BAB 1
Kearifan Lokal dan Perannya Sebagai Interseksi Pendidikan-Masyarakat
Oleh:
Daniel Adrian Hartanto
Adrian Bernard Lapian dalam bukunya berjudul Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut
(2009) seolah menegaskan kembali persepsi masyarakat Indonesia dalam memandang
negaranya sebagai sebuah negara kepulauan (archipelagic state) yang kerap kali dimaknai
dengan salah kaprah. Indonesia dengan identitasnya sebagai sebuah negara kepulauan
semestinya dipandang sebagai sebuah negara laut yang ditaburi pulau-pulau, bukan negara
pulau-pulau yang dibatasi oleh laut. Apa yang disampaikan oleh Adrian Lapian ini
menyiratkan seberapa vital identitas Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan. Karena
nyatanya konsepsi tersebut turut membentuk Indonesia dalam berbagai aspek, dimensi, dan
perspektif terkhusus dalam benak masyarakatnya.
Keberagaman kultural adalah salah satu konsekuensi logis dari kondisi tersebut.
Situasi yang kemudian dipatronasi pula oleh perjalanan panjang sejarah bangsa ini.
Heterogenitas menjadi hal yang banyak dijumpai di berbagai lini kehidupan masyarakat
Indonesia. Demi mempertahankan eksistensi diversitas yang ada, mutu manusia sebagai
subjek pemberdaya menjadi modal bangsa yang paling fundamental. Kualitas suatu
masyarakat tidak timbul secara ndilalah nan ujug-ujug, melainkan melalui suatu sistem
“pemutakhiran” manusia yang disebut pendidikan. Masyarakat dan pendidikan adalah dua
hal yang tidak boleh dan tidak bisa dipisahkan, khususnya ketika membahas keberlanjutan
kebudayaan. Sayangnya, merelasikan pendidikan dan masyarakat tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Norma-norma yang dianut masyarakat kerap membatasi
kehidupan terhadap terangnya dunia pendidikan.
Pendidikan, khususnya pada konteks formal, memang mayoritas tampil kontras
dengan tradisi yang tumbuh. Tentu konsekuensi yang timbul adalah tuduhan bahwa
pendidikan dan kurikulum adalah hal yang tidak relevan, khususnya bagi mereka yang masih
kental akan simbol-simbol kultural. Jawaban atas problematika tersebut dapat dijumpai ketika
kearifan lokal ditempatkan sebagai interseksi di antara keduanya. Kearifan lokal sebagai
suatu yang dipahami betul dalam masyarakat menjadi jawaban strategis atas persoalan klasik
nan akut tersebut. Perannya sederhana walau esensial, menjembatani masyarakat terhadap
proses pendidikan. Kearifan lokal berperan dalam merekonstruksi pemahaman masyarakat
lokal yang memposisikan diri sebagai musuh kurikulum. Metodologi yang digunakan tentu
berpusat pada pendidikan berbasis kearifan lokal. Maka paradigma masyarakat berkembang;
belajar dari budaya dan untuk budaya. Contoh konkretnya misal dalam diagram di bawah
yang menjelaskan kearifan lokal sebagai interseksi antara tradisi dan pendidikan.
Tradisi Kearifan Pendidikan
(Kepercayaan
Nenek Lokal (Doktrin Anti-
Moyang) takhayul)
Gambar 1.1: Diagram relasi antara pendidikan, tradisi, dan kearifan lokal. (Sumber:
Pribadi).
Konsep semacam itu bukan lagi konsep yang baru dalam dunia pendidikan Indonesia,
perspektif sejarah menyiratkan hal tersebut yang akan diulas dalam bab kedua. Berbagai
gerilyawan pendidikan telah menyuarakan hal tersebut, walau gemanya mungkin belum
terdengar. Walaupun demikian, setidaknya gerak langkah dari teman-teman gerilyawan
pendidikan telah membuka preferensi baru dalam mempersentuhkan pendidikan dalam
berbagai peradaban yang ada. Gerakan tersebut yang patut untuk diulas dan dikaji, khususnya
ketika meramu langkah dalam meneroka implikiasi-implikasinya. Lantas pertanyaan seputar
aktualisasi dari gagasan tersebut terus-menerus bermunculan, berikut paparannya.
A. Pertama, Kain Tradisional Sebagai Media Pembelajaran di Sumba, Nusa Tenggara
Timur
Dilansir dari penelitian berjudul Kain Tenun Sebagai Media Pembelajaran IPS di
Sekolah Dasar (Pingge & Haingu, 2020), pendidik di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT)
kerap menggunakan kain ikat bermotif flora dan fauna sebagai media ilustrasi ketika
mengenalkan siswa sekolah dasar (SD) terhadap biodiversitas hewan dan tumbuhan
Indonesia. Diketahui kain tenun ikat sendiri merupakan kain tradisional khas Sumba yang
dihasilkan melalui proses tenunan secara tradisional. Tidak heran, proses produksinya
dibutuhkan waktu lama, berdampak pula dengan harganya yang tidak murah. Motif-motif
yang terdapat di kain tersebut adalah objek-objek yang dekat dengan kehidupan masyarakat
Sumba. Alam, flora, dan fauna adalah contohnya. Di luar itu, motif yang terinspirasi melalui
proses akulturasi budaya juga dapat dijumpai, misalnya motif naga dari pedagang China.
