Daftar Isi
Petunjuk .............................................. i
Kompetensi ........................................... ii
Tujuan dan Aspek Penilaian ......................... iiii
Daftar Isi ........................................ iiiii
Peta Konsep ...................................... iiiiii
Pendahuluan ........................................... 1
Bagian Pertama ........................................ 3
A. Latar belakang dan Sejarah Gerakan Non-Blok ....... 3
B. Tujuan Gerakan Non-Blok ........................... 5
C. Peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok ............ 7
Evaluasi .......................................... 9
Bagian Kedua ......................................... 10
A. Latar belakang Asia Tenggara ..................... 10
B. Sejarah Perkembangan ASEAN ....................... 12
C. Peran Aktif Indonesia dalam Organisasi ASEAN ..... 14
Evaluasi ......................................... 16
Bagian Ketiga ........................................ 17
A. Kerjasama Utara-Selatan .......................... 17
B. Makna Persoalan Utara-Selatan .................... 20
C. Peran Indonesia dalam Kerjasama Utara-Selatan .... 25
Evaluasi ......................................... 27
Uji Kompetensi ....................................... 29
Daftar Pustaka
iiiii
Peran Indonesia di masa Perang
Dingin bidang politik dan ekonomi
Pendahuluan
Perang dunia kedua yang berakhir pada 1945, meninggalkan
dua kekuatan besar sebagai negara adidaya. Yakni Amerika
Serikat dan Uni Soviet, yang masing-masing memegang paham
yang berbeda antara liberalis-kapitalis dan sosialis-
komunis. Kedua negara adidaya ini saling bersaing satu
dengan yang lain dan masing-masing berusaha memperluas
pengaruhnya terhadap negara-negara di dunia. Meskipun
demikian, kedua negara memiliki kekuatan yang cukup
berimbang sehingga menyebabkan keduanya tidak dapat
memaksakan kehendak satu sama lain. Kedua belah pihak
dalam bersaing melibatkan berbagai negara dan tidak pernah
melaksanakan konflik terbuka secara langsung sehingga
menyebabkan periode ini dikenal dengan istilah perang
dingin. Hal ini terjadi karena negara-negara kecil
tersebut berkecenderungan mencari perlindungan keamanan
dari negara-negara yang mereka anggap kuat dan mampu
melindungi serta punya pengaruh. Kondisi itulah yang
justru memicu terjadinya konflik-konflik regional di
kalangan negara-negara kecil yang sedang berkembang.
Kondisi perang dingin dicirikan oleh perlombaan senjata,
pengembangan senjata nuklir, pendirian aliansi militer,
dan naiknya belanja persenjataan suatu negara.
Perang dingin sendiri tidak pernah naik eskalasi
menjadi perang dunia ketiga hingga runtuhnya Uni Soviet
pada 1991. Meskipun demikian, perang dingin memicu
berbagai konflik dan permasalahan di seluruh dunia. Hal
1
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
itu menyebabkan negara dunia ketiga menjadi sasaran empuk
medan perang tidak langsung antara Uni Soviet melawan
Amerika Serikat. Indonesia sebagai salah satu negara yang
tidak memihak dua belah pihak melalui politik bebas aktif
menganggap bahwa sudah seharusnya setiap negara memiliki
kebebasan dalam berbagai hal. Sehingga memicu berbagai
kontribusi dan peran Indonesia guna mengurangi ketegangan
dan permasalahan di masa perang dingin.
2
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Bagian Pertama
Peran Aktif Bangsa Indonesia dalam
Keikutsertaan sebagai Anggota Gerakan Non-
Blok
A. Latar Belakang dan Sejarah Gerakan Non-Blok
Perang dingin yang terjadi di dipertengahan abad ke-
20 M, menyebabkan munculnya persaingan antar dua blok
besar. Blok Barat (NATO) yang dipimpin oleh Amerika
Serikat, melawan Blok Timur (Pakta Warsawa) yang dipimpin
oleh Uni Soviet. Baik Blok Barat maupun Blok Timur
berupaya untuk dukungan dari negara – negara lain. Untuk
mencegah negara–negara yang tidak ikut masuk, sekaligus
mencegah negara berkembang agar tidak terkena pengaruh,
maka didirikanlah sebuah organisasi Gerakan Non-Blok
(GNB).
GNB didirikan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I
GNB di Beograd, Yugoslavia pada 1-6 September 1961.
Konferensi ini dihadiri oleh 25 negara dari berbagai
belahan dunia diantaranya Afghanistan, Algeria, Yaman,
Myanmar, Kamboja, Sri Lanka, Kongo, Kuba, Siprus, Mesir,
Ethiopia, Ghana, Guinea, India, Indonesia, Irak, Lebanon,
Mali, Maroko, Nepal, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah,
Tunisia, dan Yugoslavia. GNB sendiri muncul diawali oleh
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia – Afrika 1955 di
Bandung. Dimana negara – negara yang baru berdiri dan
tidak berpihak mendeklarasikan keinginan untuk tidak
terlibat dalam konfrontasi ideologi Blok Barat dan Blok
Timur. Dan menghasilkan Dasasila Bandung yang menjadi
3
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
semangat dari pembentukan GNB. GNB sendiri diprakarsai
oleh 5 tokoh, diantaranya:
a. Josep Broz Tito, Presiden Yugoslavia;
b. Sukarno, Presiden Indonesia;
c. Pandit Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India;
d. Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir;
e. Kwame Nkrumah dari Ghana.
Kata “Non-Blok” muncul dan dipaparkan pertama kali
oleh Pandit Jawaharlal Nehru(Perdana Menteri India) di
pidatonya saat menghadiri Konferensi Colombo pada 1954 di
Colombo, Sri Lanka. Dalam pidatonya, Nehru mengungkapkan
lima pilar yang dapat dijadikan pedoman untuk membentuk
hubungan Sino-India yang disebut dengan Panchsheel (Lima
Pengendali). Lima pilar tersebut kemudian dijadikan
sebagai prinsip dasar GNB, yaitu :
a. Saling menghormati integritas teritorial dan
kedaulatan;
b. Perjanjian non-agresi (perjanjian tanpa perang);
c. Tidak melakukan intervensi urusan dalam negeri
negara lain;
d. Setara dan saling menguntungkan;
e. Menjaga perdamaian.
KTT pertama GNB pada 1961 di Gambar 1.1 Lambang GNB
Beograd, Yugoslavia selain menandai
berdirinya GNB juga sekaligus Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-
mendaulat Josep Broz Tito menjadi wT4IYut1l0E/UDelej9PRTI/AAAAAAA
pimpinan pertama dari Gerakan Non- AGns/nzwkajBYGWQ/s1600/LOGO+
Blok. Setelah itu, GNB terus KTT+NON+BLOK+XVI.png
berkembang dan meningkat jumlah
anggotanya serta melakukan berbagai
KTT hingga saat ini. Gerakan Non-Blok
sendiri akhirnya mengalami kemundurun
4
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
pada 1979, dimana saat itu Uni Soviet
menginvasi Afghanistan dan membuat
GNB tidak dapat melakukan apapun
mengingat adanya perjanjian non-
intervensi.
