The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Makalah perkuliahan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by HAIDAR ALIE, 2020-12-01 08:30:17

Tugas IT

Makalah perkuliahan

Keywords: Makalah

MAKALAH
ASBABUN NUZUL

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Tafsir
Dosen Pengampu : Hidayatullah, MA

Disusun oleh :
Haidar Alie

Dodik Nurul Yaman
Abdul Hakim Musyara

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN

Jl. Batan I, No. 63 Pasar Jum’at, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 12440
TAHUN 2020 M-1442 H

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil alamin Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Solawat serta salam senantiasa penulis haturkan kepada junjungan
baginda rasul Nabi Muhammad SAW. Yang telah menuntun manusia dari zaman
kebodohan menuju ke zaman yang penuh ilmu pengetahuan sekarang.

Alhamdulillah Makalah dengan judul “ASBABUN NUZUL” dapat kami
selesaikan dengan baik dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Tasfir dan
didiskusikan bersama dengan tujuan dapat berbagi manfa’at khususnya bagi
penyusun dan umumnya bagi yang lainnya.

Penulis ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Dan juga penulis minta maaf
apabila pembaca menemukan kesalahan dalam penulisan makalah ini, karena penulis
juga manusia dan masih belajar dan manusia merupakan tempat lupa dan salah.

Ma’had Institut PTIQ, 29 September 2020

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................I
DAFTAR ISI.......................................................................................................II
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................. 1

A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Rumusan masalah ................................................................................... 2
C. Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
A. Pengertian Asbabun Nuzul ..................................................................... 3
B. Redaksi Asbabun Nuzul ......................................................................... 5
C. Ragam Asbabun Nuzul ......................................................................... 9
D. Kaidah Asbabun Nuzul........................................................................... 11
E. Manfa’at mengetahui Asbabun Nuzul.................................................... 14

BAB III PENUTUP........................................................................................... 18
A. Kesimpulan............................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 19

ii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Alquran diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia kearah tujuan

yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakan asas kehidupan yang
didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalahaya. Juga memberitahukan hal
yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan
datang.

Pembahasan mengenai asbab al-nuzul ini sangat penting dalam pembahasan
ulum al-Quran, karena pembahasan ini merupakan kunci pokok dari landasan
keimanan terhadap pembuktian bahwa Alquran itu benar turunnya dari Allah swt1.

Ilmu asbabun nuzul menepati posisi vital dalam kajian ‘ulumul
Qur’an.Asumsi dasar ini didasarkan pada setidak - tidaknya dua hal.Pertama, secara
historis sebagian ayat -ayat al- Qur’an yang turun didahului oleh sebab -sebab
tertentu. Dengan kata lain bahwa sebagian ayat -ayat al-Qur’an memiliki asbabun
nuzuldan sebagian yang lain tidak.2 Asbabun nuzul merupakan sebuah ilmu yang
menunjukkan dan menyingkap hubungan dan dialektika antara teks dan realitas.
Kedua, meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zaid3 , ilmu asbabun nuzulakan
membekali pembaca materi baru yang memandang turunnya teks sebagai respon
atas realitas sekaligus menegaskan adanya hubungan dialogis antara teks dan
realitas.

Ayat-ayat yang turun yang didahului oleh asbabun nuzul , sebagian di
antaranya ada yang secara eksplisit tergambar di dalam ayat, dan sebagian lain tidak
ada dilaalah yang tegas dalam ayat yang bersangkutan. Di antara ayat Al-Qur’an
yang secara eksplisit menyatakan sebab turunnya, antara lain dapat dilihat dalam

1 Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuti, Al-ltqon fi Ulumil Qur'an (Kairo : Musthafa al-Babi al-
Halabi, 1951), hlm. 40.

2 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits, 1973),
hlm.78.

3 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al -Qur’an, Kritik Terhadap Ulumul Qur’an terjemahan oleh
Khoiron Nahdliyyin , (Yogyakarta: LKiS, 2002), hlm.115

1

ayat yang memuat kata “mereka bertanya kepadamu” atau “mereka meminta fatwa
kepadamu”.

Asbabun Nuzul sebenarnya merupakan konsep dan teori yang terkait dengan
adanya "sebab - sebab turun"-nya wahyu tertent u dari al-Qur’an kepada Nabi saw,
baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat atau satu surat. Konsep ini muncul karena
dalam sirah nabawi, seja rah al-Qur’ an maupun sejarah Islam, diketahui dengan
cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu
firman.Sedangkan ayat yang tidak memuat secara tegas sebab turunnya, dapat
ditelusuri asbabun nuzul-nya melalui hadis -hadis Nabi atau ucapan sahabat. Para
ulama tafsir sangat berhati -hati dalam menentukan asbabun nuzulsuatu ayat yang
tidak secara tegas tergambar dalam ayat bersangkutan sehingga tidaklah diterima
informasi tentang asbabun nuzul kecuali memiliki dasar periwayatan yang jelas dan
valid, baik dari nabi maupun yang berasal dari sahabat.4
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Asbabun Nuzul ?
2. Bagaimana redaksi Asbabun Nuzul ?
3. Sebutkan ragam Asbabun Nuzul ?
4. Apa kaidah Asbabun Nuzul ?
5. Apa manfa’at mengetahui Asbabun Nuzul ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Asbabun Nuzul
2. Mengetahui redaksi Asbabun Nuzul
3. Mengetahui ragam Asbabun Nuzul
4. Mengetahui Asbabun Nuzul
5. Mengetahui manfa’at mengetahui Asbabun Nuzu

4 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits, 1973),
hlm.78.

2

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Asbabun Nuzul

Ibnu Al-Manzdur dalam buku Lisanul Arab menyebut, secara etimologi kata
asbab adalah bentuk plural dari kata sabab yang berarti sesuatu yang mengakibatkan
pada suatu yang lain (cause). Atau dalam bahasa Arabnya disebut kullu syai-in
yutawasshalu bihi ila ghairihi. Sedangkan kata Nuzul berarti memempati (hulul).
Orang Arab mengistilahi seseorang yang singgah disuatu kaum dengan istilah nazil.
Selain itu, kata nuzul juga memiliki arti turun, seperti kata turun dalam kalimat
nazala min fauqi ila asfal (turun dari atas ke bawah). Sehingga menurut beliau, nuzul
atau nazala memiliki dua arti, yakni menempati dan turun.

