Edisi II rabu, 16 Agustus 2023 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 1 Mahalnya Harga Atribut Bikin Maba Cemberut Barangkali Idealisme Mati di Kepala Kita Sebelum Sempat Dilahirkan Penugasan Paper Mob Kuras Dana Mahasiswa Baru, Panitia: Itu Kendali Bisnis Percetakan SUKSESNYA MMD DAN TERSENDATNYA KEPANITIAAN PKKMB MALANG-KAV.10 Pelaksanaan Raja Brawijaya hari pertama dilaksanakan pada Senin (14/08). Dalam rangka mengikuti Raja Brawijaya, semua mahasiswa baru diharuskan membawa barang bawaan dan atribut. Adapun mereka diharuskan membawa tote bag, pompom, air 1,5 liter, dan kertas paper mob. (Selengkapnya baca Halaman 11) MALANG-KAV.10 Tepat tiga hari sebelum pelaksanaan RAJA Brawijaya Day 1, panitia menugaskan Arkana 61 (sebutan untuk mahasiswa baru UB 2023) untuk mencetak beberapa kertas guna keperluan pembuatan paper mob. Mendadaknya informasi yang diberikan oleh panitia membuat sejumlah percetakan ramai dikunjungi mahasiswa baru untuk keperluan paper mob tersebut. (Selengkapnya baca Halaman 13) Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) telah dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya (UB). Program ini menyasar hingga 1000 desa dan melibatkan kurang lebih 14.000 mahasiswa angkatan 2021 dan 2020. (Selengkapnya baca halaman 17) Semua manusia di bumi bingung, nanti gak bingung kalau sudah di surga Segelas teh leci menemani saya bertemu seorang kawan sore itu. Kami belum lama kenal. Pertemuan tidak sengaja pada sebuah forum di Bulan Juli lalu menjadi penghantar bincang bincang kali ini. Seperti halnya mahasiswa (menuju) tingkat akhir pada umunya, percakapan kami tak jauh jauh dari mengutuki kampus, tugas akhir, atau isi dompet yang tipis. Dia yang berasal dari lingkungan bisnis dan mahasiswa berprestasi agaknya punya latar belakang yang berbeda dengan saya. Dalam percakapan tersebut, sebetulnya saya lebih banyak mendengar saja. Cerita-cerita yang ia lontarkan seputar PKM, magang, dan beasiswa fast track terdengar mirip konten tiktoker mawapres yang sering mampir di FYP saya akhir akhir ini. (Baca Selengkapnya di Halaman 4)
2 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA Salam redaksi Kehidupan baru di bangku perkuliahan memang menjadi tantangan baru. Meskipun, pada realitanya tak berbeda jauh dengan saat kita berada di bangku SMA. Satu-satunya pembeda adalah bagaimana kita mendapat kebebasan berpikir dan berpendapat dengan catatan dapat mempertanggungjawabkan buah pikirnya. Tak jarang sebagai mahasiswa kita dituntut untuk berpikir inovatif untuk memajukan kampus tercintanya. Agenda tahunan Raja Brawijaya merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus Universitas Brawijaya. Dapat dikatakan ini merupakan langkah awal sebagai wahana penyesuaian lingkungan kampus. Kebutuhan ini memang sudah seharusnya sejalan dengan orientasi mahasiswa baru sehingga harapan untuk hasil yang lebih jelas dapat tercapai. Kilas balik jalannya Rabraw beberapa tahun terakhir, terutama saat saya menjadi mahasiswa baru tahun lalu. Masih teringat jelas ketika saya disibukkan dengan keperluan atribut yang beragam ditambah banyaknya revisi mendadak dari panitia. Miris jika melihat kejadian serupa terulang di tahun ini dengan banyak ditemukan mahasiswa baru sibuk antri di beberapa tempat fotokopi dan percetakan hingga malam hari untuk menuruti kemauan panitia. Evaluasi yang seharusnya dilakukan dari tahun ke tahun tidaklah membawa perubahan berarti. Pada tahun ini bahkan diperparah dengan kinerja minor panitia yang dapat dilihat dari berjalannya acara kemarin. Sehingga pihak sangat dirugikan tentu dari pihak mahasiswa baru dengan ekspetasi tingginya setelah menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Brawijaya. Berangkat dari apa yang terjadi pada hari pertama kemarin, Jurnal Ospek menerbitkan edisi 2 yang membahas tentang lika-liku mahasiswa baru ketika menghadapi Rabraw. Kita juga menemukan fenomena pedagang atribut di sekitar kampus dan karya sastra bertema dinamika menjadi mahasiswa baru. Selain itu, Juros diterbitkan untuk mahasiswa baru sebagai salam pembuka mengenal kampus UB dari sisi yang berbeda. Rangkaian Raja Brawijaya hanyalah awal dari perjalanan kalian di kampus biru. Seiring dengan kalian mengenal bagaimana kehidupan kampus, akan banyak dijumpai dinamika mahasiswa dalam berproses di bangku perkuliahan. Terakhir, saya ucapkan selamat menikmati sajian pengenalan kehidupan kampus di tahun 2023. Selamat merangkai asa di kampus biru penuh cerita. Penulis : Dhito Priambodo Langkah Awal
Selain itu, mereka juga menyediakan layanan servis lainnya seperti: + N, displa/ + LCD bergari5 + Keyb,ard er,) + Ganti sparepart (HDD, SDD, RAffi, Keyb,ard, dsbfl + Jual beli lapt,2 + Install 6ind,ws/Pr,gram/S,ftware Tidak perlu khawatir servisnya tidak berhasil dengan lapt,p kesayanganmu, karena IT S,luti,n juga menyediakan garansi mulai dari 3 bulan untuk servis dan 2 tahun untuk pembelian SSD. Jangan berjalan, berlarilah ke IT S,luti,n karena mereka berl,kasi di dekat k,s mahasiswa, tepatnya di Jl. Sunan ffiuria IV B1/1B. IT Solution: Servis Laptop Cepat, Murah, dan Bergaransi! Tukang lapt,p malang 085724252421/089514514466 ffienjadi mahasiswa tingkat akhir tidaklah mudah. Dengan semua tugas akhir yang tidak kunjung berakhir, lapt,p sudah pasti menjadi “jimat” yang membantu mahasiswa menyelesaikan tugas-tugasnya. Lapt,p dengan spek bagus pun belum tentu cukup untuk mengerjakan skripsi dan teman-temannya. Beberapa kali, lapt,p rewel dan minta diservis. Dilema mahasiswa adalah sesuatu yang memusingkan. Bila ada tugas dan lapt,p mati, menservis lapt,p pasti mahal. Tetapi bila tidak diservis, tugas akan terbengkalai begitu saja. Namun, jangan khawatir jangan resah, kant,ng mahasiswa tidak akan cepat kering kalau menghadapi masalah seperti ini karena IT S,luti,n menawarkan perbaikan lapt,p mulai dari Rp50.000,- saja! “P,k,knya ada kendala apapun terkait lapt,p, mau masalah fisik atau hardware, layarnya, hard disk, mesin, maupun keyb,ard. Lalu juga masalah s,ftware seperti aplikasi, aktivasi, dan lain sebagainya juga bisa kami perbaiki,” papar Zacky, ,wner IT S,luti,n. Sang Penyelamat Hidup Mahasiswa Penulis : Syadza Nirwasita http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 3 Advetorial
4 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA editorial “Aku tuh FOMO waktu ada pendaftaran fast track di fakultasku, soalnya fast tracknya langsung S2 terus S3 dan bisa langsung jadi calon dosen” Barangkali begitulah kalimat yang dilontarkan. Tentu bukan pertama kalinya cerita semacam itu saya dengar. Jaminan pembibitan dosen, indeks akreditasi, dan kemudahan mendapat kerja dan gelar yang prestise bagi mahasiswa tentu akan kawin dengan mudah. Kawan saya ini juga sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Yang baru saya ketahui bahwa di sejumlah fakultas menjadi sebuah kewajiban. Sekaligus dirancang kelas persiapannya, dan berbayar. Apabila memang sengaja dibuat agar mahasiswa berkompetisi dan menambah prestise fakultas, tentu sudah tercapai. Kesempatan berkuliah sepanjang tiga tahun ini merupakan pengalaman pertama saya menjadi seorang mahasiswa. Seperti yang dikeluhkan orang-orang, saya juga ikut mengeluh. Gelar menjadi mahasiswa akhir-akhir ini sesungguhnya makin sesak untuk diemban. Rupa-rupa mahasiswa yang dibayangkan akan dinamis ditemukan selama berkuliah, ternyata gejolaknya hanya seperti puntung rokok basah, tak seperti dalam cerita pendahulu. Entah karena kurang bergaul, atau mahasiswa memang berusaha dibikin serupa saja. Lebih mudah. Barangkali teman-teman sudah membaca edisi sebelumnya, sudah lewat di beranda, atau lebih mudahnya barangkali sudah mulai terasa bagaimana tuntutanKebaruan yang menyesakkan
