The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by gimbal.wiwi, 2017-09-30 23:28:56

SOP Pakan_draft_GIMBAL

SOP Pakan_draft_GIMBAL

United nations
indUstrial development organization

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL

APLIKASI TEKNIK
LEAST COST
FORMULATION (LCF)

UNTUK PRODUKSI PAKAN
IKAN PATIN SKALA KECIL

Disusun oleh

Nur Bambang Priyo Utomo
Imza Hermawan

SMART-Fish INDONESIA
2017

Swiss Confederation

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

2

United nations 
indUstrial development organization

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL

APLIKASI TEKNIK
LEAST COST
FORMULATION (LCF)

UNTUK PRODUKSI PAKAN
IKAN PATIN SKALA KECIL

Disusun oleh 3

Nur Bambang Priyo Utomo
Imza Hermawan

SMART-Fish INDONESIA
2017

Swiss Confederation

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

4

KATA SAMBUTAN DIRJEN DJPB KKP

KATA SAMBUTAN DIRJEN DJPB KKP

5

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

6

KATA PENGANTAR SMARF-FISH

KATA PENGANTAR SMARF-FISH

7

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

KATA PENGANTAR PENULIS

KATA PENGANTAR PENULIS

Pakan ikan berperan penting dalam kegiatan usaha budidaya perikanan dimana
dalam sistem budidaya ikan intensif, kebutuhan biaya untuk pengadaan pakan
dapat mencapai lebih 70% dari total biaya produksi. Pakan ikan buatan industri
rumahan (home-made feed) banyak dipakai di kalangan pelaku usaha skala
kecil, sedangkan pelet produksi pabrikan besar populer di kalangan pelaku
usaha budidaya ikan skala besar. Dewasa ini industri usaha budidaya perikanan
di Indonesia menghadapi tantangan baru berupa kebutuhan pakan ikan
murah berkualits yang memenuhi kriteria keamanan pangan (food safety) dan
ketelusuran (traceability).
Buku ini berisi panduan pembuatan pelet murah berkualitas dengan
menerapkan aplikasi Least Cocst Formulation (LCF) yang diterapkan sesuai cara
pembuatan pakan ikan yang baik (CPPIB) bagi pelaku usaha budidaya ikan
patin.. Rujukan formulasi pakan ikan yang ada di buku ini dibuat dengan
mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Pakan Buatan untuk Ikan Patin
dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang dirumuskan oleh gugus kerja
bidang Produksi Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan buku ini, serta kepada SmarfFish Indonesia yang telah
bersedia menerbitkannya. Semoga petunjuk praktis yang ada di dalam buku ini
dapat bermanfaat bagi masyarakat luas khususnya praktisi budidaya perikanan,
pemerhati perikanan maupun peneliti dan pelajar/mahasiswa bidang
perikanan. Kritik dan saran bagi penyempurnaan di masa mendatang sangat
kami harapkan.

Jakarta, September 2017
Tim Penulis

9

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

PERISTILAHAN (GLOSSARY)

Bahan baku pakan: bahan-bahan baik nabati maupun hewani yang layak
dipergunakan sebagai bahan baku pakan baik yang telah diolah maupun
yang belum diolah, vitamin dan mineral, serta bahan penunjang lain yang
dipergunakan untuk melengkapi komposisi pakan ikan
Cara pembuatan pakan Ikan yang baik (CPPIB) : cara membuat pakan
ikan yang memperhatikan aspek sanitasi, bahan baku dan proses produksi,
sehingga memenuhi persyaratan mutu dan jaminan keamanan pangan
Cemaran bahan baku pakan dan pakan : bahan/zat asing yang terdapat
dalam bahan baku pakan dan pakan, yang dapat mengakibatkan turunnya
mutu dan atau mengganggu kesehatan ikan
Efisiensi Pakan : Perbandingan antara pertambahan berat ikan dengan
berat pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan, yang dinyatakan
dalam persen
Frekuensi pemberian pakan : jumlah pengulangan pemberian pakan dalam
satu hari
Formulasi pakan ikan : membuat campuran pakan dari bahan baku terpilih
sehingga dihasilkan campuran dengan pelletabilitas dan pallatabilits yang
baik, mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan organisme akuatik
yang dibudidayakan, memiliki harga yang kompetitif, mudah disimpan, mudah
dipaking, mudah digunakan dan ramah lingkungan
Least cost formulation (LCF) : formulasi pakan ikan dengan kandungan
nutrisi lengkap sesuai dengan kebutuhan ikan dan dengan menggunakan
bahan baku berbiaya paling rendah
Oksigen terlarut (DO) : Jumlah elemen oksigen yang ada dalam air/larutan
Padat penebaran : Jumlah atau berat benih yang ditebar per satuan luas (m2)

10

PERISTILAHAN (GLOSSARY)

Pakan buatan : Pakan yang tersusun dari beberapa jenis bahan, seperti dedak
tepung ikan, vitamin dan mineral, yang komposisinya disesuaikan dengan
kualitas pakan yang diinginkan
Penyiponan : Membersihkan badan air dengan mengeluarkan kotoran
bersama sebagian jumlah air
Produktivitas: Kemampuan perairan dalam menghasilkan organisma perairan
(ikan) dalam waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam kg/ha/th
Tingkat pemberian pakan (feeding level) : perbandingan antara berat pakan
yang diberikan dengan berat ikan yang dinyatakan dalam persen. Tingkat
pemberian pakan 5% artinya untuk setiap 100 kg ikan diberikan pakan
sebanyak 5 kg.

11

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

12

BAB I PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

Pakan buatan untuk ikan atau yang umum disebut pelet umumnya disusun
dari campuran berbagai bahan baku pakan, ditambah feed additives (imbuhan
pakan) dan feed supplement (pelengkap pakan) yang dimaksudkan agar
kandungan gizi pakan sesuai dengan kebutuhan ikan. Dalam budidaya intensif
keberadaan pakan buatan mutlak diperlukan karena pakan alami jumlahnya
sudah tidak mencukupi dan atau memang pakan alami tidak ditumbuhkan.

Pakan merupakan salah satu komponen input yang sangat penting dalam
budidaya ikan patin (Pangasius sp.). Hal ini disebabkan pakan berkontribusi
cukup besar dalam stuktur biaya produksi patin. Pakan berkontribusi cukup
besar dalammenentukan koefisient teknis budidaya ikan seperti kelangsungan
hidup (SR), konversi pakan (FCR), bobot biomass atau berat rata-rata, dan
masa budidaya. Dimana semua koefisien teknis tersebut sangat menentukan
keuntungan atau kerugian dari suatu kegiatan budidaya ikan. Selanjutnya
disamping penentu dari biaya produksi pakan juga sangat menentukan beban
dalam lingkungan budidaya akibat limbah yang dihasilkan oleh ikan yang
berasal dari pakan yang tidak dicerna dan limbah metabolisme.

