The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by onlinekavling10, 2023-05-16 21:48:45

PIKSILASI 1 2023 (2)

PIKSILASI 1 2023 (2)

Keywords: #romantisme #cerpen #puisi #piksilasi

B U LETIN FOTOGRAFI DAN SASTRA EDISI PERTAMA : MEI 2023 Parade Romantisme SSuuddaahh iittuu kkiittaa ssaammaa tteerrmmaanngguu SSaalliinngg bbeerrttaannyyaa:: AAppaakkaahh iinnii?? CCiinnttaa?? KKeedduuaannyyaa ttaakk mmeennggeerrttii —— SSiiaa--ssiiaa,, CChhaaiirriill AAnnwwaarr


| MEI 2023 SALAM REDAKSI | 01 Cinta, Tragedi, dan Apaapa yang Berusaha Abadi Yang penuh afeksi, yang menyenangkan hati, yang mengingkari, hingga kemudian habis terpisah dan berlalu masih lah layak diabadikan. Keabadian ini tak harus melewati berbagai macam upacara sakral nan melelahkan, melainkan dengan cara paling sederhana yang paling mampu dilakukan umat manusia: menuliskannya. Afeksi, pengingkaran, hingga sejarah tersebut bersemayam dalam ekspresi yang tak hanya ditularkan dari wajah ke wajah, tetapi juga menjelma cerita yang menurun dari generasi ke generasi. Ia menyusuri panggung ke panggung, melewati balkon kamar Juliet, menyambangi beranda kejayaan Arok dan Dedes, kemudian berjalan kecil sewaktu Hujan Bulan Juni turun, dan melipir di pelataran Piksilasi edisi kali ini. Romantisme, seperti yang kemudian tersaji dalam buletin ini, tak melulu persoalan bunga dan coklat, atau segala yang sarat akan perjalanan cinta yang manis. Bisa jadi romantisme adalah tragedi yang paling menyayat, tetapi menimbulkan kelegaan atas apa yang telah dirasa dan disaksikan. Itulah mengapa kemudian Aristoteles menyebutnya sebagai katarsis. Pun jika menawarkan tentang cinta, barangkali romantisme adalah selayaknya cinta yang tak ditemui alasan munculnya. Namun seperti halnya iklan Spotify yang membicarakan roti dan selai, bunga dan kumbang, atau apalah yang menyebutkan segala sesuatu yang ditakdirkan bersama, tragedi dan cinta yang disajikan adalah mutlak menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari benak tiap manusia. Begitulah kemudian kami menawarkan romantisme itu dalam beberapa tulisan dari berbagai kepala, tentang bagaimana mereka mendefinisikan romantisme tersebut dalam kata-kata, seperti halnya juga dengan fragmen-fragmen fotografi Sang Bohemian, Chairil Anwar, di tanah Malang. Tak pula hanya menyongsong tragedi Shakespeare, kami mengambil latar yang sama di Era Muromachi di Jepang. Seperti bagian hidup yang tertakdirkan melekat dalam diri, lantas kami pun menyadari bahwasanya menyusun apa-apa yang berbau romantik tak mestilah tentang hal yang mudah dan tak melulu menjadi hal yang klise dan menye-menye, begitu pula dengan menggali tragedi di baliknya. Kami menemukan berbagai isu lain yang menyertainya, sedemikian pula dengan karakter romantisme yang dekat dengan alam dan realitas-kompleksitas manusia. Demikianlah yang dapat tersaji dalam Piksilasi kali ini. Barangkali tak dapat memenuhi hasrat atas bagaimana mencapai kemenangan selepas dipecundangi cinta. Tetapi setidaknya dapat menjadi refleksi sekaligus amunisi untuk mendekati keabadian. Teruntuk sesiapa yang tengah membaca dan membantu mewujudkan keabadian ini, selamat berkontemplasi dengan isinya. Selamat berkatarsis-ria.


Romantisme Maknawi 02 | EDITORIAL MEI 2023 | Ahmad Dhani menandai pemaknaanya atas cinta dari lagu-lagu yang diciptakannya. Di era “Roman Picisan” dan “Cinta Kan Membawamu Kembali” ia menggambarkan cinta penuh dengan keindahan dan melalaikan pendambanya. Itu ia ciptakan ketika usianya dua puluhan. Di usia lima puluhan, ia memaknai bahwa cinta itu buta, sesuai dengan judul lagunya “Cinta Itu Buta”. Seorang penyair Timur Tengah, Muhyi AdDin Ibn Arabi pernah mengatakan bahwa “Agamaku adalah cinta” dalam salah satu syairnya. Dari klausa itu, ia meyakini bahwa cinta ada dalam dasar sebuah agama, yang mana agama tidak seharusnya mengandung perpecahan. Keyakinan agama juga meyakini bahwa puncak serta akhir dari cinta adalah Tuhan itu sendiri, yang maha mencintai dan menjadi hakikat atasnya. Jauh sebelum itu, Plato membagi-bagi cinta atas beberapa jenis: ini dan itu. Lalu para pecinta berusaha mengutarakan pengertiannya. Cinta adalah terma bahasa dengan banyak pengertian. Banyak makna akan cinta, bergantung bagaimana seseorang memaknainya. Atau sebenarnya, manusia selalu gagal memaknai cinta, sejak zaman para filsuf, Quais-Laila Majnun, Romeo-Juliet (Italia), HurremSuleiman (Turkey), Mem-Zin (Krdikistan), Kerem-Asli (Azerbaijan), Ara-Shamiram (Armenia), Khosrow-Shirin (Iran), Nizar Qabbani-Balqees (Syiria), Gibran-Mai (Lebanon), Mahmoud Drawis-Rita (Palestina), Solomon-Sheba (Yaman), Jamah-Reem (Kuwait), Hodon-Bodhari (Somalia), HiziyaSayed (Algeria), Tislit-Isli (Maroko), RanjhaHeer (Pakistan), Jodha-Akbar (India), Habibie-Ainun (Indonesia), Kabale-Liebe (Jerman), Isabel-Diego (Spanyol), Arok-Dedes (Singasari), Minke-Annelis (Hindia-Belanda) hingga saat ini. Cinta yang mereka maknai, barangkali bukan arti cinta itu sesungguhnya. Akan tetapi, mungkin, makna-makna itu merupakan hulu-hilir sungai yang bermuara pada makna sebenarnya. Kemungkinan lain, tidak satu pun bahasa di dunia ini yang mampu mendefinisikan cinta sesuai dengan maknanya. Arti yang ada dalam kamus sebatas pengertian secara bahasa, yang justru pengertian bahasa terkadang menjauhkan dari makna sesungguhnya. Atau cinta adalah makna itu sendiri. Setiap hal yang dilaku makhluk hidup mau pun tak hidup bisa jadi representasi atas cinta. Tidak mendasari suatu perlakuan dengan cinta adalah cinta itu sendiri. Tapi dalam tulisan ini, kita tidak akan berusaha memberi makna cinta lebih lanjut. Biarlah orangorang saling mengutip dan berdebat atas makna cinta. Kita tinggal menyimak.


Dari keluasan makna itu, kesempitan memberi arti adalah kesalahan. Ini bukan hanya terjadi pada terma “cinta” melainkan juga terma-terma lain. Keluasan yang dibawa oleh cinta membawa manusia pada ujung-ujung sisi ketidakterbatasan. Berbekal itu, cinta membawa pada persatuan juga perpecahan, penyatuan juga pemisahan, keterikatan juga kebebasan, dan bentuk-bentuk lain. Oleh karenanya, faham romantisme mengkambinghitamkan cinta sebagai dasar ideologinya. Sehingga romantisme pernah berhasil membawa seni, sastra, intelektual pada genre realisme barat yang mendayu-dayu. Tetapi kaum realisme sosial juga mendasarkan cinta demi mencapai ke-universal-an. Editorial ini memang tidak menjelaskan jelas di mana kami berpijak dalam membawa makna cinta. Oleh karenanya, biar nanti para pembaca yang menilai dengan berbagai cara: menerima-menolak, memuji-mencaci, mengiyakan-menidakkan, dan lain-lain, dan lainlain. Moch. Fajar Izzul Haq


