MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
243
B agaimana kalau kita jual seluruh assetperusahan kita di PT E sekarang
wiek? Itu suara dari telpon mitra saya kepada saya yang sejak salam
hingga 3 menit saya belum berbicara membalas monolognya. Dia memberi
masukan bicara satu arah.
Yang saya jawab, boleh, setuju, silahkan, monggo…
Namun ketika telfon di tutup. Pikiran saya mulai bekerja keras. Benar saya
mengucap dibibir saya setuju, namun di hati dan pikiran saya, saya tidak
setuju. Namun mengapa saya mengatakan setuju? Dalam bermitra dalam
berbisnis beda pendapat itu pasti. Di kasus di atas saya beda pendapat, tapi
saya setujukan.
Alasannya sederhana, jika yang berbicara mitra anda yang telah
membuktikan dirinya lebih matang, lebih pengalaman, lebih sukses, lebih
berpengaruh maka ada baiknya anda diam dan setuju. Bukan mengajari
menjadi orang yang pasrah, namun mencoba melihat dengan mata ketiga.
Anda punya dua mata, ada pumya 1 otak, anda punya jalan hidup dan
pengalaman, anda punya pendapat, dan anda punya ilmu. Buku raport
prestasi anda adalah kehidupan anda sekarang ini. Kalau dulu di bangku
sekolah setiap semester anda mendapatkan hasil belajar anda semana 6
bulan belajar. Anda akan mendapati, matematika anda 7, agama anda 8,
absen anda banyak ngak masuk kelas, perilaku anda semua dinilai.
Maka setelah tidak di bangku sekolah, raport anda dalam keuangan adalah
raport finansial anda. Merah kah atau biru? Lingkar pengaruh anda, semakin
besar lingkar pengaruh anda, berarti anda disukai dan anda banyak menfaat
pada orang lain. Luasnya lingkar pengaruh adalah rapot biru. Kesehatan anda
merah atau biru tergantung seberapa rajin anda olah raga dan seberapa
anda memahami food manajemen. Seberapa sering orang memuji anda atau
menghardik anda adalah raport biru atau merahnya perilaku anda.
Bagi saya, jika seseroang rapot kehidupanya lebih baik, lebih biru dari
saya. dia memberi saran atau pendapat, saya cenderung akan mengatakan
iya. Tanpa berfikir.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
244
Seperti halnya dalam monolognya diatas, dia tidak mengaharapkan dialog
dengan saya. kondisinya pun saya fahami. Sekarang musim kemarau, dalam
bisnis semester dua tahun 2015 ini seperti di analogikan musim kemarau
panjang yang belum menunjukan kapan musim hujan. Boro-boro mau panen.
Secara hukum alam, pohon, demi “survival” di masa kering kemarau mereka
merontokan daunnya. Dan efek tersebut dalam bisnis juga sama. Merontokan
daunnya. Karena saya salah satu direksi, menjual asset perusahaan yang
saya kelola artinya membuat saya melepas 8 unit usaha, karena yang di jual
adalah holdingnya. Dan itu artinya juga merontokan saya.
Pendapat mitra saya, saya benarkan, demi menyelamatkan pucuk
perusahaan. Namun dalam pikiran saya kayaknya saya punya pendapat lain.
Dalam hal ini karena bukan menjadi agenda dirinya maka saya boleh punya
strategi lain. Untuk saya sendiri tentunya. Bukan bersamanya.
Maka ketika telfon di tutup, saya putuskan langsung…sebaiknya saya yang
membeli saja sendiri perusahaan bersama tersebut?! Kami exit dan saya
pribadi masuk. Sepertinya simple, namun kenyataanya tidak sesederhana itu.
Dalam intuisi bisnis saya,saya merasa bisnis masih akan besar dan
berpeluang menjadi besar. Namun saya bukan ahlinya, bisnis ini bukan bidang
saya kedua saya tidak tersedia modal besar untuk menutup 90% kepemilikan
sisanya di luar milik saya.
