STRATEGI
PROPAGANDA
JEPANG
MODUL PEMBELAJARAN
SEJARAH INDONESIA
FITRA DEVITA RAHMAN KELAS
(190210302001)
XI
DISUSUN OLEH: DOSEN PENGAMPU:
Fitra Devita Rahman Dr. Nurul Umamah
(190210302001) M.Pd.
(196902041993032001)
Akhmad Ryan Pratama,
S.Hum.,
M.A
(198908202019031014)
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................iii
PETA KONSEP.............................................................iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Identitas Modul.........................................................1
1.2 Kompetensi Dasar.....................................................1
1.3 Materi Pembelajaran.................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Istilah Propaganda.....................................................6
2.2 Propaganda Awal Kedatangan Jepang......................7
2.3 Propaganda Pada Masa Pendudukan Jepang.............9
2.3.1 Propaganda melalui cara politik.............................9
2.3.2 Media propaganda.................................................11
2.4 Propaganda Akhir Kependudukan Jepang................18
BAB 3 PENUTUP
Latihan Soal....................................................................19
Daftar Pustaka.................................................................19
PETA KONSEP
Strategi Istilah Propaganda
Propaganda
Propaganda Awal
Jepang Kedatangan Jepang
Propaganda Pada Masa
Pendudukan Jepang
Propaganda Media
melalui cara Propaganda
politik
Propaganda Akhir
Kependudukan Jepang
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas : XI
Alokasi Waktu : 4 X 45 Menit
Judul Modul : Strategi Propaganda Jepang
B. Kompetensi Dasar
3.5 menganalisis sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa
Indonesia
C. Materi Pembelajaran
1. Istilah propaganda
2. Propaganda awal kedatangan bangsa Jepang
3. Propanganda masa pendudukan Jepang
4. Propaganda akhir pendudukan Jepang
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Istilah Propaganda
https://www.kajianpustaka.com/2019/10/pengertian-tujuan-jenis-dan-teknik-propaganda.html
Istilah atau terminology Propaganda Representasi bisa berbentuk lisan,
mungkin sering kita dengar dari tulisan, gambar atau musik” (Severin;
percakapan, atau kita lihat dan baca dari Tankard Jr, 2007:128) dalam (Munthe,
berbagai sumber bahan bacaan seperti 2010).Tentang kata-kata "propaganda"
buku, surat kabar atau dokumen lain. dalam suatu sumber yang menyatakan
Istilah propaganda terkadang membuat bahwa kata tersebut digunakan pada
orang langsung menafsirkannya sebagai tahun 1622, ketika Paus Gregory XV
suatu kegiatan atau tindakan yang mendirikan sebuah organisasi yang
negatip. Kata “propaganda” langsung diberik nama Congregatio de
mencetak gambaran di benak orang Propaganda Fide. Organisasi bertugas
sebagai suatu tindakan yang buruk. untuk menyebarkan agama Kristen
Istilah propaganda bisa jadi telah Katholik di kalangan masyarakat non-
mengukirkan suatu gambaran negatif Kristen. Dalam konteks pengertian
atau hal buruk di dalam pikiran tersebut, "propaganda" secara azali
seseorang. Lasswell, 1937 diartikan sebagai organisasi. Dalam
mendefinisikan “propaganda dalam arti perkembangannya, propaganda juga
yang paling luas adalah teknik berkaitan dengan teknik untuk
memengaruhi tindakan manusia dengan menyampaikan pesan (Sofansyah,
memanipulasi representasi (penyajian). 2018: xii).
2.2 Propaganda Awal Kedatangan Bangsa Jepang
Slogan "Amerika kita
Setrika, Inggris kita
Linggis"
Sebelum kedatangan Jepang ke
Indonesia, Jepang sudah menyiapkan
diri untuk menarik simpati bangsa
Indonesia. Awal persiapan materi
propaganda ditandai dengan
penerbitan artikel tang ditulis oleh
Jendral Araki pada April 1932 yang
berjudul The Call of Japan in the
Sowa Period. Pada tanggal 27
September 1940, dibentuk pakta
Tripatriepac di Berlin antara Jerman,
Italia, dan Jepang. Dibentuknya pakta
tersebut, Asia Pasifik dikuasai dan
dipimpin oleh Jepang sedangkan
Eropa dikuasai oleh Jerman dan Italia.