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 5 Editorial untuk menjadi serupa dan mengejar ambisi sutradara kampus terkadang bisa begitu menyesakkan. Tak hanya oleh birokrat pada tataran rendah hingga tinggi. Karakter arogansi yang menggiring kita macam domba-domba juga dipraktekkan oleh mahasiswa itu sendiri. Sebut saja: inkonsistensi kebijakan dan pura-pura demokrasi. Ospek main-main yang dilakukan sok serius. Segala yang baru memang gemerlapan. Bugar dan bersemangat, maka tentu menarik perhatian. Sama halnya dengan mahasiswa baru, penuh ambisi dan target yang menggebu. Lantas, baiknya perlu berhati-hati terhadap kebaruan. Karena kadang-kadang mahasiswa pun menjadi mesin politik yang siap disetel kapan saja. Lantas, baiknya perlu berhatihati terhadap kebaruan. Karena kadangkadang mahasiswa pun menjadi mesin politik yang siap disetel kapan saja. Penulis : Sifin Astaria
6 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA Susunan Redaksi Rektor Universitas Brawijaya Adila Amanda Saputri, Adilah Diva Larasati, Alifiah Nurul Izzah, Laras Ciptaning Kinasih, Oyuk Ivani Siagian, Moch. Fajar Izzul Haq, Sifin Astaria Rosa Rizqi Amalia, Ilham Nuansa Shaylendra Putra P, Muhammad Zaki, Husnul Khotimah, Syadza Nirwasita, Fingka Aprilia Efendi M Fitra Fahrur Ramadan, Ahla Sabila, Ahmad Ahsani Taqwiim Muhammad Zaki, Oyuk Ivani Siagian, Eilyn Zharfa Mazaya, Dimas Candra Pradana Pelindung: Editor: Layouter: Sirkulasi & Advertorial: Fotografer: Infografik: Rosa Rizqi Amalia, Alifiah Nurul Izzah Komikus: Sifin Astaria Kolumnis: Arif Budi Prasetya, S.I.Kom., M.I.Kom Chomsin Sulistya Widodo, S.Si.,M.Si.,Ph.D Pembina: Moch. Fajar Izzul Haq Pemimpin Redaksi: Jihan Nabilah Yusmi Bendahara Pelaksana: Novera Putri Karina Sekretaris Pelaksana: Dhito Priambodo Koordinator: Dwi Kurniawan Asisten Koordinator: Dimas Candra Pradana, Florantina Agustin, Kaysha Nazarina Putri Rachman, Khairul Ihwan Sulistiyanto, Sabrina Ummu Hanifah, Maria Ruth Hanna Lefaan, Sofi Nur Arifah, Rafi Maruf Nugraha, Lizana Aliya Benasti, Wahyu Rafianti Fitri, Ahmad Ahsani Taqwiim, Anna Annisa Rahmawati, Zahratul Nurjanah Buana Putri, Asy syaima Puti Azzahra, Husnul Khotimah, Nicholas Deny Gemelli Putra Almaishya, Byllal Fajar Aristiadi, Yesy Nadilla, Asa Amirsyah Al Kindi, Aurora Renjani Kirana, Eilyn Zharfa Mazaya, Zahratul Nurjana Buana Putri, Alifia Halida Zahra, Zhafa Anbiya Ananta Farrel Reporter: Sifin Astaria Penanggung Jawab: 1
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 7 Straight news MALANG-KAV.10 Penanganan panitia terhadap mahasiswa penyandang disabilitas dinilai kurang siap. Pasalnya, sebagai kampus yang selalu menggembor-gemborkan perihal inklusivitas, komunikasi panitia Raja Brawijaya dengan Pusat Layanan Disabilitas tidak berjalan baik. Berdasar pengamat reporter Kavling10, fasilitas yang disediakan terlihat tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas, seperti kamar mandi pada pelaksanaan opening ceremony yang tidak ramah bagi pengguna kursi roda. Alhasil, pendamping harus mengangkat kursi roda melewati anak tangga untuk membantu mahasiswa pengguna kursi roda masuk dan keluar kamar mandi. Menanggapi hal itu, panitia Raja Brawijaya memberikan klarifikasi. Mereka mengklaim telah melakukan pengoptimalan terhadap sarana dan prasarana yang dikhususkan untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka juga telah menyediakan pendamping bagi mahasiswa penyandang disabilitas dari panitia. Namun, menurut mereka permasalahan sarana dan prasarana bukan hanya urusan panitia saja, tetapi menjadi urusan bersama. Mereka juga mengatakan telah memiliki solving problem mengenai masalah ini, tetapi tidak dijelaskan secara rinci mengenai hal tersebut. Panitia Raja Brawijaya Kurang Siap Menyambut Mahasiswa Penyandang Disabilitas Sumber : Fotografer Kavling
