1 DIANNS.ORG Radikatorial Salam Persma! Setahun berlalu dan masih sama saja, kuliah secara daring. Ya, hal tersebut yang tengah dihadapi oleh para mahasiswa akibat pagebluk Covid-19. Lebih dari dua semester hanya berkutat di depan layar laptop atau gawai untuk menjalani perkuliahan. Banyak permasalahan yang harus dihadapi mahasiswa ketika kuliah daring sampe bikin kepala pening. Kendala jaringan saat melakukan video conference. Kuota habis, tak punya uang. Bantuan UKT yang kurang jelas. Hingga beberapa matkul yang hanya seperti mengalihkan pembelajaran ke tugas-tugas saja. Alhasil bosan, capek, jenuh, bahkan hingga stress siap tidak siap, mau tidak mau mengonsumsi kita. Tapi lain sisi, kuliah daring juga banyak memberikan kemudahan, walau tidak untuk semuanya. Mudah mendapatkan nilai A, misalnya. Padahal effort yang diberikan tak sekeras ketika perkuliahan secara luring. Kurang ajarnya bisa juga berkuliah sambil rebahan dan hanya mengaktifkan micropohone ketika mengucap salam dan terima kasih saja. Nano-nano rasa kuliah daring, segala cacat dan indahnya kami abadikan melalui buletin ini. Koordinator tulisan : Prasiska Tri Wahyuni Rose Diana Fridayani Liputan : Rose Diana Fridayani Tiara Maulidah Anggita Sasmita Fernanda Nisrina Salma Kamila Nasution Sastra : Cahyaning Galuh Pramesti Opini : M. Fachrur Rozi Infografis : Prasiska Tri Wahyuni Resensi Buku : Siti Khoirah Umatin Resensi Film : Aqila Malik Hargiyarti Ilustrator : Benediktus Brian Iubilio Sekarwati Hafidatun Nurin Kamilah Editor : Rama Yusuf Dinda Fajriza Bunga Heryana Dwi Mauliddia Rosy A. Nafilah Dyas Rahmadila Ronaldo Septian Manalu Syadza Qatrunnada Layout : Pahlevi Aulia Rahman
2 DIANNS.ORG Liputan Menindak lanjuti Surat Edaran Kemendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 pada satuan pendidikan, perguruan tinggi mengubah pelaksanaan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hasilnya, pembelajaran berbasis daring sebagai solusi. Secara metode PJJ terbagi menjadi dua jenis yakni sinkronus dan asinkronus. Sinkronus berarti mahasiswa dan dosen melakukan pembelajaran dalam satu waktu yang sama dengan menggunakan video conference : Zoom dan Gmeet. Dan asinkronus dilaksanakan lebih fleksibel melalui e-learning, Edmodo, dan Google Classroom. Meski demikian, setahun dilaksanakan, PJJ menimbulkan keluhan dan penilaian negatif oleh beberapa warga perguruan tinggi. Khususnya Mahasiswa. Tugas yang makin menumpuk Dwi Mauliddia mahasiswa Pariwisata, Universitas Brawijaya, menuturkan “Banyaknya tugas kuliah dan permasalahan lainnya yang terjadi di lingkungan sekitar mengakibatkan fokus belajar pun sangat berkurang. Selain itu dengan dirumah aja, banyak tugas, saya cenderung mudah merasa bosan dengan rutinitas kehidupan yang terjadi secara berulang-ulang setiap harinya,” Ia merasakan sedari awal semester empat, tugas yang diberikan lebih banyak porsinya. Tugas yang datang silih berganti, bahkan ketika tugas satu belum selesai, telah menumpuk tugas lainnya. Hal itu semakin meningkatkan stress. Sebab dalam keadaan tidak fokus karena masalah di lingkungan rumah, juga harus kepikiran dengan deadline tugas. “Untuk serapan pengetahuan saat belajar daring saya merasa tidak mendapat apa-apa, hanya ada beberapa mata kuliah yang bisa saya pahami dan sisanya saya cenderung mengerti sedikit,” Jaringan yang bermasalah Berbeda dengan Dwi Mauliddia, salah satu Mahasiswa Administrasi UB berinisial AS mengeluhkan terkait kendala koneksi jaringan. Seperti saat musim hujan yang menyebabkan sinyal menjadi buruk secara tiba-tiba. AS yang sudah mengandalkan Wi-Fi pun masih sering kalang kabut saat kondisi itu terjadi. Pasalnya ketika kelas sedang berjalan menggunakan aplikasi video conference, suara menjadi putus-putus dan visualisasi video yang nge-lag. PROBLEMATIK PEMBELAJARAN JARAK JAUH BAGI MAHASISWA
3 DIANNS.ORG Liputan jawaban tersebut,” jelas Safanisa Alifia. Suasana kelas yang membosankan Keluhan lain berupa kebosanan menjalani PJJ disampaikan oleh AS. Ia mengaku bahwa kelas online membosankan terutama saat sinkronus. Suasana kelas yang pasif menjadikan kegiatan pjj tak bisa menggairahkan. “Membosankannya karena audio yang menyala hanya milik dosen, jadi kelas sepi sekali. Apalagi kalau banyak yang off cam, kelas pasti lebih tidak kondusif dan tidak aktif. Kita tidak tahu apakah teman-teman mahasiswa memperhatikan atau tidak,” ucapnya. Keluhan tersebut juga dicatat dalam hasil sebuah penelitian tentang efektivitas pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (2021). Sebanyak 62% responden mengaku tidak puas dan 21% responden kurang puas terhadap perkuliahan berbasis daring. Dari ketidakefektifan tersebut, sebanyak 39% responden mengeluhkan permasalahan praktik kelas online yang membosankan. Learning Loss Berkurangnya intensitas interaksi mahasiswa dengan dosen saat PJJ menghilangkan minat belajar dan menurunkan skill serta kompetensi akademik mahasiswa – learning loss. Menurut riset UNICEF Sehingga ia kurang memahami materi yang disampaikan oleh dosen. “Serapan pengetahuannya pun jadi kurang dikarenakan banyak kendala seperti masalah koneksi jaringan dan tingkat daya tangkap setiap mahasiswa pada materi yang tidak sama,” tuturnya. Diskusi yang tidak interaktif Keterbatasan waktu dalam PJJ, khususnya sinkronus – 1,5 Jam – membatasi pertanyaan mahasiswa dan tanggapan dosen. Saat mahasiswa akan bertanya atau menanggapi, tersela oleh mahasiswa yang lain. Ketika ingin menanyakan kembali, terhalang oleh batas waktu. Sehingga banyak pertanyaan yang belum disampaikan dan ditanggapi. Hambatan demikian disampaikan oleh Safanisa Alifia, Mahasiswa Prodi Akuntansi dari Kampus A. “Nah, ketika pertanyaan yang ditampung pun banyak dan waktu meeting terbatas, pertanyaan tersebut dilemparkan ke forum untuk di diskusikan kembali. Hal seperti itu kadang membuatku jengkel karena sebenarnya aku memiliki banyak pertanyaan untuk disampaikan mengenai ketidakpahamanku tentang suatu materi. Dan ketika didiskusikan di forum itu yang akan menjawab pertanyaan itu mahasiswa lain. Hal itu sering menimbulkan keraguan akan ketepatan
