The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

menyatakan pandangan islam mengenai hujan dan kejadian hujan menurut sains

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by athirahzamzaidi46, 2021-06-03 11:50:42

kejadian hujan terhadap ayat ayat al quran yang berkaitan dengannya (al quran dan sains)

menyatakan pandangan islam mengenai hujan dan kejadian hujan menurut sains

Keywords: rahmat allah

MPU 23052 - SAINS TEKNOLOGI DAN KEJURUTERAAN ISLAM

SESI : DISEMBER 2020 (DPE2A & DPE2B)
TAJUK :

KEJADIAN HUJAN :SATU KAJIAN TERHADAP AYAT AYAT AL QURAN YANG
BERKAITAN DENGANNYA (ALQURAN & SAINS)

NAMA PENSYARAH
PUAN FARHA BINTI MUHAMMAD

NAMA AHLI KUMPULAN
SITI NUR ATHIRAH BT MOHD ZAMZAIDI 33DPE20F1032

NOR AZZARIKA BT ABDULLAH 33DPE20F1035

NUR HADYANA BT HUSIN 33DPE20F1039

1

2

ISI KANDUNGAN

NO KANDUNGAN M/S
3
I. PENGHARGAAN 4-6
7
II. PENGENALAN 8-29

III. OBJEKTIF

IV. PANDANGAN ISLAM MENGENAI
HUJAN
-MAKNA HUJAN DALAM ISLAM
-PROSES KEJADIAN HUJAN
-JENIS JENIS HUJAN
-KESAN DAN HIKMAH HUJAN

V. KEJADIAN HUJAN MENURUT 30
SAINS

VI. KESIMPULAN 31
VII. RUJUKAN 32

2

3

PENGHARGAAN

Assalamualaikum Bersyukur kehadrat Illahi kerana dengan limpah
kurniaNya dapat juga saya menyiapkan folio saya yang telah diusahakan
selama ini yang bertajuk “kejadian hujan terhadap ayat ayat alquran
yang berkaitan dengannya (al quran dan sains ) ”.

Folio yang ini amat penting buat saya memandangkan perkara ini
merupakan sebahagian daripada kerja khusus subjek mpu 23052 sains
teknologi dan kejuruteraan dalam islam .Ribuan terima kasih saya
ucapkan kepada individu penting yang banyak membantu saya
sepanjang saya menyiapkan projek folio saya ini. Pertama sekali kepada
pensyarah subjek sains teknologi dan kejuruteraan dalam islam, Puan
Farha bt Muhammad kerana beliau telah banyak memberikan
bimbingan dan semangat kepada semua pelajar dan memberikan tunjuk
ajar kepada saya sepanjang saya menyiapkan folio ini. Selain itu, saya
juga sangat menghargai jasa guru subjek saya kerana memberikan
bimbingan, dan nasihat yang amat berguna untuk folio saya serta
membantu saya dari semasa saya susah dan senang. Jasa beliau yang
akan saya kenang ke akhir hayat.

Seterusnya, terima kasih juga kepada ibu bapa saya kerana memberikan
sokongan dan dorongan kepada saya sepanjang folio ini disiapkan.
Terima kasih yang tidak terhingga juga saya ucapkan kerana
memberikan saya bantuan.Tidak lupa juga kepada rakan-rakan
seperjuangan yang sama-sama berhempas pulas dalam
menyempurnakan projek masing-masing. Bantuan kalian dari segi
informasi terkini mengenai projek folio amat saya hargai. Budi kalian
yang sanggup meluangkan masa untuk memberikan saya maklumat
tidak akan saya lupakan. Akhir sekali terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu saya secara langsung atau tidak langsung
sepanjang projek saya dijalankan dan dibentangkan.

Sebelum saya mengundur kata , terimalah serangkap kata
Bak kata pepatah melayu

“Lentur buluh,kerana rebungnya”

3

4

PENGENALAN

Setiap kali tiba musim hujan, masyarakat sering
mempunyai pandangan berbeza-beza mengenainya.
Ada sebahagiannya yang menunjukkan rasa tidak suka
dan setengahnya melihatnya sebagai sebuah rahmat.
Terdapat banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan
tentang hujan, sehingga kita patut merenungkannya
kembali. Beberapa surah yang menjelaskan tentang
hujan aitu surah Al-A’raaf, Al-Baqrah, Al-An’am dan
surah Ibrahim. Dalam surah Al-A’raaf ayat 57 dijelaskan

hujan dipandang sebagai rahmat Allah SWT yang
diberikan kepada kita. Alqur’an menjelaskan,

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa
berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan).

Hingga apabila angin itu telah membawa awan
mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu

Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami
keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan
orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu

mengambil pelajaran.”

Dalam Surah Al Baqarah ayat 22 dijelaskan hujan
merupakan sebab datangnya rezeki kepada kita. “Dialah
Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan

4

5

langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari
langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala
buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,
padahal kamu mengetahui. Manakala dalam Surah Al
An'aam ayat 99, Allah berfirman tentang proses hujan
yang dapat menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan di sekitar kita.
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu
kami tumbuhkan dengan air itu segala macam
tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari
tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami
keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang
banyak, dan dari mayang korma mengurai

tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur,
dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang
serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di
waktu pohonnya berbuah, serta kematangannya.

Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Terakhir, dalam surah Ibrahim ayat 32 ditegaskan
kembali hujan dapat menjadi rezeki buat kita. “Allah-lah

yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia

mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai
buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah
menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu

5

6

berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah
menundukkan bagimu sungai-sungai.''

Masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang
hujan yang patut kita renungkan kembali, sehingga
tidak selalu menganggap hujan sebagai penyebab

terjadinya bencana. Allah Swt menurunkan hujan pasti
mempunyai tujuan tertentu, bahkan boleh menjadi
sebuah peringatan buat kita.

6

7

OBJEKTIF

I.MENYATAKAN MAKNA MAKNA HUJAN DALAM ISLAM BERKAH ATAU
MUSIBAH
Ii.MENYATAKAN PANDANGAN ISLAM MENGENAI HUJAN
III.MENDALAMI PROSES KEJADIAN HUJAN MENURUT ISLAM
IV.MENYENARAIKAN JENIS JENIS HUJAN
V.MENYENARAIKAN KESAN DAN HIKMAH HUJAN KEPADA MANUSIA
VI.MENYATAKAN PROSES KEJADIAN HUJAN MENURUT SAINS

7

8

1.1) 15 MAKNA HUJAN DALAM ISLAM
- )BERKAH ATAU MUSIBAH

Hujan merupakan kejadian alam yang sering kita temui di MALAYSIA
yang beriklim tropis. Seringkali hujan yang datang merupakan hujan
yang ditunggu-tunggu, terutama oleh para petani, yang berbulan-bulan
sebelumnya merasa kesulitan air dan mengalami kekeringan. Namun,
tidak jarang hujan disambut dengan penuh antisipasi akan datangnya
banjir, macet atau bencana alam lain di wilayah-wilayah tertentu.

