The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

LPM DIANNS menyajikan Majalah DIANNS edisi 58 dengan tema kelompok minoritas. Pembahasan dalam majalah ini terbagi dalam tiga tulisan utama. Terkait penganut kepercayaan—bagaimana kebijakan yang dipilih sekolah untuk para murid atau siswa sekolah yang menganut kepercayaan. Kemudian bagaimana para transgender melalui berbagai diskriminasi di kehidupannya hanya karena pilihan gender mereka, atau para mahasiswa Papua yang mendapatkan berbagai perlakuan rasis-diskriminatif hanya karena asal, warna kulit, maupun bahasa mereka.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dianns_Media, 2023-04-05 22:25:08

Majalah DIANNS Edisi 58

LPM DIANNS menyajikan Majalah DIANNS edisi 58 dengan tema kelompok minoritas. Pembahasan dalam majalah ini terbagi dalam tiga tulisan utama. Terkait penganut kepercayaan—bagaimana kebijakan yang dipilih sekolah untuk para murid atau siswa sekolah yang menganut kepercayaan. Kemudian bagaimana para transgender melalui berbagai diskriminasi di kehidupannya hanya karena pilihan gender mereka, atau para mahasiswa Papua yang mendapatkan berbagai perlakuan rasis-diskriminatif hanya karena asal, warna kulit, maupun bahasa mereka.

Keywords: Minoritas,Papua,Mahasiswa Papua,Transgender,LPM Dianns,FIA UB,Siswa Penghayat

menyemaikan senyum kecil pendengarnya diikuti kepala yang bergoyang kecil menekuni lirik - liriknya yang penuh harapan. Seakan hidup menjadi lebih baik saat mendengarkan lagulagunya. Mendengarkan album ini di saat merasakan kejenuhan atau mood sedang tidak bersahabat bisa menjadi salah satu penghibur hati. Dengan nada yang mendayu-dayu, lirik yang indah dan cukup menenangkan, lagu-lagu Vira di album ini bak suatu tempat istirahat di tengah kesibukan yang ada di dalam kepala pendengarnya. Meskipun album ini diciptakan dari pengalaman dan perasaan yang sangat personal bagi Vira Talisa, bukan berarti lagu-lagunya tidak bisa dinikmati oleh pendengarnya. Pendengar masih bisa merasakan arti kata perkata dari liriknya dan merasa relate. Jika ada yang berbeda antara lagulagu Vira di album ini dengan lagu-lagu sebelumnya yang telah dirilis ataupun lagu-lagu yang dinyanyikan Vira di SoundCloud, maka itu adalah sentuhan jazz nya yang tidak sekental dulu. Di album ini Vira lebih berekspresi dengan berbagai macam genre dengan sentuhan retro pop yang lebih kental. Jika ditilik kembali pada tahun 2016, saat pertama kali Vira mengeluarkan EP (mini album) cukup ada perbedaan yang sangat mencolok dalam hal durasi, dimana dalam EP yang dihadirkan Vira pada tahun 2016, memiliki rata-rata durasi yang cukup singkat antara 2-3 menit. Entah itu merupakan konsep yang ia lakukan atau memiliki makna tersendiri. Tetapi track-list album Primavera memiliki durasi lebih panjang dan ada di rata-rata kurang lebih 4 menit, yang mana ini menjadi sebuah kemajuan bagi para penikmat lagu-lagu Vira Talisa yang mungkin sempat merasakan bahwa lagu-lagu yang ada di EP sebelumnya cukup singkat. Tetapi untuk musik yang dihadirkan cukup sejalan, hanya saja pada EP yang sebelumnya vira sedikit menghadirkan nuansa-nuansa musik tahun 60-an yang dapat terdengar jelas pada lagu Whirlwind. Dari semua hal-hal positif yang terdapat pada album Primavera, meliputi musik yang dibuat cukup ceria dan membawa semangat, ternyata hal itu bisa menjadi pisau bermata dua yang mana dibalik keceriaan dan semangat yang dihasilkan oleh musik tersebut membuat suara vokal yang manis dari Vira kurang terdengar dengan jelas. Hal ini dapat terdengar dalam track pertama yang berjudul Primavera dimana terdengar terlalu banyak sekali ragam alat dan sound effect musik yang dimainkan secara bersamaan yang membuat suara dari sang vokalis menjadi sedikit redup dan kurang terdengar. Tetapi overall masih sangat enak untuk dinikmati, karena di track yang lain sangat bagus, mulai dari cara pengemasan lirik dan musik menjadi sebuah lagu terdengar sangat matang dan terarah jelas mau dibawa kemana lagu ini, dalam artian pendengar dapat dengan mudah menginterpretasikan maksud dari sang penulis lagu bahwa lagu ini memang diperuntukan bagi mereka yang sedang dalam keadaan membutuhkan sebuah nuansa ceria dan semangat baru dari hari-hari yang buruk. Selain itu, ada Farhan yang merupakan pendengar baru dari Album Primavera, ia baru mendengarkan album tersebut mulai dari awal tahun. Salah satu alasannya mendengarkan album Primavera adalah karena ia mulai bosan dengan musik-musik yang biasa ia dengarkan, lalu memutuskan untuk mencari angin segar dengan mulai mendengarkan lagu-lagu yang lain. “Aku dengerin sih baru-baru ini ya, awal-awal tahun gitu. Soalnya udah mulai bosan sama musik yang biasa aku denger, terus coba explore yang masih relate dan ternyata nemu juga Vira Talisa, gitu,” ungkap Farhan. Keputusan Vira Talisa dalam membuat musik yang sedikit bossa nova dan samba jazz ini juga merupakan keputusan yang tepat. Ternyata dengan banyaknya pendapat yang menyatakan bahwa musik seperti bossa nova dan samba jazz ini pendengarnya tidak terlalu luas di Indonesia, tetapi musik ini bisa menemukan pasarnya sendiri. “Menurutku musiknya Vira Talisa itu catching banget di telinga, soalnya aku suka nada-nada yang lembut, sedikit jazz, dan tidak jedag-jedug yang begitu keras, makanya aku suka,” ungkap Farhan Musik Majalah DIANNS 58 49