Banyak para ulama yang memberikan definisi tentang asbab an-nuzûl. Salah
satu definisi yang cukup populer menyatakan bahwa asbab an-nuzûl adalah
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya ayat, baik sebelum atau
sesudahnya, dimana kandungan ayat tersebut berkaitan (dapat dikaitkan) dengan
peristiwa tersebut.5

Munurut Ash-shabuni, asbab an-nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang
menyebabkan turunnya satu ayat atau beberapa ayat mulai yang berhubungan
dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan
kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.

Menurut Subhi shalih: asbab an-nuzul adalah suatu yang menjadi sebab
turunnya satu atau beberapa ayat al-qur’an yang terkadang menyiratkan suatu
peristiwa, sebagai respon atasnya atau penjelas terhadap hukum-hukum ketika
peristiwa itu terjadi.

Menurut Mana’ Al-Qaththan: asbab an-nuzul adalah peristiwa-peristiwa
yang menyebabkan turunnya al-qur’an, berkenaan dengannya waktu peristiwa itu
terjadi, baik berupa kejadian atau pertanyaan yang diajukan kepada nabi”.

Menurut Al-Zarqani, asbab an- nuzûl adalah peristiwa yang menyebabkan
turunnya satu atau beberapa ayat, atau bisa pula peristiwa yang dapat dijadikan

5 Jalaluddin Al-Suyuthi. (2009). Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Kairo: Maktabah Dar Al-
Turats. hlm. 129. Lihat pula Khalid ibn Utsman Al-Sabt. (2005). Qawâ’id Al-Tafsîr: Jam’an wa
Dirâsatan. Kairo: Dar Ibn „Affan. hlm. 53.

3

sebagai petunjuk hukum berkenaan dengan turunnya suatu ayat.6 Jadi unsur-unsur

yang terpenting untuk diketahui perihal asbab an-nuzûl ialah adanya satu atau

beberapa kasus yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat, dan ayat-ayat

itu menjelaskan kasus-kasus yang dimaksud. Tapi hal ini bukan berarti manusia

harus mencari apalagi meraba- raba asbab an-nuzûl bagi setiap ayat, karena Al-
Qur‟an itu tidak selalu turun sesuai dengan kejadian dan keadaan, atau dengan
munculnya pertanyaan. Banyak ayat Al-Qur‟an yang turun secara ibtidâ’ (tanpa

adanya sebab yang menuntut turunnya sebuah ayat) dengan menerangkan mengenai
akidah, hakikat iman, pokok-pokok dasar agama Islam, dan lain sebagainya.7

Sebenarnya jika yang dimaksud dengan asbab an-nuzûl itu adalah hal- hal
yang menyebabkan turunnya sebuah ayat, maka semua ayat Al-Qur‟an memiliki

asbab an-nuzûl. Maka harus dibatasi, peristiwa mana, dan hal apakah yang layak

disebut sebagai asbab an- nuzûl dan mana yang tidak. Karena terkadang seorang

sahabat mengaitkan sebuah kisah dengan sebuah ayat namun dengan maksud
sebagai penafsiran dan bukannya sebagai asbab an-nuzûl.8

Banyak kalangan yang terlalu memperluas cakupan asbab an-nuzûl sehingga

memasukkan semua kisah yang disebutkan oleh seorang sahabat berbarengan

dengan sebuah ayat menjadi bagian dari asbab an-nuzûl. Seperti kisah burung

Abâbîl yang disangkutpautkan dengan Surat Al-Fîl. Imam Al-Suyuthi membantah

Al- Wahidi yang memasukkan kisah Abâbîl ini sebagai bagian dari asbab an-nuzûl

surat Al-Fîl. Menurut Al-Suyuthi itu hanyalah bagian dari kisah masa lampau

sebagaimana halnya kisah kaum Nuh,Ad, Tsamud, dan yang lainnya yang sudah
bisa dipastikan bukan bagian dari asbab an-nuzûl ayat.9

Jadi sungguh tepat bila Manna‟ Al- Qaththan mendifinisikan asbab an-nuzûl
dengan “kejadian atau pertanyaan yang terjadi ketika turunnya ayat dan juga
berkaitan dengan ayat tersebut”.10 Hal ini menegaskan apa yang telah diungkapkan

6 Muhammad Al-Zarqani. (1995). Manâhil Al-‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Libanon: Dar Al-
Kutub Al-Arabi. hlm. 89.

7 Khalid ibn Utsman Al-Sabt. (2005). Jilid 1. hlm. 53.
8 Badruddin Al-Zarkasyi. (2001). Al- Burhân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Beirut: Dar Al- Fikr. hlm.
56. Lihat pula Jalaluddin Al-Suyuthi. (2009). hlm. 128., Ibn Taymiyyah Al-Harrani. Majmû’ Al-
Fatâwâ, jilid 13. hlm. 339.
9 Al-Wahidi Al-Naisaburi. (1969). Asbâb Al-Nuzûl. Dar Al-Kitab Al-Jadid. hlm. 500.
Jalaluddin Al-Suyuthi. (2009). hlm. 129.
10 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits,
1973), hlm.78.

4

oleh Al-Suyuthi bahwa asbab an-nuzûl adalah peristiwa yang terjadi dalam hari-hari
turunnya sebuah ayat.