Bicara soal warna, versi asli kain tenun ikat Sumba ini hanya menggunakan bahan alami
Gambar 1.2 Motif rusa dalam kain tenun ikat khas NTT (Sumber:
https://journal.uny.ac.id/index.php/jipsindo/article/view/30845).
sebagai pewarnanya, meski kini banyak perajin yang menggunakan pewarna sintetis.
Proses pembelajaran dilakukan dengan menggugat pemahaman siswa terhadap apa
yang terlukis dalam motif kain. Jawaban atas gugatan tersebut yang kemudian dikorelasikan
dengan berbagai materi dan disiplin ilmu. Pendidikan berbasis kain tersebut dapat terjadi
karena objek pendidikan, yaitu siswa, yang begitu dekat dengan kearifan lokal berupa kain.
Kembali, gagasan dalam paragraf ketiga terbukti dalam kasus ini. Di sini kain sebagai
jembatan dalam memantik keingintahuan siswa, menggugatnya, dan membuktikannya.
Dengan demikian, siswa, terlebih di usia SD, menjadi relevan terhadap ilmu yang ia pelajari.
B. Kedua, Memahami Matematika Berbasis Alam Sekitar
Achmad Ferzal dalam salah satu monolognya di kanal YouTube Bukalapak
menceritakan bagaimana langkahnya dalam bergerilya bersama guru-guru hebat negeri ini.
Salah satu yang ia bagikan kisahnya adalah Pak Wendel, guru yang mengajar di SD
Nataweru, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Alam di sekitar sekolah yang banyak
ditumbuhi pohon kelapa menginspirasi Pak Wendel untuk melibatkan kelapa tersebut sebagai
media pembelajarannya. Pak Wendel menjadikan kelapa sebagai media dalam mengajar
penjumlahan dasar kelas 1 SD. Tentu siswa menyambut antusias metode tersebut, terlebih
bagi mereka yang notabene baru bersentuhan dengan dunia hitung-menghitung.
Gambar 1..3 Pak Mendel dan siswa-siswi SD Nataweru dalam menggunakan
kelapa sebagai media pembelajaran (Sumber: Achmad Ferzal - Pendidikan Berbasis
Kebudayaan Lokal | BukaTalks).
Masih dalam konsep serupa, guru di SDN 11 Taliwang, Nusa Tenggara Barat,
bernama Ludya Mirsafa mengajarkan matematika bab bilangan bulat kepada anak-anak kelas
6 SD dengan media permainan Tangkel Ion dari batok kelapa. Permainannya mudah. Terdiri
dari dua deret tangkel (batok kelapa), di mana satu deretnya untuk batu hitam (bilangan
Gambar 1.4 Permainan Tangkel Ion dari batok kelapa sebagai media pembalajaran
bilangan bulat (Sumber: https://www.inovasi.or.id/id/practices/tangkel-ion-media-
pembelajaran-dari-batok-kelapa-karya-guru-di-sumbawa-barat-ntb/).
negatif) dan deret lain untuk batu putih (bilangan positif). Setiap batoknya dapat diisi satu
batu, dan jawabannya adalah batok yang tidak memiliki pasangan.
Cara belajar demikian lagi-lagi bertujuan menciptakan pembelajaran yang relevan
bagi siswa. Di sisi lain, terdapat manfaat tersirat ketika pola pendidikan berhulu pada alam
sekitar; terciptanya promosi tidak langsung terhadap kelestarian ekosistem. Dalam konteks
ini, pengenalan terhadap eksistensi kelapa menjadi melekat dalam pemahaman siswa. Kelapa
sebagai salah satu tanaman pangan di Indonesia memang pantas untuk dipromosikan secara
masif dalam negara produsen terbesarnya ini. Pemasaran yang dilakukan dapat dilakukan
secara langsung, tidak langsung, atau online yang menggantungkan teknologi digital.
Pembelajaran berbasis kelapa adalah salah satu strategi dalam promosi kelapa yang target
pasarnya adalah generasi muda. Strategi yang digunakan juga tidak bisa berdampak instan,
mengingat promosi tersebut yang bersifat long term marketing. Secara tidak langsung, intuisi
dan kepedulian pemuda terhadap kelapa, yang notabene menjadi salah satu kearifan lokal
menjadi terbangun. Gertakan semacam ini apabila dilakukan secara konsisten dan
menyeluruh akan menimbulkan ketahanan pangan yang yahud di Indonesia.
C. Ketiga, Pendidikan Karakter Suku Migani, Papua, Berbasis Kristologi Peagabega
Kleopas Sondegau dalam Kristologi dalam Konteks Kebudayaan Suku Migani di
Papua (2017) menjelaskan bahwa Suku Migani semula menganut kearifan lokal (nilai) yang
tercermin dalam sosok Peagabega. Tokoh Peagabega sendiri dianggap sosok yang ideal dan
sempurna, sehingga ia diimani dan diamini karya dan keberadaannya di kalangan masyarakat
Migani. Pendidikan karakter bagi generasi muda Migani yang dimulai dari keluarga
senantiasa terpusat pada karya, ajaran, dan kepahlawanan Peagabega. Maka, Peagabega di
sini berperan sebagai orientasi keilmuan, karakter, hingga pengajaran masyarakat Migani.
