EVALUASI HASIL BELAJAR
PROJECT
“PENERAPAN PENILAIAN AUTENTIK TERHADAP PROSES DAN HASIL
BELAJAR PADA KURIKULUM KKNI ”
Dosen Pengampu : Dr. Sugiharto,M. Si.
DI SUSUN OLEH KELOMPOK: 2
1. Andre Silaban (3203131026)
2. Reiza Mariati (3203331006)
3. Tria Enjelica (3203331038)
JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2022
DAFTAR ISI i
Daftar Isi………………………………………………………………………………
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ............................................................................................................1
2. Tujuan Penulisan. ........................................................................................................2
BAB II KERANGKA PEMIKIRAN………………………………………………. 3
BAB III PEMBAHASAN
1. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan ……………………………………………... 5
2. Solusi Yang Pernah Ditawarkan ...................................................................................
5
BAB IV PENUTUP 6
1. Kesimpulan ..............................................................................................................
i
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perguruan Tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berperan dalam
mengembangkan potensi peserta didik terutama pada disiplin ilmu tertentu. Standar
penilaian pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen
penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian adalah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
Prinsip penilaian mencakup prinsip edukatif, autentik, objektif, akuntabel dan
transparan yang dilakukan secara terintegrasi. Asesmen autentik adalah pengukuran yang
bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian,
pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata,
valid, atau reliabel. Dalam kehidupan akademik keseharian, frasa asesmen autentik dan
penilaian autentik sering dipertukarkan. Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian
autentik, tidak lazim digunakan.
Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara signifikan
dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan
asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru
menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati
dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Asesmen semacam ini cenderung berfokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual bagi peserta didik, yang memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan
kompetensi atau keterampilan yang dimilikinya. Contoh asesmen autentik antara lain
keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan
pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran, portofolio, memilih kegiatan yang
strategis, serta memamerkan dan menampilkan sesuatu. Asesmen autentik mengharuskan
pembelajaran yang autentik pula. Menurut Ormiston belajar autentik mencerminkan
tugas dan pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di luar sekolah.
Asesmen Autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran langsung
keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka
1
panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas- tugas
yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis
proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap,
keteampilan, dan pengetahuan yang ada.
Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi
dengan pendekatan saintifik, memahahi aneka fenomena atau gejala dan hubungannya
satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata
yang luar sekolah. Di sini, guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang
terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu
yang fleksibel, dan bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik pun
mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis,
mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian
mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
2. Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan
penilaian autentik terhadap hasil belajar pada kurikulum kkni.
2
BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN
Gagasan Ide yang Diajukan
Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana
peserta didik menerapkan pengetahuannya dan mampi menerapkan perolehan
belajar dan sebagainya.
Dalam penilaian autentik biasanya disebut dengan penilaian responsif, suatu
metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang
miliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu,
memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Penilaian autentik dapat
juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan
pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran.
Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta
didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar
bagaimana belajar tentang subjek.
Menggunakan metode Penilaian Autentuk pada hasil belajar ini bermanfaat
langsung terhadap mahasiswa untuk mengetahui perkembangan sikap
keterampilan dan pengetahuannya. Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik
yang baik, guru harus memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru
harus bertanya pada diri sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, keterampilan,
dan pengetahuan apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya,
berkaitan dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan; dan (3) tingkat pengetahuan
apa yang akan dinilai, seperti penalaran, memori, atau proses.
Teknik Implementasi yang Akan Dilakukan
Agar penilaian ini terimplementasikan maka diperlukan kerjasama antara
guru dengan siswa karena jika tidak ada kerjasam maka seorang guru akan susah
untuk menilai siswa tentang perkembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan,
dimana pada jaman yang sekarang ini siswa yang sebagian besar malas untuk
belajar. Untuk itu diperlukanlah seorang guru untuk membuat suatu pembelajaran
menjadi menyenangkan agar siswa dapat aktiv dan guru pun tidak
3
kesulitan lagi dengan memberikan nilai pada akhir semester.