Jadi ada dua hal yang saya harus lakukan. Mencari orang “smater than me”
yang lebih pintar dari saya, dan mencari mitra “richer than me” mitra yang
lebih kaya dari saya. tambah lagi, smarter people itu mau bekerja dengan
saya, dan richer person itu percaya saya.
Ini yang saya katakan tidak sederhana.
Anda semua pasti tahu apa isi kepala pemodal besar dan orang pintar itu
khan? ada beberapa pertanyaan yang akan mereka tanya yang saya harus
jawab. Satu saja gagal menjawabnya, maka kepercayaan tidak di dapat dan
kita di bilang “tidak pintar” atau bahasa lugasnya sudah bodoh miskin banyak
mau lagi.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
245
Hasil pengalaman pribadi saya maka saya bisa simpulkan apa isi otak
investor atau “what is inside the investor mind?”
mereka akan bertanya :
1. Apakah marketnya besar?
2. Dapatkah anda (bisnisnya) membuat margin keuntungan yang besar?
3. Apakah team personel anda handal?
4. Dapatkah anda mengambil pasar (market share) dengan cepat?
5. Saya (investor) akan dapat apa?
Itu adalah isi kepala seseroang yang richer lebih kaya dari anda. Lebih
kaya dari saya. 5 pertanyaan tersebut bisa anda jawab dengan data, fakta dan
pembuktian – proven concept. Maka mereka akan menengok proposal anda,
dan anda akan bersiap masuk kelevel berikutnya, anda akan di tawar!!. Lalu
mengenai mencari orang yang lebih pintar dari anda dan mau bekerja buat
anda?...sabar ya sahabat, masih ada hari esok. # may peace be upon us
mengenai mencari orang yang
lebih pintar dari anda dan mau
bekerja buat anda?
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03 MINDSET
03
246
Belajarlah
Merendah Hingga
Tidak Ada Satu
Orang pun Bisa
Merendahkan Anda
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
247
M as, sudah lihat harga Aramco buat indikasi harga gas dan minyak
akhir-akhir ini? Demikian mitra saya dalam pesan singkatnya di hape.
Saya jawab, ngak akang? Kenapa? Ada yang aneh? Saya jawab text message itu.
Iya mas, coba perhatikan chart setahun terakhir deh? Jawabnya kemudian
Tanpa jeda saya langsung menyalakan monitors reuters yang dikantor
jarang saya nyalakan. Saya tersendak, saya perhatikan dengan seksama dan
pasti bahwa harga bergerak turun dan trend nya turun.
Harga turun naik dalam bar chart harian adalah hal yang biasa, namun
gerakan harga dalam jangka panjang dalam hitungan tahunan, maka bar
chart tersebut akan membuat sebuah figure atau symbol. Dan untuk dua
harga minyak serta gas alam, terdapat fakta menarik..trend nya turun.
Dalam dunia bisnis, “trend is our friend”, maka harga bergerak turun
tersebut dalam trend sulit di patahkan sampai ada indication fundamental
kuat. Dan selama ini berita buruk seperti perang yang biasanya akan membuat
oil gas demand naik, ternyata harga stabil…dan turun.
Ini merusak pemahaman fundamental bahwa kebutuhan fosil oil
meningkat, supply ketersedianya terbatas. Dimana dalam teori demand
supply harusnya kalau ketersedian terbatas demand tinggi harga naik atau
trend naik. Ini anomaly. Kebalikan!
Dalam melihat harga tersebut terutama bagi saya ini berita buruk, sangat
buruk. Saya sebenarnya juga bukan mengharap harga naik terus baru
mendapatkan faedah namun yang saya atau mudah-mudahan banyak seperti
saya adalah mengharapkan harga stabil. Kestabilan membuat semuanya
terukur, calculated.
Saya menatap layar monitor tersebut dengan posisi berdiri. Lalu dengan
membungkuk sedikit, menggantikan keyboard saya membuka bloombergs.
Saya mulai melihat harga tambang lainnya nikel. Coal batubara, sin gas,
CBM coal base methan, Gold bullion, diamond de beers, dan semua hard
commodities lainnya.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
248
Saya mulai menyadari sedikit dari sisi “Diablo” devil side of me. Sisi negative
saya. ini bukan masalah biasa. Ini pasti ada mastermind nya.
