TEMBANG MACAPAT Pengertian tembang macapat Pengertian tembang macapat secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah bentuk ungkapan yang dilagukan dan dipaparkan dalam sebuah ‘pada’ atau paragraf. Kenapa disebut sebagai ungkapan? Sebab, tembang macapat memang sering dimafaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan nasehat – nasehat positif secara halus, yakni melalui seni suara. Jenis – jenis tembang macapat Tembang macapat secara umum dibagi ke dalam 11 jenis atau 11 kelompok lagu. 11 Tembang macapat tersebut, meliputi : 1. tembang Maskumambang, 2. tembang Mijil, 3. tembang Kinanthi, 4. tembang Sinom, 5. tembang Asmarandana, 6. tembang Gambuh, 7. tembang Dandanggula, 8. tembang Durma, 9. tembang Pangkur, 10.tembang Megatruh, 11.tembang Pocung. Ciri – ciri umum tembang macapat Tembang macapat sangat mudah dikenali. Meski demikian, dalam tembang macapat, tidak ada lirik lagu yang baku. Artinya, lirik lagu yang ada pada satu tembang macapat bisa berbeda, meski pun sama -sama tembang maskumambang, atau sama -sama tembang mijil dan lain sebagainya. Lirik tembang macapat dapat dibuat sendiri, selama dalam pembuatan lirik tersebut memenuhi kaidah baku yang ditentukan. Kaidah baku tembang macapat ini pula yang pada dasarnya merupakan ciri tembang macapat. Kaidah baku ini merupakan ketentuan penulisan lirik yang pada masing – masing tembang macapat, harus dipenuhi pada tiap bait, baris dan vokalnya. Secara umum, ciri – ciri tembang macapat secara umum ada tiga hal, yakni : 1# Tembang Macapat terikat pada kaidah (kaiket dening wewaton (guru). Kaidah yang mengikat pada tembang macapat meliputi guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Guru gatra merupakan ketentuan jumlah baris dalam satu bait (cacahing gatra/ larik saben sapada). Guru wilangan merupakan ketentuan jumlah suku kata dalam satu baris (cacahing wanda saben sagatra). Guru lagu merupakan jatuhnya nada vokal terakhir pada tiap baris atau larik (tibaning swara ing saben pungkasane gatra). Sebagai contoh, misal pada tembang maskumambang, kaidah baku guru gatra, guru wilangan dan guru lagu nya adalah : 12i - 6a - 8i – 8a. Arti dari kaidah tersebut adalah pada tembang maskumambang terdapat “ guru gatranya 4, yakni terdapat 4 baris pada tiap baitnya. RANGKUMAN MATERI PSAJ Mapel : Bahasa Jawa
guru wilangannya 12 – 6 – 8 – 8, yakni ada 12 suku kata pada baris pertama, 6 suku kata pada baris kedua, 8 suku kata pada baris ketiga, serta sejumlah 8 suku kata pada baris keempatnya. guru lagu i – a – i –a, berarti jatuhnya vokal pada baris pertama adalah vokal ‘i', pada baris kedua jatuh pada vokal ‘a’, di baris ketiga jatuh pada vokal ‘i', dan pada baris keempat jatuh pada vokal ‘a’. Dengan demikian, tembang maskumambang yang dibuat dapat berupa lirik berikut : Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi (12 i) Enggal tulungana (6 a) Awakku kecemplung warih (8 i) Watak tembang maskumambang adalah menggambakan karakter kesedihan atau duka, serta suasana hati yang nelangsa. Watak tembang mijil atau karakternya adalah bersifat keterbukaan. Karenanya, tembang inisesuai untuk menyampaikan nasehat, cerita – cerita, dan tentang asmara. Watak Tembang Kinanthi atau karakternya adalah tentang kesenangan, teladan yang baik, nasehat dan kasih sayang. Tembang kinanthi umumnya digunakan untuk menyampaikan cerita atau kisah yang isinya menggambarkan nasehat yang baik dan tentang kasih sayang. Watak tembang sinom atau karakternya adalah tentang kesabaran dan keramahtamahan. Tembang macapat sinom biasa digunakan untuk menceritakan nasehat yang baik dan mengandung rasa