Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara
Edisi Tahun 2015
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia
Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110
Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188
“AKUNTABILITAS”
Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan
Golongan III
TIM PENGARAH SUBSTANSI:
1. Prof. Dr. Agus Dwiyanto
2. Ir. Sarwono Kusumaatmaja
3. Prof. Dr. JB Kristiadi
4. Prof. Dr. Sofyan Effendi
5. Dr. Muhammad Idris, M.Si
TIM PENULIS MODUL:
1. Dr. Bevaola Kusumasari, M.Si
2. Septiana Dwiputrianti, SE, M.Com (Hons), Ph.D
3. Enda Layuk Allo, Ph.D
Reka Cetak : Rudy Masthofani, S.Kom
COVER : Musthopa, S.Kom
Jakarta - LAN - 2015
iii + 71 hlm: 15 x 21 cm
ISBN: 978-602-7594-12-8
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
KATA PENGANTAR
Undang-Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara mengamanatkan Instansi Pemerintah untuk wajib
memberikan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terintegrasi
bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama 1 (satu) tahun
masa percobaan. Tujuan dari Diklat terintegrasi ini adalah untuk
membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul
dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta
kompetensi bidang. Dengan demikian UU ASN mengedepankan
penguatan nilai-nilai dan pembangunan karakter dalam mencetak
PNS.
Selain itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun
2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri
Sipil (PNS), ditetapkan bahwa salah satu jenis Diklat yang
strategis untuk mewujudkan PNS sebagai bagian dari ASN yang
profesional seperti tersebut di atas adalah Diklat Prajabatan.
Diklat ini dilaksanakan dalam rangka membentuk nilai-nilai dasar
profesi PNS. Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam
membentuk karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu
bersikap dan bertindak profesional dalam melayani masyarakat
serta berdaya saing.
Dengan demikian untuk menjaga kualitas keluaran Diklat dan
kesinambungan Diklat di masa depan serta dalam rangka penetapan
standar kualitas Diklat, khususnya untuk memfasilitasi dan
mengatasi kesulitan para CPNS dalam mengikuti Diklat Prajabatan,
maka Lembaga Administrasi Negara berinisiatif menyusun Modul
Diklat Prajabatan ini.
Atas nama Lembaga Administrasi Negara, kami
mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim
penyusun yang telah bekerja keras menyusun Modul ini. Begitu
pula halnya dengan instansi dan narasumber yang telah memberikan
review dan masukan, kami ucapkan terima kasih atas masukan dan
informasi yang diberikan.
Kami sangat menyadari bahwa Modul ini jauh dari sempurna.
Dengan segala kekurangan yang ada pada Modul ini, kami mohon
kesediaan pembaca untuk dapat memberikan masukan yang
konstruktif guna penyempurnaan selanjutnya. Semoga Modul ini
bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Jakarta, Desember 2014
Kepala
Lembaga Administrasi Negara,
Prof. Dr. Agus Dwiyanto
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang..............................................................................1
B. Deskripsi Singkat...........................................................................2
C. Tujuan Pembelajaran.....................................................................2
D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok............................................3
BAB II KONSEP AKUNTABILITAS.................................................7
A. Indikator Keberhasilan..................................................................7
B. Apa yang Dimaksud dengan Akuntabilitas ..................................7
C. Aspek-Aspek Akuntabilitas ..........................................................8
D. Pentingnya Akuntabilitas .............................................................9
E. Bagaimana Tingkatan dalam Akuntabilitas? ..............................11
F. Latihan ........................................................................................13
G. Rangkuman .................................................................................14
H. Evaluasi ......................................................................................15
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................15
BAB III MEKANISME AKUNTABILITAS....................................17
A. Indikator Keberhasilan ...............................................................17
B. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia ...........................18
C. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel .......................18
D. Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam
Menciptakan Framework Akuntabilitas .....................................22
E. Latihan ........................................................................................23
F. Rangkuman .................................................................................24
G. Evaluasi ......................................................................................25
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................25
BAB IV AKUNTABILITAS DALAM KONTEKS .........................27
A. Indikator Keberhasilan ...............................................................27
B. Transparansi dan Akses Informasi .............................................27
C. Praktek Kecurangan (Fraud) dan Perilaku Korup ......................31
D. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara ...................................35
E. Penyimpanan dan Penggunaan Data dan Informasi
Pemerintah....................................................................................36
F. Konflik Kepentingan ...................................................................37
G. Latihan ........................................................................................40
H. Rangkuman .................................................................................40
I. Evaluasi .......................................................................................42
J. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................42
BAB V MENJADI PNS YANG AKUNTABEL................................43
A. Indikator Keberhasilan ...............................................................43
B. Apa yang diharapkan dari seorang PNS? ...................................44
C. Perilaku Berkaitan denganTransparansi dan Akses Informasi
(Transparency and Official Information Access) ........................45
D. Menghindari Perilaku yang Curang dan Koruptif
(Fraudulent and Corrupt Behaviour) ..........................................45
E. Perilaku Terhadap Penggunaan Sumber Daya Negara (Use of
Public Resources) ........................................................................46
F. Perilaku berkaitan dengan Penyimpanan dan Penggunaan
Data serta Informasi Pemerintah (Record Keeping and Use
of Government Information) ........................................................46
G. Perilaku berkaitan dengan Konflik Kepentingan (Conflicts
of Interest) ...................................................................................47
H. Bagaimana Mengambil Keputusan yang Akuntabel bagi
PNS? ............................................................................................48
I. Merancang Program/Kegiatan yang Akuntabel dan
Merancang Akuntabilitas Program/Kegiatan/Aktivitas ...............48
J. Latihan..........................................................................................54
K. Rangkuman .................................................................................54
L. Evaluasi .......................................................................................55
M. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ...............................................55
BAB VI PENUTUP .............................................................................57
A. Simpulan .....................................................................................57
B. Tindak Lanjut .............................................................................58
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................59
LAMPIRAN .. .......................................................................................60
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada berbagai cara yang dapat ditempuh dalam rangka
menyiapkan para CPNS untuk masuk pada sistem
pemerintahan. Salah satunya adalah melalui Diklat Prajabatan.
Mata diklat Akuntabilitas ini bertujuan membantu CPNS untuk
menjawab pertanyaan–pertanyaan yang berkaitan dengan
akuntabilitas publik. Selain itu, mata diklat ini juga bertujuan
untuk menanamkan nilai – nilai akuntabilitas yang nantinya
akan menjadi dasar CPNS dalam berperilaku.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara, pegawai ASN berfungsi sebagai:
1) Pelaksana kebijakan publik; 2) Pelayan publik; dan 3)
Perekat dan pemersatu bangsa. Fungsi-fungsi ASN ini
harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik.