Darah saya mulai naik temperaturnya. Gerakan harga tersebut membuat
saya berimaginasi. Ini semua pasti ada yang mulai berfikir. Tidak mungkin
harga bergerak sendiri. ada gerakan pasar, yang di sebut third movement.
Atau penggerak ketiga. Sang mastermind.
Biasa, memain atau pedagang atau speculator akan ber berak dengan dua
indikasi. Teknikal chart dan berita fundamental. Namun factor ke tiga tidak
di tentukan dua indikasi diatas, yang namanya posychological movement.
Indikasi gerakan berdasarkan gerakan “ big boys”. Terserah dia mau
kemanakan harga tersebut.dan kita hanya bisa membaca gerakan berdasar
data yang ada.
Dan meilhat gerakan saat ini adalah anomaly pasar, maka saya percaya, ada
yang sedang “bermain”. Apakah sebuah Negara yang memainkan? Sepertinya
saya tidak atau tepatnya belum ada data mengindikasi kearah sana. Karena
hampir smeua Negara bleeding saat ini. Buktinya, amerika adalah Negara
penghutang terbesar di dunia, rusia goyang di titik nadir tersendah era rusia
modern di bawah putin dan china sedang bersin-bersin saat ini.
Begitu china flue, separuh dunia sakit berat.
Lalu siapa bermain?
Otak saya kembali kemasa kampus dimana di sesi kedua dalam mengambil
ilmu say amemperlajari terapan aplikasi psikology yang sedikit orang mau
mengambilnya. Saya pun terpaksa. Namanya juga dibayarin sponsor, yang
kebetukan state sponsor. Jadilah sebuah bangku kampus yang dingin dan
sepi saya duduki.
Jadilah sebuah bangku kampus
yang dingin dan sepi saya
duduki.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
249
Jurusan criminal mind and forensic investigators, master degree. Di kelas
yang dingin, ruang besar, muridnya 9. Satu angkatan hanya 23 orang. Jauh
beda dengan bachelor degree sebelumnya dimana satu angkatan bisa ada
2000 orang yang mengambil jurusan applied psychology in business
Pelajaran hari pertama, jam pertama seorang dosen senior yang memiliki
jam terbang di dunia militer mengajar. Dan ciri khan para dosen di kampus
adalah menceritakan resetnya atau pengalamannya yang sangat beragam
dan aneh-aneh. Salah satunya mengapa dunia saat ini begini versi sang dosen
psikologi perang ini.
It’s a Rothschild story..mulailah dia menceritakan seroang yang menguasai
dunia keuangan sejak 1760 di London mulainya yang saat ini adalah generasi
ke 7 masih memnguasai dunia keuangan. Rothschild adalh perusahaan
investment banking terbesar di dunia. Ada di 42 negara. Dan mengusai 2 hal
yang menjadi “impian” dunia akan kemewahan. Gold mining dan belian. Dia
menguasai pasar dengan de beers nya. Mengusai mulai dari tambang hingga
mengontrol produksi dunia.
Pikiran saya melayang kesana. Mulailah saya melihat korelasi gerakan
keduanya, adakah indikasi gerakan harga hard commodities ini dengan
tindakan Rothschild di dunia korporasi. Hal ini saya harus lakukan dengan
duduk di depan mbak google, dan mulai mengetik beberapa “word indication”,
kata kunci mencari koneksi tersebut.
Lalu apa yang saya dapat hanya membuat kerutan didahi saya bertambah..
Ternyata, menurut saya, saat ini konflik-konflik di dunia lebih dari
70% berlatar belakang perebutan energi fosil. Negara penghasil fossil oil
minyak bumi dan gas dinyatakan sebagai “zona perang”. Kita semua sudah
kecanduan dengan minyak bumi ini, sehingga untuk sustainable life , untuk
melangsungkan kehidupan manusia harus menguasai sumber nya.
Dan manusia serakah itu biasanya, state sponsor. Sebuah Negara besar
yang mensponsori yang modalin. Dan caranya dengan tumpah darah. Mereka
tidak turun langsung namun penduduk local di bentrokan dan di ciptakan
dendam, anger, fight.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
250
Saya masih tidak percaya dengan sintesa saya ini, di tambah lagi pikiran
saya melambung kedepan. Jangan-jangan ke depan …konflik akan berlatar
belakang perebutan energi hayati, pangan dan air.
Jika saat ini lokasi konflik dunia berasal di Timur Tengah atau yang kita
kenal dengan sebutan “all spring” maka ke depan konflik dunia akan bergeser
ke arah negara-negara dunia kaya akan sumber daya alam yang berada di
equator termasuk Indonesia.
Rasanya kalau itu benar, maka kalau saya Negara besar yang melihat
peluang asset sumber daya alam di Indonesia, kemungkinan besar saya
akan bikin balkanisasi. Pecah menjadi beberapa Negara. Saya buat
Indonesia menjadi 5 atau 6 negara. Toh saat ini pemimpinnya ngak memiliki
kemampuan memahami keadaan tersebut, toh DPR parlemennya “self center”
mementingkan diri dan partainya. Toh rakyatnya ngak “ngeh” karena lapar.
Saat ini semua nya sempurna untuk di pecah.
Mudah-mudahan saya salah, mudah-mudahan saya hanya melamun. #
may peace always be opun us
Toh rakyatnya ngak “ngeh”
karena lapar.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03 MINDSET
03
251
Benar, Kita
Mungkin Pohon
yang Berbeda,
Namun di Sini
Kita Bertumbuh
Bersama
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
252
A yah kok nonton Bloomberg melulu, start up melulu, ? ini perkataan dari
anak saya nomor dua yang rupanya memperhatikan kebiasaan saya
kalau di rumah. Dan seperti kebiasaan saya, saya selalu menjawab, namanya
juga belajar mas?!
Dan dia benar, mata saya kalau di acara TV, Koran ada info dunia
ecommerese, arahnya tertuju kesana dengan perhatian full.
Memang aneh bagi banyak orang karena saya pasang menyetel seharian
TV bisnis di rumah saya. dan ini menjadi seakan-akan tontonan wajib. Walau
mereka ngak ada yang di depan TV. Namun sesekali saya yakin mata mereka
atau telinga mereka mendengar. Dan saya biarkan saja hal itu, memang itu
tujuan saya. dan dari info itulah saya belajar terus ecommerse.
Fatur melanjutkan pertanyaannya, Ayah, itu buku-buku semua di baca
banyak banget kenapa semua bidangnya internet begitu sih? Kali ini dia ingin
tahu lebih jauh. Karena benar, di meja kerja saya di rumah buku biografi dan
buku tentang perusahaan ecommerse bergeletakan.
Ayah, itu buku-buku semua di
baca banyak banget kenapa
semua bidangnya internet
begitu sih?
Saya menjawab, iya, ayah pernah di ajari dulu sekali selagi baru tamat
kuliah sama ayah angkat ayah, mr Saroyan. Kalau mau melakukan sesuatu
harus tahu ilmunya. Maka sebelum melkaukan sesuatu belajar isi kepala
dengan pengetahuan dan tindakan. Karena itu ayah selalu menyempatkan
mempelajari ecommerse saat ini selam 1,5 tahunan ini.
Itulah yang saya ungkapkan kepada anak saya. memang benar saya
sangat semangat menambah ilmu saya dalam bidang ecommerse ini. Buku
dan tulisan tentang perusahaan dotcom google, amazon, alibaba, netspace,
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
253
linkedin, craiglist, houzz, whatapp, oracle , airbnb, semua terbaca beberapa
kali oleh saya. Biografi seperti elon musk, larry elison, paul ellen, david karp,
reid Hoffman, jack Dorsey, brian chesky, jim clark, dan masih banyak lagi
saya hafal buku dan cerita mereka. Kalau yang major seperti sergei brin, larry
page, jerry yang, steve wozniak, steve jobs itu standar. Hafal luar kepala.
Terlepas apa yang saya pelajari, tetap saya masih buta terhadap ecommerse.
Saya mengatakan saya buta karena mungkin secara logika saya faham, saya
sudah belajar namaun bagi saya hanya memindahkan, atau shifting mindset
dari unaware ke aware. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari unconscious ke
conscious dari tidak menyadari menjadi sadar.
Walau pun saya sadar aware atau conscious tetap saya uncompetence,
tidak berkemampuan. Saya unskill tak berketrampilan.
Jadi tetap bisnis atau apapun yang terpenting adalah berkemampuan,
competence. Jadi tidak ada cara lain melakukan tersebut adalah dengan
mengerjakannya. Inilah yang saya coba juga mulai,
Dan sejak 1. 5 tahun yang lalu saya beranikan diri untuk memulai sesuatu.
Yaitu membuat prototype bisnis model. Tidak tangung-tangung langsung 4
macam prototip.
Sehingga puncaknya saya kemarin ber 6 megandakan diskusi ringan
sembari menunggu macet jalanan ibukota. 5 orang dihadapan saya adalah
professional yang saya “hired” untuk mengerjakan prototype bisnis model e
commerse ini.
Dari 5 orang ini, satu orang saya sudah kenal 15 tahun, yang lain baru 6
bulan terakhir. Dan ke 5 orang di hadapan saya kalau boleh di istilahkan
adalah mandor bangunan saya dalam bidang ecommerse. Dan dalam diskusi
tersebut ternyata saya baru menyadari bahwa waktu 1 setengah tahun sudah
terlalui oleh saya dalam memperlajari ecommerse ini, ternyata saya sudah
mengganti kontraktor 4 kali, melalukan perkembangan bermetamorfosis 8
kali. Dari konsep awal, hingga prototype terakhir ini adalah pergeseran ke8.
Dan masih alpha test. Bahkan belum beta test. ini proses menuju competence,
memang harus “pay the price”.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
254
Kembali kediskusi saya dengan putra saya, Saya perhatikan, selagi saya
berbicara dengan Fatur wajahnya, saya kok yakin dia masih ngak faham
maksud saya dengan , “namanya juga masih belajar” ungkapan saya di awal
tadi.
Saya yakin dikepalanya banyak lagi pertanyaan namun mengeluarkannya
juga ngak mudah. misalnya dikepalanya : Ayahnya seumur segini mulai
sesuatu yang baru dan ngak take off-take off.
Lalu saya menatapnya dan balik bertanya, kenapa mas? Ada yang mau di
tanyakan lagi? Kok mengkerut gitu kayak sedang mikir? Saya bertanya lebih
dalam lagi yang di jawab olehnya, kenapa ayah mesti belajar berlama-lama.
Emang harus begitu ya berbisnis itu?
Pertanyaan itu hanya membuat saya menyadari, bahwa dalam berbicara
dengan seseroang harus lah berbicara dengan “bahasa ibu”nya orang di
hadapan kita. Di hadapan saya adalah anak saya kedua, bernama fatur yang
hobbynya olah raga terutama sepak bola dan bola basket.
Jadi “snap judgment” saya adalah, oh saya harus berbicara sesuai dengan
tgerminologi anak muda, pengemar olah raga . bahasa ibunya adalah olah
raga.
Begini mas, mas minat bisnis?
Yang di jawab dengan menganggguk.
Tahu Earvin Johnson ? Laker?
Iyalah ayah, magic Johnson khan?
Benar , kata saya kemudian. Tahu ngak kamu kalau sekarang magic
Johnson adalah pebisnis yang cukup di hormati di amerika.
Ya iyalah, aku sangat menyukai banyak atlet dan pebisnis aku tahu banget.
Magic Johnson punya jaringan starbuck di amreika lebih dari 100 outlet,
punya jaringan bioskop life style di berbagai daerah afroamerican yang
sangat sukses dan laku. Punya banyak housing property. punya fund raiser
company segala.
Good, kamu pelajari banyak dari sekeder sport tapi sampai cerita mereka
saat ini update kamu mengikuti.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
255
Iya lah yah, fatur menjawab dengan bangga akan pengetahuan dirinya.
Kamu tahu bahwa magic Johnson di usia sejak muda midupnya hanya
bermain olah raga terutama basket. Dan kamu tahu apa resep dia sukses?
Kok bisa pebasket menjadi pebisnis semudah menjetikan jari?
Fatur menggeleng. iya tidak tahu.
Saya memulai sedikit cerita, Ketika magic Johnson pension dari NBA dia
memiliki banyak uang untuk melakukan apapun dan dia memutuskan untuk
berbisnis.
Dan hari dimana dia mulai memutuskan berbisnis, dia mencari orang
yang akan di pilihnya untuk menjadi mentor bisnianya. Bisa di bayangkan,
multimillion dollar man, dalam berbisnis tetap memerlukan mentor. Mentor
bisnis.
Magics tidak berani gegabah langsung berbisnis, berinvestasi. Dia bijak,
dia cari mentor dan belajar dulu. Dan pilihanya jatuh kepada pengusaha
afroamerican yang cukup sukses dimana dulu maigic Johnson sewaktu SMA
pernah magang sebagai office boy di sana.
Dengan nama besar, sebagai sport celebrity, dengan uang banyak maka
dia menefon kenalan lamanya tersebut. Dengan diplomasi khas jenaka Magic
Johnson dia meminta kenalanya tersebut untuk menjadi mentor bisnisnya.
Yang ternyata menjawab dengan lugas, dia tidak mau menjadi mentor
bisnis magic Johnson. Magic Johnson kecewa, namun tidak menyerah. Dia
menceritakan pengalamanya melamar mentornya dan di tolak kepada
beberapa sahabatnya di LA laker sperti brian scott yang semua terkejut
karena Magic Johnson di kenal sebagai lobbyist unggul dan tidak ada yang
akan saya no dengan penawarannya.
Dan persistennya magics hingga 3 kali diminta kenalanya menjadi
mentornya yangs elalu di tolak hingga suatu hari sang kenalan tersbeut
menjawab yes, I would with one condition. Dia mau menjadi mentor dengan
satu syarat.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
256
Dia harus mengenal siapa magic Johnson. Dengan sebuah pertanyaaan: Do
you read news papaers? Kenalanya bertanya..ya di jawab cepat yes offcourse.
Kenalanya bertanya lagi, what do you read?
Di jawab magic Johnson, sport pages off course , I am a sportman!
Di jawab oleh kenalanya, well, I can’t be your business mentor then?
Magic bertanya., why?
If you are a business man, you should read business news. I repeat you only
read, see, feel business.
Magic Johnson baru menyadari apa yang akan dilakukan setahun setelah
kejadian itu. Dia harus meletakan “database” bisnis dikepalanya. dia mulai
membaca, mendengar, menonton, diskusi, semuanya tentang bisnis. dan
itulah moment dimana dia memulai bisnis dengan 2 hal, mentor sebagai
pelaku competence dan ilmu bisnis dikepala.
Kalimat saya bercerita pun saya akhiri melihat Fatur manggut-manggut
kepalanya. Yang dalam hati saya berbicara dengan diri sendiri, mudah-
mudahan kamu mengerti ya nak. # may peace be upon us
mudah-mudahan kamu mengerti
ya nak.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03 MINDSET
03
257
Kerjakan Apa Saja
yang Ada Suka
Lakukan, Sejak
Saat Itu Anda
Tidak Akan Pernah
Merasa Sedang
Berkerja, Anda
Sedang Bermain
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
258
S elasaan adalah hari makan bacang di café kecil di bilangan jalan wijaya
Jakarta. Bacang isi jamur, kuning telur asin dan sedikit daging di bungkus
nasi ketan adalah makanan yang paling diminati banyak pelanggannya
termausk saya. Café tua yang sedikit di kunjungi banyak orang terutama waktu
breakfast menjadi tempat favorit kami dalam diskusi mingguan. Tapi jangan
tanya kalau makan siang dan malam, selalu penuh.
Walau café itu sudah lebih dari 20 tahun namun 2 tahun terakhir baru
menjadi pilihan kami mangkal. Tadinya hanya tempat saya dan seorang
mitra bisnis saya yang diskusi ngobrol dan melaporkan satu dengan lain akan
perkembangan bisnis selama ini. Namun sekarang rekan-rekan lain terkadang
mampir karena tahu kami setidaknya berdua, selalu ada di sana jam 8-10an
pagi, di hari selasa.
Dia sendiri , mitra saya ini, masih merupakan professional di beberapa
perusahaan sehingga dia tidak ingin “mencuri” waktu profesionalnya tetapi
memanfaatkan waktu terbatas untuk membangn bisnis yang kebetulan
bermitra dengan saya.
Dia tahu sekali bahwa dalam dunia kerja, selama seorang pegawai masih
merupakan asset atau menghasilkan income pendapatan buat perusahaan
atau institusi maka mereka masih akan di nilai. Cara penghitunganya pun
gampang, performa index nya disbanding dengan pengeluaran perusahaan
untuk dirinya masih plus apa minus, itu saja.
Ilustrasinya begini, seorang manajer, salary dan tunjangan perusahaan
berikan adalah 10 juta rupiah per bulan. Mendapatkan fasilitas meja kerja,
computer, printer, telefon, office boys, peralatan kerja dan kantor lainya, AC,
listrik, space ruangan 2 x2 meter persegi di sebuah gedung kantor. Maka dapat
di perhitungkan nilai depresiasinya juga cost expenditure + cost operatio
bulannya.
Asumsi rata-rata adalah antara gajih tunjangan dengan fasilitas adalah
1 banding 1. Jadi perusahaan ada biaya extra 10 juta, jadi 1 bulan biaya
langsung dan tak langsung karyawan 20 juta. 1 tahun sekitar 240 jutaan
terhadap karyawan tersebut.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
259
Jadi dalam perhitungan bisnis, kalau anda tidak bisa menutupi biaya anda
dalam 1 tahun periode atau semakin rendah posisi karyawan semakin pendek
targetnya, katakanlah 6 bulan. Maka anda akan dipindahkan dari posisi asset
perusahaan menjadi liabilities, menjadi beban.
Diposisi“liabilities”andatinggalmenunggu waktu saja sebelum ada dibuang.
Sebagai karyawan anda bisa mengukur diri sendiri, berapa kontribusi anda
buat perusahaan. Jujur saja, kalau anda merasa berkontribusi impas anda
pasti kerja nyaman. Kalau anda mendapat tekanan atau merasa tertekan ada
2 hal terjadi pada anda.
Anda tidak produktif dan di tekan atasan atau system. Atau anda sangat
produktif dan tidakmendapatkan “return” reward kepada anda dari atasan
atau perusahaan yang wajar. Kedua hal ini pasti membuat ada merasa
tertekan.
Sebagai karyawan anda bisa
mengukur diri sendiri,
berapa kontribusi anda buat
perusahaan.
Profesional yang memiliki skill dan pikiran entrepreneur atau biasa
disebut “ intrapreneurship” pendekatanya berbeda lagi. Intrapreneur
adalah seseroang professional yang memiliki ketrampilan dan pemahaman
entrepreneur. Berusaha, berdagang, memiliki leadership namun dia tidak
mendirikan perusahaan diluar. Dia tetap pegawai\ dan tidak memiliki saham
perusahaan itu sama sekali.
Entrepreneur keluar dari sistem kepegawaian dan berusaha sendiri
atau bersama kelompok. Dia memiliki perusahaan tersebut. Dia ikut
sebagai eksekutif misalnya sebagai direktur atau sebagai komisaris. Itu
entrepreneurship.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
260
Professional intraprenuer biasanya menaker atau mengukur kontribusinya
pada perusahaan. Kalau kelebihan maka dia akan meminta fasilitas lebih
atau akan meminta director cut.
