Ancaman Bencana Banjir
Peningkatan Kapasitas Pengetahuan dan Wawasan dalam Bidang Manajemen Bencana
bagi Pegawai BPPD dan Widyaiswara BPSDM - BNPB
30 Maret 2021
Prof. Dr. Drs. Waluyo Hatmoko, M.Sc.
Peneliti Ahli Utama Tata Kelola Sumber Daya Air
Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan
Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Kementerian PUPR
08122103205 email:[email protected]
Ancaman Bencana Banjir
1. Pengertian banjir dan drainase
2. Penyebab banjir
3. Pengendalian banjir
4. Pengelolaan banjir terpadu (integrated
flood management)
Hidrologi merupakan
ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang
keberadaan air baik di atmosfir
yang berbentuk hujan, di atas
permukaan tanah seperti air
sungai, waduk, kolam dan
lainnya maupun di bawah
permukaan yaitu air tanah
Hidrologi adalah
berbicara mengenai banjir,
ketersediaan air permukaan,
kekeringan, potensi air tanah,
sedimentasi, iklim, dll.
Hidrologi memerlukan
dukungan data yang terkait
dalam siklus hidrologi: hujan,
debit sungai dan air di danau
dan waduk, serta air tanah
Permasalahan Air
Permasalahan
air
Terlalu banyak Terlalu kotor Terlalu sedikit
(banjir) (pencemaran) (kekurangan
air)
Drainase Debit sungai Pasang laut
Definisi Banjir dan Drainase
• Banjir (Kamus ICID):
1) Aliran atau muka air yang relatif tinggi di
sungai, jauh lebih tinggi dari biasanya; atau
dapat juga berupa
2) Genangan di dataran rendah, pada tanah yang
biasanya tidak tergenang.
• Drainase:
• adalah proses pengeringan dan pengaliran air,
mengalirkan kelebihan air yang berasal dari air
hujan atau lainnya agar tidak terjadi genangan
yang berlebihan pada suatu kawasan tertentu.
Aliran Banjir, Banjir Rencana
• Untuk banjir yang berupa aliran
• besarnya banjir dinyatakan dengan banjir rencana, atau kala ulang kejadian banjir,
misalnya banjir 10 tahunan, dan banjir 100 tahunan.
• Secara hidrologi, banjir juga berarti debit sungai yang tinggi (high flow). Dikenal istilah
banjir rencana atau flood design, yang merupakan debit tinggi dengan probabilitas
tertentu. Probabilitas terjadinya debit banjir berbanding terbalik dengan kala ulang banjir.
P = 1/T dan T = 1/P
dengan:
P = probabilitas terlampauinya debit banjir rencana
T = kala ulang terjadinya banjir rencana
• debit banjir 100 tahunan adalah debit yang dengan kemungkinan terjadinya adalah 1%,
sehingga secara rerata akan terjadi 100 tahun sekali
• debit banjir 10 tahunan adalah debit yang dengan kemungkinan terjadinya adalah 10%,
sehingga secara rerata akan terjadi 10 tahun sekali
• debit banjir 2 tahunan adalah debit yang dengan kemungkinan terjadinya adalah 50%,
sehingga secara rerata akan terjadi 2 tahun sekali
Banjir Genangan
• Banjir yang berupa genangan
• dinyatakan sebagai titik-titik banjir
• masing-masing titik memiliki besaran
• tinggi genangan,
• luas genangan, dan
• lama genangan.
• Kinerja upaya mengatasi banjir diukur
dengan
• seberapa banyak titik banjir yang
berkurang
• pengurangan tinggi, luas dan lama
genangan.
Penyebab terjadinya banjir
KONDISI ALAM (STATIS) MASALAH KEGIATAN MANUSIA (DINAMIS)
BANJIR
▪ Geografi • Tata ruang/peruntukan dataran
▪ Topografi banjir yang tidak sesuai
▪ Geometri alur sungai:
• pembangunan prasarana yang
• kemiringan dasar tidak terencana
• meandering
• “bottle-neck” • sampah padat
• sedimentasi • Prasarana dan OP pengendali
• ambal alam
banjir yang terbatas
PERISTIWA ALAM (DINAMIS) • amblesan permukaan tanah
• persepsi masyarakat yang keliru
• Curah hujan tinggi
• Pasang laut / sungai induk terhadap banjir
• Amblesan tanah • kenaikan muka air laut akibat
• Pendangkalan
“global warming”
Sumber: Siswoko, 2010
Tata Guna Lahan dan Pola Debit Aliran Sungai
PMenaasnagalnaahn Filosofis ▪KonWsatdruukkastai uTeemkbnuinkgSdiiphiul lu
Banjir ▪ Pindahkan penduduk dari banjir ▪ Kolam penampungan banjir (“retention
▪ Pindahkan banjir dari penduduk basin”) di hilir
▪ Hidup harmoni bersama banjir
▪ Tanggul penahan banjir penghalang
Normatif sepanjang tepi sungai
Metode ▪ Saluran “by pass” atau sudetan
Non ▪ Pengerukan dan pelebaran alur sungai
Struktur ▪ Sistem polder
▪ Pemangkasan penghalang ditengah sungai
Manajemen
Daerah Rawan Banjir
▪ Pemantauan, peramalan, dan peringatan
ancaman bencana banjir
▪ Diseminasi peringatan ancaman dan sistem
evakuasi banjir
▪ Kelembagaan bencana banjir
▪ Pembuatan peta bahaya banjir
▪ Peningkatan kapasitas dan partisipasi
masyarakat untuk penanggulangan banjir
▪ Rumah ramah banjir (panggung, apung)
▪ Asuransi bencana banjir
Manajemen Hulu
Daerah Aliran Sungai
▪ Pengedalian erosi di hulu DAS
▪ Pengendalian alih fungsi lahan
▪ Pengendalian perijinan pemanfaatan lahan
▪ Pengendalian kualitas air sungai
▪ Kelembagaan konservasi hulu DAS
▪ Pembuatan peta kawasan lindung
▪ Peningkatan kapasitas dan partisipasi
masyarakat untuk konservasi hulu DAS
Pengendalian Banjir: Sistem Polder
Pengendalian Banjir: Sistem Polder
KETIKA BENCANA DATANG,
KITA SELALU TERKEJUT
Ketika bencana datang,
semua saling tuding-menuding tentang siapa yang salah.