Hal tersebut menjadikan Jepang anti
Amerika dan Inggris. Kelak pada
masa pendudukan Jepang di Seruan Soekarno tentang Amerika kita Setrika, Inggris
Indonesia, Pemerintah Pendudukan kita Linggis" https://www.youtube.com/watch?
v=VZLxOnMjPJw
Jepang juga membawa propaganda
dalan slogan berbunyi: "Amerika kita Propaganda juga dilakukan secara
setrika, Inggris kita Linggis". lisan dengan mengundang bangsa Asia
(Sofansyah, 2018: 26-27). Untuk untuk ngikuti pendidikan dan bekerja
persipan penyerbuan ke wilayah di di Jepang. Khususnya untuk
Asia Tenggara, Pangeran Konoye Indonesia, sasaran orang Jepang
meresmikan empat biro propaganda di adalah para wartawan. Dalam
Tokyo yang disiarkan melalui radio, propagandanya, Jepang menyerukan
pers, pamflet yang dilakukan oleh agar rajyat Indonesia menyelamatkan
propagandis, sebagai contoh Great diri dari kolonialisme dan -
Asia Society dan South Seast
Association.
datang setelah kedatagan bangsa
kerdil (kate) yang akan menguasai
Indonesia beberapa tahun. Untuk
menarik perhatian lebih, Jepang
menggunakan bahasa Indonesia dalam
propagandanya. Demikian pula pada
masa pendudukan Jepang, propaganda
Jepang juga dilakukan dengan
memanfaatkan seni pertunjukan
sandiwara. Pada masa pendudukan
Jepang, seni sandiwara mengalami
perkembangan yang pesat. Hal itu
diikuti dengan pemutara film-film
Jepang. Pemutaran film dari negeri
"musuh" dilarang kecuali sebentar saja
pada awal pendudukan. (Kurasawa,
2015: 258)
Kemenangan Jepang atas Rusia tahun
1905 menjadi titik kebangkitan Asia
dan percaya mampu mengalahka
Eropa dan kedudukannya sejajar
dengan bangsa Eropa. Kebijakan
pemerintah Jepang di Indonesia
mempunyai dua prioritas; menghapus
imperialisme Barat dengan membantu penaruh Barat dikalangan mereka dan
Jepang menghadapi Perang Asia memobilisasi demi kemenangan
Timur. Kemenangan Jepang atas Jepang. Seperti halnya Belanda,
Amerika dengan di bomnya Jepang bermaksud menguasai Hindia
pangkalan angkatan perang di Pearl Belanda untuk kepentingan mereka
Harbour Hawai pada 7 Desember sendiri. Pihak Jepang memutuskan
1941, kedatangannya disambut baik untuk berkuasa melalui mobilisasi
dengan oleh para pemimpin khusunya di Jawa dan Sumatera yang
Indonesia. Diperkuat dengan ramalan dianggap lebih baik daripada
Jayabaya yang mengatakan bahwa kekerasan yang digunakan Belanda.
kemerdekaan rakyat Indonesia akan-
2.3 Propaganda Pada Masa Kependudukan Jepang
2.3.1 Propaganda melalui cara politik
Gerakan 3A
Pada tanggal 25 April 1942,
bertepatang dengan perayaan Tencho
Setse (Hari Kelahiran Kaisar),
tembok-tembok diperkantoran, stasiun
kereta api, dan berbagai tempat
strategis lainnya di kota Jakarta
tertampang poster-poster yang
berbunyi: " Cahaya Asia NIPPON!
Pelindung Asia NIPPON! Pemimpin
Asia NIPPON!" (Oktorino, 2016:
206). Peristiwa ini menunjukkan
pemerintah militer Jepang mulai
melakukan siatu kampanye berdirinya
gerakan yang dinamakan Gerakan 3A.
Tujuan utama Jepang membentuk https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/12/1300
00169/gerakan-tiga-a-dan-propaganda-jepang?