@lpmkavling10 @lpmkavling10 @taz3417q www.kavling10.com [email protected] SUSUNAN REDAKSI Pelindung Rektor Universitas Brawijaya Pembimbing Arif Budi Prasetya, S.I.Kom, M.I.Kom Penanggung Jawab Sifin Astaria Pemimpin Redaksi Moch. Fajar Izzul Haq Redaktur Pelaksana Adila Amanda Editor Adilah Diva Larasati | Adila Amanda | Laras Ciptaning Kinasih | Oyuk Ivani Siagian | Moch. Fajar Izzul Haq Penulis Asa Amirsyah Al-Kindi | Ahmad Ahsani Taqwiim | Adila Amanda Penulis Sastra Florantina Agustin Nilam Sari | Jihan Nabilah Yusmi | Nicolas Deny Kolumnis Moch. Fajar Izzul Haq | Dimas Candra Pradana |Adilah Diva Larasati | Adila Amanda | Fernanda Gusti Syahputra Ilustrator Rosa Rizqi Amalia | Alifia Halida Zahra Fotografer Asa Amirsyah Al-Kindi | M. Fitra Fahrur Ramadan Layouter Rafi Maruf Nugraha | Muhammad Zaki | M. Fitra Fahrur Ramadan DAFTAR ISI Puisi 11 Bagus Burham " Betis Bilqis" Puisi 12 W.S Rendra "Balada Lelaki-Lelaki Tanah Kapur Apresiasi Sastra 13 Pulang dan Berpulang Resensi Film 15 Princess Monokone : Hutan dan Eksploitasi Resensi Buku 18 Jakarta Sebelum Pagi : Hiruk Pikuk Kota, Romansa dan Surat Misterius Cerpen 21 Pluiviophiles Puisi 25 Ada Tuhan di Balik Punggungmu, Surat Kesedihan Untuk Perempuan Puisi 26 Omong Kosong Tentang Waktu Puisi 27 Harap Yang Hampa Puisi 28 Kemenangan oleh Penantian Esai Sastra 29 Ketika Menyinggung Tragedi dalam Drama dan Realita Opini 31 Maraknya Budaya Toxic Masculinity di Kehidupan Masyarakat Fotografi Esai 05 Merebut Cinta, Menebar Dendam Fotografi Esai 09 Inisial C Kolase Foto 08 Merebut Cinta, Menebar Dendam Fotografi Sastra


| MEI 2023 FOTOGRAFI ESAI | 05 Merebut Cinta, Menebar Dendam Penulis: Ahmad Ahsani Taqwiim, Adila Amanda Candi Singosari, bangunan yang mungkin paling megah dan mewah yang bisa dibangun manusia di tanah jawa pada masa itu. Pondasinya yang kokoh dari batu-batu andesit bagai kaki yang menopang tubuh dari candi dengan pintu-pintu dengan pahatan kepala Kirti Murka yang dibaliknya menyimpan arcaarca untuk dipuja yang sekarang sudah habis diembat Belanda. Sisa-sisa bangunan candi yang dulunya digunakan untuk pemujaan dewa-dewi hindu yang sakral kini beralihfungsi menjadi tempat ibu-ibu selfie dan bahan mahasiswa arkeologi untuk mengerjakan skripsi. Adanya candi ini dulunya disebabkan karena besarnya hasrat Ken Arok untuk memiliki Ken Dedes. Tanpa hasrat Ken Arok merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung, mungkin sekarang tidak akan ada ibu-ibu random yang dimarahi petugas karena menaiki candi. Kisah asmara ini dimulai ketika Ken Arok, maling handal paling ditakuti seantero kawasan kerajaan Kediri, bertemu Brahmana random dari India yang sedang mencari titisan Wisnu bernama Lohgawe. Entah bagaimana bisa terbesit dalam pikiran Lohgawe bahwa maling kondang seperti Ken Arok merupakan titisan seorang dewa. Fotografer: Fitra Fahrur


06 | FOTOGRAFI ESAI MEI 2023 | Fotografer: Fitra Fahrur Ken Arok pun menceritakan peristiwa tersebut kepada guru spiritual dadakannya, Lohgawe. Lohgawe berdawuh bahwa kejadian tersebut adalah pertanda bahwa Ken Dedes adalah Nariswari (ratu agung) yang akan melahirkan raja-raja besar. Ken Arok yang sudah kesengsem dengan kemolekan Ken Dedes terpikir sebuah rencana. Rencana tersebut adalah dengan membunuh Tunggul Ametung yang akan membuat Ken Dedes menjadi janda dan bisa mengambil alih tampuk kepemimpinan Tumapel. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Meskipun telah dilarang oleh Lohgawe, Ken Arok tidak ragu menjalankan rencananya itu. No bacot no kecot, Ken Arok langsung mencari senjata untuk membinasakan Tunggul Ametung dan akhirnya dia mendapatkannya dari Mpu Gandring, pembuat keris kawakan di sekitar bumi Tumapel. Mpu Gandring pun menyanggupi pre-order keris pusaka Ken Arok dengan jangka waktu satu tahun. Namun belum genap setahun, Ken Arok yang kalo kata anak sekarang kesabarannya setipis tisu, mengambil paksa keris tersebut, meskipun Mpu Gandring sudah melarangnya dan menusuk Mpu Gandring dengan keris buatannya sendiri. Dalam sekaratnya, Mpu Gandring bersumpah bahwa keris tersebut bakal membunuh tujuh orang raja, termasuk Ken Arok dan keturunannya. Gokil. Singkat cerita Ken Arok menjalankan rencananya dan berhasil membunuh Tunggul Ametung dan melimpahkan kesalahan tersebut ke Kebo Hijo, pengawal lain Ken Arok. Ken Dedes sebenarnya menyaksikan peristiwa pembunuhan itu, tetapi diam saja karena pernikahannya dengan Tunggul Ametung terjadi karena keterpaksaan. Ken Dedes yang saat itu menganggap Ken Arok sebagai juru selamat akhirnya mau dinikahi. Pasca kematian Tunggul Ametung, Ken Arok mengangkat dirinya sendiri menjadi Akuwu Tumapel. Memang mental maling tidak bisa hilang dari Ken Arok. ckckckck. Ken Arok pun percaya pada orang yang baru dikenalnya itu. Setelah itu, Ken Arok diboyong Lohgawe untuk bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung, camat Tumapel sekaligus suami Ken Dedes saat itu. Ken Dedes yang kecantikannya terkenal seantero Tumapel saat itu, membuat banyak pejantan jatuh cinta tak terkecuali Ken Arok yang saat itu tidak sengaja melihat jarik Ken Dedes tersingkap. Dari balik jarik yang tersingkap tersebut terpancar sinar yang membuat Ken Arok terpukau. Mungkin di masa kini, Ken Arok akan mendengarkan Sedang Ingin Bercintanya Dewa 19 sambil rebahan membayangkan Ken Dedes.


Fotografer: Fitra Fahrur Keris tersebut terbukti tak hanya membunuh Ken Arok saja, tetapi juga Anusapati sendiri. Tohjaya, anak Ken Arok dari perkawinannya dengan Ken Umang, ditengarai menjadi biang yang membalaskan dendam pada pembunuh bapaknya itu. Dan seperti yang sudah tertulis dalam Pararaton, Tohjaya menjadi korban selanjutnya. Ia memang tak mati karena keris yang sama, tapi ikut andil dalam ironi bunuh-membunuh lintas generasi tersebut. Seperti Candi Prambanan dengan Roro Jonggrang yang meminta dibangunkan seribu candi sebagai prasyarat atas cinta Bandung Bondowoso, candi Singosari juga sarat akan kisah yang sama: rekam jejak agungnya cinta penguasa pada seseorang. Dengan segala usaha, Ken Arok rela meruntuhkan kekuasaan dan merebutnya, lantas menebar dendam pada keturunannya. Sebelum keserakahannya dalam merebut cinta membuat kejayaan Ken Arok tak berlangsung lama, apakah ia sempat berpikir hidupnya dengan Ken Dedes akan berakhir bahagia selamanyadi masa tua? Pararaton tak mencatat itu. Hanya Ken Arok dan tuhan saja yang tau. Pada tahun 1221 terjadilah perselisihan kerajaan Kediri dan para brahmana yang membuat para Brahmana pindah ke Tumapel dan meminta perlindungan Ken Arok. Ken Arok merasa di atas angin dengan mendapat dukungan dari brahmana-brahmana yang mengungsi itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu Ken Arok memulai kudeta ke Kerajaan Kediri. Raja Kediri waktu itu, Kertajaya, menyatakan tidak takut dan mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Ken Arok yang mendengar hal itu langsung memakai gelar Bhatara Siwa, solusi yang kocak memang, tapi cara tersebut terbukti berhasil. Kerajaan Kediri dikalahkan pasukan “Bhatara Siwa wannabe” dan begitulah Dinasti Rajasa terbentuk. Namun Dinasti yang terbentuk karena penghianatan itu tentu tidak berjalan mulus-mulus saja. Anak Tunggul Ametung yang dikandung Ken Dedes, Anusapati, beranjak dewasa. Ken Arok memperlakukan Anusapati layaknya anak tiri di sinetron indos*ar. Anusapati yang belakangan tahu kebenaran orang tuanya (dan dengki pada anak kandung Ken Arok) akhirnya menusuk Ken Arok dengan keris Mpu Gandring yang dulu pernah menembus tubuh Tunggul Ametung dan menjadi raja Singosari yang baru. | MEI 2023 FOTOGRAFI ESAI | 07