Ketika ajaran Kristiani menyentuh Suku Migani, orientasi tersebut berubah. Berubah di sini
bukan berarti digantikan, namun justru dilengkapi. Yesus yang mulai mereka kenal kemudian
diidentikkan dan diimani sama dengan sosok Peagabega. Mengapa? Berdasar berbagai
literatur, nyatanya garis besar kisah perjalanan dari Peagabega hampir serupa dengan kisah
Yesus dalam Alkitab. Perhatikan tabel di bawah ini untuk mengetahui persamaan sifat yang
terjadi.
Tabel 1.1 Persamaan riwayat Yesus Kristus dan Peagabega (Sumber: Kristologi
dalam Konteks Kebudayaan Suku Migani di Papua, Kleopas Sondegau).
Kondisi yang terjadi tersebut tentu memicu masyarakat untuk melegitimasi bahwa
Peagabega adalah Yesus Kristus sendiri. Alhasil, ajaran Kristiani yang menjadi tonggak
kepercayaan mereka nyatanya masih dipandang dengan kearifan lokal setempat. Kondisi
demikian tentunya tidak dapat diterima oleh berbagai pihak. Pencampur-adukkan antara
agama dan kearifan lokal menjadi sesuatu yang kerap dicap sebagai ajaran haram, aliran
sesat, dan berbagai label lainnya. Kembali, hal fundamental seputar boleh-tidaknya beragama
dalam bingkai nilai-nilai lokal terus dipertanyakan dan digugat. Sebagai umat Kristiani,
jawaban atas persoalan tersebut bisa dijumpai melalui kehidupan Yesus dalam kitab suci.
Pertama, Yesus yang menentang kebudayaan. Hal tersebut tercermin ketika Yesus
menentang tradisi mencuci tangan orang Yahudi (Markus 7: 1-23). Dalam perikop tersebut
Yesus dengan tegas mengatakan sikapnya yang beroposisi terhadap tradisi, yaitu “Yesus
berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah
supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri”. Kedua, Yesus yang mendukung
tradisi dan kebudayaan, seperti yang tercermin dalam Lukas 2: 41-52. Kisah Yesus yang
merayakan paskah bersama orang tuaNya di Yerusalem adalah bukti bahwa Ia hidup dalam
budaya dan mengimani hal tersebut.
Benang merah yang dapat disimpulkan dari kedua perikop tersebut adalah bahwa
berbudaya adalah hal yang sah-sah saja dalam iman Kristiani. Asalkan, budaya dan nilai lokal
yang kita anut tidak menggoyahkan dan melunturkan esensi kekristenan yang dianut. Artinya,
kita berbudaya dengan tidak mengesampingkan prinsip-prinsip Gereja, penyembahan berhala
misalnya. Di sanalah peran Roh Kudus begitu vital dalam menjaga kehidupan doa kita di
tengah situasi yang kerap menggerogoti iman. Roh Kudus berperan dalam menjustifikasi
yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang tidak.
Maka, dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan masyarakat Migani, yaitu nilai-
nilai peradaban yang berpusat pada sosok Peagabega, termasuk di dalamnya adalah
pendidikan, yang kemudian dilegitimasi dalam diri Yesus adalah hal yang sah-saja. Asalkan
praktiknya tetap sejalan dengan perintah-perintah Allah dan ajaran Gereja.
Beragam percontohan tersebut membuktikan betapa mustajabnya tatkala kearifan
lokal ditempatkan sebagai sebuah interseksi antara pendidikan dan masyarakat. Kearifan
lokal yang nilai-nilainya mudah diterima di kalangan manusia, memicu anggapan bahwa
prosesi pendidikan adalah hal yang relevan. Sehingga relasi yang timbul ketika masyarakat
mengenyam pendidikan adalah berdasar motif keterbutuhan, bukan kekuasaan atau
mainstreamitas belaka.
Bab 2
Kearifan Lokal, Walisongo, dan Wayang dalam Arus Edukasi
Oleh:
Keisha Valencia Chandra
Edukasi adalah salah satu elemen yang penting dalam kehidupan manusia. Karena
melalui edukasi, seseorang dapat menambah ilmu, membangun karakter, hingga mengilhami
kearifan lokal bangsa. Dipandang dalam falsafah Indonesia pun edukasi tetap tampil esensial,
contohnya dalam frasa “mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam alinea keempat pembukaan
UUD Negara Republik Indonesia. Metodenya beragam, salah satunya edukasi yang memiliki
fondasi berupa kearifan lokal masyarakat setempat.
Mempelajari kearifan lokal melalui pendidikan bukan sesuatu yang baru bagi bangsa
Indonesia. Korelasi antara pendidikan dan kearifan lokal di Indonesia dapat ditemui melalui
peradaban masa lalu melalui bingkai kesejarahan. Pada masa Kerajaan Islam misalnya. Hal
tersebut dapat tercermin dalam eksistensi Walisongo di Jawa pada abad ke-14 hingga 16.
Walisongo dapat dijadikan salah satu gambaran kecil berjayanya metode penyebaran ilmu
berbasis kearifan lokal di Indonesia.
