The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dini Rahma, 2023-08-23 19:29:13

TUGAS AKHIR - KONSENTRASI BAPIA 2020

TUGAS AKHIR - KONSENTRASI BAPIA 2020

Kumpulan Cerita Rakyat PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA TAHUN 2023 KONSENTRASI BAPIA 2020


Teriring rasa syukur kepada Allah SWT. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan atas junjungan nabi kita nabi besar Muhammad SAW sang revolusioner sejati pembawa pencerahan dari zaman kegelapan. Sang edukator sejati, suri tauladan, dan pemimpin umat manusia. Kumpulan cerita rakyat - Legenda nusantara ini lahir melalui bahan referensi yang memadai dan forum diskusi kelompok sehingga buku ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Guna memenuhi tugas mata kuliah Pendalaman materi Bahasa Indonesia yang dibimbing oleh dosen dibidangnya yaitu Ibu Anggia Suci Pratiwi, M.Pd. Buku ini masih jauh dari kata sempurna, banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan itu sendiri. Oleh karena itu penulis membuka lebar kritik dan saran demi perbaikan yang berkelanjutan. Akhir kata, terimakasih atas semua pihak yang telah memberikan kontribusi terhadap makalah kami, baik untuk pembaca semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan dan untuk penulis yang berusaha memberikan yang terbaik. Tasikmalaya, Agustus 2023 Penyusun,


Kata Pengantar .......................................................... 1 Daftar Isi .................................................................... 2 Legenda Nusantara 1. Legenda gunung malang ......................................... 3 2. Legenda Sukanagara .............................................. 4 3. Legenda situ gede .................................................. 5 4. Legenda desa leuwidulang ...................................... 7 5. Legenda kampung Cibeureum ................................. 8 6. Legenda kampung gobras ....................................... 10 7. Legenda pantai karang Nini ..................................... 11 8. Legenda situ Cibeureum .......................................... 12 9. Legenda kampung rawa girang ................................ 13 10. Legenda situ sanghiyang ....................................... 14 11. Legenda kampung panyalahan ................................ 15 12. Legenda kampung Mangunsari ............................... 17 13. Legenda kampung Sirung ....................................... 18 14. Legenda desa Cikoneng .......................................... 19 15. Legenda Curug panoongan ..................................... 20 16. Legenda batu hiu ................................................... 21 17. Legenda Desa Cineam ............................................. 22 18. Legenda kampung sukaruji .................................... 23 19. Legenda situ gede .................................................. 24 20. legenda situ Cibeureum ......................................... 25 21. Legenda buniseuri dan Sadananya ......................... 26 22. Legenda Situ Sanghiyang ...................................... 29 23. Legenda Gunung Galunggung ................................ 31


Pada awalnya Gn. Malang belum ada yang ada hanya Gn. Jambu, karena letaknya yang dikelilingi bukit dan berada ditengah sawah. Dulu di Gn. Jambu hanya ada beberapa rumah dan kepala keluarga, karena faktor keadaan letak yang jauh dari keramain. Meskipun demikian warga yang ada di Gn, Jambu terus mengalami perubahan, perubahan tersebut tidak lepas dari seorang pemimpin yaitu RT bernama H.Ali. Kemudian Gn. Jambu tertimpa bencana longsor, kemudian H.Ali dan warga memutuskan untuk mengungsi ke sebuah bukit yang berada dekat dengan Gn. Jambu, letak bukit tersebut menyinggung atau malang, kemudian H.Ali dan warga sepakat untuk menetap di bukit itu, hingga mereka menyebutnya Gn. Malang. Seiiring berjalannya waktu, dan pergantian pemimpin atau RT maka banyak sekali perubahan yang dialami, mulai dari banyaknya rumah, adanya listrik, dan akses jalan. Perubahan-perubahan itu tidak terlepas dari campuran tangan warga dan pemimpin terutam H.Ali.


Sukanagara awalnya bernama cigowak ,nama cigowak Ketika sedang Berjaya terkenal dikalangan para pejuang sebagai daerah pertahananuntuk menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan untuk mempertahankan keutuhan NKRI dari rongrongan yang menginginkan perpecahan pemberontakan DI/TII.Pada tahun 1950 daerah pertahanan TNI dan para pejuang tersebut tepatnya berlokasi di pasir batang. Pada tahun 1980 dipelopori oleh para tokoh masyarakat yang berada di wilayah ci gowak diantaranya tokoh ulama,totkoh pemuda dan tokoh-tokoh lainya,mengadakan suatu perundingan agar cigowak mengadakan pemegaran.mengingat:1) Luas wilayah cigowak yang begitu luasnya, 2) Jumlah penduduk yang memenuhi persyaratan pemekaran. Setelah adanya perundingan,semua tokoh yang hadir menyepakati Cigowak dibagi dua wilayah,maka sejak tahun 1980 tersebut status cigowak mengalami pemekaran menjadi 2 yaitu:Cigowak sebagai awal berganti nama menjadi desa sukanagara dan pemekarannya bernama sukasenang. Dari para pemimpin yang sekian banyak memegang tonggak di sukanagara,yang paling dikenal dikalangan masyarakat yaitu NATA DIJAYA,setelah wafat beliau dimakamkan di lokasi pasir jambu,makam inilah yang di jadiaknsuatu keramat yang bagi mereka yang berkeinginan menjadi seorang pemimpin,bahkan kemakam inilah mereka berjiarah.


Situ Gede adalah kawasan danau seluas 47 hektar yang terletak di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat dan dapat diakses sekitar 30 menit dari pusat kota. Di bagian tengah situ ini terdapat satu pulau seluas satu hektar, dan di dalamnya terdapat makam Eyang Prabudilaya, seorang tokoh agama Islam. Kisah yang berkembang di masyarakat tentang asal mula terbentuknya situ ini pun berkaitan erat dengan perjalanan hidup Eyang Prabudilaya. Eyang Prabudilaya, atau Prabu Adilaya, adalah seorang Raja Muda Sumedang. Dikisahkan setelah ia menyelesaikan ilmu kanuragan di Sumedang, Ia berangkat ke Mataram untuk menuntut ilmu agama bersama istrinya, Nyai Raden Dewi Kondang Hapa, beserta dua pelayannya atas permintaan sang ibu. Sesampainya di Mataram, Prabu Adilaya berguru ke Kyai Jiwa Raga dan menyelesaikan pembelajarannya dengan sangat cepat dan membuat sang guru kagum. Menjadi murid Kyai Jiwa Raga terbaik, ia dinikahkan oleh sang guru dengan putrinya yang cantik jelita, Dewi Cahya Karembong, sebagai istri keduanya. Bersamaan dengan itu, Prabu Adilaya juga diminta untuk berguru mencari ilmu Islam lagi ke tatar Sukapura. Dalam perjalanan menuju tatar Sukapura, meskipun pada awalnya kedua istri Prabu baik-baik saja dan tentram, Istri keduanya, Dewi Cahya Karembong, mulai mempertanyakan sang Prabu. Karena setelah menikah, Ia belum saja menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia pun bertanya kepada Nyai Raden Dewi Kondang Harpa dan ternyata ia pun sama-sama belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, meski sudah menikah satu tahun lamanya. Meskipun hal ini sebenarnya disebabkan oleh tekunnya Prabu Adilaya dalam menuntut ilmu dan menjadi melupakan kewajibannya sebagai seorang suami, ide dan itikad buruk pun mulai muncul di pikiran kedua istrinya ini. Pikiran akan datangnya istri ketiga setelah Prabu menyelesaikan perguruannya di tatar Sukapura membuat Nyai Raden Dewi Kondang Harpa dan Dewi Cahya Karembong merencanakan pembunuhan sang Prabu. Ketika terlelap, Kedua istri Prabu menghujamkan keris di dadanya, dan dengan tanpa teriakan, tetapi kalimat asma Allah, Prabu menghembuskan napas terakhirnya. Kedua istrinya pun berencana menguburkan jenazahnya, hingga tiba di suatu rawa-rawa. Ketika para pelayannya yang disuruh menggali selesai, mereka berdua pun dibunuh untuk menutupi jejak kedua istri Prabu ini. Mereka dikuburkan bersama di rawa-rawa ini yang memang tersembunyi.