Akuntabilitas mengacu pada harapan implisit atau eksplisit
bahwa keputusan atau tindakan seseorang akan di evaluasi
oleh pihak lain dan hasil evaluasinya dapat berupa reward
atau punishment. Akuntabilitas yang dilakukan oleh PNS
akan teruji ketika PNS tersebut mengalami permasalahan
dalam transparansi dan akses informasi, penyalahgunaan
kewenangan, penggunaan sumber daya milik negara dan
konflik kepentingan. Seorang PNS dapat dikatakan PNS
yang akuntabel apabila mampu mengatasi masalah-masalah
tersebut. Dalam artian mampu mengambil pilihan yang tepat
ketika terjadi konflik kepentingan, tidak terlibat dalam politik
praktis, melayani warga secara adil dan konsisten dalam
menjalankan tugas dan fungsinya
Bab I ~ Pendahuluan | 1
B. Deskripsi Singkat
Dalam Mata Diklat Akuntabilitas PNS,secara substansi
pembahasan berfokus pada fasilitas pembentukan nilai-
nilai dasar akuntabilitas. Peserta diklat akan dibekali
dengan pembelajaran mengenai nilai-nilai dasar dan konsep
akuntabilitas publik, konflik kepentingan dalam masyarakat,
netralitas PNS, keadilan dalam pelayanan publik, transparan
dalam memberikan informasi dan data yang dibutuhkan
oleh publik, serta sikap dan perilaku yang konsisten.Mata
diklat ini disajikan dengan proses experiential learning, yang
memberikan penekanan-penekanan pada proses internalisasi
nilai-nilai dasar, kombinasi metode ceramah interaktif,
diskusi, studi kasus, simulasi, film pendek, studi lapangan
dan demonstrasi. Melalui mata diklat ini, peserta akan dinilai
kemampuannya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
akuntabilitas guna pelaksanaan tugas jabatannya.
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti mata diklat Akuntabilitas PNS ini, peserta
Diklat Prajabatan diharapkan mampu:
1. Memahami nilai-nilai dasar dan konsep akuntabilitas serta
mengaktualisasikannya;
2. Mempunyai pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan dalam masyarakat;
3. Memahami tugas yang harus dilaksanakan dan sadar akan
pentingnya kinerja untuk organisasi;
4. Melayani masyarakat secara adil dan merata;
5. Menunjukkan sikap netralitas PNS dari kepentingan
tertentu;
6. Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten;
7. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar akuntabilitas.
2 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
Peta Kompetensi Peserta Mata Diklat Akuntabilitas PNS
D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
Materi dan submateri pokok yang akan dibahas dalam modul
ini adalah sebagai berikut:
1. Konsep Akuntabilitas
a. Indikator keberhasilan
b. Apa yang dimaksud dengan akuntabilitas
c. Aspek-aspek akuntabilitas
d. Pentingnya akuntabilitas
Bab I ~ Pendahuluan | 3
e. Bagaimana tingkatan dalam akuntabilitas
f. Latihan
g. Rangkuman
h. Evaluasi
i. Umpan balik dan tindak lanjut
2. Mekanisme Akuntabilitas
a. Indikator akuntabilitas
b. Mekanisme akuntabilitas birokrasi Indonesia
c. Menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel
d. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
menciptakan framework akuntabilitas
e. Latihan
f. Rangkuman
g. Evaluasi
h. Umpan balik dan tindak lanjut
3. Akuntabilitas dalam Konteks
a. Indikator keberhasilan
b. Transparansi dan akses informasi
c. Praktik kecurangan (fraud) dan perilaku korup
d. Penggunaan sumber daya milik negara
e. Penyimpanan dan penggunaan data dan informasi
pemerintah
f. Konflik kepentingan
g. Latihan
h. Rangkuman
i. Evaluasi
j. Umpan balik dan tindak lanjut
4 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
4. Menjadi PNS yang Akuntabel
a. Apa yang diharapkan dari seorang PNS?
b. Perilaku berkaitan dengan transparansi dan akses
informasi (transparency and official information access)
c. Menghindari perilaku yang curang dan koruptif
(fraudulent and corrupt behavior)
d. Perilaku terhadap penggunaan sumber daya negara (use
of publik resources)
e. Perilaku berkaitan dengan penyimpanan dan penggunaan
data serta informasi pemerintah (record keeping and
use of government information)
f. Perilaku berkaitan dengan konflik kepentingan (conflicts
of interest)
g. Bagaimana Mengambil Keputusan yang Akuntabel bagi
PNS?
h. Merancang Program/Kegiatan Yang Akuntabel dan
Merancang Akuntabilitas Program/Kegiatan/Aktivitas
i. Latihan
j. Rangkuman
k. Evaluasi
l. Umpan balik dan tindak lanjut
5. Penutup
a. Simpulan
b. Tindak Lanjut
Bab I ~ Pendahuluan | 5
6 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB II
KONSEP AKUNTABILITAS
A. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari Bab ini, peserta Diklat diharapkan
memiliki kemampuan untuk memahami akuntabilitas dari sisi
konseptual teoretis sebagai landasan untuk mempraktikkan
perilaku akuntabel.
B. Apa yang Dimaksud dengan Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kata yang seringkali kita dengar, tetapi
tidak mudah untuk dipahami. Ketika seseorang mendengar
kata akuntabilitas, yang terlintas adalah sesuatu yang
sangat penting, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara
mencapainya. Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering
disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab.
Namun pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki
arti yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban
pertanggungjawaban yang harus dicapai.
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu,
kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin
terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik tersebut
antara lain adalah:
1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika
terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan publik
dengan kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi;
2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari
dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
3. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;
Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 7
4. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
C. Aspek-Aspek Akuntabilitas
1. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is
a relationship)
Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua pihak
antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan
masyarakat. Pemberi kewenangan bertanggung jawab
memberikan arahan yang memadai, bimbingan, dan
mengalokasikan sumber daya sesuai dengan tugas dan
fungsinya. Dilain sisi, individu/kelompok/institusi
bertanggung jawab untuk memenuhi semua kewajibannya.
Oleh sebab itu, dalam akuntabilitas, hubungan yang terjadi
adalah hubungan yang bertanggung jawab antara kedua
belah pihak.
2. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is
results oriented)
Hasil yang diharapkan dari akuntabilitas adalah perilaku
aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan
inovatif. Dalam konteks ini, setiap individu/kelompok/
institusi dituntut untuk bertanggung jawab dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya, serta selalu
bertindak dan berupaya untuk memberikan kontribusi
untuk mencapai hasil yang maksimal.
3. Akuntabilitasmembutuhkanadanyalaporan(Accountability
requires reporting)
Laporan kinerja adalah perwujudan dari akuntabilitas.
Dengan memberikan laporan kinerja berarti mampu
menjelaskan terhadap tindakan dan hasil yang telah dicapai
oleh individu/kelompok/institusi, serta mampu memberikan
bukti nyata dari hasil dan proses yang telah dilakukan.
Dalam dunia birokrasi, bentuk akuntabilitas setiap individu
8 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
berwujud suatu laporan yang didasarkan pada kontrak
kerja, sedangkan untuk institusi adalah LAKIP (Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah).
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is
meaningless without consequences)
Akuntabilitas adalah kewajiban. Kewajiban menunjukkan
tanggung jawab, dan tanggung jawab menghasilkan
konsekuensi. Konsekuensi tersebut dapat berupa
penghargaan atau sanksi.
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability
improves performance)
Tujuan utama dari akuntabilitas adalah untuk memperbaiki
kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Dalam pendekatan akuntabilitas yang bersifat
proaktif (proactive accountability), akuntabilitas dimaknai
sebagai sebuah hubungan dan proses yang direncanakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal,
penempatan sumber daya yang tepat, dan evaluasi kinerja.
Dalam hal ini proses setiap individu/kelompok/institusi
akan diminta pertanggungjawaban secara aktif yang terlibat
dalam proses evaluasi dan berfokus peningkatan kinerja.
D. Pentingnya Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang
berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu
kewajiban jabatandalam memberikan pertanggungjawaban
laporan kegiatan kepada atasannya.
Dalam beberapa hal, akuntabilitas sering diartikan berbeda-
beda. Adanya norma yang bersifat informal tentang perilaku
PNS yang menjadi kebiasaan (“how things are done around
here”) dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi
atau bahkan mempengaruhi aturan formal yang berlaku.