persahabatan. Watak tembang asmarandana adalah tentang cinta kasih, asmara yang disertai juga rasa pilu atau sedih. Watak tembang gambuh adalah tentang keramahtamahan dan persahabatan. Tembang gambuh biasa digunakan dalam menyampaikan cerita – cerita kehidupan. Watak tembang dhadanggula atau karakternya dapat bersifat universal atau luwes dan merasuk hati. Tembang dhandanggula biasa digunakan untuk menuturkan kisah tentang berbagai hal dan dalam kondisi apa pun. Watak tembang durma atau karakternya secara umum adalah tegas, keras dan penuh dengan amarah yang menggebu – gebu. Watak tembang pangkur atau karakternya adalah sifat yang gagah, kuat, perkasa dan hati yang besar. Tembang pangkur biasa digunakan untuk mengungkapkan kisah kepahlawanan, perjuangan juga peperangan. Watak Tembang megatruh adalah tentang kesedihan dan kedukaan. Tembang ini biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa putus asa dan kehilangan harapan. Watak Tembang Pocung atau karakternya adalah tentang kebebasan dan tindakan sesuka hati. Tembang pocung biasa digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat. Yudhistira Terlahir dengan nama aslinya Puntadewa yang berarti memiliki derajat keluhuran yang setara dengan para dewa. Sedangkan sebutan/julukan lain Puntadewa atau Yudhistira adalah Ajatasaru, Bharata, Dharmawangsa, Kurumukhya, Kurupati, Pandawa, Partha, Gunatalikrama, dan Samiaji. Puntadewa alias Yudhistira ini merupakan anak sulung dari Raja Pandu dan Dewi Kunti, namun bisa disebut juga merupakan anak kedua dari Kunti karena anak pertamanya yang bernama Karna diasuh oleh Adirata. Dalam kisah disebutkan bahwa Yudhistira merupakan titisan Dewa Yama/Dharma karena ulah Pandu yang salah
sasaran sewaktu akan memanah seekor rusa sehingga menerima kutukan sebelum dia sempat bercinta dengan istrinya. Pandu dikenal sebagai orang yang adil, jujur, sabar, relijius, percaya diri dan berani berspekulasi. Dalam perjalanan hidupnya Yudhistira hampir tidak memiliki musuh, karena memiliki sifat yang sangat bijaksana dan tidak pernah berdusta. Hal ini pula yang akhirnya dimanfaatkan oleh Sangkuni ketika merayunya untuk berjudi dadu, yang menyebabkan kekalahan besar di pihak Pandawa dan merubah kisah Mahabharata menjadi sebuah cerita yang menegangkan dan penuh konflik. Keahlian Yudhistira adalah menggunakan tombak, sebagaimana diajarkan oleh Resi Druna (Dorna), dan dalam budaya Jawa, Yudhistira dikenal memiliki beberapa pusaka yaitu Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Salah satu kebiasaan buruk dari Yudhistira adalah senang bermain dadu. Hal tersebut benar-benar telah dimanfaatkan dengan baik oleh Sangkuni dan Duryudana yang melalui kelicikan dan lidah tajamnya berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk bermain dadu dengannya dan mempertaruhkan hartanya yang dimulai dari uang emas hingga kerajaan dan para saudaranya. Bahkan Sangkuni pun berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk mempertaruhkan Drupadi. Karena kekalahannya dalam bermain dadu, Yudhistira harus kehilangan Drupadi. Duryudana yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu segera mengambil tindakan untuk mempermalukan Drupadi yaitu dengan menelanjanginya di hadapan para tetua, raja, dan penduduk Hastinapura. Mendengar jeritan dan ratapan Drupadi, ibu para Kurawa yaitu Dewi Gandari segera masuk dan menyuruh Duryudana untuk menghentikan permainan dan mengembalikan semua yang telah dirampasnya. Namun beberapa hari kemudian, Duryudana kembali mengajak Yudhistira untuk bermain dadu, dan hasilnya Yudhistira mengalami kekalahan yang membuat dirinya dan saudaranya yang