Masing-masing track pada album Primavera juga memiliki ciri dan khas nya masing-masing. Hal itu membuat para pendengar memiliki interpretasi yang berbeda-beda walaupun di satu lagu yang sama, hal itu juga dipengaruhi oleh bagaimana mereka memaknai lagu tersebut ke dalam kehidupan mereka sendiri. "Lagu favoritku sih He’s Got Me Singing Again. Ya mungkin karena walaupun tentang cinta-cintaan gitu tetapi penuh dengan pesan. Seperti walaupun kita pernah up and down (dalam hidup), tetapi kita harus tetap berjalan. Selain itu juga diawal lagu temponya agak lambat (melow) ditengah-tengah mulai ceria, dan pas terakhir balik lagi slow gitu (melow) ngebuat lagunya berwarna.” terangnya. Yang tak kalah menarik, dalam proses pembuatan video klipnya pun, masing-masing lagu memiliki keunikan nya tersendiri. Jika dilihat dari video clip yang ada pada setiap lagu, pengambilannya dilakukan dengan cukup personal yang mana objek utamanya adalah Vira Talisa itu sendiri, begitupun dengan tempat-tempatnya yang cukup sederhana menimbulkan ketertarikan tersendiri kepada setiap pendengar. “Salah satu lagu yang saya suka juga selain He’s Got Me Singing Again itu adalah Janji Wibawa, karena menurut saya selain lagunya yang enak, video klipnya juga sangat menarik.” ujarnya. Album yang menawarkan nuansa ceria dan bersemangat ini sangat sesuai dengan apa yang ingin dihadirkan oleh Vira Talisa pada tujuan awal mengapa ia menciptakan album Primavera ini, melalui lirik-lirik nya yang memotivasi dan musik nya yang cenderung bossa nova dan mengarah ke samba jazz, mampu membuat para pendengar nya sangat menikmati dan ikut merasakan keceriaan yang ingin disampaikan oleh Vira melalui Albumnya. Untuk kesempatan ingin mendengarkan lagu– lagu dari album ini, pendengar dapat mengaksesnya melalui platform–platform musik yang ada seperti Spotify dan platform musik legal digital lainnya. Penulis: Jodi Alfrino Tarigan dan Yusrina Fadhilah Editor: Ronaldo Septian Manalu Instagram/PopHariIni Musik 50 Majalah DIANNS 58


Kuliner Majalah DIANNS 58 51 Ragam Kuliner Khas Timur Tengah Menjadi tempat awal perkembangan Islam, Jazirah Arab menyimpan khazanah kuliner yang kaya. Menurut Sheilah Kaufan, terdapat tiga era perubahan dan perkembangan cita rasa kuliner Arab, yaitu zaman antik, abad pertengahan, dan era modern. Salah satu dinamika perkembangan kuliner arab yang terjadi yaitu pada zaman antik, dimana pada zaman tersebut masyarakat setempat sudah pandai dalam hal perkebunan dan peternakan di sekitar daerah oasis. Hal tersebutlah yang membuat mereka mampu menghadirkan variasi kuliner berupa Nasi Kabsa, yang meliputi keberagaman bumbu, jenis nasi, dan daging. Pemilihan daging tidak harus daging domba, tetapi juga bisa menggunakan daging ayam. Selain faktor geografis, kultur sosial juga turut melatarbelakangi hadirnya berbagai hidangan khas Arab. Untuk diketahui, sejak ratusan tahun silam, penduduk Arab sudah aktif berdagang dengan bangsa lain dari penjuru dunia melalui jalur maritim. Adanya interaksi dengan berbagai kebudayaan lain-lah yang memunculkan inovasi di bidang kuliner. Dua kota utama, Makkah dan Madinah, sudah lama menjadi bandar perdagangan yang strategis, dimana penduduknya mampu mendapatkan pasokan rempah-rempah yang berlimpah. Hal tersebutlah yang membuat makanan Timur Tengah memiliki cita rasa yang kuat. Kedekatan antara budaya Timur Tengah dengan Indonesia begitu lekat sekali. Hal tersebut tidak terlepas dari peran pedagang Timur Tengah yang datang ke Indonesia pada kisaran abad ke7 Masehi. Mereka berlayar dari negara asalnya menuju ke Indonesia dengan tujuan untuk berdagang. Melalui agenda tersebutlah budaya Timur Tengah turut terbawa dan melekat di kalangan masyarakat Indonesia. Banyaknya keturunan Arab maupun Timur Tengah yang menetap dan menjadi warga negara Indonesia membuat budaya Timur Tengah kental sekali keberadaannya. Terdapat budaya Timur Tengah yang populer dikalangan masyarakat indonesia, khususnya di daerah Jakarta, yakni budaya kuliner. Kuliner khas Timur Tengah menjadi salah satu pilihan makanan yang sempurna karena cita rasa dari aneka rempah yang beragam. Salah satu restoran Timur Tengah yang berada di daerah Jakarta yaitu Al-Mukalla, yang bertempat di Jalan Raya Condet No.30, RT.7/RW.4, Balekambang, Kec. Kramat jati, Kota Jakarta Timur.