08 | KOLASE FOTO MEI 2023 | Fotografer: Fitra Fahrur


| MEI 2023 FOTOGRAFI ESAI | 09 Fotografer: Fitra Fahrur Di kesunyian malam, bisingnya hari, hentakan skateboard, sebuah gereja terpandang dibelakangnya, di sebuah putaran jalan, pada sebuah patung, tertulis sebuah puisi berjudul “Aku”. “Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Inisial C Puisi tersebut merupakan karya dari seorang yang lahir di Medan, 26 Juli 1922, bernama Chairil Anwar atau yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang”. Chairil merupakan penyair yang juga termasuk dalam salah satu tokoh yang menandai periode sastrawan Angkatan 45, ditemani Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Ida Nasution, Utuy Tatang Sontani, Balfas, J.E. Tatengkeng, dan Asrul Sani. Cukup terkait biografi Chairil, dilanjut dengan patung yang digadang menjadi representasi dari Chairil Anwar. Terletak di bundaran Kayutangan, Malang, di depan Gereja Paroki Hati Kudus, terdapat patung yang diprakarsai oleh Achmad Hudan Dardiri, dieksekusi oleh seniman bernama Widagdo, dan diresmikan oleh walikota Malang pada 28 April 1955. Penulis: Asa Amirsyah Tidak sedikit pegiat seni yang mengatakan bahwa esensi dari patung tersebut adalah hasrat kebangkitan. Malang meluluhlantakkan beberapa daerahnya (Kayutangan, Jalan Bromo, alun-alun, dan Balai Kota) sebagai siasat pertahanan saat melawan gempuran agresi militer Belanda. Akibatnya, masyarakat lokal merasa jatuh pada saat tanah lahirnya harus dikorbankan. Sehingga beberapa tahun kemudian, dibuatlah patung tersebut sebagai simbol kebangkitan masyarakat lokal Malang. Pemilihan Chairil Anwar sebagai asumsi representasi dari patung tersebut-pun bukan tanpa alasan. Chairil Anwar adalah pemuda yang mengorbankan eksistensi dirinya demi kemerdekaan ibu pertiwi. Juga, jika ditelisik dari karya-karya Chairil, jejak Chairil Anwar di Kota Bunga dimungkinkan adanya.


10 | FOTOGRAFI ESAI MEI 2023 | Pada saat forum Komite Indonesia Nasional Pusat sedang diadakan di Malang, Chairil diduga hadir pada forum tersebut, dan pada hari yang sama, Chairil menghadiahkan puisi yang ia ciptakan kepada seorang pelukis bernama Basuki Resobowo pada saat di Malang berjudul “Sorga”, “Sajak Buat Basuki Resobowo”, dan “Dua Sajak Buat Basuki Resobowo”. Terlepas dari kebenaran antara hubungan Chairil Anwar dan patung yang berada di Kayutangan tersebut, esensi yang diberikan masih sangat kuat. Sudah sepatutnya masyarakat Malang baik lokal maupun pendatang, menghidupi esensi dari patung tersebut sebagaimana juga Chairil Anwar yang selalu berkorban untuk tanah lahirnya. Pengetahuan akan esensi tersebut tentu saja masih relevan sampai saat ini. Banyak masyarakat Malang yang acuh terhadap esensi tersebut, bahkan untuk mengetahui asal-usul dari patung itu pun sukar dilakukan. Padahal, dewasa ini, masih banyak tragedi yang terjadi di Malang yang salah satunya adalah tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, yang seharusnya esensi dari patung tersebut menjadi simbol pedoman dalam menghadapi tragedi-tragedi yang ada di Malang. Baca, bacalah lagi puisi yang telah dikutip pada paragraf pertama, maka pahamilah, bahwa semangat juang akan dan harus terus ada, bangkit merupakan esensi baku kehidupan, hiduplah kalian dalam kesengsaraan duniawi, tak sadarkah bahwa kalian tak bisa kabur dari itu. Lawan, duduklah bersama rasa sakitmu, jatuh adalah jalan, cahaya adalah bangkit. Dengan sejarah patung yang kabur, dan masyarakat yang masih sukar akan esensi seni, berdirilah sebuah patung tanpa nama, Inisial C. Sumber : Pinterest


| MEI 2023 PUISI | 1 1 Balada Lelaki-Lelaki Tanah Kapur Karya : W.S. Rendra Para lelaki telah keluar di jalanan dengan kilatan-kilatan ujung baja dan kuda-kuda para penyamun telah tampak di perbukitan kuning bahasa kini adalah darah. Di belakang pintu berpalang tangis kanak-kanak, doa perempuan Tanpa menang tiada kata pulang pelari akan terbujur di halaman ditolaki bini dan pintu berkunci. Mendatang derap kuda dan angin bernyanyi : - 'Kan kusadap darah lelakiter buka guci-guci dada baja bagai pedagang anggur dermawan lelaki-lelaki rebah di jalanan lambung terbuka dengan geram serigala! O, bulu dada yang riap! Kebun anggur yang sedap! Setengah keliling memagar mendekat derap kuda lalu terdengar teriak peperangan dan lelaki hidup dari belati berlelehan air amis mulut berbusa dan debu pada luka. Pada kokok ayam ke tiga dan jingga langit pertama para lelaki melangkah ke desa menegak dan berbunga luka-luka percik-percik merah, dada-dada terbuka. Berlumur keringat diketuk pintu. - Siapa itu? - Lelakimu pulang, perempuan budiman! Perempuan-perempuan menghambur dari pintu menjilati luka-luka mereka dara-dara menembang dan berjengukan dari jendela. Lurah Kudo Seto bagai trembesi bergetah dengan tenang menapak seluruh tubuhnya merah. Sampai di teratak istri rebah bergantung pada kaki dan pada anak lelakinya ia berkata: - Anak lanang yang tunggal! kubawakan belati kepala penyamun bagimu ini, tersimpan di daging dada kanan.. Sumber : Pinterest


Betis Bilqis Karya : Bagus Burham ketika angin menyingkapkan separuh betisnya, engkau telah melihat emas sebenarnya, melebihi haikalmu yang bertahta sejuta cahya bahasa bahasa perantara menghampar di luas udara percakapkan pada cicak yang mengintip di langit istananya, betis yang indah bagai semenjana alir sungai nil: oase mengalir menyuguh teduh kaupun telah sampai pada tatapannya, sepasang binar milik ratu pesona kau tiba tiba mulai mencatat lupa, ihwal untuk apa dan mengapa kau, menyempatkan wajahmu bertandang ke istana --kau telah jatuh cinta ------------------------------------------------------ burung hud hud masih meniup kicau seruling sepasukan garda depan yang siap menyerang melewati, mewaspadai jangan sampai terinjak sarang ramut semut supaya, doa yang mereka panjatkan,bakal menjadi amin kemenangan -------------------------------------------------------- kau ulukkan rupa yang tertutup cadar tubuhnya kau mulai memikirkan segalanya, meninggalkan semua gemerlap untuk setangkai betis yang menguar sekedip mata memintamu untuk terus mengingatnya menyimpannya sebagai rejeki dari pengatur hidup api cinta itu terus menyala, hingga prometheus membawanya ke tanah yunani sampai pujangga kami menyairkan sajak bagimu-baginya dan aku terus menyimpan momen yang tak pernah kusaksikan, terkecuali pena 12 | PUISI MEI 2023 |


| MEI 2023 APRESIASI SASTRA | 13 Pulang dan Berpulang Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan Sebuah pepatah stoik yang cukup terkenal adalah, “Alam berjalan dengan tidak tergesagesa, tapi telah mencapai segalanya.” Barangkali Marcus Aurelius mengatakan itu dengan batuk-batuk. Gelar raja yang dilepaskannya sendiri mengurungnya pada kemiskinan yang tak terkira. Tapi ia seperti alam: tidak pernah pergi terburu-buru dan mencapai segalanya. Pagi datang setiap hari dan malam tiba kemudian. Tidak ada salah satu dari keduanya yang saling mendahului, atau mengakhiri. Siang-Malam terjadi begitu teratur tanpa tekad kuat untuk datang lebih dulu: detik menuju menit, menuju jam, menuju hari, menuju minggu, menuju bulan, menuju tahun, menuju abad. Perjalanan alam tidak memberi arti bahwa alam pergi ke suatu tempat, melainkan sebuah perjalanan pulang. Itu juga berlaku bagi segala sesuatu yang hidup di dalamnya: masing-masing memiliki perjalanannya sendiri, namun tujuannya sama, kematian. Joko Pinurbo, penyair gaya puisi naratif itu, pernah menulis puisi Perjalanan Pulang. Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang tapi saban kali juga tak betah. Petualang sekaligus pencinta rumah. Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih, menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi. Bait di atas adalah jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa kita semua harus melalui perjalanan yang sama? Yaitu jalan pulang.” Hidup adalah sebuah kepergian jauh yang menuntut apa-apa yang lahir (sebagai awal dari kehidupan) untuk pulang (menuju kematian, kesirnaan). Sebagai “Petualang sekaligus pecinta rumah” tentu saja kepergian bukan soal pilihan, dan pulang adalah keniscayaan. Halte. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah. Perhentian tempat penantian dikekalkan dan sekaligus diakhiri. Alamat kepada siapa kau kirimkan aduan bernama surat. Rendezvous yang kepadanya kau tujukan persediaan waktu.


