdige Persoonen ann
Boord van Scepen, yaitu peraturan tentang pekerjaan anak dan pemuda di kapal.
Mulai berlaku 1 mei 1926
3. Mijn Politie Reglement, Stb No.341 tahun 1931 (peraturan tentang pengawasan
tambang)
4. Voorschriften omtrent de dienst en rushtijden van bestuur der an
motorrijtuigen (tentang waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi
kendaraan bermotor)
Setelah kemerdekaan, regulasi-regulasi tersebut tidak berlaku lagi mengingat
diberlakukannya Undang undang Dasar 1945. Maka beberapa peraturan termasuk
peraturan keselamatan kerja yang pada saat itu berlaku yaitu veiligheids reglement
telah dicabut dan diganti dengan Undang-undang Keselamatan Kerja No.1 Tahun
1970.
Perkembangan keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia boleh dibilang harus
lebih ditingkatkan lagi mengingat setelah Undang-undang Keselamatan Kerja No.1
Tahun 1970,tidak ada lagi breakthrough dalam catatan dunia Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Indonesia kecuali diisi oleh beberapa peraturan. Salah satu
peraturan yang penting adalah Undang-undangn Nomor 13 Tahun 2013 tentang
Ketenagakerjaan.
Tantangan keselamatan dan kesehatan kerja di zaman modern bagi Indonesia
bahkan lebih besar lagi. Di tahun 2012 saja, 9 pekerja meninggal setiap harinya
akibat kecelakaan kerja (Jamsostek,2014). Bahkan dunia keselamatan kerja
Indonesia baru saja dihantam oleh Tragedi Mandom yang belum jelas
pembelajarannya (lesson learn) untuk meningkatkan K3 Indonesia ke depannya.
2. PERUNDANG UNDANGAN DAN ORGANISASI K3
Perundangan K3
Perundang-undangan K3 ialah salah satu alat kerja yang penting bagi para Ahli K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) guna menerapkan K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja) di tempat kerja. Kumpulan perundang-undangan K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Republik Indonesia tersebut antara lain :
A. Dasar Hukum
Dasar Hukum dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Depkes RI, 2009);
• Undang- undang no.1 tahun 1970
“Tentang Keselamatan Kerja”
• Undang-undang no. 23 tahun 1992
“Tentang kesehatan; bahwa K3 harus diselenggarakan di semua tempat kerja,
khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah
terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit sepuluh orang”
• Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan dengan
ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti sampi dengan
keselamatan dan kesehatan kerja.
• Undang- undang no 36 tahun 2009
“Kewajiban Pengelola untuk menyelenggarakan upaya kesehatan kerja, untuk
melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan, serta
pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan”.
• Undang-undang no. 44 pasal 40 ayat 1 tahun 2009
“Akreditasi Rumah Sakit”
• Kepmenkes RI no. 432 tahun 2007 ;
“Pedoman Tentang Keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit”
• Kepmenkes RI no. 1023 tahun 2004 ;
“Persyaratan Kesehatan Lingkungan rumah sakit”
Sebagai penjabaran dan kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga
mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait
penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang
Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
b. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas
Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
c. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan
Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
d. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul
Akibat Hubungan Kerja
• Undang- undang no 36 tahun 2009
“Kewajiban Pengelola untuk menyelenggarakan upaya kesehatan kerja, untuk
melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan, serta
pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan”.
• Undang-undang no. 44 pasal 40 ayat 1 tahun 2009
“Akreditasi Rumah Sakit”
• Kepmenkes RI no. 432 tahun 2007 ;
“Pedoman Tentang Keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit”
• Kepmenkes RI no. 1023 tahun 2004 ;
“Persyaratan Kesehatan Lingkungan rumah sakit”
Organisasi Pengelola K3
1. Safety Department
Model organisasi ini memberikan kedudukan khusus kepada bagian
keselamatan kerja (seafety department) sebagai subsistem organisasi perusahaan
untuk mengurusi segala hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan
kerja dalam perusahaan.Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas organisasi,
mestinya personil safety department terdiri dari orang-orang yang punya
percekapan teknik dan praktis tentang keselamatan dan kesehatan kerja (setifikasi
khusus safety).
Secara umum tugas dari staf department adalah :
a. Memberikan petunjuk teknik dan praktis tentang keselamatan dan kesehatan
kerja.
b. Melakukan isnpeksi penerapan norma keselamtan dan kesehatan kerja oleh para
pekerja dibawah pimpinananya.
c. Melakukan pengusutan tentang sebab-sebab kecelakaan
d. Mencatat statistik kecelakaan yang terjadi pada perusahaan
e. Membuat laporan tentang keselamatan dan kesehatan kerja
2. Safety Committee
Komite keselamatan kerja (Safety Committee) merupakan suatu forum rapat
para pimmpinan tingkat atas mengenai masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Biasanya komite diketuai oleh pimpinan tertinggi ( Kuasa Direksi/General
Manager) dan sekretarisnya adalah Kepala bagian keselamatan dari kesehatan kerja
serta anggotanya terdiri dari kepala-kepala dinas/ anager dan kepala bagian
Superintendent, sehingga keputusan yang dikeluarkann mempunyai kekuatan moral
dan dilaksanakan.Tugas Safety Committer antara lain :
a. Menetapkan kebijaksanaan perusahaan, pengarahan dan pedoman untuk
rencana keselamatan dan kesehatan kerja (corporate level)
b. Mempelajari usulan proses, fasilitas dan peralatan baru safety (technical level)
c. Menilai dan mengevaluasi segi penerapann norma keselamatan dan kesehatan
kerja dan tata cara kerja standar (management level)
d. Mengusut,memeriksa, dan melaporkan setiap tindakan dan ondisi tidak aman
dari masing-masing bagian dan mengusulkan tindakan koreksi (supervisory-in-
plant level).
3. Bagian Personalia
Pada sistem organisasi ini penanganan masalah keselamatan dan kesehatan
kerja tidak dilakukan oleh suatu badan khusus, tetapi oleh bagian personalia. Tugas
dari bagian ini sama dengan tugas staf safety department, yakni antara lain :
a. Memberikan petunjuk teknik dan praktis kepada pekerja tentang keselamatan
dan kesehatan kerja.
b. Melakukan onspeksi penerapan norma keselamatan dan kesehatan kerja.
c. Melakukan pengusutan sebab-sebab kecelakaan
d. Mencatat data statistik kecelakaan kerja
e. Membuat laporan tentang keselamatan dan kesehatan kerja
Model manajeman pengelolaan seperti ini biasanya hasil kerjanya kurang
memuaskan, kerena terkesan keselamatan dan kesehatan kerja diurus secara
sambilan.
4. Organisasi staf dan garis
Organisasi perusahaan tambang yang berbentuk staf dan garis memberi
tugas tambahan kepada staf yang ada pada posisi pengawas untuk terjun langsung
dalam menangani keselamatan dan kesehatan kerja di bidang masing-masing.
Seorang staf dalam organisasi ini haruslah mempunyai sertifikasi khusus,
motivasi tinggi, pengetahuan, dan pengalaman yang cukup dalam masalah
keselamatan dan kesehatan kerja.
Mereka bertugas :
a. Memberikan contoh langsung (mendemonstrasikan) cara dan kebiasaan kerja
yang aman.
b. Mengamati dan mengoreksi tindakan dan kondisi tidak aman.
c. Membangkitkankan dan memilhara minat sert partisipasi anak buahnya dalam
penerpan norma keselamatan dan kesehatan kerja.
d. Membuat laporan keselamatan dan kesehatan kerja.
Staf and line organization menetapkan bahwa keselamatan dan kesehatan
kerja merupakan tanggung jawab penuh organisasi dan aspek keselamatan dan
kesehatan kerja adalah merupakan bagian integral dari kegiatan produksi.
