Kesimpulan dan Refkeksi
Inggrit Gantina, M.Pd
1
Pemikiran Ki Hajar Dewantara
“Pendidikan dan
pengajaran merupakan
usaha persiapan dan
persedian hidup manusia,
baik dalam hidup
bermasyarakat maupun
hidup berbudaya dalam
arti yang seluas-luasnya”
2
Pokok Pemikiran Filosofis
Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan
Pendidikan sebagai Tuntunan
Dalam konteks social budaya, ‘menuntun’ diwujudkan
dalam keteladanan guru dalam proses pendidikan,
baik keteladanan sikap, karakter dan perilaku, karena
anak belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan.
Menuntut juga berarti mendidik dan mengajar anak
sesuai potensi, minat dan bakatnya.
Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun
tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak, agar dapat memperbaiki hidup dan
tumbuhnya kekuatan kodrat anak
Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan
kodrat zaman karena kedua hal ini tidak dapat
dipisahkan dalam diri anak.
Seorang anak telah memiliki kodrat alam (potensi,
bakat, kemampuan) yang unik, berbeda-beda satu
sama lain sehingga guru diharapkan mampu
memfasilitasi mereka. Pembelajaran akan
menyenangkan jika dilakukan sesuai dengan kodrat
anak, yaitu bermain.
Sementara kodrat zaman, bagaimana seorang guru
mampu membimbing anak agar siap hidup mandiri
dalamzaman yang terus berubah.
Guru Ibarat Petani
Guru ibarat petani, yang menyapkan lahan, memupuk,
mengairi dan membersihkan hama agar bibit tumbuh
subur, berbunga, kemudian berbuah. Petani dapat
mengupayakan tumbuhnya bibit dengan sebaik-
baiknya, tetapi tidak dapat mengubah kodrat bibit
menjadi tanaman lain. Demikian pula guru. Guru dapat
mengupayakan bertumbuhnya potensi anak dengan
sebaik-baiknya, tetapi tidak dapat mengubah kodrat
anak.
Prinsip Bukan Tabula Rasa
Anak lahir bukan kertas kosong yang bisa diisi oleh
orang dewasa sesuai kehendaknya. Anak sudah
membawa garis-garis dan coretannya masing-masing.
Tugas guru adalah menebalkan garis yang baik-baik dan
membiarkan garis yang tidak baik agar tidak terlihat.
Guru menuntun anak agar menampakkan potensinya
menjadi nyata, sekaligus meminimalisasi sifat atau
tabiat buruknya.
Budi Pekerti
Pendidikan itu adalah benih-benih kebudayaan yang
dapat mengantarkan murid pada budi pekerti ⟮olah
cipta, olah rasa, olah karsa dan olahraga⟯ yang luhur.
Dalam budaya Sunda, dikenal denhan silih asah, silih
asih dan silih asuh.
Silih asah, artinya saling mengingatkan dalam hal
kebaikan yang bertujuan untuk menajamkan akal
pikiran, kebaikan dan kesadaran bersama atau individu.
Silih asih, artinya saling mengasihi. Setiap hal yang
dikasihi pasti tidak akan berani menyakiti. Begitu pun
guru kerika menyanyangi siswanya, maka ia akan
melakukan proses pengajaran yang berpihak kepada
anak.
Silih asuh, artinya membimbing, merawat, mengasuh.
Itulah peran guru yang sesungguhnya, dapat menuntun
anak menuju kebahagian.
Berhamba Pada Anak
Pendidikan yang menghamba pada anak menekankan
pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu,
menghadirkan model dan metode belajar yang
menggali motivasi untuk membangun habit anak
menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap
informasi dan pengetahuan, suka dan senang
membaca. Pembelajaran yang seperti ini sekaligus
dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia
yang dibutuhkan di era mendatang seperti kreativitas,
inovatif, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian,
kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, daya nalar yang
tinggi, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam
tim, serta wawasan global untuk dapat selalu
beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa,
anak / murid harus dipandang dengan rasa hormat dan
menjadi pusat dalam pembelajaran. Guru dan murid
memiliki keduidukan yang sejajar dalam dunia
pendidikan. Anak adalah hal yang paling bernilai. Guru
harus menerima macam-macam anak yang berbeda
sesuai kodrat dan fitrahnya. Guru diibaratkan sebagai
petani harus mampu memfasilitasi tumbuh kembang
keanekaragaman tersebut melalui penciptaan
ekosistem belajar yang menyenangkan dan selalu
dibingkai dalam nilai-nilai luhur pancasila.