B. Redaksi Asbabun Nuzul

Al-Qur’an yang berjumlah 30 Juz, berjumlah lebih dari 6200 ayat itu telah
dibuktikan dengan fakta sejarah, bahwa turunnya ayat-ayat Al-Qur’an tersebut ada
2 (dua) macam cara, yaitu:
1. Ayat-ayat yang turun dengan didahului sebab

Dalam hal ini ayat-ayat Tasyri’iyyah (ayat-ayat hukum) merupakan ayat-ayat
pada umumnya mempunyai sebab turunnya.
Contoh ke-1 ayat yang turun karena adanya suatu peristiwa.11

‫َو ََل تَن ِك ُحوا ٱ ْل ُم ْش ِر َٰ َك ِت َحتَّ َٰى ُي ْؤ ِم َّن ۚ َو ََلَ َمةٌ ُّم ْؤ ِمنَةٌ َخ ْي ٌر ِمن ُّم ْش ِر َك ٍة َو َل ْو أَ ْع َج َب ْت ُك ْم ۗ َو ََل تُن ِك ُحوا‬
‫ٱ ْل ُم ْش ِر ِكي َن َحتَّ َٰى يُ ْؤ ِمنُوا ۚ َولَ َع ْبدٌ ُّم ْؤ ِم ٌن َخ ْي ٌر ِمن ُّم ْش ِر ٍك َولَ ْو أَ ْع َجبَكُ ْم ۗ أُو ََلٰٓئِ َك َي ْد ُعو َن إِلَى‬
‫ٱل َّنا ِر ۖ َوٱََّّللُ يَ ْدعُ َٰٓوا إِلَى ٱ ْل َج ّنَ ِة َوٱ ْل َم ْغ ِف َرةِ ِبإِ ْذنِ ِۦه ۖ َو ُي َب ِي ُن َءا َٰيَتِ ِهۦ ِللنَّا ِس َلعَ َّل ُه ْم َيتَ َذ َّك ُرو َن‬

Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi orang-orang musyrik, sebelum mereka
beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada
perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan
orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka
beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-
laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka,
sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya. (Allah)
menerangkan ayat-ayat Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.
(QS Al-Baqoroh: 221)
Contoh ke-2 turunnya ayat karena adanya suatu pertanyaan.

ۗ ‫يَ ْسـَٔ ُلونَ َك َع ِن ٱ ْل َخ ْم ِر َوٱ ْل َم ْي ِس ِر ۖ قُ ْل فِي ِه َمآ ِإ ْث ٌم َكبِي ٌر َو َم ََٰن ِف ُع ِلل َّنا ِس َو ِإ ْث ُم ُه َمآ أَ ْكبَ ُر ِمن َّن ْف ِع ِه َما‬
‫َويَ ْسـَٔ ُلونَ َك َماذَا ُين ِفقُو َن ُق ِل ٱ ْل َع ْف َو ۗ َك ََٰذ ِل َك ُيبَيِ ُن ٱََّّللُ َلكُ ُم ٱ ْل َءا َٰيَ ِت َلعَ َّلكُ ْم تَتَفَ َّك ُرو َن‬

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi.
Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa dan beberapa manfaat bagi

11 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits,
1973), hlm.131

5

manusia tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya”. Dan mereka bertanya
kepadamu tentang apa yang harus diinfakkan. Katakanlah, “Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat kepadamu agar kamu memikirkan”. (Al-Baqoroh: 219)

2. Ayat-ayat yang turun tanpa didahului sebab
Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat didalam Al-Qur’an dan jumlahnya lebih

banyak daripada ayat-ayat hukum yang mempunya asbabun nuzul.

Contoh :

‫الر ۚ تِ ْل َك َءا َٰيَ ُت ٱ ْل ِك َٰتَ ِب ٱ ْل ُم ِبي ِن‬

‫ّنَآ أَن َز ْل َٰنَهُ ُق ْر َٰ َءنًا َع َربِ ّيًا ّلَعَ َلّكُ ْم تَ ْع ِقلُو َن‬

‫نَ ْح ُن َنقُ ُّص َع َل ْي َك أَ ْح َس َن ٱ ْل َق َص ِص ِب َمآ أَ ْو َح ْينَآ إِلَ ْي َك َٰ َه َذا ٱ ْل ُق ْر َءا َن َ ِإلقرا َن َون ُكن َت ملَليه ُكن َت‬
‫م ِللمهن‬

Artinya: “Alif Lam Ra. ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar kamu

mengerti. Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik
dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum
itu termasuk orang yang tidak mengetahui”. (QS Yusuf: 1-3)

Ungkapan-ungkapan yang di gunakan oleh para sahabat untuk menunjukkan
turunnya al-qur’an tidak selamanya sama. Ungkapan-ungkapan itu secara garis besar
di kelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
1. Sarih (jelas)

Ungkapan riwayat “sarih” yang memang jelas menunjukkan asbab an-
nuzul dengan indikasi menggunakan lafadz (pendahuluan).
“sebab turun ayat ini adalah...”
“telah terjadi..... maka turunlah ayat…..”
“rasulullah saw pernah di tanya tentang ....... maka turunlah ayat…..”

Contoh lain: QS. Al-maidah/5, ayat 2 yang berbunyi:

6

Wahai orang-orang yang beriman jangan kamu melanggar syi'ar-syi'ar
kesucian allah dan jangan (melangar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qala-id, dan
jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi baitullah sedang
mereka mencari kurnia dan keridhoannya dari tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali
kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu
dari masjid al-haram, mendorongmu membuat aniaya (kepada mereka). Dan
tolong-menolonglah kamu dalam(mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya
”.(Q.S. al-Maidah : ayat 2).

Asbab an-nuzul dari ayat ini; ibnu jarir mengetengahkan sebuah hadits
dari ikrimah yang telah bercerita,” bahwa hatham bin hindun al-bakri datang
kemadinah bersrta kafilahnya yang membawa bahan makanan. Kemudian ia
menjualanya lalu ia masuk ke madinah menemui nabi saw.; setelah itu ia
membaiatnya masuk islam. Tatkala ia pamit untuk keluar pulang, nabi
memandangnya dari belakang kemudian beliau bersabda kepada orang-orang
yang ada di sekitarnya, ‘sesungguhnya ia telah menghadap kepadaku dengan
muka yang bertampang durhaka, dan ia pamit dariku dengan langkah yang
khianat. Tatkala al-bakri sampai di yamamah, ia kembali murtad dari agama
islam. Kemudian pada bulan dhulkaidah ia keluar bersama kafilahnya dengan
tujuan makkah. Tatkala para sahabat nabi saw. Mendengar beritanya, maka
segolongan sahabat nabi dari kalangan kaum muhajirin dan kaun ansar bersiap-
siap keluar madinah untuk mencegat yang berada dalam kafilahnya itu.
Kemudian Allah SWT. Menurunkan ayat yang artinya,’ hai orang-orang yang

