The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MATERI BAHAN AJAR BAB 1 KEDATANGAN BANGSA BARAT KE INDONESIA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by andinissejarah, 2023-08-28 04:42:10

MATERI BAHAN AJAR BAB 1 KEDATANGAN BANGSA BARAT KE INDONESIA

MATERI BAHAN AJAR BAB 1 KEDATANGAN BANGSA BARAT KE INDONESIA

MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 1 MATERI BAHAN AJAR SEJARAH INDONESIA SEKOLAH INDONESIA KUALA LUMPUR TAHUN PELAJARAN 2023 - 2024


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 2 BAB I KEDATANGAN BANGSA EROPA KE INDONESIA • Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat • Penjelajahan dan Masuknya Bangsa Barat ke Indonesia • Kolonialisme dan Imperialisme • Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme • Bentuk-bentuk Kolonialisme • Bentuk Imperialisme • Perbedaan dan Persamaan Kolonialisme dan Imperialisme • Dampak Kolonialisme dan Imperialisme • Perkembangan Kekuasaan Bangsa Eropa di Indonesia : • Penjelajahan Bangsa Portugis • Penjelajahan Bangsa Spanyol • Penjelajahan Bangsa Belanda • Kolonialisme VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Indonesia • Kolonialisme Inggris di Indonesia • Kolonialisme Belanda di Indonesia • Perkembangan agama Kristen


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 3 Indonesia dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Rempahrempah dicari bangsa Eropa karena manfaatnya sebagai penghangat dan bisa dijadikan pengawet makanan. Selain karena harganya yang mahal, memiliki rempah-rempah juga menjadi simbol kejayaan seorang raja pada saat itu. Dari faktor-faktor itu, banyak Bangsa Eropa yang berusaha untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah, salah satunya Indonesia. Jatuhnya konstantinopel ke tangan kekuasaan Turki Usmani, maka berakhirlah kekuasaan kerajaan Romawi Timur. Berakibat tertutupnya perdagangan di Laut Tengah bagi orang- orang Eropa. Bangsa Turki menjalankan politik yang mempersulit pedagang Eropa yang beroperasi di daerah kekuasaanya yang menyebabkan perdagangan antara dunia timur dengan Eropa menjadi mundur, sehingga barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Eropa menjadi berkurang di pasaran Eropa, terutama rempah-rempah. Pada mulanya para penjelajah (explorer) bagsa Eropa bertujuan untuk berdagang dan mencari sumber rempah- rempah. Namun demikian, akhirnya mereka melakukan penjajahan dan penduduka terhadap wilayah-wilayah yang disinggahinya. Tampak pada peta jalur pelayaran para penjajah Eropa yang melintas di kepulauan Nusantara.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 4 Pada akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, pelaut-pelaut bangsa Eropa berhasil menjelajahi samudra yang luas dan sampai ke negeri-negeri yang baru seperti Amerika, Afrika, Asia Timur termasuk Indonesia. Faktor-faktor yang mendorong orang-orang Eropa mengadakan penjelajahan Samudra pada akhir abad ke-16, antara lain: 1. Jatuhnya kota Konstantinopel tahun 1453 ke tangan penguasa Turki Usmani. 2. Kisah perjalan Marcopolo ke dunia timur, yaitu perjalan kembalinya 3. Marcopolo dari negeri Cina melalui pelayaran atau lautan. 4. Penemu Copernicus didukung oleh Galileo, yang menyatakan bahwa bumi ini bulat. 5. Penemuan kompas 6. Semangat Reconcuesta


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 5 Portugis Pada tahun 1498, raja portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Vasco Da Gama. Ekspedisi ini berhasil mendarat di Kalkuta (India) tahun 1498. Di daerah para pelaut Portugis mendapat rempah-rempah dari para pedagang untuk dibawa ke negerinya. Pada tahun 1511, dari India bangsa Portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Alphonso d’Albuquerque, mengikuti perjalanan para pedagang Islam. Malaka pusat perdagangan Islam di Asia Tenggara. Dari Malaka itu bangsa Portugis melanjutkan pelayarannya ke arah timur untuk mendapatkan sendiri rempah-rempah yang ada dikepulauan Maluku. Akhirnya bangsa Portugis tiba di Ternate (Maluku) tahun 1512. Perang yang terjadi antara Kerajaan Ternate dengan Tidore, juga merupakan perang antara bangsa kulit putih yaitu antara bangsa Spanyol dengan Portugis. Untuk menyelesaikan perkaitan kedua bangsa kulit putih itu, Paus turun tangan dan pada tahun 1521 dilakukan perjanjian Saragossa (Zaragoza). Isi perjanjiannya: 1. Bumi ini dibagi atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis 2. Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Mexico ke arah barat sampai kepulauan Filiphina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brazillia ke arah timur sampai kepulauan Maluku


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 6 Spanyol Perjanjian Thordesillas (1492), Christopher Collumbus mengajukan permohonan bantuan kepada raja Spanyol untuk berlayar mencari sumber rempah-rempah di dunia timur. Kepulauan Bahama telah dikenal dengan sebutan Hindia Barat oleh orang-orang Eropa Sejak Collumbus menemukan kepulauan, maka pelau-pelaut berikutnya hanya sampai berlayar di kepulauan ini seperti : Cortez menduduki Mexico pada tahun 1519 dengan menaklukan suku Indian yaitu kerajaan Aztec dan suku maya di Yucatan. Christopher Columbus (1451-1506) dikenal sebagai navigator dan pelaut yang ulung. Ia terkenal dengan pelayarannya melintasi Samudra Atlantik untuk mencapai ajlur baru ke benua Asia tapi ia tidak bias menyelesaikan cita-citanya tersebut.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 7 Pizzaro, pada tahun 1530 menaklukan kerajaan Indian di Peru yang bernama Kerajaan Inca. Pembagian bumi oleh Spanyol dan Portugis menurut perjanjian Thodersillas, maupun perjanjian Saragosa serta Route penjelajahan masing-masing tokoh melalui sajian gambar di bawah ini : Orang Spanyol yang pertama kali melakukan penjelajahan samudra adalah Christopher Columbus. Ia berlayar ke arah barat melewati Samudra Atlantik sesuai Perjanjian Tordesillas menuju India sekitar tahun 1492-1502. Ternyata ada kesalahan, karena sebenarnya ia sampai di benua Amerika; yang ia pikir adalah India. Penjelajahan berikutnya dilakukan Magelhaens dari Spanyol ke barat daya melintasi Samudra Atlantik sampai di ujung selatan Amerika, kemudian melewati Samudera Pasifik dan mendarat di Filipina pada tahun 1521. Pelayaran Magelhaens berpengaruh bagi dunia