8 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA straight news Panitia juga menuturkan telah melakukan koordinasi intens dengan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB. “Terkait juru bahasa isyarat, dari kami juga berkomunikasi secara intens dengan PLD, ada materi-materi, terus nanti ada penampilan khusus dari mahasiswa disabilitas,” ujar Fikri saat sesi konferensi pers pada Senin (14/03). Awak Kavling10 juga melakukan wawancara kepada pendamping dari volunteer PLD serta pihak PLD mengenai permasalahan yang dialami mahasiswa penyandang disabilitas. Kaisar Jihad, selaku pendamping yang juga merupakan volunteer, mengatakan bahwa aksesibilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas memang tidak dipersiapkan dengan baik. Selain itu, koordinasi yang dilakukan dengan pihak PLD juga tidak membahas perihal persiapan sarana dan prasarana. “Enggak ada (persiapan sarana dan prasarana, red.), wakil dari panitianya ini sudah komunikasi, nanti mahasiswa difabel diposisikan di sini, lebih ke pemosisian aja sih sama tempat duduk, udah itu aja,” ujar Kaisar. Senada dengan yang dikatakan Kaisar, Mahalli, selaku staf layanan dan aksesibilitas, juga mengamini bahwa koordinasi yang dilakukan oleh panitia Raja Brawijaya sedikit lambat dan sangat mepet sehingga PLD tidak sempat memberikan pelatihan disability awareness kepada panitia Raja Brawijaya. Alhasil seluruh pendampingan dilakukan oleh para volunteer yang berasal dari PLD. Sumber : Fotografer Kavling
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 9 straight news Mahalli juga menambahkan bahwa panitia Raja Brawijaya memang sempat melakukan koordinasi dengan pihaknya sebanyak tiga kali. Namun, koordinasi tersebut cenderung berfokus pada penempatan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan tidak ada koordinasi perihal venue yang digunakan mahasiswa penyandang disabilitas. Selanjutnya, Mahalli juga menyayangkan mengenai dikeluarkannya mahasiswa penyandang disabilitas dari cluster masing-masing dan dikelompokkan secara terpisah. Ia juga mengatakan bahwa penempatan JBI di tengah lapangan cenderung tidak efisien karena mahasiswa penyandang tuna rungu tidak dapat melihat JBI dari depan perpustakaan. Mahalli juga mengaku pihaknya kebingungan mengenai komunikasi dengan panitia Raja Brawijaya perihal layanan terhadap mahasiswa penyandang disabilitas. “Kami kan jadinya harus komunikasi di mana dan beberapa kali berubah-ubah orangnya (panitia Raja Brawijaya, red.). Ke siapa itu berubah-ubah, pagi tadi itu berubah 3 kali,” pungkas Mahalli. “Tidak ada koordinasi, kami itu tidak mendapatkan koordinasi soal penempatan, kecuali hanya ketika semalam itu (Minggu malam, H-1, red.) baru tahu kalau mau dikumpulkan di depan perpustakaan,” ujar Mahalli. Penulis : Penulis : Dimas Candra Pradana Editor : Moch. Fajar Izzul Haq