Walisongo atau sembilan wali yang merupakan tokoh-tokoh pembawa sekaligus
penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Etimologi walisongo yaitu “wali” yang berarti wakil
dan “sanga” dalam bahasa Jawa yang memiliki arti sembilan. Sedangkan menurut
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Walisongo diartikan sebagai
sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Walisongo hadir di sekitar
abad ke-15 pada saat Sunan Gresik, salah satu wali, mendirikan majelis dakwah pada 1404.
Sembilan wali tersebut menyebarkan Islam ke Pulau Jawa dengan menggunakan pendekatan
yang berbeda-beda, yaitu kebudayaan, kesenian, dan pendidikan. Lantas di tangan para wali,
Islam begitu dekat dan di-dekat-kan dengan berbagai kultur masyarakat saat itu. Kembali,
manuver penyebaran Islam tidak hanya terbatas forum-forum dakwah, namun juga meliputi
beragam aspek seperti kesehatan, sosial, dan kesenian. Hal ini tentu memicu Islam yang
diminati dan berkembang pesat hingga menjadi agama mayoritas masyarakat di Indonesia,
khususnya di Jawa.
Walisongo dan ulama memiliki tugas dan peran utama untuk berdakwah, mengajar,
dan mendirikan pesantren. Meski begitu, dakwah di sini bukan sebatas dakwah di masjid atau
forum islami, namun langsung terjun ke lapangan berbasis community service. Akibatnya
proses penyebaran Islam di Jawa saat ini bertumbuh eksponensial dan berlangsung cepat.
Dibuktikan dengan banyaknya utusan dari berbagai daerah datang untuk belajar di sekolah
maupun pesantren di Jawa. Mereka datang untuk mengambil ilmu sebanyak mungkin lalu
disebar ke daerahnya masing-masing.
Selain itu, peran para wali dan ulama juga krusial dalam proses penyebaran Islam
melalui langkah politis kerajaan-kerajaan pada masa itu. Misalnya pada era kerajaan Demak,
Walisongo berperan sebagai penasihat raja. Maka tak ayal jika Islam menjadi raksasa di era
tersebut. Secara lebih lanjut, berikut nama 9 wali yang telah menyebarkan agama Islam di
Jawa
a. Sunan Gresik
Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan
Sunan Gresik ini adalah ulama pertama yang diberi gelar sebagai
Walisongo. Sunan Gresik dianggap sebagai wali yang pertama
kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di
desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur
Tidak ada bukti sejarah yang meyakinkan
tentang asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, tapi pada
umumnya disepakati bahwa beliau bukanlah orang Jawa asli.
Sunan Gresik disebut dengan nama Syekh Maghribi yang
diberikan masyarakat padanya, membuka kemungkinan bahwa
Gambar 2.1 : Sunan Gresik (Sumber : Sunan Gresik merupakan keturunan dari Maghrib, atau
https://www.biografiku.com/biografi- Maroko di Afrika Utara.
sunan-gresik-maulana-malik-ibrahim)
b. Sunan Ampel
Sunan Ampel merupakan salah satu anggota Walisongo
yang besar jasanya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa.
Sunan Ampel adalah bapak para wali. Nama Ampel atau Ampel
Denta dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat
dekat Surabaya.
Memiliki nama asli Raden Rahmat, Sunan Ampel dikenal
sebagai orang yang alim dan memiliki ilmu tinggi. Sunan Ampel
sangat terpelajar dan juga dikenal mempunyai akhlak yang mulia,
suka menolong dan mempunyai keprihatinan sosial yang tinggi.
Gambar 2.2 : Sunan Ampel (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-ampel/)
u.com/biografi-sunan-
ampel/)
c. Sunan Drajat
Sunan Drajat dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atau
Kasim di masa mudanya. Banyak sekali nama yang disandang
oleh Sunan Drajat di berbagai naskah kuno. Adalah putra Sunan
Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi
Condrowati.. Sunan Drajat sendiri tidak memiliki banyak naskah
yang mengungkapkan jejaknya
Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia
kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari.
Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk
halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan
hutan.
Gambar 2.3 : Sunan Ampel (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-ampel/)
d. Suu.ncoamn/biMogruafri-siuanan- Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama
ampel/) gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota
Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan.
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar
Syahid. Nama kecil beliau ialah Raden Prawoto Menurut
Solichin, Sunan Muria adalah putera Sunan Kalijaga dan Dewi
Saroh.
Dalam usaha mengembangkan ajaran Isam, Sunan Muria
telah turut menggunakan gamelan dan wayang kulit sebagai alat
untuk berdakwah. Dan telah dikatakan juga bahawa beliau adalah
pencipta bagi tembang Sinom dan Kinanti.
Gambar 2.4 : Sunan Muria (Sumber :
https://ms.wikipedia.org/wiki/Sunan_
Muria/)
e. Sunan Kudus Nama kecil Sunan Kudus adalah Jaffar Shadiw.
u.com/biografi-sunan- Merupakan anak dari padangan Sunan Ngundung dan Syarifah.
Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra
ampel/) Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Ia pun diangkat
menjadi Panglima Perang di Kesultanan Demak.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya meniru
pendekatan Sunan Kalijaga, sangat toleran
Gambar 2.5 : Sunan Kudus (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-kudus/)
f. Sunan Gunung Jati
u.com/biografi-sunan- Sunan Gunung Jati bernama asli Syech Syarief
Hidayatulloh. Ayah Syech Syarief Hidayatulloh adalah seorang
ampel/) dari Mesir keturunan ke 17 Rosulullah SAW.