Kuliner 52 Majalah DIANNS 58 Pemilik restoran ini bernama Ahmad Salim, yang sekarang beralih ke anaknya yaitu Saleh yang juga dibantu oleh adik-adiknya. Nama AlMukalla sendiri terinspirasi dari salah satu nama kota di Yaman yang memiliki kesan baik bagi Pak Ahmad, sehingga beliau memberi nama restorannya Al-Mukalla. Sebelum membuka usaha tersebut, mulai dari saudara, sahabat, dan tetangga sudah lebih dulu mencicipi masakan Pak Ahmad, respon baik dari mereka yang menyarankan untuk dapat dijadikan peluang usaha. Di awal usaha, konsep rumahan dipilih dengan hanya menerima pesanan dari rekan dekat dan keluarga yang terletak di Kota Tegal. Konsep pemasaran pun hanya menggunakan obrolan dari mulut ke mulut. Di Tengah persaingan berat dengan restoran lain yang berada di Jakarta, Al-Mukalla sendiri menawarkan cita rasa unik rempah khas Timur Tengah. Untuk menyesuaikan cita rasa tersebut, restoran ini memodifikasinya dengan menggunakan rempah-rempah yang berasal dari Indonesia, sehingga dapat diterima dan sesuai lidah orang Indonesia. Tidak hanya hidangan dengan cita rasa unik, Al-Mukalla juga memiliki beberapa cara dan tradisi unik dalam penyajian makanannya. Pertama, makanan ditempatkan dalam satu nampan besar yang cukup untuk disantap sekeluarga. Selanjutnya, perihal cara makan tanpa menggunakan sendok, namun tetap disediakan sendok dan piring bagi pengunjung yang membutuhkan. Selain itu, restoran ini juga memiliki konsep makan secara lesehan, yang berarti makan dengan duduk santai di lantai.


Kuliner Majalah DIANNS 58 53 Dari berbagai menu yang ditawarkan, terdapat makanan yang paling diminati oleh pengunjung yaitu Nasi Mandhi Laham, keunikan namanya membuat pengunjung penasaran untuk mencoba. Selain itu, ada juga mughalgal, daging yang ditumis menggunakan cabai hijau, tomat, dan bombay yang disajikan bersama roti. Selain menawarkan hidangan khas Timur Tengah, restoran ini juga menyediakan menu sate kambing yang menggunakan bumbu pada umumnya, guna mengantisipasi keraguan pengunjung dalam memesan makanan khas Timur Tengah. Masakan khas Timur Tengah memiliki beberapa perbedaan dalam penggunaan rempah-rempah. Misalnya, Nasi Mandhi yang tidak terlalu menonjolkan aroma rempah. Nasi Kapsah yang lebih berasa tomat. Sementara, Nasi Biryani memiliki warna kuning yang berasal dari rempah utamanya yakni kunyit, sehingga ketiga makanan tersebut menghasilkan cita rasa yang berbeda pula. “Karena sudah banyak makanan berbahan kambing di Indonesia, dan juga penggunaan rempah yang kuat, maka lidah orang Indonesia tidak terlalu kaget dengan cita rasa tersebut. Semua kembali ke individu masing masing, ada yg takut makan kambing dan lain lain. Tapi alhamdulillah kebanyakan yang makan di sini orang Indonesia. Ada orang chinese juga. Jadi mungkin karena gak beda jauh sama cita rasa Indonesia sehingga mereka suka,” ungkap Sabrina, anak pemilik restoran. Penulis: Pahlevi Aulia dan Resty Rindiani Editor: Tiara Tyas


