The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yulissetyowati01, 2022-12-17 22:19:12

Koneksi Antar Materi

Modul 1.4.a.8

Keywords: meyrala

Assalamu’alaikum wr.wb
Salam Guru Penggerak!!!

Saat ini saya sampai di modul 1.4.a.8. Koneksi antar materi Budaya Positif .
Koneksi antar materi modul 1.4 saya diminta untuk memahami keterkaitan
konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3. dan di
harapkan dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret,
dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.

Koneksi Antar Materi Budaya Positif

Sebagai pendidik, kita perlu ingat kembali tujuan pendidikan nasional yang
telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa pendidikan
diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab”. Sekarang, berdasarkan pedoman itu, Profil Pelajar
Pancasila diharapkan menjadi pegangan untuk para pendidik di ruang belajar
yang lebih kecil. Profil ini tidak hanya dimiliki oleh murid berprestasi secara
akademik atau murid yang menonjol dalam bakat lainnya, profil pelajar
Pancasila ini diharapkan dimiliki oleh seluruh murid kita di dalam kelas.

Kaitannya visi guru dengan pemikiran ki hajar dewantara adalah pendidik
wajib menerapkan konsep pemikiran dari ki hajar dewantara dengan
memberikan teladan hidup dan kehidupan, mendampingi anak dengan rasa
menyenangkan. memberikan semangat untuk tumbuh dan berkembang
sesuai kodrat alam dan zamannya serta memberikan dukungan dan
mendorong anak dengan kepercayaan dirinya menjemput kebahagiaan hidup.

Terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan
memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani
mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho),
membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan
(tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka
menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga
mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Dengan demikian Visi
Diri atau visi guru penggerak harus sejalan dengan pemikiran ki Hajar
Dewantara tersebut.

Keterkaitan visi dengan nilai dan peran guru penggerak adalah visi harus
mampu mencerminkan nilai dan peran dari guru penggerak untuk
mewujudkan propil pelajar pancasila. Perlu saya sampaikan bahwa sebagai
guru penggerak memiliki nilai yaitu Belajar berpihak pada
murid,inovatif,kolaboratif,mandiri dan Reflektif. kemudian Guru penggerak
juga mempunyai peran Menjadi Pemimpin Pembelajaran,Menggerakkan
komunitas Praktisi,Menjadi /pendamping coach bagi guru lain,Mendorong

kolaborasi antar guru, dalam penerapannya dibutuhkan totalitas Guru dalam
mengkolaborasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam proses
pembelajaran. Sehingga visi harus mampu Mewujudkan propil pelajar
pancasila.

Jika pendidik sudah menerapkan nilai dan peran guru penggerak dalam
proses pembelajaran dan ingin mewujudkan visi guru penggerak memerlukan
inkuiri apresiatif yang terjabarkan dalam metode BAGJA.

Filosofi Pemikiran Ki hajar Dewantara yang didukung dengan nilai dan peran
guru serta diterapkan dengan visi yang terjabarkan dalam strategi BAGJA
akan melahirkan budaya positif di sekolah

Budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti
disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi
kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi

Budaya positif dimulai dari disiplin positif dan ini harus datang dari diri. Disiplin
pertama kali dibangun dari dalam diri untuk memperoleh kemandirian belajar.
Belajar tanpa disiplin sama saja dengan membuat pendidikan menjadi tidak
bermakna. Sehingga tujuan akhir untuk mendapatkan kemantapan capaian
kognitif, emosional, dan psikomotorik sudah pasti tidak tercapai.

Untuk mewujudkan Tujuan pendidikan tidak bisa terlepas dari pembiasaan
budaya positif di sekolah. Dengan menerapkan konsep-konsep disiplin positif,

motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol
restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi.

Mengapa konsep-konsep ini penting?

Karena di kelas maupun di sekolah, guru menghadapi individu yang memiliki
kemampuan dan karakter yang berbeda. Guru harus memahami dan
menguasai konsep-konsep ini sebagai bagian integral dari pengajaran.

Membentuk disiplin positif di lingkungan kelas diperlukan keyakinan kelas.
Keyakinan kelas dibentuk dengan kesepakatan bersama anggota kelas yang
didasarkan atas nilai-nilai Kebajikan universal dan menekankan pada
keyakinan diri serta memotivasi dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak
dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar
mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.

Disiplin positif bertujuan membentuk tanggung jawabnya. Melalui disiplin
positif pengajar menuntun anak didik buat mempunyai perilaku tanggung
jawab dan berdasarkan tindakan atau nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila yaitu
nilai beriman, bertaqwa pada Tuhan yg Mahaesa & berakhlak mulia,
berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis & kreatif.
Inilah tujuan akhir berdasarkan pendidikan disiplin positif. Disiplin positif tidak
menggunakan sanksi atau paksaan namun lebih membentuk pencerahan diri
akan tanggung jawab diri menjadi warga sosial.

Dalam penerapanya pendidik akan dihadapkan pada konflik yang ada di
lingkungan.oleh karenanya pendidik perlu membekali diri dengan Kontrol diri.

Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline
(1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan
disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif,
apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, teori Kontrol Dr.
William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan
seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima
posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman,
Pemantau dan Manajer.

Posisi Kontrol yang direkomendasikan untuk digunakan dalam proses budaya
disiplin yaitu posisi control Manajer . Posisi kontrol manager memberikan
kebebasan kepada siswa untuk menemukan diri mereka sendiri, bertanggung
jawab atas masalah yang mereka hadapi dan menemukan solusi terbaik.
Sehingga nilai-nilai guru seperti kemandirian, inovasi, kolaborasi, kreativitas,
dan berpihak pada siswa sangat sesuai dalam mendukung dengan posisi
kontrol manajer. Guru dengan kualitas manajerial berarti dapat menerapkan
nilai-nilai dan peran guru yang baik di kelas, sekolah, dan masyarakat.

Untuk dapat memantapkan diri dalam posisi kontrol manager dan sebagai
administrator yang handal guru juga diharapkan mampu memahami berbagai

kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar manusia adalah kelangsungan
hidup, cinta dan kepemilikan, kebebasan, kesenangan dan kekuasaan.
Dengan memahami kebutuhan dasar manusia akan memberikan
langkah-langkah yang mudah untuk melakukan pembimbingan kepada murid
karena kebutuhan setiap murid memiliki kebutuhan yang berbeda.

Guru sebagai pendidik juga diharapkan mampu mempraktekkan Segitiga
Restitusi untuk menyelesaikan setiap permasalahan murid. Restitusi adalah
proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan
mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan
karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)

Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk
mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang
seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus
memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996)

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan
memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada
bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari
ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai
nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar
tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan
cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa
yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan
mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi
juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan
prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang menang.

Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan
kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu
bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga
dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih
baik di waktu yang akan datang. Ketika guru memecahkan masalah perilaku
mereka, murid akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan
yang berharga untuk hidup mereka

Sebagai guru saya dapat memberikan dampak positif pada teman sejawat
dan mampu memberikan dampak positif pembelajaran di kelas. Mampu
bersosialisasi di lingkungan sekolah dan selanjutnya membimbing dan
mendukung program perubahan paradigma pendidikan di Indonesia yang
saat ini masih belum sepenuhnya berpihak pada murid.

Salam Guru Hebat,
Bergerak, Tergerak, Menggerakkan !!!
Wassalamu’alaikum wr.wb.


Click to View FlipBook Version