Purnama telah banyak berganti, namun tak ada kabar sang Raja Muda di Sumedang sejak ia pergi ke Mataram. Sang Ibu yang khawatir pun mengutus adik sang Prabu untuk menelusuri sang kakak. Hingga sampai di tatar Sukapura, Ia tidak bisa menemukan keberadaan maupun kabar sang kakak karena memang makamnya tersembunyi. Ketika hendak berniat pulang, Adik sang Prabu ini malah mengikuti sayembara melawan seekor singa, hingga menang dan akhirnya dinikahkan dengan putri penguasa daerah. Hal ini pun membuatnya lupa akan pulang ke Sumedang. Pada akhirnya, karena Sang Ibu masih mengharapkan pulang kedua anaknya, Ia sendiri lah pergi menelusuri jejak anaknya. Dari Mataram Ia mengetahui bahwa kedua anaknya ini pergi ke tatar Sukapura. Sepanjang perjalanan ke Sukapura, Ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar kedua anaknya dapat ditemukan. Dengan izin Allah, sesampainya di Sukapura ia berakhir di rawa-rawa tersembunyi tadi dan melihat cahaya yang memancar dari dalam gundukan tanah. Berdoa dan memohon petunjuk Allah, akhirnya didapatkanlah petunjuk bahwa di dalamnya ada jenazah Prabu Adilaya dan kedua pelayannya. Air mata sang ibu tak tertahankan, berurai deras ke tengah gundukan tanah tempat Pewaris Tahta Sumedang terkubur. Doa pun ia panjatkan agar terlindung makam putranya, maka air rawa di sekitar makam ini pun naik beberapa meter hingga menyisakan makam sebagai pulau di tengahnya. Ada bisikan kepada sang Ibu untuk menancapkan tongkat yang dibawanya, hingga tumbuhlah pohon-pohonan rimbun di pulau itu. Pada saat akan pulang menyebrangi rawa yang sudah menjadi danau, ada empat ekor ikan yang sang Ibu beri nama si Gendam, si Kohkol, si Genjreng, dan si Layung dan diberi tugas untuk menjaga makam sang Prabu dari tangan-tangan jahil yang mengganggunya. Ketika bertemu dengan dua penduduk lokal saat hendak berangkat, sang Ibu berpesan : "Mugi aranjeun kersa titip anak kuring di pendem di eta nusa, jenengannana sembah dalem Prabu Adilaya, wangku ka prabonan di Sumedang mugi kersa maliara anjeuna dinamian juru kunci (kuncen) jeung kami mere beja saha anu hoyong padu beres, nyekar ka anak kami oge anu palay naek pangkat atawa hayang boga gawe kadinya, agungna Allah cukang lantaranana sugan ti dinya. ” Yang artinya : "Semoga kalian bersedia untuk dititipi anak saya yang dimakamkan di pulau itu, namanya Sembah Dalem Prabu Adilaya, yang memegang tampu ke prabuan di Sumedang semoga kalian bersedia untuk memeliharanya, dan saya memberitahukan kepada siapapun yang berselisih ingin beres, atau naik pangkat juga ingin punya pekerjaan silahkan nyekar ke sana, agungnya kepada Allah SWT semoga sareatnya dari sana. ” Hingga saat ini, kawasan Situ Gede masih memiliki juru kunci, dan konon katanya di kedalaman air Situ Gede memang terdapat ikan-ikan raksasa penjaga makam Eyang Prabudilaya.


Leuwidulang terletak di kecamatan Sodonghilir, kabupaten Tasikmalaya.Nama Leuwidulang itu sendiri diambil dari kata “Leuwi” dan “Dulang” . Kata “Leuwi” diambil dari sebuah nama Palung yang berada di kali Cilongan. Palung tersebut berbentuk menyerupai sebuah alat memasak yaitu “Dulang” .Sehingga dapat disimpulkan bahwa arti nama Leuwidulang adalah sebuah palung di kali sungai cilongan yang berbentuk menyerupai dulang.Leuwidulang berada kurang lebih 85 KM dari pusat kota Singaparna. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani, namun ada juga peternak dan pedagang. Kehidupan beragama di Leuwidulang pertama kali diajarkan oleh tokoh penyebaran Islam yakni K.H Muhamad A’in atau yang sering dianggap dengan sebutan “mama hj. A’in” . Mama hj A’in adalah seorang tokoh penyebar Islam yang baru kembali dari pembuangannya di Nusa Kambangan, ia juga merupakan seorang tokoh DITII (Darul Islam Tentara Islam Indonesia). Kemudian penyebaran Islam di Leuwidulang dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Peringatanperingatan Islam seperti tahlilan, tasyakur kelahiran anak, masih berkembang, namun pelaksanaannya berbeda seperti tahuntahun sebelumnya. Meskipun demikian masih ada sebagian masyarakat yang masih mempercayai adanya kekuatan ghaib dan adanya kuburan-kuburan keramat


Legenda Daerah Cibeureum salah satunya daerah Situ Cibeureum di Kota Tasikmalaya masih kerap diperbincangkan, terutama oleh masyarakat sekitar. Situ Cibeureum dipercaya memiliki penjaga gaib agar kelestarian dan keasrian danau alam yang berusia tua ini tetap utuh. Berdasarkan perbincangan penulis dengan kuncen atau juru kunci Situ Cibeureum Atang, terdapat dua penjaga di Situ Cibeureum yaitu berupa ikan. Keberadaan penjaga gaib ini dipercaya membuat danau yang terletak di tengah perkampungan warga Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, masih terawat alami serta tidak tersentuh kreasi pemerintah untuk dijadikan objek wisata sampai sekarang. Dua sosok penjaga itu dikenal dengan nama Si Layung dan Si Kohkol, berupa ikan yang pada waktu tertentu kerap menampakkan diri. Si Layung berjenis Ikan Mas yang akan muncul kalau air meluap. Karena warnanya merah, permukaan air terlihat kemerahan sehingga warga menamai “Cibeureum” atau air yang berwarna merah. Si Layung pun dikabarkan bisa membesar dan mengecil. Dia muncul sekitar pukul 11.00 WIB yang sebelumnya ditandai dengan air beriak yang menurut warga sebatas mengontrol situasi agar situ tetap terjaga. Jika ada yang berbuat tak senonoh atau membuang sesuatu ke tengah danau, Si Layung akan menampakkan diri dengan air bergelombang sebagai ekspresi kemarahan. “Jadi siapa saja yang membuang sampah sembarangan atau ada yang berbuat mesum di situ tersebut dipastikan terjadi yang tidak diinginkan, ” kata Atang. Kemudian, Si Kohkol berupa ikan “deleg” seperti ikan Nilam besar yang datang satu minggu sekali. Ikan ini dikisahkan penjaga semua situ yang ada di Tasikmalaya sampai Ciamis. Di Situ Cibeureum terdapat nama Si Kohkol, begitupun di Situ Geude dan Situ Panjalu Ciamis. Pekerjaan Si Kohkol berkeliling dari situ yang satu ke situ yang lain. Warnanya bermotif dengan ukuran sebesar pentungan masjid yang menampakkan diri ditandai dengan melimpahnya ikanikan kecil seolah berbahagia dikunjungi pimpinannya. “Pokoknya ikanikan kecil mendadak muncul seolah bergembira sehingga banyak warga yang mendadak mengail ikan. Jika waktu itu tiba, pertanda Si Kohkol datang, ” kata Atang.