Lambang Gerakan Non-Blok didominasi oleh gambar
burung merpati. Logo GNB berubah-ubah setiap akan
diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi. Meskipun
demikian gambar merpati selalu ada dan memiliki makna
cinta damai, turut menciptakan perdamaian di dunia tanpa
ada perpecahan dengan semangat cinta kasih yang kuat.
B. Tujuan Gerakan Non-Blok
Tujuan GNB tercantum dalam Deklarasi Hanava tahun 1979,
yaitu untuk menjamin “kemerdekaan, kedaulatan, integritas
teritorial nasional, dan keamanan dari negara–negara Non-
Blok” dalam perjuangan menentang berbagai bentuk
imperialisme, kolonialisme dan dominasi negara lain dan
membentuk kerjasama internasional berdasarkan persamaan
hak.
Tujuan Gerakan Non-Blok dapat dijabarkan menjadi tiga
poin, diantaranya sebagai berikut:
a. Turut serta meredakan ketegangan akibat adanya
konflik dari dua blok besar (NATO dan Pakta Warsawa) di
masa perang dingin
b. Mencegah pengaruh negatif yang diberikan oleh Blok
Barat dan Blok Timur kepada negara – negara anggota
Gerakan Non-Blok
c. Meningkatkan rasa solidaritas negara-negara Gerakan
Non-Blok melalui persamaan, kesetaraan, kemerdekaan, dan
kemakmuran.
5
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Apabila dijabarkan lebih lanjut, tujuan dari GNB dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Menjaga Perdamaian Dunia
Gerakan Non-Blok ditujukan untuk menjaga perdamaian
dunia. perang dingin menyebabkan kedua blok berusaha
untuk terus memperluas wilayah pengaruh ideologinya.
Akibatnya, perdamaian dunia terus terusik. Banyak cara-
cara yang digunakan oleh Blok Barat dan Blok Timur untuk
menanamkan ideologinya, baik dengan cara terang-terangan
atau secara sembunyi-sembunyi seperti mengirimkan mata-
mata. Gerakan Non-Blok diharapkan negara yang terkena
pengaruh dari kedua blok tersebut dapat diminimalkan
sehingga pihak yang ikut serta dalam perang tidak
bertambah banyak dan perdamaian dunia dapat terjaga.
2. Menjamin Kemerdekaan dan Kedaulatan serta Kesatuan
Wilayah Negara Anggota
Gerakan Non-Blok ialah menjamin kemerdekaan, kedaulatan
dan kesatuan wilayah dari negara anggota. Ada berbagai
program yang dilakukan dalam rangka menjamin ketiga hal
tersebut. sebut saja kerja sama internasional di bidang
militer seperti mengadakan pelatihan bersama untuk
mempertahankan wilayah perairannya.
Dengan adanya tujuan ini, maka di antara negara anggota
yang satu dengan negara anggota yang lainnya tidak
diperkenankan untuk saling menyerang karena hal ini dapat
mengganggu pelaksanaan kedaulatan rakyat dan kemerdekaan
negara yang terkait. Di sisi lain, hal ini juga dapat
memecah kesatuan wilayah dari negara anggota yang
diserang.
3. Menentang Segala Bentuk Penjajahan
6
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Gerakan Non-Blok ditujukan di dunia yaitu menentang
segala bentuk penjajahan yang ada di dunia. penjajahan
yang dimaksud seperti kolonialisme, imperialisme, neo-
kolonialisme, rasisme, apartheid, dan setiap bentuk
penyerangan atau agresi militer, dominasi negara asing,
pendudukan, dan intervensi negara lain terhadap urusan
dalam negeri. Segala hal tersebut harus ditentang agar
perdamaian dapat tercipta.
4. Menentang Segala Bentuk Blok Politik
Gerakan Non-Blok menentang segala bentuk blok politik
dalam artian setiap negara anggota tidak akan memihak ke
dalam salah satu blok yang melakukan perang dingin
sehingga dampak perang tidak semakin besar dan perdamaian
dunia dapat senantiasa terjaga.
5. Menjaga Keamanan Negara-Negara Anggota
Gerakan Non-Blok menjaga keamanan dari negara-negara
anggota. Tujuan ini sangat penting karena keamanan
merupakan salah satu hal yang harus senantiasa dijaga
agar setiap warga negara dapat menjalankan kehidupannya
dengan tenang dan nyaman.
C. Peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok
Indonesia memandang GNB sebagai hal yang penting,
mengingat Indonesia merupakan salah satu pendiri dan
berperan besar dalam pendiriannya. Hal itu dapat dilihat
dalam konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjadi cikal bakal
gagasan dan pendirian dari GNB. Tujuan dan prinsip GNB
dinilai sebagai sebuah refleksi dari perjuangan dan tujuan
bangsa Indonesia sesuai dengan UUD 1945.
Beberapa peran Indonesia dalam GNB dapat dijelaskan secara
berikut:
7
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
a. Merupakan negara pemrakarsa Gerakan Non-Blok, dimana
GNB bermula dari Konferensi Asia-Afrika yang digelar
di Bandung pada 1955
b. Sebagai salah satu negara yang mengajak berbagai
negara lain untuk mengikuti KTT GNB pertama.
c. Menjadi ketua GNB periode 1992-1995, dan menjadikan
Jakarta tuan rumah dalam KTT X GNB dengan 106 negara
mengikuti.
d. Indonesia turut serta dalam memecahkan permasalahan
perdamaian, HAM, dan permasalahan ekonomi dengan
didasarkan pada keadilan. Dimana Indonesia memandang
GNB sebagai sebuah tempat untuk merealisasikan
perjuangan dan cita-cita negara berkembang.
Gambar 1.2 Negara anggota dan peninjau GNB
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Non-Blok
Sehingga Indonesia pada dasarnya memiliki kontribusi
yang besar dan menganggap GNB sebagai sebuah pergerakan
yang sangat penting. Dengan mengacu pada KAA di Bandung
1955, gerakan Non-Blok menjadi sebuah istilah dan sebutan
bagi bangsa-bangsa yang tidak memihak dala konfrontasi
ideologis Blok Barat dan Blok Timur serta memberikan ruang
bagi negara berkembang untuk fokus dalam berjuang
memajukan negaranya.
Setelah perang dingin berakhir, GNB mengalami
perubahan maksud dan tujuan. Hal itu karena pada 1961,
8
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
sebuah gerakan yang tidak memihak blok manapun merupakan
sesuatu yang sangat revelan dan dibutuhkan guna melindungi
negara-negara netral yang tidak ingin terlibat konflik.
