The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by putraafriadi12, 2021-08-16 00:57:03

DIKTAT SENI RUPA

DIKTAT SENI RUPA

1

BAB I
KARYA RUPA

Pengertian

Sebelum membahas lingkup seni rupa anak,
lebih dahulu mengetahui maksud karya rupa anak.
Istilah karya rupa yaitu karya anak yang dapat dilihat
(berupa dwimatra maupun trimatra), serta dapat
dinikmati dan disentuh. seperti: botol, karton, batu,
atau benda-benda buatan orang dewasa maupun
pabrik yang dialihfungsikan sehingga mempunyai
fungsi baru.

Karya tersebut mungkin berupa benda-benda yang diciptakan seperti: gambar,
boneka dari kertas yang disobek diberi kepala, atau yang lain sehingga menjadi alat bermain.
Di samping itu juga karya rupa dapat berupa modifikasi bentuk atau benda yang ada di
sekilingnya seperti: botol, karton, batu, atau benda-benda buatan orang dewasa maupun
pabrik yang dialihfungsikan sehingga mempunyai fungsi baru. Contoh modifikasi: botol
menjadi boneka, pensil dibayangkan menjadi roket, atau pesawat terbang.

Kegiatan ini merupakan hasil pikiran,keinginan, gagasan dan perasaan anak terhadap
lingkungan sekitar sebagai refkesi terhadap bentuk maupun dorongan emosi terhadap
lingkungannya. Gambaran pikiran dan perasaan anak bercampur menjadi satu. Disisi lain,
kegiatan ini muncul karena dorongan mengekspresikan lewat kata-kata tidak muncul dan
barangkali karena kemampuan teknis berkarya tidak bisa mewadahi pikiran anak.

Pada gambar sebelah, adalah boneka kertas yang di buat oleh anak
usia 5 tahun; boneka ini diperankan sebagai anggota keluarga. Anak
membayangkan kehidupan keluarga yang terjadi pada setiap harinya;
bapak, ibu serta anda yang lain diletakkan di atas kursi ciptaannya.

Gambar 1, Permainan bentuk dengan membuat boneka kertas

2

Sedangkan gambar anak ini menjelaskan siatuasi
dan kehidupan di keluarga. Anak ingin
mengungkapkan tugas ibu merawat bunga,
menyiram, memotong dan memberi pupuk.

Gambar 2, Mementingkan cerita daripada bentuk

Seni Rupa
Keterampilan seni rupa berbentuk menciptakan sesuatu bentuk baru dan
mengubah fungsi bentuk, kegiatan ini sering dilakukan oleh anak-anak pada usia dini
karena sifat keingintahuan. Anak memperlakukan selembar kertas kosong sebagai teman
bicara, diajak berbicara terlebih dahulu kemudian baru menggambar. Gambar ini kadang
tidak berwujud figuratif, tetapi juga bisa berupa coretan garis. Menggambar dikerjakan
dengan berlari, berhenti sejenak kemudian bercerita dan dilanjutkan lagi dengan
menggoreskan benda tajam. Sembari mengambil alat permainan yang sudah ditata rapi dari
almari, alat tersebut disebar diletakkan di sembarang tempat. Maksud kegiatan ini adalah
bermain.

Kegiatan anak berseni rupa seperti tersebut adalah sebagian dari contoh perilaku karya;
tetapi sebenarnya contoh kegiatan anak yang serupa dapat dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Segala sesuatu yang dia ciptakan kadang tidak dapat dipisahkan apakah kegiatan
bermain atau berekspresi; kegiatan ini menyatukan antara pikiran dan perasaan yang secara
komplek bekerja secara simultan. Kadangkala, kegiatan tersebut tidak dapat digolongkan
ke dalam skema di atas secara pasti, karena kegiatan berpikir sebenarnya juga sebagai
kegiatan merasakan sesuatu dan sekaligus ingin usaha mengutarakan isi hatinya.

Dari serangkaian kegiatan di atas, sebagian karya anak akan terlihat bermacam-
macam: (1) karya itu setiap saat tidak berkembang, permainan boneka dari kayu, maupun
menggerakkan benda berbentuk kubus sebagai mobil, atau menggambar gunung dan
sungai. (2) anak selalu berubah memainkan peran benda yang ada; sesekali benda kubus
dibayangkan sebagai mobil, di lain waktu benda tersebut dijadikan rumah, jika anak
menggambar, maka gambarpun mempunyai judul yang tidak tetap. (3) anak senantiasa
mengubah dan terkesan merusak benda yang ada dan tidak dikembalikan seperti bentuk
semula.

3

Kegiatan yang dilakukan anak seperti menggambar dan membuat sesuatu yang lain
daripada yang lain dapat dikatakan seni, seperti menggambar obyek yang selalu lain dari
yang lain. Demikian pula membuat bentuk baru sehingga terkesan kreatif, juga dapat
dikatakan seni.

Kesenian orang dewasa mempunyai kriteria, dan penilaian yang berbeda dengan
karya anak. Karya seni anak dilakukan belum dengan kesadaran penuh menata garis, warna
dan bentuk. Karya seni anak mampu menampung angan-angan dan kemudian
mewujudkannya serta secara tetap (konstan) serta memberi judul beserta alasannya. Anak
melakukan kegiatan berkarya rupa seperti: menyusun benda-benda di lingkungan
sekitarnya, atau mengubah fungsi benda menjadi permainan atau mencoret dan
menggambar dinding maupun lantai digolongkan seni anak. karena anak ingin bermain,
dan berkomunikasi dengan pihak lain. Bentuk tersebut dapat mewakili ide dan gagasannya
secara konstan maka disebut pula sebagai kesenian anak.

Ketika seorang anak tidak puas dengan alat permainan yang sudah ada; anak ingin
mencari sesuatu yang baru yang mampu mengungkapkan ide dan rasa. Seperti anak laki-
laki membongkar alat permainan dan menyusun kembali. Kegiatan ini merupakan sifat
keingintahuan anak dan mencari sesuatu yang baru. Demikian pula anak perempuan ingin
merawat bunga, membongkar baju boneka dan mengganti dengan kain sarong atau jejarit.

Jadi kesenian difungsikan oleh anak sebagai media ungkapan perasaan, ide, gagasan
dan pikiran anak. Karyanya sebagai alat bermain imajinasi, mengutarakan ide dan juga
sebagai media komunikasi. Karya seni rupa tersebut dimodifikasi sehingga bentuk dan
berfungsi beda. Karya-karya rupa secara alami mempunyai susunan, cara menyusunan,
bentuk/figur maupun warna dan garis yang khas sehubungan dengan kekuatan otot
tangannya. Contoh: kursi berkaki empat digambar seperti angka empat terbalik; atau bunga
digambar berupa tangkai yang berbunga dan pot yang berbentuk trapesium terbalik.
Kegiatan ini dilakukan guna memberikan simbol obyek.

Gambar 3, Gambar dibuat oleh anak usia 5 tahun
Mementingkan gerakan

4

Gambar ini mengungkap pikiran anak: ingin naik pesawat terbang, ingin menjadi
pilot, kehebatan benda besar dapat terbang, dan ingin menciptakan rumah udara untuk
mendarat pesawat terbang. Bayangan anak terhadap situasi yang aneh itu terungkap dengan
gambar yang tersamar (dalam bentuk simbol) maupun gambar sederhana.

Unsur Rupa
1. Garis

Garis merupakan torehan, coretan, batas dibuat dengan cara: menggores dengan
benda tajam, mencoret dengan pewarna atau berupa kesan goresan antara warna dan benda
satu dengan yang lain.

Garis yang didapat dengan menggores Garis sebagai batas suatu obyek

Gambar 4, Unsur Rupa: garis dan bentuk

Pada anak usia dini suka membuat garis dengan cara mencoret atau menggoreskan
benda tajam kepada benda lain. Terdapat garis formal dan bebas; garis formal dibuat
dengan penggaris sedangkan garis informal berupa goresan langsung dengan tangan.

2. Warna
Warna berupa pigmen atau serbuk yang dipadatkan menjadi batangan maupun
serbuk yang dibuat berbentuk pasta serta dicairkan. Serbuk yang dipadatkan seperti: pensil,
pastel dan batangan cat air. Pewarna pastel terdapat 3 macam: pastel kapur yang mudah
dihapus dengan kain atau tangan langsung, pastel lilin yang terbuat sebagian besar berbahan
lilin. Pastel ini terkesan tipis digoreskan atau dipakai pada kertas. Pastel minyak, sebenarnya
juga pastel oli yang dipadatkan, warna yang dihasilkan kuat dan tebal dan sering
dimanfaatkan untuk melukis dan menggambar. Pewarna yang paling cocok untuk anak
adalah bahan yang memudahkan anak menggores serta membuat ketahanan menggambar

5

lama, di samping itu pewarna tadi tidak mengandung racun (anti toksin), karena anak sering
lupa menggigit-gigit ketika memegang pewarna pastel tersebut.

Warna yang sering dimanfaatkan anak itu mempunyai arti simbolis maupun arti
ekspresi. Simbolis berarti warna yang dimanfaatkan menggambarkan isi rasa anak ketika
sedang menyatakan kehendak. Sedangkan warna ekspresi, warna itu memberi gambaran
tentang kondisi anak. Sepeti dikatakan oleh Oho Graha, sebagai berikut:

Memang ada ahli-ahli yang mencoba membandingkan warna gambar dengan
suasana jiwa anak, pada saat gambar anak berwarna itu dibuat. Lawyer bersaudara misalnya,
menemukan anak-anak berusia empat tahun memilih warna kuning untuk mewarnai yang
bertema kegembiraan, coklat untuk tema yang menyedihkan (Graha. 1997:6). Jadi warna
yang digunakan oleh anak sebagai perwakilan atau simbol ungkapan perasaan; apakah rasa
sedih, gembira atau sekedar memenuhi ruang gambar.