7

beriman, janganlah kamu melanggar shiar-shiar Allah...(QS. Al-maidah/5: 2)
kemudian para sahabat mengurungkan niatnya (demi menghormati bulan haji
itu).12

Hadits serupa ini di kemukakan pula oleh asadiy.” Ibnu abu khatim
mengetengahkan dari zaid bin aslam yang mengatakan, bahwa rasulullah saw.
Bersama para sahabat tatkala berada di hudaibiah, yaitu sewaktu orang-orang
musyrik mencegah mereka untuk memasuki bait al-haram peristiwa ini sangat
berat dirasakan oleh mereka, kemudian ada orang-orang musyrik dari penduduk
sebelah timur jazirah arab untuk tujuan melakukan umroh. Para sahabat nabi saw.
Berkata, marilah kita halangi mereka sebagaimana(teman-teman mereka)
merekapun menghalangi sahabat-sahabat kita. Kemudian Allah Swt.
Menurunkan ayat yang artinya ”janganlah sekali-kali mendorongmu berbuat
aniaya kepada mereka...” (QS. Al-maidah/5 ayat : 2)
2. Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti)

Ungkapan “mutammimah”adalah ungkapan dalam riwayat yang belum
dipastikan asbab an-nuzul karena masih terdapat keraguan. Hal tersebut dapat
berupa ungkapan sebagai berikut:
..“ayat ini diturunkan berkenaan dengan ...”
“saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan ”
“saya kira ayat ini tidak diturunkan kecuali berkenaan dengan ”

Contohnya: QS. Al-baqarah/2: 223

Artinya: “istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok
tanam, mak datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja
kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik)untuk dirimu, dan
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-

12 Qamaruddin Shaleh dan. M. D. Dahlan, Dkk, Asbabun Nuzul, Cet. 10 (Bandung:
Diponegoro, 2004), hlm. 182

8

Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”(QS. Al-
baqarah/2: 223).

Asbab an-nuzul dari ayat berikut ;dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan
oleh abu daud dan hakim, dari ibnu abbas di kemukakan bahwa penghuni kampung
di sekitar yatsrib (madinah), tinggal berdampingan bersama kaum yahudi ahli kitab.
Mereka menganggap bahwa kaum yahudi terhormat dan berilmu, sehingga mereka
banyak meniru dan menganggap baik segala perbuatannya.Salah satu perbuatan
kaum yahudi yang di anggap baik oleh mereka ialah tidak menggauli istrinya dari
belakang.

Adapun penduduk kamping sekitar quraish (makkah) menggauli istrinya
dengan segala keleluasannya. Ketika kaum muhajirin (orang makkah) tiba di
madinah salah seorang dari mereka kawin dengan seorang wanita ansar (orang
madinah).Ia berbuat seperti kebiasaannya tetapi di tolak oleh istrinya dengan
berkata: “kebiasaan orang sini, hanya menggauli istrinya dari muka.” Kejadian ini
akhirnya sampai pada nabi saw, sehingga turunlah ayat tersebut di atas yang
membolehkan menggauli istrinya dari depan, balakang, atau terlentang, asal tetap di
tempat yang lazim.13
C. Ragam Asbabun Nuzul
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbab an-nuzul dapat dibagi kepada;
1. Ta’addud Al-Asbab Wa Al-Nazil Wahid

Beberapa sebab yang hanya melatarbelakangi turunnya satu ayat/ wahyu.
Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab,14
misalnya turunnya Q.S. Al-Ikhlas: 1-4, yang berbunyi:

Artinya: “Katakanlah:”Dia-lah Allah, yang maha Esa. Allah adalah tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tiada berada beranak dan tiada
pula di peranakkan. Dan tiada seoarangpun yang setara dengan dengan dia.

13 Jalaluddin as-Suyuthi. Asbabun Nuzul. Alih Bahasa oleh Tim Abdul Hayyie, Sebab- sebab
Turunnya al-Qur’an. (Jakarta: Gema insani, 2008), hlm. 95.

14 Muhammad Ali Ash-shaabuuniy, At-Tibyaan Fii Uluumil Qur’an, Alih Bahasa oleh. Aminuddin,
Studi Ilmu al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 52.

Ayat-ayat yang terdapat pada surat di atas turun sebagai tanggapan terhadap
orang-orang musyrik makkah sebelum nabi hijrah, dan terhadap kaum ahli kitab
yang ditemui di madinah setelah hijrah.

Contoh yang lain: “peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharah) shalat
wustha. Berdirilah untuk Allah(dalam shalatmu) dengan khusyu’.

Ayat di atas menurut riwayat diturunkan berkaitan dengan beberapa sebab
berikut;

1. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa nabi saw. Shalat dzuhur di waktu
hari yang sangat panas. Shalat seperti ini sangat berat dirasakan oleh para
sahabat. Maka turun lah ayat tersebut di atas. (HR. Ahmad, bukhari, abu daud).

2. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa nabi saw. Shalat dzuhur di waktu yang
sangat panas. Di belakang rasulullah tidak lebih dari satu atau dua saf saja yang
mengikutinya. Kebanyakan diantara mereka sedang tidur siang, adapula yang
sedang sibuk berdagang. Maka turunlah ayat tersebut diatas (HR.ahmad, an-
nasa’i, ibnu jarir).

3. Dalam riwayat lain dikemukakan pada zaman rasulullah SAW. Ada orang-
orang yang suka bercakap-cakap dengan kawan yang ada di sampingnya saat
meraka shalat. Maka turunlah ayat tersebut yang memerintahkan supaya diam
pada waktu sedang shalat (HR. Bukhari muslim, tirmidhi, abu daud, nasa’i dan
ibnu majah).

4. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ada orang-orang yang bercakap-
cakap di waktu shalat, dan ada pula yang menyuruh temannya menyelesaikan
dulu keperluannya(di waktu sedang shalat). Maka turunlah ayat ini yang
sedang memerintahkan supaya khusyuk ketika shalat.

2. Ta’adud an-nazil wa al-asbab wahid
Satu sebab yang mekatar belakangi turunnya beberapa ayat. Contoh: Q.S.

Ad-dukhan/44: 10,15 dan16, yang berbunyi:

10

Artinya: maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.