Gerakan Tiga A adalah untuk page=all
mengumpulkan dukungan bagi tujuan Sjamsuddin mencoba propagandakan
perangnya beserta proyek G3A ke seluruh Jawa. Para tokoh
Kemakmuran Bersama Asia Timur nasionalis yang anti dengan G3A
Raya. Oerganisasi ini dipimpin oleh adalah Ir. Soekarno, Drs. Mohammad
perwira Jepang bernama Ahimizu dan Hatta dan Sutan Syahrir. Dalam
dibantu oleh Mr. Sjamsuddin. perkembangannya, G3A ternyata juga
(Sofansyah, 2018: 37). Mr. menimbulkan perpecahan, staf
Sjamsuddin ditunjuk Jepang menjadi Gunseikan menuduh G3A menjadi
ketua Gerakan Tiga A. Gerakan Tiga gerakan massa, padahal seharusnya
A memiliki sayap pemuda yang merupakan gerakan propaganda. Akan
disebut sebagai Barisan Pemuda Asia tetapi, sebagai organisasi masa
Raya, dipimpin oleh dr. Slamet maupun organsiasi propaganda G3A
Sudibyo dan Sukarjo Wiryopranoto. tidak dapat menjacapai tujuannya
Untuk bagian propaganda diketuai dikarenakan minimnya dukungan dari
oleh wartawan muda bernama M. tokoh nasionalis Indonesia. G3A
Gani. dibubarkan pada September 1942.
Hokakai merupakan sebuah organisais
Jawa Hokakai baru untuk anggotanya berusia lebih
dari 14 tahun. Di tingkat desa, Hokaka
berperan penting dalam membagikan
barang catu. Pada Daerah lain,
Hokakai sebagai kantor pemerintah
untuk membantu mengumpulkan padi
dan juga aktif dalam mengumpulkan
perhiasan dan logam mulia dari
rakyat. Hokakai juga mensponsori
kegiatan sosial seperti pemberantasan
buta huruf, kursus menenun,
Pengurus Jawa Hokakai. sumber: Kurasawa. A, 2015: kampanye kebersihan, dan
393)
mengajarkan gaya hisup yang pantas
Organisasi penting untuk pada waktu perang (Kurasawa, 2015:
memobilisasi massa lainnya adalah 396). Menurut mantan Hokakai shoki
Jawa Hokakai atau Himpunan menyatakan bahwa fungsi mereka
Kebangkitan Rakyat. Jawa Hokakai kurang lebih sama seperti pamong
sering digambarkan sebagai pengganti desa. (Kurasawa. A, 2015: 397)
organisasi Poetra dan cenderung
dibicarakan terutama dalam aspek
sebagai geraka nasional. Pada
kenyataannnya, Hokakai dibentuk
setelah Poetra dibubarkan dan
menyerap gerakan ini ke dalamnya.
Hokakai merupakan organisasi yang
melibatkan ekotor-sktor sosial yang
lebih luas daripada Poetra. Operasi
Hokakai melibatkan seluruh
masyarakat baik pedesaan, perkotaan
maupun kelas bawah dan kelas atas.
Pada tingkat pusat, Hokakai dikepalai
oleh Gunseikan, Kokubu Shinichiro
sebagai Sosai (pemimpin tertinggi)
yang dibantu oleh seorang Foku Sosai
(wakil pemimpin tertinggi). Poster Jawa Hokakai. Sumber: Kurasawa. A, 2015:
394.
2.3.1 Propaganda melalui media
Media Film
Pada Oktober 1942, sebuah organisasi
sementara untuk menjalankan kebijakan
film dibentuk dibawah pengawasan
Sendenbu yang bernama Jawa Eiga Kosha
(Perusahaan Film Jepang) dan dikepalai
oleh Oya Soichi. Pada perkembangannya,
pengaturan industri perfilman dpercayakan
pada dua peursahaan Jepang bernama
Nichi'ei (Perusahaan Film Jepang) dan
Eihai (Perusahaan Distribusi Film Jepang)
dibentuk pada tahun 1941. Dengan
dibentuknya cabang Nichi'ei dan Eihai di
Kurasawa. A. 2015:261 Jakarta, Jawa Eiga Kosha dibubarkan.
