The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by qiaraanp, 2022-05-09 09:04:30

Ande-ande lumut kelompok 1

Ande-ande lumut kelompok 1

Kelompok 1 / XI MIPA 2 :
1. Gregorius Dhandi
2. Mutia Fatih K. (12)
3. Nabila Khansa P. (20)
4. Qiara Aurora N. (22)
5. Sella Rosalina (27)
6. Yiesha Zayna P. (30)
(36)

Naskah Drama

Ande-Ande Lumut

Alkisah di sebuah negara yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo,
tinggallah seorang pangeran yang hidup serba berkecukupan. Pangeran tersebut adalah putra
mahkota yang akan menggantikan tahta berikutnya.

Akan tetapi, pangeran tersebut tidak puas dengan kehidupan yang serba berkecukupan. Dia
ingin mengembara, menyusuri hutan demi hutan untuk mencari jati diri dan pendamping hidupnya.
Dengan ditemani Pengawal dan Ibu angkatnya yang bernama Mbok Rondo Dhadapan ia
mengadakan sayembara untuk menemukan pasangan dari Ande-ande Lumut.

Pengawal : “Pengumuman! Pengumuman! Untuk semua warga

Dhadapan, Mbok Rondo Dhadapan membuat sayembara mencari pendamping untuk Ande-ande
Lumut, yang ingin mengikuti silakan datang ke rumah Mbok Rondo Dhadapan.”

(Membagikan Selembaran)

Mbok Rondo Kleting : “Duh! Anak-anakku harus ikut sayembara itu. Siapa tau

salah satu dari anakku terpilih jadi istrinya Ande-ande Lumut.”

(Mbok Rondo Kleting segera kembali ke rumah dan memberitahukan berita tersebut ke anak-

anak nya)

Bagian 2
Mbok Rondo Klenting berkumpul dengan para putrinya. Putri-putri Mbok Rondo sangat

cantik, mereka adalah Klenting Merah dan Klenting Biru serta salah seorang anak tirinya yang
bernama klenting Kuning.

Mbok Rondo sangat menyayangi anak-anak kandungnya, tetapi berbeda dengan Klenting
Kuning, sebagai anak tiri dia sangat dibedakan kasih sayangnya.

(Klenting Kuning sedang menyapu lantai, tak lama kemudian datang Mbok Rondo mengawasi

Klenting Kuning) : “Anak-anakku yang cantik-cantik, kesini Nak!”
Mbok Rondo Klenting : “Ya, Bu.”
Klenting-klenting : “Begini Nak, ada berita yang sangat penting.”
Mbok Rondo Klenting : “Berita apa itu Bu?”
Klenting Merah : “Iya Bu, kelihatannya penting sekali.”
Klenting Biru : “Kalian tahu kan, Mbok Rondo Dadapan itu punya anak
Mbok Rondo Klenting yang sangat tampan. Namanya Ande -ande Lumut.”
: “Ande -ande Lumut? Yang tampan itu?”
Klenting-klenting

(bersama bergaya manja, centil) : “Iya. Coba kalian pergi ke rumah Ande –ande Lumut
Mbok Rondo Klenting untuk melamarnya, siapa tahu Ande –ande Lumut
menyukai salah satu dari kalian.”
Kleting Merah : “Wah! Pasti aku ini yang terpilih jadi istrinya Ande-ande
Lumut, aku kan cantik.”

Kleting Biru : “Mbak, kan di sini aku yang paling muda, kalian
mengalah dong.”

Kleting Merah : “Tidak bisa! Aku kan yang paling tua, harusnya kamu
menghargai aku sebagai kakakmu!”

Mbok Rondo Kleting : “Sudah-sudah kok malah bertengkar, anak ibu kan

Klenting-klenting semuanya cantik-cantik. Ibu akan dandani kalian semua
agar menjadi putri yang cantik-cantik.”
: “Iya Bu. Kami mau.”

Mbok Rondo klenting : “Iya sudah. Ayo Ibu dandani kalian.”
Klenting-klenting : “Baiklah Bu.”

(Mbok Rondo Klenting mendandani Klenting Merah dan Klenting Biru)

Klenting Merah : “Bagaimana penampilanku Bu?”