Mengingat peranan pakan yang sangat penting dalam usaha budidaya, maka
dalam pembuatan pakan diperlukan pengawasan secara menyeluruh sebagai
suatu sistem manajemen mutu yang dimulai dari pra produksi, produksi dan
pasca produksi dengan maksud agar pakan yang dihasilkan sesuai standar
mutu dan persyaratan teknis yang telah ditetapkan serta layak diberikan untuk
meningkatkan pertumbuhan ikan dan udang

Gambar 1. Pakan buatan untuk ikan patin

13

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

14

BAB II HASIL DEMFARM SMARTFISH INDONESIA DI TULUNGAGUNG DAN JAMBI

BAB II

HASIL DEMFARM SMARTFISH
INDONESIA DI TULUNGAGUNG DAN
JAMBI

SMART-Fish Indonesia (Sustainable Market Access through Responsible
Trading of FISH), sebuah program yang dibiayai oleh Swiss Secretariat for
Economic Affairs (SECO) dan diimplementasikan oleh United Nations Industrial
Development Organization (UNIDO) bersama-sama dengan Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP), bertujuan untuk membantu meningkatkan
produktivitas dan daya saing patin, P&L tuna dan rumput laut di Indonesia.

Khusus untuk rantai nilai patin, SMART-Fish telah menyelenggarakan beberapa
kegiatan, antara lain demo farm dengan menggunakan pakan LCF untuk
mendukung program GERPARI dari KKP yang bertujuan untuk menurunkan
biaya produksi terutama dengan menggunakan pakan yang murah tetapi
tetap berkualitas

2.1 Perlunya membuat pakan yang lebih murah dan
berkualitas baik

Ikan patin (Pangasianodon hypopthalmus) merupakan salah satu komoditi ikan
air tawar yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Permasalahan yang
dihadapi oleh pembudidaya ikan patin saat ini terutama adalah permasalahan
tingginya biaya produksi dan permasalahan kualitas daging ikan patin.

Proporsi biaya pakan pada usaha budidaya ikan patin dapat mencapai lebih
dari 70% dari total biaya produksi sehingga para pelaku usaha budidaya patin
mengharapkan dapat memperoleh pakan berkualitas dengan harga relatif
murah sesuai dengan kemampuan daya belinya. Pembudidaya patin juga
mengharapkan kualitas daging patin bisa meningkat yaitu daging tidak bau
lumpur, warna daging tidak berwarna kuning dan kandungan lemak daging
tidak berlebihan

Dengan meningkatnya biaya bahan baku dan biaya produksi pakan, dan nilai
pasar ikan yang umumnya statis atau bahkan bisa menurun untuk ikan patin,

15

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

mengharuskan pembudidaya untuk mengurangi biaya produksi antara lain
dengan menggunakan pakan yang murah tetapi harus berkualitas supaya
dapat mempertahankan keuntungan usaha.

2.2 Hasil Penggunaan Pakan Least Cost Formulation
(LCF) DI Demo Farm

Gambar 2. Pakan yang digunakan di Demfarm
SMART-Fish melakukan uji coba penggunaan pakan uji di Demfarm yang
dimiliki oleh pembudidaya berupa pakan buatan produksi pakan skala kecil
memakai aplikasi LCF dibandingkan dengan pakan kontrol berupa pakan
buatan yang biasa dipakai oleh pembudidaya melalui parameter uji konversi
pakan, biaya produksi dan kualitas produksi.
16

BAB IIHASIL DEMFARM SMARTFISH INDONESIA DI TULUNGAGUNG DAN JAMBI

Demfarm ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2016 bertempat di Kabupaten
Muaro Jambi dan Kabupaten Batanghari, Propinsi Jambi serta di Tulungagung
Jawa Timur. Kelompok Pembudidaya Patin yang berminat mengikuti kegiatan
ini diidentifikasi dan dipilih. Setiap kelompok menyediakan dua kolam, satu
kolam menggunakan pakan LCF dengan penambahan vitamin mix dan enzim
fitase (Pakan Uji) dan dipelihara dalam kolam yang menggunakan probiotik.
Sedangkan kolam pembanding (Pakan Kontrol) di Tulungagung menggunakan
pakan komersial dan di Jambi menggunakan pakan buatan yang biasa dipakai
oleh pembudidaya (tanpa vitamin dan fitase).

Pakan LCF dan pakan pembanding yang digunakan adalah pakan dengan
target kadar protein sama (iso-nitrogen) yaitu pakan dengan kandungan
protein 27% untuk Tulungagung dan 25% untuk di Jambi. Pakan LCFdibuat
menggunakan bahan baku yang tersedia di sekitar wilayah demfarm (bahan
baku lokal) kemudian diformulasi dengan mengacu pada SNI Pakan Ikan Patin.
Ikan uji adalah ikan patin dengan bobot awal rata-rata 100g/ekor.

Hasil uji coba Demfarm memperlihatkan bahwa pemakaian pakan uji yang
menggunakan LCF dengan penambahan vitamin mix dan enzim fitase serta
menggunakan probiotik di air kolam pemeliharaan dapat mengurangi biaya
pakan serta memperbaiki kualitas daging ikan patin. Hasil uji coba Demfarm
selengkapnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

Tabel 1. Hasil uji coba Demfarm

Kontrol Uji Biaya Biaya Kolam Biaya Kolam Uji
(Rp.) Kontrol
Benih 4.000 3.000 180 540.000
Pakan 420 330 10.000 720.000 3.300.000
Kontrol
Pakan Uji 3.920 2.465 5.500 4.200.000
Total Pakan 4.340 2.790
Total Panen 2,505 1.740 13.800 21.560.000 13.557.500
FCR 1.73 1.602
Margin 34.569.000 24.012.000
Warna kuning putih
30 38

17

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

18

BAB III PROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

BAB III

PROSES PEMBUATAN PAKAN
MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

Formulasi pakan untuk ikan patin dibuat berdasarkan pada
serangkaian pertimbangan teknis dan ekonomi yang dapat
dirangkum sebagai berikut: (1) nilai pasar dari spesies yang akan
diberi makan; (2) kemampuan finansial ; (3) persyaratan nutrisi; (4)
sumber, komposisi dan biaya bahan baku pakan yang tersedia; (5)
proses pembuatan pakan; (6) (padat tebar).

