AQSAMUL QUR’AN
Muflih Urfi 1
2Jurusan Manajemen Pendidikan Islam – Institut PTIQ Jakarta
(muflih.urfi @gmail.com)
Abstrak
Hakikat qasam didefinisikan melalui penjelasan makna semantik lafal dan rahasia
kata, yakni perbandingannya dengan kata al-half yang mengandung makna
pelanggaran sumpah, sehingga terdapat perbedaan antara sumpah yang
diungkapkan dengan kata qasam dan sumpah yang diungkapkan dengan kata al-half.
Adapun qasam secara terminologi di samping mengandung makna penegasan
(taukid), juga bermakna pengalihan perhatian (lafitah) dari sesuatu yang dapat
dirasakan (hissi) kepada sesuatu yang abstrak.
Keyword: Ilmu, Qosam, Al-Qur’an
Abstract
The truth of qasam is defined through the explanation of the semantic meaning of the
pronunciation and the secret of the word, namely the comparison with the word al-
half containing the meaning of violation of the oath, so that there is a difference
between the oath expressed by the word qasam and the oath expressed by the word
al-half. There is no doubt that in order for Islam to survive, it needs a keeper and
guardian and individuals to deliver and express the teachings and guidelines of
religion for the people, and carry them out.
Keywords: Science, Qosam, Al-Qur’an
1. Pendahuluan
Banyak di antara cendekiawan muslim maupun non-muslim yang berusaha
menyingkap aspek-aspek apa saja yang membuat al-Qur’an mukjizat. Kebanyakan
dari mereka menilai bahwa pada dasarnya kemukjizatan al-Qur’an terdiri dari tiga
aspek pokok; bahasa, berita gaib, dan ilmu pengetahuan.1 Di antara ketiga aspek
tersebut, aspek kebahasaan merupakan aspek yang paling utama karena dianggap
memiliki nilai sastra yang tak tertandingi. Para pakar sepakat menyatakan bahwa sisi
1 M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Quran; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan
Pemberitaan Ghaib (Cet. II; Bandung: Mizan, 1997), h. 119
1
keindahan bahasa dan susunan kata ayat-ayat al-Qur’an sangat memesona, dan inilah
yang ditantangkan al-Qur’an kepada yang meragukan sumbernya. Pada masa
turunnya al-Qur’an sisi kebahasaan itulah yang dirasakan oleh masyarakat Islam
pertama. Tetapi, dari masa ke masa rasa dan pengetahuan bahasa Arab tereduksi
sehingga sisi itu tidak lagi memiliki kesan yang besar, walau oleh orang Arab sendiri.
Namun, seseorang yang tidak mampu mengetahui keistimewaan sesuatu dapat
membenarkan adanya keistimewaan itu melalui kesaksian para pakar yang
mengetahuinya.2
Salah satu aspek kebahasaan yang menarik untuk dikaji dari al-Qur’an adalah
ayat-ayat tentang sumpah atau yang lebih dikenal dengan istilahaqsam al-Qur’an.
Karena al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan berbahasa Arab,
maka kajian aqsam al-Qur’an pun tidak terlepas dari tradisi bangsa Arab pada waktu
itu.
Sumpah atau qasam merupakan kebiasaan bangsa Arab dalam berkomunikasi
untuk meyakinkan lawan bicaranya.3 Dalam diri mereka telah terbangun keyakinan
bahwa ada konsekuensi dari melanggar sumpah dan janji. Bangsa Arab merupakan
bangsa yang menjunjung tinggi ikrar sumpah demi menjaga kehormatan. Bagi
mereka yang melanggar sumpah atau janji, mereka akan dipandang tercela dan akan
tertimpa kesialan.4
Secara historis, aqsam merupakan salah satu gaya bahasa yang paling tua.5
Bahkan sumpah sebagai salah satu bentuk komunikasi telah dipakai sebelum manusia
pertama hidup di bumi, yaitu ketika terjadi percakapan antara Allah swt. dengan iblis
sewaktu Nabi Adam diciptakan. (QS Sad/38: 71-85). Allah seringkali menyertakan
sumpah pada berita-berita Nya dalam al-Qur’an.6 Hal ini membuktikan bahwa Ia
sangat menghargai audiens-Nya agar mereka meyakini apa yang ada dalam al-Qur’an.
Padahal Allah sesungguhnya tidak membutuhkan sumpah dalam segala firman-Nya.
