The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Nynsa Angelina P, 2020-12-21 06:41:20

Sejarah Kerajaan Hindu Buddha: Kerajaan Malayu

Sejarah Peminatan SMA Kelas IX

Keywords: Sejarah Kerajaan Hindu Buddha: Kerajaan Malayu

2020

Sejarah
Kerajaan
Hindu
Buddha

Kerajaan Malayu

Disusun oleh Nynsa Angelina Putri
Pendidikan Sejarah
Universitas Jember

Tentang Penulis

Nynsa Angelina Putri adalah mahasiswi Universitas Jember, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Sejarah. ia lahir di
Banyuwangi,, pada 30 Mei 2002.
Pendidikan: merupakan tamatan SDN 4 Sumberagung, kemudian ia
melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Siliragung, dan yang terakhir ia
merupakan lulusan dari salah satu Sekolah Menengah atas yang ada di
Kecamatan Pesanggaran yakni SMAN 1 Pesanggaran. Saat ini ia menempuh
pendidikan di Universitas Jember, tepatnya di Program Studi Pendidikan
Sejarah.

Tujuan
Penulisan

Sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Media Pembelajaran Bidang Studi
Meningkatan kompetensi dalam editing dan pembuatan media
pembelajaran
Menambah wawasan penulis dan pembaca

HALAMAN 2

DAFTAR ISI

Tentang Penulis
Tujuan Penulisan
Pembahasan
A. Nama dan Lokasi Kerajaan Malayu
B. Sumber Sejarah
C. Sejarah Berdirinya
D. Kondisi Politik
E. Kondisi Sosial dan Ekonomi
F. Kondisi Budaya dan Religi
G. Akhir Kerajaan Malayu
Daftar Pustaka

HALAMAN 3

A. Nama dan Urainnya di halaman xxix-xxx dalam
Lokasi terjemahannya yaitu: “Pada bulan
Kerajaan kesebelas tahun 67 I-tsing
Malayu meninggalkan Kwang-tung menuju ke
selatan dan dalam waktu kurang dari
It's seems impossible until it's dua puluh hari ia tiba di Bhoga.” Dalam
done- Nelson Mandela catatan Takasuku dikatakan bahwa
Bhoga adalah ibukota negeri Sribhoga
Nama Malayu pertama kali tercatat alias Malayu. Keterangan I-tsing
dalam Sejarah Dinasti T’ang (618-906) menyebutkan bahwa Malayu berada di
yang menyebutkan bahwa pada tahun tengah perjalanan antara Sriwijaya dan
644 seorang utusan Mo-lo-yu, lafal Cina Kedah.
dari kata Malayu, telah datang di
Kerajaan Cina untuk menyampaikan Selanjutnya, berdasarkan urutan
upeti dari raja Malayu. negara-negara beragama Buddha di
Laut Cina Selatan, jika dilihat dari India,
I-tsing dalam catatan hariannya, “A nama Malayu disebut lebih dahulu dan
Record of the Buddhist Religion as kemudian baru Sriwijaya. Dengan
practized in India and the Malay demikian jelas bahwa lokasi kerajaan
Archipelago,” yang disusun, Malayu ada di sebelah barat-daya
diterjemahkan, dan diterbitkan oleh Kerajaan Sriwijaya.
Takasuku (1896) memberikan
beberapa keterangan mengenai nama
Malayu beserta petunjuk lokasinya.

HALAMAN 4

B. Sumber
Sejarah

Prasasti Amoghapasa Sumber sejarah primer adalah sumber yang berasal dari
Prasasti Bukit Gombak II berita Cina dan tulisan dari I-tsing. Selain itu, juga terdapat
sumber berupa peninggalan langsung dari
kerajaan Malayu, di antaranya ialah:

1) Prasasti Kapalo Gombak I (tahun candrasangkala

1374 M) berisi 1 baris sloka yang menyebut pertanggalan
saja. Prasasti ini tampaknya memperingati sebuah
bangunan suci tetapi keberadaan bangunannya tidak
diketahui.

2) Prasasti Manjusrui(1343 M) berisi pernyataan

bahwa Adityawarman bersaudara dengan Raja Majapahit.
Prasasti ini dibuatkan pada sandaran Arca Manjusri
bagian depan, asalnya dari candi Jago.

3) Prasasti Amoghapasa (1347 M), dituliskan pada

bagian belakang punggung Amoghapasa Lokeswara
milik raja Tribhuwana Mauliawarmadewa. Prasasti ini
berisi peringatan pendirian bangunan suci Buddha Archa
Buddha gaganaganja, pengakuan Adityawarman sebagai
keluarga raja Melayu, penobatan seseorang bernama
matanginisa, dan adanya pembantu raja bernama
Dharmasekara dan Dewa Tuhan prapatih.