Secara umum upaya mengurangi biaya pakan dapat dilakukan dengan
membuat “least cost formulation” (LCF) dengan cara mengurangi dan
mengganti sebagian bahan baku impor atau bahan baku lokal yang
harganya tinggi dengan bahan baku lokal yang mempunyai kualitas setara
dan ketersediannya relatif mencukupi sepanjang tahun. Tahapan proses
pembuatan pakan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3. Flowchart pembuatan pakan ikan

3.1. SELEKSI BAHAN BAKU LOKAL

Bahan baku pakan adalah suatu bagian komponen dari berbagai kombinasi
atau campuran yang membentuk pakan,. Bahan baku dapat berasal dari
tumbuhan darat atau tumbuhan air, hewan darat atau hewan air, atau bahan
organik atau anorganik lainnya

19

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Bahan baku pakan yang merupakan sumber protein, karbohidrat, lemak,
vitamin, mineral dan binder (bahan pengikat) dapat disebut sebagai bahan
baku utama karena harus tersedia dalam pembuatan pelet ikan lengkap.
Sedangkan bahan baku pakan tambahan (imbuhan pakan, feed suplement,
feed additives) disebut sebagai bahan baku penunjang karena tidak harus
selalu tersedia dalam formulasi pakan.

Gambar 4. Contoh nahan baku pakan
Bahan baku penunjang berupa imbuhan pakan (feed additives) menjadi
bagian penting dalam proses industri pakan ikan untuk tujuan peningkatan
produktivitas dan kesehatan ikan. Namun demikian penggunaan feed additive
harus mengikuti kaidah yang benar dan bertanggung jawab. Macam ragam
pakan additive antara lain additive pada bahan pakan (contohnya antioksidan,
penambah cita rasa), additive untuk manipulasi pencernaan dan absorpsi
nutrien (contohnya buffer, enzim), additive untuk kesehatan ikan (contohnya
antibiotik), additive melalui hormonal (contohnya hormon pertumbuhan,
hormon reproduksi), additive untuk meningkatkan kualitas produk (contohnya
agensi pewarna, agensi antiradikal).

20

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

Bahan baku lokal untuk pakan ikan antara lain adalah bahan baku sumber
protein hewani, bahan baku sumber protein nabati, bahan baku sumber energi,
dan lain-lain. Bahan baku lokal tersebut harus lebih murah harganya namun
mempunyai kualitas yang setara terutama kandungan dan komposisi nutrien.
Bahan baku lokal tersebut sebaiknya berbasis by product industri pengolahan
sehingga tidak berkompetisi dengan kebutuhan manusia (food, fuel, feed)
serta tidak mengandung bahan berbahaya.

Persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh bahan baku lokal pengganti
tersebut adalah ketersediaannya yang harus melimpah (mencukupi untuk
skala industri) serta pasokannya terjamin (kontinyu) sepanjang tahun. Apabila
semua persyaratan tersebut dapat dipenuhi, maka bahan baku lokal tersebut
mempunyai prospek yang cerah untuk dapat digunakan sebagai bahan baku
pabrik ikan.

Bahanbaku yang umum dipergunakan pada formulasipakan ikan skala rumah
tangga selengkapnya disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2. Contoh bahan baku pakan lokal

Sumber Bahan Baku Hewani Lain-lain
Nabati Tepung ikan lokal Single cell protein(SCP)
Bungkil inti sawit (PKM) Ikan rucah kering Limbah Biogas
Bungkil kelapa Ikan rucah basah Limbah RPH
Daun turi Tepung telor afkir Molase
Daun lamtoro Ikan asin BS
Lemna sp. Tepung keong mas
Bungkil biji karet Tepung darah
Eceng gondok Tepung dedak udang
Dedak Tepung rebon
Jagung lokal By product pembuatan Loin
Kulit ubi kayu By productpengolahan ikan
Ampas tahu Poultry Meat Meal (PMM)
Tapioka Tepung bulu
Tepung spirulina Tepung cacing
Daun sente Maggot
Daun singkong

Sumber : Utomo et al. (2015)

21

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Kandungan nutrisi bahan baku sangat tergantung dari jenis bahan baku serta
pengolahan bahan baku tersebut, beberapa jenis bahan baku pakan ikan dapat
dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 3. Kandungan nutrisi beberapa bahan baku pakan
(dalam % berat kering)

No Nama Bahan Baku Protein Lemak BETN*(%)
(%) (%)

1 Tepung ikan lokal 53 15 1

2 Tepung ikan asin BS 42 6 2

3 Tepung kepala ikan 40 7 5

4 Tepung kepala udang 47 4 3

5 Tepung darah 85 7 2

6 Single Cell Protein (SCP) 50 1 8

7 Tepung keong mas 45 5 7

8 Tepung maggot 40 14 12

9 Molase 4 0 64

10 Tepung jagung lokal 10 4 71

11 Tepung bungkil kelapa (kopra) 23 11 58

12 Tepung bungkil sawit (PKM) 10 12 41

13 Tepung limbah coklat 24 5 55

14 Tepung eceng gondok 12 1 24

15 Tepung daun singkong 27 7 40

16 Daun mata lele (Azolla sp.) 12 2 22

17 Tepung dedak padi 8 7 36

18 Tepung biji karet 22 48 20

19 Tepung terigu 14 3 72

20 Tepung kulit ubi kayu 5 3 45

21 Tepung tapioka 2 0 85

22 Tepung daun lamtoro 24 7 39

23 Tepung daun sente 19 3 65

24 Limbah produksi agar agar

Sumber : Data diolah dari berbagai sumber (2017)

*) BETN:Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen

Pengadaan dan penyiapan bahan baku pakan harus memperhatikan beberapa
hal sebagai antara lain memperhatikan kriteria, ketersediaan dan kontinuitas,
harga, nutrisi, keamanan pangan (bebas antibiotik, residu dan cemaran lainnya)

22

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

dan kemudahan diperoleh serta penggunaannya. Pengadaan bahan baku juga
harus disertai spesifikasi, sumber/asal-usul, detail pra pengolahan, bahaya, cara
penggunaan dan penyimpanannya

Bahan baku yang dapat mengalami kerusakan karena suhu, hendaknya
disimpan di dalam ruang yang dapat dikendalikan suhunya serta ditempatkan
sesuai jenisnya (padat, cair, tepung). Sebelum diproses, bahan baku harus
dalam kondisi baik serta digunakan menurut prosedur first- infirst-out (FIFO)
dimana bahan yang masuk lebih dulu harus dipakai lebih dulu juga.

3.2. TEKNIK PENGOLAHAN BAHAN BAKU LOKAL

Peran tepung ikan sebagai sumber protein utama pakan menyebabkan
permintaan akan tepung ikan semakin meningkat dan muncul permasalahan
dalam hal ketersediaanya. Harga tepung ikan yang semakin meningkat
berdampak langsung pada nilai jual dari pakan ikan komersil yang ada.
Kenaikan harga tepung ikan akan menyebabkan semakin meningkatnya harga
pakan komersil yang dijual dipasaran.

Berbagai upaya telah dan terus sedang dilakukan kalangan industri pakan
ikan, peneliti dan juga petani ikan untuk mencari sumber protein alternatif
pengganti tepung ikan. Bahan baku tersebut antara lain adalah penggunaan
sumber protein nabati seperti tepung bungkil kedelai, sumber protein dari
limbah seperti tulang dan sisa daging sapi, bulu ayam, darah dari pemotongan
ternak, serta limbah dari industri pengolahan ikan dan ikan rucah. .