4 DIANNS.ORG Liputan yang berjudul Effects of School Closures on Foundational Skills and Promising Practices for Monitoring and Mitigating Learning Loss, kehilangan keterampilan dasar mahasiswa beresiko menimbulkan disintegrasi terhadap sistem pendidikan. Terlebih pada sistem pendidikan yang menerapkan target pencapaian tinggi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, telah mengakui bahwa PJJ yang berkepanjangan memiliki dampak negatif terhadap para pelajar. “Kita sudah tahu bahwa PJJ itu tidak optimal dalam hal pencapaian belajar. Kesenjangan kualitas antara yang punya akses ke teknologi dan yang tidak semakin besar. Kita beresiko memiliki generasi dengan learning loss, Lost Generation,” tuturnya dalam konferensi pers mengenai Penyesuaian Keputusan Bersama Empat Menteri tentang Panduan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 (7/8/2020). Safanisa Alifia turut menuturkan bahwa tumpukan tugas yang membebani dan berkurangnya penguasaan materi dalam PJJ berdampak pada psikologis. Saat menjelang pekan UTS, ia menjelaskan, “Saking horornya kuliah online dan banyaknya tugas, membuat banyak teman mahasiswaku stress dan bahkan ada yang keluar dari kampus. Aku sendiri sempat berpikir kalau aku sudah merasa tidak kuat daring terus-terusan, kaya tugas banyak banget, materi juga tidak ada yang paham dari dosen.” Refleksi terhadap PJJ Sisi lain, tidak adanya perjumpaan secara riil dalam PJJ direfleksikan oleh Lucia Ratih Kusumadewi, Dosen Sosiologi UI. Ia menuturkan perjumpaan secara riil merupakan hal yang paling inti dalam pendidikan. Sedangkan saat PJJ, hal itu tidak terjadi. Menurutnya banyak hal yang harus dihadapi oleh mahasiswa dalam satu waktu sehingga berpengaruh pada konsentrasi. “Makanya kalau misalnya banyak teman-teman yang punya kesulitan ekonomi maka ia tidak konsen duluan untuk melakukan PJJ. Ada masalah keluarga, sudah pasti nggak konsen. Termasuk stress, kebosanan, dan lain-lain. Jadi, masalahnya banyak untuk PJJ itu sendiri,” ujar beliau. Lebih lanjut, Lucia menyorot pentingnya keterlibatan warga perguruan tinggi saat PJJ. Harus ada kesukarelaan dan kehendak bebas untuk membangun komitmen bersama. Seperti ketika menghadapi kebosanan pelaksanaan PJJ, diperlukan suatu ruang refleksi bersama dalam memahami suasana kelas.
5 DIANNS.ORG Liputan “Jadi saya nggak pernah mematok ini bahannya ini, kamu harus mem - pelajari a,b, dan c. Harus meng - umpulkan tugas ini itu yang bikin stress. Nah, kita harus melihat situ - asi, kalau situasi pada semangat kita kasih umpan. Kalau pun lagi stress kita coba menghidupkan suasana sehingga ada suasana yang meng - hibur dan kemudian bangkit untuk merenung atau refleksi,” tuturnya. Penulis: Rose Diana Fridayani & Tiara Maulidah
6 DIANNS.ORG Liputan Dilema UKT, Antara Lanjut atau Cuti? Uang Kuliah Tunggal (UKT) di da - lam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 merupakan keseluruhan biaya operasional yang ditanggung se - tiap mahasiswa per semester pada pro - gram studi di perguruan tinggi negeri berdasarkan kemampuan ekonominya. Pembahasan mengenai UKT tidak per - nah sepi dibicarakan, terutama sejak merebaknya pandemi Covid-19. Pan - demi Covid-19 menuntut pemerintah mengeluarkan kebijakan terbaru untuk menekan angka penyebaran virus. Bers - esuaian dengan hal ini, Rektor Univer - sitas Brawijaya mengambil tindakan yakni dengan mengeluarkan Peraturan Rektor Nomor 35 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan kampus tangguh Uni - versitas Brawijaya dalam masa dan pas - ca pandemi Covid-19 bahwa kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan secara daring sejak pemberlakuan peraturan rektor tersebut yakni Juni 2020 hingga akhir semester ganjil 2020/2021. Na - mun, pelaksanaan pembelajaran daring tetap berlanjut dengan pemberlakuan Surat Edaran Rektor Universitas Braw - ijaya Nomor 9667/UN10/PP/2020. Pada semester genap kemarin ke - bijakan UKT mendapat banyak kri - tikan dan saran. Amarah Brawijaya menjadi salah satu aliansi yang ter - us mengawal kebijakan UKT ini. Per tanggal 11 Januari 2021 melalui EM, DPM UB, dan BEM/DPMF men - yampaikan aspirasi kepada pihak rek - torat mengenai tuntutan mahasiswa perihal Pemotongan UKT 50%, Mel - ibatkan mahasiswa dalam kebijakan UKT, dan UKT mahasiswa mantan penerima bidikmisi. Pada audiensi da - dakan yang dilakukan pada tanggal 19 Januari 2021 dengan pihak rektorat, disampaikan bahwa pemotongan UKT 50% secara otomatis tidak bisa dilaku - kan. Pihak Amarah Brawijaya menilai alasan yang diberikan pihak rektorat sangat normatif dan terkesan birokratis. Sebagai respon dari penolakan pihak rektorat terkait pemotongan UKT 50%, Amarah Brawijaya membentuk gerakan alternatif, yakni gerakan filantropi. Ger - akan ini sendiri adalah gerakan kolektif yang dibentuk oleh Amarah Brawijaya untuk membantu Mahasiswa UB yang terancam studinya karena masalah fi - nansial. Melalui data yang di release pada laman ig amarah brawijaya sebanyak 139 mahasiswa mendaftarkan diri pada ger - akan filantropi. Total uang masuk yang didapat melalui penggalangan dana gera - kan ini sebesar Rp 120. 730.000 dan sudah didistribusikan sebesar Rp. 113. 990.000 kepada 53 mahasiswa. Data ini bisa diak - ses pada bit.ly/PressReleaseFilantropi. Mengenai kebijakan UKT telah dia - tur dalam Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomor 40 tahun 2020 tentang