Dari hal di atas, kita mungkin berpikir bahwa hujan bisa menjadi berkah
dan bisa juga menjadi bencana, tergantung apa yang dibawanya.
Seakan-akan hujan hanyalah fenomena alam biasa yang memiliki sisi
positif dan negatif untuk manusia. Padahal, dalam Islam hujan memiliki
makna dan arti yang sangat spesial. Oleh karena itu, simak terus
pembahasan di bawah mengenai 15 makna hujan dalam Islam:

1)Hujan adalah berkah

Di dalam al Quran terdapat ungkapan bahwa hujan adalah berkah, yaitu
ayat yang berbunyi, “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh
keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan
biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Dari ayat-ayat di atas, kita mengetahui bahwa Allah menurunkan hujan
sebagai rahmatnya sesuai dengan kebutuhan seluruh makhluk-Nya.

2)Allah memenuhi kebutuhan semua makhluk-Nya

Dengan adanya hujan, tumbuh-tumbuhan akan kembali subur,
hewan-hewan bisa mendapat minum yang cukup, dan manusia juga bisa
memenuhi kebutuhan dan melakukan aktivitasnya tanpa terganggu.
Maka, hujan merupakan cara Allah memenuhi kebutuhan makhluk-Nya
untuk melanjutkan hidupnya.

Dalam surat al Anbiya’ ayat 30, Allah berfirman, “Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada
juga beriman?”

8

9

Menurut Al Baghowi, tafsir ayat di atas “Kami menghidupkan segala
sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu
menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab
hidupnya segala sesuatu”.

3)Rahmat Allah selalu cukup dan sesuai menurut
perhitungannya

Hujan merupakan bentuk dari keseimbangan alam yang diciptakan oleh
Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa ada hujan, kuantitas air di bumi tidak
akan mencukupi untuk mendukung kehidupan di dalamnya. Tidak hanya
kehidupan manusia, melainkan juga kehidupan tumbuhan dan hewan.

Dalam surat Az Zukhruf ayat 11, Allah berfirman, “Dan yang
menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami
hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan
dikeluarkan (dari dalam kubur)”.

4)Dunia diciptakan dengan penuh keseimbangan

Berkaitan dengan poin sebelumnya, dimana Allah Menurunkan hujan
sesuai kadar perhitungan-Nya, maka kita bisa mengambil hikmah bahwa
dunia dan seisinya diciptakan dengan seimbang. Tidak ada kelebihan
atau kekurangan yang diberikan oleh Allah. Jika memang ketika hujan
terjadi banjir atau bencana alam, bisa dipastikan bahwa itu adalah hasil
dari kerusakan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

5)Menunjukkan kebesaran Allah

Jika ilmuwan masa kini sudah mengetahui proses terjadinya hujan
berkat kemajuan teknologi yang dimiliki, Allah sudah menunjukkan
kebesaran ilmu-Nya dengan menjelaskan proses hujan dalam al Quran.
Di surat An Nur ayat 43, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak
awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian
menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar
dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es
dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti)
gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada
siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang

9

10

dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan
penglihatan.”

6)Memberi kabar gembira

Selain merupakan berkah, turunnya hujan juga memiliki makna
datangnya kabar gembira bagi manusia. Setelah cukup lama manusia
mengalami kekeringan, gagal panen karena kurangnya air dan banyak
musibah lain akibat tidak turunnya hujan, Allah subhanahu wa ta’ala
menurunkan hujan yang membawa kegembiraan untuk manusia. hal ini
tercermina dalam surat Asy Syuura ayat 28 yang berbunyi, “Dan Dialah
Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan
menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha
Terpuji.”

7)Sebagai pengingat bagi manusia

Dalam hadis dikatakan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam begitu khawatir pada saat muncul mendung, jangan-jangan akan
datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari hadis tersebut, kita bisa
mengambil hikmah bahwa hujan bisa bermakna bahwa kita harus selalu
takut dan memohon perlindungan Allah dari murka-Nya.

8)Memunculkan rasa syukur di hati manusia

Di poin sebelumnya dikatakan bahwa hujan merupakan berkah dari
Allah. Maka, pada saat hujan artinya kita diingatkan untuk selalu
bersyukur pada Allah. Bahwa dengan turunnya hujan tersebut Allah
masih menjaga kehidupan kita dan memberi rahmat-Nya pada kita.

Hal ini tercermin dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma
shoyyiban nafi’an”. Arti dari doa tersebut adalah “Ya Allah turunkanlah
pada kami hujan yang bermanfaat

9)mengajak manusia untuk berfikir

10

11

Dalam surat al Waqiah ayat 68-69, Allah berfirman ”Maka terangkanlah
kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya atau Kami kah yang menurunkannya?”

Dari ayat tersebut Allah mengajak kita untuk merenungkan bahwa
semua terjadi karena kebesaran dan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.
Oleh karena itu, kita harus selalu beriman kepada Allah yang Maha
Kuasa.

10)Bahwa manusia tidak boleh sombong

Berkaitan dengan poin sebelumnya, dimana Allah mengajak kita untuk
berpikir tentang air yang kita minum bahkan diciptakan dan diberikan
oleh Allah. Maka, kita sebagai manusia tidak memiliki sedikit pun hal
yang bisa disombongkan. Sungguh, semua hal ada karena Allah lah yang
menciptakannya.

11)Allah yang Menciptakan segala sesuatu

Di dalam al Quran, juga terdapat ayat-ayat lain yang berisi tentang
berkah hujan. Seperti dalam surat Fushshilat ayat 39, berbunyi “Dan di
antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan
gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak
dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat
menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu”.

12) Sebagai penyuci dalam thaharah

Turunnya hujan berarti turunnya air yang suci untuk manusia. Dalam
surat al Anfal ayat 11 disebutkan, “Dan Dia menurunkan kepada kalian
hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu”. Dengan
demikian, air hujan bisa menjadi penyuci diri kita dari kotoran dan najis
yang ada.

13)Memberi kesempatan manusia untuk berdoa

11

12

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menganjurkan kita untuk berdoa saat
hujan turun. Hal ini didasarkan pada riwayat Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Carilah do’a yang
mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2)
Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.

14)Penunjuk kewajiban shalat berjamaah

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa shalat berjamaah bukanlah
merupakan kewajiban. Dari Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tentang
wajibnya shalat jama’ah, dapat berdalil dengan adanya jama’ antara
dua shalat yang disyariatkan ketika terjadi hujan agar dapat dilakukan
secara berjama’ah. Padahal salah satu di antara shalat tersebut telah
berada di luar waktunya, sedangkan (melakukan masing-masing shalat
pada) waktu (yang telah ditetapkan) adalah wajib”.

