Gambar 5.19. Gedung Pascapanen BaBeTOOT.
Gambar 5.20. Sortasi basah hasil panen Tempuyung (Sonchus arvensis).
42 JAMU HEALTH TOURISM
Gambar 5.21. Gudang penyimpanan simplisia untuk bahan Jamu.
Laboratorium Terpadu
Terdiri dari laboratorium galenika, fitokimia, sistematika
tumbuhan, hama penyakit tanaman, bioteknologi (biomolekular
dan kultur jaringan tanaman), toksikologi dan farmakologi,
formulasi dan lab mikrobiologi.
Gambar 5.22. Perbanyakan tanaman dengan metode kultur jaringan
JAMU HEALTH TOURISM 43
Gambar 5.23. Pengamatan sel kanker dengan inverted microscope
Gambar 5.24. Uji pre-klinik dengan di Laboratorium toksiko-farmakologi
(Animal House).
44 JAMU HEALTH TOURISM
Perpustakaan
Perpustakaan dengan 2040 lebih koleksi pustaka terkait
tanaman obat dan obat tradisional, berupa jurnal ilmiah, buku-
buku terbitan dalam dan luar negeri, serta buku-buku terbitan
BaBeTOOT.
Gambar 5.25. Buku-buku terbitan BaBeTOOT 45
JAMU HEALTH TOURISM
Gambar 5.26. Perpustakaan
Museum “Jamu Nusantara dan Pengobatan Tradisional
Indonesia”
Terdapat koleksi herbarium basah dan kering, simplisia kering,
ramuan Jamu empiris, koleksi pustaka kuno, berbagai alat
pembuat Jamu tradisional serta bentuk budaya yang tidak
terpisahkan dari masing-masing etnis, antara lain alat pembuat
Jamu, kain, kerajinan lokal daerah, dll. Juga terdapat peta sentra
tanaman obat dan ruang “sejarah dan prestasi”.
Gambar 5.27. Museum Hortus
Medicus
46 JAMU HEALTH TOURISM
Gambar 5.28. Koleksi Buku kuno
Gambar 5.29. Koleksi herbarium basah untuk mengawetkan
spesimen tumbuhan
JAMU HEALTH TOURISM 47
Gambar 5.30. Pohon Simplisia
Gambar 5.31. Pemutaran film dokumenter di Sinema Fitomedika untuk
memberikan gambaran umum pengembangan Jamu.
48 JAMU HEALTH TOURISM
Gedung Pelatihan Iptek Tanaman Obat dan Jamu
Saat ini sedang dalam proses pembangunan tahap I (dua lantai).
Direncanakan akan memiliki fasilitas 2 kelas, ruang makan dan
17 kamar, dan tashun 2013 akan diselesaikan menjadi 3 lantai.
Berbagai pelatihan teknis untuk umum, antara lain budidaya
tanaman obat bagi para petani, pelatihan pascapanen serta
membuat produk Jamu sehat.
Gambar 5.32. Gedung Diklat BaBeTOOT
JAMU HEALTH TOURISM 49
50 JAMU HEALTH TOURISM
52 JAMU HEALTH TOURISM
BAGIAN VI
WISATA KOTA SOLO DAN SEKITARNYA
Ketika kita melihat situs wisata di internet, destinasi pertama
yang ditawarkan Kota Solo dan sekitarnya adalah Tawangmangu.
Ibaratnya, kalau Bogor dan Jakarta punya ‘Puncak’, Solo punya
‘Tawangmangu’.
Inilah 8 alasan mengapa Solo begitu menarik untuk dikunjungi:
1. Gelar Budaya on the road
Perhelatan budaya on the road beberapa tahun terakhir ini
menjadi agenda rutin di Solo, seperti Solo Batik Carnival, Solo
Karnaval, Solo Menari dan Parade Hadrah Solo Bersholawat.
Gambar 6.1. Solo Menari
(Foto: http://www.surakarta.go.id/konten/tari-budalan-meriahkan-solo-
menari-24-jam-tahun-2013)
JAMU HEALTH TOURISM 53
2. Keraton Surakarta Hadiningrat
Keraton ini adalah istana Kasunanan Surakarta yang didirikan
oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun
1744. Pengunjung ditawarkan apakah perlu pemandu atau
mau jalan sendiri.
3. Pusat Batik
Sudah bukan rahasia lagi bila Kota Solo adalah ‘pusat
batik’. Mulai dari Pasar Klewer, Beteng Trade Centre (BTC),
Pusat Grosir Solo (PGS) dan Kampung Batik (Kauman dan
Laweyan) yang menjual berbagai motif batik dengan harga
yang terjangkau. Belum lagi batik bermerek tersedia di butik-
butik terkenal.
4. Kuliner
Solo terkenal dengan makanan yang enak dan murah.
Berbagai pilihan kuliner Solo dapat ditemui di Galabo
(Gladak Langen Bogan) Solo. Menu khas Solo antara lain
adalah tengkleng kambing, sego liwet, gudeg ceker, sate
buntel, timlo solo, wedang dongo, tahu kupat dan yang
paling terkenal adalah bakso Solo.
Gambar 6.2. Batik Solo Carnival 7
(Foto: http://beritadaerah.co.id/2014/06/23/solo-batik-carnival-7-di-solo/)
54 JAMU HEALTH TOURISM
Gambar 6.3. Pasar Klewer Surakarta
(Foto: http://beritadaerah.co.id/2014/06/23/solo-batik-carnival-7-di-solo/)
5. Pasar Barang Antik Windujenar
Pasar yang awalnya bernama pasar Triwindu ini bertempat
di dekat Pura Mangkunegaran. Pasar ini merupakan pusat
pasar antik di Indonesia, para pedagangnya ramah dan
menawar merupakan hal yang biasa di sini.