Perbaikan kualitas bahan baku pakan ikan dapat dilakukan melalui berbagai
cara sebagimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4. Teknik pengolahan bahan baku pakan lokal

Bahan Baku Permasalahan Pengolahan
Nabati: Kecernaan, serat kasar, Fermentasi, enzym,
Bungkil kelapa sawit, biji palatabilitas, zat anti bakteri probiotik,
karet, dedak, onggok, dll nutrisi pemasakan (pemanasan,
pengukusan), hidrolik
press (pengurangan
kadar minyak), pemberian
atraktan

23

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Bahan Baku Permasalahan Pengolahan
Silase, enzym, bakteri
Hewani: Kecernaan, serat kasar, probiotik, pengurangan
Ikan kualitas rendah, jeroan, palatabilitas, zat anti kadar garam/desalinasi,
ikan asin, limbah RPH, nutrisi pemasakan, hidrolik press
keong mas (pengurangan kadar
minyak), pemberian
By Product Industri Palatabilitas, tekstur, atraktan, serta
Single cell protein (SCP) nutrien, kecernaan Atraktan, kombinasi
bahanuntuk menambah
nutrisi yang kurang

Limbah Peternakan Kecernaan dan Pengolahan menggunakan
Tepung bulu ayam palatabilitas teknologi hidrolisis serta
penambahan atraktan

Sumber : Data diolah dari berbagai sumber (2017)

3.3. LEAST COST FORMULATION (LCF)

Pembuatan formulasi pakan sebaiknya menggunakan metode least cost
formulation yaitu formulasi pakan ikan dengan kandungan nutrisi lengkap
sesuai dengan kebutuhan ikan dan dengan menggunakan bahan baku berbiaya
paling rendah. Tahapan pembuatan formulasi pakan menggunakan metode
LCFadalah sebagai berikut:

3.3.1. Menentukan target nilai gizi pakan yang sesuai dengan
kebutuhan ikan

Pembuatan formula pelet sebaiknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia
(SNI) pakan yang ada supaya pelet yang akan dihasilkan sesuai dengan
kebutuhan ikan. Standar Nasional Indonesia (SNI) pakan buatan untuk ikan
berbeda-beda tergantung pada jenis ikan dan umur ikan yang akan diberi
pakan buatan atau pelet tersebut.

Formulasi pakan buatan pada kegiatan ini khusus ditujukan untuk kegiatan
pembesaran ikan ikan patin. Formulasi pakan buatan untuk ikan ikan patin
dibuat dengan mengacu pada SNI 7548 yaitu SNI pakan buatan untuk ikan
patin seperti disajikan pada tabel berikut.

24

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

Tabel 5. SNI pakan buatan ikan patin (SNI7548 2009)

Persyaratan Mutu

No Jenis Uji Satuan Pendederan Pembesaran Induk
12
1 Air, maks % 12 12 13
35
2 Abu, maks % 13 13 7
8
3 Protein, min % 30 25
0.2
4 Lemak, min % 5 5 >3
5
5 Serat kasar, % 8 8
maks ≤ 50
- (neg)
6 Non protein % 0.2 0.2
nitrogen, maks 0

7 Diameter pelet mm <2 >2

8 Kestabilan menit 5 5
dalam air , min

Kandungan Mikroba/Toksin

9 Aflaktosin ppb ≤ 50 ≤ 50

Salmonella kol/g - (neg) - (neg)

Kandungan ppb 0 0
10 antibiotik

terlarang

3.3.2 Menghitung nilai gizi pakan agar sesuai dengan
kebutuhan ikan

Setelah mengetahui kebutuhan nilai gizi pakan yang sesuai dengan kebutuhan
ikan dengan mengacu kepada SNI yang ada, maka langkah berikutnya adalah
menghitung nilai gizi pakan agar sesuai dengan kebutuhan ikan. Dalam
menghitung nilai gizi pakan, kandungan protein pakan merupakan salah satu
faktor yang harus dihitung terlebih dahulu, baru kemudian nilai karbohidrat,
lemak, dan zat gizi lainnya dapat dihitung karena ikan akan mencerna protein
terlebih dahulu sebagai sumber energinya.

Penghitungan nilai gizi pelet atau biasa disebut formulasi dapat dilakukan
dengan berbagai cara misalnya dengan metode bujur sangkar (square
methode), metode aljabar (matematis), atau memakai program komputer
(software) seperti program Winfeed. Perhitungan nilai gizi pakan tergantung
pada jenis bahan baku yang tersedia sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.

25

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Tabel 6. Daftar bahan baku yang tersedia (contoh)

Bahan Baku Harga/kg
Tepung Ikan basah 3.500

Tepung ikan kering 4.500

Tepung ikan asin 3.500
Tepung telor afkir 1.200
Tepung dedak poles 3.000
Tepung dedak kasar 2.000
Tepung dedak asalan 1.500
Tepung bungkil kelapa 3.000
Minyak Ikan 20.000
Minyak sawit 12.500
Vitamin dan mineral mix. 15.000
Binder 8.000

Setelah mengetahui bahan baku yang tersedia , langkah selanjutnya adalah
membuat daftar hasil analisis proksimat sebagaimana disajikan pada
Tabel berikut.

Tabel 7. Daftar hasil analisis proksimat bahan baku

Bahan Baku Prot Lemak BETN Abu Air SK Energi
Ikan rucah basah 33 12 2 30 20 3 (Kcal GE/kg)
Ikan rucah kering 35 14 2 32 14 3 3.018
Ikan asin 30 6 2 43 14 5 3.316
Tepung telor afkir 28 16 3 33 12 8 2.286
Dedak poles 12 15 39 11 12 11 3.176
Dedak kasar 10 20 31 13 12 14 3.945
Dedak asalan 8 20 29 15 12 16 3.928
Bungkil kelapa 18 14 40 13 11 4 3.724
Minyak Ikan 0 100 0 00 0 4.222
Fitase 0 0 0 00 0 9.500
Vit. mix. 0 0 0 00 0 0
Binder 0 0 77 5 8 10 0
3.696

26

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

3.3.3 Membuat target mutu kualitas pelet dan target harga pelet

Setelah daftar hasil analisis proksimat tersedia , langkah selanjutnya adalah
membuat target mutu kualitas pelet dan target harga pelet sebagaimana
disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 8. Target mutu dan harga pakan

Bahan Baku % Protein Energi Lemak Serat Harga
Ikan rucah basah
Ikan rucah kering 100 25 4.000 8 8 5.500
Ikan asin
Tepung telor afkir
Dedak poles
Dedak kasar
Dedak asalan
Bungkil kelapa
Minyak Ikan
Fitase
Vit. mix.
Binder
HASIL
TARGET
SELISIH TARGET-
HASIL

3.3.4 Membuat formulasi dengan melengkapi bahan baku yang
sudah mempunyai nilai tetap

Setelah target mutu kualitas pelet dan target harga pelet ditetapkan, maka
tahap berikutnya adalah membuat formulasi dengan melengkapi bahan baku
yang sudah mempunyai nilai tetap sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.