Dari poin di atas, dalam Badai’ al Fawaid, hal. 1098 tahqiq al Imran, al
Jam’ Baina Shalatain, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 167
disebutkan, “Sekiranya berjama’ah itu tidak wajib, maka waktu yang
wajib (untuk dilakukan shalat di dalamnya) ini tidak ditinggalkan untuk
melakukan jama’ ini”.

15)Perumpamaan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan
umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah yang pertama yang
lebih baik ataukah yang akhirnya”. Menurut al Baidhawi, “Yang
dimaksud adalah mengingkari perbedaan, karena setiap tingkatan di
antara mereka memiliki keistimewaan yang pasti mengandung sisi
kelebihbaikannya, sebagaimana setiap naubah dari naubnya hujan,
memiliki faedah dalam menumbuhkan, tidak mungkin dapat diingkari
dan dihukumi tidak bermanfaatnya. Hal itu karena generasi
pertama-tama telah beriman dengan apa yang mereka saksikan yang
berupa mu’jizat, menerima dakwah Rasul dan beriman. Sedangkan
orang-orang yang akhir, mereka beriman kepada perkara ghaib, karena
telah sampai kepada mereka secara mutawatir, yaitu ayat-ayat,
mereka mengikuti generasi yang sebelumnya dengan baik…”. (Faidh
al-Qadir, jilid 5, hlm. 517)Wallahu a’lam bishawab.

12

13

1.2 pandangan islam mengenai hujan

Dalam keadaan tertentu kalajuan purata hujan adalah mencapai 30km per
jam,secara amnya, air hujan jatuh ke bumi pada kelajuan yang rendah. Hal ini
demikian kerana, titisan hujan memilki bentuk khusus yang membentuk geseran
antara permukaan titisan itu dan atmosfer yang membantu hujan jatuh ke bumi pada
kelajuan yang lebih rendah, Fakta menakjubkan selanjutnya mengenai hujan bahwa
setiap titisan hujan memiliki diameter yang pelbaga dani diameter tersebut adalah
sekitar 0,02 - 0,31 inchi. Pada setiap saat, kira-kira 16juta tan air yang tersejat
daripada permukaan bumi sebagai sumber pembentukan hujan dan jumlah ini akan
turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Dan fakta terakhir ternyata ada wilayah di bumi ini yang menerima taburan hujan
hampir sepanjang tahun dan wilayah tersebut adalah Hawai yang menerima hujan
selama 350 hari setahun. Namun sayangnya, seiring dengan datangnya musim hujan
kita seringkali disalurkan dengan informasi bahawa hujan menyebabkan bencana
banjir, mendatangkan berbagai penyakit danbencana alam yang lebih dahsyat
sehingga secara tidak langsung kita mengeluh dengan nikmat Allah.

Sebagai umat islam kita percaya bahawa setiap yang ada di semesta ini, merupakan
rahmat dari Allah SWT. Tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa kehendak
dari Allah SWT. Oleh sebab itu, menyalahkan turunnya hujan adalah sama seperti
menyalahkan apa yang ditakdirkan oleh Allah SWT kepada manusia dan alam
semesta. Tidak sepatutnya kita marah hanya kerana pakaian basah akibat siraman air
hujan dan sebagainya.Rasulullah saw bahkan selalu menghormati turunnya hujan,
kala melihat hujan baginda berdoa “Allahhuma syaiban nafi’an” yang bermaksud “Ya
Allah jadikan hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat juga kebaikan.” (HR.
Bukhari)

Bahkan Rasulullah saw menyampaikan bahawa di antara turunnya hujan ada letak
dan tanda-tanda dikabulkannya sebuah doa atau mustajab. Rasululullah saw bersabda
yang bermaksud “carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan pada
saat iqamah sholat dan saat turunnya hujan.” (HR. Al-Hakim)

13

14

Allah SWT. Juga menjanjikan kebaikan penurunan hujan seperti dalam firmannya
yang bermaksud “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu
Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan
pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun,
untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu
tanah yang mati (kering). seperti Itulah terjadinya kebangkitan.”(QS. Qaff : 9-11)

1.3 Proses kejadian hujan menurut islam

1) Proses Mengangkat Awan, Menghentikannya, Dan Menguraikannya:

Allah Taala telah menjadikan kepanasan matahari dan angin menjadi sebab
terangkat wap air dari laut sehingga ke tahap melepasi bukit-bukit dan demikian itu
supaya bukit-bukit tidak menghalang peralihan air dari atas laut sehingga ke
tengah-tengah benua, dan supaya bercantum bahagian-bahagian lain membentuk
awan. Dan Allah Taala menetapkan had bagi pengewapan air ini di mana ia akan
berhenti sampai di tahapnya dan tidak melebihinya sehingga ke penjuru alam yang
tinggi supaya ia tidak meninggalkan bumi tanpa kembali kepadanya. Allah Taala telah
berfirman dalam surah Al-Mukminun ayat yang ke 18:

َ‫نوَن رَ نَ رََنا دَ نَ ََ نَ نَا دً نَا ءً دَِنَن بُ ِنأن رس نكَناُر ِدي َ رأن رُ دِ نو دإَنا نََن ىٰ َن نَا بٍ دِ دِ َنَنا دِ رُو ن‬

Maksudnya :

“Dan Kami turunkan dari langit itu air dengan kadar yang ditetapkan dan Kami
masukkannya ke dalam bumi dan Kami berkuasa menghilangkannya (air hujan)”

Allah taala telah mengangkat wap air dan tidak mengangkat bersamanya
garam yang bercampur dengannya dalam laut supaya tidak memudaratkan manusia,
haiwan, dan tumbuhan. Jika kita minum air tersebut sedangkan ia masin dan siram
tanaman kita dengannya pasti ia merosakkan tubuh kita dan memusnahkan tanaman
dan haiwan, Al-Quran telah menyebut perkara tersebut dalam firman Allah Taala
dalam surah Al-Waqiah:

14

15

ً‫َن رْ َن نَا ر‬. (69) َ‫( نًَ رَُر رْ َن رَ نَ رَُر رَُْر دَ نَ َ رَ رَ رَ دَ َن رْ َن رْ رَ َ رَ رَ رَ دََرْ ن‬68) .َ‫َنِن نََن رُْر رْ َ رَ نَا نً ََن دِي َن رَ نَِرْ ن‬
.(70) َ‫نًَن رََناُر َر نًا ءًا ِنَن رْ نَ َن رَ رك رَو ن‬

Maksudnya :

“Adakah kamu tidak melihat kepada air yang kamu minum. Adakah kamu yang
menurunkannya dari awan atau kami yang menurunkannya? Jika kami mahu kami
akan jadikan ia masin maka jika kamu tidak bersyukur”.