Organisasi Penanganan K-3
Penanganan K-3 adalah tanggung jawab seluruh individual yang terlibat di
dalam perusahaan, namun secara struktural perlu dibentuk Bagian K3 dan
Lingkungan, dimana Kepala Bagian-nya diposisikan sebagai Wakil Kepala Teknik
Tambang yang langsung bertanggung jawab kepada General Manager sebagai
Kepala Teknik Tambang. Bagian tersebut selain melakukan inspeksi juga sebagai
evaluator dan bersifat administratif, dengan tugas :
a. Mengumpulkan data dan mencatat rincian dari setiap kejadian kecelakaan dan
menganalisanya
b. Mengumpulkan data kegiatan dan lokasi yang berpotensi bahaya dan membuat
Standart Operation Procedure (SOP) yang aman untuk bekerja pada kegiatan
tersebut.
c. Membuat peraturan dan petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja terhadap
seluruh pekerja.
d. Mengkoordinir pertemuan-pertemuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
e. Melakukan evaluasi terhadap seluruh kegiatan keselamatan dan kesehatan
kerja.
Untuk mewujudkan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K–3), perusahaan membentuk organisasi dan menunjuk personil yang
bertanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan program K3 tersebut. Wadah
organisasi tersebut adalah :
Organisasi K3
Organisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja terbagi atas 2 yaitu :
1. Organisasi Pemerintahan
Organisasi keselamatan kerja dalam administrasi pemerintah di tingkat pusat
terdapat dalam bentuk direktorat pembinaan norma keselamatan dan kesehatan
kerja. Direktorat jendral perlindungan dan perawatan tenaga kerja. Fungsi-fungsi
direktorat tersebut antara lain adalah :
• melaksanakan pembinaan, pengawasan serta penyempurnaan dalam
penetapan norma keselamatan kerja di bidang mekanik.
• melakukan pembinaan, pengawasan serta penyempurnaan dalam penetapan
norma keselamatan kerja di bidang listrik.
• melakukan pembinaan, pengawasan serta penyempurnaan dalam penetapan
norma keselamatan kerja di bidang uap.
• melakukan pembinaan, pengawasan serta penyempurnaan dalam penetapan
norma-norma keselamatan kerja di bidang pencegahan kebakaran.
Sub direktorat yang ada sangkut pautnya dengan keselamatan kerja di bawah
direktorat tersebut membidangi keselamatan kerja mekanik, keselamatan kerja
listrik, keselamatan kerja uap dan pencegahan kebakaran. Seksi-seksi di bawah
keselamatan kerja mekanik adalah seksi mesin produksi, seksi pesawat tekanan,
seksi pesawat transport dan angkut dan seksi pesawat umum. Di dalam sub
direktorat keselamatan kerja mekanik terdapat seksi pembangkit listrik, seksi
distribusi listrik dan seksi pesawat listrik.
2. Organisasi Tingkat Perusahaan
Organisasi keselamatan kerja di tingkat perusahaan ada dua jenis, yaitu :
a. Organisasi sebagai bagian dari struktur organisasi perusahaan dan disebut
bidang, bagian, dan lain-lain keselamatan kerja. Oleh karena merupakan
bagian organisasi perusahaan, maka tugasnya kontinyu, pelaksanaanya
menetap dan anggarannya sendiri. Kegiatan-kegiatannya biasanya cukup
banyak dan efeknya terhadap keselamatan kerja adalah banyak dan baik.
b. Panitia keselamatan kerja, yang biasanya terdiri dari wakil pimpinan
perusahaan, wakil buruh, teknisi keselamatan kerja, dokter perusahaan dan
lain-lain. Keadannya biasanya mencerminkan panitia pada umumnya.
Pembentukan panitia adalah atas dasar kewajiban undang-undang.
Tujuan keselamatan pada tingkat perusahaan adalah sebagai berikut :
• pencegahan terjadinya kecelakaan
• pencegahan terhjadinya penyakit-penyakit akibat kerja.
• pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya terjadinya kematian
akibat kecelakaan oleh karena pekerjaan.
• pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya cacat akibat
pekerjaan.
• pengamatan material, konstruksi, bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin,
pesawat-peawat, instalansi-instalansi, dan lain-lain.
• peningkatan produktifitas kerja atas dasar tingkat keamanan kerja yang
tinggi.
• penghindaran pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat dan sumber
produksi lainnya sewaktu bekerja.
• pemeliharaan tempat kerja yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.
• peningkatan dan pengamanan produksi dalam rangka industrialisasi dan
pembangunan.
Berdasarkan pengamatan dan kajian terhadap implementasi TI, khususnya di
perusahaan-perusahaan Indonesia, nampaknya hal yang menjadi kunci sukses
utama adalah aspek leadership atau kepemimpinan dari seorang Presiden Direktur.
Pimpinan perusahaan ini harus dapat menjadi “lokomotif” yang dapat merubah
paradigma pemikiran (mindset) terhadap orang-orang di dalam organisasi yang
belum mengetahui manfaat strategis dari teknologi informasi bagi bisnis
perusahaan.
Disamping itu, yang bersangkutan harus memiliki rencana strategis atau
roadmap yang jelas terhadap pengembangan teknologi informasi di perusahaannya
dan secara konsisten dan kontinyu disosialisasikan ke seluruh jajaran manajemen
dan stafnya. Hal-hal semacam business plan, kebijakan (policy), masterplan, cetak
biru, dan lain sebagainya dapat dijadikan sebagai alat untuk membantu manajemen
dalam usahanya untuk mengembangkan TI secara holistik, efektif, dan efisien.
Struktur Organisasi K3
Contoh struktur organisasi K3 dan tenaga kerja di pertambangan
Fungsi tiap bagian Secara garis besar adalah sebagi berikut :
1. Divisi Perencanaan
Divisi Perencanaan membantu tugas-tugas manajer dan bertanggung jawab
terhadap perencanaan tambang , laporan produksi harian/ mingguan/ bulanan,
penentuan sasaran produksi dan kualitas produk. Divisi ini bertanggung jawab pada
perencanaan tambang baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Divisi Operasi Tambang
Divisi ini di bagi 2 bagian yaitu bagian ekplorasi yang bertugas melakukan
ekplorasi yang dibantu oleh para staf dan bagian penambangan yang bertanggung
jawab pada pembongkaran , pengangkutan, dan pemuatan serta kualitas dari bahan
galian itu sendiri.
3. Divisi Pengolahan
Tugas dari divisi pengolahan antara lain sebagai pengendali mutu yang
mempunyai fungsi menganalisa bahan galian yang akan diolah.
4. Divisi K3 dan Lingkungan
Divisi ini bertanggung jawab terhadap:
a. Keselamatan dan Kesehatan kerja (K-3)
b. Lingkungan, mencegah dampak negative yang timbul karena operasi
tambang, mengontrol, rekloamasi dan penghijauan daerah tambang.
c. Perawatan kendaran ringan dan alat-alat berat.
d. Sarana penerangan daerah tambang.
e. Bangunan kantor dan pabrik pengolahan
5. Divisi Administrasi dan keuangan
Divisi administrasi dan keuangan membantu manajer dan bertanggung
jawab terhadap kegiatan-kegiatan yangmendukung operasi tambang, anatara lain:
a. Keuangan dan Pembayaran gaji (payroll)
b. Administrasi dan surat-menyurat
c. Personalia dan umum.
d. Security / satpam
e. Hubungan kepada pemerintah dan masarakat setempat
f. Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja
3. ZAT, BAHAN, DAN RESIKO BAHAYA DI TEMPAT KERJA
Apa itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3LH)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan
yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi
masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Keselamatan
dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan
atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
Tujuan K3LH
Tujuan utama dari kesehatan lingkungan kerja adalah melindungi pekerja
dan masyarakat sekitar atau perusahaan dari kemungkinan bahaya-bahaya yang bisa
timbul.
Mengapa Tempat Kerja yang Aman dan Sehat itu Penting?
Jika tempat kerja aman dan sehat, setiap orang dapat melanjutkan pekerjaan
mereka secara efektif dan efisien. Jika tidak, maka terdapat bahaya, kerusakan dan
absen sakit tak terhindarkan, mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi pekerja dan
produktivitas berkurang bagi perusahaan.
Walaupun kenyataannya masih banyak perusahaan dan pekerja yang
mengabaikan K3LH, karena besarnya biaya yang harus ditanggung. Biaya ini
dianggap memperlambat daya saing bisnis, padahal biaya langsung yang
dikeluarkan ada banyak seperti;
➢ Biaya medis,
➢ Hilangnya hari kerja,
➢ Berkurangnya produksi,
➢ Hilangnya kompensasi,
➢ Waktu/uang pelatihan,
➢ Kerusakan dan perbaikan peralatan,
➢ Hilangnya kontrak kerja.