Seperti misalnya keberadaan PP No. 53 Tahun 2010 tentang
Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 9
Disiplin Pegawai Negeri Sipil, belum sepenuhnya dipahami
atau bahkan dibaca oleh setiap CPNS atau pun PNS. Oleh
sebab itu, pola pikir PNS yang bekerja lambat, berdampak
pada pemborosan sumber daya dan memberikan citra PNS
berkinerja buruk. Dalam kondisi tersebut, PNS perlu merubah
citranya menjadi pelayan masyarakat dengan mengenalkan
nilai-nilai akuntabilitas untuk membentuk sikap, dan prilaku
PNS dengan mengedepankan kepentingan publik, imparsial,
dan berintegritas.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens,
2007), yaitu:
1. Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran
demokrasi); dengan membangun suatu sistem yang
melibatkan stakeholders dan users yang lebih luas
(termasuk masyarakat, pihak swasta, legislatif, yudikatif
dan di lingkungan pemerintah itu sendiri baik di tingkat
kementrian, lembaga maupun daerah);
2. Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
(peran konstitusional);
3. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran
belajar).
Akuntabilitas merupakan kontrak antara pemerintah dengan
aparat birokrasi, serta antara pemerintah yang diwakili oleh
PNS dengan masyarakat. Kontrak antara kedua belah pihak
tersebut memiliki ciri antara lain: Pertama, akuntabilitas
eksternal yaitu tindakan pengendalian yang bukan bagian dari
tanggung jawabnya. Kedua, akuntabilitas interaksi merupakan
pertukaran sosial dua arah antara yang menuntut dan yang
menjadi bertanggung jawabnya (dalam memberi jawaban,
respon, rectification, dan sebagainya). Ketiga, hubungan
akuntabilitas merupakan hubungan kekuasaan struktural
(pemerintah dan publik) yang dapat dilakukan secara asimetri
sebagai haknya untuk menuntut jawaban (Mulgan 2003).
10 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas
vertikal (vertical accountability), dan akuntabilitas horizontal
(horizontal accountability). Akuntabilitas vertikal adalah
pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas
yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-
unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah, kemudian
pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, pemerintah pusat
kepada DPR. Akuntabilitas vertikal membutuhkan pejabat
pemerintah untuk melaporkan “ke bawah” kepada publik.
Misalnya, pelaksanaan pemilu, referendum, dan berbagai
mekanisme akuntabilitas publik yang melibatkan tekanan dari
warga. Akuntabilitas horizontal adalah pertanggungjawaban
kepada masyarakat luas. Akuntabilitas ini membutuhkan
pejabat pemerintah untuk melaporkan “ke samping” kepada
para pejabat lainnya dan lembaga negara. Contohnya
adalah lembaga pemilihan umum yang independen, komisi
pemberantasan korupsi, dan komisi investigasi legislatif.
E. Bagaimana Tingkatan dalam Akuntabilitas
Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 11
Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu
akuntabilitas personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas
kelompok, akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas
stakeholder.
1. Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
Akuntabilitas personal mengacu pada nilai-nilai yang ada
pada diri seseorang seperti kejujuran, integritas, moral dan
etika. Pertanyaan yang digunakan untuk mengidentifikasi
apakah seseorang memiliki akuntabilitas personal antara
lain “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki
situasi dan membuat perbedaan?”. Pribadi yang akuntabel
adalah yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi
dan bukan masalah.
2. Akuntabilitas Individu
Akuntabilitas individu mengacu pada hubungan antara
individu dan lingkungan kerjanya, yaitu antara PNS
dengan instansinya sebagai pemberi kewenangan. Pemberi
kewenangan bertanggung jawab untuk memberikan
arahan yang memadai, bimbingan, dan sumber daya serta
menghilangkan hambatan kinerja, sedangkan PNS sebagai
aparatur negara bertanggung jawab untuk memenuhi
tanggung jawabnya. Pertanyaan penting yang digunakan
untuk melihat tingkat akuntabilitas individu seorang PNS
adalah apakah individu mampu untuk mengatakan “Ini
adalah tindakan yang telah saya lakukan,dan ini adalah apa
yang akan saya lakukan untuk membuatnya menjadi lebih
baik”.
3. Akuntabilitas Kelompok
Kinerja sebuah institusi biasanya dilakukan atas kerjasama
kelompok. Dalam hal ini tidak ada istilah “Saya”, tetapi yang
ada adalah “Kami”. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas
kelompok, maka pembagian kewenangan dan semangat
kerjasama yang tinggi antar berbagai kelompok yang ada
dalam sebuah institusi memainkan peranan yang penting
12 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
dalam tercapainya kinerja organisasi yang diharapkan.
4. Akuntabilitas Organisasi
Akuntabilitas organisasi mengacu pada hasil pelaporan
kinerja yang telah dicapai, baik pelaporan yang dilakukan
oleh individu terhadap organisasi/institusi maupun kinerja
organisasi kepada stakeholders lainnya.
5. Akuntabilitas Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah masyarakat umum,
pengguna layanan, dan pembayar pajak yang memberikan
masukan, saran, dan kritik terhadap kinerjanya. Jadi
akuntabilitas stakeholder adalah tanggungjawab organisasi
pemerintah untuk mewujudkan pelayanan dan kinerja yang
adil, responsif dan bermartabat.
F. Latihan
1. Dalam hal penyelenggaraan pemerintahan, sering kita
dengan istilah kata responsibilitas dan akuntabilitas. Kedua
kata tersebut mempunyai arti dan makna yang berbeda. Apa
yang membedakan antara responsibilitas dan akuntabilitas
dilihat dari pengertiannya? Dan berikan pendapat anda
terkait konsep responsibiltas dan akuntabilitas tersebut?
2. Akuntabilitas publik terdiri dari dua macam, yaitu
akuntabilitas vertikal (Vertical Accountability) dan
akuntabilitas horizontal (Horizontal Accountability). Ada
studi kasus seperti ini: bahwa ada pertanggungjawaban
unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah,
kemudian pemerintah daerah kepada pemerintah pusat,
dan pemerintah pusat kepada DPR. Pertanyaannya,
termasuk bentuk akuntabilitas apakah studi kasus tersebut?
Akuntabilitas Vertikal atau Akuntabilitas Horizontal?
Jelaskan.
3. Dalam hal pelayanan publik, masih sering diketemukan
keluhan dari masyarakat terhadap kinerja pelayan publik.
Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 13
Masyarakat merasakan kinerja yang lambat, berbelit-belit,
maupun tidak efisien ketika berhadapan dengan pelayan
publik ataupun birokrasi publik. Padahal sejatinya sebagai
abdi negara, birokrasi publik harus memberikan pelayanan
yang baik kepada masyarakat, Menurut anda, seberapa
penting nilai-nilai akuntabilitas publik jika dikaitkan
dengan fenomena tersebut? Jelaskan.
G. Rangkuman
1. Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan
dengan responsibilitas atau tanggung jawab. Namun
pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti
yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah
kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai.
2. Aspek - Aspek akuntabilitas mencakup beberapa hal berikut
yaitu akuntabilitas adalah sebuah hubungan, Akuntabilitas
berorientasi pada hasil, Akuntabilitas membutuhkan
adanya laporan, Akuntabilitas memerlukan konsekuensi,
serta Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
3. Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama
(Bovens, 2007), yaitu pertama,untuk menyediakan
kontrol demokratis (peran demokrasi); Kedua, untuk
mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran
konstitusional); Ketiga, untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas (peran belajar).
4. Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
akuntabilitas vertical (vertical accountability), dan
akuntabilitas horizontal (horizontal accountability).
5. Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu
akuntabilitas personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas
kelompok, akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas
stakeholder.
