The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yudhikuncoro92, 2022-11-21 10:06:20

jurnal 1.2

jurnal 1.2

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN 2

VIVI FITROH SAYYIDATI, S.Pd.SD

CGP ANGKATAN 7

SDN 4 KALIPUCANGWETAN

KABUPATEN JEPARA

Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara,
dilanjutkan ke modul 1.2 tentang nilai – nilai dan peran guru penggerak . Pada modul 1.2 di
mulai dari diri dengan setiap CGP membuat trapesium usia.

Dari Trapesium usia yang sudah saya buat, saya banyak mendapatkan pembelajaran baru, yaitu
bahwa kejadian negatif atau positif meskipun sudah lama berlalu tetapi kejadian tersebut masih
teringat dan membekas dihati.

Hal tersebut menjadi pembelajaran bahwa saya sebagai guru harus bisa menjadi kenangan yang
positif untuk siswa saya dan berupaya untuk jangan sampai ada kenangan atau kejadian negatif
yang di rasakan oleh siswa saya seperti saya dulu.

Selanjutnya saya masuk pada eksplorasi konsep disini saya mendapat disini saya mendapat
pengetahuan yang luar biasa sekali diantaranya bagaimana manusia tergerak, cara kerja otak, 5
dasar kebutuhan manusia, tahap tumbuh kembang anak, tahap perkembangan psikososial Erik
Erikson, bagaimana manusia merdeka bergerak, aksioma 1 terkait pilihan motivasi intrinsic,
mewujudkan profil pelajar Pancasila, nilai – nilai guru penggerak, menuntun kekuatan kodrat
manusia, berfikir strategis dan menguatkan lingkaran pengaruh, diagram identitas gunung es, dan
peran guru penggerak.

Selanjutnya, masuk pada alur ruang kolaborasi diskusi secara virtual pada hari senin tanggal 11
November pukul 17.00 – 19.15 untuk membuat rancangan satu kegiatan sebagai upaya
mengkolaborasikan kekuatan nilai dan peran yang dimiliki setiap anggota kelompok, hasil
diskusi dari kelompok saya ( kelompok 2 ) dari kelima anggota kelompok yang paling menonjol
yaitu mewujudkan sekolah yang bersih, mengembangkan kolaborasi dari saya sendiri bu Vivi
yang memiliki nilai berpihak pada murid, inovatif, mandiri, kolaboratif dan reflektif.

Rancangan kegiatannya yaitu meminta ijin dari kepala sekolah, hasil kerja kelompok itu
dipresentasikan pada pertemuan berikutnya secara virtual yaitu hari senin tanggal 14 November
pada pukul 17.00 – 19.15 dengan pembagian tugas saya sendiri sebagai penyaji materi yang
mempresentasikan, bu ana tk notulen, bu ana smp moderator, pak doni ketua kelompok (
menjawab pertanyaan) , bu atik notulen.

Selanjutnya masuk pada demontrasi kontekstual saya membuat gambaran diri sebagai guru
penggerak dimasa yang akan datang, kemudian kegiatan dialog virtual dengan isntruktur
nasional pada hari jumat tanggal 18 November pada pukul 15.30 – 17. 00 Wib tentang nilai dan
peran guru penggerak.

Setelah mempelajari modul 1.2 dan mengikuti serangkain kegiatan baik belajar secara mandiri
maupun diskusi virtual, akhirnya sama memahami nilai dan peran guru penggerak, guru
penggerak harus memiliki nilai inovatif, kolaboratif, berpihak pada murid, mandiri dan reflektif,
peran guru penggerak yaitu mampu menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas
baik di sekolah maupun di lingkungan sekolah, mampu berkolaborasi dengan rekan dan
membimbing rekan di sekolah, dan mampu mewujudkan kepemimpinan murid, semua peran
tersebut di lakukan berdasarkan pada trilogy pendidikan menurut KHD yaitu ing ngarso sung
tulodho ing madya mangun karso tut wuri handayani.

Poin penting yang dipelajari di modul 1.2 adalah tentang nilai – nilai dan peran guru penggerak ,
setelah mempelajari modul ini di harapkan guru memiliki nilai – nilai penggerak yaitu mandiri,
kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid, dan reflektif. Guru juga harus mampu menjadi
pemimpin pembelajaran, mampu berkolaborasi dengan rekan dan mampu menggerakkan rekan
serta mewujudkan kepemimpinan murid, selain itu saya juga mempelajari tentang bagaimana
cara kerja otak yang pertama yaitu system berfikir cepat dan berfikir lambat, kedua kebutuhan
dasar manusia yang terdiri dari kebutuhan bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima,
kekuasaan dan penguasaan, kebebasan dan kesenangan, ketiga tahap tumbuh kembang anak
bahwa setiap anak memiliki cara pandang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya, kemudian
di modul juga menjelaskan diagram identitas gunung es yang menjelaskan konsep penumbuhan
karakter

Materi yang sudah dipelajari tersebut dapat diimplementasikan sesuai dengan nilai dan peran
penggerak, saya harus mampu menjadi :

1. Pemimpin pembelajaran : menyusun desain pembelajaran, membuat assemen dan
melakukan refleksi pembelajaran di setiap pembelajaran yang dilakukan, menyusun
pembelajaran yang inovatif sesuai kebutuhan siswa, membuat evaluasi sebagai perbaikan
pembelajaran berikutnya dan dalam pembelajaran yang saya lakukan harus berpihak pada
murid sesuai dengan karakteristik siswa agar tujuan pendidikan dalam memerdekakan
anak bisa terwujud.

2. Menjadi coach bagi guru lain: memberikan bimbingan atau pendampingan ke rekan guru
untuk melakukan pembelajaran yang berpihak pada siswa, hal ini di lakukan dengan
adanya supervisi, sehingga saya bisa melakukan pendampingan pembelajaran mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, penyusunan assemen, dan melakukan refleksi untuk
pembelajaran berikutnya. Agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan optimal maka
saya sendiri harus mandiri yaitu belajar untuk meningkatkan kompetensi diri.

3. Mendorong kolaborasi : berkerjasama untuk mencari solusi dari permasalahan yang di
temukan dalam pembelajaran, kegiatan supervisi juda di lakukan untuk menemukan
permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran sehingga saya dan rekan guru

bekerjasama untuk mencari solusi dari permasalahan yang ditemukan, selain itu saya juga
bekerjasama dengan guru sejawat untuk meninggkatkan proses pembelajaran.
4. Mewujudkan kepemimpinan murid dalam pembelajaran saya mendesain sesuai dengan
kebutuhan dan minat siswa sehingga siswa belajar dnegan menyenangkan, siswa akan
aktif pembelajaran sesuai dengan potensi masing – masing.
5. Menggerakkan komunitas praktisi dengan mengaktifkan komunitas belajar di sekolah,
dimana guru mendesiminasikan hal baru yang didapat disetiap mengikuti pelatihan atau
workshop guna meningkatkan kualitas diri, kualitas siswa dan mutu sekolah.


Click to View FlipBook Version