Kependudukan Jepang di Jawa membawa perubahan besar bagi pasaran film di
Jawa. Pemutaran film negeri "musuh" dilarang kecualai sebentar saja pada awal
pendudukan. Secara resmi Jepang menginpor 52 film Jepang setiap tahunnya
ditambah lai film dari Cina dan 6 film dari negara lainnya yang rencananya akan
diimpor. Film-film Jepang secara hati-hati dipilih, dan hanya film yang dianggap
sebagai bahan propaganda yang bisa diimpor. (Kurasawa. A, 2015: 528)
Film yang diimpor mengandung ajaran moral dan Kurasawa. A. 2015:261
indoktrinasi politik yang digunakan pemerintah
untuk dipertunjukkan bagi penduduk Jawa. Film-
film jelas mengandung kokusaku eiga (film-film
kebijakan nasional). Eihai dan Jawa Eiha bertanggng
jawab atas distribusi film di Jawa. Jawa Eihai
membentuk 5 pangkalan operasi bioskop keliling di
Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan
Malang serta dibentuk 15 tim pemutar. Mereka
berkeliling dari desa ke desa lain membawa
proyektor film, generator, dan fil (35 mm) diatas
sebuah truk. Masing-masing tim terdiri Sendenbu,
Staf Jawa Eihai, seorang penerjemah, dan supir truk.
Media Drama
Kurasawa. A. 2015:270
Sendenbu membentuk sekolah drama di
Jakarta untuk mendidik penulis naskah
profesional dan juga mendorong
pembentukan kelompok teater baru seperti,
" Dewi Mada", "Tjahaja Timoer", "Miss
Tjitjih", dll. Propaganda melalui media
drama dibawahi oleh Keimin Bunka
Sidosho (Poesat Keboedajaan) yang
memutuskan jenis cerita yang akan
dipertunjukkan dan tema yang harus
ditekankan. Drama berisi topik-topik yang
menjadi perhatian utama pihak pemerintah,
seperti kegotongroyongan, tonarigumi,
pertahanan tanah air, tentara sukarela,
romusha, dan kebrutalan Belanda. (Sofansyah, 2018: 61)
Disamping cerita tentang topik semasa, Gaya lelucon agaknya dipengaruhi
kisah sejarah juga dirangsang pada akhir oleh dialog panggung lucu yang
periode pendudukan Jepang. Selain kisah disebut manzai yang
sejarah, komedi pendek yang disebut diperkenalkan kepada penduduk
"lelucon"juga didorong perkembangannya. Jawa sebagai alat propaganda.
Menurut dalang terkemuka di
Media Wayang Surakarta bernama Said, dbawah
pemerintahan Jepang ia
Disamping panggung teater modern, mempromosikan wayang sandiwara
seni panggung tradisional Jawa juga sebagai tujuan propaganda, dan ia
dimanfaatkan demi tujuan propaganda. sendiri menulis 4 kisah dan membuat
Menurut Asia Raya terbitan 22 Januari wayangnya sendiri. Kalau wayang
1945 sebuh pertunjukan wayang golek biasa memperlukan waktu semalam
secara khusus diselenggarakan oleh untuk, variasi wayang baru ini
penduduk Jakarta bekerja sama dengan dipertunjukkan selama 3 jam di antara
Keimin Bunka Shidosho dan pukul 9 sampai 12 malam. Wayang
Sendenbu. Pertunjukkan repertor yang sandiwara tetap populer bahkan
baru ini memakan waktu 3 jam dan setelah Jepang menyerah dan
bukannya semalam suntuk seperti dimanfaatkan demi tujuan propaganda
biasanya. Kisahnya sesuai dengan untuk merangsang dan mendorong
kebijakan pemerintah, bertujuan untuk rakyat dalam perang kemerdekaan
meningkatkan semangat perang di melawan Belanda. (Kurasawa. A, 271-
kalangan rakyat. Jepang juga 272).