14 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
H. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Jelaskan pengertian akuntabilitas dan pentingnya
menerapkan akuntabilitas dalam kehidupan berorganisasi.
2. Sebutkan dan jelaskan aspek-aspek akuntabilitas.
3. Berbicara mengenai akuntabilitas, akuntabilitas mempunyai
beberapa tingkatan. Sebutkan dan jelaskan tingkatan dalam
akuntabilitas tersebut.
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Coba Saudara periksa hasil jawaban Saudara pada Evaluasi
diatas, apabila jawaban Saudara sudah tepat maka Saudara
dianggap telah menguasai konsep akuntabilitas. Apabila
belum, Saudara dapat mengulang untuk mempelajari kembali.
Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 15
16 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB III
MEKANISME AKUNTABILITAS
A. Indikator Keberhasilan
Setiap organisasi memiliki mekanisme akuntabilitas tersendiri.
Mekanisme ini dapat diartikan secara berbeda-beda dari setiap
anggota organisasi hingga membentuk perilaku yang berbeda-
beda pula. Contoh mekanisme akuntabilitas organisasi,
antara lain sistem penilaian kinerja, sistem akuntansi, sistem
akreditasi, dan sistem pengawasan (CCTV, finger prints,
ataupun software untuk memonitor pegawai menggunakan
komputer atau website yang dikunjungi).
Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik yang
akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus mengandung
dimensi:
1. Akuntabilitas kejujuran dan hukum (accountability for
probity and legality). Akuntabilitas hukum terkait dengan
kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang diterapkan
2. Akuntabilitas proses (process accountability). Akuntabilitas
proses terkait dengan: Apakah prosedur yang digunakan
dalam melaksanakan tugas sudah cukup baik dalam hal
kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajemen, dan prosedur administrasi? Akuntabilitas ini
diterjemahkan melalui pemberian pelayanan publik yang
cepat, responsif, dan murah. Pengawasan dan pemeriksaan
akuntabilitas proses dilakukan untuk menghindari
terjadinya kolusi, korupsi dan nepotisme.
3. Akuntabilitas program (program accountability).
Akuntabilitas ini dapat memberikan pertimbangan Apakah
tujuan yang ditetapkan dapat tercapai, dan Apakah ada
alternatif program lain yang memberikan hasil maksimal
dengan biaya minimal.
Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 17
4. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability).
Akuntabilitas ini terkait dengan pertanggungjawaban
pemerintah atas kebijakan yang diambil terhadap DPR/
DPRD dan masyarakat luas.
B. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia
Akuntabilitas tidak akan mungkin terwujud apabila tidak ada
alat akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain
adalah:
1. Perencanaan Strategis (Strategic Plans) yang berupa
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional/
Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
Nasional/Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
Nasional/Daerah, Rencana Strategis (Renstra) untuk setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Sasaran Kerja
Pegawai (SKP) untuk setiap PNS.
2. Kontrak Kinerja. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa
terkecuali mulai 1 Januari 2014 menerapkan adanya kontrak
kerja pegawai. Kontrak kerja yang dibuat untuk tiap tahun
ini merupakan kesepakatan antara pegawai dengan atasan
langsungnya. Kontrak atau perjanjian kerja ini merupakan
implementasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46
Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.
3. Laporan Kinerja yaitu berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) yang berisi perencanaan dan
perjanjian kinerja pada tahun tertentu, pengukuran dan
analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan.
C. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel
1. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya. Pimpinan mempromosikan
18 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
lingkungan yang akuntabel dapat dilakukan dengan
memberikan contoh pada orang lain (lead by example),
adanya komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan
sehingga memberikan efek positif bagi pihak lain untuk
berkomitmen pula, terhindarnya dari aspek-aspek yang
dapat menggagalkan kinerja yang baik yaitu hambatan
politis maupun keterbatasan sumber daya, sehinggadengan
adanya saran dan penilaian yang adil dan bijaksana dapat
dijadikan sebagai solusi.
2. Transparansi
Tujuan dari adanya transparansi adalah
a. Mendorong komunikasi yang lebih besar dan kerjasama
antara kelompok internal dan eksternal;
b. Memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak
seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan;
c. Meningkatkan akuntabilitas dalam keputusan-keputusan;
d. Meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada
pimpinan secara keseluruhan.
3. Integritas
Dengan adanya integritas menjadikan suatu kewajiban
untuk menjunjung tinggi dan mematuhi semua hukum
yang berlaku, Undang-undang, kontrak, kebijakan, dan
peraturan yang berlaku. Dengan adanya integritas institusi,
dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada
publik dan/atau stakeholders.
4. Tanggungjawab (Responsibilitas)
Responsibilitas institusi dan responsibilitas perseorangan
memberikan kewajiban bagi setiap individu dan lembaga,
bahwa ada suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah
dilakukan, karena adanya tuntutan untuk bertanggungjawab
atas keputusan yang telah dibuat. Responsibilitas terbagi
dalam responsibilitas perorangan dan responsibilitas
institusi.
Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 19
a. Responsibiltas Perseorangan:
• Adanya pengakuan terhadap tindakan yang telah
diputuskan dan tindakan yang telah dilakukan
• Adanya pengakuan terhadap etika dalam pengambilan
keputusan
• Adanya keterlibatan konstituen yang tepat dalam
keputusan
b. Responsibilitas Institusi:
• Adanya perlindungan terhadap publik dan sumber
daya
• Adanya pertimbangan kebaikan yang lebih besar
dalam pengambilan keputusan
• Adanya penempatan PNS dan individu yang lebih baik
sesuai dengan kompetensinya
• Adanya kepastian kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan dan fungsinya untuk melindungi sumber
daya organisasi
5. Keadilan
Keadilan adalah landasan utama dari akuntabilitas. Keadilan
harus dipelihara dan dipromosikan oleh pimpinan pada
lingkungan organisasinya. Oleh sebab itu, ketidakadilan
harus dihindari karena dapat menghancurkan kepercayaan
dan kredibilitas organisasi yang mengakibatkan kinerja
akan menjadi tidak optimal.
6. Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
Dengan kata lain, lingkungan akuntabilitas tidak akan lahir
dari hal-hal yang tidak dapat dipercaya.
7. Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan
20 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
kewenangan, serta harapan dan kapasitas. Setiap individu
yang ada di lingkungan kerja harus dapat menggunakan
kewenangannya untuk meningkatkan kinerja. Adanya
peningkatan kerja juga memerlukan adanya perubahan
kewenangan sesuai kebutuhan yang dibutuhkan. Selain itu,
adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga
harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya
dan keahlian (skill) yang dimiliki.
8. Kejelasan
Kejelasan juga merupakan salah satu elemen untuk
menciptakan dan mempertahankan akuntabilitas. Agar
individu atau kelompok dalam melaksanakan wewenang
dan tanggung jawabnya, mereka harus memiliki gambaran
yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang
diharapkan. Dengan demikian, fokus utama untuk kejelasan
adalah mengetahui kewenangan, peran dan tanggungjawab,
misi organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi, dan
sistem pelaporan kinerja baik individu maupun organisasi.
9. Konsistensi
Konsistensi menjamin stabilitas. Penerapan yang tidak
konsisten dari sebuah kebijakan, prosedur, sumber
daya akan memiliki konsekuensi terhadap tercapainya
lingkungan kerja yang tidak akuntabel, akibat melemahnya
komitmen dan kredibilitas anggota organisasi.
Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 21
D. Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam
Menciptakan Framework Akuntabilitas
Berikut adalah 5 langkah yang harus dilakukan dalam membuat
framework akuntabilitas di lingkungan kerja PNS:
1. Menentukan tujuan yang ingin dicapai dan tanggungjawab
yang harus dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui
penentuan tujuan dari rencana strategis organisasi,
mengembangkan indikator, ukuran dan tujuan kinerja, dan
mengidentifikasi peran dan tanggung jawab setiap individu
dalam organisasi.