‫جًجًا‬bermaksud masin.

2) Proses Pengumpulan Wap Air:

Wap air itu ringan dan mudah naik ke tempat yang tinggi dan tidak dapat
dilihat melainkan semasa ia membentuk menjadi awan. Allah Taala menghantar angin
yang membawa zarah-zarah debu, tanah, benih-benih tumbuhan, dan semua jenis
zarah-zarah yang membentuk awan. Juzuk-juzuk kecil wap air diterbangkan angin
lalu ia menggerakkannya, berkumpul bersama juzuk-juzuk kecil tersebut dan
membentuk kelompok air dan menjadi ketulan-ketulan air yang kecil yang boleh
dilihat oleh kita iaitu awan. Apabila bertambah besar ketulan-ketulan tersebut ia akan
menjadi ketulan yang berat dan menurunkan hujan.

Allah Taala berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 48 :

َ‫نلر ََن دِي ْر رَ دس رُ ََ درَْنا نَ ِنُر دِْ رَ نس نْاِءا ِنْن رْ رَ رُِر دِي ََ نَ نَا دً نِ رْ نَ ْن نَا رً نوْن رَْنَرِر دِ نًَءا ِنُن نَى َ رَ نْ رِ ن‬
(48) َ‫ْن رْ رَ رُ دَ رَ دخ نَ دَ دِ ِنِدَنَ َن نَا نٍ ِد دِ نَ رَ ْن نَا رً دَ رَ دَْنا دِ دُ دإَنَ رَ رْ ْن رَُن رْ دَ رَو ن‬

Maksudnya :

“ Allah taala mengutuskan angin-angin lalu ia menggerakkan awan lalu
membentangkan ia di langit sebagaimana dia kehendaki dan menjadikannya
berkelompok, kemudian kamu melihat hujan turun dari celah-celahnya. Maka apabila
air hujan turun ke atas orang yang dikehendakinya di kalangan hambaNya maka
mereka akan bergembira”.

15

16

3. Proses Pergerakan Awan:

Di sana terdapat satu ketetapan tuhan iaitu peralihan air dari atas permukaan
laut ke tengah-tengah benua dan proses ini dibantu oleh angin yang menggerakkan
awan tanpa meminta dari manusia sebarang bayaran atau gaji, kerana ia ditugaskan
untuk mereka dengan perintah Allah Azzawajalla. Allah Taala berfirman dalam surah
Al-A’raf ayat ke 57:

‫نو رَ نْ ََن دِي ْر رَ دس رُ ََ درَْنا نَ ِر رَ ءََ ِن رْ نَ ْنَن ري نُ رح نَُد دِ نحُن ىٰ إدَنَ َنقنَن رٍ نس نْاِءا دثَنا ءَ رس رََناُر دَْنَن بَ نَْدر بٍ ِنأن رَ نَ رََنا‬
(57) َ‫دِ دِ َ رَ نَا نً ِنأن رخ نَ رًَنا ِد دِ دَ رَ رِ درُ ََِن نَ نََ دِ نِ ىِن دَ نَ َر رْ دَ رُ َ رَ نَ رَْن ىٰ َنَنَن رك رْ َنِن نِ رَو ن‬

Maksudnya :

“ Dialah (Allah) yang mengutus angin-angin sebagai khabar gembira di hadapan
rahmatnya sehingga angin itu membawa awan menjadi berat kami gerakkan ia ke
negeri yang mati (tidak subur) lalu kami turunkan hujan dengan sebab awan tersebut,
maka kami tumbuhkan dengan sebabnya (air hujan) bermacam-macam buah-buahan.
Seperti demikian juga kami hidupkan orang-orang mati mudah-mudahan kami
mendapat peringatan”.

Ayat ini mengkhabarkan kita bahawa angin menggerakkan awan, dan
sesungguhnya ia menggerakkannya dengan perintah dari Allah s.w.t. Telah terbukti
bahawa di sana terdapat kawasan-kawasan gurun kering-kontang menjadi kawasan
pertanian. Sama juga sebagaimana Allah Taala mengubah suatu kawasan yang
kontang menjadi kawasan yang subur itu, begitu dia membangkitkan orang yang mati
dengan menurunkan hujan dari langit yang menumbuhkan jasad-jasad manusia. Allah
Taala berfirman:

َ‫ِنأن رخ نَ رًَنا ِد دِ دَ رَ رِ درُ ََِن نَ نََ دِ نِ ىِن دَ نَ َر رْ دَ رُ َ رَ نَ رَْن ىٰ َنَنَن رك رْ َنِن نِ رَو ن‬

Perhatilah pada perumpamaan tersebut sekali, dua, dan tiga dan perhatikanlah kepada
hikmah di sebalik ketetapan kadar angin. Ia bergerak mengikut kadar yang ditetapkan
dan ditepati dimana kadar dan kelajuannya amat sesuai untuk peralihan awan dan ia
tidak menyebabkan kemusnahan. Allah Taala telah memperlihatkan kepada kita ibarat

16

17

dengan beberapa angin kencang dan puting beliung yang memusnahkan mencapai
kelajuannya sehingga 75 batu sejam. Apabila kelajuan angin mencapai 200 batu sejam
pasti tiada hidupan yang wujud di muka bumi melainkan kesemuanya telah
dimusnahkan oleh angin tersebut. Untuk mengetahui tanda-tanda rahmat Allah Taala
terhadap kamu maka ketahuilah bahawa angin yang berskala laju ini ada di bumi di
atas kepala kamu dengan jarak antara kamu dengan angin tersebut hanyalah lima batu
sahaja, yang dipanggil sebagai zon gelombang angin. Angin-angin yang bergerak
dengan kelajuan 200 batu sejam pada ketinggian lima batu di atas permukaan laut itu
jika ia hampir kepada permukaan bumi pasti akan musnah sistem ekosistem, turut
musnah juga sistem hujan. Jika tempat itu nombor tiga menggantikan tempat nombor
satu di atas muka bumi pasti air tidak akan bergerak ke tengah benua dan hujan
sentiasa turun di atas permukaan laut sekaligus manusia, haiwan, dan tumbuhan akan
mati kerana kehausan. Maka perhatilah pada pentadbiran yang bijaksana di bumi ini.

4. Proses Penurunan Hujan

Awan yang berarak di antara langit dan bumi mempunyai keseimbangan
graviti yang menariknya turun ke bawah dengan wujudnya kekuatan yang
mengangkatnya ke atas. Jika berterusan keseimbangan di antara dua proses ini sudah
pasti tidak akan turun hujan dalam bentuk setitis yang besar tetapi Allah Azzawajalla
mengutuskan angin-angin untuk membawa awan-awan ke bahagian yang tinggi yang
lebih sejuk suhunya kemudian ia menjadi awan bertambah besar dan bertambah saiz
titisan. Bertambah air dalam titisan itu dan menjadi berat dan graviti mula menariknya
dengan kuat mengatasi kekuatan mengangkat lalu ia menurunkan hujan dengan
kekuasaan Allah s.w.t.

