BUKU SPESIES
TAKSONOMI ORGANISME TINGKAT RENDAH
KELOMPOK 8 3/26/22 E-BOOK SPESIES
BUKU SPESIES
Dosen Pengampu: Salwa Rezeqi, S.Pd, M.Pd
Disusun oleh:
KELOMPOK 3 :
Pipin pebriani Simanjuntak ( 4213520030)
Giberta Ginting (4213520010)
Putri Hajijah Harahap ( 4213220032)
Rio Marthin Pasaribu (4213220021)
KELAS: PSB 21 A
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk dapat
menyelesaikan ..... ini yang dibuat guna memenuhi penyelesaian tugas pada
matakuliah Taksonomi Organisasi Tingkat Rendah. Semoga ....ini dapat
berguna dan menambah wawasan bagi para pembaca.
Kami menyadari bahwa .... ini masih jauh dari kata sempurna karena masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami dengan segala kerendahan hati
meminta maaf dan mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna
perbaikan dan penyempurnaan kedepannya.
Akhir kata kami mengucapkan selamat membaca dan semoga materi yang ada
dalam ..... yang berbentuk makalah ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya
bagi para pembaca. Terimakasih
Medan, 26 Maret 2022
Penulis
Kelompok 8
Daftar Isi
COVER .......................................................................................................................................................
Kata pengantar ..............................................................................................................................
Daftar Isi........................................................................................................................................
Bakteri.......................................................................................................................................................
a. Archabacteria ..............................................................................................................................
b. Eubacteria ...................................................................................................................................
Protista .........................................................................................................................................
a. Protista Mirip Tumbuhan ............................................................................................................
b. Protista Mirip Hewan ..................................................................................................................
Daftar Pustaka ..............................................................................................................................
BAKTERI
A. Archabacteria
1. Methanobacterium ruminantium.
Figure 1. Phase photomicrograph of Methanobacterium ruminantium. 2700 X.
Sistematika/taksonya
Taksonomi : Prokaryota
Kingdom : Archaea
: Euryarchaeota
Domain : Methanobacteria
Filum
Kelas
Tata nama
Sinonim : Archaeobacteria
Takson : Archaeobacteria Murray 1988
Ordo : Methanobacteriales
Deskripsi
MORFOLOGI :
Organisme ini berbentuk batang pendek dengan lebar 0,7,u dan panjangnya 0,8 hingga 1,8. Sel yang
baru saja membelah mungkin hampir bulat. Dalam budaya muda organisme terjadi terutama
berpasangan. Rantai terjadi dan dalam budaya lama dapat mencakup sebanyak dua puluh sel. Spora
tidak pernah terdeteksi. Sel-sel dari koloni 24 jam, tersuspensi dalam agar-agar 2 persen dan natrium
klorida 0,6 persen. Berdasarkan morfologi dan kemampuannya membentuk metana, organisme ini
termasuk dalam genus Methanobacterium. Empat spesies Methanobacterium telah dideskripsikan; M.
formicicum (Schnellen, 1947), M. propionicum (Stadtman dan Barker, 1951), M. so5hngenii (Barker,
1936), dan M. suboxydans (Stadtman dan Barker, 1951). Dari jumlah tersebut, hanya M. formicicum
telah diperoleh dalam budaya murni. Isolat ini berbeda secara morfologis dari semua spesies ini dan
secara fisiologis dari tiga spesies terakhir. Mirip dengan M. formicicum dalam memanfaatkan format
tetapi berbeda dalam morfologi sel, morfologi koloni, reaksi Gram, pigmentasi, dan kisaran suhu.
Oleh karena itu dinamakan Methanobacterium ruminantium n. sp., julukan khusus yang mengacu
pada lingkungan organisme yang diketahui.
CIRI-CIRI :
1. Hidup di lingkungan yang tidak membutuhkan oksigen (anaerob obligat)
2. Mendapatkan energi dengan cara merubah senyawa H2 dan CO2 menjadi gas metana
(CH4).
3. Sebagian besar bakteri ini hidup di lumpur atau di rawa-rawa yang miskin oksigen.
CARA HIDUP :
Jenis metanogen Methanobacterium ruminantium hidup dalam saluran pencernaan hewan
ruminansia (pemamah biak) membantu mencerna selulosa dari rumput dan menghasilkan 400
liter metana dalam sehari
HABITAT :
Umumnya hidup di lingkungan basah dan umumnya gas yang terjadi pada daerah rawa-rawa
dan metana dari bersendawa pada hewan ruminansia dan perut kembung pada manusia.
PERANAN :
1. Methanobacterium ruminatum menguraikan asam cuka (CH3COOH)
menjadi metana (CH4) dan CO2.
2. membantu mencerna selulosa dari rumput dan menghasilkan 400 liter gas metana dalam sehari
2. Lachnospira multipara
Deskripsi
MORFOLOGI :
Bakteri metanogen adalah bakteri penghasil metana (CH4) dengan cara mereduksi CO2
dengan H2. Bakteri metanogen termasuk bakteri anaerob yang tidak toleran terhadap
oksigen, dan akan teracuni bila ada oksigen. Sebagian besar bakteri ini hidup di lumpur atau
di rawa-rawa yang jarang/miskin oksigen. Gas metana yang dihasilkan keluar sebagai
gelembung yang disebut gas rawa. Selain itu, ada juga yang hidup di dalam saluran
pencernaan hewan selulosa, seperti sapi, dan kambing. Species bakteri metanogen saat ini
digunakan sebagai strain bakteri untuk pemuatan biogas dari kotoran hewan. Bakteri
Metanogen antara lain Methanomonas dan Lachnospira multipara.
CIRI-CIRI :.
1. Hidup di lingkungan yang tidak membutuhkan oksigen (anaerob obligat)
2. Mendapatkan energi dengan cara merubah senyawa H2 dan CO2 menjadi gas metana
(CH4).
3. Sebagian besar bakteri ini hidup di lumpur atau di rawa-rawa yang miskin oksigen.
Gas metana yang dihasilkan keluar sebagai gelembung-gelembung yang disebut
sebagai gas rawa. Selain itu, ada juga yang hidup di saluran pencernaan hewan
ruminansia misalnya sapi dan kambing.
PERANAN :
Bakteri metanogen adalah bakteri yang dapat membentuk gas metan (CH4) dengan cara
mereduksi karbondioksida (CO2). Metanogen bersifat anaerob dan kemosisntetik. Bakteri
metanogen memperoleh makanan dari sisa-sisa tumbuhan yang mati, lalu menghasilkan gas
metan. Contoh bakteri metanogen adalah Lachnospira multipara. Menghidrolisis pektin
3. Halloferax
Taksonomi
SuperKingdom : Archaea
Phylum : Euryarchaeota
Kelas : Halobacteria
Ordo : Haloferacales
Famili : Haloferacaceae
Genus : Haloferax
Spesies : Haloferax volcanii
Deskripsi
Penggunaan bakteri halofilik esktrim pada proses kristalisasi garam pernah dilakukan oleh
Nilawati (2017), pada penelitian tersebut menyatakan bahwa penggunaan kultur cair bakteri
Haloferax pada proses kristalisasi garam pada skala lab menghasilkan garam dengan
kemurnian NaCl 94,64%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bakteri halofilik
ekstrim berwarna merah berwarna merah dengan spesies Haloferax lucentense dan
Haloferax chudinovii yang telah diimmobilisasi dengan menggunakan matriks zeolit. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakteri halofilik yang
telah di immobilisasi dalam kaitannya dengan kualitas garam NaCl yang dihasilkan pada
proses peladangan garam rakyat
4. Methanosarcinales
Taksonomi
Domain: Archaea
Kerajaan: Euryarchaeota
Filum: Euryarchaeota
Kelas: Methanomicrobia
Ordo: Methanosarcinales
Deskripsi
mikroba memproduksi metana serbaguna yang ditemukan di lingkungan yang beragam
seperti sumur minyak, pembuangan sampah, ventilasi hidrotermal laut dalam, dan sedimen
yang kehabisan oksigen di bawah rumput laut.