3. Bentuk dan Ruang
Bentuk merupakan kumpulan dari garis sehingga membentuk satuan, atau
bentukan sengaja membuat obyek yang mempunyai volume. Secara teori terdapat 2 jenis
bentuk: (a) bentuk geometris, yang dibuat dengan alat penggaris sehingga terukur garis-
garisnya. Biasanya juga disebut dengan bentuk formal, contoh: segitiga, segi empat, kerucut
dst. (b) Bentuk informal adalah bentuk bebas yang dibuat oleh anak dengan menggores
langsung atau membuat tumpukan benda dengan cara disusun maupun dipahat serta dipijit;
contoh: menggambar, melukis, mematung, membuat asbak dari tanah liat, dst.

.

Bentuk formal Bentuk bebas

Gambar 5: Bentuk Formal (geometris) dan Bebas

6

4. Cerita
Aspek rasa terdapat pada cerita gambar dan karya senilainnya; aspek rasa sering
juga disebut dengan isi lukisan atau gambar. Gambar atau karya seni anak mempunyai
makna dan digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedíh, senang atau kemarahan.
Dalam hal ini, anak akan mengutarakan pendapat dan berkomunikasi kepada orang lain;
cerita ini merupakan ulangan ingatan peristiwa yang pernah dilakukan anak, tetapi juga
merupakan ungkapan rasa sedih , marah ataupun senang. Cerita anak dalam gambar bisa
bersampung atau bisa dalam satu gambar berisi banyak cerita. Gambar anak yang memuat
banyak cerita dan ide dalam lukisan ini kadang hasilnya sulit dipahami orang. Cerita itu
digabung menjadi satu bentuk, tetapi juga bisa dipisahkan satu persatu tetapi dimuat dalam
satu muka gambar.

Gambar ini menunjukkan tiga cerita yang
ditampilkan dalam satu bidang gambar, anak ingin
bercerita tentang putri salju, matahari cerah di pagi
hari dan pengalamannya pernah melihat rusa di
kebun binatang.

Gambar 6, Narratives Continues

Aspek rasa juga dapat dimaknai nilai susunan bentuk-bentuk, garis maupun warna.
Seperti diketahui bahwa terdapat prinsip penyusunan bentuk-bentuk yang serasi
diantaranya, seperti keseimbangan yaitu tertatanya susunan bentuk baik formal maupun
bebas yang dapat mewujudkan susunan yang harmonis. Demikian pula, ketika seorang anak
mengutarakan gagasan akan menyusun bentuk gagasan seperti apa, diletakkan
dimana,bisakah dipahami keinginan anak tersebut? Aspek ini sulit diketahui hanya melalui
hasil karya, biasanya untuk melihat dan mengerti isi karya seseorang dapat menanyakan
secara langsung kepada anak. Sebab, kesemuanya bergantung kepada kemampuan
menggambar belum seperti yang diinginkan dalam pikiran anak, sehingga karya tersebut
hanya berupa simbol-simbol bentuk. Seperti suasana siang hanya digambarkan dengan
matahari yang bersinar dengan bentuk bulatan diberi garis yang memancar (mandala), atau
manusia tulang dengan identitas tertentu untuk menyatakan laki-laki atau perempuan.

Aspek rasa hanya dapat dinikmati dan dilatih dengan kebiasaan mengamati, mencoba
menggambar dan diberi arahan serta kritikan. Jika anak-anak diberi contoh terlalu banyak
dalam menggunakan warna serta mencontoh bentuk-bentuk kadang-kadang akan terjadi
kemacetan, atau hanya mengutarakan rutinitas mencontoh guru. Padahal, ide anak

7

sebenarnya sangat luas dan banyak, segala sesuatu dapat diungkapkan secara visual. Anak
tidak lagi mengikuti semua instruksi guru, karena pada masing-masing anak telah
mempunyai konsep ketika akan menggambar. Kejadian ini tampak ketika anak
menggambar bentuk yang dipahami bukan apa yang dilihat pada saat itu. Persepsi ini
sebenarnya merupakan modal untuk menjadi tatanan di dalam gambar yang tidak dipunyai
oleh orang dewasa.

5. Fiksi dan Fantasi
Anak pada usia tertentu mampu merekam suasana atau kejadian dengan jelas
sampai dewasa dan itu jika mempunyai minat tinggi. Suatu ketika, informasi yang
dipaksakan dari orang dewasa atau berupa kemarahan seorang ibu kepada anak kesayangan
ini menjadi simpanan ingatan yang sulit lepas sehingga menjadikan dendam
berkenpanjangan. Ingatan yang tertumpuk itu menjadi sesak dalam ingatan anak.sehingga
mengalami kejenuhan. Maka, kegiatan melukis merupakan usaha untuk mengurangi
kesesakan yang menumpuk bertahun-tahun.
Susunan bentuk yang beraneka ragam benda maupun obyek merupakan bayangan
atau imajinasi yang adadalam pikiran anak, namun mungkin juga sebagai perasaan anak.
Gambar tersebut menjadi suatu media untuk menuangkan khayalan serta bayangan
terhadap situasi dan lingkungan sekitar.

Gambar ini menunjukkan permintaan anak kepada
ibunya untuk berkunjung ke rumah saudara.

Gambar 7: Willing type

Medium Karya
1. Media Berkarya
Ragam atau corak adalah sesuatu yang menjadi ciri khas gambar. Gambar anak juga
mempunyai ragam dan gaya yang khas. Beberapa ahli memberi keterangan, bahwa ragam
anakitu tidak dapat diketahui jumlahnya; sebanyak anak yang ada adalah sebanyak iyu pula
ragam gambarnya. Namun demikian ragam gambar anak itu tergantung pada beberapa hal:

8

(a) medium atau bahan yang digunakan untuk berkarya, (b) cara mengungkapkan yang khas
anak sesuai dengan usia perkembangannya, (c) pengaruh internal dari keluarga sebagai
faktor turunan, namun hal yang terakhir ini belum semuanya para ahli menerimanya.
Faktor terakhir ini juga merupakan faktor yang tidak mutlak.

Setelah mencermati kegiatan berseni rupa, maka dapat dilihat medium atau bahan
yang sedianya dipakai untuk menggambar. Menggambar adalah usaha untuk mengutarakan
pendapat, jika pada suatu saat anak sulit mengutarakan pendapat, maka anak akan merasa
pekerjaan dan perasaannya belum tuntas. Pada kesempatan ini dibahas tentang faktor
bahan atau media sangat menentukan kelancaran menggambar; bagi anak-anak yang tidak
menguasai bahan atau medium untuk berkarya seni rupa akan mengalami keterlambatan.
Keterlambatan menguasai bahan dan peralatan biasanya mempengarhui kelancaran
mengutarakan pendapat. Disamping itu, lewat kelancaran memahami medium tersebut
akan memunculkan ragam karya yang dihasilkan.

a. karya tersebut sebagai karya murni hanya digunakan untuk mengutarakan
b. karya terapan yaitu karya gambar atau bentuk yang dan berfungsi praktis,
c. karya modifikasi yang berguna untuk mengganti obyek asli ketika berekspresi tidak

ada dalamlingkungan anak.
Seperti telah diungkap di atas, bahwa karya seni rupa anak menjadi catatan haris anak
juga. Sehingga, terdapat beberapa karya seni rupa yang difungsikan untuk kegiatan praktis
atau pun untuk mengutarakan pendapat. Sebenarnya kegiatan yang dilakukan oleh anak
tidak saja harus mengambar, dapat pulan kegiatan menyusun benda-benda yang ada di
ruangan seperti perabot dan partisi serta beberapa tanaman hias. Tujuannya adalah untuk
melatih kemampuan mengamati dan menyusun perabot menuju tata letak yang indah sesuai
dengan keinginan anak.
Secara garis besar kegiatan anak berkarya rupa dapat dibuat skema alur sebagai
berikut:

9

Anak berkarya

Memodifikasi benda di sekelilingnya menjadi Menciptakan benda baru untuk mencurahkan
fungsi baru sebagai alat permainan. ide dan gagasan seperti patung pasir, gambar

serta yang lain

Simbol bentuk Simbol bentuk
- Membayangkan botol sebagai boneka - Mengambar rumah masa depan di udara
- Batu sebagai mobil - Minta dibelikan balon dengan menggambar
- Topi hias sebagai tiara ratu
satu balon karet

Alat bermain Alat bermain
- Kebutuhan praktis ketika tidak ditemukan - Menggambar komposisi warna
- Menggambar bentuk yang aneh
obyek yang diinginkan, sendok dibayangkan - Melengkapi dan menambah bentuk, warna
sebagai mikrofon
Ungkapan pikiran
Ungkapan pikiran - Menggambar rumah di udara
- Menciptakan rumah dari kardus bekas yang - Menggambar keramaian kota
- Menggambar tabrakan
ditumpuk - Mengambar jembatan yang putus
- Jembatan timbangan dari alat penggaris
Ungkapan rasa
Karya praktis (terap) - Menginterpretasi warna
- Memberi gambar bekas kaleng cat tembok - Menggambar dan melukis bebas
- Menempel: kolase, aplikasi, mpzaik
untuk pot bunga
- Meronce, merangkai
- Membentuk, membuat boneka dll

Dua dimensi (matra) dan Tiga Dimensi (matra)
Praktis maupun Ekspresi

Skema 1, Ungkapan Visual Untuk Pembelajaran

Keterangan:

1. Memodifikasi adalah mengubah benda asli menjadi benda atau karya yang berfungsi
lain, seperti: botol yang difungsikan oleh seorang anak perempuan sebagai boneka; batu
difungsikan oleh anak laki-laki sebagai mobil yang dapat digerakkan dan diperankan
sebagai mobil angkutan.

2. Menciptakan adalah membuat sesuatu yang lain dari yang lain, bentuk, media atau pun
ragam karya rupa berbeda dengan yang pernah ada.
10

2. Dimensi
Tampilan dan wujud seni rupa adalah dua dimensi dan tiga dimensi, arti dimensi
atau matra adalah ukuran, seni rupa dua dimensi mempunyai ukuran panjang kali lebar atau
luas. Ukuran ini untuk melihat sisi depan dan sisi belakang. Sedangkan, seni rupa tiga
dimensi mempunyai ukuran panjang kali lebar kali tinggi atau dengan atas atau bawah ber-
ruang (isi, volume). Contoh seni rupa dua dimensi: lukisan, gambar atau lainnya; seni rupa
tiga dimensi seperti seni bangun, patung, keranjang dst.