7 DIANNS.ORG Liputan 12,83% memberhentikan pekerja dalam jangka waktu singkat, 17,06% dirumahkan (tidak dibayar), dan 32,66% pengurangan jam kerja. Seorang berinisial M merupakan salah seorang dari sekian banyak mahasiswa UB yang terkendala masalah ukt. Mahasiswi ini adalah anak kedua dari enam bersaudara. Orang tuanya berprofesi sebagai pedagang telur dan ternak bebek. Ia mengaku perekonomian keluarganya terhambat saat pandemi seperti ini. “sedang pandemi perekonomian orang tua terhambat tapi tetep suruh bayar full, kemaren udah ngajuin penurunan tapi diabaikan. Terus beberapa hari selesai KRS masih belum ada kejelasan dari rektor, jadi aku bingung kayak ga mau nerusin kuliah gitu karena terhambat itu.” Tuturnya. Mahasiswi ini sudah mengajukan permohonan keringanan pada laman yang tertera pada Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomor 40 tahun 2020 tentang PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGURANGAN, PERUBAHAN KELOMPOK, DAN PEMBAYARAN UANG KULIAH TUNGGAL SECARA MENGANGSUR yaitu https://bantuankeuangan.ub.ac.id. Namun belum ada kepastian hingga beberapa hari saat KRS akan berakhir. Sehingga ia merasa cemas tidak mendapatkan jadwal. Akhirnya orang tuanya memberikan uang untuk membayar UKT. Uang itu pun didapatkan dari hasil meminjam bank. Tanggungan keluarganya pun bertambah PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGURANGAN, PERUBAHAN KELOMPOK, DAN PEMBAYARAN UANG KULIAH TUNGGAL SECARA MENGANGSUR. Dari banyaknya pengaju, berdasarkan data dari ADVOKESMA EM UB, sebanyak 498 mahasiswa dari fakultas FH, FT, FAPET, FISIP, FILKOM, FIB mendapatkan penolakan dari pengajuan permohonan keringanan UKT. “permohonan saya ditolak padahal persyaratan udah saya penuhi semua,” ucap kecewa salah satu mahasiswa pengaju. “Saya ingin tahu alasannya kenapa pengajuan saya ditolak,” lanjutnya. “pandemi gini. Secara logika,kita ga usah berbicara dasar hukum, ekonomi, akuntansi tapi secara logika aja secara kemanusiaan. Pandemi fasilitas online ga ada yang kita gunakan. Secara penuh kewajiban UKT kita bayar tapi haknya apakah kita dapet? Kan nggak secara penuh. Kuota bayar sendiri katakan dapet dari kemdikbud. Itukan dapet dari kemdikbud bukan dari rektorat. Hp punya kita laptop punya kita. Kita Cuma dapet hak pengajaran itupun ga optimal.” Tutur salah satu mahasiswa. Pada keadaan pandemi seperti ini perekonomian nasional menurun yang juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Banyak mahasiswa yang orang tuanya dirumahkan dan yang penghasilan per bulannya berkurang akibat pandemi virus corona ini. Menurut data yang dipaparkan BPS per September 2020 terdapat 3,69% pekerja dirumahkan (dibayar penuh), 6,46% dirumahkan (dibayar sebagian),
8 DIANNS.ORG Liputan Tak disangka, satu hari sebelum batas hari akhir pengisian KRS, ia mengaku sempat dihubungi seseorang dari pihak rektorat yang menyatakan bahwa ia mendapat keringanan UKT tetapi, ia sudah terlanjur membayarkan UKTnya. Selanjutnya, pihak rektorat tersebut menanyakan “Apakah orang tua memiliki tanggungan di bank? nanti bisa difoto dan akan kami bantu”. Kemudian ia pun mengirim foto tanggungan bank milik orang tuanya tetapi, mahasiswi ini mengaku kecewa sebab tidak ada kelanjutan dari pemberian bantuan ini “Sampai saat ini, foto tanggungan bank yang saya beri pada pihak rektorat tidak dilihat, padahal sudah berjanji untuk dilunasi” ujarnya. Terakhir, ia mengungkapkan respon orang tuanya terkait hal ini “Seharusnya kalau memberi bantuan jangan terlambat, karena kami masih harus menjual ternak untuk membayar UKT, itu pun masih kurang, dan akhirnya masih harus pinjam juga” Pada pertor No. 40 tahun 2020 pada Bagian Kedua Validasi Pasal 9 poin 4 dikatakan hasil validasi ditetapkan oleh Wakil Dekan/Wakil Ketua Pendidikan Vokasi Bidang Umum dan Keuangan apakah permohonan itu disetujui atau ditolak. Namun hingga saat ini mekanisme validasi ini masih belum jelas. Kami sudah coba menghubungi pihak wadek untuk menanyakan perihal transparansi ini namun sampai berita ini diterbitkan pihak wadek tidak memberikan jawaban. Hal serupa juga dialami oleh beberapa pengurus BEM FIA setiap kali menanyakan data mengenai transparansi perihal UKT. Di FIA sendiri terdapat 139 mahasiswa yang mengajukan perubahan kelompok UKT, 44 mahasiswa mengajukan pengangsuran UKT, 376 mahasiswa mengajukan pengurangan UKT dan 90 mahasiswa mengajukan pembebasan sementara. Seperti yang tertera pada BAB IV Pasal 8 Poin 2 mengenai verifikasi dan validasi lembaga eksekutif mahasiswa hanya melakukan verifikasi data dengan memeriksa keaslian dan kebenaran dokumen permohonan dan bukti pendukung lain. “Selama ini kan yang ambil alih mayoritas bem, dpm Cuma bantu-bantu aja. Wewenang verifikasi dan follow-up cuma bem” ungkap salah satu pengurus BEM FIA. “bu, kalau memang teman-teman ibu ini membutuhkan data lebih, kita kan bisa aja kasih tau lifestylenya di rumah gimana, atau entah tetangganya bisa lihat, atau dari social medianya, kita juga bisa kasih pertimbangan lebih biar gak ada lagi pemberian keputusan yang salah, kita tuh udah kasih akses” lanjutnya. Tetapi, dekanat tidak menggubris tawaran akses yang diberikan BEM FIA tersebut. Universitas Brawijaya resmi melaksanakan Perkuliahan Tahun Akademik 2021/2022 dengan metode blended learning dengan rincian 75% daring dan 25% luring. Hal ini tertera pada Surat Edaran Rektor