Mbok Rondo Klenting : “Sudah rapi, Nak.”

Klenting Biru : “Kalau aku Bu?”

Mbok Rondo Klenting : “Sudah cantik, Nak. Anak–anak Ibu sudah cantik semua.

Sekarang berangkatlah. Ande –ande Lumut pasti memilih

salah satu dari kalian untuk dijadikan istri.”

(Dari kejauhan, Klenting Kuning melihat saudari tirinya yang hendak berangkat menuju rumah

Ande – Ande Lumut)

Klenting Merah : “Ngapain lihat–lihat? Iri ya lihat kita semua cantik?”

Klenting Kuning : “Ti..Tidak kok.”

Klenting Biru : (menyenggol Klenting Kuning sampai terjatuh )
Klenting –klenting : “Hahaha. Kasian sekali kamu!”
Klenting Merah : “Ya sudah lah. Ayo kita berangkat!”

(Pergi meninggalkan Klenting Kuning)

(Tak lama kemudian, Klenting Kuning mendekati mbok rondo)

Klenting Kuning : “Bu, saya ingin bicara.”

Mbok Rondo Klenting : “Bicara apa? Apakah kamu sudah selesai menyapu?”

Klenting Kuning : “Sudah Bu. Begini Bu, saya juga ingin melamar menjadi

Mbok Rondo Klenting istrinya Ande-ande Lumut seperti kakak-kakak klenting
yang lain.”
: “Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Sini kamu saya

dandani juga. (Memberikan angus dan bau-bau tidak sedap

kepada Klenting kuning) Sudah, sekarang kamu cuci kuali
di sungai. Dan kerjakan tugasmu.” (Mendorong Klenting

kuning dengan kasar)

Klenting kuning : “Iya Bu.” (Meninggalkan Mbok Rondo)

Mbok Rondo Klenting : “Hahaha… Mudah-mudahan Ande-ande Lumut menyukai

salah satu dari anak-anakku. Bukan Klenting Kuning.”

(Tertawa terbahak-bahak, menuju ke dalam rumah)

Bagian 3

Klenting Kuning setiap hari bekerja tanpa rasa lelah dan keluh kesah, meskipun dia

diperlakukan kasar oleh Mbok Rondo Klenting. Hanya dia dan Allah saja yang tahu betapa

sedihnya dirinya. Dia berharap, Tuhan akan memberikan ganjaran yang lebih baik untuknya. Saat

Klenting Kuning mencuci kuali di sungai, tiba-tiba.

Klenting Kuning : “Duh… Kenapa begini penderitaan hidupku. Semoga saja

aku tabah menjalaninya. Tuhan tolonglah aku...”

(Tiba tiba ada seseorang mendekati klenting kuning)

Seseorang : “Hai gadis cantik.”

Klenting Kuning : “Siapa kamu?” (Kaget)

Seseorang : “Kamu jangan takut. Aku adalah sifat baik yang ada

dalam dirimu.”

Klenting Kuning : “Mau apa kamu?”

Seseorang : “Aku akan memberimu sebuah pusaka. Terimalah!

Semoga pusaka ini kelak akan berguna bagimu. Ini adalah
Jimat Kalimosodo. Terimalah gadis baik.”

( Memberikan pusaka ) : “Baiklah. Terimakasih.”
Klenting Kuning

Bagian 4
Di sebuah sungai yang airnya deras, di situlah Yuyu Kangkang hidup. Dia yang menguasai
sungai itu. Dialah si Yuyu Kangkang yang licik.

(Yuyu Kangkang sang penjaga sungai sedang mondar-mandir mengawasi jika ada orang

datang). : “Hohohoho… Siapa itu yang datang dari jauh?”
Yuyu Kangkang

(Kemudian datang Klenting Merah, Klenting Biru, dan Klenting Hijau menuju pinggir sungai)

Klenting Merah : “Wah! Sungainya banjir.”

Klenting Biru : “Iya Mbak. Bagaimana cara kita menyeberang?”