Allah Taala berfirman dalam Al-A’raf ayat ke 57 :

‫نو رَ نْ ََن دِي ْر رَ دس رُ ََ درَْنا نَ ِر رَ ءََ ِن رْ نَ ْنَن ري نُ رح نَُد دِ نحُن ىٰ إدَنَ َنقنَن رٍ نس نْاِءا ثدَنا ءَ رس رََناُر دَْنَن بَ نَْدر بٍ ِنأن رَ نَ رََنا‬
(57) َ‫دِ دِ َ رَ نَا نً ِنأن رخ نَ رًَنا ِد دِ دَ رَ رِ درُ ََِن نَ نََ دِ نِ ىِن دَ نَ َر رْ دَ رُ َ رَ نَ رَْن ىٰ َنَنَن رك رْ َنِن نِ رَو ن‬

17

18

Maksudnya :
“ Dialah (Allah) yang mengutus angin-angin sebagai khabar gembira di hadapan
rahmatnya sehingga angin itu membawa awan menjadi berat kami gerakkan ia ke
negeri yang mati (tidak subur) lalu kami turunkan hujan dengan sebab awan tersebut,
maka kami tumbuhkan dengan sebabnya (air hujan) bermacam-macam buah-buahan.
Seperti demikian juga kami hidupkan orang-orang mati mudah-mudahan kami
mendapat peringatan”.

Supaya hujan itu tidak turun dalam keadaan seketul maka Allah Taala
menjadikan proses penguraian pada titisan-titisan hujan menjadi sebab hujan turun
dalam bentuk titisan kecil sehingga tidak berlaku kemusnahan di atas muka bumi.

5. Proses Pergerakan Air Hujan Dan Taburannya Di Muka Bumi:
Allah Taala menjadikan proses pembentukan sungai sebagai cara mengalirkan

air hujan di muka bumi dan menyebarkannya ke tempat-tempat yang jauh supaya
dapat dimanfaatkan di seluruh kawasan. Maka air ini ada yang mengalir menjadi
sungai di atas muka bumi, mata air, dan tali air yang tersebar seperti mengalir peluh
dan darah darah dalam badan manusia, Allah Taala berfirman dalam surah ar-rad :

(17).......‫َن رَ نَ نَ دَ نَ ََ نَ نَا دً نَا ءً ِن نَاَن رٍ َن رو دِْنٌة ِدَنَن دُ نَا‬

Maksudnya :
“ … . Dia (Allah) menurunkan dari langit itu air lalu ia mengalir di lembah-lembah
mengikut kadarnya”.
Dan firmanNya lagi dalam surah Ibrahim ayat 32:

َۚ​ ‫…… نو نس نْ نَ َنـ رك رْ َنَن نَ ىٰ ن‬

Maksudnya:

18

19

“ … … . Dia (Allah) menundukkan sungai-sungai supaya berkhidmat kepada
kamu(manusia)”.

Sebagaimana air mengalir di dalam perut bumi di laluan-laluan yang tertentu
di celah batu-batan seperti bekas apabila ia pecah mana bahagian ia akan
mengeluarkan mata air, maka manfaatnya boleh diambil dari air yang tersimpan
dalam bumi tersebut sehingga kawasan-kawasan gurun yang jauh menjadi subur dan
lain-lain kawasan.

6. Proses Muka Bumi Meresap Air:

Jika air hujan itu kekal di atas muka bumi pasti akan terbentuk laut-laut kecil
dan banjir-banjir besar yang memusnahkan kehidupan manusia. Maka mereka tidak
boleh berjalan, bercucuk tanam atau membina di atas muka bumi yang dilimpahi air,
tetapi Allah Taala menjadikan muka bumi secara khusus yang membolehkan air
masuk ke dalamnya dan meresap air ke lapisan di bawah kerak bumi di mana ia boleh
bergerak di dalam laluan-laluan dan berkumpul di satu tempat pengumpulan di dalam
perut bumi yang jauh dari dihindari kuman-kuman. Air ini meninggalkan muka bumi
dalam keadaan bersih untuk hidupan di atasnya tanpa ada yang tercemar. Allah Taala
berfirman dalam surah Al-Mukminun ayat 18 :

(18).. ِ‫ ِنأن رس نكَناُر ِدي َ رأن رُ د‬....

Maksudnya :

“maka kami tetapkannya (air) di dalam bumi”

7. Proses Penyimpanan Air Dalam Perut Bumi:

Jika berterusan proses air meresap ke dalam bumi dan berkumpul di dalamnya
pasti air itu hilang dari kita dan berada dalam perut bumi yang dalam dan kita tidak
mampu memanfaatkannya secara berterusan. Tetapi Allah Taala menjadikan pada
lapisan yang hampir dengan permukaan bumi beberapa tempat pengumpulan air yang

19

20

dilindungi batu-batan dan pasir yang menghalangnya dari terus meresap ke dalam
bumi. Ia menjadikannya dekat kepada manusia supaya mudah dimanfaatkan dengan
air yang mengalir. Allah Taala berfirman dalam surah Al-Mulk :

(30) َ‫قر رُ َن نَُن رُْر رْ إد رَ َن رَْن نَ نَا رُ رِ رْ نَ رْ ءَُ ِن نَ رَ ْنأرَدْ رك رْ دِ نَا بً نَ دَْ ب‬

Maksudnya :
“ Katakanlah wahai Muhammad : adakah kamu melihat jika air meresap ke dalam
bumi maka siapa yang mengeluarkan air yang keluar dari bumi”.

1.4 Jenis-jenis hujan
Para ahli membagi hujan menjadi tiga jenis berdasarkan proses terjadinya.

Tiga jenis hujan tersebut adalah hujan orografis (hujan relief), hujan konveksi (hujan
zenith), dan hujan konvergen (hujan frontal).

I. Hujan Orografis (Hujan Relief)
Lalu ada juga yang disebut dengan hujan pegunungan atau yang disebut dengan

hujan ''orografis''dan hujan Pegunungan hujan ini terjadi karena udara yang
mengandung wap air naik ke puncak pegunungan atau gunung,lalu udara yang naik
akan mengalami penurunan temperatur,makin tinggi udara naik ke puncak
pegunungan atau gunung, akan makin rendah tempraturnya, lalu akan terjadi
kondensasi dan turun sebagai hujan pada lereng pegunungan tersebut. Maka hujan
itu disebut hujan pegunungan atau hujan orografis. Ada juga yang menyebutnya
dengan hujan relief, namun sebutan ini kurang umum digunakan selain itu pula ada
yang disebut dengan hujan muson,yang seperti kami sebutkan diatas tadi,yang teradi
hanya dua kali dalam setahun,atau e bulan dengan masa perputaran antara Oktober ke
bulan April.