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 8 ilmu pengetahuan karena dirinya berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat. Penjelajahan Magelhaens kemudian dilanjutkan Sebastian del Cano. Pada 1521, Sebastian del Cano berhasil berlabuh di Tidore, namun kedatangan mereka dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas. Untuk menyelesaikan permasalahan keduanya, Portugis dan Spanyol melakukan Perjanjian Saragosa pada 1529. Belanda Pada 1596, Cornelis de Houtman berhasil mendarat di Banten. Sikap Belanda yang kurang ramah dan berusaha memonopoli perdagangan di Banten membuat Sultan Banten saat itu marah. Akibatnya, ekspedisi ini terbilang gagal. Sekitar 1598-1600, pedagang Belanda mulai berdatangan kembali. Kedatangannya kali ini dipimpin Jacob van Neck. Ia berhasil mendarat di Maluku dan membawa rempah-rempah. Keberhasilan van Neck menyebabkan semakin banyak pedagang Belanda datang ke Indonesia. Perdagangan rempah-rempah yang dilakukan bangsa Portugis ini sangat besar pengaruhnya terhadap bangsa Belanda. Terlebih lagi para pedagang Belanda tidak diperkenankan lagi untuk melakukan kegiatannya di bandar perdagangan Lisboa (Lisabon, Portugis). Para pedagang Belanda berusaha sendiri untuk mencari dan menemukan sumber rempah-rempah yang ada di dunia timur. Tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, para pedagang bangsa Belanda tiba di Banten (Indonesia). Dari bandar Banten pelaut Belanda melanjutkan pelayarannya ke arah timur dan mereka kembali dengan membawa rempah-rempah dalam jumlah yang cukup banyak. Belanda semakin ramai datang ke Indonesia. Keadaan seperti ini telah menyebabkan timbulnya persaingan di antara para pedagang sendiri. Pemerintah Belanda membentuk badan usaha atau kongsi dagang yang diberi nama Vereenigde Oost Indiche Compagnie (VOC) yaitu persekutuan dagang hindia timur. VOC berdiri pada tahun 1602 yang juga lebih sering disebut oleh bangsa Indonesia dengan sebutan Kompeni Belanda.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 9 Para petualang Belanda beruntung karena mereka memperoleh informasi perjalanan bangsa Portugis ke Asia dan Indonesia dari Jan Huygen Van inschoten, seorang penjelajah Belanda yang ikut pelayaran Portugis sampai di Indonesia. Ia menulis buku yang berjudul “Itinerario, Voyage Ofte Schipvert naer Oost ofte Portugaels Indiens “ (catatan perjalanan ke Timur, atau Hindia Portugis). Pada tahun 1596, Cornelis de Houtman dengan empat buah kapal berawak kapal 249 orang mendarat di Banten. Kehadiran Belanda di Nusantara mengawali penjajahan di Indonesia ditandai dengan terbentuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) tahun 1602 Inggris Masuknya bangsa Inggris ke Indonesia juga bertujuan mencari rempahrempah. Tokoh penjelajahnya adalah Sir Henry Middleton dan James Cook. Henry Middleton mulai menjelajah di tahun 1604 dari Inggris menyusuri perairan Cabo da Roca (Portugal) dan Pulau Canary. Henry Middleton lanjut menuju perairan Afrika Selatan hingga Samudra Hindia. Ia sampai di Sumatra, lalu menuju Banten di akhir 1604. Ia berlayar ke Ambon (1605) lalu ke Ternate serta Tidore dan mendapat rempah-rempah, seperti lada dan cengkeh. Sedangkan ada James Cook sampai ke Batavia tahun 1770, setelah dari Australia.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 10 Di India Timur, para pedagang Inggris mendirikan kongsi dagang yakni East India Company (EIC) pada tahun 1600, dengan India sebagai daerah operasinya. Pusat kekuasaan EIC adalah di Kalkuta (India) dan dari kota inilah Inggris meluaskan wilayahnya ke Asia Tenggara Dibawah Gubernur Jenderal Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta (India) dibentuk Ekspedisi Inggris untuk merebut daerah-daerah kekuasaan Belanda yang ada di wilayah Indonesia. Pada tahun 1811, Thomas Stamford Raffles telah berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme Kolonialisme atau penjajahan merupakan sebuah sistem di mana suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain, tetapi masih berhubungan dengan negara asal. Sejarah kolonialisme bangsa Eropa dibagi dalam tiga tingkat, yakni: 1. Abad ke-15 sampai Revolusi Industri pada 1763, menunjukkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan Portugis. 2. Setelah Revolusi Industri sampai 1870-an. 3. Mulai dari 1870-an sampai 1914 pada saat Perang Dunia I, merupakan titik klimaks pertikaian kuasa-kuasa imperialis. Sedangkan Imperialisme adalah sebuah kebijakan di mana negara besar bisa memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Contoh imperialisme ilaha ketika sebuah negara menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 11 Bentuk-bentuk Kolonialisme 1. Koloni Eksploitasi, yaitu penguasaan suatu daerah atau wilayah untuk diperas habis tenaga penduduknya dengan cara kerja paksa atau kerja rodi. Tak hanya penduduk, sumber daya alamnya pun diambil untuk kepentingan negara yang melakukan koloni. 2. Koloni penduduk, yaitu penguasaan suatu daerah atau wilayah baru dengan cara mengusir masyarakat pribumi yang kemudian digantikan oleh pendatang, sehingga membuat penduduk pribumi terabaikan. 3. Koloni deportasi, yaitu suatu daerah atau wilayah koloni yang dijadikan sebagai tempat untuk membuang narapidana yang tidak dapat tertangani oleh pemerintah. Kebanyakan narapidana yang punya hukuman seumur hidup. Mereka juga dijadikan tenaga kerja tanpa diberikan bayaran sebagai ganti dari keharusan pemerintah memberi makan mereka seumur hidup. Kolonialisme kelebihan penduduk, yaitu bentuk kolonialisme di mana penguasaans uatu daerah atau wilayah ditujukan untuk menampung kepadatan penduduk. Kolonialisme sekunder, yaitu bentuk kolonialisme di mana daerah yang dikuasai akan dijadikan sebagai kepentingan militer atau strategi perang. Bentuk Imperialisme 1. Berdasarkan waktu munculnya • Imperialisme kuno (ancient imperialism) ialah imperialisme yang terjadi kurang lebih sejak 1500 M yang berlangsung pada zaman kuno sampai zaman pertangahan. Semboyan dari masa ini ialah 3G, yakni gold (mendapatkan kekayaan), glory (mencapai kejayaan), dan gospel (menyebarkan agama). Imperialisme ini dipelopori oleh Portugal dan Spanyol. • Imperialisme modern (modern imperialism) ialah imperialisme yang terjadi pada saat awal revolusi industri (1500 M) sampai dengan akhir Perang Dunia II pada 1942.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 12 • Imperialisme ultramodern (neokolonialisme) ialah imperialisme yang berlangsung setelah Perang Dunia II sampai sekarang. Imperialisme ini lebih mengutamakan penguasaan ideologi, mental, dan psikologi. 2. Berdasarkan tujuan penguasaannya • Imperialisme politik ialah bentuk imperialisme di mana penjajah menguasai seluruh kehidupan politik dari negara lain. • Imperialisme ekonomi, bertujuan untuk menguasai bidang perekonomian dari negara yang dikuasai • Imperialisme kebudayaan, dilakukan dengan menanamkan nilainilai kebudayaan ke negara yang dijajah. • Imperialisme militer ialah suatu bentuk imperialisme di mana penguasaan suatu daerah ditujukan guna kepentingan perang. Perbedaan dan Persamaan Kolonialisme dan Imperialisme Kolonialisme Imperialisme Bertujuan untuk menguras habis sumber daya alam yang ada dari negara yang bersangkutan untuk dibawa ke negara induk Konsep penting dari kolonialisme ialah terjadinya perpindahan penduduk dari daerah asal ke daerah jajahan. Bertujuan untuk menanamkan pengaruh pada semua bidang kehidupan negara yang bersangkutan dengan mengajarkan bangsa yang dijajahnya untuk berbudaya dan memiliki cara hidup yang sama dengan negara induk Contohnya negara Indonesia, di mana Belanda membentuk kota Batavia sebagai tempat tinggal bangsa Eropa yang terpisah dari bumiputera Contohnya yaitu imperialisme Inggris di Malaysia dan Singapura Adapun persamaan kolonialisme dan imperialisme adalah membuat negara yang dijajah semakin sengsara dan menderita (terpuruk) dan membuat negara yang menjajah semakin makmur.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 13 Dampak Kolonialisme dan Imperialisme 1. Dampak di bidang politik Daendels atau Raffles telah meletakkan dasar pemerintahan yang modern. Semua Bupati dijadikan pegawai negeri dan digaji (dibayar), sedangkan menurut adat-istiadat kedudukan bupati adalah turuntemurun dan mendapatkan upeti dari rakyat. Pada masa ini Bupati dijadikan sebagai alat kekuasaan pemerintah kolonial. Pamong praja yang dahulu berdasarkan garis keturunan berubah menjadi sistem kepegawaian. Jawa dijadikan sebagai tempat pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah prefektur. Pada awalnya hukum yang digunakan adalah hukum adat, namun berubah menjadi hukum barat modern. Belanda dan Inggris melakukan campur tangan terhadap persoalan kerajaan. Hal ini menyebabkan peranan elite kerajaan berkurang dalam politik serta berakibat pada keruntuhan kekuasaan pribumi. 2. Dampak di Bidang Sosial Pembentukan status sosial di mana bangsa Eropa menduduki status sosial tertinggi, kemudian Asia dan Timur Jauh, dan untuk status yang terakhir ditempati bagi kaum pribumi. Terjadinya pemerasan dan penindasan secara kejam. Wilayah Indonesia yang dikelilingi laut menyebabkan kehidupan masyarakat cenderung berkembang ke pedalaman. Terjadinya kemunduran perdagangan di laut ini kemudian memunculkan budaya feodalisme di pedalaman. Dengan adanya feodalisme, rakyat pribumi dipaksa patuh pada tuan tanah bangsa Barat atau Timur Asing sehingga kehidupan penduduk pribumi menurun.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 14 3. Dampak di Bidang Ekonomi Perkebunan di Jawa terus berkembang dan maju, tetapi di Sumatra mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja sehingga dilakukan program transmigrasi. Eksploitasi ekonomi dan monopoli dagang VOC menyebabkan perdagangan Nusantara mengalami kemunduran di dunia internasional. Peran syahbandar pun diganti oleh pejabat Belanda. Belanda membangun rel kereta api dengan maksud memperlancar perdagangan. Kebijakan tanam paksa sampai sistem ekonomi liberal menjadikan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah. Bangsa Belanda sebagai eksportir dan sebagai perantara yaitu orang timur asing terutama Tiongkok, sedangkan bangsa Indonesia hanya sebagai pengecer. Pengusaha dari kalangan pribumi dengan modal kecil kalah bersaing dengan pedagang besar karena pintu politik terbuka. 4. Dampak di Bidang Budaya Imperialisme dan koloniaisme membuat peranan politik para elite yang merosot menjadikan raja atau bangsawan mengalihkan perhatiannya ke bidang seni dan budaya. Perlakuan Belanda untuk menghilangkan kedudukan menurut adat penguasa pribumi membuat mereka menjadi pegawai pemerintah, membuat jatuhnya kewibawaan tradisional penguasa pribumi.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 15 Perkembangan kekuasaan bangsa eropa di Indonesia terbagi menjadi beberapa macam, yaitu : Kekuasaan Bangsa Portugis di Indonesia Kekuasaan VOC di Indonesia Kekuasaan Daendels di Indonesia Kekuasaan Bangsa Inggris di Indonesia Pemerintahan Kolonial Belanda Hindia Timur atau Indonesia telah lama dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti vanili, lada, dan cengkeh. Rempah-rempah ini digunakan untuk mengawet makanan, bumbu masakan, bahkan obat. Karena kegunaannya, rempah-rempah ini sangat laku di pasaran dan harganya pun mahal. Hal ini mendorong para pedagang Asia Barat datang dan memonopoli perdagangan rempah-rempah. Mereka membeli bahanbahan ini dari para petani di Indonesia dan menjualnya kepada para pedagang Eropa. Namun, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke Turki Utsmani mengakibatkan pasokan rempah-rempah ke wilayah Eropa terputus. Hal ini dikarenakan boikot yang dilakukan oleh Turki Utsmani. Situasi ini mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur pelayaran ke wilayah yang banyak memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan Nusantara (Indonesia). Dalam perkembangannya, mereka tidak saja berdagang, tetapi juga ingin menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil, yaitu Indonesia.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 16 Penjajahan dan Kekuasaan Bangsa Portugis dan Spanyol di Indonesia. Pada awal abad XVI Bangsa Eropa mulai menjelajahi kawasan Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia yang pada zaman tersebut mungkin nama Indonesia bukanlah nama dari kawasan tersebut, biasanya sering disbut Nusantara oleh rakyat Indonesia zaman dahulu. Pada abad XV bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa yang mencapai kemajuan di bidang teknologi. Salah satunya adalah membuat kapal untuk menyebrangi luasnya samudra untuk meluaskan daerah kekuasaan mereka. Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa, bangsa Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik. Saat itu rempahrempah menjadi kebutuhan yang vital bagi bangsa Eropa. Selama musim dingin di Eropa, tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup. Kerena itu banyak hewan ternak yang disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan. Untuk itulah diperlukan sekali banyak garam dan rempahrempah Salah satu rempah-rempah yang berharga adalah Cengkeh dari Indonesia Timur. Indonesia juga menghasilkan lada, buah pala, dan bunga pala. Kekeyaan alam nusantara menjadi daya tarik Portugis untuk mengambil kekayaan sumber daya alam yang ada sehingga dapat menguasai pasar rempah-rempah di Eropa.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 17 Tahun 1487, Bartolomeus Dias mengitari Tanjung Harapan dan memasuki perairan Samudra Hindia. Selanjutnya pada tahun 1498, Vasco da Gama sampai di India. Namun, orang-orang Portugis ini segera mengetahui bahwa barang-barang dagangan yang hendak mereka jual tidak dapat bersaing di pasaran India yang canggih dengan barang-barang yang mengalir melalui jaringan perdagangan Asia. Karena itu, mereka sadar harus melakukan peperangan di laut untuk mengukuhkan diri. Gambar: Bartolomeus Diaz Alfonso de Albuquerque merupakan panglima angkatan laut terbesar pada masa itu. Pada tahun 1503 Albuquerque berangkat menuju India, dan pada tahun 1510, dia menaklukan Goa di Pantai Barat yang kemudian menjadi pangkalan tetap Portugis. Pada waktu itu telah dibangun pangkalanpangkalan di tempat-tempat yang agak ke barat, yaitu di Ormuzdan Sokotra. Rencananya ialah untuk mendominasi perdagangan laut di Asia dengan cara membangun pangkalan tetap di tempat-tempat krusial yang dapat digunakan untuk mengarahkan teknologi militer Portugis yang tinggi. Pada tahun 1510, setelah mengalami banyak pertempuran, penderitaan, dan kekacauan internal, tampaknya Portugis hampir mencapai tujuannya. Sasaran yang paling penting adalah menyerang ujung timur perdagangan Asia di Maluku.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 18 Gambar: Vasco da Gama Setelah mendengar laporan-laporan pertama dari para pedagang Asia mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar, Raja Portugis mengutus Diogo Lopez de Sequiera untuk menekan Malaka, menjalin hubungan persahabatan dengan penguasanya, dan menetap disana sebagai wakil Portugis di sebelah timur India. Tugas Sequiera tersebut tidak mungkin terlaksana seluruhnya saat dia tiba di Maluku pada tahun 1509. Pada mulanya dia disambut dengan baik oleh Sultan Mahmud Syah (1488-1528), tetapi kemudian komunitas dagang internasional yang ada di kota itu meyakinkan Mahmud bahwa Portugis merupakan ancaman besar baginya. Akhirnya, Sultan Mahmud melawan Sequiera, menawan beberapa orang anak buahnya, dan membunuh beberapa yang lain. Ia juga mencoba menyerang empat kapal Portugis, tetapi keempat kapal tersebut berhasil berlayar ke laut lepas. Seperti yang telah terjadi di tempat-tempat yang lebih ke barat, tampak jelas bahwa penaklukan adalah satu-satunya cara yang tersedia bagi Portugis untuk memperkokoh diri.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 19 Gambar: Alfonso de Albuquerque Pada bulan April 1511, Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang bulan Juli hingga awal Agustus. Pihak Malaka terhambat oleh pertikaian antara Sultan Mahmud dan putranya, Sultan Ahmad yang baru saja diserahi kekuasaan atas negara namun dibunuh atas perintah ayahnya. Malaka akhirnya berhasil ditaklukan oleh Portugis. Albuquerque menetap di Malaka sampai bulan November 1511, dan selama itu dia mempersiapkan pertahanan Malaka untuk menahan setiap serangan balasan orang-orang Melayu. Dia juga memerintahkan kapal-kapal yang pertama untuk mencari Kepulauan Rempah. Sesudah itu dia berangkat ke India dengan kapal besar, dia berhasil meloloskan diri ketika kapal itu karam di lepas pantai Sumatera beserta semua barang rampasan yang dijarah di Malaka. Setelah satu kapal layar lagi tenggelam, sisa armada itu tiba di Ternate pada tahun itu juga. Dengan susah payah, ekspedisi pertama itu tiba di Ternate dan berhasil mengadakan hubungan dengan Sultan Aby Lais. Sultan Ternate