5.Ruminococcus albus
Taksonomi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Clostridia
Order : Clostridiales
Family : Ruminococcaceae
Genus : Ruminococcus
Spesies : Ruminococcus albus
Deskripsi
Ruminococcus albus adalah bakteri yang sangat selulolitik yang pertama kali diisolasi pada
tahun 1951 oleh R. E. Hungate dari rumen sapi. R. albus termasuk dalam filum Firmicutes,
dan seperti Firmicutes selulolitik lainnya, menggunakan selulosom untuk melekat pada dan
mendekonstruksi selulosa. R. albus diperkirakan juga menggunakan mekanisme perlekatan
selulosa lainnya, termasuk protein keluarga Pil dan glikokaliks eksopolisakarida. R.
albus menghasilkan etanol dan CO2 sebagai produk fermentasi utamanya, bersama dengan
sejumlah kecil asetat, format, dan H2. Habitatnya berada di rawa, lumpur dan tempat-tempat
dengan sedikit oksigen. Ada juga beberapa spesies yang hidup dan bersimbiosi di dalam perut
atau saluran pencernaan hewan ruminansia, seperti rayap, sapi, dan herbivora lain yang
mengandalkan makanan berselulosa.
Ruminococcus albus bereproduksi secara aseksual atau bereproduksi secara aseksual. Selain
itu, bakteri juga berkembang biak dengan bertukar materi genetik dengan bakteri lain. Proses
transfer materi genetik ini juga disebut dengan rekombinasi parasexual atau genetik.
Pertumbuhan bakteri, yaitu pembelahan sel dalam koloni bakteri, meningkatkan jumlah
koloni dengan cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi berlangsungnya reproduksi,
diantaranya suhu (suhu optimal – 300 ° C), kelembaban (bakteri tumbuh dengan baik di
lingkungan yang lembab), sinar matahari (menghambat pertumbuhan bakteri karena
menghancurkan struktur kromosom bakteri), bahan kimia (kerusakan atau membunuh
dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri). Ketersediaan cadangan makanan
dan sisa metabolisme (pengurangan cadangan makanan dalam medium dan munculnya
metabolisme limbah bakteri menghambat pertumbuhan koloni bakteri).
6.Halococcus
Taksonomi
Domain :Archaea
Kingdom : Euryarchaeota
Phylum :Euryarchaeota
Class :Halobacteria
Order :Halobacteriales
Family :Halobacteriaceae
Genus :Halococcus
Spesies :Halococcus sp.
Deskripsi
Halococcus adalah genus archaea halophilic ekstrim, yang berarti bahwa mereka
membutuhkan kadar garam yang tinggi, kadang-kadang setinggi 32% NaCl, untuk
pertumbuhan yang optimal. Halofil ditemukan terutama di perairan pedalaman dengan
salinitas tinggi, di mana pigmennya (dari protein yang disebut rhodopsinprotein) mewarnai
sedimen dengan warna cerah. Rhodopsinprotein dan protein lain berfungsi untuk melindungi
Halococcus dari salinitas ekstrim lingkungan mereka. Karena mereka dapat berfungsi dalam
kondisi garam tinggi seperti itu, Halococcus dan organisme halofilik serupa telah digunakan
dalam industri makanan dan bahkan dalam produk perawatan kulit. Spesies Halococcus
mampu bertahan hidup di habitat salinitas tinggi karena pompa klorin yang menjaga
keseimbangan osmotik dengan salinitas habitat mereka, dan dengan demikian mencegah
dehidrasi sitoplasma. Sel-selnya berbentuk kokus, panjangnya 0,6-1,5 mikrometer dengan
dinding polisakarida sulfat. Sel-sel bersifat organtrofik, menggunakan asam amino, asam
organik, atau karbohidrat untuk energi. Dalam beberapa kasus mereka juga mampu
berfotosintesis.
7.Streptococcus thermophilus
Taksonomi
Domain : Bacteria
Phylum : Bacillota
Class : Bacilli
Order : Lactobacillales
Family : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Species : Streptococcus thermophilus
Deskripsi
Streptococcus thermophilus adalah jenis bakteri probiotik. Ini adalah bakteri “ramah” yang
biasanya hidup di sistem pencernaan, saluran kemih, dan alat kelamin kita tanpa
menyebabkan penyakit. Streptococcus thermophilus umumnya digunakan untuk
memproduksi makanan susu fermentasi seperti yogurt. Hal ini juga digunakan dalam
suplemen makanan. Streptococcus thermophilus paling sering diminum untuk mengobati dan
mencegah diare , sembelit , diabetes , dan banyak kondisi lainnya, tetapi tidak ada bukti
ilmiah yang baik untuk mendukung penggunaan ini. Streptococcus thermophilus termasuk
dalam kelompok bakteri yang disebut bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat ditemukan
dalam makanan fermentasi seperti yogurt dan keju. Streptococcus thermophilus digunakan
sebagai apa yang disebut “probiotik”, kebalikan dari antibiotik. Bakteri “ramah” seperti
Streptococcus thermophilus dapat membantu kita memecah makanan, menyerap nutrisi, dan
melawan organisme “tidak ramah” yang mungkin menyebabkan penyakit seperti diare.
8.Borrelia burgdorferi
Taksonomi
Filum : Spirochaetae
Kelas : Spirochaetia
Ordo : Spirochaetales
Famili : Spirochaetaceae
Genus : Borrelia
Spesies : Borrelia burgdorferi
Deskripsi
Morfologi
Pada morfologi spirochete Borrelia burgdorferi penyakit Lyme adalah hasil dari sebuah
interaksi compleks antara sel silinder dan periplasmik flagella bagian dalam. Spirochetes
tidak diklasifikasikan baik Gram-positif atau Gram-negatif. Ketika Borrelia burgdorferi di
warnai, sel yang diwarna menunjukkan gram negative yang lemah dan gagal ketika di
celupkan safranin pada langkah terakhir. Borrelia, seperti pada kebanyakan spirochetes,
memiliki outer membran yang berisi lipopolisakarida sebagai substansinya, sebuah inner
membrane, dan sebuah penghubung periplasmic yang mana berisi lapisan peptidoglikan.
Oleh karena itu, dia termasuk tipe dinding sel gram negative. Borrelia burgdorferi tumbuh
optimal pada temperature 32°C, pada lingkungan microaerobic.
Ciri-ciri:
Pada bakteri ini bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cara memutar sebuah,
gerakan berputar, filamen aksila membantu bakteri dalam gerakannya. Ini Borrelia
burgdorferi mereproduksi secara vegetatif melalui pembelahan biner. Bakteri ini umumnya
ditemukan di Amerika Utara, ini ialah bakteri patogen dengan spiral berbentuk tubuh.
Borrelia burgdorferi ialah organisme penyebab penyakit lyme.
B.Eubacteria
1.Bacillus anthracis
Sistematika/taksonya
Taksonomi : Biota
Superdomain : Prokaryota
: Bacteria
Superkerajaan : Posibacteria
Domain : Firmicutes
Subkerajaan : Bacilli
Filum : Bacillales
Kelas : Bacillaceae
Ordo : Bacillus
Famili
Genus : Bacillus anthracis
Spesies
Deskripsi
MORFOLOGI :
Bacillus anthracis merupakan bakteri berbentuk batang, berukuran 1,6 μm, tidak mempunyai
alat gerak atau motil, merupakan bakteri gram positif dan bersifat aerob. Bacillus
anthracis memiliki dua tahap dalam siklus hidupnya yaitu fase vegetatif dan spora. Dalam
mempertahankan siklus hidupnya Bacillus anthracis membentuk dua sistem pertahanan yaitu
spora dan kapsul. Dalam menginfeksi sel inangnya spora anthrax mengeluarkan 2 racun
yaitu, edema toxin dan lethal toxin. Penyebaran spora anthrax dapat melalui kontak
langsung/melalui kulit, melalui saluran pernpasan, dan melalui per oral atau saluran
pencernaan, hal ini dapat menyebabkan macam-macam penyakit anthrax,seperti anthrax kulit,
anthrax saluran pernapasan, anthrax saluran pencernaan dan dapat sampai ke otak yang
disebut anthrax otak/meningitis. Penyakit antharax yang disebabkan bakteri Bacillus
anthracis dapat dicegah dengan vaksin anthrax dan dapat diobati dengan berbagai macam
antibiotika
Bacillus anthracis ditemukan tahun 1849 oleh Davaine dan Bayer, dan pada tahun 1855
diidentifikasi oleh Pollender. Braver pada tahun 1857, mampu mendemonstrasikan
pemindahan penyakit anthrax dengan melakukan inokulasi darah hewan yang terinfeksi
anthrax. Pada tahun 1877, Robert Koch mampu membuat biak murni Bacillus anthracis,
membuktikan kemampuan bakteri tsb membentuk endospora dan mengenali lebih lanjut sifat-
siat bakteri anthrax tersebut.