Tarung Sarung: Mempertahankan Harga Diri Suku Bugis Sutradara : Archie Hekagery Penulis : Archie Hekagery Produser : Chand Parwez servia Genre : Action-Drama Pemain : Panji Zoni, Yayan Ruhian, Maizura Durasi : 115 menit Tahun : 2020 Tarung Sarung merupakan film yang disutradarai oleh Archie Hekagery. Aktor yang membintangi film ini pun cukup menarik perhatian penonton karena dibintangi oleh wajahwajah baru di dunia peraktingan. Maizura yang merupakan penyanyi ikut andil dalam film ini sebagai Tenri. Ia memerankan peran Tenri gadis Makassar dengan sangat luwes. Panji Zoni yang memerankan Deni juga memerankan perannya dengan sangat baik. Meskipun terdapat adegan yang sedikit canggung namun keseluruhan film nya terlihat natural khususnya di bagian saat Deni melakukan Tarung Sarung dengan Sanrego. Salah satu aktor menarik lainnya ialah Yayan Ruhiyan. Ia merupakan aktor seni bela diri yang pernah membintangi film Hollywood. Oleh karena itu, aktingnya saat bela diri di film Tarung Sarung tak perlu diragukan lagi. Film ini menceritakan tentang pemuda bernama Deni Ruso (Panji Zoni). Ia merupakan seorang pemuda Jakarta yang dari kecil bergelimang harta dan tidak percaya akan adanya Tuhan karena ia berpikir uang dapat menyelesaikan segalanya. Dia merupakan sosok yang kasar, penuh emosi, dan manja. Saat di Jakarta, Deni Ruso membuat masalah hingga ibunya memutuskan untuk mengirim Deni ke Makassar. Sesampainya di Makassar, Deni berjalan-jalan disekitar pantai. Ia melihat wanita cantik yang menggendong keranjang sampah dengan berani menegur pengunjung pantai yang membuang sampah sembarangan. Deni kemudian jatuh hati dengan dengan keberanian Tenri dan mulai mendekatinya. Disitulah konflik Resensi Film 54 Majalah DIANNS 58


dimulai, Sanrego lelaki gagah yang lamarannya pernah ditolak Tenri pun merasa cemburu dengan Deni dan mengajaknya bertarung di dalam sarung atau dapat disebut Tarung Sarung. Film Tarung Sarung ini tidak hanya menceritakan tentang kisah romansa Deni dan Tenri saja, tetapi juga menceritakan tentang kebudayaan masyarakat Makassar khususnya suku Bugis yaitu kebudayaan Tarung sarung. Tarung Sarung atau Sigajang Laleng Lipa ini merupakan sebuah adu kekuatan yang dilakukan di dalam sarung. Suku Bugis biasanya melakukan tarung sarung untuk menyelesaikan masalah atau perselisihan antara dua orang yang bermasalah. Tarung sarung atau Sigajang Laleng Lipa ini sudah dilaksanakan sejak masyarakat Bugis kuno. Mulanya kedua pihak yang berseteru akan masuk kedalam sarung membawa belati. Saat mengadu kekuatan, yang keluar dari sarung, menyerah, bahkan mati akan dinyatakan kalah. Sebelum menjalankan Sigajang laleng Lipa ada proses yang harus dilakukan yaitu pihak keluarga harus memilih anggota keluarga yang terbaik dan terkuat untuk melawan musuh. Kemudian kedua petarung akan membawa belati peninggalan leluhur keluarga memasuki arena tarung sarung. Menurut IntisariOnline.com budaya Tarung Satung muncul karena pengaruh masyarakat Bugis yang menjunjung tinggi harga dirinya. Pepatah Bugis mengatakan ‘Siri Paranreng Nyawa Palao’ yang artinya apabila harga diri terkoyak, maka nyawalah bayarannya. Hal ini menunjukkan bahwa suku Bugis sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Hal itupun diperkuat dengan adanya adegan Sigajang Laleng Lipa atau tarung sarung menggunakan belati yang diajukan oleh Sanrego saat ia kalah tarung sarung biasa dengan Deni. Selain mengangkat budaya masyarakat suku Bugis, film ini juga megangkat nilai religi. Dimana Deni yang awalnya tidak percaya dengan Tuhan, namun setelah bertemu dengan Pak Khalid ia mulai belajar tentang agama Islam. Deni tidak serta merta langsung masuk agama Islam. Sebelum masuk Islam, Deni mengamati Pak Khalid dan orang-orang yang shalat di masjid. Hingga suatu ketika hati Deni tergugah untuk mulai belajar sholat karena ia mengagumi sosok Pak Khalid yang yakin dan percaya bahwa hidup mati seseorang ada ditangan Allah SWT. Semakin hari Deni rajin sholat. Bahkan saat di tengah pertempuran Tarung Sarung pun Deni tidak meninggalkan sholatnya. Ini adalah salah satu pesan moral yang terkandung dalam film Tarung Sarung. Selain itu, pesan moral yang patut dicontoh lainnya ialah semangat pantang menyerah yang dimiliki Deni dan sifat cinta alam yang dimiliki oleh Tenri. Alur dari film Tarung Sarung ini sedikit mirip dengan The Karate Kid 2010 dari cara Pak Khalid melatih Deni melalui hal-hal yang tidak berhubungan dengan pertarungan. Seperti menata sandal-sandal jama’ah sholat menggunakan kaki dimana di The Karate Kid 2010 guru dari tokoh utama juga memerintahkan untuk menggantung jaket di gantungan berkali-kali. Namun, alur dari kedua film tersebut tidaklah sama persis. Terdapat perbedaan antara The Karate Kid dengan Tarung Sarung yaitu latar belakang tokoh utama. Di The Karate Kid 2010 diceritakan bahwa tokoh utamanya merupakan anak dari keluarga biasa. Kekurangan dari film ini adalah kurang detail menceritakan tentang proses Deni yang awalnya tidak percaya akan agama Islam sampai pada akhirnya Deni menjadi percaya ajaran agama islam. Pada saat itu, Deni tiba-tiba sholat padahal di film tidak diceritakan bahwa pak Khalid mengajari Deni bacaan-bacaan sholat. Selain itu, kisah jatuh cinta Deni dan Tenri pun juga terlalu terburu-buru dan terkesan memaksakan alur cerita. Kemudian diceritakan bahwa Sanrego menyerang Deni pada saat sholat di tengah pertandingan Tarung Sarung dan Deni bisa menghindari serangan-serangan yang dilakukan oleh Sanrego hanya dengan gerakan sholat sangat tidak realistis dan terkesan seperti imajinasi. Penulis: Prasiska Editor: Anggita Sasmita Resensi Film Majalah DIANNS 58 55


