The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Alexander Sigit Atmaja, 2023-10-02 00:47:24

Indisplay

Indisplay

INDISPLAY Satu Tahun Tragedi KANJURUHAN Wahana Kritis Kreatif Buletin Indisplay LPM Indikator Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Edisi No.01/2023


LPM Indikator @lpmIndikator @LPMIndikator @owc229oy Roda berputar sudah menyisakan paruh kedua. Wajahwajah baru mulai nampak ke permukaan. Iya, ini menandakan bahwa tugas dan tanggung jawab semakin besar. Di bilik depan pohon beringin yang sering dihinggapi tupai itu, hampir setiap hari kami bertukar gagasan atau sekadar bersenda gurau saja. Bagai durian runtuh, tercetuslah ide untuk membuat sebuah karya baru, Indisplay. Sadar bahwa hiruk pikuk organisasi terbilang padat, kami memutuskan untuk membuat tim kecil agar karya terbaru ini segera terwujud. Indisplay kali ini membawakan tema Satu Tahun Tragedi Kanjuruhan. Tepat satu tahun lalu, terjadi penembakan gas air mata yang membabi buta sehingga mengakibatkan 135 korban jiwa. Tragedi tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal, HAM merupakan hak dasar yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun. Perlindungan HAM di Indonesia telah diatur dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Namun terlampau nahas, hingga kini keluarga korban masih menuntut keadilan karena 5 terdakwa dirasa tidak mendapatkan hukuman setimpal. Penegakan hukum seharusnya tidak memedulikan status kewarganegaraannya, baik masyarakat sipil, aparat kepolisian, dan lain-lain. Amanat tersebut tertuang dalam Pasal 5 Ayat 1 Undang-Undang HAM. Terbitnya produk ini sebagai bentuk rekonstruksi memori terhadap kasus yang belum tuntas dan semoga keluarga korban segera mendapatkan keadilan, Al-Fatihah. Dalam Kelam 12 Bulan Koordinator Idham Zaidan A. Layout Rohan Maulana P.P. Tim Syafiq Muhammad M. Zaenal Arifin Annisa Hidayati Ittaqa Ramadhian P. Pena Indikator Indisplay Wahana Kritis Kreatif di- terbitkan oleh Divisi Redaksi LPM Indikator Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universi- tas Brawijaya. Alamat Redaksi/Pemasaran: Lt. II Gedung Aktivitas Kemahasiswaan FEB UB, Jalan MT. Haryo- no 165 Malang 65145. Email: lpmindikator- [email protected]. Web: l p m i n d i k a t o r. c o m . Indikator/Syafiq


Indikatoriana


Klik Klik


Klik Foto: Rohan Maulana Pratama Putra


Infografis Oleh: Ittaqa Ramadhian P.


Oleh: Zaenal Arifin Pena Indikator Karikatur


Sore itu, hujan menemani kedatangan Aremania yang antusias melihat tim kesayangannya berlaga. Arema dijadwalkan menjamu rival abadinya, Persebaya, pada 1 Oktober 2022. Tak ada yang menyangka tragedi mengenaskan menjadi sajian penutup laga sakral ini hingga 135 nyawa melayang. Priyo, Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Stadion Kanjuruhan, tak menyadari kekacauan dalam stadion. Sulit membedakan antara keramaian stadion dengan isak tangis akibat kericuhan. Malam semakin larut, di antara temaram lampu kedainya ia melihat kepulan asap yang dibawa angin ke arah selatan stadion. Lantas, Priyo melihat ratusan orang berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan membobol gerbang 9 tepat di depan kedai miliknya. Mereka histeris memohon pertolongan sembari membasuh air bersih ke seluruh bagian wajah. Para PKL malam itu sibuk membantu para korban yang terimbas gas air mata tanpa memedulikan dagangannya. Dari Tragedi Hingga Relokasi Photo Story


Menjelang fajar menyingsing, suasana mulai membaik bersamaan dengan deru ambulans yang mengangkut para korban menuju rumah sakit. Atas dasar hati nurani dan kemanusiaan, para PKL sepakat untuk berhenti berjualan sementara waktu. Mereka ingin menghormati para korban dengan tidak berjualan di sekitar Photo Story


stadion. Sebagian dari para PKL memindahkan lapaknya ke depan gerbang Stadion Kanjuruhan. Malapetaka itu tak hanya membawa luka bagi para korban. Begitu pun dengan PKL, Bu Atul yang melanjutkan usaha orang tuanya mengaku mengalami penurunan omset dengan drastis. Tak banyak pengunjung yang datang seperti biasanya. Sebelum tragedi, pendapatan harian mereka bisa mencapai Rp600.000,00-Rp700.000,00. Kini angka tersebut hanyalah khayalan belaka, pendapatan mereka bahkan tak mencapai setengahnya. Kesabaran para PKL akhirnya membuahkan hasil. Perlahan pendapatan mereka kembali meningkat seiring dengan pengunjung yang mulai berdatangan. Secercah harapan itu mereka syukuri walaupun tak sebanding dengan jumlah sebelumnya. Bak antan patah lesung hilang, tak lama setelah mereka kembali berjualan di tempat semula, petaka baru merasuk telinga mereka. Wacana renovasi Kanjuruhan oleh pemerintah menjadi suram yang baru bagi para PKL. Pengunjung kembali menurun imbas wilayah Kanjuruhan yang harus steril per 5 September 2023. PKL pun dipaksa relokasi ke belakang Stadion Kanjuruhan. Photo Story


Photo Story Oleh: Syafiq Muhammad Mufid


Komik Oleh: Annisa Hidayati


Infografis Oleh: Syafiq Muhammad M.


PENA INDIKATOR Fotografer : Idham Kamera : Nikon D500 Speed : 1/320 ISO : 200 Aperture : F/10 Fotografer : Ittaqa Kamera : Nikon D500 Speed : 1/250 ISO : 360 Aperture : F/10 Fotografer : Idham Kamera : Nikon D500 Speed : 1/250 ISO : 400 Aperture : F/10 Mengenang Baris Terdepan Indiphoto Panjatkan Doa


PENA INDIKATOR Fotografer : Rohan Kamera : Nikon D500 Speed : 1/100 ISO : 100 Aperture : F/5.6 Fotografer : Rohan Kamera : Nikon D500 Speed : 1/125 ISO : 320 Aperture : F/5.6 Fotografer : Ittaqa Kamera : Nikon D500 Speed : 1/50 ISO : 100 Aperture : F/10 Bersepeda Saksi Bisu Lekatkan Ingatan


Click to View FlipBook Version