Pertanyaan
(Pilih satu jawaban yang tepat)
1. Sebutkan manfaat anak belajar keterampilan seni rupa?
a. Mengembangkan keterampilan berkarya
b. Menjadi calon seniman
c. Melatih pengembangan fungsi mental: kreasi, ekspresi, pikiran dan rasa
d. Mengisi waktu luang
2. Apa yang dimaksud dengan modifikasi?
a. Merubah bentuk menjadi lain daripada yang sebelumnya
b. Membuat karya baru
c. Menghiasi dengan benda-benda alami
d. Mengubah fungsi benda
3. Bisakah karya anak yang belum diberi judul secara tetap dikatakan karya seni?
a. Ya jika anak telah memberi judul tetap
b. Tidak, karena belum memberi judul tidak tetap
c. Ya kalau anak sudah mampu membuat gambar orang
d. Ya. Karena mampu mencontoh dan meneruskan karya guru dalam kertas
4. Kapan suatu karya dikatakan berdimensi tiga?
a. Mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi
b. Mempunyai bidang
c. Berbentuk kubus
d. Berupa gambar kubus.

Kunci awaban: 1. (c), 2. (a), 3. (a), 4. (c)

11

Ekspresi Seni Bagi Anak
1. Konsep Ruang
Sebelum mempelajari prinsip ruang dalam gambar anak sebaiknya anda mengamati
karya gambar anak di bawah ini:

Gambar 8 Gambar 9

Gambar 10

Ketiga gambar di atas merupakan penanda ruang atau perpspektif anak, namun
masing-masing mempunyai karakteristik berbeda. Pada gambar 8 (dibuat oleh anak usia 5
tahun) pernyataan keruangan dengan menebarkan penonton yang bersimbol bulatan-
bulatan. Visi anak telah mampu menunjukkan bahwa penonton yang berada di dekat
mempunyai ukuran lebih besar. Gambar keramaian di stadion sepakbola ini para penonton
dibedakan bentuknya; penonton yang berada dikejauhan digambar lebih kecil. Gejala ini
merupakan penanda perkembangan realismenya. Hal ini dapat terjadi karena
perkembangan otak (pikiran) lebih cepat daripada yang lain. Sedangkan, gambar 9 di
bawahnya adalah pernyataan keruangan yang berbeda pada perspektif. Gambar di bawah
dibuat anak usia 6 tahun menjelang kelas 1 (SD); untuk menyatakan ruangan, anak
meletakkan obyek yang semestinya jauh berada di atas yang lain (juxta position). Kondisi
ini menandakan emosi anak masih tinggi. Rasa dan ekspresi anak masih terhambat dengan
kuatnya emosi. Gambar 10 ruangan dinyatakan dalam bentuk rumah. Perhatikan cara
menggambar rumah; anak menyatakan perspektif ruang dengan membuat gambar rumah

12

terlihat ¾ samping. Garis tembok pada rumah dibuat miring dan diikuti oleh kemiringan
jendela serta yang rangka yang lain. Akan tetapi anak tidak konsisten untuk menyatakan
perspektif garis dasarnya. Dasar rumah dibuat datar sejajar dengan tanah, atau bertumpu
pada tanah sebagai garis dasar.

Gambar 11

Lain halnya dengan gambar 11, lukisan anak telah sedikit menunjukkan perpspektif
(jarak kejauhan) dengan membuat garis menuju ke belakang. Ruangan ini dimaksudkan
jalan menuju belakang ibu guru dan figur yang berada di belakang dimaksudkan jauh.

Gambar 12
Ketika anak masih berusia 2 sampai dengan 4 tahun karya-karyanya belum stabil.
Obyek yang diutarakan dalam gambar 12, belum disadari penuh, kadang hanya merupakan
goresan tanpa sadar bermaksud menggambar sesuatu, melainkan hanya gerakan tangan
untuk melemaskan otot (fisiologis). Akan tetapi di sebagian anak telah mampu mengamati
obyek di depan matanya untuk digambar, akan tetapi gambar coretan belum berujud.
Gambar gambar tersebut berupa garis-garis. Bagi orang dewasa garis-garis tersebut tidak
berfungsi, akan tetapi sebenarnya merupakan simbol benda atau obyek yang dilihatnya.
Untukmenyatakan ruangan, anak membuat huruf yang berbeda dari kecil di atas dan besar
mendekati gambar orang. Gaya gambar gerak ini memberikan gambaran bahwa huruf R

13

ditata dengan irama yang menunjukkan gerakan figur orang yang sedang berjalan. Jalan
dinyatakan berbelok-belok sesuai dengan jauh dan dekatnya.

Simbol hruruf R tersebut secara substansi telah mewakili obyek gerakan, akan
tetapi secara fisik garis sebagain tanda mewakili jalan yang berbelok-belok. Setiap selesai
menggambar satu baris diterangkan sendiri, demikian pula selanjutnya. Pada suatu saat
setelah selesai menggambar, karya tersebut diberi judul naik kereta dengan visualisasi
dirinya bergerak sambil memposisikan tangan lanan maju ke depan untuk menirukan
belokan. Namun selang beberapa saat, gambar diberi judul lagi: naik bus ke tempat
kakek.

Jika dilihat dari sudut perkembangan tubuh, penglihatan anak masih:
- Partial, artinya masih belum dapat melihat secara jelas bagian-bagian dari obyek

mempunyai hubungan satu dengan yang lain,
- Ditumbuhi egosentrisme, yaitu rasa keakuannya masih tinggi sehingga yang diamati

adalah sesuatu dari obyek yang dia senangi. Sehingga apan yang diamati hanya
sebagian dari obyek yang menarik perhatian anak.
- Gerak fisologis tangan dan koordinasi dengan otak belum seimbang, kadang pikiran
anak telah mampu menjangkau bentuk obyek secara rinci dan dianggap menarik
perhatiannya, namun disisi lain keterampilan untuk menyatakan obyek tidak
dipunyai. Kesan yang terjadi adalah anak malas menggambar.
- Pikiran atau perasaan yang lebih cepat bertindak dari pada tangannya, sehingga anak
menjadi kebingungan untuk menyatakan bentuk obyek, kesan anak malas
memperhatikan obyek nyata dan menggambarnya.
- Gaya anak yang mungkin berbeda dengan yang lain, perkembangan pikiran, dimana
gambaran yang telah terjadi sebelumnya menjadi persepsi, persepsi ini kemudian
berkembang terus menjadi dorongan bentuk obyek dengan mengasosiasikan
(menghubungkan dan menyamakan) dengan obyek sebelumnya. Sebagai contoh:
anak diminta menggambar kursi yang ada di depannya. Anak tidak menggambar kursi
tersebut melainkan menggambar kursi yang pernah dilihat, demikian terhadap kursi
seperti angka 4 terbalik sehingga yang ada dalam kertas gambar adalah angka 4
terbalik.

Konsep keruangan yang ada pada gambar anak menjadi berbeda dengan karya orang
tua, ruang dinyatakan dalam bentuk simbol suasana, dan yang lain berbentuk simbol
perspektif, seperti semakin jauh obyek mengecil, dan dibedakan warna karena obyek

14

semakin mengabur. Gaya ini akan berangsur beralih menjadi realistik (nyata) ketika telah
dapat memisahkan pikiran dan rasa.

2. Konsep Waktu
Selanjutnya, amatilah dua buah lukisan di bawah ini; anda diminta menebak terlebih
dahulu arti matahari diletakkan di sebelah kanan atas dan kumpulan ayam dan telor.

Gambar 13 Gambar 14

Pertanyaan di bawah ini akan menuntun anda untuk mengamati kejadian yang berbeda, tetapi
keduanya akan menjelaskan prinsip dan konsep waktu yang akan diajukan anakdalam gambarnya:

1. Unsur apa saja yang terdapat pada gambar 13?
2. Apa arti masing-masing unsur tersebut?
3. Apa arti anak ayam di dalam perut ayam besar dan ayam besar di dalam telur?
4. Tipe anak berdasarkan gambar 14 termasuk apa?

Wawasan Jawaban

Anak adalah sosok bocah yang belum dewasa dalam segi usia, perkembangan mental
dan kejiwaannya, serta badannya. Apa yang dinyatakan dalam gambar anak sebenarnya
merupakan kejujurannya memahamilingkungan. Akan tetapi, guru seringkali membuat
kebingan anak ketika sedang/akan menggambar; perintah yang tidak sesuai dengan
alampikiran anak atau justru perintah mencontoh dan membetulkan gambar menjadikan
anak tidak banyak berkreasi. Pernyataan tentang waktu akan terhambat oleh perintah
guru.

Bertolak dari contoh gambar di atas, dapat diuraikan sebagai berikut: terdapat dua
tipe anak dalam mengungkapkan waktu (a) anak menggambarkan matahari ada di atas
sebelah kanan merupakan penanda bahwa kejadian tersebut pada waktu matahari bisa
dilihat: siang hari. Namun dalam gambar 06 matahari berada di samping kanan gambar
kapal menandakan waktu pagi hari. Sedangkan gambar 07 memberi tanda bahwa waktu.
Sebagai contoh: ditunjukkan oleh anak bahwa pada waktu diajak ayahnya melihat seekor
ayam, pikiran anak menghubungkan dengan peristiwa sebelumnya. Pikiran anak kemudian

15

menyatukan cerita ayam yang pernah didengarnya darikakeknya ketika diterangkan
dalambentukdongeng menjelang tidur.

Pada jaman dahulu kala ayam itu berasal dari telur dan telur ditetaskan oleh induknya.
Siklus ini menunjukkan waktu yang kwalitatif sehingga tidak bisa ditebak kapan kejadian
itu berlangsung. Hanya dalam alampikiran anak merujuk kepada waktu kualitatif, dahulu,
sekarang, dan masa yang akan datang. Hal ini berbeda dengan waktu yang
ditunjukpada gambar kiri; yaitu waktu kuantitatif (jam dan hari) sedangkan yang lain
bersifat kwalitatif yang dinayatakan dalam masa.

