The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sitihk1983, 2022-07-27 15:46:25

lk presentasi (1)

lk presentasi (1)

LK 1.2
IDENTIFIKASI MASALAH

OLEH

SITI HALIMAH KURNIASIH

Masalah Yang Hasil Eksplorasi Penyebab Masalah Analisis
No Telah Eksplorasi
Penyebab Masalah
Diidentifikasi

1 Kurangnya Kajian Literatur Setelah melakukan

motivasi belajar analisis berdasarkan
siswa pada
materi ikatan Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling kajian literatur dan
Kimia berkaitan dan memiliki daya pengaruh yang kuat satu
dengan yang lain. Motivasi belajar muncul karena adanya wawancara maka
faktor intrinsik, yaitu berupa hasrat dan keinginan untuk
berhasil serta dorongan kebutuhan belajar. Faktor disimpulkan penyebab
ekstrinsiknya yaitu adanya pengakuan terhadap
lingkungan belajar yang kondusif, nyaman dan menarik. rendahnya kemampuan
Motivasi belajar pada hakikatnya adalah dorongan internal
dan eksternal pada siswa dengan indikator-indikator yang motivasi belajar siswa

pada mata pelajaran

kimia pada materi

ikatan kimia adalah :

mendukung. Dorongan semacam inilah yang memiliki 1. Guru kesulitan
peran besar untuk keberhasilan seseorang dalam belajar dalam menentukan
(Uno. 2011 : 140). model pembelajaran

https://creatormedia.my.id/penjelasan-indikator- yang menarik

motivasi-belajar-menurut-uno/ 2. Guru kurang

Berdasarkan keputusan SPM, terdapat ramai pelajar yang memberi motivasi
masih keliru menjawab soalan – soalan ringkas berhubung dalam pembelajaran
topik ikatan kimia. Antara kesilapan yang sering dilakukan 3. Siswa kurang paham
oleh pelajar dalam menjawab soalan-soalan peringkat SPM dalam menuliskan
adalah tidak dapat menulis susunan elektron bagi ikatan konfigurasi elektron
ion dan ikatan kovalen yang terbentuk, tidak dapat yang benar
melukis gambarajah susunan elektron bagi menunjukkan 4. Siswa kurang paham
pembentukan ikatan ion dan ikatan kovalen disamping dalam
membuat gambarajah mental tentang pembentukan menggambarkan
kedua-dua ikatan ini. Selain itu, pelajar masih keliru untuk struktur lewis
membezakan ikatan ion dan ikatan kovalen dan sifat-sifat 5. Siswa kurang paham
sebatian kovalen dan sebatian ion. Berasaskan kepada dalam menentukan
keadaan inilah pengkaji ingin membuat penyelidikan yang elektron valensi

bertujuan untuk mengenal pasti masalah pembelajaran 6. Siswa kurang paham

pelajar mengenai konsep ikatan kimia dalam konteks dalam menentukan

penyelesaian masalah. (Handoko, 2016) kestabilan atom

https://core.ac.uk/download/pdf/11786907.pdf

Kesulitan utama siswa dalam mempelajari ikatan kimia
bersumber pada karakteristik konsep kimia yang abstrak
sehingga menyebabkan siswa mengalami miskonsepsi.
Pengetahuan prasyarat yang menjadi pangkal penyebab
miskonsepsi adalah penentuan teori-teori atom, sifat-sifat

unsur dalam tabel teriodik unsur, kestabilan unsur,
konfigurasi elektron, elektron valensi dan struktur lewis.
(Yuliati dan Djoyosoediro, 2008)

Indra Djati Sidi dalam Cope (2002), menegaskan bahwa
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, setiap
pembelajar harus dapat menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan, suasana interaksi pembelajaran
yang hidup, mengembangkan media yang sesuai,
memanfaatkan sumber belajar yang sesuai, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi dalam proses
pembelajaran, dan lingkungan belajar di kelas yang
kondusif.

https://www.kajianpustaka.com/2022/01/motivasi-belajar-pengertian-
fungsi.html

Hasil kajian literatur:

Siswa kurang bisa menuliskan konfigurasi elektron secara
benar

Siswa kurang paham dalam menentukan elektron valensi

Siswa kurang bisa mengambarkan struktur lewis secara
benar

Siswa tidak dapat menentukan kestabilan atom

Siswa masih keliru untuk membedaakan ikatan ion dan
ikatan kovalen

Siswa masih keliru untuk membedaakan sifat-sifat
senyawa kovalen dan senyawa ion

Suasana belajar tidak menyenangkan

Interasi pembelajaran kurang hidup

Media pembelajaran kurang sesuai

Sumber belajar yang kurang sesuai

Kurang memotivasi siswa

Lingkugan belajar yang tidak kondusif

Wawancara dengan guru
Kurang aktifnya siswa saat pembelajaran
Kesulitan guru menentukan model pembelajaran yang
sesuai dengan materi ikatan kimia
Sebagian siswa tidak dapat menuliskan konfigurasi
elektron secara benar
Siswa tidak dapat mengambarkan struktur lewis secara
benar
Siswa tidak dapat membedakan ikatan ion dengan ikatan
lainnya

Siswa tidak dapat menjelaskan sifat senyawa ion
Siswa tidak dapat menentukan elektron valensi

Siswa tidak dapat menentukan kestabilan atom
Kesulitan menentukan media pembelajaran yang sesuai

Wawancara dengan siswa
Kurang paham menuliskan urutan konfigurasi elektron

Kurang paham dalam mengambarkan struktur lewis

Kurang paham dalam menentukan elektron valensi
Kurang dapat menentukan kestabilan atom
Kurang paham dalam membedakan ikatan ion dengan
ikatan lainnya
Kurang memahami sifat senyawa ion

Pembelajaran kurang menarik

Monoton (ceramah)

Kurang memberi motivasi

Intonasi suara guru kecil

Wawancara dengan Kepala Sekolah

Guru kurang menguasai materi

Guru kurang menggunakan model pembelajaran yang
menarik

Wawancara dengan Ketua MGMP

Kurang aktifnya siswa saat pembelajaran

Kesulitan guru menentukan model pembelajaran yang
menarik sesuai dengan materi ikatan kimia

Sebagian siswa tidak dapat menuliskan konfigurasi
elektron secara benar

Siswa tidak dapat mengambarkan struktur lewis secara
benar

Siswa tidak dapat menentukan elektron valensi

Siswa tidak dapat menentukan kestabilan atom

Siswa tidak dapat membedakan ikatan ion dengan ikatan
lainnya

2 Guru belum Kajian Literatur Setelah melakukan

maksimal dalam analisis berdasarkan

penguasaa Di era globalisasi seperti sekarang ini guru di tuntut untuk kajian literatur dan

teknologi pada dapat menggunakan TIK dalam proses pembelajaran untuk wawancara maka

pembelajaran menambah wawasan serta dapat membatu guru dalam disimpulkan penyebab

menambah bahan ajar. dengan adanya penggunaan TIK Guru belum maksimal

dalam proses pembelajaran, data data hasil penelitian dalam penguasaa

dapat simpulkan problem/kendala yang terjadi dalam teknologi pada

penggunaan TIK di sekolah seperti: menguras waktu, pembelajaran adalah :

terbatasnya jumlah infokus, siswa kurang fokus terhadap

materi, tidak tersedianya jaringan internet dan tidak 1. Kurangnya pelatihan

tersedianya layar infokus. (Ningsih, 2017) guru dalam

https://www.researchgate.net/publication/341138202_PROBLEMATIKA_GURU pemanfaatan teknologi
_DALAM_MENGGUNAKAN_TEKNOLOGI_INFORMASI_DAN_KOMUNIKASI_TIK_D pada pembelajaran
AN_IMPLIKASINYA_DI_SEKOLAH_DASAR

Berdasarkan hasil analisis data, kendala yang dihadapi guru 2. Sarana prasarana
dalam menerapkan model pembelajaran diantaranya yang terbatas dimiliki
adalah dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP ) sekolah, guru harus
guru kurang memahami langkah- langkah pembelajaran bergantian dengan
sesuai sintak yang ada pada model pembelajaran. Sehingga dengan guru yang lain
guru kurang mampu dalam menstimulus siswa untuk dalam penggunaan
menemukan sendiri masalah yang ada pada materi peralatan teknologi dan
pembelajaran, pengelolaan dan pengawasan kelas guru akan memakan waktu
kurang mampu mengarahkan siswa yang kurang pintar yang lama dalam
untuk terlibat aktif dengan bekerjasama dalam kelompok, persiapan
terkendala dalam menyediakan alat dan bahan jika pembelajaran.
diperlukan dalam melakukan proyek, dan guru kurang
menyiasati waktu yang tersedia.Simpulan penelitian ini
adalah pengelolaan dan pengawasan kelas yang tidak
dapat berjalan dengan maksimal dan ketidakaktifan siswa
dalam proses pembelajaran.( Indah, 2017)

https://www.neliti.com/publications/188143/kendala-guru-
dalammenerapkan-model-pembelajaran-pada-pembelajaran-tematik-
berdas