9 DIANNS.ORG Liputan Nomor 4633/UN10/TU/2021 Tentang Perkuliahan Tahun Akademik 2021/2022. Dalam Surat Edaran ini Rek - tor memutuskan tidak semua mahasiswa yang akan melakukan perkuliahan secara luring. Hanya mahasiswa pada semes - ter I, Semester III dan mahasiswa yang menyusun tugas akhir yang dapat hadir di kampus. Hal ini tentu mendapatkan banyak tanggapan dari mahasiswa. Ter - lihat dari banyaknya komentar yang ter - dapat pada akun ig Universitas Brawijaya pada postingan mengenai Surat Edaran ini. Apakah nanti hanya segelintir maha - siswa saja yang benar-benar bisa mera - sakan manfaat ukt yang dibayarkan full? Penulis: Anggita Sasmita Fernanda & Nisrina Salma Kamila Nasution
10 DIANNS.ORG opini Pertengahan Maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan surat edaran mengenai perintah kepada seluruh instansi pendidikan untuk menunda pembelajaran tatap muka dan meng - gantikannya dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ merupakan se - buah metode yang memanfaatkan aplikasi video conference sebagai sarana utama. Metode itu dijadikan sebagai jawaban final pemerintah da - lam mengatasi penyebaran virus co - rona. Secara kasat mata PJJ memang terlihat sebagai kegiatan yang fleksi - bel, namun dengan intensitas yang cukup padat, membuat kata fleksibel pun menjadi utopis. Intensitas yang padat ini juga akan memberikan pengaruh pada kesehatan mental. Kesehatan mental peserta didik terutama mahasiswa dipertaruhkan dalam kegiatan PJJ ini. Karena se - cara teknis mahasiswa dituntut untuk menghadap layar selama kurang lebih lima jam sehari. Itu pun hanya pada proses pembelajaran dan belum ter - masuk pada pengerjaan tugas. Pada proses PJJ ini para pengajar (dosen) lebih rajin memberikan tugas daripa - da menjelaskan materi yang dipelajari. Keadaan ini membuat maha - siswa menjadi lebih mudah men - galami kelelahan yang berakibat pada resesi kesehatan mentalnya. Mengutip Dirjen WHO dalam kampanye Hari Kesehatan Mental Sedunia (10/10/2020) “Kehidupan kita sehari-hari telah banyak beru - bah akibat pandemi Covid-19, para siswa yang kemudian beradaptasi dengan kelas online, sedikit kontak dengan guru dan teman, dan ce - mas tentang masa depan mereka”. Dari statement tersebut tersimpul bahwa masalah kesehatan mental merupakan isu yang perlu digaris - bawahi, mengingat kecemasan yang berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Sep - erti yang diwartakan Medical News Today, orang yang mengalami ke - cemasan berlebihan akan lebih mu - dah mengalami stres dan depresi. Kesehatan Mental dikala Pandemi
11 DIANNS.ORG opini sepuluh mahasiswa lebih mudah merasakan lelah dalam kegiatan PJJ ketimbang pembelajaran tatap muka. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari mereka hanya duduk statis dan menghadap layar komputer. Posisi duduk statis yang terlalu lama dapat mengakibatkan pembatasan aliran darah sehingga akan lebih mudah merasakan lelah (Tirto.id). Pada hasil survei yang saya lakukan juga terlihat jelas ada beberapa mahasiswa yang merasa dihantui oleh kendala-kendala teknis. Kendala teknis ini biasanya diakibatkan oleh koneksi bermasalah, kuota habis, dan distract dari lingkungan sekitar. Kadang, kendala teknis semacam ini tak dihiraukan oleh para pengajar – dalam hal ini dosen – sehingga muncul ketimpangan informasi antar mahasiswa yang tak memiliki masalah teknis dan yang bermasalah pada teknis. Pada akhirnya ketimpangan informasi ini mengakibatkan dampak kecemasan pada beberapa mahasiswa mengenai pengerjaan ujian. Seperti yang kita tahu bahwa biasanya dosen akan memberikan soal ujian yang sama dengan informasi yang telah disampaikannya ketika masa perkuliahan. Sebenarnya gangguan kesehatan mental ini lumrah dialami oleh remaja. Hal ini diperkuat dengan data dari WHO mengenai gangguan mental emosional yang dialami oleh usia sebelum 24 tahun (usia remaja). Data menunjukkan 75% gangguan mental emosional umum terjadi pada usia sebelum 24 tahun. Selain itu, dalam sebuah riset berjudul “Psychological impacts from COVID-19 among university students: Risk Factors across seven states in the United States” menunjukkan bahwa mahasiswa dikenal sebagai populasi yang rentan menderita kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, dan gangguan pola makan yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Apalagi ketika pengalaman pendidikan mereka berubah secara radikal – seperti isolasi selama pandemi Covid-19 – beban kesehatan mental dari mahasiswa akan semakin besar. Ketika hasil riset dari mahasiswa Amerika ini saya benturkan dengan survei yang saya lakukan mengenai kesehatan mental mahasiswa asal Surabaya, menunjukkan ada benang merah yang tersimpul, yakni kecemasan perihal kondisi tubuh mereka. Dari data survei menunjukkan bahwa delapan dari