Si Kohkol juga lebih suka menampakkan diri di pinggir situ, berbeda dengan Si Layung di tengah Situ. Warga selalu berbondong- bondong melihat keberadaan Ikan ini meski jarang sekali dijumpai. “Tapi Si Kohkol dan Si Layung itu benar adanya kok. Silakan saja Bapak berbuat yang tidak-tidak. Dijamin akan ada riak air seperti ombak, ” ujar Atang meyakinkan. Atang pun merasa tidak khawatir kealamian Situ Cibeureum karena siapa saja yang melanggar larangan selalu ketiban sial mulai dari kesurupan sampai meninggal dunia tenggelam di Situ Cibeureum. “Intinya mari sama-sama kita rawat situ ini karena mereka juga sama seperti manusia memiliki kehidupan. Tidak merawat situ sama halnya membunuh kehidupan mereka karena situ bermanfaat bagi manusi juga, ” tuturnya. Keberadaan Situ Cibeureum memang sangat bermanfaat. Selain menjadi sumber pengairan pesawahan di Kecamatan Tamansari, juga menjadi mata pencaharian warga karena ketika air melimpah mendapat ikan, ketika air kemarau menjadi tempat mengembala kambing. Bahkan seiring perkembangan jaman, nusa atau pulau kecil tengah situ menjadi Bumi Perkemahan meski diseberangnya terdapat enam makam keramat yakni makam Ki Bagus Djamri, Syeh Majagung, Dambawati, Sugrianingrat, Ratnaningru dan Ratnawulan. Makam-makam tersebut merupakan Priyayi Padjadjaran dan Sumedang yang hidup di era Galuh Pakuan sampai Mataram. Jadi selain Si Layung dan Si Kohkol tadi, banyak juga warga yang sekadar berziarah ke makam yang terletak di pinggir Situ Cibeureum. “Tong cawokah. Eta wae pesenna teh (Jangan bicara sembarangan. Itu saja pesannya), ” kata Atang, yang kini telah tiada.


Gobras adalah tempat dimana saya tinggal dan dilahirkan. Gobras memiliki cerita tersendiri dimana pada zaman dahulu kala ada seorang raja; yang bernama Prabu Dilaya, beliau memiliki dua orang istri yang bernama Sekar karembong dan Kondang Hapa. Suatu ketika, raja Prabu Dilaya tidak berada di tempat Sekar Karembong ataupun di tempat Kondang Hapa. Sehingga kedua istrinya bertanya-tanya, berada dimana suami mereka? Kedua istri berprasangka keberadaan raja Prabu Dilaya. Tetapi yang sebenarnya raja Prabu Dilaya sedang bersemedi dan tidak memberitahu Sekar Karembong ataupun Kondang Hapa. Akan tetapi, Sekar Karembong dan Kondang Hapa malah berencana untuk membunuh raja Prabu Dilaya yang sedang bersemedi. Darahnya mengaril di tempat itu yang sekarang tempatnya di beri nama Situ Cibeureum, kemudian raja Prabu Dilaya rencananya akan di makamkan di salah satu kampung yang sekarang di beri nama Ci Fajar karena pada saat raja akan di semayamkan disitu tetapi terlambat karena matahari atau fajar sudah mulai terbit, dan akhirnya raja di kuburkan di salah satu situ yang ada di Tasikmalaya, dan melewati kampung Gobras ,di sebut kampung Gobras karena pada saat itu banyaknya jebakan yang dan pada akhirnya banyak yang jatuh di jebakan itu. Dan yang paling terkenal adanya gunung gobras.


Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut, mereka adalah ki Argapati Ara dan nini Ambu Kolot . Meskipun mereka tidak mempunyai anak tetapi mereka menjalani hari-harinya dengan penuh bahagia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ki Argapati Ara bekerja sebagai nelayan. Setiap hari beliau pergi melaut saat malam tiba dan kembali keesokan paginya. Sebagian ikan hasil tangkapannya dijual ke pasar dan sebagian lainnya di jadikan lauk pauk. Nini Ambu Kolot setiap harinya sibuk mengurus rumah. Suatu hari ki Argapati Ara merasa kurang enak badan sehingga nini Ambu Kolot berkata kepada suaminya untuk tidak melaut dulu untuk sementara tetapi suaminya yaitu ki Argapati Ara memaksakan diri untuk melaut karena persediaan makanan sudah hampir habis sehingga nini Ambu Kolot terpaksa mengizinkan suaminya untuk tetap pergi bekerja ke laut dengan kondisi sedang sakit. Ki Argapati Ara melaut tidak mendapatkan hasil, jala yang digunakan untuk menangkap ikan terlihat kosong dan tidak ada seekor ikan pun terlihat, tetapi ki Argapati Ara tidak menyerah hingga beliau merasa sangat lelah sampai tidak tertahan. Pagi pun tiba, ni Ambu Kolot pun menyiapkan makanan untuk suaminya yang sebentar lagi pulang. Matahari sudah sampai di atas kepala namun ki Argapati Ara belum juga pulang, nini Ambu Kolot pun mulai merasa cemas dan pergi ke pantai, dia melihat banyak perahu yang sudah berlabuh kecuali perahu milik suaminya. Tetangganya yang melihat nini Ambu Kolot yang tidak biasa berada di pantai pun bertanya kepada beliau apa yang sedang di lakukannya di pantai. Ni Ambu Kolot pun menjelaskan kepada tetangganya tersebut bahwa dirinya sedang mencari suaminya yang tidak kunjung pulang sehingga tetangganya pun ikut merasa cemas dan menghibur ni Ambu Kolot. Tetangganya pun pergi mencari ki Argapati Ara sampai malam tiba dan tetangganya pun berhenti mencarinya dan berniat untuk melanjutkan pencarian keesokan hari. Tetapi rasa cemas ni Ambu Kolot tidak terbendung lagi sampai malam tiba pun ni Ambu Kolot masih di pantai seorang diri . Ni Ambu Kolot duduk bersimpuh dan berdo'a agar beliau di pertemukan dengan suaminya. Beliau terkejut ketika melihat sebuah batu karang tiba-tiba muncul di depannya dan semakin terkejut ketika sebuah suara terdengar "Dulu suamimu sudah meninggal dan batu karang ini merupakan penjelamaannya" maka nini Ambu Kolot pun merasa sedih dan berdo'a agar dirinya dijadikan batu karang seperti suaminya agar bisa menemani suaminya. Tuhan pun mengabulkan do'anya. Sekarang tempat ni Ambu Kolot berubah menjadi batu karang dinamakan pantai karang nini sedangkan batu karang jelmaan ki Argapati Ara di sebut Balekambang.


Situ Cibereum Terletak di Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, danau ini memiliki luas lahan sekitar 21 (Ha) hektare dan merupakan danau terluas kedua, setelah Situ Gede. Situ Cibeureum, memiliki fungsi ekologi seperti Situ Gede, yaitu sebagai penjaga ekosistem dan sumber irigasi warga sekitar. Menurut sejarah, sekitar 500 tahun yang lalu atau 15 Masehi, tinggal seorang tokoh di era Kebataraan Galunggung. Yakni, seorang tokoh agama zaman Hindu yang dikenal dengan sebutan Ki Tubagus Djamri. Nama Situ Cibeureum sendiri diambil karena pada zaman dahulu, air di situ ini berwarna kemerahan, sehingga dinamakan Situ Cibeureum (Air Merah). Warga sekitar, Ahmad Dani Kajadi menjelaskan, pada zaman dahulu, situ ini dibuat oleh Ki Tubagus Djamri menggunakan sepotong kayu dari pohon bungur. Kayu dari pohon bungur ini digunakan untuk menggali tanah hingga menjadi situ. “Ya, menurut cerita turun temurun, situ ini dibuat oleh salah seorang tokoh agama bernama Ki Tubagus Djamri menggunakan sepotong kayu bernama kayu bungur. ” “Kemudian dengan sepotong kayu itu beliau gunakan untuk menggali tanah hingga menjadi situ, ” kata Ahmad. Ahmad menyebutkan, dengan adanya Situ Cibeureum ini, menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar. “Alhamdulillah, situ ini bisa dimanfaatkan dan menjadi mata pencaharian penduduk sekitar dengan mengambil ikan, kerang, siput dan umbi-umbian yang ditanam di perbukitan sekitar situ, ” kata Ahmad. Selain itu, situ ini menjadi objek wisata di Kota Tasikmalaya. Di mana, banyak warga Tasik maupun luar daerah yang berkunjung ke situ ini untuk menikmati keindahan alamnya.