CIRI-CIRI :
1. Berbentuk batang lurus
2. Ukuran 1,6μm
3. Merupakan bakteri gram positif dan bersifat aerob
4. Bersifat Patogen
5. Tidak tahan terhadap suhu tinggi
6. Mempunyai kemampuan membentuk spora
7. Tidak mempunyai alat gerak (motil)
8. Berkapsul dan tahan asam
9. Dinding sel bakteri merupakan polisakarida somatik yang terdiri dari N-
asetilglukosamin dan D-galaktosa
10. eksotoksin kompleks yang terdiri atas Protective Ag (PA), Lethal Factor (LF), dan
Edema Factor (EF)
CARA HIDUP :
Dalam mempertahankan siklus hidupnya, Bacillus anthracismembentuk dua system
pertahanan, yaitu kapsul dan spora. Dua bentuk inilah, terutama spora yang menyebabkan
Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Sedangkan kapsul
merupakan suatu lapisan tipis yang menyelubungi dinding luar dari bakteri. Kapsul ini terdiri
atas polipeptida berbobot molekul tinggi yang mengandung asam D-glutamat dan merupakan
suatu hapten. Bacillus anthracis dapat membentuk kapsul pada rantai yang berderet. Pada
media biasa, kapsul Bacillus anthracis tidak terbentuk kecuali pada galur Bacillus anthracis
yang ganas. Lebih jauh, bakteri ini akan membentuk kapsul dengan baik jika terdapat pada
jaringan hewan yang mati atau pada media khusus yang mengandung natrium bikarbonat
dengan konsentrasi karbondioksida (CO2) 5 persen. Kapsul inilah yang berperan dalam
penghambatan fagositosis oleh sistem imun tubuh, dan juga dapat menentukan derajat
keganasan atau virulensi bakteri.
HABITAT :
Di Indonesia, penyakit ini sering dijumpai pada kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, dan babi. Dari segi
epidemiologi bacillus anthracis ini menyukai tanah berkapur dan tanah yang bersifat basa (alkalis).
Umumnya antraks menyerang hewan pada musim kering (kemarau), dimana rumput sangat langka,
sehingga sering terjadi pada ternak (terutama kuda) tertular lewat makan rumput yang tercabut sampai
akarnya. Lewat akar rumput inilah bisa terbawa pula spora dari antraks.
PERANAN :
Bacillus anthracis merupakan spesies bakteri penyebab antraks sebuah penyakit yang umum
ditemukan pada hewan ternak dan terkadang pada manusia dan satu-
satunya patogen obligat pada genus Bacillus.
2. Diplococcus pneumonia
• Gambar
• Taksonomi
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Diplococcic
Ordo : Lactobacillales
Family : Diplococcueae
Genus : Diplococcus
Spesies : Diplococcus pneumoniae
• Morfologi
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri bakteri
Diplococcus, yang mengakibatkan munculnya peradangan pada kantung udara atau
alveolus. Peradangan tidak hanya terjadi pada satu paru-paru, tetapi juga bisa
menyerang kedua paru-paru yang kemudian dapat berisi cairan.
• Ciri-Ciri
Diplococcus pneumonia sendiri biasa disebut sebagai Streptococcus pneumoniae,
yakni bakteri gram positif, alfa-hemolitik, dan anaerob fakultatif yang berbentuk bulat
dan saling berjajar.
3. Sarcina lutea
Sistematika/taksonya
Taksonomi : Bacteria
Domain : Bacillota
Filum : Clostridia
Kelas : Clostridiales
Ordo : Clostridiaceae
Family : Sarcina
Genus
Deskripsi
MORFOLOGI :
Sarcina lutea memiliki bentuk coccus bergerombol dan berwarna putih, dan menurut
literature Sarcina lutea memiliki bentuk tertad coccus
CIRI-CIRI :
1. Umumnya tidak berklorofil
2. Bentuknya bervariasi
3. Tidak memiliki membran inti atau prokariotik
4. Berukuran antara 1 s/d 5 mikron
5. Hidup secara parasit atau bebas (kosmolipit) atau pathogen
6. Bersifat uniseluler (bersel satu)
CARA HIDUP :
Bakteri ini hidup sebagai dekomposer atau pengurai yang hidup.
HABITAT :
sarcina lutea, merupakan bakteri nonmotile, gram positif, aerob (fakultatif anaerobik),
Micrococcus penghasil pigmen, dapat ditemukan di udara
PERANAN :Dekomposisi dan daur ulang nutrisi
4.Serratia marcescens
Sistematika/taksonya
Taksonomi
Nama ilmiah : Serratia marcescens
Klasifikasi lebih tinggi : Serratia
Tingkatan takson : Spesies
Famili : Enterobacteriaceae
Filum : Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Spesies : S. marcescens
Deskripsi
MORFOLOGI :
Serratia marcescens (Ser. marcescens) adalah bakteri gram negatif dari family
Enterobacteriaceae dan termasuk flora normal pada usus manusia. Bakteri ini dapat hidup di
air, tanah, permukaan daun, dalam tubuh serangga, hewan, dan manusia (Khanafari et al.,
2006). Bakteri ini bersifat fakultatif anaerob sehingga mampu hidup pada keadaan yang
sangat ekstrim, seperti pada lingkungan yang terpapar antiseptik, desinfektan, dan air
destilasi, selain itu bakteri ini juga dapat hidup dalam kisaran suhu 5°C - 40°C dan dalam
kisaran pH antara 5-9 (Saputra, 2010).
CIRI-CIRI :
Bakteri Ser. marcescens memiliki bentuk sel batang atau bacillus dan beberapa galur
membentuk kapsul, memiliki ukuran koloni sangat kecil hingga 2 mm. Bakteri ini bersifat
motil karena memiliki flagel peritrik yang digunakan sebagai alat gerak dan flagel tersebut
ditemukan pada seluruh sel bakteri. Secara makroskopis bakteri ini membentuk koloni
cembung, lembut, dengan tepi yang berbeda, dan dapat menghasilkan pigmen merah seperti
yang terlihat pada gambar 1 (Rosidah, 2016). Bakteri ini menghasilkan pigmen merah yang
merupakan metabolit sekunder yang dikenal sebagai prodigiosin dari family tripyrrole yang
umumnya mengandung 4-methox-2,2-bipyrolle (Giri et al., 2004). Berdasarkan penelitian,
pigmen biologis yang dihasilkan oleh bakteri ini ternyata memiliki aktivitas antifungal,
imunosuprevisi dan antiproliferasi (Lauzon et al., 2003).
CARA HIDUP :
Bakteri ini bersifat fakultatif anaerob sehingga mampu hidup pada keadaan yang sangat
ekstrim, seperti pada lingkungan yang terpapar antiseptik, desinfektan, dan air destilasi,
selain itu bakteri ini juga dapat hidup dalam kisaran suhu 5°C - 40°C dan dalam kisaran pH
antara 5-9 (Saputra, 2010).
HABITAT :
Bakteri ini dapat hidup di air, tanah, permukaan daun, dalam tubuh serangga, hewan, dan
manusia
PERANAN :
Bakteri Serratia marcescens adalah salah satu bakteri penghasil pigmen merah yang banyak
dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Bakteri ini diisolasi dari sedimen sumber air panas di
Gedong Songo, Bandungan, Semarang. S. marcescens memiliki potensi sebagai penghasil
pigmen alami.
5.Clostridium tetani
Taksonomi :
Kingdom : Bakteri
Filum : Firmicutes
Kelas : Clostridia
Order : Clostridiales
Keluarga : Clostridiaceae
Genus : Clostridium
Spesies : Clostridium tetani
Deskripsi :
Clostridium tetani adalah bakteri yang menyebabkan penyakit tetanus. Bakteri ini terdapat
pada bagian luar tubuh manusia dan tersebar luas di tanah. Sifat patogen bakteri ini akan
terjadi bila tubuh terluka dan terjadi luka yang dalam, seperti luka tusukan paku, pecahan
kaca, atau luka yang terkena kotoran.Luka yang terkena kotoran atau tertutup dapat
menyebabkan kondisi anaerob yang ideal bagi pertumbuhan Clostridium tetani, luka
bernanah dan gigi berlubang juga dapat menjadi jalur masuk bakteri ini. Masa inkubasi
tetanus berkisar antara 2-14 hari.Bakteri ini memiliki bentuk morfologi menyerupai batang,
dengan bagian bulat pada ujungnya yang menyerupai penabuh genderang. Bakteri ini mampu
membentuk spora saat kondisi lingkungan tempat hidupnya bersifat kurang mendukung
pertumbuhannya. Jika diwarnai dengan pewarnaan Gram, bakteri ini bersifat Gram positif.
