The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Artikel Santri PPTQ Nurul Huda berisi tentang kisah inspirasi santri dalam perjalanannya menghafal al-qur'an

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by maslahah.widiyah, 2021-09-24 00:49:46

Artikel Inspiratif Aku dan Alqur'an

Kumpulan Artikel Santri PPTQ Nurul Huda berisi tentang kisah inspirasi santri dalam perjalanannya menghafal al-qur'an

Keywords: Alqur'an

Rangkaian Perjuangan Meraih Mahkota Kehormatan
Oleh: Laila Tsalasatul Fitria

Menjadi penghafal Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sangat diimpikan oleh banyak
orang. Bagi mereka menjadi penghafal Al-Qur’an merupakan anugerah yang sangat luar biasa.
Tidak dapat dipungkiri jika banyak orang tua yang menginginkan anak-anaknya tidak hanya
mahir dalam bidang IPTEK saja melainkan mereka juga mahir dalam bidang agama terlebih
anaknya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an yang kelak dapat menjadi investasi dunia akhirat.

Keinginan itu pun juga dirasakan orang tua saya. Sehingga beliau sangat senang ketika
saya memutuskan untuk mengais ilmu di Pondok Pesantren dan berkomitmen untuk menghafal
Al-Qur’an. Hal itu terjadi ketika saya memasuki semester tiga Jurusan Fisika di UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang, salah satu universitas yang banyak menampung penghafal Al-Qur’an
didalamnya. Awalnya orang tua sempat ada setitik rasa takut jika nanti tidak bisa membimbing
saya nantinya. Namun semua itu sirna ketika saya berhasil meyakinkannya.

Memiliki niat menghafal pada awalnya agar punya tuntutan membaca Al-Qur’an setiap
harinya. Setelah beberapa kali introkpesi diri karena belum bisa rutin membaca Al-Qur’an setiap
hari membuat diri ini semakin jauh dari sang Ilahi Rabbi. Sehingga pada akhirnya memutuskan
untuk menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Nurul Huda Joyosuko
Metro. Orang tua pun mengizinkan dan apapun diupayakan.

Melihat jerih payah orang tua dalam memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya
membuat saya semakin bersemangat dalam menggapai apa yang sudah dicita-citakan. Lika-liku
perjalanan menghafal pun mulai. Tahap awal dalam menghafal diuji kesanggupan untuk terus
menambah hafalan atau berhenti mengingat banyaknya kegiatan keorganisasian dan juga tugas-
tugas kuliah yang harus dikerjakan. Disini bayangan orang tua yang menjadi penguat untuk
bangkit, sehingga usaha untuk menyeimbangkan kuliah dan belajar Al-Qur’an meningkat
kembali. Tak pernah menduga sebelumnya, pada akhir semester tiga nilai kuliah meningkat
drastis, suatu kabar yang sangat membanggakan bagi orang tua saya. Mengingat tugas kuliah
yang semakin banyak, pada saat semester empat saya mulai mengurangi kegiatan organisasi di
luar Pondok Pesantren. Alhamdulillah, keinginan belajar organisasi diluar Allah
menggantikannya dengan memberi amanah dapat menjalani organisasi di dalam Pondok. Allah

1

selalu tahu apa yang dibutuhkan hamba-hambaNya. Kita memang tidak tahu bagaimana
kedepannya, tapi kita harus yakin rencana Allah sangatlah luarbiasa. Terkadang Allah
menghancurkan rencana kita, agar rencana kita tidak menghancurkan kita.

Berada pada tahap awal menghafal membuat saya haus akan motivasi dalam menghafal.
Melihat dari keragaman latar belakang santri di Pondok membuat saya sangat tertarik untuk
mendengar cerita perjalanan mereka dalam menghafal Al-Qur’an. Ada yang mulai menghafal
sejak kecil ada pula yang mulai ketika sudah semester tua, ada yang sudah khatam ada juga yang
belum. Semua selalu melewati lika liku terjal untuk menggapai apa yang sudah diperjuangkan.

Bermula dari santri yang bernama Zadana Bil Mahasini, biasa dipanggil Zadana. Ia mulai
menghafal Al-Qur’an ketika menempuh pelajaran di Madrasah Aliyah, Kemudian terus berlanjut
hingga ia khatam saat menempuh kuliah. Dalam menghafal ia memiliki ambisi yang sangat kuat
untuk cepat mengkhatamkan dan melancarkan Al-Qur’an. Namun ambisinya membuat ia nyaris
menyerah ketika ia melihat orang lain selangkah mendahuluinya. Dia pernah berkata bahwa
“Mundur tak menyelesaikan mimpi, yang ada hanya mengeringkan mimpi”. Dengan kata-kata
itulah semangatnya kembali merekah hingga apa yang ia inginkan dapat ia wujudkan.

Berbeda dengan Mbak Muslimah, santri yang berasal dari daerah Madura ini juga
memiliki semangat menghafal yang luar biasa. Ia pernah bercerita “Hambatan saya itu ketika
sakit mbak, awalnya sering punya keinginan untuk berhenti tapi kakak saya melarang karena
eman kalua ndak diterusin” ujarnya. Pacuan semangat dari kakaknya membuat mbak Muslimah
semakin gigih dalam melawan penyakit yang dialaminya. Perjuangan yang hebat pun akhirnya
berbuah hasil. Mbak Muslimah dapat melanjutkan hafalannya. Biidznillah, Mbak Muslimah bisa
membaca Al-Qur’an Bil Ghoib 30 Juz dalam sekali duduk. Motivasi yang terus Mbak Muslimah
tanamkan yaitu Terus perjuangkan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an pembawa ion positif
keberkahan.

Tak jauh berbeda dengan Mbak Muslimah, santri yang bernama Nuris Sirrul Laily yang
akrab dipanggil Mbak Nuris juga dicoba dengan kondisi fisik yang kurang sehat. Suatu ketika
Mbak Nuris disuruh berhenti menghafal oleh orang tuanya, namun Mbak Nuris tetap bersikeras
untuk tetap melanjutkan hafalannya. Mbak Nuris juga bercerita sering mendapat dawuh dari
Bunyai Isma, guru kita semua. Beliau berkata ”Kudu yakin mbak njagi awake, maeme,
kesehatane ben diparingi waras terus semangat ibadahe lan nderese”. Bunyai Isma merupakan

2

Bunyai yang sangat perhatian dengan kondisi santri-santrinya. Sehingga dari Dawuh-dawuh
beliau dapat memompa kembali semangat para santri termasuk Mbak Nuris untuk melanjutkan
hafalannya, dan mengistiqomahkan murojaahnya. Pada akhirnya Mbak Nuris mampu
mengkhatamkan hafalannya.