Masalah yang lain di era globlalisasi ini salah satunya
adalah penguasaan teknologi informasi (TIK) oleh para
bapak dan ibu guru (Tanti,2016)

Menurut Arifin (2000), guru yang profesional
dipersyaratkan mempunyai;5 1) dasar ilmu yang kuat
sebagai pengeja dan tahan terhadap masyarakat teknologi
dan masyarakat ilmu pengetahuan di era globalisasi, 2)
penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis
pendi-dikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis
bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka.
https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/6024/1/0939110
69.pdf

Hal ini sesuai dengan tulisan Surani (2019), pendidik harus
meng-upgrade kompetensi dalam menghadapi era
Pendidikan

https://gitablog.id/guru-dalam-meningkatkan-
penguasaan-teknologi/

Penelitian menunjukkan persepsi calon guru terhadap
TPACK sangat dipengaruhi oleh pengalaman mengikuti
perkuliahan terkait pengetahuan tentang teknologi dan
pengetahuan tentang pedagogi dan teknologi (Koh, et.al,
2013)

https://www.maxtrimus.com/2022/02/download-modul-
ppg-2022-pedagogik-dan.html

Hasil kajian literatur

Guru memerlukan waktu yang banyak dalam persiapan
pembelajaran

Guru kurang memahami sintak yang ada dalam model
pembelajaran

Sarana prasarana yang terbatas dimiliki sekolah

Guru kurang meningkatkan kompetensinya untuk
peningkatan pembelajaran

Wawancara dengan kepala sekolah

waktu yang diperlukan guru harus banyak dalam
mempersiapkan pembelajaran

Guru kurang memahami model pembelajaran yang
menarik

Sarana dan prasarana yang terbatas dimiliki sekolah

Kurang melatih diri dalam menggunakan teknologi dalam
pembelajaran

Wawancara dengan guru

Kurang berlatih secara mandiri

Kurang memahami materi yang sesuai dengan teknologi
yang ada

Kurang mendukungnya sarana dan prasarana sekolah

Membutuhkan waktu yang lama dalam persiapan
pembelajaran

Wawancara dengan siswa

Pembelajaran kurang menarik

Monoton

Lama dalam melakukan persiapan pembelajaran

Kurang berinteraksi dikelas

Wawancara dengan ketua MGMP

Guru kurang mengikuti pelatihan tentang penerapan
teknologi dalam pembelajaran

Guru kurang percaya diri dalam menggunakan teknologi
dalam pembelajaran

Sarana dan prasarana sekolah yang kurang mendukung

Guru kurang memahami materi

3 Rendahnya Kajian Literatur Setelah melakukan

pengetahuan analisis berdasarkan

guru dalam Joice dan Well mengemukakan ada lima unsur penting kajian 8iterature dan

penerapan yang menggambarkan suatu model pembelajaran, antara wawancara maka

model-model lain:39 a. Sintaks yakni suatu urutan pembelajaran yang disimpulkan penyebab

pembelajaran biasa disebut fase; b. Sistem 8itera yakni peran siswa dan Rendahnya

dikelas guru serta norma yang diperlukan; c. Prinsip relaksi yakni pengetahuan guru

memberikan gambaran guru tentang cara memandang dan dalam penerapan

merespon apa yang dilakukan siswa; d. Sistem pendukung model-model

yakni kondisi atau syarat yang diperlukan untuk pembelajaran dikelas

terlaksananya suatu model, seperti setting kelas dan 8itera adalah :

intruksional; e. Dampak instruksional dan dampak

pengiring. Dampak instruksional adalah hasil belajar yang 1. Guru kesulitan

dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pelajar menentukan model

pada tujuan yang diharapkan. Sedangkan dampak pembelajaran yang

pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan pada menarik

proses belajar mengajar, sebagai terciptanya suasana

belajar yang digalami lansung oleh para pelajar tanpa 2. Guru kurang

arahan langsung dari guru. Jadi kesimpulannya unsur-unsur menguasai materi

pembelajaran

dari model pembelajaran meliputi sintaks, 9itera soosial,
prinsip relaksi, 9itera pendukung, dampak insruksinal.