Dinamakan Kampung Rawagirang karena suka di panggil rawa paling girang, dan juga adanya tumbuh batu yanga ada di Kampung Rawagirang yang disebut Sanghiyang. Awal nya Rawagirang itu rawa-rawa yang sering orang sebut dengan rawa paling girang sehingga masyarakat rawagirang menyebutnya dengan sebutan rawagirang.Ada juga tumbuhnya batu sanghiyang atau batu sakti.batu itu tidak bisa dilepas.Sejarah tumbuhnya batu sanghiyang adalah tempat upacara penyembahan untuk menyembah hiyang ditempat itu dulunya ada 25 batu dan batu itu disebut dengan patekong-patekong karena batu patepong dianggap musyrik oleh masyarakat sehingga masyarakat menghancurkan patekong-patekong itu dan tersisa satu batu yaitu batu sanghiyang/batu sakti,dan sampai sekarang harus di jaga dan dilestarikan. Mitos kampung Batu Sanghiyang bisa menyembuhkan orang sakit dengan memeluk batu itu. Banyak orang bilang batu itu akan dijadikan Ka'bah tetapi dengan adanya batu itu tidak jadi untuk dijadikan ka'bah. menurut saya pengetahuan mitos ini bersifat subjektif (masih menduga-duga dan sepengetahuan manusia dan sejak dulu mitos ini dapat dipercayai kebenarannya karena keterbatasannya pengetahuan. Mitos ini nyata atau tidak nyata (mistis) yang pernah dialami oleh orang-orang dahulu. Sanghyang Kenit tak hanya indah namun juga menyimpan cerita mitos dibaliknya. Terdapat dua cerita mitos yang berkembang di masyarakat terkait nama Goa di Bandung satu ini. Walaupun mitos ini tidak mempunyai dasar bukti yang jelas, namun penduduk sekitar masih mempercayai cerita dibaliknya.


Asal mula dariSitu Sanghyangini. Diperkirakansitu atau danauinisudah ada sejak zamanMataram Kuno.Menurutcerita yang beredar di masyarakat, konon di danau tersebut tersiar kabar adanya fenomena yang dikaitkan dengan dunia mistik.Sering terlihat berpindahnya rimbunan pohon kiray yang maju dengan sendirinya ke tengah danau, tentunya fenomena ini dijadikan warga sebagai totonden (pertanda) bakal adanya sebuah kejadian. Terdapat sebuah legenda, mitos, atau dongeng, yang menyebar dari mulut ke mulut, yakni tentang tenggelamnya perkampungan Saung Gatang. Cerita dongeng yang beredardi masyarakat, Situ Sanghyang bermula dari kisah seorang anak raja yang tinggal di perkampungan Saung Gatang. Perkampungan Saung Gatang itu, berada di kedalaman situ. Seorang anak raja yang terpincut akan kecantikan seorang wanita, kemudian dia memerintahkan dua orang pengawalnya untuk membawa kembang desa tersebut supaya dapat dinikahi. Dan akhirnya para pengawal pun berhasil membawa gadis tersebut ke istana. Diadakanlah pesta besarbesaran selama tujuh hari tujuh malam. Sesampainya di Saung Gatang, Resi Galunggung mendapati pesta meriah. Karena sakit hati, Resi Guru berubah wujud menjadi budak buncir (anak hitam). Sesaat setelah berubah, seketika ribuan hewan anjing datang dan menggonggong ke arah lokasi pesta. Suaragonggongananjing di luarkemudianberadu dengan suara riuhnyapesta, lama kelamaan suaranyaseperti ngahiang. Jadi nama ngahiang itu tercipta dari riuhnya dua suara yang beradu. Dan nama sang sendiri merupakan sang pelaku, yakni sang resi dan sang pangeran. Adapun terjadinya Situ dikarenakan sang pangeran merasa terganggu dengan suara-suara di luar dan merasa terpancing dengan tantangan si buncir. Si Buncir akan berguru jika seandainya sang pangeran dan para punggawanya bisa mencabut tujuh batang lidi yang berjejer. Karenatidak ada yang sanggup mencabutlidi, dengan kesaktiansang resi, dari lubang batanglidi yang dicabut keluar air yang tidak terbendung dan membentuk sebuah situ/danau. Resi pun mengeluarkan supata (kutukan), semua yang ikut tenggelam bersama pangeran menjelma menjadi ikan. Sejak terbentuknya situ banyak keangkeran di daerah tersebut. Burung yang melintas didanau dan yang meminum air hilang tak berbekas. Kendati ada situ namun airnya tidak bisa dimanfaatkan warga.


Alkisah, hiduplah sepasang suami istri di daerah Tasikmalaya. Mereka berdua hidup bahagia sebagai petani, meskipun keduanya merasa hidup mereka kurang lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Suatu ketika, pasangan suami istri tersebut menemukan seekor harimau kecil yang hidup sebatang kara. Ternyata, harimau kecil tersebut ditinggal mati oleh sang induk. Merasa iba, keduanya pun memutuskan untuk membawa pulang harimau kecil tersebut dan memeliharanya. Mereka bahkan menganggap harimau tersebut sebagai bagian dari anggota keluarga. Harimau itu mereka beri nama “Loreng” . Si Loreng dibesarkan dengan penuh kasih sayang layaknya seorang anak oleh pasangan tersebut. Ikatan emosional yang terjalin menjadikan Si Loreng memahami apa yang dikatakan pasangan suami istri itu. Kerap kali, Loreng diminta untuk melakukan sesuatu dan harimau itu mampu menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dengan sangat baik. Waktu berlalu, anak yang pasangan itu dambakan sejak lama akhirnya hadir juga. Seorang bayi laki-laki telah melengkapi keluarga kecil itu. Tentu saja pasangan itu sangat menyayangi bayinya dan sangat menjaga keselamatan bayi tersebut. Hingga suatu siang, sang istri harus mengantarkan makanan bagi suaminya yang sedang bekerja di ladang. Sang istri kemudian berpesan pada Si Loreng agar menjaga bayinya selama dia meninggalkan rumah. Merasa Loreng dapat dipercaya, sang istri kemudian pergi menyusul suaminya dengan perasaan ringan. Sang istri meninggalkan rumah hingga suaminya selesai makan. Saat sedang membenahi bekas makan siang mereka, pasangan suami istri tersebut dikejutkan dengan kedatangan Si Loreng. Harimau itu berlari kencang ke arah keduanya, lalu menggosokkan seluruh tubuhnya pada sang pemilik. Merasa tingkah Si Loreng sangat aneh, sang suami kemudian mendekati Si Loreng dan memeriksa keadaan harimau itu dengan seksama. Saat itulah dia menemukan noda darah segar di sekitar mulut Si Loreng. Seketika pikiran buruk memenuhi kepala sang suami. Dia menyangka harimau itu telah menerkam bayi kesayangannya.