20

21

Hujan Orografis (Hujan

Pegunungan)

II. Hujan Konveksi

Hujan konveksi atau disebut juga hujan zenith biasanya terjadi di kawasan yang
berada pada 23,5O LU atau LS. Hujan konveksi terjadi kerana adanya pemanasan
udara di atas daratan akibat proses konduksi. Kerana pemanasan tersebut, udara akan
mengembang sehingga mengapung naik ke atas. Udara panas yang naik ke atas
bersuhu lebih tinggi dari udara lain yang ada di sekitarnya. Pada ketinggian tertentu,
suhu udara akan berkurang sehingga terjadi pengembunan. Pengembunan tersebut
menghasilkan titik air dan ais yang kemudian jatuh sebagai hujan. Hujan konveksi
biasanya hanya berlaku seketika. Kadang-kadang cahaya matahari masih dapat
terlihat pada waktu terjadinya hujan. Hujan konveksi disertai gemuruh.

Hujan Konveksi

III. Hujan Konvergen

21

22

Hujan konvergen atau disebut juga hujan frontal biasanya terjadi di kawasan yang
beriklim tropika. Hujan menumpu terjadi kerana adanya pertemuan udara panas
dengan udara sejuk. Udara panas yang mempunyai masa yang lebih ringan akan naik
ke atas udara sejuk .Kerana udara panas biasanya mengandungi wap air,
pergesekkannya dengan udara sejuk menyebabkan adanya pengembunan. Pada
ketinggian tertentu, embun - embun yang terbentuk akan jatuh sebagai hujan. Hujan
konvergen biasanya sangat lebat dan disertai banyak guruh dan angin kencang

Hujan Konvergen

IV. Hujan Asid

Hujan asid berlaku tidak disebabkan kerana faktor - faktor alam. Hujan asid adalah
hujan yang airnya mengandung zat - zat pencemar, sehingga air hujannya kotor.
Selain kotor, air hujan asid bersifat asid dan bila membasahi besi boleh menyebabkan
hakisan .Keasidan yang terkandung dalam air asam disebabkan terutamanya oleh
kandungan ion hidrogen (H +) bebas pada air hujan. Tingginya kandungan ion
hidrogen bebas tersebut disebabkan oleh hasil pembakaran yang menggunakan bahan
bakar minyak dan arang batu yang digunakan oleh kereta, kilang, dan sebagainya.

22

23

Hujan Asid

1.5 Pengukuran Hujan

Sampel hujan yang dikutip adalah dalam bentuk hujan titik, setiap ukuran
yang dijalankan dibuat pada suatu masa di suatu tempat dalam ruang yang telah
ditetapkan. Contohnya, di dalam satu legeh hujan yang turun secara berterusan, maka
tolok hujan yang digunakan khas kepada legeh itu sahaja. Sampel taburan yang
diperolehi menghasilkan “space series”.

I. Tolok Hujan

Tolok hujan terbahagi kepada dua iaitu tolok hujan automatik dan tolok hujan
bukan automatik. Tolok hujan bukan automatik tidak mampu untuk membuat
bacaannya sendiri. Kelemahannya pula, ia perlu diperiksa setiap hari untuk
mengetahui kuantiti hujan bagi setiap hari. Tolok hujan automatik pula lazimnya
mempunyai perakam waktu mekanikal yang akan merakam waktu hujan turun, drum
serta gelendong kertas graf, pen untuk mencatat carta hujan. Pen ini akan
merakamkan jumlah berat bekas termasuk air yang dikumpul atau membuat rakaman
siri kelipan yang dibuat setiap kali bekas kecil yang diketahui muatannya melimpah.
Tolok ini sesuai untuk kawasan pendalaman yang jarang dikunjungi, namun begitu
dari segi ekonomi ia agak mahal dan kurang jitu kerana terdedah kepada ralat. Ciri
penting yang ditonjolkan oleh tolok ini ialah keamatan hujan yang dipamerkan.

23

24

Tolok piawai pula diperbuat daripada selinder tembaga bergaris pusat 5 inci,
pinggir atasnya diserongkan, bertujuan untuk mengumpulkan hujan dan
membolehkan air mengalir menerusi serombong ke dalam bekas besi atau kaca yang
boleh diangkat. Setiap hari hujan akan dicurahkan ke dalam selinder penyukat.
Sesetengah stesen mempunyai kedua-dua tolok perakam dan tolok piawai.

Berdasarkan kepada laporan yang di keluarkan oleh “Task Commitee”, satu
rangkaian tolok hujan yang baru telah direkabentuk. Tolok hujan ini mampu
menyukat hujan harian yang terdiri daripada tadahan bulat yang berukuran 150 cm2.
Tolok hujan ini dipasang pada ukur tinggi rim 300 mm di atas aras bumi. Tolok ini
dilengkapi dengan talian dan nombor telefon yang mana boleh didail seperti lazimnya.
Kuantiti hujan yang terkumpul sejak diset sifar, dihantar dengan penambahan 1mm
oleh tiga kumpulan bunyi boleh-dengar dalam sukatan bilangan ratus, puluh dan sa.
Pemisitan boleh dibuat seberapa kerap dan keamatan pula boleh didapatkan secara
penolakan mudah dalam kadar lengah yang minimum.

Tolok hujan manual

Tolok hujan automatic

24

25

II. Radio Automatik

Di kawasan pendalaman pula lebih sesuai menggunakan penyukat hujan radio
automatik yang juga dikenali sebagai “radio reporting rain gauge”. Kelebihannya
kerana ia sesuai untuk kawasan pergunungan yang sukar dimasuki untuk mengambil
data. Terdapat satu mekanisme penghantar isyarat dalam bentuk gelombang radio
bagi menyampaikan bacaan yang terdapat dalam tolok hujan. Sebagai contoh, jika
“tipping bucket” digunakan, bacaan yang diperolehi akan memberikan isyarat denyut
elektrik yang setara dengan milimeter hujan yang dikumpul. Isyarat yang terhasil akan
dikodkan dalam bentuk mesej dan akan dihantar melalui penghantar (transmitter). Di
seksyen penerima, kod isyarat tersebut akan diterima oleh penerima (receiver) UHF.