Sunan Gunung Jati berkelana hingga sampai di Cirebon
pada tahun 1470 Masehi untuk belajar Agama Islam. Ia
dinobatkan menjadi Raja Cerbon dengan gelar Maulana Jati pada
tahun 1479. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya wali
yang menjadi kepala pemerintah. Ia mendirikan Kasultanan
Cirebon dan Banten.
Gambar 2.6 : Sunan Gunung Jati (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-gunung-jati/)
g. Sunan Giri
Sunan Giri dikenal dengan nama Raden Paku, Prabu
u.com/biografi-sunan-ampel/)Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko
Samudra. Sunan Giri atau Raden Paku tidak hanya menyebarkan
Islam di tanah Jawa tapi juga sampai ke Maluku.
Pesantren Giri menjadi terkenal karena pengaruhnya
sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sumbawa, Sumba,
Flores, Ternate, Sulawesi, hingga Maluku. Sunan Giri diberi
julukan Raja dari Bukit Giri karena pengaruhnya. Pengaruhnya
terus berkembang sampai menjadi kerajaan yang disebut Giri
Kedaton. Kerajaan tersebut terus menguasai daerah Gretik dan
sekitarnya hingga akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.
Gambar 2.7 : Sunan Giri (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-giri/)
u.com/biografi-sunan-
ampel/)
h. Sunan Bonang
Sunan Bonang, anak Sunan Ampel belajar agama dari pesantren
ayahnya di Ampel Denta. Saat sudah cukup dewasa, ia berkelana
di berbagai pelosok Pulau Jawa. Awalnya dari Kediri, Sunan
Bonang mendirikan Masjid Sangkal Daha di tempat dengan
mayoritas beragama Hindu tersebut.
Kemudian Sunan Bonang menetap dan membangun
tempat pesujudan sekaligus pesantren yang dikenal dengan nama
Watu Layar di Bonang. Lalu dikenal sebagai imam resmi
pertama Kesultanan Demak dan sempat menjadi panglima
tertinggi.
Gambar 2.8 : Sunan Bonang (Sumber :
https://www.biografiku.com/biografi-
sunan-bonang/)
i. Sunan Kalijaga
u.com/biografi-sunan- Sunan Kalijaga, memiliki nama asli Joko Said. Ayahnya
adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit,
ampel/) Ronggolawe. Arya Wilatikta, meski sudah memeluk agama
Islam sejak sebelum lahirnya Sunan Kalijaga, Ia dikenal kejam.
Joko Said yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya
sebagai Adipati ini sering membangkang pada ayahnya.
Sunan Kalijaga terkenal karena metode uniknya dalam
menyebarkan agama Islam. Dengan menggunakan budaya yang
sudah ada di daerah tersebut, Sunan Kalijaga berhasil menarik
perhatian masyarakat yang masih memeluk erat kebudayaan
daerah dengan menggunakan wayang sebagai alat untuk
Gambar 2.9 : Sunan Kalijaga (Sumber : menyebarkan Islam.
https://www.biografiku.com/biografi- Beliau menyebarkan agama Islam selain lewat wayang,
sunan-kalijaga/
Ia juga lewat seni ukir atau seni suara. Beberapa lagu yang
berhasil diciptakan seperti Lir Ilir atau Gundul Pacul. Selain Sunan Kalijaga, Sunan Giri dan
Sunan Bonang juga menggunakan metode ini. Lantas, seperti apakah cara mereka
mengguu.cnoamk/baiongrwafia-syunaanng- untuk menyebarkan agama Islam?
ampel/)
Wayang, berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti ‘bayangan’ adalah satu dari
banyaknya seni pertunjukkan tradisional asal Indonesia yang berasal dan berkembang pesat
di pulau Jawa dan Bali. Sesuai dengan namanya, wayang adalah pertunjukkan dengan
penonton yang menyaksikan pertunjukkan dengan melihat bayangan. Sutradara sekaligus
aktor yang menggerakkan wayang disebut sebagai dalang, atau kependekan dari ngudal
piwulang. Dalang disebut sebagai aktor karena perannya sebagai penggerak dan narator
wayang. Selain itu, dalang disebut sutradara karena tugasnya yang mengatur jalannya cerita
wayang.
Banyak yang meyakini bahwa wayang kulit adalah salah satu dari berbagai akar
budaya seni tradisional Indonesia. Namun ada yang menginterpretasikan bahwa wayang
berasal dari India meski bukti eksistensi wayang tidak ditemukan dengan tegas di sana.
Secara umum, kisah wayang berdasar kitab Ramayana dan Mahabharata. Kedua cerita itu
berasal dari India namun diadaptasi oleh masyarakat Jawa. Berdasar sejarah, wayang
diketahui telah hadir sejak 1500 tahun SM dan rekaman pertama pertunjukkan wayang ada
sejak 930 M. Wayang Indonesia sendiri bercikal bakal dari wayang beber, wayang yang
gambarnya mirip manusia dan ceritanya bersumber dari sejarah sekitar jaman Majapahit.
Wayang di Jawa lahir melalui pemikiran panjang para cendekiawan Jawa di masa silam,
Sunan Kalijaga misalnya. Sunan Kalijaga mengembangkan wayang purwa, yaitu wayang
kulit yang bercorak islami.