Prediksi keberhasilan ini akan sepenuhnya berhasil jika terdapat kolaborasi
kerjasama yang efektif antara guru dan siswa . Karena kita tahu sebelumnya
bahwasanya siswa pada jaman yang sekarang ada sebagian besar yang malas utuk
belajar jika guru tidak menuntaskan ini bagaimana dengan penilaiannya yang ada
pada siswa tersebut akan tidak valid saat hitung seluruh jumlah nilainya.
BAB III
4
PEMBAHASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Mengingat kondisi yang sudah mengikuti kurikulum KKNI tidak hanya
mahasiswa saja yang harus diberi penilaian, seorang dosen pun juga harus diberi
penilaian karena jika seorang dosen memberi nilai terhadap mahasiswa sedangkan
dosen itu sendiri tidak memahami penilaian autentik maka akan terjadi juga
penilaian yang tidak valid, untuk itu permasalahan yang seperti ini harus benar-
benar di tuntaskan. Ada beberapa permasalahan yang benar-benar dirasakan para
dosen ketika mengerjakan penilaian kurikulum KKNI ini. Permasalahan tersebut
antara lain pertama, rumitnya penilaian karena disamping harus mngolah nilai
dalam bentuk angka, berakhir pula dalam bentuk deskripsi yang begitu banyaknya.
Penilaian yang dilakukan dosen tidak hanya pengetahuan saja, melainkan melalui
keterampilan dan sikap. Dengan memberikan nilai kepada ke 6 tugas yang telah
ditetapkan dalam kurikulum KKNI memberikan sedikit kesulitan kepada dosen
guna memberi penilaian terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Tugas – tugas
tersebut terdiri dari Tugas Rutin, Critical Book report, Critical Jurnal Review,
Miniriset, Rekayasa Ide dan Project.
Dengan memberikan nilai terhadap tugas-tugas tersebut ditambah dengan
banyaknya mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, membuat dosen mengalami
kesulitan dalam memberikan penilaian autentik yang terjadi pada saat proses
pembelajaran guna mendapatkan hasil belajar mahasiswa.
Solusi yang Pernah Ditawarkan
Sampai saat ini sudah banyak solusi yang dilakukan dengan peningkatan
pengetahuan tentang penilaian autentik pada proses pembalajaran dikelas agar ,
dimana seorang dosen sangat berperan aktif dalam penilaian perkembangan
mahasiswanya baik keterampilan, sikap dan pengetahuannya. pada seorang dosen
juga harus memahami penilaian autentik itu sendiri agar tidak terjadi kesalahan
pada nilai akhir untuk setiap para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan.
5
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan
Penilaian otentik yang mencakup nilai kognitif, afektif dan psikomotor perlu
diterapkan pada setiap pembelajaran untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran
secara utuh. Pada mata kuliah IPS terpadu sudah diterapkan penilaian otentik dalam
bentuk penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian produk, penilaian tulis dan penilaian
sikap. Namun penilaian ini belum mencakup penilaian portofolio dan penilaian diri oleh
mahasiswa dan masih perlu dikembangkan.
Asesmen autentik adalah komponen penting dari reformasi pendidikan sejak
tahun 1990an. Wiggins (1993) menegaskan bahwa metode penilaian tradisional untuk
mengukur prestasi, seperti tes pilihan ganda, benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain
telah gagal mengetahui kinerja peserta didik yang sesungguhnya. Tes semacam ini telah
gagal memperoleh gambaran yang utuh mengenai sikap, keterampilan, dan pengetahuan
peserta didik dikaitkan dengan kehidupan nyata mereka di luar sekolah atau masyarakat.
6
DAFTAR PUSTAKA
http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/geo
http://media.penelitian.com/publications/pdf
www.academia.education/asesmen_proses_dan_hasil_belajar_mahasiswa//
7