12 DIANNS.ORG opini PJJ dan Kehidupan Sosial Sigmund Freud dalam teori psikoanalisisnya menjelaskan tentang komponen kepribadian yang hadir sejak lahir (naluri). Secara naluriah manusia melakukan kegiatan tidak lepas dari lingkungan kehidupan sosial – bercengkrama dengan manusia lain. Dengan adanya PJJ yang menelikung mahasiswa pada kehidupan sosialnya, muncul permasalahan baru yakni alienasi dengan kehidupan sosial. Rasa keterasingan terhadap kehidupan sosial ini secara tidak sadar mempengaruhi psikis mahasiswa karena secara fundamental mahasiswa merupakan fase transisi sebelum terjun ke masyarakat. Rasa keterasingan ini bisa menjadi penyebab munculnya kecemasan yang berakibat pada bertambahnya beban pikiran mahasiswa. Beban-beban pikiran itulah yang pada akhirnya menyebabkan mental mahasiswa menjadi fluktuatif. Kesehatan mental yang fluktuatif jika tidak segera ditangani akan berdampak pada kematian. Pada 2017 lalu musisi utama Linkin Park Chester Bennington bunuh diri karena mengalami depresi berkepanjangan dengan upaya penanganan yang keliru. Chester memilih menangani depresinya dengan mengonsumsi alkohol yang bisa menekan susunan saraf pusat untuk menghilangkan sementara gejala depresi dan kecemasan. Mengutip TEMPO.CO, spesialis kedokteran jiwa dari klinik Psikosomatis Omni International Hospital mengatakan sebagian besar kasus kecanduan alkohol di Indonesia terjadi karena karena orang yang mengalami depresi memilih mencari pertolongan sendiri. Dari mata segelintir orang PJJ lebih terlihat sebagai kegiatan yang fleksibel dan jawaban final untuk mengatasi pandemi berkepanjangan. Tetapi, yang luput dari pandangan umum perihal PJJ ialah beban yang membebani pikiran. Mulai dari kelelahan, kecemasan, hingga keterasingan. Sebagai makhluk sosial, mahasiswa memiliki kondisi kesehatan mental yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan perbedaan orientasi mahasiswa dalam menanggapi realita. Untuk itu, mahasiswa perlu berefleksi dan berkontemplasi terhadap apa yang mengganggu kestabilan mental mereka untuk mengantisipasi jika hal serupa terulang. Sebab, masalah kesehatan mental ibarat bom waktu yang jika tak sesegera mungkin ditangani, maka akan meledak sewaktu-waktu. Penulis: M. Fachrur Rozi
14 DIANNS.ORG cerpen Aku segera menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, berusaha untuk mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja aku dapatkan dari grup tersebut. Berikut saya lampirkan tugas yang wajib Anda kumpulkan besok hari Jumat. Pesan berikutnya mampu membuatku menggerutu pelan. Dosenku memberi tugas lagi, huft. Padahal yang kemarin saja, masih ada yang belum selesai. Tugas lagi, tapi enggak pernah ngajar dari semester kemarin. Batinku keki. Tidak munafik, jika saat asinkronus aku juga senang. Ya, karena kebanyakan dosen yang menyampaikan materi asinkronus lebih menekankan ke belajar mandiri dengan modal menyodorkan tugas. Mudah, tinggal buka buku serta browsing di internet dan bimsalabim tugas selesai. Namun, apa ilmu yang akan aku dapat jika terus menerus begini? Mungkin dari segi materi oke, tapi dari segi pemahaman? Pembelajaran seperti contohnya akuntansi atau perpajakan yang haruslah dijelaskan tata cara pengerjaannya akan menjadi rancu jika terus menerus mendapat jatah asinkronus. “Baiklah, kuliah hari ini saya akhiri. Selamat siang, Teman-Teman.” Tutup dosen muda yang mengampu mata kuliah tiga sks ku pada siang ini. Dengan gerakan terburu-buru, aku mencabut earphone yang berada di kedua telingaku setelah mendengar kalimat penutup kuliah dari dosen itu. Akhirnya, aku bisa menggerakkan punggungku yang terasa pegal. Sungguh! Menyiksa sekali harus duduk tegak di depan laptop sedari tadi pagi dikarenakan hari ini aku mendapatkan jatah delapan sks untuk tiga mata kuliah. Beruntung sekali aku, haha. Ponselku bergetar, kulirik nama seseorang yang mengirimkan pesan itu sembari mematikan laptop yang sudah kerja rodi dari kemarin. Jangan lupa nanti malam rapat! Ternyata dari seorang kawan yang satu organisasi denganku. Isi pesannya mampu membuatku mengumpat pelan, adakah yang lebih menyebalkan dari ini? Seakan Tuhan mendengar doaku, satu pesan lagi muncul dengan selang beberapa detik. Pesan berikutnya muncul dari salah satu grup mata kuliah. Cuap-cuap Persoalan Kuota
15 DIANNS.ORG cerpen “Nduk! Jemuran di belakang tolong diangkat! Sudah jam segini!” Teriakan ibu menyadarkanku dari lamunan tugas kuliah dan persoalan organisasiku. Dengan berteriak juga, aku menjawab, “Nggih!” Aku bergegas keluar kamar untuk mengangkat jemuran di halaman belakang. Setelah memilah jemuran yang sudah kering, aku memindahkannya ke keranjang khusus untuk pakaian yang belum disetrika. Beranjak dari kamar tempat keranjang pakaian diletakkan, aku menuju dapur untuk sekadar membasahi kerongkongan. Aku duduk di kursi reyot peninggalan kakek ku dengan mengamati langit-langit plafon yang berlubang. Ya beginilah keluargaku, sederhana. Dengan ayah yang menjadi karyawan swasta dan ibuku yang kadang menjadi tukang masak dadakan jika diminta oleh tetangga untuk hajatan. Aku anak pertama dan mempunyai satu adik perempuan yang masih SMP. “Ibu, minta uang buat beli kuota dong!” Todong adikku kepada ibu yang sedang memasak di dapur. Dari tempatku duduk, sayup aku mendengar ibu menghela nafas, “Yang kemarin sudah habis?” “Pak Guru kasih tugas buat upload video tari, senam, dan praktek bola voli, Bu,” Adikku menjawab dengan nada kesal sambil tangannya mengambil tempe. “Pas aku upload kemarin, habisnya hampir satu giga. Lagipula, kuota bulan kemarin ya dipake buat bulan kemarin. Bulan ini beda lagi jatah kuotanya.” Jelasnya setelah tempe tersebut tertelan. “Iya, nanti ibu coba minta ke ayah ya.” Jelas ibu dengan mematikan kompor. “Janji?” Adikku nampak memastikan. Ibu mengangguk, “Iya.” Setelah kepergian adikku, aku melihat ibu duduk di kursi meja makan. Dengan tergesa, aku segera menghampiri ibuku, “Ada yang bisa aku bantu lagi gak?” Ibu nampak kaget, “Kamu ngagetin!” Padahal aku tidak berniat mengageti ibu, sepertinya beliau sedang melamun. “Ibu mikirin apa?” Tanyaku, melihat raut kesedihan di matanya.