2. Melakukan perencanaan atas apa yang perlu dilakukan
untuk mencapai tujuan. Cara ini dapat dilakukan melalui
identifikasi program atau kebijakan yang perlu dilakukan,
22 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
siapa yang bertanggung jawab, kapan akan dilaksanakannya
dan biaya yang dibutuhkan. Selain itu, perlu dilakukannya
identifikasi terhadap sumberdaya yang dimiliki organisasi
serta konsekuensinya, apabila program atau kebijakan
tersebut berhasil atau gagal untuk dilakukan.
3. Melakukan implementasi dan memantau kemajuan yang
sudah dicapai. Hal tersebut penting dilakukan untuk
mengetahui hambatan dari impelementasi kebijakan atau
program yang telah dilakukan.
4. Memberikan laporan hasil secara lengkap, mudah dipahami
dan tepat waktu. Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud
untuk menjalankan akuntabilitas dalam menyediakan
dokumentasi dengan komunikasi yang benar serta mudah
dipahami.
5. Melakukan evaluasi hasil dan menyediakan masukan atau
feedback untuk memperbaiki kinerja yang telah dilakukan
melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat korektif.
E. Latihan
1. Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik
yang akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus
mengandung dimensi: Akuntabilitas Kejujuran dan
Hukum, Akuntabilitas Proses, Akuntabilitas Program, serta
Akuntabilitas Kebijakan. Ada studi kasus seperti berikut:
Pemerintah Pusat maupun daerah sudah memulai
program pengadaan barang dan jasa dengan mekanisme
secara elektronik yang disebut e-procurement. Tujuannya
adalah pertama, agar tidak ada main mata antara pengada
proyek dan pihak yang mengadakan proyek
(Meminimalisir Kasus KKN). Kedua, agar pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa dapat dilaksanakan dengan
cepat dan teratur
Pertanyaannya, termasuk dimensi akuntabilitas apakah
studi kasus tersebut? Jelaskan.
Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 23
2. Akuntabilitas tidak mungkin terwujud apabila tidak ada
alat akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara
lain adalah: Perencanaan Strategis, Kontrak Kinerja, dan
Laporan Kinerja. Ada studi kasus sebagai berikut: Dalam
menentukan arah dan sasaran kinerja pembangunan
dibutuhkan yang namanya Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) Nasional/Daerah, Rencana Pembangunan
Menengah Nasional/Daerah, dan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) Nasional/Daerah, Rencana Strategis
(Renstra) untuk setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) untuk setiap
PNS. Pertanyannya, termasuk alat akuntabilitas yang
manakah studi kasus tersebut? Jelaskan.
F. Rangkuman
1. Setiap organisasi memiliki mekanisme akuntabilitas
tersendiri. Mekanisme ini dapat diartikan secara berbeda-
beda dari setiap anggota organisasi hingga membentuk
perilaku yang berbeda-beda pula. Contoh mekanisme
akuntabilitas organisasi, antara lain sistem penilaian
kinerja, sistem akuntansi, sistem akreditasi, dan sistem
pengawasan (CCTV, finger prints, ataupun software untuk
memonitor pegawai menggunakan komputer atau website
yang dikunjungi).
2. Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik
yang akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus
mengandung 3 dimensi yaitu Akuntabilitas kejujuran dan
hukum, Akuntabilitas proses, Akuntabilitas program, dan
Akuntabilitas kebijakan.
3. Akuntabilitas tidak mungkin terwujud apabila tidak ada alat
akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain
adalah Perencanaan Strategis (Strategic Plans), Kontrak
Kinerja,dan Laporan Kinerja
24 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
4. Dalam menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel,
ada beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu:
Kepemimpinan, Transparansi, Integritas, Tanggung Jawab
(responsibilitas), Keadilan, Kepercayaan, Keseimbangan,
Kejelasan, dan Konsistensi
5. Langkah yang harus dilakukan dalam membuat framework
akuntabilitas di lingkungan kerja PNS yaitu: Tentukan
Tanggung Jawab dan Tujuan, Rencanakan Apa Yang Akan
Dilakukan Untuk Mencapai Tujuan, Lakukan Implementasi
dan Monitoring Kemajuan, Berikan Laporan Secara
Lengkap, serta Berikan Evaluasi dan Masukan Perbaikan.
G. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Jelaskan dimensi-dimensi dalam akuntabilitas dalam rangka
mewujudkan organisasi sektor publik yang akuntabel.
2. Tanggung jawab (responsibilitas) merupakan salah satu
poin yang harus dimiliki apabila ingin menciptakan
lingkungan kerja yang akuntabel. Sebutkan dan jelaskan
bentuk-bentuk responsibilitas.
3. Jelaskan tahapan yang harus dilakukan dalam membuat
framework akuntabilitas di lingkungan kerja PNS.
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Apabila Saudara telah mampu menjawab tiga pertanyaan diatas
dengan benar maka Saudara telah memenuhi kriteria belajar
tuntas. Apabila belum, Saudara dapat melakukan pendalaman
kembali terhadap materi yang telah diuraikan pada Bab ini.
Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 25
26 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB IV
AKUNTABILITAS DALAM KONTEKS
A. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari mengenai bab akuntabilitas dalam
konteks ini, peserta diharapkan dapat memiliki pemahaman
atas ranah dan kasus umum yang terkait dengan penerapan
akuntabilitas secara menyeluruh dalam organisasi.
B. Transparansi dan Akses Informasi
Keterbukaan informasi telah dijadikan standar normatif
untuk mengukur legitimasi sebuah pemerintahan. Dalam
payung besar demokrasi, pemerintah senantiasa harus
terbuka kepada rakyatnya sebagai bentuk legitimasi (secara
substantif). Partisipasi ini dapat berupa pemberian dukungan
atau penolakan terhadap kebijakan yang diambil pemerintah
ataupun evaluasi terhadap suatu kebijakan.
Ketersediaan informasi publik ini nampaknya telah
memberikan pengaruh yang besar pada berbagai sektor dan
urusan publik di Indonesia. Salah satu tema penting yang
berkaitan dengan isu ini adalah perwujudan transparansi tata
kelola keterbukaan informasi publik, dengan diterbitkannya
UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (selanjutnya disingkat: KIP). Konteks lahirnya UU ini
secara substansial adalah memberikan jaminan konstitusional
agar praktik demokratisasi dan good governance bermakna
bagi proses pengambilan kebijakan terkait kepentingan
publik, yang bertumpu pada partisipasi masyarakat maupun
akuntabilitas lembaga penyelenggara kebutuhan publik.
Seperti bunyi Pasal 3 UU Nomor 14 Tahun 2008 tercantum
beberapa tujuan, sebagai berikut: (1) Menjamin hak warga
negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik,
program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 27
publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik; (2)
Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan
kebijakan publik; (3) Meningkatkan peran aktif masyarakat
dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan
Badan Publik yang baik; (4) Mewujudkan penyelenggaraan
negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien,
akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; (5) Mengetahui
alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup
orang banyak; (6) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan
mencerdaskan kehidupan bangsa; dan/atau (7) Meningkatkan
pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan
Publik untuk menghasilkan layanan informasi
Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan informasi
publik1 dari semua Badan Publik. Informasi publik disini adalah
“Informasi publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan,
dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu Badan Publik
yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan
negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan Badan
Publik lainnya yang sesuai dengan Undang-undang ini serta
informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik”
(Pasal 1 Ayat 2). Informasi publik terbagi dalam 2 kategori:
1. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan.