Meskipun demikian, kondisi saat ini berbeda sehingga GNB
memberikan perubahan dalam maksud dan tujuannya sebagai
bentuk kerjasama dalam memperjuangkan “tata dunia yang
lebih adil”. Dengan menghadapi berbagai isu-isu baru yang
banyak dihadapi oleh negara berkembang. Sehingga pada
akhirnya GNB menjadi sebuah bentuk upaya perjuangan bagi
negara-negara berkembang untuk menjadi lebih maju.
Evaluasi
1. Sebutkan 5 tokoh yang memprakarsai GNB?
2. Sebutkan 5 Pilar prinsip dasar GNB?
3. Jelaskan tujuan didirikannya GNB?
4. Jelaskan peran Indonesia di dalam GNB?
5. Menurut kalian apakah GNB masih relevan pada saat ini?
Scan kode QR untuk Lembar Jawaban Siswa
9
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Bagian Kedua
Peran Aktif Bangsa Indonesia dalam
Kedudukannya Sebagai Anggota ASEAN
A. Latar Belakang Asia Tenggara
Sejarah mencatat bagian timur dunia merupakan negara-
negara yang banyak mengalami penjajahan. Begitu pula Asia
Tenggara yang selama berabad-abad menjadi wilayah yang
menjadi jalur perdagangan dunia, karena menjadi jalur yang
menghubungkan perdagangan China dan India membuat negara
di wilayah Asia Tenggara banyak dilirik oleh negara-negara
di Eropa. Terlebih lagi wilayah Asia Tenggara khususnya
Indonesia merupakan wilayah peghasil rempah-rempah, kayu
cendana, obat-obatan dan produk tropis lainnya, menjadikan
wilayah ini sebagai sasaran negara-negara Eropa untuk
memenuhi kebutuhan yang tidak ada di negara mereka.
Komoditas yang sangat dicari serta harga yang melambung
tinggi membuat bangsa Eropa mencari cara agar terhubung
langsung oleh negara-negara di Asia Tenggara yang
menghasilkan komoditas tersebut. Jalur perdagangan laut
semakin ramai sejak runtuhnya konstantinopel oleh Turki
pada 1453 M. Dengan adanya jalur perdagangan laut, suplai
komoditas yang dibutuhkan di Eropa tetap berjalan.
Masyarakat Asia Tengara sendiri mengalami
perkembangan berabad-abad yang menghasilkan kebudayaan
yang kompleks serta berbeda tingkatannya. Kebudayaan
tersebut masih dipengaruhi oleh kebudayaan dari India dan
Cina. Sistem penghasilan kerajaan yang berkembang di
wilayah Asia Tengara dikelompokkan menjadi dua bentuk
kerajaan yakni kerajaan maritim yang menyandarkan
penghasilannya pada perdagangan laut seperti Kerajaan
Sriwijaya dan Kerajaan Malaka. Dan kerajaan agraris yang
10
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
menjadikan kegiatan pertanian sebagai kegiatan ekonomi
utama, kerajaan berbasis agraris seperti kerajaan Van Lang
(Viet Nam) yang terletak di delta sungai Merah (Red Rioe)
dan Kerafaan Khmer yang terletak sekitar Tonle Sap.
Dimulainya pendudukan bangsa Eropa sejak Abad XIV.
Bangsa Eropa yang menginjakkan kaki pertama kali di Asia
Tenggara yakni bangsa Portugis pada tahun 1511 M. Disusul
oleh Belanda yang membawa kongsi dagangnya yakni VOC yang
menjajah wilayah Asia Tenggara khususnya di wilayah
Indonesia, kemudian disusul oleh kedatangan Inggris dengan
perusahaan dagangnya The East India Company. Wilayah Asia
tenggara menjadi jalur perdagangan dari Cina ke India
ataupun sebaliknya. Hal tersebut menjadikan bangsa eropa
sangat tertarik pada wilayah Asia Tenggara selain dari
hasil bumi yang melimpah juga ramai sebagai lalulintas
perdagangan. Sampai pada tahun 1942-1945 Jepang menguasai
Asia Tenggara. Dan setelah pendudukan Jepang pada 1945,
negara Indonesia dan Vietnam menjadi negara pertama yang
menyatakan kemerdekaannya walaupun pengakuan kemerdekaan
Belanda terhadap Indonesia baru terjadi pada 1949 dan
Prancis terhadap Vietnam terjadi pada 1954. Perkembangan
selanjutnya kemerdekaan negara-negara di Asia Tenggara
telah didapatkan dan pembentukan organisasi regional
dirasa sangat dibutuhkan sebagai wadah untuk mediskusikan
dan menyelesaikan masalah regional yang dapat memicu
konflik. Sebelum ASEAN, terdapat 2 organisasi yang
dibentuk namun tidak dapat bertahan lama yaitu,
ASA(Association of Southeast Asia) yang terdiri dari
Filiphina, Thailand dan Malaya yang dibentuk pada 1961 dan
dibubarkan pada 1963 serta Maphilindo yang terdiri dari
Malaya, Filiphina dan Indonesia yang dibentuk pada 1963
dan dibubarkan satu bulan setelahnya.
ASEAN merupakan organisasi regional yang terbentuk
di wilayah Asia Tenggara beranggotakan 10 negara-negara
11
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
di Asia Tenggara. ASEAN sendiri pertama digagas oleh lima
negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filiphina dan
Thailand. Tuiuan berdirinya ASEAN adalah meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya di antara negara-
negara anggota, meniaga perdamaian dan stabilitas kawasan,
serta sebagai forum untuk menyelesaikan berbagai masalah
negara anggota secara damai Luas wilayah ASEAN adalah 4,46
juta km² atau 3 persen dari total daratan di seluruh dunia,
dan mempunyai penduduk sekitar 600 iua jiwa atau 8,8
perseo dari penduduk dunia. Adapun bahasa Pengantar ASEAN
adalah bahasa inggris, dan kantor pusatnya berada di
Jakarta, Indonesia.
B. Sejarah Perkembangan ASEAN
Berikut ini merupakan arti dari Lambang ASEAN :
1. Biru memiliki arti
Perdamaian dan Stabilitas
2. Merah memiliki arti
Semangat dan Kedinamisan
3. Putih memiliki arti
Kesucian
4. Kuning memiliki arti
Kemakmuran
Gambar 2.1 Logo ASEAN 5. Ikatan Rumpun Padi
memiliki arti Persahabatan
Sumber: dan Kesetiakawanan Sosial
http://2.bp.blogspot.com/M1SP9jM68eg/
VAPq3T67qgI/AAAAAAAAAHk/- 6. Lingkaran memiliki arti
fPQyr5_ga0/s1600/asean-logo.gif Kesatuan
ASEAN pertama kali dibentuk pada 8 Agustus 1967 yaitu
dengan dihasilkannya deklarasi Bangkok atau Deklarasi
12
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
ASEAN. Negara-negara penggagas dibentuknya organisasi
regional ini diwakilkan oleh menteri luar negerinya yaitu:
1. Adam Malik (menteri luar negeri Indonesia)
2. Tun Abdul Razak (wakil perdana menteri
Malaysia)
3. Narciso Ramos (menteri luar negeri Filipina)
4. S. Rajaratnam (menteri luar negeri Singapura)
5. Thanat Khoman (menteri luar negeri Thailand)
diawal pembentukannya ASEAN Selanjutnya negara-
negara di Asia Tenggara bergabung seperti Brunei
Darussalam bergabung pada 7 Januari 1984, disusul negara-
negara di wilayah Indocina yakni Vietnam pada 28 Juli
1995, Laos & Myanmar 23 Juli 1997, dan Kamboja 16 Desember
1998.