16 DIANNS.ORG cerpen “Ada, Bu. Nanti aku coba tanya ke adik deh.” Ucapku. Binar di mata ibu nampak lagi, “Boleh! Ibu minta tolong sama Mbak buat tanyain ke adik ya?” Aku mengangguk, setuju. Karena tanggungan kuota data memang sedikit memberatkan. Apalagi, kami tinggal di daerah pelosok. Akan sulit dalam menangkap pembelajaran jika provider yang kami pakai tidak memiliki sinyal yang kuat. Provider tersebut juga sangat mahal bagi kaum sederhana seperti kami dan kadang kala saat hujan sedang deras-derasnya, tidak ada sinyal sama sekali. Tak kusadari rembulan telah menyapa ketika aku mengerjakan tugas-tugasku sedari senja. Pukul delapan, batinku ketika melirik jam di laptop. Meregangkan otot sejenak. Aku segera berdiri, mengambil minum, dan kembali berhadapan dengan laptop untuk mengikuti rapat organisasi. Aktivitas itu kulakukan di ruang keluarga ditemani adikku yang sedang bersantai sambil menonton televisi. “Dek!” Gadis itu hanya bergumam untuk menjawab panggilanku. Mata bulatnya masih fokus menatap televisi. “Kamu minta kuota sama ibu ya?” Tanyaku langsung. Adikku yang mulai beralih fokus itu menengok padaku, “Iya.” Jawabnya enteng. “Memang apa? Ibu nggak lagi mikirin apa-apa.” Kilahnya. Bohong! Ibu berbohong padaku. Pasti ada yang ia sembunyikan. Namun, melihat raut wajah ibu yang lelah, aku mengurungkan niat untuk menginterogasi beliau. Sebagai gantinya, aku bertanya, “Ibu masak apa?” “Tempe sama sayur bayam.” Jawabnya. Aku mengerutkan alis, ”Tidak ada tahu? Pas aku minum tadi, kayaknya aku lihat ada tahu di kulkas.” Kali ini ibu tersenyum, “Maaf,” Katanya. Kulihat ia menarik napas pelan, “Memang ada, Mbak, tapi masih mentah. Ibu mau goreng, tapi minyak sama gas tinggal dikit. Mau ibu irit-irit sampai besok.” “Kenapa nggak beli?” Tanyaku heran. Ibu tertawa kecil, “Adik tadi minta kuota. Uangnya mau beli kuota dia. Sebentar lagi kuota kamu juga kadaluarsa kayak kuota Adik, ‘kan? Ini tanggal tua, ayah belum gajian, Mbak.” Jelasnya. “Besok tanggal sebelas aku dapat kuota bantuan kok. Emang adik nggak dapet bantuan kuota dari Kemendikbud?” Tanyaku pada ibu. Ibuku mengerutkan alis, “Loh, ada?”
17 DIANNS.ORG cerpen “Kamu memang nggak dapet kuota bantuan?” Tanyaku lagi. Adikku menggeleng, “Nggak.” Mengabaikan jawaban cueknya, aku bertanya sekali lagi, “Kok bisa kamu nggak dapet kuota itu?” Kulihat adikku menghela nafas, “Pihak sekolahku menyebalkan,” ia mengambil bantal yang ada di dekatnya lalu melanjutkan, “Kemarin aku ganti nomer karena hangus dan ternyata nomer lamaku belum keganti. Gak tau deh kenapa bisa gitu, padahal aku udah konfirmasi sama mereka.” “Kamu nggak tanya lagi?” “Sudah. Tidak direspon.” Jawabnya. Aku membulatkan mulut, tanda aku paham apa yang ia sampaikan. “Jujur aja, aku nggak tega minta uang ke ibu,” Kata adikku sendu, matanya menerawang jauh dan senyum kecut terbit dari bibirnya. “Saat awal pandemi, ibu masih ada uang tabungan. Tabungan itu dipakai buat beli hp karena hp ku yang lama belum bisa nyambung sinyal 4G. Beberapa bulan berlalu, laptop bekas yang kita beli dulu itu error, biaya perbaikannya mahal.” Lanjutnya. Lidahku kelu, aku belum bisa berkomentar mendengar curhatan adikku. Sebelum pandemi memang keluarga kami masih tergolong baikbaik saja karena ayah dan ibu dapat menghasilkan uang dengan banyaknya orderan. Lalu, saat semua sekolah dan universitas memutuskan untuk meliburkan para siswanya, disitu awal permasalahan dimulai. Ponsel yang dipegang adikku kala itu tidak secanggih sekarang, begitupula ponselku. Awal pandemi, sejujurnya aku bersyukur karena bisa meringankan beban keluargaku karena aku tidak perlu kos dan mengeluarkan biaya macam-macam untuk hidup sebagai anak rantau. Akan tetapi, aku menyadari adanya pandemi malah membuat keuangan keluargaku mandek dan seret. Adikku yang juga diminta untuk memiliki laptop, yang membuat ibuku panik mencari laptop dan mendapatkan laptop second dengan harga murah. Sayangnya, semua aspek di dalamnya murahan. Laptopnya sering overheat dan lag. “Heh! Malah ngelamun! Nanti kesambet loh, Mbak.” Ucap adikku mengaburkan lamunanku. Aku tersentak, berapa lama aku terdiam?
18 DIANNS.ORG cerpen Menatap sekali lagi mata bulat adikku, aku berjanji agar aku bisa sukses dan membahagiakan mereka. Malam semakin larut, aku berujar, “Tidur. Mata kamu juga harus istirahat, kasihan kalau dipaksa ngelihat layar mulu.” Adikku tertawa dan menurut. -endPenulis: Cahyaning Galuh Pramesti “Sorry.” Aku mengerjap lambat, “Tapi sekolah kamu aman, ‘kan?” Tanyaku. “Aman. Kuliah kamu gimana, Mbak? Beasiswa kamu masih baik juga, ‘kan?” Tanyanya beruntun. Aku tersenyum, “Aman semua. Nanti kalau uang beasiswa aku udah keluar bulan ini, dipakai buat beli kuota kamu ya?” Adikku nampak keberatan tapi mau tak mau ia mengangguk. “Sekolah online terutama kuliah online ternyata berat banget ya, Mbak. Aku ngira enak karena semuanya dilakuin di rumah. Ternyata enggak.” Keluh adikku. Aku tersenyum, membetulkan dalam hati. Apalagi saat di rumah, mau-tidak mau pekerjaan rumah, kuliah, bahkan masalah yang ada di dalamnya menjadi beban tersendiri dan kadang dapat menjadikan aku tertekan. Namun, sebagai anak pertama aku tidak mau mengekspresikannya. Biar semua aku tanggung sendiri karena aku sadar ekspektasi mereka yang besar terhadapku, membuatku mau-tidak mau mengetahui jika mereka menaruh harap besar kepadaku.
19 DIANNS.ORG resensi film FREEDOM WRITERS: Kegigihan Seorang Guru Freedom Writers merupakan kisah nyata seorang wanita cerdas bernama Erin Gruwell yang melamar menjadi guru di SMA Woodrow Wilson, Amerika Serikat. Kegigihannya dalam menegakkan pendidikan diuji ketika SMA Wilson tidak lagi menjadi sekolah terbaik di kotanya karena kebijakan integrasi yang membuat sekolah ini mau tidak mau harus menerima murid angkatan baru tanpa memandang latar belakangnya. Perjuangannya dimulai saat Gruwell ditugaskan menjadi guru di kelas 203, dimana kelas itu berisikan anakanak berandal yang sudah di didik keras sejak kecil oleh orangtuanya untuk pandai berkelahi agar tidak ditindas oleh ras yang berbeda. Gruwell mulai memutar otaknya untuk mencari cara agar menyatukan para muridnya itu dan berusaha menyadarkan mereka agar tidak melupakan pendidikan. Berbagai cara telah ia lakukan mulai dari mengajak mereka ke Museum Holocaust yang merupakan saksi sejarah korban genosida pada masanya, sampai menulis diary tentang keseharian mereka demi membangun hubungan baik antara guru dengan para muridnya. Kegigihan Gruwell yang digambarkan pada film ini, lambat laun membuat para muridnya mulai menuruti perkataannya. Misi mulia Gruwell dalam menyejahterakan pendidikan terlihat jelas saat dirinya rela bekerja paruh waktu demi mengumpulkan dana untuk membeli beberapa buku bacaan agar menumbuhkan semangat belajar para muridnya. Sebenarnya, dirinya sudah berusaha untuk meminjam buku di perpustakaan, namun respons dari sang kepala departemen sekolahnya membuat ia terpaksa untuk menelan penolakannya.