Dalam bahasa Joko Pinurbo, dunia adalah perjalanan menyusur jalan waktu yang begitu panjang. Sehingga akan ada halte-halte di setiap pemberhentian: tempat penantian dikekalkan dan sekaligus diakhiri. Menghidupkan halte sebagai perumpamaan dunia, Joko Pinurbo sejatinya ingin menjelaskan bahwa di halte orang bisa memulai sebuah perjalanan (naik bus), atau mengakhirinya (turun dari bus). Alfred Prufrock tidak saja membayangkan hidup yang sebuah perjalanan ini dengan jalan raya, halter, dan bus yang silih berganti: mengantar pada kepergian dan kepulangan. Maka ia, barangkali seorang penghayat abdusrdisme Albert Cammus, berangkat dari “Apakah setelah kita bisa bercanda dengan diri kita sendiri, lantas kita pantas untuk bunuh diri? Atau minum kopi?” Prufrock tidak ingin berjalan sendirian, ia ingin berjalan berdua: menyusur segala keraguan, keberanian, keheranan, dan kecemasan berdua. Mari kita pergi berdua/ Kala malam merebak melintang angkasa/ Seperti pesakit telentang atas meja bedah: terbius ia. Masa memang begitu, berusaha membenarkan teori relativitas Albert Einstein bahwa massa adalah kenyataan dan gravitasi adalah gerak semu. Sejatinya semua yang ada di alam, dan alam itu sendiri menyusuri jalan lengkung dimensi waktu yang melengkung. Akan tiba masa, akan datang waktu ’Tuk persiapkan paras bertemu rupa yang kau jumpa; Akan tiba masanya merusak dan mencipta, Dan masa kerja juga musim menyemai Yang angkat-hempaskan tanya di atas piringmu; Waktu bagimu, juga bagiku Joko Pinurbo maupun Alfred Prufrock sepakat bahwa kehidupan sejatinya adalah perjalanan menuju pulang. Masing-masing yang pergi sejatinya menyusur jalan pulang. Artinya, kepergian tidak lebih dari gaya gravitasi yang semu: kelahiran adalah kepergian dan kematian adalah sejatinya pulang, tanpa menyangkal kepercayaan dan keyakinan apa pun. Bukankah seseorang selalu membutuhkan rumah untuk pulang dan berpulang? Penulis : Moch. Fajar Izzul Haq 14 | APRESIASI SASTRA MEI 2023 |


| MEI 2023 RESENSI FILM | 15 Princess Mononoke : Hutan dan Eksploitasi Sutradara : Hayao Mizaki Produser : Toshio Suzuki Perusahaan Produksi : Studio Ghibli Distributor : Toho dan Miramax Films Tanggal rilis : 12 Juli 1997 Durasi : 134 menit Meskipun sudah dirilis lebih dari 20 tahun yang lalu, kompleksitas film Princess Mononoke masih relevan hingga saat ini. Mengambil latar ketika para dewa masih tinggal bersama umat manusia di bumi, film ini menggambarkan tentang peperangan, perusakan sumber daya alam, eksploitasi pekerja, pencemaran dan polusi, hingga perlawanan oleh masyarakat adat. Film ini dihadirkan bukan hanya untuk hiburan semata, tetapi sebagai pengingat tentang akibat dari keserakahan manusia. Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Ashitaka yang melakukan perjalanan mencari Dewa Rusa untuk menyembuhkan kutukan yang dideritanya. Namun, ia harus terlibat konflik yang sedang terjadi antara San, seorang wanita yang dibesarkan oleh suku serigala, dengan Eboshi, pebisnis wanita yang ambisius. Setelah menjadi penengah di antara keduanya, Ashitaka sembuh seperti semula. Film dibuka dengan seekor babi hutan raksasa yang dirasuki Dewa Iblis—wujud dendam alam— dan mengamuk. Ini adalah bentuk kemarahan alam terhadap eksploitasi lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Sayangnya, yang mengalami dampak dari amukan Dewa Iblis tersebut bukan hanya para perusak itu, tetapi manusia-manusia yang tak mengetahui apa-apa juga turut merasakan akibatnya. Film ini juga menggambarkan bagaimana sumber air tercemar akibat aktivitas manusia. Sumber air di sini menyatakan bagaimana sektor-sektor fundamental kehidupan manusia rusak akibat perilaku mereka itu sendiri.


Sifat serakah manusia juga terlihat di dalam film ini. Mulai dari orang-orang yang berniat merampas Ashitaka sebab mengira ia memiliki emas, konflik antara samurai dan petani, hingga penghabisan hutan besar-besaran oleh Eboshi untuk memenuhi ego ambisi rakusnya itu. Keserakahan ini kemudian menimbulkan peperangan dan kerusakan. Film ini juga mengangkat bagaimana eksploitasi terhadap sumber daya alam dan pekerja marak dilakukan dan seolah-olah menjadi lumrah dalam dunia industri. Pabrik besi milik Eboshi misalnya. Ia mempekerjakan para wanita bekas pelacur dengan jam kerja tidak manusiawi dengan dalih sebagai timbal balik karena telah memberikan mereka “kehidupan” kedua. Sedangkan para pekerja laki-laki dipaksa untuk membuka hutan dan bertarung hingga mati melawan babi hutan dan serigala. Eboshi menjadi gambaran sempurna pemimpin tangan besi yang otoriter, tetapi disembunyikannya dengan sifat lemah lembut dan penuh kasih. Eboshi adalah perwujudan manusia dengan ambisi besar. Ia berambisi menguasai dunia dan memperluas ekspansi bisnisnya. Ia tidak segan-segan untuk melakukan penebangan hutan besar-besaran dan menghabisi penghuni hutan yang melawan. Tindakannya inilah yang menjadi sebab Dewa Iblis merasuki babi hutan di awal cerita. Tidak berhenti sampai di situ, Eboshi adalah wanita yang cerdas. Ia selalu memiliki inovasi untuk memuluskan ambisinya. Ia mengembangkan pabrik senjata rahasia di dalam pabrik besinya semata-mata untuk bisa memenggal kepala Dewa Rusa dan menghabisi Suku Moro—salah satu suku penjaga hutan. 16 | RESENSI FILM MEI 2023 |


| MEI 2023 RESENSI FILM | 17 Di sisi lain, San, Dewa Rusa, dan para binatang merepresentasikan masyarakat adat yang diambil haknya. Mereka dengan penuh keteguhan selalu mencari cara untuk melawan dan mengusir Eboshi. Mereka adalah para penjaga kelestarian dan keseimbangan hutan. Naasnya, perlawanan yang dilakukan oleh para babi hutan yang dipimpin Ottoke, Suku Moro, dan San adalah potret perlawanan masyarakat adat yang mencoba mempertahankan tanahnya dengan peralatan seadanya. Sedangkan kubu Eboshi dengan senjata apinya adalah gambaran bagaimana eksploitasi dilakukan dengan peralatan yang jauh lebih mumpuni. Pada akhirnya Eboshi mampu memenggal kepala Dewa Rusa. Namun, setelahnya timbul bencana alam yang begitu besar. Di akhir film, Eboshi yang hampir tewas diselamatkan oleh serigala yang coba ia bunuh. Apa yang telah dilakukan Eboshi dan akibat yang ditimbulkannya, adalah gambaran bilamana manusia merusakan alam secara berlebihan. Eboshi yang selamat memiliki pesan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa alam. Manusia—selamanya—akan membutuhkan alam. Pesan dalam film ini akan selalu relevan untuk diulas. Representasi dunia industri yang erat dengan eksploitasi sumber daya alam maupun pekerja dan masyarakat adat yang hutan dan haknya selalu dirampas menjadi kunci pada film ini. Film ini ingin mengatakan bahwa manusia dan lingkungan seharusnya hidup berdampingan dalam keseimbangan. Manusia tidak boleh mengambil lebih dari apa yang boleh diambil. Meskipun sedikit, film ini juga memiliki genre romansanya tersendiri. Ashitaka dan San, dua anak muda dengan latar belakang yang berbeda, diperlihatkan saling menyukai di akhir cerita. Namun keduanya tidak dapat bersama karena memiliki kehidupan yang berbeda. Penulis: Dimas Candra Pradana


