PENANAMAN NILAI-NILAI TOLERANSI PADA ANAK DIDIK
(STUDI PADA SD HJ. ISRIATI BAITURRAHMAN 1, SD KASINUS
KUSMOSARI, SDN KALIBANTENG KULON 02 KOTA SEMARANG)
PROPOSAL TESIS
Disusun Untuk Persyaratan Seminar Proposal
Dalam Penulisan Tesis
Disusun Oleh:
Anik Nafiatus Sholikhah
Nim: 1803018003
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN WALISONGO SEMARANG
2020
i
ii
iii
Nama : Anik Nafiatus Sholikhah
Nim : 1803018003
Konsentrasi : Pendidikan agama Islam
Program Studi : Magister pendidikan agama Islam
Judul : Penanaman Nilai-nilai Toleransi Pada Anak Didik
(Studi Pada SD Hj. Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus
Kusmosari, SDN Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang)
A. Latar Belakang Masalah
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk karena
memiliki berbagai keberagamaan yang berbeda-beda, baik dilihat dari segi
etnis, suku bangsa, tradisi, budaya kesenian dan cara hidup. Sosok
keberagamaan ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda tanpa harus
mengurangi makna kesatuan yang ada di dalam motto nasional bangsa
Indonesia, yaitu motto “Bhineka Tunggal Ika”. Dalam motto tersebut jelas
menegaskan bahwa dalam kehiduppan kebangsaan mengakui adanya
kesatuan dalam keberagamaan, atau keberagamaan dalam kesatuan.1 Hal
tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai masyarakat yang
penduduknya mejemuk baik dilihat dari segi agama, suku bangsa, dan buda
dan kemajemukan itu merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihidari oleh
manusia sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam surah al-
Hujurat ayat: 13, yang berbunyi: َو َجَعۡلۤن ُك ۡم ۤثى َّواُۡن ِّمَخۡبِن ۡي ٌرذَ َك ٍر اَّۤخلّللََ ۡقۤنَعلُِۡكي ۡمٌم اََِّن ااَٰۤيَُۡتيّۤقَهٮا ُاكلَۡمنّا ُؕس
اِ َّن
اَ ۡكَرَم ُك ۡم ِعۡن َد اّۤلِّل ُشعُ ۡوًاب َّوقَبَإِٓٮ َل لِتَ َعاَرفُ ۡوا ؕ اِ َّن
Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang bertaqwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs. Al-
Hujurat:3)2
Ayat diatas menunjukkan bahwasannya adanya perbedaan-perbedaan
yang ada tidak dapat dihindari oleh manusia, karena keanekaragaman yang
1 Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antar Umat Beragama, (Bandung:PT Rosda
Karya, 2014)32
2 Depag RI al-Hikmah, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2005)517
1
ada merupakan realitas dalam kehidupan, sehingga manusia tidak bisa
menolak adanya perbedaan agama, suku bangsa dan budaya. Dalam ayat
tersebut juga dijelaskan bahwa Allah menciptakan umatnya dalam bentuk
yang berbeda-beda agar manusia bisa saling mengenal, menghargai dan bisa
bekerja sama bukan saling membenci dan menjatuhkan. Oleh sebab itu,
manusia tidak boleh menganggap bahwa dirinya lebih penting dari yang lain.
Karena setiap manusia juga mempunyai hak yang sama untuk didengarkan
dan diperhatikan.3
According Notonagoro this is in line with the opening text of UUD
1945 (Indonesian Constution) that the main principle of the
establishment of this nation is to advance the general welfare, educate
the life of the nation, and participate in carrying out world order basd
on independence, lasting peace and social justice.4
Melihat adanya keanekaragaman ini, agama bisa menjadi pemersatu
bangsa dan bisa juga berpotensi untuk mendorong terjadinya konflik dan
perpecahan.5 Padahal salah satu kepentingan yang paling mendasar bagi
warga negara Indonesia adalah persatuan dan kesatuan. Akan tetapi pada
kenyataannya masih terdapat sebagian dari sekelompok warga Indonesia yang
menjadi contoh bagaimana kebebasan beragama belum dapat dijalankan
dengan baik. Hal ini ditandai dengan salah satu kasus di SMA PABA Binjai,
dimana siswa masih belum bisa menanamkan sikap toleransi yang ditandai
dengan masih sering adanya perbedaan pada siswa dalam bentuk bullying,
mempermasalahkan keyakinan yang dianut oleh masing-masing siswa dan
perbedaan suku yang muncul dari para siswa itu sendiri. Adanya intoleransi
tersebut diduga akibat globalisasi dan modernisasi yang semakin luas dan
siswa belum siap untuk menerimanya, hal tersebut berdampak pada sikap dan
3 Henry Thomas Simarmata dkk, Menghargai Perbedaan Pendidikan Toleransi Untuk
Anak, (Jakarta:Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK Indonesia, 2017) 5
4 Puspo Nugroho, Internalization of Tolerance Values in Islamic Education, (Jurnal
Pendidikan Islam, Vol. 12, No. 2, 2018) 9
5 Pujiono, Rini Fidiyani, Laga Sugiarto, M. Shidiq Prabowo, Penanaman Nilai
Bertoleransi dalam Kehidupan Kebebasan Beragama Bagi Siswa Disekolah Menengah Kejuruan
(SMK),(Jurnal Pengabdian Hukum Indonesia (Indonesian Journal of Legal Community
Engagement) JPHI, 01 (2), 2019) 4
2
tingkah laku siswa yang kemudian menyebabkan nilai-nilai kebersamaan dan
keterbukaan belum bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan.6
Dari hasil survai pada lembaga kajian pendidikan Islam dan perdamaian
dalam bulan Oktober 2010-Januari 2011 menyatakan bahwa terdapat
persoalan di bangsa ini yaitu masih adanya pemahaman yang radikal dan
intoleransi dalam dunia pendidikan. Melihat hasil survai, dari 993 siswa yang
terdiri dari 100 SMP dan SMA umum di daerah ibukota Jakarta, sekitar 48,9
persen menyetujui dengan adanya kekerasan atas nama agama dan moral.
Kemudian yang 51,1 persen tidak menyetujinya. Kemudian dari 590 guru
agama sebanyak 28,2 persen menyatakan sangat setuju dengan aksi yang
mengatas namakan agama.7Kemudian dalam kabar berita republika bahwa
juga terdapat kasus tawuran di Bogor pada tahun 2018 yang melibatkan para
pelajar sekolah tingkat menengah atas yang mengakibatkan kematian salah
satu pelajar SMA swasta.8
Dari beberapa kasus yang sudah dijelaskan diatas menjelaskan bahwa
sumber terjadinya konflik intoleransi tidak hanya berasal dari ajaran atau
norma-norma agama, melainkan masih banyak masyarakat Indonesia yang
belum bisa menanamkan sikap toleransi untuk saling menghargai adanya
perbedaan yang ada dalam masyarakat. Kurangnya sikap saling menghargai
menandakan bahwa sekelompok dari warga Indonesia masih belum bisa
untuk menjalankan ajaran-ajaran yang terdapat dalam pendidikan toleransi.
Toleransi sendiri mempunyai peran yang sangat penting untuk
keberlangsungan hidup seseorang, untuk itu penanaman nilai toleransi
menjadi hal yang sangat penting di dalam proses pendidikan siswa. Karena
pengembangan toleransi dikalangan siswa baik disekolah maupun di luar
sekolah bertujuan agar siswa dapat menerapkan dan mengembangkan sikap
6 Saiful Amir, Andy Hakim, Pencegahan Sikap Intoleransi Pada Siswa Melalui
Penguatan Pendidikan Pancasila (Tudi Kasus SMA PABA Binjai),(Jurnal Seminar Pendidikan
Dasar Universitas Nahdlotul Ulama Sumatra Utara, 2018)
7 Zuly Qadir, Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme.(Jurnal Studi Pemuda. Vol. 5,
No. 1, 2016)11
8 Edi Sugianto, Pendidikan Toleransi Beragama Bagi Generasi Milenial, (Jurnal Kajian
Islam Dan Masyarakat, Vol 30, No 1, 2019)3
3
saling menghargai dan menerima perbedaan secara luas dalam kehidupan di
sekolah maupun di masyarakat.9
Membangun nilai-nilai toleransi melalui lembaga pendidikan harus
terus diperhatikan di era sekarang ini, karena melihat kasus-kasus yang ada
benih intoleransi dapat muncul dari berbagai faktor, salah satunya dari
pemahaman nilai kebangsaan yang sempit, selain itu dari penanaman nilai
toleransi di sekolah yang masih ekslusif. Dari sisni dapat dikatakan bahwa
dalam proses pendidikan yang ada belum bisa optimal untuk mewujudkan
suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.10 Oleh
karena itu peran lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi
pada peserta didik perlu ditingkatkan lagi, karena dengan melalui
pembelajaran di lembaga formal diharapkan siswa mampu memahami dan
menerapkan sikap hidup toleransi baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Demi tujuan itu, Pendidikan sampai saat ini dapat dipercaya sebagai media
yang berperan sangat besar dalam membentuk karakter peserta didik yang
merupakan generasi penerus bagi bangsa.
Untuk menghindari kejadian yang sudah dijelaskan diatas, kita perlu
tanamkan benteng kerukunan sejak dini tentang nilai-nilai toleransi yang
tidak hanya dilakukan dalam lingkungan masyarakat tetapi juga dilakukan
dalam lingkup sekolah. Karena untuk menghindari adanyan intoleransi perlu
ditanamkan nilai-nilai toleransi dari tingkatan anak usia dini hingga dewasa.11
Jangan sampai anak-anak terjebak dalam pendidikan yang mempunyai
pandangan yang sempit, yang ekslusif yang menutup mata akan kekayaan dan
keberagaman yang dimiliki oleh bangsa ini. Anak-anak justru harus segera
mengetahui bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan, baik tentang
toleransi, perdamaian, dan hal-hal positif lainnya. Jadi seharusnya yang
diperlihatkan adalah persamaannya bukan pada perbedaannya. Dengan pola
9 Muhammad Rifqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Al-
Qur’an(Telaah Konsep Pendidikan Islam), (Depok: Rajawali Pers, 2008)
10 Muawanah, Pentingnya Pendidikan Untuk Tanamkan Sikap Toleran Di Masyarakat,
(Jurnal Vijjacariya, Vol. 5, No. 1, 2018)64
11 Muhammad Rifqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Al-
Qur’an(Telaah Konsep Pendidikan Islam)...27
4
didikan yang seperti ini akan sangat berbekas pada jiwa anak dan akan
membentuk pribadi anak agar bisa menghargai perbedaan dan memberikan
hak-hak yang dimiliki setiap orang, baik dari segi agama, budaya dan suku
bangsa.12
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran penting untuk
mencetak pola pikir dan perilaku peserta didik. Sekolah juga salah satu
lembaga yang efektif untuk menanamkan nilai toleransi pada peserta didik,
karena pendidikan merupakan gerbang utama untuk menyebarkan dan
mengajarkan siswa bertoleransi terhadap orang lain, dimana pendekatan dan
muatan-muatan materi pembelajarannya berfungsi sebagai cara penyampaian
yang bisa diserap dan didalami oleh peserta didik, sehingga dapat
menciptakan kedamaian di lingkungan sekolah, masyarakat dan negara.