2. Informasi yang dikecualikan (informasi publik yang
perlu dirahasiakan). Pengecualiannya tidak boleh bersifat
permanen. Ukuran untuk menjadikan suatu informasi
publik dikecualikan atau bersifat rahasia adalah: (i) Undang-
undang; (ii) kepatutan; dan (iii) kepentingan umum.
Sedangkan Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya
berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau
seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, atau organisasi nonpemerintah yang sebagian atau
seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
1 UU KIP tidak mengatur hak tersebut untuk non-WNI
28 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri (Pasal
1 Ayat 3).
Keterbukaan informasi memungkinkan adanya ketersediaan
(aksesibilitas) informasi bersandar pada beberapa prinsip.
Prinsip yang paling universal (berlaku hampir diseluruh
negara dunia) adalah:
1. Maximum Access Limited Exemption (MALE)
Pada prinsipnya semua informasi bersifat terbuka dan bisa
diakses masyarakat. Suatu informasi dapat dikecualikan
hanya karena apabila dibuka, informasi tersebut dapat
merugikan kepentingan publik. Pengecualian itu juga
harus bersifat terbatas, dalam arti: (i) hanya informasi
tertentu yang dibatasi; dan (ii) pembatasan itu tidak berlaku
permanen.
2. Permintaan Tidak Perlu Disertai Alasan
Akses terhadap informasi merupakan hak setiap orang.
Konsekuensi dari rumusan ini adalah setiap orang bisa
mengakses informasi tanpa harus disertai alasan untuk
apa informasi tersebut diperlukan. Seorang pengacara
publik tidak perlu menjelaskan secara detail untuk apa ia
membutuhkan informasi tentang suatu putusan pengadilan
yang telah berkekuatan hukum tetap. Prinsip ini penting
untuk menghindari munculnya penilaian subjektif
pejabat publik ketika memutuskan permintaan informasi
tersebut. Pejabat publik bisa saja khawatir informasi itu
disalahgunakan. Argumentasi ini sebenarnya kurang kuat,
karena penyalahgunaan informasi tetap bisa dipidanakan.
3. Mekanisme yang Sederhana, Murah, dan Cepat
Nilai dan daya guna suatu informasi sangat ditentukan oleh
konteks waktu. Seorang wartawan misalnya, terikat pada
deadline saat ia meminta informasi yang berkaitan dengan
berita yang sedang dia tulis. Dalam kasus lain, seorang
pegiat hak asasi manusia membutuhkan informasi yang
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 29
cepat, murah, dan sederhana dalam aktivitasnya. Informasi
bisa jadi tidak berguna jika diperoleh dalam jangka waktu
yang lama, karena bisa tertutup oleh informasi yang
lebih baru. Selain itu, mekanisme penyelesaian sengketa
informasi juga harus sederhana.
4. Informasi Harus Utuh dan Benar
Informasi yang diberikan kepada pemohon haruslah
informasi yang utuh dan benar. Jika informasi tersebut
tidak benar dan tidak utuh, dikhawatirkan menyesatkan
pemohon. Dalam aktivitas pasar modal biasanya ada
ketentuan yang melarang pemberian informasi yang tidak
benar dan menyesatkan (misleading information). Seorang
advokat atau akuntan publik biasanya mencantumkan
klausul disclaimer. Pendapat hukum dan pendapat akuntan
dianggap benar berdasarkan dokumen yang diberikan oleh
pengguna jasa.
5. Informasi Proaktif
Badan publik dibebani kewajiban untuk menyampaikan
jenis informasi tertentu yang penting diketahui publik.
Misalnya, informasi tentang bahaya atau bencana alam
wajib disampaikan secara proaktif oleh Badan Publik tanpa
perlu ditanyakan oleh masyarakat.
6. Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik
Perlu ada jaminan dalam undang-undang bahwa pejabat
yang beriktikad baik harus dilindungi. Pejabat publik yang
memberikan informasi kepada masyarakat harus dilindungi
jika pemberian informasi dilandasi itikad baik. Misalnya,
pejabat yang memberikan bocoran dan dokumen tentang
praktik korupsi di instansinya.
Atas dasar prinsip tersebut, maka pada dasarnya semua PNS
berhak memberikan informasi, namun dalam praktiknya tidak
semua PNS punya kemampuan untuk memberikan informasi
berdasarkan berapa prinsip-prinsip diatas (seperti resiko
dampak kerugian yang muncul, utuh dan benar). Pejabat publik
30 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
yang paling kapabel dan berwenang untuk memberikan akses
informasi publik dan informasi publik ialah Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi (PPID). Tugas mayoritas ASN
dalam konteks informasi ialah hanya berwenang memberikan
informasi atas apa yang dibutuhkan oleh pimpinan untuk
mendukung pelaksanaan tugasnya.
ATURAN TERKAIT
1. Pasal 28 F UUD 1945
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP)
3. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Hak atas informasi
lingkungan hidup
4. UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN
6. UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
7. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers
C. Praktik Kecurangan (Fraud) dan Perilaku Korup
Aparat pemerintah dituntut untuk mampu menyelenggarakan
pelayanan yang baik untuk publik. Hal ini berkaitan dengan
tuntutan untuk memenuhi etika birokrasi yang berfungsi
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Etika pelayanan
publik adalah suatu panduan atau pegangan yang harus dipatuhi
oleh para pelayan publik atau birokrat untuk menyelenggarakan
pelayanan yang baik untuk publik. Buruknya sikap aparat
sangat berkaitan dengan etika.
Isu etika menjadi sangat vital dalam administrasi publik dalam
penyelenggaraan pelayanan sebagai inti dari administrasi
publik. Diskresi administrasi menjadi starting point bagi
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 31
masalah moral atau etika dalam dunia administrasi publik
Rohr (1989: 60 dalam Keban 2008: 166). Sayangnya etika
pelayanan publik di Indonesia belum begitu diperhatikan.
Buruknya etika para aparatur pemerintah Indonesia dapat
terlihat dari masih banyaknya keluhan oleh masyarakat.
Laporan Ombudsman tahun 2012 di salah satu provinsi
(Perwakilan Jatim) mengilustrasikan hal tersebut.
Tabel 1.
Jumlah Laporan Masyarakat Berdasarkan Substansi
Laporan
Substansi Laporan Jumlah Persentase
32,29%
Penyalahgunaan Wewenang 64 30,59%
9,92%
Penundaan Berlarut 60 8,5%
7,08%
Tidak Memberikan Pelayanan 19 5,1%
4,25%
Permintaan Uang, Barang, & Jasa 16 1,13%
0,57%
Penyimpangan Prosedur 13 0,57%
Berpihak 10
Diskriminasi 8
Tidak Patut 2
Konflik Kepentingan 1
Tidak Kompeten 1
Dari Tabel diatas terlihat bahwa laporan masyarakat terbanyak
adalah dikarenakan penyalahgunaan wewenang yaitu
sebanyak 64 laporan yaitu sekitar 32,29% dari seluruh laporan
yang masuk. Hal ini menjadi bukti bahwa penyalahgunaan
wewenang terus tumbuh di tubuh birokrasi Indonesia yang
berkaitan dengan etika para pelaksananya yaitu aparat
pemerintah.