Memang, wayang kulit merupakan produk budaya yang telah ada sebelum Islam
berkembang di Pulau Jawa. Namun, sejak Islam datang dan disebarkan, wayang telah
mengalami perubahan. Budaya keislaman dalam wayang kulit purwa tak hanya dijumpai
pada wujudnya, tetapi juga pada istilah-istilah dalam bahasa padhalangan, bahasa wayang,
nama tokoh wayang, dan lakon (cerita) yang dipergelarkan.
Ada pula wayang jenis baru yang belum lama ini dipublikasikan. Lejar Hukubun,
seorang seniman asal Jogja. Ibunya asli Jogja, sedangkan ayahnya berasal dari Maluku. Pria
yang baru menginjak usia 30 tahunan ini memiliki ikatan emosional dengan Papua. Ia
membuat jenis wayang baru yang diberi nama wayang Papua. Sesuai dengan namanya,
wayang ini dibuat menyerupai orang Papua.
Papua buatannya (Sumber :
https://www.kompas.tv/article/177950/mengenal-wayang-papua-dari-sosok-lejar-
hukubun)
Lejar dengan kreativitasnya ingin menggabungkan sesuatu yang lama dengan sesuatu
yang baru sehingga menghasilkan karya seni yang memiliki unsur segar. Bagi Lejar, wayang
secara simbolis memiliki makna yang kuat. Ia berencana mengangkat suku Malin sebagai
representasi wayang Papua untuk penelitiannya, namun hal tersebut ternyata dilarang oleh
kepercayaan suku Malin. Karena dalam kepercayaan suku Malin, tidak diperbolehkan untuk
membuat bentuk boneka, dan wayang dianggap menyerupai boneka. Awalnya Lejar ingin
menggunakan tersebut untuk tesis S2-nya, namun karena larangan tersebut tesisnya berakhir
menjadi cerita gambar.
Namun pada kenyataannya, banyak pendidik yang belum mengintegrasikan kearifan
lokal dalam pembelajaran sehingga tujuan pendidikan belum tercapai. Dalam beberapa kasus,
pendidik bahkan belum mengenal kearifan lokal di tempat ia mengabdi secara holistik.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal ini penting untuk diterapkan oleh pendidik di dalam
pembelajaran karena bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pemuda
serta media untuk menanam rasa cinta terhadap kearifan lokal di daerahnya. Pendidik sebagai
ujung tombak keberhasilan pendidikan diharapkan dapat merancang atau mengembangkan
pembelajaran berbasis kearifan lokal. Dalam pengintegrasian ini tentunya harus disesuaikan
dengan materi yang akan disampaikan, perkembangan peserta didik, dan juga metode yang
digunakan.
BAB 3
Kearifan Lokal dalam Perspektif Wawasan Nusantara: Hegemoni Sosio-Kultural
Pemuda
Oleh:
Adwiandra Chritian Prihatma
Seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup,
maka pendidikan akan terus tumbuh dan berkembang. Pendidikan difungsikan sebagai
fasilitator untuk memberikan pemahaman dasar kepada manusia agar dapat berlaku produktif
dalam mengelola lingkungan sekitar. Pendidikan hendaknya didorong ke arah yang lebih
produktif yaitu untuk menstimulus manusia agar bisa kreatif dan produktif terutama dalam
pemenuhan kebutuhan hidup, baik itu yang bersifat fisik maupun non-fisik. Pendidikan
adalah sebagai upaya sadar manusia dalam memahami diri sendiri dan lingkungannya, atau
upaya manusia dalam memahami interaksi antara makro dan mikro kosmos. Oleh sebab itu
pendidikan harus mampu memupuk dan menumbuhkan kesadaran akan arti keberadaan
manusia untuk lingkungan dan alam sekitar.
Dewasa ini arus penetrasi kebudayaan yang datang dari Barat semakin gencar
mewarnai sistem kehidupan sosiokultural masyarakat Indonesia. Diperparah pula dengan
adanya kecenderungan sebagian generasi muda bangsa yang berkiblat kepada kebudayaan
tersebut. Keadaan akan tampak semakin konkret ketika kita mencoba melihat fenomena yang
ada, seperti maraknya pergaulan bebas, kasus narkoba, dan kekerasan.
Di tengah pusaran pengaruh hegemoni global tersebut, fenomena yang terjadi juga
telah membuat lembaga pendidikan kehilangan ruang geraknya. Selain itu juga memicu
semakin menipisnya pemahaman peserta didik tentang sejarah lokal serta tradisi budaya yang
ada dalam masyarakat. Maka inisiasi dan gerak langkah sangat dibutuhkan dalam menjaga
aneka ragam budaya agar tetap lestari. Dengan pendidikan yang berbasis pada local wisdom
(kearifan lokal), rasa optimis akan terciptanya pendidikan yang mampu memberi makna bagi
kehidupan manusia Indonesia tentu dapat terbangun. Artinya, pendidikan kemudian akan
mampu menjadi spirit yang bisa mewarnai dinamika pembangunan manusia Indonesia ke
depan. Pendidikan nasional harus mampu membentuk manusia yang berintegritas tinggi dan
berkarakter sehingga mampu melahirkan anak- anak bangsa yang hebat dan bermartabat
sesuai dengan spirit pendidikan; memanusiakan manusia.