Arends (1997) Istilah model pembelajaran mengarah pada
pendekatan tertentu terhadap instruksi yang terdiri dari
tujuan, sintaks (pola urutan atau alur), lingkungan, dan
9itera pengelolaan secara keseluruhannya.Menurut Joyce
& Weil, adalah suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk sebuah kurikulum,
merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau lingkungan belajar lainnya.
https://wartaguru.id/model-pembelajaran-menurut-para-ahli/)

Dengan demikian, guru mampu menentukan kapan
menggunakan alat-alat digital dan memperhatikan
dampaknya dalam pembelajaran. Pedagogi digital
memposisikan digital di bawah pedagogi, seperti dikatakan
Liz Kolb, “learning first, technology second” (2017).

Perlu dicermati guru, beberapa karakteristik pedagogi
digital, yakni menyatukan teori dan praktik, membuat dan
berpikir; menumbuhkan kreativitas, permainan, dan
pemecahan masalah; mendorong partisipasi, kolaborasi,
dan keterikatan 9itera; bertujuan meningkatkan
pemahaman kritis terhadap lingkungan digital (Lisa Spiro,
2013).

https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pembelajaran-
inovatif-1/

Hasil Kajian Literatur

Guru tidak memahami fase/sintak pembelajaran

Guru kurang menumbuhkan keaktifan pada siswa dalam
pembelajaran

Guru kurang melakukan motivasi pada siswa

Guru kurang emmahami materi

Guru kurang memberikan respon terhadap apa yang
dilakukan siswa

Guru kurang memahami dalam pengelolaan kelas

Guru tidak menampilkan pembelajaran yang menarik

Wawancara dengan guru

Kurang menguasai materi

Kurang memahami model pembelajaran yang cocok
dengan materi yang disajikan

Tidak mau repot (memerlukan waktu yang banyak)

Kurang memahami pengelolaan kelas

Kurang menampilkan pembelajaran yang menarik

Wawancara dengan siswa

Bagaimana Pembelajaran di dalam kelas?

Pembelajaran kurang menarik

Monoton

Kurang interaksi dengan siswa

Wawancara dengan kepala sekolah

Guru kurang menguasai materi

Guru kurang mencari 10iterature tentang model-model
pembelajaran

Guru kurang mengikuti pelatihan tentang model
pembelajaran

Wawancara dengan ketua MGMP

Guru kurang memahami materi yang disajikan

Guru kurang mau mengembangkan dirinya dengan
mengikuti pelatihan tentang model pembelajaran

4 Kurangnya Kajian literatur Setelah melakukan
analisis berdasarkan
pemahaman kajian pustaka dan

guru dalam

materi berbasis Resnick (1987) memberikan definisi keterampilan berpikir wawancara maka
HOTS tingkat tinggi yaiitu proses berpikir kompleks dalam
menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun disimpulkan penyebab
representasi, menganalisis, dan membangun hubungan
dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. Kurangnya pemahaman

file:///C:/Users/User/Downloads/HOTS%20dalam%20Pembelajaran%2 guru dalam materi
0%20Keterampilan%20Berpikir%20Tingkat%20Tinggi%20-.html
berbasis HOTS adalah :
Faktor-faktor yang mempengaruhi HOTS antara lain:
lingkungan kelas, karakteristik keluarga, karakteristik 1. Kurangnya pelatihan
psikologis, dan kecerdasan (Horan, 2007; Silvia, 2008; bagi guru tentang
Pannells & Claxton, 2008; Lim & Smith, 2008; Chini, pembelajaran HOTS
Charmichael, Robello & Puntambekar, 2009; Pascarella,
Wang, Trolian & Blaich, 2013; Fearon, Copeland & Saxon, 2. Kurang memahami
2013; Lather, Jain & Shukla, 2014). materi yang cocok
dengan pembelajaran
HOTS

file:///C:/Users/User/Downloads/HOTS%20dalam%20Pembelaj
aran%20-
%20Keterampilan%20Berpikir%20Tingkat%20Tinggi%20-.html

Pemerintah menginginkan sekolah dapat mencetak lulusan
yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi
(HOTS) (Widodo, 2013). Berpikir tingakt tinggi kalau dilihat
dari level taxonomy bloom adalah berpikir yang sudah
masuk pada level menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan
mengkreasi (C6) (Mufida Noviana, 2016).