Lagipula jika ia seorang mukmin, tentu ia akan meyakini segala informasi dalam al-
Qur’an, sebaliknya jika ia kafir, maka apa pula faedah dari sumpah itu, ia akan tetap
2 Issa J. Boullata, I‘jaz al-Qur’an al-Karim ‘Abr al-Tarikh, terj. Bachrum B., Taufik A. D., dan Haris
Abd. Hakim, Al-Qur’an yang Menakjubkan (Jakarta: Lentera Hati, 2008), h. 6.
3 Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif (Yogyakarta: Gama Media, 2003), h. 207.
4 Abdullah ibn Salim al-Batti, ‘Asr ibn al-Qayyim al-Jawziyyah wa ma Lahiqaha min ‘Amal al-Tibyan
fi Aiman al-Qur’an (Makkah Mukarramah: Dar ‘Alam al-Fawaid, 1429 H), h. 11.
5 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 203.
6 Perlu diketahui bahwa term yang digunakan Allah dalam bersumpah adalah dengan lafal
aqsama tidak dengan halafa, karena keduanya memiliki konotasi yang berbeda. Kata halafa disebutkan
dalam al-Qur’an sebanyak 13 kali yang semuanya mengandung arti pelanggaran sumpah. ‘A'isyah
‘Abd al-Rahman, al-Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim, Juz I (Cet. VII; Kairo: Dar al-Ma‘arif, t.th.), h.
166-167. Lihat juga ‘A'isyah ‘Abd al- Rahman, al-I‘jaz al-Bayani li al-Qur’an wa Masail ibn al-
Azraq.(Kairo:Daral-Ma‘arif,t.th), h. 126.
2
kufur terhadap hidayah dan informasi itu.7 Inilah manfaat dari kajian al-aqsam, yakni
untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dari penggunaan sumpah dalam al-
Qur’an. Bahkan Imam al-Suyuti (1445-1505 M) menjelaskan bahwa tujuan
diungkapkannya sumpah dalam mengiringi suatu berita adalah untuk mempertegas
bahwa berita itu benar.8 Demikian juga al-Qur’an menjawab keraguan lawan bicara
dengan sumpah itu.
Qasam banyak ditemukan dalam redaksi ayat-ayat al-Qur’an sehingga perlu
pengkajian khusus terhadapnya. Meskipun sudah banyak ulama yang melakukan hal
itu, tetapi menurut ‘A’isyah ‘Abd al-Rahman (1913-1998 M) al-Qur’an adalah kitab
“al-‘arabiyyah al-kubra”,9 yaitu kitab karya sastra terbesar (terbaik), yang nilai
kemukjizatannya tidak akan pernah habis dimakan zaman. Setiap generasi akan
mengungkap misteri-misteri yang ada di dalam al-Qur’an hingga akhir masa.10 Oleh
karena itu, penulis mencoba menulis kembali mengenai aqsam al-Qur’an, macam-
macam qasam, dan unsur-unsur qasam setelah melakukan kajian ulang dari beberapa
buku dan juga jurnal.
2. Metode Penelitian
Adapun teknik pengumpulan data ini adalah dengan menggunakan metode
penelitian pustaka (library research). Teknik kepustakaan adalah penelitian
kepustakaan yang dilaksanakan dengan cara membaca, menelaah dan mencatat
berbagai literatur atau bahan bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan, kemudian
disaring dan dituangkan dalam kerangka pemikiran secara teoritis. Teknik ini
dilakukan guna memperkuat fakta untuk membandingkan perbedaan atau
persamaan antara teori dan praktek yang sedang penulis teliti.
3. Hasil Dan Pembahasan
3.1 Definisi Aqsamul Qur’an
Secara etimologi aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam.
Kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu: halaf dan yamin
7 Abdullah ibn Salim al-Batti, ‘Asr ibn al-Qayyim al-Jawziyyah wa ma Lahiqaha min ‘Amal al-Tibyan
fi Aiman al-Qur’an, (MakkahMukarramah: Dar‘Alamal- Fawaid,1429H) h. 11. Lihat juga Nashruddin
Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005), h. 204.
8 Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz IV (Cet. I; Kairo: Maktabah al-Safa, 2006),
h. 36.