Lain halnya dengan Mbak Igfiroh. Santri yang berasal dari Banyuwangi ini juga memiliki
perjalanan yang berkelok-kelok. Berawal dari kondisi ekonomi orang tua yang sedikit terhimpit
membuat Mbak Firoh hampir tidak melanjutkan Sekolah Menengah Atas. Sehingga kakaknya
memutar otak untuk menyekolahkan adiknya. Bertemulah dengan Rumah Tahfidz yang
memberikan Beasiswa kepada siapa saja yang bisa lulus tes. Dengan sungguh-sungguh Mbak
Firoh mengikuti tesnya dan akhirnya dinyatakan lulus. Berawal dari sesuatu yang tak diniatkan
namun berubah menjadi suatu keharusan yang wajib dilakukan. Mbak Firoh selalu semangat
dalam menambah hafalannya. Tak disangka ia juga dapat melanjutkan kuliah dan mendapatkan
beasiswa. Mbak Firoh pernah bercerita dengan mata berkaca-kaca “Aku jan bersyukur banget
diberi Allah kesempatan ngapalke Al-Qur’an, dadi wasilah golek ilmu sing luweh okeh.
Kepanggih umma (Bunyai Isma), dengan system pondok sing ono halaqohan, partneran sangat
membantu ngopeni Al-Qur’an”.

Hal tersebut hampir sama dengan Mbak Marjiatul Maghfiroh, kebanyakan orang
memanggilnya Mbak Ucik. Santri yang sangat ulet dan sabar dalam menghafal, memiliki jiwa
yang selalu haus akan keilmuan. Karena ambisi keilmuan yang begitu besar, Mbak ucik selalu
gigih untuk mendapatkannya. Proses menghafal dimulai ketika Mbak Ucik sebelum menempuh
pelajaran di bangku Madrasah Aliyah. Mbak Ucik menyetorkan hafalan kepada seorang guru
yang cukup jauh dari rumahnya. Namun hal tersebut tak menyurutkan semangatnya dalam
menambah dan murojaah hafalan. Karena menurut Mbak Ucik “ Kunci Penghafal Al-Qur’an
adalah Murojaah. Jangan harap kau merasakan manisnya Al-Qur’an, jika kau tak mau meneguk
pahitnya murojaah. Siapa yang mendahulukan dan menggebu-gebu ziyadah, akan tetapi
bermalas-malasan menunaikan murojaah, sungguh dia telah mengikuti hawa nafsunya”. Hal
tersebut menjadi pegangan kuat dalam menghafal Al-Qur’an. Dengan tekad yang kuat Mbak
Ucik berhasil memperoleh Beasiswa Pendidikan ke Maroko. “Kabeh iku barokahe Al-Qur’an”
ujarnya.

3

Tak hanya itu, Mbak Monik. Ketua Pondok pertama yang memiliki nama Lengkap
Monikhatul Qudriyyah juga memiliki lika-liku perjalanan tersendiri. Keberadaannya yang jauh
dari orang tua membuat Mbak Monik terkadang hampir menyerah dalam menghafal. Namun
dengan semangat dari Buya dan Umiknya yang terus dikobarkan membuat Mbak Monik tak
menyerah begitu saja. Sejak kecil Mbak Monik hafalan disimak umiknya, kemudian dilanjutkan
di Pondok hingga lulus kuliah. Pahit Kerasnya kehidupan ia lewati dengan penuh kesabaran.
Suatu ketika Mbak Monik berkata “Percayalah apapun usahamu untuk Al-Qur’an tidak akan
pernah menghianati kehidupanmu. Teteplah usaha deres meskipun banyak hafalanmu yang
hilang”.

Berada dilingkungan Pondok sangatlah mendukung kita untuk menghafal dan istiqomah
menjaganya. Dari cerita-cerita tersebut, kita bisa mengambil hikmah, orang yang diuji sakit
masih bisa memiliki semangat menghafal apalagi kita yang diberi nikmat sehat. Orang yang diuji
kondisi ekonomi yang kurang masih memiliki semangat yang membara, apalagi yang diberi
Allah kecukupan. Orang yang jauh dari orang tua masih memiliki semangat yang berkobar
bagaimana dengan kita yang tak berjauhan. Semua cerita selalu ada pelajarannya jika kita pandai
dalam mengambil hikmahnya.

Saya sangat bersyukur mendengar banyak cerita dari orang lain tentang bagaimana
perjuangannya dalam meraih mahkota kehormatan. Membuat saya sadar akan banyak tetesan air
mata yang perlu dikorbankan, banyak cucuran keringat yang harus diikhlaskan untuk hasil yang
membanggakan. Akan selalu ada luka disetiap perjalanan panjang, yang membuat kita sibuk
bertanya-tanya. Bisakah kita berjuang dan bertahan atau menyerah tanpa tujuan. Yang pasti
tetaplah berjuang, karena hasil akhir Allah yang memutuskan.

Suatu waktu Bunyai Isma Dawuh kepada santri-santrinya “Penghafal Qur’an adalah
tanggung jawab seumur hidup, sepayah-sepayahnya raga, selama lisan masih mampu berucap,
maka Al-Qur’an wajib dimurojaah”. Ketika kita merasa lelah, kita boleh beristirahat tapi jangan
sampai berhenti. Karena pada kondisi ini Allah akan merubah takdir kita jika kita terus berusaha.
Seperti yang diungkapkan Jalaludin Ar-rumi dalam syairnya:

‫عندما يتراكم عليك كل شيء وتصل إلى نقطة لا تتحمل بعدها أي شيء أحذر أن تستسلم !ففي هذه النقطة سيتم تغيير قدرك إلى الأبد‬

4

“Ketika semua beban menumpuk atas dirimu dan engkau sampai pada titik dimana
engkau merasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa lagi. Janganlah menyerah.. Karena pada titik
itu Allah akan merubah takdirmu untuk selamanya”.

Menatap gagahnya langit, menyadarkan diri kita rendah. Melihat luasnya bumi,
menyadarkan makhluq kecil yang lemah. Mengingat Kuasa Tuhan yang begitu besanya
menyadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Mari semangat ziyadah, istiqomah murojaah.
Semoga Allah memberikan kita hasil yang indah dan membawa berkah.
Wallahu A’lam.

5

Pendamping Hidup
Oleh: Nisrina darin Farhanah

Ini tentang sebuah pilihan untuk mencintai.

Tak pernah terbersit sebelumnya dalam diriku bahwa aku akan memilihnya. Siapalah aku
jika dibandingkan dengannya. Keagungannya membiusku sampai perhatianku tak teralih
darinya. Dia utama dan juga mulia, sedang diriku hanyalah seorang gadis biasa.

Memoriku teralih pada satu windu yang lalu kala aku dan ayahku tengah menonton
tayangan hafidz Qur'an di televisi. Bagaimana bisa anak sekecil itu menghafalkan Al-Quran?
Bukankah Al-Quran itu sangat tebal? Begitu banyak ayat yang harus dihafal, pikirku saat
membayangkannya. Wajar saja, usiaku baru 14 tahun saat itu, baru saja menduduki bangku kelas
2 SMP. Satu perkataan dari ayah yang begitu membekas di memoriku, “Ananda, apa ananda
tidak ingin seperti adik itu? Ayo ananda, ananda pasti bisa. Ayah yakin putri ayah juga bisa
seperti mereka.”