3
Trilogi Pendidikan
“Ing Ngarso Sung Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso,
dan Tut Wuri Handayani”
ketika guru berada di depan, seorang guru harus
memberi teladan atau contoh dengan tindakan yang baik
pada saat di antara peserta didik, guru harus
menciptakan prakarsa dan ide dan membangun
kemauan.
berarti dari belakang seorang guru harus bisa
memberikan dorongan dan arahan.
Intisari
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan
adalah bagaimana memerdekakan belajar, guna
mencapai kemerdekaan belajar yang tujuan utamanya
adalah menjadikan siswa yang memiliki profil pelajar
Pancasila.
Profil pelajar Pancasila terdiri atas: Beriman, Bertakwa
kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia,
Berkebhinekaan Global, Bergotong royong, Kreatif,
Bernalar kritis, dan Mandiri.
Ini berarti dalam melaksanakan pendidikan dan
pengajaran kepada anak-anak, Ki Hajar Dewantara
menganjurkan agar pendidik tetap memperhatikan
segala potensi anak-anak, yaitu jiwa, jasmani, etika,
moral, estetika dan karakter dengan paduan budaya
sesuai dengan perubahan zaman.
4
Refleksi Modul 1.1
Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran
di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?
Sebelum mempelajari modul
1.1, saya meyakini dan
percaya bahwa niat para
siswa datang ke sekolah
adalah untuk mempelajari
ilmu pengetahuan.
Dalam pembelajaran saya memandang pentingnya transfer
pengetahuan dari guru kepada siswa, sehingga guru harus
aktif mengajar dan siswa duduk di tempat duduknya
masing-masing.
Membuat kesepakatan di
kelas dianggap kurang
penting, karena berpikiran
hanya membuang waktu saja
untuk memulai pembelajaran.
Selalu menginginkan ketika proses pembelajaran yang saya
siswa harus bisa tertib, duduk yang rapi, diam, dengan
pandangan yang terpusat kepada gurunya dengan harapan
dapat membuat siswa dengan mudah memahami materi-
materi yang saya sampaikan.
Lanjutan
Fokus kegiatan pembelajaran adalah ketuntasan target
kurikulum dalam satu semester seperti yang tertuang
dalam dokumen program tahunan.
Mengutamakan ketuntasan kurikulum merupakan hal yang
penting dengan tercapainya standar angka-angka yang
tinggi. Hasil akhir dalam pembelajaran diharapkan anak
mampu mengerjakan ujian dan tugas dengan benar.
Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya
setelah mempelajari modul ini?
Hal yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah
mempelajari modul ini adalah terjadinya perubahan dalam
pola pikir saya terhadap siswa dan pembelajaran.
Saya sangat optimis ada mimpi dan cita cita dalam benak
setiap anak saat mendatangi sekolah. Saya percaya murid
punya inisiatif belajar meski tidak disuruh guru.
Ternyata niat murid ke sekolah tidak sama, ada yang ingin
menggapai cita-citanya, ada juga yang mereka datang ke
sekolah karena rutinitas semata, bahkan ada juga hanya se-
batas untuk uang jajan atau
mendapatkan teman pribadi
Guru harus mengenal
keberagaman dari peserta
didik. Menuntun dan
memotivasi murid menemani
perjalanan menuju cita-citanya
menjadi manusia unggul.
Lanjutan
Siswa seharusnya diposisikan
sebagai subjek pendidikan yang
memegang peranan penting
terhadap jalannya
pembelajaran.
Guru sebagai fasilitator yang
mengarahkan siswa belajar
sesuai potensi, minat, bakat,
dan cara belajarnya.
Pembelajaran dilaksanakan bukan dengan tuntutan
kepada anak, tetapi dengan memberikan kebebasan
kepada anak untuk belajar sesuai kebutuhannya
sehingga tercipta kemerdekaan belajar. Ketercapain
kurikulum harus dicapai tanpa membatasi
kemerdekaan belajar siswa.