Syarat hidup optimalnya adalah pada kondisi tidak ada oksigen (anaerob). Bakteri ini bersifat
patogen dan berbahaya karena mengeluarkan racun yang disebut tetanospasmin. Racun ini
bersifat neurotoksin, yang akan menyerang daerah saraf tepi (perifer) pada manusia dan
menyebabkan kejang otot. Racun baru akan dikeluarkan bila kondisi hidupnya pada tubuh
manusia. Racun ini juga dapat menghancurkan sel darah merah dan leukosit.
6.Hydrogenobacter
Taksonomi : Bacteria
Kingdom : Aquificae
Divisi. : Aquificales
Kelas : Aquificaceae
Family :Hydrogenobacter
Genus :Hydrogenobacter thermophilus
Species
Deskripsi
Morfologi
Thermophilus hidrogenobacter adalah bakteria batang lurus (bacillus) dan termofil yang
melampau. Ukurannya berukuran sekitar 0,3 -5,5 mikron dan panjang 2-3 mikron. Pewarnaan
gram dilakukan dengan menggunakan Hucker Modification dan tindak balas didapati negatif
Gram. Motilitas dan sporulasi diuji menggunakan metode sel gantung dan metode Dorner,
masing-masing, dan keduanya didapati negatif. Komposisi asid lemak baru dibebaskan
melalui larutan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat. Komposisi didapati C18: 0, C 20: 1,
2 karbon lebih lama daripada komposisi yang dilihat sebelumnya. Keadaan pertumbuhan
yang optimum adalah: suhu antara 70 dan 75 ° C, air tawar, pH sekitar 7.2.
Ciri-ciri
Bakteri termofilik akan mampu tumbuh dalam rentangan suhu sekitar 40-80 °C, dengan
pertumbuhan optimal pada kisaran suhu 50-65 °C. Termofilik ekstrim memiliki suhu optimal
lebih dari termofil, dan dapat bertoleransi pada suhu lebih dari 100 °C. Hydrogenobacter,
mempunyai metabolisme yang serupa dengan Aquifex, yaitu dengan siklus tricarboxylic acid
(TCA) reduktif. Hydrogenobacter (bakteri hydrogen) yang mengoksidasi gas hydrogen
menjadi air.
Peranan
(bakteri hidrogen) mengoksidasi gas hidrogen menjadi air
7.Eubacterium Halli
Taksonomi : Bacteria
Domain. : Bacillota
Phylum : Clostridia
Class. : Clostridiales
Order. : Eubacteriaceae
Family. : Eubacterium
Genus.
Deskripsi
Morfologi
Eubacterium halli dianggap sebagai mikroba penting dalam hal keseimbangan metabolisme
usus karena kemampuannya untuk memanfaatkan glukosa dan zat antara fermentasi asetat
dan laktat, untuk membentuk butirat dan hidrogen. E. halli sebagai spesies kunci dalam rantai
trofik usus dengan potensi yang sangat berdampak pada keseimbangan metabolisme serta
mikrobiota usus / homeostasis inang dengan pembentukan berbagai asam lemak rantai
pendek.
Ciri-ciri
membrannya mengandung phosphatidylglycerol dan phosphatidylethanolamine
8.Azotobacter sp
Taksonomi
Domain. : Bacteria
Filum. : Proteobacteria
Kelas. : Gammaproteobacteria
Ordo. : Pseudomonadales
Famili. : Pseudomonadaceae/Azotobacteraceae
Genus. : Azotobacter
Deskripsi
Morfologi
Bakteri Azotobacter spmerupakan salah satu rhizobacteri yang terdapat ditanaman
perkebunan. Bakteri ini mempunyai kemampuan dalam memproduksi vitamin dan zat
pengatur tumbuh seperti IAA, kinetin dan giberelin . Selain itu Bakteri ini dapat memfiksasi
Nitrogen secara nonsimbiotik dan juga menghasilkan polisakarida ekstraseluler, seperti
alginat dan polimer.
Ciri-ciri
Azotobacter termasuk bakteri gram negatif, berbentuk batang, bersifat motil dan non motil.
Sifat hidupnya aerob tetapi juga dapat tumbuh secara anaerob fakultatif jika kelarutan
oksigen menurun
Peranan
Dari beberapa hasil kajian terlihat bahwa efektifitas bakteri azotobacter tidak hanya dalam
meningkatkan fiksasi Nitrogen tapi juga mempunyai kemampuan dalam meningkatkan
ketersediaan P dan berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan
pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap beberapa penyakit
Protista mirip tumbuhan
1.Ulva sp.
Sistematika/taksonya
Taksonomi
Nama ilmiah : Ulva lactuca
Klasifikasi lebih tinggi : Ulva
Tingkatan takson : Spesies
Kerajaan : Plantae
Famili : Ulvaceae
Filum : Chlorophyta
Kelas : Ulvophyceae
Deskripsi
MORFOLOGI :
morfologinya berupa thallus tipis dan gepeng seperti pedang yang terdiri atas 2 lapis sel. Tidak ada
diferensiasi jaringan dan seluruh sel memiliki bentuk yang kurang lebih identik, kecuali pada sel-sel
basal yang mengalami elongasi membentuk rhizoid penempel. Masing-masing sel pada spesies ini
terdiri atas sebuah nukleus, dengan kloroplas berbentuk cangkir, dan sebuah pirenoid (Guiry, 2007).
Jenis Ulva anatara lain adalah Ulva lactucaefolia
CIRI-CIRI :
Ulva lactuca memiliki panjang sampai 100 cm dan berwarna hijau apel terang, dan memiliki
bentuk strap-shaped blades (pedang melipat) dengan tepi yang halus tapi bergelombang dapat
dilihat pada Gambar 2. Bagian tengah dari setiap helaian seringkali berwarna pucat dan
semakin ke arah tepi warnanya semakin gelap. Pada daerah tropis, tumbuhan ini biasanya
terdapat di air yang dangkal (zona intertidal bagian atas sampai kedalaman 10 meter). Pada
substrat yang tepat, seringkali melakukan asosiasi dengan daerah yang memiliki nutrien yang
tinggi (contohnya bakau) atau dekat sumber air tawar.
CARA HIDUP :
hidup sebagai koloni maupun sel tunggal yang dapat hidup perairan tawar maupun laut.
HABITAT :
Habitatnya adalah di air laut
PERANAN :
Ulva lactuca disebut salah satu sumber makanan yang sehat bagi manusia. Serat yang
terkandung pada rumput laut ini dapat membantu proses pencernaan dalam tubuh, sehingga
memakan Ulva dalam jumlah tertentu dapat membantu memperlancar pencernaan orang yang
memakannya
Dapus :
Abirami R G and Kowsalya S. 2011. Nutrient and nutraceutical potentials of seaweed biomass Ulva
lactuca and Kappaphycus alvarezii. Journal of Agricultural Science and Technology 5(1): 1939–1250.
2.Navicula sp.
Sistematika/taksonya
Taksonomi
Kingdom : Protista
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Pennales
Famili : Naviculaceae
Genus : Navicula
Spesiaes : Navicula sp. (Guiry, 2019).
Deskripsi
MORFOLOGI :
spesies Navicula sp. memiliki bentuk lonjong, menguncup kedua bagian ujungnya, berwarna
kecoklatan, memiliki dinding sel sebelah dalam tanpa sekat, mempunyai sentral nodul dan
polar nodul. Navicula sp. merupakan tumbuhan uniseluler. Bentuk talus dari depan berbentuk
seperti perahu, sedangkan dari samping tampak seperti kotak (hipoteka) dengan bagian tutup
(epiteka). Dinding sel navicula tersusun dari bahan kersik. Pigmen yang dimiliki Navicula sp.
selain klorofil juga karotin dan xantofil. Perkembangbiakan vegetatif Navicula sp. dengan
membelah diri. Perkembangbiakan generatif Navicula sp.
