Sejarah kerajaan pajang (1568-1587)
Perkembangan Islam di Jawa salah satunya dipelopori oleh kerajaan Islam pertama yang
ada di Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Setelah Demak runtuh, maka bergantilah kerajaan
Demak tersebut dengan kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang ini didirikan oleh Jaka Tingkir
yang berhasil menyingkirkan saingannya untuk kemudian memindahkan pusat kerajaan
Demak ke daerah Pajang.
Secara geografis, kerajaan Pajang terletak di daerah pedalaman. Kerajaan ini tidak
berkuasa lama, hal tersebut disebabkan beberapa faktor, baik faktor intern maupun
ekstern. Namun meskipun demikian, kerajaan ini nantinya juga akan menghasilkan
kemajuan-kemajuan yang signifikan terhadap perkembangan Islam di sekitar wilayah
kekuasaanya.
Jika ditinjau dari periode eksistensinya, kerajaan ini terhimpit oleh dua kerajaan Islam
besar yang letak mereka tidak begitu berjauhan, yaitu periode akhir kerajaan Demak dan
juga awal kerajaan Mataram Islam. Berangkat dari hal tersebut, penting kiranya untuk
kita bahas lebih lanjut hal-hal yang berkaitan dengan kerajaan ini.
Berdirinya Kerajaan Pajang
Berdirinya kerajaan Pajang pada akhir abad ke XVI M, merupakan tanda berakhirnya
kerajaan Islam yang berpusat di pesisir Utara Jawa yang kemudian bergeser masuk ke
daerah pedalaman dengan corak agraris. Ketika berbicara mengenai kerajaan ini, maka
erat kaitannya dengan keruntuhan kerajaan Demak. Di akhir kekuasaan kerajaan Demak,
terjadi peperangan antara Aryo Penangsang dan Joko Tingkir (menantu Sultan
Trenggono). Peperangan itu terjadi pada tahun 1546 M, ketika sultan Demak telah
meninggal dunia.
Pertempuran tersebut kemudian dimenangkan oleh Jaka Tingkir. ketika terjadi konflik
antara Aria Penangsang dan Joko Tingkir (Hadiwijaya), sebenarnya sunan Kudus kurang
setuju dengan Hadiwijaya. Namun hal tersebut kandas, ketika Jaka Tingkir berhasil
memindahkan pusat kerajaan Demak ke daerah Pajang. Pengesahan Joko Tingkir atau
biasa disebut dengan Hadiwijaya menjadi sultan pertama kerajaan ini dilakukan oleh
Sunan Giri.
Sebelum resmi mendirikan kerajaan ini, Jaka Tingkir yang berasal dari daerah Pengging
ini, sudah memegang jabatan sebagai penguasa di daerah Pajang pada masa Sultan
Trenggono. Kerajaan ini juga dinilai sebagai pelanjut dan pewaris dari kerajaan Demak.
Kerajaan Pajang terletak di daerah Kertasura dan merupakan kerajaan Islam pertama
yang terletak di daerah pedalaman pulau Jawa. Kerajaan Pajang ini tidak berusia lama,
karena kemudian bertemu dengan suatu kerajaan Islam besar yang juga terletak di Jawa
Tengah yaitu kerajaan Mataram.
Pada awal berdirinya, wilayah kekuasaan Pajang hanya meliputi daerah Jawa Tengah.
Hal itu disebabkan karena setelah kematian Sultan Trenggono, banyak wilayah jawa
Timur yang melepaskan diri. Namun pada tanggal 1568 M, Sultan Hadiwijaya dan para
Adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam
Kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang diatas negeri – negeri
Jawa Timur, maka secara sah kerajaan Pajang telah berdiri. Selanjutnya, kerajaan
Pajang mulai melakukan ekspansi ke beberapa wilayah, meliputi juga wilayah Jawa
Timur.
Berpindahnya kerajaan Islam dari Demak ke Pajang merupakan kemenangan Islam
Kejawen atas Islam ortodoksi. Setelah berkuasa beberapa waktu, kerajaan ini akhirnya
mencapai masa kejayaan pada masa raja pertama mereka, yaitu sultan Hadiwijaya.
Namun pada perkembangannya, kerajaan ini kemudian mengalami masa disintegrasi
setelah sultan Hadiwijaya meninggal pada tahun 1582 M.
Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Pajang
Setelah sultan Hadiwijaya meninggal, terjadi perebutan kekuasaan antara penerus-
penerusnya. Kemudian ia digantikan oleh Aria Pangiri yang berasal dari Demak. Aria
Pangiri kemudian bertempat tinggal di keraton Pajang. Dalam menjalankan roda
pemerntahannya, Arya Pangiri banyak didampingi oleh orang-orang dari Demak. Selain
itu, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Arya Pangiri juga banyak yang merugikan
rakyat, sehingga menimbulkan rasa tidak senang dari rakyat.
Sementara itu, seorang anak dari sultan Hadiwijaya yang bernama Benawa, dijadikan
penguasa di Jipang. Pangeran Benawa merasa tidak puas dengan jabatan yang
didapatnya. Sehingga ia meminta bantuan kepada senopati Mataram, Sutawijaya, untuk
menyingkirkan Aria Pangiri.
Pada tahun 1586, Pangeran Benawa yang telah bersekutu dengan Sutawijaya,
mengambil keputusan untuk menyerbu Pajang. Gabungan pasukan Mataram dan Jipang
berangkat untuk menurunkan Arya Pangiri dari takhtanya.
Perang terjadi di kota Pajang. Pasukan Arya Pangiri yang terdiri atas 300 orang Pajang,
2000 orang Demak, dan 400 orang seberang dapat dikalahkan pasukan koalisi Benawa
dan Sutawijaya. Arya Pangiri sendiri tertangkap, tetapi diampuni nyawanya setelah Ratu
Pembayun, istrinya meminta ampunan.
Sutawijaya mengembalikan Arya Pangiri ke Demak, serta mengangkat Pangeran
Benawa sebagai raja baru di Pajang. Benawa kemudian berinisiatif untuk membalas budi
kepada kesultanan Mataram, ia kemudian berinisiatif untuk menyerahkan hak atas
warisan ayahnya kepada Senopati Mataram tersebut. Namun, senopati menolak.
Senopati tersebut kemudian meminta “Perhiasan emas intan kerajaan Pajang”. Dengan
demikian, pangeran Benawa dikukuhkan menjadi sultan di kerajaan Pajang, namun
dibawah kekuasaan Mataram. Sepeninggal sultan Benawa, terdapat beberapa orang
sultan yang sempat memerintah. Tetapi pada tahun 1617-1618 M, terjadi pemberontakan
besar di Pajang yang dipimpin oleh Sultan Agung. Pada tahun 1618 M, kerajaan Pajang
mengalami kekalahan melawan Mataram. Dengan demikian, runtuhlah kerajaan Pajang
ini.
Raja-Raja Kerajaan Pajang
1. Jaka Tingkir/Hadiwijaya
Nama kecil Jaka Tingkir adalah Mas Krebet. Hal tersebut dikarenakan ketika kelahiran
Jaka Tingkir, sedang ada pertunjukan wayang beber di rumahnya. Saat remaja, ia
memiliki nama Jaka Tingkir. Nama itu dinisbatkan pada tempat dimana ia dibesarkan.
Pada perkembangannya, Jaka Tingkir menjadi menantu dari Sultan Trenggana (Sultan
Kerajaan Demak). Setelah berkuasa di Pajang, ia kemudian mendapat gelar
“Hadiwijaya”. Jaka Tingkir berasal dari daerah Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Jaka
Tingkir juga merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari daerah Kadilangun.
Melalui pemberontakan yang kemudian menjadi akhir dari kerajaan Demak, Jaka Tingkir
berhasil mendirikan kerajaan Islam baru. Meskipun tidak lama, namun bukan berarti
kerajaan ini tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap perkembangan Islam di Jawa
Tengah, tepatnya di daerah pedalam Jawa Tengah. Di bawah pimpinanya, kerajaan ini
mengalami beberapa kemajuan.
Salah satu kemajuannya adalah usaha ekspansi wilayah kekuasaan, seperti ekspansi ke
daerah Madiun. Selain itu, Pajang juga berhasil melakukan ekspansi ke daerah Blora
pada tahun 1554 M dan daerah Kediri tahun 1577 M. Pada tahun 1581 M, Jaka Tingkir
berhasil mendapatkan pengakuan dari seluruh adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pada masa pemerintahannya jugalah mulai dikenal di daerah pesisir, yaitu kesusastraan
dan kesenian dari keraton yang sudah terkenal sebelumnya.