20 DIANNS.ORG resensi film Akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengorbankan orang dari ras kulit hitam yang tidak bersalah itu atas kasus penembakan ini. Keresahan Eva dalam memihak antara teman satu gengnya yang sesama etnis Latina, dengan seorang ras kulit hitam yang tidak bersalah tadi akhirnya berhasil diyakinkan oleh Gruwell. Saat persidangan kasus itu, Eva sebagai saksi berani mengungkapkan kebenaran bahwa Paco adalah pelaku yang sesungguhnya. Ia berani berkata jujur karena ia sadar bahwa kebenaran tidak selalu harus memandang etnis atau ras yang sama, tetapi pada kenyataan yang sebenarnya memang terjadi. Akhir dari film ini digambarkan melalui perubahan pandangan para muridnya dalam memandang rasisme. Mereka yang awalnya saling berkelahi satu sama lain, kini tidak lagi terjadi karena hal itu tidak penting untuk dipermasalahkan. Mereka yang juga dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah pun juga mulai menyadari bahwa pendidikan itu penting bagi mereka. Gruwell menerbitkan diary para muridnya itu menjadi buku yang berjudul “The Freedom Writers” agar tidak ada lagi kasus rasisme yang terjadi, terutama pada anak sekolahan. Setelah lulus dari SMA Wilson, mereka pun menjadi orang pertama yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dalam keluarga mereka masing-masing. “Kau tidak bisa memaksa mereka untuk peduli terhadap pendidikannya. Mengajari mereka agar disiplin pun rasanya sudah cukup.” Respons dari sang kepala departemen sekolah didukung oleh para guru SMA Wilson. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk membantu Gruwell dan menganggap bahwa tindakan Gruwell sia-sia. Para guru senior yang merasa sudah lebih berpengalaman dari Gruwell pun seakan sudah dibuat menyerah oleh tingkah laku murid angkatan baru. Mereka seperti sudah dicap memiliki masa depan yang suram. Cerita ini tidak hanya mengisahkan tentang kegigihan Gruwell dalam mementingkan pendidikan para muridnya yang dianggap sampah masyarakat itu, tetapi juga kegigihan Gruwell dalam menghiraukan remehan-remehan dari oranglain yang diterima olehnya. Ia percaya bahwa para muridnya itu masih memiliki harapan untuk berubah menjadi lebih baik dan mempunyai masa depan yang cerah atas pendidikannya. Puncaknya adalah ketika muridnya yang bernama Paco, salah dalam menembak musuh incarannya yang tergolong ras kulit hitam. Saat itu Paco bersama Eva dan teman satu geng mereka yang merupakan sesama etnis Latina pergi ke mini market untuk menembak musuhnya itu. Namun tembakan Paco malah meleset dan mengenai teman sekelasnya yang merupakan imigran dari Kamboja.
21 DIANNS.ORG resensi film Dari kisah “Freedom Writers” kita menyadari bahwa peran guru sangat penting untuk mendidik para muridnya. Gruwell berhasil membuktikan ucapan para guru senior yang menganggap bahwa hasil jeri payahnya sia-sia itu salah, usaha tekunnya sebagai bentuk tanggung jawab atas masa depan pendidikan para muridnya berbuah manis. Selain itu upayanya dalam mendekati para murid melalui buku bacaan nyatanya juga sangat berpengaruh. Literasi yang dilakukan oleh mereka, seperti membaca buku bacaan yang diberi oleh Gruwell dan menulis diary rupanya dapat mengubah pikiran mereka. Dengan membaca dan menulis mereka bisa meluapkan perasaannya atas segala hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Dengan cara itu pula Gruwell dapat memahami perasaan yang sebelumnya ditutupi oleh rasa gengsi masing-masing para muridnya. Para murid yang diajarnya itu berhasil menyadari bahwa perilaku mereka salah, terlebih tindakan intoleran mereka kepada ras yang berbeda dan hanya mau bergaul dengan ras yang sama. Sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dengan berbagai macam suku dan ras, sudah seharusnya kita saling menghormati dan menghargai apa yang berbeda dengan kita. Film ini berhasil dikemas dengan baik oleh sang sutradara melalui penggambaran alur yang mudah dipahami, serta didukung oleh akting dari para pemainnya yang membuat penonton ikut merasakan kepedulian atas masa depan pendidikan para remaja yang bermasalah. Konflik permasalahan remaja yang biasanya hanya seputar percintaan, pada film ini juga dijelaskan tentang pencarian jati diri masing-masing para murid. Selain itu, film ini juga mengandung kisah inspiratif untuk tetap memperjuangkan pendidikan demi generasi muda yang kelak akan memimpin bangsanya. Sutradara : Richard LaGravenese Penulis : Richard LaGravenese Pemain : Hilary Swank (sebagai Erin Gruwell), Imelda Staunton (sebagai Margaret Campbell) Durasi : 122 menit Tahun : 2007 Penulis: Aqila Malik Hargiyarti
22 DIANNS.ORG resensi buku Esensinya ialah memberi kebebasan para murid menentukan apa yang akan mereka pelajari. Berawal dari riset akar kata sekolah yang dilakukan olehnya. Ia menemukan asal-usul kata sekolah yang berarti tempat untuk mengisi waktu luang. Orangorang zaman dulu mempelajari keterampilan untuk hidup langsung dari alam. Seperti bercocok tanam atau memancing. Mereka tidak hanya mempelajari teori saja, tetapi juga sekaligus praktik. Dewasa ini sekolah telah menjelma seperti sebuah perusahaan. Layaknya sebuah perusahaan yang selektif dalam memilih karyawan berdasarkan latar belakang, begitu juga dengan sekolah saat ini. Mendengar kata sekolah, orangorang akan membayangkan suatu tempat di mana ia melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar. Duduk di bangku, memakai seragam rapi, juga mengerjakan tugas yang seabrek. Tapi, apakah belajar selalu harus dilakukan seformal itu? Melalui buku berjudul Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang menceritakan ada pula sekolah yang tak punya daftar mata pelajaran baku, tak punya kelas-kelas yang dibagi-bagi pertingkatan atau jurusan, juga tak menyelenggarakan ujian kolektif seperti pada umumnya. Dibalik Kata Sekolah