CIRI-CIRI :
1. habitat ditempat berair
2. tubuh terdiri dari dua bagian yaitu kotak (hipoteka) dan bagian tutup (epiteka)
3. dinding sel navicula tersusun dari bahan kersik (sel silica)
4. memiliki pigmen klorofil,karotin,dan xantofil
5. inte selnya terletak di tengah-tengah sel
6. pada sel-sel yang telah mati megendap di dasar lau tdan merupakan lapisan tanah
diatom yang bermanfaat sebagai alat penggosok,bahan isolasi,dan bahan dinamit
7. cara perkembang biakan dengan membelah diri (vegegtatif) dan konjugasi (generatif)
CARA HIDUP :
Navicula sp. merupakan alga uniseluler (microalgae) yang berwarna cokelat kekuningan,
berbentuk lonjong, memanjang seperti perahu. Ditemukan dalam semua jenis air dari air laut
sampai air tawar dan hidup menempel pada substrat. Navicula salinicola memiliki plastida
yang mengandung klorofil a dan c, serta fukosantin. Reproduksinya adalah aseksual dengan
pembelahan sel. Navicula sp. memiliki kandungan kimia seperti karbohidrat, protein dan lipid
serta asam lemak seperti asam miristat, asam pentadekanoat, asam palmitat, asam stearat,
asam palmitoleat dan eicosapentaenoic acid (EPA). Navicula sp. memiliki bioaktivitas seperti
antibakteri, antioksidan dan antivirus.
HABITAT :
Ditemukan dalam semua jenis air dari air laut sampai air tawar dan hidup menempel pada
substra
PERANAN :
Navicula memainkan peran penting dalam ekologi global, yang memproduksi sekitar seperempat
dari semua oksigen di dalam biosfer Bumi dan berperan sebagai spesies kunci dalam rantai makanan
dari berbagai lingkungan di mana mereka memberikan makanan pokok untuk banyak spesies akuatik.
3. Turbinaria sp.
Taksonomi
Devisi : Thallophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Famili : Sargassaceae
Genus : Turbinaria
Spesies : Turbinaria ornate
• Ciri-Ciri dan persebaran
Ciri-ciri umum dari Turbinaria sp. ini adalah pada umumnya warna thallus adalah coklat,
tubuhnya seperti pohon atau semak, bentuk thallus utama umumnya silindris, bentuk daun
seperti terompet, kecubung atau corong dengan pinggir bergerigi, mempunyai gelembung
udara bladder yang terletak pada filoid. Sargassum sp. dan Turbinaria sp. sering membentuk
suatu komunitas alga Aslan, 1991; Tjitrosoepomo, 2005. Turbinaria sp. tersebar hampir di
seluruh perairan tropis termasuk Indonesia, pada daerah karang dengan pasang surut rendah
dan area subtidal Aslan, 1991; Atmadja et al. , 1996. Secara tradisional, Turbinaria sp. telah
dikonsumsi sebagai sayuran yang nilai ekonomisnya masih sangat rendah. Turbinaria sp.
biasanya dieksport ke Filipina untuk diolah menjadi beraneka produk seperti sup, salad dan
obat gondok. Turbinaria sp. mempunyai kandungan alginat dan iodine Aslan, 1991;
Tjitrosoepomo, 2005. Pemanfaatan alginat pada Turbinaria sp. seperti halnya pada
Sargassum sp.
• Peranan
Turbinaria mempunyai peranan yang sangat penting di dunia industri sebagai bahan baku
alginat.
4. Eucheuma spinosum
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Sub kelas : Florideae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma spinosum
• Morfologi
Rumput laut Eucheuma spinosum pertama kali dipublikasikan pada tahun
1768 oleh Burman dengan nama Fucus denticulatus Burma, kemudian pada tahun 1822 C.
Agardh memperkenalkannya dengan nama Sphaerococus isiformes C.
Agardh, selanjutnya pada tahun 1847 J. Agardh memperkenalkannya dengan nama
Eucheuma J. Agardh. Dalam beberapa pustaka ditemukan bahwa Eucheuma spinosum dan
Eucheuma muricatum merupakan nama untuk satu spesies ganggang. Bentuk dari tanaman
ini tidak mempunyai perbedaan susunan kerangka antara akar, batang, dan daun.
Keseluruhan tanaman ini merupakan batang yang dikenal sebagai talus (thallus). Talus ada
yang berbentuk bulat, silindris atau gepeng bercabang-bercabang. Rumpun terbentuk oleh
berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa filamen dan ada pula yang
berupa percabangan kompleks, jumlah setiap percabangan ada yang runcing dan ada yang
tumpul. Permukaan kulit luar agak kasar yang karena mempunyai gerigi dan bintik-bintik
kasar. Eucheuma spinosum memiliki permukaan licin, berwarna coklat tua, hijau coklat,
hijau kuning, atau merah ungu. Tingginya dapat mencapai 30 cm. Eucheuma spinosum
tumbuh melekat ke substrat dengan alat pelekatnya berupa cakram.
Manfaat
Eucheuma sp, banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang di masyarakat, diantaranya
sebagai pupuk organik karena mengandung bahan-bahan mineral seperti potasium dan
hormon seperti auxin dan citokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman untuk
tumbuh, berbunga, dan berbuah, bahan pengental (thickener), pembentuk gel, pengemulsi,
dan pengimbang (stabilizator) pada industri makanan, pasta gigi, farmasi, kosmetik, tekstil,
cat, karet, dan kertas. Selain itu Eucheuma sp dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dan
makanan tambahan berupa agar.
5.Gonyaulax.
Taksonomi :
Domain : Eukaryota
Kingdom : Protista
Phylum : Dinoflagellata
Class : Dinophyceae
Order : Gonyaulacales
Suborder : Gonyaulacaceae
Genus : Gonyaulax
Deskripsi :
Gonyaulax, genus alga dinoflagellata (famili Gonyaulacaceae) yang menghuni air laut, tawar,
atau payau. Beberapa spesies planktonik bersifat racun dan terkadang cukup melimpah untuk
mewarnai air dan menyebabkan fenomena yang disebut pasang merah, yang dapat
membunuh ikan dan hewan lainnya. Manusia dapat diracuni dengan memakan kerang atau
kerang lain yang menelan Gonyaulax catenella dalam jumlah besar. Spesies Gonyaulax
ditutupi oleh pelat selulosa yang rapat. Sebagai dinoflagellata, mereka memiliki dua flagela:
satu memanjang ke belakang dari alur longitudinal di baju besi, dan yang lainnya, dalam alur
melingkar, dapat membantu menjaga organisme tetap mengapung. Tidak ada bintik mata
(stigma), dan kromatofora yang mengandung pigmen berwarna kuning sampai coklat tua.
Ciri-ciri Gonyaulax sp. Adalah bersel satu, memiliki pigmen klorofil, memiliki dua flagel.
Peranan Gonyaulax sp. Adalah sebagai produsen karena memiliki pigmen klorofil untuk
berfotosintesis. Gonyaulax sp. Juga dapat menghasilkan toksik atau senyawa racun yang
merugikan bagi makhluk hidup. Gonyaulax sp. Merupakan organisme yang termasuk ke
dalam Protista.
6.Euglena viridis.
Taksonomi :
Kerajaan : Protista
Filum :Euglenozoa
Kelas :Euglenophyceae
Ordo :Euglenales
Famili :Euglenaceae
Genus :Euglena
Spesies :Euglena viridis
Deskripsi :
Euglena viridis merupakan organisme penyusun saprobitas golongan Polisaprobik atau
tercemar berat. Euglena sp memiliki dua buah flagel tipe Cambuk berjumbai, dengan tonjolan
lateral yang berupa bulu yang terletak pada satu baris panjang flagel. Euglena sp dapat hidup
secara autrotof maupun heterotrof pada saat sinar matahari mencukupi spesies ini Melakukan
fotosintesis tetapi bila tidak terdapat matahari Euglena sp mengambil zat organik yang
terlarut di Sekitarnya. Euglena dicirikan oleh sel memanjang (15–500 mikrometer [1 mik
rometer = 10 6 meter], atau 0,0006–0,02 inci) dengan satu nukleus , banyak klorofil yang
mengandung kloroplas ( organel sel yang merupakan tempat fotosintesis), kontraktil vakuola
(organel yang mengatur sitoplasma), bintik mata , dan satu atau dua flagela. Tidak seperti sel
tumbuhan, Euglena tidak memiliki dinding selulosa yang kaku dan memiliki struktur yang
fleksibelpelikel (amplop) yang memungkinkan mereka berubah bentuk. Meskipun mereka
fotosintesis, sebagian besar spesies juga dapat memberi makan secara heterotrofik (pada
organisme lain) dan menyerap makanan secara langsung melalui permukaan sel
melaluifagositosis (di mana membran sel menjebak partikel makanan dalam vakuola untuk
pencernaan). Makanan sering disimpan sebagai karbohidrat kompleks khusus yang dikenal
sebagai:paramylon, yang memungkinkan organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi
cahaya rendah. Euglena bereproduksi secara aseksual melalui pembelahan sel memanjang , di
mana mereka membagi panjangnya, dan beberapa spesies menghasilkan kista aktif yang
dapat menahan pengeringan
7.Ceratium
Taksonomi
Domain : Eukaryota
Phylum. : Dinoflagellata
Class. : Dinophyceae
Ordo. : Gonyaulacales
Family. : Ceratiaceae
Genus. : Ceratium
Deskripsi
Morfologi
Memiliki bentuk umum yaitu terdiri membran vesikel berisi lapisan – lapisan theca yang
cukup nyata, memiliki substansi cadangan utama berupa karbohidrat dan garam, memiliki
nukleus yang besar dengan penampilan berbentuk seperti manik – manik, Ceratium sp juga
memiliki trichocysr dan stigma.