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 20 itu berjanji akan menyediakan cengkeh bagi Portugis setiap tahun dengan syarat dibangunnya sebuah benteng di pulau Ternate. Hubungan dagang yang tetap dirintis oleh Antonio de Abrito. Hubungannya dengan Sultan Ternate yang masih anak-anak, Kacili Abu Hayat, dan pengasuhnya yaitu Kacili Darwis berlangsung sangat baik. Pihak Ternate tanpa ragu mengizinkan De Brito membangun benteng pertama Portugis di Pulau Ternate (Sao Joao Bautista atau Nossa Seighora de Rossario) pada tahun 1522. Penduduk Ternate menggunakan istilah Kastela untuk benteng itu, bahkan kemudian benteng itu lebih dikenal dengan nama benteng Gamalama. Sejak tahun 1522 hingga tahun 1570 terjalin suatu hubungan dagang (cengkih) antara Portugis dan Ternate. Portugis yang sedang menguasai Malaka, terbukti bahwa mereka tidak menguasai perdagangan Asia yang berpusat disana. Portugis tidak pernah dapat mencukupi kebutuhannya sendiri dan sangat tergantung kepada para pemasok bahan makanan dari Asia seperti halnya para penguasa Melayu sebelum mereka di Malaka. Mereka kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi mereka ditandai dengan perintah-perintah yang saling tumpang tindih dan membingungkan, ketidakefisienan, dan korupsi. Bahkan gubernur-gubernur mereka di Malaka turut berdagang demi keuntungan pribadi di pelabuhan Malaya, Johor, pajak dan harga barang-barangnya lebih rendah, dan hal tersebut telah merusak monopoli yang seharusnya mereka jaga. Para pedagang Asia mengalihkan sebagian besar perdagangan mereka ke pelabuhan-pelabuhan lain dan menghindari monopoli Portugis yang mudah.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 21 Gambar: Selat Malaka Begitu cepat Portugis tidak lagi menjadi suatu kekuatan yang revolusioner. Keunggulan teknologi mereka yang terdiri atas teknik-teknik pelayaran dan militer berhasil dipelajari dengan cepat oleh saingan-saingan mereka dari Indonesia. Seperti meriam Portugis yang dengan cepat berhasil direbut oleh orang-orang Indonesia. Portugis menjadi suatu bagian dari jaringan konflik di selat Malaka, dimana Johor dan Aceh berlomba-lomba untuk saling mengalahkan Portugis agar bisa menguasai Malaka. Kota Malaka mulai sekarat sebagai pelabuhan dagang selama berada dibawah cengkeraman Portugis. Mereka tidak pernah berhasil memonopoli perdagangan Asia. Portugis hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kebudayaan orang-orang Indonesia yang tinggal di nusantara bagian barat, dan segera menjadi bagian yang aneh di dalam lingkungan Indonesia. Portugis telah mengacaukan secara mendasar organisasi sistem perdagangan Asia. Tidak ada lagi satu pelabuhan pusat dimana kekayaan Asia dapat saling dipertukarkan, tidak ada lagi negara Malaya yang menjaga ketertiban selat Malaka dan membuatnya aman bagi lalu lintas perdagangan. Sebaliknya komunitas dagang telah menyebar ke beberapa pelabuhan dan pertempuran sengit meletus di Selat. Segera setelah Malaka ditaklukan, dikirimlah misi penyelidikan yang pertama ke arah timur dibawah pimpinan Francisco Serrao. Pada tahun 1512,