6. Museum
Museum Batik Danar Hadi
Mempunyai koleksi sekitar 10.000 kain batik yang rata-
rata dibuat pada tahun 1840-1910, diperoleh dari Keraton
Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura
Mangkunegaran, Pura Pakualaman dan koleksi pribadi milik
seorang kurator Museum Troupen, Belanda.
JAMU HEALTH TOURISM 55
Gambar 6.4. Museum Radya Pustaka (ki) dan Museum Batik Danar Hadi (Ka)
(http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Radya Pustaka, http://yogyakarta.
Museum Radya Pustaka
Merupakan tempat pusaka Keraton Solo disimpan dan
berbagai arca kuno, peralatan dari besi, tembaga, keris,
gamelan dan perpustakaan yang menyimpan buku-buku
kesusasteraan Jawa Kuno.
7. Spa
Di Solo, minat masyarakat akan kebutuhan Spa cukup
terlihat. Dibuktikan telah tersedianya pelayanan jasa Spa di
hotel-hotel dan berdirinya Taman Sari Royal Heritage Spa di
Solo.
56 JAMU HEALTH TOURISM
8. Wisata alam dan bersejarah di sekitar kota Solo
Susur Bengawan Solo
Sondokoro, Tawangmangu, Grojogan Sewu, Astana Giri
Bangun, Air Terjun Jumog dan Parang Ijo, Candi Sukuh
dan Candi Cetho dan tea-walk (Karanganyar)
Situs purbakala Sangiran (Sragen)
Wahana Air Pandawa Solo baru (Sukoharjo)
Waduk Gajahmungkur (Wonogiri)
Mata Air Cokro dan Ponggok (Klaten)
Taman Air Tlatar (Boyolali)
Solo Selo Borobudur (SSB)
Gambar 6.5. Taman Wisata Alam Grojogan Sewu
(Foto: Twitter: @InfoTawangmangu)
JAMU HEALTH TOURISM 57
Selain itu, sekitar dua jam ke arah barat laut Solo, di Salatiga,
terdapat Pusat Dokumentasi dan Referensi Dunia Vektor dan
Reservoir (Duver) dikelola oleh Balai Besar Litbang Vektor dan
Reservoir Penyakit, Badan Litbangkes, Kemenkes RI. Duver
merupakan khasanah wisata ilmiah dunia vektor dan reservoir di
Indonesia, yang berisi koleksi dan referensi vektor dan reservoir
penyakit terlengkap dan terkemuka di Indonesia.
Gambar 6.6. Candi Cetho
Gambar 6.7. Candi Sukuh
58 JAMU HEALTH TOURISM
Berbagai jenis serangga dan binatang pembawa penyakit, seperti
nyamuk, kecoa, lalat, beraneka jenis tikus, tupai, sapi, dan unggas
serta berbagai cara penanggulangan penyakit dikemas secara
informatif dan apik. Selain itu, ada pula simulasi untuk mengetahui
titik-titik penyebaran vektor penyakit, serta bagaimana penelitian
mengenai vektor penyakit dilakukan.
Gambar 6.8. Spesimen nyamuk awetan yang ditata menjadi model
yang menarik (kanan)
Gambar 6.9. Diorama reservoir penyakit
JAMU HEALTH TOURISM 59
60 JAMU HEALTH TOURISM
BAGIAN VII
PENUTUP
Wisata Kesehatan (Health Tourism) merupakan program global,
yang wajib dilaksanakan jika kita tidak mau disebut sebagai
negara yang tertinggal.
Sesungguhnya, Indonesia dengan modal sosial dan budaya
mampu memiliki, mempromosikan dan mengelola wisata
kesehatan tradisional Indonesia, Jamu Health Tourism salah
satunya, sangat menjanjikan dan luar biasa. Ini adalah peluang
Indonesia untuk unggul dalam persaingan Health Tourism dunia,
dengan mengusung dan mempromosikan kearifan budaya lokal
dalam pelayanan kesehatan.
Hal ini membutuhkan kemauan, kemampuan dan komitmen,
yang pada dasarnya sudah dimiliki setiap aktor pembangkit
Jamu. Selanjutnya, bagaimana kecepatan kita untuk
menyelenggarakannya secara profesional. Tentu perlu grand
strategy, kolaborasi, komitmen tinggi, kepedulian dan langsung
disegerakan serta terus disempurnakan dan dilengkapi. Jika tidak
cepat, justru kita akan menjadi pemakai saja dan bukan pemilik.
Promosi Jamu bagi wisatawan harus menjadi komponen vital
dari promosi pariwisata kesehatan. Meskipun dalam beberapa
hal upaya ke arah situ sudah ada, tetapi masih jauh dari prosedur
standar. Juga sangat penting bagi para profesional kesehatan
untuk menjadi pelopor dan advokat dalam promosi tersebut.
Sudah saatnya program pariwisata kesehatan Indonesia juga
ikut melestarikan dan mengembangkan khasanah budaya Jamu
sebagai kekuatan daya saing Indonesia dalam industri pariwisata
global.
Mari kita lestarikan dan kembangkan budaya Indonesia! Bravo
Jamu Sukma Indonesia.
JAMU HEALTH TOURISM 61
62 JAMU HEALTH TOURISM
Catatan :
JAMU HEALTH TOURISM 63
Catatan :
64 JAMU HEALTH TOURISM