Dengan penuh amarah, sang suami berteriak menuduh Si Loreng. Harimau itu pun kebingungan dengan tingkah majikannya. Tanpa pikir panjang, sang suami kemudian mengeluarkan golok dan mengibaskannya tepat di leher Si Loreng. Harimau itu kemudian mati dengan kepala terpenggal. Suami istri itu kemudian berlari pulang untuk melihat kondisi bayi mereka. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat bayi itu tengh tertidur pulas dengan tenangnya. Belum selesai rasa terkejut mereka, keduanya kembali dikejutkan dengan bangkai ular besar yang berlumuran darah tepat di bawah ayunan sang bayi. Pasangan suami istri itu pun tertegun dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi mereka lega bayinya selamat, tapi di sisi lain mereka juga menyadari bahwa telah salah menuduh Si Loreng yang ternyata telah menyelamatkan nyawa bayi mereka. Konon katanya, pasangan suami istri tersebut tinggal di daerah yang kini bernama Desa Panyalahan. Kata “Panyalahan” sendiri diambil dari kisah ini dan berasal dari kata berbahasa Sunda yaitu “Nyalahan” yang artinya “Menyalahkan / Salah Menuduh” . Bahkan kini beredar pula kepercayaan masyarakat sekitar yang menyebut bahwa senjata apa pun tidak akan mempan untuk membunuh harimau di sana.


Kampung Mangunsari dulunya bernama Mangunyasa yang dibentuk oleh Bah Mangunyasa sendiri.Beliau adalah penduduk asli kampung Mangunsari yang dapat disebut juga sebagai sesepuhnya.Namun,setelah beliau wafat nama Mangunyasa pun berganti menjadi Mangunsari. Bergantinya nama Mangunyasa menjadi Mangunsari karena kampung ini terbilang cukup subur dan makmur dengan sumberdaya alamnya terutama air. Mangunsari sendiri memiliki arti Pembangunan yang nyari dalam artian kampung ini merupakan kampung yang nyaman bahkan saking nyamannya warga sini membuat pepatah”siapapun yang menikah dengan warga sini dan bertempat tinggal disini pasti akan betah” .Sebelum menjadi seperti ini dulu pernah terjadi sebuah kebakaran yang cukup besar di kampung ini.Yang pada akhirnya setelah kejadian itu warga sini kembali membangun perkampungan dan sekarang kampung Mangunsari pun padat dengan penduduk.


Kampung Sirung nama asalnya yaitu kampung Singasari,didirikan oleh mpu majusri dan sudah berdiri sekitar tahun 1940 an .Pada saat itu sebelum di ganti dengan nama kampung Sirung,kampung ini mengalami ketidak suburan pada pepohonan dan ketidak kerukunan dimasyarakat nya. Kemudian nenek moyang mencoba menggantinya dengan nama kampung sirung . Beberapa hari setelah diubahnya nama kampung Singasari menjadi kampung sirung,Tanaman atau pepohonan semakin tumbuh dan subur.Dan ada satu pepepohonan yang tumbuhnya itu bercabang atau kalau dikampung saya namanya “sirungan” pohon itu sampai subur dan segar. Dan masyarakatnya juga ikut bercocok tanam dan semakin rukun sampai sekarang. Nah dari situlah kampung Singasari diganti menjadi kampung sirung.


Pada jaman dahulu (sekitar masa Penjajahan Belanda) Desa yang sekarang terkenal dengan nama Desa Cikoneng dulunya merupakan kawasan hutan yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk dijadikan perkampungan atau tempat tinggal, pada saat itu untuk menghindari dari kejaran pasukan Kompeni Belanda dan diceritakan pada jaman itu pulalah ada seorang tokoh masyarakat atau sesepuh yang bernama Eyang Bagus Solihin dan dari beliaulah cikal bakal berdirinya Desa Cikoneng. Awal mula Desa diberi nama Cikoneng berasal dari Sebuah Sumur tua yang diyakini oleh masyarakat setempat adalah petilasan/ bekas Pemandian dari Eyang Bagus Solihin keturunan dari Banten yang menurut dari keyakinan masyarakat itu konon katanya bekas atau patilasan Pemandian Eyang Bagus Solihin itu airnya berwarna Kuning atau dalam bahasa sunda Koneng maka lahirlah nama sebuah Desa yaitu yang terkenal sekarang dengan nama Desa Cikoneng berdiri sekitar tahun 1890 dengan Kepala Desa yang pertama M. Singawinata Demang Singamanggala dengan julukan Kuwu Bintang karena jasa-jasanya yang telah berhasil membangun saluran Irigasi dari Desa Panaragan lewat Desa Kujang, Cikoneng dan Gegempalan (Irigasi Sungai Ciloganti).


Curug Panoongan berlokasi di Kp. Sukasari Desa Cibanteng Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya. Curug Panoongan ini memiliki kisah sejarah yang berkaitan dengan nama Curug tersebut. Konon, Curug Panoongan merupakan tempat pertarungan (sayembara) dua jawara untuk memperebutkan seorang wanita. Sekarang, Curug Panoongan dijadikan destinasi wisata yang dikelola oleh Karang Taruna setempat. Namun nerdasarkan informasi yang lain, nama Curug Panoongan berasal dari kata “Noong” yang dalam bahasa Indonesia artinya mengintip. Konon katanya, curug tersebut dulu sering digunakan mandi oleh warga, namun saat mandi selalu ada orang yang mengintip atau noong, makanya namanya Curug Panoongan Tasikmalaya.


Objek wisata Pantai Batu Hiu di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi. Berdasarkan kisah tutur, asal usul penamaan Pantai Batu Hiu sendiri dilatarbelakangi adanya satu batu karang di lokasi, yang menyerupai ikan hiu. Selain tempat rekreasi, Pantai Batu Hiu juga memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan tempat ritual. selain tempat rekreasi, Pantai Batu Hiu juga memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan tempat ritual. Berdasarkan kisah tutur, asal usul penamaan Pantai Batu Hiu sendiri dilatarbelakangi adanya satu batu karang di lokasi, yang menyerupai ikan hiu. ceritra rakyat yang beredar di masyarakat, Batu Hiu juga merupakan salah satu Keraton yang dipimpin oleh seorang putri bernama Dewi Ajeng. Berdasarkan mitos, diketahui bahwa pada zaman dahulu tepatnya ketika abad ke 11, ada pasukan yang berasal dari Mataram. Pasukan yang berasal dari Mataram itu dipimpin oleh dua orang tokoh. Tokoh tersebut bernama Aki Gede dan Nini Gede. Pasukan itu sampai di Pantai Batu Hiu. Setibanya para pasukan asal Mataram di Pantai Batu Hiu, sang pemimpin beserta pasukannya tinggal sementara di lokasi tersebut. Disisi lain, ada seorang prajurit dari pasukan tersebut yang bernama Ki Braja Lintang. Ia diminta untuk mencari makanan, dan pergi ke pantai untuk mencari ikan. Berselang kemudian, Ki Braja Lintang berhasil menangkap ikan yakni seekor hiu setelah mencari di pantai. Namun, ketika Ki Braja Lintang menangkap ikan hiu tersebut, Aki Gede dan Nini Gede menyuruh agar Ki Braja Lintang kembali melepaskan ikan tersebut ke pantai. Akhirnya Ki Braja Lintang menuruti perintah dari Aki Gede dan Nini Gede untuk melepaskan ikan. Hiu itu. Namun, ketika ikan hiu itu dilepaskan, ikan tersebut berubah dan menjadi batu berwarna hitam yang besar. Batu hitam yang berbentuk besar itu juga berbentuk hiu.Kisah legenda dan mitos tersebut akhirnya membuat destinasi wisata ini disebut sebagai Pantai Batu Hiu.