Ciri-ciri
Ceratium termasuk dalam kelas Pyrrophyta. Pyrrophyta merupakan alga uniselular (bersel
satu) dengan dua flagel yang berlainan, berbentuk pita, keluar dari sisi perut dalam suatu
saluran. Mengandung pigmen (klorofil A,C2 dan piridinin, sementara yang lain memiliki
klorofil A,C1,C2 dan fucosantin) yang dapat berfotosintesis. Hanya dinoflagellata yang
memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Alga api ini berbentuk sel tunggal dan bentuk
filamennya bercabang. Dikelompokkan sebagai protista autotrof oleh adanya klorofil a dan c,
tetapi tidak mempunyai klorofil b pigmen xantofil yang khas yaitu peridinin, neoperidinin,
dinoxanthin dan neodinoxanthin) dan b karoten yang memberikan warna coklat atau warna
coklat emas. Pyrrophyta memiliki alat gerak berupa flagel sebanyak 2 buah, satu buah
melingkar sedangkan satu lagi berada dibagian posterior. Ada juga falgel yang terletak di
bagian lateral. Bila flagel yang melingkar bergerak, maka sel akan berputar dan bila flagel
bagian posterior yang bergerak maka sel akan maju.
Habitat
Ceratium sp biasanya tersebar sangat luas di perairan pantai dan mempunyai toleransi yang
tinggi terhadap variasi salinitas yang besar (5 -70 ‰). Berbeda halnya dengan ceratium yang
saya teliti, jumlah Ceratium sp yang kita amati cukup banyak, dengan dibuktikan oleh 3 X
penemuan pada saat praktium berlangsung. Ceratium sp merupakan phytoplankton yang
jumlahnya dipengaruhi oleh salinitas lingkungan.
8.Fuctus serratus
Taksonomi
Phylum. : Ochrophyta
Class. : Phaeophyceae
Ordo. : Fucales
Family. : Fucaceae
Genus. : Fucus
Species : F. serratus
Deskripsi
Morfologi
Fucus serratus, kerak bergigi, adalah rumput laut semak berwarna coklat zaitun yang tumbuh
dengan kepadatan tinggi di daerah pantai. Daunnya lebarnya sekitar 2 cm, membelah menjadi
dua berulang kali. Daunnya tidak memiliki kantung udara. Seluruh tanaman biasanya tumbuh
sekitar 60 cm. Daun memiliki tepi bergerigi dan tumbuh dari tangkai pendek.
Ciri-ciri
Pada umumnya ditemukan hidup di laut, terutama yang beriklim dingin. Bentuk tubuhnya
tampak menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena ada bagian yang menyerupai akar,
batang, dan daun, dengan tinggi dapat mencapai 50-100 m. Multiseluler (bersel banyak).
Memiliki pigmen fikosantin yang dominan. Memiliki gelembung udara (air bladder).
Makanan cadangan berupa laminarin.
Protista mirip hewan
1.Foraminifera
Sistematika/taksonya
Taksonomi
Nama ilmiah : Foraminifera
Klasifikasi lebih tinggi : Retaria
Tingkatan takson : Filum
Domain : Eukaryota
Deskripsi
MORFOLOGI :
Berdasarkan sifat hidupnya foraminifera dibedakan menjadi foraminifera plantonik dan
bentonik. Foraminifera plantonik hidupnya melayang di permukan air dan kurang peka
terhadap perubahan lingkungan, tetapi mempunyai penyebaran lateral yang luas; sehingga
dapat digunakan sebagai fosil penunjuk jarak jauh dari korelasi regional. Foraminifera
bentonik sangat peka terhadap perubahan lingkungan karena organisme ini hidup dengan
menempelkan diri pada sedimen, batuan, tumbuhtumbuhan atau karang yang berada di dasar
perairan sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai indikator lingkungan (Boltovskoy &
Wright, 1976; Haq & Boersma, 1983). Foraminifera bentonik merupakan kelompok
foraminifera yang hidup pada atau dekat dasar laut dengan sifat vagil (bebas bergerak),
misalnya jenis Cibicides dan Discorbis (Kennet, 1982). Sessil, hidup dengan menambatkan
diri pada dasar perairan dengan pseudopodianya untuk sementara waktu, tetapi biasa juga
menambatkan diri secara permanen pada dasar perairan dengan sedimentasi (Kennet, 1982).
Contoh Foraminifera sessil yang permanen adalah Rupertia, Carpenteria, dan Planorbulina,
(Boltovskoy & Wright, 1976).
CIRI-CIRI :
Foraminifera adalah organisme yang mikroskopis (ukuran antara 50-400 , tetapi ada juga
yang berukuran sampai beberapa sentimeter dan kebanyakan hidup di laut (Haq & Boersma,
1983). Menurut Natsir (2010), foraminifera termasuk dalam filum Protozoa yang mulai
berkembang pada zaman Kambrium sampai Resen. Mayoritas foraminifera hidup pada
lingkungan laut. Sampai sekarang jumlah foraminifera (modern) yang ditemukan di seluruh
perairan dunia baik itu foraminifera plantonik dan bentonik sekitar 12.000 spesies (Puspasari
et al., 2012). Foraminifera yang hidup terdiri dari bagian yang lunak, disebut sebagai
protoplasma dan bagian yang keras disebut sebagai test atau cangkang. Protoplasma dapat
dibedakan menjadi ektoplasma yang berwarna bening dan endoplasma yang berwarna lebih
gelap. Dari ektoplasma keluar pseudopodia yang berfungsi sebagai alat untuk penangkap
mangsa, pembangun cangkang, bergerak, penambat, peraba dan pernafasan. Pseudopodia
foraminifera menyerupai akar sehingga dimasukkan ke dalam kelompok Rhizopoda (Brasier,
1980).
CARA HIDUP :
hidup pada semua kedalaman dan semua lintang tetapi yang mempunyai keragaman
(diversitas) paling tinggi adalah di daerah tropis. Penyebaran foraminifera bentonik sangat
berhubungan dengan kedalaman karena faktor ini mengontrol banyak parameter lingkungan
yang lain seperti cahaya, konsentrasi nutrien, temperatur, Foraminifera plantonik merupakan
organisme yang cara hidupnya melayanglayang dalam air laut dari zona permukaan sampai
pada kedalaman 1000 meter dan memiliki ukuran antara 50-100 mikron, dimana ciri-ciri
utamanya yakni memiliki bentuk cangkang yang bulat dengan komposisi gamping hyaline,
susunan kamarnya pada umumnya “trochospiral” (Rahadian, 2012).
HABITAT :
Foraminifera bentonik biasanya berada pada perairan payau hingga di laut
PERANAN :
Foraminifera banyak dimanfaatkan di bidang perminyakan dan pertambangan, serta
dipelajari di dalam mikropaleontologi dan paleoekologi.
2.Volvox globator
Sistematika/taksonya
Taksonomi : Bacteria
Domain : Bacillota
Filum : Clostridia
Kelas : Clostridiales
Ordo : Clostridiaceae
Family : Sarcina
Genus
Deskripsi
MORFOLOGI :
Pengertian Volvox Globator atau yang sering disebut hanya dengan nama Volvox adalah
salah satu jenis spesies dari ganggang hijau yang terbentuk dalam koloni.
Koloni Volvox memiliki bentuk yang menyerupai bentuk bola. Pada sel-sel vegetative bagian
tepi berflagel dua. Koloni sel tersebut dihubungkan dalam satu sama lain melalui benang-
benang sitoplasma. Lingkungan hidup Volvox berada di air tawar misalnya di sawah atau di
kolam.
CIRI-CIRI :
1. Sel Volvox berbentuk tunggal, bulat telur atau bulat yang berisi dua flagel dan tampak
seperti bola melayang sedikit lebih dari ukuran kepala jarum.
2. Pangkal flagela mengandung kloroplas berbentuk cangkir tunggal.
3. Setiap sel individu terikat satu sama lain dengan untaian sitoplasma.
4. Setiap sel memiliki mata merah di permukaannya.
5. Sel anterior dari koloni Volvox tertentu memiliki kemampuan fototaktik sementara sel
posterior melakukan reproduksi.
6. Ukuran koloni Volvox berkisar antara 100-6000 μm.
7. Kita tidak dapat melihat spesies Volvox dengan mata kasar karena ukuran
mikroskopisnya tetapi beberapa koloni mudah terlihat karena ukurannya yang besar
dengan diameter 1 mm.
8. Volvox lebih memilih untuk hidup di badan air yang kaya nutrisi seperti danau,
kolam, kanal, parit, dll.
9. Setiap sel dari koloni Volvox menghasilkan lendir yang membuat koloni itu berbeda
atau tidak mencolok.
10. Mereka menunjukkan gerakan flagellar. Dalam hal ini, flagela dari semua sel koloni
melakukan tindakan simultan dimana seluruh koloni berguling di atas permukaan air.
Selain itu, pot mata mengontrol
11. pergerakan flagela karena merupakan organ fotoreseptif.
12. Mereka bereproduksi baik secara seksual maupun seksual
CARA HIDUP :
Organisme ini umumnya hidup berkoloni. Permukaan koloni halus karena dilapisi oleh
gelatin. Setiap sel memiliki inti, vakuola kontraktil, stigma dan kloroplas.
HABITAT :
Volvox hidup di air tawar misalnya di sawah atau di kolam.
PERANAN :
Volvox globator berperan sebagai sumber makanan spesies lain. hal ini dikarenakan
Volvox Globator mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup lain,
selain itu karena spesies ini memiliki sel klorofil sehingga dapat melakukan proses
fotosintesis layaknya tumbuhan. Makhluk ini juga merupakan penghasil protein sistem
tunggal yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup lain
3.Stylonichia mytilus
Taksonomi
Kingdom : Protista
Filum : Ciliaphora
Kelas : Spirotrichea
Ordo : Sporadotrichida
Famili : Oxytrichidae
Genus : Stylonychia
Spesies :Stylonychia mytilus
• Ciri-ciri
Adapun anatomi dari Stylonychia yaitu berbentuk oval jika dilihat pada bagian atas dan itu
berfungsi untuk aktivitas gencarnya dan juga gerakannya cepat. Seperti halnya
denganParamecium sp yang memiliki gerakan yang cepat dan juga genus Ciliata (memiliki
rambut pendek seperti ekstensi). Cilia pada Stylonychia sangat khusus dan tidak bebas
didistribusikan melalui tubuhnya.
• Habitat
Adapun habitat dari Stylonychia mytilus yaitu biasanya terdapat pada air tawar dan tanah,
ditemukan pada lumut, dan juga diantara partikel sedimen. Selain itu, mereka juga biasanya
berenang melalui vegetasi yang membusuk sampah kolam yang mengambang pada air.
4.Plasmodium falcifarum
Taksonomi
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoa
Sub kelas : Cocidiidae
Ordo : Eucoccidiidae
Sub ordo : Haemosporidiidae
Famili : Plasmodiidae
Genus : Plasmodium
Spesies : Plasmodium falciparum
• Keterangan
Subordo haemosporina terdiri dari tiga famili, yaitu Plamodiidae,
Haemoproteidae dan Leucocytozoonidae. Macrogametocyt dan microgametocyst
berkembang secara terpisah. Bentuk zygot adalah motil disebut ookinet,
sedangkan sporozoit berada dalam dinding spora. Protozoa ini adalah
heteroxegenous, dimana merozoit diproduksi di dalam hospes vetebrata dan sporozoit
berkembang dalam hospes invertebrata, dan merupakan suatu protozoa darah
• Peranan
Plasmodium falciparum adalah protozoa parasit, salah satu spesies Plasmodium yang
menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Protozoa ini masuk pada tubuh manusia
melalui nyamuk Anopheles betina. P. falciparum menyebabkan infeksi paling berbahaya dan
memiliki tingkat komplikasi dan mortalitas malaria tertinggi.
5.Trypanosoma gambiense
Taksonomi :
Kingdom : Protozoa
Sub-kingdom : Eozoa
Infrakerajaan : Euglenozoa
Phylum : Euglenozoa
Upafilum : Glycomonada
Class : Kinetoplasty
Subclass : Metakinetoplasty
Orde : Trypanosomatida
Family : Trypanosomatidae
Genus : Trypanosoma
Species : Trypanosoma gambiense
Deskripsi :
Trypanosoma gambiense merupakan spesies protozoa kinetoplastida yang bersifat parasitik.
Parasit ini menyebabkan penyakit pada hewan vertebrata, termasuk manusia, yang ditularkan
melalui vektor, yaitu lalat tsetse di Afrika Sub-Sahara. Pada manusia, T. Brucei menyebabkan
tripanosomiasis Afrika atau penyakit tidur. Pada hewan, T. Brucei menyebabkan
tripanosomiasis hewan. T. Brucei ditemukan pada tahun 1894 oleh Sir David Bruce
kemudian nama ilmiahnya diberikan pada tahun 1899. Reproduksi T. Brucei tidak dapat
dibandingkan dengan kebanyakan sel eukariotik. Hal ini disebabkan karena membran inti dari
T. Brucei tetap utuh dan kromosom tidak memadat selama mitosis. Tidak seperti sentrosom
pada kebanyakan sel eukariotik, badan basal tidak berperan dalam pengorganisasian spindel
dan justru terlibat dalam pembelahan kinetoplas. Peranan Trypanosoma gambiense adalah
protozoa penyebab penyakit tidur di Afrika Barat yang dibawa oleh lalat tsetse jenis Glossina
palpalis. Siklus hidup Trypanosoma gambiense adalah sebagai berikut: Trypanosoma masuk
ke dalam inangnya, yaitu manusia melalui gigitan lalat Tse-tse (Trypanosoma tersimpan pada
kelenjar saliva). Pada tahap ini, Trypanosoma berada pada bentuk infektif yang disebut
tripomastigot metasiklik dengan flagela yang pendek.
6.Plasmodium sp.
Taksonomi :
Kingdom : Protozoa
Superfilum : Alveolata
Filum : Apicomplexa
Kelas : Aconoidasida
Ordo : Haemosporida
Famili : Plasmodiidae
Genus : Plasmodium
Spesies : Plasmodium sp.
Deskripsi :
Plasmodium adalah protozoa parasit, salah satu spesies Plasmodium yang menyebabkan
penyakit malaria pada manusia. Protozoa ini masuk pada tubuh manusia melalui nyamuk
Anopheles betina. P. Falciparum menyebabkan infeksi paling berbahaya dan memiliki tingkat
komplikasi dan mortalitas malaria tertinggi. Struktur plasmodium memungkinkan organisme
ini dapat bergerak secara amoeboid. Siklus hidup Plasmodium. Sporozoit dari liur nyamuk
betina yang mengigit disebarkan ke darah atau sistem limfa penerima. Penting disadari bahwa
bagi sebagian spesies vektornya mungkin bukan nyamuk. Sporozoit berpindah ke hati dan
menembus hepatosit. Tahap dorman bagi sporozoit Plasmodium dalam hati dikenal sebagai
hipnozoit. Dari hepatosit, parasit berkembang biak menjadi ribuan merozoit, yang kemudian
menyerang sel darah merah. Perannya adalah sebagai malaria tertiana. Morfologi
plasmodium di dalam sel darah merah memiliki Sitoplasma dengan bentuk tidak teratur pada
berbagai stadium Pertumbuhan dan mengandung kromatin, pigmen serta granula. Pigmen
Malaria ialah suatu kompleks yang terdiri dari protein yang telah di Denaturasi, yaitu
hamozoinatau hamatin, suatu hasil metabolisme Parasit dengan bahan-bahan dari sel darah
merah. Pigmen ini tidak ada Pada parasit eksoeritrositik yang terdapat dalam sel hati.
Gametosit Dapat dibedakan dari tropozoit tua karena sitoplasma lebih padat, tidak Ada
pembelahan kromatin dan pigmen yang tersebar dibagian tepi.