Sebaiknya kita sebagai guru harus melakukan
asessmen diagnostik awal untuk mengetahui
kebutuhan siswa, profil siswa, gaya belajar siswa,
metode belajar seperti apa yang mereka inginkan,
sehingga kita sebagai guru dapat merancang
pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang
dibutuhkan siswa.
Lanjutan
Pembelajaran seharusnya dilaksanakan dengan
berbagai cara, model, atau metode, seperti kooperatif
learning, inquiri, discovery, problem based learning,
maupun project based learning, serta menggunakan
berbagai sumber belajar, seperti lingkungan, surat
kabar, majalah, narasumber, maupun internet.
Proses pembelajaran dilaksanakan untuk
mengembangkan semua potensi anak, baik budi
pekerti, pikiran, maupun tubuhnya agar menjadi anak
yang selamat dan bahagia.
Sebagai guru, saya harus memberikan keteladanan
kepada siswa, dalam hal sikap, penampilan,
kemandirian, disiplin, gotong royong, dan kolaborasi
dalam menyelesaikan masalah.
Lanjutan
Tugas kita sebagai
pendidik adalah
menuntun, membimbing
peserta didik dalam
mencari dan menemukan
konsep-konsep teori dan
membantu mereka
menerapkan konsep dan
teori yang sudah mereka pelajari dalam kehidupannya
sehingga anak-anak atau peserta didik tidak kehilangan
arah dan membahayakan hidupnya.
Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas
saya mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara?
Hal yang pertama saya lakukan adalah berliterasi. Ibarat
seorang petani maka saya harus berliterasi tentang tehnik
menanam dan menghasilkan tanaman yang berkualitas.
Melalui Pendidikan Guru Penggerak ini, saya akan banyak
belajar tentang berbagai teknik pembelajaran yang sesuai
filosofi pendidikan KHD baik melalui LMS, Instruktur,
Fasilitator, Guru Pendamping maupun rekan-rekan CGP
Lainnya.
Sebagai pendidik, saya harus bisa menjadi tauladan,
bersikap dan berpenampilan yang baik, mampu memberi
semangat serta memberi dorongan dalam menanamkan
pendidikan karakter meliputi: kedisiplinan dan kerjasama,
tolong menolong dalam setiap kegiatan yang ada disekolah.
Lanjutan
Menumbunhkembangkan pendidikan karakter peserta
didik dengan pembiasaan seperti mengawali aktifitas
pembelajaran dengan berdoa, saling menghargai
pendapat ketika berdiskusi, memberikan kata-kata
positif untuk teman sebangku/sekelas, memberikan
pujian, menyampaikan permohonaan maaf jika
melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak dan
terakhir membudayakan budaya lokal untuk
mentransformasikan pendidikan karakter peserta didik.
Untuk mengetahui
karakteristik siswa, saya
akan melakukan asesmen
diagnosis mengenai
potensi, minat, bakat, dan
cara belajar siswa.
Dalam pembelajaran, saya akan lebih banyak
memposisikan diri sebagai fasilitator yang mengarahkan
anak mengembangkan potensi dirinya, dengan
memberikan berbagai sumber belajar dan cara belajar
yang beragam. Siswa juga akan lebih sering diajak
berkomunikasi tentang keinginannya dalam
pembelajaran, hambatan yang ditemui, dan
mendiskusikan cara mengatasi hambatan tersebut.
Penutup
Di akhir tulisan saya tentang Refleksi Pemikiran Filosofis
Ki Hajar Dewantara, Saya ingin mengajak kita semua
untuk lebih memahami tentang Dasar Pemikiran
Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara, sehingga kita
dapat mentransformasikan perubahan ekosistem
belajar yang terpusat kepada anak, anak dan anak.
Untuk dapat mengimplementasikan merdeka belajar
yang menghasilkan profil “Pelajar
Pancasila” membutuhkan proses dan waktu, hal
tersebut bukanlah hal yang mudah, sudah waktunya
untuk kita dapat melakukan perubahan-perubahan
hebat dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk
memberikan tuntunan terbaik kepada peserta didik.
Peserta didik diberi kebebasan untuk bereksplorasi,
berinovasi dan mengembangkan potensi sesuai dengan
kodratnya masing-masing.
Inggrit Gantina, M.Pd