Judul Buku: Seakan Kitorang Setengah Binatang; Rasialisme Indonesia di Tanah Papua Penulis: Filep Karma Penerbit: Deiyai Kota Terbit: Jayapura Tahun terbit: November, 2014 (Cetakan pertama) Jumlah halaman: 153 halaman Kemerdekaan di Atas Tanah Papua Berkisah tentang perjuangan seorang tokoh bernama Filep Karma, seorang yang dianggap ‘santo’ orang suci di tanah Papua. Meski berasal dari keluarga yang terpandang, dia tidak ingin merdeka sendirian. Membebaskan tanah Papua dari ketidakadilan oleh bangsanya sendiri merupakan salah satu tujuannya. Buku ini berkisah tentang ‘iblis’ yang masih berkuasa di Papua Barat dan memperlakukan mereka seakan ‘setengah binatang’. “Perjalanan hidup Filep Karma adalah kisah Papua Barat dan Indonesia. Melalui keberaniannya, kita bisa memahami sifat ‘iblis’ dan bagaimana mengatasinya. Kisahnya setua umur manusia. Ia orang baik yang mengungkap ketidakadilan melalui senjata kebenaran.” Berasal dari keluarga elite di Papua tidak menjadikannya lupa akan tanah kelahirannya. Mendapatkan kesempatan beasiswa di Philipina justru membuatnya semakin mengkritisi ketidakadilan yang dirasakan oleh saudaranya. Kebebasan berpendapat, kebebasan berbicara, dan penghargaan terhadap pendapat yang dikemukaan justru dia temukan di negara tetangga. Dia ingin rakyat Papua merasakan kebebasan yang ia temukan melalui rangkaian perjuangan dan aksiaksi damai selama sisa hidupnya. Perjuangan Damai di Biak 2 Juli 1998, Bendera bintang kejora berkibar di Tower Air, Biak. Menandakan pola perjuangan baru, yaitu perjuangan damai diperkenalkan oleh Filep Karma kepada rakyat Papua. Bersenjata kitab suci dan bertekad ksatria; berani hadapi tantangan bahkan ancaman militer. Berbagai bujuk rayu mendatangi Filep Karma, membujuk agar dia menyerah dan memberikan jaminan keslamatan bagi dirinya. Sekali lagi, dia tidak ingin selamat sendirian. Krisis kepercayaan yang dialami Filep Karma kepada pemerintah Indonesia, terutama militer membuatnya enggan mundur berjuang. Bagi Filep Karma, perjuangan di Biak merupakan tanda bahwa Papua ingin ‘merdeka’. Merdeka dalam berpendapat, merdeka dalam berekspresi, merdeka menyebut nama Papua atau Irian, dan merdeka dari rasa takut. ”Biak itu daerah operasi militer, banyak pembantaian terhadap masyarakat di Kampung Biak; penangkapan, penculikan, dan penghilangan paksa. Banyak orang jadi korban penculikan dan pembunuhan semena-mena. Ibu-ibu bahkan anak gadis remaja banyak yang menjadi korban pemerkosaan.” Hal.18 Rasa sakit yang sama, adalah hal yang melatarbelakangi perjuangan damai di Biak. Pengakuan Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia justru menghasilkan ketidakadilan yang dirasakan hampir di tiap daerah di Papua. Ada ataupun tidak adanya aksi perlawanan rakyat Papua tetap menimbulkan penindasan dan penyiksaan oleh Indonesia. Penindasan, kekerasan, bahkan pemerkosaan terhadap rakyat Papua seakan menjadi wajar dan itu menghasilkan rasa sakit yang sama oleh rakyat Papua. Bukan merdeka Resensi Buku 56 Majalah DIANNS 58 sumber gambar: goodreads