Jakarta Sebelum Pagi: Hiruk Pikuk Kota, Romansa dan Surat Misterius Setelah sebelumnya pernah mengikuti beberapa novel karangan Ziggy, karyanya yang berjudul ‘Jakarta Sebelum Pagi’ ini membuat saya sedikit terkejut. Pasalnya, tidak biasanya penulis ini menuliskan novel yang berfokus pada romansa. Novelnovel karangan Ziggy; sebut saja Di Tanah Lada, Lucid Dream, dan Semua Ikan di Langit, rata-rata berpusat pada fantasi, mitos, dan cerita anak, sehingga novel ‘Jakarta Sebelum Pagi’ ini bisa dikatakan sebagai suatu dobrakan bagi penulis untuk menulis genre lain dan keluar dari tulisan biasanya. Buku ini berangkat dari kehidupan Emina Nivalis, seorang pekerja kantoran biasa di ibukota Jakarta. Hari-hari yang dihabiskan Emina hanya berada di kubikel kantor bersama teman sekantornya, Nissa, yang selalu mewanti-wanti Emina tentang bagaimana cara bersikap selayaknya warga ibukota Jakarta. Novel ini mengangkat sepenggal kisah kehidupan warga Jakarta yang modern, hal ini bisa dilihat dari tokoh-tokohnya yang kerap berkomunikasi dengan logat Jakarta yang kental dan juga campuran bahasa Inggris. Selain itu, karier yang ditekuni beberapa tokoh juga secara gamblang menggambarkan karier khas warga kota; seperti pekerja kantoran, freelancer, fotografer, dan pemilik kafe. Latar novel ini difokuskan pada sudut-sudut kota Jakarta, kantor, apartemen, dan kafe. Sua tu ha ri , Emina mendapa t k an k iriman sur a t dengan c a r a y ang t a k bi a s a . B uk anny a w a spada a k an k ebe r ada an sur a t - sur a t be s e r t a pengirimny a , Emina ma l ah pena s a r an dan be rus aha untuk menc a ri s i s t a l k e r y ang k e r ap mengirimk anny a sur a t be s e r t a be j ana pe r a k dan bunga hy a c inth. Ni s s a , s ebaga i or ang y ang hidup di J a k a r t a meny ada ri bah w a J a k a r t a me rupa k an t empa t aneh y ang pe rlu di w a spada i . Si apapun y ang puny a common s ens e s eha rusny a w a s - w a s dengan k ebe r ada an s t a l k e r, buk anny a ma l ah menc a ri k ebe r ada anny a . 18 | RESENSI BUKU MEI 2023 |


| MEI 2023 RESENSI BUKU | 19 Dia mendengus. "Seriously. Lo lahir dan besar di sini, kan? Jakarta is a weird place, and it gets creepier by the day. Em, let me say it untuk ketujuh-juta-kalinya: lo nggak punya kualitas paling penting sebagai orang Jakarta. Lo terlalu bahagia. Local people shouldn't be. Waspada sedikit, dong. Ada stalker di apartemen, ini reaksi locals: paranoid, panggil polisi.” -hlm. 8 Dalam novel ini, Ziggy seolah membawa pembacanya untuk masuk dalam sudut pandang Emina; untuk membiarkan sedikit ‘keanehan’ masuk ke dalam hidup kita, memberikan kesempatan pada hal-hal aneh untuk terjadi agar bisa mendapatkan akhir dongeng yang bahagia. Memang, pemikiran ini terkesan kurang masuk akal, bahkan kekanak-kanakkan, tetapi mungkin itulah yang sengaja hendak ditonjolkan penulis untuk menggambarkan karakter Emina-sebagai seseorang yang kurang waspada, absurd, tetapi sangat tulus dan apa adanya. Perjalanan Emina dalam mencari si stalker misterius ini membawanya pada seorang anak bernama Suki. Meskipun baru menginjak bangku SD, Suki memiliki pembawaan yang cukup dewasa dari anakanak seusianya. Melalui Suki, Emina juga mulai mengenal si stalker, yang ternyata merupakan kenalan dari Pak Meneer. Abel Fergani, seorang pria berusia 24 tahun yang mengidap fobia suara dan sentuhan karena latar belakangnya yang tragis. Sepanjang cerita, kita sebagai pembaca diajak untuk melihat perkembangan antara Abel dan Emina, bagaimana cara ia menghadapi ketakutannya dan seberapa berarti semua ini bagi Abel dan Emina. Ziggy menggambarkan romansa dalam buku ini secara simpel, namun juga rumit, manis, sekaligus hangat. Ada beberapa scene di mana Abel dan Emina menghabiskan waktu hanya berdua; di tangga darurat apartemen mereka, berlindung di balik selimut bersama dengan segelas cokelat hangat, melakukan perjalanan-perjalanan yang mereka tempuh pada dini hari untuk menghindari kebisingan kota Jakarta, dan meniti sejarah di balik surat-surat misterius yang ditemukan oleh Abel. Terdapat banyak kutipan-kutipan menarik dan menggelitik dalam novel ini. "Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kama hilang dari pandangan. Makanya, orang dewasa pakai makeup, berdandan rapi, pakai baju bagus... Karena kalau nggak, nggak akan ada yang melihat mereka. Penampilan, bagi orang dewasa, itu seperti baju untuk manusia transparanmembuat orang sadar kalau mereka ada. Karena biasanya, di dunia orang dewasa, orang-orang nggak punya cukup perhatian untuk menunggu kamu bicara dan bilang kalau kamu ada." -hlm 40-41 “Everyone's damaged in their own way." -hlm 152 Belum lagi isi dari surat-surat cinta misterius yang menggambarkan tragedi, tetapi indah dan menyakitkan dengan caranya sendiri.


20 | RESENSI BUKU MEI 2023 | Yang berubah adalah kau yang kini tidak lagi merasa kemustahilan sebagai hal yang menyedihkan. Yang berubah adalah kau yang kini tidak lagi memiliki saya dalam hatimu, dan tidak merasa bahwa itu adalah hal yang menyakitkan. Yang berubah adalah kau, yang tidak lagi menganggap derita dan cinta saya sebagai bagian dari hidupmu. Yang berubah adalah senyumanmu yang kini telah menjadi sebuah ketiadaan. -hlm 109 Saya membencimu dan keputusanmu yang bodoh. Dan saya mengagumimu, karena engkau, dalam caramu yang acuh, mengubah arti dari rasa benci sehingga saya mencintaimu dan hatimu yang dingin. -hlm 185 Dari segi romansa, novel ini juga cukup manis meski terkesan slow-burn. Bagaimana tidak? Emina dihadapkan dengan Abel yang memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan dan segala keanehan ini tentu membingungkan bagi Emina, membuatnya mempertanyakan kapasitas hubungan antara mereka berdua. Dia menggeleng. "Saya sedikit berharap kalau kamu tahu bahwa hari itu, saya ada di sana; beberapa langkah jauhnya dari kamu, mendengarkan kamu bicara, dan berharap kamu sedang bicara pada saya. Karena meskipun waktu itu saya nggak tahu apa-apa yang kamu katakan, setelahnya saya tahu kalau kamu sedang membacakan puisi paling indah. Bukan karena kata-katanya, tapi karena puisi itu memberi nama untuk kamu. -hlm. 182 Ekspektasi saya terhadap novel ini tidak banyak. Namun, setelah menuntaskannya, isi cerita rupanya cukup menghibur. Banyak hal yang terkesan absurd; seperti bagaimana si tokoh utama mengaitkan segala hal dengan babi, isi pikirannya yang terkesan nyeleneh, kepribadian tokoh utama yang ceplas-ceplos, dan bagaimana si tokoh utama merasa lebih nyaman berteman dengan orangorang tua yang disebutnya sebagai ‘para jompo’. Meskipun terkesan eksentrik, namun disitulah daya tarik novel ini. Ziggy mampu membawa cerita dengan ringan dan menyelipkannya dengan humor, sedikit tamparan akan realita, serta bumbubumbu romansa dan misteri. Meski terdiri dari kurang lebih dua ratus halaman, alur yang terdapat dalam novel ini terkesan cepat berubah dan melompat-lompat sehingga perlu dibaca ulang dan dicermati. Misteri akan surat, serta masa lalu Pak Meneer dan temannya juga sangat menarik. Buku ini cocok untuk dibaca remaja dan young adult yang mencari bacaan yang ringan, namun dengan isi yang mengupas lebih dari sekadar romansa. Penulis: Adilah Diva Larasat i