Kala itu aku terdiam. Jauh di lubuk hatiku muncul sebuah pertanyaan, “Apa mungkin aku
bisa?” Berbagai pemikiran dan penyataan mulai muncul di kepalaku. Namun, belum ada rasa
tertarik. Hanya sebatas itu. Tidak ada keinginan untuk melakukan hal lebih. Hanya sebatas
praduga dan prasangka. “Bisa jadi aku akan gagal.” “Jangan-jangan aku akan menyerah di
tengah perjuangan nanti.” “Bagaimana jika aku lalai?” Hari itu, pernyataan tentang hal itu
musnah begitu saja.

Entah apa yang terjadi. Di suatu hari, muncul sebuah tekad dalam diriku. Sepulang
halaqoh pagi di pondok, aku berjalan menuju kamar ustadzahku. Dengan takut-takut kuucapkan
salam. “Ustadzah, saya ingin menghafal juz 30.” Mengetahui hal itu, beliau tersenyum.
“Bismillah,” ucap beliau bak doa restu bagiku. Semenjak hari itu progress hafalan Al-Quran ku
pun dimulai.

Kumulai hafalan Al-Quran dengan rasa tidak percaya diri. Bagaimana tidak, saat itu
statusku belum menjadi anggota komunitas Al-Quran secara resmi, sedang ada teman sebayaku
yang lebih dahulu bergabung di dalamnya. Minder! Memangnya apa yang ku punya? Pantaskah
aku bergabung dengan mereka? Rasa itu terus saja merongrongku. Untungnya aku memiliki

6

sahabat yang senantiasa mendukungku. “Tak apa. Bukankah kau ingin mempersembahkan
mahkota untuk kedua orangtuamu?” Seketika semangatku tumbuh kala terbayang wajah ayah
dan bunda.

Singkat cerita, begitulah proses menghafal Al-Quran ini bermula. Berawal dari rasa
minder dan juga pesimis, perjuangan menghafalku dimulai. Kedepannya banyak peristiwa yang
ku hadapi demi memperjuangkan pendamping hidupku ini.

Karena ia istimewa, maka akulah yang harus memantaskan diri. Perjuanganku tidak
boleh setengah-setengah. Waktu mainku harus dikorbankan. Saat teman-teman bermain, aku
harus merelakan diri melipir ke masjid untuk mendarus hafalan Al-Quran. Bukannya apa, aku
hanya ingin menyelesaikan hafalanku tepat waktu. Alhamdulillah, di akhir masa SMP ku,
sepertiga Al-Quran telah berhasil kuhafal.

Di masa SMA ku, kedua orangtuaku memasukkanku di sebuah pondok tahfidz. Bukan
hanya sebagian kecil saja yang menghafal, melainkan seluruh santri diwajibkan untuk
menghafal. Di sanalah aku bertemu dengan Sang Murabbi Ruhi (Pendidik Jiwa).

Kami biasa menyebutnya “Al Ustadz”. Saat itu, aku dan teman-teman dipertemukan
dalam sebuah majelis asuhan beliau. Bukan hanya menghafalkan Al-Quran, beliau juga
mengajari kami memahami Al-Quran.

‫وما هذه الحياة الدنيا الا لعب و لهو‬

“Dunia ini tak lain hanyalah permainan dan senda gurau.”

Firman Allah itu telah menjadi motto hidupku sejak Al Ustadz menjelaskan maknanya di
majelis. Sungguh betapa kerdilnya diriku jika dibandingkan Dia Yang Maha Esa. Apalah arti
dunia yang dibangga-banggakan jika sejatinya hanyalah tempat singgah belaka. Dunia
sementara, akhirat selamanya. Dunia ini hanya permainan dan senda gurau. Tidak ada yang
abadi.

Tujuan hidup seorang hamba adalah mengabdi padaNya. Bukankah sebelumnya seluruh
makhluk telah bersaksi padaNya. Seperti halnya firman Allah:

‫قالو بلى شهدنا‬

7

Dari sini nuraniku serasa tertampar. Selama ini apa yang telah kulakukan? Sudahkah
terpenuhi tugas sebagai seorang hamba dengan maksimal? Sejak saat itu, aku pun tersadar bahwa
ada sebuah tugas yang belum kuselesaikan.

Pendamping hidupku…
Suami pertamaku…
Al-Quranku...

Di pondok baruku ini, Al-Quran telah menjadi teman setiaku. Pagi, siang, sore, hingga
malam tidak bisa terlepas dari Al-Quran. Di serambi masjid juga lorong-lorong asrama ramai
dengan kegiatan mengaji. Jangan lupakan aula juga halaman asrama. Ah... Indahnya. Hidup
bersama Al-Quran, bertekad menghafal Al-Quran, dan berjuang menjaga Al-Quran. Harapanku
adalah menjadi bala tentara Rasulullah dalam mensyiarkan Al-Quran. Semoga kami termasuk
dalam Ahlullah Ya Rabb...

Menginjak hafalan suratku yang ke dua belas, ujian itu datang. Seharusnya aku tidak
boleh kaget karena yang ku perjuangkan ini adalah perkara mulia. Bagaimana mungkin tidak ada
rintangan dalam menghafalnya. Kali ini yang diuji adalah hatiku.

Ada seseorang yang telah mengusik hati. Entah mengapa sosoknya telah berhasil
memikatku. Bukan cinta, hanya sekedar rasa. Hanya saja hal itu cukup mengganggu. Konon
katanya, tiap kali menghafal sebuah surat, maka orang itu akan diuji dengan perkara yang serupa
dengan kandungan surat tersebut. Entahlah, tidak semua orang harus percaya. Toh, jikapun hal
itu terjadi semua itu sebanding dengan apa yang tengah diperjuangkan. Saat itu hanya Dia yang
menjadi penolongku.

Dalam tiap sujudku, aku senantiasa berdoa, “Ya Allah, jangan Kau biarkan hambaMu
mencintai seseorang yang tak halal bagiku.” Biidznillah, permasalahan itu selesai dengan kabar
bahagia darinya. Aku rela, karena ku yakin Tuhanku tahu apa yang terbaik bagiku. Ingatlah pula
bahwa janjiNya itu Haq. Tidak ada keraguan di dalamnya.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam rangkaian perjuanganku. Biarlah hal itu
menjadi sejarah. Nyatanya tiap peristiwa memberikan ibrah yang luar biasa. Asalkan Allah tak
berpaling, tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan. Jangan lupakan juga mantra mujarab
milik Sang Wali. Ingatlah mereka, Sang Wali tanpa nama yang telah merawat dan

8

membesarkanmu. Jangan lupakan perjuangan mereka dengan senantiasa mendoakan kebaikan
dan juga keberkahan untuk mereka. Merekalah kedua orangtuamu yang telah banyak berkorban
untukmu. Semoga beliau senantiasa diselimuti rahmatNya.