27

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Tabel 9. Formulasi yang sudah dilengkapi dengan bahan baku yang
mempunyai nilai tetap

Bahan Baku % Protein Energi Lemak Serat Harga
Ikan rucah basah
Ikan rucah kering 0,5 0 0 0 0 100
Ikan asin 3,0 0 0 0 0 600
Tepung telor afkir 3,0 0 111 0 0 360
Dedak poles 6,5 0 111 0 0 1.060
Dedak kasar 100 25 4.000 8 8 5.500
Dedak asalan 93,5 25 3.889 8 8 4.450
Bungkil kelapa
Minyak Ikan
Fitase
Vit. mix.
Binder
HASIL
TARGET
SELISIH TARGET-HASIL

3.3.5 Membuat simulasi formulasi sampai mencapai target nilai gizi
dan target harga yang sudah ditetapkan sebelumnya

Tahap terakhir adalah adalah membuat simulasi formulasi sampai
mencapai target nilai gizi dan target harga yang sudah ditetapkan
sebelumnya sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 10. Hasil simulasi sampai mencapai target nilai gizi dan harga **)

Bahan Baku % Protein Energi Lemak Serat Harga
Ikan rucah basah 0,0 00 00 0
Ikan rucah kering 60,0 21 1.990 82 2.700
Ikan asin 0,0 00 00 0
Tepung telor afkir 0,0 00 00 0
Dedak poles 27,0 3 1.065 42 810
Dedak kasar 4,5 0 177 10 90
Dedak asalan 0,0 00 00 0

28

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

Bahan Baku % Protein Energi Lemak Serat Harga
Bungkil kelapa 5,0 11 150
Minyak Ikan 0,0 1 211 00 0
Fitase 0,5 00 100
Vit. mix. 3,0 00 00 600
Binder 3,0 00 360
HASIL 100,0 00 14,1 5,3 4.810,0
TARGET 100,0 88 5.500
SELISIH TARGET-HASIL 0,0 00 -6,1 2,7 690,0

0 111

25,6 3.442,6

25 4.000

0,6 557,4

**) cara simulasi selengkapnya dapat dipelajari lebih lanjut
di linknya ke excel)

3.6 Penghitungan ulang biaya bahan baku

Setelah formula pakan tersusun, maka harus dihitung ulang biaya bahan baku
yang dipergunakan sesuai dengan harga pasar bahan baku tersebut di lokasi
pembuatan pelet. Apabila biaya bahan baku masih dirasa terlalu mahal,
maka dilakukan formulasi ulang dengan mempergunakan bahan baku yang
tersedia di lokasi pembuatan pelet. Bahan baku yang dipergunakan adalah
bahan baku dengan kualitas nutrisinya setara dengan bahan baku yang diganti
tetapi harga yang lebih murah. Strategi memproduksi pakan ikan mutlak
harus mencari kesesuaian antara harga ikan yang akan diberi pakan dan harga
sumber bahan baku pakan untuk menjamin keuntungan bagi produsen pakan
dan pengguna pelet.

3.4. PROSES PEMBUATAN PAKAN (PELLETING)

Proses pembuatan pakan ikan pada kegiatan ini mengacu pada standar Cara
Pembuatan Pakan Ikan Yang Baik (CPPIB) yang ditetapkan oleh Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), KKP. Pembuatan pelet dapat dilakukan
setelah komposisi bahan ditetapkan berdasarkan formulasi sesuai dengan
kebutuhan gizi ikan yang akan diberi pelet.

Tahapan dasar dalam pembuatan pakan adalah sebagai berikut:

a. penepungan,
b. pencampuran,
c. pemasakan (streaming),
d. pencetakan pakan,

29

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

e. pendinginan,
f. penyemprotan bahan-bahan tertentu (top dressing),
g. pengepakan,
h. penyimpanan dan pengangkutan.

Alur
 Pembuatan
 Pakan
 Ikan

Formulasi
 Pakan
Penepungan

Pencampuran
Pencetakan
Pengeringan
Pengepakan

Gambar 5. Flowchart pembuatan pakan ikan
Untuk pembuatan pelet terapung ditambahkan satu proses lagi pada saat
pemasakan yaitu pemasakan memakai alat ekstruder. Sedangkan untuk
pembuatan pelet skala rumah tangga prose pembuatannya cukup melalui
tahapan yang lebih sederhana yaitu dengan tahapan:
a. penepungan,
b. pencampuran,
c. pencetakanpakan,serta
d. pengeringan pakan.

Sebagian besar bahan baku pakan ikan pada umumnya masih berbentuk
kasar dan tidak seragam ukurannya sehingga perlu untuk dihaluskan dan
diseragamkan ukurannya. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan menghambat
proses pencampuran dan pencetakan.
Penepungan akan meningkatkan luas permukaan partikel penyusun bahan oleh
karena itu penepungan merupakan tahapan yang memfasilitasi pencampuran

30

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

dan pencetakan pakan. Setelah dilakukan penepungan kemudian dilakukan
pengayakan agar didapat ukuran partikel yang diinginkan untuk membuat
pakan dengan ukuran tertentu, semakin kecil ukuran pakan yang akan
dicetak maka akan semakin kecil pula ukuran partikel penyusun pakan yang
dibutuhkan.

Penepungan merupakan tahapan dalam pembuatan pakan yang membutuhkan
biaya yang tinggi. Semakin kecil partikel yang diinginkan dalam proses
penepungan maka semakin besar biaya dan waktu yang diperlukan.

Selanjutnya bahan baku yang mengandung kadar lemak yang tinggi akan
lebih sulit proses penepungannya dibandingkan dengan bahan baku yang
mengandung kadar lemak yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan lemak dapat
menyumbat saringan dalam mesin penepung. Untuk mengatasi hal tersebut
biasanya secara praktis dapat dilakukan penepungan secara bersamaan
antara bahan yang mengandung kadar lemak yang tinggi dengan bahan yang
mengandung kadar lemak yang rendah.

Tahap kedua dalam pembuatan pakan adalah pencampuran dari berbagai
bahan baku penyusun pakan untuk menghasilkan campuran yang homogen.
Salah satu penentu kesusksesan proses ini adalah jumlah bahan dan waktu
pencampuran. Keseimbangan antara jumlah bahan yang dicampur dan waktu
pencampuran sangat menentukan bahan tersebut tercampur secara merata
atau tidak. Jika waktu pencampuran terlalu singkat atau terlalu lama maka
partikel tidak akan tercampur secara merata atau terpisah kembali sehingga
tujuan dari pencampuran ini tidak tercapai.