9 A'isyah ‘Abd al-Rahman, al-Tafsir al-Bayani, h. 19.
10 A'isyah ‘Abd al-Rahman, al-I‘jaz, h. 17
3
yang berarti sumpah. Sumpah dinamakan juga dengan yamin karena kebiasaan orang
Arab ketika bersumpah saling memegang tangan kanannya masing-masing.11
Sedangkan secara terminologi aqsamul Qur’an adalah ilmu yang
membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam al-Qur’an. Kemudian
yang dimaksud sumpah sendiri adalah sesuatu yang digunakan untuk menguatkan
pembicaraan. Menurut al-Jurjani seperti yang dikutip oleh Hasan Mansur Nasution
sumpah adalah sesuatu yang dikemukakan untuk menguatkan salah satu dari dua
berita dengan menyebutkan nama Allah atau sifatnya.12 Lain halnya dengan Miftah
Faridl dan Agus Syihabudin, menurut mereka sumpah adalah salah satu
alat taukid yang cukup efektif didalam kelaziman perhubungan atau komunikasi.13
Jika demikian, maka yang dimaksud dengan aqsamul Qur’an adalah salah satu
dari ilmu-ilmu tentang al-Qur’an yang mengkaji tentang arti, maksud, hikmah, dan
rahasia sumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam al-Qur’an. Selain pengertian
diatas, qasam dapat pula diartikan dengan gaya bahasa Al-Qur’an menegaskan atau
mengukuhkan suatu pesan atau pernyataan dengan menyebut nama Allah atau
ciptaan-Nya sebagai muqsam bih. Dalam Al-Qur’an, ungkapan untuk
memaparkan qasam adakalanya dengan memakai kata aqsama, dan kadang-kadang
dengan menggunakan kata halafa atau yamana.
Contoh penggunaan kedua kata tadi antara lain sebagai berikut:
(١٨ )يَ ۡو َم َي ۡب َعثُ ُه ُم ٱَّهللُ َج ِمي ٗعا َفيَ ۡح ِلفُو َن لَهُۥ َك َما يَ ۡح ِلفُو َن َل ُك ۡم َو َي ۡح َسبُو َن أَ هن ُه ۡم َع َل ٰى َش ۡي ٍۚء أَ َ ال ِإ هن ُه ۡم ُه ُم ٱۡل ٰ َك ِذبُو َن
Artinya:
“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah) lalu mereka bersumpah
kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan
mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa
Sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (QS. Al-Mujadilah:18)
( ٧٦) م هل ۡو تَ ۡعلَ ُمو َن َع ِظي ٌمٞ َو ِإنههُۥ َل َق َس
11 Manna’ Khalil Qathan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj. Mudzakir AS (Bogor: Pustaka Lentera
Antar Nusa, 2010), hal. 413
12 Hasan Mansur Nasution, Rahasia Sumpah Allah, (Bandung: Mizan, 1992), hal. 7
13 Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, Al-Qur’an sumber hukum Islam yang Pertama, (Bandung:
Pustaka, 1410 H), hal. 159
4
Artinya:
“Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui”.(Al-
Waqi’ah: 76)
3.2 Macam-macam Qasam
Bahwa Allah dapat bersumpah secara bebas yang artinya dengan siapapun dan
dengan apapun juga, Dia tak terhalang dengan bersumpah. Akan tetapi manusia
tidak diperkenankan bersumpah kecuali atas nama Allah saja. Dalam hal ini, menurut
Manna’ al-Qhattan sumpah terbagi dalam dua macam, adakalanya Zahir (jelas) dan
adakalanya Mudmar (tidak jelas). Adapun macam qasam tersebut yaitu :14
1. Zhahir, ialah sumpah di dalamnya disebutkan fi’il qasam dan muqsam bih.
Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, sebagaimana pada
umumnya, karena dicukupkan dengan huruf jar berupa ba, wawu, dan ta. Seperti
dalam firman Allah SWT:
( ٢ ) ( َو َ ال أُ ۡق ِس ُم بِٱل هن ۡف ِس ٱلله هوا َم ِة١ )َلا أُ ۡق ِس ُم بِيَ ۡو ِم ٱۡل ِق ٰيَ َم ِة
Artinya:
“Tidak aku bersumpah dengan hari kiamat dan tidak aku bersumpah dengan jiwa yang
banyak mencela” (QS. Al- Qiyamah: 1 - 2)
Dikatakan “la” di dua tempat ini adalah “la” nafi yang berarti tidak, untuk
menafikan sesuatu yang tidak disebutkan yang sesuai dengan konteks sumpah.