Ketika bencana datang,
semua ribut mengeluarkan pendapat, apa dan mengapa terjadi bencana.
Ketika bencana surut,
perhatian akan bencana ikut surut pula.
Kemudian semua terkejut, ketika tiba-tiba bencana datang lagi,
dan saling tuding-menuding lagi, ribut lagi,
dan……..lupa lagi.
Sobirin
Siklus Pengelolaan Bencana
Sumber: (Wilhite (1993)
Memahami banjir
• Banjir tidak dapat dikendalikan sepenuhnya, harus
diterima sebagai fakta kehidupan
• Merupakan fenomena alam, yang memiliki probabilitas
terjadinya → manajemen risiko
Risiko ≈ ancaman bahaya x kerentanan/kapasitas
• Banjir tidak selamanya membawa bencana dan harus
ditanggulangi dengan biaya besar
• Perlindungan terhadap banjir merupakan mitigasi
kerugian akibat banjir
Perubahan Cara Pandang Manajemen Bencana
Cara pandang manajemen bencana dengan Paradigma
pengelolaan sumber daya air terpadu Integrated Water
Resources Management (IWRM)
Dari manajemen krisis
yang spontan dan reaktif ketika terjadi bencana
Menuju manajemen risiko
yang proaktif dan terencana sebelum bencana terjadi
Perubahan paradigma penanganan banjir
• Dari bertahan (defensive) menjadi pro-aktif
• Dari Ad-hoc menjadi Integrated Flood
Management
• menuju budaya pencegahan dengan mengelola
risiko banjir dan hidup dengan banjir
• menyeimbangkan risiko banjir dan menuju
pembangunan berkelanjutan
• Perubahan proses pengambilan keputusan
dengan pendekatan manajemen risiko
Peta Rawan Banjir
Sistem Peringatan Dini Banjir
Peringatan Dini Banjir
Sederhana Model Hidrodinamik
• Contoh: Bendung Banjir Jakarta Satgas Banjir
Katulampa
JFEWS (Jakarta Flood
• Berbasis Early Warning System)
Masyarakat BMKG, BPPT, Pemda
DKI Jakarta, BBWS
Cilicis
Satgas Banjir: Informasi Potensi Banjir Per Kabupaten
Disebarkan Melalui Media Sosial
Whatsapp Group
Jakarta Flood Early Warning System (JFEWS)
https://buletin-jfews.pusair-pu.go.id/
Pengaruh Ketersediaan Data dalam Sistem Peringatan Dini Banjir
Data Feed Input data for run-off analysis
NWP Satellite Radar Telemetry
Flood
Lead Time accuration decreases River discharge
Detections Present condition Time Response
Warning
Flood forecasting
Run-off analysis
Google mulai masuk ke peta rawan banjir
Google Map dilengkapi dengan peta
banjir
• Kerjasama dengan BNPB, PUPR, dan
berbagai Kementerian/Lembaga di
Indonesia
MENYIASATI DAERAH RAWAN BANJIR UNTUK FASILITAS PUBLIK
CONTOH REKAYASA EKOHIDRAULIK DI SUNGAI TSURUMI, KIRIGAOKA, JEPANG
DI MUSIM KEMARAU UTK TAMAN DI MUSIM PENGHUJAN UTK
DAN SARANA OLAH RAGA KOLAM TANDON BANJIR 96.000 m3
SUNGAI TSURUMI KOLAM TAMPUNG SEMENTARA SUNGAI TSURUMI KOLAM TAMPUNG SEMENTARA
MUSIM KEMARAU UTK TAMAN MUSIM HUJAN UTK TAMAN
DAN SARANA OLAH RAGA DAN SARANA OLAH RAGA
TANGGUL TANGGUL TANGGUL TANGGUL TANGGUL TANGGUL
PELIMPAS PELIMPAS
RIVER AND JAPAN/ 15 FEB 2000/ POWERPOINT MCC
BANGUNAN SEMACAM INI CUKUP MENARIK,
KARENA ASPEK LAHAN BASAH DIMASUKKAN SEBAGAI UNSUR DESAIN
HOTEL KARANGSETRA AND SPA, BALE KAMBANG, BANDUNG/ FOTO:SUPARDIYONO/ MCC, 2002
NATIONAL CAPITAL INTEGRATED COASTAL DEVELOPMENT NO REGRET MEASURES
GAMBARAN SISTEM POLDER
26
Penutup: Tiga alternatif mengelola banjir
• Menjauh dari banjir (stay away from the water)
✓mengungsi, tidak tinggal di daerah rawan banjir
✓Peta rawan banjir
• Pengendalian banjir (keep the water away)
a) mengendalikan air dari sumbernya: konservasi DAS,
bendungan; dan
b) Mengendalikan air banjir: normalisasi, sodetan, tanggul,
pompa, dan polder.
• Hidup damai bersama banjir (living in harmony with
water)
✓rumah panggung, lapangan olahraga pada kolam retensi banjir,
dan
✓peringatan dini banjir