dengan nama-nama selain nama Allah Swt. Larangan tersebut berdasarkan hadits riwayat
Umar ib Khaththab ra.:
) َمن َحل َف ِب َغ ْير الل َف َقد َك َف َر او َا ْش َر َك (رواه الترمذى: ِا َن َر ُسو َل الل صلى الل عليه وسلم قال
Artinya : “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka berarti dia telah
kafir atau musyrik”. (H.R. Tirmidzi)
Kebolehan bersumpah dengan muqsam bihi terdiri dari makhluk hanya berlaku bagi
Allah Swt., tidak bagi manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan imam al-Suyuthi bahwa
qasam Allah dengan makhluknya memiliki tujuan pendidikan (pembelajaran yang bisa
diambil hikmahnya). Di antaranya, Allah Swt. ingin menunjukkan bahwa makhluk yang
dijadikan muqsam bihi memiliki nilai kemanfaatan yang sangat tinggi bagi kehidupan
manusia. Seperti bersumpah dengan waktu (masa) dalam QS. Al-Ashri [103]: 1;
ِإ َّن ا ْ ِل ْن َسا َن َل ِفي ُخ ْس ٍر. َوا ْل َع ْص ِر
Artinya: “Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”
2. Unsur-unsur dalam Qasam
a. Shighat Qasam () ِ َصي ََغةَال ََق َسَم
Shighat qasam pada dasarnya menggunakan kata kerja (fi’il) َأ ْق َسم – ُي ْق ِسمatau
َح َل َف – َي ْح ِل ُفyang dimuta’addi (diikuti) dengan “ba” ()ب, seperti terdapat dalam QS.
al-Nisa [4]: 62; ...ُث َّم َجا ُءو َك َي ْح ِل ُفو َن ِباَ َّّلِل
Imam al-Suyuthi (w. 911 H) menjelaskan bahwa shighat (bentuk) qasam atau
sumpah sering dipergunakan dalam percakapan dengan maksud untuk menguatkan
tentang kebenaran suatu berita. Praktek penggunaan qasam kadang kala dilakukan
dengan cara menghilangkan kata kerja qasam ()محذوف, sehingga bentuk kalimat
qbearsbaumnydiic“uل ِلkاu ِبpُمkسaِ nُأ ْقd”ejinkgaandirbina’gksaasjam. eMnajakdai bentuk dasar qasam yang pada mulanya
بالل.
Terkait dengan huruf ba’, kaidah lain mengatakan bahwa jika muqsim bihi yang
digunakan dalam qasam berupa isim dlahir (kata benda) maka huruf ba’ diganti dengan
wau qasam, seperti yang tedapat dalam QS. al-Lail [92]: 1;
ILMU TAFSIR – KELAS XII 87