Mengingat begitu pentingnya penanaman nilai-nilai toleransi pada anak
didik di sekolah dasar, maka penulis merasa tertarik untuk mempertanyakan
dan menelusuri sejauh mana sekolah sebagai pendidikan formal menanamkan
nilai-nilai toleransi pada anak didik dan bagaimana peran serta upaya yang
dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan toleransi
pada anak didik dilingkungan sekolah dasar. Berdasarkan observasi awal, di
kota Semarang peneliti menemukan adanya sekolah yang mempunyai latar
agama yang berbeda-beda, yaitu Sekolah Islam (SD HJ Isriati Baiturrahman
1), (SD Kasinus Kusmosari), dan (SDN Kalibanteng Kulon 02).
Dari hasil observasi diawal itulah yang kemudian menjadi daya tarik
bagi peneliti untuk melihat bagaimana penanaman nilai-nilai toleransi pada
anak didik di sekolah dasar yang mempunyai keyakinan keberagamaan
berbeda-beda. Maka fokus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana bentuk dan pelaksanaan penanaman nilai-nilai toleransi anak didik
yang ada di SD HJ Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN
Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
12 Choirul Fuad Yusuf, Pendidikan Agama Berwawasan, (Jakarta:PT Pena Citasatria,
2008)30
5
B. Pertanyaan Penelitian
Melihat latar belakang masalah diatas, maka terdapat beberapa
rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1. Apa bentuk penanaman nilai-nilai toleransi pada anak didik di SD Hj
Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng
Kulon 02 Kota Semarang.
2. Bagaimana pelaksanaan penanaman nilai-nilai toleransi pada anak didik di
SD Hj Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN
Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
3. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan penanaman nilai-nilai
toleransi anak didik pada SD Hj Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus
Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
C. Tujuan Penelitian
Sebagaimana rumusan masalah yang sudah dijelaskan di atas, maka
tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan apa bentuk penanaman nilai-nilai pada anak didik
di SD Hj Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN
Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
2. Untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan penanaman nilai-nilai
toleransi pada anak didik di SD Hj Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus
Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
3. Untuk mendeskripsikan tantang faktor apa saja yang mendukung dan
menghambat pelaksanaan penanaman nilai-nilai toleransi anak didik pada
SD Hj Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN
Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang.
D. Manfaat Penelitian
Adapun dalam penelitian ini, penulis diharapkan memiliki dua manfaat
penelitian antara lain:
1. Manfaat Teoritis
6
a. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran serta wawasan
pengetahuan mengenai penanaman nilai-nilai toleransi anak didik
(Studi pada SD HJ Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan
SDN Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang) serta pentingnya
pendidikan toleransi antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa
dan bermasyarakat.
b. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi inspirasi pengetahuan untuk
bahan acuan dan referensi pada penelitian sejenis yang akan dilakukan
dimasa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan memberikan beberapa manfaat bagi pihak-
pihak berikut ini:
a. Bagi masyarakat, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi dan pemahaman mengenai penanaman nilai-
nilai pendidikan toleransi anak didik di sekolah dasar seperti
meningkatkan kerukunan antar umat beragama.
b. Bagi pihak sekolah, dengan adanya hasil dari penelitian ini diharapkan
bisa menjadi bahan masukan dan inspirasi ketika mengambil kebijakan-
kebijakan yang berhubungan dengan nilai toleransi
c. Bagi peneliti, dari hasil penelitian ini agar memberikan wawasan serta
pemahaman tentang bagaimana penanaman nilai-nilai toleransi kepada
anak didik di sekolah dasar.
E. Kajian Pustaka
Setelah peneliti mencoba menelusiri penelitian tentang pendidikan
toleransi, sejauh ini peneliti belum menemukan penelitian yang memfokuskan
tentang bagaimana cara pendidik menanamkan nilai-nilai toleransi pada anak
didik di sekolah dasar. Terdapat beberapa karya tulis ilmiah yang menurut
penulis cukup mendekati dengan peneitian ini antara lain:
7
Pertama, Penelitian yang dilakukan Ukhiya Rizqiany13, tahun 2017
mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Salatiga dengan judul “Nilai
Toleransi Dalam Pendidikan Agama (Telaah Silabus dan Perspektif Guru
Pendidikan Agama Islam, Kristen, dan Katolik di SMK Negeri 1 Karangawen
dan SMK Bhakti Nusantara Mranggen Kabupaten Demak)”. Kesimpulan dari
penelitian ini bahwa hasil dari penelaahan 3 silabus yaitu Agama Islam,
katolik dan kristen telah memenuhi kriteria dari pengembangan silabus.
Tetapi secara umum belum memenuhi kriteria desentralistik dan aktual-
konseptual. Selain itu, semua guru agama memiliki pandangan yang sama
mengenai pengembangan nilai toleransi.
Terdapat perbedaan dari penelitian yang akan peneliti teliti yaitu pada
penelitian Ukhiya Rizqiany obyeknya bertujuan untuk mengetahui
bagaimana pengembangan dari nilai toleransi dan perspektif guru mapel
pendidikan agama Islam, Kristen dan Katolik yang ada dalam silabus.
Sedangkan yang ingin peneliti ketahui adalah bagaimana penanaman nilai-
nilai toleransi anak didik di kota semarang.
Kedua, Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifqi Fachrian,14
tahun 2017 Mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin dalam Tesisnya yang
berjudul “Toleransi Antar Umat Beragama dalam Al-Qur’an (Telaah Konsep
Pendidikan Islam)”. Hasil dari penelitian ini terdapat pembahasan tentang
toleransi antar umat beragama pada al-Qur’an yaitu pada QS Al-Kafirun,
109/18:1-6, Yunus, 10/51:99. Al-Baqarah, 2/87:256, Al-An’am, 6/55:108,
As-Syura, 42/62:15, Al-Ankabut, 29/85:46, dan Al-Mumtahanah, 60/91:7-9.
Dilihat dari telaah pendidikan Islam bahwa pengertian dari tolerasi juga
terdapat dalam Al-Qur’an yaitu mempunyai kebebasan untuk memilih
keyakinan tanpa adanya suatu paksaan, kemudian bertanggung jawab atas
13 Ukhiya Rizqiany, Nilai Toleransi Dalam Pendidikan Agama (Telaah Silabus dan
Perspektif Guru Pendidikan Agama Islam, Kristen, dan Katolik di SMK Negeri 1 Karangawen dan
SMK Bhakti Nusantara Mranggen Kabupaten Demak), Tesis Pendidikan Agama Islam Program
Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Salatiga, 2017.
14Muhammad Rifqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama dalam Al-Qur’an
(Telaah Konsep Pendidikan Islam), Tesis Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana IAIN Antasari
Banjarmasin, 2017
8
keyakinan yang telah dianutnya, dan selanjutnya berbuat baik terhadap
sesama, menghormati dan menghargai keyakinan yang telah dianutnya.
Perbedaan pada penelitian diatas adalah, penelitian yang dilakukan
Muhammad Rifqi Fachrian menggunakan penelitian kepustakaan dan fokus
dalam penelitian ini membahas tentang toleransi antar umat beragama yang
dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui konsep pendidikan Islam. Sedangkan
penelitian ini mengfokuskan pada bagaimana penanaman nilai-nilai toleransi
pada anak didik yang ada disekolah dasar dan menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif.
Ketiga, Penelitian yang dilakukan oleh Moh. Hafidz15 pada tahun 2019
mahasiswa Pascasarjana Sunan Ampel Surabaya yang berjudul “Toleransi
Antar Umat Beragama di Desa Pabian Kecamatan Kota Sumenep Madura.
Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa kehidupan toleransi dalam umat
beragama tidak hanya sebatas mengetahui tentang nilai-nilai toleransi, tetapi
juga menjalankan prinsip nilai toleransi tersebut yaitu adanya sikap
kerjasama, menghargai perbedaan keyakinan antar penduduk desa dengan
tujuan mempererat persaudaran dan terciptanya masyarakat yang damai.
Terdapat perbedaan dalam penelitian ini, penelitian yang dilakukan oleh
Moh. Hafidz mengfokuskan pada bagaimana sikap toleransi antar umat
beragama yang ada di desa pabian Sumenep madura. Sedangkan peneliti lebih
fokus pada penanaman nilai-nilai toleransi anak didik di sekolah dasar kota
Semarang.
Keempat, penelitian yang dilakukan Samsudin,16 tahun 2012 mahasiswa
UIN Sunan Kalijaga dalam Tesisnya yang berjudul “Penanaman Nilai-nilai
pluralisme dalam pendidikan Agama di Sekolah (Studi Komparasi di MIN II
Yogyakarta dan SD Kasinus Kumendaman Yogyakarta)”. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa materi yang telah diajarkan di MIN II
15Moh Hafidz, Toleransi Antar Umat Beragama di Desa Pabian Kecamatan Kota
Sumenep Madura, Tesis Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pascasarjana Sunan Ampel
Surabaya, 2019
16Samsudin, Penanaman Nilai-nilai Pluralisme Agama dalam Pendidikan Agama di
Sekolah (Studi Komparasi di MIN II Yogyakarta dan SD Kasinus Kemendaman Yogyakarta), Tesis
Pendidikan Madrasah Ibtida’iyah (PGMI), Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2012.
9
Yogyakarta dan di SD Kasinus Kemendaman ini mempunyai perbedaan
implisit dan eksplisit. Kemudian dalam penggunaan metode kudua sekolah
memiliki kesamaan tetapi dalam penerapannya memiliki perbedaan yaitu di
MIN II Yogyakarta dalam penerapannya belum menyentuh keberagamaan,
sedangkan di SD Kasinus Kemendaman Yogyakarta sudah menyentuh
keberagamaan.
Perbedaan dalam penelitian diatas adalah, peneliti melakukan penelitian
secara komparasi antara dua sekolah dengan penerapan pembelajaran yang
sama tetapi memiliki hasil yang berbeda, sedangkan peneliti akan meneliti
tiga sekolah dengan tujuan ingin mengetahui bagaimana penanaman nilai-
nilai toleransi anak didik di sekolah dasar kota Semarang apakah mempunyai
kesamaan atau memiliki hasil yang berbeda .
Kelima, Penelitian yang dilakukan oleh Tresna Maya Sofa17 pada tahun
2017, mahasiswa fakultas Pendidikan Seni dengan judul Penanaman Sikap
Toleransi Melalui Pembelajaran Tari Nusantara di SMP Negeri Margahayu
Bandung. Hasil dari penelitian ini menjelaskan pada setiap siklus sikap
toleransi terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya perubahan pada peserta didik yang sudah mulai mampu
menerima, menghargai kesepakatan yang telah didiskusikan bersama-sama.
Perbedaan antara penelitian yang akan peneliti teliti dengan penelitian
diatas adalah penelitian yang dilakukan oleh Tresna Maya Sofa
mengfokuskan pada penanaman sikap toleransi melalui pembelajaran tari
Nusantara, sedangkan peneliti lebih fokus pada penanaman nilai-nilai
toleransi anak didik di sekolah dasar kota Semarang.