seperti ini yang mereka inginkan, perlakuan menyakitkan Indonesia di tanah Papua menghasilkan kekecewaan dan aksi-aksi perlawanan lain oleh rakyat Papua. Lalu, Biak menjadi saksi bisu betapa kejamnya perlakuan militer Indonesia terhadap rakyat Papua. Memperlakukan rakyat Papua seakan setengah binatang. ‘Biak Berdarah’ begitulah peristiwa ini disebut dalam tulisan documenter milik Filep Karma, Seakan Kitorang Setengah Binatang. Satu keyakinan teori yang dimiliki oleh Filep Karma adalah jika mengibarkan bendera 24jam dan tidak diturunkan kemudian ada pengakuan dari PBB berarti bangsa itu harus dimerdekakan. Kemudian bendera Bintang Fajar berkibar selama 4x24 jam di Tower Air, Biak. Hal ini meruntuhkan keyakinan Filep Karma karena nyatanya PBB tidak memerdekakan tanah Papua. Penjara adalah Rumah Penjara bukan sebuah tempat asing bagi pejuang kemerdekaan di Tanah Papua. Peristiwa di Biak berakhir di pengadilan dengan 19 orang terdakwa termasuk Filep Karma. 15 tahun, dijatuhi hukuman penjara. Perlakuan buruk dan sulit mendapat kesempatan berobat sudah tidak mengagetkan. Namun, pada umumnya tahanan politik saat ini tidak mendapat perlakuan kejam, tidak dicambuk atau dipindah ke tahanan militer seperti zaman Soekarno dan Soeharto. Tahanan Politik memiliki tempat tersendiri dan disegani oleh tahanan lain. Oleh karena itu, penjara tidak semenakutkan yang dibayangkan oleh rakyat Papua. “Saya sampaikan bahwa jangan takut jadi tahanan politik untuk cita-cita Papua merdeka. Kitorang perjuangkan harus ada harga yang dibayar tetapi tidak semahal zaman Soekarno dan Soeharto. Era reformasi, tahanan politik kondisinya sudah lebih baik dari dulu.” Halaman 67. Filep Karma menekankan bahwa tidak usah takut menyuarakan hak Papua untuk merdeka. Jangan segan menjadi tahanan politik untuk sebuah citacita merdeka. Oleh karena itu, Filep Karma dijauhkan dari kursi pemerintahan. Meski dia seorang pegawai negeri, dia dijauhkan agar rakyat Papua tidak tercemar oleh cita-cita Papua Merdeka. Seakan Indonesia menolak suara terkait Papua Merdeka. Tanggapan Pemerintah Indonesia terhadap Isu Papua Barat Dilihat dari sisi hukum, Indonesia merupakan penyelenggara negara, yang seharusnya bertanggung jawab atas kemerdekaan rakyatnya. Namun, rakyat Papua masih jauh dari kata merdeka. Papua layak mendapatkan hak pembangunan, baik secara ekonomi, Pendidikan, kebebasan membicarakan masalalu, serta merdeka dari rasa takut. Rezim Jokowi menciptakan optimisme di kalangan rakyat Papua yang telah kecewa dan menderita di masalalu. Pasalnya, Jokowi memberikan harapan kepada rakyat Papua terkait isu yang dialami rakyat Papua. Pembebasan tahanan politik, mencabut pembatasan media dan memerintahkan Jaksa Agung dan investigasi pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi Biak Berdarah. Pemusnahan ‘iblis’ yang bersembunyi di bawah kekuasaan juga perlu dilakukan oleh Jokowi untuk mewujudkan cita-cita dari Papua untuk merdeka. Rangkaian Perjuangan Papua untuk Merdeka Berbagai langkah perjuangan rakyat Papua untuk merdeka telah dilakukan sejak dulu. Dimulai dari datangnya militer Indonesia ke tanah Papua. Dengan dukungan internasional, Indonesia berkuasa penuh atas Papua. Tentunya, memperbanyak militer dan aparat semi militer merupakan senjata Indonesia untuk berkuasa penuh atas Papua. Perlakuan ‘iblis’ yang diterima rakyat Papua datang membawa penderitaan dan kekecewaan atas masalalu. Filep Karma sumber foto: IndoProgress Resensi Buku Majalah DIANNS 58 57


