The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tiyapratiwi182, 2023-03-25 23:54:12

Jalur Rempah Masa Praaksara

Jalur Rempah

JALUR REMPAH DI INDONESIA PADA MASA PRAAKSARA Jalur rempah adalah jaringan niaga rempah-rempah yang menghubungkanantara belahan barat dan timur dunia, yang dimulai dari wilayah timur Nusantara,melintasi ujung barat Sumatra, India,Sri Lanka, Mesir, Afrika timur, Afrika selatan, Madagaskar, kemudian daratan Timur Tengah (Asia Barat), Mediterania, himgga Eropa. Perjalanan melewati jalur ini menempuh jarak lebihdari 15.000 kilometer.Sebagaimana namanya, rempah utama yang diperdagangkan meliputi lada, merica, kayu manis, pala, dan cengkih. Pada masa praaksara, wilayah yang dilintasi jalur rempah membentang sampai Sri Lanka, India, Afrika, dan Madagaskar. Nenek moyang kita juga membawa rempah ke Asia Tenggara, termasuk ke Campa (Vietnam dan Kamboja sekarang). Hal ini terbukti dari penemuan benda-benda logam dari Dong Son (Vietnam) di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Kemampuan berlayar nenek moyang Indonesia sejak 4500-5000 yang laluditunjukkan melalui gambar perahu layar dan manusia dengan senjata terselip dipinggang di sius Liang Kecamatan (Kalimantan Selatan). Mereka adalah kelompok manusia berbahasa Austronesia, yang masuk ke pedalaman Kalimantan melalui jalur sungai menggunakan perahu rakit dan dayung. Dalam perkembangan selanjutnya, dayung sebagai penggerak perahu mulai digabungkan dengan penggunaan layar sehingga perahu bergerak lebih cepat. Ada pula lukisan perahu serta lukisan penari dan gendang logam di batu disitus Here Sorot Entapa di Kisar, Malkuku. Di situs tersebut juga ditemukan gendang Dong Son dari Vietnam utara dan Tiongkok barat daya kurang lebih 2.500 tahun yang lalu. Penemuan ini menunjukkan pada kurang lebih 2.500 sampai 3.500 tahun yang lalu (Zaman Logam), nenek moyang bangsa Indonesia telah berlayar hingga ke Vietnam, membarter pala dan cengkih dengan gendang dan kebutuhan pokok. Di galeri Mesir, terdapat lukisan yang menggambarkan ekspedisi kapal besar yang diprakarsai Ratu Hatshepsut (berkuasa 1503-1482 SM). Di bawah


lukisannya, tertera huruf Hieroglif yang menjelaskan kapal itu membawa pulang berbagai jenistanaman dan bahan wewangian untuk pemujaan. Di Terqa, sebuah situs kuno di Mesopotamia (sekarang Suriah), ditemukan jambangan berisi cengkih di gudang dapur rumah sederhana tahun 1721 SM (Liggett, 1982). Selain itu, di dalam lubang hidung Ramses II (1224 SM) ditemukan lada hitam sebagai bahan pengawetan murni. Rempah-rempah tersebut diyakini dibawa oelh para pelaut-pelaut Nusantara. Sementara itu, Manik-manik kaca, karnelian, dan gerabah dari Arikamedu(India Selatan) banyak ditemukan di Situs Karangagung (Sumatra Selatan), situsBuni dan Patenggeng (Jawa Barat), dan situs Sembiran (Bali). Benda-benda tersebut diperkirakan berasal dari tahun 600SM-200 M. Di situs Seririt, Buleleng, Bali ditemukan cermin perunggu (sebagai bekal kubur) dari zaman Dinasti Han.Tiongkok (tahun 8-23 M) (Kurniawan, 2014). Kemungkinan besar,benda-benda tersebut ditukar dengan rempah-rempah. Berdasarkan informasi dalam kitab –kitab sastra India, sumber emas yangbaru tersebut ada di Nusantara. Itulah cikal bakal pelayaran Nusantara. Dalam perjalanan waktu, India menyadari emas yang dimaksud dalam kitab adalah rempah. Selain lada dan kayu manis, ditemukan juga cengkih, pala, kayu cendana, kapur barus, kemenyan, dan berbagai hasil hutan. Kitab Ramayana (tahun 200 M) juga menyebutkan sumber kayu gaharu dan cendana berada di daerah timur Nusantara. Sejak abad-abad pertama Masehi, kontak dagang Nusantara dengan India berkembang. India menawarkan tekstil untuk dibarter dengan rempah. Rempahrempah Nusantara pun membanjiri pasar Romawi. Romawi ketika itu tengah mnikmati Pax Romana, yang mengingatkan permintaan atas rempah. (catatan: Pax Romana adalah periode panjang yang relative damai dan minim ekspansi militer selama 206 tahun (27 Sm-180 M). Kontak dagang Tiongkok dengan Nusantara baru dimulai sejak abad 11 M. Berita Tiongkok menyebutkan utusan Raja Bian dari Kerajaan Jawa (Yediao)berkunjung ke Tiongkok (131 M). Berita dari Dinasti Han (abad 111


M) menyebutkan tentang kewajiban bagi para pejabat tinggi yang hendak menghadap kaisar untuk mengukum cengkih untuk menghilangkan bau mulut. Sumber lain menyebutkan cengkih dari Maluku yang digambarkan berbentuk seperti paku. Adanya kontak dengan Tiongkok juga dibuktikan dengan catatan perjalanan ke Jawa melalui laut dari dua pendeta Buddha, ayitu Fa Hsien (413 M) dan Gunavarman (antara 424-453 M). Dalam berita Tiongkok lainnya, disebutkan tentang kunjungan dari utusan dari Ho-lo-tan, sebuah negeri di Shepo (Jawa) pada 430 M. Sejak saat itu, Tingkok mendapat pasokan rempah Nusantara secara berkala, meski dalam jumlah terbatas.


Click to View FlipBook Version