F. Kajian Teori
1. Penanaman Nilai-nilai Pada Siswa
a. Pengertian Penanaman Nilai-nilai Pada Siswa
17Tresna Maya Sofa, Penanaman Sikap Toleransi Melalui Pembelajaran Tari
Nusantara di SMP Negeri Margahayu Bandung, Tesis Pendidikan Seni PascasarjanaUniversitas
Pendidikan Indonesia, 2017
10
Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak akan bisa hidup
sendiri, oleh karena itu manusia membutuhkan orang lain. Untuk dapat
menghasilkan hubungan yang baik dengan sesama, maka perlu adanya
sifat, sikap dan etika yang baik. Sifat, sikap dan etika yang baik akan
melahirkan nilai-nilai yang baik pula. Nilai berasal dari kata value
(bahasa inggris) (moral value). Dalam kehidupan sehari-hari nilai dapat
diartikan sesuatu yang berguna, bermutu. Nilai dipandang sesuatu yang
baik yang mempunyai manfaat, sehingga akan menunjukkan kualitas
bagi manusia dalam menentukan suatu pilihan dalam bertindak.18Maka
ketika mengambil keputusan setiap orang harus hati-hati dan harus
berfikir secara rasional. Karena seseorang yang mengambil keputusan
tanpa adanya dasar rujukan yang kuat dapat dianggap tidak memiliki
dan memahami adanya nilai moral.
Dalam kehidupan, nilai memiliki peran yang penting karena nilai
dapat menjadi pengarah dalam hidup. Nilai juga memiliki kombinasi
dua dimensi yaitu dimensi intelektual dan dimensi emosional. Dari dua
dimensi ini menentukan nilai serta fungsinya dalam kehidupan sehari-
hari. Apabila dimensi intelektualnya lebih dominan kombinasi tersebut
dinamakan norma atau prinsip seperti kasih sayang, pemaaf, sabar,
persaudaraan, dan sebagainya. Akan tetapi, keduanya bisa berperan
sebagai nilai dalam dimensi emosional yang terwujud dalam tingkah
laku atau pola pikir.19
Penanaman dapat diartikan sebagai cara, proses dan suatu cara
untuk menanamkan sesuatu20Penanaman nilai merupakan proses untuk
memasukkan nilai yang baru didapatkan kedalam diri seseorang.
Seperti hal nya seseorang baru mendapatkan pengetahuan tentang hal-
hal yang baik dan hal-hal yang buruk. Kemudian seseorang tersebut
18Qiqi Yuliati Zakiyah dan Rusdiana, Pendidikan Nilai kajian teori dan praktik sekolah
(Bandung: Pustaka Setia, 2014) 14
19Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 145-146
20Atifah Hanum, Penggunaan Kurikulum Serta Penanaman Nilai dan Spiritual Siswa,
(Jurnal of Learning Education and Counseling, Vol. 1, No. 2, 2019) 2
11
sudah bisa membedakan dan menjalankan hal-hal yang baik dan buruk
tersebut, maka seseorang tersebut sudah bisa dikatakan sebagai seorang
yang telah melewati proses penanaman nilai dengan baik. Seperti yang
sudah dikemukakan bahwa idealnya tujuan pendidikan adalah untuk
mencapai manusia yang berimplikasi pada pendidikan nilai disekolah.
Pendidikan nilai sendiri dapat dikatakan sebagai dimensi
pendidikan yang pelaksanaannya melalui berbagai pengembangan baik
dalam kurikulum, ekstrakulikuler maupun melalui proses belajar
mengajar sebagai upaya untuk menanamkan nilai-nilai dalam
pendidikan.21 Dalam penanaman nilai pada anak didik diharapkan
adanya kerjasama antara guru, peserta didik dan orang tua baik di
sekolah, keluarga ataupun di lingkungan masyarakat. Karena
penanaman toleransi tidak berlangsung di lingkungan sekolah saja,
tetapi juga diluar lingkungan sekolah. Dengan hal tersebut diharapkan
akan tercapainya masyarakat yang damai dan tujuan dari peserta didik
akan tercapai.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
penanaman nilai-nilai pada anak didik adalah suatu proses yang dapat
berguna bagi peserta didik baik berupa sikap, tingkah laku, atau sesuatu
yang berhubungan dengan Allah, diri sendiri dan sesama manusia yang
diperoleh dari lembaga pendidikan yang kemudian di transformasikan
secara sadar untuk melangsungkan hidup yang lebih baik lagi.
b. Fungsi Penanaman Nilai Pada Siswa
Fungsi langsung dari nilai adalah memberikan arahan kepada
manusia agar bertingkah laku dengan baik, sedangkan fungsi tidak
langsung dari nilai dapat dilihat ketika seseorang sedang melakukan
tindakan tertentu, hal tersebut akan memotivasi manusia agar tindakan
2015)4 21 Uus Ruswandi, Ibadurrahman, Value Education Model In School, (Vol. 2, No.1,
12
dan emosinya bisa terarah saat melakukan suatu tindakan.22Ketika
seseorang hendak melakukan suatu pekerjaan atau tindakan yang harus
menentukan pilihan diantara sekian banyak kemungkinan dan harus
memilih. Disinilah nilai menjalankan fungsinya.
Fungsi pendidikan nilai pasal 3 dalam undang-undang No 20
tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk
membentuk watak seseorang dan membentuk peradaban bangsa yang
bermartabat agar potensi peserta didik berkembang dan menjadi
manusia yang mempunyai akhlak yang mulia, beriman kepada Allah,
mempunyai ilmu yang manfaat, kreatif, mandiri dan bertanggung
jawab.23Selain itu nilai juga mempunyai fungsi untuk memperkenalkan
kepada siswa nilai-nilai dan penempatan dari nilai-nilai tersebut.
pendidikan nilai juga mempunyai fungsi untuk membantu siswa
memahami, mengarahkan, mengespresikan keputusan yang tepat dari
berbagai permasalahan. Dengan kata lain pendidikan nilai adalah
pemanusiaan manusia.24Dari fungsi yang sudah dijelaskan diatas fungsi
dari penanaman nilai adalah utuk membantu peserta didik mengenali
nilai-nilai yang akan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari
agar terbentuk manusia yang memiliki kepribadian yang baik seperti
berakhlak mulia, berilmu, mandiri, dan bertanggung jawab.
2. Nilai-nilai Toleransi Pada Siswa
a. Pengertian Nilai-nilai Toleransi Pada Siswa
Nilai dapat diartikan sebagai sifat yang menjadi dasar
berkualitasnya seseorang dalam menentukan suatu tindakan. Nilai tidak
bisa dilihat ataupun diamati, tetapi nilai bisa dirasakan ketika seseorang
22Budi Juliardi, Ilmu Sosial Budaya Dasar,(Bandung:Alfabeta, 2004) 144
23 Kurnia Muhajarah, Pendidikan Toleransi Beragama Perspektif Tujuan Pendidikan
Islam, (Jurnal An-Nuha, Vol. 2, No. 1, 2016)14
24Dyah Kusuma Windrati, Pendidikan Nilai Sebagai Suatu Strategi Dalam
Pembentukan Kepribadian siswa, (Jurnal Formatif, Vol. 1, No. 1, 2011)2
13
sedang melakukan suatu perbuatan.25 Nilai menjadi hal yang penting
bagi manusia, karena nilai bisa menjadi motivasi ketika manusia akan
melakukan ssuatu tindakan, namun nilai belum bisa dikatakan sebagai
cara praktis untuk menjadi panutan manusia dalam bertindak karena
sifat dari nilai itu sendiri masih abstrak sehingga membutuhkan
konkretisasi atas nilai tersebut. Karena nilai juga diartikan sebagai
sesuatu yang sudah ada pada diri seseorang yang setiap orang tersebut
mempunyai karakter yang berbeda-beda seperti akal, hati nurani,
perasaan, moral, budi pekerti, kasih sayang. Dan bentuk dari nilai-nilai
inilah yang melekat pada diri manusia itu sendiri.
Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, sikap menahan
emosi dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah toleransi adalah
sikap adanya saling menghargai, menerima adanya perbedaan pendapat,
kepercayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan pendiriannya.
Budaya toleransi dalam kontes ini adalah sikap saling menghargai,
menghormati, tidak melecehkan kepercayaan orang lain. Sedangkan
dalam konteks sosial toleransi dapat diartikan sebagai memberikan
segala persoalan kepada yang berwenang dan tidak main hakim
sendiri.26 Toleransi tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik
untuk menerima adanya perbedaan, tetapi toleransi juga mengajarkan
agar peserta didik dapat menghargai adanya keberagaman agar
terciptanya masyarakat yang dami tanpa ada perselisihan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan menjadi wadah
yang tepat untuk siswa belajar memanusiakan manusia tanpa harus
memandang ras, suku dan keyakinan, dan sudah seharusnya pula
sekolah mempersiapkan pembelajaran yang mengarahkan pada
penanaman nilai-nilai toleransi agar siswa mempunyai kesadaran dan
25Muhammad Fathurrohman, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,
(Yogyakarta:Kalimedia, 2018) 47
26Imam Tholkah, Pendidikan Toleransi Keagamaan: Studi Kasus SMA Muhammadiyah
Kupang Nusa Tenggara Timur,(Jurnal Edukasi Vol. 11, Nno. 2, 2013)169
14
tanggung jawab atas apa yang dilakukan.27 Nilai menjadi hal yang
sangat penting untuk dijadikan pedoman dalam proses pendidikan.
Karena masa-masa sekolah adalah masa yang sangat efektif untuk
menanamkan nilai toleransi pada diswa dan menanamkan pendidikan
yang mempunyai multi dimensi yaitu tentang kejujuran, sifat untuk
saling menghormati dan menghargai, dan mau memberikan bantuan
tanpa harus memandang status.
Dengan adanya pendidikan semacam ini diharapkan peserta didik
dapat tumbuh tanpa adanya prasangka buruk, dan terhindar dari
diskriminasi yang mengatasnamakan agama, ras dan dan suku bangsa.
Selain itu dengan adanya pendidikan ini kita berharap agar semua orang
merasa dicintai dan tidak pernah mengalami penderitaan akibat
penolakan dan pengucilan terhadap adanya perbedaan.28 Dari beberapa
penegrtian diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai toleransi adalah
keyakinan, patokan yang mengarahkan manusia agar memelihara dan
membangun fitrah dan potensi manusia untuk saling menghormati dan
menghargai terhadap kepercayaan, pendapat-pendapat atau keyakinan
seseorang yang berhubungan dalam akidah, ketuhanan yang dimiliki
oleh seseorang.
b. Prinsip-prinsip Nilai Toleransi
Nilai toleransi adalah sesuatu yang penting dimiliki oleh
seseorang. Seseorang yang memiliki toleransi dapat dikatakan sebagai
pribadi yang toleran. Manusia bisa dikatakan toleran jika mampu hidup
dengan damai tanpa adanya penolakan satu sama lain. Adapun dari
uraian diatas, berikut ini adalah prinsip-prinsip dari nilai toleransi:
1. Kebebasan dalam keyakinan dan beribadah29
27 Imam Tholkah, Pendidikan Toleransi Keagamaan: Studi Kasus SMA Muhammadiyah
Kupang Nusa Tenggara Timur......169
28Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Berwawasan Multikultural,(Jakarta: Erlangga,
2005) 9
29 Maali Mohammad Jassmin Alabdulhadi, Religious Tolerance in Secondary Islamic
Education Textbooks in Kuwait, (Jurnal of Religious Educatian, 2019) 5
15
Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasan seseorang
dalam melakukan suatu tindakan. Kebebasan muncul dari doktrin
bahwa setiap orang mempunyai hak untuk bertidak sesuai
keyakinannya tanpa harus melanggar aturan yang sudah ditetapkan
seseorang.30
Konsep kebebasan menjelaskan bahwa setiap orang
mempunyai pandangan bahwa semua manusia adalah ciptaan dari
Tuhan-Nya dan semuanya berhak memiliki kebebasan dalam hak
berkeyakinan baik di lingkungan sekolah, dirumah dan
dilingkungan masyarakat. Dengan adanya kebebasan manusia
dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya dengan
tujuan manusia juga bisa saling mengenal dan saling menerima
perbedaan.
Dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan bahwa Agama
Islam mencegah adanya pemaksaan baik dalam hal keyakinan
beragama, karena agama Islam juga sudah menganjurkan agar
umat manusia bertanggung jawab atas yang diyakininya.31
Dengan demikian, ketika masih ditemui adanya paksaan
dalam keyakinan beragama, hal tersebut dapat dikatakan sebagai
bentuk intoleransi, dengan demikian ketika dijumpai masih adanya
paksaan pada ranah keagamaan, hal tersebut merupakan bentuk
dari intoleransi, karena hal tersebut sudah keluar dari ranah
kebebasan dalam bertoleransi.
2. Kesetaraan.
Kesetaraan (equality) mempunyai suatu hal yang
berlawanan terhadap isu diskriminasi sosial dalam hal kehidupan
dimasyarakat. Kesetaraan juga diartikan sebagai kesempatan untuk
untuk setiap manusia memperoleh kesamaan serta hak-hak yang
30Apeles Lexi Lonto&Theodorus, Etika Kewarganegaraan,(Yogyakarta:Ombak,2016)22
31 Maali Mohammad Jassmin Alabdulhadi, Religious Tolerance in Secondary Islamic
Education Textbooks in Kuwait.......5
16
sama baik dalam ranah politik, ekonomi, sosial, budaya,
pendidikan dan lain sebagainya. 32
Agama Islam menjelaskan bahwa manusia mempunyai
kesetaraan yang sama dihadapanNya. Agama Islam juga sudah
menjelaskan bahwa setiap manusia sama baik itu muslim ataupun
non muslim.33Kesetaraan memiliki konsep dan dasar bahwa dalam
masyarakat setiap manusia memiliki hak-hak yang sama, dimana
konsep ini berdasarkan tuntutan dari nilai-nilai hak asasi
manusia34. Konsep kesetaraan ini bertujuan untuk menghilangkan
penindasan, penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan. Dengan
adanya keadilan berarti tidak akan ada kekerasan, pembakuan
peran dan beban ganda. Dengan tidak adanya diskriminasi
menjadikan tanda terwujudnya keadilan dan kesetaraan.
3. Keadilan
Keadilan sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an, hal ini
menunjukkan bahwa Allah memerintahkan untuk menegakkan
keadilan kepada semua hambaNya. Oleh karena itu keadilan dalam
Islam berarti adanya persamaan, seimbangan dan pemberian hak
kepada pemiliknya dan keadilan ilahi.35
Islam dibangun atas dasar menghilangkan kesulitan dan
menciptakan kemaslahatan untuk semua manusia, dan pokok yang
paling penting adalah mewujudkan keadilan dan mencegah
penganiayaan terhadap sesama. Islam mengajarkan untuk bersikap
adil kepada siapapun baik muslim ataupun non muslim, karena
32 Muhammad Barir, Kesetaraan dan Kelas Sosial dalam Perspektif al-quran, ( Jurnal
Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 1, Januari 2014), 62
33 Maali Mohammad Jassmin Alabdulhadi, Religious Tolerance in Secondary Islamic
Education Textbooks in Kuwait, (Jurnal of Religious Educatian, 2019) 5
34 Dewi Murni, Kesetaraan Gender Menurut Al-quran, (Jurnal Syahadah, Vol. VI, No.
1, April 2018) 158
35 Tamyiez Dery, Keadilan dalam Islam, (Jurnal Mimbar, Volume XVIII No. 3 Juli -
September 2002) 337
17
setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang sama. 36
Keadilan akan berjalan baik ketika semua orang saling
menghormati tanpa memandang perbedaan, tidak membedakan
antara yang miskin dan kaya, beragama muslim ataupun non
muslim dan ketika semua orang mendapatkan haknya.
4. Koeksistensi
Setiap manusia memiliki kepercayaan yang kemudian
menjadi dasar dalam memilih agama yang akan dijadikan pedoman
dalam hidupnya. Allah sendiri telah menjelaskan dalam al-Qur’an
bahwa pada hakikatnya manusia itu berbeda-beda. Dan mereka
akan bisa hidup rukun dan saling menghargai perbedaan yang
terjadi jika bisa memahami perbedaan itu, untuk itulah agama Islam
sangat menghargai adanya partisipasi sosial non muslim agar
menciptakan komunitas yang mengintegrasikan muslim dengan
orang lain37.
Disinilah, pentingnya memberikan penanaman nilai
toleransi (tasamuh) antar umat beragama. Dengan penanaman nilai
toleransi, perbedaan agama akan dipandang sebagai sunnatullah
yang tidak akan pernah berubah sama sekali dan selamanya, karena
merupakan kodrat Tuhan dan kenyataan kehidupan yang tak
terbantahkan. Toleransi terhadap pluralitas juga menghendaki sikap
saling memahami dan saling menghargai
5. Menepati janji
Menepati janji erat kaitannya dengan kejujuran dan sikap
amanah. Menepati janji tidak akan tercapai ketika tidak memiliki
komitmen untuk menjaga kepercayaan orang lain. Agama Islam
memerintahkan kepada manusia untuk menepati janji yang telah
36 Maali Mohammad Jassmin Alabdulhadi, Religious Tolerance in Secondary Islamic
Education Textbooks in Kuwait, (Jurnal of Religious Educatian, 2019)
37 Siti Miftahul Jannah dan Muhammad Nawir, Harmonisasi Agama (Studi Kasus
Koeksistensi Umat Beragama di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu), (Equilibrium: Jurnal
Sosiologi Pendidikan Vol. VI. Issu 1. Juli-Desember 2018) 2
18
mereka buat. Seorang muslim tidak akan pernah mau
menyakiti atau mengecewakan orang lain. Oleh karenanya, jika ia
telah berjanji, maka sudah semestinya ia menepati janjinya itu.
Orang yang tidak mampu menepati janjinya, maka ia telah
menyakiti hati orang lain yang tentu saja hal itu bukanlah ajaran
Islam38.
Maka dari itu, tujuan pendidikan Islam adalah harus mampu
mencetak generasi-generasi yang memiliki komitmen untuk
senantiasa menepati janji yang telah ia buat. Sikap ini tentu saja
tidak hanya berlaku di lingkungan sekolah melainkan juga di
lingkungan masyarakat atau lingkungan tempat tinggalnya.
6. Belas kasian dan kebaikan
Secara qudrati manusia mempunyai kebutuhan untuk hidup
bertahan dan berkesinambungan. Allah SWT dengan penuh kasih
sayang telah menganugerahkan segala nikmat. Untuk itu manusia
harus punya rasa belas kasihan dan selalu berbuat baik dengan
memanfaatkan sebaik mungkin segala apa yang dianugerahkan
Tuhan. Disamping itu Islam mendorong adanya sifat kasih sayang
dan kebaikan terhadap setiap muslim dan non muslim39.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik dan
punya rasa belas kasihan kepada siapapun, hal itu sudah diajarkan
dan dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW untuk selalu
berbelas kasihan dan berbuat kepada setiap orang baik itu muslim
maupun non muslim.
7. Keamanan dan perdamaian
Islam sebagai agama yang mengedepankan kedamaian
sesungguhnya tidak membenarkan adanya praktek kekerasan.
Manusia yang telah dianugerahi akal dan nafsu dan dipercaya oleh
38 Herman Wicaksono, Tujuan Pendidikan Islam Berbasis Mabādi’ Khaira Ummah,
(Jurnal Pendidikan Islam Vol.5 No.1, Juni 2020) 31-32
39 Dudung Abdullah, Al-qur’an dan Berbuat Baik (Kajian Tematik Term “Al-Birr”),
(jurnal al-daulah, Vol. 6 / No. 1 / Juni 2017 ) 1
19
Allah SWT untuk menjadi khalifah yang bertugas menjaga bumi
dari kerusakan. Dalam Islam bahwa keamanan dan perdamaian
merupakan kunci pokok menjalin hubungan antar umat manusia,
sedangkan perang dan pertikaian adalah sumber malapetaka yang
berdampak pada kerusakan sosial40. Agama Islam sangat
memperhatikan keamanan dan perdamaian, sehingga Islam selalu
menyeru kepada umat manusia agar selalu hidup rukun dan damai
dengan tidak mengikuti hawa nafsu dan godaan Syaitan, guna
tercapainya keamanan dan perdamaian yang penuh.
8. Kelembutan dalam dialog
Berkomunikasi dan berintraksi sesama manusia merupakan
salah satu hal yang ditakdirkan oleh Allah SWT dan banyak faktor
yang menjadikan manusia dapat berbicara dengan baik, antara lain
pendidikan, budaya, lingkungan, dan lain sebagainya. akhlak yang
baik maka akan membuahkan tutur kata yang baik pula dalam
melakukan komunikasi dan begitu pun sebaliknya. Etika bicara
dalam berkomunikasi dalam perpektif Islam adalah perilaku yang
sesuai dengan al-Qur’an dan hadits41.
Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan kelembutan
dan santunnya dalam berdialaog, Sehingga lawan komunikasinya
merasa dimulikan oleh Rasulullah SAW. Islam sangat mendorong
ketika berkomunikasi harus menggunakan tata karma dan tutur kata
yang baik. Jangan sampai bahasa kita menyakiti orang lain, ketus,
nyelekik dan menimbulkan permusuhan. Akhlak yang baik akan
mengeluarkan bahasa yang baik.
Pendidikan toleransi pada siswa adalah pembelajaran yang
menganjarkan tentang sikap saling menghormati, saling
menghargai, dan sikap saling menerima adanya berbagai
40 Nur Hidayat, Nilai-nilai Ajaran Islam Tentang Perdamaian (Kajian antara Teori dan
Praktek), APLIKASIA: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, Volume 17, Nomor 1, 2017) 16-17
41 Hakis, Adab Bicara dalam Prespektif Komunikasi Islam, (Jurnal Mercusuar Volume 1
No 1 Juli 2020) 43-44
20
keberagaman suku, budaya, agama dan kebebasan dalam
mengespresikan pendapat. Dengan adanya prinsip-prinsip toleransi
seperti ini diharapkan suatu komunitas dapat hidup secara
berdampingan, rukun dan dapan bekerjasama dalam mengatasi
suatu perbedaan pendapat atau keyakinan.
3. Tujuan Nilai Toleransi Pada Siswa
Tujuan nilai dalam pendidikan ditentukan oleh tujuan hidup dari
pendidik, yaitu tujuan hidup yang dipengaruhi oleh pandangan hidup
tentang hakikat manusia, cara manusia hidup didunia dan diahir hidupnya.