Artinya: “sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak
sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)”.

Artinya:“(ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan
hantaman yang keras. Sesungguhnya kami memberi balasan”.

Asbab an-nuzul dari ayat-ayat tersebut adalah; dalam suatu riwayat
dikemukakan, ketika kaum Quraisy durhaka kepada nabi saw.. Beliau berdo’a
supaya mereka mendapatkan kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah
terjadi pada zaman nabi yusuf. Alhasil mereka menderita kekurangan, sampai-
sampai merekapun makan tulang, sehingga turunlah (QS. Ad-dukhan/44: 10).
Kemudian mereka menghadap nabi saw untuk meminta bantuan. Maka rasulullah
saw berdo’a agar di turunkan hujan. Akhirnya hujanpun turun, maka turunnlah ayat
selanjutnya (QS. Ad-dukhan/44: 15), namun setelah mereka memperoleh
kemewahan merekapun kembali kepada keadaan semula (sesat dan durhaka) maka
turunlah ayat ini (QS. Ad-dukhan/44: 16) dalam riwayat tersebut dikemukakan
bahwa siksaan itu akan turun di waktu perang badar.
D. Kaidah Asbabun Nuzul
1. Shighat Asbab An-Nuzûl

Shighah (bentuk redaksi) dalam menjelaskan asbab an-nuzûl itu ada yang
sharîh (jelas) dan ada pula yang muhtamalah (tidak jelas).

Seorang rawi dianggap menggunakan shighah sharîh bila menyatakan secara
tegas bahwa “asbab an-nuzûl ayat ini adalah....”, atau seseorang menyatakan
peristiwa yang menyebabkan turunnya sebuah ayat seperti “Rasulullah pernah
ditanya tentang sesuatu maka turunlah ayat. ”,

11

maka bila ada riwayat dengan menggunakan kedua redaksi ini, maka
disepakati oleh ulama sebagai riwayat yang sharîh dalam asbab an-nuzûl.15 Seperti
riwayat dari Jabir yang menyatakan bahwa Q.S. Al-Baqarah Ayat 223 turun
dikarenakan orang- orang mencampuri istri mereka lewat belakang. Hal ini
sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan lainnya.

Adapun yang dimaksud dengan shighah muhtamalah adalah apabila
seorang rawi mengatakan “ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa...”, atau “saya
memiliki pandangan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa...”, maka
kedua redaksi ini bisa jadi bermaksud menjelaskan asbab an-nuzûl bisa pula
bermaksud sebagai penafsiran. Seperti pernyataan Abdullah ibn Zubair yang
memiliki pandangan bahwa Q.S. An-Nisâ‟ Ayat 65 sebagai ayat yang turun
berkenaan dengan kejadian yang dialami oleh ayahnya. Hal inipun terdapat dalam
hadits riwayat Al-Bukhari dan yang lainnya. Imam Al-Zarkasyi menyatakan: “sudah
menjadi kebiasaan sahabat dan tabi‟in apabila salah seorang di antara mereka
mengatakan „ayat ini turun berkenaan dengan..‟, maka maksudnya adalah
mengungkap kandungan hukum sebuah ayat dan bukan menjelaskan sebab turunnya
ayat, dan hal ini termasuk ber-istidlal menggunakan sebuah ayat dan bukan
meriwayatkan kejadian turunnya ayat.16

Ibn Taymiyyah menyatakan “Perkataan mereka (sahabat dan tabi‟in) ayat ini
turun berkenaan dengan...‟, bisa jadi yang dimaksudkan adalah asbab an-nuzûl bisa
jadi pula yang dimaksud adalah kandungan ayat dan bukan sebab turunnya ayat,
sebagaimana perkataan “yang dimaksud dengan ayat ini adalah begini..”. Para ulama
berbeda pendapat mengenai ungkapan di atas, apakah termasuk riwayat yang
musnad’ yang menjelaskan asbab an-nuzûl atau hanya sekedar penafsiran dan tidak
dianggap sebagai riwayat yang musnad. Al- Bukhari memasukkannya dalam
rentetan hadits marfû’ sedangkan yang lainnya tidak. Dan mayoritas musnad adalah
berdasarkan istilah ini, seperti Musnad Ahmad dan yang lainnya. Adapun mengenai
riwayat yang tegas menjelaskan asbab an-nuzûl maka semua ulama sepakat
memasukkannya ke dalam riwayat musnad.17

15 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits, 1990),
hlm.85.

16 Badruddin Al-Zarkasyi. Al- Burhân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân (2001). hlm. 56.
17 Ibn Taymiyyah Al-Harrani. Asbabun Nuzul. Jilid. 13. hlm. 340.

12

2. Kedudukan Riwayat Mengenai Asbab An-Nuzûl
Dari pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa asbab an-nuzûl hanya

bisa ditentukan berdasar riwayat yang shahîh dari Rasulullah S.A.W. atau dari sahabat,
karena riwayat dari sahabat dalam permasalahan ini adalah berkedudukan marfu‟.
Sebagian ulamapun ada yang memasukkan riwayat dari tabi‟in sebagai bagian dari
sumber rujukan asbab an-nuzûl yang bisa dipegang.

Al-Suyuthi menyatakan, “Apa yang kami jelaskan dari segi sanadnya
bersumber dari seorang sahabat maka riwayat tersebut musnad, dan apabila dari
tabi‟in maka dihukumi juga dengan hukum marfû’ dan diterima periwayatannya
meskipun dalam keadaan mursal dengan syarat shahîh sanadnya. Hal ini merupakan
kesepakatan ulama, karena banyak tabi‟in seperti Mujahid, „Ikrimah, dan Sa‟id ibn
Jubair yang menerima langsung beritanya dari para sahabat. Bahkan ada pula yang
diperkuat dengan adanya jalur lain yang semisal”.18

Al-Hakim dalam Ma’rifah ‘Ulûm Al-Hadits mengatakan, “Apabila seorang
sahabat yang menyaksikan turunnya wahyu dan turunnya sebuah ayat Al-Qur‟an
memberitahukan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan ini‟, maka beritanya
merupakan hadits marfû‟.19
3. Mendudukkan Riwayat yang Bertentangan Mengenai Asbab An-Nuzûl