Seiring berjalannya waktu, sekarang banyak terdapat standar hukum tentang
keselamatan dan kesehatan kerja yang harus dipenuhi di tempat kerja. Standar-
standar tersebut menunjukkan kesepakatan antara para pengusaha, pekerja dan
pemerintah mengenai biaya dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Sehingga walaupun dengan biaya yang besar, pekerjaan dapat berjalan dengan
efektif dan konsisten.
Ruang Lingkup Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja termasuk dalam perlindungan terhadap pekerja/buruh agar
selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat kerja atau bahan yang
dikerjakan. Selain itu juga memberikan perlindungan kepada pengusaha dan
pemerintah
➢ Bagi pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan keselamatan kerja akan
membuat pekerja bekerja semaksimal mungkin tanpa khawatir sewaktu-waktu
akan tertimpa kecelakaan kerja.
➢ Bagi pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja di perusahaannya akan
mengurangi terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan pengusaha harus
memberikan biaya tambahan.
➢ Bagi pemerintah dan masyarakat, dengan adanya peraturan keselamatan
kerja yang dipatuhi maka tujuan pemerintah untuk menyejahterakan rakyat akan
tercapai dengan meningkatnya produksi perusahaan yang aman dan produktif.
Bahaya dan Resiko Terhadap K3LH
➢ Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang
berakibat pada kerugian.
➢ Resiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya
dan peluang terjadinya kejadian tersebut.
Kategori A Kategori B Kategori C Kategori D
Potensi bahaya dampak Potensi bahaya yang Risiko terhadap Potensi bahaya
terhadap pribadi
jangka panjang pada langsung beresiko pada kesejahteraan atau dan psikologis
kesehatan keselamatan kesehatan sehari-hari Pelecehan
Kebakaran (bullying dan
Bahaya faktor kimia Air minum seksual)
(debu, uap logam, uap) Terinfeksi
Toilet dan fasilitas HIV/AIDS
Bahaya faktor biologi Listrik mencuci Stress
(virus, bakteri, binatang)
Cara bekerja dan bahaya House keeping P3K di tempat kerja Narkoba di
(perawatan alat) tempat kerja
faktor ergonomis
Potensi bahaya
lingkungan yang
disebabkan oleh polusi
Kenapa kita harus mengetahui resiko bahaya di tempat kerja, sebelum
melakukan pekerjaan?
Untuk mengetahui, mengenali dan memperkirakan adanya bahaya di tempat
kerja. Agar bisa mengindentifikasi resiko bahaya, sehingga bisa mendapatkan
penanganan ataupun pengendalian terhadap resiko tersebut. Dengan tujuan untuk
mengurangi atau mencegah suatu kecelakaan kerja.
Faktor-Faktor Bahaya Lingkungan Kerja
Bahaya di lingkungan kerja dapat adalah kondisi yang merugikan terhadap
kesehatan atau kesejahteraan orang yang bekerja. Faktor bahaya di lingkungan kerja
meliputi faktor Kimia, Biologi, Fisika, Fisiologi dan Psikologi.
➢ Bahaya Kerja Kimiawi
Bahan kimia berbahaya dan beracun bagi tubuh manusia, apalagi jika
terpapar dalam jumlah yang banyak. Zat kimia bisa masuk ke dalam tubuh
melalui pernapasan (inhalation), kulit (skin absorption),dan tertelan
(ingestion).
• Korosi : bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan
pada permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan
sistem pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena.
Contoh : asam dan basa , fosfor.
• Iritasi : menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak.
Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis.
Iritasi pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan
sesak napas, peradangan dan bengkak.
Contoh :
- Kulit : asam dan basa, pelarut, minyak.
- Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen
dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
• Kanker : bahan kimia yang secara jelas sudah terbukti menyebabkan
kanker pada hewan. Contoh : benzene (leukemia), asbestos (kanker
paru-paru), berrylium.
• Racun Sistemik : agen-agen yang menyebabkan luka pada organ
atau sistem tubuh.
Contoh :
- Otak : pelarut, lead,mercury, manganese
- Ginjal : cadmium, lead, mercury
- Paru-paru : silica, asbestos.
➢ Bahaya Kerja Biologi
Bahaya biologi dapat sebagai debu organik yang berasal dari sumber-
sumber biologi seperti virus, bakteri, jamur, protein dari binatang atau
bahan-bahan dari tumbuhan seperti produk serat alam yang terdegradasi.
• Organisme viable dan racun biogenic
Organisme viable (jamur, spora dan mycotoxins)
Perkembangan produk bakterial dan jamur dipengaruhi oleh suhu,
kelembapan dan media dimana mereka tumbuh. Racun biogenik
termasuk endotoxins, aflatoxin dan bakteri. Biasanya sering terdapat
pada pekerja silo bahan pangan. Contoh : Byssinosis
• Bahaya Infeksi
Ketidaksehatan akibat infeksi jarang dijumpai, namun
pekerja yang potensial mengalaminya yaitu pekerja di rumah sakit,
laboratorium, penjaga binatang, dokter hewan dll. Contoh : Hepatitis
B, tuberkulosis, anthrax, brucella, tetanus.
➢ Bahaya Kerja Fisik
Potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan
terhadap tenaga kerja yang terpapar.
• Kebisingan
Semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari
alat- alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat
tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (>85dbA).
Contoh : Pengolahan kayu, tekstil, metal.
• Penerangan
Setiap tempat kerja harus memenuhi syarat untuk
melakukan pekerjaan. Penerangan yang sesuai sangat penting
untuk peningkatan kualitas dan produktivitas. Sebagai contoh,
pekerjaan perakitan benda kecil membutuhkan tingkat penerangan
lebih tinggi, misalnya mengemas kotak.
• Getaran
gerakan bolak-balik cepat ke atas dan ke bawah atau ke
belakang dan ke depan yang terjadi secara teratur dari benda atau
media dengan arah bolak balik dari kedudukannya. Contoh :
Loaders, forklift truck, pneumatic tools, chain saws.
➢ Bahaya Kerja Psikologis
Bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kondisi aspek-aspek
psikologis ketenagakerjaan yang kurang baik atau kurang mendapatkan
perhatian seperti : penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat,
minat, kepribadian, motivasi sehingga mengakibatkan stress akibat kerja.
Contoh :
- Stress, respon non-spesifik terhadap setiap tuntutan atasnya.
- Gangguan emosional seperti cemas, gelisah, gangguan kepribadian,
penyimpangan seksual, ketagihan alkohol dan psikotropika
- Penyakit-penyakit psikosomatis (jantung koroner, tekanan darah
tinggi, gangguan pencernaan, dll)
➢ Bahaya Kerja Ergonomis (Fisiologis)
Disebabkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak
sesuai dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan
pekerjaan.
Prinsip ergonomi adalah mencocokan pekerjaan untuk pekerja.
Resiko potensi bahaya ergonomi akan meningkat :
- dengan tugas monoton, berulang atau kecepatan tinggi;
- dengan postur tidak netral atau canggung;
- bila terdapat pendukung yang kurang sesuai;
- bila kurang istirahat yang cukup.
Zat dan Bahan yang berbahaya di tempat kerja
Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan,
penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut,
uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran,
ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan
gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut
atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang
Bahan Kimia
Bahan kimia banyak digunakan dalam lingkungan kerja yang dapat dibagi dalam
tiga kelompok besar yaitu :
1. Industri Kimia, yaitu industri yang mengolah dan menghasilkan bahan-bahan
kimia, diantaranya industri pupuk, asam sulfat, soda, bahan peledak, pestisida,
cat , deterjen, dan lain-lain. Industri kimia dapat diberi batasan sebagai industri
yang ditandai dengan penggunaan proses-proses yang bertalian dengan
perubahan kimiawi atau fisik dalam sifat-sifat bahan tersebut dan khususnya
pada bagian kimiawi dan komposisi suatu zat.
2. Industri Pengguna Bahan Kimia, yaitu industri yang menggunakan bahan kimia
sebagai bahan pembantu proses, diantaranya industri tekstil, kulit, kertas,
pelapisan listrik, pengolahan logam, obat-obatan dan lain-lain.