Jadi tujuan dari nilai merupakan penjabaran dari tujuan hidup seseorang.42
Tujuan lain dari nilai adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai
budi pekerti baik, menjadi pribadi yang lebih manusiawi dan memberikan
arahan agar siswa dapat bertingkahlaku lebih baik sehinga siswa akan
mencapi kejelasan arah atas cita-cita dalam menjalani kehidupan serta
mampu meningkatkan kekompakandan kebersamaan dalam berinteraksi.43
Toleransi merupakan karakteristik integral yang mempunyai tiga
komponen, yaitu pengetahuan, perilaku dan emosional. Berdasarkan
konsep tersebut, tujuan dari pendidikan toleransi adalah untuk
mengajarkan nilai toleransi pada ketiga ranah tersebut yaitu: (1)
mengajarkan siswa tentang pengetahuan toleransi dan ciri-ciri orang yang
toleran, (2) mengajarkan siswa agar mempunyai kemampuan bekerjasama
dalam berinteraksi dan (3) mengajarkan siswa agar mempunyai rasa
empati. Nilai toleransi jua mempunyai tujuan agar peserta didik memiliki
sikap saling terbuka, saling menghormati dan mampu meningkatkan
kekompakandan kebersamaan dalam berinteraksi.44
42Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2011)146
43 Qiqi Yuliati Zakiyah dan Rusdiana, Pendidikan Nilai kajian teori dan praktik
sekolah.......63
44Saepul Anwar, Tolerance Education Through Islamic Religious Education in
Indonesia, (Jurnal Sociology Education, Atlantis Press, 2016)3
21
Toleransi penting untuk diterapkan baik dari tingkatan anak-anak
hingga dewasa, dan dengan adanya toleransi ini diharapkan bisa menjadi
pedoman seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Selain itu dengan
adanya nilai toleransi memberikan banyak manfaat kepada anak didik,
karena mereka akan merasa dalam pembelajaran mendapatkan pelayanan
yang sama dan tidak ada perbedaan antara anak didik yang satu dengan
yang lainnya, sehingga tujuan anak didik datang ke sekolah untuk belajar
tidak akan merasa terbebani dengan adanya perbedaan yang ada, justru
dengan adanya perbedaan anak didik akan memiliki rasa kebersamaan dan
persaudaran.
Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan toleransi yaitu
menanamkan kesadaran untuk mengakui dan menghargai perbedaan dan
keberagamaan budaya etnis, kebangsaan, agama, bahasa, adat tradisi, jenis
kelamin pada gilirannya akan melahirkan kepedulian, solidaritas, dan
empati kemanusiaan.45Jadi, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
tujuan nilai toleransi adalah agar terciptanya seseorang yang mempunyai
kepribadian baik didunia dan diahirat dengan cara memahami, menghargai
dan menghormati pendapat orang lain untuk menciptakan kerukunan
sesama umat beragama tanpa mempermasalahkan perbedaan. Tujuan nilai
toleransi juga sangat dibutuhkan ketika umat manusia saling menyalahkan
dan membela bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar dan
agama yang lain salah.
4. Model Penanaman Toleransi Pada Siswa
Model pembelajaran adalah prosedur yang digunakan sebagai
pedoman untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, dan dalam
model pembelajaran tersebut didalamnya terdapat strategi, metode, teknik,
media, bahan, dan alat untuk menilai pembelajaran.46
45Edi Sugianto, Pendidikan Toleransi Beragama Bagi Generasi Milenial, Jurnal Kajian
Islam dan Masyarakat, Vol. 30, No. 1, 2019)18
46Muhamad Afandi, Evi Chamalah, Oktaria Puspita Wardani, Model dan Metode
Pembelajaran di Sekolah, (Semarang:Unisulla Press, 2013) 21
22
Dalam penanaman toleransi dapat dilakukan menggunakan dua
model, yang pertama model penanaman toleransi secara langsung dan
model penanaman toleransi secara tidak langsung. Model yang pertama
yang diperoleh langsung dalam kelompok siswa yang mempunyai latar
belakang yang berbeda baik disekolah, rumah ataupun dalam lingkungan
masyarakat. Model yang kedua diperoleh dari penekanan pengembangan
kepribadian siswa secara terbuka dalam setiap perbedaan. Pendidikan
toleransi bukan hanya diterapkan dalam ranah remaja dan orang tua, tetapi
juga sangat penting diterapkan dalam jenjang pendidikan dasar. Karena
penanaman toleransi pada jenjang pendidikan dasar sangat penting untuk
perkembangan anak, untuk menyiapkan generasi yang unggul dan toleran
tanpa mempermasalahkan suku, ras, dan budaya yang berbeda.47
Menurut Zuhairi terdapat dua macam model toleransi yang
senantiasa dikembangkan dalam masyarakat plural. Pertama toleransi
pasif, yang menonjol dari model toleransi ini adalah sikap menerima
perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat faktual, bahwa setiap manusia
hakikatya berbeda, baik pemikiran maupun tindakannya. Maka tidak ada
pilihan lain kecuali setiap kelompok bersikap toleran dengan kelompok
lainnya. Kedua, toleransi aktif. Model ini merupakan langkah dan
tingkatan yang lebih tinggi, sebab sikap aktif ditunjukkan untuk
melibatkan diri pada yang lain di tengah perbedaan dan keragaman.48
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa model pendidikan
toleransi ada dua macam, yang pertama model pendidikan toleransi yang
secara langsung melibatkan siswa dengan mengharuskan siswa menerima
adanya perbedaan latar belakang keragaman dalam proses pembelajaran,
kemudian model pendidikan yang kedua adalah model pendidikan secara
tidak langsung yang dihasilkan dari sikap keterbukaan dan mau menerima
perbedaan yang ada.
47Nusi Nuswantari, Model Pembelajara Nilai-nilai Toleransi Untuk Anak Sekolah
Dasar, (Jurnal Premiere Education Vol. 8, NO. 1, 2018)5-6
48Edi Sugianto, Pendidikan Toleransi Beragama Bagi Generasi Milenial, Jurnal Kajian
Islam dan Masyarakat, Vol. 30, No. 1, 2019)24
23
5. Metode Nilai Toleransi Pada Siswa
Metode adalah cara yang digunakan pendidik dalam menyampaikan
materi, karena dengan menggunkan metode dalam pembelajaran membuat
materi yang awalnya sulit dipahami menjadi mudah asalkan metode yang
digunakan sesuai dan menarik dengan materi yang disampaikan. Namun
bisa juga sebaliknya, materi yang harusnya mudah dipahami menjadi sulit
diterima oleh peserta didik yang dikarenakan dalam penggunaan metode
tidak menarik dan tidak sesuai dengan materi yang disampaikan.49
Dengan kata lain, dalam menetapkan metode guru terlebih dahulu
memilih kegiatan yang akan digunakan agar peserta didik lebih mudah
memahami materi yang akan disampaikan. Seperti yang sudah dijelaskan
diatas bahwa metode dalam pendidikan toleransipun sangat beragam dan
luwes seperti metode ceramah, permainan simulasi, tanya jawab, diskusi,
dan tugas mandiri.50 Berikut adalah metode pendidikan dalam toleransi:
a. Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan dengan cara yang disampaikan
oleh pendidik kepada peserta didik dengan cara lisan.51 Fungsi prndidik
disini sebagai orang yang bersemangat untuk memberikan materi dan
membangkitkan motivasi belajar agar peserta didik yang hanya
mempunyai peran mendengarkan, menyimak dan mencatat yang
dianggap penting lebih semangat dan lebih antusias dalam mengikuti
proses pembelajaran. Penggunaan metode ceramah seperti ini dianggap
wajar ketika pendidik akan menyampaikan sesuatu yang dianggap fakta
dan penjelasan tersebut tidak ada dalam buku mata pelajaran yang
49Siti Maesaroh, Peranan Metode Pembelajaran Terhadap Minat dan Prestasi Belajar
Pendidikan Agama Islam,( Jurnal Kependidikan, Vol. 1 No 1, 2013) 5
50Muhammad RiFqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Al-Qur’an
(Telah Konsep Pendidikan Islam)... 26-27
51Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam,(Jakarta:Ciputat Pers,
2002)34
24
kemudian ditutup dengan guru memperjelas pokok-pokok penting
dengan menyimpulkan materi yang sudah dipelajari52.
Metode ceramah adalah salah satu metode yang dinilai lebih
mudah untuk menanamkan toleransi pada siswa sejak dasar yaitu
dengan cara guru menyisipkan pesan-pesan, contoh bertoleransi pada
saat pembelajarn. Dengan adanya pesan-pesan tersebut siswa akan
mudah memahami bahwa bertoleransi dan menghargai adanya
perbedaan dalam kehidupan sehari-hari baik disekolah ataupun di
masyarakat sangatlah penting. Dengan memahami adanya perbedaan
dan bahkan saling menghormati memungkinkan akan timbul rasa
solidaritas dan kebersamaan antar sesama. Oleh karena itu menyisipkan
makna bertoleransi dalam metode ceramah sangatlah penting bagi
keberhasilan siswa dalam pembelajaran.
b. Permainan Simulasi
Simulasi atau demontrasi adalah teknik yang digunakan oleh
seseorang baik pendidik ataupun peserta didik untuk memberikan
contoh didepan kelas tentang suatu proses yang harus
dilakukan.53Dalam metode simulasi siswa bisa mempraktikkan atau
memberi contoh secara langsung sesuai dengan materi yang sedang
diberikan oleh pendidik. Dengan begitu siswa bisa bekerja sama dengan
teman yang lainnya, dan bisa saling melengkapi dari kekurangan
masing-masing. Dengan adanya sikap saling melengkapi dan
bekerjasama mengajarkan kepada siswa bahwa adanya perbedaan
harusnya tidak menjadi masalah. Bahkan seharusnya siswa dapat
belajar dari adanya perbedaan yang ada.
Dengan metode simulasi atau demontrasi, peserta didik lebih
mudah menerima materi yang telah disampaikan, peserta didik juga
dapat mengamati bahwa metode simulasi ini adalah metode yang
52Maria Ulfa dan Saifuddin, Terampil memilih dan Menggunakan Metode
Pembelajaran, (Jurnal Suhuf, Vol. 30, No. 1, 2018)15
53 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama, (Jakarta:Ciputat Pres,
2002)45
25
langsung memperlihatkan proses dalam membuat dan melakukan
sesuatu yang baik dan mendalam.
c. Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara yang digunakan dalam proses
pembelajaran harus ada yang bertanya dan menjawab. Metode tanya
jawab dianggap wajar digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta
didik terhadap pembelajaran yang sudah lalu. Selain itu tanya jawab
juga memacu daya fikir siswa agar lebih mudah faham dengan materi
yang telah disampaikan.54 Dalam penggunaan metode tanya jawab
terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) memperhatikan
jenis pertanyaan yang akan gunakan, 2) teknik yang digunakan dalam
mengajukan pertanyaan, 3) memperhatikan syarat-syarat yang akan
digunakan dalam penyusunan langkah-langkah metode tanya jawab,
dan 4) memperhatikan prinsi-prinsip yang akan digunakan dalam
metode tanya jawab seperti prinsip kebebasan dan individual, integrasi
dan kebebasan. Selain itu keunggulan dari metode tanya jawab adalah
dapat mengkombinasi metode tersebut dengan metode yang lainnya.55
Metode tanya jawab mempunyai dampak bagus terhadap
seseorang yang mengikuti proses tanya jawab tersebut dengan seksama.
Metode tanya jawab juga dapat melatih siswa untuk berani
mengungkapkan pendapat siswa dan juga dapat melatih untuk
menghargai pendapat peserta didik yang lainnya seperti tidak mengejek,
menertawakan atau mencemooh teman ketika salah, ketika belum
mampu ataupun kurang tepat dalam menjawab pertanyaannya.
Kebiasaan dalam menghargai pendapat orang lain yang dikenalkan
sejak dalam bangku sekolah dasar akan mempermudah peserta didik
hidup di masyarakat dengan realitas kehidupan yang ada di dalamnya.
