KISAH - KISAH
MISTIS
1
KATA PENGANTAR
Pada penyusunan e-book kisah-kisah mistis ini ditujukan
sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas SIMDIG bagi
siswa/siswi kelas X , SMK N 1 Batang.
Puji serta syukur saya panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang mana telah memberikan beribu nikmat dan karunia-Nya,
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.
Tidak lupa Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu. Rizkinia
Zela Kartika S.Pd. di bidang study SIMDIG yang telah memberikan
arahan, sehingga e-book ini dapat terselesaikan dengan baik dan
tepat pada waktunya.
Saya menyadari jika masih terdapat kekurangan ataupun
suatu kesalahan dalam penyusunan tugas ini sehingga saya
mengharapkan kritik ataupun saran yang bersifat positif untuk
perbaikan di masa yang akan datang dari seluruh pembaca.
Akhir kata, saya berharap semoga dengan adanya makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Batang, 23 November 2021
ANGGUN YULIANA
2
Ada Wajah Seram dan Sosok Prajurit
Jepang di Museum di Palembang
Sumber: Liputan6.com, Palembang
Museum menjadi salah satu tempat penyimpanan barang-barang peninggalan
bersejarah, yang dijaga untuk mengenang masa kejayaan di masa lalu.
Banyak barang-barang berharga yang tersimpan di museum,
mulai dari relief, alat peperangan, pakaian masa lalu hingga arca-
arca replika di masa kerajaan.
Seperti di salah satu museum di Kota Palembang Sumsel, yang
banyak menyimpan barang-barnag peninggalan di masa lalu.
Ternyata, ada kisah mistis yang dialami oleh salah satu
pengunjung, saat berkunjung di museum berukuran besar
tersebut.
Jaya (35), salah satu warga Kota Palembang beberapa waktu lalu
mengunjungi museum di Palembang, untuk melihat koleksi-
koleksi peninggalan bersejarah.
Saat masuk ke ruang depan museum, dia melihat ada relief besar
yang diukir di dinding museum. Awalnya dia melihat bentuk relief
yang terukir bak penari tradisional khas Sumsel.
Namun tiba-tiba, dia melihat sosok perempuan di salah satu ukiran
relief yang memegang kendi. Jaya melihat relief perempuan itu
berwajah tua dan matanya bergerak melihat di sekeliling ruangan.
3
“Saya hanya diam saat melihat relief itu seakan bergerak dan
melihat kami semua. Matanya sempat menatap saya, tapi saya
langsung mengalihkan pandangan,”
ucapnya kepada Liputan6.com di Palembang, Kamis (30/9/2021).
Dia dan teman-temannya lalu beranjak ke ruangan lainnya, dan
apa yang dilihatnya tersebut tidak diceritakan ke teman-temannya.
Saat memasuki satu ruangan, dia melihat patung Harimau
Sumatra. Saat mendekati patung Harimau Sumatra itu, dia
merasakan aura yang berbeda.
“Bukan dari patung Harimau Sumatra itu, tapi dari dinding-dinding
ruangan yang seakan ada wajah-wajah yang muncul dari balik
dinding. Ada sekitar empat wajah yang seakan menempel di
dinding, padahal di dinding itu tidak ada properti apapun,” ujarnya.
Merasa tidak nyaman berada di tempat itu, Jaya memilih berjalan
menelusuri lorong di ruangan tersebut. Di sana, ada perahu kayu
yang dipamerkan di sudut ruangan.
Lagi-lagi di sana, dia melihat sosok makhluk astral yang
membuatnya cukup kaget. Di atas perahu kayu tersebut, ada sosok
perempuan yang sedang duduk memakai gaun putih.
Dia pun tak menggubris dan langsung mengajak teman-temannya
berpindah ke ruangan lain, untuk menghilangkan rasa cemasnya.
Di ruangan kedua, Jaya kembali melihat sosok yang tak kasat mata.
Dia berhenti di etalase kaca, yang memajang beberapa pedang dan
samurai peninggalan Jepang.