4) Prasasti Bukit Gombak II, berisi tentang nama

pendeta acarya mpuku Dharmmaddvja, nama
Swarnabhumi, dan pujian kepada Adityawarman sebagai
Sutatha gata bajradhaiya.
Selain beberapa prasasti di atas masih ada banyak lagi
prasasti-prasati lain.

HALAMAN 5

C. Sejarah Sementara itu dalam persaingannya
Berdirinya dengan Cola, pihak Cola merasa
dirugikan lalu pada tahun 1015
We cannot escape history- Suwarnabhumi diserang lagi oleh
Abraham Lincoln Cola, dan peristiwa ini dicatat dalam
Prasasti Tanjore (1031). Adapun raja
Pada abad XI nama kerajaan Malayu Suwarnabhumi yang kalah dalam
muncul dengan nama Malayapura serangan tahun 1067, pindah ke
dengan nama rajanya Suryanarayana pedalaman dan mendirikan kerajaan
yang bergelar Sri Maharaja. Diketahui baru yang disebut Malayapura yang
dari prasasti Ceylon antara lain berlokasi di Malayapura diduga tidak
menyebutkan pembebabasn Ceylon jauh dari Dharmasraya yang nanti akan
dari penjajahan Cola. Kerajaan Malayu menjadi pusat agama Buddha,
Tua pada sekitar tahun 671 diserang ditandai dengan penemapatan arca
dan ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya Amoghapasa Lokeswara kiriman Raja
sehingga pusat kerajaannya tergusur ke Kertanegara dari Singhasari pada
arah pedalaman dan ibukotanya yang tahun 1286 kepada Raja Malayu.
lama diduduki oleh Sriwijaya.
Dari kronik Cina juga diberitahukan
bahwa pada tahun 1079 raja yang
memerintah di Suwarnabhumi
bernama Rajendra Kolutungga. Nama
Kulotungga tercatat dalam prasasti
Kanton (1079)dengan sebutan Ti Hwa
Ka Lo. Dari uraian tersebut, Sriwijaya
telah kalah pada tahun 1067 dan
menyingkir dari pusat kekuasaan yang
ada di Jambi ke daerah pedalaman.
Pewaris takhta Suwarnabhumi
menyingkir dan mendirikan atau
menghidupkan kerajaan Malayapura.

HALAMAN 6

D. Kondisi Politik

Raja Malayu bernama Suryanarayana berhasil mengusir Raja Kulotungga (Dinasti Cola)
dari Sriwijaya sehingga ia dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sri Maharaja. Menurut
Paravitana, ia pernah menjadi raja di Ceylon antara tahun 1055-1070. Setelah ia menjadi
raja Malayu, ia memindahkan pusat kekuasaannya dari Palembang ke Jambi
sebagaimana dicatat dalam berita Cina.

Pada abad XIV, berita Cina menyebutkan bahwa pada tahun 1301 datang utusan dari
Malayu-Jambi ke Cina atas kemauan sendiri. Pada awal abad XIV ini Kerajaan Malayu-
Jambi masih diperintah oleh Tribbuwana Mauliawarmadewa. Namun, pada tahun 1343
muncul nama Adityawarman dalam prasasti Manjusri, ia mengaku bersaudara dengan
Rajapatni. Empat tahun kemudian, nama Adityawarman muncul lagi dalam prasasti
Amoghapasa sebagai raja Malayu. Kemudian Adityawarman memindahkan pusat
kegiatannya dari sekitar aliran sungai Batanghari lebih ke utara tepatnya sekitar kota
Batusangkar, Provinsi Sumatra Barat. Dalam prasasti Amoghapasa disebutkan adanya
pembantu dekat Adityawarman yang bernama Dewa Tuhan Prapatih yang serupa
dengan nama Datuk Parpatih nan Sebatang, tokoh penegak hukum Minangkabau dari
kerajaan Pagaruyung. Prasasti Pagaruyung VI, menunjukkan bahwa adanya
pengangkatan Kudawira sebagai tumenggung.