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 22 kapalnya mengalami kerusakan, tetapi dia berhasil mencapai Hitu (Ambon sebelah utara). Disana dia mempertunjukkan keterampilan perang melawan suatu pasukan penyerang yang membuat dirinya disukai oleh penguasa setempat. Hal ini mendorong kedua penguasa setempat yang bersaing (Ternate dan Tidore) untuk menjajaki kemungkinan memperoleh bantuan Portugis. Portugis disambut baik di daerah itu karena mereka juga dapat membawa bahan pangan dan membeli rempah-rempah. Akan tetapi perdagangan Asia segera bangkit kembali, sehingga Portugis tidak pernah dapat melakukan suatu monopoli yang efektif dalam perdagangan rempahrempah. Sultan Ternate, Abu Lais (1522) membujuk orang Portugis untuk mendukungnya dan pada tahun 1522, mereka mulai membangun sebuah benteng disana. Sultan Mansur dari Tidore mengambil keuntungan dari kedatangan sisa-sisa ekspedisi pelayaran keliling dunia Magellan di tahun 1521 untuk membentuk suatu persekutuan dengan bangsa Spanyol yang tidak memberikan banyak hasil dalam periode ini. Hubungan Ternate dan Portugis berubah menjadi tegang karena upaya yang lemah Portugis melakukan kristenisasi dan karena perilaku orang-orang Portugis yang tidak sopan. Pada tahun 1535, orang-orang Portugis di Ternate menurunkan Raja Tabariji (1523-1535) dari singgasananya dan mengirimnya ke Goa yang dikuasai Portugis. Disana dia masuk Kristen dan memakai nama Dom Manuel, dan setelah dinyatakan tidak terbukti melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya, dia dikirim kembali ke Ternate untuk menduduki singgasananya lagi. Akan tetapi dalam perjalanannya dia wafat di Malaka pada tahun 1545. Namun sebelum wafat, dia menyerahkan Pulau Ambon kepada orang Portugis yang menjadi ayah baptisnya, Jordao de Freitas. Akhirnya orang-orang Portugis yang membunuh Sultan Ternate, Hairun (1535-1570) pada tahun 1570, diusir dari Ternate pada tahun 1575 setelah terjadi pengepungan selama 5 tahun. Mereka kemudian pindah ke Tidore dan membangun benteng baru pada tahun 1578. Akan tetapi Ambon-lah yang