4
“Saya tertarik melihat pedang itu. Tiba-tiba ada sosok prajurit
berpakaian perang lengkap di belakang samurai itu. Dia
berpakaian perang kekaisaran Jepang di masa lalu. Wajahnya
putih pucat dan matanya sipit,” ungkapnya.
Dia juga merasakan udara yang sangat dingin. Padahal saat itu
udara di dalam ruangan agak panas, karena cuaca di Palembang
sedang meningkat.
Kisah mistisnya di museum, ternyata bukan kali pertama.
Beberapa kali datang ke museum tersebut, dia selalu melihat
penampakan aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
5
Kisah Mistis di Balai Kota Bandung, Tangisan
Perempuan hingga Penampakan Kuntilanak
Sumbet:Liputan6.com , melihat Balai Kota Bandung, yang pertama terlintas
adalah pusat tata pemerintahan dengan segala protokol ketat hingga taman-
taman yang begitu cantik.
Namun siapa kira, dibalik megah dan cantiknya Balai Kota
Bandung, tempat ini juga menyimpan cerita sisi lain yang
berhubungan dengan unsur mistis.
Berdasarkan rumor yang beredar, hantu anak kecil dan kuntilanak
sering menampakkan diri di area Balai Kota.
Menurut Sejarawan senior Prof. Dr. A. Sobana Hardjasaputra,
lahan yang kini menjadi Balai Kota Bandung dulunya adalah bekas
gudang kopi. Sebelum menjadi balai kota, lahan di Wastukencana
tersebut dimiliki oleh Andries de Wilde, seorang tuan tanah
priangan keturunan Belanda.
Gudang kopi ini diruntuhkan pada 1927. Bersamaan dengan itu,
berdirilah kantor Wali Kota Bandung beserta beberapa taman di
plazanya. Pada 1980-an barulah dibangun gedung kembar
tambahan di bagian kiri dan kanan ruang kerja wali kota.
Meski saat ini area Balai Kota sudah dipercantik sedemikian rupa,
ternyata kisah-kisah mistis masih sering dialami oleh para
pegawai terutama security yang harus berjaga pada malam hari.
Salah satu security yang enggan disebutkan namanya
menceritakan kisah horornya kala sedang bertugas malam hari.
6
Derap Langkah Kaki Misterius hingga Anak Kecil Berlarian
Kisahnya berawal ketika mendapat giliran berjaga malam hari di
Pos 4. Pada malam itu, menurutnya suasana agak berbeda
dibanding malam-malam lainnya. Benar saja, pada malam itu ia
harus berhadapan dengan sosok Kuntilanak ketika ia berpatroli
untuk memantau keadaan sekitar.
“Jadi pas saya lagi patroli, lagi ngecek. Pas di belakang puskesmas
kelihatan jelas ada kuntilanak berdiri. Saya langsung lumpat
karena takut, pas ditengok lagi ternyata udah nggak ada,” ujarnya
kepada Ayobandung.com pada Minggu, 14 November 2021.
Selain itu, ia juga pernah mendengar derap langkah kaki di area
Gedung Serba Guna. Menurutnya, Gedung ini di malam hari sering
terjadi hal-hal misterius.
“Waktu itu juga ada security yang baru banget masuk, hari pertama
dia kerja kebagian jaga malam. Pas dia jaga melihat ada sosok
anak kecil naik turun tangga di situ (Gedung Serba Guna),”
lanjutnya.
Ia juga bercerita, hampir semua security pernah mengalami
kejadian-kejadian mistis. Seperti melihat sosok anak kecil
berlarian di taman hingga sosok kuntilanak yang menampakan diri
di area taman yang ditutupi oleh rimbunnya pohon besar.
“Bahkan pernah waktu itu ada salah satu OB tidur di bagian Gedung
Serba Guna, tadinya tidur di bagian depan pas bangun tau tau
7
pindah ke bagian ujung. Terus kalau yang tidur itu biasanya suka
kena eureup-eureup (Ketindihan/Sleep paralysis),” bebernya.
