Imam Al-Gazali
juga qadim. Kami telah menyanggah teori ini dan telah kami
tunjukkan bahwa akal membenarkan asumsi tiga bagian yaitu:
• Ketika Allah ada dan alam tidak ada.
• Ketika alam tercipta-pertama-tama-sesuai dengan
tatanan yang kita saksikan kini, kemudian mempunyai
tatanan baru yang dijanjikan akan ada di Surga dan
Neraka.
• Ketika segala sesuatu menjadi tiada, dan Allah sendiri
yang tetap ada. Asumsi ini sangat mungkin, meskipun
agama mengindikasikan bahwa pahala dan siksa di
Surga dan Neraka tidak memiliki batas akhir.
Masalah ini, bagaimana pun ia diputar-putar, tetap
kembali pada dasar yang berupa dua persoalan: (a) asal mula alam
(hudus al-alam) dan kemungkinan emanasi hal yang temporal
(hadis) dari yang Qadim; dan (b) keadaan keluar dari kebiasaan-
kebiasaan, baik melalui penciptaan akibat-akibat yang tanpa
sebab-sebab, atau melalui originasi (ihdas) sebab-sebab berdasar
pola yang tidak biasanya. Kami telah membicarakan kedua
masalah ini seluruhnya.Wa Allah a’lam. Allah Mahatahu.
Jika seseorang berkata:
Kini Anda telah menganalisis teori-teori para ilsuf. Apakah
Anda lalu mengkairkan para ilsuf dan menyimpulkan bahwa
orang yang memercayai teori-teori itu akan dianggap sebagai
orang kair dan wajib dibunuh?
369
pustaka-indo.blogspot.com
Kerancuan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah)
Kami akan menjawab:
• Mengkairkan para ilsuf adalah sikap yang harus saya
ambil, menyangkut tiga persoalan yaitu:
• Masalah eternitas (qidam) alam, di mana mereka
mengatakan bahwa semua substansi (jawhar) adalah
kekal.
• Pernyataan mereka bahwa pengetahuan Allah tidak
meliputi individualia-individualia (juziyyat) yang
berawal temporal.
• Pengingkaran mereka akan kebangkitan kembali
tubuh dan pengumpulannya.
Ketiga teori ini sama sekali bertentangan dengan Islam.
Orang yang memercayainya berarti berkeyakinan bahwa para
nabi-semoga rahmat dan salawat Allah senantiasa tercurahkan
kepada mereka semuaberbohong dan ajaran-ajaran mereka
merupakan suatu kemunaikan yang dirancang untuk menarik
massa. Dan ini merupakan kekufuran eksplisit (sarih) yang
tidak diyakini oleh satu pun dari aliran-aliran pemikiran umat
Muslimin.
Tentang masalah lainnya, seperti sikap mereka terhadap
sifatsifat Tuhan, dan pendapat yang mereka yakini mengenai
tawhid dan sebagainya, maka mazhab para ilsuf dekat dengan
mazhab Muktazilah. Kemudian teori para ilsuf tentang
keniscayaan mutual (talazum) dari sebab-sebab alami adalah
pendapat yang dinyatakan oleh Muktazilah secara tegas dalam
370
pustaka-indo.blogspot.com
Imam Al-Gazali
ajaran mereka tentang tawalud (konsekuensikonsekuensi yang
niscaya). Demikian pula semua yang telah kami kutip tentang
pendapat-pendapat para ilsuf, di samping ketiga masalah tersebut
di atas.
Maka orang yang mengkairkan ahli-ahli bid’ah dari
umat Muslim, akan mengkairkan para ilsuf pula dengan sebab
tiga hal tersebut. Dan orang yang ragu-ragu untuk melakukan
(pengkairan) terhadap para ahli bid’ah, juga akan ragu-ragu pula
untuk melakukan (pengkalran) terhadap para ilsuf.
Dalam hal ini, kami tidak bermaksud menegaskan apakah
para ahli bidah dari umat Muslim masih Muslim, ataukah
tidak. Kami pun tidak bermaksud menyelidiki bagian mana
dari (pendapat-pendapat) para ahli bid’ah yang benar atau yang
salah. Sebab hal itu akan membawa kita jauh keluar dari tujuan
buku ini. Dan Allah Swt. adalah pemberi tawiq untuk mencapai
kebenaran.
371
pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com