https://journal.trunojoyo.ac.id/pangabdhi/article/view/7101

Hasil Kajian literatur

Lingkungan dalam kelas tidak kondusif

Karakteristik awal siswa yang kurang

Karakteristik psikologi siswa yang kurang

Kurangnya kecerdasan siswa

Wawancara dengan guru

Kurang memahami apa itu HOTS

Kurang memahami materi yang cocok dengan
pembelajaran HOTS

Literatur yang kurang tentang pembelajaran HOTS
Kurangnya pelatihan tentang pembelajaran HOTS
Wawancara dengan siswa
Pembelajaran kurang menarik
Monoton
Guru kurang menimbulkan daya saing
Wawancara dengan kepala sekolah
Materi HOTS menurut guru lebih sulit
Guru kurang mengikuti pelatihan tentang HOTS
Literatur tentang HOTS kurang ada
Materi yang kurang dipahami
Wawancara dengan ketua MGMP
Guru kurang mengikuti pelatihan tentang HOTS
Kurangnya referensi tentang materi HOTS
Menurut guru materi HOTS sulit
Guru kurang memahami materi

5. Kurangnya Kajian literatur Setelah melakukan

pemahaman analisis berdasarkan

siswa terhadap Miskonsepsi yang terjadi pada diri siswa disebabkan kajian literatur dan

pengisian karena terjadinya, proses asimilasi berbekal dari wawancara maka

konfigurasi pengetahuan prasyarat yang tidak tepat. disimpulkan penyebab

elektron kurangnya pemahaman

https://sg.docworkspace.com/d/sIMzXuf2sAcjT_ZYG siswa terhadap

pengisian konfigurasi

elektron adalah :

Bagaimana pengisisan elektron ke dalam orbital ? Guru kurang
pengisian elektron mengikuti aturan dengan menggunakan model
memperhatikan tiga hal, yaitu asas Aufbau, asas larangan pembelajaran yang
Pauli, dan asas Hund”. (Partana,C.F dan Wiyarsi, A., menarik
2009:11)
Kurangnya
Konfigurasi elektron dalam atom mengambarkan lokasi pengetahuan tentang
semua elektron menurut orbital-orbital yang ditempati. pengisian elektron
Pengisisan elektron dalam orbital-orbital mengikuti atura- menurut asas Aufbau
aturan berikut.(Harnan A. Dan Ruminten, 2009:12)
Kurangnya
Untuk atom berelektron banyak pengisian mengikuti pengetahuan tentang
aturan aufbau, yaitu dimulai dari tingkat energi yang lebih pengisian elektron
rendah kemudian mengisis tingkat energi menurut larangan Pauli
berikutnya..”(Fauziah n., 2009:6)
Kurangnya
https://isma- pengetahuan tentang
chemistry.blogspot.com/2014/03/miskonsepsi-materi- pengisian elektron
konfigurasi-elektron.html menurut asas Hund

Solusi dalam mengatasi masalah miskonsepsi siswa adalah
dengan cara mengidentifikasi miskonsepsi yang terjadi
pada diri siswa (Muchtar dan Harrizal, 2012). Identifikasi
miskonsepsi adalah langkah pertama untuk mencegah
kesalahpahaman dalam pembelajaran kimia. Kiat yang
tepat untuk membantu siswa mengatasi miskonsepsi
adalah mencari bentuk kesalahan yang dimiliki siswa itu,
mencari sebab-sebabnya, dan menemukan cara yang
sesuai untuk mengatasi miskonsepsi tersebut (Yuliati dan
Djoyosoediro, 2008)

https://sg.docworkspace.com/d/sIMzXuf2sAcjT_ZYG

Hasil kajian literatur

Konsep kimia yang abstrak

Proses asimilasi berbekal dari pengetahuan prasyarat yang
tidak tepat

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut asas Aufbau

Kurangnya pengetahuan tentang pengisianelektron
menurut larangan Pauli

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut asas Hund

Wawancara dengan guru

Siswa kurang aktif saat pembelajaran konfigurasi elektron

Daya nalar siswa tentang penulisan konfigurasi elektron
rendah

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut asas Aufbau

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut larangan Pauli

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut asas Hund

Wawancara dengan siswa

Pembelajaran kurang menarik

Belum paham dalam penulisan konfigurasi elektron

Kurang memahami 3 asas dalam pengisian elektron

Wawancara dengan Kepala Sekolah

Guru kurang menggunakan model pembelajaran yang
menarik

Guru kurang memotivasi siswa dalam pembelajaran

Wawancara dengan ketua MGMP

Prasyarat awal yang tidak dipahami siswa dengan baik

Tidak menuliskan konfigurasi elektron dengan baik

Kurangnya pengetahuan tentang pengisian elektron
menurut asas Aufbau, larangan Pauli, asas Hund


Click to View FlipBook Version