Tahapan pengukusan (steaming) ini adalah mempersiapkan bahan pakan
yang telah tercampur untuk selanjutnya dicetak dan pada pembuatan pelet
sederhanan jarang dilakukan. Secara sedarhana tahapan ini dapat dilakukan
dengan mengukus bahan pakan yang telah tercampur. Pada tingkat yang lebih
lanjut ini dapat dilakukan dalam wadah (chamber) yang diberi tekanan serta
uap panas. Dalam proses ini pemberian uap panas ini untuk mengaktifkan
nutrien tertentu (bahan pengikat) yang berperan dalam menjamin
kekompakan pakan.

Tujuan dari pencetakan adalah mengubah campuran bahan baku pakan yang
masih dalam bentuk adonan menjadi pelet dengan ukuran dan bentuk fisik
tertentu sehingga cocok untuk diberikan ke ikan. Dalam pencetakan pelet yang

31

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

perlu mendapat perhatian adalah tekanan dalam mesin pencetak. Jika tekanan
yang diberikan subotimal maka pelet yang dihasilkan kurang baik. Tekanan
yang rendah akan menyebabkan densitas pakan menjadi rendah sehingga
sangat mudah larut dalam air. Sebaliknya jika tekanan pakan terlalu tinggi
maka panas yang dihasilkan oleh tekanan tinggi tersebut dapat merusak bahan
penyusun pakan yang tidak tahan terhadap panas misalnya vitamin.

Selanjutnya dalam kondisi tekanan yang sangat tinggi pakan dapat menjadi
hangus. Tahapan pendinginan adalah tahapan setelah pencetakan pelet. Pada
umum sesaat setelah dicetak suhu pelat cukup tinggi yakni dapat mencapai
90oC.

Pendinginan dapat dilakukan dengan meniupkan udara dingin atau dibiarkan
pada suhu ruang selam 10-15 menit. Pendinginan dengan menggunakan suhu
ruang pada umumnya dilakukan untuk pembuatan pelet skala laboratorium,
sedangkan pada skala yang lebih besar (industri) dilakukan dengan meniupkan
udara dingin.

Pada pembuatan pakan yang mengandung lemak yang tinggi maka tidak
semua lemak dapat dicampur dengan pelet pada saat pencampuran bahan
baku. Hal tersebut dikarenakan tingginya lemak dalam bahan baku akan
mengurangi densitas pakan. Dengan metoda penyemprotan ini maka densitas
pelet dapat terjaga dan kadar lemak yang tinggi dalam pakan dapat tercapai.

5.5. PENGEMASAN DAN PELABELAN

Pengemasan dan pelabelan pakan ikan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. pengemasan harus menjamin stabilitas mutu pakan
b. kemasan pakan harus diberi label sesuai dengan jenis dan spesifikasinya;
c. label pakan harus memenuhi ketentuan dalam regulasi terkait pakan ikan

yang mencantumkan merk dagang, nama produsen, peruntukan pakan,
bobot bersih (netto), jenis bahan yang digunakan, jenis bahan yang
ditambahkan, kandungan nutrisi, cara penyimpanan, cara penggunaan,
bentuk dan sifat-sifat fisik, tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, kode
produksi dan nomor pendaftaran pakan.

32

BAB IIIPROSES PEMBUATAN PAKAN MENGGUNAKAN APLIKASI LCF

6.6 PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI PAKAN

Penyimpanan pakan ikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. pakan disimpan di gudang yang memenuhi persyaratan teknis;
b. pengaturan penumpukan pakan (menggunakan palet) dilakukan untuk

memudahkan pengambilan sesuai urutan masuk;
c. penyimpanan berdasarkan prinsip first-in, first-out (FIFO) barang yang

lebih dulu disimpan harus lebih dulu dikeluarkan.
Distribusi pakan ikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. distribusi berdasarkan prinsip first-in, first-out (FIFO); barang yang lebih

dulu disimpan harus lebih dulu didistribusikan
b. distribusi pakan menggunakan wadah dan alat angkut yang dapat menjaga

mutu pakan.

33

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

34

BAB IV. PERAWATAN MESIN PAKAN

BAB IV.

PERAWATAN MESIN PAKAN

Peralatan mesin pakan ikan merupakan peralatan mesin yang digunakan untuk
mengolah bahan baku menjadi pelet ikan yang sudah siap diberikan kepada
ikan. Jenis peralatan mesin pakan ikan beserta keterangan perawatan disajikan
pada tabel berikut.

Tabel 11. Jenis peralatan mesin pakan ikan dan teknik perawatan

No Nama Peralatan Teknik Perawatan
1 Mesin Pencacah Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek oli
mesin, air pendingin penggerak (jika diesel), cek
2 Mesin Penepung karet penggerak, cek lubang pencacah dari adanya
baut yang masuk, cek baut dan mur yang
3 Mesin Pengering lepas atau kendor sebelum dijalankan.
4 Mesin Pengayak Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli dan air pendingin pada mesin penggerak
5 Mesin Pencampur (jika diesel), cek karet penggerak, cek lubang
penepung dari adanya baut yang masuk, cek
6 Mesin Pelet Basah baut dan mur yang lepas atau kendor sebelum
dijalankan. Ganti saringan jika rusak.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, dan cek
kawat pemanas.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli dan air pendingin pada mesin penggerak
(jika diesel), cek karet penggerak, cek baut dan
mur yang lepas atau kendor sebelum dijalankan.
Ganti saringan jika rusak.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli dan air pendingin pada mesin penggerak
(jika diesel), cek karet penggerak, cek wadah
mixer dari adanya baut yang masuk, cek baut dan
mur yang lepas atau kendor sebelum dijalankan.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli pada mesin penggerak (jika diesel), cek karet
penggerak, cek wadah pencetak dari adanya batu
yang masuk.

35

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

No Nama Peralatan Teknik Perawatan
7 Mesin Pelet Kering Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli dan air pendingin pada mesin penggerak (jika
Tenggelam diesel), cek karet penggerak, cek wadah pencetak
dari adanya baut yang masuk, cek baut dan mur
8 Mesin Pelet Semi yang lepas atau kendor sebelum dijalankan, cek
Apung pisau pemotong pelet.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
9 Mesin Pelet Apung oli dan air pendingin pada mesin penggerak (jika
diesel), cek karet penggerak, cek wadah pencetak
dari adanya baut yang masuk, cek baut dan mur
yang lepas atau kendor sebelum dijalankan, cek
pisau pemotong pelet.
Meliputi kebersihan mesin sehabis dipakai, cek
oli dan air pendingin pada mesin penggerak (jika
diesel), cek karet penggerak, cek wadah pencetak
dari adanya baut yang masuk, cek baut dan mur
yang lepas atau kendor sebelum dijalankan, cek
pisau pemotong pelet.