Nyatanya diriku bukanlah apa-apa tanpa restu Sang Guru. Doa tulus juga kesabarannya
dalam mengajar sangatlah berperan dalam rangkaian perjuanganku. Maka, jangan lupa untuk
bertawassul padanya tiap kali hendak menambah hafalan atau memuraja'ah Al-Quran. Semoga
limpahan kebaikan senantiasa mengalir padanya.

Terbukti selang empat tahun setelah perjuangan itu dimulai, biidznillah tahap pertama
dalam menghafal telah berhasil kulampaui. Selanjutnya, sampailah perjuangan ini pada tahap
memuraja’ah. Ketahuilah bahwa muraja’ah itu jauh lebih sulit daripada menghafal. Dari sini aku
semakin tersadar bahwa keputusanku untuk menjadikannya pendamping hidup sangatlah sulit.
Perlu lebih banyak hal yang harus dikorbankan demi mencapai cita-cita mulia.

Aku yakin tiap orang pastilah memiliki rintangannya sendiri. Ada begitu banyak jalan
yang bisa dipilih. Seperti halnya seorang musafir yang lebih memilih untuk menerobos hutan
rimba daripada menerjang aliran sungai. “Bagaikan memakan buah simalakama”, mungkin
hanya itu istilah yang paling sesuai.

Sulit. Teramat sulit. Perkara apalagi yang harus dibuang? Ah, bukan membuang,
melainkan mengalihkan pada perkara lain yang lebih bermanfaat. Bukankah Allah telah
menciptakan manusia sebagai Ulul Albab? Jangan menyerah karena manusia sendiri yang telah
menerimanya di saat makhluk-makhluk lain gemetar untuk sekedar mendengar ultimatum Allah
kala itu. Mari kita tengok kandungan QS. Al Ahzab ayat 72.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan
melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat
zalim dan sangat bodoh.” Dalam kandungan ayat tersebut disebutkan, bahwasanya Allah telah
menawarkan pada tiap makhluknya untuk menjadi khalifah di muka bumi. Nyatanya, seluruh
makhluk gemetar untuk sekedar mendengar ultimatum itu. Namun, siapalah kita para manusia
dengan beraninya menerima amanah tersebut? Maka, jangan sekali-kali kita lalai hidup di dunia.
Ingatlah bahwa tiap perkara yang kita punya adalah titipanNya.

9

Senandung Al-Qur’an dalam Sejarah, Menggugah Semangat Para Penghafal
Oleh: Nuriyah Sa’adah

Pada hakikatnya, Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT untuk
Umat Islam. Al-Qur’an sendiri berisikan pedoman-pedoman, tata cara, anjuran, dan larangan
dalam menjalankan kehidupan beragama sehari-hari. Selain itu, Al-Qur’an juga berisikan kisah-
kisah dan sejarah orang-orang terdahulu, agar masyarakat kini bisa belajar dan mengambil
hikmah dari semua kejadian. Jadi Al-Qur’an tidak sekadar menjadi aturan yang bersifat hitam-
putih, tetapi Al-Qur’an selalu banyak membicarakan kisah-kisah nabi, tokoh, umat-umat
terdahulu agar bisa menjadi teladan dan pelajaran bagi umat Islam. Oleh karenanya Al-Qur’an
sendiri mengandung nilai pendidikan baik secara tersurat maupun tersirat. kemurniannya itu
tidak hanya berlaku untuk orang Islam di abad ke-6 saja, suri tauladan di dalam Al-Qur’an juga
masih relevan di generasi kini hingga selanjutnya.

Pada awalnya, Al-Qur’an dihafalkan oleh para Sahabat Nabi. Motivasi mereka menghafal
adalah untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, karena jika tidak dihafalkan, ditakutkan Al-Qur’an
akan punah dengan sendirinya. Ingatkah kalian akan perang Yamamah? Umat Muslim
mengalami kehilangan besar pada perang ini karena menggugurkan 70 orang Hafiz. Maka dari
itu, di era kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shidiq, ada sebuah proyek untuk mengumpulkan
kembali sisa-sisa siapa saja yang masih memiliki ingatan ayat-ayat Al-Qur’an, baik keseluruhan
maupun sepotong.

Sekarang ini, semakin banyak umat Muslim yang mencoba untuk menghafal Al-Qur’an.
Tentu tujuan utama mereka bukanlah untuk menjaga kemurnian Al-Quran seperti para Sahabat
Nabi lakukan, karena sudah banyak media untuk menyimpan susunan ayat-ayat suci ini, mulai
dari bentuk cetak hingga digital. Motivasi mereka kini mulai beragam, mari kita belah menjadi
dua jenis, yakni motivasi intrinsik (motivasi dari dalam individu) dan motivasi ekstrinsik
(motivasi dari luar individu).

Motivasi intrinsik contohnya adalah memiliki keyakinan diri bahwa jika menjadi
seorang Hafiz, maka dia akan mendapatkan beberapa keutamaan dan syafaat, mereka yakin jika
menghafalkan Al-Qur’an adalah jalan untuk meraih Ridho Allah SWT dan bisa digunakan untuk
menyelamatkan keluarganya di akhirat kelak. Ada juga yang berpendapat bahwa menghafal Al-

10

Qur’an hukumnya adalah Fardhu Kifayah, dan ada kenikmatan tersendiri ketika berhasil
menghafalkannya. Sedangkan contoh motivasi ekstrinsik misalnya ada dorongan kuat dari
orangtuanya, gurunya, atau ingin menjadi para Hafiz dan Hafizah yang pernah menghiasi layar
kaca dalam ajang pencarian bakat yang diadakan oleh stasiun televisi swasta.

Namun, perlu kita ketahui menghafal merupakan suatu pekerjaan yang mulia tidak
semua orang bisa melakukanya. hanya orang pilihan saja yang mampu menghafalnya. Bukan hal
yang mudah untuk menghafal setiap ayat, kaca dan halaman hingga tersusun sempurna serta
lekat dalam fikiran dan hati. Hal itu menjadi candu tersendiri bagi para penghafal. Setiap
kesulitan yang dirasakan tersimpan kenikmatan yang tiada tara. Al- Qur’an mampu menerangkan
hati yang gundah, meredakan emosi yang meluap, dan melembutkan hati yang keras. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya kisah Sayyidina Umar bin Khattab yang menghentikan niat jahatnya
untuk membunuh Nabi Muhammad setelah mendengar Fathimah adiknya sendiri yang lebih dulu
masuk islam melantunkan bacaan Al-Qur’an. Setelah itu tidak banyak bicara Umar pergi
menemui Nabi bukan untuk meluapkan emosi melainkan meminta nabi untuk meridhainya
masuk islam mempercayai Allah dan Rasul-Nya.