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 23 kemudian menjadi pusat utama kegiatan-kegiatan Portugis di Maluku sesudah itu. Ternate sementara itu menjadi sebuah negara yang gigih menganut Islam dan anti Portugis dibawah pemerintahan Sultan Baabullah (1570-1583) dan putranya Sultan Said ad-Din Berkat Syah (1584-1606). Pada waktu itu juga Portugis terlibat perang di Solor. Pada tahun 1562, para pendeta Dominik membangun benteng dari batang kelapa disana. Pada tahun berikutnnya dibakar para penyerang beragama Islam dari Jawa. Namun orang-orang Dominik tetap bertahan dan segera membangun ulang benteng dari bahan yang lebih kuat dan mulai melakukan kristenisasi pada penduduk lokal. Pada tahun sesudahnya, muncul serangan-serangan dari Jawa. Masyarakat Solor sendiri pun tidak secara keseluruhan senang terhadap orang-orang Portugis dan agama mereka, sehingga seringkali muncul perlawanan. Pada tahun 1598-1599, pemberontakan besar-besaran dari orang Solor memaksa pihak Portugis mengirimkan sebuah armada yang terdiri dari 90 kapal untuk menundukkan para pemberontak itu. Namun Portugis tetap menduduki benteng-benteng mereka di Solor sampai diusir oleh Belanda pada tahun 1613 dan setelah itu Portugis melakukan pendudukan kembali pada tahun 1636. Diantara para petualang Portugis tersebut ada seorang Eropa yang tugasnya memprakarsai suatu perubahan yang tetap di Indonesia Timur. Orang ini bernama Francis Xavier (1506-1552) dan Santo Ignaius Loyola yang mendirikan orde Jesuit. Pada tahun 1546-1547, Xavier bekerja di tengahtengah orang Ambon, Ternate, dan Moro untuk meletakkan dasar-dasar bagi suatu misi yang tetap disana. Pada tahun 1560-an terdapat sekitar 10.000 orang katolik di wilayah itu dan pada tahun 1590-an terdapat 50.000-an orang. Orang-orang Dominik juga cukup sukses mengkristenkan Solor. Pada tahun 1590-an orang-orang Portugis dan penduduk lokal yang beragama Kristen di sana diperkirakan mencapai 25.000 orang.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 24 Kekuasaan VOC di Indonesia Besarnya keuntungan yang diperoleh dari perdagangan rempah-rempah dan didukung oleh pengusiran bangsa Portugis menyebabkan para penguasa di Belanda bersaing untuk berlayar ke Maluku. Harga rempah-rempah di Eropa pun semakin tidak terkendali. Melihat kenyataan ini. Parlemen Belanda atau Staten Generaal mengusulkan agar semua perusahaan pelayaran membentuk sebuah kongsi dagang pada tahun 1598. Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaankerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). Di antara bangsa-bangsa tersebut, Belanda merupakan negara yang cukup lama berada di Indonesia. Hingga akhirnya mereka membuat perusahaan dagang di Indonesia. Meski telah bangkrut, sampai sekarang, perusahaan ini tercatat sebagai salah satu perusahaan terkaya di dunia lho. Ada yang bisa menebak nama perusahaannya? Vereenigde Oostindische Compagnie atau lebih dikenal dengan VOC merupakan perusahaan dagang tersebut. VOC didirikan pada 20 Maret 1602 oleh Johan van Oldenbarnevelt. Kepemimpinannya dipegang oleh 17 orang pemegang saham (Heeren Zeventien) yang berkedudukan di Amsterdam. Tujuan pembentukannya adalah: (1) menghindari persaingan sesama pedagang Belanda. (2) Memperkuat Belanda dalam persaingan dengan Bangsa Eropa lain. (3) Memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Keberadaan VOC tidak hanya sebagai kongsi dagang, namun juga menjadi kekuatan politik. VOC memiliki hak octrooi, yaitu monopoli perdagangan, mencetak mata uang sendiri, mengadakan perjanjian, menyatakan perang dengan negara lain, menjalankan kekuasaan kehakiman, memungut pajak,