54 Maria Ulfa dan Saifuddin, Terampil memilih dan Menggunakan Metode
Pembelajaran, (Jurnal Suhuf, Vol. 30, No. 1, 2018)15
55Kamsinah, Metode Dalam Proses Pembelajaran: Studi Tentang Ragam dan
Implementasinya,(Jurnal Litera Pendidikan Vol 11 No 1, 2008) 10
26
d. Diskusi
Metode diskusi adalah metode yang cara penggunaannya dengan
membahasnya kepada dua orang atau lebih, atau bisa juga dengan
mendebatkan materi yang telah dibahas, sehingga akan menimbulkan
argumentasi secara rasional dan objektif. Metode ini dapat langsung
merangsang pikiran seseorang karena kegiatan tersebut membutuhkan
perhatian yang khusus untuk mengeluarkan pendapatnya dalam
pemecahan suatu masalah.56 Dalam metode diskusi ini selalu ada pokok
yang dianggap penting untuk dibahas, dan dalam pembahasan tersebut
diharapkan para peserta tidak menyimpang dari pokok bahasan yang
dibicarakan, karena dalam diskusi semua anggota turut berfikir dan
diperlukan disiplin yang ketat.
Tujuan menggunakan metode pembelajaran diskusi ini jika
dikaitkan dengan penanaman nilai-nilai toleransi selain dapat
mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran juga akan
membentuk suasana kebersamaan dalam pembelajaran. Diskusi akan
melahirkan interaksi yang aktif sehingga guru dan siswa dapat
mengeluarkan pendapatnya masing-masing dan bertukar informasi yang
berbeda-beda tentang permasalah yang sedang dibahas. Dengan begitu
siswa akan dilatih untuk memahami dan menghargai perbedaan-
perbedaan pendapat dari siswa yang lainnya. Perbedaan-perbedaan
pendapat itu biasanya akan dimusyawarahkan bersama untuk mencari
jalan keluar hasil dari pekerjaan siswa.57
e. Tugas mandiri
Metode pemberian tugas dapat meragsang siswa untuk aktif
belajar, baik secara individu maupun kelompok. Tugas yang diberikan
kepada siswa bermacam-macam sesuai dengan tujuan yang ingin
56Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta:Ciputat Pres,
2002) 36
57 Syahda Maulana Sari, Penanaman Sikap Toleransi Bagi Siswa Kelas XI IPA di SMA
NEGERI 1 Prambanan Klaten, Jurnal pendidikan Prosidang Seminar Nasional: Kebijakan dan
Pengembangan Pendidikan di Era Revolusi Industri, 2019.
27
dicapai.58 Misalnya ketika guru memberikan tugas kepada siswa untuk
mencari tau apa yang dimaksud dengan toleransi, kemudian manfaat
dari toleransi dan toleransi terdiri dari apa saja. Dengan adanya
pemberian tugas, siswa akan mencari tau, dan memahami bahwa
toleransi sangat penting dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan
sejak dini. Sehingga akan tercapainya kehidupan yang damai, saling
menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan yang ada pada
kehidupan disekitar.
6. Urgensi Penanaman Nilai Toleransi
Bentuk pendidikan yang paling tepat pada masa sekarang ini adalah
pendidikan toleransi. Dengana adanya pendidikan toleransi ini bertujuan
sebagai instrumen untuk menanamkan nilai toleransi pada siswa. Karena
adanya penanaman nilai toleransi ini bertujuan untuk mengantisipasi
adanya konflik intoleran dan agar tercapainya perdamaian baik disekolah
ataupun diluar sekolah. Karena pendidikan sampai saat ini dianggap
lembaga yang paling tepat dalam menanamkan nilai-nilai toleransi sejak
dini.59
Penanaman nilai toleransi pada hakikatnya bertujuan untuk
menumbuhkan dan mengembangkan sikap saling menghargai adanya
perbedaan, membiarkan dan membolehkan seseorang mempercayai
kepercaayannya masing-masing. Oleh karena itu, pendidikan dianggap
kebutuhan manusia yang sangat penting yang harus dipenuhi agar
manusia itu sendiri berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat.60
Standar kompetensi kelulusan berdasarkan peraturan dari menteri
Pendidikan Nasional No 23 tahun 2006, didalamnya telah dijelaskan
58 Nunuk Suryani dan Leo Agung, Strategi Belajar Mengajar(Yogyakarta:Ombak,
2012)63
59Ni Nyoman Ayu Suciartini, Urgensi Pendidikan Toleransi Dalam Wajah
Pembelajaran Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan. (Jurnal Penjaminan Mutu,
2017) 6
60Supardi U.S, Arah Pendidikan di Indonesia Dalam Tataran Kebijakan dan
Implemantasinya. (Jurnal Formatif, Vol. 2, No. 2, 2012) 4
28
bahwa standar untuk kelulusan pada semua jenjang pendidikan mampu
menghargai dan mempunyai sikap menerima adanya keberagaman baik
agama, suku, budaya, ras, dan tidak membedakan golongan sosial ekonomi
baik disekolah ataupun diluar sekolah. Sehubungan dengan standar
kelulusan tersebut lembaga sekolah mempunyai peran yang penting untuk
membangun peserta didik yang mau menerima adanya keberagaman pada
semua pemeluk agama. Untuk menghasilkan manusia yang mempunyai
sikap toleran diperlukan penanaman nilai-nilai toleransi pada peserta didik
sejak dini agar dapat mengembangkan rasa saling pengertian dan
menerima perbedaan terhadap umat agama lain.61
Lingkungan sekolah adalah lingkungan dimana seseorang ingin
menguasai pengetahuan dan menghilangkan kebodahan. Seseorang yang
sudah mendapatkan pendidikan diharapkan mampu mengaplikasikan
perilaku yang baik, bermoral baik dilingkungan sekolah ataupun diluar
sekolah dengan tujuan agar dapat berdampingan ketika terjun
dimasyarakat. Pemerintah sudah membagi tiga ranah yang harus dikuasai
oleh peserta didik, ketiga ranah tersebut adalah kognitif, afektif dan
psikomotork, namun kenyatannya lembaga sekolah kebanyakan masih
mengfokuskan hanaya pada ranah kognitif saja. Melihat hal seperti itu
tidak sesuai dengan harapan dari pemerintah.62Oleh karena itu diharapkan
dengan adanya pendidikan toleransi ini pendidik tidak hanya terfokus
dalam ranah kognitif saja, tetapi juga dengan ranah afektif dan
psikomotorik agar terciptanya kedamaian, saling menerima adanya
perbedaan baik di lingkungan sekolah ataupun di masyarakat.
7. Tantangan Penanaman Nilai-nilai Toleransi di Sekolah
Implementasi penanaman nlai-nilai toleransi disekolah biasanya
mempunyai tantangan yang tidak ringan, karena setiap sekolah
61Muhammad Yunus, Implementasi Nilai-nilai Toleransi Beragama Pada Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (Studi Pada SMP Negeri 1 Amparita Kec. Tellu Limpoekab Sidrap).
(Jurnal Studi Pendidikan Vol. XV, No. 2) 11
62Ni Nyoman Ayu Suciartini, Urgensi Pendidikan Toleransi Dalam Wajah
Pembelajaran Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan. (Jurnal Penjaminan Mutu,
2017)8
29
mempunyai pemikiran yang berbeda-beda terhadap pemaknaan dari sikap
intoleran dan konflik yang terjadi baik disekolah ataupun diluar sekolah.
Kecenderungan intoleransi bisa juga dipengaruhi oleh kesalah pahaman
tentang tujuan pendidikan nasional (pasal 1 ayat 2 UU Sistem Pendidikan
Nasional). Dalam pasal ini pendidikan nasional didefinisikan sebagai
“pendidikan berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, budaya nasional Indonesia dan responsif
terhadap tuntutan perubahan zaman” dalam praktinya, kata nilai-nilai
agama dilakukan dengan menerapkan nilai agama mayoritas, padahal itu
sebenarnya adalah nilai-nilai agama secara universal.63
Ada banyak faktor yang dianggap sebagai bahan terlahirnya
kelompok intoleran yang ada pada lembaga sekolahan, yaitu faktor
perbedaan pemahaman tentang agama, ekonomi, sosial dan buadaya. Dari
beberapa faktor tersebut dapat kita lihat melalui sudut pandang internal
dan eksternal. Adapun faktor internal melipiti hal berikut ini:
Pertama, kurang luasnya pemahaman agama, yaitu terlalu fanatis
dalam pemahaman agama yang dianutnya. Pemahaman semacam ini dapat
melahirkan penolakan adanya agama-agama yang lain dan ahirnya akan
menolak berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Hal tersebut adalah
bukti nyata adanya sikap intoleran keagamaan. Kedua, adanya aliran-aliran
agama asing yang memberikan noda pada agama mayoritas, sehingga
aliran agama asing tersebut dapat merusak keharmonisan dalam kehidupan
beragama dan menjadikan jarak sosial terhadap pemahaman yang berbeda.
Ketiga, adanya pandangan agama yang kaku, sehingga hanya akan
mementingkan simbol-simbol dari agama yang diformal dari pada
substansi ajarannya. Kemudian dari lingkungan sekolah juga bisa
melahirkan sikap intoleran sesama siswa yang dikarenakan masih
kurangnya pemahaman keberagamaan dari pendidik, kurangnya waktu
pembelajaran untuk siswa memahami arti keagamaan, dan bisa juga
63Aniek Handajani, Noorhaidi Hasan dan Tabita Kartika Christiani, Kecenderungan
Intoleransi dan Peran Pendidikan Agama di SMA Negeri Yogyakarta. (Jurnal Wahana Vol. 71,
No. 2)9
30
dikarenakan dengan kualitas sarana prasarana yang belum memadai.