Lokasi Paling Seram
Namun, baginya ada satu lokasi yang paling menyeramkan di Balai
Kota Bandung, yaitu gudang barang yang terletak di area bawah
gedung sebelah kanan. Menanggapi hal
itu, Ayobandung.com diantar olehnya untuk mengunjungi ruangan
yang dimaksud.
Benar saja, ketika menuruni tangga saja hawa dingin dan lembab
langsung menyeruak ke dalam hidung akibat ruangan berada di
bawah tanah. Belum lagi kondisi ruangan yang tak pernah
tersentuh sinar matahari membuat suasana cukup menakutkan.
Ruangan-ruangan yang ditutup oleh pintu rolling door tersebut
semua dalam kondisi tertutup. Tumpukan barang terlihat sejak
memasuki tangga menuju ruangan tersebut.
“Ini ruangan yang menurut saya paling seram, bener bener jarang
dikunjungi terus banyak barang gak kepakai di sini. Ada juga
kadang suara perempuan nangis kedengeran dari bawah sini,”
ujarnya saat menunjukkan lokasi Gudang tersebut.
Di balik megahnya bangunan Balai Kota Bandung, ternyata
menyimpan kisah mistis yang cukup menyeramkan. Selain itu, hal
ini membuktikan rumor yang beredar jika hantu anak kecil dan
kuntilanak yang sering terlihat berkeliaran itu benar adanya.
8
Kisah Roh Penyelamat dari Hujan Peluru
Serdadu Inggris di Malaysia
Liputan6.com, Jakarta – Bila berwisata ke Genting Highlands dari Kuala
Lumpur, Malaysia, ada sebuah kota kecil bernama Batang Kali yang sohor karena
kejernihan sungai dan keindahan air terjun yang tersembunyi di tengah hutan.
Siapa sangka, kota indah itu dulunya menyimpan kisah
pembantaian yang mengerikan. Malaya berstatus darurat pada
1948. Cikal bakal Malaysia itu baru lepas dari empat tahun
pendudukan Jepang yang kejam selama Perang Dunia II.
Meski terbebas dari Jepang, dominasi Partai Komunis Malaya
(CPM) di sana menjadi penghalang bagi Inggris untuk merebut
kembali wilayah jajahannya yang kaya akan bahan baku.
Berbekal bahan dari Malaysia, Inggris berharap mampu
membangun kembali kemegahan Britania Raya usai remuk saat
perang.
Dengan latar belakang itulah, pada hari itu, 12 Desember 1948,
anggota pasukan Scots Guards dari Angkatan Darat Inggris yang
dipimpin Sersan Charles Douglas mendatangi sebuah permukiman
di tengah perkebunan karet di Batang Kali.
“Mereka datang diangkut sejumlah truk,” kata Tham Yong, saksi
mata, seperti dikutip dari artikel yang dimuat BBC News, tahun
2004 lalu.
9
Serdadu Inggris hanya 16 orang. Namun, berbekal senjata lebih
canggih, mereka berhasil mengalahkan warga setempat yang
berjumlah lebih banyak.
Warga dituduh membantu pemberontak komunis. Satu per satu
warga diinterogasi. Para pria dipisahkan dari anak-anak. Salah
satu warga yang kedapatan mengantongi tanda terima pembelian
buah dipisahkan dari kumpulan.
“Mereka menuduhnya menyuplai pemberontak komunis dengan
makanan,” kata perempuan yang saat diwawancara menderita
kanker tenggorokan itu.
“Mereka menembaknya di sini,” kata Tham Yong, menunjuk
punggungnya dengan tangan yang gemetar.
Keesokan harinya, para perempuan dibawa menggunakan truk ke
lokasi itu. Tham Yong sempat bertanya pada tentara yang
membawa rombongan tersebut, ke mana gerangan para pria.
Kata serdadu itu, mereka terpaksa dibunuh. “Saat itu aku ingin
tetap tinggal dan mati bersama mereka.”