Penyalahgunaan wewenang akan berdampak pada praktik
kecurangan (fraud). The Institute of Internal Auditor (“IIA”),
mendefinisikan fraud sebagai “An array of irregularities
32 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
and illegal acts characterized by intentional deception”:
sekumpulan tindakan yang tidak diizinkan dan melanggar
hukum yang ditandai dengan adanya unsur kecurangan yang
disengaja. International Standards of Auditing seksi 240 –
The Auditor’s Responsibility to Consider Fraud in an Audit
of Financial Statement paragraf 6 mendefenisikan fraud
sebagai “…tindakan yang disengaja oleh anggota manajemen
perusahaan, pihak yang berperan dalam governance
perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang melakukan
pembohongan atau penipuan untuk memperoleh keuntungan
yang tidak adil atau illegal”.
Cakupan (tipologi) dari fraud sangat luas. Association of
Certified Fraud Examiners (“ACFE”) di Amerika Serikat
menyusun peta mengenai fraud. Peta ini berbentuk pohon,
dengan cabang dan ranting. Tiga cabang utama dari fraud tree
adalah: (1) kecurangan tindak pidana korupsi, (2) kecurangan
penggelapan asset (asset misappropriation), dan (3)
kecurangan dalam laporan keuangan (fraudulent statement).
Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang dapat terjadi
secara bersamaan, yaitu:
1. Peluang untuk melakukan fraud. Peluang ini biasanya
muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian internal
di organisasinya. Terbukanya kesempatan ini, juga dapat
menggoda individu atau kelompok yang sebelumnya tidak
memiliki motif untuk melakukan fraud.
2. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud. Beberapa
contoh pressure dapat timbul karena masalah keuangan
pribadi. Sifat-sifat buruk seperti berjudi, narkoba,
berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja
yang tidak realistis.
3. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan
fraud. Hal ini terjadi karena seseorang mencari pembenaran
atas aktifitasnya yang mengandung fraud. Pada umumnya
para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 33
bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu
yang memang merupakan haknya, bahkan kadang pelaku
merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk
organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula
kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud
karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang
sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud
tersebut.
Keberhasilan pembangunan suatu etika perilaku dan kultur
organisasi yang anti kecurangan dapat mendukung secara
efektif penerapan nilai-nilai budaya kerja, yang sangat erat
hubungannya dengan hal-hal atau faktor-faktor penentu
keberhasilannya yang saling terkait antara satu dengan yang
lainnya, yaitu : 1) Komitmen dari Top Manajemen Dalam
Organisasi; 2) Membangun Lingkungan Organisasi Yang
Kondusif: 3) Perekrutan dan Promosi Pegawai; 4)Pelatihan
nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar
pelaksanaan ; 5) Menciptakan Saluran Komunikasi yang
Efektif; dan 6) Penegakan kedisiplinan.
Seluruh PNS dapat turut serta mengembangkan lingkungan
kerja yang positif untuk membantu pembentukan suatu etika
dan aturan perilaku internal organisasi. Setiap orang dapat
memberikan pandangan-pandangan dalam pengembangan dan
pembaharuan etika dan aturan perilaku (code of conduct) yang
berlaku dalam organisasi; berperilaku yang sesuai dengan code
of conduct; memberikan masukan kepada pimpinan sebelum
mengambil keputusan penting atau yang berhubungan dengan
masalah hukum dan implementasinya terhadap pelaksanaan
sanksi pelanggaran etika dan aturan perilaku organisasi.
D. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara
Untuk kelancaran aktivitas pekerjaan, hampir semua instansi
pemerintah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti
telepon, komputer, internet dan sebagainya. Tidak hanya itu,
34 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
bahkan semua instansi pemerintah memiliki aset-aset lain,
seperti: rumah dinas, mobil dan kendaraan dinas lainnya.
Kesemuanya itu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan
organisasi dalam melayani publik. Oleh karena itu disebut
sebagai fasilitas publik.
Fasilitas publik dilarang pengunaannya untuk kepentingan
pribadi, sebagai contoh motor atau mobil dinas yang tidak
boleh digunakan kepentingan pribadi. Hal-hal tersebut
biasanya sudah diatur secara resmi oleh berbagai aturan dan
prosedur yang dikeluarkan pemerintah/instansi. Setiap PNS
harus memastikan bahwa:
-- Penggunaannya diatur sesuai dengan prosedur yang berlaku
-- Penggunaannya dilaklukan secara bertanggung-jawab dan
efisien
-- Pemeliharaan fasilitas secara benar dan bertanggungjawab.
Namun, kadang permasalahannya tidak selalu “hitam dan
putih”. Mari kita ambil contoh kasus.
Contoh Kasus
Seorang PNS mendapat fasilitas mobil dinas. Suatu malam,
anaknya yang balita tiba-tiba panas tinggi, bolehkan dia
menggunakan mobil dinasnya untuk membawa sang anak ke
Rumah Sakit? Bagaimana jika kelurga tetangga yang sakit
meminjam mobil dinas tersebut untuk pergi berobat?
Dalam banyak kasus, penggunaan fasilitas publik sering
terkait dengan masalah etika. Dalam penggunaan fasilitas
publik, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu dalam
pengambilan keputusan:
• Apakah penggunaan fasilitas tertentu dapat merugikan
instansi dan negara?
• Apakah penggunaan fasilitas tertentu merugikan reputasi
pribadi Anda dan juga yang lain?
• Apakah penggunaan fasilitas menguntung diri pribadi
semata?
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 35
E. Penyimpanan dan Penggunaan Data dan Informasi
Pemerintah
Mulgan (1997) mengidentifikasikan bahwa proses suatu
organisasi akuntabel karena adanya kewajiban untuk
menyajikan dan melaporkan informasi dan data yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau pembuat kebijakan atau
pengguna informasi dan data pemerintah lainnya.
Informasi ini dapat berupa data maupun penyampaian/
penjelasan terhadap apa yang sudah terjadi, apa yang sedang
dikerjakan, dan apa yang akan dilakukan. Jadi, akuntabilitas
dalam hal ini adalah bagaimana pemerintah atau aparatur
dapat menjelaskan semua aktifitasnya dengan memberikan
data dan informasi yang akurat terhadap apa yang telah mereka
laksanakan, sedang laksanakan dan akan dilaksanakan. Hal
yang tidak kalah pentingnya adalah akses dan distribusi dari
data dan informasi yang telah dikumpulkan tersebut, sehingga
pengguna/stakeholders mudah untuk mendapatkan informasi
tersebut.
Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan serta
dilaporkan tersebut harus relevant (relevan), reliable
(dapat dipercaya), understandable (dapat dimengerti),
serta comparable (dapat diperbandingkan), sehingga dapat
digunakan sebagaimana mestinya oleh pengambil keputusan
dan dapat menunjukkan akuntabilitas publik. Untuk lebih
jelasnya, data dan informasi yang disimpan dan digunakan
harus sesuai dengan prinsip sebagai berikut:
1. Relevant information diartikan sebagai data dan informasi
yang disediakan dapat digunakan untuk mengevaluasi
kondisi sebelumnya (past), saat ini (present) dan mendatang
(future).
2. Reliable information diartikan sebagai informasi tersebut
dapat dipercaya atau tidak bias.
3. Understandable information diartikan sebagai informasi
yang disajikan dengan cara yang mudah dipahami pengguna
36 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
(user friendly) atau orang yang awam sekalipun.
4. Comparable information diartikan sebagai informasi
yang diberikan dapat digunakan oleh pengguna untuk
dibandingkan dengan institusi lain yang sejenis.