Klenting Merah : “Lihat itu Yuyu Kangkang!” (Menunjuk Yuyu Kangkang)
Klenting Merah : “Wah iya! Kita minta tolong Yuyu Kangkang saja.”
Klenting Biru : “Iya Mbak. Ayo!” (Saling menyenggol Klenting Merah)
Klenting merah : “Yuyu Kangkang! Yuyu Kangkang!”
Yuyu Kangkang : “Hahaha. Ada apa gadis manis?”
Klenting Merah : “Yuyu Kangkang, aku minta tolong disebrangkan lewat
sungai ini.”

Yuyu Kangkang : “Wah itu berat sekali, bahaya sungainya. Aku minta
imbalan.”
Klenting Merah : “Imbalannya apa? Uang? Wah kamu itu mata duitan!”
Klenting Biru : “Iya. Yuyu Kangkang mata duitan.”
Yuyu kangkang : “Tidak. Aku tidak mau uang. Hahaha.”
Klenting-klenting : “Lalu apa?”
Yuyu Kangkang : “Imbalannya adalah mencium tangan kalian.”

(Tersenyum mesum) : “Tidak mau! Tanganku yang wangi ini bisa kotor nanti.”
Klenting Merah : “Aku juga tidak mau!”
Klenting Biru : “Yasudah kalau tidak mau tidak akan kusebrangkan.”
Yuyu Kangkang : “Ya sudah kalau begitu, tapi sebentar saja ya.”
Klenting Merah : “Baik gadis manis.”
Yuyu Kangkang

(Yuyu Kangkang menyebrangkan Klenting Merah dan biru)

Yuyu Kangkang : “Eh, eh! Mau kemana kalian? Mana imbalannya?”

(Klenting-klenting menyodorkan tangan sambil cemberut dan langsung pergi)

Yuyu Kangkang : “Wah senang sekali aku dapat memegang dan mencium

tangan gadis-gadis cantik itu.”

(Beberapa saat kemudian, datanglah Klenting Kuning akan menyebrang)

Yuyu Kangkang : “Hohoho. Apa itu? Baunya tidak enak. Wajahnya jelek

lagi.”

Klenting Kuning : “Wah kok banjir ya? Bagaimana aku bisa menyebrang?

Itu ada Yuyu Kangkang. Yuyu kangkang, tolong
sebrangkan saya melewati sungai ini.”

Yuyu kangkang : “Kamu? Tidak mau.”
Klenting Kuning : “Nanti aku kasih uang.”
Yuyu Kangkang : “Tidak mau! Sudah sana pergi. Jangan di sini. Dasar
orang jelek.” (Meninggalkan Klenting Kuning)
Klenting Kuning : “Kamu kenapa jahat begitu Yuyu Kangkang?”
Klenting kuning : “Ya sudah kalau itu maumu. (Mengeluarkan pusakanya)
Aku akan buat sungai ini menjadi kering!”

Tiba-tiba sungai itu kering. Kemudian Klenting Kuningpun bisa berjalan menyeberang sungai

menuju rumah mbok Rondo Dadapan, rumah si Ande-ande Lumut.

Bagian 5
Sementara itu, di sebuah desa bernama Dadapan, Mbok Rondo sedang menyapu rumah, di

rumah itulah si Ande-ande Lumut sedang mengaji di atas batu. Menunggu belahan hatinya yang
dijanjikan Tuhan untuknya.

(Mbok Rondo sedang menyapu halaman rumah, tiba-tiba datang rombongan gadis-gadis cantik,

Klenting merah, biru, dan hijau) : “Assalamu’alaikum.”
Klenting-klenting : “Wa’alaikumsalam, siapa ya?”
Mbok Rondo Dadapan : “Saya Klenting Merah, Bu.”
Klenting Merah : “Saya Klenting Biru, Bu”
Klenting Biru : “Wah, gadis-gadis cantik kesini ada perlu apa ini?”
Mbok Rondo Dadapan : “Kami ingin melamar Ande-ande Lumut Bu.”
Klenting-klenting : “Mau melamar Ande-ande Lumut? Sebentar ya, saya
Mbok Rondo Dadapan

Klenting Merah katakan pada Ande-ande Lumut, kalian duduk dahulu. Mari
Mbok Rondo Dadapan Nak, siapa dulu?”
: “Saya, Bu.”
: (Bernyanyi) “Putraku si Ande-Ande Lumut. Temuruno

ono putri kang ngunggah-unggahi. Putrine ngger sing ayu
rupane. Klenting Abang iku kang dadi asmane.”