Salah satu kebijakan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat kurikulum
sekolah berbasis keunggulan lokal atau local wisdom. Metode penyebarannya pun terbilang
bervariasi, misalnya melalui mulut ke mulut. Konkretisasi kearifan lokal bisa ditemukan
dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu, permainan rakyat, dan lainnya. Kearifan lokal adalah
pengetahuan yang diperoleh oleh masyarakat lokal tertentu dengan mengintegrasikan
pemahaman mereka tentang kondisi budaya dan alam suatu tempat. Istilah lokal secara
spesifik mengacu pada ruang interaksi yang terbatas dengan sistem nilai yang terbatas.
Sebagai ruang interaktif, dirancang sedemikian rupa yang melibatkan pola-pola hubungan
antara manusia dengan manusia atau antara manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola
interaksi yang dirancang disebut dengan pengaturan. Lingkungan adalah ruang interaktif di
mana orang-orang mengatur hubungan tatap muka di lingkungan mereka. Lingkungan hidup
yang telah terbentuk akan langsung menghasilkan nilai. Nilai-nilai ini akan menjadi landasan
hubungan mereka atau acuan perilaku mereka.
A. Kearifan Lokal dan Lingkaran Narkotika
Secara umum, masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya adalah masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, sehingga
terklasifikasi sebagai kejahatan luar biasa, karena tidak hanya menyebabkan dampak pada
pengguna pribadi, tetapi juga dapat mempengaruhi masa depan generasi masa depan bangsa.
Sebagai kejahatan luar biasa, perlu untuk mengambil tindakan pencegahan yang luar biasa
dalam penanggulangannya. Haram hukumnya jika penanggulangan narkoba hanya sebatas
penyediaan instrumen dalam memerangi narkotika.
Gambar 3. 1 Narkotika (Sumber:
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fpromkes.kemkes.go.id%2F%3Fp%3D830
9&psig=AOvVaw3WFYi_SWYnngVWdFwYzyg_&ust=1650420036466000&source=images&cd=vfe
&ved=2ahUKEwjXqqbxg5_3AhV6KbcAHapbARQQr4kDegQIARBO )
Pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan pendekatan seni dan budaya yang
berakar dari kearifan lokal dinilai sebagai langkah efektif. Hal tersebut dikarenakan pesan
yang “dibungkus” dalam bingkai nilai-nilai lokal mudah dicerna oleh masyarakat karena
merupakan hal yang relevan bagi mereka. Teori tersebut melempar ingatan saya terhadap apa
yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2012 silam. Saat itu BNN
mengadakan kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran
Narkoba (P4GN) melalui pergelaran seni dan budaya. Pagelaran tersebut menampilkan kisah
legenda Tanah Pasundan, yaitu Lutung Kasarung dan seni Calung Gaul yang diadakan di
Kawasan Hutan Kota Kali Pesanggrahan, Sangga Buana, Jakarta Selatan. Pergelaran budaya
yang diadakan pada 12 Mei ini menjadi potret kecil begitu berdayanya pesan-pesan yang
dibawakan dalam dasar kearifan lokal, penyuluhan P4GN misalnya.
Sambil menyelam minum air, begitu kira-kira predikat yang dapat dilekatkan dalam
pendidikan berbasis kearifan lokal. Di satu sisi metodologi semacam ini membuat pesan lebih
relevan dalam tingkatan kehidupan masyarakat, selain itu kearifan lokal juga tetap lestari,
manfaat lainnya adalah lebih fleksibelnya penyaluran pesan. Mengapa? Seni dan tradisi
merupakan media yang bisa menjangkau masyarakat lebih luas karena tidak semua
masyarakat pedesaan memiliki media elektronik. Maka media penyebaran informasi melalui
seni budaya ini merupakan hal yang penting. Langkah semacam ini juga bertujuan supaya
para seniman akan senantiasa memegang komitmen untuk membuat terobosan penting
lainnya untuk mengajak masyarakat menjauhi narkotika sampai generasi selanjutnya.
B. Dialektika Nilai-Nilai Lokal dalam Konsepsi Nusantara
Wawasan Nusantara merupakan salah satu masalah politik, dalam hal ini konsepsi
politik yang dikaitkan dengan keadaan geografis dan geopolitik bangsa Indonesia. Wawasan
nusantara menjadi pola yang mendasari cara berfikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka
menghadapi, menyikapi, atau menangani berbagai permasalahan menyangkut kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Wawasan nusantara adalah bentuk dari
implementasi geopolitik Indonesia. Wawasan nusantara tidak mengandung unsur-unsur
kekerasan dan radikal, namun merupakan cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan
lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945
yang merupakan aspirasi bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat serta
menjiwai tata hidup dan tindak kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional. Sehingga
wawasan nusantara menjadi wajib dimiliki oleh setiap individu dalam bangsa Indonesia guna
menumbuhkan pengetahuan dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan yang dilandasi
dengan jiwa kebangsaan dan menjunjung tinggi nilai kebenaran sesuai dengan landasan
pemikiran bangsa Indonesia yakni Pancasila dan sistem peraturan Undang-Undang Dasar
1945.