10 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA straight news Mahasiswa Membludak, Mobilisasi Mahasiswa Macet MALANG KAV.10 Pada Senin (14/08) Acara pembukaan penerimaan Universitas Brawijaya melibatkan kurang lebih lima belas ribu mahasiswa baru (maba). Acara utama yang dikumpulkan pada titik pusat bundaran Universitas Brawijaya (UB) mengalami permasalahan pada penempatan maba. Banyak dari maba tidak bisa merasakan kemeriahan di podium utama karena tidak meratanya penempatan mahasiswa baru. Jumlah yang membludak itu mengakibatkan pengalokasian maba di luar venue-venue yang tak terencana. Dampaknya, pemosisian yang tersebar dari ujung utara gedung Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) hingga hampir ke gerbang veteran itu, membuat maba tidak bisa menyaksikan dengan jelas, hanya terdengar suara-suara samar kemeriahan pada podium utama. Maba yang mendapatkan cluster dan ditempatkan di belakang hanya mendengar sorai semu dari cluster terdepan tanpa mengetahui hal apa yang terjadi di podium utama karena tak tersedianya monitor untuk memberi gambaran situasi podium utama pada Maba di belakang. Tak hanya sampai dari situ para mabamengalami ketidaknyamanan juga pada saat mobilisasi dari lapangan utama menuju venue. “Agak ribet sih soalnya ada beberapa saat kami menunggu lama banget untuk antri, Sumber : Fotografer Kavling
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 11 straight news kayaknya tunggu cluster lain jalan jadi sama sama jalan begitu loh, kadang ada cluster nunggu cluster lain ikutan terus diem lagi tadi di jemur agak lama entah tunggu apa, kayaknya kita tunggu mobil lewat ya,” ucap Nicole Angelie, salah seorang maba. Panitia sudah berupaya untuk mengatasi membludaknya mahasiswa baru dengan membuka venue-venue baru yang belum direncanakan sebelumnya. Salah satunya adalah digunakannya rubanah Masjid Raden Patah. Akan tetapi, karena loka tersebut belum dipersiapkan, mahasiswa baru tidak dapat menyimak jalannya acara. Berdasar penuturan panitia, di lokasi tersebut sudah difasilitasi proyektor di hari kedua. MALANG-KAV.10 Pelaksanaan Raja Brawijaya hari pertama dilaksanakan pada Senin (14/08). Dalam rangka mengikuti Raja Brawijaya, semua mahasiswa baru diharuskan membawa barang bawaan dan atribut. Adapun mereka diharuskan membawa tote bag, pompom, air 1,5 liter, dan kertas paper mob. Dengan banyaknya permintaan akan atribut tersebut, banyak pedagang yang tak mau kehilangan momen dengan cara menaikkan harga atribut. Alhasil, beberapa mahasiswa baru mengeluhkan terkait mahalnya harga atribut. Penulis : Penulis : Rafi Maruf Nugraha Editor : Moch. Fajar Izzul Haq Mahalnya Harga Atribut Bikin Maba Cemberut Sumber : Fotografer Kavling
12 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA STRAIGHT NEWS Belum lagi terkait penugasan. Burhan, salah satu pedagang atribut PKKMABA mengatakan bahwa ia sudah berjualan sejak tahun 2004. “Saya juga jualan di UM sama poltek” tambah Burhan. Sebelumnya, Burhan juga telah mengantongi izin untuk berjualan di depan kampus. “Pertama kita lapor ke (Universitas, red) terus ke satpol PP” terang Burhan. Menurut Burhan, ia memang menaikkan sedikit untuk harga dari setiap atributnya. Walaupun demikian, ia mengaku kenaikan tersebut masih tidaklah berdampak signifikan terhadap keuntungannya. Sulitnya mencari bahan baku juga menjadi faktor burhan menaikkan harga atribut tersebut. “Biasanya kalau lagi musim ospek di pasar habis semua dan kadang kita harus cari di eceran” kata Burhan. Dampak dari kenaikan harga atribut tersebut juga dikeluhkan oleh beberapa mahasiswa. Salah satunya, Barizi mahasiswa baru fakultas FEB yang menghabiskan kurang lebih 200 ribu untuk membeli semua atribut Raja Brawijaya ini. Di akhir ia mengatakan bahwa terpaksa harus membeli atribut tersebut karena tidak ada opsi lain. Ia mengatakan bahwa harga dari atribut overpriced. “karena kebanyakan barang, bukan di kota saya aja sih itu murah contohnya tote bag yang biasanya 5 ribu di situ bisa 20k terus atau gak pompom bisa sampe 50 ribu” katanya. Ia juga menyayangkan mengapa mahasiswa yang harus gerak sendiri menyiapkan semua atributnya. kok sampe semua harus disiapkan dari mahasiswa, gaada satupun dari kampus Jelasnya. Penulis : Dwi Kurniawan Editor : Moch. Fajar Izzul Haq