Director cut adalah pembagian keuntungan perusahaan sebelum di
bagikan devident. Katakanlah perusahaan untung bersih 100 juta tahun ini.
Maka director cut jatah direksi adalah 10-20% dari keuntungan, dimana sisa
setelah dipotong “cut” tersebut baru di bagikan kepada pemegang saham
sebagai devident.
Sayangnya tidak semua entrepreneur memahami hal ini. Tidak semua
pengusaha mengenal perhitungan “bagi permen” seperti ini. Inilah yang
membuat professional intraprenuer yang dalam posisi asset dalam sebuah
perusahaan, akan siap-siap” jumping ship” pindah kapal.
Saya yakin anda sebagai pengusaha atau ingin berwirausaha mengenal
calculasi ini. Saya yakin anda ketika memutuskan berwirausaha adalah
ingin mendapatkan kebebasan waktu sehingga mencari profesioanal ber
intraprenuer skill.
Ngapain pindah dari pegawai tapi anda malah yang kerja, bahkan kerja
nya nambah banyak. Anda yang buat proposal, anda yang prsentasi, anda
yang kerja memproduksi, anda yang mendeliver pekerjaan, anda yang
menagih, anda yang me-maintain klien. Staff anda hanya menunggu perintah
dari anda. Begitu anda pergi, mereka ngak tahu kerja apa.
Akhirnya kerjaan mereka hanya selfie an di kantor, ngobrol, browsing,
update status. Kalau anda tahu hal ini anda marah kepada mereka, dan
mereka dalam hati bingung sebenarnya ngak tahu ngapain. Skill mereka
belum ada, pemahaman mereka belum sampai, ilmu mereka belum siap.
Akhirnya anda kelelahan menjadi pengusaha. Uang anda mungkin lebih
baik dari anda sebagai pegawai, namun waktu anda dan tekanan kerjaan
membuat anda tidak bisa memnajdi bapak yang berkontribusi buat keseharian
di rumah, atau tidak bisa menjadi ibu yang lengkap buat anak atau pasangan
anda.
MILLIONAIRE MINDSET VOL. 03
261
Sebagai pengusaha mendapatkan karyawan yang memiliki intraprenuership
adalah sebuah keharusan dan anda harus mengendus dengan tajam kontribusi
dan pembagian reward dengan mereka. Mereka sangat sensitive. Seperti
memilihara seniman. Ngeri-ngeri sedap meng-hendle mereka.
Kembali kecerita diatas, mitra saya ini adalh professional intraprenuer yang
sangat produktif. Perusahaan nya tempat dia bekerja sekarang mengenal
betul kontribusinya. Setiap langkahnya selalu di berikan kemudahan dan
kenyamanan. Bahkan 2 tahun lalu ketika dia mengatakan akan bersiap-siap
pension, sang pemilik tanpa ragu menghadiahi dirinya dengan mobil mewah
porche panamera. Dan ketika anaknya menikah , sang putri di hadiahi mini
cooper terbaru.
Dia di buat tidak berkutik jadi secara keprofesionalannya, dia tetap
berkontribusi dan sewaktu bermitra dengan saya dia memutuskan sesuatu
yang “fair” kepada perusahaannya tempat dia bekerja. Yaitu, bisnis yang
dijalankan dnegan saya, tidak ada kemiripan dengan bisnis mereka. Jauh
beda baik bidang atauun pasarnya. Bukan pesaing, bukan sejenis dan tidak
menyita waktu.
Bagi dirinya saya adalah mitra dan CEO intraprenuer untuk melakukan
aktualisasi diri di bidang passionnya. Baik dia dan saya sama passionnya. Dan
hari itu, selasa kemarin saya mengajukan permohonan, saya akan mencari
professional intraprenuer untuk menggatikan posisi saya di perusahaan
bersama di mana saya akan meniru dia juga. Dan, alhamdulilah di setujui
dan tinggal saya sekarang belajar membagi permen, belajar mengendus dan
tentunya mencari professional intrapreneur. # may peace be upon us
Tidak semua pengusaha
mengenal perhitungan “bagi
permen”