Kompleks Percadian
Muaro Jambi Sebagai
Peningalan Kerajaan
Sriwijaya
Muhammad Aditya Wardana
190731638483
Pendidikan Sejarah 2019
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa. Atas rahmat
dan hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan media pembelajaran flip book yang
berjudul "Kompleks Percadian Muaro Jambi Sebagai Peningalan Kerajaan
Sriwijaya."
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Blasius
Suprapta dan Mas An’am atas bimbingannya selama satu semester ini selaku
pembimbing Mata Kuliah Kepurbakalaan Indonesia yang telah membantu dalam
mengerjakan media pembelajaran ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman yang telah berkontribusi dalam pembuatan media
pembelajaran ini. Media pembelajaran ini memberikan penjelasan mengenai
kompleks Percandian Muaro Jambi.Media pembelajaran dapat digukan dalam
proses pembelajaran karena materi yang terdapat dalam media pembelajaran ini
merupakan materi kurikulum 2013 dengan kompetisi dasar 3.6 dan 4.6 dengan
materi pokok Indonesia Zaman Hindu-Budha: Silang Budaya Lokal dan Global
Tahap Awal.
Penulis menyadari ada kekurangan pada media pembelajaran ini. Oleh
sebab itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan media
pembelajaran. Penulis juga berharap semoga media pembelajaran ini mampu
memberikan pengetahuan tentang sejarah dan candi-candi yang terdapat di
kompleks Percandian Muaro Jambi.
Jambi, 9 Desember 2021
Muhammad Aditya Wardana
i
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................................................... i
Kompleks Percadian Muaro Jambi Sebagai Peningalan Kerajaan
Sriwijaya ..................................................................................................... 1
1. Jejak Kerajaan Sriwijaya di Candi Muaro Jambi .............................. 1
2. Kompleks Percandian Muaro Jambi ................................................... 2
3. Kumpulan Candi-Candi di Kawasan Percandian Muaro Jambi ....... 4
a. Candi Gumpung............................................................................... 4
b. Candi Tinggi .................................................................................... 4
c. Candi Kembar Batu ......................................................................... 5
d. Candi Astano.................................................................................... 5
e. Candi Gedong I & II ........................................................................ 6
f. Candi Kedaton.................................................................................. 7
g. Candi Kota Mahligai ....................................................................... 8
4. Nilai Leluhur Komplesk Percandian Muaro Jambi............................ 8
Daftar Pustaka.......................................................................................... 10
ii
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Kompleks Percadian Muaro Jambi Sebagai Peningalan Kerajaan
Sriwijaya
1. Jejak Kerajaan Sriwijaya di Candi Muaro Jambi
Sejarah kebudayaan kompleks percandian Muaro Jambi sangatlah erat
hubungannya dengan suwarnadwipa atau pulau emas yang dihubungkan
dengan pulau Sumatera. Pada zaman dahulu, pulau Sumatera merupakan
pulau yang paling sering dituju oleh berbagai suku bangsa untuk melakukan
perdagangan, urusan keagamaan, budaya dan politik. Daerah-daerah di pulau
Sumatera yang aktif dalam melakukan hubungan dengan suku bangsa lain
yaitu antara lain Aceh, Barus, Palembang termasuk Jambi. Hubungan antara
Jambi dan bangsa lain ditemukan pada naskah berita Dinasti Tang (618-906
M) yang berisikan berita kedatangan utusan kerajaan Mo-Lo-Yeu (Melayu
Sumatera) ke Cina pada tahun 644 M dan 654M.