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 13 STRAIGHT NEWS Penugasan Paper Mob Kuras Dana Mahasiswa Baru, Panitia: Itu Kendali Bisnis Percetakan MALANG-KAV.10 Tepat tiga hari sebelum pelaksanaan RAJA Brawijaya Day-1, panitia menugaskan Arkana 61 (sebutan untuk mahasiswa baru UB 2023) untuk mencetak beberapa kertas guna keperluan pembuatan paper mob. Mendadaknya informasi yang diberikan oleh panitia membuat sejumlah percetakan ramai dikunjungi mahasiswa baru untuk keperluan paper mob tersebut. Beberapa cuitan mahasiswa baru melalui Twitter menilai bahwa penugasan tersebut cukup memberatkan. Tak hanya karena mendadaknya informasi saja, tetapi juga berkaitan dengan besarnya dana yang dikeluarkan. Akun Twitter dengan nama pengguna @akunbuten menyebarkan tangkapan layar berisi percakapan ia dan temannya, bahwa temannya sudah mengeluarkan lebih dari Rp100.000 hanya untuk penugasan paper mob tersebut. Menanggapi ramainya cuitan tersebut, panitia pelaksana RAJA Brawijaya pun menuturkan bahwa mereka telah melakukan survei terlebih dahulu terkait harga kertas sebelum menugaskan mahasiswa baru dalam penugasan paper mob. “Dari (Divisi, red.) Acara, tuh, menghitung kira-kira total semua (kertas, red.) pun tidak sampai Rp50.000 gitu karena harga satu kertasnya itu sekitar Rp2.000-3.000,” tutur Fikri As'ad selaku CO Divisi Acara saat konferensi pers berlangsung pada Senin (14/8). Tak hanya itu, Fikri dan panitia lain pun menduga bahwa ada strategi atau kepentingan bisnis dari pihak percetakan yang dengan sengaja menaikkan harga kertas karena tingginya minat pembelian. “Ternyata dengan jangka waktu segitu (mendadak, red.) banyak percetakan yang menaikkan harganya. Mungkin itu Sumber : Fotografer Kavling
14 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA STRAIGHT NEWS termasuk bisnis juga ya karena kami menyurvei tidak hanya di satu tempat, di situ kita menemukan dengan harga yang kita sebutkan tadi, tapi denger-denger kok harganya sampai beberapa ratus ribu, ya mungkin itu kendali bisnis dari percetakanpercetakan.” Ketika disinggung perihal bertentangannya antara penugasan paper mob dengan Program UB Green Campus yang sedang gencar-gencarnya dicanangkan oleh UB, panitia menilai bahwa tidak ada yang salah dengan hal ini karena penugasan paper mob menjadi ajang selebrasi. “Memang terkait penugasan paper mob itu kita gunakan untuk selebrasi,” ungkap Puguh Ananta Putra selaku Ketua Pelaksana RAJA Brawijaya 2023. Selain itu, panitia pun menjanjikan bahwa kertas yang digunakan untuk paper mob akan didaur ulang agar tidak menjadi sampah dan menjadikan hal tersebut sebagai salah satu rangkaian acara. Panitia akan menggaet pihak lain untuk turut bekerja sama mendaur ulang kertaskertas paper mob tersebut. “Entah kita kerja sama dengan UB apa ya… Environment apa gitu namanya saya lupa. Artinya ada solusi alternatif agar hal tersebut tidak mencemari lingkungan,” tutur Puguh. Sumber : Fotografer Kavling Penulis : Laras Ciptaning Kinasih Kontributor: Oyuk Ivani Siagian Editor : Adilah Diva Larasati