lain dibuang ke dalam hutan selama 12 tahun. Para Pandawa yang sedang menjalani masa pembuangan di hutan, dikejutkan oleh ajakan Duryudana yang berniat mengadakan pesta di hutan tersebut. Niatan Duryudana tersebut tentu saja untuk tujuan menghina para Pandawa. Namun yang terjadi mereka malah berselisih dengan kaum Gandharwa pimpinan Citrasena. Akibatnya Duryudana ditangkap oleh Citrasena. Yudhistira yang mendegar kabar tersebut segera menyuruh Bima dan Arjuna untuk menolong Duryudana. Pada awalnya mereka menolak, terlebih Bima yang memang memiliki dendam kesumat terhadap Duryudana. Namun, setelah Yudhistra berniat bertarung sendirian, akhirnya dengan terpaksa Bima dan Arjuna berangkat dan menolong Duryudana. Duryudana yang tadinya berniat mempermalukan para Pandawa akhirnya malah menjadi malu sendiri. Peran Yudhistira dalam peperangan Pandawa melawan Kurawa di Bharatayudha sangat besar. Yudhistira memilik strategi yang cukup ampuh saat menghadapi Durna. Dia menggunakan keahliannya memainkan tombak pada waktu bertarung melawan Salya, dan rasa adilnya ketika harus menghadapi Duryudana. Setelah berakhirnya perang Bharatayudha, Yudhistira dinobatkan menjadi Maharaja dunia dengan menjadi raja dari Hastinapura dan Amarta. Yudhistira dalam perjalanan terakhirnya menuju gunung Himalaya. Dalam perjalanannya menuju puncak Himalaya bersama para Pandawa dan Drupadi Bharatawarsha, Yudhistira meninggal dan ia menjadi orang terakhir yang meninggal dalam perjalanan menuju Himalaya dan masuk ke surga. Lagi-lagi di surga ia harus
Karna Madeg Senapati Perang gedhe antarane Pendhawa mungsuh Kurawa kondhang kanti aran Perang Baratayudha. Perang sing kedadeyan neng Tegal Kurusetra kiye dadi jalaran ana rajapati lan kurban sing akeh. Para satriya akeh sing padha nemahi pralaya. Senapati Kurawa sing asmane Pendhita Drona, gugur neng madyane Tegal Kurusetra kaprejaya dening Drestajumena. Seurunge gugur Pendhita Drona wis merjaya Raden Abimanyu senapatine Pendhawa. Karna adipati neng Awangga madeg senapati Kurawa maju neng palagan. Sejatine Adipati Karna wis mangerteni, mbelani Kurawa kuwe tindak sing ora bener. Ningen Adipati Karna wis kepotangan budi karo Duryudana, Raja Astina sing ambeg angkara murka. Mula dheweke gelem sebaya mukti sebaya pati mbelani Negara Astina. Adipati Karna kuwe putrane Bathara Surya lan Dewi Kunthi. Mula, Adipati Karna kelebu drajate wasu, yakuwe manungsa setengah dhewa. Mula, Adipati Karna ora mokal angger kesinungan kedigdayaan sing linuwih. Raden Arjuna maju neng madyane Tegal Kurusetra ngadhepi Adipati Karna. Arjuna lan Karna padha adu kedigdayaan. Perang prasasat ora ana sing bakal menang merga loro-lorone padha sekti mandraguna. Satriya loro padha titis anggone jemparing lan padha duwe pusaka piandel. Adipati Karna duwe pusaka Kuntawijayandanu, lan Arjuna pusakane Pasopati. Wusanane Raden Arjuna menthang lengkap panah Pasopati. Panah mlesat ngenani janggane Adipati Karna sing senalika gugur ana neng madyane Tegal Kurusetra. Negesi Tembung Crita Wayang Kresna Madeg Senapati No. Tembung Angel Tegese 1. Gugur Tiwas neng peperangan 2. Mrejaya Mateni 3. Palagan Panggonan peperangan 4. Kapotangan Duwe utang 5. Ambeg Tumindak 6. Kadigdayan Kasekten 7. Mokal Mustahil 8. Janggane Gulune 9. Madyane Tengah-tengahe 10. Kesinungan Diwenehi Mangsuli Pertakonan 1. Apa aran perang gedhe antarane Pandhawa mungsuh Kurawa? Perang gedhe antarane Pendhawa mungsuh Kurawa dearani perang Baratayudha. 2. Ana ngendi papane kedadeyan perang gedhe antarane Pendhawa mungsuh Kurawa? Papane kedadeyan perang gedhe antarane Pendhawa mungsuh Kurawa yakuwe Tegal Kurusetra.