3. Laboratorium, yaitu tempat kegiatan untuk uji mutu, penelitian dan
pengembangan serta pendidikan. Kegiatan laboratorium banyak dipunyai oleh
industri, lembaga penelitian dan pengembangan, perusahaan jasa, rumah sakit
dan perguruan tinggi.
Klasifikasi atau penggolongan bahan kimia berbahaya diperlukan untuk
memudahkan pengenalan serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum
bahan kimia berbahya diklasifikasikan menjadi beberapa golongan diantaranya
sebagai berikut :
1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)
Bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia atau
menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh karena tertelan, lewat
pernafasan atau kontak lewat kulit.
Pada umumnya zat toksik masuk lewat pernafasan atau kulit dan kemudian beredar
keseluruh tubuh atau menuju organ-organ tubuh tertentu. Zat-zat tersebut dapat
langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu seperti hati, paru-paru, dan lain-
lain. Tetapi dapat juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang, darah, hati, atau
cairan limpa dan menghasilkan efek kesehatan pada jangka panjang. Pengeluaran
zat-zat beracun dari dalam tubuh dapat melewati urine, saluran pencernaan, sel
efitel dan keringat.
2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
Adalah bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakan
apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain.
Zat korosif dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit, mata, dan saluran
pernafasan. Kerusakan dapat berupa luka, peradangan, iritasi (gatal-gatal) dan
sinsitisasi (jaringan menjadi amat peka terhadap bahan kimia).
3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
Adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen dan dapat menimbulkan
kebakaran. Reaksi kebakaran yang amat cepat dapat juga menimbulkan ledakan.
4. Bahan Kimia Peledak (Explosive)
Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang karena suatu reaksi
kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu
yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya. Zat eksplosif amat
peka terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan), ada yang
dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluene
(TNT), nitrogliserin dan ammonium nitrat (NH4NO3).
5. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
Suatu bahan kimia yang mungkin tidak mudah terbakar, tetapi dapat
menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan-bahan
lainnya.
6. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances)
Bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan air dengan mengeluarkan
panas dan gas yang mudah terbakar.
7. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances)
Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan asam menghasilkan
panas dan gas yang mudah terbakar atau gas-gas yang beracun dan korosif.
8. Gas Bertekanan (Compressed Gases)
Adalah gas yang disimpan dibawah tekanan, baik gas yang ditekan maupun
gas cair atau gas yang dilarutkan dalam pelarut dibawah tekanan.
9. Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances)
Adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan memancarkan sinar
radioaktif dengan aktivitas jenis lebih besar dari 0,002 microcurie/gram. Suatu
bahan kimia dapat termasuk diantara satu atau lebih golongan di atas karena
memang mempunyai sifat kimia yang lebih dari satu sifat.
4. PERLENGKAPAN DAN KESELAMATAN K3
Perlengkapan keselamatan kesehatan kerja (K3) adalah suatu bidang yang terkait
dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di
sebuah institusi maupun lokasi proyek atau usaha mencegah kemungkinan
terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Tujuan
a. Untuk memelihara kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja.
b. Untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan dan PAK
yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktifitas kerja.
Peranan Dan Fungsi
- Setiap Tenaga Kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kelsejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktifitas nasional.
- Setiap orang yang berbeda ditempat kerja perlu terjamin keselamatannya
- Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien.
- Untuk mengurangi biaya perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja dan penyakit
akibat hubungan kerja karena sebelumnya sudah ada tindakan antisipasi dari
perusahaan.
Perlengkapan APD
Penerapan K3 dalam pekerjaan proyek dilakukan dengan menyediakan
perlengkapan APD (Alat Pelidung Diri) yang berstandart disetiap aktifitas proyek
sesuai kebutuhan.
Tiga Norma
- Aturan berkaitan dengan keselamatan dan kesehtan kerja.
- Di terapkan untuk melindungi tenaga kerja.
- Resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Undang-Undang
- UU No.1 tahun 1970
- UU No.21 tahun 2003
- UU No.13 tahun 2003
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER-5/MEN/1996
Jenis Bahaya
1. Contoh Jenis Kimia :
Abu sisa pembakaran bahan kimia Uap bahan kimia
Gas bahan kimia
2. Contoh Jenis Fisika :
Suatu temperatur udara yang terlalu panas maupun terlalu dingin.
Keadaan yang sangat bising.
Keadaan udara yang tidak normal.
Kerusakan pendengaran.
Suatu suhu tubuh yang tidak normal
Jenis Proyek/ Pekerjaan
Pencahayaan atau penerangan yang kurang.
Bahaya dari pengangkutan barang.
Bahaya yang ditimbulkan oleh peralatan.
3. Contoh Jenis Proyek/Pekerjaan :
Kerusakan penglihatan
Pemindahan barang yang tidak hati-hati sehingga melukai pekerja.
Peralatan kurang lengkap dan pengamanan sehngga melukai pekerja.
Pelindung Kepala (Safety Helmet)
Helmet atau Topi Pelindung digunakan untuk melindungi Kepala dari paparan
bahaya seperti kejatuhan benda ataupun paparan bahaya aliran listrik.
Pemakaian Topi Pelindung (Safety Helmet) harus sesuai dengan lingkar kepala
sehingga nyaman dan efektif melindungi pemakainya.
Di Produksi Elektronika, Topi pelindung biasanya digunakan oleh Teknisi Mesin
dan Petugas Gudang.
Pelindung Muka dan Mata (Safety Glass)
Kacamata Pelindung adalah alat yang digunakan untuk melindungi mata dari
bahaya loncatan benda tajam, debu, partikel-partikel kecil, mengurangi sinar yang
menyilaukan serta percikan bahan kimia. Kacamata Pelindung terdiri dari 2 Jenis
yaitu :
1. Safety Spectacles, berbentuk Kacamata biasa dan hanya dapat melindungi mata
2. Safety Goggles
Pelindung Pendengaran (Safety Ears)
Ada 2 (dua) jenis Pelindung pendengaran :
1. Ear Plug
2. Ear Muff
Pelindung Pernafasan (Masker Dan Respirator)
Ada dua jenis alat pelindung pernafasan :
1. Masker
2. Respirator
Pelindung Tangan (Hand Glove)
Sarung Tangan adalah perlengkapan yang digunakan untuk melindungi tangan
dari kontak bahan kimia, tergores atau lukanya tangan akibat sentuhan dengan
benda runcing dan tajam.
1. Sarung Tangan Katun (Cotton Gloves), digunakan untuk melindungi tangan
dari tergores, tersayat dan luka ringan.
2. Sarung Tangan Kulit (Leather Gloves), digunakna untuk melindungi tangan
dari tergores, tersayat dan luka ringan.
3. Sarung Tangan Karet (Rubber Gloves), digunakan untuk melindungi tangan
dari kontak dengan bahan kimia seperti Oli, Minyak, Perekat dan Grease.
4. Sarung Tangan Electrical, digunakan untuk melindungi tangan dari kontak
dengan arus listrik yang bertegangan rendah sampai tegangan tinggi.
Pelindung Kaki (Safety Shoes)
Sepatu Pelindung atau Safety Shoes adalah perlengkapan yang digunakan untuk
melindungi kaki dari kejatuhan benda, benda-benda tajam seperti kaca ataupun
potongan baja, larutan kimia dan aliran listrik.Sepatu Pelindung terdiri dari baja
diujungnya dengan dibalut oleh karet yang tidak dapat menghantarkan listrik.
Sepatu Pelindung wajib digunakan oleh teknisi mesin dan petugas gudang.
Celemek Dan Wearpack (Apron)
Apron atau sering disebut dengan Celemek adalah alat pelindung tubuh dari
percikan bahan kimia dan suhu panas. Apron atau Celemek sering digunakan
dalam proses persiapan bahan-bahan kimia dalam produksi seperti Grease, Oli,
Minyak dan Adhesive (perekat. Sedangkan Wearpack merupakan alat pelindung
diri yang digunakan sebagai pelindung saat berada di bawah mobil, atau didaerah
lainnya yang kotor. Selain dipakai untuk perlindungan diri, wearpack juga
dipakai untuk menunjukkkan identitas perusahaan tempat seorang bekerja.