Seperti kurangnya kegiatan sekolah yang mendukung untuk penanaman
nilai toleransi dan kurikulum pembelajaran agama yang kurang
mendukung proses penanaman nilai toleransi.64
Terdapat banyak faktor yang dianggap dapat menimbulkan sikap
intoleran sesama siswa, tetapi agama bukanlah sumber utama dari
penyebab intoleran tersebut. Karena setiap agama telah mengajarkan
kebaikan dan sikap saling menghargai adanya agama-agama lain, jadi
adanya sikap intoleran tersebut disebabkan dari pemahaman ajaran agama
yang intristik. Dan sikap ekslusif yang berlebihan akan melahirkan sikap
intoleran.65
Kemudian faktor eksternal lain yang dianggap sebagai penyabab
sikap intoleran pada siswa adalah adanya pemberitaan kekerasan yang
mengatasnamakan agama melalui media cetak dan elektronik, kemudian
adanya dakwah yang bersifat radikal membuat keharmonisan dalam
keluarga akan semakin hilang, selain itu adanya pertemuan yang bertujuan
untuk mengajak atau memprovokasi sikap intoleran melalui media
elektronik seperti tv, radio dan lain sebagainya.66
Untuk membentuk sikap toleransi pada siswa bermula pada saat
siswa mendapatkan pengalaman belajar dari lingkungan sekolah. Dari
pengalaman belajar tersebutlah siswa mendapat berbagai pelajaran tentang
keberagamaan. Dalam lingkungan sekolah siswa tidak hanya akan
mendapatkan informasi tetapi juga mendapatkan contoh bagaimana
bersikap dalam keberagamaan yang diterapkan dalam lingkungan sekolah
tersebut. budaya kelas yang ditanamkan guru kepada siswa juga sangat
berpengaruh terhadap penerapan sikap toleransi siswa terhadap umat
64Iman Tholkhah, Pendidikan Toleransi Keagamaan:Studi Kasus SMA Muhammadiyah
Kupang Nusa Tenggara Timur, (Jurnal Edukasi Vol. 11, No. 2, 2013)7
65Saiful Amir, Andy Hakim, Pencegahan Sikap Intoleransi Pada Siswa Melalui
Penguatan Pendidikan Pancasila (Studi Kasus SMA PABA Binjai), (Jurnal Seminar Nasional
Pendidikan Dasar, 2018)6
66Iman Tholkhah, Pendidikan Toleransi Keagamaan:Studi Kasus SMA Muhammadiyah
Kupang Nusa Tenggara Timur, (Jurnal Edukasi Vol. 11, No. 2, 2013)7
31
beragama. Adapun ciri-ciri siswa yang memiliki sikap toleransi di
antaranya adalah mampu memberikan perlakuan yang sama terhadap
seluruh warga kelas, mampu bekerja dalam kelompok heterogen, saling
menghormati dan menghargai antar sesama, mampu memfokuskan
persamaan bukan perbedaan67
G. Metode Penelitian
Metode merupakan cara yang digunakan dalam mencapai
keberhasilan dalam penelitian yang diinginkan. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kualitatif yang meliputi kegiatan seperti
wawancara, pengamatan dan menelaah dokumen yang berhubungan dengan
penelitian.68
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dilihat dari sumber data yang didapatkan, jenis dari penelitian ini
adalah penelitian lapangan (field research), karena data yang diperoleh
dalam penelitian ini didapatkan dari pengumpulan data dilapangan yang
kemudian diolah agar bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dari
jenis data yang didapatkan penelitian ini mengunakan metode penelitian
kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk meneliti objek pada latar
alamiah tanpa adanya manipulasi dan tanpa menggunakan angket dalam
uji penelitian yang akan dikumpulkan69
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi
yang menekankan pada Pendekatan penelitian yang mengfokuskan pada
pengalaman-pengalaman yang subjektif baik dalam interprestasi maupun
interpretasi.70 Tujuan dari pendekatan fenomenologi ini adalah untuk
67Wahyu Widayat dan Oksiana Jatiningsih, Sikap Toleransi Antar Umat Beragama
Pada Siswa Muhammadiyah 4 Porong, (Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol.06, No
02)4
68 Lexy J Moleong, Penelitian Kualitatif, Cet Ke 2 (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2005) 9
69 Andi Prastawa, Metode Penelitian dalam Perspektif Rancangan Penelitian,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014) hlm 24
70 Andi Prastowo, Metode Penelitian dalam Perspektif Rancangan Penelitian...28
32
mereduksi pengalaman individu pada fenomena mejadi deskripsi tentang
esensi atau intisari secara universal.71
Melalui pendekatan ini, peneliti mencoba mengamati tingkah laku
peserta didik seperti perilaku, tindakan dan lain-lain ataupun gejala-
gejala yang terkait dengan fokus penelitian yaitu penanaman nilai-nilai
toleransi anak didik (Studi kasus SD HJ Isriati Baiturrahman 1, SD
Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02 Kota Semarang).
2. Sumber Data
Ada beberapa data yang peneliti untuk menyusun proposal tesis ini
ada 2 (dua ) kategori:
a. Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data utama yang diberikan
langsung pada saat pengumpul data.72 Dan sumber utama dalam
penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru pendidikan agama islam,
kristen, katolik dan peserta didik. Sumber data primer ini sangat
penting untuk didapatkan baik dilakukan dengan wawancara ataupun
observasi, kemudian data tersebut dibentuk dengan deskripsi dan
catatan selama di lapangan.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber data yang didapatkan
secara tidak langsung, misalkan melalui orang lain atau lewat
dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penelitian.73 Sementara
untuk sumber data tidak langsung ini peneliti menggunakan metode
pencarian secara manual dan online. Secara manual peneliti
melakukannya dengan cara mengumpulkan informasi yang telah
ditelaah baik berupa buku, artikel, jurnal, karya tulis ilmiah, dan data-
data yang relevan. Sedangkan secara online yaitu dengan mengakses
71 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2015)105
72 Hardani, Nur Hikmatul Aulia dkk, Metode Penelitian Kualitatif&Kuantitatif,
(Yogyakarta:CV. Pustaka Ilmu Group, 2020) 121
73Hardani, Nur Hikmatul Aulia dkk, Metode Penelitian Kualitatif&Kuantitatif)....121
33
informasi data di internet seperti artikel, jurnal national dan
international serta informasi-informasi yang peneliti butuhkan dengan
tujuan untuk penguat dan penunjang penelitian tentang penanaman
nilai-nilai pendidikan toleransi pada siswa.
c. Fokus penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penanaman nilai toleransi pada anak didik di 3 Sekolah dasar yang
memiliki latar belakang yang berbeda-beda, Yaitu SD HJ Isriati
Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon
02 Kota Semarang.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi adalah pencatatan gejala-gejala yang diteliti dengan
cara pengamatan.74 Pada penelitian kali ini, peneliti akan secara
langsung mengamati kemudian mencatat hal-hal yang berkaitan secara
dengan penanaman nilai-nilai toleransi pada siswa di sekolah dasar di
kota Semarag. Seperti halnya mengamati kegiatan yang ada
dilingkungan sekolah seperti proses pembelajaran dikelas,
dilingkungan sekolah serta kegiatan yang dianggap berhubungan
dengan data yang dibutuhkan oleh peneliti.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah pertemuan dua orang atau lebih untuk
bertukar informasi melalui tanya jawab dengan tujuan mendapatkan
informasi secara mendalam.75Metode wawancara ini digunakan
peneliti untuk mendapatkan informasi yang mendalam agar data yang
diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dalam
pelaksanaan metode ini peneliti menggunakan metode wawancara
yang tidak terstruktur, jadi wawancara bebas bertanya tanpa
menggunakan pedoman wawancara yang sudah tersusun secara
74Hardani, Nur Hikmatul Aulia dkk, Metode Penelitian Kualitatif&Kuantitatif...138
75Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,(Bandung:Alfabeta,
2015) 231
34
terstruktur apa saja yang perlu ditanyakan, tetapi pedoman wawancara
yang digunakan hanya dalam lingkup garis-garis besar
permasalahan.76
Wawancara ini peneliti lakukan antara lain kepada kepala
sekolah, guru mapel pendidikan agama islam, pendidikan agama
kristen, katolik, guru kelas dan peserta didik setiap sekolah.
Tujuannya adalah: 1) Memperoleh informasi tentang bagaimana
penanaman nilai-nilai toleransi pada anak didik. 2) Profil setiap
sekolah yang menjadi tempat penelitian. 3) Model dan metode
pembelajaran yang digunakan dalam penanaman nilai-nilai toleransi
pada siswa.
c. Metode Dokumentasi
Telaah dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi yang
didapat dalam bentuk tertulis seperti raport, ijazah, catatan biografi
siswa ataupun data kesiswaan yang lainnya yang beraitan dengan
masalah yang akan diteliti peneliti.77 Metode dokumentasi ini penulis
bertujuan untuk memperoleh gambaran umum penelitian tentang
sejarah berdirinya sekolah, visi-misi dari sekolah tersebut, keadaan
guru dan siswa, dan yang lainnya baik dalam bentuk, gambar atau
karya-karya lainnya.
4. Keabsahan Data
Dalam penelitian diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan dari
data yang telah diperoleh, untuk menguji keabsahan data tersebut
menggunakan triangulasi yang mempunyai arti cara pengumpulan data
kemudian digabungkan dengan berbagai data dan teknik pengumpulan
data yang sudah tersedia.78
Penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi
sumber. Triangulasi teknik berfungsi untuk menguji kreadibilitas data
76 Umar Shidiq dan Miftachul Choiri, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang
Pendidikan, (Ponorogo:CV Nata Karya, 2019)64
77Andi Prastowo, Metode Penelitian dalam Perspektif Rancangan Penelitian... 226
78Hardani dkk, Metode Penelitian Kualitatif & Kualitatif...154
35
dengan cara mengecek data dari sumber yang sama tetapi menggunakan
teknik yang berbeda. Sedangkan triangulasi sumber gunanya untuk
menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data-data yang diperoleh
dari berbagai sumber yang berbeda tetapi teknik yang digunakan sama.79
Langkah-langkah dalam triangulasi teknik dilakukan peneliti sendiri
dengan menggunakan berbagai macam metode pengumpulan data seperti
wawancara, observasi dan dokumentasi. Dalam triangulasi teknik ini,
peneliti melakukannya dengan cara pengecekan sumber data yang sama
tetapi menggunakan teknik yang berbeda. Apabila ada hasil yang tidak
sesuai dengan data maka peneliti akan mengkonfirmasi kepada sumber
data agar memperoleh data yang valid, dan langkah triangulasi sumber
data yang dilakukan yaitu dengan mencari data sebanyak mungkin dari
informan yang telibat langsung dengan pihak sekolah seperti kepala
sekolah, guru kelas, guru kelas, guru mapel pendidikan agama islam,
agama kristen, agama katolik dan peserta didik.
5. Analisis Data
Analisis data adalah proses penyusunan data secara sistematis yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan dari hasil yang didapat dan data-
data yang mudah dipahami dan hasil dari temuan tersebut bisa dibuat
laporkan.80 Analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisa
deskriptif, yaitu kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan temuan
fenomena yang sesungguhnya yang didapatkan dari lapangan, kemudian
temuan lapangan tersebut dituangkan dalam bentuk kalimat yang
sistematis agar dapat dipresentasikan secara ilmiah. Analisa tersebut
dengan cara81
a. Reduksi data, berarti merangkum dan mengfokuskan hal-hal yang
dianggap penting untuk membentuk tema dan pola sebagai bahan
penelitian. Dari hasil data yang sudah direduksi akan memberikan
79Eri Birlian, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, (Padang:Sukabina Pres,
2016)74-75
80 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif , Kualitatif R & D,… 244
81Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D... hlm 247-252
36
gambaran yang lebih jelas dan mempermudah untuk mengumpulkan
data yang akan dibutuhkan selanjutnya.
b. Penyajian data, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data, dan
penyajian ini dibuat dengan sistematis untuk memperudah pemahaman
peneliti baik dalam bentuk uraian secara singkat, ataupun dalam bentuk
bagan.
c. Mengverifikasi data atau menarik kesimpulan, yaitu mencari maksud
dari hasil-hasil yang sudah dikumpulkan.82 Dari penarikan kesimpulan
ini akan menghasilkan kesimpulan yang akurat. Kegiatan ini dilakukan
dengan menyingkronkan tema, pola penelitian dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penelitian yang dilakukan.83
H. Sistematika Pembahasan
Untuk pembahasan Tesis yang berjudul Penanaman Nilai-nilai
Pendidikan Toleransi Pada Anak Didik (Studi pada SD HJ Isriati
Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02
Kota Semarang), Untuk memudahkan pemahaman terhadap persoalan diatas,
maka memerlukan gambaran pembahasan secara rinci dan
berkessinambungan. Adapun sistematika yang dimaksud adalah sebagai
berikut:
Bab Pertama, membahas tentang pendahuluan, yang berisi tentang latar
belakang masalah yang menjadi problem dalam penelitian, dari latar belakang
masalah kemudian si susun menjadi rumusan masalah dan manfaat penelitian,
kajian pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, memaparkan tentang kajian teori yang terdiri dari deskripsi
mengenai Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Toleransi Pada Anak Didik pada
SD HJ Isriati Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng
Kulon 02 Kota Semarang).