3. Sapa sing mrejaya Senapati Kurawa sing asmane Pandhita Drona? Sing mrejaya Senapati Kurawa sing asmane Pandhita Drona yakuwe Drestajumena. 4. Apa sebabe Adipati karna gelam mbelani Kurawa lan madeg dari senapati? Adipati karna gelam mbelani Kurawa sebab Adipati Karna wis kepotangan budi karo Duryudana. 5. Kepriwe carane Raden Arjuna mrejaya Adipati Karna? Carane Raden Arjuna mrejaya Adipati Karna yakuwe Raden Arjuna menthang lengkap panah banjur mlesat ngenani janggane Adipati Karna. Ngringkes Crita Karna Madeg Senapati Perang gedhe antarane Pendhawa mungsuh diarani Perang Baratayudha sing kedadeyan neng Tegal Kurusetra. Senapati Kurawa sing asmane Pendhita Drona, gugur kaprejaya dening Drestajumena. Karna adipati neng Awangga madeg senapati Kurawa. Adipati Karna wis mangerteni, mbelani Kurawa kuwe tindak sing ora bener, ningen wis kepotangan budi karo Duryudana. Adipati Karna kuwe putrane Bathara Surya lan Dewi Kunthi. Adipati Karna kelebu manungsa setengah dhewa. Mula, Adipati Karna ora mokal angger kesinungan kedigdayaan sing linuwih. Raden Arjuna maju neng madyane Tegal Kurusetra. Adipati Karna duwe pusaka Kuntawijayandanu, lan Arjuna pusakane Pasopati. Raden Arjuna menthang panah Pasopati sing ngenani janggane Adipati Karna sing senalika gugur. Unsur Pidato Ada 6 unsur dalam pidato. Yaitu; 1. Salam pembuka 2. Sapaan 3. Puji syukur 4. Isi pidato 5. Penutup pidato 6. Salam penutup Salam Pembuka Salam pembuka adalah salam untuk memulai jalannya pidato Sapaan Sapaan kepada orang penting. Mulai dari yang mempunyai jabatan tinggi sampai bawah Puji syukur Unsur pidato yang satu ini merupakan tanda terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa ... Isi pidato Isi pidato atau pokok pidato adalah Penutup pidato Penutup pidato itu termasuk himbauan, ajakan, dan rasa terimakasih ... Salam penutup Salam penutup berarti salam terakhir karena pidato telah selesai setelah penutup. Contohnya kata: Wasalam atau sebagainya.
Contoh teks pidato singkat bahasa Jawa tentang perpisahan kelas 6 Assalamu'alaikum wr. wb. Ingkang kaulo hormati Bapak Kepala Sekolah lan Bapak Ibu Guru ingkang satuhu luhuring budi lan rencang-rencang kelas enem ingkang kula tresnani. Monggo kito sedaya ngaturaken puji syukur dhumateng Gusti ingkang maha Agung ingkang sampun maringaken sedoyo nikmat lan kesehatan dateng kito sedoyo dumugi sakmeniko kito sedaya saged dateng wonten ing adicara perpisahan sak manika. Mboten keraos kolo lan rencang sebrayat sampun ngelampahi ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan mriki. Kula, wakil saking rencang-rencang kelas enem ngaturaken maturnuwun ingkang sak ageng-agengipun kagem Bapak Ibu Guru ingkang sampun mbulawantah kulo lan sak konco-konco dateng pawiyatan menika ingkang dangunipun enem warsa. Wonten ing adicara menika, kulo kiyambak tuhu rencang-rencang nyuwun agenging pangapunten sangking Bapak lan Ibu guru amargi wonten ing enem warso ngangsu kawruh wonten pawiyatan mriki kulo lan sak rencang mebo menawi gadhah kalepatan ingkang dipun sengojo utawi mboten disengojo. Mugi-mugi Bapak Ibu guru kerso ngapuntenaken sedoyo kelepatan kulo kaleh rencang-rencang. Kadosipun sampun cekap anggenipun kulo matur. Bilih menawi wonten kalepatan kulo nyuwun agengipun pangapunten. Wasslamu'alaikum wr. wb. Pembahasan: Pidato merupakan sebuah kegiatan berbicara