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 25 memiliki angkatan perang, dan mendirikan benteng. VOC pun memiliki beberapa kebijakan, yaitu: 1. Contingenten: pajak wajib berupa hasil bumi yang langsung dibayarkan ke VOC. 2. Verplichte leverantie: penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah ditentukan VOC. Kebijakan ini berlaku di daerah jajahan yang tidak secara langsung dikuasai VOC, misalnya Kesultanan Mataram. 3. Ekstirpasi: menebang kelebihan jumlah tanaman agar produksinya tidak berlebihan sehingga harga dapat dipertahankan. 4. Pelayaran hongi: Pelayaran dengan perahu kora-kora untuk memantau penanaman dan perdagangan rempah-rempah oleh petani. Pada tahun 1799, VOC bangkrut karena pegawai VOC banyak yang melakukan korupsi, menanggung utang akibat perang, dan kemerosotan moral para pegawai. Dengan dibubarkannya VOC, maka kekuasaannya di Indonesia kemudian diambil alih oleh pemerintah kerajaan Belanda yang saat itu dikuasai Perancis. Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, pada tahun 1618, Pangeran Jayakarta diserang oleh Kerajaan Banten. Kerajaan Banten di bantu oleh Inggris. Pada tanggal 30 Mei 1619, Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen, mengirimkan tujuh belas buah kapal untuk menyerang dan memukul mundur pasukan Banten. Pasukan Kerajaan Banten berhasil dikalahkan. Jan Pieterzon Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta dan