5. PENYAKIT DAN GANGGUAN AKIBAT KERJA
Penyakit Akibat Kerja
Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja
karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya
fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan
kerja. Penyakit Akibat Kerja (PAK) di kalangan petugas kesehatan dan non
kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Sebagai faktor penyebab,
sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan
pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan resiko kerja,
sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam
bekerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor yang sangat
penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit dalam bekerja
akan berdampak pada diri, keluarga, dan lingkungannya. Salah satu komponen yang
dapat meminimalisir penyakit akibat kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga
kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban yang terpapar
penyakit akibat kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk
menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Tujuan memahami
penyakit akibat kerja ini adalah untuk memperoleh informasi dan pengetahuan agar
lebih mengerti tentang penyakit akibat kerja dan dapat mengurangi korban yang
terpapar penyakit akibat kerja guna meningkatkan derajat kesehatan dan produktif
kerjakerja.
1. Pengertian Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja,
bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian, penyakit akibat kerja
merupakan penyakit yang artifisual atau man made disease. Sejalan dengan hal
tersebut terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa Penyakit Akibat Kerja
(PAK) ialah gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan
ataupun diperparah karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan dengan
pekerjaan.
2. Penyebab Penyakit Akibat Kerja
Tedapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja, berikut
beberapa jenis yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit yang ada di
tempat kerja.
a. Golongan fisik: bising, radiasi, suhu ekstrim, tekanan udara, vibrasi, penerangan
Efek pencahayaan pada mata, kekuatan pencahayaan beraneka ragam, yaitu
berkisar 2.000-100.000 lux di tempat terbuka sepanjang hari dan pada malam hari
dengan pencahayaan buatan 50-500 lux.
Kelelahan pada mata ditandai oleh :
• Iritasi pada mata / conjunctiva
• Penglihatan ganda
• Sakit kepala
• Daya akomodasi dan konvergensi turun
• Ketajaman penglihatan
Upaya perbaikan penggunaan pencahayaan di tempat kerja. Grandjean (1980)
menyarankan sistem desain pencahayaan di tempat kerja sebagai berikut:
• Hindari sumber pencahayaan lokal langsung dalam penglihatan pekerja
• Hindari penggunaan cat mengkilap terhadap mesin-mesin, meja, kursi, dan
tempat kerja pemasangan lampu FL yang tegak lurus dalam
• Hindari
garis penglihatan
b. Golongan kimiawi: semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan,
kabut
c. Golongan biologik: bakteri, virus, jamur, dll
d. Golongan fisiologik/ergonomik: desain tempat kerja, beban kerja.
e. Golongan psikososial: stres psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjan
3. Macam – macam Penyakit Akibat Kerja
Adapun beberapa penyakit akibat kerja, antara lain:
Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa
alamiah maupun ulah manusia, yaitu lewat kegiatan industri dan teknologi.
Partikel yang mencemari udara banyak macam dan jenisnya, tergantung pada
macam dan jenis kegiatan industri dan teknologi yang ada. Partikel-partikel
udara sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang
tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran
pernapasan atau pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan
oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap didalam paru-paru.
Penyakit pneumoconiosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel
(debu) yang masuk atau terhisap kedalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit
pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak
kegiatan industri dan teknologi, yaitu silikosis, asbestosis, bisinosisi,
antrakosis, dan beriliosis.
1. Penyakit Silikosis
Penyakit silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa
SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap.
Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik,
pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir,
menggerinda) dll. Selain dari itu, debu silika juga banyak terdapat di
tempat penampang besi, timah putih dan tambang batu bara. Pemakaian
batu bara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkam debu silika
bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke
udara bersama- sama dengan partikel yang lainya, seperti debu alumunia,
oksida besi dan karbon dalam bentuk debu. Tempat kerja yang potensial
untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan pengawasan
keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yamg ketat sebab
penyakit silikosis belum ada obatnya yang tepat.
2. Penyakit Asbestosis
Penyakit asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan
oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran
dari berbagai macam silikat, namun yang paling utama adalah magnesium
silikat. Debu asbes banyak dijumpai pada pabrik dan industri yang
menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap asbes
dan lain sebagainya. Debu asbes yang terhirup ke dalam paru-paru akan
mengakibatkan gejala sesak nafas dan batuk-batuk yang disertai dahak.
Ujung-ujung jari penderitanya akan tampak besar/melebar. Apabila
dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan tampak debu asbes dalam
dahak tersebut. Pemakaian asbes untuk berbagai macam keperluan kiranya
perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan
lingkungan agar jangan mengakibatkan asbestosis ini.
3. Penyakit Bisnosis
Penyakit bisnosis adalah penyakit yang disebabkan oleh
pencemaran debu kapas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap
kedalam paru- paru. Pencemaran ini dapat dijumpai pada pabrik
pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan, atau pergudangan kapas.
Masa inkubasi penyakit bisnosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun.
Tanda-tanda awal penyakit bisnosis ini berupa sesak nafas, terasa berat
pada dada, terutama peda hari senin (yaitu hari awal kerja pada setiap
minggu). Pada bisnosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut
biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga
disertai dengan emphysema.
4. Penyakit Antrakosis
Penyakit antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang
disebabkan oleh debu batu bara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada
pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak
melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara pada tanur
besi, lokomotif (stoker), dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta
pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.
Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu: penyakit antrakosis murni,
penyakit silikoantrakosis, dan penyakit tuberkolosilkoantrakosis
5. Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa
logam murni, oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat
menyebabkan penyakit saliran pernafasan yang disebut beriliosis. Debu
logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis, dan
pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering, dan
sesak nafas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri
yang menggunakan logam campuran berilium, tembaga, pekerja pada
pabrik fluoresen, pabrik pembuatan tabung radio, dan juga pada pekerja
pengolahan bahan penunjang industri nuklir.
6. Penyakit Saluran Pernafasan
PAK pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun kronis.
Akut misalnya asma akibat kerja. Sering didiagnosis sebagai
tracheobronchitis akut atau karena virus kronis, misal: asbestosis. Seperti
gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) atau edema paru
akut. Penyakit ini disebabkan oleh bahan kimia seperti nitrogen oksida.
7. Penyakit Kulit
Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam
kehidupan, dan kadang sembuh sendiri. Dermatitis kontak yang
dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit yang berhubungan dengan
pekerjaan. Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang
merupakan penyebab, membuat peka, atau karena faktor lain.
8. Kerusakan Pendengaran
Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan
kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang
dengan gangguan pendengaran. Dibuat rekomendasi tentang pencegahan
terjadinya hilang pendengaran.
9. Gejala pada Punggung dan Sendi
Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada
punggung yang berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak
berhubungan dengan pekerjaan. Penentuan kemungkinan bergantung pada
riwayat pekerjaan. Artritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan
berulang yang tidak wajar.
10. Kanker
Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus Kanker yang
disebabkan oleh pajanan di tempat kerja. Bukti bahwa bahan di tempat
kerja(karsinogen) sering kali didapat dari laporan klinis individu dari pada
studi epidemiologi. Pada Kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen
mulai > 20 tahun sebelum diagnosis.
11. Coronary Artery
Penyakit ini disebabkan oleh karena stres atau Carbon Monoksida
dan bahan kimia lain di tempat kerja.
4. Faktor – faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja
a. Faktor Fisik
1) Suara tinggi atau bising dapat menyebabkan ketulian
2) Temperature atau suhu tinggi dapat menyebabkan Hyperpireksi,
Miliaria, Heat Cramp, Heat Exhaustion, dan Heat Stroke
3) Radiasi sinar elektromagnetik,infra,merah,dapat menyebabkan
katarak
4) Ultraviolet dapat menyebabkan konjungtivitis
5) Radio aktif/alfa/beta/gama/X dapat menyebabkan gangguan terhadap
sel tubuh manusia
6) Tekanan udara tinggi menyebabkan Coison Disease
7) Getaran menyebabkan Reynaud’s Desiase, ganguan metabolisme,
Polineurutis
Pencegahan :
1) Pengendalian cahaya di ruang laboratorium.
2) Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup
memadai.
3) Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
4) Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
5) Pelindung mata untuk sinar laser
6) Filter untuk mikroskop
b. Faktor Kimia
Asal: bahan baku, bahan tambahan, hasil sementara, hasil
samping(produk), sisa produksi atau bahan buangan. Bentuk: zat padat,
cair, gas, uap maupun partikel Cara masuk tubuh dapat melalui saluran
pernafasan, saluran pencerrnaan kulit dan mukosa. Masuknya dapat secara
akut dan sevara kronis. Efek terhadap tubuh: iritasi, alergi, korosif,
asphyxia, keracunan sistematik, kanker, kerusakan kelainan janin.
Terjadi pada petugas/ pekerja yang sering kali kontak dengan bahan
kimia dan obat-obatan seperti antibiotika. Demikian pula dengan solvent
yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan dikenal
sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat ini
dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan. Gangguan kesehatan
yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada
umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit
saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik (trichloroethane,
tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap melalui kulit dapat
menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan korosif
(asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible
pada daerah yang terpapar.
Pencegahan :
1) Material safety data sheet (MSDS) dari seluruh bahan kimia
yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium.
2) Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk
mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol.
3) Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan,
celemek, jas laboratorium) dengan benar.
4) Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara
mata dan lensa.
5) Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.
c. Faktor Biologi
• Viral Desiases: rabies, hepatitis
• Fungal Desiases: Anthrax, Leptospirosis, Brucellosis, TBC, Tetanus
• Parasitic Desiases: Ancylostomiasis, Schistosomiasis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi
berkembang biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman
pyogenic, colli, bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien,
benda-benda yang terkontaminasi, dan udara. Virus yang menyebar
melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hepatitis B)
dapat menginfeksi pekerja sebagai akibat kecelakaan kecil dipekerjaan,
misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus.
Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan
cukup tinggi. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK
sangat besar, sebagai contoh dokter di Rumah Sakit mempunyai risiko
terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek
pribadi atau swasta, dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang
infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen
maupun debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.
Pencegahan :
1) Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang
kebersihan, epidemilogi, dan desinfeksi.
2) Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan pekerja untuk
memastikan dalam keadaan sehat badan, punya cukup kekebalan
alami untuk bekrja dengan bahan infeksius, dan dilakukan
imunisasi.
3) Melakukan pekerjaan laboratorium dengan praktek yang benar
(Good Laboratory Practice).
4) Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang
benar.
5) Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan
infeksius, dan spesimen secara benar.
6) Pengelolaan limbah infeksius dengan benar.
7) Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
8) Kebersihan diri dari petugas.
5. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja
Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu
perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi
yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan tersebut
dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai pedoman:
1. Menentukan diagnosis klinis
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu dengan
memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya
dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik
ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut
berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
2. Menentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja
adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan
pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat
pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:
1) Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh
penderita secara kronologis
2) Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
3) Bahan yang diproduksi
4) Materi (bahan baku) yang digunakan
5) Jumlah pajanannya
6) Pemakaian alat perlindungan diri (masker)
7) Pola waktu terjadinya gejala
8) Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang
mengalami gejala serupa)
9) Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang
digunakan (MSDS, label, dan sebagainya)
3. Menentukan apakah pajanan memang dapat
menyebabkan penyakit tersebut
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang
mendukung pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit
yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar
ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan
diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang
mendukung,
4. Faktor Ergonomi/Fisiologi
Faktor ini sebagai akibat dari cara kerja, posisi kerja, alat kerja,
lingkungan kerja yang salah, dan kontruksi yang salah.
Efek terhadap tubuh: kelelahan fisik, nyeri otot, deformirtas
tulang, perubahan bentuk, dislokasi, dan kecelakaan.
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi, dan seni berupaya
menyerasikan alat, cara, proses, dan lingkungan kerja terhadap
kemampuan, kebolehan, dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi
dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan tercapai efisiensi
yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan
kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit
the Job to the Man and to fit the Man to the Job
Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan
pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga
operator peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada
umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran
pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat
menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan
dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis
(stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja
(low back pain)
5. Faktor Psikologi
Faktor ini sebagai akibat organisasi kerja (tipe kepemimpinan,
hubungan kerja komunikasi, keamanan), tipe kerja (monoton, berulang-
ulang, kerja berlebihan, kerja kurang, kerja shift, dan terpencil).
Manifestasinya berupa stress. Beberapa contoh faktor psikososial yang
dapat menyebabkan stress antara lain:
1) Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan
menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di
laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan
yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-
tamahan
2) Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
3) Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan
bawahan atau sesama teman kerja.
4) Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor
formal ataupun informal
6. Menentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk
dapat mengakibatkan penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan
pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja
menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan
kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat
kerja.
7. Menentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat
mempengaruhi
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat
pekerjaan yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya
penggunaan APD? Riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga
risikonya meningkat. Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan yang
mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang
dialami.
8. Mencari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab
penyakit
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit?
Apakah penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat
merupakan penyebab penyakit? Meskipun demikian, adanya penyebab
lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di
tempat kerja.
9. Membuat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh
pekerjaannya
6. Pencegahan Kecelakaan Kerja
Seperti telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan
penyebab langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat
suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan
sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa
adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat
ini. Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit
telah ada pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi
pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya penyakit. Dari
uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit
Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi
yang didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di
tempat kerja (bila memungkinkan), dan data epidemiologis.Pencegahan Penyakit
Akibat Kerja
Berikut ini beberapa tips dalam mencegah penyakit kerja, diantaranya:
a. Memakai alat pelindung diri secara benar dan teratur
b. Mengenali resiko pekerjaan dan cegah supayah tidak terjadi lebih lanjut
c. Segara akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang
berkelanjutan
Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh seperti
berikut ini:
a. Pencegahan Pimer – Healt Promotio
• Perilaku kesehatan
• Faktor bahaya di tempat kerja
• Perilaku kerja yang baik
• Olahraga
• Gizi
b. Pencegahan Skunder – Specifict Protectio
• Pengendalian melalui perundang-undangan
• Pengendalian administratif/organisasi: rotasi/pembatas jam kerja
• Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, alat pelindung diri (APD)
• Pengendalian jalur kesehatan imunisasi
c. Pencegahan Tersier
• Pemeriksaan kesehatan pra-kerja
• Pemeriksaan kesehatan berkala
• Pemeriksaan lingkungan secara berkala
• Surveilans
• Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja
• Pengendalian segera ditempat kerja
Dalam pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu upaya yang wajib
dilakukan adalah deteksi dini, sehingga pengobatan bisa dilakukan secepat
mungkin. Dengan demikian, penyakit bisa pulih tanpa menimbulkan
kecacatan. Sekurang-kurangnya, tidak menimbulkan kecacatan lebih lanjut.
Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja bersifat berat dan mengakibatkan
cacat.
Ada dua faktor yang membuat penyakit mudah dicegah.
a. Bahan penyebab penyakit mudah diidentifikasi, diukur, dan dikontrol.
b. Populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi
secara teratur serta dilakukan pengobatan.
Disamping itu perubahan awal seringkali bisa pulih dengan penanganan yang
tepat. Karena itulah deteksi dini penyakit akibat kerja sangat penting.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal menurut WHO yang dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam deteksi dini yaitu:
a. Perubahan biokimiawi dan morfologis yang dapat di ukur melalui analisis
laboraturium. Misalnya hambatan aktifitas kolinesterase pada paparan terhadap
pestisida organofosfat, penurunan kadar hemoglobin (HB), sitologi sputum
yang abnormal, dan sebagainya.
b. Perubahan kondisi fisik dan sistem tubuh yang dapat dinilai melalui
pemeriksaan fisik laboraturium. Misalnya elektrokardiogram, uji kapasitas
kerja fisik, uji saraf, dan sebagainya.
c. Perubahan kesehatan umum yang dapat dinilai dari riwayat medis.
Misalnya rasa kantuk dan iritasi mukosa setelah paparan terhadap pelarut-
pelarut organik.
Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh yaitu
pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan ini meliputi:
a. Pemeriksaan sebelum penempatan
Pemeriksaan ini dilakukan sebelum seorang dipekerjakan atau ditempatkan
pada pos pekerjaan tertentu dengan ancaman terhadap kesehatan yang
mungkin terjadi. Pemeriksaan fisik yang ditunjang dengan pemeriksaan lain
seperti darah, urine, radiologis, serta organ tertentu, seperti mata dan telinga,
merupakan data dasar yang sangat berguna apabila terjadi gangguan kesehatan
tenaga kerja setelah sekian lama bekerja.
b. Pemeriksaan kesehatan berkala Pemeriksaan kesehatan berkala
sebenarnya dilaksanakan dengan selang waktu teratur setelah pemeriksaan
awal sebelum penempatan. Pada medical check-up rutin tidak selalu diperlukan
pemeriksaan medis lengkap, terutama bila tidak ada indikasi yang jelas.
Pemeriksaan ini juga harus difokuskan pada organ dan sistem tubuh yang
memungkinkan terpengaruh bahan-bahan berbahaya di tempat kerja, sebagai
contoh, audiometri adalah uji yang sangat penting bagi tenaga kerja yang
bekerja pada lingkungan kerja yang bising. Sedang pemerikaan radiologis dada
(foto thorax) penting untuk mendeteksi tenaga kerja yang berisiko menderita
pneumokonosis, karena lingkungan kerja tercemar debu.
6. FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN
KERJA
A. Pengertian Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda (Permenaker
No. 03/MEN/1998). Pengertian lain kecelakaan kerja adalah semua kejadian yang
tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera,
kesakitan, kerusakan atau kerugian lainnya (Standar AS/NZS 4801:2001).
Sedangkan definisi kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 adalah kejadian
yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau
kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang
dapat menyebabkan kematian.
Kecelakaan kerja terjadi karena perilaku personel yang kurang hati-hati atau
ceroboh atau bisa juga karena kondisi yang tidak aman, apakah itu berupa fisik, atau
pengaruh lingkungan (Widodo, 2015).
Berdasarkan hasil statistik, penyebab kecelakaan kerja 85% disebabkan
tindakan yang berbahaya (unsafe act) dan 15% disebabkan oleh kondisi yang
berbahaya (unsafe condition). Penjelasan kedua penyebab kecelakaan kerja tersebut
adalah sebagai berikut (Ramli, 2010):
Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) yaitu faktor-faktor lingkungan fisik
yang dapat menimbulkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan
yang tidak sesuai, Alat Pelindung Diri (APD) tidak efektif, lantai yang berminyak,
dan lain-lain.
Tindakan yang berbahaya (unsafe act) yaitu perilaku atau kesalahan-kesalahan
yang dapat menimbulkan kecelakaan seperti ceroboh, tidak memakai alat pelindung
diri, dan lain-lain, hal ini disebabkan oleh gangguan kesehatan, gangguan
penglihatan, penyakit, cemas serta kurangnya pengetahuan dalam proses kerja, cara
kerja, dan lain-lain.
B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja
Dari beberapa teori tentang faktor penyebab kecelakaan yang ada, salah satunya
yang sering digunakan yaitu teori tiga faktor utama (Three Main Factor Theory).
Menurut teori ini disebutkan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja. Ketiga faktor tersebut dapat diuraikan menjadi :
1. Faktor manusia
Meliputi ; umur, jenis kelamin, masa kerja, penggunaan alat pelindung diri,
tingkat Pendidikan, perilaku, pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,
peraturan k3
2. Faktor lingkungan
Meliputi; kebisingan, suhu udara, lantai licin, penerangan
3. Faktor peralatan
Meliputi ;kondisi mesin, dan letak mesin
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda (Permenaker
No. 03/MEN/1998). Pengertian lain kecelakaan kerja adalah semua kejadian yang
tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera,
kesakitan, kerusakan atau kerugian lainnya (Standar AS/NZS 4801:2001).
Sedangkan definisi kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 adalah kejadian
yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau
kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang
dapat menyebabkan kematian.
Kecelakaan kerja terjadi karena perilaku personel yang kurang hati-hati atau
ceroboh atau bisa juga karena kondisi yang tidak aman, apakah itu berupa fisik, atau
pengaruh lingkungan (Widodo, 2015).
Berdasarkan hasil statistik, penyebab kecelakaan kerja 85% disebabkan tindakan
yang berbahaya (unsafe act) dan 15% disebabkan oleh kondisi yang berbahaya
(unsafe condition). Penjelasan kedua penyebab kecelakaan kerja tersebut adalah
sebagai berikut (Ramli, 2010):
Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) yaitu faktor-faktor lingkungan fisik
yang dapat menimbulkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan
yang tidak sesuai, Alat Pelindung Diri (APD) tidak efektif, lantai yang berminyak,
dan lain-lain.
Tindakan yang berbahaya (unsafe act) yaitu perilaku atau kesalahan-kesalahan yang
dapat menimbulkan kecelakaan seperti ceroboh, tidak memakai alat pelindung diri,
dan lain-lain, hal ini disebabkan oleh gangguan kesehatan, gangguan penglihatan,
penyakit, cemas serta kurangnya pengetahuan dalam proses kerja, cara kerja, dan
lain-lain.
7. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN K3
A. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan
perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat
pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Ini berarti
pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang
sempurna, tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan oleh
petugas P3K (petugas medik atau orang awam) yang pertama kali melihat
korban. Pemberian pertolongan harus secara cepat dan tepat dengan
menggunakan sarana dan prasarana yang ada di tempat kejadian. Tindakan P3K
yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderitaan dan
bahkan menyelamatkan korban dari kematian, tetapi bila tindakan P3K
dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat kecelakaan bahkan
menimbulkan kematian.
Pertolongan pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya kita harus
tetap membawa korban ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk pertolongan
lebih lanjut dan memastikan korban mendapatkan pertolongan yang
dibutuhkan.
B. Pelaksanaan P3K
Sebelum melaksanakan Tindakan P3K maka perlu dilakukan tahapan awal
sebelum P3K yaitu, sebagai berikut:
1. Penolong mengamankan diri sendiri ( memastikan penolong telah aman dari
bahaya).
2. Amankan Korban ( evakuasi atau pindahkan korban ketempat yang lebih
aman dan nyaman.
3. Tandai tempat Kejadian jika diperlukan untuk mencegah adanya korban
baru.
4. Usahakan Menghubungi Tim Medis.
5. Tindakan P3K.
C. Teknik Dalam P3K
• Prioritas dalam P3K
Urutan tindakan secara umum:
1. Cari keterangan penyebab kecelakaan
2. Amankan korban dari tempat berbahaya
3. Perhatikan keadaan umum korban; gangguan pernapasan, pendarahan dan
kesadaran.
4. Segera lakukan pertolongan lebih lanjut dengan sarana yang tersedia.
5. Apabila korban sadar, langsung beritahu dan kenalkan.
Selain itu ada juga yang dinamakan prinsip life saving, artinya kita melakukan
tindakan untuk menyelamatkan jiwa korban (gawat darurat) terlebih dahulu,
baru kemudian setelah stabil disusul tindakan untuk mengatasi masalah
kesehatan yang lain. Gawat darurat adalah suatu kondisi dimana korban dalam
keadaan terancam jiwanya, dan apabila tidak ditolong pada saat itu juga jiwanya
tidak bisa terselamatkan.
• Pembalutan
Tujuan dari pembalutan adalah untuk mengurangi resiko kerusakan jaringan
yang telah ada sehingga mencegah maut, menguangi rasa sakit, dan mencegah
cacat serta infeksi. Kegunaan pembalutan adalah:
1. Menutup luka agar tidak terkena cahaya, debu, kotoran, dll.
2. Melakukan tekanan
3. Mengurangi atau mencegah pembengkakan
4. Membatasi pergerakan
5. Mengikatkan bidai.
8. PENCEGAHAN KEBAKARAN DAN PENANGGULANGANNYA
Kebakaran adalah peristiwa terjadinya nyala api yang tidak dikehendaki, sedangkan
defenisi khususnya adalah suatu peristiwa oksidasi antara tiga unsur penyebab
kebakaran. Kebakaran yang besar menimbulkan kerugian jiwa dan materi bagi
korbannya sehingga kebakaran ini perlu upaya pencegahan dan penanggulangan
yang efektif. Kebakaran merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap
orang dan merupakan kecelakaan yang berakibat fatal. Kebakaran ini dapat
mengakibatkan suatu kerugian yang sangat besar baik kerugian materil maupun
kerugian immateril. Sebagai contoh kerugian nyawa, harta, dan terhentinya proses
atau jalannya suatu produksi/aktivitas, jika tidak ditangani dengan segera, maka
akan berdampak bagi penghuninya. Jika terjadi kebakaran orang-orang akan sibuk
sendiri, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan barang-barang pribadi
daripada menghentikan sumber bahaya terjadinya kebakaran, hal ini sangat
disayangkan karena dengan keadaan yang seperti ini maka terjadinya kebakaran
akan bertambah besar.
D. PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI TEMPAT KERJA
Menurut Kepmenaker No. KEP. 186/ MEN/ 1999 tentang Unit Penanggulangan
Kebakaran di Tempat Kerja,bahwa yang dimaksud dengan penanggulangan
kebakaran adalah segala upaya untuk mencegah timbulnya kebakaran dengan
berbagai upaya pengendalian setiap perwujudan energi, pengadaan sarana proteksi
kebakaran dan sarana penyelamatan serta pembentukan organisasi tanggap darurat
untuk memberantas kebakaran.
Berdasarkan Kepmenaker R.I No. Kep. 186/ MEN/ 1999, Pengurus atau pengusaha
wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, latihan
penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
Upaya-upaya tersebut meliputi:
• Pengendalian setiap bentuk energi.
• Penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi.
• Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas.
• Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
• Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala.
• Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran dan sarana
vakuasi serta pengendalian penyebaran asap, panas dan gas.
E. PENCEGAHAN BENCANA KEBAKARAN
1. Jangan membebani kabel kecil dengan banyak peralatan listrik.
2. Jangan menumpuk T- Kontak/ colokan listrik.
3. Jangan membiarkan kabel terkelupas.
4. Hindari kabel bersambungan & instalasi listrik yang semerawut.
5. Jauhkan jarak antara tabung elpiji dan minyak tanah/ bahan mudah terbakar
lainnya.
6. Jangan membuang rokok yang masih membara.
7. Jangan membiarkan anak kecil bermain k
8. Korek api.
9. Jangan mengurung orang didalam rumah.
10. Menutup/ mematikan tabung gas bila tidak dipakai.
11. Menyediakan Alat Pemadam Api, sebab semua kebakaran berasal dari api kecil
yang tidak dapat dipadamkan.
9. MANAJEMEN DAN EGRONOMI PRODUKTIVITAS KESEHATAN
DAN KESELAMATAN KERJA
A. Egronomi Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
Pengertian egronomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu terdiri dari kata “ergon”
yang berati kerja dan “nomos” yang mengacu pada sebuah hukum yang
menggambarkan sebuah ilmu tentang pekerjaan. Definisi lain menyebutkan bahwa
egronomi adalah sebuah ilmu untuk “fitting the job to the worker.”
Dari pengertian tersebut maka egronomi dapat diartikan sebagai suatu cabang ilmu
untuk merancang suatu sistem kerja agar seseorang dapat hidupmdan bekerja
dengan baik untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan dengan bekerja secara
efektif, efisien, penuh dengan rasa nyaman dan aman antara manusia dan
pekerjaannnya sehingga serasi dengan tempat dimana seseorang bekerja.
Penerapan pada beberapa aspek dalam bekerja dimulai dari posisi kerja, proses
kerja, tata letak tempat kerja, sara pengangkatan beban.
Egronomi memiliki beberapa tujuan sebagai berikut ini :
a. Menambah kecepatan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja
b. Meminimalkan waktu yang terbuang sis-sia
c. Memperbaiki kenyamanan manusia dalam bekerja
d. Mengurangi kelelahan yang berlebihan saat bekerja
Jika suatu perusahaan atau industri tidak menerapkan egronomi dalam bekerja maka
akan timbul beberapa masalah yang tidak terduga yang bahkan dapat menimbulkan
kebangkrutan sebuah perusahaan tersebut.
Egronomi memiliki ruang lingkup yang dibagi menjadi beberapa hal sebagai
berikut ini :
a. Egronomi fisik berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, karakteristik
fidiologi,anthropometri dan biomekanika yang berhubungan dengan aktivitas fisik.
b. Egromomi kognitif berkaitan dengan proses mental manusia.
c. Egronomi organisasi berkaitan dengan otimasisistem sosioleknik, termasuk
struktur organisasi, kebijakan dan proses.
d. Egronomi lingkungan berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan
dan getaran.
Dalam menilai kegronomisan atau tidaknya suatu lingkungan kerja dapat dilakukan
dengan cara diagnosis dengan mewawancarai pekerja, uji pencahayaan, pengukuran
lingkungan kerja. Cara lain yaitu dengan melakukan sebuah treatment yaitu
membenahi tempat kerja berdasarkan hasil diagnosis. Dan hal terakhir adalah
follow up dengan melakukan evaluasi secara subyektif atau objektif.
Jika tidak menerapkan egronomi yang baik dapat menimbulkan beberapa risiko
ataupun bahaya dan dapat menimbulkan MSDs (musculoskletal disorders). Faktor-
faktor kumulatif penyebab MSDs (musculoskletal disorders) adalah berikut ini :
a. Durasi waktu, semakin lama melalukan pekerjaan, maka semakin besar risiko
yang dapat diterima oleh tubuh.
b. Gerakan repetitif atau gerakan berulang yang dilakukan oleh otot. Hal ini dapat
menimbulkan ketegangan pada syaraf dan otot dan sangat tidak baik untuk jangka
panjang.
c. Sikap tubuh, hal ini sangat menentukan tekanan yang diterima otot saat
melakukan aktivitas.
d. Contact Stresses, disebabkan oleh tekanan yang diakibatkan interaksi tubuh
dengan benda yang dapat menghambat kerja syaraf dan aliran darah.
e. Getaran di tempat kerja dapat disebabkan oleh mesin yang sedang bekerja.
f. Temperatur atau sushu di tempat kerja.
g. Jam istirahat.
B. Manajemen Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja adalah kemampuan tenaga kerja dalam berproduksi di
bandingkan dengan input yang digunakan secara produktif dengan menghasilkan
barang atau jasa yang diharapkan dan tepat waktu.
Indikator-indikator untuk pengukuran ptoduktivitas kerja meliputi :
- kuantitias kerja adalah suatu hasil pencapaian pekerja dalam jumlah tertentu
dengan perbandingan standar yang telah ditetapkan dari perusahaan.
- kualitas kerja merupakan suatu standar kemampuan pekerja dalam menyelesaikan
pekerjaannya berkaitan dengan mutu dari suatu produk yang dihasilkan oleh pekerja
DAFTAR PUSTAKA
1. https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-k3.html
2. https://www.safetyshoe.com/pengertian-atau-definisi-kesehatan-dan-
keselamatan-kerja/
3. https://febriandhy.blogspot.com/2015/03/k3-faktor-bahaya-lingkungan-
kerja.html
4. http://prashetyaquality.com/2016/11/potensi-bahaya-dan-risiko-di-tempat-
kerja/
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahaya_kimia
6. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3629267/kenali-jenis-jenis-
bahaya-kerja
7. https://www.kajianpustaka.com/2017/12/pengertian-jenis-penyebab-
pencegahan-kecelakaan-kerja.html
8. http://sepatusafetyonline.com/blog/faktor-faktor-penyebab-terjadinya-
kecelakaan-kerja-di-area-kerja/
9. https://www.safetyshoe.com/3-faktor-penyebab-kecelakaan-kerja-k3-
mencakup-5-m-faktor-manusia/
10. http://fansanova-health.blogspot.com/2009/01/mengidentifikasi-bahaya-
kebakaran-dan.html.
11. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-8776-6507040505-
hapter1.pdf.
12. http://www.scribd.com/doc/4994877/Good-Huuse-Keeping
13. http://hasyimibrahim.wordpress.com/2010/01/23/definisi-dan-pencegahan-
bahaya-kebakaran/
14. https://www.proxsisgroup.com/sistem-manajemen-k3/
15. https://www.safetyshoe.com/tag/jelaskan-keterkaitan-antara-k3-dengan-
peningkatan-produktivitas-kerja/
16. https://www.academia.edu/32449698/MAKALAH_KESEHATAN_DAN_KE
SELAMATAN_KERJA_K3