di depan banyak orang atau khalayak banyak orang yang bersifat formal. Pidato dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan baku yang dapat diterima oleh pendengar. Umumnya, orang yang melakukan pidato akan menyampaikan gagasannya kepada orang lain atau pendengar dengan bahasa yang bersistem, baku, sopan dan memiliki susunan tatanan dalam urutannya. Isi pembicaraan di dalam pidato akan menjelaskan mengenai ide dan petunjuk dalam topik yang dibahas berkaitan dengan acara yang diundangkan. Manfaat pidato: Menciptakan hubungan harmonis. Merperoleh informasi dari pidato tersebut. Mempermudah komunikasi. Media komunikasi organisasi. Menciptakan suasana kondusif. Menambah wawasan pengetahuan bahasa yang digunakan. Bahasa Jawa Krama Alus dan Artinya Perbedaan Ragam Bahasa Jawa Krama Lugu dan Alus: Bahasa jawa memiliki 3 tingkatan dalam penggunaan yaitu Krama, Madya, Ngoko. Namun kali ini yang dibahas adalah bahasa Jawa Krama Alus dan Artinya. Bahasa Jawa Krama memiliki bentuk unggahan berinti leksikon krama. Afiks bahasa krama seperti dipun-, -ipun, atau -aken. Ragam krama ini dipakai untuk mereka yang belum akrab dengan orang lain yang baru dikenal. Ragam Krama memiliki 3 variasi yaitu krama lugu, andhap dan alus. Sekarang perhatikan perbedaan antara Krama Lugu dengan Krama Alus ini. 1. Krama Lugu adalah ragam bahasa jawa yang semuanya berasal dari kosakatan krama. Cirinya yaitu pada awalan dan akhiran kosakata dikramakan misalnya kata “Aku” menjadi “Kulo” dan “Kowe” menjadi “Sampeyan”. Ragam ini digunakan seseorang saat berbicara kepada orang yang baru dikenal atau belum akrab.
2. Krama Alus adalah ragam bahasa yang keseluruhannya dibentuk dari kosakata Krama Inggil. Cirinya adalah kosakata yang dipakai berasal dari Krama dan Krama Inggil. Pada kosakatan awal dan akhir, selalu di-krama-kan. Misalnya kata “Aku” menjadi “Kulo, Kawula, atau Dalem”. Sementara kata “Kowe” menjadi “Panjenengan”. Ragam ini dipakai oleh bawahan kepada atasan, anak kepada orangtua atau orang muda kepada orang yang lebih tua. Contoh kalimat Krama alus I: “Panjenengan nembe rawuh mas?” yang artinya kamu baru datang mas? Sekarang perhatikan kalimat ini baik-baik. Kata panjenengan merupan krama alus dari kata kamu atau kowe. Contoh kalimat Krama alus II: “Kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika?” yang artinya saya mau bertanya, rumahnya mas Budi dinama? Perhatikan kalimat ini. Kata kula adalah khama alus dari kata aku. Bukan hanya itu, hampir keseluruhan dari kosakatan pada kalimat ini memakai bahasa krama dan krama inggil. Contoh Bahasa Jawa Krama Alus Sehari-hari dan Artinya: – Saya = kawula, contoh kalimat Kawula badhe tumbas gendis satunggal kilo, artinya saya mau beli gula satu kilo – Kamu = panjenengan, contoh kalimat Panjenengan asma nipun sinten, artinya Kamu namanya siapa – Dia = piyambakipun, contoh kalimat Piyambakipun sampun dating griyo kulo, artinya dia sudah tiba di rumah saya – Kami = Kito, contoh kalimat Monggo kito sinau sareng-sareng, artinya mari kita belajar bersama-sama – Ini = meniko, contoh kalimat Ten dalem meniko, artinya dirumah ini – Itu = Niku, contoh kalimat Ten dalem niku, artinya dirumah itu – Apa = menopo, contoh kalimat Rasukan menopo ingkang sampean angge, artinya baju apa yan kamu pakai – Kapan = kapan, contoh kalimat Kapan panjengengan