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 26 memberinya nama Batavia. Batavia dijadikan pusat perdagangan dan kekuasaan Belanda dan Batavia juga resmi dijadikan markas besar VOC di Indonesia. Dalam menghadapi kerajaan-kerajaan Indonesia, Belanda melancarkan politik adu domba (devide et impera). Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kemunduran akibat kerugian yang sangat besar dan utang yang dimilikinya berjumlah sangat besar. Hal ini juga diakibatkan oleh : 1. persaingan dagang dari bangsa Perancis dan Inggris,penduduk Indonesia, terutama Jawa telah menjadi miskin, sehingga tidak mampu membeli barang-barang yang dijual oleh VOC 2. perdagangan gelap merajalela dan menerobos monopoli perdagangan VOC 3. pegawai-pegawai VOC banyak melakukan korupsi dan kecurangankecurangan akibat dari gaji yang diterimanya terlalu kecil 4. VOC mengeluarkan anggaran belanja yang cukup besar untuk memelihara tentara dan pegawai-pegawai yang jumlahnya cukup besar untu memenuhi pegawai daerah-daerah yang baru dikuasai, terutama di Jawa dan Madura. Maka pada tahun 1799, VOC akhirnya dibubarkan. Pada tahun 1807, Republik Bataafsche dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte dan diganti bentuknya menjadi Kerajaan Holland di bawah pemerintahan Raja Louis Napoleon Bonaparte (adik dari Kaisar Napoleon). Kekuasaan Daendels di Indonesia VOC akhirnya dibubarkan pada tahun 1799. Segala tanggung jawab VOC diambil alih oleh Kerajaan Belanda dan terbentuknya pemerintahan Hindia Belanda (Nederlands Indies). Pengambilan kekuasaan ini dimaksudkan agar wilayah Indonesia tetap berada dalam pengendalian Belanda. Dalam hal perkembangannya, Raja Louis Napoleon Bonaperte, yang bertanggung jawab atas wilayah Kerajaan Belanda, menunjuk Herman Williem Daendels sebagai Gubernur Jendral di Indonesia. Dari tahun 1808-1811 Herman Willem


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 27 Daendels menjadi Gubernur Jendral Belanda di Indonesia dengan tugas utamanya adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan pasukan Inggris. Dalam upaya tersebut, perhatian Daendels hanyalah terhadap pertahanan dan ketentaraan. Untuk memperkuat angkatan perangnya, Daendels melatih orang-orang Indonesia, karena tidak mungkin ia menambah tentaranya dari orang-orang belanda yang didatangkan dari negeri belanda. Pembangunan angkatan perangnya ini dilengkapi dengan pendirian tangsi-tangsi atau bentengbenteng, pabrik mesiu dan juga rumah sakit tentara. Di samping itu, atas dasar pertimbangan pertahanan, Daendels memerintahkan pembuatan jalan pos dari Anyer di Jawa Barat sampai Panarukan di Jawa Timur. Pembuatan jalan ini menggunakan tenaga rakyat dengan sistem kerja paksa atau kerja rodi, hingga selesainya pembuatan jalan itu. Untuk orang Belanda, pekerjaan menyelesaikan pembuatan jalan pos ini merupakan keberhasilan yang gemilang, tetapi lain halnya dengan bangsa Indonesia, di mana setiap jengkal jalan itu merupakan peringatan terhadap rintihan dan jeritan jiwa orang yang mati dalam pembuatan jalan tersebut. Setelah pembuatan jalan selesai, Daendels memerintahkan pembuatan perahu-perahu kecil, karena perahu-perahu perang Belanda tidak mungkin dikirim dari negeri Belanda ke Indonesia. Selanjutnya pembuatan pelabuhanpelabuhan tempat bersandarnya perahu-perahu perang itu, Daendels merencanakan di daerah Banten Selatan. Pembuatan pelabuhan itu telah memakan ribuan korban jiwa orang Indonesia di Banten akibat dari penyakit malaria yang menyerang para pekerja paksa. Akhirnya pembuatan pelabuhan itu tidak selesai. Walaupun Daendels bersikeras untuk tetap menyelesaikannya, tetapi Sultan Banten menentangnya. Daendels menganggap jiwa rakyat Banten tidak ada harganya, sehingga hal ini mengakibatkan pecahnya perang antara Daendels dengan Kerajaan Banten. Di samping itu, pembuatan pelabuhan di Merak juga mengalami kegagalan dan hanya usaha untuk memperluas pelabuhan di Surabaya yang cukup