Sumber: Workshop BPBAT Sukabumi (2015)

36

BAB IV.PERAWATAN MESIN PAKAN

Gambar 6. Contoh mesin pelleting

37

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

38

BAB V. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN IKAN

BAB V.

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN
IKAN

Pemberian pakan LCF menggunakan bahan baku lokal dilakukan setelah ikan
patin berukuran sekitar 100 gram/ekor. Sebelum itu pakan yang diberikan
adalah pakan komersi buatan pabrik.

Tabel 12. Contoh skedul pemberian pakan pada budidaya ikan

Ukuran Ikan (g) Feeding Frequency Feeding Level
(% bobot biomass)
10 2
20 2 6-8
˃50 2 4-5
2-3

Selain waktu pemberian pakan dan frekuensi pemberian pakan, beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam manajemen pemberian pakan adalah metode
pemberian pakan (feeding methods), serta tempat pemberian pakan (feeding
site).

Pengelolaan pemberian pakan yang dilakukan umumnya dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu biaya tenaga kerja, skala usaha budidaya, jenis ikan yang
dibudidayakan, serta sistem budidaya yang diterapkan. Jumlah pakan ikan yang
diberikan setiap hari pada ikan yang dibudidayakan dan biasanya diekspresikan
dalam persen biomas ikan biasa disebut dengan feeding rate/feeding level.

Contoh jumlah pemberian pakan per hari (feeding rate/level) pakan dapat
dilihat pada Tabel berikut.

39

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Tabel 13 . Contoh persentase pemberian pakan harian berdasarkan
kepada bobot biomasa

Bobot Rata- Feeding Level Jumlah Pakan Harian/Ekor (g)
rata Ikan (g) (%)
0,7
10 7 1
20 5 2
50 4 3,75
125 3

Keterangan: Semakin besar ukuran ikan maka feeding level/rate-nya semakin
kecil, namun jumlah pakan hariannya semakin besar

40

BAB V.MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN IKAN

41

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

42

BAB VI PENGELOLAAN KUALITAS AIR SERTA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

BAB VI

PENGELOLAAN KUALITAS AIR
SERTA PENGENDALIAN HAMA DAN
PENYAKIT

6.1. Pengelolaan Kualitas Air

Dalam budidaya ikan, kualitas air memegang peranan penting yang akan
mempengaruhi kehidupan ikan budidaya. Kualitas air akan berpengaruh
terhadap efisiensi pakan, kecepatan pertumbuhan, konversi pakan, kesehatan
ikan dan kelangsungan hidup ikan. Perubahan kualitas air dalam kolam
budidaya terutama disebabkan oleh terakumulasinya kotoran ikan sisa
metabolisme.Oleh karenanya sangat penting untuk menjaga kualitas air sesuai
dengan kebutuhan ikan.

Beberapa parameter yang biasa diukur untuk mengetahui kondisi kualitas
air antara lain : temperatur, pH, kadar amonia dalam air, oksigen terlarut,
kecerahan dan untuk kebutuhan tertentu masih perlu diukur misalnya kadar
pestisida tertentu, kadar logam berat, BOD (biological oxygen demand) dll.
Tabel dibawah mencatumkan kisaran kualitas air yang diperlukan bagi ikan-
ikan air tawar.

Tabel.14. Kisaran Optimum Beberapa Parameter Kualitas Air untuk Ikan
Air Tawar (Boyd, 1998)

Parameter Kualitas Air Kisaran Optimum

Temperatur 25 – 32 o C
pH 6-9
O2 terlarut 5 – 15 mg/L
CO2 terlarut 1 – 10 mg/L
NH3 terlarut < 0,1 mg/L

43

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Untuk catfish mampu beradaptasi untuk oksigen yang lebih rendah karena
ikan tersebut mempunyai alat nafas tambahan (Bhatnagar and Devi, 2013).
Untuk mempertahankan kualitas air pada kondisi optimum perlu dilakukan
pengelolaan kualitas air. Pada umumnya untuk di kolam budidaya, pengelolaan
tersebut dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: menggunakan air
mengalir, ganti air apabila diperlukan dan penggunaan probiotik.
Pada umumnya dalam budidaya ikan, probiotik digunakan dalam pakan
ikan dan dalam media air kolam. Untuk probiotik yang digunakan langsung
pada air kolam, dapat memperbaiki kualiatas air budidaya dengan cara
mengurangi konsentrasi bahan organik dan amonia dalam perairan (Farzanfar,
2006), selain itu probiotik juga telah dibuktikan mampu untuk mengendalikan
bakteri patogen.
Penggunaan probiotik untuk memperbaiki kualita air telah secara luas
diterapkan di tambak udang dan di kolam lele. Untuk budidaya patin,
penggunaan probiotik telah dilakukan oleh beberapa pembudidaya di
Tulungagung, Jambi dan Sumatra Utara.
Dalam aplikasinya, pembudidaya bisa menebar prbiotik secara langsung
ke air kolam, jumlah probiotik yang dipergunakan tergantung dari banyak
faktor, antara lain yang paling utama adalah banyaknya bahan organik yang
ada dalam air dan sedimen kolam. Oleh karena itu pembudidaya sebaiknya
mencoba dosis yang dianjurkan oleh pembuat probiotik, kemudian diukur
beberapa parameter kualitas air, misalnya kadar amoniak dan BOD.
Dosis probiotik bisa diturunkan atau dinaikkan sesuai dengan hasil pengukuran
parameter kualitas air tersebut. Aplikasi probiotik sangat baik diterapkan di
kolam budidaya patin yang airnya tidak mengalir karena apabila kualitas airnya
terkontrol baik, diharapkan kualitas daging ikannya juga bisa lebih baik .

44

BAB VIPENGELOLAAN KUALITAS AIR SERTA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

6.2. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang sering muncul pada budidaya patin adalah ikan liar predator dan
hewan darat/air pemakan ikan. Pada beberapa daerah, burung pemakan ikan
juga merupakan hama potensial pada waktu ikan masih kecil. Pada umumnya
pembudidaya sudah mempunyai cara untuk menghindari keberadaan hama
di kolam, misalnya pemberantasan ikan predator saat persiapan kolam,
pemasangan benang nilon untuk menghindari burung pemangsa, pemasangan
saringan pada saluran air masuk, pemagaran dll.
Pada budidaya patin, penyakit yang umumnya menyerang adalah penyakit
yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas, Edwardsiella dan Flavobacterium
(Yuasa, dkk, 2003), protozoa Ichthyopthirius multifiliis dan Trichodina spp.
Penyakit yang disebabkan bakteri Edwardsiella bisa menyebabkan kematian
massal, tanda-tandanya antara lain pergerakan ikan lemah, insang menjadi
pucat, pendarahan pada kulit sekitar perut sampai dasar masing2 sirip,
terutama terjadinya pendarahan hebat sekitar anus (Wakita et all, 2005). Untuk
mengetahui dengan pasti penyebab penyakit harus diperiksa di laboratorium.
Pada umumnya penyakit ikan terjadi pada saat kualitas air memburuk
akibat dari keberadaan sisa pakan yang menumpuk sehingga menyebabkan
terganggunya kesehatan ikan. Oleh karenanya sangat penting untuk menjaga
kualitas air sesuai dengan kebutuhan ikan. Penerapan cara-cara budidaya ikan
yang bisa mencegah terjadinya wabah penyakit terutama pada pemilihan benih
yang baik, persiapan kolam, kepadatan ikan tidak berlebihan, pakan dan cara
pemberian pakan yang sesuai serta pengelolaan kualitas air.
Beberapa tips pemakaian penggunaan probiotik disajikan pada boks
berikut ini.