mlampah-mlampah, artinya kapan kamu jalan-jalan – Dimana = wonten pundhi, contoh kalimat Wonten pundhi Jl. Sudirman niku, artinya dimana JL. Sudirman itu – Yang mana = ingkang pundhi, contoh kalimat Ingkang pundhi asmonipun Angga, artinya yang mana namanya Angga – Siapa = sinten, contoh kalimat Sinten asmo nipun panjenengan, artinya siapa namanya kamu – Mengapa = kados punapa, contoh kalimat Punapa kita kedah sinau basa jawi, artinya mengapa kita harus belajar bahasa jawa – Bagaimana = kados pundhi, contoh kalimat Kados pundhi panjenengan niki ndalu, artinya baimana (keadaan) kamu malam ini – Orang = tiyang, contoh kalimat Sinten jenenge tiyang punika, artinya siapa namanya orang itu – Bapak = Romo, contoh kalimat Romo tindak dhateng Jakarta dinten Rabu, artinya bapak pergi ke Jakarta hari Rabu – Ibu = Ibu, contoh kalimat Ibu nembe siram, artinya ibu baru mandi – Nama = Asmo, contoh kalimat Asmo kulo Yuli Hayuningtyas, artinya nama saya Yuli Hayuningtyas – Kemarin = kolowingi, contoh kalimat Kolowingi kulo nembe dugi ten peken tumbas uwos, artinya kemaren saya baru datang ke pasar bel beras
– besok = Mbenjeng, contoh kalimat Mbenjeng Pak Andi mampir ten dhalem kulo, artinya besok pak Andi mampir ke rumah saya – Hari ini = Sakmeniko, contoh kalimat Bapak ngantos sakmeniko tasih dereng sare, artinya Bapak sampai hari ini masih belum tidur – Pagi = Enjing, contoh kalimat Sugeng enjing sedoyo, artinya selamat pagi semuanya – Siang = Siang, contoh kalimat Sugeng siang sedoyo, artinya selamat siang semuanya – Malam = Ndalu, contoh kalimat Sugeng ndalu sedoyo, artinya selamat malam semuanya – Apa kabar = Pripun, contoh kalimat Pripun kabare panjenengan sedaya, artinya bagaimana kabarnya Anda semua – Berapa = Pinten, contoh kalimat Pinten regane gendhin punika, artinya berapa harganya gula itu – Silahkan = Monggo, contoh kalimat Monggo pinarak rumiyen, artinya mari (silahkan) mampir dulu – Terimakasih = Matursuwun, contoh kalimat matursuwun kangge Agus sing sampun maringi kula arta satunggal atus, artinya terimakasi buat Agus yang telah memberikan saya uang tiga ratus – Disini = Wonten mriki, contoh kalimat Monggo pinarak wonten mriki, artinya mari (mampir) di sini Penyebutan Kosakata Bahasa Jawa Krama Angka – Satu = setunggal – Dua = Kalih – Tiga = Tigo – Empat = sekawan – Lima = gangsal – Enam = enem – Tujuh = pitu – Delapan = wolu – Sembilan = Songo – Sepuluh = sedoso – Sebelas = sewelas – Duabelas = kaleh welas – Dua puluh satu = kalehdoso satunggal – Dua puluh lima = selangkung – Tiga puluh satu = tigangdoso satunggal – Empat puluh satu = sekawandoso satunggal – Lima puluh satu = gangsaldoso satunggal – Seratus = setunggal atus – Seribu = setunggal ewu Properti dalam Pertunjukan Begalan Lihat Foto Para seniman Begalan dari kelompok Cakra Budaya beraksi memainkan perannya membawakan kesenian lokal.(Dok. jatengprov.go.id) Dalam sebuah pertunjukan begalan, terdapat dua orang tokoh yang akan bermain peran. Tokoh protagonis disimbolkan dengan sosok Gunareka, sementara tokoh perampok atau pembegal dalam tradisi begalan bernama Rekaguna. Properti yang digunakan antara lain sepasang pakaian adat khas Banyumas dengan warna dasar hitam, putih, merah dan biru dengan riasan wajah yang sederhana. Barang-barang yang dibawa tokoh