Dan takdir (perkiraan arti) nya adalah: “Tidak benar apa yang kamu sangka, bahwa
hisab dan siksa itu tidak ada” Kemudian baru dilanjutkan dengan kalimat
berikutnya: “Aku bersumpah dengan hari kiamat dan dengan nafsu lawwamah,
bahwa kamu kelak akan dibangkitkan”. Dikatakan pula bahwa “la” tersebut
untuk menafikan qasam, seakan - akan Ia mengatakan: “Aku tidak bersumpah
kepadamu dengan hari itu dan nafsu itu. Tetapi aku bertanya kepadanya tanpa
sumpah, apakah kamu mengira bahwa kami tidak akan mengunpulkan tulang
belulangmu setelah hancur berantakan karena kematian.?”
Sungguh masalahnya teramat jelas, sehingga tidak lagi memerlukan
sumpah”, tetapi dikatakan pula, “la” tersebut zaidah (tambahan). Pernyataan
jawab qasam dalam ayat di atas tidak disebutkan tetapi telah ditunjukkan oleh
14 Hasan Mansur Nasution, Rahasia sumpah Allah dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Khazanah
baru, 2002), hal. 420.
5
perkataan yang sesudahnya. Takdirnya adalah: “Sungguh kamu akan
dibangkitkan dan akan dihisab.”
2. Mudhmar ialah yang di dalamnya tidak dijelaskan fi’il qasam dan tidak pula muqsam
bih, tetapi ia ditunjukkan oleh “lam taukid” yang masuk ke dalam jawab qasam.
Seperti firman Allah:
َْلتُۡبلَ ُو هن ِف اي أَ ۡم ٰ َو ِل ُك ۡم َوأَنفُ ِس ُك ۡم َو َلتَ ۡس َمعُ هن ِم َن ٱله ِذي َن أُوتُو ْا ٱۡل ِك ٰتَ َب ِمن قَ ۡب ِل ُك ۡم َو ِم َن ٱ هل ِذي َن أَ ۡش َر ُك اواْ أَ ٗذى َكثِي ٗر ٍۚا َوإِن تَ ۡص ِب ُرواْ َوتَتهقُوا
( ١٨٦ )فَإِ هن ٰ َذ ِل َك ِم ۡن َع ۡز ِم ٱ ۡۡلُ ُمو ِر
Artinya:
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga)
kamusungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelumkamu
dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyakyang
menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk urusan yang patut diutamakan.”(QS. Ali Imran: 186)
3.3 Unsur-unsur Qasam
Lahirnya suatu sumpah mengharuskan adanya unsur - unsur yang
mendukungnya, yaitu hal - hal yang dengannya terbentuk sumpah Allah. Tanpa
adanya unsur - unsur dimaksud maka tidak dapat disebut dengan sumpah
Allah. Menurut Ahmad Syadzali sedikitnya terdapat tiga unsur yang harus dipenuhi
jika dikehendaki suatu ucapan menjadi sebuah sumpah,
yaitu: fi’il yang dimuta’addikan atau ditransitifkan dengan “ba”, muqsam
bih dan muqsam ‘alaih.15
1. Fi’il qasam yang berbentuk muta’addi dengan diawali huruf ba’
(٣٨ )َوأَ ۡق َس ُمو ْا بِٱَّهل ِل َج ۡه َد أَۡي ٰ َم ِن ِه ۡم َل يَ ۡبعَ ُث ٱَّهللُ َمن يَ ُمو ٍۚ ُت َبلَ ٰى َو ۡع ًدا َعلَ ۡي ِه َح ٗقا َو ٰلَ ِك هن أَ ۡكثَ َر ٱل هنا ِس َل يَ ۡع َل ُمو َن
Artinya:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-
sungguh:“Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (tidak demikian),
15 Ahmad Syadzali, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal. 45
6
bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah,
akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. An-Nahl ayat 38)
Namun kadang kala dalam satu ayat dihapus fi’il qasam dan langsung
disebutkan dengan wawu ( )وpada isim zahir. Seperti firman Allah yang berbunyi:
(١ )َوٱله ۡي ِل ِإذَا يَ ۡغ َش ٰى
Artinya:
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al-Lail: 1).16
Sedangkan khusus lafadz al-jalalah yang digunakan untuk pengganti fi’il
qasam adalah huruf ta seperti dalam firman Allah SWT:
(٥٧ )َوتَٱَّهل ِل َۡلَ ِكي َد هن أَ ۡص َٰن َم ُكم بَ ۡع َد أَن تُ َو ّلُو ْا ُم ۡد ِب ِري َن
Artinya:
“Demi Allah, Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu
sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya: 57)
2. Muqsam bih
Muqsam bih ialah lafadz yang terletak sesudah adat qasam yang dijadikan
sebagai sandaran dalam bersumpah yang juga disebut sebagai syarat. Atau sesutu
yang dijadikan sumpah sebagai penguat pembicaraan. sesuatu yang dijadikan
sumpah oleh Allah dalam al-Qur’an ada kalanya dengan memakai nama yang Agung
(Allah), dan ada kalanya dengan menggunakan nama-nama ciptaanNya.
Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri. Yang demikian hanya terdapat
dalam tujuh tempat yaitu: 17
a. QS. Saba ayat 3
َوقَا َل ٱ هل ِذي َن َكفَ ُرواْ َل تَ ۡأتِينَا ٱل هسا َع ُۖةُ قُ ۡل َب َل ٰى َو َر ِبي َلتَ ۡأتِيَ هن ُك ۡم ٰ َع ِل ِم ٱۡل َغ ۡي ُۖ ِب َل يَ ۡع ُز ُب َع ۡنهُ ِم ۡثقَا ُل َذ هر ٖة فِي ٱل هس ٰ َم ٰ َو ِت َو َل ِفي
(٣ )ٱ ۡۡلَ ۡر ِض َو َلا أَ ۡص َغ ُر ِمن ٰذَ ِل َك َو َ ال أَ ۡكبَ ُر ِإ هل ِفي ِك ٰتَ ٖب ُّمبِي ٖن
Artinya:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada
kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib,
sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi
daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak
16 Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 199.
17 Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an II, (Solo: Pustaka Setia, 1997), hal. 46 - 42
7
ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam
Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Saba: 3)
b. QS. Maryam ayat 68
(٦٨) فَ َو َر ِب َك لَ َن ۡح ُش َرنه ُه ۡم َوٱل هش َٰي ِطي َن ثُ هم َلنُ ۡح ِض َر هن ُه ۡم َح ۡو َل َج َه هن َم ِج ِث ٗيا
Artinya:
Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan,
kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.’’ (QS.
Maryam: 68)
c. QS. Yunus ayat 53
(٥٣ )ُۖق َو َماا أَنتُم بِ ُم ۡع ِج ِزي َنٞ َو َي ۡستَ ۢنبِونَ َك أَ َح ٌّق هُ َُۖو قُ ۡل إِي َو َربِ اي إِنههُۥ َل َح
Artinya:
Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?
Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-
kali tidak bisa luput (daripadanya)" (QS. Yunus: 53)
d. QS. Al-Hijr ayat 92
( ٩٢ )َف َو َر ِب َك َلنَ ۡسلَ هن ُه ۡم أَ ۡج َم ِعي َن
Artinya:
’’Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua’’ (QS. Al-Hijr: 92)
e. QS. At-Taghabun ayat 7
(٧ )رٞ َز َع َم ٱ هل ِذي َن َكفَ ُر او ْا أَن لهن يُ ۡب َعثُو ٍۚاْ قُ ۡل َب َل ٰى َو َر ِبي لَتُۡب َعثُ هن ثُ هم َلتُ َنبه ُؤ هن ِب َما َع ِمۡلتُ ٍۡۚم َو ٰذَ ِل َك َعلَى ٱَّهل ِل َي ِسي
Artinya:
’’Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan
dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan
dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’’ (QS. At-Taghabun: 7)
f. QS. An-Nisa ayat 65
8
ىّ(ٰت ُيَ ِّك ُموَك ِفّي َما َش َجَر بَۡينَ ُه ۡم ُثى َل َِّي ُدواْ ِِّٓف أَنُف ِّسِّه ۡم َحَرجٗا ِّّمىا قَ َضۡي َت٦ََح٥فََويَُلَسِلَّوَُرمِبّواَْكتَ َۡسلِلّييُ ۡمؤِّمنُٗاوَ)ن
Artinya:
’’Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’’ (QS. An-Nisa: 65).
g. QS. Al-Ma’arij ayat 40
(٤٠) فَ ََلا أُ ۡق ِس ُم بِ َر ِب ٱۡل َم ٰ َش ِر ِق َوٱ ۡل َم ٰ َغ ِر ِب ِإ هنا لَ ٰقَ ِد ُرو َن
Artinya:
’’Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya
Kami benar-benar Maha Kuasa.’’ (QS. Al-Ma’arij: 40)
Selain Allah bersumpah dengan Dzat Nya sendiri, Allah juga
bersumpah dengan tanda-tanda keagungan-Nya dan kebesaran ciptaan-Nya.