Ande-ande Lumut : (Menjawab dengan bernyanyi) “Duh ibu, kulo mboten

purun. Aduh ibu, kulo mboten medun. Najan ayu sisane si
Yuyu Kangkang.”

Mbok Rondo Dadapan : “Wah tidak mau ternyata Nak.”
Klenting Biru : “Coba saya Bu.”
Mbok Rondo Dadapan : (Bernyanyi) “Putraku si Ande-ande Lumut. Temuruno ono

Ande-ande Lumut putri kang ngunggah-unggahi. Putrine ngger sing ayu
rupane. Klenting Biru iku kang dadi asmane.”
: (Menjawab dengan bernyanyi) “Duh ibu, kulo mboten

Mbok rondo dadapan purun. Aduh ibu, kulo mboten medun. Najan ayu sisane si
Yuyu Kangkang.”
: “Tidak mau juga ternyata Nak.”

Tidak lama kemudian, datanglah Klenting Kuning, dari kejauhan sudah tercium bau yang tidak

sedap, wajahnya coreng moreng karena debu.

(Datanglah Klenting Kuning menuju Mbok Rondo)

Klenting kuning : “Selamat pagi, Bu.”

Mbok Rondo Dadapan : “Selamat pagi. Siapa ya?”

Klenting kuning : “Saya Klenting Kuning Bu. Ingin melamar Ande-ande

Lumut.”

Mbok Rondo Dadapan : “Apa? Mau melamar anakku? Apa tidak salah?”

Klenting merah : “Iya, wajahmu jelek. Baumu tidak enak begitu. Aku saja

ditolak. Apa lagi kamu!”

Klenting Kuning : “Dicoba dulu mbok.”

Mbok Rondo Dadapan : “Baiklah. (Bernyanyi) Putraku si Ande-ande Lumut.

Ande-ande Lumut Temuruno ono putri kang ngunggah-unggahi. Putrine kang
ala rupane. Klenting kuning iku kang dadi asmane.”
: (Menjawab dengan bernyanyi) “Aduh ibu, kulo inggih

Mbok Rondo Dadapan purun. Dalem putro inggih bade medun. Najan ala meniko
kang putro suwun.”
: (Kaget) “Loh! Apa tidak salah Ande-ande Lumut?”

Ande-ande Lumut : “Tidak Ibu. Ini adalah pilihan saya.”
Klenting Biru : “Ternyata seleramu rendahan ya Ande –ande Lumut.”
Mbok Rondo Dadapan : “Ya sudah kalau itu pilihanmu, ya tidak apa-apa.”
Ande-ande Lumut : “Ibu, ada suatu hal yang ingin saya katakan.”
Mok rondo dadapan : “Apa itu Nak?”
Ande-ande Lumut : “Ibu, sebenarnya saya adalah seorang pangeran yang
sedang mengembara, untuk mencari pengalaman hidup.”
Mbok Rondo Dadapan : “Apa? Pangeran?”
Klenting-Klenting : “Apa? Pangeran?”
Ande-ande Lumut : “Benar Ibu, karena sekarang saya sudah mendapatkan

Mbok Rondo Dadapan belahan hati saya, saya akan kembali ke kerajaan. Terima

kasih telah merawat dan perhatian terhadap anak angkatmu
ini Bu”
: (Masih kaget) “Ya sudahlah Nak, kalau itu menjadi
keputusanmu. Jaga dirimu baik- baik ya Nak.”

Akhirnya, Klenting Kuning menjadi istri Ande-ande Lumut, wajahnya yang jelek dan bau
berubah menjadi putri yang cantik. Sesungguhnya dia adalah Putri Sekartaji. Dan Ande-ande
Lumut kini menjadi raja mewarisi kerajaan ayahnya. Pangeran dan Klenting Kuning, hidup
bahagia selamanya.


Click to View FlipBook Version