Ketika melakukan perjalanan ke Nalanda India pada tahun 672 M,
Pendeta Budha I-Tsing singgah selama dua bulan di Mo-Lo-Yeu untuk
mempelajari bahasa Sansekerta dalam rangka memperdalam ajaran agama
Budha, kemudian setelah kembali dari India, I-Tsing mengatakan bahwa pada
tahun 692 M, Mo-Lo-Yeu merupakan bagian dari kerajaan Shih-Li-Fo-Shih
(Sriwijaya). Hal ini erat kaitannya dengan ditemukannya Prasasti
Karangberahi (686 M) di wilayah Jambi bagian hulu. Selanjutnya, berita
Tiongkok juga mengabarkan pada tahun 853 M dan 871 M, menyebutkan
adanya misi perdagangan dari Chan-Pi atau Pi-Chan. Chan-Pi merupakan
penyebutan nama Jambi dalam bahasa Tiongkok yang sudah dimulai sejak
abad ke 7 M dan masih disebut sampai abad ke 11. Penyebutan nama Chan-Pi
dalam bahasa Tiongkok diperkuat dengan di temukannya Kompleks
Percandian Muaro Jambi. Kompleks Percandian Muaro Jambi merupakan
peninggalan kerajaan yang berlatar belakang kebudayaan agama Budha
Mahayana yang telah berkembang di Sumatera pada abad ke 7-13 M.
Sejak abad ke 7 M, kompleks Percandian Muaro Jambi telah menjadi
pusat ibadah dan pendidikan bagi agama Budha. Sebenarnya cerita ini
merupakan sejarah Melayu Kuno. Berdasarkan catatan biksu It Sing pada
-1-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
abad ke 7 M, ribuan siswa yang berasal dari Tibet, Tiongkok dan India sudah
belajar tata bahasa sansekerta di kompleks percandian Muaro Jambi. Biksu-
biksu yang datang ke kawasan ini, dimaksudkan untuk mempersiapkan diri
sebelum mereka belajar ke Nalanda India. Biksu-biksu yang mendapatkan
ilmu dari Muaro Jambi kemudian kembali untuk menyebarkan ilmunya ke
negara mereka masing-masing. Peradaban Candi Muaro Jambi mulai
terhapus dikarenakan musibah banjir bandang yang melanda kawasan
tersebut pada akhir abad ke 15 M. Setelah bencana banjir bandang tersebut,
kemudian datang lagi wabah penyakit kolera yang menyerang masyarakat
setempat termasuk para biksu. Akibat dua musibah tersebut menyebabkan
generasi masyarakat saat itu terputus.
2. Kompleks Percandian Muaro Jambi
Keberadaan situs Percandian Muaro Jambi mulai diketahui pertama
kali dari laporan perwira Inggris S.C. Crooke pada tahun 1820 saat ia
ditugaskan untuk mengunjungi daerah-daerah pedalaman sepanjang Sungai
Batanghari. Crooke menelusuri kawasan pedalam tersebut untuk melakukan
pemetaan daerah aliran suangai dalam rangka kepentingan militer. Ia
mencatat bahwa di antara masyarakat pemukiman ada anggapan bahwa
Muaro Jambi pada suatu ketika pernah menjadi ibukota dari sebuah kerajaan
kuno. Crooke juga sempat menyaksikan reruntuhan bangunan-bangunan bata
dan area batu di antara rerimbunan hutan dekat desa. Kemudia pada tahun
1921 T. Adams menerbitkan catatannya dalam majalah Oudheidkunding
Verslag yang membahasa mengenai situs Percandia Muaro Jambi. Keteranga
semakin lengakap setelah F.M Schnteger melakukan serangkaian penelitian di
situs ini pada tahun 1935-1936. Schnteger mecatat tujuh bangunan kuno yang
disebutnya sebagai Stano, Gumpung, Tinggi, Gedong I, II, Gudang Graem
dan Bukit Perak. Walaupun kurang jelas, melalui laporannya dapat juga
diketahui bahwa Schnteger melakukan serangkaian penggalian pada
penemuan bangunan-bangunan kuno tersebut. Baru kemudian pada tahun
1975, pemerintah Indonesia melakukan pemugaran yang serius terhadap
-2-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
kawasan percandian tersebut yang dipimpin oleh R.Soekmono (Pamungkas.
2018).
Kompleks Percandian Muaro Jambi merupakan situs kepurbakalaan
yang berada pada masa pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Situs candi Muaro
Jambi berada pada sebuah kompleks percandian yang diperkirakan totalnya
mencapai 89 candi dengan beberapa candi yang telah ditemukan ataupun
beberaps situs yang masih berupa gundukan tanah (menapo) dan belum
dikupas (dokupasi). Kompleks percandian Muaro Jambi adalah kompleks
percandian agama Budha terluas di Asia Tenggara, yang membentang dari
barat ke timur di tepi sungai Batanghari dengan panjang 7,5 Km serta luas
260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Kompleks
percandian ini terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Maro Sebo,
Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi yang dapat ditempuh lewat jalur
darat sekitar 30 kilometer dari kota Jambi. Letak geografis kawasan
percandian inni berada di 103,22’ BT hingga 103,45’ BT dan 124’ LS hingga
133’ LS.