Kecamatan Cineam dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1840, yang diperintah oleh seorang Rangga bernama Dirja dengan membawahi 7 Petinggi (Akuwu), yakni: Desa Cineam, Desa Garunggang (Rajadatu), Desa Situ Hapa (Rajadatu), Desa Cijulang,Desa Cikondang, Desa Ciherang (Karanglayung) dan Desa Gunung Jantra (Sirnajaya). Pada 1860 sudah dikepalai oleh seorang Camat (Assisten Wedana) pertama yang bernama Resna, yang berada di bawah perintah Rangga Dirja. Sementara, Rangga Dirja dipindah ke Kawasen (Banjarsari) pada 1870, setelah berhasil memenuhi setor kopi ke Belanda selama 30 tahun. Pada 1888 Onderdistrik Cineam termasuk kedalam wilayah Distrik Pasir Panjang yang terdiri dari 8 Petinggi yakni: Cineam, Garunggang, Ciherang Gunung, Cikondang, Cijulang, Gunung Jantra, Cisarua dan Citalahab. Kadaleman Nagara Tengah didirikan sekitar tahun 1583 M, yang menjadi Dalem I adalah RADEN ARIA PANDJI SUBRATA. Pusat kadaleman berada sebelah timur Sungai Cihapitan di Kampung Nyengkod Desa Nagara Tengah Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya sekarang. Batas Wilayahnya sebagai berikut: - Sebelah Barat: Daerah Cisangkir Cibeureum. - Sebelah Selatan: Daerah Sukakerta - Sebelah Timur: Galuh (Batu Gajah) - Sebelah Utara: Sungai Citanduy. Yang sekarang menjadi Kecamatan Cineam, Kecamatan Cimaragas, Kecamatan Langkap Lancar, Manonjaya dan sebagian wilayah yang ada di Kecamatan Cibeureum. Banyaknya Rumah atau Tugu se-kadaleman Nagara Tengah waktu itu sekitar 200 rumah. Raden Aria Pandji Subrata (Dalem I) dalam mengatur dan mengurus kadaleman Nagara Tengah di bantu oleh RADEN ANGGANAYA KUSUMAH yang di kenal dengan sebutan DALEM NAYA KUSUMAH


Kampung sukaruji berada di daerah Kabupaten Tasikmalaya, tepat nya di Desa Sukaraja Kecamatan Rajapolah. Pada zaman dulu kampung ini tidak memiliki nama karena masih banyak kebun dan hanya ada beberapa rumah. Dengan bertambah nya waktu semakin banyak warga yang membuat rumah di daerah ini. Nama Sukaruji berasal dari Suka dengan Ruji yang artinya senang pada suatu alat yaitu persenjataan yang di gunakan oleh orang tua zaman dulu. Tetapi menurut sebagian ulama nama sukaruji berasal dari kata Sakian Rujian (bahasa arab) yang artinya orang yang sangat di tunggu-tunggu. Kebiasaan orang jaman dulu hanyalah berdiam diri tidak memiliki pekerjaan dan tidak paham akan agama. Lalu datang lah seorang ulama yang bernama K.H Ahmad Toha yang membuat kampung sukaruji semakin maju dengan cara menyebarkan agama islam dan mendirikan pesantren. Jadi mengapa di beri nama sukaruji karena mengharapkan seorang pemimpin untuk memimpin daerah dalam bidang keagamaan untuk membangun kampung.


Kota Tasikmalaya secara administratif terdiri atas 10 kecamatan, 69 kelurahan dan tiga kecamatan termasuk wilayah pesisir dan laut, yaitu kecamatan Cikalong, Cipatujah, Karangnunggal. Dengan itu, Kota Tasikmalaya secara geografis lengkap, dilintasi oleh rangkaian gunung berapi di Pulau Jawa. Tanah Kota Tasikmalaya subur karena berada di lereng pegunungan dan didukung oleh mata air melimpah. Suhu di kota Tasikmalaya berkisar antara 20 dan 30 derajat. itu Gede atau Danau Besar merupakan salah satu tempat wisata di pusat Kota Tasikmalaya. Situ Gede memiliki luas sekitar 47 hektare. Untuk sampai ke objek wisata ini hanya butuh waktu 30 menit dari pusat Kota Tasikmalaya.Situ Gede tidak hanya memiliki alam yang indah, tetapi juga legenda. Cerita ini terkait dengan sebuah makam di pulau tengah danau yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Eyang Prabudilaya. Kisah berawal, Eyang Prabudilaya memiliki dua istri bernama Sekar Karembong yang kini dimakamkan di Bantar. Sedangkan istri kedua, Sembadrem belum diketahui di mana tempat persemayaman terakhirnya. Kedua istri Eyang Prabudilaya saling mencari setelah suami mereka pergi. Istri pertama mencari ke tempat istri kedua dan sebaliknya. Pencarian itu membuahkan hasil. Sang suami ditemukan tergeletak di suatu tempat. Namun saat ditemukan, Eyang Prabudilaya telah terbunuh. Tempat terbunuhnya Eyang Prabudilaya dinamakan Situ Cibeureum. Oleh para pengikutnya, Eyang Prabudilaya digotong menggunakan kain sarung yang diikat ke bambu panjang. Bambu patah selama perjalanan, tetapi dapat dihubungkan kembali dengan tanah kemudian diletakkan kembali di tandu. Saat ini, daerah yang menghubungkan bambu dengan tanah disebut Mangkubumi. Perjalanan berlanjut, tetapi setelah berjalan jauh, tiba-tiba pengikutnya nagog atau berjongkok. Lokasi tempat nagog itu saat ini disebut nagrog. Setelah berjalan jauh, pengikut Eyang Prabudilaya melewati suatu tempat yang berudara dingin dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.Tempat peristirahatan itu dulu disebut kawasan maniis. Setelah lama beristirahat, jenazah Eyang Prabudilaya dibawa dan akhirnya dimakamkan di sebuah pulau di tengah Situ Gede.


Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang dulunya bekas Kerajaan Sukapura memiliki banyak tempat bersejarah. Salah satunya Situ Cibeureum. Terletak di Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, danau ini memiliki luas lahan sekitar 21 (Ha) hektare dan merupakan danau terluas kedua, setelah Situ Gede. Situ Cibeureum, memiliki fungsi ekologi seperti Situ Gede, yaitu sebagai penjaga ekosistem dan sumber irigasi warga sekitar. Menurut sejarah, sekitar 500 tahun yang lalu atau 15 Masehi, tinggal seorang tokoh di era Kebataraan Galunggung. Yakni, seorang tokoh agama zaman Hindu yang dikenal dengan sebutan Ki Tubagus Djamri. Nama Situ Cibeureum sendiri diambil karena pada zaman dahulu, air di situ ini berwarna kemerahan, sehingga dinamakan Situ Cibeureum (Air Merah). Warga sekitar, Ahmad Dani Kajadi menjelaskan, pada zaman dahulu, situ ini dibuat oleh Ki Tubagus Djamri menggunakan sepotong kayu dari pohon bungur. Kayu dari pohon bungur ini digunakan untuk menggali tanah hingga menjadi situ. “Ya, menurut cerita turun temurun, situ ini dibuat oleh salah seorang tokoh agama bernama Ki Tubagus Djamri menggunakan sepotong kayu bernama kayu bungur. ” “Kemudian dengan sepotong kayu itu beliau gunakan untuk menggali tanah hingga menjadi situ, ” kata Ahmad. Ahmad menyebutkan, dengan adanya Situ Cibeureum ini, menjadi sumber mata pencaharian penduduk sekitar. “Alhamdulillah, situ ini bisa dimanfaatkan dan menjadi mata pencaharian penduduk sekitar dengan mengambil ikan, kerang, siput dan umbi-umbian yang ditanam di perbukitan sekitar situ, ” kata Ahmad. Selain itu, situ ini menjadi objek wisata di Kota Tasikmalaya. Di mana, banyak warga Tasik maupun luar daerah yang berkunjung ke situ ini untuk menikmati keindahan alamnya.