| MEI 2023 CERPEN | 21 Laki-laki itu kemudian duduk dan mulai mengeluarkan buku catatan dengan sampul payung dan tetesan hujan. Ia tampak menulis sesuatu di buku catatannya. Kehadiran laki-laki itu tidak membuat Gayatri terganggu dan ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah genangan air di jalan setapak. “Namaku Wirata, Wirata Adi Kertanegara. Siapa namamu?” Laki-laki bernama Wirata itu mengulurkan tangannya dan disambut Gayatri dengan sedikit sungkan. Ini pertama kalinya ada laki-laki lain yang mengajaknya berkenalan setelah sekian lama. “Namaku Gayatri Srinarendra Rajapatni, biasanya orang-orang memanggilku Gayatri.” “Bagaimana pandanganmu tentang hujan, Gayatri?” Tanya Wirata secara tiba-tiba yang membuat Gayatri terkejut. Setelah tiba-tiba Wirata mengajaknya berkenalan dan sekarang secara tiba-tiba pula ia menanyakan tentang hujan kepadanya. Suatu hal yang memiliki memori tersendiri untuk Gayatri. “Hujan? Aku sangat suka dengan hujan. Hujan memiliki kenangan indah tersendiri dalam hidupku. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang hujan?” Jakarta, April 2023 Semburat jingga dari mentari mulai nampak menggantikan derasnya hujan yang telah berhenti. Bangku-bangku taman yang tak bertuan tergenangi oleh air hujan dan beberapa daun yang berguguran. Genangan air di sebuah jalan setapak tak jauh dari bangku itu memantulkan cahaya mentari yang menambah suasana hangat sore itu. Di salah satu bangku, terlihat seorang wanita muda yang tengah duduk terdiam sambil mengamati suasana. Namanya Gayatri Srinarendra Rajapatni atau biasa orang memanggilnya Gayatri. Dari nama yang disandangnya, dapat diketahui bahwa nama itu terinspirasi dari seorang wanita hebat yang menjadi tokoh sentral dalam kerajaan Majapahit. Sesekali ia tampak mengencangkan jaket cokelat yang ia pakai dan menggosokkan kedua tangannya. Mungkin karena udara dingin selepas hujan yang masih beberapa kali berhembus dan membuatnya kedinginan. Tanpa Gayatri sadari, tiba-tiba seorang laki-laki bertopi hitam mendekati bangkunya sambil menenteng tas kulit berwarna cokelat. Suara berat dari lakilaki itu memecah lamunan Gayatri. “Permisi, boleh saya duduk di sini? Kelihatannya tidak ada bangku lain yang kering selain bangku ini." “Boleh, silakan duduk.” Jawab Gayatri sambil sedikit bergeser ke ujung bangku. Pluiviophiles Nicolas Deny


“Aku lihat dirimu sejak tadi duduk sendirian disini dan memperhatikan suasana sehabis hujan sehingga aku berasumsi ada suatu hal tentang hujan yang menjadi perhatianmu.” “Sepertinya dirimu pengamat yang baik ya? Memang ada suatu memori tentang hujan yang membuatku begitu tertarik dengannya. Kamu mau mendengarkan ceritaku?” Gayatri yang sejak tadi melamun dalam kesendiriannya mulai tertarik untuk berbincang dengan Wirata yang baru bertemu dengannya. Topik “Hujan” yang dibawa oleh Wirata menghadirkan kembali kenangan masa lalu di benak Gayatri. “Kalau dirimu tidak keberatan untuk bercerita, aku juga tidak keberatan untuk mendengarnya.” Jawab Wirata yang membuat Gayatri mulai menceritakan memori masa lalunya. Kenangannya bersama dengan Wijaya, sosok laki-laki yang mengubah dirinya di masa lalu dan bagaimana hujan bisa begitu indah untuk dirinya saat ini. “Baiklah, aku akan memulai kisahku.” Pikiran Gayatri melompat mundur ke sepuluh tahun yang lalu, di awal pertemuannya dengan Wijaya Yogyakarta, April 2013 Langit kelabu mulai berarak ke arah Gayatri yang sedang duduk menunggu bis di halte kota sambil membaca sebuah buku. Tetes demi tetes hujan mulai berjatuhan dan semakin lama semakin deras. Orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh salah satunya ke teritis halte bus tempat Gayatri berada. Dari banyaknya orang yang berlarian, tampak seorang laki-laki muda yang mendekat ke arah Gayatri untuk berteduh. Ia berhenti dan duduk tepat di sebelah Gayatri. Gayatri belum menyadari kehadiran laki-laki itu karena perhatiannya kepada buku yang ia baca. “Menunggu bis ke arah mana?” Tanya lakilaki itu kepada Gayatri “Bis ke arah Bantul.” “Satu arah ternyata kita. Perkenalkan aku Nararya Sanggramawijaya, biasa dipanggil Wijaya. Namamu?” “Aku Gayatri Srinarendra Rajapatni, biasa dipanggil Gayatri. Namamu tampak tidak asing untukku. Apakah namamu diambil dari nama Raja Wijaya dari Kerajaan Majapahit?” “Iya benar dan namamu juga diambil dari nama Dewi Gayatri, istri Raja Wijaya bukan? Sebuah kebetulan yang menarik.” Rainy Day Bus Stop oleh Sterling, Sterling Sheehy 22 | CERPEN MEI 2023 |


| MEI 2023 CERPEN | 23 Berawal dari perkenalan singkat itu, Gayatri dan Wijaya pun mulai berbincang banyak mengenai diri mereka dan apa yang mereka lakukan sehari-hari. Sepanjang perjalanan di dalam bus dengan ditemani oleh derasnya derai hujan mereka mulai saling mengenal satu sama lain. Benar jika ada yang mengatakan bahwa nama merupakan sebuah doa. Gayatri dan Wijaya, keduanya memiliki sifat yang sama dengan kedua tokoh utama Kerajaan Majapahit tersebut. Gayatri dengan sifatnya yang lemah lembut dan penuh kasih serta Wijaya dengan ketegasan dan kebijaksanaannya. Satu hal lagi yang membuat pertemuan mereka menjadi sebuah kebetulan yang menarik yakni keduanya sama-sama menyukai hujan dan semua yang terjadi ketika hujan turun. Dua minggu setelah pertemuan mereka di halte bus, Gayatri dan Wijaya berjanjian untuk bertemu di sebuah coffee shop di pusat kota Yogyakarta. Cuaca kota saat itu sedang tidak bersahabat. Hujan turun dengan sangat deras dan beberapa kali angin kencang berhembus. Namun, di dalam coffee shop tersebut terasa sangat hangat dengan lagu syahdu yang sedang diputar oleh pihak cafe. “Aku penasaran, kenapa kamu begitu menyukai hujan?” Wijaya mengawali percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan tentang hujan. “Hujan menurutku merupakan saat yang tepat untuk menjadi diri sendiri. Hujan juga begitu indah karena akan mendatangkan pelangi sesudahnya. Ibarat sebuah kesulitan yang berujung pada sebuah kebahagiaan. Di kala hujan juga, aku tidak perlu malu untuk berekspresi, aku bisa tertawa, berteriak, hingga menangis di bawah hujan tanpa diketahui oleh orang lain. Lalu kamu sendiri, kenapa kamu menyukai hujan?” “Banyak titik indah dalam diriku yang terjadi ketika hujan turun salah satunya kelahiranku yang bertepatan ketika hujan deras sedang turun. Ketika hujan, aku juga dapat bertemu dengan banyak orang salah satunya ketika aku bertemu denganmu dua minggu yang lalu.” “Maksudmu, bertemu denganku adalah salah satu titik indah dalam hidupmu?” “Siapa yang tidak merasa hal yang sama. Aku yakin semua laki-laki juga akan merasa bahwa pertemuan denganmu adalah suatu hal yang indah, Gayatri.” Jawaban Wijaya membuat Gayatri tidak bisa berkata-kata. Sepanjang hidupnya, tidak ada laki-laki yang mengatakan hal itu kepadanya. Gayatri pun tidak bisa berbohong jika di dalam hatinya yang paling dalam ia mulai nyaman dan Bahagia berada di dekat Wijaya. Menurutnya, Wijaya adalah sosok laki-laki yang begitu perhatian, dibalik perawakannya yang tegas.