Situs kompleks percandian Muaro Jambi berada di ketinggian 14
meter diatas permukaan laut dan terletak di dataran yang merupakan daerah
tanggal alam dari sungai Batanghari. Luas kawasan percandian Muaro Jambi
berdasarkan satuan ruang interkasi lingkungan dengan keberadaan tinggalan
budaya masa lalu, berupa tinggalan kepurbakalaan dan tinggalan masa
sekarang pemukiman tradisonal masyarakat Melayu Jambi adalah 3.118,46
hektar. Tinggalan budaya masa lalu yang terdapat dikompleks percandian ini
terdiri dari 14 bangunan candi, 75 menapo (reruntuhan candi), 17
kanal/sungai kuno, 9 kolam, 6 danau dan 1 bukit. Tinggalan lainnnya yang
masih berlangsung dan lestari yaitu budaya masyarakat yang berupa
Pemukiman Tradisonal Desa Muaro Jambi dan Danau Lamo berupa rumah-
rumah panggung bergaya melayu. Kawasan percandian Muaro Jambi juga
dikelilingi lingkungan alam berupa hutan sekunder, rawa dan saluran air yang
masih terjaga keasliannya.
-3-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
3. Kumpulan Candi-Candi di Kawasan Percandian Muaro Jambi
a. Candi Gumpung
Candi Gumpung merupakan kelompok candi yang secara administratif
masih terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Marosebo Lokasi Candi
Gumpung dikelilingi oleh hutan sekunder terutama pada bagian di sisi
utara dan barat dengan tanaman pohon duku, durian hingga semak
belukar. Candi Gumpung terletak 500 meter di sebalah kanan sungai
Batanghari. Bila dilihat berdasarkan dimensinya, candi gumpung
merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Kedaton. Sebagimana
candi lainnya, Candi Gumpung memiliki struktur batubata yang
dikelilingi pagar batubata membentuk bidang bujur sangkar. Panjang
pagar secara keseluruhan adalah 604,40 meter sedangkan luas areal
Candi Gumpung adalah 229,50m2.
Gambar 1.2 Candi Gumpung
Sumber: Dokumentasi Pribadi
b. Candi Tinggi
Gambar 1.3: Candi Tinggi
Sumber: Dokumentasi Pribadi
-4-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Candi Tinggi terletak sekitar 500 meter ke arah utara Kampung Muaro
Jambi atau sekitar 1000 meter ke arah barat dari Candi Astano.
Kompleks Candi Tinggi terdiri dari satu bangunan utama berbentuk
punden, enam bangunan perwara dan sebah pagar keliling. Bangunan
utama candi Tinggi berukuran 16x16 meter dengan tinggi 7,6 meter dan
memiliki areal seluas 2,92 ha (Santiko, 2014).
c. Candi Kembar Batu
Lokasi Candi Kembar Batu berada di sisi tenggara dari Candi Gumpung
dan Candi Tinggi yang berjarah sekitar 250 meter dari kedua candi
tersebut. Candi Kembar Batu terdiri dari satu candi induk, lima candi
perwara yang telah dipugar, dua candi perwara yang belum dipugar serta
pagar keliling. Secara keseluruahn komponen komplek Candi Kembar
Batu tersebut terbuat dari bata.
Gambar 1.3: Candi Kembar Batu
Sumber: Dokumentasi Pribadi
d. Candi Astano
Candi Astano terletak 1.20 meter ke arah timur laut dari Candi Tinggi
atau sekitar 350 meter ke arah utara dari tepi Sungai Batanghari di Desa
Muaro Jambi. Bangunan dari candi ini berdiri pada sebidang tanah yeng
memiliki ukuran 48x50 meter. Candi Astano dikelilingi oleh parit yang
-5-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
memiliki ukuran lebar sekitar 5 meter dengan kedalaman skitar 3 meter.