Diawal terbentunya, organisasi ASEAN menerima banyak
cobaan untuk menjaga hubungan baik di antara anggotanya.
Berbagai peristiwa yang mengancam keutuhan organisasi
terus berdatangan baik itu berupa ancaman keamanan maupun
isu-isu lain yang memperkeruh suasana. Menurut pembukaan
Deklarasi Bangkok 1967, negara pendiri ASEAN telah
meletakkan landasan yang kuat bagi setiap tindakan untuk
meningkatkan keriasama regional di Asia Tenggara dengan
semangat persamaan dan persahabatan, serta berkontribusi
terhadap perdamaian, kemaiuan, dan keseiahteraan di
kawasan. Caranya, memelihara kesepahaman dan bertetangga
yang baik, serta memahami pentingnya keriasama antara
negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang sebenarnya
sudah saling terikat baik secara historis maupun budaya.
13
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Catatan:
• Brunei Darussalam secara resmi diterima meniadi anggota ASEAN ke-6 pada Januari
1984 dalam siding Khusus Menteri-Menteri Luar Negeri ASEAN di Jakarta.
• Vietnam diterima menjadi anggota ASEAN ke-dalam pertemuan para Menteri Luar
Negeri (AMM) ke-28 pada 29-30 Juli 1995 di Bandar Seri Begawan.
• Laos dan Myanmar diterima sebagai anggota penuh ASEAN melalui suatu upacara resmi
pada tanggal 23 Juli 1997 dalam rangkaian Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN
(AMM) ke-30 di subang Jaya' Malaysia' tanggal 23-28 Juli 1997
• Kamboia diterima sebagai anggota penuh ASEAN pada KTT ASEAN VI di Hanoi tanggal
15-16 Desember 1998. Dengan demikian, cita-cita para pendiri ASEAN untuk mewuiudkan
ASEAN yang mencakup seluruh negara kawasan Asia Tenggara telah tercapai.
C. Peran Aktif Indonesia dalam Organisasi ASEAN
Peran Indonesia baik di kawasan Asia Tenggara maupun
dalam organisasi ASEAN dapat dilihat di berbagai bidang.
Berikut akan diuraikan peran aktif Indonesia di Asia
Tenggara dalam beberapa bidang:
1.Pada periode awal, Indonesia sebagai salah satu perintis
berdirinya organisasi ASEAN. Cita-cita untuk merintis
perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan wilayah Asia
Tenggara, menjadikan Indonesia berperan menghidupkan
organisasi ASEAN dan menjaga kestabilan, keamanan serta
kesejahteraan hingga sekarang.
2.Dibidang politik, Indonesia berperan aktif dalam
pelaksanaan secara bertahap kawasan perdagangan bebas
ASEAN (AFTA), aktif dalam peberantasan narkotika dan
obat terlarang, melakukan perjanjian ekstradisi dalam
penanganan tahanan atau penjahat di kawasan ASEAN, dan
dengan maraknya kasus kekerasan dan terorisme Indonesia
ikut berperan aktif dalam ASEAN dan mitra wicara melalui
Convention on Counter Terrorism (ACCT) dan ASEAN
Political and Security Community Blueprint (APSC) 2027
sebagai landasan penting dalam membangun Masyarakat
ASEAN yang lebih aman dan stabil.
14
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
3.Dibidang pendidikan Indonesia merupakan anggota SEAMEO
dengan Regional Center atau institusi khusus terbanyak
di antara negara anggota ASEAN lainnya. Regional Center
ini memberikan pelatihan dan penelitian dibidang
pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, Indonesia juga
berperan dalam pembentukan dan kerjasama ASEAN Committee
on Science and Technology (ASEAN COST) yang bertujuan
memberikan dukungan bagi kegiatan Riset serta
Pengembangan Iptek dan Inovasi Nasional ASEAN (Iptekin
ASEAN), mengajak mahasiswa untuk bergerak dalam
pembangunan Masyarakat Politik Keamanan ASEAN, dan
Indonesia berperan dalam ASEAN University Network (AUN)
untuk meningkatkan kualitas pendidikan di perguruan
tinggi.
4.Dalam bidang politik Indonesia terbilang memiliki cukup
banyak peran aktif untuk pengembangan ekonomi di wilayah
Asia Tenggara seperti, peran aktif Indonesia dalam
program MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), ikut mendorong
kerjasama ekonomi ASEAN dengan negara mitra strategis
seperti Kanada, Amerika Serikat, Rusia, Australia,
China, Jepang, Korea Selatan, India dan Selandia Baru.
Serta masih banyak kerjasama dan kesepakatan yang
diikuti Indonesia untuk mengembangkan ekonomi ASEAN.
5.Dibidang sosial budaya Indonesia
berperan dalam child protection
system untuk menjaga hak-hak anak
dalam lingkup ASEAN, Indonesia
juga berperan dalam Committee for
the ASEAN Socio-Cultural Community Gambar 2.2 Logo MEA
(SOCA) ke 25 di Singapura yang
membahas tentang budaya perdamaian Sumber:
dan tolerasi, target pilar http://1.bp.blogspot.com/-
penjaminan hak-hak penyandang fV9lawCFr8/VpFc40gx6I/AAA
AAAAAFAg/ejMR6AdAJQM/s
1600/MEA.jpg
disabilitas, Indonesia berperan
15
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
dalam ASEAN Committee on Culture and Information (ASEAN-
COCI) yakni guna mempromosikan kerjasama di sektor
budaya dan penerangan untuk menciptakan sikap saling
pengertian dan kesetiakawanan di antara masyarakat ASEAN
dan masih banyak lagi.
Evaluasi
1. ASEAN digagas oleh 5 negara. Sebutkan 5 negara pendiri
ASEAN?
