The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tugas PAI Kelas XII MIPA 3 Chylla Aydella Putri A. (07)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sayapatricia627, 2023-02-09 05:22:23

Kerajaan Gowa Tallo

Tugas PAI Kelas XII MIPA 3 Chylla Aydella Putri A. (07)

Kerajaan Gowa Tallo Chylla Aydella Putri Agustien XII-A3 07


Daftar Isi Cover Daftar ISi Peta Konsep Latar Belakang Pembahasan 1.1 Sejarah 1.2 Letak Kerajaan Gowa Tallo 1.3 Raja-raja Yang Memimpin Kerajaan Gowa Tallo 1.4 Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo 1.5 Masa Keruntuhan Kerajaan Gowa Tallo 1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Refleksi Daftar Pustaka Biografi Penyusun


Peta Konsep


Latar Belakang Jazirah Sulawesi Selatan dihuni oleh empat kelompok etnis utama: suku Mandar di bagian pesisir barat laut, suku Toraja di daerah pegunungan di utara, suku Bugis di dataran rendah dan perbukitan sebelah selatan tanah Mandar dan Toraja, serta suku Makassar yang mendiami bagian paling selatan semenanjung (termasuk wilayah Gowa dan Tallo). Keempat suku ini merupakan penutur bahasa-bahasa Austronesia dari subkelompok Sulawesi Selatan. Sejak sekitar awal abad ke-13, masyarakat di semenanjung Sulawesi Selatan mulai mengelompok menjadi chiefdom-chiefdom berbasiskan pertanian ladang berpindah yang batas-batasnya ditentukan oleh ragam dialek atau bahasa. Meskipun kerajaan-kerajaan pesisir mendapat pengaruh terbatas dari imperium Jawa Majapahit dan dikenalkan dengan aksara Brahmik pada abad ke-15, sejarawan Ian Caldwell berpendapat bahwa perkembangan peradaban awal Sulawesi Selatan "secara garis besar tidak terhubung dengan teknologi dan ide-ide asing." Seperti chiefdom-chiefdom Filipina dan masyarakat Polinesia, Gowa pra-Islam dan jiranjirannya merupakan peradaban yang berdasarkan pada kelompok pemikiran sosial dan politik asli 'bangsa Austronesia' dan dapat dikontraskan dengan masyarakat Nusantara bagian barat lainnya yang memperoleh pengaruh budaya India secara ekstensif.


1.1 Sejarah Kerajaan Gowa Tallo atau yang sering disebut Kerajaan Makassar, merupakan kerajaan bercorak Islam terbesar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-16. Kerajaan Gowa Tallo adalah kerajaan gabungan dari Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang dimiliki dua orang bersaudara. Penyatuan ini terjadi ketika pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Khallona.


A. Sebelum memeluk Islam Pada awalnya, di wilayah Gowa terdapat Sembilan komunitas yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera. Sembilan komunitas tersebut berisikan Tambolo, Lakiung, Saumata, Parang-Parang, Data, Agangjene, Bisei, Kalili, dan Sero. Kemudian Sembilan komunitas tersebut bergabung menjadi satu dan membentuk Kerajaan Gowa pada awal abad ke-14. Pada masa itu, masyarakat dan penguasa menganut kepercayaan animisme. Raja pertama dari Kerajaan Gowa yaitu Tomanurung Bainea. Setelah itu, mewariskan kekuasaannya kepada anaknya, Tumassalangga. Pada masa pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15 Kerajaan Gowa terpecah menjadi dua. Terpecahnya kerajaan membuat terjadinya perang saudara antara dua putra Tonatangka Lopi yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Peperangan tersebut dimenangkan oleh Batara Gowa. Kemudian karena kalah Karaeng Loe ri Sero memutuskan untuk turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan Kerajaan Tallo. Selama bertahun-tahun, kedua kerajaan ini tidak pernah akur. Hingga kemudian pada masa pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumpa’risi Kallona dari Kerajaan Gowa membuat perjanjian dengan Kerajaan Tallo. Perjanjian tersebut terbentuk pada tahun 1565. Perjanjian ini memiliki prinsip “Dua raja tetapi satu rakyat”. Hal ini menandakan bahwa kedua kerajaan ini tidak boleh saling melawan satu sama lain. Bergabungnya dua kerajaan disepakati dengan nama Kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan Gowa Tallo menggunakan sistem pembagian kekuasaan dimana raja dipilih dari garis keturunan Kerajaan Gowa sedangkan perdana menteri dari Kerajaan Tallo.