Pemberian nama Astano tersebut dikarenakan menurut legenda setempat,
di loasi areal candi terdapat makam raja-raja. Kata “Astano” memberikan
makna “makam raja”.
Gambar 1.4: Candi Astano
Sumber: Dokumentasi Pribadi
e. Candi Gedong I & II
Candi Gedong I & II berada pada lokasi yang saling berdekatan. Candi
Gedong I verukuran sekitar 14 x 14 meter dengan tinggi 3,8 meter. Candi
Gedong I memiliki kemiripan dengan bangunan-bangunan Hindu Budha
abad 15-16 M di Jawa Timur. Sedangkan Candi Gedong II memiliki luas
berukuran 75 x 67 meter dengan bangunan induk berukuran 9 x 9 meter
dan sebuah perwara.
-6-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Gambar 1.5: Candi Gedong I dan Reruntuhan bangunan utama Candi Gedong II
Sumber: mblusuk.com
f. Candi Kedaton
Candi Kedaton secara astronomis terletak 103’38’55,6 BT dan
01’28’32,8’LS. Keberadaan candi ini diketahui pada tahun 1976, setelah
diadakan kegiatan survei kepurbakalaan di lingkungan Muara Jambi oleh
Ditlinbinjarah. Kegiatan ini berhasil melakukan kegiatan penggambaran
dan pengukuran sementara hasil survey tersebut. Komplek candi ini
memiliki keistimewaan luas lahan yang terluas dibandingkan yang lain
yaitu 55850 meter persegi dan pada bangunan induk memiliki bangunan
terluas 28,13m x 25,5m serta pada bangunan induk terisi kerikil-kerikil
berwarna putih yang diambil dari Sungai Batanghari (Diami, 2007).
Candi Kedaton terletak sekitar 1500 meter menuju arah Barat dari
Candi Gedong 2, pada sebuah dataran yang sekelilingnya masih
merupakan semak belukar. Untuk mencapai lokasi ini harus berjalan kaki
atau dengan kendaraan roda dua dengan melalui jalan setapak yang
menghubungkan dengan Muaro Jambi dan Sengeti. Lokasi kelompok
Candi secara admistratif terletak diwilayah Desa Dusun Baru, Kecamatan
Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi (Budi, 2011:156).
-7-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Gambar 1.6: Candi Kedaton
Sumber: Dokumentasi Pribadi
g. Candi Kota Mahligai
Candi Mahligai merupakan candi terjaduh yang letaknya 900 meter
ke arahg barat laut dari Candi Kedaton. Secara administratif kelompok
candi ini terletak di wilayah Desa Danau Lamo. Candi Kota Mahligai
berada di daerah yang masih dikelilingi oleh rawa dan semak belukar.
Sebagaimana halnya dengan kelompok candi lain di Muara Jambi,
kelompok Koto Mahligai dikelilingi tembok pagar keliling.
Gambar 1.7: Candi Koto Mahligai
4. Nilai Leluhur Kompleks Percandian Muaro Jambi
Kompleks percandian Muaro Jambi memiliki nilai
universal yang luar biasa. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya temuan
tinggalan budaya dan lingkungan disekitar percandian yang masih utuh dan
terjaga yang dirawat oleh masyarakat lokal. Kompleks Percandian Muaro
-8-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Jambi menggambarkan akulturasi nilai budaya dan kemanusiaan dalam
sebuah jangka waktu antara masa budaya Hindu Budha di Indonesia dan
khususnya di Jambi. Nilai kemanusiaan. dapat terlihat dari bangunan candi
yang memiliki nilai filosfi Budha. Struktur bangunan candi menggambarkan
keterampilan dan pengetahuan dalam berbagai bidang mulai dari pemilihan
lokasi, metode pembangunan candi dan lingkunngan kawasan percandian.
Kawasan Muaro Jambi yang terletak di tanggul alam Sungai Batanghari
merupakan daerah rawan banjir telah ditata menjadi daerah yang baik untuk
ritual peribadatan dan pemukiman pada masa itu. Temuan kanal yang
melewati komplek percandian dan penampungan air merupakan bukti bahwa
manusia zaman dahulu memiliki kearifan lokal untuk melindungi air,
menggunakan kanal untuk transportasi serta mendapatkan protein dari
berbagai jenis ikan yang berkembang biak di kanal-kanal yang terhubung
dengan Sungai Batanghari (Saudagar, 2013).