“Saya bebas dari penjara sekarang ini, sebetulnya saya masih dalam penjara, yaitu penjara besar Indonesia. Artinya, saya masih terkurung dalam negara Indonesia dengan aturan-aturannya yang diskriminatif dan rasialis,” ucap Filep Karma dalam salah satu wawancaranya oleh BBC. Peristiwa ‘Biak Berdarah’ merupakan salah satu peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua. Ditangkapnya Filep Karma sebagai tahanan politik merupakan pembungkaman atas ketidakadilan di tanah Papua. Dengan kata lain, Papua masih jauh dari kata merdeka. Batas Ambang Nasionalisme dan Kemanusiaan. Membaca buku dari Filep Karma yang merupakan salah satu buku dokumenter dari perjalanan hidupnya memperjuangkan Papua untuk mengenal kata ‘merdeka’ adalah hal yang dapat menggoncangkan rasa nasionalisme pada Indonesia. Sikap yang dilatarbelakangi oleh rasa rasialisme mendalam bangsa Indonesia merupakan sikap di luar tindakan sebuah bangsa. Bagaimana bisa sebuah bangsa, melukai kedaulatan rakyatnya sendiri, membuat kecewa, dan membuat rakyat harus berjuang di atas tanah merdeka untuk mengenal kata ‘merdeka’. Cerita dalam buku ini bukan sebuah kisah fiksi seperti karya di zaman sekarang yang banyak digemari kalangan muda. Narasi dalam buku Seakan Kitorang Setengah Binatang terlalu membosankan dan terkesan monoton. Narasi dalam buku ini sangat to the point dan sangat berdasar pada pertanyaan yang dilontarkan kepada Filep Karma. Dalam buku ini juga terdapat dokumentasi dari setiap pergerakan dan perjuangan yang dilakukan oleh Filep Karma bersama rakyat Papua.. Satu kutipan yang menyayat hati dalam buku ini adalah “Saya bersiap-siap karena akan dilempar ke lantai yang keras. Tapi, mengapa justru empuk? Kata Filep pada akhir September lalu, “ternyata, tubuh saya jatuh di tumpukan manusia.” Penulis : Anggita Hajar Ainaya Editor : Nafilah Dyas R. Resensi Buku 58 Majalah DIANNS 58


Desain: Anggita Sasmita Editor : Ayuningtyas Bunga Heryana Majalah DIANNS 58 59


Rekomendasi Film Minari Film ini mengisahkan tentang Keluarga Yi, yakni imigran dari Korea Selatan yang baru saja pindah ke suatu pedesaan di Arkansas, Amerika Serikat. Keluarga Yi ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi petani sayuran korea yang sukses. Dalam mewujudkan mimpi itu, banyak rintangan yang harus Keluarga Yi hadapi. Alur film yang sederhana, sukses menggambarkan kehangatan keluarga yang apa adanya. Drama Just Mercy Film ini merupakan kisah nyata seorang pengacara muda bernama Bryan Stevenson, seorang lulusan Harvard University yang memperjuangkan keadilan bagi warga kulit hitam. Perjuangan itu ia mulai sejak lulus kuliah, banyak warga kulit hitam terancam hukuman mati tanpa proses peradilan yang jelas, maka dari itu ia berkomitmen pada dirinya sendiri untuk terus membantu warga kulit hitam dalam memperoleh keadilan. Biografi, Crime, Drama Kim Ji Young: Born 1982 Film ini menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga bernama Kim Ji Young. Rutinitas sebagai ibu rumah tangga ia lalui setiap hari, sampai pada puncaknya Kim Ji Young mulai merasa lelah menjadi seorang ibu, istri, sekaligus menantu yang dituntut untuk menjadi “sempurna”. Hal ini membuat Kim Ji Young kehilangan jati dirinya, ia mengalami depresi berat. Secara umum film ini mengangkat isu yang begitu hangat terjadi dimasyarakat, yakni terkait kesehatan mental, diskriminasi gender, dan budaya patriarki. Drama Rekomendasi 60 Majalah DIANNS 58


37 Seconds Film ini berkisah tentang seorang perempuan berusia 23 tahun pengidap cerebral palsy bernama Yuma yang berjuang untuk hidup mandiri. Meskipun begitu, ibu Yuma kurang mendukungnya, ibunya selalu beranggapan Yuma selalu membutuhkan bantuan orang lain. Yuma adalah seseorang yang sangat berbakat dalam bidang komik, ia mulai mencoba beberapa kali mengirimkan portofolio pada penerbit namun ditolak. Meskipun banyak rintangan yang menghadang, Yuma tidak menyerah mewujudkan mimpinya, ia justru memperoleh pengalaman baru yang begitu berharga melalui kegagalan itu, sehingga Yuma memberanikan diri mengganti genre karya komiknya Drama Green Book Film ini mengisahkan tentang persahabatan musisi Jazz berkulit hitam bernama Don yang kerap kali dibully saat tur konser, dengan seseorang berkulit putih yang baru saja kehilangan pekerjaannya bernama Tony. Pada awalnya, terlihat bahwa mereka memiliki perbedaan karakter yang kontras, Don yang cenderung tenang sedangkan Tony yang cenderung kasar namun, seiring berjalannya waktu mereka dapat menerima perbedaan itu. Don dapat mengubah perilaku Tony, sedangkan Tony yang selalu membela saat Don dibully. Drama, Komedi, Biografi 12 Years a Slave Film ini berkisah tentang seseorang berkulit hitam bernama Solomon Northup yang terpaksa menjalankan perbudakan karena, terjebak oleh tawaran pekerjaan. Digambarkan dengan jelas bagaimana penyiksaan dan berbagai bentuk ketidakadilan sebagai manusia dalam film ini. Solomon Northup berjuang menghadapi keadaan tersebut selama 12 tahun Drama, Sejarah, Biografi Rekomendasi Majalah DIANNS 58 61