Perempuan itu kemudian ingat adegan mengerikan saat para pria
dipaksa berbaris, dalam kelompok empat atau lima orang. Mereka
diminta membalikkan badan dan ditembak dari belakang.
Dua hari pascakejadian, perempuan yang saat itu berusia 16 tahun
itu kembali ke dusun. Kampungnya hancur berantakan. Jasad-
jasad bergeletakan, termutilasi, kepala terpisah dari badan,
dengan alat vital yang telah hancur.
10
Nyaris semua pria dewasa di tempat itu tewas di tangan tentara
Inggris. Dari 24 warga, seorang bernama Chong Hong, tunangan
Tham Yong, selamat.
Chong Hong, yang berusia 20 tahun pada saat itu jadi satu-satunya
korban pembantaian yang selamat. Dia pingsan dan dianggap
tewas. Saat itu, pria itu merasa ada “kekuatan” lain yang
menyelamatkannya.
“Aku tak ingat apa yang terjadi. Aku pingsan. Roh-roh
mendorongku. Mereka (tentara) menembaki kami,” kata Chong
Hong, dalam wawancara yang dimuat BBC tahun 2004 lalu. Roh-
roh itu, seolah menyelamatkannya dari hujan peluru yang
menewaskan 24 rekan sekerjanya.
Sehari setelah pembantaian terjadi, The Straits Times memuat
artikel yang menyebut, Scots Guards dan polisi telah menembak
mati 25 dari 26 bandit selama operasi skala besar di Selangor
Utara. Peristiwa itu disebut sebagai keberhasilan terbesar selama
di Malaya sejak status darurat diterapkan. Laporan itu dusta besar.
Tham Yong meninggal dunia pada 2010 lalu. Ia adalah orang dewasa
terakhir, saat kejadian, yang bisa memberikan kesaksian tentang
hari berdarah itu.
“Aku masih marah karena para korban adalah orang-orang tak
bersalah yang dilabeli sebagai bandit dan komunis. Padahal, apa
yang mereka lakukan hanya mengumpulkan durian, bukan
menyediakan makanan bagi para komunis,” kata dia, seperti dikutip
The Star Online.
11
“Kanker stadium lanjut yang kuderita berarti aku tak akan berumur
panjang. Namun, aku berharap orang-orang mengingat apa yang
terjadi, agar mereka yang tewas tak akan terlupakan,” kata saksi
mata pembantaian Batang Kali di Malaysia itu.
Insiden itu banyak disamakan dengan My Lai, pembantaian yang
dilakukan tentara Amerika Serikat di Vietnam.
Para pelaku tak pernah dihukum, meski banyak mata yang
menyaksikan kejadian itu. Niat para keluarga korban untuk
memperkarakan kejadian tersebut dipatahkan pengadilan HAM di
Eropa pada Oktober 2008.
Seperti dikutip dari The Conversation, pihak keluarga yang
dipimpin Nyok Keyu Chong menuntut Inggris menyelidiki
pembantaian Batang Kali. Alasannya, pada saat kejadian, tahun
1948, wilayah itu berada di bawah kekuasaan Britania raya.
Sempat ada penyelidikan, namun Chong menganggap prosesnya
buruk. Informasi baru dari Kepolisian Kerajaan Malaysia dan
sebuah buku tahun 2009 diangkat sebagai bukti penguat.
Satu sisi, pemerintah Inggris menolak adanya penyelidikan baru,
sedangkan upaya naik banding ke Mahkamah Agung Inggris tidak
pernah membuahkan hasil.
Putus asa, keluarga beralih ke Pengadilan Hak Asasi Manusia
Eropa, yang kini telah memutuskan bahwa Konvensi Eropa tentang
Hak Asasi Manusia tidak dapat membantu mereka mendapatkan
keadilan bagi para korban.
12
Pengadilan menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki yurisdiksi
karena kematian para korban terjadi lebih dari 10 tahun sebelum
Inggris mengizinkan individu untuk membawa perkara langsung
ke pengadilan Eropa.
13