Begitu istimewanya Al-Qur’an terutama bagi kita para penghafal. Karna dimanapun dan
kapanpun lisan ini tak pernah kering untuk melantunkanya. Meski hafalan yang kita miliki masih
belum tersusun sempurna tapi semangat dan rasa tanggung jawab harus tetap terjaga. Istiqomah
yang tidak boleh luntur meski rasa malas membara di dalam diri. Menjaga keistiqomahan
memang begitu berat, ada saja penghalang baik rasa malas ataupun pekerjaan yang seketika
menghampiri untuk menunda. Memaksa diri merupakan kuncinya, cobalah untuk menikmati
bacaanya. Setengah juz terlampaui rasa malas yang membara akan pudar dengan sendirinya.

Banyak cara yang bisa kita dapatkan dalam menghafal dan setiap penghafal memiliki
caranya masing masing. Hal utama yang harus dilakukan oleh para penghafal Al-Qur’an adalah
Muroja’ah mengulang setiap ayat yang sudah di hafal. Muroja’ah bertujuan supaya setiap ayat
yang sudah dihafal hilang begitu saja, semakin banyak muroja’ah maka semakin lekat ia dalam
ingatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada ummatnya bahwasanya Al
Qur’an itu sangatlah mudah hilang dari ingatan, hal ini tertera pada sabda Nabi yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhori, muslim, Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Al-Baihaqi :

11

‫تعاهدوا هذا القران الذي نفسي بيده لهو أشد تفلتا من الإبل في عقلها‬

Artinya : Ikat eratlah al-Qur’an ini, demi jiwaku yang berada digenggaman-Nya, sesungguhnya
al-Qur’an ini lebih mudah terlepas (hilang) dari unta yang di ikat. Begitu cepatnya Ayat ayat
yang sudah kita hafal hilang jika tidak ada muroja’ah sebagai pengikat yang harus
diistiqomahkan setiap harinya.

Menghafal merupakan kegiatan mulia yang dilakukan sejak zaman nabi untuk tetap
menjaga keautentikan-Nya. Hal tersebut juga harus kita lestarikan dengan menghafalnya tidak
hanya secara lafadz melainkan juga makna serta mengamalkanya dalam setiap gerak gerik
kehidupan. Semangatlah dalam membumikan Al-Qur’an yang setiap ayatnya memiliki makna
yang menenangkan hati. Teruntuk setiap sejarah yang sudah dituliskan tetaplah kita jadikan
sacuan untuk hidup yang lebih baik.

12

Menuju Jalan Mu
Oleh: Anis Dwi Hayati

Aku dan Al-Qur'an adalah dua hal yang semoga tak pernah terpisahkan. Langkah kaki
yang kulalui untuk bersamanya bukanlah hal mudah. Setiap langkahnya pasti akan ada duri dan
batu yang siap menghujam kaki. Langkah pertama yang kutempuh dalam proses hidup bersama
Al-Qur’an diawali dari bangku SMA membawaku berkawan dengan teman yang lebih positif
dari zaman SMP, mereka perlahan menariku pada organisasi keagamaan SMA(ROHIS), dengan
difasilitasi oleh organisasi untuk menghafal minimal juz 30. Setelah target tersebut tercapai, rasa
ingin melanjutkan hafalan Al Quran semakin menggebu.

Akupun mulai memberanikan diri untuk izin mencari pondok pesantren, akan tetapi tak
mendapat restu dari orang tua sebab sudah terlanjur masuk SMA, setelah menunggu dalam
gundah kapan aku dapat melanjukan hafalanku, hingga Allah kirimkan jawaban lewat hasil
penggumuman tes masuk perguruan tinggi negeri. Allah menetapkan aku untuk menjadi
mahasiswa uin malang, disanalah aku belajar di mahad sembari memulai hafalan di HTQ.

Satu tahun telah berlalu dan masa belajarku di mahad telah berakhir. Gundah kembali
menghampiri ku sebab pendaftaran pondok pesantren yang aku impikan sudah ditutup. Hal ini
memaksaku untuk pulang kerumah, saat aku dirumah pukulan kesekian kalinya kembali hadir,
aku berhadapan dengan fakta bahwa ibuku mengidap kanker rahim stadium satu yang
disembunyikannya selama satu tahun saat aku masih tinggal di mahad. Akupun harus berjuang
untuk menemani ibu sembari merayu agar beliau bersedia dioperasi pengangkatan rahim.

Ibu bersedia dioperasi pengangkatan Rahim saat aku menginjak semester 4, singkat
cerita setelah ibu selesai operasi, ibu harus menjalani proses recovery selama kurang lebih tiga
bulan sehingga tidak bisa berkerja, sehingga aku yang masih memiliki kewajiban kuliah harus
pulang pergi dari rumah ke kampus. Karena di rumah hanya ada satu motor, akupun harus
mengalah menggunakan transportasi umum, ditambah aku harus mengurus rumah dengan segala
keriwehanya. Beban pikiran, beban kuliah ditambah beban hati, membawaku lebih jauh dari Al-
Qur'an.

Allah kirimkan hadiah terindah tuk menyelesaikan semua kegundahan ku, tepat disaat
ibu sudah mulai membaik, di saat itu pula pondok pesantren yang ku impikan membuka

13

pendaftaran santri baru. Aku mencoba memberanikan diri meminta izin untuk mendaftar pondok
kepada ibu. Alhamdulillah, disinilah tempat saya saat ini berada, tempat yang saya perjuangkan
sejak 2019 silam, dan bersyukur Allah izinkan aku bersama para penghafal Al-Qur'an, dan
semoga bisa menjadi bagian dari mereka selamanya.

Menghafal Al-Qur'an memberikan ketenangan hati tengah bebasnya pergaulan. Menjadi
salah satu tiket membahagiakan orang tua didunia dan akhirat. Menjadi satu-satunya kado yang
Insyaallah dapat dinikmati Ayah di alam kubur. Terimakasih yaa Allah atas kesempatan yang
telah diberikan untuk dapat menghafal Al-Qur'an ditemani orang-orang yang luar biasa serta
dibimbing oleh Abi dan Ummah yang penuh dengan cinta, hingga meski jauh dari orang tua
tetapi tidak merasa jauh.

14

Satukan Diri Seutuhnya untuk Menjadi Reputasi Sejati pada Sang Pencipta Melalui
Kalam Suci-Nya

Oleh: Ika Widia Astuti

Al-Qur`an adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah ke pada umat manusia untuk
menjadikannya beriman sekaligus dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam pemecahan keputusan
serta tempat kembali akan segala permasalahan hidup. Membersamai hidup dengan Al-Qur`an
merupakan pilihan yang mulia sekaligus tantangan keistiqomahan seseorang dalam
menyeimbangkan dengan padatnya aktivitas di samping mendalami Al-Qur`an. Manusia dibekali
akal untuk berpikir dan manusia memiliki kendali diri yang terpusat pada hati, pengendalian itu
akan menjadi cerminan keimanan seseorang dengan segala tindak yang dilakukan serta cara
perbikir utuk mencapai tujuan melalui perencanaan yang terealisasikan. Pada hakikatnya hidup
bukanlah mengenai arti target akan tetapi hidup merupakan pertanggung jawaban akan tujuan
akhir yang dihasilkan, seperti halnya seorang penghafal Al-Qur`an. Tujuan akhir seperti apa dan
spesifikasi cara yang bagaimana untuk mewujudkan apa yang telah menjadi perencanaan dalam
memulai dan memantapkan diri sebagai hamilul qur`an yang sejati.