Banyak yang mereka bicarakan hari itu dan tanpa mereka sadari gelap sudah mulai datang. Hujan di luar masih belum juga reda. Tampaknya hujan senang menemani kedekatan kedua manusia itu dan menyuburkan benih cinta di dalam hati mereka. “Sudah mulai malam, aku harus pulang sekarang. Besok masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Gayatri menutup percakapan mereka hari itu, ketika melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Meskipun di dalam hatinya ia tidak ingin percakapan itu berakhir. “Baiklah, mari aku antar ke rumahmu.” Tawaran Wijaya disambut hangat oleh Gayatri. Di bawah derai hujan, Wijaya mengendarai kendaraannya dengan Gayatri yang memeluk tubuhnya dari belakang. Situasi yang sangat indah dan hangat untuk mereka meskipun derasnya hujan mungkin membuat orang lain kedinginan. Jakarta, April 2023 Pikiran Gayatri kembali ke masa kini. Di depannya sekarang bukan lagi Wijaya yang selalu memberikan perhatian ataupun menggenggam tangannya ketika ia sedih. Wirata yang sedari tadi diam mendengarkan Gayatri bercerita pun bertanya kepada Gayatri. “Lalu bagaimana kelanjutan kisahmu dengan Wijaya? Masih bertahankah hingga saat ini?" “Kisahku tidak berakhir indah dengannya. Bukan seperti kisah cinta Gayatri dan Raja Wijaya dalam kisah Majapahit yang hidup bahagia bersama. Hubunganku dengannya terhalang restu dari orangtua Wijaya, selain itu Wijaya juga harus melanjutkan studinya ke luar negeri sehingga kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.” Gayatri mulai menceritakan akhir kisahnya dengan Wijaya kepada Wirata. Akhir yang meskipun tidak bahagia namun menurutnya menjadi suatu pilihan yang terbaik untuk keduanya. Setahun yang lalu, di tempat yang sama dimana saat ini Gayatri dan Wirata sedang berbincang, Wijaya mengatakan keadaan tersebut kepada Gayatri. Wijaya yang begitu mencintai Gayatri harus kalah dengan keadaan dan restu orangtua. Gayatri pun hanya bisa menerima keadaan dan mendukung semua keputusan Wijaya. Hujan yang turun saat itu menemani pelukan terakhir mereka. Satu lagi titik yang harus dilalui oleh Wijaya ketika hujan turun dan untuk saat ini bukanlah titik indah yang harus ia lalui. Gayatri pun menyelesaikan kisah antara dirinya, Wijaya, dan hujan. Ketika ia selesai berbicara, malam sudah mulai datang. Genangan air setelah hujan pun sudah mulai mengering. Ketika itulah Gayatri baru menyadari bahwa Wirata sudah tidak ada di hadapannya. Bahkan tidak ada tanda-tanda kepergian Wirata. Tanpa Gayatri sadari, sedari tadi ia hanya berbincang dengan dirinya sendiri dan Wirata yang muncul hanyalah halusinasinya yang saat itu tengah merindukan Wijaya. Di tempat dan suasana yang sama dengan setahun lalu, Gayatri melangkahkan kakinya meninggalkan taman itu dengan membawa kenangan masa lalunya dengan Wijaya yang tidak akan ia lupakan. 24 | CERPEN MEI 2023 |


Fotografer: Akmal Ubaidah Ada Tuhan di Balik Punggungmu Penulis : Florantina Agustin Nilam Sari Ada tuhan di balik punggungmu ia mendayu-dayu mengalunkan lagu rindu mengais doa-doa yang sendu Ada tuhan di balik punggungmu sesekali ia meringkuk kala kau sedang layu sesekali ia merintih waktu kau bersimbah pilu sesekali ia bersembunyi ketika hatimu beku Ada tuhan di balik punggungmu ia menanti melawan waktu bercengkrama dengan selimutmu menyeduh kopi dengan cangkir kesayanganmu Ada tuhan di balik punggungmu ia selalu ada, tak pernah ke mana-mana menyatu dengan ketiadaan-ketiadaan yang kau artikan sebagai cinta Surat Kesedihan Untuk Perempuan dalam ruang-ruang hampa itu tangisan mencercaku merundung hatiku menjelma setitik sesal yang kutorehkan pada doa-doa semalam ibuku melahirkan seorang bayi perempuan tangisannya menggelegar menyayat hati setiap orang beteriak seperti orang kesetanan ibu mengecup ribuan kali bayi itu sambil terus merintih dan bersedih "kasihan sekali anakku, kasihan sekali anakku, dia terlahir jadi perempuan." katanya, dan aku turut berduka | MEI 2023 PUISI | 25


26 | PUISI MEI 2023 | waktu bukan orang yang bisa kucaci maki kadang ia berbentuk gemuruh petir di tiga pagi atau sebuah tangisan ketika kepalaku sedang ribut waktu tak pernah tahu cara meminta maaf ia angkuh mengabaikan banyak duka yang ia cipta ketika dunia sedang berpaling dan waktu menjelma hakim yang tak sudi memihakku; memihakmu; memihak kita kusuratkan sebait protes kepadanya mengapa aku harus bertengkar dengannya melawannya melangkahinya meludahi dan merintihinya ketika dia sedang riuh berpesta dan bercinta dengan kepedihankepedihan yang mutlak dari manusia waktu berlarian menjadi dusta abadinya menjadikan penyesalanku sebagai jarum jam untuknya berdetik Omong Kosong Tentang Waktu Penulis : Florantina Agustin Nilam Sari Ilustrator: Alifia Halida Zahra


Aku; seorang wanita yang menulis huruf luka di bawah langit tak berwarna Di antara lembaran buku usang Terjepit sebuah tawa yang memilukan Binar mataku tak lagi benderang Terselip pedih di sudut ruang tergelap Raut putus asa, melukiskan rekah rindu yang makin tak terbendung Jejak hujan semalam belum jua mengering Namun tangis kembali bertandang Tubuh ringkih ini semakin terkapar dan pesakitan Antara kecewa dan cinta saling siku, beradu Entah yang mana yang lebih unggul | MEI 2023 PUISI | 27 Harap yang Hampa Penulis : Jihan Nabilah Yusmi Langkahmu kian memberat kearahku Namun, bukan itu masalahnya Hanya saja pintumu untukku semakin tertutup Sedangkan untuknya, Pintumu terbuka begitu luas Aku hampir saja mati tergeletak dalam ruang penuh harap Tergelantung di atap-atap resah yang nyaris roboh Aku terjebak dalam janji-janjimu yang mulai menjadi abu Hingga akhirnya perlahan aku tersadar, Bahwa kamu tak akan berlari memagut erat tubuhku Kita, tak lagi bisa bersama Emptiness oleh Asif Shuvo, Art Station


28 | PUISI MEI 2023 | Kemenangan oleh Penantian Mawar kering itu semakin rapuh Jua sayap-sayapku telah habis lumpuh Hingga tubuh berdebu berakhir runtuh dan akhirnya petala aksara tentangmu telah habis meluruh Aku telah menunggu sejak biru hingga petang Namun yang datang hanyalah nota-nota temaram tentang sosokmu yang tiba-tiba menjejak dalam lenyap Cerita lama yang saling berdesakan membuatku ingin kembali “Jangan berandai”, aku hanya diizinkan untuk menghitung kenang Mungkin ini saatnya, mengusung ingatan-ingatan cinta olehmu di cabang-cabang pohon yang mengurus Waktu yang telah lalu membungkam perasaan saling kenang dan menebar bau yang asing Benar, Huruf-huruf tentangmu telah melayang dan angkat kaki Tak lagi memenuhi pikiran dan membuat bising Kita telah lewat Kamu akan menjadi cinta yang layu dalam sajakku Tak akan ada lagi kamu dalam puisiku -selamanya Penulis : Jihan Nabilah Yusmi Ilustrator: Rosa Rizqi Amalia


Ketika Menyinggung Tragedi Dalam Drama dan Realita Penulis : Adila Amanda Ketika sebuah cerita, khususnya drama— yang notabene fiksi—dituliskan, seorang pembaca, atau barangkali penonton jika naskah itu ditampilkan, akan dapat merasakan konflik yang tengah diusung oleh penulis naskah. Kisah itu mestinya menjadi representasi atas suatu kejadian, yang katakanlah tengah hype pada masa itu. Representasi yang dimaksudkan di sini bukan hanya sebuah gambaran realitas, melainkan juga refleksi sang penulis naskah. Seiring zaman yang berganti, karakter tiap drama ikut mengiringi pergantian tersebut, sehingga tak dapat dipungkiri, salah satu bentuk karya sastra yang satu ini memiliki ciri yang cukup khas di tiap eranya. Apalagi pada drama genre tragedi, kemalangan yang dituliskan dalam naskahnya menjadi sebuah sorotan yang dapat cukup mudah dikenali. Kisah terwujudnya Raja Oedipus yang diramalkan menikahi ibunya sendiri menjadi salah satu naskah yang cukup tragis pada masa itu, yang kemudian oleh Sigmund Freud, nama raja tersebut dijadikan sebagai sebutan sebuah sindrom ketertarikan anak laki-laki pada ibunya. Sophocles, sang pengarang, membawa nilai kepercayaan akan takdir yang tak dapat ditentang oleh kehendak manusia. Kisah ini menjadi salah satu karakteristik tragedi di masa klasik, yakni yang kental dengan nilai-nilai moral dan kepercayaan terhadap dewa. Runtuhnya Konstantinopel dan ditemukannya mesin cetak di Abad Pertengahan memicu pesatnya perkembangan sastra. Para penulis berlomba membuat revolusi, sehingga tragedi yang diangkat dalam sebuah naskah drama di masa itu tak hanya membahas persoalan agama dan moral, tetapi juga berfokus pada tema-tema humanisme. Perkataan Protagoras mengenai "manusia adalah ukuran untuk segala-galanya" menjadi inspirasi mengapa humanisme menjadi laris dan mengilhami para penulis untuk turut membuat "ukurannya" sendiri, yakni dengan bahasa yang hiperbola untuk menaikkan tekanan emosi. | MEI 2023 ESAI SASTRA | 29