KIndonesia adalah salah satu negara yang memiliki kisah legenda terbanyak di dunia. Hal ini, salah satunya, dikarenakan wilayah yang kini disebut Indonesia telah memiliki sejarah yang terentang panjang dari masa prasejarah sampai jaman berikutnya. Di Jawa Barat, misalnya, sangat masyhur legenda Gunung Tangkuban Perahu. Dalam legenda tersebut diceritakan bahwa Gunung Tangkuban Perahu tercipta dari perahu yang ditendang hingga tertelungkup (nangkuban) oleh Sangkuriang lantaran ia kesal usahanya membuat telaga dalam semalam gagal. Selain legenda Gunung Tangkuban Perahu yang sudah kesohor itu, Jawa Barat masih memiliki banyak cerita legenda lainnya, salah satunya di Kabupaten Ciamis. Di wilayah bekas pusat Kerajaan Sunda dan Galuh ini, terdapat sebuah legenda yang belum begitu dikenal luas mengenai nama Desa Buniseuri dan Sadananya. Dua desa tersebut masing-masing termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cipaku dan Kecamatan Sadananya. Dikutip dari buku Carita Rayat Buyut/Embah yang disusun oleh H. Djadja Sukardja yang merupakan mantan Kepala Seksi Kesenian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, terdapat sebuah legenda yang mengisahkan tokoh bernama Panji Boma dan saudaranya, Mangku Wijaya, yang berkaitan dengan asal-usul nama Buniseuri dan Sadananya. Alkisah, pada zaman dahulu kala, Sang Maha Raja Kawali yang bernama Pangeran Mahadikusumah memiliki dua orang putra, Panji Boma dan Mangku Wijaya. Karena sama-sama anak raja, mereka berdua dipersiapkan sedemikian rupa untuk menjadi pewaris tahta. Mereka dikisahkan jarang berada di istana karena sibuk mempelajari berbagai ilmu lahir maupun batin. Suatu ketika, tatkala mereka berdua menginjak dewasa, sang ayah merasa bahwa mereka telah cukup cakap untuk memimpin kerajaan. Ia berencana menyerahkan tahtanya kepada anak pertamanya, Panji Boma, dengan syarat anaknya itu harus sudah memiliki istri. Ayahnya berencana menikahkan Panji Boma dengan putri Ratu Galuh. Suatu hari Mahadikusumah memerintahkan Panji Boma pergi ke Galuh, membawa serta surat yang berisi lamaran Nyi Putri Galuh. Surat tersebut harus diserahkan kepada Ratu Galuh, ibunda dari Nyi Putri Galuh.


Dengan kesaktiannya, Panji Boma tidak berjalan kaki atau naik kuda, melainkan terbang. Adiknya, Mangku Wijaya, turut serta dengan maksud mengantar sang kakak. Dengan kesaktianya pula, ia mengecilkan tubuhnya dan “menumpang” di saku baju Panji Boma. Di tengah perjalanan, Panji Boma berniat istirahat. Ia lantas memanggilmanggil adiknya. Dipanggilnya Mangku Wijaya, namun tak tampak juga. Lalu, sambil tertawa, Mangku Wijaya menjawab, “Kan ini, di belakang. ” Tempat peristiwa itu kemudian dinamai Buniseuri. Istilah ini terdiri dari dua kata bahasa Sunda, buni dan seuri. Buni berarti tersembunyi atau tak tampak, sementara seuri berarti tawa. Jadi, Buniseuri dapat dimaknai tawa yang tersembunyi, yang tak lain adalah tawa Mangku Wijaya. Setelah beristirahat di Buniseuri, Panji Boma melanjutkan perjalannya ke Galuh. Di suatu tempat, dari pandangan udaranya , ia melihat indahnya bentang alam di sana. Hatinya tertarik untuk turun dan menikmati barang sebentar suasana alam itu. Lagi pula, ia merasa panas dan berniat untuk mandi. Ketika turun, ia memanggil adiknya. Mangku Wijaya kaget. Sambil keluar dari dalam saku baju Panji Boma, ia berkata, “Sada aya nu nanya? (Seperti ada suara yang bertanya?)” . Maka dari perkataan itulah nama daerah ini diambil, Sadananya. Istilah ini terdiri dari dua kata dalam bahasa Sunda, sada yang berarti suara dan nanya yang berarti bertanya. Niat Panji Boma meminang Nyi Putri Galuh sendiri berhasil, namun harus ia bayar dengan kematian sang adik. Hal itu terjadi ketika Panji Boma mandi di Sadananya, ia menyuruh adiknya untuk berangkat terlebih dulu. Alhasil Mangku Wijaya lebih dulu sampai di Galuh dan bertemu dengan Nyi Putri Galuh. Sang putri jatuh hati. Ia berniat menikah dengan Mangku Wijaya. Surat lamaran pun dibalas. Isinya, Nyi Putri Galuh bersedia menikah dengan Mangku Wijaya. Ketika Ratu Galuh sedang menulis surat balasan, Panji Boma tiba. Hati Nyi Putri Galuh pun mendadak berubah arah. Ia jadi jatuh hati pada Panji Boma karena dinilainya lebih tampan dari adiknya. Tapi, surat balasan sudah terlanjur dibuat. Singkat cerita, mereka berdua pulang. Kali ini keduanya sama-sama terbang. Di perjalanan, mereka berhenti dan membuka surat balasan dari Ratu Galuh. Begitu murka Panji Boma ketika mengetahui isi surat itu bahwa Nyi Putri Galuh malah bersedia menikah dengan Mangku Wijaya.


Terjadilah perkelahian hebat antara keduanya. Mangku Wijaya kalah dan akhirnya Panji Boma berhasil memperistri Nyi Putri Galuh. Ia lalu menjadi raja menggantikan ayahnya. Meski terdengar tidak masuk akal, namun demikianlah adanya legenda. Baik legenda, mitos, maupun cerita rakyat pada umumnya, harus dibaca sebagai simbol yang menyimpan berbagai ajaran dan nilai yang diyakini oleh komunitas masyarakat pemilik cerita tersebut. Kisah Panji Boma diatas merupakan salah satu dari tiga versi Legenda Panji Boma yang dikenal luas di beberapa kecamatan di Ciamis. Dua versi lainnya yaitu Lgenda Panji Boma versi Kawali dan versi Dayeuhluhur Jatinagara. Uniknya plot cerita dan tokoh dari tiga versi legenda Panji Boma tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya dan berkaitan dengan toponimi masing-masing tempat.


Situ Sanghyang bermula dari kisah seorang anak raja yang tinggal di perkampungan Saung Gatang. Perkampungan Saung Gatang itu, berada di kedalaman situ. Di Saung Gatang itu, anak sang raja yang tidak diketahui namanya mempunyai sifat sombong, takabur, dan merasa dirinya jawara yang tidak terkalahkan. Pada suatu ketika, anak raja melihat sosok perempuan cantik yang merupakan kembang desa atau perempuan paling cantik di antara yang lain. Karena kepincut dengan kecantikan sang kembang desa, anak raja itu memerintakan kepada dua pengawalnya untuk membawa sang kembang desa ke hadapannya untuk dinikahi. Setelah dua pengawal anak raja menemukan sang pujaan hati, pesta pernikahan pun digelar dengan terlebih dahulu menggelar pesta selama 7 hari. Namun, belakangan diketahui, sang kembang desa itu sudah mempunyai suami yang merupakan resi Galunggung. Saat dibawa oleh dua pengawal itu, suami sang kembang desa, yakni resi Galunggung sedang pergi ke Kerajaan Mataram. Sewaktu pulang, mendapati istrinya tidak ada dan mendapatkan petunjuk jika istrinya itu akan dinikahi oleh anak raja di Saung Gatang. Sesampainya di Saung Gatang, Resi Galunggung mendapati pesta meriah. Karena sakit hati, resi guru berubah bujud menjadi budak buncir (anak hitam). Sesaat setelah berubah, seketika ribuan hewan anjing datang dan menggonggong ke arah lokasi pesta. “Mendengar gongongan anjing, pengawal keluar dan terjadi percakapan dengan resi guru yang berubah wujud itu. Resi guru meminta bertemu sang anak raja, tapi tidak dipenuhi oleh pengawal karena dinilai anak kecil tidak pantas ketemu anak raja. ” Sakit hati karena permintaan menghadap anak raja ditolak, resi guru yang sudah berubah menjadi budak buncir (anak hitam) menancapkan tukuh buah lidi di atas tanah. Melihat kelakukan itu, pengawal mencoba mencabut ke tujuh lidi, tapi gagal. Bukannya lidi yang tercabut dari tanah, malahan pengawal justru masuk ke dalam tanah.