23 DIANNS.ORG resensi buku Banyak peraturan yang dibuat dengan standarisasi yang tinggi sehingga tidak sembarang siswa bisa diterima di sekolah. Apalagi pada sekolah swasta, setelah dinyatakan lulus tes, siswa harus membayar uang pangkal yang tak sedikit nominalnya. Bagi kelas atas hal ini tidak menjadi permasalahan, sebab mereka katanya lebih mengutamakan mutu dan fasilitas yang dirasakan para siswa. Akan tetapi, hal tersebut terkadang juga memberatkan orang tua, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Pasalnya dengan melihat angka penghasilan, mereka cenderung mengutamakan biaya yang terjangkau dalam menyekolahkan anaknya. Kultur yang berada pada perusahan ialah seringnya ditemui karyawan yang tak jarang menggunakan jalur terlarang. Menyuap orang dalam agar bisa diterima kerja merupakan salah satu caranya. Begitu juga sekolah, banyak orang tua yang lebih memilih jalan sesat ini. Mereka bisa saja menyogok kepala sekolah atau menggunakan joki saat tes demi dapat masuk ke sekolah idaman. Alasannya banyak, misalnya karena tidak ingin nama baik dirinya tercoreng karena anaknya tidak bisa masuk sekolah favorit. Terlepas dari permasalahan diatas, ada permasalahan yang tak kunjung selesai. Apalagi kalau bukan tentang perubahan sistem pendidikan nasional. Perubahan sistem ini juga tak luput dibahas oleh Roem. Begitu banyak model pembaharuan seperti unit lesson, input-output matrix, end-means analysis, team teaching, integrated curricula dan sebagainya, yang justru bukan menyederhanakan tetapi makin meruwetkan dengan tingkat keberhasilan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Bahkan, Roem mengatakan Selamat tinggal, sekolah! Loh. Akibat dari ketidakjelasan sistem pendidikan nasional ini, bahkan sekarang banyak anak muda yang lebih memilih untuk menjadi selebgram atau artis tiktok dibanding melanjutkan pendidikannya. Tidak heran jika para anak muda mengambil jalan pintas untuk sukses. Karena mereka melihat perilaku dari orang tua, pemerintah, mungkin juga idola yang bisa saja menghalalkan segala cara untuk sukses dalam waktu singkat. Katanya, sekolah sudah mati! Sesuatu dikatakan mati kalau ia tak lagi berfungsi sebagai mana mestinya. Sekolah yang seharusnya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa saat ini menjadi sebuah tempat untuk memamerkan kekayaan. Dapat ditemui kebanyakan siswa datang ke sekolah dengan tujuan lain yaitu untuk mendapatkan uang saku dari orang tua mereka. Orang mati ialah orang yang tak lagi berfungsi sebagai orang. Kota mati adalah kota yang tak lagi berfungsi sebagai kota. Begitu pun lampu mati adalah lampu yang tak lagi berfungsi sebagai lampu dan seterusnya.
24 DIANNS.ORG resensi buku meningkatkan, menyesuaikan, menambal sulam maknanya. Tetapi juga meniadakan, menafikan, mengubah atau mengganti dengan sesuatu yang lain sama sekali, yang berlawanan jika perlu, yang benar-benar baru dan membaharu! Judul Buku : Sekolah Itu Candu (Edisi Klasik) Penulis : Roem Topatimasang Tahun Terbit : 2020 Penerbit : InsistPress Jumlah Halaman : 159 Penulis: Siti Khoirah Umatin Kalau sekolah? Banyak masyarakat juga pemerintah yang beranggapan ketika lulus dari sekolah anak-anak akan menjadi pintar, berkarakter, punya keterampilan, menggenggam masa depan, lalu hidup bahagia. Masa iya? Lha wong anak-anak yang riang gembira tiba-tiba masuk sekolah malah menjadi generasi yang murung. Mereka menghabiskan belasan tahun hanya untuk menggunakan dua keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari seperti membaca dan menghitung. Mereka dipaksa mempelajari segala yang jauh dari kehidupan sosial mereka sendiri. Dan pada akhirnya, ijazah yang mereka terima pun bukan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan serta penghidupan yang layak. Sekolah sudah menjadi absurd dalam dunia modern kita saat ini. Bagaimana tidak? semua anak dituntut untuk bisa menguasai mata pelajaran yang diajarkan. Mesti siap juga dicap bodoh apabila tak mampu menguasai mata pelajaran tertentu, khususnya itung-itungan. Ibarat kata Paul Goodman bahwa kita memang bertumbuh dalam zaman yang serba-absurd, termasuk seluruh tatanan dan kelembagaan masyarakat yang juga serba-absurd. Roem menjelaskan, bukankah sekolah tidak perlu memiliki ukuran serba pasti dan serba mujarab untuk semua keadaan, waktu, dan ruang yang memang saling berbeda? Keberadaan lembaga sekolah seharusnya tidak sekedar memperbaiki,
25 puisi DIANNS.ORG Adaptasi Oleh: Tiara Tyas Dalam ruang sendiri tanpa sosialisasi Ku tatap layar kotak terang, ini kelasku Sejatinya, apa yang ku lakukan? Pertemuan online bersama raga offline Sebatas mendengar dongeng pengantar lelap Materi tersampaikan Tapi entah dengan penyerapan Lucu bukan, Dua minggu berakhir satu tahun Bukan waktu singkat hingga lupa kebiasaan Sampai hangus toleransi bersama hak asasi Apa perasaanku saja yang daring terasa bak joki tugas? Terperangkap lelah tanpa melawan Disini tergambar, Samar sudah arti pendidikan Karna bias literasi tanpa interaksi Juga sadar hati tapi kosong pikiran Bertahan sebab kewajiban Berdiri sebab harapan Pelik fikir ku, Tanpa tahu kapan ini berakhir
STAY UPDATE YOUR INFORMATION WITH US, BY FOLLOWING OUR WEBSITE AND SOCIAL MEDIA dianns.org Tuangkan kreatifitas & kontribusi kalian dalam bentuk opini dan sastra Dengan Ketentuan : - Mencantumkan identitas (Nama, NIM & Jurusan). - Tema bebas, - Tulisan maksimal seribu kata, - Times New Roman, 12 Kunjung dan Ikuti : @diannsmedia @dianns_media LPM DIANNS LPM DIANNS dianns.org @fil3760t Alamat Redaksi LPM DIANNS : Sekretariat Bersama Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Jalan Mt. Haryono No. 163 Malang, 65145