III. Radar Satelit
Dengan berpandukan kepada konfuigurasi antena dan saiz, radar menghantar

denyut tenaga elktromegnetik sebagai soroton. Gelombang ini bergerak mengikut
halaju cahaya. Gelombang itu akan dipantulkan oleh awan atau partikel hujan dan
kembali ke radar dan diterima oleh antena yang sama. Signal sasaran (target signal)
merupakan tenaga yang dikembalikan semula ke radar. Jumlah tenaga ini akan
dipaparkan pada layar radar yang dikenali sebagai “echo”. Keamatan ini
menunjukkan magnitud daya yang dikembalikan yang mana merupakan ukuran bagi
refleksi radar daripada hidrometer. Reflektiviti daripada suatu kumpulan hidrometer
bergantung kepada:

a. Agihan saiz jatuhan
b. Jumlah partikel pada setiap satu isipadu
c. Keadaan fizikal iaitu padat atau cair
d. Bentuk elemen individu
e. Jika tidak simetri, aspek tersebut bergantung pada radar kerana semakin lebat

hujan semakin besar reflektivitinya

1.6 Kesan dan hikmah hujan kepada manusia sejagat

25

26

Hujan merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah S.W.T. kepada semua
mahluk di alam semesta. Setiap titisan air yang turun dari langit menjadi sumber
kehidupan bagi semua mahluk hidup. Berkat kekuasaan Sang Pencipta, pada setiap
saat jutaan liter air berpindah dari lautan menuju atmosfera lalu kembali lagi menuju
daratan, Malahan, seluruh kehidupan bergantung pada air ini di seluruh dunia tanpa
mengira hidupan bernyawa mahupun yang tidak bernyawa.

Dalam "The Signs in the Heavens and the Earth for Men of Understanding"
karangan Harun Yahya yang telah diterjemahkan Pustaka Sains Populer Islami:
Manusia dan Alam Semesta terbitan Dzikra menjelaskan mengenai kekeuasaan
ALLAH SWT dalam menciptakan hujan. Harun yahya juga membuktikan kebenaran
dan kesesuaian ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan fenomena hujan dengan sains
moden. "Sekiranya manusia mencuba mengatur kitaran di alam semesta, maka
mereka tidak akan pernah berjaya, walaupun dengan menggunakan seluruh teknologi
yang ada di muka bumi" dipetik dari hasil karangannya di mana beliau menerangkan
pendapatnya. Dalam pendapatnya juga, tanpa bayaran dan teknologi, berbilion-bilion
mahluk telah hidup di bumi dan mereka semuanya boleh menikmati air melalui proses
penguapan. Menurut Harun Yahya, 45 juta liter kubik air menguap dari lautan setiap
tahun. Air yang menguap tersebut dibawa oleh angin yang melintasi daratan dalam
bentuk awan. Setiap tahun, 3-4 juta liter air di bawa dari lautan menuju daratan untuk
dapat dinikmati dan dimanfaatkan manusia. Al-Qur'an mengajak manusia untuk
mensyukuri hujan sebagai kurnia yang di berikan ALLAH kepada mahluk-Nya
sekalian.

Hikmah hujan

Musim kemarau dan hujan datang silih berganti dalam setiap masa. Adapun
musim hujan sekarang sudah datang dan bersama kita. Hampir setiap hari, kadang
pagi, siang, petang dan kadangkala malam hujan atau gerimis turun ke permukaan
bumi. Sudahkah kita mensyukuri rezeki air yang turun dari langit tersebut? Atau
sebaliknya kufur kepada nikmat yang diberikan Allah SWT. Ketika seseorang
bersyukur kepada Allah, ketika datang hujan akan mengucapkan syukur

26

27

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Menerima dengan senang hati akan
datangnya hujan, memanfaatkan airnya untuk hal-hal yang positif, seperti mencuci
atau membersih lantai yang kotor. Ketika keluar rumah mereka akan mempersiapkan
payung ataupun pakaian hujan. Yang ada dalam hati adalah rasa syukur dan gembira
kerana terdapat air yang turun ke bumi dengan perantaraan hujan.

Dalam pada itu, menghadapi hujan bagi segolongan orang yang kufur adalah
sebaliknya.Mereka menyesali keadaan yang ada. Yang ada dalam hatinya adalah
mengeluh, ketika datang hujan ada saja sesuatu yang menjadi bahan keluhan.
Misalnya pakaian tidak kering, jalan yang berlecak, kendaraan mudah kotor, atap
rumah bocor, menyebabkan aktiviti terbatas, banjir, dan sejenisnya. Yang ada adalah
keluhan, baik dalam hatinya mahupun perkataan yang diucapkannya.

Untuk menjadi orang yang bersyukur, memerlukan latihan iatu latihan zahir
dan batin secara berterusan. Hal ini kerana bersyukur merupakan satu pekerjaan yang
tidak mudah maka Allah menggolongkan, orang yang bersyukur adalah golongan
minoriti (golongan Yang sedikit). Allah menjelaskan, “Dan sedikit sekali dari hamba
hamba-Ku yang bersyukur” (Surah Saba 34: 13).

Dengan adanya hujan, sebenarnya terdapat banyak hikmah dan manfaat yang
boleh kita ambil, contohnya dalam aspek pertanian, berbagai-bagai macam tanaman
yang kita perlukan menjadi mudah untuk tumbuh segar. Dalam aspek ekonomi, kadar
dan penjualan payung serta baju hujan meningkat, manakala haiwan ternakan
mempunyai makanan dan minuman yang mencukupi.

Hujan merupakan dalil dan bukti yang menunjukkan kebenaran dan kebesaran
Allah, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah menjelaskan dalam Al-Quran
bahawa Dialah yang menurunkan hujan yang ditumbuhi oleh tanam-tanaman dan
tumbuh-tumbuhan. Dijelaskan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya pada penciptaan
langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan
(muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa
air, lalu dengan itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di

27

28

dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti” (Surah Al-Baqarah, 2: 164).

Semua makhluk yang hidup, segolongan dari mereka mungkin tidak
merasakan manfaat dari hujan tersebut. Berbagai-bagai tanaman menjadi tumbuh
dengan subur. Makanan untuk ternakan mereka juga menjadi tidak menjadi masalah
dan mencukupi. Segala puji bagi Allah S.W.T., atas kekuasaannya, segala makanan
pokok-pokok dan haiwan-haiwan untuk manusia telah disediakan oleh Allah SWT.
Semua adalah nikmat Allah yang tidak layak untuk kita dustakan.

Selain daripada itu, Allah juga menjelaskan dalam firman-Nya, “Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu kami
hasilkan buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung
itu, ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula
yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang
bernyawa, dan haiwan-haiwan ternakan dan yang bermacam-macam warnanya.
Dalam kalangan hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh
Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.”(Surah Faathir, 35:27-28)

Sebagai hamba yang beriman, selayaknya selalu berprasangka baik atas setiap
pemberian Allah, kerana Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Semua ada
hikmah dan manfaatnya. Selalu bersyukur, sehingga rahmat dan nikmat Allah selalu
bertambah. Dalam pada itu, hamba yang mengkufuri nikmat, azab Allah sangatlah
pedih. Kita berdoa, semoga musibah dan bencana yang datang seperti banjir, gunung
meletus, kelaparan, kemiskinan, gempa bumi bukanlah azab dan bencana.