Meskipun asbab an-nuzûl sedemikian pentingnya dalam menyingkapkan
makna sebuah ayat, namun mengetahui sebab-sebab turunnya sebuah ayat bukanlah
perkara yang mudah. Sebab ketika riwayat menjadi satu-satunya sumber yang bisa
dipegang dalam masalah asbab an-nuzûl, maka muncul sebuah permasalahan bilamana
ditemukan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam menjelaskan asbab an-nuzûl
sebuah ayat. Para ulama memberikan solusi bahwa apabila terdapat pertentangan
dalam beberapa riwayat maka peganglah riwayat yang bersumber dari orang yang
mengalami kejadian itu (hâdhir al-qishshah) atau dari para sahabat yang terkenal
sebagai ulama tafsir seperti Ibn Abbas dan Ibn Mas‟ud. Karena banyak pula rawi yang
keliru dalam menuturkan riwayat yang asalnya fatalâ 20menjadi nazalat.21

18 Jalaluddin Al-Suyuthi. Asbabun Nuzul (1990). hlm.15.
19 Al-Hakim Al-Naisaburi. (2003). Ma’rifah ‘Ulûm Al-Hadîts. Beirut: Dar Ibn Hazm. hlm. 149.
20 Lafazh ini menggambarkan mengenai penafsiran ayat, sedangkan nazalat menggambarkan
mengenai sebab turunnya ayat.
21 Jalaluddin Al-Suyuthi. Asbabun Nuzul. (2009). hlm. 127

13

E. Manfaat Mengetahui Asbabun Nuzul
Persoalan asbabun nuzul baru menjadi wacana hangat pada era tabi’in karena

adanya kesulitan dalam memahami makna suatu teks sehingga diperlukan pemahaman
sebab -sebab turunnya ayat. Pengetahuan tentang asbabun nuzul merupakan ilmu alat
yang sangat penting dalam menetapkan takwil yang lebih tepat dan tafsir yang lebih
benar mengenai ayat -ayat yang bersangkutan. Akan tetapi tidak semua ulama tafsir
membenarkan statemen yang demikian.Sebagian ulama tafsir menganggap bahwa
pengetahuan asbabun nuzul tidak begitu penting karena hal yang demikian hanya
merupakan pengetahuan sejarah. Selain itu, selain jauh manusia dari zaman turunnya Al
- Qur’an maka akan semakin sulit dalam mengetahui asbabun nuzul suatu ayat yang
disebabkan semakin jauh dari sumber informasi yang valid.

Ulama tafsir yang berpandangan demikian melihat bahwa
“al -‘ibrah bi ‘umumi lafzila bi khusus al-sabab” ('ibrah dengan ke-umum-an

lafadz dan bukan ke-khushus-an sebab).22 Pandangan yang seperti ini memuat pengertian
bahwa yang menjadi tolok ukur adalah keumuman hukum syari’ah. Sedangkan sebagian
ulama tafsir yang lain menganggap pentingnya mengetahui asbabun nuzul.Asbabun
nuzul adalah merupakan kondisi sosio-kultural yang dihadapi oleh nabi, baik berupa
pertanyaan maupun peristiwa kejadian yang melatar belakangi turun nya ayat. Tidak
semua pertanyaan dan problematika yang dihadapi nabi itu mudah untuk dijawab.bahkan
sebagian pertanyaan yang ditujukan kepada nabi merupakan pertanyaan rumit dan pelik
sehingga diperlukan campur tangan Tuhan berupa penurunan suatu atau beberapa ayat.23
Hal yang demikianlah yang menyebabkan kenapa harus ada asbabun nuzul, disamping
masih ada sebab-sebab lain dan juga urgensinya untuk diketahui sebagai ilmu alat dalam
memahami ayat.

Bagi ulama yang menganggap bahwa pengetahuan tentang asbabun nuzul
menduduki posisi fundamental dalam memahami kandungan ayat suci Al-Qur’an memiliki
beberapa alasan sebagai berikut :

Pertama, menurut al-Suyuti mengetahui asbabun nuzul memperjelas pemahaman
tentang proses penetapan hukum (pentasyri'an).24 Maksudnya adalah bahwa kandungan
hukum yang ditunjuk oleh suatu ayat akan lebih mudah dipahami jika diawali dengan

22 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits, 1973), hln.82
23 Muhammadbin Shalih al -Utsaimin, Dasar-dasar Penafsiran Al - Qur’an, terjemah Said Agiel
Munawwar , (Semarang: Dunia Utama, 1992), hlm. 14
24Jalaluddin Al-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al -Qur’an, hlm. 87

14

pemahaman tentang asbabun nuzul ayat bersangkutan. Ahmad Von Denffer 25
menjelaskan bahwa pengetahuan tentang asbabun nuzul akan membantu seseorang
memahami konteks diturunkannya sebuah ayat serta memberi penjelasan tentang
implikasi sebuah firman. Hal ini berarti bahwa dengan memahami asbabun nuzul maka
akan menjadi alat dalam melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana
mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda.

Kedua, sangat berguna dalam melihat pengkhususan hukum.Hal ini disebabkan
karena sebagian ayat hukum memiliki sebab-sebab khusus tertentu yang melatar
belakanginya.26 Hal yang demikian menjadikan asbabun nuzul mutlak diperlukan dalam
memahami maksud hukum dari suatu ayat, terlebih -lebih bagi kalangan ulama tafsir
yang berpegang pada kaidah (yang menjadi 'ibrah itu adalah kekhususan sebab dan bukan
keumum- an lafaz)27 dengan demikian maka jelas bahwa pengetahuan asbabun nuzul
berfungsi sebagai petunjuk dalam memahami maksud hukum yang terkandung dalam
suatu ayat.

Ketiga , dapat dijadikan pegangan dalam menolak adanya hasyr (pembatasan) di
dalam ayat yang secara lahiriyah seolah - olah terdapat muatan hasyr sebagaimana
terdapat dalam surat al An'am ayat 145,28 yang artinya:

"Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang
diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali kalau makanan itu bangkai,
atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau
binatang yang disembelih bukan karena Allah (QS.6 : 145).