memanfatakan wakyang kulit. Wayang
sandiwara merupakan ciptaannya
sendiri yang mulai diciptakan pada Media Tari
akhir zaman Belanda. Pada dasarnya
dibentuk sama dengan wayang kulit Tari-tarian juga dipakai sebagai alat
yang menggunakan boneka ukiran propaganda. Djawa Baroe terbiatan 1
terbuat dari kulit sapi, tetapi boneka Desember 1943 memberitakan
yang dipakai dalam wayang sandiwara repertoar baru dari tarian tradisional
ini tidak berwajah khas wayang kulit Sunda berjudul “ Tari Merontoehkan
tapi berwajah manusia biasa. Amerika/Inggeris”. Gagasan tarian
diusulkan oleh Kenco (bupati) Ciamis
bernama Sorya. (Kurasawa. A, 2015:
272)
Media
Kamishibai
Sebuah seni panggung penting lainnya
yang dimanfaatkan demi tujuan
Kurasawa. A. 2015:270
propaganda ialah pertunjukan kisah-
gambar gaya Jepang yang disebut Misalnya Chokinkayoku (Biro
Kamishibai. Sebuah hiburan popdi Tabungan Pos) kerap kali menyajikan
kalangan anak-anak Jepang. Di Kamishibai yang mempromosikan
Jepang kesenian ini sering dipakai peningkatan tabungan pos. Isi yang
sebagai alat menyampaikan lebih bersifat pengajaran moral sevara
pengajaran di sekolah-sekolah, tetapi umum dibuat di Jepang dan diedarkan
juga dipertunjukkan sebagai hiburan di JAWA. Rangkaian kamishibai ini
demi mencari keuntungan. Produksi tidka dicetak tapi dilukis dengan
maupun pertunjukan kamishibai tangan satu demi satu di atas kertas
ditempatkan di bawah pengawasan karton. Setiap lukisan berukuran
langsung Sendenbu meskipun sesekali sekitar 1 meter persegi atau dalam
dinas pemeirntah lainnya ikut beberapa hal kurang sedikit dari
berperan dalam mempromosikan ukuran tersebut. Laporan sendenbu
kisah dengan tema propaganda kamishibai dipertunjukkan dibeberapa
tertentu. tempat seperti sekolah, unit kerja dan
desa-desa. Laporan sendenbu juga
menyebut pertunjukkan kamishibai
sebagai bagian dari daya tarik
konferesi , rapat, dan upacara tertentu.
Kadang–kdang perjalanan kamishibai
dilakukan sebagai kampanye hal
tertentu. Secara umum sebuha
perjalana kamishibai dilakukan oleh
anggoata staf dalam oprasinya sehai-
hari tetapi dalam kasus kampanye
tertentu dijalankan oleh sebuah tim
besar yang terdiri dari operator film,
Kurasawa. A. 2015:270
musisi, pembicara manzai,aktor, dan
sebagainya.
Media Nyanyian
Lagu merupakan sarana propaganda
lainnya untuk menyebarkan gagasan
Jepang kepada rakyat serta
meningkatkan moral. Selama masa
pendudukan Jepang, lagu-lagu militer
dan kepahlawanan Jepag berulang-
ulang diajarkan di sekolah, kursus
latiha, dan rapat-rapat seinendan,
fujinkai, serta organisasi massa
lainnya. ada dua jenis lagu yang
dipromosikan selama pendudukan
Jepang: lagu-lagu Jepang yang
diimpor ke Jawa dan lagu-lagu
pripaganda yang digubah ke
Indondonesia. Kurasawa. A. 2015:279
Tiga puluh empat lagu Jepang diperkenalkan dalam tulisan latin, bersama dengan
nada musik Jawa yang mempergunakan angka. Tidak terdapat lagu-lagu
propaganda, tetapi juga beberapa lagu pop. Pada tahun 1943, sebuah buklet dengan
berisikan lagu-lagu Jepang disusun untuk orang dewasa yang disusun oleh
Sendenbu di Jawa dan dterbitkan oleh Balai Poestaka. Judulnya Seinen no Uta
(Lagu-lagu Pemuda), memuat sebelas lagu dengan not dan terjemahan dalam bahsa
Indonesia. Akan tetapi tidak semua lagu Jepang diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia. Salah satu lagunya adalah Aikoku no Hana (Bunga Kepahlawanan)
dengan nada sangan melankolis dalam kunci minor. Disamping lagu-lagu Jepang,
lagu-lagu baru untuk propaganda juga diciptakan di Jawa. Sudah sejak April 1942
sebulan setelah penyerbuan Jepang, lagu Indonesia berjudul ‘Hidoep Indonesia”
diciptakan oleh para pencipta lagu di Sendenbu. Seksi musik yang dikepalai oleh
Utoyo mendorong penyair dan musisi Indonesiauntuk menggubah lagu – lagu
propaganda. Beberapa lagu dimuat dalam Djawa Baroe mulai Oktober 1943 dan
sekitar waktu itulah muncul dorongan untuk menciptakan lagu – lagu baru. Semua
lagu memiliki irama kuat dan bersemangat seperti mars militer, dan sering
dinyanyikan kalau anggota seinendan dan anak – anak sekolah berbaris atau
melakukan kerja bakti.
Media Radio
Radio merupakan salah satu sarana untuk
menyebarkan propaganda Jepang. Di Jepang,
pemerintahan yang menyadai arti politis
radio, telah lama melakukan kontrol ketat
atas siaran radio. Siaran radio swasta tidak
diizinkan dan hanya NHK (Siara Radio
Jepang) yang beroperasi sebagai stasiun
pemancar yang dimonopoli dan disponsori
oleh pemerintah. Di Jawa, segera setelah
pendudukan, stasiun pemancar yang ada
dikontrol oleh Sendenbu sampai Java Hoso
Karikyoku (Biro Pengawasan Siaran Jawa)
dibentuk pada 1 Oktober 1942. Pengelolaan
kantor ini dipercayakan kepada NHK dan
ditangani oleh staf NHK yang dikirim dari
Jepang, serta orang Indonesia yang
sebelumnya kerja di NIROM. ). Java Hoso
Karikyoku memiliki delapan stasiun
pemancar lokal di Jakarta, Bandung,
Yogyakarta Surakarta Banyumas, Semarang,
Surabaya, dan Malang. Kurasawa. A. 2015:285
Siaran dimulai jam 07:30 dan berlangsung sampai 24:30, dengan dua kali jeda
masing-masing pagi dan sore dan seluruh waktu penyiaran adalah 13,5 jam. Bahasa
utama yang dipakai dalam siaran radio adalah bahasa Indonesia. Berita yang
disiarkan menggunakan empat bahasa yang berbeda yakni Jepang (sekali sehari
selama 30 menit), Indonesia (3 kali sehari selama total 45 menit), Jawa (3 kali sehari
selama total waktu 60 menit) dan Sunda (3 kali sehari selama waktu total 60 menit).
Sifat mencolok lainnya yaitu menawarkan program-program pendidikan, ada waktu
ceramah dua kali sehari. Sebagai besar ceramah berkaitan dengan topik-topik yang
menjadi perhatian pemerintah, seperti petunjuk teknis dalam pertanian dan industri,
dorongan dan nilai-nilai ideal, pengajara ideologi, perkenalan dengan Jepang,
pengajaran Islam dan sebagainya.
Efek dari program radio sangat luas
dibandingkan dengan film dan seni
panggung, namun efeknya kurang mencolok,
karena hanya menyentuh pada indera
pendengaran saja. Pada tahun 1939, jumlah
pemilik radio yang terdaftar di Hindia
Belanda sebanyak 87.510 dan hanya 25.608
diantaranya adalah orang Indonesia.
Sendenbu di Jawa berusaha meningkatkan
jumlahnya dengan menggunakan radio-radio
yang disita dari pihak Belanda. oleh karena
itu, pemerintah membangu pengeras suara
yang disebut radio to (menara radio) di
berbagai tempat umum seperti pasar, stasiun
kereta api, jalan raya, taman, dan lapangan.
Karean terbatasnya listrik, maka radio di
pedesaan tidak mungkin umum disediakan.
Rakyat menyebutnya “pohon bernyanyi” Kurasawa. A. 2015:288
karena kebanyakan ditempatkan di
tempat-tempat tinggi seperti diatas pohon,
galah panjang, dan atap dan sebagian
terlihat di daftar program radio sering
disiarkan musik. Mengenai tanggapan
rakyat Jawa terhadap siaran Jepang,
seorang informan Jawa menyatakan:
“Kalau jepang memyiarkan musik Jawa,
banyak orang yang mau mendengarkan,
tetapi kalu propaganda yang disiarkan,
beberapa orang pergi, sambil mengatakan:
Nippon-Bohong”
2.3 Propaganda Akhir Kependudukan Jepang
Sofansyah, 2018: 113
Awal tahun 1945, kekuatan pertahanan Jepang mulai terdesakn oleh kekeuatan
Sekutu. Dalam soal mengalihkan perhatian rakyat Indonesia dari berita kekalahan
Jepang, pihak pemerintaha pendudukan Jepang semakin giat untuk melakukan
pementasan-pementasan sandiwara. Periode antara tahun 1944-1945, pola
pertunjukan dengan tujuan tertentu terlihat mengalami pergeseran, terutama dengan
tema yang diduaikan dengan kepentingan Jepang. Pada tanggal 20 Juli 2945 samapi
tanggal 31 Juli 1945, pemerintah pendudukan Jepang mengadakan pelatihan
Pemimpin Kebudayaa untuk pertamakalinya. Tampak jelas bahwa pemerintah
pendudukan Jepang nerusaha menarik simpati yang lebih besar dari rakyat untuk
membantu Jepang saat terdesak menghadapi sekutu. Pada tanggal 1 April 1945 terbit
lelucon karya Ananta Gs yang berjudul Gerakan Hidoep Baroe yang mencerintakan
seorang pemimpin, Tonarigumi, datang untuk memberi nasihat kepada Pak
Krempeng dan Banf Djangkoeng tentang pentingnya menyesuaikan hidup dengan
keadaan perang. Harus berani menderita dan rela berkorban demi tanah air. Selain
Gerakan Hidoep Baroe, karya lain dari Ananta Gs yaitu Kumityo Istimewa.
BAB 3 PENUTUP
3.1 Latihan Soal
1. Analisislah srtategi propaganda pemerintahan Jepang pada awal
pendudukan Jepang di Indonesia!
2. Menurut pendapat anda media proaganda mana yang paling
berkembang pada saat pendudukan Jepang? Berikan alasan!
3. Jelaskan media radio menjalankan tugasnya sebagai media
propaganda dari pemerintah Jepang.
4. Jelaskan alasan bangsa Indonesia dengan mudah dan senang hati
menerima bangsa Jepang masuk ke Indonesia.
5. Bagaimanakan perkembangan propaganda pada akhir pendudukan
Jepang di Indonesia?
3.2 Daftar Pustaka
Sofansyah, D.Y. 2018. Propaganda Romusha: Sandiwara dari Jepang.
Matapadi Presindo: Yogyakarya
Kurasawa, A. 2015. Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di
Pedesaan 1942-1945. Komunitas Bambu: Depok
Oktorino, N. 2016. Di Bawah Matahari Terbit: Sejarah Pendudukan
Jepang di Indonesia 1941-45. PT Elex Media Komputido: Jakarta
Munthe, M.G. 2010. Propaganda dan Ilmu Komunikasi. UMN 2(2)
STRATEGI
PROPAGANDA
JEPANG
BIOGRAFI PENULIS
Fitra Devita Rahman lahir di Banyuwangi pada tanggal 10 Mei 2001 merupakan
seorang mahasiswi semester 3 di Universitas Jember. Ia mengambil jurusan PIPS
dan mengambil prodi penddikan Sejarah di Universitas Jember. Ia menempuh
pendidikan dasar di MI Al-Hidayah Sumbermulyo. pendidikan menengah
pertama di SMPN 2 Siliragung, dan pendidikan menengah atas di SMAN 1
Pesanggaran.