Gunareka berupa sebuah pikulan berisi bubak kawah atau brenong kepang. Brenong kepang adalah pikulan berisi berbagai alat-alat dapur seperti ilir (kipas), siwur, kukusan, kekeb, pedaringan, layah, muthu, irus, serta padi dan palawija. Sementara tokoh Rekaguna akan membawa sebuah pedang kayu atau senjata bernama wlira. Pelaksanaan Begalan Begalan dilaksanakan sebagai salah satu prosesi dalam sebuah rangkaian pernikahan masyarakat Banyumas. Pelaksanaannya dilakukan setelah akad nikah, dan bisa menyesuaikan dengan susunan acara. Begalan dimulai dengan kemunculan sosok Gunareka dan Rekaguna yang memasuki tempat pernikahan. Adegan begalan diawali dengan menceritakan kisah Adipati Wirasaba yang dihadang oleh para begal. Gunareka yang dihadang oleh Rekaguna kemudian menerima tantangan dan keduanya lalu melakukan tarian peperangan singkat. Setelah itu keduanya kemudian menjelaskan maksud pertunjukan dan menyampaikan pesan pernikahan dengan gaya jenaka. Biasanya pertunjukan begalan diakhiri dengan mempersilahkan para tamu atau penonton untuk berebut barang-barang di dalam pikulan. Makna dalam Ubarampe Begalan Lihat Foto Penampilan kesenian begalan dalam sebuah pernikahan di Banyumas.(Tangkapan layar vidio Kompas.id) Melansir dari berbagai sumber, barang yang dibawa oleh tokoh Gunareka dalam pertunjukan begalan merupakan simbol yang akan digunakan dalam menjelaskan sebuah nasehat pernikahan, yaitu: 1. Pikulan atau wangkring berarti suami istri harus menopang segala kebutuhan dan beban dengan tulus ikhlas dan sesuai dengan kekuatan diri, bukan kekuatan orang lain. 2. Ilir (kipas) bermakna ganda yaitu untuk sumber angin yang berguna untuk mendinginkan nasi dan menyalakan tungku. Makna ilir dalam begalan adalah nasihat untuk mendinginkan suasana dan tidak memanas-manasi orang lain. 3. Siwur memiliki makna agar kehidupan rumah tangga tidak dijalani dengan ngawur atau asal-asalan agar mampu hidup berdampingan dengan lingkungannya. 4. Irig atau saringan bermakna jika mempelai harus bisa menyaring dan berhati-hati dalam menjalani hidup. 5. Kukusan memiliki filosofi sedulur papat limo pancer tentang kesadaran spiritual. Selain itu, ada juga makna bahwa mempelai harus menyikapi panasnya gejolak hidup dengan sabar dan mengambil sisi baiknya saja untuk mendapatkan sebuah kenikmatan hidup. 6. Kekeb atau tembikar penutup penanak nasi berarti pasangan harus menutupi aib satu sama lain. 7. Pedaringan atau kendil menyimpan pesan bagi istri agar bijak dalam menyimpan dan memanfaatkan rezeki yang diberi suami dan bisa memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. 8. Layah atau ciri berarti tempat bercampurnya berbagai rasa layaknya omongan orang tentang pasangan yang pedas bagai sambal yang bisa diwadahi dengan baik maka akan tetap terasa enak. 9. Muthu atau ulekan menyimpan pesan agar mempelai dapat memecahkan segala masalah sekeras apapun agar bisa terselesaikan dan mencapai kenikmatan hidup. 10. Irus memiliki makna seseorang yang berumah tangga harus bisa mengolah rasa agar bisa menjadi pelajaran untuk tumbuhnya kedewasaan. 11. Padi bermakna kemakmuran dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, serta sifat agar semakin tinggi semakin merunduk. 12. Palawija yang terdiri dari pala gumantung dan pala kependhem bermakna agar tidak menggantungkan hidup pada orang lain, serta harus bisa memendam rasa sakit hati dan tidak menyimpan dendam.