Pembatasan yang nampak dalam zahir ayat ini sesungguhnya tidak masuk dalam
ayat bersangkutan . Jadi ayat tersebut tidak bermaksud menjelaskan bahwa yang
diharamkan bagi umat hanyalah bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan binatang
yang disembelih bukan dengan nama Allah. Masih banyak makanan dan minuman yang
diharamkan oleh Allah yang tidak disebut dalam ayat tersebut. Untuk menolak adanya
hsyr maka diperlukan pengetahuan tentang asbabun nuzul-nya, yaitu sikap orang-orang
kafir yang tidak mengharamkan kecuali apa-apa yang diharamkan Allah. Tanpa
mengetahui asbabun nuzul ayat ini maka pemahaman hukumnya akan sulit diketahui.

25Ahmad Von Denffer, Ulum al-Quran, an Introduction to the Sciences of the Quran (London: The Islamic
Foundation,1985), hlm.92

26 Al-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al -Qur’an, hlm. 87-88
27 Manna Al -Qattan, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an (Beirut: Mansyurat al 'Ashr al hadits, 1973), hlm.82
28 Lihat Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an (Jakarta: Rajawali Press, 1993), hlm. 67.

15

Keempat , bahwa ayat al-Qur’an turun secara berangsur- angsur yang sebagian di
antaranya merupakan jawaban atas pertanyaan sahabat atau hinaan kaum kafir atau

permasalahan sosial masyarakat yang berkembang sehingga dalam memahami ayat
bersangkutan harus dengan melihat asbabun nuzul ayat yang bersangkutan.29 Model

penurunan secara bertahap ini sekaligus menunjukkan pemahaman bahwa penerima

wahyu dan masyarakat yang menjadi sasaran teks serta kondisi umum saat ayat turun
menjadi perimbangan utama. Apalagi oral culture yang menjadi tradisi mainstream

masyarakat Arab waktu itu menjadikan penurunan ayat secara sekaligus menjadi sebuah

kemustahilan.

Kelima, menurut al-Wahidi sebagaimana dikutip al - Suyuti bahwa tidaklah

mungkin dapat menafsirkan suatu ayat yang memiliki asbabun nuzul tanpa dibarengi
pengetahuan asbabun nuzulayat yang bersangkutan. Dengan demikian, dalam pemikiran
al -Wahidi ilmu asbabun nuzul adalah mutlak diperlukan dalam menafsirkan ayat.30 Hal
yang sama juga diungkapkan oleh Ibn Daqi al-‘Id bahwa mengetahi asbabun nuzul
merupakan jalan yang tepat untuk dapat memahami makna-makna ayat Al-Qur’an
khususnya yang turun dengan didahului asbabun nuzul .31 Sedangkan Ibn Taimiyah

mengatakan bahwa pengetahuan asbabun nuzul akan membantu memahami substansi

dan maksud suatu ayat . Kondisi turunnya ayat (asbabun nuzul) merupakan pertimbangan
penting dalam studi Al-Qur’an sehingga 32akan lebih mudah memahami maksud ayat

suci. Tanpa asbabun nuzul maka pemahaman atas ayat rawan terjebak dalam pemahaman
yang ahistoris.Hal ini sekaligus mengasumsikan adanya keharusan memahami realitas -

realitas historis yang memproduksi teks-teks tersebut.Hal ini sekaligus dapat

dikembangkan dalam memahami ayat -ayat lain melalui pengembangan makna qiyas.
Pengetahuan asbabun nuzul, sebagimana diungkapkan Manna‘ Qat tan, akan

sangat berguna dalam memahami makna- makna lafaz dalam suatu ayat yang sifatnya
umum.33 Dengan mengetahui asbabun nuzul maka, sebagimana dijelaskan Nasr Hamid

Abu Zaid, seorang mufassir akan dapat memberikan orientasi yang tepat terhadap makna
dari kata dan ungkapan.34

29 A. Syadali dan A. Rafii, Ulumul Qur’an (Bandung: Setia Budi, 1997)
30 Al-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum al -Qur’an, h. 32. lihat juga Manna‘ al -Qattan, Mabahis fi 'Ulum al Qur'a
, hlm. 80
31 Hasbi ash-Shiddiqy, Ilmu-Ilmu Al -Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 14
32 Ibn Taymiyah, Muqaddimah fi Usul al -Tafsir, (Beirut: Dar Al -Qur’an al-Karim, 1971), hlm. 47
33 Ibn Taymiyah, Muqaddimah fiUs{ul al -Tafsir, (Beirut: Dar Al -Qur’an al-Karim, 1971), hlm. 95-96
34 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al -Qur’an, hlm. 130

16

Apa yang diungkapkan Manna‘ al-Qattan tersebut mengandung pengertian bahwa
pemahaman atas latar belakang historis turunnya suatu ayat akan sangat membantu dalam
memahami mufradat yang ada pada suatu ayat karena terkadang mufradat itu tidak
menunjuk kepada makna entitas yang jelas, selain itu juga bahwa mufradat terkadang
dengan lafaz (redaksi kata) yang umum. Hal yang demikian tidak bisa hanya dianalisa
secara linguistik an sich tetapi harus dibarengi dengan pemahaman asbabun nuzul ayat.
Dengan demikian maka akan dapat menghindarkan diri dari pemaknaan ayat yang liberal
yang hanya mendasarkan diri pada faktor bahasa. Berbeda dengan Manna‘ Qattan, Nasr
Abu Zaid menawarkan metodologi pemahaman dua arah, yaitu memahami teks dari
konteks eksternal (asbabun nuzul), dan memahami konteks (asbabun nuzul) dari analisa
teks ( internal). 35

Keenam, dari sudut pendekatan historis, kajian asbabun nuzul juga menjadi pintu
pembuka dalam mendapatkan pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang masyarakat
dan kebudayaan di Arabpra-Islam dan semasa Nabi Muhammad aktif berdakwah hingga
meninggalnya. Pada konteks ini asbabun nuzul menjadi bagian dalam sirah nabawi yah.
Pemahaman asbabun nuzul akan membantu dalam melakukan kajian dan rekonstruksi
sejarah.