16

17

The Persistence of Memory dilukis oleh Salvador Dalí pada tahun 1931. Lukisan tersebut dikoleksi di
Museum of Modern Art di New York City dan sampai sekarang lukisan paling populer di kalangan anak
seni. Lukisan tersebut menggambarkan arloji saku yang melebur sehingga menjadi tak berarti lagi.

Bab II
Pembelajaran Seni rupa Anak

Prinsip Umum

Pada hakikatnya, peristiwa belajar adalah
perilaku mencari tahu terhadap permasalahan,
dimana permasalahan merupakan jarak antara
tahu dengan belum tahu. Pasa saat seseorang
sedang belajar maka yang pertama dilihat adalah
tujuan; apakah tujuan seseorang belajar.
memanfaatkan segala fasilitas yang dipunyai baik fasilitas manual maupun digital.

Pembelajaran dapat terjadi dengan sengaja, artinya seseorang akan mencari tahu dengan
mempersiapkan pengetahuan untuk memecahkan permasalahan sehinggan menjadi tahu.
Peristiwa belajar dapat pula terjadi karena pengalaman yang tidak disengaja; pengalaman
tersebut kemudian diasadarai sebagai kerangka gerak menuju pengetahuan. Pembelaharan
yang dilakukan dengan sengaja dapat dikatakan sebagai belajar formal, seseorang mencari
tahu dengan sengaja sehingga bertambah ilmu dan pengetahuannya. Sedangkan peristiwa
yang ke dua adalah peristiwa menyusun pengalaman menjadi pengetahuan.

Sebagai suatu pengetahuan, pengalaman dapat mengantarkan seseorang kepada sikap
bijaksana. Marilah kita cermati apa dan bagaimana pengalaman itu, bagaimana kaitannya
dengan kebijaksanaan dan apa saja bukti atau alasan yang menunjukkan bahwa pengalaman
itu merupakan pengetahuan dan sekaligus sebagai pengetahuan yang merupakan sumber
kebijaksanaan. Pengalaman ialah suatu pengetahuan yang timbul bukan pertama-tama dari
pikiran melainkan dari pergaulan praktis dengan dunia. Pergaulan tersebut bersifat
langsung, intuitif dan efektif. yang terpenting dari pengalaman adalah hikmah atau pelajaran
yang bisa diambil. Hikmah dan pelajaran yang diambil dari pengalaman inilah yang
dinamakan sebagai pengetahuan. Pengalaman ialah hasil persentuhan alam dengan panca
indra manusia. Pengalaman memungkinkan seseorang menjadi tahu dan hasil tahu ini
kemudian disebut pengetahuan. Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman juga diketahui
sebagai pengetahuan empirikal atau pengetahuan posteriori.

18

Secara garis besar peristiwa belajar digambarkan lewat kinerja belajar sebagai berikut:
PERISTIWA BELAJAR

SISWA BELUM TAHU MENJADI TAHU

APA Materi Pelajaran
SIAPA Langkah belajar
Pengembangan
Penerapan

Karakter
Keingingan
Kemampuan

BAGAIMANA Metoda
Strategi
Prosedur
Suasana
Prasarana

Gambar 14, Skema Peristiwa Belajar

Dari uraian pada skema tersebut dapat ditarik suatu pengertian umum tentang hakkat
belajar:

- Belajar adalah usaha seseorang mencari tahu, misalnya mencari tahu tentang
masalah yang ada dalam suatu obyek. Belajar adalah peristiwa mengubah sifat
seseorang dalam kondisi tidak tahu menjadi tahu, dan mewujudkan menjadi suatu
pengetahuan.

- Jika diperdalam, sesuatu yang dianggap tidak tahu oleh orang yang sedang belajar
di sekolah akan diubah mjenadi pengetahuan dalam bentuk materi pelajaran.
Pengetahuan yang sifatnya umum atau utuh tersebut agar dapat dipelajari dikemas
dapal paket kecil berdasarkan sifat dan bentuknya.

- Bagi seorang guru, pengetahuan yang akan disampaikan kepada siswa hendaknya
disesuaikan dengan karakter dan sikap serta kemampuan; Misalnya: siapakah yang
akan belajar? bagaimana kemampuan rata-rata? Pelaku ini akan menentukan
keluasan materi dan ketertarikan siswa terhadap materi yang akan disampaikan.

19

- Ketika guru sudah memahami: karakter, keinginan (needs) siswa yang akan belajar,
maka guru mudah menentukan metoda, strategi, prosedur, suasana, prasarana serta
tingkat kesukaran suatu pengetahuan tersebut.

Belajar Seni
Menurut Lozanoy (1978; dalam DePorter et al., 1999:3) dikatakan, proses
belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti, misalnya
setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi akan ditampilkan seorang guru secara simultan;
sampai sejauh mana guru menggubah linkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran,
sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Untuk itu akan dikembangkan strategi Quantum
Teaching yaitu usaha penggubahan belajar menjadi meriah dan menciptakan segala
nuansanya, serta menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan
momen belajar yang dinamis penuh interaksi dan menciptakan kerangka untuk belajar.

Persepsi siswa Sekolah Dasar terhadap guru yang ideal adalah guru yang mampu
mengajarkan seni kepada anak. Kemampuan tersebut ditunjukkan oleh kelancaran
menerangkan, menugasi dan membimbing berkarya seni. Untuk membimbing berkarya,
guru dituntut oleh anak mampu menunjukkan dan mendemonstrasikan keahliannya
berkarya. Siswa-siswa akan lebih menyukai pelajaran Pendidikan Kesenian terutama seni
rupa jika seorang guru mampu berkarya dan mendemonstrasikan keahloiannya di depan
siswanya.

Pandangan siswa seperti terurai di atas menunjukkan bahwa guru harus berlatih
berkarya agar meyakinkan penampilannya di depan kelas. Artinya, guru harus memberi
pengaruh fungsional terhadap penampilannya di depan siswa. Tuntutnan belajar berkarya
seni rupa kepada para guru dengan memperdalam pengetahuan dan kemampuan berkarya
menjadi lebih dominan daripada teori mencipta. Di bawah ini disajikan beberapa bentuk
karya seni rupa dua dimensi, dan tiga dimensi dengan berbagai teknik percobaan
(experimentation) sehingga guru percaya diri ketika tampil di depan kelas. Sebagai contoh,
siswa SD mempunyai karakteristik cara cipta dan teknik berkarya. Mereka berkarya atas
dorongan batinnya karena ketidak puasan, sedih, gembira, khayalan, cerita masa lalu,
maupun mengungkapkan cita-citanya. Dalam hal ini tugas seorang guru adalah
membimbing mereka agar ide dan gagasannya dapat lancar, sehingga tidak menjadikan
hambatan perkembangan jiwa anak. dengan variasi sifat anak, guru harus mampu

20

mendeteksi kebutuhan anak; sebab sifat anak satu persatunya berbeda. Seribu anak yang
dihadapi seribu sifat dan karakternya dalam menciptakan karya seni rupa. Oleh karenanya
dengan berlartih berkarya seni rupa guru akan mempu menghadapi seribu karakter yang
disimbolkan tersebut.

Namun sebelumnya perlu disadari bahwa iklim atau suasana kelas merupakan hasil
perkembangan (outgrowth) dari hubungan guru-siswa kolektif yang membentuk mampu
mengangkat potensi siswa. Guru dapat menciptakan kelas dengan pendekatan humanistik
agar lingkungan menjadi aman. Siswa percaya terhadap penampilan guru dan akhirnya
kepercayaan ini menimpulkan semngat berkarya yang besar, untuk itu diajukan pendekatan
humanistik.

Pendekatan humanistik menekankan pada ketiga domain: kognitif, afektif, dan
konatif Peranan pendidik lebih sebagai fasilitator, yaitu melaksanakan segala sesuatu untuk
membantu individu membangun jati diri dan konsep dirinya. Siswa dilibatkan dalam proses
belajar dengan diberi pengalaman-pengalaman sukses, diakui, diterima, dan dihargai. Di
sini pendidik memperlakukan siswa sebagai manusia dengan segala kebutuhannya dengan
melalui empat pendekatan, yaitu 1) Self Esteem Approach, 2) Creativity Approach, 3) Values
Clarification and Moral Development Approach, dan 4) Multi Talent Approach.

AMT (Approach – Method and Technique) Mengajar Seni
Perkembangan pendidikan seni semakin bertambah kaya perbendaharaan nuansa
kejiwaannya semenjak Johann Frederich Herbart (1776-1814) dari Jerman
mengumadangkan Psikologi Herbart. Dalam pandangannya, teori Herbart didasari oleh
psikologi metafisis; bahwa suatu alam pikir dapat tersusun suatu proses memory, will and
reason. Oleh karenanya, belajar dapat menggunakan teori asosiasi. Herbart percaya bahwa
terhadap apersepsi mendasari pikiran manusia sejak awal, dimana jiwa seseorang menerima
persepsi baru melalui asimilasi dan kombinasi terhadap peristiwa yang pernah berlangsung.
Teori sangat bermanfaat bagi guru terutama dalam usahanya mengembangkan
pembelajaran kesenian.
1. Approach (Pendekatan Belajar - Mengajar)

a. Pendekatan Definitif
Guru memulai memberikan tugas dengan menjelaskan materi, bagi AUD biasanya
dengan memberikan keterangan yang mudah ditangkap oleh anak. Misal:

21

gambarlah keramaian kota; dimulai dengan menjelaskan peristiwa perjalanan di
sebuah kota yang ramai.

b. Pendekatan Partisipatif
Guru ikut serta menggambar untuk memotivasi siswa agar bergairah menggambar

c. Pendekatan Eksploratif
Guru bercerita tentang apa saja, kemudian siswa diminta merespon dan dilajutkan
menggambar respon siswa, atau guru mengajak jalan-jalan dan kemudian meminta
siswa menggambar sesuatu yang pernah dilihat.