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 15 STRAIGHT NEWS MALANG – KAV.10 Acara RAJA Brawijaya tidak berjalan sesuai harapan. Banyak masalah terjadi, mulai dari penugasan ospek yang baru diberitahu H-1, atribut ospek yang menelan biaya cukup mahal, hingga puluhan maba yang tumbang pada hari pertama. Puguh Ananta selaku ketua pelaksana RAJA Brawijaya 2023 mengaku telah disampaikan bahwa penugasan dan atribut sama secara tahun ke tahun. “Terkait dengan penugasan, memang kita menunggu dari data mahasiswa baru. Oleh sebab itu untuk menanggulangi, kita panjangkan jadwalnya jadi kita kasih tenggat sampai tanggal 20,” jelas Puguh Ananta dalam konferensi pers (14/8). Terlepas dari itu, soal biaya, Puguh tidak merasa membebani para maba dalam pemenuhan segala penugasan dan atribut mereka. Tidak hanya itu, terkait banyaknya maba yang tumbang pada hari pertama pelaksanaan RAJA Brawijaya, Puguh mengaku bahwa dari tim medis sendiri ada beberapa yang tumbang. Selain tim medis, terdapat maba yang tumbang berjumlah 30 orang. Tidak hanya itu, terkait banyaknya maba yang tumbang pada hari pertama pelaksanaan RAJA Brawijaya, Puguh mengaku bahwa dari tim medis sendiri ada beberapa yang tumbang. Selain tim medis, terdapat maba yang tumbang berjumlah 30 orang. Puguh menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan para maba tumbang, mulai dari para maba yang belum makan/sarapan, mempunyai penyakit bawaan, hingga para maba yang sedang dalam kondisi pasca operasi/penyembuhan luka. Permasalahan ini tentu menjadi evaluasi yang sangat serius bagi panitia. “Evaluasi ini tentu akan kami jadikan sebagai pondasi untuk rangkaian-rangkaian berikutnya,” tegas Puguh. Puguh juga mengaku telah memperbaiki segala fasilitas kesehatan untuk para maba. “Terkait kesehatan, kami mempunyai 11 posko dengan 1 posko besar. Masing-masing itu nanti akan ada 6 ambulans dan akan kami lengkapi dengan LAKESMA, KSR, dan teman-teman panitia Rabraw,” ujarnya. Sumber : Fotografer Kavling Penjelasan Ketua Pelaksana Rabraw Terkait Penugasan Dadakan hingga Tumbangnya Puluhan Mahasiswa Baru Penulis : Lizana Aliya Benasti Editor : Alifiah Nurul Izzah
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 17 OPINI SUKSESNYA MMD DAN TERSENDATNYA KEPANITIAAN PKKMB Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) telah dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya (UB). Program ini menyasar hingga 1000 desa dan melibatkan kurang lebih 14.000 mahasiswa angkatan 2021 dan 2020. Sejak awal, sebenarnya program ini sudah mendapat banyak pertentangan, khususnya dari beberapa organisasi kemahasiswaan (ormawa) dan mahasiswa dari beberapa fakultas yang sebelumnya tidak diwajibkan untuk melakukan kuliah kerja nyata (KKN). Alasannya, karena MMD dinilai akan mengganggu program kerja yang ada di ormawa tersebut dan program MMD ini terkesan terlalu dipaksakan. Namun pada akhirnya pihak rektorat tidak bergeming dan MMD tetap dilaksanakan seperti yang direncanakan. Semua tuntutan mahasiswa terhadap MMD tentu bukan tanpa alasan.) di UB. MMD tidak hanya menguras pikiran, tenaga, dan waktu, tetapi juga finansial mahasiswa pesertanya. Banyak mahasiswa, khususnya angkatan 2021, yang pada akhirnya tidak melirik kepanitiaan PKKMB baik dalam lingkup fakultas maupun universitas karena sudah terlalu disibukkan oleh MMD. Hal ini berimbas pada kurangnya sumber daya manusia pada kepanitiaan PKKMB. Alhasil, posisi-posisi strategis yang biasanya diisi oleh mahasiswa tahun ketiga, kini diisi oleh mahasiswa tahun kedua atau angkatan 2022, contohnya seperti pada wakil ketua pelaksana tiga dan sekretaris di kepanitiaan Raja Brawijaya 2023. Padahal, tahun ini merupakan tahun pertama UB menyelenggarakan Raja Brawijaya secara luring penuh setelah sebelumnya selama tiga tahun belakang dilaksanakan secara daring dan hybrid. Fenomena senada juga dirasakan oleh pihak panitia PKKMB tingkat fakultas, seperti yang terjadi pada PKKMB di FH, FISIP, FIB, dan FP. Mereka mengeluhkan bagaimana MMD menurunkan minat mahasiswa pada kegiatan kepanitiaan.