45

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

46

BAB VII YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DILAKUKAN PADA BUDIDAYA IKAN PATIN

BAB VII

YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH
DILAKUKAN PADA BUDIDAYA IKAN
PATIN

Para pelaku usaha budidaya patin mengharapkan dapat memperoleh pakan
berkualitas dengan harga relatif murah sesuai dengan kemampuan daya
belinya serta mengharapkan perbaikan kualitas daging patin. Kriteria kualitas
daging patin yang baik yaitu berasal dari ikan yang sehat serta:

zz Bau daging segar dan tidak berbau lumpur/tanah
zz Warna putih lebih disukai pasar
zz Tekstur berserat lembut dan rapi
zz Tidak lembek dan tidak liat
zz Daging merata sampai ujung ekor
zz Rasa gurih

Supaya harapan tersebut dapat tercapai maka ada beberapa hal yang harus
dilakukan dan ada beberapa hal yang harus dihindari dalam pembuatan pakan
dan manajemen pemberian pakan.

Tabel 15. Yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam budidaya ikan patin

Substansi Yang boleh/perlu Yang tidak boleh/
Lokasi -   Lokasi di bebas banjir dan bebas tidak perlu

pengaruh pencemaran serta   -   Hindari air yang
sesuai dengan Rencana Tata Ruang tercemar bahan-
Wilayah (RTRW) bahan kimia
-   Jenis tanah liat/lempung, tidak beracun, dan
berporos minyak/limbah
-   Kemiringan tanah yang baik untuk pabrik
memudahkan pengairan kolam
secara gravitasi. -   Hindari tanah yang
-   Kualitas air memenuhi syarat untuk bersifat terlalu
pemeliharaan ikan patin masam
-   Apabila pembesaran patin
dilakukan dengan jala apung yang
dipasang di sungai maka lokasi
yang tepat yaitu sungai yang
berarus lambat

47

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

Substansi Yang boleh/perlu Yang tidak boleh/
Bibit -   Benih unggul sesuai kriteria dalam tidak perlu

Pemeliharaan SNI SNI 01-6483.2-2000 tentang -   Hindari bibit
benih ikan patin siam (Pangasius yang berasal
hypophthalmus) kelas benih sebar dari pemijahan
-   Ukuran dan Warna seragam induk pokok
-   Panjang total minimal 2-3 inci satu keturunan
(inbreeding)

-   Hindari bibit yang
berasal dari daerah
yang sedang
terkena wabah
penyakit ikan

-   Hindari bibit yang
memiliki keragaman
ukuiran dan warna
yang tinggi

-   Ikan patin mampu mentolerir kadar -   Hindari pemakaian
bahan organik dan amonia lebih antibiotik dan
tinggi daripada ikan lain, tetapi bahan terlarang
sebaiknya tetap dipelihara pada lainnya
kondisi kualitas air yang baik untuk
menghasilkan pertumbuhan dan -   Hindari penebaran
kualitas daging yang baik ikan yang terlalu
padatsehingga
-   Padat tebar 10-20 ekor/m2 air melebihi daya
 -   Pemakaian probiotik untuk dukung lingkungan

budidaya ikan patin untuk kolam
dengan pergantian air terbatas
-   Pemantauan kualitas air dilakukan
secara berkala -   -   Mengganti
air secara reguler apabila
memungkinkan serta melakukan
siphon dasar kolam secara teratur
-   Pemantauan pertumbuhan ikan
dilakukan secara berkala

48

BAB VIIYANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DILAKUKAN PADA BUDIDAYA IKAN PATIN

Substansi Yang boleh/perlu Yang tidak boleh/
Manajemen
pemberian tidak perlu
pakan
-    Ikan patin harus diberi pakan yang -   Hindari pemakaian
Pemanenan kandungan gizinya sesuai dengan bahan baku pakan
Pasca panen SNI pakan buatan untuk ikan patin yang mengandung
Pemeliharaan -   Pakan secara langsung membuat air karoten berlebih
lingkungan cepat kotor, jadi pakan sebaiknya agar warna daging
tidak mudah hancur saat masuk ikan tidak menjadi
air sehingga harus ada binder yang kekuningan
mampu mengikat pakan dengan -   Pakan sebaiknya
baik serta feeding management tidak diberikan
harus tepat agar pakan yang pada saat siang hari
diberikan sesuai dengan kebutuhan terutama pada saat
ikan matahari terik
-   Dilarang merokok,
makan, minum,
di dalam ruang
produksi pelet,
ruang penyimpanan
dan ruang lain yang
dapat menurunkan
mutu pelet

-   Sebelum dipanen, ikan dipuasakan -   Hindari panen saat
terlebih dulu selama 1 hari untuk panas matahari
menghindari ikan muntah pada saat sedang terik
pengangkutan untuk panen ikan  
hidup dan tidak cepat busuk bila
panen ikan mati.
-   Panen patin di kolam dapat
dilakukan dengan cara menggiring
ikan dari bagian hilir ke bagian hulu
menggunakan krei bambu atau
jaring.

-   Untuk panen ikan hidup, -   Hindari
pengangkutan menggunakan air pengangukan ikan
yang bersuhu rendah sekitar 20 °C; hidup pada saat
waktu pengangkutan hendaknya siang hari terutama
pada pagi hari atau sore hari. pada saat matahari
terik
-    Untuk panen ikan segar,
sebelum dikemas sebaiknya ikan  
dicuci dengan air bersih untuk
menghilangkan lendir yang ada
pada tubuh patin

-   Memelihara kebersihan  areal kolam -    Tidak memelihara
supaya tidak kotor lingkungan
-   Tidak ada limbah yang dibuang ke sekitar dengan
perairan sekitar kolam membiarkan
sampah berserakan
-    Membuang limbah
ke perairan sekitar
kolam

49

APLIKASI TEKNIK LEAST COST FORMULATION (LCF) UNTUK PRODUKSI PAKAN IKAN PATIN SKALA KECIL

IMAGE

50


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Tupperware 1 October - 12 November 2017
Next Book
SOP Seawed_draft_GIMBAL