2. Method (Metoda Mengajar)
a. Pengaruh Penentuan Metoda Mengajar

Menurut Lozanoy (1978; dalam DePorter et al., 1999:3) dikatakan, proses
belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti,
misalnya setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi akan ditampilkan seorang guru
secara simultan; sampai sejauh mana guru menggubah linkungan, presentasi, dan
rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Untuk itu akan
dikembangkan strategi Quantum Teaching yaitu usaha penggubahan belajar menjadi
meriah dan menciptakan segala nuansanya, serta menyertakan segala kaitan, interaksi,
dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar yang dinamis penuh interaksi
dan menciptakan kerangka untuk belajar.

Secara keseluruhan sebenarnya pembelajaran seni dapat melihat teori terjadinya
seni; Abdul Kadir (1976) menyitir teori kehadiran seni adalah:

- Theory of Play, teori bermainan ini dimaksudkan adalah teori kehadiran seni
berasal dari pengalaman bermain; dengan bermain-main bentuk, warnamaupun
garis seseorang menemukan hakikat seni dan akhirnya diangkat sebagai karya
seni. Kesenian merupakan substansi opengalaman yang disatukan ke dalam rasa
seni dan kemudian dirancang dan dimanfaatkan rasa seni (indah) yang ditemui
dari eksperimentasi bermain menjadi berkarya seni.

- Theory of Utilization; teori kebermanfaatan dari kebiasaan membuat benda -
benda praktis dan diinginkannya lebih menarik lalu dikembangkan menbjadi
suatu karya seni. Sebagai contoh: ketika peristiwa membuat alat perang (belati),
seseorang memperindah belati dengan berbagai hiasan yang maknanya untuk
kemenangan. Akhirnya hiasan pada belati ini memberikan nilai tersendiri pada

22

karya tersebut dan akhirnya keindahan yang ada pada belati disengaja untuk
diciptakan dan diimplemntasikan kepada benda lain dan diperoleh karya seni.
Demikian pula, beberapa tarian hadir karena kebutuhan praktis, misalnya tari
Gambyong, kehadirannya diangkat dari kebutuhan tarian penyambutan selamat
datang (social dance). Sehubungan penyambutan tamu tersebut ditujukan kepada
pejabat (kerajaan) pada saat itu akhirnya tarian dikemas dengan: etika,
kesopnan, keindahan disesuaikan dengan situasi maka hadirlah tarian
penyambutan selamat datang.
- Theory of Magic and Rellegy, gagasan kehadiran seni dikarenakan kebutuhan
penyembahan kepada yang maha Pencipta. Atas dasar nilai spiritual diciptakan
karya nusik, tari maupun bentuk rupayang indah dengan pengharapan semoga
pencipta menerima segala sesuatu yang diminta. Konsepsi magis inilah akhirnya
benda untuk peralatan upacara, gerakan tubuh serta musik untuk kebutuhan
upacara keagamaan dkemas dengan rasa spiritual namun etis dan
estetis.disinilah karya seni menjadi dihadirkan dengan kesungguhan dan
berangkat dari teori rasa yang dalam (spiritual, magis).
Fenomena kehadiran seni seperti terurai diatas dapat digunakan untuk menyusun
pola pembelajaran: (1) perilaku bermain menghadirkan metoda berekspresi bebas, (2)
perilaku menghias benda menghadirkan metoda inovasi, gubahan, kreasi serta
penciptaan kembali, (3) perilaku kontemplasi spiritual menghadirkan metoda
eksplorasi melalui pengutatan imajniasi. Ke tiga metoda dasar ini nantinya
berkembang menjadi beberapa metoda dengan langkah yang khas, dimana belajar
seni adalah belajar peningkatan rasa indah melalui berkarya seni.

b. Metoda Pembinaan
Karakteristik pembelajaran seni rupa dan kerajinan sebenarnya terletak pada

metoda pembinaan karya. Metoda ini dikembangkan berdasarkan penjenjangan
kemampuan belajar seni dankerajinan. Metoda yang dimaksud adalah meliputi : (1)
metoda mengkopi atau mereproduksi, (2) metoda mencontoh, (3) metoda menggu-
bah, (4) metoda mencipta terpimpin, dan (5) metoda mencipta bebas
bertanggungjawab. (Hajar Pamadhi, 1993: 16). Lebih lanjut secara rinci kelima
metoda tersebut dijelaskan sebagai berikut:

23

1) Metoda mengkopi atau mereproduksi, dilaksanakan pada tingkat paling
mudah, karena hanya diperlukan ketrampilan teknis melulu. Jenis ini dikenakan
jika samasekali tidak diperoleh ide dan gagasan siswa untuk menciptakan karya.

2) Metoda Mencontoh: berbeda dengan metoda mengkopi karena dalam metoda
ini siswa dituntut untuk melakukan kegiatan yang meliputi: penggayaan,
percobaan, dengan contah yang ada. Untuk itu siswa dapat mencontoh bentuk
untuk dibuat lebih kecil, besar atau beda mediumnya.

3) Metoda Menggubah; mirip dengan metoda mencontoh, namun siswa diminta
menambah atau mengurangi bentuk /monster yang diberikan. Penggubahan
tersebut dimuali dari: defor masi bentuk, yaitu berubah bentuk dengan ciri khas
dan makna bentuk masih tampak. Destorsi, mengubah bentuk dengan cari ciri
khas aslinya, sedangkan stilisasi, adalah penggayaan, yaitu menuntut ke-amungan
(unik) sebuah bentuk menjadi lebih fungsional dan bermakna.

4) Metoda mencipta terpimpin, yaitu strategi yang dilakukan guru agar siswa
kreatif. Sifat ini masih didominasi oleh instruksi guru, misalnya: menentukan
bentuk, warna, tek nik, atau penyelesaiannya. Dengan demikian keterikatan siswa
dengan guru dan order sangat tinggi.

5) Metoda mencipta bebas; siswa diminta mencipta bentuk sesuai dengan order
dan dituntut mencipta.

c. Metode Pemberian Motivasi

Motivasi merupakan dorongan internal dan eksternal, motivasi
internal adalah dorongan kepada anak dengan menyentuh alam
pikiran dan perasaan anak. Hal ini sangat dibutuhkan karena
dorongan internal ini akan menumbuhkan alam pikiran yang
imajinatif serta memberikan dorongan untuk menyeimbangkan
pikiran dan perasaan. Atau kemungkinan penyeimbangan antara
harapan dan kenyataan, pikiran dengan pearasaan.

Thomas Sowel dari Stanford University menyatakan bahwa hambatan
bahasa visual dapat diatasi dengan menggambarkan ide dan gagasannya dalam
lukisan. Kepentingan memberi motovasi ini sesuai dengan teori motivasi; kata
motivasi sendiri terdapat 3 bentuk dasar, yaitu artistic motivation, intellectual motivation,
imaginative motivation (Earl W. Linderman dan Donald W. Herbertholz, 1981: 96).
Motivasi artistik adalah dorongan menggambar karena melihat sesuatu obyek yang
indah. Motivasi penalaran, merupakan dorongan berkarya seni dari pendangan

24

obyek yang mempunyai struktur menarik. Sedangkan motivasi imajinasi adalah
dorongan menggambar yang berasal dari imajinasi anak.

Pendidikan Seni Rupa sebagai Sarana Pengembangan Apresiasi

Apresiasi adalah sejenis penilaian yang mengandung kepekaan, rasa, senang,
berharga dan manfaat dari karya seni. Apresiasi adalah sejenis penilaian yang mengandung
kepekaan, rasa, senang, berharga dan manfaat dari karya seni. Kegiatan apresiasi dianggap
sangat berharga karena dengan apresiasi siswa diarahkan pada sasaran memahami seni yang
benadiarahkan pada sasaran memahami seni yang benar (Muharam & Sundaryati, 1992).
Dengan memahami kemampuan seni yang benar, maka pada sisi pengembangan bakar
apresiasi sangat bermanfaat dan membantu kreativitas siswa. Dari sisi lain manfaat apresiasi
untuk siswa yang kurang berbakat, maka dengan memiliki kemampuan apresiasi minimal
siswa mampu mengamati, menghayati karya seni. Yang pada gilirannya tumbuh rasa
penghargaan terhadap buah pikir orang lain dan pada akhirnya mampu menghargai karya
bangsa sendiri.

Pendidikan seni rupa sebagai sarana pengembanga apresiasi dimaksudkan untuk
memupuk kemampuan siswa dalam hal apresiasi. Apresiasi dibutuhkan, sebab degan
kemampuan apre siasi yang baik akan berdaya guna baik kreativitas khusunya dibidang seni
rupa. Juga agar mahasiswa mampu menikmati nuasnsa dari wujud karya seni.

Kemampuan dalam seni diartikan sebagai kemampuan untuk mengenal dan
menghargai nilai-nilai tertentu yang terkandung pada benda-benda keperluan hidup sehari-
hari (Soenarjo, 1989). Apresiasi adalah kesadaran terhadap nilai-nilai yang meliputi
pemahaman, penghayatan, dan penghargaan dan kepekaan dan persepsi tertentu. Apesiasi
mengandung empati dan rasa serta penghargaan. Penghargaan adalah kekaguman akan
nilai keindahan yang dimiliki, empati berkaitan dengan pemahaman, simpati dan turut
merasakan apa yang dituangkan oleh pencipta dalam karya. Rasa berkenaan dengan sesuatu
yang menyenangkan, puas, suka, gairah, agung, jenuh, dan sebagainya.

Karya seni adalah yang dibuat atas kesadaran jiwa, karena itu seni merupakan
perwujudan perasaan manusia, yakni perasaan mengandung nilai keindahan. Untuk
memahami yang tragis, magis, religius, agung, haru dalam romantika kehidupan seni sarana
yang digunakan adalah kemampuan apresiasi, oelh sebab karya seni pada hakekatnya hasil
dari kreativitas perasaan manusia. Maka dalam penididikan seni rupa salah satu sasarannya
adalah pengembangan apresiasi siswa, tujuannya setidak-tidaknya anak memahami nilai-

25

nilainya yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, agar ia dalam bertindak dan berprilaku
beradu pada norma-norma kehidupan manusia.