Akan tetapi, segala azab dan bencana adalah ujian dan dugaan bagi orang yang
beriman. Bagi segolongan manusia yang sedang tertimpa musibah, hendaklah
tertanam pada dirinya sifat sabar, berprasangka baik, tidak ego, tidak saling
menyalahkan Antara satu sama lain, qona’ah (menerima apa yang ada), serta sentiasa
berdoa kepada Allah agar sanggup dan sabar dalam menghadapi ujian tersebut.

28

29

Sesungguhnya kesabaran adalah sesuatu yang mahal dan sukar dilakukan, tapi
jangan risau, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Kita hendaklah
selalu bersifat optimistik dan selalu bertawakkal, tidak berputus asa dari berdoa untuk
memohon rahmat Allah. Kepada umat yang tidak terkena musibah, sepatutnya mereka
mendoakan kepada saudara kita yang terkena musibah, membantu semampu kita,
sebaliknya bukan memanfaatkan untuk kepentingan peribadi.

29

30

PROSES KEJADIAN HUJAN MENURUT SAINS

-Proses pelepasan air daripada awan

Kerpasan ialah proses pelepasan air daripada awan dalam bentuk air hujan, salji atau
hujan batu. Proses ini merupakan laluan penting bagi air di atmosfera kembali semula ke
bumi dan kebanyakkan proses berlaku dalam bentuk air hujan.

-Bagaimana titisan air hujan terbentuk?

Awan yang terapung di atmosfera mengandungi wap air dan titisan awan yang tidak
dapat jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan kerana saiznya yang kecil,tetapi saiznya
adalah cukup besar untuk membentuk awan yang dapat dilihat oleh manusia. Air di langit
akan mengalami proses sejatan dan kondensasi secara berterusan. Kebanyakkan
daripada air yang terkondensasi di dalam awan tidak akan jatuh ke bumi sebagai titisan
air hujan kerana turbulen udara yang mengampaikan awan-awan di atmosfera.Proses
hujan hanya dapat berlaku jika titisan air mula mengalami proses kondensasi dan
bergabung untuk membentuk titisan-titisan air besar dan menjadi cukup berat untuk
membentuk hujan.Pembentukkan satu titisan air hujan memerlukan gabungan
berjuta-juta titisan awan.

-)Pertukaran air daripada bentuk wap kepada cecair

Kondensasi ialah proses pertukaran air daripada bentuk wap kepada cecair. Proses ini
memainkan peranan penting kepada kitaran air kerana kondensasi penting dalam proses
pembentukkan awan.Awan seterusnya pula menghasilkan hujan dan inilah cara utama untuk air

sejatan kembali semula ke bumi.Kondensasi ialah proses yang terbalik bagi sejatan pergerakkan
wap air dari daun tumbuhan kepada lapisan atmosfera

-PROSES TRANSPIRASI

Proses transpirasi ialah proses pengangkutan lembapan air melalui tumbuhan dari
akarnya kepada liang-liang kecil pada permukaan daun,dan di sinilah ia akan berubah
bentuk menjadi wap air dan dibebaskan ke atmosfera bumi. Transpirasi ialah proses
sejatan air dari permukaan daun. 10% daripada kelembapan bumi dijangka disingkirkan
oleh tumbuhan melalui proses transpirasi.
Secara umumnya, proses transpirasi pada tumbuhan tidak dapat dilihat oleh mata kasar
sungguhpun air akan menyejat dari permukaan daun, tetapi tidak anda

30

31

KESIMPULAN

Kesimpulan nya disini itu bukanlah memaksa para mukmin untuk
menghentikan kajian sains tentang kitaran hujan setakat peringkat
kejadian awan sahaja. Realitinya, sebahagian mufassirin ada
membincangkannya. Imam Ibnu Katsir melalui tafsirnya tidak pun
menolak terbentuknya awan-awan di langit hasil dari wap-wap air dari
laut. Begitu juga Sidi Abdul Qadir Al-Jailani melalui tafsir sufinya secara
tidak langsung. Syeikh Dr. Wahbah Az-Zuhaili pula jelas-jelas
mengatakan sumber hujan ini datangnya melalui wap-wap air laut yang
tersejat dengan memesrakan penemuan sains ini dengan apa yang
diutarakan oleh Al-Quran.

Dari sudut lain, runtuhnya dakwaan yang mengatakan anggapan
bahawa hujan itu berasal dari laut atau secara spesifiknya wap-wap air
laut adalah pandangan Muktazilah semata-mata! Jika benar, mengapa
pula mufassirin seperti Ibnu Katsir, Abdul Qadir Al-Jailani, Wahbah
Az-Zuhaili tanpa segan silunya ke arah mendokong kenyataan ini. Jika
benar sekalipun ia datangnya dari Muktazilah, ia tidak pun
memudaratkan pendokong-pendokong kenyataan ini dari kalangan
Sunni. Demikian kerana Muktazilah tidak pernah pun meletakkan bicara
asalnya hujan dari laut semata sebagai dasar-dasar akidahnya! Lagipun,
akidah jenis apakah yang menjadikan isu datangnya hujan dari air laut
sebagai pegangan mereka yang utama? Akhirnya, pandangan ini tinggal
menjadi semata-mata pandangan dan bukanlah ciri eksklusif bagi
golongan-golongan tertentu. Paranoid terhadapnya pula dilihat sebagai
melucukan.

Oleh itu, pentingnya berlaku adil dan waras dalam berfikir. Lebih-lebih
lagi jika perkara-perkara yang berkaitan dengan kejadian-kejadian alam
yang memerlukan analisa yang halus sebelum membuat sesuatu
keputusan. Tidak cukup hanya memetik sepotong dua nas-nas dari
mana-mana sumber, ditambah lagi dengan tafsiran yang semberono
dan tergesa-gesa tanpa mengambilkira mujmal-mufassalnya,
am-muqayyadnya serta mubham-mufassarnya. Lebih buruk, jika disilap
tafsirkan kemudian menyalahkan pula penemuan-penemuan yang sudah
sekian lama diterima umum.

“Wallahu a’lam

31

32

RUJUKAN

https://p2u.me/proses-kejadian-hujan-menurut-islam/
https://fliphtml5.com/jyefd/mxfe/basic
https://dalamislam.com/info-islami/makna-hujan-dalam-islam
https://www.visitklaten.com/artikel/hujan-dalam-pandangan-islam/

32

33
33


Click to View FlipBook Version