2. Sebutkan wakil dari 5 pendiri ASEAN tersebut?
3. Jelaskan tujuan didirikannya ASEAN?
4. Jelaskan arti dari lambang ASEAN?
5. Jelaskan peran aktif Indonesia dalam organisasi ASEAN?
Scan kode QR untuk Lembar Jawaban Siswa
16
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Bagian Ketiga
Peran Aktif Bangsa Indonesia dalam Kerjasama
Negara-Negara Kawasan Utara dan Selatan
A. Kerjasama Utara-Selatan
Istilah kawasan Utara dan Selatan ini lebih memiliki
makna ekonomis bukan geografis. Apa maksudnya? Maksudnya
itu, dalam kedua kawasan tersebut, terdapat pengelompokan
beberapa negara. Seperti kawasan Utara, negara-negara yang
masuk ke dalam kawasan itu adalah negara-negara maju yang
secara geografis terletak di Eropa Barat, Amerika, dan
Kanada. Sedangkan beberapa negara yang masuk ke dalam
kawasan Selatan adalah negara-negara berkembang yang
secara geografis terletak di wilayah Asia, Afrika, dan
Amerika Latin.
Utara” adalah sebutan politis-populer yang sekarang
banyak dipakai untuk mengartikan negara-negara maju dan
industri. Yakni Amerika Utara, negara-negara Eropa, dan
Jepang. Yang terkemuka dalam hubungan politik ekonomi
adalah Amerika Serikat, Jerman Barat, lnggeris, Perancis,
dan Jepang. Yang sering mengambil sikap agak keras adalah
Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris. Perancis
sering mempunyai sikap tersendiri, kadang-kadang
menguntungkan negara-negara Selatan. Pemimpin-pemimpin
majelis Ekonomi Eropa yang herkedudukan di Brussel, yang
di kemudian hari merupakan pelopor dari pemerintahan
Eropa, sering mempunyai pandangan tersendiri yang dalam
dialog Utara-Selatan ini lebih maju, akan tetapi kekuatan
politik yang dapat melaksanakan sesuatu tetap ada di
ibukota masing-masing negara, seperti Berlin, London,
Paris.
17
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Negara-negara kawasan Utara ini tergabung dalam Group
of Seven (G-7), ada Amerika Serikat, Inggris, Kanada,
Prancis, Italia, Jerman, dan satu negara Asia yang masuk
ke dalamnya adalah Jepang. Kalau kawasan Selatan, negara-
negaranya tergabung ke dalam kelompok 77 (G-77), seperti
yang sudah disebutkan di atas yaitu negara-negara
berkembang seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, dan
lainnya.
Selatan” adalah sebutan politis-populer bagi
negara-negara yang sedang berkernbang. lstilah populer
lain adalah Dunia Ketiga. Dunia Pertama adalah negara-
negara industri, dan Dunia Kedua adalah negara-negara
dengan sistim sosialis. Negara-negara Selatan untuk
menyusun suatu front perjuangan ekonomi, telah bergabung
dalam Group-77. Walaupun sekarang jumlah negara-anggota
sudah banyak melebihi 100. Group-77 ini berjuang dalam
gelanggang UNCTAD. Negara-negara dari Dunia Ketiga ini
juga mempunyai forum politik, yakni gelanggang non-blok,
dimana negara-negara berkembang yang sosialis juga ikut.
lstilah ini mempunyai akar sejarah "Barat" dan "Timur"
adalah istihh-istilah untuk negara-negara Barat yang
sistem ekonominya kapitalis (atau "free enterprise
economy") dan sistem politiknya demokrasi parlementer
serta negara-negnra Timur yang sistem politik dan
ekonominya adalah sosialis-marxis.
Kerjasama kawasan Utara dan Selatan itu adalah kerja
sama antara negara maju dan negara berkembang Squad.
Hubungan kerjasamanya diawali sejak diadakannya pertemuan
antara negara produsen minyak dengan negara-negara
konsumennya. Kapan pertemuannya digelar? Pertemuannya itu
digelar pada tanggal 7 April tahun 1975 di kota Paris,
Prancis.
Pertemuan yang diprakarsai oleh Amerika Serikat dan
Prancis ini dilanjutkan dengan Konferensi Kerja Sama
18
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Ekonomi Internasional yang diadakan pada tanggal 16-18
Desember 1975 di kota yang sama. Pertemuan inilah yang
kemudian dikenal sebagai kerja sama Utara-Selatan. Tujuan
kerja sama ini adalah:
• Menghormati hubungan antara negara-negara industri
(kawasan Utara) dengan negara-negara berkembang
(kawasan Selatan)
• Mengikutsertakan negara-negara berkembang dalam
perundingan perekonomian dunia.
• Membagi keuntungan secara adil dari diadakannya
perdagangan internasional
Kemudian pada tahun 1979, jumlah negara berkembang semakin
banyak, mencapai 150 negara pada tahun itu. Melihat hal
itu, PBB kemudian membentuk United Nations Conference on
Trade and Development (UNCTAD). Organisasi tersebut
dibentuk untuk menjalin kerja sama dalam kebijakan ekonomi
ataupun perdagangan antara negara-negara di dunia agar
menguntungkan semua pihak. Semua istilah-istilah ini
berasal dari negara-negara Barat, jadi mempunyai konotasi
politis mereka. Walaupun demikian istilah-istilah ini
cukup banyak dipakai juga oleh sarjana-sarjana dan
diplomat-diplomat dari negara-negara yang berkembang.
Di teori perkembangan ekonomi disebut gejala bahwa
bagian utara dari sesuatu negeri lebih maju dari bagian
selatannya, walaupun ini mungkin kebetulan saja. Contohnya
adalah : Amerika Serikat bagian utara dalam sejarah lebih
maju daripada bagian selatannya; Italia utara demikian
pula terhadap Italia selatan; Eropa utara lebih maju
daripada Eropa selatan ; dan sebagainya. Negara-negara
industri yang sudah maju sekali, yakni : Amerika, negara-
negara Eropa, dan Jepang ada di bagian utara, sedang
negara-negara yang berkembang ada di selatan mereka. Barat
dan Timur mengingat letaknya Amerika dan Eropa (di sebelah
barat) dan Uni Soviet dan RRC (di sebelah timur).
19
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Masalah Barat dan Timur biasanya adalah masalah
politik, masalah perimbangan kekuatan dunia, dan masalah
keamanan dan perdamaian dunia (yang banyak tergantung dari
perimbangan kekuatan dari super-power itu). Masalah Utara-
Selatan adalah masalah ekonomi, masalah pejuangan ekonomi
dari negara-negara yang berkembang ini terhadap negara-
negara industri yang kaya. Negara-negara Selatan dan Utara
ini pada umumnya terikat didalam suatu sistem perdagangan
dunia yang akarnya adalah dalam masa kolonial, di mana
kekuatan pasar ada di tangan negara-negara Utara atau
negara-negara Metropolitan. Walaupun negara-negara
berkembang kini sudah merdeka namun sistem ekonominya
belum sempuma dan masih banyak tergantung pada negara-
negara industri. Negara-negara Barat dan Timur tidak
banyak terikat pada suatu sistem perdagangan dunia
bersama, sehingga interaksinya lebih banyak di bidang
politik dan militer.