Pendidikan Seni Rupa Sebagai Wahana Berekspresi
Ekspresi adalah suatu kebutuhan hidup manusia dalam mendari kepuasan
(Muharam & Sundaryati, 1992). Ekspresi merupakan pernyataan proses kejiwaan yang
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam mencari kepuasaan. Ekspresi
juga kebutuhan manusia dalam menkomunikasikan isi hatinya kepada orang lain. Kegiatan
berekspresi adalah kegiatan lahir dalam bentuk pembuatan. Manusia berekspresi berarti
melakukan perbuatan-perbuatan fisik yang memerlukan keterampilan tertentu. Berekspresi
dalam seni rupa berati menuangkan isi hati dengan menggunakan sarana yang berwujud
nyata. Oleh karena itu pendidikan seni rupa bertujuan sebagai wahana berekspresi bagi
siswa. Dengan demikian ekspresi bagi siswa memerlukan perhatian, karena melalui
ekspresi.

Cita-cita yang ada dalam dirinya dapat disalurkan. Peranan lain ekspresi dapat
sebagai alat terapi dan komunikasi siswa, dikatakan demikian karena ekspresi merupakan
perwujudan dari kenyataan. Seni dapat dipergunakan sebagai pangkal, pengobatan, alat
hiburan/bersantai (Muharam & Sundaryati, 1992)

Pendidikan Seni Rupa Sebagai Sarana Pembentukan Keterampilan.
Terampil adalah cekatan dalam melakuka suatu teknik yang benar dan menhasilkan

suatu karya sesuai tujuan. Keterampilan berarti dapat melakukan sesuatu dengan baik dan
tepat. Keterampilan dalam berbagai bidang seni rupa adalah alat bantu dalam menyalurkan
kreativitas dan ekspresi (Soenarjo, 1989). Keterampilan dalam arti luas adalah alat bantu
siswa memperoleh pengalaman visual estesis atau pengalaman berolah seni. Kegiatan seni
rupa disekolah pada hakekatnya memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh
pengalaman visual estesis.

Pengalaman visual estetis adalah kunci dari pendidikan seni rupa (Muharam &
Sundaryati, 1992). Pandangan lain menyebutkan tidak boleh dilupakan oleh para pendidik
seni, bahwa tugas utama pendidikan seni adalah melatih perasaan estetis atau yang biasa
disebut sebagai emosional estetis (Soenarjo, 1989).

26

Cetak Rata
Pada acuan cetak rata, bagian yang akan menghasilkan gambar maupun bidang
datar tempat menyembulkan bidang gambar, semuanya berada dalam satu bidang data.
Contohnya dapat dilihat pada jenis cetakan modern dewasa ini seperti offset. Acuan
disebut plat. Bagian yang menghasilkan gambar mampu menangkap tinta tanpa menarik
air. Tinta yang dilaburkan pada plat itu dicampur air menurut perbandingan tertentu. Jika
tinta dilaburkan plat, hanya bagian yang akan menghasilkan gambar saja yang menerima
tinta selanjutnya pindah pada kertas yang dicetak.

Contoh Cetak Rata dengan Menggunakan Sayuran

Cetak Tapis

Proses cetak ini sering disebut cetak

saring, cetaj stensil, atau cetak sablon. Proses ini
dinamai cetak saring karena tinta menembus

acuan dan menghasilkan gambar pada acusan

yang ditembusnya. Contoh sederhana ambilah
sepotong yang agak tebal. Kira-kira dengan berat

200gram, ditengahnya dibuat celah empat persegi

panjang. Acuan ini disebut stensil atau sablon.

Contoh Gambar Dengan Teknik Sekarang ambilah sehalai kertas kosong,
Stensil kemudian letakkan di atas sablon itu. Seanjutnya
sapokan tinta pada permukaan sablon. Tinta akan

menembus celah pada sablon dan menghasilkan gambar pada kertas tadi.cetak saring yang
lebih baik mengunakan kain kasa untuk stensilnya. Sebagian permuaanya ditutup dengan

27

kertas atau zat yang tidak tembus tinta, bagian yang menghasilkan gambat dibiarkan
terbuka sehingga tinta dapat menembusnya dan melekat pada kertas cetak dibawah stensil
tersebut. Sebagai contoh lihat gambar berikut ini:

Contoh Gambar Dengan Teknik Stensil

Menggambar Ekspresi
Kata ekspresi adalah curhatan bathin atau ungkapan. Dalam pendidikan seni rupa
penamaan pengertian seperti itu hanya ditujuka untuk guru, agar jangan menghalangi
kebebasan siswanya dalam berkarya karena guru terlalu sering menggurui siswanya secra
berebihan, misalnya menyuruh siswa menggambar besar-besar, menyuruh memperhatikan
dengan cermat benda yang sedang digambar, atau melanggar siswa untuk tidak sering-
sering menghapus jika terjadi kesalahan saat menggambar. Hal tersebut akibatnya membuat
siswa takut untuk mencurahkan seluruh perasaanya. Namun membiarkan siswa merdeka
menggambar sendiri tanpa bimbingan dan arahan juga tidak benar. Sebab akan
menghambat kemajuan dari siswa.
Banyak anak kelas IV ke atas gairah menggambarnya menurun dibanding pada saat ia
masih duduk di TK maupun ketika SD kelas rendah. Gejala ini adalah pertanda
berkembangnya tingkat rasionalitas dan intelektual seseoran sesuai dengan perkembangan
usianya. Anak didik merasa gambar yang dibuatnya tidak lagi sesuai dengan apa yang
dilihatnya. Peserta didik biasa melihat kejanggalan pada karya saat ia melihat pada bentuk
sebenarnya. Akhirnya hal ini membuat anak-anak saat memasuki usia lebih dewasa memilih
tidak menggambar daripada menggambar yang salah.

28

Sekalipun menggambar ekspresi mengutamakan ungkapan batin agar siswa bebas
bekerja mengungkapkan kreativitasnya, namun guru perlu membatasi dalam hal tema
menggambar yang dikerjakan siswa. Berikan tema-tema yang sering dilihat siswa, misalnya
lingkungan tempat tinggal, sekolah, kebun binatang, tempat bermain, tempat rekreasi, dll.

Dalam teknik pelaksanaannya, menggambar ekspresi dapat dilakukan dengan berbagai
cara:

1. Menggambar ekspresi dengan teknik media tunggal
Menggambar teknik ini dimaksudjan menggambar dengan media sebagai penyelesaian.
Misalnya cat air, pensil warna, spidol, pastel/crayon, dsb. Teknik ini paling sesuai
dilakukan disekolah.

Contoh Gambar Dengan Teknik Stensil

Teknik Campuran
Menggambar ekspresi dengan teknik campuran adalah menciptakan karya dengan
menggunakan teknik campuran dari media sederhana. Media yang digunakan misalnya lilin,
cat air, crayon/pastel, pensil warna.

Teknik Montase Menggambar dengan teknik montase adalah
dengan teknik menempelkan motif/pola-pola yang
Contoh Gambar Dengan Teknik Montase dipotong/digunting dari motif yang sudah dan
disusun kembali menjadi bentuk gambar lain.
Misalnya kita akan menciptakan gambar
pemandangan, bentuk pohon kita gunting dari
gambar yang terdapat pada kalender misalnya,

29

rerumputan juga demikian kita gunting dari gambar lain lalu semua elemen gambar-gambar
tadi kita susun kembali hingga menjadi suatu gambar yang berbeda dan baru.

Teknik Dekorasi
Yang dimaksud dengan menggambar dekorasi ialah menggambar pola atau hiasan.
Corak ialah gambar yang menutup permukaan gambar untuk memperindah barang itu.
Misalnya corak batik,corak tekstil, corak tenunan, corak anyaman, dan corak kemasan.
Corak merupakan susunan sosok yang disebut ragi atau motif. Untuk membuat ragi,
bentuk tumbuhan, atau hewan itu digayakan atau distilir, artinya bentuk alam itu diubah,
dibuat teratur, dan disesuaikan dengan rencana (atau bangunan) yang sudah ditentukan.
Hiasan harus serupa dengan corak, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan barang.
Misalnya hiasan pada piring, cangkir, atau pada hulu keris.
Pola ialah gambar contoh untuk membuat corak atau hiasan. Pola batik ialah
gambar sebuah corak batik, pola tenunan ialah gambar sebuah corak tenunan, dan
seterusnya. Arti pola yang lain ialah potongan kertas atau bahan lain yang dipakai untuk
contoh membuat baju atau barang lain. Pelajaran membuat pola hiasan dimasukan kedalam
mata pelajaran menggambar di sekolah dasar pada tahun 30-an oleh R. Adolf seorang
pegawai tinggi bidang kerajinan tangan pemerintah Hindia belanda. Nama pelajaran itu
ialah decorative tekenen, yang kemudian diterjemahkan menjadi menggambar dekorasi.
Disamping itu Adolf jugalah yang memasukkan pelajaran kerajinan tangan dan
menggambar mistar ke sekolah dasar. Dalam rencananya, pelajaran menggambar dan
kerajinan tangan harus bekerja sama dan saling mengisi. Tujuan menggambar dekorasi
ketika itu ialah melatih siswa untuk memperoleh kemampuan dan keterampilan
menggambar pola hias.