30 | ESAI SASTRA MEI 2023 | Ukuran tersebut agaknya dapat tergambarkan dalam sebuah drama tragedi yang ditulis oleh Shakespeare: kisah Romeo yang jatuh hati pada Juliet. Kekaguman Romeo digambarkan dalam setiap kata-kata yang dilontarkannya, dengan tipikal puitis dan mendayu-dayu. Tentu jika direfleksikan dalam realita, sebanyak apapun besarnya jatuh cinta seseorang, alam pikirannya tak akan cukup cepat membuat kata-kata pujian seimpulsif dalam kisah Romeo-Juliet. Apalagi jika mengetahui akhir dari kisah pasangan tersebut dan disandingkan dengan logika, mestinya kita mengira kematian keduanya adalah kematian yang konyol dan sia-sia. Kisah-kisah yang hiperbola tersebut kemudian berubah semenjak adanya Revolusi Industri dan Revolusi Perancis yang pada akhirnya melahirkan modernisme. Positivisme yang memahami kebenaran hanya berasal dari sains, menjadikan orang-orang pada masa itu mulai meninggalkan fanatismenya terhadap hal-hal metafisik. Manusia tercerahkan pada hal-hal yang realistis, sehingga demikianlah kemudian para dramawan membawa kritiknya terhadap isu-isu sosial dan kesetaraan sebagai topik yang diangkat dalam naskah dramanya. Drama bertema realisme tersebut bermula dari A Doll's House yang ditulis oleh Henrik Ibsen. Meskipun sama-sama menceritakan sebuah tragedi romansa seperti Romeo-Juliet, namun nilai yang dipaparkan pada drama A Doll's House jauh nampak lebih realistis, mengangkat permasalahan sehari-hari di kehidupan rumah tangga sepasang orang biasa. Yang pada awalnya tabu dan tak biasa, kisah ini menjadi cukup relevan bagi banyak orang. Gagalnya modernisme dalam mewujudkan kehidupan tanpa kelas beserta kemakmuran-nya melalui sains dan kebenaran yang saklek, katakanlah, memunculkan posmodern dengan citacitanya menghapus—atau lebih tepatnya mencampuradukkan—batas-batas antara fiksi dan realita. Penulis naskah bahkan penonton dapat masuk ke dalam cerita, membagikan pemikirannya, dan turut menjadi tokoh dalam suatu drama yang ditampilkan. Posmodern sepakat untuk menolak kebenaran yang pasti dan menggantinya dengan serba ketidak-pastian. Suatu drama tak lagi terdiri atas genre komedi, tragedi, dan tragi-komedi, melainkan menyerahkan interprestasi tersebut pada pemaknaan tiap individu. Realisme yang menjadi pondasi drama modern pun ikut berubah. Desakan perang dunia mengacaukan konstruksi pikiran orang-orang pada masa itu, hingga muncul pertanyaan-pertanyaan eksistensial mengenai makna kehidupan. Dicurahkanlah pertanyaan-per-tanyaan eksistensial tersebut oleh dramawan, dan muncullah Teater Absurd. Drama ini menampilkan kisah-kisah dengan alur yang tak jelas, tokoh yang tak rasional, dan peristiwa di luar nalar. En Attendant Godot, misalnya, mengisahkan tokoh-tokohnya yang menghabis-kan waktunya untuk menunggu sosok Godot yang tragisnya tak pernah muncul, sehingga direpresentasikan sebagai keberadaan atas ketiadaan. Pada akhirnya, baik drama klasik maupun postmodern sekalipun tetaplah berpondasi pada realitas yang ada. Hanya saja, tiap eranya memiliki caranya tersendiri dalam menampil-kan realitas tersebut: entah dengan membuat kisah yang bersumber dari keyakinan penulis, kisah yang kontradiktif dengan zaman, maupun menampilkan realitas itu apa adanya, dan bahkan mengaduknya menjadi suatu campuran yang, bagaimanapun, lagi-lagi, reflektif. Sumber : Barnes and Noble


Maraknya Budaya Toxic Masculinity di Kehidupan Masyarakat Di kehidupan kita saat ini, Globalisasi sudah berkembang pesat di berbagai negara untuk mencapai berbagai kepentingan setiap negara. Secara definisi, Globalisasi merupakan suatu proses integrasi internasional dalam hal apapun seperti pandangan, ideologi, kebudayaan, infrastruktur, transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga melahirkan ketergantungan dan mendorong aktivitas manusia dalam sektor ekonomi maupun budaya. Dalam globalisasi, ada berbagai macam dari bentuk globalisasi itu sendiri, salah satunya adalah globalisasi budaya. Globalisasi budaya merupakan suatu proses dalam penyebaran gagasan, makna, dan nilai yang berkembang di seluruh dunia dengan maksud memperluas dan mempererat hubungan sosial sesama manusia.Dalam globalisasi budaya, terdapat masalah seperti kesetaraan gender yang banyak terjadi pada perempuan. Akan tetapi, tidak hanya perempuan yang kena korban, laki-laki juga terkena dampaknya seperti kejadian toxic masculinity. Pada film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Film yang rilis 2021 ini dengan latar 1980 hingga 1990-an telah menunjukan isu-isu sensitif seperti maskulinitas yang toxic hingga kekerasan seksual. Dalam film ini terdapat tokoh yang bernama Ajo Kawir yang diperankan oleh Marthino Lio yang perannya sudah muncul di menit-menit awal. Ajo Kawir merupakan representasi dalam budaya masyarakat kita dimana stigma laki-laki harus selalu kuat, jantan, tidak boleh menangis, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya Ajo Kawir merupakan laki-laki impoten yang memiliki kekurangan dan berusaha menutupi kekurangannya dengan segala cara agar dapat terlihat jantan.Tentunya ini menjadi bahaya apabila budaya ini terus berkembang dan mendominasi di indonesia. Sumber: Paxels | MEI 2023 OPINI | 31


32 | OPINI MEI 2023 | Untuk mengatasi kasus-kasus kesetaraan gender seperti Toxic Masculinity yang terjadi kepada laki-laki di Indonesia, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan yaitu diberikannya edukasi berbasis gender dimana harus ada pemahaman sejak dini mengenai laki-laki dan perempuan serta maskulinitas-feminitas. Edukasi ini dapat menghasilkan ruang yang lebih luas bagi laki-laki untuk memperlihatkan sisi emosionalnya tanpa harus dipaksa oleh masyarakat yang dapat memberikan dampak buruk bagi kondisi mental dan psikologis laki-laki tersebut. Selain itu, perlu diberikan pengarahan bahwa laki-laki dan perempuan bukanlah dua manusia yang berbeda melalui sisi identitasnya,melainkan sama. Sehingga memberikan kondisi yang lebih baik terhadap keduanya baik laki-laki maupun perempuan. harus dipaksa oleh masyarakat yang dapat memberikan dampak buruk bagi kondisi mental dan psikologis laki-laki tersebut. Selain itu, perlu diberikan pengarahan bahwa laki-laki dan perempuan bukanlah dua manusia yang berbeda melalui sisi identitasnya, melainkan sama. Sehingga memberikan kondisi yang lebih baik terhadap keduanya baik laki-laki maupun perempuan. Penulis : Fernanda Gusti Syahputra (Kontribusi Pembaca) Pada kenyataannya Ajo Kawir merupakan laki-laki impoten yang memiliki kekurangan dan berusaha menutupi kekurangannya dengan segala cara agar dapat terlihat jantan. Tentunya ini menjadi bahaya apabila budaya ini terus berkembang dan mendominasi di indonesia. Toxic masculinity adalah suatu budaya tradisional dalam masyarakat tertentu dimana peran dan karakteristik laki-laki yang terbentuk dalam masyarakat telah melahirkan stigma yang buruk terhadap laki-laki. Laki-laki dituntut menjadi manusia yang dominan dan selalu mencari cara untuk menjadi dominan dalam suatu masyarakat. Ciri-ciri laki-laki yang memiliki sifat toxic masculinity ini adalah laki-laki harus jantan,kuat,dan tidak menunjukkan sifat emosionalnya karena sifat emosional dan perasaan merupakan sifat yang cenderung feminisme, bukan maskulin.ciri lainnya adalah lelaki harus tahan terhadap kekerasan fisik dan mental seperti bullying dan lain sebagainya serta laki-laki harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi keluarganya. Hal inilah yang menjadi penyebab Toxic Masculinity telah menjadi salah satu faktor yang menjadi tolak ukur masyarakat dimana laki-laki akan selalu harapan utama, pemimpin, kuat, dan sifat-sifat yang menggambarkan maskulinitas. Oleh karena itu, korban Toxic Masculinity ini akan berdampak pada gangguan Kesehatan mereka, seperti sering memendam emosinya sendirian, terjadinya trauma psikologis, rentan mengalami depresi dan mempunyai keinginan untuk bunuh diri.


“Orang akan mengetahui bahwa ia tidak dicintai, mungkin ia akan berusaha membalas dendam pada dunia entah dengan mengorbankan perang dan revolusi atau menulis dengan cara yang sangat menyakitkan hati...” ~ Bertrand Russell


Click to View FlipBook Version