Rekomendasi Buku The Hate U Give Novel ini mengisahkan seorang gadis kulit hitam bernama Starr Carter. Ia tinggal di daerah kumuh dan bersekolah di SMA bergengsi yang didominasi orang kulit putih. Starr selalu menjaga sikapnya di sekolah, namun semuanya begitu bertambah sulit ketika ia menjadi satu-satunya saksi mata pembunuhan Khalil, sahabatnya. Berita tentang Khalil pun menjadi tajuk utama. Ia pun dilema, haruskah ia memberi kesaksian terkait pembunuhan Khalil atau justru kesaksiannya akan menambah masalah baru pada dirinya maupun keluarganya. Angie Thomas Dear Martin Novel ini berkisah tentang seorang remaja kulit hitam bernama Justyce McAllister, ia adalah remaja yang berprestasi di sekolahnya yang bergengsi, mengikuti organisasi, mendapat beasiswa, dan berkelakuan baik. Tak disangka, ia mengalami diskriminasi ras oleh polisi kulit putih, hal ini tentu saja mengganggu kesehatan mentalnya. Sebelumya, ia menganggap isu ini sudah hilang dari kehidupan sosialnya. Nic Stone The Underground Railroad Novel ini menceritakan seorang gadis bernama Cora, ia adalah budak Afrika di Perkebunan Kapas Randall, Georgia. Cora juga mendapat perlakuan buruk dari sesama budak Afrika di perkebunan kapas. Suatu ketika, budak dari Virginia bernama Caesar memberitahukan mengenai jaringan kereta api bawah tanah. Caesar dan Cora pun memutuskan mengambil resiko untuk melarikan diri dari perkebunan kapas. Colson Whitehead Penulis: Nisrina Salma Editor : Anggita Sasmita Rekomendasi 62 Majalah DIANNS 58


Lisan mengucap perdamaian, seru sang mayoritas Sembari menatap tajam seolah ada yang berbeda Memang kita tercipta serupa tapi tak sama Baiknya sudut pandang kau rubah Jangan hanya berkutat tentang perbedaan saja Beragam ancaman dilayangkan Berbagai cara pula kami coba bertahan Warna-warni konflik tak berkesudahan Bak zaman penjajahan Pernah kah terfikir besaran luka yang ditinggalkan? Ingat, menjadi minoritas bukan pilihan Ujaran kebencian hanya meninggalkan goresan, tak berarti lebih Tak ada sedikitpun jiwa yang takut Karena perbedaan untuk disatukan, bukan dipecahkan Dan pilihan hidup, mengharuskan kita untuk tetap berdampingan Puisi Beda yang sama Penulis: Tiara Tyas Majalah DIANNS 58 63


MENDATAR 1. Pengesahan 4. Tidak dapat mencium bau 7. Rapat Besar (Singkatan) 8. Keadaan lemas dan tidak sadarkan diri 11. Fans perempuan yang ngefans dengan idolanya (jamak) 12. Pertanyaan tidak perlu dijawab 14. Hewan berkantong 16. Karangan (untaian) mutiara; keselarasan suara 17. Tempat bunga 19. Murid menuntut ... di Sekolah 22. Berbahasa dan bernalar dengan menyelidiki kebenarannya MENURUN 1. Pemeriksaan tentang kebenaran 2. Hitam (dalam bahasa jawa) 3. Makhluk yang membangkang perintah Tuhan 4. Rencana yang disusun secara sistematis 5. Sistem Pembendaharaan dan Anggaran Negara (singkatan) 6. Es (Inggris) 8. Lapisan tipis pembungkus paru-paru 9. Tokoh jahat dalam sebuah drama 10. Berbau tidak sedap 13. Ibukota Italia 15. Digugu lan ditiru 18. ... pisang (makanan hasil olahan dari buah yang disisir tipis kemudian dijemur) 20. Perekat 21. Tenaga Kerja Indonesia Teka-Teki Silang 64 Majalah DIANNS 58


Mereka yang berbuat dengan moralitas, integritas, dan konsistensi tidak perlu takut akan tindakan tak manusiawi dan kekejaman. Iklan Layanan Masyarakat ini dipersembahkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa DIANNS – Nelson Mandela


Click to View FlipBook Version