B. Makna Persoalan Utara-Selatan
Negara-negara Selatan yang kurang maju atau
berkembang, sehingga tergolong negara-negara yang
penghasilannya masih rendah, merasa bahwa nasib demikian
disebabkan oleh sejarah politik dunia yang diliputi oleh
kolonialisme. Daerah-daerah jajahan dieksploitir oleh
kapitalisme dari negeri metropolitan, seiring dengan
kedudukan monopoli yang dilindungi oleh kekuatan politik
dan militer. Proses-proses perkembangan dan kemajuan
sosial dan ekonomi juga dihambat oleh kekuatan-kekuatan
ini. Daerah-daerah jajahan ini mendapat peranan sebagai
penghasil dan supplier dari bahan-bahan mentah dan menjadi
pasar (yang terlindungi) bagi industri di negeri
metropolitan. Hubungnn ekonomi demikian adalah hubungan
ketergantungan (dependence) yang bersifat "vertikal",
20
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
bukan hubungan interdependence yang ’horizontal" seperti
yang terjadi antara negara industri. Negara-negara Barat
dewasa ini sering menggunakan istilah "international
economic interdependance" untuk melukiskan hubungan
ekonomi Utara-Selatan, akan tetapi lstilah ini lebih
bersifat diplomatik dari pada kenyataan. Seperti juga
negara miskin sering disebut negara yang kurang
berkembang.
Kemiskinan dan kurang kemajuan dari negnra-negara
Selatan dalam sejarah disebabkan oleh kurangnya penanaman
modal, terutama dalam industri dan infrastrukstur. Juga
fasilitas-fasilitas Pendidikan dan kesehatan kurang
disediakan. Pertanian juga kurang perkembangan
produktivitasnya sehingga paling banyak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Keuntungan-
keuntungan dalam perdagangan internasional sering jatuh
di negara metropolitannya, dan perkembangan industri
sebagian besar terjadi di situ saja. Di daerah-daerah
jajahan memang ada sedikit perkembangan industri, terutama
dalam hal pengolahan bahan mineral dan pertanian, sering
hanya sampai bahan setengah jadi. Beberapa industri barang
konsumsi juga didirikan oleh usahawan-usahawan asing atau
non-pribumi, sehingga di dalam daerah jajahan ini juga
timbul gejala "Utara-Selatan", artinya jurang antara kaya
dan miskin, antara penduduk asing dan pribumi.
Dalam dunin sekarang yang tuntutan keadilan sosial
mulai berkumandang, maka persoalan Utara-Selatan ini
menjadi cukup pelik. Negara-negara Utara yang sudah maju
akan tetap maju. Walaupun negara-negara Selatan sekarang
juga cukup maju namun jurang perbedaan pendapatan (per
capita) sering tetap lebar dan malahan melebar. Kalau
pendapatan rata-rata per capita negara Utara misalnya $
2500 setahun dan negara Selatan $ 250, maka kalau masing-
21
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
masing meningkat dua kali dalam suatu periode (misalnya
15 tahun) pendapatan si ”kaya" menjadi $ 5000 dan si
"miskin" menjadi $ 500.
Dalam lima tahun. Kedua-duanya maju dengan kecepntan
yang sama, tetapi jurang dalam ukuran mutlak (uang) hanya
tambah lebar. Walaupun negara-negara Utara tumbuh setiap
tahun hanya 4% sedangkan negara-negara berkembang tumbuh
dengan rata-rata 8% setahun, maka jurang akan menyempit
akan tetapi dalam kurun waktu yang tetap lama. Baru kalau
angka pertumbuhan GNP negara-negara berkermbang berada di
atas 10% setahun untuk beberapa puluh tahun, maka ada
harapan yang cukup besar. seperti terlihat dalam proses
pengejaran Jepang Korea, Taiwan, Brazil, Mexico, dan
sebagainya. Negara-negara seperti Korea, Taiwan,
Hongkong, Singapore, Brazil, Mexico, dan sebagainya ini,
sekarang disebut ADC (Advanced Developing Countries) atau
Middle Income Countries. Kebanyakan negara berkembang
mencapai angka pertumbuhan paling tinggi 8% dan paling
rendah 4%. Indonesia mungkin 7%.
Untuk meningkatkan atau melanggengkan angka
pertumbuhan yang menengah maka negara-negara berkembang
ini memperjuangkan agar tata hubungan ekonomi dengan
negara-negara industri dirubah sehingga lebih
menguntungkan mereka. Negara-negara industri yang kaya
harus menyumbang dana-dana bantuan (foreign aid) lebih
banyak, sehingga dengan demikian dana-dana untuk penanaman
modal bagi negara-negara miskin lebih banyak tersedia.
Negara-negara Selatan ingin memperoleh penanaman modal
asing lebih banyak, akan tetapi perusahaan-perusahaan
multinasional harus lebih peka terhadap kepentingan-
kepentingan dari negara-negara tuan rumah ini. Negara-
negara industri yang kaya harus lebih membuka lebar
pasarnya bagi barang-barang yang diekspor dari negara
22
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
negara berkembang ini. Negara-negara industri yang kaya
harus menyetujui suatu pengaturan pemasaran komoditi
komoditi yang lebih menjamin kualitas harganya dan suatu
tingkat harga yang wajar sebagai balai jasa untuk
kontinuitas supply bahan mentah itu. Negara-negara kaya
harus mempertimbangkan untuk menghapuskan atau me-
reschedule hutang-hutang yang memberatkan negara-negara
miskin. Negara-negara kaya yang berindustri harus membantu
pelimpahan teknologi kepada negara-negara berkembang
secara lebih murah dan tanpa pembatasan-pembatasan yang
menciutkan pemasaran. Negara-negara kaya yang sampai
sekarang menguasai IMF dan Bank Dunia harus menyetujui
pembagian suara dan pengambilan keputusan yang lebih
menguntungkan negara-negara berkembang dan sebagainya.
Pada umumnya negara-negara Selatan ingin merubah tata
permainan ekonomi dunia, misalnya dalam perdagangan dunia.
dalam sistem moneter dunia (pembagian kekuasaan di IMF
, pembagian SDR), dalam sistem penanaman modal oleh
perusahaan-perusahaan multinasiona1, dan sebagainya.
Negara-negara Selatan juga menuntut kerelaan dan keamanan
politik dari negara-negara Utara yang lebih besar untuk
membantu perkembangan ekonomi negara-negara berkembang
itu. Sebagai jawabnya negara-negara Utara pada umumnya
ingin mempertahankan status quo dari tata permainan
ekonomi dunia dan hanya sekedar membantu lebih banyak
kesulitan-kesulitan ekonomi negara-negara berkembang.