Dalam kaitan dengan sejarah , asbabun nuzul sendiri bagian tidak terpisahkan dari
sejarah nabi. Asbabun nuzul pada konteks tertentu komunitas muslim.36 Dengan
mengkombinasikan asbabun nuzul sebagai sebuah fakta sejarah dengan berita-berita
yang termuat dalam al-Qur’an maka akan mempermudah memahami makna suatu ayat.
Muhammad A. Khalafullah.37

35 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al -Qur’an, hlm. 134
36 Ahmad Von Denffer, Ulum al-Quran, an Introduction to the Sciences of the Quran, hlm.92
37 Muhammad A. Khalafullah, Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah, Terjemahan Oleh Zuhairi Misrawi dan
Anis M , (Jakarta:Paramadina, 2002), hlm. 325

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagian besar Alquran pada mulanya diturunkan untuk tujuan-tujuan yang
bersifat umum sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan
di dunia ini. Namun, kehiupan para sahabat bersama Rasulullah SAW telah
menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka
peristiwa khususyang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi
mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah SAW untuk
Asbab an-nuzul merupakan bahan sejarah yang dapat di pakai untuk
memberikan keterangan terhadap turunnya ayat Alquran dan memberinya konteks
dalam memahami perintah-perintahnya. Sudah tentu bahan-bahan ini hanya melingkupi
peristiwa pada masa Alquran masih turun (ashr at-tanzil). Dari segi jumlah sebab dan
ayat yang turun, asbab an-nuzul dapat kita bagi kepada; Ta’addud Al-Asbab Wa Al-
Nazil Wahid danTa’adud an-nazil wa al-asbab wahid.Ungkapan-ungkapan atau redaksi
yang di gunakan oleh para sahabat untuk menunjukkan turunnya al-qur’an tidak
selamanya sama. Redaksi itu secara garis besar dikelompokkan dalam dua kategori yaitu
Sarih (jelas) dan Muhtamilah (masih kemungkinan atau belum pasti).Asbab an-nuzul
mempunyai arti penting dalan menafsirkan al-qur’an. Seseorang tidak akan mencapai
pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbab an-nuzul suatu ayat.
Pemahaman asbab an- nuzul akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya
ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang
berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat
asbab an-nuzul.
Fungsi asbabun nuzul begitu besar dalam memahami makna yang terkandung
dalam suatu ayat karena asbabun nuzul merupakan bentuk adanya dialog antara teks
(ayat) dengan relaitas kesejarahan. Realitas kesejarahan inilah yang kemudian
memproduksi makna, disamping menjadi sumber pengetahuan sejarah tentang
masyarakat dan budaya Arab pada masa nabi dan sebelumnya sehingga asbabun nuzul
menjadi bagian penting dalam ilmu sejarah.

18

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman as-Suyuti Jalaluddin, Al-ltqon fi Ulumil Qur'an,1951 Kairo : Musthafa
al-Babi al-Halabi

Al -Qattan Manna, Mabahits fi 'Ulum al Qur'an,1973 Beirut: Mansyurat al 'Ashr al
hadits

Abu Zaid Nasr Hamid, Tekstualitas Al -Qur’an, Kritik Terhadap Ulumul Qur’an
terjemahan oleh Khoiron Nahdliyyin , (Yogyakarta: LKiS, 2002)

Jalaluddin Al-Suyuthi. (2009). Al-Itqân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Kairo: Maktabah Dar Al-
Turats. Lihat pula Khalid ibn Utsman Al-Sabt. (2005). Qawâ’id Al-Tafsîr: Jam’an
wa Dirâsatan. Kairo: Dar Ibn „Affan.

Al-Zarqani Muhammad. (1995). Manâhil Al-‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Libanon: Dar Al-
Kutub Al-Arabi.

ibn Utsman Al-Sabt Khalid. (2005). Jilid 1
Badruddin Al-Zarkasyi Badruddin. (2001). Al- Burhân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân. Beirut: Dar

Al- Fikr. hlm. 56. Lihat pula Jalaluddin Al-Suyuthi. (2009).
Al-Harrani Ibn Taymiyyah. Majmû’ Al-Fatâwâ, jilid 13
Al-Naisaburi Al-Wahidi. (1969). Asbâb Al-Nuzûl. Dar Al-Kitab Al-Jadid. Jalaluddin Al-

Suyuthi. (2009).
Shaleh Qamaruddin dan. M. D. Dahlan, Dkk, Asbabun Nuzul, Cet. 10 (Bandung:

Diponegoro, 2004),
as-Suyuthi Jalaluddin. Asbabun Nuzul. Alih Bahasa oleh Tim Abdul Hayyie, Sebab- sebab

Turunnya al-Qur’an. (Jakarta: Gema insani, 2008),
Ali Ash-shaabuuniy Muhammad, At-Tibyaan Fii Uluumil Qur’an, Alih Bahasa oleh.

Aminuddin, Studi Ilmu al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 1998)
Al-Naisaburi Al-Hakim. (2003). Ma’rifah ‘Ulûm Al-Hadîts. Beirut: Dar Ibn Hazm. hlm.

149.
Muhammad bin Shalih al -Utsaimin, Dasar-dasar Penafsiran Al - Qur’an, terjemah Said

Munawwar Agiel, (Semarang: Dunia Utama, 1992)
Denffer Ahmad Von, Ulum al-Quran, an Introduction to the Sciences of the Quran

(London: The Islamic Foundation,1985)
Abdul Wahid Ramli, Ulumul Qur’an (Jakarta: Rajawali Press, 1993)
A. Syadali dan A. Rafii, Ulumul Qur’an (Bandung: Setia Budi, 1997)

19

ash-Shiddiqy Hasbi, Ilmu-Ilmu Al -Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)
Taymiyah Ibn, Muqaddimah fiUs{ul al -Tafsir, (Beirut: Dar Al -Qur’an al-Karim, 1971)
Hamid Nasr Abu Zaid, Tekstualitas Al -Qur’an,
A. Khalafullah Muhammad, Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah, Terjemahan Oleh Zuhairi

Misrawi dan Anis M , (Jakarta:Paramadina, 2002),

20


Click to View FlipBook Version