Kesusastraan dan kesenian keraton tersebut sebelumnya berkembang di Demak dan
Jepara. Selain itu, yang terpenting adalah pengaruh Islam yang kemudian menjalar cepat
keseluruh daerah pedalaman, dengan seorang tokoh pelopor yaitu Syekh Siti Jenar.
Sedangkan di daerah Selatan, Islam disebarkan oleh Sultan Tembayat.
Pada saat ini terdapat tulisan tentang sajak Monolistik Jawa yang dikenal dengan Nitti
Sruti. Diadakannya pesta Angka Wiyu. Selain itu, kesusastraan Jawa juga dihayati dan
dihidupkan di Jawa Tengah bagian Selatan. Dapat dikatakan bahwa pada masa inilah,
kerajaan Pajang mengalami masa kejayaan, sebelum akhirnya kerajaan ini mulai
mengalami kemunduran setelah kematian sultan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya (1582 M).
2. Arya Pangiri
Arya Pangiri merupakan raja kedua setelah Jaka Tingkir. Arya Pangiri berasal dari
Demak. Ayahnya bernama Sultan Prawoto yang merupakan raja ke-empat kerajaan
Demak. Arya Pangiri pernah menjabat sebagai bupati di Demak. Namun setelah sultan
Hadiwijaya meninggal dunia, ia kemudian menjadi raja Pajang menggantika sultan
Hadiwijaya. setelah menjabat sebagai sultan di kerajaan ini, ia kemudian bergelar sultan
Ngawantipura.
Ia dikisahkan hanya peduli pada usaha untuk menaklukkan Mataram daripada
menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Dia melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya)
supaya tidak membenci Sutawijaya. Ia bahkan membentuk pasukan yang terdiri atas
orang-orang bayaran dari Bali, Bugis, dan Makassar untuk menyerbu Mataram.
Arya Pangiri juga berlaku tidak adil terhadap penduduk asli Pajang. Ia mendatangkan
orang-orang Demak untuk menggeser kedudukan para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat
Pajang juga tersisih oleh kedatangan penduduk Demak.
Akibatnya, banyak warga Pajang yang berubah menjadi perampok karena kehilangan
mata pencaharian. Sebagian lagi pindah ke Jipang mengabdi pada Pangeran Benawa.
Hingga akhirnya, ia berhasil dikalahkan oleh Benawa, yang kemudian akan menjadi
sultan kerajaan Pajang. Setelah ia kalah, ia dipulangkan ke Demak.
3. Pangeran Benawa
Pangeran Benawa merupakan anak dari Sultan Hadiwijaya. ia bergelar Sultan
Prabuwijaya. Sejak kecil, ia sudah dipersaudarakan dengan Sutawijaya yang nantinya
akan mendirikan kerajaan Mataram. Pada perkembangannya, melalui garis
keturunannya-lah nantinya akan dilahirkan orang-orang besar dan pujangga-pujanga
besar. Setelah Sultan Prabuwijaya meninggal pada tahun 1587, kerajaan Pajang
menjadi negara yang tunduk sepenuhnya terhadap Mataram. Hal ini disebabkan tidak
adanya pengganti yang cukup cakap untuk memegang kendali pemerintahan Pajang.
Keadaan Kerajaan Pajang Ditinjau dari Berbagai Aspek
Telah disebutkan sebelumnya bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan agraris. Sehingga
penghasilan utama masyarakatnya merupakan aspek-aspek pertanian. Selain itu,
disebutkan pula dalam sistem ekonomi, mereka sudah menggunakan uang dalam proses
jual beli. Letak geografis kerajaan ini, berada diantara 2 aliran sungai, yaitu sungai pepe
dan dengke.
Keadaan tersebut mendukung kesuburan tanah wilayah Pajang dan menjadi faktor
pendukung berkembangnnya sistem Agraris di kerajaan ini. Disebutkan bahwa sekitar
abad ke 16-17 M, kerajaan ini menjadi salah satu lumbung padi terbesar dan sudah
meng-ekspor beras keluar wilayah mereka. Secara politik, kerajaan Pajang masih
mendapat nasihat besar dari para wali. Selain itu, kekuasaan di kerajaan ini didapatkan
melalui kekerasan, pedang dan perang.