Motif Hias Pada Piring

Motif Dekoratif Batik

30

Membentuk
Membentuk adalah membuat karya seni rupa Trimtra (3 dimensi) yang hasilnya
berupa patung atau benda-benda pakai lainnya seperti keramik,kendi,atau asbak,dsb.
Proses membentuk ini ada 4 macam, yakni;
a. Membutsir dan menguli
b. Memahat
c. Menuang
d. Membangun/konstruksi

Pengalaman yang diperoleh dalam membentuk berbeda dengan pengalaman dalam
menggambar. Dalam membentuk siswa membuat bentuk ruang, sedangkan dalam
menggambar, ruang itu semu dan hanya merupakan tipuan mata atau khayal (ilusi) karena
bukan ruang yang sesungguhnya. Baik membentuk maupun menggambar mempunyai
keunggulan tersendiri. Oleh karena itu harus ada kecocokan antara proses karya yang
dipilih dan waktra yang akan diwujudkan. Waktra (adengan) yang cocok diungkapkan
dalam karya trimatra jangan diungkapkan dengan karya dwimatra, sedangkan yang baik
diungkapkan dengan bentuk patung jangan diungkapkan dengan gambar. Pemandangan
alam yang cocok untuk dilukis atau digambar daripada dibuat dalam bentuk patung. Oleh
karena itu bahan yang akan digunakan harus sesuai dengan pengalaman yang hendak
diungkapkan. Sifat kayu berbeda dengan sifat kawat ataupun sifat tanah liat.

a. Membetsir atau Menguli
Dalam bahasa indonesia membutsir bersinonim dengan menguli. Yang berarti
membuat karya trimatra dari bahan yang lentuk dengan jalan diuli atau diremas-remas
dengan tangan pada saat bahan itu masih lembek. Bahan yang dipergunakan biasanya tanah
liat atau lempung. Bahan ini mudah didapat dan kelentukannya cocok sekali untuk diproses

Dalam menguli kita membangun pukal dengan cara menambahkan dan
mengurangimya, sedangkan dalam memahat kita hanya dapat menguranginya dengan
pahat. Dalam keadaan agak keras tanah liat dicukil dengan alat pencukil atau sudip dari
kayu, bamboo, lempeng logam, atau kawat yang dilengkungkan untuk membuat rinci.
Kelemahan barang yang dibuat dari tanah liat ini ialah mudah rapuh. Untuk menjaga agar
tidak rapuh,barang dari tanah liat itu perlu dibakar. Biasanya barang itu dibakar dalam
tungku pembakaran dengan suhu tinggi supaya menjadi keras dan awet. Di kota kadang-
kadang sulit didapatkan tanah liat sehingga sebagai gantinya digunakan bubur kertas,

31

plastisin, lilin. Ketimbang memahat dengan alat pahat, proses menguli itu lebih mudah dan
sangat cocok untuk dilaksanakan di sekolah dasar.

b. Memahat
Memahat adalah salah satu cara membentuk dengan membuang bagian-bagian yang
tidak diinginkan. Untuk setiap bahan ada perangkat pahat yang khusus. Karya yang terbuat
dari satu bahan yang utuh tidak disambung-sambung disebut karya iras. Untuk membuat
dari satu bahan yang disambung-sambungkan disebut dengan karya rakitan
c. Menuang
Dalam proses menuang atau mengecor sebuah karya, bahan cair dituangkan kedalam
acuan atau cetakan dan setelah menjadi keras dikeluarkan dari acuan tersebut. Jika acuannya
tetap utuh, kita dapat membuat beberapa karya sama karena memilki satu cetakan atau
acuan. Bahan pengecoran dan bahan cair dapat buat dari semen, logam, tanah liat, plastik,
karet atau bahan lainnya.
d. Menuang/Konstruksi
Konstruksi adalah cara kerja yang merakit dan menyambungkan beberapa bahan
sehingga membentuk karya tiga dimensi. Bahan sambungan dapat dipakai yaitu skrup,
dipatri, dilas, atau dilem.

32

33

Mungkin lukisan The Starry Night dari Van Gogh merupakan lukisan pemandangan yang paling indah
sampai sekarang. Lukisan ini dibuat pada tahun 1889, dan kini dipajang di Museum of Modern Art.
Lukisan ini menggambarkan pemandangan malam layaknya di suatu mimpi yang indah. Dengan
sentuhan warna yang unik.

BAB III
Warna tentang kerupaan

Warna

Warna Primer (merah, kuning, biru)
Bahasa indonesianya adalah warna pokok atau warna dasar. Artinya warna yang
menjadi fondasi dari warna lain. Sama dengan kebutuhan pokok manusia seperti makan
dan minum. Tanpa makan dan minum, maka kehidupan manusia, akan berakhir alias mati.
Nah begitu juga dengan warna primer. Tanpa adanya warna kategori ini, maka tidak akan
ada warna lain. Artinya semua warna, pada hakikatnya adalah turunan dari percampuran
ketiga warna primer ini. Karena itulah seorang pelukis, dengan menggunakan hanya 3
warna dasar merah, kuning dan biru, bisa menghasilkan ribuan bahkan tak terhingga jumlah
warna pada lukisannya. Karena warna yang begitu kaya dari setiap coretan di kanvasnya,
adalah hasil pencampuran dari ketiga warna pokok.

Secara teknis, asal usul warna primer berbeda dengan warna sekunder, tidak bisa
dibuat berdasarkan campuran warna lain. Mereka adalah warna induk. Warna yang murni
berdiri sendiri tanpa campuran warna lain.

Warna Sekunder (orange, hijau, ungu)
Warna ini disebut juga dengan istilah warna kedua, yang artinya adalah warna yang
berasal dari pencampuran 2 warna primer. Misalnya warna merah bila dicampur dengan
warna kuning akan menghasilkan warna orange. Merah dengan kuning adalah warna
primer. Sedang hijau sebagai hasilnya, disebut dengan warna sekunder. Bagan lengkapnya
bisa anda lihat pada gambar di bawah ini:

34

Lalu apakah hanya 3 warna saja yang disebut dengan warna sekunder seperti
gambar diatas? Tidak. Jumlah warna sekunder, bisa tak terhingga, tergantung berapa
takaran percampuran warna pokoknya. Jika takarannya 1 : 1, memang hasilnya hanya 1.
Misalnya anda mencampur satu gelas cat berwarna merah dengan 1 gelas cat berwarna
kuning. Maka hasilnya, tentu saja orange murni. Tapi bagaimana jika takrannya 1 : 1,5 ?
Atau 1 : 1,7 dan seterusnya? Misalnya warna merahnya 1 gelas, tapi warna kuningnya 1,5
gelas. Lalu hasilnya warna sekunder apa? Karena takaran kuningnya lebih banyak, maka
namanya disebut dengan istilah "orange kekuningan". Tapi jangan lupa, jumlah warna
orange kekuningan ini juga bisa tak terhingga, tergantung volume pertambahan yang
dilakukan setiap mencampur warna merah dengan kuning. Contoh lengkapnya bisa anda
cermati seperti gambar di bawah ini:

Warna Tersier
Warna ini disebut juga dengan istilah warna ketiga, yang artinya warna yang
terbentuk dari hasil pencampuran warna pokok dengan warna sekunder. Tapi warna yang
dicampur (sekunder dengan primer), adalah yang posisinya berhadapan dalam Lingkaran
Warna Brewster. Bukan yang bersebelahan. Misalnya warna merah dicampur dengan warna
hijau. Warna kuning dicampur dengan warna ungu. Dan warna biru dicampur dengan
warna orange. Lalu hasilnya warna apa? Karena semua unsur warna pokok sudah masuk
pada percampuran ini, maka warna yang dihasilkannya adalah warna kecoklatan. Jumlah

35

warna coklat yang dihasilkan, juga bisa tak terhingga. Tergantung berapa perbandingan
antar warna yang digunakan setiap mencampurnya. Contohnya akan terlihat seperti ini:

Warna Netral (Putih dan Hitam)
Yaitu warna yang berasal dari campuran ketiga warna pokok. Merah, Kuning dan
Biru, dicampur secara sekaligus dengan takaran perbandingan yang sama 1:1:1. Secara teori,
pencampuran ketiga warna ini akan menghasilkan warna hitam. Tapi dalam prakteknya,
sulit ditemukan. Karena syaratnya kualitas warna dan originalitasnya, harus valid. Ketiga
warna primer yang digunakan, benar-benar asli sesuai standar kualifikasi laboratorium.
Sedang faktanya, cat atau zat warna primer yang beredar, tidak murni sebagaimana
pengukuran laboraturium warna. Akibatnya, hasil pencampuran ketiga warna primer
biasanya akan menghasilkan warna kecoklatan.
Jika sumber ketiga warna primer itu dalam bentuk cahaya, maka hasil
pencampurannya secara teori akan menghasilkan warna putih. Ingat teori spektrum warna
berdasarkan cahaya. Cahaya putih, bila diuraikan melalui kaca prisma, akan menghasilkan
warna pelangi. Dan warna pelangi itu bila disatukan, akan kembali ke warna asalnya yaitu
cahaya berwarna putih. Contoh kongkritnya adalah cahaya matahari. Bila cahaya matahari
diuraikan oleh percikan air hujan, maka di kaki langit akan memantul lingkaran warna
pelangi.

36

37

Lukisan Girl With a Pearl Earring sering disebut Mona Lisanya dari Belanda. Lukisan ini dilukis pada
tahun 1665 oleh Johannes Vermeer. Lukisan ini menggambarkan seorang gadis cantik yang
mengenakan anting mutiara.

BAB Iv
Motif dan ragam hias

Ragam Hias
Ragam hias adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yang
diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Karya ini dapat berupa tenunan, tulisan
pada kain (misalnya batik), songket, ukiran, atau pahatan pada kayu/batu. Ragam hias dapat
distilisasi (stilir) sehingga bentuknya bervariasi.
1.Ragam Hias dari daerah Aceh
Aceh merupakan wilayah Indonesia yang memiliki banyak figure motif, baik itu wilayah
pegunungan dan pesisir. Motif daerah aceh merupakan representative dari hewan dan
tumbuhan. Penggunaan warna motif setiap wilayahnya juga berbeda-beda. Yang kemudian
motif tersebut juga digunakan sebagai motif pakaian khas Aceh.

Contoh motif Aceh yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas

38

2.Ragam Hias dari daerah Sumatera Utara
Ragam Hias yang terkenal dari daerah Sumatera Utara atau yang dikenal kota

Medan adalah kain tenun, kain tenun di daerah Sumatera Utara biasa dikenal dengan ‘Ulos’
Yang cara membuatnya dengan menenun seperti kain tenun biasa,kain ulos juga menjadi
lambing ikatan kasih, perlengkapan upacara adat seperti upacara adat pernikahan, upacara-
adat kematian, symbol system masyarakat batak,symbol status sosial dan lambang
solidaritas.

Adapun warna benang yang sering dipakai adalah merah, putih, dan hitam,warna
warna tersebut memiliki makna yaitu Warna merah melambangkan keberanian, warna
putih melambangkan kesucian, dan warna hitam melambangkan kekuatan.