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 28 memuaskan. Pada tahun 1810 Kerajaan Belanda di bawah pemerintahan Raja Louis Napoleon Bonaparte dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte. Negeri Belanda dijadikan wilayah kekuasaan Perancis. Dengan demikian, wilayah jajahannya di Indonesia secara otomatis menjadi wilayah jajahan Perancis. Napoleon menganggap bahwa tindakan Daendels sangat otokratis (otoriter), maka pada tahun 1811 ia dipanggil kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Gubernur Jenderal Jansens. Kekuasaan Inggris di Indonesia Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18, Inggris berkuasa di Indonesia sejak tahun 1811 setelah melakukan serangan darat dan laut atas wilayah kekuasaan Belanda di Pulau Jawa. Akibat serangan tersebut, Belanda menyerah tanpa syarat dan harus memberikan wilayah kekuasaannya kepada pemerintah Inggris. Kekuasaan Inggris di Indonesia diwakili ileh badan perdagangan Inggris yang berpusat di Calcutta, India, yaitu East Indian Company (EIC). EIC menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jendral di Indonesia. Kebijakan penting yang ditempuh Raffles selama berkuasa di Indonesia adalah membagi pulau Jawa menjadi 16 daerah karesidenan. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah pengaruh dan pengawasan terhadap pulau Jawa. Raffles juga membentuk system pemerintahan dan pengadilan dengan merujuk pada system di Inggris. Kekuasaan Raffles di Indonesia berakhir pada tahun 1814 setelah terjadi Konvensi London antara Inggris dan Belanda dikarenakan Napoleon Bonaparte berhasil dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig dan kemudian tertangkap. Isi dari konvensi London tersebut adalah bahwasanya inggris diharuskan mengembalikan semua wilayah jajahan Belanda yang telah dikuasainya. Inggris menyerahkan kekuasaan kepada Belanda pada tahun 1816 dan pada akhirnya wilayah Nusantara-Indonesia kembali dikuasai oleh pemerintahan Belanda.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 29 Masa Pemerintahan Republik Bataaf Kerajaan Belanda dipimpin Louis Napoleon, yang merupakan adik Napoleon Bonaparte, mengangkat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808 untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Tugas lainnya adalah memperbaiki nasib rakyat selaras dengan cita-cita Revolusi Perancis. Adapun kebijakan Daendels adalah: Sisi negatif pemerintahan Daendels adalah membiarkan terus praktik perbudakan serta hubungan dengan raja-raja di Jawa yang buruk, sehingga menimbulkan banyak perlawanan. Daendels ditarik ke Eropa, lalu digantikan Gubernur Jenderal Janssens pada tahun 1811. Masa pemerintahannya tidak lama, karena pasukan Inggris datang menyerang. Janssens dan pasukannya menyerah dengan ditandatanganinya Perjanjian Tuntang, sehingga selanjutnya Nusantara berada di bawah kekuasaan Inggris.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 30 Masa Pemerintahan Inggris Pada 1811, pimpinan Inggris di India, Lord Minto, memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berada di Penang untuk menguasai Pulau Jawa. Penjajahan bangsa Inggris tidak berlangsung lama. Sejak 1816 Inggris menyerahkan kembali kekuasaannya kepada Belanda. Indonesia kembali berada di bawah kekuasaan Belanda. Masa Pemerintahan Belanda Van der Capellen ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, menerapkan kebijakan dalam menghapuskan peran penguasa tradisional, menerapkan pajak yang memberatkan rakyat, sehingga muncul banyak perlawanan dari rakyat. Belanda juga mengutus Johannes van den Bosch untuk meningkatkan penerimaan negara Belanda yang kosong akibat perang dengan masyarakat Nusantara dan Bangsa Eropa lainnya. Van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa (cultuur stelsel) sejak tahun 1830. Penerapan cultuur stelsel banyak mengalami penyimpangan, seperti waktu tanam yang melebihi usia tanam padi, tanah yang seharusnya


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 31 bebas pajak tetap kena pajak, hingga rakyat harus menyediakan sampai setengah tanahnya. Meski begitu, Tanam Paksa juga berdampak positif karena rakyat Indonesia mengetahui jenis-jenis tanaman baru dan mengetahui cara tanam yang baik. Pada tahun 1870 Tanam Paksa dihapus dan diganti Politik Pintu Terbuka yang tertuang dalam UU Agraria 1870 yang mengatur tentang kepemilikan tanah pribumi dan pemerintah. Di sini, mulai diberlakukan politik pintu terbuka, investor asing mulai muncul, terjadi pengembangan usaha perkebunan di luar Jawa, dan sistem kerja paksa diganti dengan sistem kerja bebas. Sistem perkebunan yang dilaksanakan di Pulau Jawa, Manado, dan Sumatra Barat dalam prakteknya membikin rakyat sengsara. Kerja rodi dan korupsi yang dilakukan oleh para pegawai pemerintah Belanda semakin membuat rakyat sengsara.


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 32


MATERI BAHAN AJAR BAB I : KOLONIALISME DAN IMPPERIALISME BARAT DI INDONESIA Page | 33 Perkembangan Agama Kristen Agama Katolik dibawa oleh kaum misionaris Portugis, salah satunya St. Fransiskus Xaverius (1506-1552) yang mengunjungi Ambon, Ternate dan Halmahera pada tahun 1546-1547. Selain Portugis, Belanda juga menyebarkan agama Protestan oleh Ludwig Ingwer Nommensen. Ia berhasil melakukan kristenisasi di Sumatera Utara. Hingga kini, Protestan merupakan agama yang dominan di Provinsi Sumatera Utara.


Click to View FlipBook Version