Bentuknya adalah:
a) Dengan kehidupan Rasulullah, terdapat dalam surat Al-Hijr ayat 72, yaitu:
(٧٢ )لَ َع ۡم ُر َك ِإنه ُه ۡم لَ ِفي َس ۡك َرتِ ِه ۡم يَ ۡع َم ُهو َن
Artinya:
“Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang ambing didalam
kemabukan (kesesatan)” (QS. Al-Hijr: 72)
b) Dengan hari qiamat, terdapat dalam surrah Al-Qiyamah ayat 1, yaitu:
(١ )َلا أُ ۡق ِس ُم بِ َي ۡو ِم ٱۡل ِق َٰي َم ِة
Artinya:
9
“Aku bersumpah demi hari kiamat.” (QS. Al-Qiyamah: 1)
c) Dengan kalam-Nya (al-Qur’an), terdapat dalam surat Yasin ayat 1-3, yaitu:
(٣ ) ِإنه َك لَ ِم َن ٱۡل ُم ۡر َس ِلي َن٢ َوٱۡلقُ ۡر َءا ِن ٱۡل َح ِكي ِم١ ي اس
Artinya:
“Yaa siin, Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, (yang berada) di jalan yang lurus”
(QS. Yasin: 1-3)
d) Dengan makhluk angkasa (seperti bintang, matahari, bulan, fajar, malaikat,
dan lainnya), terdapat dalam surat An-Najm: 1-2, As-Syams:1-2, Al-Fajr:1-5,
dan An-Nazi’at:1-6. Contoh yang terdapat dalam surat As-Syams:
(١ )َوٱل هش ۡم ِس َو ُض َح ٰى َها
Artinya:
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari dan bulan apabila mengiringinya” (QS.
Asy-Syams: 1)
e) Dengan makhluk bumi (seperti buah thin, zaitun, negara yang aman, dan
lainnya) contoh yang terdapat dalam surat At-Tin: 1-3
(٣ ) َو ٰ َه َذا ٱۡلبَلَ ِد ٱ ۡۡلَ ِمي ِن٢ َو ُطو ِر ِسينِي َن١ َوٱلتِي ِن َوٱل هز ۡيتُو ِن
Artinya:
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun dan demi bukit Sinai dan demi kota (Mekah) ini
yang aman” (QS. At-Tin: 1-3)
f) Dengan masa (seperti waktu dhuha, asar, malam, dan lainnya), contoh terdapat
dalam surat Ad-Dhuha:1-3, dan Al-Asr: 1
(١ )َوٱۡل َع ۡص ِر
Artinya:
‘’Demi masa’’. (QS. Al-‘Asr)
10
Umat Islam dilarang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah.
Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa yang bersumpah dengan
menyebut nama selain Allah, maka dia telah kafir atau musyrik.” (HR. Ibnu Hibban
dan Tirmidzi. Hadits shahih).
3. Muqsam ‘alaih
Muqsam ‘alaih kadang juga disebut jawab qasam. Muqsam ‘alaih merupakan
suatu pernyataan yang datang mengiringi qasam, berfungsi sebagai jawaban dari
qasam. Posisi muqsam ‘alaih terkadang bisa menjadi taukid, sebagai jawaban qasam.
Karena yang dikehendaki dengan qasam adalah untuk mentaukidimuqsam ‘alaih
dan mentahkikannya.18
Jawab qasam itu pada umumnya disebutkan atau dizahirkan, misalnya firman Allah:
(٦) عٞ ِ َو ِإ هن ٱل ِدي َن لَ ٰ َوق٥ قٞ ِإ هن َما تُو َع ُدو َن َل َصا ِد٤ فَٱۡل ُمقَ ِس ٰ َم ِت أَ ۡم ًرا٣ فَٱۡل ٰ َج ِر ٰيَ ِت يُ ۡس ٗرا٢ فَٱۡل ٰ َح ِم ٰلَ ِت ِو ۡق ٗرا١ َوٱل ٰ هذ ِر ٰيَ ِت ذَ ۡر ٗوا
Artinya:
“Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat dan awan yang mengandung hujan dan
kapal-kapal yang berlayar dengan mudah dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi
urusan Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar dan Sesungguhnya (hari)
pembalasan pasti terjadi.” (QS. Adz-Dzariyat: 1-6)
Namun terkadang ada juga yang dihilangkan, sebagaimana jawab “lau” (jika)
sering dibuang, seperti firman Allah:
(٥ )َك هَل لَ ۡو تَ ۡع َل ُمو َن ِعۡل َم ٱۡليَ ِقي ِن
Artinya:
”Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin”. (QS. At-
Takasur: 5)
Penghilangan seperti ini merupakan bentuk/uslub penghilangan yang paling
baik, sebab menunjukkan kebesaran dan keagungan-Nya. Dan takdir ayat ini adalah:
“Seandainya kamu mengetahui apa yang akan kamu hadapi secara yakin, tentulah
kamu akan melakukan kebaikan yang tidak terlukiskan banyaknya”.19
18 Manna’ Khalil Qathan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj…, hal. 418.
19 Manna’ Khalil Qathan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj…, hal. 419.
11
Alasan lain muqsam ‘alaih atau jawab qasam dihilangkan / dibuang karena sebagai
berikut:20
Pertama; di dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih. Contoh
jenis ini dapat dilihat misalnya dalam ayat yang berbunyi:
(٢ ) َو َلا أُ ۡق ِس ُم ِبٱل هن ۡف ِس ٱل هل هوا َم ِة١ َ ال أُ ۡق ِس ُم بِيَ ۡو ِم ٱۡل ِق َٰي َم ِة
Artinya:
“Tidak aku bersumpah dengan hari kiamat dan tidak aku bersumpah dengan jiwa yang banyak
mencela” (QS. Al- Qiyamah: 1 - 2)
Kedua; qasam tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi
ayat dalam surat yang terdapat dalam al-Qur’an. Contoh jenis ini dapat dilihat
misalnya dalam ayat yang berbunyi:
(٢) َوٱ هل ۡي ِل ِإذَا َس َج ٰى١ َوٱل ُّض َح ٰى
Artinya:
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).” (QS.
Ad-Dhuha: 1-2)
Untuk fi’il madly yang muttasharif yang tidak didahului ma’mul, maka jawab
qasamnya sering kali menggunakan ’’lam’’ atau ‘’qad’’. Contohnya:
(١٠) َوقَ ۡد َخا َب َمن َد هس ٰى َها
Artinya:
“Dan sessungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya”. (QS. As-Syams: 10)
20 Hasan Mansur Nasution, Rahasia sumpah Allah dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Khazanah
baru, 2002), hal. 14.
12
3.4 Hikmah Qasam (Sumpah ) di dalam al-Qur’an
Sebelum munguraikan hikmah sumpah dalam al-Qur’an perlu dicatat di sini,
bahwa Allah dalam bersumpah tak pernah memakai lafadz , حلفmelainkan
senantiasa memakai lafadz atau kata kerja اقسمatau cukup dengan huruf (adat) Qasam
tampa menyebut lafadz اقسم.
Jika diamati lebih jauh, ternyata lafadz حلفberbeda konotasinya dari اقسمsebab
lafadz حلفtidak menjamin bahwa pelaku sumpah (muqsim) berada diatas
kebenaran; boleh jadi ia berbohong seperti diisyaratkan Allah dalam ayat 56 dari al-
Taubah:
Artinya: Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan nama Allah bahwa
sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang
sangat takut kepadamu).
Contoh lain seperti terdapat pada ayat 89 dari al-Maidah: Artinya:
(Itulah kafarat (tebusan) sumpahmu apabila kamu bersumpah [kemudian kamu langgar]).
Tampak dengan jelas dalam kedua ayat itu lafadz حلفdipakai untuk
mengambarkan suatu sumpah yang boleh jadi pelakunya (muqsim) berbohong
seperti pada ayat pertama; atau sumpah tersebut dilanggarnya seperti pada ayat
kedua. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa beersumpah dengan ح لفbelum
tentu pelakunya (muqsim) berada diatas kebenaran; tak mustahil dia berpura-pura
agar orang lain percaya maka dia bersumpah.
Di sinilah terletak antara lain perbedaan konotasi dua lafadz sumpah itu, tidak
salah bila dikatakan bahwa tidak digunakannya lafadz حلفitu untuk bersumpah oleh
Allah dalam al-Qur’an menjadi salah satu indikasi bahwa semua sumpah yang
terdapat dalam kitab suci itu adalah benar, tidak berpura-pura apalagi berbohong;
Maha Suci Allah dari semua itu.