Contoh motif Sumatera Utara yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas

3. Ragam Hias dari daerah Jambi
Berdasarkan bahan dari penggunaan bahan ragam hias didaerah jambi dibagi menjadi 5

macam,yaitu ragam hias anyaman,ukiran,tenunan,sulaman dan batik,Jika dilihat dari sisi
sungsi kegunaanya ada 3 pemaknaan yaitu religi,simbolik dan keindahan.

39

Contoh motif Jambi yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas
4. Ragam Hias dari daerah Lampung

Didaerah lampung memiliki beberapa ragam hias contohnya seperti batik lampung dan
kain tenun lampung atau yang biasa disebut ‘Kain Tapis’. Kain tapis adalah pakaian
wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan
motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam.

Contoh motif Lampung yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas

40

5.Ragam Hias dari daerah Banten
Salah satu ragam hias dari daerah banten adalah kain batik, yang menjadi ciri khas utama

batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk
bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar
berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar
kain berwarna kuning.

Contoh motif Banten yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas

6.Ragam Hias dari daerah Yogyakarta
Yogyakarta sebagai salah satu kota yang terkenal dengan warisan budaya yang kaya dan

terkenal juga dengan batiknya. Ciri khas dari batik Yogyakarta adalah dari latar atau warna
dasar kain. Warna dasar kain batik Jogja ada dua macam, yaitu warna putih dan hitam,
sedangkan warna batik bisa berwarna putih, biru tua kehitaman, dan cokelat soga.

Ragam hias batik Yogyakarta ada yang geometris seperti lereng atau garis miring lerek,
garis silang atau ceplok, kawung, anyaman, dan limaran. Ragam hias yang nongeometris
seperti semen, lung-lungan, dan boketan. Ada juga ragam hias yang bersifat simbolis
misalnya meru melambangkan gunung atau tanah (bumi), naga melambangkan air, burung
melambangkan angin atau dunia atas, dan lain-lain. Ragam motif batik Yogyakarta sangat
banyak dan semuanya sangat indah, mulai dari motif bunga, tumbuhan air, tumbuhan
menjalar, satwa, dan lain-lain.

41

Contoh motif Yogyakarta yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas
7.Ragam Hias dari daerah Bali

Ragam hias dari daerah bali meliputi beberapa macam yaitu ragam hias batik bali,ragam
hias arsitektur bali dan ragam hias ukiran bali.

Contoh motif Bali yang telah diekspresikan kedalam sebuah jendela

42

8.Ragam Hias dari daerah Kalimantan
Selama ini yang terkenal hanyalah motif batik dari pulau jawa, adalah Kalimantan juga

memiliki motif yang tak kalah menarik dank has. Bila kain batik Kalimantan selatan terkenal
dengan nama kain sasirangan,kain batik Kalimantan tengah terkenal dengan nama batik
benang bintik-nya.Motifnya pun variatif, dengan warna-warna yang memanjakan selera.
Motif yang umum adalah batang garing, (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak),
Mandau (senjata khas suku dayak), Burung Enggang/Tinggang (Elang Kalimantan), dan
Balangga.

Contoh motif Kalimantan yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas
9.Ragam Hias dari daerah Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan atau yang biasa dipanggil ‘Makassar’ memiliki salah satu suku yang
sangat terkenal dengan adat dan istiadatnya yang unik, nama suku itu adalah ‘Suku Toraja’,
salah satu kesenian suku toraja adalah ukiran, ukiran ini biasanya diukir di sebuah papan
kayu,tiang rumah adat, jendela atau pintu lumbung.

43

Contoh motif Sulawesi yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas
10.Ragam Hias dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT)

Salah satu Ragam hias yang terkenal di daerah NTT adalah kain tenun, di NTT dibagi
menjadi dua daerah penghasil tenun yaitu sumba timur dan timor tengah selatan,pada suku
sumba timur lebih banyak corak/motif makhluk hidup seperti binatang atau orang orang
banyak ditonjolkan seperti kuda, rusa, udang, naga, singa, orang orangan dan pohon
tengkorak dan lain lain,sedangkan di Timor tengah selatan banyak menonjolkan corak
motif burung, cecak, buaya dan motif kaif, tenun di nusa tenggara juga dibedakan menjadi
3 macam yaitu tenun ikat, tenun buna, tenun lotis atau yang biasa disebut sotis atau songket.

Contoh motif NTT yang telah diekspresikan kedalam sebuah kertas

44

11.Ragam Hias dari daerah Papua
Papua memiliki batik dengan motif-motifnya yang khas dan banyak diminati lokal

maupun mancanegara. Dibandingkan dengan corak batik dari daerah lainnya di Jawa, batik
Papua memiliki perbedaan corak yang cukup mencolok. Batik dari daerah ini cenderung
lebih gelap namun banyak memiliki motif yang terdiri dari gambaran patung. Batik di Papua
selama ini yang paling terkenal adalah batik motif Asmat. Warnanya lebih cokelat dengan
kolaborasi warna tanah dan terakota. Soal pemilihan motif batik Papua banyak
menggunakan simbol-simbol keramat dan ukiran khas Papua. Cecak atau buaya adalah
salah satunya, selain tentu lingkaran-lingkaran besar. Bahannya macam-macam disesuaikan
dengan permintaan pasar.

Contoh motif Papua yang telah diekspresikan kedalam pakaian batik
12.Ragam Hias dari Jepara

jepara merupakan daerah yang sangat terkenal dengan kerajinannya, hal tersebut dapat
kita lihat dimana Jepara dipenuhi dengan tempat pembuatan peralatan rumah tangga dari
lemari hingga kerangka tempat tidur. Motifnyapun terlihat lebih sulit dibandingkan dengan
motif dari daerah lain.

45

Contoh motif Jepara yang telah diekspresikan kedalam Kertas
13.Ragam Hias dari Pekalongan

Daerah Pekalongan merupakan daerah yang terkenal dengan keindahan motif batiknya,
dan digunakan sebagai model baju batik oleh kalangan elit Indonesia. Perkembangan motif
dari Pekalongan juga representative dari alam.

Contoh motif Pekalongan yang telah diekspresikan kedalam Kertas

46

13.Ragam Hias era kerajaan
Era kerajaan merupakan perjalanan panjang bagi sejarah Indonesia, mulai dari

peperanagan melawan para penjajah, penyebaran agama, dan perkembangan seni. Maka era
kerajaan mendokumentasikan kedalam motif yang digunakan sebagai gambaran kehidupan
pada saat itu.

Contoh motif Majapahit dan Mataram yang telah diekspresikan kedalam Kertas

Contoh motif Pajajaran yang telah diekspresikan kedalam Kertas

47

13.Ragam Hias dengan figurative hewan khayalan
Motif dengan latar belakang hewan khayalan merupakan representative dari cerita

daerah, hal inipun berkaitan dengan mitos seperti naga ataupun hewan-hewan gaib.
Kemudian oleh pengrajin setempat mewujudkannya kedalam motif kerajinan seperti lemari
dan kerangka tempat tidur.

Contoh motif Hewan Khayaan yang telah diekspresikan kedalam Kertas
13.Ragam Hias dengan figurative hewan dan manusia

Motif figurative manusia juga terepresentative kedalam karya seni seperti lukisan dan
bangunan seperti halnya dengan hewan dan tumbuhan.

Contoh motif hewan dan manusia yang telah diekspresikan kedalam Kertas

48

49

Pablo Picasso terkenal dengan lukisan abstraknya, makanya ia disebut pelukis kubisme. Guernica dilukisnya
pada tahun 1937 dan kini dipajang di Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía, Perancis. Lukisan tersebut
Picasso menggambarkan suatu keadaan pemboman di kota Guernica, Spanyol. Bagaimana keadaan
mencekam diabadikan Picasso dengan apik.

BAB V
KERAJINAN KERTAS

Latar Belakang

Kertas adalah sebuah istilah yang ditunjuan kepada salah satu barang hasil budidaya
manusia yang tidak di temukan di masa sebelumnya. Jadi kertas adalah barang baru ciptaan
manusia berwujud lembaran-lembaran tipis yang dapat dirobek, dilipat, digulung, direkat
dan dicoret. Kertas mempunyai sifat yang berbeda dari bahan bakunya yang mana bahan
bakunya adalah tumbuh-tumbuhan. Kertas dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
sangat beragam mulai dari keperluan komuikasi, edukasi, pemerintahan, perdagangan
sampai dengan keperluan rumah tangga. Dari kebutuhan anak-anak sampai kebutuhan
orang dewasa. Begitu juga dengan kebutuhan keahlian sampai kebutuhan hiburan. Sulit
kiranya dibanyangkan kehidupan itu sampai saat ini tanpa kertas, karena sudah termasuk
bagaian dari kehidupan kita.

Untuk pertama kalinya kertas munculdakan peradaban manusia justru tidak di
tempat-tempat pertumbuhan barat, melainkan diperadaban timur, tepatnya di Cina. Pada
tahun 105 seorang menteri pertanian raja Hoti bernama Ts’ai lun menemukan kertas
dengan cara merendam dan merebus kain-kain bekas, kain perca, jala tua, dan jerami pada
hingga berbentuk bubur kemudian dikeringkan dan dijemur diatas kain tapisan (Angrve,
1957). Seperti halnya perradapan barat, peradaban Cina pun sudah mengenal sistem tulisan.
Secara berangsur-angsur pemakaian kertas menyebar dalam kehidupan sehari-hari serta
dalam kehidupan ritual keagamaan. Contoh pemakaian kertas untuk keperluan sehari-hari
ialah bahan pembuatan lentera penerangan (Tang Lung). Contoh pemakaian kertas untuk
keperluaan keagamaan terutama dalam acra kematian. Pembuatan boneka-boneka kertas
yang diikutsertakan dalam pemakaman melambangkan pembekalan si mati dengan
sejumlah hamba sahaya ke alam kubur yang besar. Kemungkinan pada zaman prasejarah
dahulu memang dilakukan dengan pengorbanan manusia hidup. Selain pembekalan hamba
sahaya simati juga dibeali dengan harta kekayaan yang dilambangkan dengan lembaran-
lembaran kertas berlapis perak untuk selanjutnya dibakar di atas perapian khusu (Kim Lo).

50


Click to View FlipBook Version