Tata permainan ekonomi dunia ini adaiah berdasarkan”
Free trade” tanpa intervensi dari pemerintah-pemerintah
yang banyak. Doktrin free trade ini sebetulnya sudah usang
oleh karena negara-negara industri yang kaya ini sering
mengadakan tindakan-tindakan proteksi sendiri, terhadap
beberapa sektor ekonominya. misalnya pertanian, industri,
dan sebagainya. Dewasa ini, misalnya semangat
23
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
proteksionisme sedang tinggi di Eropa dan Amerika. Negara-
negara berkembang sebelumnya mengharapkan pelimpahan
dana-dana yang besar (massive resources transfer) dari
negara-negara industri yang kaya kepada negara-negara
berkembang untuk membantu menutup jurang kemakmuran antara
Utara dan Selatan itu, lewat perdagangan dunia, penanaman
modal swasta, bantuan internasional, bantuan teknis dan
teknologi, pengampunan hutang-hutang, dan sebagainya.
Negara-negara Utara pada umumnya masih segan berbuat
demikian.
Kadang-kadang tuntutan negara-negara Selatan ini
disebut suatu isu moral negara-negara Utara, yakni
mereka harus melunasi hutang budi karena "dosa-dosanya"
dalam zaman kolonial. Di antara kalangan masyarakat mereka
ada yang mengakui ini akan tetapi kebanyakan menolak
tuntutan moral ini. Kadang-kadang isu yang sama ini
ditafsirkan sebagai isu keadilan sosial. Kalau di dalam
suatu negara ada tuntutan keadilan sosial untuk meratakan
penghasilan nasional, maka di lingkungan internasional
sebetulnya wajar ada tuntutan yang serupa. Kesadaran
keadilan sosial secara internasional ini sekarang masih
lemah sekali, akan tetapi di masa yang akan datang dapat
tumbuh. Akhir-akhir ini ada pendapat-pendapat yang
progresif di dunia barat yang ingin melihat isu Utara-
Selatan ini sebagai keharusan untuk suatu kontrak-sosial
dunia, atau global bargaining, untuk menjamin agar hari
depan dunia ini cukup aman terhadap penggunaan kekayaan
alam, keamanan dan kesejahteraan dunia. Kalau di kemudian
hari dunia membutuhkan minyak bumi dan lain-lain kekayaan
alam yang jauh lebih banyak, dan sumber-sumber ini lebih
banyak terdapat di dunia bagian Selatan, maka mulai
sekarang sudah harus dipersiapkan suatu "perundingan"
untuk mengamankan supplynya. Di samping pendapat di dunia
24
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
barat yang progresif ini, masih banyak yang tidak percaya
bahwa dunia kelak akan kekurangan sumber-sumber alam ini
dan menyaksikan keperluan untuk suatu global bargaining
sekarang. Pada puncak krisis minyak, Dunia Ketiga telah
menunjukkan giginya lewat tindakan OPEC dan Dunia Barat
pada umumnya kaget dan mulai menyadari "interdependency"
dari Utara dan Selatan, akan tetapi sekarang ini kesadaran
demikian sudah agak luntur lagi. Walaupun demikian gagasan
"interdependency" tetap dipelihara di beberapa kalangan,
antara lain kalangan Pemerintah Federal Amerika Serikat.
Gambar 3.1 Daftar negara Utara-Selatan
Sumber: https://suciptoardi.files.wordpress.com
C. Peran Indonesia dalam Kerjasama Utara-Selatan
Peranan Indonesia mungkin tidak terlalu menonjol,
akan tetapi cukup penting. Politik luar negeri Indonesia
selama zaman Orde Baru ini lebih banyak ditujukan kepada
kepentingan-kepentingan pembangunan ekonomi dalam
negeri, yang memerlukan banyak bantuan multilateral dan
bilateral dari negeri-negeri sahabat. Setelah masalah
pembangunan ini cukup terkonsolidasikan, maka Indonesia
mampu untuk memainkan peranan intemasional yang lebih
umum. Kalau perkembangan ekonomi intemasional lebih
25
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
baik, maka ini akan menguntungkan pembangunan Indonesia.
kalau daerah sekitarnya (Asia Tenggara) sentosa maka ini
juga mengamankan pembangunan Indonesia. Indonesia sejak
sepuluh tahun ini memainkan peranan aktif secara
regional, dalam pembentukan ASEAN. Pada suatu waktu
ASEAN diminta oleh UNCTAD untuk memainkan peranan yang
aktif dalam perjuangan UNCTAD yang menyangkut Rencana
Komoditi yang Terpadu. ASEAN lalu memperjuangkan ini di
sidang UNCTA D di Nairobi. Indonesia lalu menjadi salah
satu peserta di Konferensi CIEF di Paris, sebagai negara
OPEC dan sebagai negara berkembang yang besar. Hubungan
Indonesia dengan negara-negara Barat dan Jepang baik
sekali, sehingga Indonesia mampu untuk mengambil peranan
penengah, suatu pengaruh moderat yang mencari
penyelesaian yang konstruktif, tanpa mengingkari
sasaran-sasaran perjuangan Group-77. Akar pengaruhnya
adalah dalam kedudukan (standing) ASEAN di percaturan
dunia, sebagai negara OPEC (suatu kumpulan negara yang
dikagumi), dan sebagai suatu negara yang berpenduduk
sangat besar (nomor lima di dunia). Kepentingan nasional
Indonesia terutama terletak dalam bidang bantuan luar
negeri, bidang komoditi dan bidang penanaman modal
internasional. Dalam tahun-tahun yang akan datang
Indonesia pasti berkepentingan pada terbukanya pasaran
di negara-negara maju kalau industrinya sudah mulai
mampu ekspor. Masalah hutang-hutang luar negeri sudah
diselesaikan sepuluh tahun yang lalu di Paris. Malahan
Indonesia menawarkan rumus rescheduling Paris ini
sebagai salah satu kemungkinan untuk diterapkan di lain-
lain negara.
Pada saat Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok
yang ke-X di Jakarta pada 1-7 September 1992, Indonesia
menjadi tuan rumah sekaligus ketua dari Gerakan Non-Blok.
26
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Pada saat itu, Indonesia mendorong kembali diadakannya
dialog antara kawasan Utara dan Selatan. Tujuannya itu
difokuskan pada masalah perdagangan barang komoditas
internasional.
Negara-negara di kawasan Selatan juga menginginkan
komposisi yang adil, sehingga dapat saling menguntungkan
dari penjualan komoditas tersebut. Nah, hal itu terangkum
dalam kerangka New Partnertship for Development atau
kemitraan bagi perkembangan. Sehingga, perlu juga
diadakannya dialog antara Selatan dengan Selatan.