7.Stentor roeseli
Taksonomi
Kingdom : Alveolata
Phylum. : Ciliophora
Class. : Heterotrichea
Order. : Heterotrichida
Family. : Stentoridae
Genus. : Stentor
Species. : S. Roeseli
Deskripsi
Morfologi
S. roeselii ditemukan di perairan yang tenang atau bergerak lambat, di mana ia memakan
bakteri, flagellata, alga, dan ciliata lainnya. Saat makan, sel tetap di tempatnya (sessile),
dilekatkan oleh organel "holdfast" posterior ke permukaan yang kokoh seperti batang
tanaman atau detritus yang terendam.
Ciri-ciri
Spesimen yang terentang penuh biasanya memiliki panjang antara 500 dan 1200 mikrometer,
tetapi ukurannya sangat bervariasi.Ini adalah spesies tidak berwarna, tanpa pigmentasi di
korteks sel. Tubuh organisme ditutupi dengan 40-80 baris silia memanjang, dan daerah mulut
dikelilingi oleh barisan spiral panjang struktur silia khusus yang disebut membranlles yang
terutama digunakan untuk menyikat mangsa ke dalam mulut sel (sitostoma). Sitoplasmanya
transparan, dan tidak mengandung alga simbiosis (zoochlorellae).
8.Didinium
Taksonomi : Eukaryota
Domain. : Ciliophora
Phylum. : Litostomatea
Class. : Haptorida
Ordo. : Didiniida
Family. : Didinium
Genus.
Deskripsi
Morfologi
Anggota genre Didinium Mereka adalah organisme uniseluler yang memiliki berbagai
bentuk: laras, bulat atau oval. Tubuh sel dikelilingi oleh dua pita yang dikenal sebagai
pektinel, yang tidak lebih dari barisan silia. Ini memiliki fungsi untuk mempromosikan
perpindahan organisme di dalam air.
Di bagian anterior ada tonjolan berbentuk kerucut, di mana pembukaan cystosome, atau
pembukaan oral, terletak. Penting untuk dicatat bahwa lubang ini tidak permanen, tetapi
hanya muncul ketika tubuh akan menelan makanan. Ini memiliki kapasitas untuk berkembang
dalam dimensi besar.
Ciri-ciri
Mereka adalah organisme yang hidup bebas, yaitu, mereka tidak perlu menjalin hubungan
simbiosis atau komensalisme dengan makhluk hidup lainnya. Mereka tidak parasit atau
bertanggung jawab atas semua jenis patologi pada mamalia besar atau manusia.
Organisme dari genus ini ditandai oleh mobilitasnya yang cepat dalam medium berair, berkat
aksi dari banyak silia pita yang mereka miliki di sekitar tubuh.
Habitat
Sebagian besar anggota genus ini ditemukan secara bebas di badan air tawar dan payau.
Namun, sampai sekarang masih mungkin untuk menemukan tiga spesies di habitat laut.
DAFTAR PUSTAKA
Audesirk, T., Audesirk, G. dan Byers, B., Biologi: kehidupan di Bumi. Edisi ke-9.
Anonim ,2000, Borrelia burgdorferi periplasmic flagella have both skeletal and
Aryulina, Diah dkk. 2004. Biologi I. Jakarta: Erlangga.
Adhinata, dkk. (2016). Identification of Parasite Pasmodium SP. On Thin Blood Smears
With Rule-Based Method: Jurnal Itsmart, 5(1), 16-24
Brook, itzhak. (2008). Comparative pathogenomics of Clostridium tetani: Expert review of
anti-infective therapy, 6 (3), 327-336
Downloaded from https://journals.asm.org/journal/jb on 25 March 2022 by 114.122.11.61.
Hendraningsih, Listriari. (2006). Daya Hidup Bakteri Selulolitik Asal Probiolitik Pada
Media Pembawa Pollard: Jurnal Gamma, 11 (1), 55-62
Ntaikou, dkk. (2008). Hydrogen production from sugars and sweet sorghum biomass using
Ruminococcus albus: International Journal of Hydrogen Energy, 33 (4), 1153-1163
Smith, dkk. (1973). Factors Affecting Cellulolysis by Ruminococcus albus: Journal of
Bacteriology, 114 (2), 729-737
Fraga, dkk. (2015). Arguments against the proposal 2302 by John & al. To reject the name
Gonyaulax: Jurnal Taxon, 63(4), 634-639
Hindersah R. dan T. Simarmata. 2004. Potensi rizobakteri Azotobacter dalam meningkatkan
kesehatan tanah. J. Nature Indonesia.
J Clin Pathol: first published as 10.1136/jcp.56.3.182 on 1 March 2003. Downloaded from on March
25, 2022 by guest. Protected by copyright. http://jcp.bmj.com
JOURNAL OF BACTERIOLOGY Vol. 88, No. 2, p. 425-432 Augu8t, 1964 Copyright @ 1964
American Society for Microbiology Printed in U.S.A.
Jawetz, 1996, Mikrobiologi Kedokteran , Edisi 20, 320-322, EGC, Jakarta
"KAJIAN EFEKTIFITAS MIKROBA AZOTOBACTER SP. SEBAGAI PEMACU
PERTUMBUHAN TANAMAN KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) | Rahmi | JURNAL
GALUNG TROPIKA" https://jurnalpertanianumpar.com/index.php/jgt/article/view/77
Legat, dkk. (2010). Identification of polyhydroxyalkanoates in Halococcus and other
haloarchaeal species: Applied Microbiology and Biotechnology, 87 (3), 1119-1127
Denner, dkk. (1994). Halococcus salifodinae sp. nov., an archaeal isolate from an Austrian
salt mine: International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology, 44 (4), 774-
780
Mercenier, Annick. (1990). Molecular genetics of Streptococcus thermophilus: FEMS
microbiology reviews, 7 (1-2), 61-77
Tomar, dkk. (2010). Streptococcus thermophilus strains: Multifunctional lactic acid
bacteria: International Dairy Journal 20 (3), 133-141
Maharani, Hayyu. (2016). Identifikasi Trypanosoma evansi Pada Sapi Bali (Bossondaicus)
Berdasarkan Morfometri Dan Polymerase Chain Reaction: Jurnal Adln, 6(1), 12-23
Susanti, dkk. (2018). Kondisi Kualitas Air Waduk Jatibarang Ditinjau Dari Aspek
Saprobitas Perairan: Journal Of Maquares, 7(1), 121-129
Das, dkk. (2005). Production of antibacterials from the freshwater alga Euglena viridis
(Ehren): World Journal of Microbiology and Biotechnology, 21 (1), 45-50
http://repository.unimus.ac.id/2813/6/BAB%20II.pdf
Abirami R G and Kowsalya S. 2011. Nutrient and nutraceutical potentials of seaweed biomass Ulva
lactuca and Kappaphycus alvarezii. Journal of Agricultural Science and Technology 5(1): 1939–1250.
Jurnal : Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal Vol. 5 No.1 pp. 65-69
http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/1862/2/L11116505_skripsi%201-2.pdf
Buku : Rusyana, Adun.2011.Zoologi Invertebrata.Bandung:Alfabeta.
Arrontes, J. 2002. Mechanisms of range expansion in the intertidal brown alga Fucus serratus
in northern Spain. Mar. Biol. 141: 1059–1067.
Schoch CL, et al. NCBI Taxonomy: a comprehensive update on curation, resources and tools.
Database (Oxford). 2020: baaa062. PubMed: 32761142 PMC: PMC7408187.
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/196307011988031-
SAEFUDIN/Domain_Archaea.pdf
https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Methanosarcinales
https://www.degruyter.com/document/doi/10.1515/bot-2013-0087/html
http://eprints.umm.ac.id/45344/3/jiptummpp-gdl-riandydarm-46764-3-babii.pdf
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?id=309800
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/11319/p.224%20-
%20231.pdf?sequence=1&isAllowed=yhttp://eprints.undip.ac.id/43698/3/ADDY_SAPUTR
O_G2A009188_BAB_2_KTI.pdf
http://repository.uinsu.ac.id/9138/1/MODUL%20AJAR%20TAKSONOMI%20INVERTEB
RATA.pdf
Jawetz, 1996, Mikrobiologi Kedokteran , Edisi 20, 320-322, EGC, Jakarta
motility functions, http://www.pnas.org/cgi/content/full/200221797v1,
https://www.melekperikanan.com/2020/06/klasifikasi-morfologi-habitat-ceratium.html?m=1
http://mikrobiologi.edublogs.org/files/2009/03/02-penggolongan-mikroba.pdf.
https://id.thpanorama.com/articles/biologa/didinium-taxonoma-morfologa-caractersticas-
nutricin-respiracin.html
https://www.microbiologyresearch.org/content/journal/ijsem/10.1099/ijsem.0.003041?crawle
r=true&mimetype=application/pdf