Di bidang pemerintahan, Adityawarman memiliki penasihat atau pendeta agung
bernama Acaryya Dharmasekara, ia mempunyai pejabat tinggi bergelar patih bernama
Dewa Tuhan Prapatih, ia juga mempunyai patih lain bernama Tuhan Parpatih Tudang,
dan mempunyai pejabat tinggi lainnya bernama Tumenggung Kudawira. Kerjasama
antara Adityawarman dan pejabatnya sangat kompak seperti terlihat pada prasasti
rambatan yang menyebutkan Adityawarman menyediakan tempat ibadah sedangkan
menterinya membuat atapnya.

Selain itu, mungkin pembuatan prasasti berbahasa Tamil di Bandar Bapahat untuk
menjalin hubungan dengan masyarakat Tamil dapat dianggap sebagai usaha di bidang
sosial politik.

HALAMAN 7

E. Kondisi
Sosial dan
Ekonomi

Orang-orang besar sepanjang
sejarah adalah mereka yang kebih
banyak bekerja daripada bicara.-
Habiburrahman El Shirazy

Pada prasasti Bandar Bapahat, terdiri atas
dua prasasti masing-masing berbahasa
Sanskerta dan Tamil. Isi dari kedua
prasasti itu sama karena ditujukan kepada
masyarakat Malayu dan komunitas Tamil.
Komunitas Tamil ini sudah ada di pantai
barat Sumatera sejak abad XI. Diduga
pembuatan prasasti tersebut untuk
menjalin hubungan dengan masyarakat
Tamil sebagai usaha di bidang sosial.

Pada abad VII, kerajaan Malayu menjadi
salah satu tujuan bagi para pedagang atau
musafir yang melakukan pelayaran jarak
jauh. Selain itu, ada berita dari Portugis
yang menerangkan bahwa Marco Polo
dalam catatannya tahun 1292 menyebut
Malayu sebagai pusat perdagangan
rempah-rempah.

HALAMAN 8

F. Kehidupan
Budaya dan Religi

Prasasti Rambatan
Dalam prasasti Amoghapasa (1347 M), prasasti sebanyak 27 baris berbahasa
Sanskerta ini berisi peringatan pendirian bangunan suci Buddha, sehingga
dapat dikatakan bahwa kerajaan Malayu merupakan penganut Buddha.
Adityawarman mengeluarkan banyak prasasti yang umumnya berisi
masalah keagamaan, dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui bahwa
Adityawarman merupakan pemeluk agama Tantra.
Dalam prasasti Bukit Gombak II, isinya
menyebut beberapa hal adapula pujian terhadap Adityawarman seabagai
Sutatha gata bajradhaiya : sang Buddha yang luhur dan kokoh kuat, dan
pendirian sebuah biara yang lengkap dengan peralatannya.
Prasasti Rambatan menyebutkan bahwa Adityawarman menyediakan sebuah
tempat pemujaan sedangkan menterinya membuatkan atap pelindungnya.

HALAMAN 9

G. Akhir Sejarah

Menurut Prasasti Kedukan Bukit kerajaan Sriwijaya melakukan penaklukan atas
kerajaan Malayu. Prasasti itu menyebutkan bahwa penaklukan kerajaan Malayu
terjadi pada tahun 682, setelah kerajaan Sriwijaya runtuh, kerajaan Malayu kembali
menjadi kerajaan yang merdeka. Namun, beberapa waktu kemudian kerajaan
Malayu kembali ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit.

HALAMAN 10

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dan A.B. Lapian (Ed): 2012. Indonesia
dalam Arus Sejarah Jilid II: Kerajaan Hindu-Buddha. Jakarta:
PT Ichtiar Baru van Hoeve
Poesponegoro, Marwati D., Nugroho Notosusanto. 2008.
Sejarah Nasional Indonesia II Kerajaan Hindu-Buddha.
Jakarta: Balai Pustaka

HALAMAN 11

TEenbtoaonkg

Ebook ini di tulis untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Media Pembelajaran Bidang Studi yang disusun oleh
Nynsa Angelina Putri NIM 190210302042. Ebook ini
membahas mengenai Kerajaan Malayu yang bercorak
Hindu-Buddha. Pada abad XI nama kerajaan Malayu

muncul dengan nama Malayapura dengan nama
rajanya Suryanarayana yang bergelar Sri Maharaja.

Diketahui dari prasasti Ceylon antara lain
menyebutkan pembebabasn Ceylon dari penjajahan
Cola. Kerajaan Malayu Tua pada sekitar tahun 671

diserang dan ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya
sehingga pusat kerajaannya tergusur ke arah

pedalaman dan ibukotanya yang lama diduduki oleh
Sriwijaya.

Nynsa Angelina PuPtrei ndidikan Sejarah, Universitas Jember


Click to View FlipBook Version