B. Sesudah memeluk Islam Kerajaan Gowa Tallo bersifat maritime dengan kegiatan utamanya pelayaran dan perdagangan. Kemudian kerajaan ini menjadi pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara dan menjadi pusat niaga para saudagar muslim. Pada abad ke-16, Kerajaan Gowa Tallo memasuki masa Islam dan berubah menjadi kesultanan. Masuknya Islam di wilayah ini karena dakwah dari Datuk Ri Bandang dan Datuk Sulaiman dari Minangkabau. Penguasa Kesultanan Gowa Tallo pertama yang memeluk Islam adalah I Mangarangi Daen Manrabbia (1593-1639) dengan gelar Sultan Alauddin I. Setelah itu, sekitar dua tahun seluruh rakyat Kesultanan Gowa Tallo diIslamkan. Rakyatnya terikat pada norma adat yang didasarkan pada ajaran Islam.


1.2 Letak Kerajaan Gowa Tallo Kerajaan Gowa Tallo berada di Gowa, Sulawesi Selatan. Ibukotanya berada di Kota Sungguminasa.


1.3 Raja-Raja Yang Memimpin Kerajaan Gowa Tallo A. Sebelum Masuk Islam Tumanurung Bainea (±1300) Tumassalangga Barayang Puang Loe Lembang I Tuniatabanri Karampang ri Gowa Tunatangka Lopi (±1400) Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna Pakere Tau Tunijallo ri Passukki Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna (awal abad ke-16, sekitar tahun 1546) I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590) I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)


1.3 Raja-Raja Yang Memimpin Kerajaan Gowa Tallo B. Sesudah Masuk Islam Sultan Alauddin I Sultan Malikussaid Sultan Hasanuddin Sultan Amir Hamzah Sultan Mohammad Ali Sultan Abdul Jalil Sultan Ismail Sultan Najamuddin Sultan Sirajuddin Sultan Abdul Chair Sultan Abdul Kudus Sultan Maduddin Sultan Zainuddin Sultan Abdul Hadi Sultan Abdul Rauf Sultan Muhammad Zainal Abidin Sultan Abdul Kadir Aididin Sultan Muhammad Idris Sultan Muhammad Husain Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin


1.4 Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo Kesultanan Gowa Tallo mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Penaklukan daerah Wajo dan Luwu dan kemudian menyebarkan agam Islam ke kedua wilayah tersebut Kesultanan Gowa Tallo menjalin perdagangan dengan Jawa, Maluku, Malaka, hingga India dan China. Memiliki pelabuhan yang menjadi bandara utama mengalirnya rempahrempah dari Maluku ke wilayah barat yaitu Pelabuhan Somba Opu Kesultanan Gowa Tallo dapat menjangkau pesisir Kalimantan, Maluku, dan Nusa Tenggara Berkembangnya pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam di Banten Sultan Hasanuddin menentang kehadiran VOC yang saat itu sedang berkuasa di Ambon Berikut merupakan bentuk pencapaian yang diraih oleh Kesultanan Gowa Tallo yang meliputi:


Kerajaan Gowa Tallo mengalami keruntuhan akibat hadirnya VOC dan politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda. Pada saat itu, Raja Bone yaitu Aru Palaka mau bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang ini disebut dengan nama Perang Makassar. Perang yang terjadi selama bertahun-tahun membuat Kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya. Kemudian terjadi penandatangan Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Dalam perjanjian tersebut isinya banyak merugikan Kerajaan Makassar akan tetapi mau tidak mau harus tetap diterima oleh Sultan Hasanuudin. Berselang dua hari dari penandatanganan Perjanjian Bongaya, Sultan Hasanuddin turun tahta. Kemudian kekuasaan diberikan kepada Sultan Amir Hamzah. Hal ini diperparah dengan raja-raja yang berkuasa setelah Sultan Hasanuddin bukanlah raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan. Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Gowa Tallo runtuh. 1.5 Masa Keruntuhan Kerajaan Gowa Tallo


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Benteng Somba Opu Benteng Somba Opu merupakan benteng dan pusat perdagangan atau pelabuhan bagi Gowa Tallo. Hal ini disebabkan karena pelabuhan ini menampung rempah-rempah dari Timur yang akan diperdagangkan ke seluruh dunia. Saat dikuasasi VOC, benteng ini sempat hancur pada tahun 1669. Kemudian pada tahun 1990 direkonstruksi kembali dan kini menjadi salah satu situs sejarah penting di Gowa.


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Batu Tumanurung atau Pallantikan Batu Tumanurung atau Pallantikan merupakan makam bagi beberapa raja Gowa Tallo. Tempat ini juga digunakan sebagai pelantikan raja. Letaknya berdekatan dengan Lokasi Masjis Tua Katangka dan dugaan Istana Tamalate.


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Benteng Ujung Pandang/Rotterdam Benteng Ujung Pandang merupakan suatu instalasi pertahanan yang dimiliki Gowa Tallo di pesisir barat. Benteng ini dibangun oleh raja Gowa ke-9 yaitu Karaeng Lakiyung dengan menggunakan tanah liat. Kemudian benteng ini direkonstruksi kembali oleh Sultan Alaudin dengan menggunakan batu padas. Saat pendudukan VOC, benteng ini diubah namanya oleh Cornelis Speelman menjadi Fort Rotterdam dan digunakan sebagai gudang penampungan rempah bagi VOC.


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Istana Balla Lompoa Istana Balla Lompoa merupakan istana yang digunakan oleh para raja Gowa. Letaknya berada di Kota Sungguminasa dan sekarang menjadi situs budaya.


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Istana Tamalate Istana Tamalate merupakan jejak peninggalan dari kejayaan Kesultanan Gowa. Letaknya juga berada di Kota Sungguminasa.


1.6 Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo Masjid Katangka Masjid Katangka atau Masjid Al-Hilal merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan. Pada zaman dulu, masjid ini menjadi masjid Kesultanan Gowa.


Refleksi Hikmah yang dapat kita ambil adalah kalau kita bekerja keras dan berikhtiar kepada allah swt insyaallah kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan Menambah persebaran agama islam yang semakin luas


Daftar Pustaka https://www.studiobelajar.com/kerajaan-gowatallo/ https://www.cnnindonesia.com/nasional/2021060 2104709-31-649361/sejarah-kerajaan-gowa-tallodan-jejak-peninggalannya https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/27/1 55418879/sejarah-awal-kerajaan-gowa-tallo? page=all https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/21/1 63617279/kerajaan-gowa-tallo-letak-kehidupanpeninggalan-dan-keruntuhan?page=all https://www.zenius.net/blog/kerajaan-gowa-tallo


Biografi Penyusun Assalamualikum Wr. Wb. Perkenalkan ia Chylla Aydella Putri Agustien, biasa dipanggil dengan nama "Chylla". Ia lahir di Sidoarjo pada tanggal 24 Mei 2004. Ia Anak pertama dari dua bersaudara. Dia sekarang menempuh pendidikan di SMAN 1 Waru. Dia bercita-cita ingin menjadi dokter, namun bagi dia itu hal yang tidak mungkin. Karena dia sangat takut sekali melihat darah dan juga jarum suntik hehe. Dia mempunyai hobi mendengarkan lagu, menonton film, travelling, dan berenang. Terima kasih teman-teman yang sudah membaca buku cerita pertamanya dan semoga bermanfaat buat kalian


Click to View FlipBook Version