Bab ketiga, merupakan gambaran umum pada SD HJ Isriati
Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02
82.Djuju Sudjana, Evaluasi Penelitian Luar Sekolah(Bandung: Remaja
Rosdakarya,2006)215
83 Djuju Sudjana,Evaluasi Penelitian Luar Sekolah...215.
37
Kota Semarang yang meliputi letak geografis, sejarah berdiri dan
perkembangan sekolah, visi-misi dan tujuan sekolah, struktur oranisasi,
keadaan pendidik dan peserta didik dan sarana prasarana.
Bab keempat, merupakan inti dari penelitian ini. Pada bab ini akan
mendeskripsikan hasil yang diperoleh dari lapangan tentang Penanaman
Nilai-nilai Pendidikan Toleransi Pada Anak Didik pada SD HJ Isriati
Baiturrahman 1, SD Kasinus Kusmosari, dan SDN Kalibanteng Kulon 02
Kota Semarang yang diambil melalui observasi, wawancara serta
dokumentasi di sekolah tersebut.
Bab kelima, mengemukakan kesimpulan dari pembahasan yang
merangkum intisari dari tesis ini, dan dilengkapi pula dengan penutup, daftar
pustaka serta lampiran-lampiran
38
39
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Andi Prastawa, Metode Penelitian dalam Perspektif Rancangan Penelitian,
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014
Apeles Lexi Lonto&Theodorus, Etika Kewarganegaraan,Yogyakarta:Ombak,2016
Abdul Kadir dkk, Dasar-dasar Pendidikan, Jakarta:Kencana Prenada Media
Group, 2012
Baidi Bukhori, Toleransi Terhadap Umat Kristiani Ditinjau dari
Fundamentalisme Agama Dan Kontrol Diri (Studi Pada Jamaah Majlis
Taklim di kota Semarang),Penelitian Dosen Fakultas Dosen Fakultas
Da’wah IAIN Walisongo Semarang, 2012
Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta:Ciputat
Pers, 2002
Budi Juliardi, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Bandung:Alfabeta, 2004
Choirul Fuad Yusuf, Pendidikan Agama Berwawasan, Jakarta: PT Pena
CitaSatria, 2008
Depag RI al-Hikmah, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: Diponegoro,
2005
Djuju Sudjana, Evaluasi Penelitian Luar Sekolah(Bandung: Remaja
Rosdakarya,2006
Eri Birlian, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Padang:Sukabina
Pres, 2016
Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antar Umat Beragama, Bandung:PT Rosda
Karya, 2014
Hamdani, Dasar-dasar Kependidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2011
Hardani, Nur Hikmatul Aulia dkk, Metode Penelitian Kualitatif&Kuantitatif,
Yogyakarta:CV. Pustaka Ilmu Group, 2020
Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh,
Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2014
Henry Thomas Simarmata dkk, Menghargai Perbedaan Pendidikan Toleransi
Untuk Anak, Jakarta:Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK
Indonesia), 2017
Jalaludin, Pembelajaran Perspektif Islam, Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2015
John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset, Yogyakarta:Pustaka
Pelajar, 2015
Lexy J Moleong, Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005
40
Muhamad Afandi, Evi Chamalah, Oktaria Puspita Wardani, Model dan Metode
Pembelajaran di Sekolah, Semarang:Unisulla Press, 2013
Muhammad RiFqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Al-
Qur’an(Telaah Konsep Pendidikan Islam), Depok: Rajawali Pers, 2008
Muhammad Fathurrohman, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,
Yogyakarta:Kalimedia, 2018
Nunuk Suryani dan Leo Agung, Strategi Belajar Mengajar, Yogyakarta:Ombak,
2012
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung:Alfabeta,
2015
Umar Shidiq dan Miftachul Choiri, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang
Pendidikan, Ponorogo:CV Nata Karya, 2019
Qiqi Yuliati Zakiyah dan Rusdiana, Pendidikan Nilai kajian teori dan praktik
sekolah, Bandung: Pustaka Setia, 2014
Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Berwawasan Multikultural, Jakarta: Erlangga,
2005
Jurnal
Aniek Handajani, Noorhaidi Hasan dan Tabita Kartika Christiani, Kecenderungan
Intoleransi dan Peran Pendidikan Agama di SMA Negeri Yogyakarta,
Jurnal Wahana Vol. 71, No. 2
Dyah Kusuma Windrati, Pendidikan Nilai Sebagai Suatu Strategi Dalam
Pembentukan Kepribadian siswa, Jurnal Formatif, Vol. 1, No. 1, 2011
Edi Sugianto, Pendidikan Toleransi Beragama Bagi Generasi Milenial, Jurnal
Kajian Islam Dan Masyarakat, Vol 30, No 1, 2019
Dewi Murni, Kesetaraan Gender Menurut Al-quran, Jurnal Syahadah, Vol. VI,
No. 1, April 2018
Dudung Abdullah, Al-qur’an dan Berbuat Baik (Kajian Tematik Term “Al-Birr”),
jurnal al-daulah, Vol. 6 / No. 1 / Juni 2017
Hakis, Adab Bicara dalam Prespektif Komunikasi Islam, Jurnal Mercusuar
Volume 1 No 1 Juli 2020
Herman Wicaksono, Tujuan Pendidikan Islam Berbasis Mabādi’ Khaira Ummah,
Jurnal Pendidikan Islam Vol.5 No.1, Juni 2020
Imam Tholkah, Pendidikan Toleransi Keagamaan: Studi Kasus SMA
Muhammadiyah Kupang Nusa Tenggara Timur, Jurnal Edukasi Vol. 11,
Nno. 2, 2013
Kamsinah, Metode Dalam Proses Pembelajaran: Studi Tentang Ragam dan
Implementasinya, Jurnal Litera Pendidikan Vol 11 No 1, 2008
41
Kurnia Muhajarah, Pendidikan Toleransi Beragama Perspektif Tujuan
Pendidikan Islam, Jurnal An-Nuha, Vol. 2, No. 1, 2016
Maali Mohammad Jassmin Alabdulhadi, Religious Tolerance in Secondary
Islamic Education Textbooks in Kuwait, Jurnal of Religious Educatian,
2019
Maria Ulfa dan Saifuddin, Terampil memilih dan Menggunakan Metode
Pembelajaran, Jurnal Suhuf, Vol. 30, No. 1, 2018
Muawanah, Pentingnya Pendidikan Untuk Tanamkan Sikap Toleran Di
Masyarakat, Jurnal Vijjacariya, Vol. 5, No. 1, 2018
Muhammad Yunus, Implementasi Nilai-nilai Toleransi Beragama Pada
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Pada SMP Negeri 1
Amparita Kec. Tellu Limpoekab Sidrap), Jurnal Studi Pendidikan Vol. XV,
No. 2
Muhammad Rifqi Fachrian, Toleransi Antar Umat Beragama dalam Al-Qur’an
(Telaah Konsep Pendidikan Islam), Tesis Pendidikan Agama Islam,
Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, 2017
Muhammad Barir, Kesetaraan dan Kelas Sosial dalam Perspektif al-quran, Jurnal
Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. 15, No. 1, Januari 2014
Moh Hafidz, Toleransi Antar Umat Beragama di Desa Pabian Kecamatan Kota
Sumenep Madura, Tesis Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam,
Pascasarjana Sunan Ampel Surabaya, 2019
Nusi Nuswantari, Model Pembelajara Nilai-nilai Toleransi Untuk Anak Sekolah
Dasar, Jurnal Premiere Education Vol. 8, NO. 1, 2018
Nur Hidayat, Nilai-nilai Ajaran Islam Tentang Perdamaian (Kajian antara Teori
dan Praktek), APLIKASIA: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, Volume
17, Nomor 1, 2017
Ni Nyoman Ayu Suciartini, Urgensi Pendidikan Toleransi Dalam Wajah
Pembelajaran Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Jurnal
Penjaminan Mutu, 2017
Pujiono, Rini Fidiyani, Laga Sugiarto, M. Shidiq Prabowo, Penanaman Nilai
Bertoleransi dalam Kehidupan Kebebasan Beragama Bagi Siswa
Disekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurnal Pengabdian Hukum
Indonesia (Indonesian Journal of Legal Community Engagement) PHI, 01
(2), 2019
Puspo Nugroho, Internalization of Tolerance Values in Islamic Education, Jurnal
Pendidikan Islam, Vol. 12, No. 2, 2018
Saepul Anwar, Tolerance Education Through Islamic Religious Education in
Indonesia, Jurnal Sociology Education, Atlantis Press, 2016
Saiful Amir, Andy Hakim, Pencegahan Sikap Intoleransi Pada Siswa Melalui
Penguatan Pendidikan Pancasila (Tudi Kasus SMA PABA Binjai), Jurnal
42
Seminar Pendidikan Dasar Universitas Nahdlotul Ulama Sumatra Utara,
2018
Samsudin, Penanaman Nilai-nilai Pluralisme Agama dalam Pendidikan Agama di
Sekolah (Studi Komparasi di MIN II Yogyakarta dan SD Kasinus
Kemendaman Yogyakarta), Tesis Pendidikan Madrasah Ibtida’iyah
(PGMI), Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2012
Siti Miftahul Jannah dan Muhammad Nawir, Harmonisasi Agama (Studi Kasus
Koeksistensi Umat Beragama di Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu),
Equilibrium: Jurnal Sosiologi Pendidikan Vol. VI. Issu 1. Juli-Desember
2018
Supardi U.S, Arah Pendidikan di Indonesia Dalam Tataran Kebijakan dan
Implemantasinya, Jurnal Formatif, Vol. 2, No. 2, 2012
Syahda Maulana Sari, Penanaman Sikap Toleransi Bagi Siswa Kelas XI IPA di
SMA NEGERI 1 Prambanan Klaten, Jurnal pendidikan Prosidang Seminar
Nasional: Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan di Era Revolusi
Industri, 2019
Tamyiez Dery, Keadilan dalam Islam, Jurnal Mimbar, Volume XVIII No. 3 Juli -
September 2002
Uus Ruswandi, Ibadurrahman, Value Education Model In School, Vol. 2, No.1,
2015
Ukhiya Rizqiany, Nilai Toleransi Dalam Pendidikan Agama (Telaah Silabus dan
Perspektif Guru Pendidikan Agama Islam, Kristen, dan Katolik di SMK
Negeri 1 Karangawen dan SMK Bhakti Nusantara Mranggen Kabupaten
Demak), Tesis Pendidikan Agama Islam Program Pasca Sarjana Institut
Agama Islam Negeri Salatiga, 2017
Tresna Maya Sofa, Penanaman Sikap Toleransi Melalui Pembelajaran Tari
Nusantara di SMP Negeri Margahayu Bandung, Tesis Pendidikan Seni
PascasarjanaUniversitas Pendidikan Indonesia, 2017
Wahyu Widayat dan Oksiana Jatiningsih, Sikap Toleransi Antar Umat Beragama
Pada Siswa Muhammadiyah 4 Porong, Jurnal Kajian Moral dan
Kewarganegaraan Vol.06, No 02
Zuly Qadir, Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme, Jurnal Studi Pemuda. Vol.
5, No. 1, 2016
43