Contoh dari akuntabilitas ini adalah bagaimana suatu
organisasi (sekolah) dapat mengumpulkan dan menyajikan
data dan informasi yang dibutuhkan. Baik data dan informasi
yang dibutuhkan oleh murid, orang tua murid, guru, kepala
sekolah, masyrarakat, pemerintah sebagai bagian dari
akunbatilitasnya terhadap publik. Sekolah memiliki hubungan
yang sangat penting untuk berkewajiban akuntabel pada
pemerintah, masyarakat, guru dan murid. Jadi, informasi
tentang perkembangan sekolah, kegiatan-kegiatan dan
kebijakannya adalah bagian dari akuntabilitas. Informasi dan
data tersebut meliputi keuangan, pelayanan, efisiensi dan
efektifitas operasional.
F. Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan adalah situasi yang timbul di mana tugas
publik dan kepentingan pribadi bertentangan. Tidak masalah
jika seseorang tersebut punya konflik kepentingan, tapi
bagaimana seseorang tersebut menyikapinya.
Tipe-tipe Konflik Kepentingan
Ada 2 jenis umum Konflik Kepentingan:
1. Keuangan
Penggunaan sumber daya lembaga (termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur) untuk keuntungan
pribadi.
Contoh :
a. Menggunakan peralatan lembaga/unit/divisi/bagian
untuk memproduksi barang yang akan digunakan atau
dijual secara pribadi
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 37
b. Menerima hadiah atau pembayaran mencapai sesuatu
yang diinginkan
c. Menerima dana untuk penyediaan informasi pelatihan
dan / atau catatan untuk suatu kepentingan.
d. Menerima hadiah pemasok atau materi promosi tanpa
otoritas yang tepat
2. Non Keuangan
Penggunaan posisi atau wewenang untuk membantu diri
sendiri dan / atau orang lain
Contoh:
a. Berpartisipasi sebagai anggota panel seleksi tanpa
menggunakan koneksi, asosiasi atau keterlibatan dengan
calon.
b. Menyediakan layanan atau sumber daya untuk
kepentingan group, kelompok asosiasi atau organisasi
keagamaan tanpa biaya atau kontribusi kepada lembaga/
organisasi (melalui sistem seperti penerimaan negara
bukan pajak).
c. Penggunaan posisi yang tidak tepat untuk memasarkan
atau mempromosikan nilai-nilai atau keyakinan pribadi.
Bagaimana cara mengidentifikasi konflik kepentingan:
1. Tugas publik dengan kepentingan pribadi
Apakah saya memiliki kepentingan pribadi atau swasta
yang mungkin bertentangan, atau dianggap bertentangan
dengan kewajiban publik?
2. Potensialitas
Mungkinkah ada manfaat bagi saya sekarang, atau di masa
depan, yang bisa meragukan objektivitas saya? Bagaimana
keterlibatan saya dalam mengambil keputusan / tindakan
dilihat oleh orang lain?
3. Proporsionalitas
Apakah keterlibatan saya dalam keputusan tampak adil dan
38 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
wajar dalam semua keadaan?
4. Presence of Mind
Apa konsekuensi jika saya mengabaikan konflik
kepentingan? Bagaimana jika keterlibatan saya
dipertanyakan publik?
5. Janji
Apakah saya membuat suatu janji atau komitmen dalam
kaitannya dengan permasalahan? Apakah saya berdiri
untuk menang atau kalah dari tindakan/keputusan yang
diusulkan?
Konsekuensi Kepentingan Konflik
1. Hilangnya/berkurangnya kepercayaan pegawai dan
stakeholders
2. Memburuknya reputasi pribadi atau reputasi Institusi
3. Tindakan indisipliner
4. Pemutusan hubungan kerja
5. Dapat dihukum baik perdata atau pidana
G. Latihan
1. Buruknya etika para aparatur pemerintah Indonesia dapat
terlihat dari masih banyaknya keluhan oleh masyarakat.
Laporan Ombudsman tahun 2012 di salah satu provinsi
(Perwakilan Jatim) mengemukan bahwa ada beberapa
contoh tindakan buruk aparatur pemerintah yaitu
Penyalahgunaan Wewenang, Penundaan Berlarut, Tidak
Memberikan Pelayanan, Permintaan Uang dan Barang,
Penyimpangan Prosedur, Berpihak, Diskriminasi, Tidak
Patut, Konflik Kepentingan, serta Tidak Kompeten. Melihat
beberapa contoh tindakan buruk aparatur pemerintah
tersebut, bagaimana tanggapan anda jika mengaitkannya
dengan perspektif etika pelayanan publik ataupun etika
birokrasi publik?
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 39
2. Konflik kepentingan adalah situasi yang timbul di mana
tugas publik dan kepentingan pribadi bertentangan. Ada
dua jenis umum Konflik Kepentingan yaitu Keuangan
(Penggunaan sumber daya lembaga termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur untuk keuntungan
pribadi) dan Non-Keuangan (Penggunaan posisi atau
wewenang untuk membantu diri sendiri dan/atau orang
lain). Ada contoh studi kasus seperti berikut: Bahwa ada
seseorang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menunjuk
satu pemenang tender proyek pengadaan barang dan jasa
publik tanpa melalui proses yang akuntabel dan transparan
(terindikasi ada permainan atau kongkalikong antara
pemberi dan penerima proyek). Dilihat dari jenis umum
konflik kepentingan, temasuk jenis konflik kepentingan
apakah studi kasus tersebut? Jelaskan.
H. Rangkuman
1. Ketersediaan informasi publik telah memberikan pengaruh
yang besar pada berbagai sektor dan urusan publik
di Indonesia. Salah satu tema penting yang berkaitan
dengan isu ini adalah perwujudan transparansi tata kelola
keterbukaan informasi publik, dengan diterbitkannya UU
Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (selanjutnya disingkat: KIP).
2. Keterbukaaninformasi memungkinkanadanyaketersediaan
(aksesibilitas) informasi bersandar pada beberapa prinsip.
Prinsip yang paling universal (berlaku hampir diseluruh
negara dunia) adalah sebagai berikut : Maximum Access
Limited Exemption (MALE), Permintaan Tidak Perlu
Disertai Alasan, Mekanisme yang Sederhana, Murah,
dan Cepat, Informasi Harus Utuh dan Benar, Informasi
Proaktif, serta Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik.
3. Aparat pemerintah dituntut untuk mampu
menyelenggarakan pelayanan yang baik untuk publik.
40 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
Hal ini berkaitan dengan tuntutan untuk memenuhi etika
birokrasi yang berfungsi memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Etika pelayanan publik adalah suatu panduan
atau pegangan yang harus dipatuhi oleh para pelayan publik
atau birokrat untuk menyelenggarakan pelayanan yang
baik untuk publik. Buruknya sikap aparat sangat berkaitan
dengan etika.
4. Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan
serta dilaporkan harus relevant (relevan), reliable
(dapat dipercaya), understandable (dapat dimengerti),
serta comparable (dapat diperbandingkan), sehingga
dapat digunakan sebagaimana mestinyaoleh pengambil
keputusan dan dapat menunjukkan akuntabilitas publik.
5. Ada 2 jenis umum konflik kepentingan yaitu keuangan
(Penggunaan sumber daya lembaga termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur untuk keuntungan
pribadi) dan non keuangan (Penggunaan posisi atau
wewenang untuk membantu diri sendiri dan /atau orang
lain).
I. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip keterbukaan
informasi yang berlaku universal.
2. Jelaskan apa saja yang dapat memicu munculnya praktik
kecurangan dalam suatu organisasi.
3. Jelaskan prinsip-prinsip yang harus ada pada data dan
informasi khususnya yang akan dipakai oleh publik.
J. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Coba Saudara cek hasil jawaban Saudara pada evaluasi diatas.
Apabila Saudara telah menjawab semuanya dengan benar
Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 41
maka Saudara dianggap telah menguasai bab ini, namun
apabila belum Saudara perlu mengulang untuk mempelajari
kembali.
42 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik