Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
Tugas kegiatan yang berjudul "biografi R.A Kartini"
dengan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa Tugas kegiatan ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karenanya, diharapkan saran dan
kritik yang membangun agar penulis menjadi lebih baik
lagi di masa mendatang.
Semoga Tugas kegiatan ini menambah wawasan dan
memberi manfaat bagi pembaca.
Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................. v
Daftar isi ............................................................................. vi
Biografi R.A Kartini ............................................................. vii
1. Lahirnya R.A Kartini ................................................................ 1
2. Masa Remaja R.A Kartini ........................................................ 2
3. Masa Dewasa R.A Kartini ....................................................... 3
A. Surat-surat yang di buat R.A .............................................. 4
B. Pemikiran R.A Kartini ......................................................... 5
C. Buku R.A Kartini ................................................................. 6
D. Kontrovesi R.A Kartini ........................................................ 7
Biografi R.A Kartini
Siapa yang tak kenal Kartini. Sosok wanita nan ayu yang begitu dipuja oleh
kaum wanita Indonesia. Karena beliaulah, wanita di negeri ini bisa
merasakan kesamaan derajat dengan pria.
Wanita tidak hanya berputar di sumur, kasur dan dapur. Karena Kartinilah
wanita Indonesia layak diperhitungkan. Apa yang beliau lakukan telah
membuka lebar pintu emansipasi. Wanita kini memiliki peranan yang tak
kalah penting bagi negeri ini.
Untuk mengenal lebih jauh mari kita bahas Biografi singkat R.A Kartini
yang sudah dirangkum dari berbagai sumber
1. Lahirnya R.A Kartini
Biografi singkat R.A Kartini diawali dari sejak kelahirannya. Kartini lahir
pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Beliau masih
merupakan keluarga bangsawan Jawa. Itulah sebabnya gelar Raden
Adjeng alias R.A disematkan padanya.
Sesuai dengan adat jawa yang masih melekat, Gelar bangsawan ini
kemudian diganti menjadi Raden Ayu saat beliau menikah. Ayah Kartini
bernama Raden Adipati Ario Sosroningrat putra dari Pangeran Ario Tjondro
IV. Ibunda Kartini bernama M.A Ngasirah. Beliau sebenarnya istri pertama
namun sayang, status itu tak membuatnya bisa menjadi istri utama.
M.A Ngasirah hanyalah gadis sederhana yang terlahir sebagai rakyat jelata
. Beliau merupakan putri seorang kyai di Teluk Awur. Raden Adipati Ario
Sosroningrat terlanjur jatuh hati padanya. Meskipun berbeda kasta, namun
memang cinta tak bisa memilih.
Statusnya yang bukan berasal dari keluarga bangsawan melabrak aturan
kolonial Belanda. Aturan yang diterapkan Belanda mengharuskan seorang
bupati harus memilih keluarga bangsawan juga sebagai pasangannya saat
menikah.
Hal ini tentu menyulitkan Ario untuk mengambil tampuk pimpinan sebagai
bupati Jepara dengan istri pertamanya itu. Ario memutar otak agar posisi
bupati tetap bisa dijabat tanpa harus melepas istri pertamanya.
Agar tetap bisa memenuhi aturan kolonial itu, Ayah Kartini juga menikahi
Raden Adjeng Woerjan yang masih memiliki darah biru kerajaan Madura.
Akhirnya Ayah Kartini bisa mengambil jatahnya untuk menjadi bupati
setelah mematuhi aturan Belanda.
Tak lama dari pernikahan keduanya, Ario diangkat jadi Bupati jepara
bersamaan dengan lahir putri kecilnya , Kartini. Ario mendapat 2
kebahagiaan sekaligus, yaitu jabatan dan keturunan.
2. Masa Remaja RA Kartini
Beruntungnya Kartini memiliki Pangeran Ario Tjondro IV, bupati pertama
Jepara yang merupakan kakeknya. Kakeknya ini ternyata sudah terbiasa
memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya, sehingga cara
pengajaran jauh dari kesan konservatif.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara (saudara kandung dan
saudara tiri) ,namun Kartini merupakan anak perempuan tertua dari semua
saudara sekandungnya.Karena pemikiran kakeknya yang sudah terbuka
itu, maka Kartini memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan di
sekolah di ELS (Europese Lagere School) saat usianya 12 tahun.
Menimba ilmu di sekolah ini membuat beliau belajar Bahasa Belanda.
Kecerdasan Kartini semakin terasah di dunia sekolah. Sayangnya
keinginannya untuk sekolah tak bisa lama. Di usia 15 tahun Kartini harus
menghentikan langkahnya ke sekolah.
RA Kartini harus tinggal di rumah karena sudah dipingit seperti wanita lain
di masa itu. Kartini pun tak punya pilihan. Hal ini tentu membuatnya
gundah gulana. Untunglah dia memiliki sahabat di negeri Belanda bernama
Rosa Abendanon yang bisa diajak bertukar pikiran selama dipingit.
Pertukaran pikirannya dilakukan lewat surat menyurat. Kefasihannya dalam
berbahasa Belanda memudahkan komunikasi 2 sahabat beda negara ini.
Sebagai wanita cerdas, Kartini pun mempelajari juga pola pikir wanita
Eropa. Surat kabar ,majalah bahkan buku dilalap habis.
Dari apa yang dibacanya,Kartini tahu bahwa kehidupan wanita
Eropa,dengan wanita Indonesia sungguh berbeda di kala itu. Di Indonesia,
wanita memiliki status yang rendah. Wanita Indonesia tak pernah
mendapatkan persamaan, kebebasan, dan otonomi serta kesetaraan
hukum.
Kondisi itu membuat miris hati Kartini. Keinginan untuk memajukan nasib
wanita pun tumbuh di hatinya. Kartini merasa tergugah dan bertekad untuk
merubah nasib kaumnya. Tekadnya semakin lama semakin kuat.
3. Masa Dewasa R.A Kartini
Setelah dipingit dari usia 15 tahun , R.A Kartini akhirnya menikah pada usia
24 tahun . Tanggal 12 November 1903, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo
Adhiningrat memperistrinya. Namun sayangnya Kartini bukanlah sebagai
istri pertama, melainkan sebagai istri keempat dari Bupati Rembang
tersebut.
Ternyata Suami Kartini bisa mengerti jalan pikiran Kartini . Suaminya pun
mendukung keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Keinginan
Kartini pun semakin menguat terpatri dalam sanubarinya. Dia tak dapat
membendung lagi keinginan membebaskan para wanita.
Sayangnya, takdir berkata lain. Kartini tak bisa berjuang lebih lama dalam
mengangkat harkat derajat wanita karena Kartini wafat di usia 25 tahun. 4
hari setelah melahirkan putra semata wayang, RM Soesalit
Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904, Kartini
menghembuskan nafas terakhirnya.
Kematian Kartini cukup mengejutkan karena selama masa hamil dan
melahirkan Kartini tampak sehat walafiat. Tak ada yang menyangka jika
Kartini akan wafat di usia muda. Banyak mimpinya yang belum sempat
tercapai tentunya.
Untunglah 8 tahun kemudian, tepat di tahun 1912, Sekolah Kartini
dibangun yang oleh Yayasan Kartini di Semarang. Adalah oleh keluarga
Van Deventer, tokoh Politik Etis kala itu yang menggagas Pembangunan
sekolah tersebut . Tak lama pembangunan pun tersebar Yogyakarta,
Malang, Madiun, Cirebon, dan beberapa daerah lain.
A. Surat-surat Yang dibuat R.A. Kartini
Tak disangka surat-surat Kartini pada sahabat-sahabatnya di Belanda
berhasil dikumpulkan oleh Jacques Henrij (J.H) Abendanon . J.H
Abendanon merupakan suami salah satu sahabat penanya Kartini, Rosa
Abendanon. Merekalah yang biasa dikirim surat oleh Kartini. Pada
merekalah Kartini biasa menyampaikan tulisannya.
Sekitar 115 surat yang terkumpul. Surat- surat itu adalah curahan hati
Kartini kepada para sahabatnya, antara lain:
1. Estelle H Zeehandelaar atau Stella (14 surat )
2. Ny Ovink-Soer (8 surat)
3.Prof dr GK Anton di Jena dan istrinya (3 surat )
4. Dr N Andriani (4 surat )
5. Ny HG de Booy-Boissevain (5 surat )
6. Ir HH van Kol (3 surat )
7. Ny N van Kol (3 surat )
8. Ny RM Abendanon-Mandri (49 surat)
9. Mr JH Abendanon (5 surat )
10.EC Abendanon (6 surat )
11. Suami-istri Abendanon (gabungan surat)
12. Satu surat belum bisa disimpulkan penerimanya
B. Pemikiran RA Kartini
Pemikiran milik RA Kartini mampu menarik banyak perhatian masyarakat
masa itu, khususnya kaum Belanda. Mereka tertarik pada surat-surat yang
ditujukan pada ke orang Eropa yang ternyata buah pemikiran wanita
pribumi.
Pemikiran RA Kartini mampu menggantikan pandangan masyarakat
Belanda pada wanita pribumi di masa itu. Merekapun angkat topi atas
pemikiran Kartini. Kartini dikagumi tidak hanya di dalam negeri, melainkan
hingga ke seluruh penjuru negeri.
C. Buku RA Kartini
Surat-surat yang selama ini sudah terkumpul oleh J.H. Abendanonlah yang
kemudian menjadi cikal bakan pencetakan buku dengan tajuk
awalnya “Door Duisternis tot Licht”.
Kemudian judulnya diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju
Cahaya” tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka, buku ini diterbitkan
hingga 5 kali. Yang menarik pada buku ini, pada cetakan kelima terdapat
lampiran surat-surat Kartini.
D. Kontroversi RA Kartini
Surat- surat yang dibuat Kartini paling banyak dikirim pada Sahabatnya,
Nyonya Rose Abendanon Mandri,istri dari J.H. Abendanon. J.H.
Abendanon, adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda.
Dialah yang memiliki peranan penting dalam penerbitan buku-buku Kartini.
Usia Kartini saat rajin berkirim surat itu 23 tahun. Kartini selalu
bersemangat menceritakan apa yang dilihat, dirasa dan dipikirkannya. Ia
memiliki kesempatan untuk duduk di bangku sekolah membuat pemikiran
Kartini luas dan terbuka. Kartini menuliskan semua yang dipikirkan dan
dirasakannya, termasuk membahas soal keintiman dan ras tiongkok.
Orang Tiongkok saat itu hanya dijadikan tameng oleh Belanda menghadapi
amarah pribumi dan juga dijadikan kambing hitam atas birokrasi yang
kacau. Karena dianggap membahayakan, beberapa surat tentang suku
Tiongkok akhirnya disensor oleh Abendanon.
Selain itu, Kartini juga membahas kebijakan pemerintahan Belanda dalam
menguasai perdagangan candu di Jawa. Kartini juga mengeluarkan kritikan
pedas atas kepindahan seorang residen dari Jepara. Surat inipun kembali
disensor oleh Abendanon karena dianggap tak layak untuk dibuka. Buku
Kartini dicetak pada masa politik Etis mulai bergulir, sementara Abendanon
dikenal sebagai pendukung politik etis. Banyak yang menduga adanya
rekayasa Abendanon dalam menyortir surat-surat Kartini.
Namun , Pada 1987,surat – surat lengkap kartini diterbitkan oleh Koninklijk
Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dengan judul ‘Kartini:
Brieven aan Mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en Haar Echtgenoot’
Ternyata Total ada sekitar 150 korespondensi.
Pada tahun 1989,terjemahan dalam Bahasa Indonesianya terbit. Dalam
buku itu terbongkarlah kenyataan bahwa Abendanon telah menyortir surat-
surat sebagai “sensitif” yang menurutnya tak layak untuk dilihat.
Bahkan beberapa surat juga sengaja di sobek di bagian tertentu,
khususnya surat-surat yang dianggapnya terlalu pedas atau menyudutkan
pemerintahan Belanda. Sementara surat-surat yang menurutnya aman
saja yang diterbitkan.
Tentu saja hal itu sangat disayangkan, karena kenyataannya surat -surat
Kartini
bukan hanya karena membahas dalam feminisme, seperti yang selama ini
diketahui banyak orang.Selain kontroversi surat-surat, penetapan Kartini
sebagai Pahlawan juga sempat mendapat pertentangan.
Banyak yang merasa Terlalu berlebihan jika Kartini dinobatkan sebagai
pahlawan nasional. Pertama, Kartini hanya berjuang di daerah Rembang
dan Jepara dan yang kedua, Kartini tak pernah berperang dengan
mengangkat senjata seperti Cut Nyak Dien atau Christina Martha Tiahahu
yang ikut turun ke medan perang.
Sikap pro poligami Kartini juga rasanya bertentangan dengan pemikirannya
sebagai penggiat emansipasi wanita.Namun pihak yang pro Kartini berhasil
meyakinkan bahwa perjuangan Kartini dalam menyuarakan persamaan
derajat wanita merupakan perjuangan Nasional.
Yang tak kalah kontroversi adalah kematian Kartini. Seperti yang sudah
kita ketahui, Kartini menghembuskan nafas setelah melahirkan.Hal ini
cukup mengherankan mengingat konon Kartini sehat selama hamil dan
setelah melahirkan.
Namun anehnya, di hari ke empat, Kartini menutup mata. Ada pihak yang
menduga Belanda membunuh Kartini lewat tangan Dr van Ravesteyn.
Pemikiran Kartini yang terbilang berani memojokkan Belanda, dan kartini
dianggap berbahaya. Beredar cerita bahwa di hari Kartini meninggal Dr van
Ravesteyn mengajaknya minum anggur sebagai tanda perpisahan.
Tak lama setelah itu, Kartini hilang kesadaran dan tak lama meregang
nyawa.Menurut pandangan dokter di masa kini, kondisi yang terjadi pada
Kartini adalah preeklampsia atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil.
Meskipun hal itu juga belum bisa dibuktikan dengan catatan kematian
Kartini entah ada di mana.
Pihak keluarga tak ada yang berusaha mencari penyebab kematian Kartini
dan menerima ini sebagai takdir.
F. Peringatan Hari kartini
Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan RA Kartini
sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Bukan hanya itu, Presiden
Soekarno menetapkan hari lahir RA Kartini pada tanggal 21 April untuk
diperingati sebagai Hari Kartini hingga sekarang.
Biografi Penulis
Sani Khoirunnisa atau biasa dipanggil Sani oleh orang-orang disekitarnya memiliki hobi
membaca buku dan bermain Hp. Ia lahir di Sukoharjo pada tanggal 28 Desember 2005.
Sani memiliki seorang kakak bernama Gilang Maulana yang belum menikah.
Ia pertama kali masuk sekolah di tahun 2012-2018 di SDN Depok Baru 04. Kemudian
setelah lulus melanjutkannya ke Pondok Pesantren Al-karimiyah dari tahun 2018-2021.
Dan kemudian melanjutkan sekolah lagi ke SMK Al-Muhtadin.