Gambar 3.2 Informasi tambahan
Sumber: https://www.ruangguru.com
27
Evaluasi
1. Apa Yang dimaksud Kerjasama Utara Selatan?
2. Sebutkan ciri cirPieran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
A. Kawasan Utara
B. Kawasan Selatan
3. Jelaskan Tujuan Kerjasama Utara Selatan?
4. Jelaskan Peran Indonesia dalam Kerjasama Utara Selatan!
5. Jelaskan mengapa PBB membentuk United Nations Conference
on Trade and Development (UNCTAD)
Scan kode QR untuk Lembar Jawaban Siswa
28
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
Uji Kompetensi
1. ASEAN didirikan pertama kali atas prakarsa 5 negara di
kawasan Asia Tenggara, kapan organisasi ASEAN
didirikan?...
a. 8 Agustus 1967
b. 28 Juli 1995
c. 7 Januari 1987
d. 23 Juli 1985
2. ASEAN didirikan ditengah-tengah terjadinya perang
dingin, berikut tujuan dibentuknya ASEAN pada masa
perang dingin kecuali,..
a. Meningkatkan keriasama regional di Asia Tenggara
dengan semangat persamaan dan persahabatan
b. Berkontribusi terhadap perdamaian, kemaiuan, dan
kesejahteraan di kawasan
c. Menghimpun kekuatan untuk membantu salah satu pihak
pada masa perang dingin
d. Memelihara kesepahaman dan bertetangga yang baik,
serta memahami pentingnya keriasama antara negara-
negara di kawasan Asia Tenggara yang sebenarnya
sudah saling terikat baik secara historis maupun
budaya
3. Sebelum dibentuknya ASEAN terdapat 2 organisasi
regional yang serupa dibentuk namun mengalami kegagalan
yaitu,
a. ASA (Association of Souteast Asia) dan Maphilindo
b. SEATO (South East Asia Treaty Organization) dan
pakta warsawa
c. MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) dan SEATO
d. ASA (Association of Souteast Asia) dan MEA
(Masyarakat ekonomi ASEAN
29
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
4. KTT pertama GNB dilaksanakan di Beograd, Yugoslavia
yang menandai berdirinya GNB, Pemimpin GNB pertama yang
disahkan adalah...
a. Soekarno
b. Josep Broz Tito
c. Pandit Jawaharlal Nehru
d. Gamal Abdul Nasser
5. KTT pertama GNB dilaksanakan di Beograd Yugoslavia
pada...
a. 1-6 September 1961
b. 21-23 April 1961
c. 8-10 Agustus 1961
d. 3-6 September 1961
6. Tujuan didirikannya GNB salah satunya adalah turut
serta meredakan ketegangan akibat adanya konflik dari
dua blok besar, blok besar tersebut adalah blok barat
dan blok timur yakni,..
a. NATO dan Pakta Warsawa
b. NAZI dan SEATO
c. NATO dan SEATO
d. Pakta warsawa dan NAZI
7. Tokoh pemrakarsa GNB sebagai perwakilan dari negara
Ghana adalah...
a. Josep Broz Tito
b. Sukarno,
c. Kwame Nkrumah
d. Pandit Jawaharlal Nehru
8. Negara yang masuk kedalam kategori dalam sebutan negara
kawasan “utara” adalah
a. Jepang, Thailand, Prancis
b. Amerika Serikat, Inggris, Jerman
c. Afrika Selatan, Irak, Inggris
d. Kanada, Jepang, India
30
Peran Indonesia di masa Perang Dingin bidang politik dan ekonomi
9. Negara Selatan adalah sebutan bagi negara-negara yang
memiliki ciri...
a. Negara-negara yang sedang berkembang.
b. Negara-negara industri
c. negara-negara dengan sistim sosialis
d. Negara-negara yang memiliki sistem kapitalis
10.Perang dingin yang terjadi dikalangan negara-negara
berkuasa yang memberikan dampak bagi negara-negara
berkembang termasuk Indonesia. Peran aktif Indonesia
dimasa perang dingin yang memberikan dukungan terhadap
keberlanjutan dan eksistensi Indonesia dan negara
berkembang di Asia Tenggara dan menjaga sikap untuk
tidak berpihak adalah dengan terealisasinya organisasi
yaitu antara lain...
a. GNB dan ASEAN
b. OKI dan PBB
c. SAARC (South Asian Association for Regional
Cooperation) dan International Labour Organization
(ILO)
d. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) DAN ASEAN
Scan kode QR untuk Lembar Jawaban Siswa
31
Daftar Pustaka
Akbar, T. H. dkk. 2020. Realisme Dalam Kepentingan
Nasional Indonesia Melalui Forum Konferensi Asia
Afrika (KAA) dan Gerakan Non Blok (GNB). Jurnal
Dinamika Global, 5(1), 123-139.
Koesrianti. 2014. Association of South East Asian Nations
(ASEAN): Sejarah Konstitusi dan Integrasi Kawasan.
Surabaya: Airlangga University Press (AUP).
Murtamadji. 2009. Kegagalan Perang Dingin Antardua
Negara Adidaya: Faktor Penyebab Dan Implikasinya.
Jurnal Humanika, 9(1), 81-92.
Nugroho, A.F. 2016. Soekarno dan diplomasi Indonesia.
Jurnal Sejarah dan Budaya, 10 (2), 125-131.
Sadli. Mohammad. (1979). Masalah-masalah "Utara-Selatan"
dalam Rangka Perjuangan untuk Menyusun Tata Ekonomi
Dunia yang Baru.
https://guruppkn.com/tujuan-gerakan-non-blok
https://kemlu.go.id/portal/id/read/142/halaman_list_lain
nya/gerakan-non-blok-gnb
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mba/gerakan-non-blok-
berkumpul-kembali-di-museum-basoeki-abdullah/
https://artikelsiana.com/peran-peran-indonesia-ASEAN-di-
bidang-peran-politik-ekonomi-pendidikan-sosialbudaya/
https://rumus.co.id/lambang-asean/
Penulis 1 BIODATA PENULIS
Nama
Tempat/Tanggal lahir : Anisa Febiola Irfansah
Alamat : Batam, 15 Februari 2000
: Kav. Saguba Asri Blok E No. 70 Kel. Sungai
Email Binti Kec. Sagulung Batam, Kepulauan Riau
: [email protected]
Penulis 2 : Edenia Tara Heriska
Nama : Malang, 17 September 2000
Tempat/Tanggal lahir : Jl. Raung 20A,Malang
Alamat : [email protected]
Email
Penulis 3 : Gilang Hasbi Asshidiqi
Nama
Tempat/Tanggal lahir : Banyuwangi, 10 Juli 2001
Alamat
: Jl. Jajag-Bangorejo, Dsn. Krajan, RT 02
Email RW 01, Ds. Purwodadi, Kec. Gambiran,
Banyuwangi
: [email protected]
Penulis 4 : Rama Maulana Muhammad Razif
Nama
Tempat/Tanggal lahir : Malang, 20 Desember 2000
Alamat
: Jl. Arjuno 2 no 12, Perum Pondok Indah,
Email Triwung Lor, Kec. Kademangan, Kota
Probolinggo
: [email protected]