18 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA OPINI Bahkan beberapa sampai perlu memberikan surat dispensasi kegiatan MMD bagi mahasiswa yang mengikuti kepanitiaan PKKMB. Memang, pelaksanaan MMD merupakan implementasi dari Tri Dharma perguruan tinggi. Namun, “perginya” 14.000 mahasiswa ini jelas bukanlah angka yang kecil. Terlebih, mereka yang telah melaksanakan MMD juga banyak yang memilih untuk pulang kampung dan berlibur di sisa waktu sebelum perkuliahan dimulai karena liburan mereka sudah tersikat oleh MMD. Strategi-strategi seperti pemberian dispensasi memang cukup mampu menarik minat mahasiswa untuk mengambil peran dalam kepanitiaan PKKMB, tetapi hal tersebut tidak dilakukan oleh semua fakultas. Alhasil masih banyak kepanitiaan PKKMB yang kekurangan dan kesulitan mencari anggota meskipun sudah melakukan open recruitment sebanyak dua kali atau bahkan lebih, hal-hal yang sebelumnya belum pernah terjadi. Tidak sedikit juga kepanitiaan PKKMB yang akhirnya perlu merampingkan kepengurusan imbas dari sepinya peminat. Menurunnya animo mahasiswa pada agenda kepanitiaan PKKMB imbas adanya MMD tentu perlu menjadi sorotan. Bukan hanya berimbas pada kepengurusan kepanitiaan yang ada, tetapi juga mungkin akan berimbas pada efektivitas jalannya kegiatan. Mahasiswa dituntut untuk memutar otak guna menutup celah yang ditinggalkan oleh MMD dan memastikan kegiatan tetap berjalan dengan baik. Mahasiswa angkatan 2022 yang belum memiliki pengalaman pada kepanitiaan PKKMB seketika langsung menempati posisi-posisi strategis pada jalannya kepanitiaan. Memang, ini seakan menjadi angin segar untuk mahasiswa angkatan 2022 yang mengincar posisi-posisi strategis seperti itu. Namun, bukannya bermaksud untuk mendiskreditkan kemampuan mahasiswa, tetapi apakah hal ini tidak terlalu dipaksakan? PKKMB jelas merupakan kegiatan yang sangat krusial. Kegiatan yang ditujukan untuk mengenalkan kehidupan kampus kepada para mahasiswa baru ini seharusnya dipersiapkan dengan sumber daya manusia yang
http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA 19 OPINI optimal bukan dengan sumber daya manusia yang seadanya. Program MMD tentu menjadi kendala. MMD yang telah digemborgemborkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaannya, dengan posterposter besar mentereng hampir di setiap sudut jalan di UB ini perlu dipertanyakan kembali, apakah persiapannya telah dipertimbangkan secara matang dengan memperhitungkan setiap imbasnya atau hanya sekadar ambisi untuk mengangkat nama Universitas Brawijaya? Para pemangku kebijakan di rektorat tentu perlu bertanggung jawab pada problem ini. MMD sudah selesai, imbasnya juga telah dirasakan, tetapi rasanya tidak ada solusi konkret yang diberikan. MMD tahun ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi pihak rektorat dalam membuat kebijakan-kebijakan mengenai program yang melibatkan mahasiswa ke depannya. Pihak rektorat perlu melakukan koordinasi yang lebih baik lagi dengan pihak mahasiswa serta mendengarkan bagaimana aspirasi-aspirasi yang masuk dari lini mahasiswa. Program yang dibuat untuk mahasiswa seharusnya tidak menjadi kendala dan menghambat program kemahasiswaan lainnya. Karena bagaimanapun, mahasiswalah yang pada akhirnya melakukan dan merasakan imbasnya sementara pihak rektorat akan dengan bangganya mengatakan bahwa telah sukses menyelenggarakan program MMD. Ya memang benar, MMD bukan hanya telah sukses dilaksanakan dan diselesaikan, tetapi juga sukses menurunkan animo mahasiswa pada kepanitiaan PKKMB. Sumber : KOMPAS.com Penulis Editor : : Dimas Candra Pradana Moch. Fajar Izzul Haq
Penulis Editor : : Maria Ruth Hanna Lefaan Adila Amanda Saputri 18 http://lpmkavling10.com @LPMKAVLING10 KAVLING10 MEDIA OPINI