Kawasan Percandian Muaro Jambi merupakan bukti peradaban yang
dibangun pada masa Kerajaan Melayu Kuno sekitar abad ke 7-14 M. Sebagai
seuah tradisi dan budaya yang masih terjaga hingga saat ini, Kompleks
Percandian Muaro Jambi merupakan sebuah warisan kebudayaan yang sangat
berharga. Tipe bangunan dan lanskap kawasan percandian ini
menggambarkan tahapan signifikan yang ada pada pemukiman manusia.
Penggunaan lahan dan pengolahan air pada masyarakat tradisional seakan
mewakili nilai-nilai interaksi budaya dan interaksi antara manusia dengan
alam. Selain itu, candi Muaro Jambi juga menggambarkan nilai religius
masyarakat. Terlihat dari bagaimana relasi antara manusia yang
berkomunikasi dengan tuhan melalui doa’a pujian serta kesetiaan pada tuhan
alam semesta. Nilai religius keagamaan tersebut dapat diketahui bahwa
kawasan percandian Muaro Jambi dulu telah menjadi pusat agama Budha
bahkan hingga sekarang masih menjadi tempat peribadatan terutama saat
perayaan hari besar keagamaan umat Budha di Jambi.
-9-
Kompleks Percandian Muaro Jambi
Daftar Pustaka
Buku dan Jurnal:
Buku Mimpi-Mimpi dari Pulai Emas. 2013. Yogyakarta: Babad Alas.
Budi, Utomo. 2011. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari.
Jambi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.
Davison, G. dan C Mc Conville. 1991. A Heritage Handbook. St. Leonard, NSW:
Allen & Unwin.
Dra. Hj. Retno Purwanti, M.Hum. dkk. 2009. Muaro Jambi: Dulu, Sekarang dan
Esok. Palembang: Balai Arkeologi.
Firdaus, Basori. 2017. Perencanaan Stategis Pengembangan Objek Wisata Candi
Muaro Jambi Oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Muaro Jambi. Skripsi tidak diterbitkan. Yogykarta: UMY.
Pamungkas. 2018. Candi Muaro Jambi: Kajian Cerita Rakyat, Arkeologi dan
Pariwisata. Jurnal Ilmiah Istoria, 2(2), 39-62.
Saudagar, Fachruddin. 2013. Memasuki Gerbang Situs Sejarah Candi Muaro
Jambi Pusat Kerajaan Melayu, Sriwijaya Dan Pusat Pendidikan
Agama Budha. Jambi: Yayasan Forkkat.
Syahputra, M.A.D., Sariyatun., Ardianto, D.T. 2020. Pemanfaatan Situs Purbakala
Candi Muaro Jambi Sebagai Objek Pembalajaran Sejarah Lokal Di Era
Digital. Jurnal Pendidika Sejarah Indonesia, 3(1), 77-87. Dari
http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/14165/pdf.
Utomo, Bambang Budi. 2011. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di
Batanghari. Jambi : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.
Wibowo, A.B. 2014. Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis
Masyarakat. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 8(1), 58-71.
- 10 -
Kompleks Percandian Muaro Jambi pernah menjadi pusat ibadah dan
peribadatan agama Budha di masa Kerajaan Melayu Kuno dan
Sriwijaya pada abad ke 7 sampai abad ke 14 masehi. Kompleks
Percandian Muaro Jambi merupakan kompleks percandia terluas di
Asia Tenggara yang memiliki luas tiga kali dari Candi Borobudur.
Keberadaan candi Muaro Jambi merupakan saksi bisu masa kejayaan
Melayu Kuno dan Kerajaan Sriwijaya. Keberadaan situs Percandian
Muaro Jambi mulai diketahui pertama kali dari laporan perwira
Inggris S.C. Crooke pada tahun 1820 saat ia ditugaskan untuk
mengunjungi daerah-daerah pedalaman sepanjang Sungai
Batanghari.
-1-