Pilihan menjadi hamilul qur`an bukanlah pilihan yang dapat dengan mudah dilepas,
ditinggal, bahkan diputar balikkan ketika menemukan ritangan atau kesulitan dalam
mewujudkannya. Ketika seseorang telah mengambil keputusan dan mengarahkan dirinya sebagai
hamilul qur`an dia harus siap menomorsatukan Al-Qur`an serta harus siap waktunya habis
bersama Al-Qur`an tanpa merasa terlelahkan oleh Al-Qur`an. Tidak cukup menghafal tanpa
mengulanginya setiap hari, tidak cukup hanya sekali bahkan setiap waktu, dan tidak cukup
menghafal hanya dengan niat untuk menjadikannya sebuah kebanggan diri walaupun pada
hakikatnya menghafalkan Al-Qur`an adalah sebuah kemuliaan yang tiada banding karena sampai
kapanpun dan dalam keadaan apapun akan tetap bersama kalam dan Sang Pemilik kalam dengan
usaha untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hafalan. Betapa mulianya seorang pernghafal
Al-Qur`an akan tetapi kemuliaan itu tidak boleh menjadikan tumbuhnya kesombongan dalam
diri seorang penghafal Al-Qur`an, sejatinya sebagai penghafal Qur`an yang benar-benar
memuliakan kalamNya, akan memulai dengan menata hati, menyiapkan kesucian niat, dan
menguatkan diri dengan segala rintang yang kemungkinan akan ditemuinya.

15

Allah menciptakan umat dengan beragam bentuk dan pola kehidupan akan tetapi
sejatinya segala keberagaman itu tidak lain adalah cara-Nya untuk menyempurnakan keimanan
manusia, termasuk Allah menjadikan seseorang sebagai penghafal Al-Qur`an. Tidak semua
orang ditakdirkan sebagai penghafal Al-Qur`an dan Allah memiliki cara tersendiri untuk
mengetuk hati seseorang untuk meningkatkan keimanan seseorang begitu pula dengan ujian yang
diberikan. Setiap penghafal Al-Qur`an mendapati ujian yang tidak sama, mulai dari proses
menghafal, menjaga hafalan serta, memperbaiki kualitas hafalan. Menguatkan diri dengan
motivasi dan alasan kuat untuk menghafal adalah salah satu modal untuk kembali ketika
keterpurukan dalam menghafal dan kesulitan itu menjadi hambatan.

Motivasi apa yang menumbuhkan keinginan menghafal Al-Qur`an dan bagaimana cara
menguatkan diri ketika rintagan itu ada, serta langah yang seperti apa sehingga tetap bertahan
dengan niat dan kekuatan untuk menghafal yang tidak memudar. Sebagai penghafal yang baru
memulai hendaknya memotivasi diri dengan segala penguatan yang dapat menjadikan dirinya
tetap tangguh merupakan hal pokok untuk menguatkan pondasi menghafal, di samping itu
hendaknya menempatkan diri pada lingkungan yang Qur`ani jika belum bisa menciptakan atau
memengaruhi untuk mewujudkan karakteristik suasana yang Qur`ani. Dengan demikian akan
meminimalisir kemungkinan munculnya hambatan yang lebih besar. Selain itu perlu ada
pembiasaan baru dengan pembawaan mushaf Al-Qur`an ke manapun serta menempatkan mushaf
Al-Qur`an di manapun kita berada misal di tempat kerja, meja belajar, atau disamping tempat
istrahat dengan demikian maka akan selalu teringat bahwa ada kewajiban untuk ziadah dan
murojaah. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk memotivasi diri dan membangkitkan
dirinya untuk untuk mencapai tujuan yang direncanakan, melalui renungan mendalam, motivasi
dari orang lain, melalui tulisan ataupun yang lain.

Penghafal Al-Qur`an hendaknya menyatukan dirinya dengan predikat kehidupan yang
baik melalui seberapa lama waktu digunakan bersama Al-Qur`an bukan tentang target capaian
yang didapatkan akan tapi tentang keistiqomahan dan keikhlasan yang ditanamkan.
Keistiqomahan dan keikhlasan itu hendaknya tergambar seperti mentari yang terbit di pagi hari.
Dalam menghafal Al-Qur`an tentunya akan menemukan beragam ujian dan cobaan akan tetapi
ukuran keberhasilan dalam menghafal Al-Qur`an bukanlah ketika khatam, selesai menghafal lalu
mendapat gelar sebagai penghafal akan tetapi bagimana cara menjadikan Al-Qur`an hingga

16

melekat dalam setiap apa yang kita lakukan dengan selalu istiqomah dan selalu meningkatkan
kualitas hafalan. Tidak mudah memang, bahkan untuk mencapai hafalan yang baik, tidak jarang
air mata bercucuran mengiringi segala kesulitan dalam menghafal maupun ketika mendapati
ujian bentuk lain dalam proses menghafal.

Menyiapkan diri dengan segala tantangan dan ujian, karena tidak menutup kemungkinan
bahwa dalam diri setiap penghafal A-Qur`an sejatinya tidak berhenti bertanya mengapa niat baik
sering kali mendapat banyak ujian bahkan ujian itu belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Seiring waktu berjalan secara tidak langusng membuka jawaban dari berjuta pertanyaan apa dan
mengapa, yang pasti berpikir positif pada setiap ketetapan Allah dengan penuh keyakinan bahwa
ketika semua masih dalam perencanaan Allah semua akan baik baik saja, dan semua yang terjadi
adalah cara untuk mendewasakan pola berpikir kita. Tidak semua keinginan yang kita inginkan
sesuai dengan kebutuhan, bahkan ada kalanya keinginana yang kita dambakan adalah hal yang
membuat kita menyesal kemudian. Tidak jarang ujian itu datang di tengah rencana yang kita
jalankan, dan seketika ujian itu datang seolah mematikan harapan, seperti halnya ketika kita
menemukan ayat yang mudah untuk dihafal akan tetapi waktu itu juga kesehatan menurun atau
tugas lain berdatangan. Tidak jarang juga ayat yang kita hafal itu terlihat susah ternyata setelah
memelajari maknanya terdapat sebuah gambaran kehidupan yang kita jalankan saat ini, atau pun
petuah yang mengandung pesan melalui kesulitan itu. Allah ingin kita memaknai dengan
perenungan mendalam untuk menjadikannya petuah dalam kehidupan.