“Lidi ketujuh dicabut anak raja, tapi gagal malah keluar air deras yang menenggelamkan semua kampung itu. ”Setelah menenggelamkan perkampungan Saung Gatang, Resi Galunggung pun mengucapkan sumpah serapah jika siapa pun yang meminum air yang menenggelamkan Saung Satang akan berubah menjadi ikan. Dari situ, resi Galunggung menamakan Sanghyang. “Itu berdasarkan cerita dongeng yang berkembang dari mulut ke mulut Masyarakat” . Sementara itu, Penggiat Pawirisata Situ Sanghyang yang juga warga sekitar Asep Zamzam menuturkan, sampai saat ini belum ada yang mengetahui sejarah pasti asal mula Situ Sanghyang terbentuk. Namun, di tengah masyarakat ada beberapa versi terkait asal mula Situ Sanghyang, yakni versi legenda dan dongeng. "Jadi, sejarah itu banyak versi. Artinya masih ada beberapa pihak yang menyamakan antara legenda, sejarah, dan dongeng. Jadi, memang sampai saat ini tidak ada yg tahu sejarah aslina Situ Sanghyang, " Namun, berdasarkan beberapa diskusi di antara penggiat budaya, Situ Sanghyang itu sudah ada sejak lama. Konon katanya, sudah ada sejak jaman Mataram Kuno. “Kalau versi dongengnya memang ada, tapi itu bukan sejarah. Tapi dongeng atau legenda. Jadi, saya tegaskan di sini, tidak ada yang tahu sejarah Situ Sanghyang itu seperti apa. ”


Adapun legenda asal-usul Gunung Galunggung berkaitan dengan kisah legenda masa lampau yaitu mengenai kerajaan Galuh Agung atau Kerajaan Galunggung. Tepatnya daerah Tasikmalaya sekarang terdapat Sebuah kerajaan yang bernama Pasir Wukir. Kerajaan pasir wukir sebenarnya tidak berdiri sendiri, kerajaan tersebut terdiri dari empat kerajaan. Keempat kerajaan tersebut masing-masing mengurus urusan mereka masing-masing. Tiga kerajaan lainnya adalah kerajaan kunir, kerajaan benteng kenca dan juga Kerajaan talaga bodas. Tetapi keempat kerajaan tersebut membentuk satu kesatuan yang akhirnya dikenal satu kerajaan yaitu kerajaan pasir Wukir. Keeempat kerajaan tersebut hidup rukun dan juga damai. Serempak semuanya membentuk satu kesatuan yang Sangat kokoh dan mengatasi semua masalahnya dalam keadaan tenang dan damai. Mereka saling mengisi dan memperhatikan rakyatnya. Adapun yang dituakan dari keempat kerajaan tersebut adalah Raja Pasir Wukir. Selain usianya yang paling tua juga ia adalah raja yang paling bijaksana dan sakti mandraguna. Tetapi ia tetap rendah hati terhadap raja lainnya dan rakyatnya. Bahkan dia telah menganggap rajanlainnya sebagai saudara sendiri. Pada suatu hari kerajaan Pasir Wukir mengadakan pesta yang sangat meriah. Terletak di Balairung raja pasir Wukir. Tetapi, itu bukanlah pesta melainkan pertemuan prabu pasir Wukir dengan ketiga raja lainnya. Pertemuan tersebut rutin diselenggarakan satu bulan sekali. Bukan untuk berpesta pora tetapi pertemuan untuk saling mengetahui keadaan masingmasing negara. Dalam pertemuan tersebut Prabu Pasir Wukir menyampaikan sesuatu pada ketiga raja lainnya. Dengan tatapan tajam dan berwibawa Prabu Pasir Wukir tidak ada raja lainnya yang menyela pembicaraannya. Prabu pasir Wukir menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena mereka semua tetap setia dan kompak.


Akhirnya Prabu Pasir Wukir menyampaikan ia sudah lama ingin menyampaikan sesuatu yang telah lama dia pendam. Prabu pasir Wukir memikirkan usianya yang cukup tua ingin mencari pengganti untuk jabatan Maha Prabu yang ia jabat, Prabu pasir Wukir menawarkan jabatan tersebut kepada ketiga raja lainnya. Hanya raja Kunir yang langsung merespon tawaran tersebut dengan menolaknya secara halus bahwa ia merasa tidak layak menyandang gelar itu karena terlalu muda. Karena menurut raja Kunir itu tidak pernah berpikir ada penggantian jabatan Maha Prabu. Namun, akhirnya raja Talaga Bodas dan raja Benteng Kenca saling bertatapan dan memberikan pesan agar raja Talaga Bodas untuk menyampaikan sesuatu. Akhirnya Raja Talaga Bodas menyampaikan pada Raja Kunir untuk mengingat hasil dari pertemuan segitiga yang sudah ketiga raja adakan. Raja Kunir kebingungan karena tidak ingat akan pertemuan segitiga itu. Sedangkan Prabu Pasir Wukir tidak mengerti apa itu pertemuan segitiga. Akhirnya raja Talaga Bodas menjelaskan jika Raja Kunir lupa akan pertemuan itu adalah pertemuan yang dibuat antara raja Talaga Bodas, raja Kunir dan raja benteng kenca tanpa raja pasir Wukir dengan tujuan yang baik. Dalam pertemuan itu ketiga raja sepakat jika prabu pasir Wukir wafat maka jabatan Maha Prabu akan tetap disandang oleh raja penerus Kerajaan Pasir Wukir. akhirnya keempat raja sepakat untuk kedepannya jabatan Maha Prabu akan tetap disandang oleh Raja Pasir Wukir. Pada malam hari usai pertemuan tersebut raja Pasir Wukir menahan tiga raja lainnya untuk mengusulkan sebuah ide. Yaitu masing-masing raja harus mengumpulkan segenggam tanah dari daerahnya masing-masing untuk dikumpulkan di alun-alun kerajaan Pasir Wukir. Ketiga raja lainnya pun menyetujui ide tersebut. Ide mengumpulkan segenggam tanah itu dimaksudkan sebagai saksi dari komitmen Ketiga raja untuk tetap bersatu selamanya dalam satu kerajaan yang satu. Akhirnya keempat raja berkumpul di alun-alun kerajaan Pasir Wukir. Keempat raja mengumpulkan setiap segenggam tanah yang berasal dari kerajaan masing-masing di lahan alun-alun tersebut. setelah kepulangan raja-raja ke daerahnya masing-masing terjadi sebuah keajaiban. Ternyata segenggam tanah itu terus saja membesar. Hingga tanah itu membesar sebesar bukit dan gunung. Seiring berjalannya waktu kerajaan Pasir Wukir juga berganti menjadi kerajaan galuh agung. Kerajaan guluh agung itu berada di kaki gunung Galunggung saat ini. Karena banyak yang menyebut galung agung dengan cepat sehingga disebut Galunggung.


Akhir kata, penulis menyadari banyak keurangan dalam penulisan buku ini, saran dari pembaca sangat penulis harapkan. Semoga kumpulan cerita rakyat ini bermanfaat bagi penulis khususnya umumnya bagi pembaca sekalian. Terimakasih,


Click to View FlipBook Version