Sebuah integrasi bangsa yang merupakan muara dari tujuan wawasan nusantara bisa
diwujudkan melalui salah satu alternatif sekaligus cara dalam menguatkan budaya pada masa
globalisasi ini yaitu menggali kearifan lokal yang berkembang di masyarakat. Menggali
kearifan lokal tidaklah begitu mudah untuk dilakukan apabila masyarakatnya sendiri masih
belum memiliki rasa kesadaran untuk turut ikut serta dalam langkah konserfatifnya. Menggali
kearifan lokal akan lebih mudah dilakukan apabila kearifan lokal itu masih dipegang kuat
meskipun itu hanya oleh sebagian masyarakat saja. Struktur masyarakat Indonesia yang
multikultural dan heterogen juga agaknya tidak dapat dilupakan begitu saja. Sebab dengan
semakin beragamnya latar kultural dalam sebuah wilayah tertentu stimulasi konflik akan
lebih kompleks terbentuk. Jadi, pola pemahaman akan sesuatu akan menjadi lebih sensitif
lagi ketika cara berfikir tentang sesuatu tersebut hanya dilakukan pada satu sudut pandang
saja. Dikaitkan dengan pemahaman terhadap kearifan lokal, akan lebih bijak kembali jika
kearifan lokal yang berkembang berbeda di setiap wilayahnya bisa disikapi dengan perilaku
yang toleran. Sehingga, keinginan untuk tetap melestarikan bahkan juga diimbangi dengan
menggali makna secara holistik terhadap kearifan lokal masyarakat. Hal tersebut setidaknya
bisa dijadikan sebagai sarana untuk menjaga integrasi bangsa agar tercapainya tujuan dari
diadakannya wawasan nusantara.
C. Penutup: Kesimpulan dan Saran
Kearifan lokal adalah ide konseptual yang hidup, tumbuh, dan berkembang secara sustainable
dalam pemikiran publik. Begitu pula dengan peran pendidikan, yang senantiasa menghidupi,
menumbuhkan, hingga mengembangkan kearifan lokal melalui manusia-manusia hebat yang
diciptakannya. Dua filosofi tersebut konsisten mengerucutkan adicita dan fikrah masyarakat
tentang pendidikan berbasis kearifan lokal. Lebih-lebih lagi dalam peradaban yang kaya dan
kental akan unsur kultural seperti Indonesia. Hal tersebut dapat terbukti dalam berbagai
aspeknya, salah satunya adalah dimensi kesejarahan. Keberadaan Walisongo dengan metode
dakwah khasnya misalnya. Berbagai pihak nyatanya sudah menginisiasi pemahaman tersebut
seraya bergerak sebisanya. Pak Wendel, Lejar, dan Bu Ludya adalah tiga dari sekian banyak
nama yang terlibat langsung dalam dialektika semacam ini. Namun, pemikiran tersebut
belum dilakukan secara kolektif dan holistik, maka tak ayal jika dampaknya belum terasa.
Kendati demikian, gema atas gagasan tersebut harus selalu disuarakan.
Pendidikan berbasis kearifan lokal identik dengan pepatah “sambil menyelam minum air”
dan “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Di satu sisi, pendidikan berbasis kearifan
lokal memicu anggapan bahwa pendidikan adalah hal yang relevan bagi hidup peserta didik.
Misal dalam kasus sekolah pelosok, pemuda tidak akan tahu apa manfaatnya pendidikan jika
mereka disodorkan robot, coding, atau semacamnya. Di sisi lain, peningkatan konstruksi
pemahaman pemuda atas nilai-nilai lokal dapat terjadi.
Pendidikan berbasis kearifan lokal adalah proyek yang sangat besar. Maka asifikasi konsep
tersebut perlu didasari kekompakan yang solid, gerakan yang satu visi, dan upaya yang
berkelanjutan dari berbagai elemennya.
Daftar Pusaka
Bukalapak. (2018, Juli 6). Achmad Ferzal - Pendidikan Berbasis Kebudayaan Lokal |
BukaTalks. (A. Ferzal, Performer) YouTube, Jakarta, Republik Indonesia.
Isnaini, A. (2021, April 8). Perangi Penyalahgunaan Narkoba. Pontianak Post.
Kerangka Konseptual. Inopendas Jurnal Ilmiah Kependidikan ISSN 2615-5443
Khusna, N. (2018) Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar: Sebuah
Lapian, A. B. (2009). Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi
Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.
Pingge, H. D., & Haingu, R. M. (2020). Kain Tenun Ikat Sebagai Media Pembelajaran IPS di
Sekolah Dasar. JIPSINDO, 7(1), 22-43.
Pontianak Post (t.thn.). Rangkul Komunitas Adat, Perangi Penyalahgunaan Narkoba.
Sabandar, Switzy. (2021) “Mengenal Wayang Papua dari Sosok Lejar Hukubun”,
https://www.kompas.tv/article/177950/mengenal-wayang-papua-dari-sosok-lejar-
hukubun?page=2, diakses pada 16 April 2022
Sondegau, K. (2017, Maret). Kristologi dalam Konteks Kebudayaan Suku Migani di Papua.
Studia Philosopica et Theologica, 17(1), 60-79.
Welianto, Ari. (2022, Januari 24) “Peran Walisongo dalam Penyebaran Islam di Tanah Jawa”,
https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/15/110000569/peran-walisongo-dalam-
penyebaran-islam-di-tanah-jawa?page=all, diakses pada 15 April 2022 pukul 10:27