Membangun kekuatan, menguatkan integritas diri, dan menentukan tujuan yang spesifik
adalah cara signifikan sebagai penghafal Al-Qur`an untuk meningkatkan kualitas hafalan serta
menguatkan diri ketika mendapati banyak ujian. Menghafal Al-Qur`an adalah amanah yang
mulia karena untuk berada dalam posisi tersebut membutuhakan perjuangan seumur hidup serta
pertanggung jawaban akhirat yang berdampak tidak hanya pada diri sendiri melainkan juga
orang tua dan seluruh keturunannya. Membangun kekuatan dengan segala kesiapan mental,
pikiran dan fisik adalah modal sebagai pembangkit diri dan pendorong yang membangkitkan.
Sejatinya kakuatan itu berasal dari dalam diri seseorang melalui niat dan bagaimana bersungguh-
sungguh dalam menggapai apa yang direncanakannya.

Kekuatan menghafal perlu dibangun dengan pemaknaan yang benar, melainkan tidak
hanya bersemangat untuk menghafal akan tetapi juga mengulang hafalan secara terus menerus,

17

memperbaiki bacaan serta mengaplikasikan melalui pemaknaan yang benar dalam kehidupan
sehari-hari. Kekuatan dalam menghafal perlu diseimbangkan dengan integritas diri melalui
konsistensi dalam setiap keputusan serta manajemen waktu yang tepat. Untuk menjadi penghafal
Al-Qur`an perlu menerapkan konsep penguatan integritas diri melalui apa yang bisa dilakukan
pengambila keputusan yang berdampak di masa depan. Al-Qur`an bukan lagi perkara dunia yang
dapat dipermainkan sesuai keinginan melainkan bagaimana kita bisa konsisten dengan segala
keputusan dan menerapkan konsep manajemen waktu yang menjadi bahan pendorong
terlaksananya tujuan. Konsisten terhadap diri keputusan dan konsisten terhadap waktu adalah
dua hal yang mengarahkan pada rencana yang baik menuju tujuan yang tepat.

Dalam proses tidak pernah ada larangan untuk menarget hasil ataupun menunut capaian
akan tetapi ketika membahas dalam ranah Al-Qur`an lingkup bahasan tidak lagi tentang
menarget dan mengejar tututan, titik fokus dalam menghafal Al-Qur`an bukanlah ketika target
itu tercapai lalu menghentikan rutinitas yang telah dilakukan melainkan mengenai bagaimana
ketika target itu terwujud dapat tetap istiqomah dengan semua kebiasaan baik tersebut serta
ketika target belum terwujud apa terbososan dan bagaimana kekuatan diri untuk kembali pada
tujuan akhir dari kita meghafal. Apa tujuan awal menghafal Al-Qur`an dan ketika melaksanakan
target tersebut maka harus konsisten dengan segala yang ada misalkan menambah waktu untuk
murojaah dan mengurangi memikirkan hal-hal yang kurang bermanfaat atau tidak seranah
dengan Al-Qur`an.

Menyatu dalam proses untuk menjadi pribadi Qur`ani yang sejati dan memegang teguh
Al-Qur`an melalui segala bentuk penguatan perencanaan serta mewujudkan tujuan sebagai
penghafal Al-Qur`an. Mendekatkan diri pada Sang ilahi dengan jalan merayu Tuhan melalui
kalam-Nya adalah salah satu cara menjalin komunikasi secara langsung ke pada Allah.
Menikmati proses, walau penuh liku tapi ketahuilah untuk memiliki sesuatu yang berharga tak
cukup hanya dengan perjuangan tanpa pengorbanan. Menangis, merasa berat, tidak sanggup
melanjutkan, adalah sebuah kewajaran yang tidak jarang ditemukan bahkan hamir semua
penghafal merasakan akan tetapi yang perlu kita ingat ketika kita menghafal Al-Qur`an bukan
hanya kita yang akan mendapat berkahnya tapi juga orang tua dan keluarga kita begitu pula
sebaliknya. Pilihannya adalah memberi yang terbaik atau mundur dengan memupuk rasa kecewa,
predikat penghafal Al-Qur`an adalah tanggung jawab yang mulia sehingga dengan kemuliaan itu

18

maka di akhirat seorang penghafal Al-Qur`an yang sejati mampu memberi hadiah terinda berupa
mahkota ke pada kedua orang tuanya dengan rasa bangga di atas tangis bahagia. Sebuah pepetah
dari seorang kyai seberapa keras usaha kita menjaga Al-Qur`an maka se begitu pula Allah akan
memuliakan hidup kita dan kelak di akhirat.

19

Cahaya itu Bernama Al-Qur’an
Oleh: Maulidya Zahrina Qolby

Artikel ini menceritakan tentang perjalananku bersama Al Qur’an yang masih dini
dibanding santriwati PPTQ Nurul Huda yang lain. Hafalan Al-Qur’anku bermula di bangku
Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana saat itu salah satu syarat kelulusannya adalah hafal
Al-Qur’an minimal 2 juz. Dapat dikatakan bahwa awalnya aku menghafal Al-Qur’an karena
tuntutan sekolah, namun ketika lulus SMP, terbersit keinginan untuk melanjutkan hafalan Al-
Qur’an. Alhasil, aku melanjutkan pendidikan pada salah satu pondok pesantren modern semi
salaf di Jombang.

Disanalah proses menghafalku berjalan sedikit lebih intensif, karena aku memilih asrama
dengan program tahfidz. Ekspektasiku, aku dapat menjalani proses menghafal Al-Qur’an dan
juga sekolah dengan berdampingan dan seimbang. Namun ternyata salah, program tahfidz dari
asrama ternyata hanya memantau ziyadahnya saja, murojaah dilakukan secara otodidak sesuai
inisiatif masing-masing. Tidak sampai disitu, Sekolah Menengah Atas yang kupilih adalah
sekolah unggulan dengan tiga kurikulum yang menuntut siswa untuk mempelajari banyak mata
pelajaran. Pada awalnya aku bisa menyesuaikan diri dengan tidak aktif pada organisasi-
organisasi sekolah dan membagi waktu antara belajar dan menghafal Al-Qur’an, bahkan aku
menolak untuk didaftarkan seleksi Olimpiade Sains Nasional atas rekomendasi salah satu guru.

Namun dengan berjalannya waktu, aku merasa seperti tidak menjadi diri sendiri. Aku
yang aktif mengikuti perlombaan saat SMP merasa tidak memiliki progress, apalagi melihat
teman-teman lain mulai mencari kesempatan untuk mengikuti kompetisi. Akhirnya, aku memilih
untuk ikut program pembinaan ujian sertifikasi. Tidak langsung terjun ke kompetisi karena
sertifikat ujian ini meruupakan salah satu syarat kelulusan, dan saat itu masih takut terlena jika
langsung ikut kompetisi. Setelah menjalani ujian sertifikasi pertama dan menuai hasil yang
cukup memuaskan, pada kelas 11 aku melanjutkan pembinaan dengan subject ujian yang
berbeda dan kembali menuai hasil yang bagus. Di titik tersebut aku mulai terlena, mengikuti
berbagai olimpiade dan kompetisi yang sejenisnya. Aku mulai menjadi idealis, harus berprestasi
dan bisa masuk kedokteran. Namun, aku tak sadar kalau kala itu aku lalai pada murojaahku.