Dari uraian-uraian yang dikemukakan di bagian terdahulu, tampak ada dua
hal yang menjadikan Allah untuk bersumpah, yaitu diri-Nya sendiri dan Makhluk-
Nya. Apabila Allah bersumpah dengan diri-Nya, maka itu adalah untuk
menunjukkan keagungan dan kekuasaan-Nya sementara jika Dia bersumpah dengan
sebagian makhluk-Nya, tulis Ibnu Qayyim, itu menunjukkan bahwa makhluk
tersebut merupakan salah satu di antara ayat-ayat (tanda) kebesaran-Nya. Apa yang
dinyatakan Ibn al-Qayyim itu ada benarnya karena jika diamati benda-benda atau
sesuatu yang dijadikan media untuk bersumpah oleh Allah adalah yang mempunyai
peranan yang amat besar dalam kehidupan. Dengan demikian, terasa sekali bahwa
Allah Maha Besar dan Maha Tahu segala sesuatu serta Maha Kuasa.
13
4. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: Hakikat qasam didefinisikan
melalui penjelasan makna semantik lafal dan rahasia kata, yakni perbandingannya
dengan kata al-half yang mengandung makna pelanggaran sumpah, sehingga
terdapat perbedaan antara sumpah yang diungkapkan dengan kata qasam dan
sumpah yang diungkapkan dengan kata al-half. Adapun qasam secara terminologi di
samping mengandung makna penegasan (taukid), juga bermakna pengalihan
perhatian (lafitah) dari sesuatu yang dapat dirasakan (hissi) kepada sesuatu yang
abstrak.
Qasam memiliki 2 bentuk, yaitu: (1) Qasam yang didahului oleh huruf wau al-
qasam. Penggunaan wau al-qasam yang berada pada awal surah atau kalimat berbeda
dengan bentuk penggunaannya ketika berada pada tengah surah atau kalimat. Jika
wau qasam berada pada awal surah atau kalimat, maka qasam dalam hal ini telah
berubah makna kebahasaannya yang asli, yaitu taukid (mempertegas pembicaraan)
menjadi lafitah (pengalihan pembicaraan). (2) Qasam yang didahului oleh la al-
nafiyah. La yang ada pada qasam la uqsimu semuanya disandarkan kepada Allah
swt. sehingga harus bermakna haqiqi, yaitu untuk mempertegas nafy. La dalam hal
ini menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan sumpah dengan objek-objek yang
disebutkan-Nya.
Fungsi qasam adalah berfungsi sebagai alat retorika bayani yang
menganalogikan antara muqsam bih yang berupa hal-hal yang dapat dirasakan
dengan jawab al-qasam yang berupa hal-hal yang tidak dirasakan. Ungkapan sumpah
berfungsi sebagai sugesti kepada seseorang untuk tidak meragukan apa yang
disampaikan kepadanya, karena hal tersebut sudah sering disaksikan atau dirasakan.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Shihab M. Quraish, Mukjizat al-Quran; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib (Cet. II; Bandung: Mizan, 1997)
J. Boullata Issa, I‘jaz al-Qur’an al-Karim ‘Abr al-Tarikh, terj. Bachrum B., Taufik A. D.,
dan Haris Hakim Abd., Al-Qur’an yang Menakjubkan (Jakarta: Lentera Hati,
2008)
Hamzah Muchotob, Studi Al-Qur’an Komprehensif (Yogyakarta: Gama Media, 2003)
al-Batti Abdullah ibn Salim, ‘Asr ibn al-Qayyim al-Jawziyyah wa ma Lahiqaha min ‘Amal
al-Tibyan fi Aiman al-Qur’an (Makkah Mukarramah: Dar ‘Alam al-Fawaid, 1429
H)
14
Baidan Nashruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005)
al-Suyuti Jalal al-Din, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz IV (Cet. I; Kairo: Maktabah al-
Safa, 2006)
Abd al-Rahman A'isyah ‘, al-Tafsir al-Bayani
al-Rahman A'isyah ‘Abd, al-I‘jaz
Khalil Qathan Manna’, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj. Mudzakir AS (Bogor: Pustaka
Lentera Antar Nusa, 2010)
Nasution Hasan Mansur, Rahasia Sumpah Allah, (Bandung: Mizan, 1992)
Faridl Miftah dan Syihabudin Agus, Al-Qur’an sumber hukum Islam yang Pertama,
(Bandung: Pustaka, 1410 H)
15