20

Hanya ziyadah yang kulakukan sebagai kewajiban, karena terlalu disibukkan dengan urusan
akademik.

Semakin lama tuntutanku dalam akademik semakin bertambah. Saat pandemi COVID-19
mulai menyebar di Indonesia, tepat saat kelas 11 akhir, aku diberi amanah untuk melakukan
proyek penelitian dalam rangka lomba Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia dari Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan. Saat-saat itu mungkin menjadi fase dimana semangat hafalanku
mulai menurun, diperparah ketika semua sekolah diharuskan untuk PBM daring dari rumah. Saat
itu, sebenarnya aku sudah mulai diingatkan oleh Allah bahwa aku terlampau jauh dengan Al-
Qur’an. Proyek penelitian tersebut hanya berhenti sampai semifinal, dan juga diuji dengan
kegagalan pada lomba-lomba lainnya. Namun aku tetaplah aku, idealis itu masih menancap
dalam dada.

Jangan ditanya bagaimana ambisnya aku ketika memasuki kelas 12, apalagi dengan azam
tinggi untuk masuk kedokteran di universitas negeri. Murojaah semakin tertinggal karena
prioritasku adalah belajar untuk seleksi masuk universitas, mempersiapkan diri dan portofolio
sebaik-baiknya. Namun sebaik-baiknya manusia dalam merencanakan sesuatu, tetap Allah yang
memutuskan jalannya. Diawali dengan kegagalan pada seleksi pertama jalur rapor dan prestasi
atau SNMPTN, kemudian aku dinyatakan lulus dari SMA. Aku pulang ke rumah, dan
mendaftarkan diri pada bimbingan belajar untuk menghadapi tes tulis. Ada sedikit kisah disini,
dimana aku mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu idealis hingga melalaikan hafalanku.

Saat itu ibu mengajakku ke yayasan pendidikan tempat beliau bekerja, dan aku
dipertemukan dengan salah seorang teman yang aku sebenarnya sudah kenal dari lama. Beliau
bernama bu Zakiyah, teman mengajar ibu sejak lama yang dulu adalah santri umma saat masih di
rumah dinas. Awalnya kami mengobrol santai, namun kemudian bu Zakiyah mulai menanyakan
hafalanku. Aku terus terang pada beliau, karena saat itu juga menjadi kesempatan untuk
menyampaikan apa yang ku pendam, aku tidak bisa mendapat solusi yang kuat dari ibu, namun
sebagai sesama pejuang Al-Qur’an bu Zakiyah dapat memahami apa yang kurasakan tanpa
menyalahkan, karena beliau dulu juga pernah merasakan hal yang sama. Awalnya beliau
menyarankan agar aku tidak melanjutkan kuliah terlebih dahulu, namun sepertinya sangat sulit
untuk melakukannya, apalagi aku terlanjur mendaftar tes tulis. Akhirnya aku memutuskan untuk
menjalani tes tulis terlebih dahulu.

21

Kegagalanku berlanjut pada seleksi-seleksi berikutnya, mulai dari Jalur Prestasi UGM,
SBMPTN, hingga Ujian Tulis UGM. Pada titik tersebut aku merasa sangat hampa, saat itu aku
mulai berfikir untuk gapyear namun ternyata orang tuaku tidak memperbolehkan. Akhirnya aku
berinisiatif untuk mendaftar pada seleksi masuk Universitas Brawijaya Jalur Mandiri Rapor dan
Prestasi. Saat bimbang memilih jurusan aku teringat salah satu nasehat bu Zakiyah, ketika kamu
dihadapkan antara Al-Qur’an atau pekerjaan yang menjanjikan tetaplah pilih Al-Qur’an,
mungkin secara harta dinilai sangat rendah namun Al-Qur’an itu menjanjikan ketenangan hati,
dan itu yang paling penting. Disitu aku sudah tidak berfikir untuk memilih jurusan kesehatan,
akhirnya aku memilih jurusan dengan uang pangkal yang tidak terlalu tinggi dan berpeluang
lolos, yakni peternakan. Benar saja, saat pengumuman aku dinyatakan lolos.

Walaupun aku sudah diterima di Universitas Brawijaya, namun perasaan sedih itu masih
ada, apalagi ketika melihat teman-teman lain berhasil lolos pada program pendidikan dan
universitas yang diimpikan. Rasanya masih berat melepaskan cita-cita yang kubangun sejak
belum mengenyam pendidikan. Namun pada suatu hari aku kembali bertemu dengan bu Zakiyah,
dan saat itulah aku merasa tertampar. Kala itu beliau berkata bahwa apapun yang sudah terjadi
itu memang sudah jalan dari Allah, aku diselamatkan, aku masih sangat disayangi oleh Allah,
aku masih harus berada dalam naungan Al-Qur’an. Sejak hari itu aku mulai bisa melepas impian
itu sedikit demi sedikit.

Aku mulai menata diri untuk kembali membenahi hafalanku, dan saat itu pula bu Zakiyah
merekomendasikan PPTQ Nurul Huda, ibuku juga langsung antusias. Setelah menggali
informasi, akhirnya aku bisa daftar walaupun saat itu sudah melampaui tenggat pendaftaran,
bahkan seharunya santri baru sudah berangkat ke pondok. Namun saat itu tiba-tiba penyakit
vertigoku kambuh lumayan parah, ditambah dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat (PPKM). Setelah kondisiku membaik, ayah dan ibu memutuskan untuk mengantarku
ke pondok tanggal 27 Juli 2021.

Dengan menata niat dan semangat yang cukup lama, aku akhirnya berangkat ke pondok
walaupun masih dengan status calon mahasiswa baru yang artinya aku akan menjalani ospek
universitas ketika sudah di pondok. Tak apa, yang penting Al-Qur’an harus kudekap dahulu.
Rasa menyesalku masih mendalam, namun jika hanya dirasakan yang ada hidupku semakin
dipenuhi keresahan. Harus ada perubahan yang kulakukan untuk menebusnya, dan satu-satunya

22

cara hanyalah membenahinya dengan segera. Pengalaman ini benar-benar berharga, memberi
makna bahwa Al-Qur’an seharusnya dijadikan yang utama. Ketika kita melalaikan Al-Qur’an,
Allah tidak segan mengingatkan bahkan dengan kegagalan, namun ketika kita mengutamakan
Al-Qur’an semua menjadi mudah. Apalagi ketika Al-Qur’an dikesampingkan untuk urusan
dunia, justru rasa tidak pernah puas yang selalu ada dalam diri seorang manusia semakin
menjadi-jadi. Karena sejatinya hal yang paling berharga dalam hidup adalah ketenangan hati, dan
Allah telah berfirman bahwa dengan berdzikir yang juga bisa diartikan membaca Al-Qur’an
maka kita akan dikaruniai ketenangan hati, alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub.

23


Click to View FlipBook Version